Anda di halaman 1dari 36

Universitas Kristen Krida Wacana

Fakultas Kedokteran

Evaluasi Program Cakupan ASI Eksklusif


di Puskesmas Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang
Periode Juni 2015 sampai dengan Mei 2016

Oleh:
Yoda Desika Kolim, S. Ked

Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Komunitas


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Karawang, Juni 2016
Universitas Kristen Krida Wacana
Fakultas Kedokteran

Evaluasi Program Cakupan ASI Eksklusif


di Puskesmas Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang
Periode Juni 2015 sampai dengan Mei 2016

Oleh:
Yoda Desika Kolim, S. Ked
112014075

Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Komunitas


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Karawang, Juni 2016
Evaluasi Program Cakupan ASI Eksklusif
di Puskesmas Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang
Periode Juni 2015 sampai dengan Mei 2016

Lembar Persetujuan
Disetujui, Juni 2016

Pembimbing

Penguji I Penguji II
Evaluasi Program Cakupan ASI Eksklusif
di Puskesmas Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang
Periode Juni 2015 sampai dengan Mei 2016
Yoda Desika Kolim
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Email: yodadesika@yahoo.com

Abstrak
Daftar Isi
Bab I
Pendahuluan

1.1.Latar Belakang
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya dapat terwujud. Berdasarkan Pembukaan UUD 1945 Negara memikul
tanggung-jawab untuk melakukan tindakan-tindakan mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam
upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, maka Negara harus memiliki generasi penerus bangsa
yang cerdas, sehat jasmani, dan rohani oleh sebab itu pemerintah menjamin kelangsungan hidup
dan tumbuh kembang anak sebagai generasi penerus bangsa salah satunya melalui program
pemberian ASI eksklusif.1
Upaya perbaikan gizi melalui penerapan pemberian ASI Eksklusif telah diamanatkan
melalui Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 pasal 128 dan 129 bahwa bayi berhak
mendapatkan ASI Eksklusif dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun
2012 Bab II pasal 3, pasal 4, pasal 5 menyebutkan bahwa Pemerintah, Pemerintah Provinsi,
Pemerintah Kabupaten/Kota bertanggung-jawab dalam program pemberian ASI Eksklusif.
Selanjutnya pada Bab III pasal 6 menyebutkan bahwa setiap ibu yang melahirkan harus
memberikan ASI Eksklusif kepada bayi yang dilahirkan.2
Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi. ASI diketahui mengandung
zat gizi yang paling sesuai kualitas dan kuantitasnya untuk pertumbuhan dan perkembangan
bayi. Oleh karena itu WHO/UNICEF telah merekomendasikan standar emas pemberian makan
pada bayi yaitu menyusui bayi secara eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan
didahului dengan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) segera setelah lahir, mulai umur 6 bulan berikan
Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dan teruskan menyusu hingga anak berumur 2 tahun.3
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian
Air Susu Ibu Eksklusif, Air Susu Ibu yang selanjutnya disingkat ASI adalah cairan hasil sekresi
kelenjar payudara ibu. ASI Eksklusif diberikan sejak bayi dilahirkan selama 6 (enam) bulan,
tanpa menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan atau minuman lain.2
Munculnya program pemberian ASI eksklusif dilatarbelakangi oleh tingginya Angka
Kematian Bayi (AKB) di Indonesia yaitu sebesar 32/1000 KH (Kelahiran Hidup), padahal target
Renstra Kemenkes (Rencana Strategis Kementrian Kesehatan) yang ingin dicapai pada tahun
2014 adalah 24/1000 KH, dan target MDGs (Millenium Development Goals) sebesar 23/1000
KH. Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukkan bahwa
AKB sebesar 32/1000 KH. Keterkaitan antara pemberian ASI eksklusif dan pengurangan angka
kematian anak dapat dipahami melalui hasil telaah dari 42 negara yang menunjukkan bahwa ASI
eksklusif memiliki dampak terbesar terhadap penurunan angka kematian Balita yaitu 13%,
dibandingkan intervensi kesehatan masyarakat lainnya. Angka ini naik menjadi 22%, jika
pemberian ASI dimulai dalam 1 jam pertama setelah kelahirannya.4
Tingkat pemberian ASI Eksklusif dalam 6 bulan pertama di Indonesia masih rendah dan
belum mencapai angka yang diharapkan. Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemenkes 2015
menunjukkan cakupan ASI Eksklusif di Indonesia baru sebesar 54,3%. Sementara di Kabupaten
Karawang, cakupan ASI Eksklusif tahun 2015 sebesar 72,77% dan di kecamatan Kutawaluya
sebesar 72,12%. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dipandang perlu untuk melakukan
evaluasi terhadap program ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kutawaluya
sehingga diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi instansi terkait dalam upaya
meningkatkan pencapaian ASI Eksklusif selanjutnya sesuai dengan target, sebagaimana yang
telah ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten dan Provinsi, serta Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.

1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalahnya
adalah:
1.2.1. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia didapatkan masih tingginya
Angka Kematian Bayi (AKB) yaitu sebesar 32 per 1000 kelahiran hidup pada tahun
2012.
1.2.2. ASI eksklusif memiliki dampak terbesar terhadap penurunan angka kematian Balita yaitu
13%, dibandingkan intervensi kesehatan masyarakat lainnya.
1.2.3. Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemenkes 2015 menunjukkan cakupan ASI
Eksklusif di Indonesia masih belum mencapai target yaitu sebesar 54,3%.
1.2.4. Menurut data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, cakupan ASI Eksklusif tahun
2015 sebesar 72,77% dan di kecamatan Kutawaluya sebesar 72,12%.
1.3.Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui masalah, penyebab masalah, penyelesaian masalah dan tingkat
keberhasilan dalam unsur-unsur pelaksanaan Program ASI Eksklusif secara menyeluruh agar
dapat meningkatkan cakupan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kutawaluya periode Juni 2015
sampai dengan Mei 2016 dengan pendekatan sistem.

1.3.2. Tujuan Khusus


1.3.2.1.Diketahuinya cakupan bayi 0-6 bulan yang mendapatkan ASI Eksklusif di Puskesmas
Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang periode Juni 2015 sampai dengan Mei
2016.
1.3.2.2.Diketahuinya cakupan bayi yang di Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Puskesmas
Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang periode Juni 2015 sampai dengan Mei
2016.

1.4.Manfaat
1.4.1. Bagi Evaluator
1.4.1.1.Menerapkan ilmu pengetahuan mengenai program puskesmas yang telah diperoleh saat
duduk di bangku kuliah.
1.4.1.2.Melatih serta mempersiapkan diri dalam mengevaluasi program program puskesmas
melalui pendekatan sistem.
1.4.1.3.Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam mengevaluasi program puskesmas.
1.4.1.4.Membina bakat terutama dalam bidang manager yang diperlukan sebagai modal untuk
menjadi dokter puskesmas nantinya.

1.4.2. Bagi Perguruan Tinggi


1.4.2.1.Mewujudkan UKRIDA sebagai masyarakat ilmiah dalam peran sertanya di bidang
kesehatan masyarakat.
1.4.2.2.Mewujudkan UKRIDA sebagai universitas yang menghasilkan dokter berkualitas dan
memiliki kepedulian terhadap kesehatan masyarakat luas.
1.4.3. Bagi Puskesmas yang Dievaluasi
1.4.3.1.Mengetahui masalah-masalah yang timbul dalam pelaksanaan program ASI Eksklusif
disertai dengan usulan atau saran sebagai pemecahan masalah.
1.4.3.2.Memberi masukan dalam meningkatkan kerjasama dan membina peran serta masyarakat
dalam melaksanakan program ASI Eksklusif secara optimal.
1.4.3.3.Membantu kemandirian puskesmas dalam upaya lebih mengaktifkan program ASI
Eksklusif sehingga dapat memenuhi tolok ukur cakupan program.

1.4.4. Bagi Masyarakat


1.4.4.1.Meningkatkan pembinaan peran serta masyarakat dalam kegiatan program ASI Eksklusif
di wilayah kerja Puskesmas Kutawaluya, Kabupaten Karawang.
1.4.4.2.Meningkatkan pengetahuan masyarakat akan pentingnya pemberian ASI Eksklusif di
wilayah kerja Puskesmas Kutawaluya, Kabupaten Karawang.
1.4.4.3.Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kutawaluya,
Kabupaten Karawang.

1.5.Sasaran
Semua bayi berusia 0-6 bulan di seluruh wilayah kerja UPTD Puskesmas Kutawaluya,
Kabupaten Karawang periode Juni 2015 sampai dengan Mei 2016.
Bab II
Materi dan Metode

2.1. Materi
Materi yang dievaluasi dalam program ini didapatkan dari laporan hasil kegiatan program
ASI Eksklusif periode Juni 2015 sampai dengan Mei 2016 di Puskesmas Kecamatan Kutawaluya
Kabupaten Karawang, yang berisi kegiatan antara lain:
a. Pencatatan dan pelaporan program ASI Eksklusif
b. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
c. Pembinaan kegiatan penyuluhan kelompok
d. Pelatihan kader
e. Pojok ASI Eksklusif

2.2. Metode
Evaluasi program ini dilaksanakan dengan pengumpulan data, analisis data dan
pengolahan data dengan menggunakan pendekatan sistem sehingga dapat dicari masalah yang
ada pada program ASI Eksklusif dengan cara membandingkan cakupan program ASI Eksklusif
di Puskesmas Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang periode Juni 2015 sampai dengan
Mei 2016 terhadap tolok ukur yang telah ditetapkan dan menemukan penyebab masalah dengan
menggunakan pendekatan sistem yang kemudian dibuat usulan dan saran sebagai pemecahan
masalah tersebut berdasarkan penyebab masalah yang ditemukan.
Bab III
Kerangka Teori

3.1.Bagan Sistem

Gambar 1. Bagan Sistem.

Bagan di atas menerangkan sistem adalah gabungan dari elemen-elemen yang saling
dihubungkan dengan suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi
dalam upaya menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan. Bagian atau elemen tersebut dapat
dikelompokkan dalam lima unsur, yaitu:
1. Masukan (input)
Adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan dibutuhkan
untuk dapat berfungsinya sistem tersebut, terdiri dari tenaga (man), dana (money),
sarana (material), metode (method), mesin atau alat yang digunakan (machine), jangka
alokasi waktu (minute), lokasi masyarakat (market) dan informasi (information).
2. Proses (process)
Adalah kumpulan bagian atau elemen yang ada di dalam sistem dan berfungsi untuk
mengubah masukan menjadi keluaran yang direncanakan. Terdiri dari unsur
perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan
pemantauan (controlling).
3. Keluaran (output)
Adalah kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari berlangsungnya proses
dalam sistem.
4. Lingkungan (environment)
Adalah dunia di luar sistem yang tidak dikelola oleh sistem tetapi mempunyai
pengaruh besar terhadap sistem, terdiri dari lingkungan fisik dan non fisik.
5. Umpan balik (feedback)
Adalah kumpulan bagian atau elemen yang merupakan keluaran dari sistem dan
sekaligus sebagai masukan dari sistem tersebut, berupa pencatatan dan pelaporan yang
lengkap, monitoring dan rapat bulanan.
6. Dampak (impact)
Adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran dari suatu sistem.

3.2.Tolok Ukur
Tolok ukur merupakan nilai acuan atau standar yang telah ditetapkan dan digunakan
sebagai target yang harus dicapai pada tiap-tiap variabel sistem yang meliputi masukan, proses,
keluaran, lingkungan dan umpan balik pada program ASI Eksklusif seperti yang tertera pada
lampiran. Tolok ukur digunakan sebagai pembanding atau cakupan minimal yang harus dicapai
dalam program ASI eksklusif.
Bab IV
Penyajian Data

4.1.Sumber Data
Sumber data dalam evaluasi ini berupa data sekunder yang berasal dari :
1. Profil kesehatan Puskesmas Kecamatan Kutawaluya tahun 2016.
2. Data Geografi dari Puskesmas Kecamatan Kutawaluya tahun 2016.
3. Data Demografi dari Puskesmas Kecamatan Kutawaluya tahun 2016.
4. Laporan catatan hasil kegiatan bulanan ASI Eksklusif di Puskesmas Kecamatan
Kutawaluya, Kabupaten Karawang periode Juni tahun 2015 sampai dengan Mei tahun
2016.
5. Laporan bulanan bayi baru lahir yang mendapat inisiasi menyusu dini (IMD) dan ASI
Eksklusif di Puskesmas Kecamatan Kutawaluya Kabupaten Karawang periode Juni tahun
2015 sampai dengan Mei tahun 2016.
6. Instrumen Penilaian Kinerja Puskesmas (PKP) Puskesmas Kecamatan Kutawaluya
periode Juni tahun 2015 sampai dengan Mei tahun 2016.

4.2.Data Umum
4.2.1. Data Geografis
4.2.1.1. Luas Wilayah dan Batas-Batas
1. Puskesmas Kutawaluya sebagai UPTD Puskesmas DTP Poned terletak di tepi jalan
utama yang menghubungkan beberapa kecamatan khususnya Rengasdengklok –
Rawamerta.
2. Wilayah kerja Puskesmas Kutawaluya meliputi lahan pertanian 1.638 ha dan tanah
darat 702 ha, atau keseluruhannya 2.340 ha. Lokasi Puskesmas termasuk wilayah
desa Sampalan.
3. Batas-batas wilayah kerja Puskesmas Kecamatan :
- Sebelah utara berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Kutamukti
- Sebelah selatan berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Rawamerta
- Sebelah timur berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Cilebar
- Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Rengasdengklok
4. Dari kantor kecamatan, lokasi puskesmas dapat dicapai sejauh 1 kilometer. Untuk
mencapai pusat kota Karawang, jarak 35 kilometer dapat ditempuh sekitar 45 menit
dengan kendaraan bermotor.

4.2.1.2.Wilayah Administrasi
Wilayah kerja UPTD Puskesmas Kutawaluya terdiri dari 7 desa, 30 dusun, 31 RW dan 96
RT. Desa-desa yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Kutawaluya antara lain:
1. Desa Waluya
2. Desa Mulyajaya
3. Desa Sampalan
4. Desa Sindangmulya
5. Desa Sindangmukti
6. Desa Sindangsari
7. Desa Sindangkarya

4.2.2. Data Demografi


Jumlah penduduk di UPTD Puskesmas Kecamatan Kutawaluya sampai Desember tahun
2015 sebesar 11.056 dimana laki-laki sebanyak 9.613 jiwa dan perempuan sebanyak 1.443 jiwa.
Jumlah rumah 8.805 dan jumlah kepala keluarga 12.156 sampai Desember tahun 2015.

4.2.3. Tingkat Pendidikan


Tingkat pendidikan penduduk Kecamatan Kutawaluya terbanyak adalah Sekolah Dasar
/MI, berjumlah 13.311 orang (40,35%).

4.2.4. Mata Pencaharian


Mata pencaharian terbanyak di Kecamatan Kutawaluya adalah petani yakni berjumlah
2088 orang (40,37%).
4.2.5. Data Sarana Kesehatan
Jenis sarana kesehatan yang berada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kutawaluya
antara lain:
1. Puskesmas perawatan :1
2. Poskesdes :7
3. Puskesmas pembantu :2
4. Ambulan / Pusling :1
5. Pos Bindu :7
6. Posyandu : 39
7. Balai Pengobatan 24 jam :1
8. Poned :1
9. BP Dokter :1
10. BP Perawat :0
11. BP sore Bidan : 18
12. Pengobatan Tradisional :2
13. Apotik :0
14. Toko Obat :2

4.3. Data Khusus


4.3.1. Masukan
1. Tenaga
- Penanggung jawab program : 1 orang
- Petugas gizi kesehatan : 1 orang
- Konselor ASI : 1 orang
- Kader ASI : 1 orang per desa
- Bidan : 18 orang

2. Dana
- APBD : Ada
- Bantuan Operasional Kesehatan : Ada
3. Sarana
- Proyektor in-focus : Ada
- Layar : Ada
- Leaflet : Ada
- Lembar balik : Ada
- Poster : Ada
- Formulir wawancara ibu hamil : Ada
- Buku pedoman tenaga pelaksanaan gizi : Ada
- Alat tulis : Ada
- Ruang Pojok ASI : Ada

4. Metode
a. Penyuluhan
- Perorangan
Penyuluhan perorangan diberikan oleh petugas kesehatan Puskesmas kepada
setiap ibu dan/atau anggota keluarga dari bayi yang bersangkutan sejak
pemeriksaan kehamilan sampai dengan periode pemberian ASI eksklusif
selesai. Informasi dan edukasi ASI eksklusif paling sedikit mengenai :
 Keuntungan dan keunggulan pemberian ASI
 Gizi ibu, persiapan dan mempertahankan menyusui
 Akibat negatif dari pemberian makanan botol secara parsial
terhadap pemberian ASI; dan
 Kesulitan untuk mengubah keputusan untuk tidak memberikan ASI
- Kelompok (dilakukan di posyandu setiap bulan dan kelas ibu hamil)
 Petugas kesehatan puskesmas melakukan wawancara dengan ibu
hamil dan ibu yang mempunyai bayi usia 0-6 bulan.
 Pemberian informasi dan edukasi melalui komunikasi dua arah
(kelas ibu hamil).
 Membahas mengenai berbagai manfaat ASI Eksklusif bagi ibu dan
bayi serta metode penyimpanan serta pemberian ASI eksklusif
yang baik.
 Memberikan motivasi kepada ibu untuk memberikan ASI
Eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan dan melanjutkan hingga ke
usia 2 tahun didampingi dengan MP-ASI.
 Memberikan motivasi dan mengajarkan cara memberi ASI perah
pada ibu bekerja yang mempunyai bayi usia 0- 6 bulan.
 Menerapkan 10 langkah menuju keberhasilan menyusu.
b. Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
Tenaga kesehatan dan penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan
melakukan inisiasi menyusu dini terhadap bayi yang baru lahir kepada ibunya
paling singkat selama 1 (satu) jam. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dilakukan oleh
bidan desa atau bidan PONED. Bidan PONED menerapkan IMD di ruangan
PONED di UPTD Puskesmas Kecamatan Kutawaluya dengan memberikan
pengarahan kepada ibu yang baru saja melahirkan untuk meletakkan bayi secara
tengkurap di dada atau perut ibu sehingga kulit bayi melekat pada kulit ibu.
c. Pojok ASI
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
15 Tahun 2013, harus disediakan satu ruangan khusus untuk menyusu atau
memerah susu di sarana umum. Ruangan pojok ASI Eksklusif ini juga boleh
digunakan untuk tujuan mempromosikan program ASI Eksklusif.
d. Pelatihan Kader
Pelatihan kader kesehatan mengenai ASI Eksklusif dilakukan minimal
satu kali per tahun. Pelatihan boleh dilakukan oleh dokter, bidan, konselor ASI
Eksklusif atau bagian promosi kesehatan.
e. Pencatatan dan Pelaporan
Dilakukan dengan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas
(SP2TP) Kecamatan Kutawaluya Kabupaten Karawang.
4.3.2. Proses
1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan tertulis mengenai:
a. Penyuluhan
- Perorangan
Akan dilakukan pada setiap hari kerja oleh bidan kepada ibu dan/atau anggota
keluarga dari bayi saat pemeriksaan kehamilan sampai dengan periode
pemberian ASI Eksklusif selesai melalui wawancara di UPTD Puskesmas
Kutawaluya jam 08.00-12.00 WIB.
- Kelompok
Akan diadakannya penyuluhan mengenai ASI Eksklusif dan manfaatnya serta
cara menyusui yang benar kepada ibu hamil dan ibu yang mempunyai bayi
usia 0-6 bulan, akan dilaksanakan sebanyak satu bulan sekali minimal enam
kali per bulan di posyandu yang dibantu oleh kader ASI.
b. Inisiasi Menyusui Dini
Setiap persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan akan dilakukan upaya
Inisiasi Menyusui Dini oleh bidan desa atau bidan PONED yang mendampingi
persalinan.
c. Pojok ASI
Akan disediakan suatu ruangan tertutup yang khusus buat ibu menyusui di
Puskesmas beroperasi setiap hari dengan beberapa kursi dan seorang petugas
puskesmas yang dapat mempromosikan usaha ASI Eksklusif pada hari kerja
jam 08.00-14.00 WIB.
d. Pelatihan Kader
Akan dilakukan penjadwalan pelatihan kader oleh konselor ASI mengenai
program ASI Eksklusif yang disediakan oleh petugas Program Gizi dan
disesuaikan dengan anggaran operasional yang tersedia selama satu bulan
sekali.
e. Pencatatan dan Pelaporan
- Pencatatan
Dilakukan secara aktif setiap hari kerja pukul 08.00-12.00 WIB oleh bidan
desa/PONED.
- Pelaporan
Dilakukan dengan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas
(SP2TP) dan dilaporkan dalam bentuk Laporan Bulanan.

2. Pengorganisasian (Organizing)
Dibuat struktur organisasi, Kepala Puskesmas sebagai penanggung jawab program,
melimpahkan kekuasaan kepada loordinator program (programmer), kemudian
programmer melakukan koordinasi dengan pelaksana program. Terdapat struktur
tertulis dan pembagian tugas yang teratur dalam melaksanakan tugasnya:

Kepala Puskesmas :
Dr. Hj. Cucu Siti Minpalah, M.Kes, AIFO
NIP : 197009003 2005001 2 006

Ka Tata Usaha
Hj. Engkur Kurnia, SKM

Koordinator dan Pelaksana Gizi Keluarga


Hj. Ai Aminah, S. ST
NIP : 19770802 200801 2 005

Konselor ASI
Nengsih Dwijayanti Nr
PTT 10.3.321050

Bagan 1. Struktur Organisasi Bagian Gizi Keluarga Puskesmas Kutawaluya.


Pengorganisasian dalam program ASI eksklusif dibagi berdasarkan jabatan:
a. Kepala Puskesmas (Dr. Hj. Cucu Siti Minpalah, M.Kes, AIFO)
- Sebagai penanggung jawab program
- Monitoring pelaksanaan kegiatan gizi keluarga
- Melakukan evaluasi data hasil pelaksanaan kegiatan gizi keluarga di
wilayah kerja Puskesmas Kutawaluya.
b. Koordinator dan Pelaksana Gizi Keluarga (Hj. Ai Aminah, S. ST)
- Sebagai koordinator dan pelaksana program
- Melakukan pencatatan hasil keberhasilan program dan melaporkan
hasil pencatatan kepada Kepala Puskesmas Kutawaluya setiap bulan.
c. Konselor ASI (Nengsih Dwijayanti Nr)
- Sebagai orang pilihan puskesmas yang dikirim untuk mengikuti
pelatihan konselor ASI oleh dinas kesehatan
- Dengan tujuan setelah pelatihan, sebagai anggota konselor mampu
melatih kader-kader posyandu yang dipilih sebagai kader ASI pada
satu wilayah.

3. Pelaksanaan (Actuating)
a. Penyuluhan
- Perorangan
Dilakukan pada setiap hari kerja oleh bidan kepada ibu yang mempunyai
bayi berusia 0 – 6 bulan melalui wawancara di UPTD Puskesmas
Kecamatan Kutawaluya, jam 08.00 – 14.00 WIB. Namun tidak terdapat
pelaporan dan pencatatan mengenai hal tersebut.
- Kelompok
Dilakukan penyuluhan di posyandu yang dilakukan setiap bulan, namun
penyuluhan tersebut tidak dilakukan secara berkesinambungan. Hanya
dilakukan pada acara-acara tertentu seperti Pekan ASI Sedunia (PAS).
b. Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
Setiap persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan dilakukan upaya Inisiasi
Menyusui Dini oleh bidan desa atau bidan PONED yang mendampingi
persalinan.
c. Pojok ASI
Telah disediakan ruangan khusus yang digunakan sebagai ruang pojok ASI.
Namun hanya digunakan saat ada rujukan baik dari luar puskesmas maupun dari
PONED bagi ibu yang air susunya tidak dapat keluar, mastitis, puting terbenam
(inverted nipple).
d. Pelatihan Kader mengenai ASI Eksklusif
Pelatihan kader ASI hanya dilakukan sekali pada tanggal 14-15 November 2014
oleh konselor ASI di aula Puskesmas Kutawaluya berisi kegiatan pre-test,
pemaparan ASI Ekslusif, pelatihan cara menyusui yang benar, dan post-test.
e. Pencatatan dan Pelaporan
- Pencatatan
Dilakukan oleh masing-masing bidan desa pada setiap kali kegiatan
posyandu dan bidan PONED saat telah melakukan IMD.
- Pelaporan
Dilakukan pelaporan tertulis 1 kali setiap bulan pada laporan bulanan
Puskesmas oleh petugas Program Gizi berdasarkan laporan dari bidan-bidan
desa dan bidan PONED.

4. Pengawasan (Controlling)
a. Pertemuan / Rapat (Lokakarya Mini Bulanan)
Tiap bulan diadakan 1 kali rapat di Puskesmas Kutawaluya dan dipimpin oleh
Kepala Puskesmas untuk mengetahui apakah program berjalan sesuai dengan
rencana.
b. Penilaian mengenai seluruh hasil kegiatan yang digunakan untuk menentukan
program tahun depan, diadakan 1 tahun sekali.
4.3.3. Keluaran
4.3.3.1. Cakupan ASI Eksklusif
4.3.3.1.1. Jumlah bayi usia 0 – 6 bulan yang mendapat ASI Eksklusif yang tercatat dalam
register pencatatan di wilayah kerja Puskesmas Kutawaluya periode Agustus 2015
dan Februari 2016:

Bulan Jumlah Bayi Usia 0-6 Bulan dengan ASI Eksklusif


Agustus 2015 131
Februari 2016 230
Jumlah 361
Tabel. Jumlah Bayi 0 – 6 Bulan yang Mendapat ASI Eksklusif di Wilayah Kerja
Puskesmas Kutawaluya Periode Agustus 2015 dan Februari 2016.

4.3.3.1.2. Jumlah bayi 0-6 bulan yang datang dan tercatat dalam register pencatatan/KMS di
wilayah kerja UPTD Puskesmas Kutawaluya periode Agustus 2015 dan Februari
2016:

Bulan Jumlah Bayi Usia 0-6 Bulan


Agustus 2015 187
Februari 2016 239
Jumlah 426
Tabel. Jumlah Bayi 0 – 6 Bulan yang Datang dan Tercatat
di Wilayah Kerja Puskesmas Kutawaluya.

4.3.3.1.3. Persentase bayi umur 0-6 bulan yang mendapatkan ASI Eksklusif periode Agustus
2015 dan Februari 2016:

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑦𝑖 0 − 6 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝐴𝑆𝐼 𝐸𝑘𝑠𝑘𝑙𝑢𝑠𝑖𝑓 𝑑𝑖 𝑤𝑖𝑙𝑎𝑦𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎


𝑈𝑃𝑇𝐷 𝑃𝑢𝑠𝑘𝑒𝑠𝑚𝑎𝑠 𝐾𝑢𝑡𝑎𝑤𝑎𝑙𝑢𝑦𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 𝐴𝑔𝑢𝑠𝑡𝑢𝑠 2015 𝑑𝑎𝑛 𝐹𝑒𝑏𝑟𝑢𝑎𝑟𝑖 2016
𝑥 100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑦𝑖 0 − 6 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑐𝑎𝑡𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑟𝑒𝑔𝑖𝑠𝑡𝑒𝑟
𝑝𝑒𝑛𝑐𝑎𝑡𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑑𝑖 𝑤𝑖𝑙𝑎𝑦𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑈𝑃𝑇𝐷 𝑃𝑢𝑠𝑘𝑒𝑠𝑚𝑎𝑠 𝐾𝑢𝑡𝑎𝑤𝑎𝑙𝑢𝑦𝑎
𝑝𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 𝐴𝑔𝑢𝑠𝑡𝑢𝑠 2015 𝑑𝑎𝑛 𝐹𝑒𝑏𝑟𝑢𝑎𝑟𝑖 2016
361
=( ) 𝑥100% = 84,74 %
426
Target : 90% per tahun (berdasarkan PKP Puskesmas Kutawaluya 2016)
Kesimpulan : Cakupan sebesar 84,74% belum sesuai target yaitu 90%, sehingga
didapatkan besar masalah 5,26%.

4.3.3.2.Cakupan Inisiasi Menyusui Dini


𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 (%) 𝑐𝑎𝑘𝑢𝑝𝑎𝑛 𝐼𝑀𝐷
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐵𝑎𝑦𝑖 𝐿𝑎ℎ𝑖𝑟 𝐻𝑖𝑑𝑢𝑝 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝐼𝑀𝐷 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝐽𝑢𝑛𝑖 2015 − 𝑀𝑒𝑖 2016
= 𝑥 100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑎𝑙𝑖𝑛𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑁𝑎𝑘𝑒𝑠 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝐽𝑢𝑛𝑖 2015 − 𝑀𝑒𝑖 2016

= ( ) 𝑥100%

= %

Target : 100 % per tahun


Kesimpulan : Cakupan sebesar % belum sesuai target yaitu 100%, sehingga
didapatkan besar masalah %.

4.3.4. Lingkungan
4.3.4.1.Lingkungan Fisik
- Lokasi
Mudah dijangkau oleh bidan desa karena terdapat akses jalan yang bisa dilalui sepeda
motor tetapi tidak mempengaruhi pelaksanaan program secara signifikan.
- Transportasi
Tersedia sarana transportasi.
- Fasilitas Kesehatan lain : Ada
4.3.4.2.Lingkungan Non Fisik
- Pendidikan
Mayoritas penduduk berpendidikan rendah sehingga mempengaruhi pengetahuan
masyarakat mengenai pentingnya ASI eksklusif.
- Sosial Ekonomi
Tingkat ekonomi masyarakat masih rendah. Sebagian besar penduduk bermata
pencaharian sebagai petani.
- Sosial Budaya
Masih banyaknya kepercayaan masyarakat seputar ASI sehingga terkadang
memberikan susu formula atau makanan terhadap bayi.

4.3.5. Umpan Balik


- Pencatatan dan pelaporan bulanan mengenai ASI Eksklusif lengkap, sesuai dengan
waktu yang ditentukan, akan dapat digunakan sebagai masukan dalam evaluasi
Program Gizi.
- Terdapat rapat kerja yang membahas laporan kegiatan setiap bulannya untuk
mengevaluasi program yang telah dijalankan.

4.3.6. Dampak
- Dampak Langsung
Memenuhi kebutuhan asupan gizi bayi 0-6 bulan: Belum dapat dinilai.
- Dampak Tidak Langsung
Mengurangi angka kesakitan dan kematian anak: Belum dapat dinilai.
Bab V
Pembahasan

5.1.Pembahasan Masalah
5.1.1. Masalah Menurut Variabel Keluaran
No Variabel Tolok Ukur (%) Pencapaian(%) Masalah (%)

1. Cakupan ASI Eksklusif 90 84,74 5,26

2. Cakupan Inisiasi Menyusui Dini


(IMD)

5.1.2. Masalah Menurut Variabel Masukan


No Variabel Tolok Ukur Pencapaian Masalah

1. Tenaga  Tersedianya tenaga Petugas  Ada 1 orang tenaga (-)


(Men) Gizi Keluarga sebagai sebagai koordinator dan
koordinator dan pelaksana pelaksana Program Gizi
Program Gizi Keluarga Keluarga

 Terdapat petugas terpilih  Ada 1 orang yang terpilih (-)


sebagai Konselor ASI sebagai konselor ASI

 Terdapat kader ASI  Ada 7 orang kader ASI


(-)
yang ditugaskan 1 orang
di tiap desa

 Terdapat bidan yang bertugas  Ada 18 orang bidan yang (-)


ditugaskan di PONED dan
BKIA dan sebagai bidan
desa
2. Dana  Tersedianya dana APBD  Tersedia Tidak dapat
(Money) diukur

 Tersedianya dana BOK  Tersedia Tidak dapat


diukur

3. Sarana  Ada In-focus  Ada (-)


(Material)  Ada layar  Ada (-)
 Ada leaflet  Ada (-)
 Ada lembar balik  Ada (-)
 Ada poster  Ada (-)
 Ada formulir wawancara ibu  Ada (-)
hamil
 Ada buku pedoman tenaga  Ada (-)
kesehatan gizi
 Ada alat tulis  Ada (-)
 Ada ruang pojok ASI  Ada (-)

4. Metode  Dilakukan penyuluhan  Sudah dilakukan (+)


(method) perorangan dan juga per- penyuluhan baik per-
kelompok mengenai ASI orangan maupun per-
Eksklusif. kelompok mengenai ASI
Eksklusif namun
penyuluhan belum secara
rutin dilakukan, dan
hanya dilakukan pada saat
kelas ibu hamil.
 Dilakukan IMD (Inisiasi  Sudah dilakukannya IMD (-)
Menyusui Dini) terhadap bayi terhadap setiap bayi baru
baru lahir kepada ibunya paling lahir paling singkat 1
singkat selama 1 (satu) jam oleh (satu) jam oleh bidan desa
bidan desa atau bidan PONED. atau bidan PONED di
Puskesmas Kutawaluya.
 Tersedianya Pojok ASI  Tersedia (-)
 Dilakukan pelatihan kader  Pelatihan kader mengenai (+)
mengenai ASI Eksklusif ASI Eksklusif baru
sebulan sekali. dilakukan 1 kali pada
tahun 2014.
 Adanya pencatatan dan  Ada (-)
pelaporan
5.1.3. Masalah Menurut Variabel Proses
No. Variabel Tolok Ukur Pencapaian Masalah
1. Perencanaan  Diadakan penyuluhan mengenai  Ada rencana penyuluhan (-)
ASI Eksklusif dan manfaat serta mengenai ASI Eksklusif dan
cara menyusu yang benar manfaat serta cara menyusu
kepada ibu hamil dan ibu yang yang benar kepada ibu hamil
memiliki bayi 0-6 bulan pada dan ibu yang memiliki bayi 0-
posyandu yang dilaksanakan 6 bulan setiap diadakan
sebanyak satu bulan sekali posyandu.
minimal enam kali yang dibantu
oleh kader.

 Dilakukan IMD (Inisiasi  Sudah dilakukannya IMD (-)


Menyusui Dini) terhadap bayi terhadap setiap bayi baru lahir
baru lahir kepada ibunya paling paling singkat 1 (satu) jam
singkat selama 1 (satu) jam oleh oleh bidan desa atau bidan
bidan desa atau bidan PONED. PONED di Puskesmas
Kutawaluya.

 Disediakan ruangan tertutup  Sudah diadakan tempat untuk (+)


khusus buat ibu menyusu yang ruang pojok ASI dengan satu
beroperasi setiap hari jam kerja petugas puskesmas. Namun
dengan beberapa kursi dan hanya digunakan saat ada
seorang petugas puskesmas rujukan baik dari luar
yang dapat mempromosikan puskesmas maupun dari
usaha ASI Eksklusif pada hari PONED bagi ibu yang air
bekerja. susunya tidak dapat keluar,
mastitis, puting terbenam
(inverted nipple).

 Diadakan penjadwalan pelatihan  Belum ada penjadwalan (+)


kader oleh konselor ASI pelatihan kader ASI Eksklusif
mengenai program Program sebanyak sekali dalam tiap
Gizi dan disesuaikan dengan bulan. Hanya dilakukan
anggaran selama satu bulan pelatihan kader 1 kali di tahun
sekali. 2014.

 Dilakukan sistem pencatatan (-)


dan pelaporan terpadu  Sudah dilakukan.
puskesmas yang dilaporkan
dalam bentuk laporan bulanan.
.
2. Pengorganisasian  Dibentuk struktur organisasi,  Struktur organisasi sudah (-)
kepala puskesmas sebagai dibentuk dan jelas, dalam
penanggungjawab program, pelaksanaannya sudah
melimpahkan kekuasaan kepada berjalan sesuai dengan
Koordinator program struktural organisasi.
(programmer), kemudian
melakukan koordinasi dengan
pelaksana program.
.
3. Pelaksanaan  Dilakukan penyuluhan di  Hanya dilakukan apabila ada (+)
posyandu yang dilakukan acara-acara tertentu seperti
sebulan sekali sebanyak Pekan ASI Sedunia dan saat
minimal enam kali. kelas ibu hamil.
 Ada ruangan khusus untuk ibu  Sudah diadakan tempat (+)
menyusu dengan satu petugas untuk ruang pojok ASI
puskesmas yang dapat dengan satu petugas
mempromosikan usaha ASI puskesmas. Namun hanya
selama hari kerja yang digunakan saat ada rujukan
disediakan UPTD Puskesmas baik dari luar puskesmas
Kutawaluya. maupun dari PONED bagi
ibu yang air susunya tidak
dapat keluar, mastitis, puting
terbenam (inverted nipple).

 Dilakukan inisiasi menyusu dini  Sudah diterapkan kegiatan (-)


oleh ibu yang persalinannya inisiasi menyusu dini oleh
didampingi oleh tenaga ibu yang persalinannya
kesehatan. didampingi oleh tenaga
kesehatan.
 Dilakukan pelatihan kader oleh  Ada pelatihan kader ASI (+)
konselor ASI mengenai program Eksklusif oleh konselor ASI
ASI yang diberikan program namun hanya sekali di tahun
Gizi selama satu bulan sekali. 2014.

 Dilakukan sistem pencatatan (-)


dan pelaporan terpadu  Sudah dilakukan.
puskesmas yang dilaporkan
dalam bentuk laporan bulanan.

4. Pengawasan  Dilakukan pertemuan/rapat  Sudah dilakukan (-)


bulanan dan juga tahunan yang
dipimpin oleh kepala puskesmas
untuk mengetahui apakah
program berjalan sesuai dengan
rencana.

5.1.4. Masalah Menurut Variabel Lingkungan


No. Variabel Tolok Ukur Pencapaian Masalah
1. Lokasi  Mudah dijangkau  Lokasi mudah dijangkau oleh (-)
bidan desa.
2. Transportasi  Tersedia  Tersedia sarana transportasi. (-)

3. Fasilitas  Tersedia  Tersedia fasilitas kesehatan. (-)


Kesehatan

4. Pendidikan  Baik  Tingkat pengetahuan manfaat (+)


pemberian dan bagaimana
cara pemberian ASI eksklusif
masih kurang.
5. Sosial Ekonomi  Baik  Tingkat ekonomi masyarakat (+)
masih rendah, sebagian
penduduk bermata
pencaharian sebagai petani.
6. Sosial Budaya  Baik  Masih banyaknya (+)
kepercayaan masyarakat
seputar ASI sehingga
terkadang memberikan susu
formula atau makanan
terhadap bayi.
Bab VI
Perumusan Masalah

6.1. Masalah Menurut Keluaran


a. Cakupan ASI
Cakupan ASI Eksklusif pada periode Agustus 2015 dan Februari 2016 hanya mencapai
84,74% dari target 90% dengan besaran masalah adalah 5,26%.
b. Cakupan Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
Cakupan Inisiasi Menyusui Dini pada periode Juni 2015 sampai dengan Mei 2016hanya
mencapai % dari target % dengan besaran masalah adalah %.

6.2. Masalah dari Unsur Lain


6.2.1. Dari Masukan
a. Dana tersedia, namun pencatatan masih kurang lengkap sehingga tidak dapat diukur.
b. Sudah dilakukan penyuluhan baik per-orangan maupun per-kelompok mengenai ASI
Eksklusif namun penyuluhan belum secara rutin dilakukan, dan hanya dilakukan pada
saat kelas ibu hamil.
c. Pelatihan kader mengenai ASI Eksklusif baru dilakukan 1 kali pada pada tanggal 14-
15 November 2014 oleh konselor ASI di aula Puskesmas Kutawaluya.

6.2.2. Dari Proses


a. Sudah diadakan tempat untuk ruang pojok ASI dengan satu petugas puskesmas
namun hanya digunakan saat ada rujukan baik dari luar puskesmas maupun dari
PONED bagi ibu yang air susunya tidak dapat keluar, mastitis, putting terbenam
(inverted nipple).
b. Belum ada penjadwalan pelatihan kader sebanyak sekali dalam tiap bulan. Hanya
dilakukan pelatihan kader 1 kali pada tanggal 14-15 November 2014 oleh konselor
ASI di aula Puskesmas Kutawaluya.
c. Penyuluhan di posyandu mengenai ASI Eksklusif belum rutin dilakukan setiap bulan,
hanya dilakukan apabila ada acara-acara tertentu seperti Pekan ASI Sedunia dan saat
kelas ibu hamil.

6.2.3. Dari Lingkungan


a. Tingkat pengetahuan manfaat pemberian dan bagaimana cara pemberian ASI
Eksklusif masih kurang.
b. Tingkat ekonomi masyarakat masih rendah, sebagian penduduk bermata-pencaharian
sebagai petani.
c. Masih banyaknya kepercayaan dan mitos masyarakat seputar ASI sehingga terkadang
memberikan susu formula atau makanan terhadap bayi.
Bab VII
Prioritas Masalah

7.1. Masalah Menurut Keluaran


a. Cakupan ASI
Cakupan ASI Eksklusif pada periode Agustus 2015 dan Februari 2016 hanya mencapai
84,74% dari target 90% dengan besaran masalah adalah 5,26%.
b. Cakupan Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
Cakupan Inisiasi Menyusui Dini pada periode Juni 2015 sampai dengan Mei 2016 hanya
mencapai % dari target % dengan besaran masalah adalah %.

7.2. Prioritas Masalah


No. Parameter Masalah
a b
1. Besarnya masalah 5 4
2. Berat ringannya akibat yang ditimbulkan 5 3
3. Keuntungan sosial karena selesainya masalah 4 4
4. Teknologi yang tersedia dan dapat dipakai 4 4
5. Sumber daya yang tersedia untuk menyelesaikan masalah 5 4

Total 23 19
Tabel. Prioritas Masalah.

Keterangan Derajat Masalah:


5: Sangat penting
4: Penting
3: Cukup penting
2: Kurang penting
1: Tidak penting
Bab VIII
Penyelesaian Masalah

8.1. Masalah Pertama


Cakupan ASI Eksklusif pada periode Agustus 2015 dan Februari 2016 hanya mencapai
84,74% dari target 90% dengan besaran masalah adalah 5,26%.
8.1.1. Penyebab Masalah
a. Kurangnya penyuluhan mengenai ASI Eksklusif dalam tiap pelaksanaan posyandu.
b. Sudah diadakan tempat untuk ruang pojok ASI dengan satu petugas puskesmas.
Namun hanya digunakan saat ada rujukan baik dari luar puskesmas maupun dari
PONED bagi ibu yang air susunya tidak dapat keluar, mastitis, puting terbenam
(inverted nipple).
c. Tingkat pengetahuan manfaat pemberian dan bagaimana cara pemberian ASI
eksklusif masih kurang.
d. Masih sedikitnya pelatihan kader ASI yang dilakukan oleh konselor ASI.
8.1.2. Penyelesaian Masalah
a. Melakukan penyuluhan ASI Ekslusif yang berkesinambungan sesuai dengan
perencanaan yang telah dibuat.
b. Mengembangkan kegiatan di ruangan pojok ASI , bukan hanya menerima rujukan
saja namun juga melakukan promosi ASI Ekslusif dan terutama sebagai tempat untuk
menyusui.
c. Sejalan dengan penyelesaian nomor 1, maka tingkat pengetahuan mengenai ASI
Ekslusif pun akan meningkat.
d. Melaksanakan pelatihan kader ASI yang berkesinambungan sesuai dengan
perencanaan yang telah dibuat yaitu sekali dalam sebulan.
8.2. Masalah Kedua
Cakupan Inisiasi Menyusui Dini pada periode Juni 2015 sampai dengan Mei 2016 hanya
mencapai % dari target % dengan besaran masalah adalah %.
8.2.1. Penyebab Masalah
a. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai Inisiasi Menyusui Dini (IMD).
b. Kurangnya rasa kepercayaan diri ibu dalam menyusui pertama kali.
c. Belum semua petugas dan sarana pelayanan kesehatan yang menerapkan IMD.
8.2.2. Penyelesaian Masalah:
a. Memberikan konseling mengenai pentingnya memberikan ASI segera setelah bayi
lahir dari sejak sang ibu hamil.
b. Memberikan dukungan emosional baik oleh suami, keluarga, tenaga kesehatan
sehingga meningkatkan kepercayaan diri dalam menyusui.
c. Mengupayakan agar semua petugas dan sarana pelayanan kesehatan mendukung
IMD.
Bab IX
Penutup

9.1. Kesimpulan
Dari hasil penilaian Program ASI Eksklusif yang dilakukan dengan pendekatan sistem di
Puskesmas Kecamatan Kutawaluya untuk periode Agustus 2015 dan Februari 2016, didapatkan
beberapa permasalahan dalam Program ASI Eksklusif yang mampu mempengaruhi keberhasilan
program ini. Adapun dari hasil evaluasi Program ASI Eksklusif di Puskesmas Kecamatan
Kutawaluya untuk periode Agustus 2015 dan Februari 2016 didapatkan:
a. Cakupan ASI Eksklusif pada periode Agustus 2015 dan Februari 2016 hanya mencapai
84,74% dari target 90% dengan besaran masalah adalah 5,26%.
b. Cakupan Inisiasi Menyusui Dini pada periode Juni 2015 sampai dengan Mei 2016 hanya
mencapai % dari target % dengan besaran masalah adalah %.
c. Tersedia Pojok ASI namun penggunaannya belum berjalan sesuai dengan perencanaan.
Hanya digunakan saat ada rujukan baik dari luar puskesmas maupun dari PONED bagi
ibu yang air susunya tidak dapat keluar, mastitis, puting terbenam (inverted nipple).
d. Penyuluhan di posyandu hanya dilakukan apabila ada acara-acara tertentu seperti Pekan
ASI Sedunia dan saat kelas ibu hamil.
e. Masih sedikitnya pelatihan kader ASI yang dilakukan oleh konselor ASI

9.2. Saran
Saran untuk Puskesmas Kecamatan Kutawaluya :
a. Mengembangkan kegiatan di ruangan pojok ASI untuk mempromosikan ASI Ekslusif,
tidak hanya menerima rujukan.
b. Penyuluhan mengenai ASI Ekslusif dilakukan secara berkesinambungan sesuai dengan
perencanaan tidak hanya pada acara-acara tertentu.
c. Melaksanakan pelatihan kader ASI yang berkesinambungan sesuai dengan perencanaan
yang telah dibuat yaitu sekali dalam sebulan.
Apabila saran penyelesaian masalah ini dapat diterima dan dilaksanakan dengan baik
oleh petugas-petugas kesehatan, maka diharapkan dapat membantu keberhasilan program ASI
Eksklusif di Puskesmas Kutawaluya dan masalah-masalah yang sama untuk program ini tidak
akan terulang untuk periode berikutnya.

Daftar Pustaka
1. Budiasih KS. Handbook ibu menyusui. Bandung: Hayati Qualita; 2008. 81 p.
2. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan pemerintah Republik Indonesia
nomor 33 tahun 2012 tentang pemberian air susu ibu eksklusif. Jakarta: Kemenkes RI;
2012. 2 p.
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia DJBKM. Ibu rumah tangga selalu
memberikan ASI. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2010. i.
4. Roesli U. Inisiasi menyusu dini plus ASI eksklusif. Jakarta: Pustaka Bunda; 2008. 50-5 p.