Anda di halaman 1dari 6

Tugas Akhir Semester

AUDIT PEMERINTAHAN

Oleh :

HETTY SETIYANI F2313004

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2013
JAWABAN UJIAN AKHIR PENGAUDITAN PEMERINTAHAN

A. Untuk kasus-kasus Sistem Pengendalian Internal.


1. Prosedur audit yang harus dilakukan :
a. Lakukan pengecekan kapan SPPD terakhir terakhir dibuat.
b. Lakukan pengecekan tanggal penetapan APBD dan APBD perubahan.
c. Lakukan pengecekan kapan tanggal penyusunan LKPD
d. Melakukan analisa penyebab keterlambatan penyampaian laporan keuangan
pemerintah daerah.
Dengan melakukan analisa ini auditor dapat mengambil kesimpulan bila penyebab
keterlambatan disebabkan oleh hal yang seharusnya dapat dihindari/dikontrol oleh
entitas, kesimpulannya adalah entitas yang melakukan keterlambatan memiliki Sistem
Pengendalian Internal (SPI) dan sistem pencatatan dan pelaporan pelaksanaan anggaran
belanja dan pendapatan yang buruk. Sedangkan jika penyebab keterlambatan dikarenakan
oleh hal diluar kendali maka auditor masih perlu melakukan analisis yang lebih
mendalam jika perlu masuk ke pengujian substantif.

2. Risiko bawaan
Risiko bawaan adalah faktor kerentanan laporan keuangan terhadap salah saji material,
dengan asumsi tidak ada pengendalian intern
Risko bawaan merupakan suatu ukuran yang dipergunakan oleh auditor dalam menilai
adanya kemungkinan bahwa terdapat sejumlah salah saji yang material (kekeliruan
atau kecurangan) dalam suatu segmen sebelum ia mempertimbangkan keefektifan dan
pengendalian intern yang ada. Dengan mengasumsikan tiadanya pengendalian intern,
maka risiko inheren ini dapat dinyatakan sebagai kerentanan laporan keuangan
terhadap timbulnya salah saji yang material. Jika auditor, dengan mengabaikan
pengendalian intern, menyimpulkan bahwa terdapat suatu kecenderungan yang tinggi
atas keberadaan sejumlah salah saji, maka auditor akan menyimpulkan bahwa tingkat
risiko inherennya tinggi. pengendalian intern diabaikan dalam menetapkan dalam
menetapkan nilai risiko inheren karena pengendalian intern ini dipertimbangkan secara
terpisah dalam model risiko audit sebagai risiko pengendalian.
Untuk akun-akun :
a. Kasus 1b
Resiko pencatatan piutang sebesar Rp288,39 miliar yang tidak sewajarnya akan
mengandung resiko jika piutang tersebut benar-benar tidak jadi maka piutang tersebut
akan menjadi piutang tak tertagih.
b. Kasus 1c
Resiko pencatatan aset tetap yang tidak sewajarnya akan mengakibatkan
entitas akan kehilangan aset tetapnya sehingga aset tetap yang dilaporkan pada
laporan keuangan tidak sesuai dengan aset tetap yang sebenarnya.

3. Belum ada peraturan yang mengatur tentang sistem persediaan yang dipakai.
Pencatatan persediaan yang tidak rapi dan jika tidak dilakukan pengecekan fisik maka
akan ada kemungkin persediaan akan hilang.
Pemeriksaan fisik merupakan jenis bukti yang penting yang digunakan untuk
memverifikasi keberadaan dan perhitungan persediaan. Pentingnya mengamati
persediaan secara fisik, terutama jika persediaan tersebut bersifat material dalam
laporan keuangan. Pentingnya mengamati persediaan secara fisik terutama jika
persediaan tersebut bersifat material dalam laporan keuangan. Setiap akhir periode
pelaporan, entitas harus melakukan stok opname untuk memastikan nilai persediaan yang
masih tersedia. Jika memiliki nilai yang berbeda dengan nilai persediaan di neraca, maka perlu
dilakukan penyesuaian
4. Ketika kinerja legislator kurang maka pembahasan perda tentang retribusi akan terlambat.
Risiko lain tidak adanya peraturan yang mendasari penerimaan/pendapatan daerah akan
berpotensi terjadinya pendapatan retribusi jadi berkurang.
5. Rekening yang terkait : akun kas daerah, akun kas bendahara pengeluaran dan akun
kas penerimaan silpa, ini bisa terjadi karena bendahara umum daerah (BUD) tidak taat
pada aturan pengelolaan keuangan negara dan pejabat yang berwenang kurang teliti dalam
memeriksa kelengkapan sehingga ada beberapa dokukmen yang kurang sehingga akun belanja
pegawai dan belanja barang dan jasa tidak diyakini kewajarannya seharusnya SPI harus
diperkuat sehingga dapat meminimalisasi kesalahan .

B. Kasus kepatuhan terhadap perundang-undangan


1. Belum, kalau hanya dengan bukti tiket pesawat bukti tersebut kurang meyakinkan, dengan
data Manifest penerbangan maka akan diketahui dengan jelas daftar penumpang yang
benar-benar berangkat.
Manifest penerbangan adalah dokumen maskapai penerbangan yang berisi data nama
penumpang, tanggal keberangkatan pesawat, bandara asal, bandara tujuan dan nomor
seri/kode tiket. Dokumen manifest ini menjadi dokumen rujukan resmi dari instansi
berwenang untuk kepentingan berbagai hal seperti dasar pembayaran dan klaim asuransi,
mengetahui data penumpang yang valid.
Dengan menggunakan manifest penerbangan dalam prosedur audit akan diperoleh
informasi yang dapat dipertanggungjawabkan atas suatu pelaksanaan perjalanan dinas.
Beberapa modus operandi penyimpangan pelaksanaan perjalanan dinas yang dapat
diungkap dengan manifest penerbangan antara lain perjalanan dinas fiktif, perjalanan dinas
tumpang tindih, perjalanan dinas kurang dari waktu dalam surat penugasan.
Pelaksanaan audit atas perjalanan dinas dengan memanfaatkan manifest penerbangan
memerlukan langkah audit sebagai berikut:
a. Tahap perencanaan
Meliputi penyiapan surat keluar dari kepala perwakilan yang ditujukan kepada
maskapai penerbangan atau bandara tentang permintaan dokumen manifest
penerbangan selama satu tahun untuk masing-masing maskapai penerbangan.
Selanjutnya tentukan sampel SKPD yang rawan terjadi penyimpangan pelaksanaan
perjalanan dinas.
b. Tahap pelaksanaan
Pada saat awal pemeriksaan sebaiknya tim pemeriksa meminta rekapitulasi perjalanan
dinas masing-masing SKPD selama satu tahun beserta seluruh dokumen SPJ
perjalanan dinas. Hal ini diperlukan supaya verifikasi atas kebenaran SPJ dapat
dilakukan pada saat tim berada di lapangan ataupun di kantor setelah proses
pemeriksaan berakhir.
c. Tahap pelaporan
Pada tahap ini temuan pemeriksaan dituangkan ke dalam laporan pemeriksaan yang
mengungkapkan nama orang per orang (dalam lampiran) dengan didukung Kertas
Kerja Pemeriksaan (bukti pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan).
2. Akun-akun yang terpengaruh :
a. Kas
Untuk realisasi belanja atas klaim proyek pembangunan pelabuhan laut Segintung ini
merugikan kas negara sebesar 12 Miliar karena kontrak ini sebenarnya sudah lunas
tetapi masih ada klaim atas pembayaran. Dan sebenarnya pemerintah daerah tidak
ada ada kewajiban untuk membayarnya.
b. Utang
Klaim proyek pembangunan pelabuhan laut Segintung dapat menimbulkan utang
pemerintah daerah sebesar 12 miliar karena pembayaran atas proyek ini sudah
dilakukan dan sudah lunas tetapi masih masih ada tagihan yang harus dibayar.
3. Penyajian yang memadai atas kasus-kasus kepatuhan terhadap perundang-undangan
Laporan keuangan sebaikanya susun sesuia dengan ketentuan perundangan-undangan yang
berlaku agar tidak terjadi kerugian daerah, potensi kerugian daerah, kekurangan
penerimaan, penyimpanan administrasi, ketidakhematan dan ketidakefektifan. Para pejabat
harus lebih bertanggungjawab, cermat dalam menaati dan memahami ketentuan yang
berlaku. Jika laporan yang disajikan telah sesuai dengan peraturan maka risiko kemungkinan salah
saji dapat diminimalisasi.

C. Kasus objetivitas dalam audit internal


1. Pengertian Objektivitas
Objektivitas adalah suatu hal yang langka dan hendaknya tidak dikompromikan. Seorang
audior hendaknya tidak pernah menempatkan diri atau ditempatkan dalam posisi di mana
objektivitas mereka dapat dipertanyakan. Kode etik dan standar auditor internal telah
menetapkan aturan-aturan tertentu yang harus diikuti agar terhindar dari kemungkinan
pandangan akan kurangnya objektivitas atau munculnya bias. Pelanggaran atas aturan-
aturan ini akan menyebabkan munculnya kritikan dan pertanyaan mengenai kurangnya
objektivitas yang dimiliki oleh audit internal.”
2. Untuk situasi dalam kasus ini objektivitas belum terpenuhi karena Auditor internal harus
mandiri dan terpisah dari berbagai kegiatan yang diperiksa. Auditor internal dianggap
mandiri apabila dapat melaksanakan pekerjaannya secara bebas dan objektif.
Kemandirian auditor internal sangat penting terutama dalam memberikan penilaian yang
tidak memihak (netral).
Sikap mental yang tidak bias yang memungkinkan auditor internal untuk melakukan
penugasan dengan sedemikian rupa sehingga mereka meyakini hasil pekerjaan mereka
dan meyakini tidak ada kompromi. Objektivitas mensyaratkan bahwa auditor internal
tidak menundukkan penilaian mereka dalam masalah-masalah audit terhadap orang
lain. Ancaman terhadap objektivitas harus dikelola pada masing-masing tingkat auditor,
penugasan, fungsional, dan tingkat organisasi.”
3. Tidak ada,
Karena objektivitas merupakan criteria dalam laporan audit ( laporan audit haruslah
objektif, jelas, singkat, konstruktif dan tepat waktu)
Objektivitas pelaporan keuangan dihubungkan dengan keterlibatan peranan akuntansi dan
pelaporan keuangan dan diarahkan pada tujuan umum pelaporan keuangan oleh satuan
usaha.
Objektivitas laporan keuangan berfokus pada pemberian informasi yang bermanfaat bagi
para penggunanya dalam membuat keputusan ekonomi. Oleh karenanya, tahap
selanjutnya dalam struktur teori akuntansi adalah karakteristik kualitas informasi yang
bermanfaat. Kasrakteristik kualitatif memberikan satu dasar pemilihan antara berbagai
alternatif pelaporan dan akuntansi, seperti alternatif metode penyusutan, alternatif metode
penilaian harta, dan alternatif metode penjelasan. Karakteristik kualitatif juga membantu
menjawab perta-nyaan tentang karakteristik informasi akuntansi apa yang membuat
informasi bermanfaat dalam pengambilan keputusan.
Jadi dalam laporan audit kepada nkepala daerah tidak diperlukan laporan tentang masalah
objektivitas.