Anda di halaman 1dari 5

ALHAMDULILLAHI, 2X

Innal hamda lillaahi nahmaduhu


wanas ta iinuhuu
wanastag firuh
wa na’uudzubillaahi min syuruuri anfusinaa
wa min sayyiaati akmaalinaa,
mayyahdihillaahu falaa mudilalah
wa man yud lilhu falaa hadiyalah.

Asyhadu allaa ilaahaillallaah wahdahu laa syariikalah


wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhuu warasuuluhu
laanabiyya ba’dah.
Allaahumma shalli wa sallim wabaarik ‘alaa muhammadin
wa ‘alaa aalihii wa shohbihi wa manih tadaa bi hudaahu
ilaa yaumil qiyaamah.
Amaaba’du,
Yaa ayyuhannasu uushikum wa iyyaaya bi taqwallaahi
fa qad faazaal muttaquun.
yaa ayyuhaladziina aamanut taqullaha haqqo tuqaa tihii
wala tamuutunnaa illaa wa antum muslimuun.
Yaa ayyuhalladziina amanut taqullaaha
wa quuluu qaulan sadiidaa.
Yuslih lakum akmaalakum
wa yag firlakum dzunuubakum
wa man yuti’illaaha wa rasuulahu
fa qad faaza fauzan ‘adziimaa.

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah dengan melakukan
segala perintahNya dan meninggalkan segaka laranganNya agar kita mencapai kebahagiaan
di dunia dan kesejahteraan di akhirat.

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT

puji dan syukur telah kita panjatkan kepada Allah swt., pemilik kerajaan
langit dan bumi. Shalawat dan salam telah juga terlimpah curah kepada
kekasihNya, yakni nabi kita semua Muhammad saw.

Sebagaimana ayat “, Laqad khalaqnal insaana fii ahsani


taqwiim, manusia telah diciptakan oleh Allah swt. dengan bentuk yang
paling sempurna, lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk-
mahkluk lain yang pernah hidup di dunia ini.
Kelebihan atau kesempurnaan yang diberikan Allah pada kita, manusia,
adalah sebuah kehendak bebas untuk memilih sesuatu berdasarkan
akal kita. Kita bisa memilih untuk menjadi seseorang yang baik, atau
seseorang yang jahat. Tidak seperti malaikat yang senantiasa baik dan
iblis yang sampai hari kiamat akan berbuat tercela.

Tetapi kehendak bebas yang Allah berikan kepada kita tersebut tetap
berada pada bingkai qodo-qodarnya; tetap sudah tertulis di Lauh
Mahfudznya sejak zaman ajali.

Sidang Jumat yang berbahagia,


Sebagai seorang muslim tentulah kita harus terus berusaha menjadi
pribadi yang baik, pribadi yang mencontoh suri tauladan terbaik, ummat
terbaik. Oleh karena itu pantang bagi kita semua untuk berdiam
bermalas-malasan dengan keburukan.

Imam Hasan Al-Banna pernah sekali merumuskan tentang ciri-ciri


pribadi muslim sejati yang bisa kita buat sebagai acuan kehidupan kita,
apakah sudah sesuai dengan ciri-ciri tersebut atau belum. Tentu, ciri-ciri
yang disebutkan oleh Imam Hasan Al-Banna ini juga berada pada diri
Rasulullah Muhammad saw., hanya saja beliau memperinci agar mudah
kita ikuti.

Ciri-ciri pribadi muslim yang pertama adalah salimul aqidah; akidah yang
lurus.
Sebagai seorang muslim sejati, hal paling dasar yang harus kita miliki
adalah akidah yang lurus mentauhidkan Allah; menyucikan Allah dari
segala bentuk keburukan dan sifat-sifat makhluk seperti Allah
membutuhkan makan, Allah membutuhkan tempat, dll.

Ciri kedua, shahihul ibadah; ibadah yang benar.


Dalam beribadah, seorang muslim harus mendasarkan semuanya pada
nash-nash yang jelas baik itu Al-Qur’an maupun hadits. Tidak boleh kita
melakukan ibadah tanpa dasar sama sekali atau bahkan melenceng dari
apa yang Rasulullah saw. ajarkan pada kita semua.

Ciri ketiga, matinul khuluk; akhlak yang kokoh


Rasulullah saw. diciptakan ke dunia adalah untuk menyempurnakan
akhlak. Maka, sebagaimana seharusnya –seorang muslim mengikuti
suri tauladan terbaik- kita pun harus mempunyai akhlak yang terpuji
selayaknya Nabi; menolong orang-orang yang lemah di antara kita,
murah senyum pada sesama muslim, menebar kebaikan pada seluruh
ummat manusia.Karena sejatinya, menjadi seorang muslim juga berarti
orang lain yang merasa aman dari tangan, mulut, dan perangai kita saat
berada bersisian-bersamaan.

Ciri keempat, mutsaqaful fikr; intelek dalam berpikir


Seperti yang telah kita ketahui bersama, salah satu sifat wajib bagi rasul
adalah fatonah yang artinya cerdas. Lagipula, Rasulullah saw. juga
pernah bersabda bahwa menuntut ilmu itu hukumnya wajib, maka kita
sebagai muslim idealnya juga cerdas dalam berpikir. Karena wahai
sidang jumat yang diberkahi Allah, kita hari ini sedang berada pada
perang pemikiran yang mengerikan sekali.

Ciri kelima, mjahadatul linafsihi; berjuang melawan hawa nafsu


Manusia memiliki hawa nafsu. Sifatnya memang menggebu-gebu, kalau
kita tidak bisa menahannya. Perjuangan melawan hawa nafsu ini
dikabarkan nabi sebagai perang besar karena memang berat sekali.
Sebagai seorang muslim yang menginginkan bentuk ideal dari
kepribadiannya, harus bisa berlatih untuk menahan atau lebih tepatnya
mengendalikan hawa nafsu agar kita tidak terjerumus pada perbuatan
yang tercela dan tidak disukai oleh Allah swt.

Ciri keenam, haritsun ‘ala waqtihi; pandai menjaga waktu


Seorang muslim yang ideal haruslah pandai menjaga waktu;
menentukan prioritas untuk setiap kegiatan yang akan dilakukan.
Sehingga, pekerjaan-pekerjaan tidak menumpuk dan menganggu
kekhusyuk-an ibadah kepada Allah swt.

Ciri ketujuh, munazhzhamun fi syu’unihi; terartur dalam segala urusan


Ciri ini erat kaitannya dengan ciri yang sebelumnya, dengan kita pandai
menjaga waktu, kita pun akan otomatis bisa teratur dalam urusan.
Mengerjakan hal-hal yang penting mendesak dulu sebelum
mengerjakan hal-hal yang kurang penting dan kurang mendesak.

Ciri kedelapan, qadirun alal kasbi; memiliki kemampuan usaha sendiri /


mandiri
Rasulullah saw. telah mencontohkan kepada kita semua ketika umurnya
masih 12 tahun, beliau sudah mampu untuk membiayai dirinya sendiri
dengan bergiat usaha. Maka patutlah hari ini kita bertanya pada diri
sendiri, sudah sampai manakah kita mandiri membiayai diri sendiri,
terkhusus bagi para jamaah yang masih muda.

Ciri kesembilan, Nafi’un lighairihi; bermanfaat bagi orang lain


Sebagaimana hadits yang populer di tengah-tengah kita: sebaik-baik
manusia adalah dia yang bermanfaat bagi orang lain. Maka seorang
muslim yang ideal adalah dia yang sanggup memaksimalkan potensi
yang ada pada dirinya untuk kebermanfaatan orang banyak.

Ciri kesepuluh, qowiyul jism; jasmani yang kuat-sehat


Untuk mencapai kesembilan ciri pribadi muslim sebelumnya tentu tidak
mudah. Butuh kemampuan fisik yang prima agar tidak mudah lelah dan
menyerah ketika dihadapkan pada kesulitan-kesulitan. Hal ini bisa
dicapai dengan merutinkan olah raga satu minggu satu kali dan
kegiatan-kegiatan kebugaran lain.

Akhir kata, sidang jumat yang berbagahia, marilah kita menjadi seorang
muslim yang dicintai Allah sebagai mana Allah mencintai muslim yang
kuat, yakni yang kuat fisiknya, fikirnya, finansialnya, dan sosialnya.

.Barokallahu Li walakum Fil Qur’an nil adzim Wana fa ani Wa iyaakum


Bima Fii Minal Ayati Wadzakril Hakim Wataqobaala Minaa Wamingkum
Tilawatahu inaahu Huwas saamii ul Alim Aquulu Qauli Hadza Wa as
Tak Firullahal Adzim Li walakum Walisa’iril Muslimiin Na wal
Muslimat Wal Mukminiin Na Wal Mukminat

Fas Tagfiruuhu Huwal Gofururoohiim.


1. Alhamdulillah 2X
Mu’a yadi sobirina biaziizi nasrih Wa muya saari saakirina Lihamidi sukri
Wa mu wa fakil muh tariina lil kiyami bi amrih
Ahma duhu ala ma an ama Wa as lama li amrihi fiima hakama wa abrom
Ashadu anla ilahailallah wahdahula sariikalah Wa as hadu ana
Muhamadda abduhu Warasulu
Allaahuma solii ala sayidina muhamaad Sollallaahu alaihi wa ala alihi
muntahad dzuuhur
Solatan da’i man bila fana’i wala futuur Wasallaamutasliima kasiro
Amaa bakdu
Faya ayuhannasu Takulla Inallaha amarakum bi amri bada afiihi bi nafsih
Wasanaa bi mala ikati wa ayaa da bil mukminiin min ibadih
Fakola azaa ming ko’il Inallaaha wa mala ikatahu yosoluna ala naabi
Ya ayuuhal lazi na amanu solu ala ihi wasalaamutaasliima
Allahumaa soluu ala sayidina Muhamaad, sayidil mursaliin
Wa ambiyak ika, Wa rosulika, Wa mala ika tikal mukoroobiin
Wa ahli zo atika Azj maiin.
2. Allahumaagfir
Lil mukminiina Wal mukminat Wal muslimiina Wal muslimat Inaaka
samii’u Qoriibu muzibudaa a wat
Robbana firlana, Wali ihwanina alaaziina sabaguna bil iiman Wa la tadz
alna Fii Qulu bina gilaa lillaaziina amanu. Robbaana inaaka Ro ufur
rohiim.
Robbana atina Fidunya HasanahWa fil ahiroti hasanah, wakina aza
banaar
3. Ibadallah Inallaaha yak muru bil adli Wal ihsani, Wa iita idil Qurba
Wa yan ha Anil fah sa i wal mungkar Wal bag yi Ya i zukum la alaakum
Tazakaaruun Faz kuruullaha al azim Yaz kurkum Was kuruuhu ala
nikmatihi yazikum wala zikrullahi akbar