Anda di halaman 1dari 51

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO 1 BLOK 4.2

KELAINAN SISTEM SENSORI

KELOMPOK II :

PRISKILA ANESTASIA SIANIPAR G1A113066


RENANDA ADHA ANUGRAH G1A113058
NENENG NURLITA G1A113059
RAHADIAN GUNA PAMBUDI G1A113060
EFANDIYA PUTRA G1A113061
CHIKA MARZELINA G1A113073
NADYA NURBANY RAFMAN G1A113074
RTS. WAHYU RIZKY ANANDA G1A113075
KHAIRUNNISA G1A113076

DOSEN PEMBIMBING :
dr. MARIA ESTELA KAROLINA, M.Si.Med

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


UNIVERSITAS JAMBI
2014/2015
Skenario:

Seorang laki-laki 35 tahun datang ke RS dengan keluhan mata kiri buram sejak 3 minggu
yang lalu. Mata kiri dirasakan semakin lama semakin buram. Sekitar 1 bulan yang lalu saat
pasien sedang naik motor, mata kiri pasien terkena batu kecil. Saat itu, mata kiri pasien belum
dirasa buram, hanya terlihat merah. Pasien tidak langsung berobat ke RS. Pasien hanya
membilas mata kirinya dengan menggunakan air daun sirih.

Sejak saat itu, mata pasien mulai dirasa buram dan makin lama makin memberat. Pasien juga
mengatakan nyeri pada mata kirinya, nyeri dirasakan menjalar hingga ke kepala dan terus
berdenyut. Sensasi melihat pelangi, mual, muntah tidak dirasakan oleh pasien.

Dua minggu sebelum datang ke RS, pasien sempat berobat ke dokter umum. Pasien mendapat
obat salep mata antibiotik. Tetapi pasien tidak merasakan perubahan setelah menggunakan
salep mata tersebut.

Pada pemeriksaan mata kanan didapatkan visus 6/6, tekanan intraokular (TIO) 17,5 mmHg.
Sedangkan pada pemeriksaan mata kiri didapatkan visus 1/300, tekanan intraokular (TIO)
normal (palpasi), injeksi konjungtiva (+), injeksi siliar (+).

Klarifikasi Istilah

1. Salep : Sediaan setengah padat untuk pemakaian topikal.1


2. Antibiotik : Zat kimiawi, biasanya dihasilkan oleh suatu mikroorganisme
atau secara semisintetis yang mempunyai kemampuan untuk
menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain.1
3. Visus : Ketajaman atau kejernihan penglihatan berdasarkan fokus
retina dan interpretasi otak.2
4. Tekanan intraokular : Tekanan cairan di dalam mata yang dihasilkan oleh produksi
terus menerus dan drainasi ke ruangan anterior.1
5. Injeksi konjungtiva : Melebarnya pembuluh darah arteri konjungtiva posterior atau
injeksi konjungtiva ini dapat terjadi akibat pengaruh mekanis,
alergi, ataupun infeksi pada jaringan konjungtiva.2
6. Injeksi siliar : Melebarnya pembuluh darah perikornea (arteri siliaris
anterior) atau injeksi siliar atau injeksi perikornea terjadi
akibat radang kornea, tukak kornea, benda asing pada kornea,
radang jaringan uvea, glaukoma, endoftalmitis ataupun
panoftalmitis.2
Identifikasi Masalah

1. Jelaskan anatomi, histologi dan fisiologi mata!


2. Jelaskan pengaruh usia dan jenis kelamin terhadap keluhan yang dialami pasien?
3. Apa makna klinis mata kiri buram sejak 3 minggu yang lalu?
4. Penyakit apa saja yang ditandai dengan mata buram?
5. Jelaskan bagaimana perubahan fisiologi yang terjadi pada mata pasien setelah terkena
batu kecil?
6. Apa saja penyakit yang ditandai dengan mata buram dan merah?
7. Apa hubungan pemberian daun sirih dengan keluhan yang dialami pasien sekarang?
8. Jelaskan makna klinis nyeri pada mata kiri pasien yang menjalar ke kepala dan terus
berdenyut!
9. Bagaimana makna klinis tidak dirasakannya mual, muntah dan sensasi melihat
pelangi oleh pasien?
10. Apa saja obat-obatan antibiotik yang sering digunakan untuk mata?
11. Mengapa pasien tidak merasakan perubahan walaupun telah diberikan pengobatan
salep antibiotik?
12. Bagaimana makna klinis visus 6/6 dan tekanan intraokular 17,5 mmHg?
13. Bagaimanakah nilai normal tekanan intraokuler? Apa saja faktor yang mempengaruhi
tekanan intraokuler dan apa menyebabkan peningkatan tekanan intraokuler?
14. Apa makna klinis visus 1/300, tekanan intraokular normal, injeksi konjungtiva (+),
injeksi siliar (+)?
15. Jelaskan sifat-sifat injeksi konjungtiva dan injeksi siliar!
16. Jelaskan macam-macam pemeriksaan mata dan bagaimana melakukan pemeriksaan
mata?
17. Apa diagnosa banding terhadap keluhan yang dirasakan oleh pasien?
18. Apa yang dialami oleh pasien?
19. Apa definisi penyakit yang dialami oleh pasien?
20. Apa etiologi terhadap penyakit yang dialami oleh pasien?
21. Bagaimana epidemiologi penyakit yang dialami oleh pasien?
22. Jelaskan patofisiologi penyakit yang dialami oleh pasien?
23. Bagaimana prognosis penyakit yang dialami oleh pasien?
24. Bagaimana tatalaksana terhadap penyakit yang dialami oleh pasien?
Analisis Masalah

1. Jelaskan anatomi, histologi dan fisiologi mata!


Jawab:
ANATOMI
ORBITA

Orbita digambarkan sebagai piramid berdinding empat yang berkonvergensi ke arah


belakang. Dinding medial orbita kiri dan kanan terletak paralel dan dipisahkan oleh
hidung. Pada setiap orbita, dinding lateral dan medial membentuk sudut 45
derajat.1,2,3,4
.
7 tulang pembentuk orbita:
1. Os. Frontal
2. Os. Spenoidal
3. Os. Zygomaticus
4. Os. Palatinum
5. Os. Maxila
6. Os. Ethmoidales
7. Os. Lakrimalis

Orbita berbentuk buah pir, dengan nervus optikus sebagai tangkainya. Lingkaran
anterior lebih kecil sedikit dari pada lingkaran di bagian dalam tepiannya yang
merupakan pelindung yang kuat. 1,2,3,4

Volume orbita kira-kira 30cc dan bola mata hanya menempati seperlima
bagian ruangan, selebihnya diisi lemak dan otot. Pada bagian anterior, terdapat
septum orbitae (pemisah antara palpebra dan orbita). Orbita berisi :
o Otot penggerak bola mata
o N. Optikus
o Glandula Lakrimalis
o Lemak

Orbita berhubungan dengan sinus frontalis di atas, sinus maksilaris di bawah, sinus
ethmoidalis dan sinus sphenoid di medial. Dasar orbita yang tipis mudah rusak oleh
trauma langsung terhadap bola mata sehingga menimbulkan 'fraktur blow-out' dengan
herniasi isi orbita ke dalam antrum maksilaris. Infeksi pada sinus ethmoidalis dan
sphenoid dapat mengikis dinding medialnya yang setipis kertas (lamina papyracea)
dan mengenai orbita. Defek pada atapnya (misal : neurofibromatosis) dapat berakibat
timbulnya pulsasi pada bola mata yang berasal dari otak. 1,2,3,4

Dinding Orbita:
o Atap orbita => terdiri dari facies orbitalis osis frontalis. Di bagian anterior lateral
atas, terdapat fosa lakrimalis yang berisi kelenjar lakrimal. Di posterior atap,
terdapat ala parva osis sphenoid yang mengandung kanalis optikus.
o Dinding lateral => dipisahkan dari bagian atap oleh fisura ortalis superior yang
memisahkan ala parva dan ala magna osis sphenoidalis. Bagian anterior dinding
lateral dibentuk oleh facies orbitalis osis zygomatici (malar), merupakan bagian
terkuat orbita.
o Dasar orbita => dipisahkan dari dinding lateral oleh fisura orbitalis inferior.
Bagian dasar yang luas terbentuk dari pars orbitalis osis maksilaris (merupakan
tempat yang paling sering terjadinya fraktur). Processus orbitalis osis platini
membentuk daerah segitiga kecil pada dasar posterior. 1,2,3,4

Apeks Orbita => merupakan tempat masuknya semua saraf dan pembuluh darah
ke mata serta merupakan tempat asal semua otot ekstraokuler kecuali obliquus
inferior.
Fisura orbitalis superior =>
o vena ophthalmika superior, nervus lakrimalis, frontalis, dan trabekularis =>
berjalan di bagian lateral fisura (di luar anulus Zinn)
o Ramus superior dan inferior nervus okulomotorius, nervus abducens dan
nasosiliaris => berjalan di bagian medial fisura (di dalam anulus Zinn)
o Vena ophthalmika superior sering bergabung dengan vena ophthalmika
inferior sebelum keluar dari orbita.
o Kanalis Optikus (di dalam anulus Zinn) => dilalui nervus optikus dan arteri
ophthalmika. 1,2,3,4

Perdarahan
Arteri Carotis Interna => Arteri Ophtalmika (berjalan dengan nervus optikus menuju
orbita dan bercabang)
 Arteri Retina Sentralis (cabang intraorbita pertama, memasuki nervus optikus
sekitar 8-15mm di belakang bola mata.
 Arteri Lakrimalis => perdarahi glandula lakrimalis dan kelopak mata atas.
 Arteri Siliaris Posterior Longa dan Brevis (cabang muskularis ke berbagai otot
orbita)
 Arteri Longa => perdarahi korpus siliare dan beranastomose dengan arteri
siliaris anterior membentuk circulus arterialis mayor iris.
 Brevis => perdarahi khoroid dan bagian nervus optikus
 Arteri Siliaris Anterior (cabang muskularis menuju muskuli recti) =>
perdarahi sklera, episklera, limbus, konjungtiva.
 Arteri Palpebralis (cabang ke kelopak mata)
 ACPL (Artery Cyliaris Posterior Longus) + ACA (Artery Cyliaris Anterior)
=> di pangkal iris membentuk sirkulus arteriosus mayor. 1,2,3,4

Bola Mata

Bola mata dewasa normal hampir mendekati bulat dengan diameter anteroposterior
sekita 24,5 mm. Pada saat bayi, panjangnya 16,5 mm.

Konjungtiva

Merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus:


 Permukaan posterior kelopak mata => konjungtiva palpebralis
K. Palpebralis melekat erat ke tarsus
 Permukaan anterior sklera => konjungtiva bulbaris
K. bulbaris melekat longgar ke septum orbitale di fornices dan melipat berkali-
kali. Pelipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar
permukaan konjungtiva sekretorik. Kecuali di limbus (tempat kapsul tenon
menyatu dengan konjungtiva sejauh 3 mm), konjungtiva bulbaris melekat
longgar dengan kapsul tenon dan sklera di bawahnya.
o Konjungtiva fornik
 Perdarahan konjungtiva versal dari arteri siliaris anterior dan arteri palpebralis.
Persarafannya berasal dari cabang pertama N. V. 1,2,3,4

Kapsula Tenon (Fascia Bulbi)

Kapsula Tenon merupakan membran fibrosa yang membungkus bola mata dari limbus
sampai ke nervus optikus. Di dekat limbus, konjungtiva-kapsula tenon-dan episklera
menyatu. Segmen bawah kapsula tenon tebal dan menyatu dengan fasia muskulus
rektus inferior dan muskulus obliquus inferior membentuk ligamentum suspensorium
bulbi(Ligamentum Lock-wood), tempat terletaknya bola mata. 1,2,3,4
Sklera dan Episklera

Sklera merupakan 5/6 bagian dinding bola mata berupa jaringan kuat yang berwarna
putih. Permukaan luar sklera anterior dibungkus oleh lapisan tipis jaringan elastik
halus yang disebut episklera. 1,2,3,4

Dibagian anterior, sklera bersambung dengan kornea dan dibagian belakang


bersambung dengan duramater nervus optikus. Beberapa sklera berjalan melintang
bagian anterior nervus optikus sebagai Lamina Cribrosa. Persarafan sklera berasal
dari saraf-saraf siliaris.
1,2,3,4
Episklera banyak mengandung pembuluh darah.

Lapisan pembungkus mata bagian luar:


1. Episklera
2. Sklera
3. Lamina Fusca=> lapisan berpigmen coklat pada permukaan dalam sklera yang
membentuk lapisan luar ruang suprakoroid.

Kornea

Kornea merupakan lapisan transparan yang melapisi 1/3 depan bola mata.
Permukaannya licin dan mengkilat. Lebih tebal di bagian pinggir dari pada sentral.
Indeks biasnya 1,337 dengan daya refraksi + 42 dioptri. Kornea bersifat avaskuler
sehingga nutrisinya berasal dari pembuluh darah limbus, air mata, dan akuos humor.
Dipersarafi oleh N. V1 (N. Ophthalmicus.1,2,3,4
Lapisan kornea :
1. Epitel : terdiri dari 5-6 lapis sel berbentuk kubus sampai gepeng.
2. Membrana Bowman : Lapisan jernih aseluler.
3. Stroma : terdiri dari kumpulan sel yang membentuk jaringan ikat yang kuat.
4. Membrana Dessement : sebuah membran jernih yang elastik, tampak amorf.
5. Endotel : merupakan satu lapis sel berbentuk kubus.
Bila ada infeksi kronik, kornea akan memutih dan terbentuk vaskuler pada kornea.
1,2,3,4

Uvea

Uvea merupakan lapisan vaskuler tengah mata dan dilindungi oleh sklera dan. Bagian
ini ikut memasok darah ke retina. Terdiri dari :
o Iris => merupakan perpanjangan korpus siliare ke anterior. Di dalam stroma iris
terdapat sfingter dan otot dilatator. Perdarahan iris berasal dari circulus mayor iris,
persarafannya berasal dari serat di dalam nervi siliare.

Iris berfungsi mengendalikan banyak cahaya yang masuk ke dalam mata. Ukuran
pupil ditentukan oleh keseimbangan antara konstriksi akibat aktivitas
parasimpatik yang dihantarkan melalui N. Kranialis III dan dilatasi yang
ditimbulkan oleh aktivitas simpatik.

o Korpus Siliare
Korpus siliare dan epitel siliaris pembungkusnya berfungsi untuk produksi akuos
humor. Muskulus siliaris tersusun dari gabungan serat longitudinal, sirkuler,
radial. Fungsi serat sirkuler adalah untuk mengerutkan dan relaksasi serat Zonula
yang berorigo di lembah di antara prosesus siliaris.
o Koroid => merupakan segmen posterior dari uvea, di antara retina dan sklera.
Tersusun dari 2 lapis pembuluh darah. 1,2,3,4

Lensa

Lensa merupakan struktur bikonveks, avaskuler, tak berwarna, dan hampir


transparan sempurna. Lensa Kristalin => saat neonatal bentuknya hampir bulat
dengan konsentrasi cair. Daya akomodasinya sangat kuat. Lensa kristalin ini tumbuh
seumur hidup di ekuator lensa sehingga semakin tua lensanya semakin padat dan daya
akomodasinya turun.
Saat dewasa, bentuknya cembung ganda, permukaan anterior lebih flat dibanding
posterior. Diameter 9 mmm, tebal 4,5-6 mm. Warnanya bening keabuan, transparan,
avaskuler. Daya refraksinya +16 dioptri, indeks bias 1,337.
Konsistensinya 65% air dan 35% protein (kristalin). Kandungan kalsium lensa
lebih banyak dari pada jaringan tubuh lain. Asam askorbat dan glutation terdapat
dalam bentuk teroksidasi maupun tereduksi. Tidak ada serat nyeri, pembuluh darah.
Menggantung pada korpus siliare melalui Zonula Zinii. Di anteriornya terdapat akuos
humor dan di posteriornya terdapat vitreus humor. 1,2,3,4

Aquaeus Humor
klik untuk perbesar gambar

Akuos humor merupakan cairan yang mengisi COA, diproduksi oleh korpus siliare di
COP (Kamera Okuli Posterior) yang selanjutnya mengisi COA dan dieksresi melalui
trabekula. Sepuluh persennya dieksresikan melalui iris. 1,2,3,4

Fungsi :
o Nutrisi lensa dan kornea sampai epitel
o Pertahankan TIO normal 10-20 mmHg.

Kamera Okuli Anterior (COA)

Sudut COA merupakan terbentuk dari perifer kornea dengan akar iris, besarnya 45'.
COA berisi cairan Akuos humor yang dihasilkan corpus siliaris.

Garis Schwalbe merupakan tanda dari berakhirnya kornea. Jalinan trabekula terdapat
di atas kanalis Schlemm. 1,2,3,4

Retina

Retina merupakan jaringan saraf tipis yang semi transparan, membentang dari papil
saraf optic ke depan sampai Oraserata. Tebalnya 0,1 mm, dan semakin tebal pada
bagian posterior. Pada retina terdapat:

o Makula => merupakan pigmentasi kekuningan (Xantofil) yang membatasi arcade


arteri retina sentralis sehingga Fovea menjadi avaskular
o Fovea => merupakan bagian di tengah makula, merupakan cekungan sehingga
menghasilkan pantulan khusus dengan ophthalmoscop yang disebut refleks fovea.
o Foveola => bagian paling tengah dari Fovea. Seluruhnya berupa sel Cone/ Sel
kerucut (sel foto reseptor) dan semakin ke perifer digantikan oleh sel Rod. 1,2,3,4

Vitreus
Korpus vitreus mengisi 2/3 bagian isi bola mata dan mempertahankan bentuknya
selalu bulat. Konsistensinya 99% air dan berbentuk gel. 1,2,3,4

ADNEKSA MATA

Alis Mata

Alis mata merupakan lipatan kulit menebal yang ditutupi rambut. Lipatan kulit ini
ditunjang oleh serat otot di bawahnya. Glabela merupakan prominentia tanpa rambut
di antara alis. 1,2,3,4
Palpebra

Palpebra merupakan modifikasi lipatan kulit yang dapat menutup dan melindungi bola
mata bagian anterior. Struktur palpebra :
o Lapisan Kulit => lapisan kulit luar, berbeda dengan kulit pada bagian tubuh lain
karena lebih longgar, tipis, dan elastik. Terdapat sedikit folikel rambut dan lemak
subkutan.
o Muskulus Orbikularis Okuli => berfungsi untuk menutup palpebra. Dipersarafi
oleh N. Facialis.
o Jaringan Alveolar => jaringan aerolar submuskular yang terdapat di bawah
muskulus orbikularis okuli.
o Tarsus => struktur penyokong utama palpebra berupa jaringan fibrosa padat.
Terdapat tarsus superior dan inferior.
o Konjungtiva Palpebra => selapis membran yang melekat pada tarsus di bagian
posterior palpebra. 1,2,3,4

Tepian Palpebra :

1. Tepian Anterior
o Bulu mata
o Glandula Zeis => modifikasi kelenjar sebasea kecil yang bermuara ke dalam
folikel rambut pada dasar bulu mata.
o Glandula Moll => modifikasi kelenjar keringat yang bermuara ke dalam satu
baris dekat bulu mata.

2. Tepian Posterior => bagian posterior palpebra yang berkontak dengan mata dan
di sepanjangnya bermuara dari kelenjar sebasea yang telah dimodifikasi
(Glandula Meibom)

3. Punktum Lakrimale. 1,2,3,4

Aparatus Lakrimalis
Terdiri dari glandula lakrimalis > duktus sekretori > menyebar di permukaan mata >
masuk ke punctum superior atau inferior > menuju kanalis superior atau inferior >
menyatu di kanalis komunis > sakus lakrimalis > duktus lakrimalis > bermuara pada
meatus inferior dari rongga nasal. Pasokan darah dari aparat lakrimal berasal dari
arteria lakrimalis. 1,2,3,4

PERSYARAFAN MATA

Nervus Optikus
Nervus opticus merupakan kumpulan dari 1 juta serat saraf. Terdapat beberapa bagian
:

o Pars Intra Okuler


Terdapat papil saraf optik berwarna merah muda dengan diameter 1,5 mm,
berbatas tegas, tempat keluar masuk arteri dan vena sentralis retina. Terdapat
cekungan (cup) normal dibanding papil (disc) dengan C/D = 0,3.
o Pars Intra Orbita
Keluar dari sklera, diameter 3 mm, panjang 25-30 mm. Berbentuk S dan berjalan
dalam muskular memasuki foramen optikum 4-9 mm.
o Pars Intra Kranial
Panjangnya 10 mm dan bergabung dengan nervus optikum sebelahnya
membentuk kiasma optikum
Ganglion retina dan aksonnya merupakan bagian dari susunan saraf pusat sehingga
tidak dapat beregenerasi bila terpotong. Mendapat pasokan darah dari cabang arteri
retina. 1,2,3,4
Kiasma Optikus

Kiasma dibentuk dari pertemuan kedua nervi optici dan merupakan tempat
penyilangan serat-serat nasal ke tractus optikus. Kiasma menerima perdarahan dari
circulus Willis. 1,2,3,4
Anatomi dan Fisiologi Otot Penggerak Bola Mata

Untuk diagnosis kelainan pergerakan mata, diperlukan penentuan kedudukan atau


posisi bola mata. Ada 9 posisi:
1. Posisi primer => mata melihata lurus ke depan
2. Posisi Sekunder => mata melihat lurus ke atas, bawah, kiri, dan kanan
3. Posisi Tertier => mata melihat ke atas kanan, atas kiri, bawah kanan, dan bawah
kiri. 1,2,3,4

Pergerakan bola mata dilakukan oleh 3 pasang otot mata luar.

1. Otot rektus medius (N III = okulomotorius)


=> adduksi => gulirkan bola mata ke arah nasal
2. Otot rektus lateral (N VI = abdusen)
=> abduksi => gulirkan bola mata ke arah temporal
3. Otot rektus superior (N III)
=> elevasi, adduksi, intorsi bola mata.
4. Otot rektus inferior (N III)
5. Otot oblik superior (N IV = troklear)
6. Otot oblik inferior (N III)

Masing-masing otot rectus berorigo pada sklera di depan ekuator (bagian tengah
mata). Masing-masing otot obliq berorigo pada sklera bagian lateral di belakang
ekuator. Otot levator tidak termasuk otot mata karena tidak berorigo pada bola mata.
Fungsi levator : menaikkan bola mata. 1,2,3,4

HISTOLOGI

a) Bola mata

 Diameter 2,5 cm
 Tunika Nervosa (Retina)

o Pars Seka Retina (P. Siliaris & P. Iridika)


o Pars Optika Retina.5

b) Kornea
 Jernih, transparan dan permukaannya halus

Terdiri dari 5 lapisan:

1) Epitel Kornea

o Epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk


o Terdiri dari 5 –6 lapis sel (daya regenerasi baik)
o Ujung bebas saraf sensoris terbanyak (sensitive)

2) Membrana Bowman

o Lapisan homogen, pucat, tebal 7-12 µm


o Terdiri dari fibril kolagen halus bersilangan dan tidak ada
sel
o Fungsi untuk stabilitas dan kekuatan kornea

3) Stroma Kornea / Substansia Propia

o Menyusun 90 % tebal kornea


o Terdiri dari serat kolagen sejajar saling menyilang halus
secara tegak lurus, diantaranya terdapat sel dan juluran-
juluran sitoplasma fibroblas

4) Membrana Descement

o Struktur homogen, tebal 5-10 µm


o Terdiri dari serat kolagen halus (jala)

5) Endotel Kornea

o Terdiri dari epitel selapis gepeng


o Sel memiliki organel yang berfungsi untuk transpor aktif &
sintesis protein untuk sekresi untuk pemeliharaan membran
Descement
o Fungsi untuk mempertahankan kejernihan kornea (bersama
epitel kornea)
o Sifat avaskular, nutrisi didapat dari difusi dari pembuluh
darah (Limbus kornea) & humor aquos 5

c) Limbus kornea
 Merupakan peralihan kornea dan sklera
 Terdiri dari epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk
 Membran descement menipis

 Stroma tidak teratur dan terdapat jalinan trabekula yang menyatu


membentuk saluran membentuk Kanal Schlemm (berfungsi untuk
mengangkut cairan dari kamera okuli anterior menuju vena)
 Sangat vaskular . 5

d) Sklera

 Struktur padat, berwarna putih opak


 Terdiri dari 3 lapisan:

1) Episklera (paling luar) :serat kolagen dan kapsula tenon


2) Stroma sklera : serat kolagen
3) Lamina fusca (lamina suprakoroid) : terletak diantara sklera dan
koroid yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang terdapat
melanosit, fibroblas dan serat elastin

 Pada posterior sclera dilewati serat nervus optikus dan pada bagian sentral
ada arteri dan vena sentralis retina. 5
e) Tunika vaskulosa

 Melapisi permukaan dalam sklera


 Mengandung pemb. Darah dan pigmen
 Fungsi : Memberi nutrisi jar. Mata, Akomodasi penglihatan dan Mengatur
jmlh cahaya yg masuk ke mata. 5

f) Koroid

 Seperti spons, warna hitam, sangat vaskular


 Diantara pemb. darah tdpt jar. Ikat longgar dgn banyak fibroblas,
makrofag, limfosit, sel mast, serat kolagen dan serat elastin dan juga
melanosit
 Tdd 4 lapisan :

1) Lapisan Suprakoroid (luar): terdiri dari jaringan ikat longgar


dengan serat kolagen, serat elastin jarang dan banyak melanosit
(lapisan antara koroid dengan sklera)
2) Lapisan Vaskulosa merupakan lapisan paling tebal, terdiri dari jar.
ikat longgar dan terdapat cabang arteri , vena dan melanosit
3) Lapisan Koriokapilaris: merupakan akhir cab. A. Koroidea,
terdapat anyaman pembuluh arteri nutrisi lapis luar retina, diantara
kapiler terdapat serat kolagen dan serat elastin dengan sedikit
fibroblas dan melanosit
4) Membrana Bruch (lamina elastika): yang memisahkan lapis
koriokapilaris dan lapis epitel pigmen retina, terdiri dari 5 lapisan :
lamina basal lapisan koriokapilaris, serat kolagen, serat elastis,
serat kolagen dan lamina basal epitel pigmen retina. 5
g) Korpus siliaris

 Merupakan perluasaan koroid ke anterior


 Potongan melintang : bentuk segitiga
 Jaringan ikat longgar dengan banyak serat elastin, pembuluh dan melanosit
(mengelilingi m. siliaris)
 Korp. Siliaris ditutupi oleh perluasaan retina ke anterior:

- permukaan dalam : epitel selapis silindris dgn melanin

- permukaan luar : epitel selapis silindris tanpa pigmen. 5

h) Prosesus siliaris

 Juluran dari korpus siliaris


 Terdiri dari jaringan ikat longgar dengan banyak kapiler
 Tersusun oleh 2 lapis epitel (spt pada korpus siliaris)
 terdapat serat-serat Zonula yang tertanam ke dalam simpai lensa (F/
menahan lensa agar tetap berada di tempatnya). 5

i) Iris

 Perluasan koroid yang sebagian menutupi lensa


 Terdapat lubang ditengah pupil
 Permukaan anterior: tidak rata, terbentuk oleh lapisan sel pigmen yang
tidak utuh dan fibroblas dibawahnya ada jaringan ikat dgn sedikit
pembuluh darah dan melanosit
 Permukaan posterior : rata, tersusun oleh 2 lapis epitel (spt pada korpus
siliaris)
 Iris mengandung berkas otot polos : m. sfingter pupil dan m. dilator pupil
 Fungsi melanosit : memberikan warna mata & mencegah masuknya
berkas cahaya yang dapat mengganggu pembentukan bayangan. 5

j) Lensa Kristalina

 Dibelakang pupil, transparan, bikonvex dan sangat elastis


 Kedudukan dipertahankan oleh zonula silliaris Zinnii

Tiga unsur utama:

- Kapsula lentis (serat kolagen tipis)

- Epitel subkapsular (Ep. selapis kubis di anterior lensa)

- Serat-serat lensa (protein kristalin). 5

k) Tunika nervosa(retina)

 Terdiri dari:

1) Pars Seka Retina (anterior, tidak fotosensitif) menyusun lapisan


dalam korpus siliaris dan posterior iris, pars siliaris retina & pars
iridika retina
2) Pars optika Retina (posterior, fotosensitif) Melekat pada koroid
dari papila n. opticus, Papila n. opticus bintik buta (tidak punya
sel fotoreseptor), merupakan tempat masuknya Nervus opticus ,
Fovea sentralis (daerah penglihatan paling jelas), Bintik kuning,
terdapat sel kerucut. 5

Lapisan Epitel Pigmen

o selapis sel silindris


o terdapat granula melanin
o berfungsi menyerap cahaya, mencegah pantulan cahaya, nutrisi
fotoreseptor dan penyimpanan serta pelepasan vit. A. 5
Lapisan Batang dan Kerucut

 Sel batang

o 120 juta sel pada retina manusia


o terdiri dari segmen luar dan segmen dalam
o segmen dalam : mitokondria , glikogen & Poliribosom sintesa
protein basal segmen luar ( vesikel)
o segmen luar : vesikel gepeng, pigmen rhodopsin (ungu) akibat
cahaya memudar rangsang penglihatan (saat intensitas
5
cahaya rendah).

 Sel Kerucut

o 6 juta sel pada retina manusia


o Terdiri dari segmen luar dan segmen dalam
o Segmen luar : daerah metabolik, tempat sintesis protein dan
fosfolipid untuk produksi energi
o Pigmen Iodopsin hanya sensitif terhadap intensitas cahaya lebih
tinggi (terutama Merah) penglihatan lebih tajam. 5

Lapisan Inti Dalam

1) Sel bipolar Difus


2) Sel Horisontal
3) Sel AmakrinSinaps
4) Sel Muller

Lapisan Sel Ganglion

- selain berhubungan dgn sel bipolar, akson menjulur ke Blind spot (bintik
buta)/papila nervi opticus à tidak ada fotoreseptor
- inti sel pucat dan besar

- jumlah sel bervariasi menurut letak. 5

l) Kelopak mata (palperbra)

- superior dan inferior

- Konjungtiva palpebra :

- mukosa melapisi bag. Dalam

- epitel berlapis silindris dengan sel goblet

- kulit : tipis, longgar dan elastis

3 Jenis kelenjar :

1. Kelenjar meibom

- kel. Sebacea panjang dan dalam, tidak tdpt folikel

- menghasilkan sebum à mencegah penguapan cepat lapisan


air mata

2. Kelenjar Moll

- kel. Apokrin tdk bercabang

- Pars terminalis tdk berkelok,

- sal. Keluar à folikel rambut

3. Kelenjar Zeiss

- modifikasi kel. Sebacea dan berhub. Folikel rambut mata. 5

m) Glandula lakrimalis

a. Kelenjar Lakrimalis
- penghasil air mata, di ant et sup temporaln dari orbita

- beberapa lobulus , 6 –12 sal. Keluar

- pars terminalis : kel. tubulo alveolar (sel torak serosa) & sel mioepitel

- muara à kuadran atas lateral fornix konjungtiva superior

b. Kanalikuli Lakrimalis : epitel berlapis gepeng

c. Sakus Lakrimalis : epitel bertingkat toraks bersilia

d. Duktus Nasolakrimalis : epitel bertingkat toraks bersilia. 5

FISIOLOGI

Mata adalah organ fotosensitif yang sangat berkembang dan rumit, yang
memungkinkan analisis cermat dari bentuk, intensitas cahaya, dan warna yang
dipantulkan objek. Mata terletak dalam struktur bertulang yang protektif di tengkorak,
yaitu rongga orbita. Setiap mata terdiri atas sebuah bola mata fibrosa yang kuat untuk
mempertahankan bentuknya, suatu sistem lensa untuk memfokuskan bayangan,
selapis sel fotosensitif, dan suatu sistem sel dan saraf yang berfungsi mengumpulkan,
memproses, dan meneruskan informasi visual ke otak. 4,6,7

Tidak semua cahaya yang melewati kornea mencapai fotoreseptor peka cahaya
karena adanya iris, suatu otot polos tipis berpigmen yang membentuk struktur seperti
cincin di dalam aqueous humour. Lubang bundar di bagian tengah iris tempat
masuknya cahaya ke bagian dalam mata adalah pupil. Iris mengandung dua kelompok
jaringan otot polos, satu sirkuler dan yang lain radial. Karena serat-serat otot
memendek jika berkontraksi, pupil mengecil apabila otot sirkuler berkontraksi yang
terjadi pada cahaya terang untuk mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke mata.
Apabila otot radialis memendek, ukuran pupil meningkat yang terjadi pada cahaya
temaram untuk meningkatkan jumlah cahaya yang masuk. 4,6,7

Untuk membawa sumber cahaya jauh dan dekat terfokus di retina, harus dipergunakan
lensa yang lebih kuat untuk sumber dekat. Kemampuan menyesuaikan kekuatan lensa
sehingga baik sumber cahaya dekat maupun jauh dapat difokuskan di retina dikenal
sebagai akomodasi. Kekuatan lensa bergantung pada bentuknya, yang diatur oleh otot
siliaris. Otot siliaris adalah bagian dari korpus siliaris, suatu spesialisasi lapisan
koroid di sebelah anterior. Pada mata normal, otot siliaris melemas dan lensa
mendatar untuk penglihatan jauh, tetapi otot tersebut berkontraksi untuk
memungkinkan lensa menjadi lebih cembung dan lebih kuat untuk penglihatan dekat.
Serat-serat saraf simpatis menginduksi relaksasi otot siliaris untuk penglihatan jauh,
sementara sistem saraf parasimpatis menyebabkan kontraksi otot untuk penglihatan
dekat. 4,6,7

2. Jelaskan pengaruh usia dan jenis kelamin terhadap keluhan yang dialami pasien?
Jawab:
Dari distribusi berdasarkan jenis kelamin dan usia, kasus ulkus kornea juga bervariasi.
Pada penelitian yang dilakukan di RS Sartjito Yogyakarta didapatkan 66,7% kasus
pada laki-laki dan pada perempuan 33,3%. Predisposisi dari banyaknya atau pengaruh
dari kasus tersebut tidak diketahui, kemugkinan berhubungan dengan banyaknya
kegiatan pada kaum laki-laki sehari-hari meningkatkan risiko terjadinya trauma,
termasuk trauma pada kornea. 2

3. Apa makna klinis mata kiri buram sejak 3 minggu yang lalu?
Jawab:
Pada saat mata kiri terkena batu kecil, terjadi lesi kornea dimana terdapat kerusakan
jaringan kornea (endotel). Sistem pompa endotel rusak mengakibatkan vasodilatasi
arteri siliaris anterior dan arteri konjungtiva posterior, maka dari itu sistem sel-sel
inflamasi memfagosit bakteri, selama 3 minggu tidak ada pengobatan maka sel-sel
inflamasi mati dan terjadi penumpukan sel-sel infiltrat sehingga membuat mata
menjadi buram.8

Trauma Inflamasi Infiltrat (bercak kelabu dengan batas yang jelas)

Kornea Mengalami Inflamasi

Kemampuan dioptri menurun

Buram

4. Penyakit apa saja yang ditandai dengan mata buram?


Jawab:
 Keratitis
Peradangan pada kornea ditandai dengan gejala : nyeri, fotofobia, penurunan
tajam penglihatan, dan edema stroma.
 Endoftalmitis
Peradangan supuratif intraocular yang melibatkan segmen anterior dan posterior
mata dengan gejala : penurunan penglihatan, mata merah, floaters, fotofobia dan
nyeri.
 Glaucoma akut
Merupakan persentasi klinis dari glaucoma sudut tertutup. Gejalanya : penurunan
penglihatan, mata merah, berair, nyeri luar biasa, mual dan muntah.
 Ulkus kornea
Merupakan diskontinuitas jaringan kornea akibat terjadinya defek epitel dengan
gejala : mata merah, berair,nyeri hebat, sensasi benda asing, terdapat secret, dan
penurunan penglihatan. 2

5. Jelaskan bagaimana perubahan fisiologi yang terjadi pada mata pasien setelah terkena
batu kecil?
Jawab:
Pada saat mata pasien terkena batu, mata pasien menjadi merah. Hal ini dikarenakan
adanya pelebaran pembuluh darah konjungtiva yang terjadi. Pelebaran ini terjadi
bertujuan untuk mengalirkan lebih banyak darah ke lokasi cidera sehingga
penyembuhan dapat terjadi lebih cepat.2

6. Apa saja penyakit yang ditandai dengan mata buram dan merah?
Jawab:
 Konjungtivitis gonore
 Keratitis
 Keratokonjungtivitis
 Ulkus kornea
 Iridosiklitis
 Glaukoma akut
 Endopthalmitis
 Sindrom Voght Koyanagi Harada
 Panophtalmitis.2

7. Apa hubungan pemberian daun sirih dengan keluhan yang dialami pasien sekarang?
Jawab:

Meskipun telah terbukti memiliki sifat antiseptik, namun sebaiknya penggunaan air
rebusan daun sirih untuk membersihkan mata dihindari. Terlebih jika dalam
pemrosesannya tidak terjamin kebersihan dan kesterilan dari ekstrak daun sirih yang
dihasilkan, sehingga penggunaannya justru akan meningkatkan risiko terjadinya
infeksi mata. 9
Mata mampu melindungi diri sendiri. Dalam keadaan normal, mata sebenarnya tidak
memerlukan pemberian cairan antiseptik dari luar untuk menjaga kebersihannya,
karena mata telah dilapisi oleh air mata yang mengandung albumin, globulin,
lysozym, imunoglobulin IgA, IgG, dan IgE yang dapat berfungsi untuk:

 menghambat pertumbuhan mikroorganisme


 memberikan nutrisi yang cukup kepada kornea
 membasahi dan melindungi permukaan epitel konjungtiva dan korena dari
benda-benda asing, misal debu dan partikel halus lainnya. 9

Selain itu, mata juga memiliki kelopak mata yang dapat berkedip untuk melindungi
mata dari paparan matahari, debu dan benda asing dari luar. Dengan adanya air mata
dan kelopak mata, maka mata sudah memiliki mekanisme pertahanan yang cukup
kuat terhadap debu, partikel-partikel halus ataupun dari mikroorganisme asing yang
biasa ditemukan di lingkungan kerja dan kehidupan sehari-hari. 9

Cairan hasil rebusan daun sirih akan menghasilkan ekstrak daun sirih berwarna
kuning muda kehijauan dan bersifat asam, dengan pH ± 4. Semakin banyak daun sirih
yang direbus, maka tingkat keasaman cairan rebusannya akan bertambah. 9

Paparan cairan yang bersifat asam ini akan bereaksi dengan air mata yang melapisi
permukaan mata, yang selanjutnya akan menimbulkan perubahan pH (tingkat
keasaman) di permukaan mata menjadi lebih asam. 9

Perubahan pH ini dapat menimbulkan kerusakan pada permukaan mata, yaitu pada
lapisan epitel kornea dan konjungtiva. Rasa perih yang timbul setiap kali seseorang
mencoba membersihkan matanya dengan air rebusan daun sirih merupakan suatu
pertanda terjadinya kerusakan pada permukaan mata, terutama pada permukaan
kornea yang banyak mengandung ujung-ujung serat saraf. 8

Daun sirih yang kotor dan tidak steril banyak mengandung mikroorganisme yang
dapat menimbulkan infeksi mata. Jamur merupakan salah satu mikroorganisme yang
sering ditemukan pada materi yang bersifat organik seperti daun-daunan. 9

Adanya kerusakan pada permukaan kornea akan mempermudah jamur tersebut untuk
masuk ke dalam kornea mata dan menimbulkan infeksi pada kornea mata. Inilah yg
memungkinkan awal terjadinya infeksi pada mata pasien sehingga keluhan pada mata
kiri pasien makin memberat setelah dibilas dengan air daun sirih. 9

8. Jelaskan makna klinis nyeri pada mata kiri pasien yang menjalar ke kepala dan terus
berdenyut!
Jawab:
Hal ini diakibatkan oleh saraf pada frontal yang merupakan satu kesatuan dengan
saraf optalmik. Jadi jika terdapat trauma, rasa sakit dapat menjalar hingga ke kepala.4

9. Bagaimana makna klinis tidak dirasakannya mual, muntah dan sensasi melihat
pelangi oleh pasien?
Jawab:
Menunjukkan tidak adanya peningkatan tekanan intraokular dan menyingkirkan
diagnosa banding glaukoma akut. 2

10. Apa saja obat-obatan antibiotik yang sering digunakan untuk mata?
Jawab:
a) Tetraksilin
Indikasi
Penggunaan topikal hanya dibatasi untuk infeksi mata dan kulit saja. Salep mata
golongan tetrasiklin efektif untuk mengobati trakoma dan infeksi lain pada mata
oleh bakteri gram-positif dan gram negatif yang sensitif. Selain itu juga untuk
profilaksis oftalmia neonatorum pada neonatus akibat Neisseria
gonorrhoe atau Chlamydia trachomatis.
Penyakit konjungtivitis inklusi dapat diobati dengan hasil baik selama 2-3
minggu, dengan memberikan salep mata atau obat tetes mata yang mengandung
golongan tetrasiklin. Pada trakoma pemberian salep mata golongan tetrasiklin
yang dikombinasi dengan doksisiklin oral 2 x 100 mg/hari selama 14 hari
memberikan hasil pengobatan yang baik. 10

b) Kloramfenikol
Indikasi
Untuk terapi infeksi superficial pada mata yang disebabkan oleh bakteri,
blepharitis, post operasi katarak, konjungtivitis bernanah, traumatik keratitis,
trakoma dan ulceratif keratitis. 10

c) Gentamicin
Indikasi
Konjungtivitis, Blefaritis, Keratitis, Keratokonjungtivitis, Dakriosistitis, Ulkus
Kornea, Meibomianitis akut, Episkleritis akut, Blefarokonjunctivitis. 10 mg dapat
disuntikan secara subkonjungtiva untuk infeksi mata yang berat. 10

d) Tobramicin
Indikasi
Pengobatan infeksi mata superficial, seperti konjungtivitis, Blefaritis, Keratitis,
Keratokonjungtivitis, Dakriosistitis, Ulkus Kornea, Meibomianitis akut,
Episkleritis akut, Blefarokonjunctivitis. 10
IM, IV : Pengobatan infeksi basiler gram negatif dan infeksi akibat stafilokokus
bila penisilin atau obat yang kurang toksik lainnya dikontraindikasikan atau telah
terjadi resistensi terhadap gentamisin. 10

11. Mengapa pasien tidak merasakan perubahan walaupun telah diberikan pengobatan
salep antibiotik?
Jawab:
Setelah mendapatkan antibiotik dari dokter, keluhan pasien tidak berkurang. Hal ini
dapat terjadi karena beberapa alasan. Mungkin saja, antibiotik yang diberikan dokter
tidak tepat guna, maksudnya dosis obat yang tidak adekuat, pilihan obat yang tidak
tepat dan sebagainya. Atau mungkin juga karen pasien tidak menggunakan obat
dengan baik dan benar. Bisa juga kemungkinan lain, yaitu dari penyebabnya.
Mungkin penyebab keluhan yang dirasakan oleh pasien bukan berasal dari bakteri,
tapi dari mikroorganisme lain, contohnya jamur mengingat jamur paling sering
ditemukan pada daun sirih. 11

12. Bagaimana makna klinis visus 6/6 dan tekanan intraokular 17,5 mmHg?
Jawab:
Visus yang bernilai 6/6 menandakan bahwa mata tersebut tidak mengalami penurunan
ketajaman atau dapat dikatakan dalam keadaan yang normal. Sementara itu tekanan
intraokular yang bernilai 17,5 mmHg menandakan bahwa tekanan pada bola mata
masih dalam ukuran normal (12 – 20 mmHg). 2

13. Bagaimanakah nilai normal tekanan intraokuler? Apa saja faktor yang mempengaruhi
tekanan intraokuler dan apa menyebabkan peningkatan tekanan intraokuler?
Jawab:
Tekanan intraokuler memiliki nilai normal, yaitu 12-20 mmHg.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan intraokuler adalah sebagai berikut:
 Lapisan dinding bola mata
 Volume bola mata yang terdiri dari: aqueous humor, korpus vitreous,
pembuluh darah intraokuler dan isinya
 Faktor lain, seperti: usia, jenis kelamin, ras, herediter, variasi diurnal, variasi
musim, tekanan darah, latihan, perubahan badan, hormonal, obat-obatan,
pergerakan bole mata, penutupan bola mata, inflamasi dan operasi. 12
Adapun penyebab dari peningkatan tekanan intraokuler, yakni karena adanya
sumbatan pada proses pengeluaran cairan yang dihasilkan oleh aqueous humor.
Aqueous humor adalah cairan yang memberi nutrisi ke kornea dan lensa, dihasilkan di
badan siliaris melalui difusi dan transport plasma. Cairan ini mengalir melalui pupil
dan mengisi ruang anterior mata. Cairan ini dalam keadaan normal diserap kembali
melalui jaringan trabekula ke dalam kanal schlemm, yakni saluran venosa pada
sambungan antara iris dan kornea (sudut bilik anterior). Terjadinya sumbatan pada
saluran keluar inilah yang menyebabkan peningkatan tekanan intraokular. 13
14. Apa makna klinis visus 1/300, tekanan intraokular normal, injeksi konjungtiva (+),
injeksi siliar (+)?
Jawab:
Visus 1/300 menjelaskan bahwa terjadi penurunan tajam penglihatan (dengan uji
lambaian tangan, yang mana pada orang normal dapat melihat lambaian tangan pada
jarak 300 meter, sedangkan pada pasien hanya bisa melihat lambaian tangan pada
jarak 1 meter). 2
Tekanan intraocular normal artinya tekanan cairan didalam mata dalam keadaan
normal dengan rata-rata 15 mm.
Injeksi konjungtiva (+) menunjukkan adanya pelebaran pembuluh darah arteri
konjungtiva posterior. Sedangkan injeksi siliar (+) menunjukkan adanya pelebaran
pembuluh darah perikornea pada arteri siliar anterior. 2

15. Jelaskan sifat-sifat injeksi konjungtiva dan injeksi siliar!


Jawab: 2
Injeksi Konjungtiva Injeksi
Siliar/Perikorneal
Asal Arteri konjungtiva posterior Arteri siliaris
Memperdarahi Konjungtiva bulbi Kornea segmen anterior
Lokalisasi Konjungtiva Dasar konjungtiva
Warna Merah segar Lebih ungu dibanding
dengan pelebaran
pembuluh darah
konjungtiva
Mobilitas Mudah digerakkan dari dasarnya. Hal ini Tidak ikut serta dengan
disebabkan karena arteri konjungtiva pergerakan konjungtiva
posterior melekat secara longgar pada bila digerakkan, karena
konjungtiva bulbi yang mudah dilepas menempel erat dengan
dari dasar sklera jaringan perikornea
Arah aliran Ke perifer (limbus) Ke sentral (kornea)
Sekret + -
Penglihatan Normal Menurun
Dengan Menciut Tidak menciut
epinefrin 1:1000
Fotofobia - +
Penyakit Konjungtiva Kornea, iris, glaukoma
Ukuran pupil Normal dengan reaksi normal Iregular kecil (iritis) dan
lebar (glaukoma)

16. Jelaskan macam-macam pemeriksaan mata dan bagaimana melakukan pemeriksaan


mata?
Jawab:
PEMERIKSAAN MATA

Tujuan pemeriksaan mata adalah untuk mengetahui kondisi mata seseorang yang
diperlukan dalam rangka chek up medik atau untuk persyaratan administratif suatu
bidang pekerjaan. Mencari penyebab yang mendasari keluhan mata pasien, untuk
menegakkan diagnosis dan selanjutnya memberikan pangobatan atau tindakan yang
rasional. 7,14
Urutan pemeriksaan pencatatan sistematik berkaitan dengan fungsi :
1. kelainan tajam penglihatan.
2. posisi bola mata
3. fungsi otot-otot penggerak bola mata
4. kelainan adneksa mata
5. kelainan pada bola mata : bentuk, simetris, tekanan intra okular, konjungtiva,
sklera, kornea, kamera okuli anterior, iris, pupil, lensa, retina dan saraf optik.
6. kelainan pada fungsi lapangan pandang, penglihatan binokular, serta stereopsis
dilakukan sesuai keperluan
7. bila ada riwayat sakit, tindakan operasi mata, dilakukan pemeriksaan silang
tentang kondisinya saat ini. 7,14

Urutan pemeriksaan dan pencatatan sistematik berkaitan dengan mencari penyebab :


1. pengamatan saat pasien masuk ruang periksa sangat menolong alur pikir
dokter untuk memfokuskan serta menelusuri bagian mata mana yang akan
diperiksa
2. usia pasien seringkali penting untuk membantu pemikiran suatu penyakit yang
biasanya terdapat kelompok umur tertentu.
3. keluhan dan riwayat penyakit penderita perlu dicermati dengan anamnesis
yang mengarah pada diagosis atau differensial diagnosa. Keluhan dan gejala
penderita dikelompokkan ke dalam 5 hal yaitu
- keluhan mengenai tajam penglihatan atau visus
- mata berair atau mengeluarkan kotoran
- rasa sakit atau tidak enak
- perubahan penampilan yang berbeda dari biasanya pada kelopak, orbita
atau bola mata
- diplopia, pusing atau vertigo.
4. pemeriksaan sistematik meliputi pemeriksaan :
- tajam penglihatan masing-masing mata
- posisi bola mata, duksi dan versi
- inspeksi dan palpasi
- tekanan bola mata
- lapangan pandang
- segmen depan dan segmen belakang bola mata
- khusus. 7,14

I. ANAMNESIS
Keluhan utama digolongkan menurut lama, frekuensi, intermitensi dan cepat
timbulnya. Lokasi, berat dan keadaan lingkungan saat timbul juga penting serta
gejala tambahan. Pemahaman dasar tentang simptomatologi diperlukan agar dapat
melakukan pemeriksaan mata dengan benar. Gejala mata dapat dibagi dalam 3
kategori dasar yaitu kelainan penglihatan, kelainan penampilan mata dan kelainan
sensasi mata.
Riwayat penyakit yang lalu berpusat pada keadaan kesehatan umum dan bila ada
penyakit sistemik penting
Riwayat keluarga berhubungan dengan gangguan mata seperti strabismus,
ambliopia, glaukoma, katarak dan masalah retina. 7,14

II. PEMERIKSAAN DASAR MATA


1. Tajam Penglihatan Sentral
Ketajaman visual yang tidak terkoreksi diukur tanpa kacamata atau lensa
kontak. Ketajaman terkoreksi berarti bahwa alat-alat bantu tadi dipakai pada
saat pemeriksaan. Penurunan ketajaman visual tidak terkoreksi dapat
diakibatkan oleh kesalahan refraksi semata, ketajaman visual terkoreksi
merupakan cara penilaian yang lebih relevan bagi kesehatan mata. 7,14
a. Optotipe
- Memakai kartu snellen yang ditempatkan pada jarak 5-6 meter/20 kaki (pada
jarak ini, mata akan melihat benda dalam keadaan istirahat tanpa akomodasi)
ditempat yang cukup terang tapi tidak menyilaukan.
- Pada pinggir tiap baris ada kode angka yang menunjukkan berapa meter
huruf sebesar itu oleh mata normal masih dapat dikenali. Ada juga angka-
angka dipinggir lainnya, yang menunjukkan nomor baris supaya secara cepat
mengetahui visus dengan hanya menanyakan baris nomor berapa oleh
penderita masih dapat terbaca. 7,14

Cara Pemeriksaan :
- Penderita duduk menghadapi kartu snellen.
- Diperiksa mata kanan terlebih dulu,mata yang tidak akan diperiksa tajam
penglihatan ditutup.

Fig. 1.4a One eye is covere with the palm of the hand
without pressure, so that the far and near sight in the felloweye can be
tested separately.
- Pasien diminta membaca huruf yang tertulis pada kartu snellen yang
dimulai dengan membaca baris atas dan bila telah terbaca penderita
diminta utuk membaca baris dibawahnya.
- Ditentukan letak baris terakhir yang masih dapat dibaca.
- Penilaian : bilamana salah satu mata penderita hanya dapat mengenali
sampai pada huruf-huruf baris berkode 20 kaki(6 meter) dan penderita ke
kartu berjarak (20 kaki)6 meter,maka tajam penglihatan 20/20(6/6). kalau
dari barisan itu ada beberapa yang salah sebut, tambahkan huruf S
(salah).misal pada baris 20 kaki kesalahan 1 huruf maka visus: 20/20(6/6)
false 1. Jika kesalahan huruf lebih dari separuh maka visusnya adalah baris
diatasnya.
- Bila huruf yang besarpun yang berkode 200 kaki (60m) tak terbaca
dilanjutkan dengan menghitung jari. 7,14
b.Hitung Jari
Bila huruf yang terbesar tidak dapat dikenal, maka dinilai jarak terjauh
dimana penderita masih dapat menghitung jari. Dimulai pada jarak 1 meter
kemudian mundur bertahap sejauh 1 meter sampai pada jarak 5 meter.
Menghitung jari oleh mata normal masih dapat dikenal pada jarak terjauh 60
m. Jika penderita dapat menghitung jari pada jarak 1 meter, Tajam
penglihatan dituliskan : 1/60. 7,14

c. Gerakan Tangan
Kalau mata tersebut tidak dapat menghitung jari maka dinilai apakah masih
mampu mengenali tangan yang digoyangkan vertikal dan horisontal.
Goyangan oleh mata normal masih dapat dikenal pada jarak terjauh 300 m.
Jika penderita dapat melihat gerakan tangan pada jarak 1 meter, Tajam
penglihatan dituliskan :1/300. 7,14

d.Persepsi Cahaya
Bila juga tidak mengenal ada tangan yang digoyang-goyangkan di depan
matanya, periksa apakah masih dapat mata itu mengenal ada tidaknya
cahaya. Persepsi cahaya oleh mata normal masih dapat dikenal pada jarak
tak terhingga. Tajam penglihatan dituliskan : 1/~. 7,14
Tanyakan apa masih dapat mengenal dari arah mana cahaya datang. Jika
masih dapat mengenali arah cahaya datang maka visus 1/~. dengan proyeksi
cahaya baik
Bila cahaya pun tak dikenal, maka tajam penglihatan 0. 7,14

2. Posisi bola mata yang normal adalah ortho, hal ini terlihat dari pemberian
cahaya dan refleknya pada kornea. Bila kesannya juling perlu diperiksa
dengan pemberian sinar sentolop dan perhatikan reflek cahaya pada kornea
kanan dan kiri, selanjutnya nilai simetrinya. Pada juling palsu yaitu oleh
adanya pelebran kulit bagian nasal (epikantus) refleks cahaya pada kedua
kornea adalah simetris. 7,14
3. Inspeksi dan Palpasi
Kelainan yang mencolok berupa ukuran bola mata seperti mikroftalmus atau
buftalmos, adanya penonjolan bola mata (eksoftalmos) atau penekanan bola
mata oleh tumor perlu diperhatikan. Penonjolan bola mata diukur dengan alat
Hertel
 Alis mata
 Bulu mata : Arah tumbuh silia, lihat akar bulu mata
 Palpebra
Diperhatikan mulai dari silia (trikisis, entropion palpebra), margo dan
fissura palpebra (normal lebar fissura adalah 10 sampai 12 mm di bagian
tengah, fissura dapat mengecil pada edema palpebra, blefaritis, ptosis,
pseudoptosis, blefarofimosis. Fisura melebar terdpat pada hipertiroid dan
tumor bola mata), ptosis, lagoftalmus, blefaritis, adanya keropeng atau
skuama atau xantelasma.
 Sistem Air Mata
Dinilai dari keadaan pungtum lakrimal yang sempit atau tersumbat. Tekan
daerah sakus, amati kalau ada keluar lendir atau nanah dari pungtum
lakrimal.
Uji Schirmer adalah untuk mengetahui sekresi air mata oleh kelenjar air
mata dengan menggunakan kertas filter Whatman. Uji ini tidak menilai
kualitas air mata yang berhubungan dengan kadar musin yang dikeluarkan
oleh sel goblet.
Uji Anel dilakukan untuk mengetahui adanya sumbatan pada sistem
ekskresi air mata dengan menggunakan jarum anel dan alat suntik.
 Konjungtiva tarsalis dan bulbi
Amati kelainan secara bersamaan. Bila ada dugaan robekan pada sklera,
jangan melakukan penekanan pada bola mata.
Cara pemeriksaan konjungtiva tarsalis inferior :
Minta penderita untuk melirik ke atas sambil membuka palpebra inferior
ke bawah.
Cara pemeriksaan Konjungtiva palpebra superior :
Penderita diminta melihat ke bawah, pinggir palpebra supeior dipegang
dengan jari tangan kiri, kemudian tekan dengan menggunakan cotton
bud pada daerah pinggir tarsus kira-kira 6 mm dari pinggir palpebra ,
sesaat dengan penarikan pinggir kelopak ke arah atas. Kemudian tahan
kelopak yang dibalik itu dengan ibu jari kiri.

Amati adakah kelainan :


Kelainan yang dijumpai dapat berupa giant papil cobble stone, membran,
pseudomembran, sikatrik., simblefaron, hordeolum serta kalazion.
Kelainan pada konjungtiva bulbi dapat berupa injeksi konjungtiva,
injeksi siliar, injeksi episklera, perdarahan subkonjungtiva, flikten,
simblefaron, pinguekula, pterigium atau pseudopterigium. 7,14

Segmen depan
Pemeriksaan dilakukan pada ruang gelap dengan menggunakan oftalmoskop atau
dengan bantuan sumber cahaya dan lensa spheris + dengan kekuatan 10 dioptri
difokuskan pada tempat yang akan diperiksa. 7,14
 Kornea
Kornea normal jernih, permukaan licin dan rata. Diameter kornea normal
adalah 12 mm. Bila lebih besar disebut makro kornea, bila lebih kecil
disebut mikro kornea. Apabila tidak jernih dapat disebabkan oleh karena :
xerosis kornea, edema kornea, infiltrat, ulkus, keratomalasia, pannus,
sikatriks dalam beberapa tingkatan nebula, leukoma, leukoma aheren,
stafilo kornea. 7,14
Permukaan kornea dilakukan dengan uji placedo. Untuk defek epitel
dilakukan uji fluoresein. Dan uji sensibilitas kornea menggunakan
kapas.Amati apakah kelengkungan kornea normal, keratokonus atau
keratoglobus. 7,14

Fig. 1.11 Corneal Sensitivity can be evaluated with a distended cotton


swab. The patient looks straight ahead
while the examiner touches the cornea anteriorly

 Bilik Mata Depan (kamera okuli anterior)


Dinilai kedalamannya (dalam atau dangkal) adanya suar (fler), hifema,
hipopion. Kedalaman bilik mata depan dapat diperiksa dengan
menggunakan sentolop dan loupe dedangkan adanya suar akan jelas
terlihat dengan menggunakan slit lamp. Sudut bilik mata depan dapat
diperkiarakan sempit atau lebar dengan pemeriksaan menggunakan
sentolop dan loupe, pemeriksaan lebih detil perlu menggunakan goniolens.
Kekeruhan tampak sebagai garis cahaya yang disebut tyndall efek. 7,14

 Iris dan Pupil


Penampakan iris yang normal adalah adaya kriptes serta warna yang
ditimbulakan oleh pigmen iris. Kelaianan dapat berupa atrofi, adanya
pembuluh darah (rubeosis) sinekia anterior atau posterior. Amati
permukaan, warna, betuk, besar dan reaksi langsung terhadap cahaya. 7,14
Pupil yang normal bentukya bulat, sama besar pada kedua mata (isokor),
midriasis bila > 5 mm, miosis bil < 2 mm. Oklusi pupil yaitu pupil
tertutup oleh jaringan radang yang terletak didepan lensa. Seklusi pupil
bila seluruh lingkaran pupil melekat pada dataran depan lensa. Leukokoria
yaitu pupil yang berwarna atau menampilakn refleks putih. Reflek pupil
tidak ada pada keadaan ruptur sfingter, penglihatan tidak ada, gannguan
saraf parasimpatis atau akiabt obat serta sinekia posterior. 7,14

 Lensa
Dengan penyinaran miring 45 deraat dari poros mata dapat dinilai
kekeruhan lensa dengan mengamati lebar pinggir iris pada lensa yang
keruh (iris shadow). Bila letak bayangan jauh dan besar berarti kataraknya
imatur sedang bayangan kecil dan deakt dengan pupil terjadi pada katarak
matur. 7,14
Nilai :
- bila bayangan iris pada lensa terliaht besar dan letaknya jauh
terhadap pupil berarti lensa belum keruh seluruhya (belum sampai ke
depan). Ini terjadi pada katarak imatur. Keadaan ini disebut iris
shadow (+)
- bila bayangan iris pada lensa kecil dan dekat terhadap pupil berarti
lensa sudah keruh seluruhnya (sampai pada kapsul anterior) terdapat
pada katarak matur. Iris shadow (-)
- bila katarak hipermatur, lensa sudah keruh seluruhnya, mengecil
serta terletak jauh di belakang pupil, sehingga iris pada lensa besar
dan keadaan ini disebut pseudopositif. 7,14

Segmen Belakang
 Badan Kaca
Badan kaca yang melekat pada permukaan belakang lensa masih mungkin
terliaht dengan penyinaran yang terfokus dan pupil yagn dilebarkan.
Dengan teknik retroiluminasi yaitu menyinari secara tidak langsung dari
pantulan cahaya oleh iris atau fundus okuli akan dapat diliaht adanya
kekeruhan pada badan kaca, lensa bagian belakang serta kornea. 7,14

 Saraf Optik
Pemeriksaan menggunakan oftalmoskop. Penilaian papil dilakukan atas
batas, warna dan pembuluh darah papil seta cekungan papil yang normal
0,2-0,3 dari diameter papil. Warna normal papil adalah kemerahan,warna
pucat menunjukkan atrofi. 7,14
 Retina dan Koroid
Pantulan warna merah jingga dari retina yagn cerah dan bersih
menunjukkan retina koroid yagn sehat. Pada oftalmoskop retina
diperhatikan adanya perdarahan, eksudat, pembuluh darah retina (arteri
yagn spastik, crossing phenomene) atau adanya ghost vessel. Perlu
diperhatikan pula adanya penampakan-penampakan lain di retina misal
bone spicules. 7,14
4. Pemeriksaan Tekanan Bola Mata
Pemeriksaan sederhana dengan digital namun hasil tidak akurat dan sangat
tergantung pada pengalaman pemeriksa. Tekanan intraokuler tinggi pada
perabaan seperti lidah yang didesakkkan ke pipi. 7,14

Fig. 1.15 The examiner uses both index fingers to palpate the
eye through the upper eyelid.
Teknik :
- mata ditutup
- pandangan kedua mata menghadap ke bawah
- jari-jari lainnya bersandar pada dahi dan pipi pasien
- kedua jari telunjuk menekan bla mata pada bagian belakang kornea
bergantian
- satu telunjuk mengimbangi tekanan saat telunjuk lainnya menekan bola
mata. 7,14

Nilai :
Didapat kesan berapa ringannya bola mata dapat ditekan
Penilaian dilakukan dengan pengalaman sebelumya yag dapat dicatat,
mata N-, N, N+ yang menyatakan tekanan lebih tinggi atau lebihrendah
daripada normal
Tekanan dapat dibandingkan dengan tahanan bagian lentur telapak
tangan dengan tahanan tekanan bola mata bagian superior. Bila tekanan
lebih tinggi dapat dicurigai adanya glukoma. 7,14

Cara lain dengan tonometer Schiotz dimana hasilnya dapat diandalkan .


- penderita ditidurkan tanpa bantal
- tetesi amta dengan pantokain
- bersihkan telapak tonometer dengan kasa yang dibasahi alkohol,
biarkan mengering
- penderita disuruh membuka kedua amtanya dan menatap lurus ke
atas
- pegang tonometer pada pemegangnya dan dekatkan telapaknya
dengan hati-hati ke permukaan kornea. Usahakan tegak lurus betul
dan turunkan tepat di tengah kornea
- perlu mengingatkan penderita berulang-ulang untuk terus menetap
lurus ke depan
- baca skala yang tertunjuk. Lihat nilai tekanan dalam daftar konversi
untuk beban yang dipakai.
- Nilai normal 12-20 mmHg. 7,14

5. Pemeriksaan Lapang Pandangan


Pemeriksaan lapangan penglihatan perifer secara kasar dan cepat dilakukan
dengan tes konfrontasi. Karena lapangan penglihatan kedua mata saling
bertindih, masing-masing mata harus dites secara terpisah.
Teknik :
- Pasien didudukkan menghadap pemeriksa dengan jarak 1 meter
- Mata kiri pemeriksa ditutup dan mata kanan penderita ditutup
- Mata kanan pemeriksa dengan mata kiri pasien saling berpandangan
- Sebuah benda diletakkkan antara pasien dengan pemeriksa pada jarak
yang sama
- Benda mulai digerakkan dari perifer ke arah sentral sehingga mulai
terlihat oleh pemeriksa.
- Bila pemeriksa sudah melihat benda maka ditanya apakah benda sudah
terlihat oleh pasien.
- Hal ini dilakukan untuk semua arah (atas, bawah, nasal dan temporal)
- Percobaan dilakukan juga pada mata satunya, baik pada pemeriksa
maupun pada pasien. 7,14

Nilai :
- Bila saat melihat benda oleh pasien dan pemeriksa sama hal ini
menunjukkan lapang pandangan sama pada mata kanan pemeriksa dan
mata kiri penderita
- Bila pasien melihat terlambat berarti lapang pandangan lebih sempit
dibanding lapang pandangan pemeriksa. 7,14
Fig. Confrontation test: the patient faces the examiner at a distance of 1m with
his or her eyes at the same level as the examiner’s. Each focuses on the other’s
opposite eye while covering their contralateral eye with the palm of the hand. The
examiner moves a pen from the periphery toward the midline in all four quadrants
in the nasal and temporal fields and in the superior and inferior fields.
6. Uji Penjajaran Binokuler
- Pasien normal memiliki penglihatan binokuler. Karena masing-masing
mata menghasilkan bayangan visual terpisah dan independen dari mata
yang lain, otak harus mampu menyatukan kedua bayangan untuk
menghindari penglihatan ganda. Hal ini tercapai dengan menempatkan
masing-masing mata sedemikian rupa sehingga kedua fovea bersamaan
terfiksir pada obyek bersangkutan.
- Pasien diminta melihat ke lightpen yang diletakkkan berjarak beberapa
sentimeter. Sebuah pantulan cahaya kecil akan tampak pada masing-
masing kornea dan dipusat masing-masing pupil jika kedua mata
terpadu lurus.
- Jika posisi mata konvergen sehingga satu mata mengarah ke dalam,
pantulan cahaya akan berada di sebelah temporal terhadap pupil pada
mata itu.
- Jika posisi mata divergen sehingga satu mata mengarah ke luar,
pantulan cahaya akan jatuh lebih ke nasal dalam mata itu. 7,14
7. Pemeriksaan Gerak Ekstraokuler
- Pemeriksa meminta pasien menggerakkan bola matanya mengikuti
gerakan obyek (pensil/pena) ke delapan arah yaitu: lateral, medial,
lateral atas, medial atas, medial bawah, lateral bawah, ke atas dan ke
bawah.
- Lihat kembali persarafan otot-otot ekstraokuler. 7,14
8. Pemeriksaan oftalmoskop langsung
Manfaat utama oftalmoskop langsung adalah pemeriksaan fundus. Dapat pula
digunakan untuk pemeriksaan segmen anterior mata (keadaan media refrakta).
Alat : oftalmoskop,obat midriatikum tropicamide 0,5-1% (mydriacyl)
Sebaiknya sebelum melebarkan pupil diukur tekanan bola mata terlebih
dahulu. 7,14

Teknik :
- Pupil dilebarkan dengan cara memberikan obat midriatikum atau
menggelapkan ruangan.
- Mata dan tangan kanan pemeriksa harus memeriksa mata kanan pasien.
Mata dan tangan kiri pemeriksa harus memeriksa mata kiri pasien.
- Meminta pasien untuk menatap jauh ke depan.
- Mula-mula diputar roda lensa oftalmoskop sehinggamenunjukkkan angka
+12.00 dioptri
- Oftalmoskop diletakkan 10 cm dari mata pasien.pada saat ini fokus
terletak pada kornea atau pada lensa mata
- Bila ada kekeruhan pada kornea atau lensa mata akan terliaht bayangan
yang hitam apda dasar yagn jingga.
- Selanjutnya oftalmoskop lebih didekatkan pada mata pasien dan roda lensa
oftalmoskop diputar, sehingga roda lensa menunjukkan angka mendekati
nol
- Sinar difokuskan pada papil saraf optik
- Diperhatikan warna, tepi dan pembuluh darah yang keluar dari papil saraf
optik
- Yang diteliti adalah : diskus (bentuk, warna, ukuran, warna dan ketajaman
tepian), ukuran fisiologic cup yang berwarna pucat di pusat, fovea
(ditandai dengan sebuah pantulan putih kecil, yaitu daerah yang tidak ada
pembuluh darah retina), makula dan pembuluh retina(vena lebih lebar dan
gelap) perhatikan warna, kelokan dan kaliber pembuluh darahnya.
- Retina temporal mata kanan terlihat bila pasien melihat ke temporal kanan
- Retina superior terlihat bila pasien melihat ke atas.
- Rasio ukuran cup terhadap ukuran diskus penting dalam diagnosis
glukoma.
- Mata pasien diminta melihat suber cahaya oftalmoskop yang dipegang
pemeriksa, dan pemeriksa daapt meliaht keadaan makula lutea pasien.
- Dilakukan pemeriksaan pada seluruh bagian retina. 7,14

Normal : warna merah cemerlang. Kalau terjadi kekeruhan pada media


refrakta maka akan tampak bintik hitam dengan latar belakang merah. 7,14
Pada kornea yang jernih, kekeruhan pada humour aquous bisa ditentukan
denga pemeriksaan sebagai berikut (apakah kekeruhan di lensa atau di corpus
vitreum2,7
Penderita diminta untuk melirik. Jika kekeruhan bergerak tidak beraturan
berarti letak kekeruhan di corpus vitreum sedangkan jika beraturan berarti
letak kekeruhan di dalam lensa. 7,14

III. Pemeriksaan Khusus


1. Placido Test/ Keratoskop Placido
Sumber cahaya dari belakang penderita, keratoskop placido dihadapkan
pada penderita dan pemeriksa mengintip dari lubang yang ada di tengah
keratoskop placido ( dapat dengan bantuan lensa spheris + 10 dioptri)
maka akan tampak gambaran keratoskop placido di permukaan kornea.
Mata kanan pemeriksa memeriksa mata kanan penderita.
Interprestasi :
a. gambaran konsentris seperti keratoskop palcido : permukaan kornea
rata
b.gambaran bergelombang : oedem kornea
c. gambaran terputus : infiltrat defek kornea
d.gambaran tidak konsentris : permukaan kornea tidak rata. 7,14

2. Tes Fluoresin
Untuk mengetahui terdapatnya kerusakan epitel kornea. At warna
fluoresein akan berubah berwarna hijau pada media alkali.. Zat warna
fluoresein bila menempel pada epitel kornea yang defek akan
memberiakn warna hiaju karena jaringan epitel rusak bersifat lebih
basa. 7,14
Alat : zat warna fluoresein 0,2-2% tetes mata atau kertas fluoresein
Obat tetes mata anestetikum pantokain
Teknik :
- mata ditetes pantokain 1 tetes
- zat warna fluoresein ditetedkan pada amta atau kertas
fluoresein ditaruh pada forniks inferior selama 20 detik.
- Zat warna diirigasi dengan garam fisiologik sampai seluruh
air mata tidak berwarna hijau lagi
- Dilihat bagian pada kornea yang berwarna hijau. 7,14
Nilai : bila terdapat warna hijau pada kornea berarti terdapat defek
pada epitel kornea. Defek ini dapat dalam bentuk erosi kornea atau
infiltrat yang mengakibatkan kerusakan epitel. 7,14

3. Pemeriksaan Kelainan Refraksi


a. Miopi
Pemeriksaan dilakukan guna mengetahui derajat lensa negatif yang
diperlukan untuk memperbaiki tajam penglihatan. 7,14
Alat : Bingkai percobaan dan Sebuah set lensa coba
Teknik :
- Pasien duduk menghadap kartu snellen pda jarak 6 meter
- Pada mata dipasang bingkai percobaan
- Satu mata ditutup
- Pasien diminta membaca kartu snellen mulai huruf terkecil
yang masih dibaca
- Lensa negatif terkecil dipasang pada tempatnya dan bila
tajam penglihatan menjadi lebih abik ditambah kekuatannya
perlahan-lahan sehingga dapat dibaca huruf pada baris
terbawah
- Sampai terbaca baris 6/6
- Mata yang lain dikerjakan dengan cara yang sama. 7,14

Penilaian :
- Bila dengan S -1.50 tajam penglihatan 6/6, kemudian dengan
S-1.75 penglihatan 6/6-2 sedang dengan S-2.00 penglihatan
6/7.5, maka pada keadaan ini derajat miopi mata yang
diperiksa adalah S-1.50 dan kaca amta dengan ukuran ini
diberikan pada pasien
- Pada penderita miopi selamanya diberikan lensa sferis minus
terkecil yang memberiakn tajam penglihatan terbaik. 7,14

b. Hipermetropi
Teknik Pemeriksaan :
- Pasien duduk menghadap kartu snellen pada jarak 6 meter
- Pada mata dipasang bingkai percobaan
- Satu mata ditutup
- Pasien diminta membaca akrtu snellen mulai huruf terbesar
dan diteruskan pada baris bawahnya samapi pada huruf
terkecil yang masih dapat dibaca. 7,14
- Lensa positif terkecil ditambah pada amta yang diperiksa dan
bila tampak lebih jelas oleh penderita lensa positif tersebut
ditambah kekuatannya perlahan-lahan dan diminta membaca
huruf-huruf pada baris lebih bawah
- Ditambah kekuatan lensa sampai terbaca huruf-huruf
padabaris 6/6
- Ditambah lensa positif + 0.25 lagi dan ditanyakan apakah
masih dapat meliaht huruf-huruf di atas.
- Mata yang lai dilakukan dengan cara yang sama. 7,14

Penilaian :
- Bila dengan S+2.00 tajam pengliahtan 6/6, kemudian dengan
S+ 2.25 tajam pengliahtan 6/6 sedang dengan S + 2.50 tajam
penglihatan 6/6-2 maka pada keadaan ini derajat
hipermetropia yang diperiksa S+ 2.25 dan kaca amta dengan
ukuran ini diberikan pada penderita.
- Pada pasien hipermetropia selamanya diberikan lensa sferis
positif terbesar yang memberikan tajam penglihatan terbaik.

c. Astigmat
Dasar : pada mata dengan kelaianan refraksi, astigmat didapatkan 2
bidang utama dengan kekuatan pembiasan pada satu bidang lebih besar
dibanding dengan bidang lain. 7,14
Alat : kartu snellen, bingkai percobaan, sebuah set lensa coba dan
kipas astigmat. 7,14
Teknik Pemeriksaan :
- Pasien duduk menghadap kartu snellen pda jarak 6 meter
- Pada mata dipasang bingkai percobaan
- Satu mata ditutup
- Dengan mata yang terbuka pada pasien dilakukan terlebih
dahulu pemeriksan dengan lensa + atau - sampai tercapai
ketajaman penglihtan terbaik, dengan lensa positif atau
negatif tersebut.
- Pada mata tersebut dipasang lensa + yang cukup besar (misal
S + 3.00) untuk membuat pasien mempunyai kelainan
refraksi astigmat miopikus
- Pasien diminta melihat kartu kipas astigmat
- Pasien ditanya tentang garis pada kipas yang paling jelas
terliaht
- Bila belum terlihat perbedaan tebal garis kipas astigmat maka
lensa S+3.00 diperlemah sedikit demi sedikit sehingga pasien
dapat menentukan garis mana yang terjelas dan mana yang
terkabur
- Lensa silinder negatif diperkuat sedikit demi sedikit dengan
sumbu tersebut hingga pada satu saat tampak garis yang
mula-mula terkabur sama jelasnya dengan garis yang
sebelumnya terlihat jelas
- Bila sudah tampak sama jelas garis pada kipas astigmat,
dilakukan tes melihat kartu snellen
- Bila pengliahtan belum 6/6 sesuai kartu snellen, maka
mungkin lensa + yang diberikan terlalu berat, sehingga perlu
secara perlahan-lahan dikurangi kekuatan lensa positif
tersebut atau ditambah lensa negatif
- Pasien diminta membaca kartu snellen pada saat lensa negatif
ditambah perlahan-lahan sampai tajam penglihatan menjadi
6/6. 7,14

Penilaian : derajat astigmat sama dengan ukuran lensa silinder negatif


yang dipakai sehingga gambar kipas astigmat tampak sama jelas. 7,14

d. Presbiopi
Alat : kartu snellen, akrtu abca dekat, sebuah set lensa coba, bingkai
percobaan. 7,14
Teknik :
- Pasien dieriksa akan penglihatan sentrl unutk jauhnya
dandiberikan kaca mata jauh sesuai yang diperlukan (dapat
lensa positif, negatif ataupun astigmat)
- Ditaruh kartu baca dekat pada jarak 30-40 cm (jarak baca).
- Pasien diminta membaca huruf terkecil pada kartu baca dekat
- Diberikan lensa positif mulai S+1 yang dinaikkan perlahan-
lahan sampai terbaca huruf terkecil pada kartu baca dekat dan
kekuatan lensa ini ditentukan.
- Dilakukan pemeriksaan mata satu persatu. 7,14

Nilai :
- Ukuran lensa yang memberikan ketajaman penglihatan
sempurna merupakan ukuran lensa yang diperlukan untuk
adisi kaca mata baca. 7,14
- Hubungan lensa adisi dan umur biasanya :
- 40-45 tahun -1.0 dioptri
- 45-50 tahun -1.5 dioptri
- 50-55 tahun – 2.0 dioptri
- 55-60 tahun -2.5 dioptri
- 60 tahun – 3.0 dioptri.
Hasil pemeriksaan ini, bila dilakukan pemeriksaan ulang dengan kedua
mata, biasanya lebih rendah. Hasil ukuran binokuler ini diberikan pada
pasien untuk kaca matanya. 7,14

4. Cover tes
Tes untuk melihat adanya heterotropia pada satu mata. Mata yagn
heterotropia akan terus menerus berusaha untuk fiksasi dengan
matanya yang amta dominan. 7,14
Kartu snellen, penutup mata
Teknik :
- Bila pasien pakai kaca amta, maka kaca mata dipasang
- Pasien duduk 6 meter dari kartu uji baca atau optotip atau 30
cm kertas baca dengan addisi S+3.00
- Pasien meliaht pada satu titik tau pada baris 20/40 kartu
snellen
- Pemeriksa menutup dalah satu mata
- Dilihat sifat gerakan yagn mungkin terjadi mata yang tidak
ditutup, untuk melakukan fiksasi. 7,14

Nilai : mata yang terbuka mungkin :


- Bergerak ke luar berarti mata ini sebelumnya esotropia
- Bergerak ke dalam berarti amta ini sebelumnya eksotropia
- Bila mata yang berfiksasi yang terbuka maka tidak akan
terjadi pergerakan. 7,14

17. Apa diagnosa banding terhadap keluhan yang dirasakan oleh pasien?
Jawab:
 Endoftalmitis
 Glaucoma akut
 Keratitis akut
 Ulkus kornea
 Uveitis anterior.15

18. Apa yang dialami oleh pasien?


Jawab:
Ulkus Kornea

Diagnosis ulkus kornea ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis,


dan pemeriksaan penunjang. Keberhasilan penanganan ulkus kornea tergantung pada
ketepatan diagnosis, penyebab infeksi, dan besarnya kerusakan yang terjadi. Adapun
jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk membantu penegakan diagnosis yaitu :
16,17
 Anamnesis
Dari riwayat anamnesis, didapatkan adanya gejala subjektif yang dikeluhkan oleh
pasien, dapat berupa mata nyeri, kemerahan, penglihatam kabur, silau jika melihat
cahaya, kelopak mata terasa berat. Yang juga harus digali ialah adanya riwayat
trauma, kemasukan benda asing, pemakaian lensa kontak, adanya penyakit
vaskulitis atau autoimun, dan penggunaan kortikosteroid jangka panjang. 16,17
 Pemeriksaan Fisis
- Visus
Didapatkan adanya penurunan visus pada mata yang mengalami
infeksi oleh karena adanya defek pada kornea sehingga menghalangi
refleksi cahaya yang masuk ke dalam media refrakta.
- Slit lamp
Seringkali iris , pupil, dan lensa sulit dinilai oleh karena adanya
kekeruhan pada kornea. Hiperemis didapatkan oleh karena adanya
injeksi konjungtiva ataupun perikornea. 16,17
 Pemeriksaan Penunjang
- Tes fluorosein
Pada ulkus kornea, didapatkan hilangnya sebagian permukaan
kornea. Untuk melihat adanya daerah yang defek pada kornea (
warna hijau menunjukkan daerah yang defek pada kornea, sedangkan
warna bru menunjukkan daerah yang intak ).
- Pewarnaan gram dan KOH
Untuk menentukan mikroorganisme penyebab ulkus, oleh jamur.
- Kultur
Terkadang dibutuhkan untuk mengisolasi organism kausatif pada
beberapa kasus. 16,17

19. Apa definisi penyakit yang dialami oleh pasien?


Jawab:
Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian
jaringan kornea. Pada ulkus kornea yang disebabkan oleh jamur maka infiltrat
berwarna kelabu, sering dengan hipopion, peradangan nyata pada bola mata, ulserasi
superfisial, dan lesi-lesi satelit (umumnya menginfiltrasi tempat-tempat yang jauh dari
daerah ulserasi utama) dan terdapat defek epitel yang dikelilingi leukosit
polimorfonuklear.2
Kebanyakan ulkus kornea jamur disebabkan oleh organisme oportunis, seperti
candida, fusarium, aspergillus, penicillium, cephalosporium. Tidak ada ciri khas yang
membedakan macam-macam ulkus jamur ini.2

20. Apa etiologi terhadap penyakit yang dialami oleh pasien?


Jawab:
 Infeksi
Infeksi Bakteri : P. aeraginosa, Streptococcus pneumonia dan spesies Moraxella
merupakan penyebab paling sering. Hampir semua ulkus berbentuk sentral. Gejala
klinis yang khas tidak dijumpai, hanya sekret yang keluar bersifat mukopurulen
yang bersifat khas menunjukkan infeksi P aeruginosa.2,8,18,19
 Infeksi Jamur
Disebabkan oleh Candida, Fusarium, Aspergilus, Cephalosporium, dan
spesies mikosis fungoides.
 Infeksi virus
Ulkus kornea oleh virus herpes simplex cukup sering dijumpai. Bentuk khas
dendrit dapat diikuti oleh vesikel-vesikel kecil dilapisan epitel yang bila pecah
akan menimbulkan ulkus. Ulkus dapat juga terjadi pada bentuk disiform bila
mengalami nekrosis di bagian sentral. Infeksi virus lainnya varicella-zoster,
variola, vacinia (jarang).
 Acanthamoeba
Acanthamoeba adalah protozoa hidup bebas yang terdapat didalam air yang
tercemar yang mengandung bakteri dan materi organik. Infeksi kornea oleh
acanthamoeba adalah komplikasi yang semakin dikenal pada pengguna lensa
kontak lunak, khususnya bila memakai larutan garam buatan sendiri. Infeksi
juga biasanya ditemukan pada bukan pemakai lensa kontak yang terpapar air
atau tanah yang tercemar. 2,8,18,19
 Noninfeksi
 Bahan kimia, bersifat asam atau basa tergantung PH.
Bahan asam yang dapat merusak mata terutama bahan anorganik, organik dan
organik anhidrat. Bila bahan asam mengenai mata maka akan terjadi
pengendapan protein permukaan sehingga bila konsentrasinya tidak tinggi
maka tidak bersifat destruktif. Biasanya kerusakan hanya bersifat superfisial
saja. Pada bahan alkali antara lain amonia, cairan pembersih yang
mengandung kalium/natrium hidroksida dan kalium karbonat akan terjadi
penghancuran kolagen kornea.
 Radiasi atau suhu
Dapat terjadi pada saat bekerja las, dan menatap sinar matahari yang akan
merusak epitel kornea.
 Sindrom Sjorgen
Pada sindrom Sjorgen salah satunya ditandai keratokonjungtivitis sicca yang
merupakan suatu keadan mata kering yang dapat disebabkan defisiensi unsur
film air mata (akeus, musin atau lipid), kelainan permukan palpebra atau
kelainan epitel yang menyebabkan timbulnya bintik-bintik kering pada kornea.
Pada keadaan lebih lanjut dapat timbul ulkus pada kornea dan defek pada
epitel kornea terpulas dengan flurosein.
 Defisiensi vitamin A
Ulkus kornea akibat defisiensi vitamin A terjadi karena kekurangan vitamin A
dari makanan atau gangguan absorbsi di saluran cerna dan gangguan
pemanfaatan oleh tubuh.
 Obat-obatan
Obat-obatan yang menurunkan mekanisme imun, misalnya; kortikosteroid,
IDU (Iodo 2 dioxyuridine), anestesi lokal dan golongan imunosupresif.
 Kelainan dari membran basal, misalnya karena trauma.
 Pajanan (exposure)
 Neurotropik. 2,8,18,19

 Sistem Imun (Reaksi Hipersensitivitas)


 Granulomatosa wagener
 Rheumathoid arthritis. 2,8,18,19

21. Bagaimana epidemiologi penyakit yang dialami oleh pasien?


Jawab:
Insidensi ulkus kornea terjadi 5,3 per 100.000 penduduk per tahunnya di Indonesia,
sedangkan faktor predisposisi terjadinya ulkus kornea dapat diakibatkan dari trauma,
pemakaian lensa kontak, dan kebanyakan tidak diketahui penyebabnya, serta juga
dapat diakibatkan akibat infrksi baik infeksi jamu, bakteri atau pun virus. Angka
kematian atau mortalitas dari penyakit ulkus kornea ini bergantung dari komplikasi
penyakit ini seperti parut kornea,kelainan refraksi, neovascularisai, dan kebutaan.
Berdasarkan kepustakaan di USA penyakit ulkus kornea ini lebih banyak menyerang
laki-laki dibandingkan perempuan sekitar 71% dan hanya 29% menyerang
perempuan, hal ini mungkin disebabkan karena laki-laki lebih banyak melakukan
kegiatan sehari-hari sehingga meningkatkan kemungkinan terjadi nya resiko ulkus
kornea.2

22. Jelaskan patofisiologi penyakit yang dialami oleh pasien?


Jawab:
Epitel merupakan sawar yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme kedalam
kornea. Namun sesekali kornea ini cedera, stroma yang avaskukar dan membran
bowman mudah terkena infeksi oleh berbagai macam mikroorganisme. 2
Perjalanan ulkus kornea dibagi 4 stadium :
 Stadium infiltrasi progresif
Dalam waktu 2 jam setelah kornea mengalami kerusakan kornea timbul
radang yang diawali pelepasan faktor kemotaktif yang merangsang migrasi sel
polimorphonuklear (PMN) ke stroma kornea yang berasal dari lapisan air
mata dan pembuluh darah limbus. Apabila tidak mengalami infeksi maka sel
PMN akan menghilang dalam waktu 49 jam dan epitel pulih dengan cepat. 2
Cirri khas stadium ini adalah terdapatnya infiltrate dari leukosit PMN dan
limfosit kedalam epitel dan stroma. Ciri klinis pada epitel terdapat putih
kekeruhan, edema, dan akhirnya terjadi nekrosis. 2

 Stadium ulserasi aktif


Pada epitel dan stroma terjadi nekosis, pengelupasan, dan timbul suatu
cekungan (defek). Jaringan sekitarntya terdapat infiltrasi sel radang, dan
edema. Pada pemeriksaan klinis terdapat kornea bewarna putih keabu-abuan
dengan dasar ulkus yang nekrosis. Pada bilik mata depan timbul reaksi radang
ringan, dan biefarospasme pada kelopak mata. Penderita mengeluh rasa nyeri,
fotofobia, lakrimasi, penurunan tajam penglihatan. Ulkus meluas ke lateral
atau kelapisan yang lebih dalam sehingga menimbulkan perforasi. 2

 Stadium regresi
Pada stadium ini terjadi regresi dari perjalanan penyakit karena adanya
mekanisme pertahan tubuh atau pengobatan. Ciri regresi tersebut antara lain,
berkuragnya rasa nyeri, fotofobia, lakrimasi dan keluhan-keluhan lainnya.
Secara klinis tampak infiltrasi yang mengecil, batas ulkus lebih tegas. Daerah
nekrosis mendangkal, tanda-tanda radang berkurang. 2

 Stadium penyembuhan
Pada stadium ini timbul epitelisasi dai semua sisi ulkus, fibrobast membentuk
stroma baru dan dilanjutkan pengeluaran debris. Stroma baru terbentuk
dibawah epitel dan menebal, sehingga epitel terdoong kedepan. Stroma
tersebut mengisi keseluruh defek, sehingga permukaan kornea yang terinfeksi
menjadi rata.
Pada stadium ini keluhan berkurang, tajam penglihatan mulai membaik.
Jaringan nekrotik mulai diganti dengan jaringan fibrosa. Bila penyembuhan
telah selesai, pembuluh darah mengalami regresi, jaringan nekrotik yang
terjadi tidak transparan, tetapi lama kelamaan kepadatannya berkurang.2

23. Bagaimana prognosis penyakit yang dialami oleh pasien?


Jawab:
Prognosis penderita ini, quo ad vitam bonam, karena tanda-tanda vitalnya masih
dalam batas normal, sedangkan quo ad functionam dubia ad malam karena walaupun
dengan pengobatan yang tepat dan teratur ulkusnya dapat sembuh, namun
meninggalkan bekas berupa sikatrik yang dapat menimbulkan gangguan tajam
penglihatan.19

24. Bagaimana tatalaksana terhadap penyakit yang dialami oleh pasien?


Jawab:
Ulkus kornea adalah keadan darurat yang harus segera ditangani oleh spesialis mata
agar tidak terjadi cedera yang lebih parah pada kornea. Pengobatan pada ulkus kornea
tergantung penyebabnya, diberikan obat tetes mata yang mengandung antibiotik, anti
virus, anti jamur, sikloplegik dan mengurangi reaksi peradangan dengann steroid.
Pasien dirawat bila mengancam perforasi, pasien tidak dapat memberi obat sendiri,
tidak terdapat reaksi obat dan perlunya obat sistemik. 15,20
 Penatalaksanaan ulkus kornea di rumah
1) Jika memakai lensa kontak, secepatnya untuk melepaskannya
2) Jangan memegang atau menggosok-gosok mata yang meradang
3) Mencegah penyebaran infeksi dengan mencuci tangan sesering
mungkin dan mengeringkannya dengan handuk atau kain yang bersih
4) Berikan analgetik jika nyeri. 15,20
 Penatalaksanaan medis
1) Pengobatan konstitusi
Oleh karena ulkus biasannya timbul pada orang dengan keadaan umum
yang kurang dari normal, maka keadaan umumnya harus diperbaiki
dengan makanan yang bergizi, udara yang baik, lingkungan yang sehat,
pemberian roboransia yang mengandung vitamin A, vitamin B
kompleks dan vitamin C. Pada ulkus-ulkus yang disebabkan kuman
yang virulen, yang tidak sembuh dengan pengobatan biasa, dapat
diberikan vaksin tifoid 0,1 cc atau 10 cc susu steril yang disuntikkan
intravena dan hasilnya cukup baik. Dengan penyuntikan ini suhu badan
akan naik, tetapi jangan sampai melebihi 39,5°C. Akibat kenaikan
suhu tubuh ini diharapkan bertambahnya antibodi dalam badan dan
menjadi lekas sembuh.
2) Pengobatan local.
3) Benda asing dan bahan yang merangsang harus segera dihilangkan.
Lesi kornea sekecil apapun harus diperhatikan dan diobati sebaik-
baiknya. Konjungtuvitis, dakriosistitis harus diobati dengan baik.
Infeksi lokal pada hidung, telinga, tenggorok, gigi atau tempat lain
harus segera dihilangkan. 15,20

Infeksi pada mata harus diberikan:


a) Sulfas atropine sebagai salap atau larutan,
Kebanyakan dipakai sulfas atropine karena bekerja lama 1-2 minggu.
Efek kerja sulfas atropine :
o Sedatif, menghilangkan rasa sakit.
o Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang.
o Menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor pupil.
Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai daya akomodsi
sehingga mata dalan keadaan istirahat. Dengan lumpuhnya M.
konstriktor pupil, terjadi midriasis sehinggga sinekia posterior yang
telah ada dapat dilepas dan mencegah pembentukan sinekia posterior
yang baru. 15,20
b) Skopolamin sebagai midriatika.
c) Analgetik
Untuk menghilangkan rasa sakit, dapat diberikan tetes pantokain, atau
tetrakain tetapi jangan sering-sering.
d) Antibiotik
Anti biotik yang sesuai dengan kuman penyebabnya atau yang berspektrum
luas diberikan sebagai salap, tetes atau injeksi subkonjungtiva. Pada
pengobatan ulkus sebaiknya tidak diberikan salap mata karena dapat
memperlambat penyembuhan dan juga dapat menimbulkan erosi kornea
kembali.
e) Anti jamur
Terapi medika mentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya preparat
komersial yang tersedia berdasarkan jenis keratomitosis yang dihadapi bisa
dibagi :
o Jenis jamur yang belum diidentifikasi penyebabnya : topikal
amphotericin B 1, 2, 5 mg/ml, Thiomerosal 10 mg/ml, Natamycin > 10
mg/ml, golongan Imidazole
o Jamur berfilamen : topikal amphotericin B, thiomerosal, Natamicin,
Imidazol
o Ragi (yeast) : amphotericin B, Natamicin, Imidazol
o Actinomyces yang bukan jamur sejati : golongan sulfa, berbagai jenis
anti biotik
f) Anti Viral
Untuk herpes zoster pengobatan bersifat simtomatik diberikan streroid lokal
untuk mengurangi gejala, sikloplegik, anti biotik spektrum luas untuk infeksi
sekunder analgetik bila terdapat indikasi. Untuk herpes simplex diberikan
pengobatan IDU, ARA-A, PAA, interferon inducer. Perban tidak seharusnya
dilakukan pada lesi infeksi supuratif karena dapat menghalangi pengaliran
sekret infeksi tersebut dan memberikan media yang baik terhadap
perkembangbiakan kuman penyebabnya. Perban memang diperlukan pada
ulkus yang bersih tanpa sekret guna mengurangi rangsangan. 15,20

Untuk menghindari penjalaran ulkus dapat dilakukan

1. Kauterisasi
 Dengan zat kimia : Iodine, larutan murni asam karbolik, larutan murni
trikloralasetat
 Dengan panas (heat cauterisasion) : memakai elektrokauter atau
termophore. Dengan instrumen ini dengan ujung alatnya yang
mengandung panas disentuhkan pada pinggir ulkus sampai berwarna
keputih-putihan. 15,20

2. Pengerokan epitel yang sakit


Parasentesa dilakukan kalau pengobatan dengan obat-obat tidak menunjukkan
perbaikan dengan maksud mengganti cairan coa yang lama dengan yang baru
yang banyak mengandung antibodi dengan harapan luka cepat sembuh.
Penutupan ulkus dengan flap konjungtiva, dengan melepaskan konjungtiva
dari sekitar limbus yang kemudian ditarik menutupi ulkus dengan tujuan
memberi perlindungan dan nutrisi pada ulkus untuk mempercepat
penyembuhan. Kalau sudah sembuh flap konjungtiva ini dapat dilepaskan
kembali. 15,20
Bila seseorang dengan ulkus kornea mengalami perforasi spontan berikan
sulfas atropine, antibiotik dan balut yang kuat. Segera berbaring dan jangan
melakukan gerakan-gerakan. Bila perforasinya disertai prolaps iris dan
terjadinya baru saja, maka dapat dilakukan :
 Iridektomi dari iris yang prolaps
 Iris reposisi
 Kornea dijahit dan ditutup dengan flap konjungtiva
 Beri sulfas atripin, antibiotic dan balut yang kuat. 10,15
Bila terjadi perforasi dengan prolaps iris yang telah berlangsung lama, kita
obati seperti ulkus biasa tetapi prolas irisnya dibiarkan saja, sampai akhirnya
sembuh menjadi leukoma adherens. Antibiotik diberikan juga secara sistemik.
15,20

3. Keratoplasti
Keratoplasti adalah jalan terakhir jika urutan penatalaksanaan diatas tidak
berhasil. Indikasi keratoplasti terjadi jaringan parut yang mengganggu
penglihatan, kekeruhan kornea yang menyebabkan kemunduran tajam
penglihatan, serta memenuhi beberapa kriteria yaitu :
 Kemunduran visus yang cukup menggangu aktivitas penderita
 Kelainan kornea yang mengganggu mental penderita
 Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia. 15,20

PENCEGAHAN
Pencegahan terhadap ulkus dapat dilakukan dengan segera berkonsultasi kepada ahli
mata setiap ada keluhan pada mata. Sering kali luka yang tampak kecil pada kornea
dapat mengawali timbulnya ulkus dan mempunyai efek yang sangat buruk bagi mata.
 Lindungi mata dari segala benda yang mungkin bisa masuk kedalam mata
 Jika mata sering kering, atau pada keadaan kelopak mata tidak bisa menutup
sempurna, gunakan tetes mata agar mata selalu dalam keadaan basah
 Jika memakai lensa kontak harus sangat diperhatikan cara memakai dan
merawat lensa tersebut. 15,20
DAFTAR PUSTAKA

1. Dorland, W. A. Newman. 2010. Dorland’s Illustrated Medical Dictionary. 31th Ed,


Jakarta: EGC.
2. Ilyas Sidarta. 2014. Ilmu Penyakit Mata Edisi Kelima. Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
3. McKinley, Michael. 2008. Human Anatomy. 3th Ed, America : McGraw-Hill.
4. Guyton AC and Hall JE. 2000. Textbook of Med. Phys. 10th Ed. Saunders
Philadelphia.
5. Mescher, Anthony.2012.Hisyologi Dasar Junquiera. Edisi 12. Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
6. Snell, Richard S. 2011. Clinical Anatomy by System. Jakarta: EGC.
7. Sherwood, Lauralee. 2007. Human Physiology. 6th Ed. Jakarta: EGC.
8. Vaughan D. 2010. Oftalmologi Umum. Edisi 17. Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.
9. http://klikdokter.com/healthnewstopics/health-topics/kebutaan-akibat-penggunan-
air-rebusan-daun-sirih. Diakses Pada Tanggal 20 Mei 2015
10. Katzung, Bertram G. 1997. Farmakologi dasar dan klinik. Ed.6. Jakarta: EGC.
11. http://klikdokter.com/healthnewstopics/health-topics/penyebab-kegagalan-obat-
pada-mata. Diakses Pada Tanggal 20 Mei 2015
12. Ganong, William F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta : EGC
13. Sativa Oriza., 2003. Tekanan Intraokular Pada Penderita Myopia Ringan Dan
Sedang. Medan : Bagian Ilmu Penyakit Mata Universitas Sumatra Utara.
14. Ilyas, Sidarta. 2006. Dasar-teknik pemeriksaan dalam lmu penyakit mata edisi
kedua. Jakarta: Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
15. Arif, Mansjoe, dkk. (2014). Kapita Selekta Kedokteran. edisi 4. Medica
Aesculapius. Fakultas kedokteran indonesia, Jakarta.
16. Basic and ClinicalScience Course. Fundamental and principles of ophthalmology,
section 2, American Academy of Ophthalmology, USA 2008-2009 P.38-9
17. Farouqui SZ, Central Sterile Cornea Ulceratio. Citied on August 9 th, 2011.
Avalaible from : WWW. Emedicine.com
18. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia. 2002. Ilmu Penyakit Mata Untuk
Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran. edisi ke 2. Penerbit Sagung Seto,
Jakarta.
19. Wijaya, N. Ilmu Penyakit Mata, cetakan ke-4, 1989.
20. Biswell R. cornea. Dalam: Riordan Eva P. Whitcher JP. Penyunting. Vaughan &
asbury’s general ophthalmology. Edisi 18. Philadelphia; McGraw-Hill:2011