Anda di halaman 1dari 10

JFL

Jurnal Farmasi Lampung Vol. 6. No.2 Desember 2017

ANALISIS KADAR KLORIN (Cl2) SEBAGAI PEMUTIH PADA RUMPUT LAUT


(Eucheuma cottonii ) YANG BEREDAR di LAMPUNG

Analysis of Chlorine (Cl2) as a Bleanching in The Seaweed Eucheuma cottonii


Food Product in Lampung

Samsuar1, Febri Mariana2, Merinda Setyowati3


1,2
Jurusan Farmasi UTB Lampung, 3Balai Besar POM Lampung
Email: mrsam_utb@yahoo.co.id

Abstract

Seaweed (Eucheuma cottonii) is one of sea product which have promising economic
value, because it can be used for carragenan manufactures. In industrial and commerce,
carragenan can be used as ingredients for biotechnology, food, pharmacy and cosmetic
industry. The purpose of this research is to determine chlorine contain in seaweed at the
first and second submersions. There are nine samples of seaweed which are examined
at UPTD Hall of Lampung Health Laboratory and Fharmacy Laboratory of UTB Lampung
with using titration method. The results of chlorine content on nine seaweed samples at
the first immersion in A sample of 0.027%, in sample B of 0.019%, in sample C of
0.034%, in sample D of 0.008%, F samples of 0.079%, samples H by 0.027%. In sample
E, sample G and sample I when analyzed there is no chlorine content. The content of
chlorine on the second immersion is in sample A of 0.019%, in sample B of 0.015%, in
sample C of 0.03%, in sample D of 0.008%, and F sample 0.057%. In the H sample the
chlorine levels on the second immersion become negative or disappear.

Keyword : Seaweed, chlorine and titration

Abstrak

Rumput laut (Eucheuma cottonii) merupakan salah satu hasil laut yang mempunyai nilai
ekonomis yang cukup menjanjikan karena digunakan sebagai penghasil keraginan.
Dalam dunia industri dan perdagangan, keraginan digunakan sebagai bahan baku untuk
bioteknologi, industri makanan, industri farmasi dan industri kosmetik. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan klorin pada rumput laut pada
perendaman pertama dan pada perendaman ke dua. Terdapat sembilan jenis sampel
rumput laut yang kemudian diperiksa di UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi
Lampung dan Laboratorium Farmasi UTB Lampung dengan menggunakan metode
titrasi. Berdasarkan hasil penelitian kadar klorin pada sembilan sampel rumput laut pada
saat perendaman pertama yaitu pada sampel A sebesar 0.027 %, pada sampel B
sebesar 0.019 %, pada sampel C sebesar 0.034 %, pada sampel D sebesar 0.008 %,
sampel F sebesar 0.079 %, sampel H sebesar 0.027 %. Pada sampel E, sampel G dan
sampel I ketika dianalisis tidak terdapat kandungan klorin. Kandungan klorin pada
perendaman kedua yaitu pada sampel A sebesar 0.019 %, pada sampel B sebesar
0.015 %, pada sampel C sebesar 0.03 %, pada sampel D sebesar 0.008 %, dan sampel
F sebesar 0.057 %. Pada sampel H kadar klorin pada perendaman kedua menjadi
negatif atau hilang.

Kata Kunci : Rumput Laut, Klorin, Titrasi

13
JFL
Jurnal Farmasi Lampung Vol. 6. No.2 Desember 2017

PENDAHULUAN

Rumput laut merupakan hasil laut yang cottonii yang baru dipanen umumnya
banyak dibudidayakan di Indonesia, memiliki kadar air sekitar 85% dan harus
karena letak wilayah Indonesia yang segera dikeringkan hingga kadar air 30-
sebagian besar merupakan perairan laut 35%, yang merupakan kadar air standar
hal ini menjadikan Indonesia termasuk untuk kualitas ekspor [4].
sebagai salah satu negara pengekspor
rumput laut terpenting di Asia. Secara Seiring dengan perubahan zaman,
tradisional, rumput laut dapat rumput laut kini dapat juga dimanfaatkan
dimanfaatkan sebagai bahan pangan dalam berbagai macam bidang industri
seperti lalap, sayur, acar, manisan, kue mulai dari industri pangan ataupun non
dan obat [1]. pangan. Saat ini rumput laut yang
banyak dibudidayakan dan
Beberapa jenis rumput laut yang tercatat dikembangkan di Indonesia adalah dari
mempunyai nilai ekonomis tinggi antara jenis eucheuma cottoni yang dapat
lain adalah Rhodophyceae (ganggang menghasilkan keraginan. Keraginan
merah) dan Phaeophyceae (ganggang merupakan kelompok polisakarida
coklat). Rhodophyceae merupakan galaktosa yang diekstraksi dari rumput
rumput laut penghasil agar-agar dan laut. Keraginan banyak digunakan pada
keraginan, sedangkan Phaeophyceae persediaan makanan, farmasi dan
merupakan penghasil algin yang belum kosmetik sebagai bahan pembuatan gel,
dioptimalkan pemanfaatannya. pengental dan penstabil [5].
Beberapa jenis rumput laut penghasil
agar-agar diantaranya adalah Gracilaria Masalah yang dihadapi di zaman
sp , Gelidium sp, Gellidiella sp dan sekarang ini yaitu segala macam
Gellidiopsi sp, sedangkan penghasil makanan di Indonesia sudah tidak murni
keraginan adalah Eucheuma sp. Agar- lagi dan banyak mengandung bahan
agar dan keraginan memiliki suatu tambahan zat kimia yang berbahaya.
karakteristik yang unik dan memiliki Berdasarkan pemberitaan yang
daya ikat air yang cukup tinggi. Selain beredar, ditemukan rumput laut yang
dimanfaatkan sebagai bahan makanan mengandung zat berbahaya seperti
juga dimanfaatkan secara luas sebagai klorin yang digunakan sebagai pemutih
pembentuk gel, bahan pengental, pada rumput laut agar tampilan rumput
bahan pemantap (stabilizer), bahan laut terlihat lebih berkualitas [6].
pembantu farmasi, media kultur bakteri Berdasarkan hasil penelitian kandungan
dan lain-lain [2]. klorin pada makanan (beras) secara
Rumput laut (Eucheuma cottonii) kualitatif maupun kuantitatif, bahwa
potensial sebagai penghasil keraginan terdapat kadar klorin yang relatif tinggi
dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai yaitu sebesar 36,810 ppm pada
penggunaan. Rumput laut Eucheuma pencucian beras pertama dan 25,595
cottonii mengandung keraginan 39%, ppm pada pencucian beras ke dua. Hal
sedangkan sisanya merupakan garam ini membuktikan bahwa klorin saat ini
anorganik 49%, selulosa 8%, protein digunakan sebagai pemutih dan
kasar 3% serta lemak 1% [3]. pengkilap pada makanan [7].
Sedangkan Rumput laut Eucheuma

14
JFL
Jurnal Farmasi Lampung Vol. 6. No.2 Desember 2017

Klorin adalah bahan kimia yang kalsium hipoklorit [Ca(OCl)2]. Selain itu,
biasanya digunakan sebagai pembunuh klorin juga digunakan sebagai bahan
kuman. Zat klorin jika bereaksi dengan obat-obatan yang dikombinasikan
air akan membentuk asam hipoklorus dengan senyawa lainDalam industri
yang diketahui dapat merusak sel-sel tekstil dan kertas Klorin digunakan
dalam tubuh. Klorin berwujud gas sebagai pemutih dan penghalus serta
berwarna kuning kehijauan dengan bau menguatkan permukaan kertas,
cukup menyengat. Zat klorin yang ada sedngkan dalam bidang pertanian
pada rumput laut akan menggerus usus sebagai bahan peptisida dari kelompok
dan lambung (korosit) sehingga rentan organoklorin merupakan peptisida yang
terhadap penyakit maag. Dalam jangka mengandung klorin yaitu Dikloro Difenil
panjang mengkonsumsi rumput laut Trikloroetana (DDT) [10]. Klorin sebagai
yang mengandung klorin akan desinfektan dan pemutih merupakan
mengakibatkan penyakit kanker hati bahan yang dilarang penggunaanya
dan ginjal [8]. dalam makanan berdasarkan Menurut
Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Efek toksik dari klorin atau kalsium Indonesia No. 033 / Menkes
hipoklorit utamanya bergantung pada /Per/IX/2012, bahwa klorin tidak
sifat korosif hipoklorit. Jika sejumlah tercatat sebagai Bahan Tambahan
kecil dari pemutih (3-6% hipoklorit) Pangan (BTP) dalam kelompok pemutih
tertelan (ingesti), efeknya adalah iritasi dan pematang tepung yang
pada sistem gastrointestinal. Jika diperbolehkan [11].
konsentrasi pemutih yang tertelan lebih
besar, misalnya hipoklorit 10% atau Food and Drug Administrastion (FDA)
lebih, efek yang akan dirasakan adalah menetapkan ambang batas klorin, yang
iritasi korosif hebat pada mulut, tergambarkan oleh natrium hipoklorit
tenggorokan, esofagus, dan lambung atau kalsium hipoklorit, yaitu tidak boleh
dengan pendarahan, perforasi melebihi berturut-turut 0.0082 pounds
(perlubangan), dan pada akhirnya (sama dengan 3.72 gram) dan 0.0036
kematian. Jaringan parut permanen dan pounds (sama dengan 1.633 gram)
penyempitan esofagus dapat muncul klorin per pounds makanan kering (1
pada orang-orang yang dapat bertahan pounds sama dengan 453.59 gram).
hidup setelah mengalami intoksikasi Dengan kata lain, dalam 100 gram
(mabuk hipoklorit) hebat [9]. makanan, kadar klorin (yang
digambarkan dengan natrium hipoklorit
Dalam bidang kesehatan Klorin atau kalsium hipoklorit) tidak boleh
digunakan sebagai desinfektan pada melebihi berturut-turut 0.82 gram dan
pengolahan air minum. Klorin yang 0.36 gram [9].
digunakan adalah gas klor (Cl2) atau

METODE PENELITIAN

Alat dan Bahan

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Bahan yang digunakan pada penelitian
Juni 2016 di UPTD Balai Laboratorium ini adalah sampel Rumput Laut, Air
Kesehatan Provinsi Lampung dan Suling, Asam Asetat (CH3COOH),
Laboratorium Farmasi Universitas Natrium Tiosulfat (Na2S2O3), Kalium
Tulang Bawang Lampung dikromat (K2Cr2O7), Kalium Iodida (KI)
10% , Asam Klorida (HCl) 4N dan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini Amilum 1%.
adalah buret, gelas beker, gelas piala,
kertas saring, timbangan analitik.

15
JFL
Jurnal Farmasi Lampung Vol. 6. No.2 Desember 2017

Prosedur Penelitian selama 2 jam) dengan 100 ml air suling


didalam labu ukur 1000 mL, tambahkan
Prosedur Penelitian meliputi air suling sampai tepat tanda tera.
Pengambilan Sampel, preparasi Larutan asam klorida (HCl) 4N dibuat
sampel, pembuatan larutan, dengan cara diambil 250 mL air suling
pembakuan larutan, analisis kualitatif, kemudian tambahkan perlahan-lahan
analisis kuantitatif dan titrasi blanko. 340 mL asam klorida (HCl) pekat
didalam labu takar 1000 mL kemudian
Pengambilan Sampel tambahkan air suling sampai tepat
tanda tera.
Pengambilan sampel dilakukan di lokasi Larutan kanji 1%, ditimbang 1 gram kanji
yang berbeda, yaitu : empat distributor kemudian larutkan dengan 100 mL air
rumput laut yang terdapat di Lampung suling kemudian panaskan
yaitu dua distributor di Desa Ketapang Kalium iodida 10 %, ditimbang 10 gram
Kecamatan Ketapang Lampung Selatan kalium iodide (KI) ditambahkan dengan
(sampel A dan B), satu distributor di 100 mL air suling dan simpan dalam
Desa Legeundi Kecamatan Ketapang botol coklat.
Lampung Selatan (sampel C), satu
distributor di Desa Ruguk Kecamatan Pembakuan Larutan
Ketapang Lampung Selatan (sampel D),
tempat pembudidaya rumput laut Balai Pembakuan Larutan Na2S2O3 0,1 N
Besar Perikanan Budidaya Laut dengan K2Cr2O7. Larutkan 24,82 g
Lampung (BBPBL) (sampel E), tiga Na2S2O3.5H2O dengan 100 mL air suling
pasar tradisional di Lampung yaitu yang sudah didihkan di dalam labu ukur
Pasar Gintung di Bandar Lampung 1000 mL, tambahkan air suling sampai
(sampel F), Pasar Pagi di Kotabumi tepat pada tanda tera, larutan ini dibuat
Lampung Utara (sampel G) dan Pasar pada saat akan digunakan.
Koga di Bandar Lampung (sampel H)
Dan satu Pasar Swalayan Chandra Tetapkan kenormalan larutan natrium
Supermarket di Bandar lampung tiosulfat (Na2S2O3) dengan tahapan
(sampel I). sebagai berikut: Pipet 20 mL larutan
baku kalium dikromat (K2Cr2O7) 0,1 N
Preparasi Sampel dan masukkan kedalam labu
Erlenmeyer 250 mL; tambahkan air
Preparasi sampel dilakukan dengan suling sampai volume menjadi 100 mL,
menimbang masing-masing sampel kemudian tambahkan 2 g serbuk KI
rumput laut sebanyak 10 gram lalu murni dan 2 mL Asam klorida (HCl) 4N.
dimaserasi dengan air suling selama 24
jam kemudian rumput laut diambil Titrasi dengan larutan baku natrium
filtratnya. tiosulfat (Na2S2O3) 0,1N, sampai
berwarna kuning; Tambahkan 2-3 tetes
Pembuatan Larutan larutan indikator kanji sampai timbul
warna biru, kemudian lanjutkan titrasi
Pembuatan larutan kalium dikromat sampai warna biru hilang; Dilakukan
(K2Cr2O7) 0,1 N, dilarutkan 4,904 gram pengulangan sebanyak 3 kal, lalu catat
kalium dikromat (K2Cr2O7) (yang sudah
dikeringkan pada temperatur 103oC

16
JFL
Jurnal Farmasi Lampung Vol. 6. No.2 Desember 2017

pemakaian natrium tiosulfat untuk biru tepat hilang, tiap ml larutan natrium
perhitungan dengan rumus: tiosulfat (Na2S2O3) 0,1 N setara dengan
35,46 mg Cl2. Catat hasil volume dan
N Na2S2O3 = V K2Cr2O7 x N K2Cr2O7 kadar klorin (Cl2) dihitung dengan rumus:
V Na2S2O3 𝐵𝑀 𝐶𝑙2
(V1 − V2)x N x
Keterangan : V Na2S2O3 = larutan Kadar Cl2 = 𝑛 x 100%
Na2S2O3 yang digunakan (mL), N B(mg)
Na2S2O3 = Normalitas larutan Na2S2O3,
V K2Cr2O7 = larutan K2Cr2O7 0,1 N (mL) Keterangan :
dan N K2Cr2O7 = Normalitas larutan V1 : Volume titrasi untuk sampel (mL)
K2Cr2O7. V2 : Volume titrasi untuk blanko (mL)
N : Normalitas larutan Na2S2O3 yang
dipakai
Analisis Kualitatif B : Berat sampel (mg)
n : Banyaknya valensi Cl2
Analisis Kualitatif Klorin, Sampel (rumput
laut) ditimbang sebanyak 10 gram, Titrasi Blanko
kemudian Sampel ditambahkan 50 mL
air suling lalu ditutup dengan plastik Titrasi Blanko, diambil air suling
warna hitam dan sampel di maserasi sebanyak 50 mL masukkan ke dalam
selama 24 jam, setelah dimaserasi erlenmeyer 250 mL. Ditambahkan 2 gr
selama 24 jam diambil filtratnya Kalium iodida (KI) dan 10 mL asam
sebanyak 2 mL kemudian filtrat asetat (CH3COOH) (1:1). Tutup mulut
ditambahkan kalium iodida (KI) 10 % erlenmeyer dengan plastik. Titrasi
dan larutan amilum 1 %. Bila rumput laut sampai terbentuk warna kuning muda.
positif mengandung klorin akan terjadi Lalu ditambahkan 1 mL indikator
warna biru. amilum. Titrasi dilanjutkan sampai
warna biru hilang. Titrasi dilakukn
Analisis Kuantitatif dengan tiga kali pengulangan.

Analisis Kuantitatif Klorin, Masing- Analisis Data dilakukan secara deskriptif


masing sampel (rumput laut) ditimbang yang disertai dengan tabel, narasi dan
10 gram dimasukkan ke dalam pembahasan serta diambil kesimpulan
Erlenmeyer, Ditambahkan air suling 50 apakah rumput laut yang beredar di
mL, maserasi selama 24 jam, kemudian Lampung mengandung klorin.
ambil filtrat nya. Residu dilakukan
maserasi selama 24 jam kemudian ambil HASIL DAN PEMBAHASAN
filtratnya. Masing-masing filtrat ditambah
Sampel rumput laut diambil dari
2 gram kalium iodida (KI) dan 10 mL
sembilan tempat berbeda yang diduga
asam asetat (CH3COOH) (1:1),
mengandung klorin sebagai zat
kemudian tutup mulut erlenmeyer
pemutihnya. Pengambilan dari
dengan plastic, titrasi masing-masing
kesembilan tempat ini bertujuan untuk
filtrate dengan larutan natrium tiosulfat
mendapatkan hasil yang reprentatif dari
(Na2S2O3) 0,1 N sampai berwarna
rumput laut yang dijual di kota Bandar
kuning muda, tambahkan 1 mL indikator
amilum, titrasi dilanjutkan hingga warna

17
JFL
Jurnal Farmasi Lampung Vol. 6. No.2 Desember 2017

Lampung dan membandingkan kadar dianalisa kemudian direaksikan dengan


klorin pada rumput laut tersebut. ion iodida berlebih dalam keadaan yang
Pemeriksaan klorin dimulai pada sesuai yang selanjutnya iodium
perendaman (maserasi) rumput laut dibebaskan secara kuantitatif dan
selama 2 x 24 jam, ini bertujuan untuk dititrasi dengan larutan standar atau
memisahkan kandungan klorin pada asam. Titrasi iodometri termasuk
rumput laut. Uji kualitatif klorin pada golongan titrasi redoks dimana mengacu
filtrat rumput laut hasil maserasi selama pada transfer electron [14].
24 jam dengan kalium iodida 10% dan
amilum 1 % mengalami perubahan I2 + 2e- 2I-
warna menjadi biru. Warna biru ini
menunjukkan bahwa rumput laut Titrasi yang pertama yaitu standarisasi
tersebut positif mengandung klorin [12]. larutan Natrium Tiosulfat (Na2S2O3)
Secara Organoleptis pada rumput laut dengan standar primer kalium dikromat (
yang diduga mengandung klorin adalah K2Cr2O7), ini bertujuan untuk
sampel berwarna putih, bau, air hasil mendapatkan konsentrasi Natrium
rendaman putih keruh [13]. Tiosulfat yang sesungguhnya karena
senyawa tersebut tergolong dalam
Tabel. 1. Hasil Analisis Kualitatif larutan standar sekunder [15].

Sampel Ditambah Kesimpulan Larutan standar yang dipergunakan


KI & dalam kebanyakan proses iodometrik
Amilum adalah natrium tiosulfat. Garam ini
A Biru Positif biasanya tersedia sebagai pentahidrat
B Biru Positif Na2S2O3. 5H2O. larutan tidak boleh
C Biru Positif distandarisasi dengan penimbangan
D Biru Positif secara langsung, tetapi harus
E Putih Negatif distandarisasi terhadap standar primer,
Keruh dalam penelitian ini menggunakan
F Biru Positif K2Cr2O7 sebagai standar primer karena
G Putih Negatif Larutan natrium tiosulfat tidak stabil
keruh untuk waktu yang lama [14].
H Biru Positif
I Putih Negatif Sebelum digunakan larutan kalium
Keruh bikromat dimasukkan kedalam
erlenmeyer, setelah itu ditambahkan
Berdasarkan Tabel 1 diatas dapat padatan kalium iodida. Padatan kalium
diketahui dari Sembilan sampel yang iodida ini sangat bersifat higroskopis
diuji enam sampel positif mengandung oleh karena itu setelah penimbangan
klorin (warna biru) sebagai pemutihnya, padatan kalium iodida harus ditutup
diantaranya 4 sampel dari distributor dan dengan plastik karena berkurangnya
2 sampel dari pasar traditional. iodium akibat penguapan dan oksidasi
Sedangkan 3 sampel dengan hasil udara dapat menyebabkan banyak
negatif memiliki warna putih keruh. kesalahan untuk analisis selanjutnya.

Analisis kuantitatif dilakukan dengan


cara Titrasi iodometri yaitu titrasi tidak
langsung dimana oksidator yang 18

18
JFL
Jurnal Farmasi Lampung Vol. 6. No.2 Desember 2017

Fungsi penambahan padatan kalium berubah menjadi kuning jernih, hal itu
iodida ini untuk memperbesar kelarutan bertujuan untuk mengurangi kesalahan
iodium yang sukar larut dalam air dan titrasi, sebab kompleks iod amilum tidak
kalium iodida ini untuk mereduksi analit larut sempurna dengan pelarut air.
sehingga bisa dijadikan standarisasi. Penambahan KI dilakukan karena
Kemudian ditambahkan larutan asam iodium sukar larut dalam air namun agak
klorida pekat karena titrasi ini dilakukan larut dalam larutan yang mengandung
disuasana asam (pH < 8,0) disebabkan ion iodida sehingga akan membentuk
karena larutan yang terdiri dari kalium senyawa kompleks tri iodida dengan
dikromat dan kalium iodida berada iodide
dalam kondisi netral atau memiliki
keasaman rendah, pada reaksi redoks I2 + I- I3-
anatara kalium dikromat dan kalium
iodida dibutuhkan 14H+, dengan reaksi KI berlebih juga ditambahkan untuk
[16]. meningkatkan kelarutan dan
mengurangi penguapan iodium. Hal ini
dikarenakan titik penguapan I2 lebih kecil
Cr2O72- + 14 H++ 5e- 2Cr3+ + 7H2O dibandingkan dengan KI maupun
senyawa kompleks lain iodin.

Ion klorida tidak akan mempengaruhi Analisis kuantitatif dengan metode titrasi
reaksi redoks antara dikromat dengan iodometri klorin akan mengoksidasi
iodida, karena kalium dikromat iodide untuk menghasilkan iodium.
merupakan oksidator kuat sehingga
iodida lebih mudah mengalami oksidasi Cl2 + 2I- 2Cl- + I2
dibandingkan dengan klorida. Selain itu
klorida juga membantu dalam Kemudian iodium yang dibebaskan
penentuan titik akhir. selanjutnya dititrasi dengan larutan baku
natrium tiosulfat menurut reaksi :
K2Cr2O7 + 6KI + 14 HCl 3I2 + 8 KCl
+ 2 CrCl3 + 7 H2O 2S2O32- + I2 S2O62- + 2I
Dalam suasana asam, K2Cr2O7 dapat Adapun hasil analisis kuantitatif
mengoksidasi KI menjadi I2 bebas yang kandungan klorin pada rumput laut
berwarna coklat, dimana I2 bebas tersebut dapat dilihat pada Tabel 2 dan
tersebut dapat di titrasi dengan Na2S2O3 Tabel 3 berikut.
dan indikator kanji ditambahkan
mendekati titik ekuivalen.

2S2O32- + I2 S4O62- + 2I-

I2 dapat membentuk komplek berwarna


biru terhadap amilum, bila indikator
amilum digunakan dalam titrasi ini maka
titik ekuivalens ditandai dengan
hilangnya warna biru dari larutan.
Indikator amilum sebaiknya
ditambahkan sesaat sebelum titik
ekuivalens terjadi, yaitu ketika larutan 19

18
JFL
Jurnal Farmasi Lampung Vol. 6. No.2 Desember 2017

Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Kuantitatif sedangkan pada sampel D tidak


Klorin Pada Rumput Laut (Eucheuma mengalami penurunan kadar klorin, hal
cottonii) pada perendaman 24 jam ini dapat disebabkan klorin sudah
pertama. meresap kedalam rumput laut karena
sehingga sulit untuk memisahkan zat
Sampel Berat Vol. Rerata Kadar klorin pada rumput laut.
Sampel Pentiter Klorin
(gr) (mL) (%) Penggunaan klorin pada rumput laut
A 10,21 0,7 13,37 bertujuan untuk memperbaiki
B 10,38 0,5 9,39 penampilan rumput laut agar terlihat
C 10,07 0,9 17,34 lebih putih dan mengkilap sehingga
D 10,02 0,2 3,89 konsumen lebih tertarik untuk
E 10,10 0 0 membelinya [7].
F 10,27 2,1 39,88
G 10,33 0 0 Dampak dari rumput laut yang
H 10,07 0,7 13,56 mengandung klorin itu tidak terjadi
I 10,16 0 0 sekarang. Bahaya untuk kesehatan baru
akan muncul 15 hingga 20 tahun
Perendaman sampel rumput laut 24 jam mendatang, khususnya bila
kedua bertujuan untuk mengetahui mengkonsumsi rumput laut itu secara
apakah masih terdapat kadar klorin pada terus menerus [17].
rumput laut yang masih tersisa dari
perendaman 24 jam pertama. Hasil KESIMPULAN
kadar klorin pada perendaman selama
24 jam kedua dapat dilihat pada tabel 3. Berdasarkan pemeriksaan kandungan
klorin dalam rumput laut pada
Tabel 3. Hasil Pemeriksaan Kadar Klorin perendaman pertama dan perendama
Pada sampel rumput laut (Eucheuma kedua, maka diperoleh kesimpulan
cottonii) pada perendaman 24 jam sebagai berikut :
kedua. 1. Kandungan klorin pada sembilan
Sampel Berat Vol. Kadar sampel rumput laut pada saat
Sampel Rerata Klorin perendaman pertama yaitu pada
(gr) (ml) (%) sampel A sebesar 0.027 %, pada
sampel B sebesar 0.019 %, pada
A 10,21 0,5 9,55
sampel C sebesar 0.034 %, pada
B 10,38 0,4 7,52
sampel D sebesar 0.008 %, sampel
C 10,07 0,8 15,19
F sebesar 0.079 %, sampel H
D 10,02 0,2 3,89 sebesar 0.027 %. Pada sampel E,
E 10,10 0 0 sampel G dan sampel I ketika
F 10,27 1,5 28,49 dianalisis tidak terdapat kandungan
G 10,33 0 0 klorin.
H 10,07 0 0
I 10,16 0 0

Pada tabel 3 diatas, dapat dilihat bahwa


kandungan klorin pada 4 sampel
berkurang yaitu sampel A, B, C dan F.
20

18
JFL
Jurnal Farmasi Lampung Vol. 6. No.2 Desember 2017

2. Kandungan klorin pada perendaman Carrageenan. Hydrobiologia,


kedua yaitu pada sampel A sebesar editor. 326-327 : 35-36.
0.019 %, pada sampel B sebesar
0.015 %, pada sampel C sebesar [4] Poncomulyo, T., Maryani H.,
0.03 %, pada sampel D sebesar Kristiani L. 2006, Budidaya dan
0.008 %, dan sampel F sebesar Pengolahan Rumput Laut.
0.057 %. Pada sampel H kadar klorin Jakarta: Agromedia Pustaka.
pada perendaman kedua menjadi
negatif atau hilang. [5] Asnawi. 2008. Pengaruh Kondisi
Prespirasi terhadap Rendeman
SARAN Sifat Keragenan dari Rumput Laut
Eucheuma cottonii. Surakarta.
1. Bagi masyarakat jika ingin
mengkonsumsi rumput laut [6] Darniadi, S. 2010, Identifikasi
sebaiknya melakukan pencucian Bahan Tambahan Pangan (BTP)
atau perendaman rumput laut Pemutih pada Beras. Bogor: Balai
sebanyak dua atau tiga kali Besar Pascapanen Pertanian;.
pencucian dengan tujuan untuk 1311-1317.
mengurangi residu klorin pada
rumput laut. [7] Novita, SD. 2009. Perbedaan
2. Bagi masyarakat jika ingin Kandungan Klorin (Cl2) Pada
membeli rumput laut sebaiknya Beras Sebelum dan Sesudah
jangan memilih rumput laut yang Dimasak. FKM USU, Medan.
berwarna terlalu putih karna
seharusnya rumput laut [8] Adiwisastra, A. 1989. Bahaya
berwarna putih tulang Serta Penanggulangan
Keracunan. Bandung: Angkasa.

DAFTAR PUSTAKA [9] Rini, Suwito, Vivien, A. 2011.


Penentuan Kadar Klorin (Cl2)
[1] Kadi A., Atmadja WS. 1998, Dalam Cairan Pemutih dengan
Rumput Laut (Algae) Jenis Titrasi Iodometri, Prodi Kimia
Reproduksi, Produksi, Budidaya PMIPA UNRI.
dan Pascapanen. LIPI PP dan
PO, editor. Jakarta: Proyek Studi [10] Achmad, H. 2006. Dampak
Sumber Daya Alam Indonesia;. Penggunaan Klorin. P3 Teknologi
71 p. Konversi dan Konservasi Energi
Deputi Teknologi Informasi,
[2] KKP. 2002, Teknologi Energi Material dan Lingkungan.
Pemanfaatan Rumput Laut. Jakarta: Badan Pengkajian dan
Jakarta: Pusat Riset Pengolahan Penerapan Teknologi.
Produk dan Sosial Ekonomi
Kelautan dan Perikanan

[3] Bixler, H.J. 1996. Recent


Development in the
Manufacturing and Marketing
21

18
JFL
Jurnal Farmasi Lampung Vol. 6. No.2 Desember 2017

[11] Kemenkes RI. 2012. Peraturan


Menteri Kesehatan Tentang
Bahan Tambahan Pangan No.
033 / Menkes /Per/IX/2012,
http://www.Hukumonline.com
(Diakses 10 Desember 2016).

[12] Basset, J. 1994. Kimia


Analisis Kuantitatif Anorganik.
Buku Ajar Vogel. 4th ed. Jakarta:
EGC.

[13] Parnomo, A. 2003, Pembuatan


Cairan Pemutih. Jakarta: Puspa
Swara.

[14] Day dan Underwood A.L. R.A.


Day Jr. 2001. Analisa Kimia
Kuantitatif, Jakarta, Erlangga.

[15] Ganjar, I.G., Rohman A. 2009.


Kimia Farmasi Analisis,
Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

[16] Haryadi, W. 1990. Kimia


Kuantitatif, Jakarta, Erlangga.

[17] AJTZAPI, H.S. 2006. Rumput


Laut. Jakarta: Penebar Swadaya.

22

18