Anda di halaman 1dari 15

HUBUNGAN ANTARA DEPRESI DAN INSOMNIA PADA LANSIA DI

PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI SURAKARTA

NASKAH PUBLIKASI
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Mencapai Derajat Sarjana Kedokteran

Diajukan oleh :
HERMAYUDI
J 500 090 105

FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012
HUBUNGAN ANTARA DEPRESI DAN INSOMNIA PADA LANSIA DI
PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI SURAKARTA

Hermayudi, Endang W, Rh.Budhi M.

Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta/ Panti Wredha


Dharma Bhakti Surakarta

Abstrak

Latar Belakang: Semakin meningkatnya jumlah lanjut usia di Indonesia setiap


tahun, semakin meningkat pula risiko penyakit yang terjadi pada lanjut usia. Salah
satunya adalah gangguan mental seperti depresi. Depresi merupakan salah satu
penyebab terjadinya insomnia pada lanjut usia. Kejadian depresi dapat menyebabkan
seseorang menjadi sedih dan susah tidur.
Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara depresi dan insomnia pada lansia di
Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.
Metode: penelitian ini adalah penelitian korelasi dan menggunakan pendekatan
Cross Sectional dengan 37 responden yang memenuhi kriteria inklusi, dengan teknik
penelitian menggunakan Total Sampling. Metode pengumpulan data dengan lembar
kuisioner dan analisis data dengan uji Korelasi Koefesien Kontingensi.
Hasil: dari analisa data menunjukkan nilai p value < 0,05 yaitu sebesar 0,002 dan r
0,445 yang mempunyai nilai signifikan yang berarti ada hubungan antara depresi
dengan insomnia pada lanjut usia.
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara depresi dan insomnia pada lansia di Panti
Wredha Dharma Bhakti Surakarta, hubungan keduanya memiliki kekuatan sedang

Kata kunci: Depresi, Insomnia, Lansia.


THE RELATIONSHIP BETWEEN DEPRESSION AND INSOMNIA IN THE
ELDERLY IN PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI SURAKARTA

Hermayudi, Endang W, Rh.Budhi M.

Faculty of Medicine, Muhammadiyah University of Surakarta/ Panti Wredha


Dharma Bhakti Surakarta

Abstract

Background: The increasing number of elderly in Indonesia every year, increasing


the risk of disease that occurs in elderly patients. One of them is a mental disorder
like depression. Depression is one of the causes of insomnia in elderly patients.
Depression cause a person to become upset and insomnia.
Objektive: To know the between depression and the incidence of insomnia for
elderly in Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.
Methods: of this study is the correlation study and use cross sectional approach with
37 respondents who will the inclusion criteria, the research uses Total Sampling
technique. Methods of data collection are questionnaires and data analysis with
Korelasi Koefesien Kontingensi.
Results: showed the value of p value <0.05 is equal to 0,002 and r 0,445 which has a
significant value, which means there is a relationship between depression and
insomnia in elderly patients.
Conclusion: there is relationship between depression and insomnia in elderly
patients in Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta, both have the same medium
strength.

Key words: Depression, Insomnia, Elderly.


NASKAH PUBLIKASI
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Lanjut Usia adalah usia 60 tahun ke atas sesuai dengan definisi World
Health Organization (WHO) yang terdiri dari:
1. Usia lanjut (elderly) 60-74 tahun
2. Usia tua (old) 75-90 tahun
3. Usia sangat lanjut (very old) diatas 90 tahun (WHO,2009).
Di Indonesia pada tahun 1999, proporsi penduduk berusia 60-64 tahun
besarnya 2,9%, kelompok berusia 65-69 tahun sebesar 2,3%, kelompok
berusia 70-74 tahun 1,4%, dan penduduk berusia 75 tahun lebih besar 1,4%.
Umur harapan hidup penduduk Indonesia pada tahun 2000 adalah 68,23
tahun, yang diatas 70 tahun adalah Jakarta, Jawa tengah 72 tahun, Sumatera
selatan 71 tahun, Sumatera utara 70 tahun (Prayitno, 2002).
Lebih dari 80% penduduk lansia menderita penyakit fisik yang
mengganggu fungsi mandirinya. Sejumlah 30% penderita yang menderita
penyakit fisik tersebut menderita kondisi komorbid psikiatrik, terutama
depresi dan cemas. Sebagian besar lanjut usia yang menderita penyakit fisik
dan gangguan mental tersebut menderita gangguan tidur atau insomnia
(Prayitno, 2002).
Indonesia adalah termasuk negara yang memasuki era penduduk
berstruktur lansia. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik penduduk Jawa
Tengah menyebutkan bahwa jumlah penduduk lansia diatas 65 tahun di Jawa
Tengah pada tahun 2002 sebesar 2.016.003 jiwa, tahun 2004 sebesar
2.118.338 jiwa, dan tahun 2006 mencapai 2.281.200 jiwa. Sedangkan, di Kota
Surakarta dengan usia 65 tahun ke atas berjumlah 27.594 jiwa dari total
penduduk Kota Surakarta 512.898 jiwa (Biro Pusat Statistik Jawa Tengah,
2006).
Insomnia biasanya timbul sebagai gejala suatu gangguan lain yang
mendasarinya, seperti kecemasan dan depresi atau gangguan emosi lain yang
terjadi dalam hidup manusia. Insomnia yang ringan tidak perlu diberi obat,
tetapi cukup dengan penjaminan kembali. Insomnia yang berat biasanya
merupakan gejala gangguan yang lain atau dapat merupakan faktor penyebab
( misalnya kelemahan badan, tremor, berkurangnya kosentrasi) atau faktor
pencetus karena stres yang ditimbulkannya (seperti gejala-gejala skizofrenia)
mungkin timbul lagi atau kecemasan. Insomnia pada pagi-pagi sekali
(penderita tertidur biasa, tetapi terbangun pukul 02 atau 03 lalu tidak dapat
tidur lagi. Biasanya merupakan gejala depresi endogenik. Kesukaran untuk
memulai tidur biasanya terdapat pada nerosa (depresi atau cemas). Terdapat
juga pasien yang takut tertidur karena takut mimpi buruk (Maramis, 2005).
Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, perumusan masalah dalam penelitian ini
adalah : “Apakah terdapat hubungan antara depresi dan insomnia pada lansia
di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta?”
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara
depresi dan insomnia pada lansia.

TINJAUAN PUSTAKA
Landasan Teori
1. Depresi
Depresi merupakan salah satu dari gangguan afek dan emosi. Afek
ialah “nada” perasaan, menyenangkan atau tidak (seperti kebanggaan,
kekecewaan, kasih sayang), yang menyertai suatu pikiran dan biasanya
berlangsung lama serta kurang disertai oleh komponen fisiologik. Emosi ialah
manifestai afek keluar dan disertai oleh banyak komponen fisiologik, lagi pula
biasanya berlangsung relatif tidak lama (misalnya ketakutan, kecemasan,
depresi dan kegembiraan). (Maramis, 2005).
Hal mengenai depresi juga tercantum dalam Al Quran Q.S. Al Hud
ayat 9-11,’’ Dan jika kami rasakan kepada manusia sutau rahmat (nikmat) dari
kami, kemudian rahmat itu kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi
putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan jika kami rasakan kepadanya
kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata
“Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku” sesungguhnya dia sangat
gembira lagi bangga, kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan
mengerjakan amal-amal saleh, mereka itu memperoleh ampunan dan pahala
yang besar.’’
2. Insomnia
Insomnia adalah suatu keadaan seseorang dengan kualitas dan
kuantitas tidur yang kurang. Seorang yang mengalami insomnia seperti
kesulitan untuk tidur atau tidak tercapainya tidur nyenyak. Keadaan ini bisa
berlangsung sepanjang malam dan dalam tempo berhari-hari, berminggu-
minggu atau lebih, merasa lelah saat bangun dan tidak merasa kesegaran, sakit
kepala dipagi hari, kesulitan berkosentrasi, psikologi mudah marah dan
mudah mengantuk di siang hari dan mata merah. Insomnia dapat disebabkan
oleh beragam faktor atau kelainan, karena harus di identifikasi penyebabnya,
hal ini adalah kunci pengobatan yang adekuat. Diagnosis banding penyebab
insomnia mencakup gangguan neuropsikiatrik (depresi, ansietas, kehilangan,
demensia), penyalahgunaan zat, gangguan Ritme sikardian, dan gangguan
medis lainnya (Lumbantobing, 2008).
3. Depresi dan insomnia pada usia lanjut
Depresi adalah masalah yang sering terdapat pada lanjut usia. Karena
lansia mengalami penurunan faal tubuh dan mempengaruhi kerja dari
neurotransmiter, dan juga struktur neokortikal dorsal mengalami
hypometabolik dan struktur limbik ventral mengalami hipermetabolik. Selain
itu jalur frontostriatal pada otak memediasi antisipasi yang mengarah ke efek
yang positif, dan abnormalitasnya bisa menghasilkan satu ketidaksanggupan
untuk mendorong antisipasi yang mana akan mempredisposisikan keadan
depresi (Syamsir, 2007).
Depresi terjadi gangguan setiap stadium siklus tidur, pola tidur pasien
depresi berbeda dengan pola tidur pasien tidak depresi. Efesien tidurnya
buruk, tidur gelombak pendek menurun, latensi REM menurun, serta
peningkatan aktivitas REM (Amir, 2007).
Pasien geriatri merupakan pasien usia lanjut berusia lebih dari 60
tahun yang mempunyai ciri khas multipatologi, tampilan dan gejalanya tidak
khas, daya cadangan faali gangguan menurun, dan biasanya disertai gangguan
fungsional. Depresi merupakan salah satu gangguan mental yang sering
ditemukan pada pasien geriatri. Secara umum depresi ditandai oleh suasana
perasaan yang murung, hilang minat terhadap kegiatan, hilang semangat,
lemah, lesu, dan rasa tidak berdaya. Pada pasien usia lanjut tampilan yang
paling umum adalah keluhan somatis, hilang selera makan dan gangguan pola
tidur (Heriawan, 2007).
4. Hipotesis
Ada hubungan antara depresi dan insomnia pada lansia di Panti
Wredha Dharma Bhakti Surakarta.
METODOLOGI PENELITIAN
Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan
pendekatan cross sectional (Sugiyono, 2007).
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.
Waktu Penelitian ini dilakukan pada Tanggal 18 Juli sampai dengan 25 Juli
2012.
Sampel dan Teknik Sampling
Populasi pada penelitian ini adalah semua lansia laki-laki dan
perempuan yang berumur > 60 tahun yang dirawat di Panti Wredha Dharma
Bhakti Surakarta. Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan
objek yang diteliti yang dan dianggap mewakili seluruh populasi ini
(Arikunto, 2010). Sampel yang hendak diteliti adalah yang memenuhi kriteria
inklusi. Sampel yang diambil menggunakan tahnik total sampling dimana
peneliti melakukan pendekatan terhadap masalah pengambilan sampel dengan
rencana spesifik tertentu dalam dirinya sesuai dengan masalah dan hipotesis
yang diteliti. Sampel yang diteliti harus memenuhi kriteria inklusi dan tidak
termasuk dalam kriteria eksklusi.
Kriteria restriksi
Kriteria inklusi adalah Penghuni Panti Wredha Dharma Bhakti
Surakarta Laki laki dan Perempuan,Usia lebih dari 60 tahun (lansia menurut
WHO). sedangkan kriteria eksklusinya Tidak bersedia menjadi responden
Hasil skor LMMPI > 10, Lansia yang sakit (Seperti tuna netra, tuna rungu,
sakit kronis), Gangguan jiwa berat (Seperti Demensia).
Variabel Penelitian
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah tingkat depresi, sedangkan
variabel terikatnya adalah tingkat insomnia, dan variable perancu dalam
penelitian ini adalah pengalaman hidup yang buruk, faktor lingkungan,
transmisi sosial.
Definisi Operasional Variabel Penelitian
Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan
kemurungan dari kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga
hilangnya kegairahan hidup, tidak mengalami gangguan dalam menilai
realitas (reality tasting ability, masih baik), kepribadian tetap utuh ( tidak
mengalami keretakan kepribadian) prilaku dapat terganggu tapi dalam batas-
batas normal. Skala pengukuran yang digunakan adalah nominal. Insomnia
adalah suatu keadaan seseorang dengan kualitas dan kuantitas tidur yang
kurang. Seorang yang mengalami insomnia akan mengalami seperti kesulitan
untuk tidur atau tidak tercapainya tidur nyenyak. Skala pengukuran yang
digunakan adalah nominal.
Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah data diri dan
persetujuan responden sebagai sampel penelitian, L-MMPI (Lie Scale
Minnesota Multiphasic Personality Inventory), dan Geriatric Depression
Scale (GDS), Insomnia rating scale.
Analisis Data
Data yang diperoleh dari penelitian akan diuji dengan uji Korelasi
Koefesien Kontingensi. Seluruh hasil data yang diperoleh diolah dengan
menggunakan SPSS 17.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Tabel 2.1. Karakteristik Subyek Penelitian Berdasarkan jenis kelamin

No Karakteristik Frekuensi Persentase (%)


Jenis Kelamin
Laki-Laki 18 100
Perempuan 19 100
Jumlah 37 100
Dari tabel 2.1 terlihat, bahwa dari segi jenis kelamin responden,
persentase laki-laki maupun perempuan memiliki jumlah yang sama yaitu
100%, artinya pada penelitian ini tidak membeda-bedakan antara jenis
kelamin.
Tabel 2.2. Karakteristik Subyek Penelitian Berdasarkan jenis kelamin
No Karakteristik Frekuensi Persentase (%)
Umur
<70 tahun 13 35,1
70-80 tahun 17 45,9
>80 tahun 7 19,0
Jumlah 37 100
Dari tabel 2.2 terlihat, bahwa dari segi usia responden, persentase
tertinggi berada pada umur 70-80 tahun yaitu sebesar 45,9 %, dan yang
terkecil pada usia >80 tahun yaitu sebesar 19,0 %. Dari segi gangguan depresi
responden sebesar 59,5 % dan yang mengalami insomnia sebesar 54,1 % data
ini dapat dilihat pada grafik.1
Tabel 2.3. Karakteristik Subyek Penelitian Depresi
No Depresi Frekuensi Persentase (%)
Depresi 23 62,2
Tidak Depresi 14 37,8

Jumlah 37 100
Responden sebagian besar mengalami depresi sebanyak 23 (62,2%).
Terjadinya depresi pada lanjut usia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta
disebabkan karena lansia tidak memiliki keluarga maupun tempat tinggal.
Salah satu yang paling mempengaruhi adalah sebagian besar lansia yang
tinggal di panti sudah tidak memiliki keluarga dan yang memiliki keluargapun
sudah jarang ditemui lagi.
Tabel 2.4. Karakteristik Subyek Penelitian Insomnia
No Insomnia Frekuensi Persentase (%)

Insomnia 20 54,1
Tidak Insomnia 17 45,9
Jumlah 37 100
Berdasarkan hasil penelitian tentang gambaran karakteristik responden
didapatkan bahwa lansia mengalami insomnia sebanyak 20 (54,1%). Insomnia
bisa terjadi pada lanjut usia karena insomnia termasuk salah satu yang sering
terjadi pada lanjut usia seiring dengan usia yang semakin tua menyebabkan
lanjut usia mengalami perubahan dalam pola tidurnya.
Tabel 2.5 Cross Tabel Hubungan Depresi Dan Insomnia

Insomnia Total
Ya Tidak
Depresi 17 73,9% 6 27,3% 23 100%

Tidak 3 21,4% 11 78,6% 14 100%


depresi
Total 20 54,1% 17 45,9% 37 100%
Dari tabel 2.5, terlihat jelas bahwa responden yang mengalami depresi
dan juga mengalami insomnia berjumlah 17 orang, dan responden depresi
yang tidak mengalami insomnia berjumlah 6 orang. Sedangkan responden
yang tidak mengalami depresi tetapi mengalami insomnia berjumlah 3 orang
dan responden yang tidak mengalami depresi dan tidak mengalami insomnia
berjumlah 11 orang.
Tabel 2.6 Hasil analisis dengan Uji Korelasi Koefesien Kontingensi
Symmetric Measures

Value Approx. Sig.


Nominal by Nominal Contingency Coefficient .455 .002

N of Valid Cases 37

Dengan uji korelasi koefesien kontingensi dapat terlihat adanya


hubungan yang bermakna antara depresi dan insomnia pada lansia di Panti
Wredha Dharma Bhakti Surakarta dapat dilihat pada tabel 2.6.
Tabel 2.7. Interval Koefesiensi Kontingensi

Interval Koefesiensi Kontingensi Tingkat Hubungan

0,00 – 0,199 Sangat Lemah


0,20 – 0,399 Lemah
0,40 – 0,599 Sedang
0,60 – 0,799 Kuat
0.80 – 1,000 Sangat Kuat
Dari tabel 2.7. koefesien kontingensi diatas didapat hasil hubungan
antara depresi dan insomnia pada lansia (r) yaitu 0,455 dan interpretasi
hubungan korelasi antara kedua variabel memiliki kekuatan sedang.
Pembahasan
Tahap memasuki usia tua akan dialami oleh semua orang (tak bisa
dihindarkan), tetapi kondisi fisik dan psikologis lansia sangat berbeda dari
satu lansia dengan lansia lainnya. Kekuatan tubuh yang mulai berkurang daya
penyesuaian diri, reaksi terhadap lingkungan, daya inisiatif dan daya kreatif
ini pada lansia dapat menimbulkan masalah psikologis. Apa yang terjadi dan
akan dialami oleh lansia tidak dapat dilepaskan dari pembentukan pengalaman
masa lalu, dia akan memperlihatkan warna kepribadian tertentu yang akan
menentukan seberapa berhasil dan tidak berhasil dalam memasuki dan
menjalani lansia (Harimurti, 2009).
Lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta sebagian besar
mengalami depresi sebanyak 22 (59,5%). Salah satu yang paling
mempengaruhi adalah sebagian besar lansia yang tinggal di panti sudah tidak
memiliki keluarga dan yang memiliki keluarga sudah jarang ditemui lagi.
Faktor itulah yang menyebabkan lansia memiliki pandangan yang
negatif terhadap dirinya, sehingga didapatkan gejala depresi pada lansia yang
tinggal di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. Hal ini ditandai adanya
pemikiran tidak ada yang memperhatikan, merasa kesepian, merasa hidupnya
tidak beruntung, dan merasa sedih ditinggal keluarganya. Apabila itu terjadi
terus-menerus akan menyebabkan lansia tidak dapat mengendalikan dirinya,
dan kejadian depresi ringan-sedang merupakan tahapan awal yang terjadi
sebelum memasuki tahapan yang lebih kronis lagi.
Penelitian ini didukung oleh Soejono bahwa depresi menjadi salah
satu problem gangguan mental yang sering ditemukan pada lanjut usia.
Prevalensinya diperkirakan 10%-15% dari populasi lanjut usia dan diduga
sekitar 60% dari pasien di unit Geriatri menderita depresi, sehingga gejala
depresi yang muncul seringkali dianggap sebagai bagian dari proses menua
Angka kejadian depresi pada lansia usia diatas 65tahun diperkirakan sekitar
10-30% (Soejono, 2000).
Menurut Rafknowledge depresi berkaitan erat dengan insomnia pada
sebagian besar insomnia inti permasalahannya adalah emosional. Kegelisahan
yang mendalam, kemarahan yang tak terkendali, situasi sosial yang tidak
berpihak termasuk diantaranya yang memicu sulitnya tidur. Mudah terbangun
mendatangkan depresi individual. Semua ini bisa meningkat seiring
bertambahnya usia (Rafknowledge, 2004).
Hasil penelitian tentang gambaran karakteristik responden yang
mengalami insomnia dilihat pada tabel 2.4 sebanyak 20 (54,1%). Insomnia
bisa terjadi pada lansia karena insomnia termasuk salah satu yang sering
terjadi pada lansia seiring dengan usia yang semakin tua menyebabkan lansia
mengalami perubahan dalam pola tidurnya.
Penelitian ini di dukung oleh Rafknowledge , yang mengatakan bahwa
gangguan tidur merupakan keluhan utama yang sering dialami lansia, dengan
perkiraan lebih dari setengah jumlah lansia yang berusia di atas 60 tahun
mengalami kesulitan tidur dan terjadi perubahan pola tidur seiring
bertambahnya usia seperti perubahan arsitektur tidur, tidur malam lebih
mudah terganggu, kondisi mutu dan durasinya juga terganggu, lansia
cenderung mempunyai keinginan untuk tidur siang yang lebih besar
dibandingkan orang muda (Rafknowledge, 2004).
37 responden baik laki-laki maupun perempuan yang mengalami
depresi dan juga mengalami insomnia sebanyak 17 orang atau 73,9%. Hasil
ini sesuai seperti yang dilakukan pada Penelitian Widastra , yang dilakukan di
salah satu panti di Bali yang menunjukan dari 35 jumlah populasi yang ada,
ternyata 15 orang (42,86%), dari semua jumlah populasi termasuk dalam
kategori insomnia. Besarnya presentase jumlah lansia yang menderita
insomnia tersebut karena pengaruh dari faktor usia yaitu semakin tua usia
seseorang semakin rentan terkena insomnia (Widastra ,2009).
Pada penelitian sebelumnya juga menunjukan hasil yang sama, dimana
depresi selalu berhubungan dengan insomnia. Penelitian yang dilakukan oleh
Prayitno bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Trisakti
menunjukan bahwa pasien depresi selalu mengeluhkan tidurnya kurang pulas
dan mudah sekali terbangun, tidur REM lebih cepat datangnya sehingga
biasanya mengalami mimpi-mimpi yang tidak menyenangkan (Prayitno,
2002).
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa depresi dan insomnia pada
lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta memiliki hubungan. Hasil
ini sesuai dengan sumber pustaka dimana dijelaskan bahwa lansia dengan
keluhan insomnia harus diperkirakan adanya kemungkinan besar diakibatkan
karena depresi atau ansietas (Amir, 2007).
Tabel 2.8 Pola tidur pasien depresi
No Pola Tidur Depresi

1 Jumlah tidur Berkurang


2 Kualitas tidur Dangkal – sedang
3 Mimpi Menakutkan
4 Masuk tidur 15-60 menit
5 Sering bangun malam Sering
6 Bangun pagi Dini hari
7 Pagi hari Lesu
8 Latensi tidur Normal/ memanjang
9 Tidur REM Memendek
10 Regularitas Ireguler dan terputus-putus

(Prayitno, 2002).
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis statistik dapat disimpulkan bahwa ada
hubungan antara depresi dan insomnia. Tingkat hubungan keduanya memiliki
kekuatan sedang.
Saran
Untuk mempertimbangkan hasil penelitian yang menunjukan bahwa
depresi dapat mengakibatkan lansia dipanti Wredha Dharma Bhakti Surakarta
menjadi insomnia untuk itu penulis menyarankan
1. Diperlukan pencegahan dini pada lansia yang tidak mengalami depresi
ataupun yang depresi ringan, agar tidak terjadi depresi berat sehingga
terjadi insomnia.
2. Pengasuh panti melakukan pendekatan dan memberi penanganan
terpadu kepada lansia yang mengalami depresi dan insomnia.
3. Perlu adanya upaya peningkatan pengetahuan tentang bahayanya
depresi dan insomnia.
4. Diharapkan lansia mengikuti setiap kegiatan keagamaan, olahraga,dan
lain sebagainya agar lansia lebih memaknai hidup agar tidak larut
dalam pikiran yang menimbulkan efek dari depresi yang berakibat
insomnia karena dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
5. \perlu adanya penelitian mengenai faktor-faktor lain yang diduga dapat
mempengaruhi terjadinya depresi.
DAFTAR PUSTAKA
Al Qur’an Al’karim. Semarang
American Academy of Sleep Medicine. 2008. Insomnia. Westchester. Ppc 1-
3, Diakses 22 Maret 2012
American Academy of Sleep Medicine. 2008. Insomnia Significangtly Affects
The School Performance of College Students. Diakses 26 maret 2012.
Amir, N. 2007. Ganggan Tidur Pada Lanjut Usia, Diagnosis Dan
Penatalaksanaannya, Bagian Psikiatri RS. dr. Cipto Mangukusumo.
FKUI. Jakarta http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/157_09 Diakses 22
Maret 2012.
Arikunto, S, 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta
Baihaqi, MIF., Sunardi. A.R. 2007. psikiatri konsep dasar dan gangguan-
gangguan. Bandung :PT Refika aditama.PP 113
Bappenas, 2011. http://bappenas.go.id. “Angka Harapan Hidup”. Diakses 22
Maret 2012.
Biro Pusat Statistik. http://jateng.bps.go.id. “Penduduk Jateng Menurut
Kabupaten/Kota Dan Kelompok Usia Tahun 2006”.diakses 22 Maret
2012.
Carcio, G. Ferara, Genaro, L. 2006. Sleep Loss,Learning Capacity and
Academic Performance. Sleep Medicine.pp:323-337.
http://teensneedsleep.files. wordpress.com/2011/03/sleep-loss-
learning-capacity-and-academic-performance1.pdf. Diakses 26 Mei
2012
Harimurti, K. 2009. Proses Menua Dan Implikasi Kliniknya. Buku Ajar
Penyakit Dalam Jilid I (ed. 5), Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.
Hawari, Dadang. 2011. Integrasi Agama dalam Pelayanan Medik. Jakarta:
FKUI.
Heriawan, C. 2007. Faktor Resiko Depresi Pada Pasien Geriatri. “Cermin
Dunia Kedokteran”. No 156, Diakses 17 mei 2012
Iskandar,Y. 1985. Insomnia Anxietas Dan Depresi. Dalam : Psikiatri Biologi,
Vol II. Jakarta: Yayasan Dharma Graha. PP : 37-41.
Japardi, I. 2002. Gangguan Tidur, USU digital Library, pp: 1-4.
http://gudangarsipadibahmadi.files.wordpress.com/gangguan-
tidur.pdf. Diakses 26 Mei 2012.
Kaplan, 2010. Sinopsis Psikiatrik Klinis Edisi 2. Jakarta: EGC.
Lumbantobing,S.M. 2008. Gangguan Tidur. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta
Maramis, W.F. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga
University Press.
Marchira, C.R. 2004. Kontribusi Dukungan Sosial Terhadap Insomnia pada
Lansia di Poli Geriatri RS Dr. SardjitoYogyakarta. Yogyakarta: FK
UGM Yogyakarta.
. 2007 Insomnia Pada Lansia Dan Penatalaksanaanya Bagian
Ilmu Kedokteran Jiwa /SMF Jiwa FK UGM/ RS Dr.
SardjitoYogyakarta.
Marto, H. Hadi. 2009. GERIATRI (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta
FKUI.
Maryam, R. dkk. 2008. Mengenal usia lanjut. Jakarta: Salemba medika.
Murti, B. 2003. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi Edisi 2. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.
Muslichah, M. 2010 Episode depresi berat dengan insomnia
http://www.fkumyecase.net/wikiindex.php?page=Episode+Depresi+B
erat+dengan+Insomnia/ Diakses 01 Oktober 2012.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta.
Prayitno, A. 2002. Gangguan Pola Tidur Pada Kelompok Usia Lanjut Dan
Penatalaksanaannya. Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa. Jakarta. FKUT.
http://www.univmed.org/wp-content/uploads/2011/02/Prayitno.pdf
Diakses 26 Mei 2012 .
Puri, B.K. 2011. Buku Ajar Psikiatri. Ed. 2. Hal: 268. Jakarta : EGC.
Rafknowledge, 2004. Insomnia Dan Gangguan Tidur Lainya. Jakarta:
Gramedia
Soejono, 2000. Depresi Pada Lansia. FK USU Medan.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21410/5/Chapter%20I.
pdf Diakses 01 Oktober 2012.
Sugiyono, 2007. Stastika Untuk penelitian. Bandung: CV Alfa Beta.
Sumirta, I Nengah. 2008. Hubungan antara aktivitas fisik dengandepresi
pada lansia di pelayanan lanjut usia “Wana Seraya” Denpasar.
http://.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/6208160166_1693-4903/ Diakses
01 Oktober 2012
Surya, M. 2009. Kuesioner Geriatric.Depression Scale Departemen Psikiatri
RS H. Adam Malik Medan : FK USU Medan.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17632/1/Appendix.pdf
Diakses 2 Juli 2012.
Suryo, S. 2003. Depresi sebagai Faktor Resiko Insomnia pada Lansia di RS
dr Sardjito Yogyakarta. Yogyakarta: FK UGM Yogyakarta.
Syamsir, B.S. Gangguan Depresif Pada Usia Lanjut, Departeman psikiatri
RS. H. Malik. Medan : FK UNSU Medan.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18790/1/mkn-
jun2007-40%20(13).pdf Diakses 26 Mei 2012.
Tomb, D.A, 2004, Gangguan Mood. Buku Saku Psikiatri. Ed. 6. Hal: 47-65
Jakarta : EGC.
WHO. 2009. Mental Helath: Depression http: www.who.intimedial;healt
immagement depression depresionph.en Diakses 30 Maret 2012.
Widastra, I Made. 2005. Terapi relaksasi progresif sangat efektif mengatasi
keluhan insomnia pada lanjut usia. http://pisjd. pdii.lipi. go.id admin
jurnal 21098489. pdf/ Diakses 26 Mei 2012.
William C, 2010 Webster’s New World Kamus Kedokteran Ed. 3. Hal: 488
Jakarta: Indeks.