Anda di halaman 1dari 2

‫ قَا َل « َم ْن‬-‫صلى هللا عليه وسلم‬- ‫َّللا‬ ِ َّ ‫سو َل‬ ُ ‫بَا ُه َر ْي َرةَ َح َّدث َ ُه ْم أ َ َّن َر‬

‫غ ِف َر لَهُ َما تَقَ َّد َم ِم ْن ذَ ْن ِب ِه َو َم ْن قَا َم‬ ُ ‫سابًا‬ ْ ‫ان ِإي َمانًا َو‬
َ ِ‫احت‬ َ ‫ض‬ َ ‫صا َم َر َم‬ َ
.» ‫غ ِف َر لَهُ َما تَقَ َّد َم ِم ْن ذَ ْن ِب ِه‬
ُ ‫سابًا‬ ْ ‫لَ ْيلَةَ ا ْلقَد ِْر ِإي َمانًا َو‬
َ ‫اح ِت‬
Shahih Muslim hadits No 1817 dan Shahih Bukhari Hadits No. 1910 dalam Maktabah
Syamilah.

Ma’na Hadits
Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan
mengharap ganjaran dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu,
Barangsiapa yang shalat malam ketika lailatul qadar karena iman dan mengharap
ganjaran dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.

Kandungan Hadits :

Dalam hadits ini ada dua kata kunci untuk mendapatkan keutamaan bagi orang yang
melaksanakan Ibadah pada bulan Ramadhan Khususnya bahkan ibadah pada
umumnya, dua kata kunci itu adalah kata (‫ ) ِإي َمانًا‬dan kata (‫سابًا‬
َ ‫) احْ ِت‬.
Kata (‫ ) إِي َمانًا‬berasal dari kata (‫ ايمانا‬- ‫ )امن – يؤمن‬yang berarti percaya. Adapun
menurut Ibnu Hajar dalam Kitab Fathul Bari bahwa yang dimaksud dengan (‫ِي َمانًا‬
ِ ‫)إ‬
adalah (‫ ) االعتقاد بحق فرضية صومه‬yaitu adanya keyakinan dengan kebenaran
kewajiban puasa padanya.(Fathul Baari Juz 4 h. 155 dalam Maktabah Syamilah)
Dengan demikian yang dimaksud dengan (‫ ) ِإي َمانًا‬disini adalah bahwa dalam
melaksanakan ibadah harus didasari atas keimanan dalam hal ini keyakinan atas
kebenaran ibadah yang dilaksanakan adalah atas perintah Allah dan rasul-Nya.
Firman Allah swt. Dalam al-Quran surah an-Nahl ayat 97 sbb :
ً‫صا ِل ًحا ِم ْن ذَك ٍَر أَ ْو أ ُ ْنثَى َو ُه َو ُم ْؤ ِم ٌن فَلَنُ ْح ِي َينَّهُ َحيَاةً َط ِيِّبَة‬ َ ‫َم ْن ع َِم َل‬
َ ُ‫س ِن َما كَانُوا يَ ْع َمل‬
‫ون‬ َ ‫َولَنَ ْج ِزيَنَّ ُه ْم أَ ْج َر ُه ْم ِبأ َ ْح‬
“Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka
dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Nahl:
97)
Adapun kata (‫سابًا‬ َ ِ‫احت‬
ْ ) berasal dari kata (‫ حسبانا‬- ‫ ) حسب – يحسب‬huruf sin
berkasrah berarti menyangka, mengira atau mengharap, dan menurut pengertian ini
yang populer dalam mayarakat yaitu mengharap pahala dari Allah swt.
Kata (‫سابًا‬ َ ِ‫احت‬
ْ ) juga berasal dari kata ( ‫ حسابا‬- ‫ ) حسب – يحسب‬huruf sin berfathah
yang berarti menghitung, sehingga menurut pengertian ini ibadah harus
dilaksanakan dengan muhasabah atau evaluatif yaitu dengan penuh perhitungan.
Adapun menurut Ibnu Hajar dalam kitan Fathul Bari bahwa yang dimaksud dengan
(‫سابًا‬
َ ِ‫احت‬
ْ ) adalah (‫)طلب الثواب من هللا تعالى‬yaitu memohon pahala dari Allah SWT.
َ ِ‫ )احْ ت‬adalah (‫ )عزيمة‬yang secara
Sedangkan menurut Al-Khattabi bahwa (‫سابًا‬
‫أن يصومه على معنى الرغبة في‬
lughawi berma’na “kemauan yang teguh/kuat, atau (
‫ )ثوابه طيبة نفسه بذلك غير مستثقل لصيامه وال مستطيل أليامه‬yaitu dia berpuasa
dengan mengharap pahalanya dengan memperhatikan kebaikan bagi dirinya tanpa
memberatkan pada puasanya dan tidak pula memperpanjang hari-harinya." (Fathul
Baari Juz 4 h. 155 dalam Maktabah Syamilah)

Jadi yang dimaksud dengan (‫سابًا‬


َ ِ‫ )احْ ت‬adalah dalam beribadah selalu mengharap
pahala dari Allah swt dan bukan karena hal lain. Demikian pula ( ‫سابًا‬ َ ‫ )احْ ِت‬juga
bermakna bahwa dalam beri ibadah harus penuh perhitungan yaitu dengan menilai
apakah ibadah itu benar-benar dilaksanakan sebagaimana yang diyari’atkan Allah
dan Rasul-Nya, disamping itu pula ibadah dilaksanakan dengan kemauan yang kuat
dan bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja.
Jika ibadah yang kita laksanakan sudah berdasarkan (‫ )إِي َمانًا‬dan (‫سابًا‬
َ ِ‫ )احْ ت‬seperti
yang terurai di atas, maka insya Allah akanmenghasilkan dampak positif dan nilai
limpah yang berlipat ganda bagi setiap individu dan masyarakat pada umumnya
seperti tujuan dari ibadah itu sendiri.
Wallahu a’lam bisshawab.