Anda di halaman 1dari 5

RINGKASAN MATERI KULIAH (RMK)

ELEMEN-ELEMEN DESAIN PENELITIAN


A. DESAIN PENELITIAN
Setelah mengidentifikasi variabel dalam suatu situasi masalah dan
mengembangkan kerangka teoretis, langkah berikut adalah mendesain penelitian sehingga
data yang diperlukan dapat dikumpulkan dan dianalisis untuk sampai pada solusi.
Desain penelitian, yang meliputi serangkaian pilihan pengambilan keputusan rasional.
Berbagai persoalan yang termasuk dalam desain penelitian seperti bisa dilihat, isu-isu
yang berkaitan dengan keputusan mengenai tujuan studi (eksploratif, deskriptif,
pengujian hipotesis), letaknya (yaitu konteks studi), jenis yang sesuai untuk penelitian
(jenis investigasi), tingkat manipulasi dan kontrol peneliti (tingkat intervensi
peneliti), aspek temporal (horizon waktu), dan level analisis data (unit analisis),
adalah integral pada desain penelitian. Hal-hal tersebut dibahas dalam bab ini.
Selain itu, keputusan harus dibuat, misalnya mengenai jenis sampel yang digunakan
(desain sampel), bagaimana data dikumpulkan (metode pengumpulan data),
bagaimana variabel diukur (pengukuran), dan bagaimana variabel dianalisis untuk
menguji hipotesis (analisis data).
Penting untuk dicatat bahwa semakin ketat dan canggih desain penelitian,
semakin besar waktu, biaya, dan sumber daya lain yang akan dihabiskan untuknya.
Karena itu adalah relevan untuk bertanya kepada diri sendiri pada setiap poin
pilihan apakah manfaat yang berasal dari desain yang lebih canggih untuk
memastikan akurasi, keyakinan, generalisasi, dan seterusnya, sepadan dengan investasi
sumber daya yang lebih besar.

B. TUJUAN PENELITIAN: EKSPLORATIF DAN DESKRIPTIF


Studi mungkin bersifat eksploratif atau deskriptif, atau dilakukan untuk
menguji hipotesis. Studi kasus merupakan penyelidikan studi yang dilakukan dalam
situasi organisasi lain yang mirip, yang juga merupakan metode pemecahan
masalah, atau untuk memahami fenomena yang diminati dan menghasilkan
pengetahuan lebila lanjut dalam bidang tersebut. Keputusan desain menjadi semakin
penting saat kita berlanjut dari tahap eksploratif, di mana kita berusaha
mengeksplorasi bidang penelitian organisasi yang baru ke tahap deskriptif; kita
mencoba menjelaskan karakteristik tertentu dari fenomena yang menjadi pusat perhatian
ke tahap pengujian hipotesis; menguji apakah hubungan yang diperkirakan memang
terbukti dan jawaban atas pertanyaan penelitian telah diperoleh. Sekarang kita akan
melihat masing-masing tahap secara rinci.

1
Studi Eksploratif
Studi eksploratif (exploratory study) dilakukan jika tidak banyak yang
diketahuimengenai situasi yang dihadapi, atau tidak ada informasi yang tersedia
mengenaibagaimana masalah atau isu penelitian yang mirip cliselesaikan di masa lalu.
Dalamkasus tersebut„studi awal yang ekstensif perlu dilakukan untuk
mendapatkankeakraban dengan fenomena situasi, dan memahami apa yang terjadi
sebelumkita membuat sebuah model dan menyusun desain ketat untuk investigasi
menyeluruh.
Intinya, studi eksploratif dilakukan untuk memahami dengan lebih baik sifatmasalah
karena mungkin bam sedikit studityang telah dilakukan dalam bidangtersebut.
Wawancara ekstensif dengan banyak orang mungkin harus dilakukan untuk menangani
situasi dan memahami fenomena. Penelitian yang lebih ketat pun. kemudian dapat
dilaksanakan.
Sejumiah studi kualitatif (sebagai lawan dari data kuantitatif yang dikumpulkan
melalui kuesionemdan sebagainya) di,mana data diperoleh melalui pengamatan
atau wawancara, adalah eksploratif dalam sifatnya. Bila data menyingkapkan
beberapa pola yang terkait dengan fenomena perhatian, teori pun dikembangkan dan
hipotesis dirumuskan untuk pengujian lebih jauh. Misalnya, Henry Mintzberg
mewawancarai para manajer untuk menyelidiki sifat pekerjaan manajerial. Berdasarkan
analisis terhadap data wawancaranya, is merumuskan teori mengenai peran
manajerial, sifat dan jenis aktivitas manajerial, dan sebagainya. Semua tersebut telah
diuji dalam berbagai konteks melalui wawancara dan survei kuesioner.
Studi eksploratif juga dilakukan ketika sejumlah fakta diketahui, tetapi
diperlukan lebih banyak informasi untuk menyusun kerangka teoretis yang kukuh.
Misalnya, jika kita ingin menyelidiki faktor penting yang memengaruhi kemajuan
wanita dalam organisasi, studi sebelumnya mungkin menunjukkan bahwa
wanitasemakin meningkat dalam kualitas, seperti.ketegasan, kemampuan bersaing,
dankemandirian. Ada pula persepsi bahwa perpaduan sifat maskulin dan
femininyang bijaksana seperti kuat namun tidak keras baik tetapi tidak lemah
adalah kondusif bagi kemajuan wanita dalam organisasi. Dugaan tersebut
mengindikasikan, bahwa ada kebutuhan untuk mewawancarai manajer wanita yang
telah berhasil mencapai puncak untuk menyelidiki semua variabel yang relevan. Hal
tersebut akan membantu membangun teori yang kukuh.

2
Singkat kata, studi eksploratif penting untuk memperoleh pengertian yang
baik mengenai fenomena perhatian dan melengkapi pengetahuan lewat pengembangan
teori lebih lanjut dan pengujian hipotesis.

Studi Deskriptif
Studi deskriptif (descriptive study) dilakukan untuk mengetahui dan menjadi
mampu untuk menjelaskan karakteristik variabel yang diteliti dalam suatu
situasi. Misalnya, studi mengenai sebuah kelas dalam hal persentase anggota
yang berada dalam tahun senior dan junior mereka, komposisi gender, kelompok
usia, jumlah semester yang tersisa sebelum kelulusan, dan jumlah mata kuliah
bisnis yang diambil, bisa dianggap bersifat deskriptif. Cukup sering, studi
deskriptif dilakukan dalam organisasi untuk mempelajari dan menjelaskan
karakteristik sebuah kelompok karyawan, misalnya, usia, tingkat pendidikan, status
kerja, dan lama kerja orang Hispanik atau Asia, yang bekerja dalam sistem. Studi
deskriptif juga dilakukan untuk memahami karakteristik organisasi yang mengikuti
praktik umum tertentu. Contohnya, seseorang mungkin ingin mengetahui dan
menjadi mampu untuk menjelaskan karakteristik organisasi yang melaksanakan
sistem manufaktur fleksibel (flexible manufacturing systems—FMS) atau yang
mempunyai rasio utang terhadap modal (debt-to-equity ratio) tertentu.
Tujuan studi deskriptif, karena itu, adalah memberikan kepada peneliti sebuah
riwayat atau untuk menggambarkan aspek-aspek ,yang relevan dengan fenomena
perhatian dari perspektif seseorang, organisasi, orientasi industri, atau lainnya.

C. UNIT OF ANALYSIS
Unit analisis merupakan tingkat agregasi data yang dianalisis dalam penelitian. Unit
analisis yang ditentukan berdasarkan pada rumusan masalah atau pernyataan penelitian
merupakan elemen penting dalam desain penelitian karena mempengaruhi proses
pemilihan, pengumpulan dan analisis data. Adapun bentuk unit analisis dari ‘perilaku
pekerja’ dapat berupa;
1) Individual: jika yang diamati adalah perilaku pekerja secara individual
2) Kelompok: jika fokus yang diteliti adalah perilaku pekerja secara kelompok,
3) Organisasional: jika fokus yang diteliti perilaku pekerja secara organisasional, dan
4) Kebudayaan: jika fokus yang digunakan kebiasaan dari pekerja berdasarkan
budayanya.

3
D. TIME HORIZON: CROSS SECTIONAL VS LONGITUDINAL STUDY
Sehubungan dengan horizon waktu ‘lamanya’ penelitian, Sekaran (2006: 177-178)
membedakan menjadi dua bagian:
1) Studi Cross-Sectional atau one shot ; studi yang dilakukan dengan sekali
mengumpulkan data; periode harian, mingguan, bulanan, dalam rangka menjawab
pertanyaan penelitian, dan
2) Longitudinal: studi dilakukan dalam penelitian yang melintasi suatu periode waktu
yang cukup lama dalam menjawab pertanyaan penelitian.

Daftar Pustaka:
Sekaran, Uma. dan Bougie, Roger. (2010). Research Methods for Business – A Skill Building
Approach. John Willey & Sons, Inc.USA.