Anda di halaman 1dari 12

LEMBAR PENGESAHAN

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT WAVA HUSADA KESAMBEN


NOMOR XXX/SK/DIR/XX/XXXX
TENTANG
ALAT KESEHATAN DIAGNOSTIK IN VITRO DAN PERBEKALAN RUMAH TANGGA
RUMAH SAKIT WAVA HUSADA KESAMBEN

Tanda
Tindakan Nama Jabatan Tanggal
Tangan

Disiapkan dr. Zuniarsih Kepala Unit Medis

Autorized Person
Diperiksa Niken Larasati

dr.H. Dwi Prasetyo


Diperiksa Manajer Pelayanan
O.A.W

dr. Dwi Bambang


Disahkan Direktur
W
KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT WAVA HUSADA KESAMBEN
NOMOR :XXX/SK/DIR/XX/XXXXX
TENTANG
ALAT KESEHATAN DAN IMPLAN
RUMAH WAVA HUSADA KESAMBEN

Menimbang : 1. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Rumah


Sakit Wava Husada Kesamben, diperlukan suatu proses Pelayanan Bedah
yang professional, cepat dan tepat
2. Bahwa untuk melancarkan tugas dan pelayanan di Rumah sakit wava
husada kesamben dipandang perlu untuk membuat Pedoman Pelayanan
Bedah di Rumah Wava Husada Kesamben
3. Bahwa untuk kepentingan tersebut di atas, perlu diterbitkan Keputusan
Direktur tentang Pedoman Pelayanan Bedah di Rumah Sakit Wava Husada
Kesamben
Mengingat : 1. Undang – Undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan;

2. Undang-Undang nomer 8 tahun 1999 tentang Perlindungan konsumen;


3. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1191/MENKES/PER/VIII/2010
tentang Penyaluran Alat Kesehatan;

4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


No.1691/Menkes/Per/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah
Sakit;
5. Panduan Nasional Keselamatan Pasien tahun 2006;
6. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran;
7. Undang – Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan;
8. Undang-undang RI No 44 tahun 2009 tentang RumahSakit;
9. Peraturan Pemerintah nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan;
10. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 269/Menkes/Per/III/2008
tentang Rekam Medis;

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT WAVA HUSADA KESAMBEN TENTANG


PEDOMAN ALAT KESEHATAN DIAGNOSTIK IN VITRO DAN PERBEKALAN
RUMAH TANGGA
RUMAH WAVA HUSADA KESAMBEN.
Pertama : Pedoman alat kesehatan diagnostik in vitro dan perbekalan rumah tangga
sebagaimana terlampir dalam lampiran keputusan ini.
Kedua : Perubahan panduan harus dibahas sekurang – kurangnya setiap 3 (tiga)
tahun sekali dan apabila diperlukan, sewaktu waktu akan dilakukan
perubahan sesuai dengan perkembangan yang ada

Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan apabila di
kemudian hari terdapat kesalahan akan dilakukan perbaikan sebagaimana
mestinya.
Ditetapkan di : Kesamben
Pada Tanggal : .......................................
Direktur,

dr. Dwi Bambang W


NIK.
Lampiran Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit Wava
Husada Kesamben
Nomor : //DIR/XI/
Tentang : Pemberlakuan Pedoman Pelayanan Bedah
Rumah Sakit Wava Husada Kesamben
Tanggal :

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan adalah salah satu faktor utama bagi setiap manusia untuk melakukan segala aktivitas
sehari-hari, selain kesehatan rohani dan juga kesehatan jasmani sangat bibutuhkan oleh manusia
dalam mendukung pelaksanaan segala kegiatan dan aktivitas. Kesehatan merupakan salah satu
unsur kesejahteraan umum yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam pembukaan UUD1945 melalui pembangunan nasional. Dengan
begitu derajat kesejahteraan tiap manusia Indonesia dapat terangakat dan dapat dijadikan modal
bagi pelaksanaan pembangunan nasional. Untuk membantu pelaksanaan peningkatan kesehatan
maka pihak pemerintah maupun pihak swasta membangun sarana-sarana kesehatan seperti rumah
sakit dan puskesmas yang didalamnya terdapat tenaga kesehatan yang akan melayani masyarakat
yang melakukan upaya pemenuhan kesehatan. Upaya kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah
maupun swsta bertujuan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang
membutuhkan jasa kesehatan.

B. Ruang Lingkup
Di Indonesia, dokter bedah ortopedi adalah dokter yang telah menyelesaikan pendidikan yang
diajukan dalam bedah ortopedi setelah menjadi dokter umum maupun bedah umum. Dokter ini
harus menyelesaikan 104 SKS dalam 9 semester pendidikan klinik. Dokter spesialis ini diberi gelar
SpOT (spesialis ortopedi dan traumatologi) atau SpBO (spesialis bedah ortopedi).
Banyak dokter bedah ortopedi yang menjalani pelatihan subspesialis dalam program yang dikenal
sebagai 'fellowship' (beasiswa) setelah menyelesaikan pendidikannya sebagai residen. Pelatihan
fellowship dalam sebuah subspesialisasi ortopedi khususnya memakan waktu 1 (kadang-kadang 2)
tahun dan biasanya memiliki komponen penelitian yang terkait dengan pelatihan klinik dan
operasi.
Beberapa contoh subspesialisasi ortopedi adalah:
1. Bedah tangan (juga dilakukan oleh dokter bedah plastik)
2. Bedah bahu dan siku
3. Rekonstruksi sendi total (artroplasti)
4. Ortopedi anak
5. Bedah kaki dan pergelangan kaki (juga dilakukan oleh podiatri)
6. Bedah tulang belakang (juga dilakukan oleh dokter bedah saraf)
7. Onkologi muskuloskeletal
8. Bedah kedokteran olahraga
9. Trauma ortopedi
C. MAKSUD DAN TUJUAN
Pedoman alat kesehatan dan implan Rumah Sakit Wava Husada Kesamben ini dimaksudkan sebagai
acuan teknis penyediaan fasilitas alat kesehatan dan implant agar rumah sakit dapat memberikan
pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang memadai sesai kebutuhan.
BAB II PEMBAHASAN

A. Kualifikasi Pelatihan Staf


GAMBARAN UMUM
Rumah Sakit butuh berbagai ketrampilan dan kualifikasi staf untuk melaksanakan misi rumah sakit
dan memenuhi kebutuhan pasien. Pimpinan Rumah Sakit bekerja sama untuk mengetahui dan
menusun perencanaan : jumlah dan jenis staf yang dibutuhkan berdasarkan rekomendasi dari unit
kerja dan direktur pelayanan. Rekruitmen, evaluasi dan penugasan staf dilakukan melalui proses
terkoordinasi, efisien dan seragam Rumah Sakit melakukan proses kredensial bagi staf medis dan
perawat tenaga profesional lainnya Rumah Sakit memberikan kesempatan bagi staf untuk terus
belajar dan mengembangkan kepribadian dan profesionalitasnya.

PERENCANAAN
Penentuan jumlah staf dan tingkat kemampuan seluruh staf bagaimana bentuk dan isi pembagian
tugas. Menentukan proses rekrutmen. Proses penetapan staf dengan kemampuan yang sesuai
dengan kebutuhan pasien Rumah Sakit menentukan pendidikan, ketrampilan, pengetahuan dan
persyaratan lain bagi seluruh staf rumah sakit. Menyusun perencanaan staf dan uraian tugas dan
tanggung jawab staf. Pimpinan Rumah Sakit mengembangkan dan mengimplementasikan proses
rekruitmen, evaluasi dan penugasan staf serta prosedur terkait lainnya sesuai perencanaan.

STAF PROFESIONAL KESEHATAN LAINNYA


Adanya proses untuk mengorientasi setiap staf kepada rumah sakit, bagian (departemen), dan
tanggung jawab pekerjaannya. Adanya ketentuan untuk pendidikan staf yang berkelanjutan

B. Kejadian Tidak Diharapkan


A. Pengertian
Keselamatan pasien adalah suatu sistem di mana rumah sakit memberikan asuhan pasien lebih
aman. Hal ini termasuk assesment resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan
dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak
lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko. Sedangkan insiden
keselamatan pasien adalah setiap kejadian yang tidak disengaja dan kondisi yang mengakibatkan
atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat di cegah pada pasien yang meliputi Kejadian
Tidak Diharapkan (KTD), Kejadian Nyaris Cedera (KNC) dan sentinel event. Upaya keselamatan
pasien di kamar operasi adalah segala tindakan atau usaha untuk menjaga keselamatan pasien
selama mengalami operasi dimulai dari pasien diterima di ruang persiapan sampai dengan pasien
keluar dari ruang pulih sadar.

B. Tujuan :
1. Pasien merasa aman dan nyaman
2. Terhindar dari Kejadian Tidak Diinginkan (KTD), Kejadian Nyaris Cedera (KNC) dan Kejadian
Sentinel Event

C. Tata Laksana Keselamatan Pasien


1. Kesiapan administrasi
a. Setiap pasien yang akan dilaksanakan operasi harus diajukan secara tertulis dengan format
pengajuan operasi yang ditanda tangani oleh konsulen/SMF masing-masing, usahakan
dengan huruf balok dan mudah dibaca untuk menghindari kesalahan.
b. Pengajuan diteliti oleh dokter anestesi/perawat anestesi untuk menilai kelayakan
pembiusan untuk merencanakan jadwal pembedahan.
c. Persiapan kamar operasi, meliputi peralatan, obat-obatan, cairan dan lain-lain.
2. Pra Operatif
a. Lakukan timbang terima pasien secara tertulis menggunakan form askep peri operatif
antara petugas ruang rawat/IGD/IRJ/ICU dengan petugas IBS yang meliputi :
1) Status pasien lengkap
a) Identitas
b) Pemeriksaan penunjang : foto rontgen, laboratorium, EKG dll
c) Inform consent
2) Ganti pakaian dan tutup kepala dengan menjaga privacy pasien
3) Keadaan umum pasien : tekanan darah, nadi suhu
4) Kesadaran pasien : CM, somnolen, coma dll
5) Keadaan fisik pasien
6) Pastikan lokasi kamar operasi sesuai jadwal yang ada
7) Pastikan pasien tidak menggunakan gigi palsu, perhiasan dll
b. Lakukan penanda tanganan dan tuliskan nama terang pada form peri operatif untuk semua
petugas yang terlibat
3. Intra operatif
a. Pindahkan pasien ke meja operasi secara baik dan benar, jaga privasi pasien dan
orientasikan dengan lingkungan
b. Lakukan time out dengan seluruh anggota tim bedah 5 menit sebelum pasien dilakukan
pembiusan untuk akurasi data pasien dan kelengkapan pembedahan, sesuai dengan
checklist pasien pre operasi
c. Lakukan penghitungan instrumen, kassa dan lain-lain sebelum operasi di mulai dan pada
saat operasi akan ditutup
1) Cegah terjadinya cedera pada pasien dengan memperhatikan hal-hal berikut Pada saat
membuat posisi pada pasien khususnya posisi lateral , prone dan litotomi
2) Pasang hospital plate secara baik dan benar untuk menghindari terjadinya luka bakar
3) Hindari terjadinya penekanan pada syaraf dan pembuluh darah
d. Segera beritahu keluarga pasien apabila terjadi penyimpangan dari diagnosa awal atau
keadaan memburuk (perdarahan hebat, cardiac arrest dll)
e. Monitor tanda vital, intake, out put serta kejadian selama operasi, pastikan semua
pemeriksaan selama operasi dikelola dengan baik (PA, kultur, darah dll)
f. Lakukan dressing dengan benar dan pastikan tidak adanya cedera pada kulit pasien
g. Dokumentasikan dalam laporan pembedahan maupun catatan perioperatif secara benar
4. Post operatif
a. Pastikan pemindahan pasien ke ruang pulih dengan baik, jaga posisi ETT, leher dan kepala
b. Monitor tanda-tanda vital dan awasi komplikasi pasca bedah
c. Dokumentasikan dalam catatan keperawatan dengan benar
d. Lakukan timbang terima dengan petugas ruang rawat dengan tanda tangan dan nama jelas

D. Sasaran Keselamatan Pasien Pada Pelayanan Bedah


1. Ketepatan identifikasi pasien
Ketepatan identifikasi pasien adalah ketepatan penentuan identitas pasien, awal pasien masuk
sampai dengan pasien keluar terhadap semua pelayanan yang diterima oleh pasien
2. Peningkatan komunikasi efektif
Komunikasi yang efektif adalah komunikasi lisan yang menggunakan prosedur write, read dan
repeat back (reconfirm)
3. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (high alert)
Meningkatkan proses pengelolaan obat-obat yang perlu diwaspadai meliputi pemberian label
secara benar, penyimpanannya dan mencegah pemberian yang tidak sengaja/kurang hati-hati
yang dapat menyebabkan atau menimbulkan adanya komplikasi atau membahayakan pasien
4. Kepastian tepat – lokasi, tepat – prosedur, tepat – pasien operasi
Penandaan lokasi operasi adalah tata cara yang wajib dilakukan sebelum tindakan pembedahan
oleh dokter spesialis bedah untuk memberikan tanda di lokasi yang akan dibedah pada semua
pasien yang akan dilakukan tindakan pembedahan sesuai dengan prosedur yang sudah
ditetapkan. Tepat pasien adalah melaksanakan tindakan pembedahan sesuai dengan pasien
yang tepat yang terjadwal operasi (perawat harus selalu melakukan identifikasi pasien sebelum
pasien dimasukkan ke kamar operasi)
5. Pengurangan resiko infeksi terkait pelayan kesehatan
Infeksi biasa dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran
kemih, infeksi pada aliran darah, pneumoni yang sering berhubungan ventilasi mekanis. Pokok
eliminasi infeksi ini maupun infeksi-infeksi yang lain adalah cuci tangan (hand hygiene) yang
tepat
6. Pengurangan resiko pasien jatuh
Pengurangan resiko pasien jatuh adalah pengurangan pengalaman pasien yang tidak
direncanakan untuk terjadinya jatuh, suatu kejadian yang tidak disengaja pada seseorang pada
saat istirahat yang dapat dilihat atau dirasakan atau kejadian jatuh yang tidak dapat dilihat
karena suatu kondisi adanya penyakit seperti stroke, pingsan dan lainnya

C. Pengendalian Infeksi

D. Penelusuran dalam Pengembalian Alat (recall)

BAB III STANDAR FASILITAS

BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN


BAB VI KESELAMATAN PASIEN

BAB VII KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Keselamatan kerja bagi petugas yang memberikan pelayanan di UKO sangatlah penting
diperhatikan, guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan , yang dapat berakibat fatal
bagi petugas. Kejadian tidak diinginkan yang menyangkut keselamatan kerja di Instalasi Bedah
Sentral dapat diminimalisir dengan adanya sarana dan pra saranana yang mendukung, baik
ketersediaan sarana Alat Perlindungan Diri, maupun desain ruang yang memudahkan mobilisasi
petugas sehingga tidak terganggu dengan kabel-kabel listrik dan peralatan lainnya.
Hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
1. Untuk alat-alat yang menggunakan listrik harus memakai arde dan stabilisator.
2. Dalam melakukan pelayanan harus memakai pelindung sesuai Pedoman Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi
3. Penataan ruang, aksesibilitas, penerangan dan pemilihan material harus sesuai dengan
ketentuan yang mengacu pada keselamatan pasien
Alat perlindungan diri merupakan suatu alat yang digunakan untuk melindungi diri terhadap kontak
atau paparan yang diakibatkan oleh pasien, alat atau limbah, terhadap tim bedah, anestesi,
petugas di IKO maupun petugas Cleaning Service. Alat perlindungan diri meliputi penutup kepala,
penutup badan (apron), kacamata, sarung tangan, sepatu boot dan masker, sedangkan bila terjadi
kejadian yang tidak diinginkan , petugas segera melapor kepada kepala ruang IKO untuk selanjutnya
berkoordinasi dengan Tim K3 Rumah sakit wava husada kesamben .
Adapun penggunaan Alat Perlindungan Diri dan Penanganan K3 sudah diatur dalam SPO
Penggunaan Alat Pelindung Diri dan SPO Penangan K3.
BAB VIII PENGENDALIAN MUTU

Upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan dapat diartikan keseluruhan upaya dan kegiatan
secara komprehensif dan integratif, memantau dan menilai mutu pelayanan Rumah sakit wava
husada kesamben , khususnya di Instalasi Kamar Operasi, adalah memecahkan masalah-masalah
yang ada dan mencari jalan keluarnya sehingga mutu pelayanan akan menjadi lebih baik. Upaya
peningkatan mutu termasuk kegiatan yang melibatkan mutu asuhan atau pelayanan dengan
penggunaan sumber daya secara tepat dan efisien.
Dengan semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan maka saat ini
masyarakat semakin memperhatikan mutu pelayanan kesehatan yang diterimanya, karena itu
pengendalian mutu harus dilakukan demi kepentingan dan kepuasan dari pasien. Indikator Mutu
Pelayanan Instalasi Bedah Sentral Rumah sakit wava husada kesamben mengacu pada pedoman
Indicator Mutu Rumah sakit wava husada kesamben yaitu :
1. Waktu Tunggu Operasi Elektif
Dimensi mutu Efektivitas, kesinambungan, efisiensi

Tujuan Tergambarnya kecepatan penanganan antrian pelayanan


bedah (operasi)

Definisi Operasional Waktu tunggu operasi elektif adalah tenggang waktu mulai
dokter memutuskan untuk operasi yang terencana sampai
dengan operasi mulai dilaksanakan

Frekuensi pengumpulan data Satu bulan

Periode analisa Tiga bulan

Numerator Jumlah kumulatif waktu tunggu operasi yang terencana


dari seluruh pasien yang di operasi dalam satu bulan

Denominator Jumlah pasien yang diopersi dalam bulan tersebut

Sumber data Rekam medik

Standar / target < 2 hari

Penanggung jawab Kepala Instalasi Bedah Sentral

2. Kejadian Kematian di Meja Operasi


Dimensi mutu Keselamatan, efektivitas

Tujuan Tergambarnya efektivitas pelayanan bedah sentral dan


anestesi serta kepedulian terhadap keselamatan pasien

Definisi operasional Kematian di meja operasi adalah kematian yang terjadi di


atas meja operasi pada saat operasi berlangsung yang
diakibatkan oleh tindakan anestesi maupun tindakan
pembedahan

Frekuensi pengumpulan data Tiap bulan dan sentinel event

Periode analisa Tiap bulan dan sentinel event


Numerator Jumlah pasien yang meninggal di meja operasi dalam satu
bulan

Denominator Jumlah pasien yang dilakukan tindakan pembedahan


(operasi) dalam satu bulan

Sumber data Rekam medik, laporan kematian pasien

Standar / target <1%

Penanggung jawab Kepala Instalasi Bedah Sentral

3. Tidak adanya kejadian operasi salah sisi


Dimensi mutu Keselatan pasien

Tujuan Tergambarnya kepedulian dan ketelitian IBS terhadap


keselamatan pasien

Definisi Operasional Kejadian operasi salah sisi adalah kejadian dimana pasien
di operasi pada sisi yang salah

Frekuensi pengumpulan data Satu bulan dan sentinel event

Periode Analisa Satu bulan dan sentinel event

Numerator Jumlah pasien yang di operasi dalam waktu satu bulan


dikurangi jumlah pasien yang di operasi salah sisi dalam
waktu satu bulan

Denominator Jumlah pasien yang di operasi dalam waktu satu bulan

Sumber data Rekam medik, laporan keselamatan pasien

Standar / target 100 %

Penanggung jawab Kepala Instalasi Bedah Sentral

4. Tidak adanya Kejadian Operasi Salah Orang


Dimensi mutu Keselamatan pasien

Tujuan Tergambarnya kepedulian dan ketelitian Instalasi Bedah


Sentral

Definisi Operasional Kejadian operasi salah orang adalah kejadian dimana


pasien di operasi pada orang yang salah

Frekuensi pengumpulan data Satu bulan dan sentinel event

Periode analisa Satu bulan dan sentinel event

Numerator Jumlah pasien yang di operasi dalam satu bulan dikurangi


jumlah pasien yang di operasi salah orang dalam waktu
satu bulan

Denominator Jumlah pasien yang di operasi dalam waktu satu bulan

Sumber data Rekam medik, laporan keselamatan pasien

Standar / target 100 %

Penanggung jawab Kepala Instalasi Bedah Sentral

5. Tidak adanya kejadian salah tindakan pada operasi


Dimensi mutu Keselamatan pasien

Tujuan Tergambarnya ketelitian dalam pelaksanan operasi dan


kesesuaian tindakan operasi dengan rencana yang telah
direncanakan

Definisi Operasional Kejadian salah tindakan pada operasi adalah kejadian


dimana pasien mengalami tindakan operasi yang tidak
sesuai dengan yang direncanakan

Frekuensi pengumpulan data Satu bulan dan sentinel event

Periode analisa Satu bulan dan sentinel event

Numerator Jumlah pasien yang di operasi dalam waktu satu bulan


dikurangi jumlah pasien yang dioperasi salah tindakan
operasi dalam waktu satu bulan

Denominator Jumlah pasien yang dioperasi dalam waktu satu bulan

Sumber data Rekam medik, laporan keselamatan pasien

Standar / target 100 %

Penanggung jawab Kepala Instalasi Bedah Sentral

6. Tidak Adanya Kejadian Tertinggalnya Benda Asing pada Tubuh pasien setelah Operasi
Dimensi mutu Keselamatan pasien

Tujuan Tergambarnya ketelitian dan kecermatan dokter bedah


dalam melaksanakan tindakan operasi

Definisi Operasional Kejadian tertinggalnya benda asing seperti kapas, gunting,


peralatan operasi dalam tubuh pasien akibat suatu
tindakan pembedahan

Frekuensi Pengumpulan data Satu bulan dan sentinel event

Periode Analisa Satu bulan dan sentinel event


Numerator Jumlah pasien yang di operasi dalam waktu satu bulan
dikurangi jumlah pasien yang mengalami tertinggalnya
benda asing dalam tubuh akibat operasi dalam waktu satu
bulan

Denominator Jumlah pasien yang di operasi dalam waktu satu bulan

Sumber Data Rekam medik, laporan keselamatam pasien

Standar / Target 100 %

Penanggung Jawab Kepala Instalasi Bedag Sentral/komte medik

BAB IX
PENUTUP
Pedoman Pelayanan Instalasi Bedah Sentral ini dibuat untuk menjadi pedoman/acuan bagi petugas
di Instalasi Kamar Operasi di Rumah sakit wava husada kesamben dalam memberikan asuhan dan
pelayan bedah kepada pasien dimana pelayanannya adalah berfokus pada pasien dan sebagai
acuan juga dalam pengelolaan, penyelenggaraan dan penyusunan Standar Prosedur Operasional
pelayanan bedah/operasi.
Dibutuhkan dukungan dari semua pihak terutama pimpinan Rumah Sakit Umum Budi Mulyo untuk
tercapainya pelayanan bedah/operasi yang berkualitas dan mengutamakan keselamatan pasien,
sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi di bidang pelayanan perioperatif.