Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP TEORI BAYI BARU LAHIR

1.1. Definisi
Bayi baru lahir atau neonatus adalah bayi yang berusia 0-28 hari

(Kementerian Kesehatan RI, 2010). Bayi baru lahir adalah bayi berusia satu jam

yang lahir pada usia kehamilan 37-42 minggu dan berat badannya 2500-4000

gram (Dewi, 2010).


Periode neonatal/neonatus/BBL adalah periode sejak bayi lahir sampai 28

hari pertama kehidupan. Selama beberapa minggu, neonatus mengalami masa

transisi dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin dan menyesuaikan

dengan lingkungan yang baru. Kebanyakan neonatus yang matang (matur usia

kehamilannya) dan ibu yang mengalami kehamilan yang sehat dan persalinan

beresiko rendah, untuk mencapai masa transisi ini berjalan relatif mudah

(Februanti, 2013).

1.2. Karakteristik
Bayi baru lahir normal memiliki karakteristik berat badan lahir 2500-4000

gram,umur kehamilan 37-40 minggu, bayi segera menangis, bergerak aktif, kulit

kemerahan, menghisap ASI dengan baik, dan tidak ada cacat bawaan (Kemenkes

RI, 2010).
Bayi baru lahir normal memiliki panjang badan 48-52 cm, lingkar dada

30-38 cm, lingkar lengan 11-12 cm, frekuensi denyut jantung 120-160 x/menit,

pernapasan 40-60 x/menit, lanugo tdiak terlihat dan rambut kepala tumbuh

sempurna,kuku agak panjang dan lemas, nilai APGAR lebih dari 7, refleks-refleks

sudah terbentuk dengan baik (Rooting, sucking, morro, grasping), organ genitalia

pada bayi laki-laki testis sudah berada pada skrotum dan penis berlubang, pada

bayi perempuan vagina dan uretra berlubang serta adanya labia minora dan

1
mayora, mekonium sudah keluar dalam 24 jam pertama berwarna hitam

kecoklatan (Dewi, 2010).

1.3. Adaptasi Fisiologis


1. Sistem pernapasan
Sebelum lahir, O2 janin disuplai oleh plasenta sehingga agar neonatus

dapat bertahan, maka maturasi organ paru sangat penting karena proses

ini melibatkan faktor fisik, sensorik dan kimiawi ( perubahan tekanan

dari kehidupan di dalam uterus & kehidupan di luar uterus mungkin

menghasilkan stimulasi fisik untuk mempercepat pernafasan.


Karakteristik Pernapasan BBL :
1) Jam – jam pertama sering disebut reaktivitas
2) Respirasi rate BBL normal 30-60x/menit tapi kecepatan dan

kedalamannya tidak teratur, nafas dapat berhenti sampai 20 detik,

RR bisa sampai 80x/menit.


3) Dapat terjadi nafas cuping hidung, retraksi dada
2. Sistem Kardiovaskular
Menilai volume darah pada BBL sulit. Saat dilakukan klem pada tali

pusat terjadi peningkatan volume darah yang cepat sehingga menekan

vaskulari jantung dan paru. BBL dapat menjadi hiperbilirubinemia

selama minggu-minggu pertama kehidupannya sebagai hasil dari

pemecahan hemoglobin tambahan. Sirkulasi perifer dari BBL agak

lambat sehingga terjadi sianosis residual pada area tangan, kaki, dan

sirkumoral BBL. Frekuensi nadi cenderung tidak stabil dan mengikuti

pola yang serupa dengan pernapasan, frekuensi nadi normal 120-

160x/menit. (Februanti, 2013).


Karakteristik kardiovaskuler pada BBL :
1) Jika BBL menangis, heart rate dapat mencapai 180x/menit namun

jika BBL tidur heart rate turun menjadi 100x/menit, perubahan

sirkulasi menyebabkan darah mengalir ke paru-paru.

2
2) Perubahan tekanan di (paru-paru, jantung, dan pembuluh darah

besar) menyebabkan menutupnya foramen ovale, duktus arteriosus,

duktus venosus.
3) Inspirasi oksigen menyababkan vena pulmonal dilatasi sehingga

resistensi vaskuler di pulmonal menurun (tekanan di atrium kanan,

ventrikel kanan, arteri pulmonal menurun sehingga terjadi

peningkatan aliran darah pulmonal.


4) Kondisi yang mempengaruhi penutupan duktus : peningkatan

konsentrasi oksigen dalam darah, penurunan prostaglandin (dari

plasenta), asidosis (PO2 menurun, pH menurun, PCO2 meningkat).


3. Sistem Termoregulasi
Karakteristik BBL yang dapat menyebabkan hilangnya panas antara

lain kulit tipis, pembuluh darah yang dekat dengan permukaan, sedikit

lemak subkutan. Untuk menjaga panas, bayi cukup bulan yang sehat

akan mempertahankan posisi fleksi. (Februanti, 2013).


BBL dapat kehilangan panas melalui cara :
1) Penguapan/evaporasi : terjadi ketika permukaan yang basah

terkena udara (selama mandi, insesible water lose (IWL kehilangan

panas tanpa disadari, linen basah atau pakaian)


2) Konduksi terjadi ketika bayi bersentuhan langsung dengan benda-

benda yang lebih dingin dari kulit mereka (skala, tangan dingin,

stetoskop)
3) Konveksi , terjadi ketika panas dipindahkan ke udara sekitar bayi

(pintu/jendela terbuka, AC)


4) Radiasi, transfer panas ke benda dingin yang tidak bersentuhan

langsung dengan bayi (bayi didekat panas permukaan yang dingin

hilang keluar dinding dan jendela)


4. Sistem Neurologis
Perawat harus mengkaji reflek-reflek fisiologi BBL karena hal ini penting

sekali untuk mengetahui reflek protektif seperti blink, gag, bersin, batuk.

3
Sedangkan reflek primitif : rooting/sucking, morro, startle, tonic neck,

stepping and palmar/plantar grasp. Berikut adalah perbedaan caput

succedanum dan cephalematom :

caput succedanum cephalematom


- Muncul saat lahir - Muncul beberapa jam setelah
- Tidak bertambah besar
- Hilang beberapa hari lahir
- Batas tidak tegas - Bertambah besar pada 2-3
- Kadang – kadang melewati
hari
sutura - Hilang setelah 6 minggu
- Tidak ada komplikasi - Batas tegas
- Tidak melewati sutura
- Penyebab perdarahan

periosteum
- Komplikasi : jaundice,

fraktur, perdarahan

intrakanial

5. Sistem Hematologi
Volume darah rata-rata pada BBL 80-85 ml/kg. Eritrosit atau sel darah

merah lebih banyak mengandung hemoglobin dan hematokrit

dibandingkan dengan dewasa. Sedangkan leukosit 9000-30.000/mm3.


BBL memiliki resiko defisiensi pembekuan darah, hal ini terjadi

karena :
1) BBL beresiko defisit faktor pembekuan darah, hal ini terjadi karena

kurang vitamin K (berfungsi sebagai aktivasi /pemicu faktor

pembekuan secara umum (faktor II,VII,IX,X)


2) Vitamin K disintesis di usus tapi makanan dan flora usus normal

membantu proses ini


3) Untuk mengurangi resiko pendarahan, vitamin K diberikan secara

intramuskular.
6. Sistem Gastrointestinal

4
BBL harus mulai makan,mencerna, dan mengabsorbsi makanan setelah

lahir. Kapasitas lambung 6ml/kg saat lahir bertambah sekitar 90 ml

pada hari pertama kehidupan. Udara masuk ke saluran gastrointestinal

setelah lahir dan bising usus terderngar pada jam pertama. Enzim

mengkatalis protein dan karbohidrat sederhana. Enzim pancreatic

lipase sedikit diproduksi,lemak susu dalam ASI mudah dicerna

dibanding dengan susu formula. BBL yang aterm (matang usia

kehamilannya) memiliki kadar glukosa stabil 50-60mg/dl (jika

dibawah 40 mg/dl hipoglikemia) (Februanti, 2013).


Fisiologis jaundice pada BBL terjadi pada usia 2-3 hari setelah lahir.

Sedangkan jaundice patologis muncul pada 24 jam pertama. Jumlah

bilirubin direct diatas 1 mg/dl atau bilirubin total >5mg/dl. Jaundice

patologis terjadi karena destruksi eritrosit yang berlebih. Sumber

bilirubin adalah berasal dari hemolisis eritrosit.


Hemolisist bilirubin bilirubin tak terkonjugasi menyebar di

serum darah tenpat mengikat albumin, lemak subkutan, dan jaundice,

jaringan otak hati dan glucoronyl transferase

empedu duodenum dan intestinal flora ekskresi.


Bilirubin serum normal 5-7 mg/dl
7. Sistem Imunitas
BBL kurang efektif melawan infeksi karena SDP beresbon lambat

dalam menghadapi mikrooganisme. BBL mendapat imunitas pasif dari

ibu selama kehamilan trimester 3, kemudian dilanjutkan dengan

pemberian ASI. Ig G menembus plasenta saat fetus (imunitas pasif

temporer terhadap toksin bakteri dan virus. Ig M diproduksi BBL

untuk mencegah oenyerangan bakteri gram negatif. Ig A diproduksi

5
BBL setelah usia 6-12 minggu setelah lahir (bisa didapat pada

kolostrum dan ASI) (Februanti, 2013).


8. Sistem urinary
Kemampuan bayi dalam mengkonsentrasikan urin kurang.intake atau

asupan 2 hari pertama : 65ml/kg. Output 2-6x/hari


Distribusi cairan pada BBL :
Total cairan tubuh 78%, cairan ekstraseluler 45%, cairan intraseluler

33% sedangkan dewasa total cairan tubuh 55-60%, cairan ekstraseluler

20%, cairan intraseluler 40%. BBL mudah kehilangan bikarbonat

sampai dibawah dewasa (meningkat resiko asidosis) (Februanti, 2013).


9. Sistem Endokrin
Sistem ini merupakan sistem yang kondisinya lebih baik daripada

sistem yang lainnya. Jika terjadi gangguan biasanya berkaitan dengan

kondisi hormonal ibunya. Contoh : pseudomenstruasi (seperti terdapat

menstruasi pada BBL perempuan), breast engorgement (seperti

terdapat pembesaran pada payudara). Kondisi tersebut adalah normal

pada bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan DM.


1.4. Klasifikasi
Menurut Marmi (2015), bayi baru lahir atau neonatus dibagi dalam

beberapa klasifikasi, yaitu :


1. Neonatus menurut masa gestasinya :
1) Kurang bulan (preterm infant) : <259 hari (37 minggu)
2) Cukup bulan (term infant) :259-294 (37-42 minggu)
3) Lebih bulan (post term infant) : > 294 hari (42 minggu atau

lebih)
2. Neonatus menurut berat badan lahir
1) Berat badan lahir rendah : <2500 gram
2) Berat lahir cukup : 2500 - 4000 gram
3) Berat lahir lebih : >4000 gram
3. Neonatus menurut berat lahir terhadap masa gestasi (masa gestasi dan

ukuran berat lahir yang sesuai untuk masa kehamilan :


1) Neonatus cukup/kurang/lebih bulan (NCB/NKB/NLB)
2) Sesuai/kecil/besar untuk masa kehamilan (SMK/KMK/BMK)
1.5. Pernapasan Pada Bayi Baru Lahir

6
Proses perkembangan organ pernapasan bayi telah dimulai sejak dalam

kandungan. Percabangan bronkus, alveoli, dan pembuluh darah pulmonal mulai

berkembang. Perkembangan alveoli yang merupakan tempat terjadinya pertukaran

gas masih berlanjut sampai setelah bayi lahir. Perkembangan belum sempurna

terjadi pada paru, otot pernapasan, dan saraf pengaturan pernapasan. Selain itu

secara mekanik juga memiliki kelemahan yaitu diafragma bayi masih rentan

terhadap kelelahan. Pada bayi dengan kelahiran prematur, organ pernapasan ini

berkembang secara immatur, terutama pusat pengaturan pernapasan. Sebagai

akibatnya bayi prematur rentan terhadap terjadinya henti napas (Weiss &

Tolomeo, 2012).
Henti napas sering terjadi pada bayi dengan usia gestasi kurang dari 37

minggu. Comitte on Fetus and Newborn (2003 dalam Weiss & Tolomeo, 2012)

menyebutkan bahwa apnea yang signifikan pada bayi adalah henti napas selama

lebih dari 20 detik atau lebih dari 10 detik yang disertai bradikardia atau

desaturasi <80-85%. Apnea of prematurity terjadi pada lebih dari 50% bayi

prematur dan mayoritas pada bayi dengan berat lahir kurang dari 1000 gram

(Alden et al., 1972 dalam Weiss & Tolomeo, 2012).


1.6. Penatalaksanaan Bayi Baru Lahir
Semua bayi diperiksa segera setelah lahir untuk mengetahu apakah transisi

dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterine berjalan dengan lancar dan tidak ada

kelainan. Pemeriksaan medis komprehensif dilakukan dalam 24 jam pertama

kehidupan. Pemeriksaan rutin pada bayi baru lahir harus dilakukan, tujuannya

untuk mendeteksi kelainan atau anomali kongenital yang muncul pada setiap

kelahiran dalam 10-20 per 1000 kelahiran, pengelolaan lebih lanjut dari setiap

kelainan yang terdeteksi pada saat antenatal, mempertimbangkan masalah

potensial terkait riwayat kehamilan ibu dan kelainan yang diturunkan, dan

7
memberikan promosi kesehatan, terutama pencegahan terhadap sudden infant

death syndrome (SIDS) (Lissauer, 2013).


Tujuan utama perawatan bayi segera sesudah lahir adalah untuk

membersihkan jalan napas,memotong dan merawat tali pusat, mempertahankan

suhu tubuh bayi, identifikasi dan pencegahan infeksi (Saifuddin, 2008).


Asuhan bayi baru lahir meliputi :
1. Pencegahan infeksi (PI)
2. Penilaian awal untuk memutuskan resusitasi pada bayi
Untuk menilai apakah bayi mengalami asfiksia atau tidak dilakukan

penilaian sepintas setelah seluruh bayi lahir dengan tiga pertanyaan :


1) Apakah kehamilan cukup bulan?
2) Apakah bayi menangis atau bernapas/tidak megap-megap
3) Apakah tonus otot bayi baik atau bayi bergerak aktif

Jika ada jawaban “tidak” kemungkinan bayi mengalami asfiksia

sehingga harus segera dilakukan resusitasi. Penghisapan lendir pada

jalan napas bayi tidak dilakukan secara rutin (Kemenkes RI, 2013).

3. Pemotongan dan perawatan tali pusat


Setelah penilaian sepintas dan tidak ada tanda asfiksia pada bayi,

dilakukan manajemen bayi baru lahir normal dengan mengeringkan

bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian

tangan tanpa membersihkan verniks, kemudian bayi diletakkan diatas

dada atau perut ibu. Setelah pemberian oksitosin pada ibu, lakukan

pemotongan tali pusat dengan satu tangan melindungi perut bayi.


Perawatan tali pusat adalah dengan tidak membungkus tali pusat atau

mengoleskan cairan/bahan apapun pada talipusat (Kemenkes RI,

2013). Perawatan medis untuk tali pusat adalah selalu cuci tangan

sebelum memegangnya,menjaga tali pusat tetap kering dan terpapar

udara, membersihkan dengan air, menghindari pemberian alkohol

8
karena dapat menghambat pelepasan tali pusat, dan melipat popok

dibawah umbilikus (Lissauer, 2013).


4. Inisiasi Menyusui Dini
Setelah bayi lahir dan tali pusat dipotong, segera letakkan bayi

tengkurap di dada ibu, kulit bayikontak dengan kulit ibu untuk

melaksanakan proses IMD selama 1 jam. Biarkan bayi mencari,

menemukan puting, dan mulai menyusu. Sebagian besar bayiakan

berhasil melakukan IMD dalam waktu 60-90 menit, menyusu pertama

biasanya berlangsung pada menit ke 45-60dan berlangsung selama 10-

20 menit dan bayi cukup menysu dari satu payudara (Kemenkes RI,

2013).
Jika bayi belum menemukan puting ibudalam waktu 1 jam, posisikan

bayi lebih dekat dengan puting ibu dan biarkan kontak kulitselama 30-

60 menit berikutnya. Jika bayi masih belum melakukan IMD

dalamwaktu 2 jam, lanjutkan asuhan keperawatan neonatal esensial

lainnya (menimbang, pemberian vitamin K, salep mata, serta

pemberian gelang pengenal) kemudian dikembalikan lagi kepada ibu

untuk belajar menyusu (Kemenkes RI, 2013).


5. Pencegahan kehilangan panas melalui tunda mandi selama 6

jam,kontak kulit bayi dan ibu serta menyelimuti kepala dan tubuh bayi

(Kemenkes RI, 2013).


6. Pemberian salep mata atau tetes mata
Pemberian salep mata atau tetes mata diberikan untuk pencegahan

infeksi mata. Beri bayi salep atau tetes mata antibiotika profilaksis

(tetrasiklin 1%, oxytetrasiklin 1% atau antibiotika lain). Pemberian

salep atau tetes mata harus tepat 1 jam setelah kelahiran. Upaya

9
pencegahan infeksi mata tidak efektif jika diberikan lebih dari satu jam

setelah kelahiran (Kemenkes RI, 2013).


7. Pencegahan perdarahan melalui penyuntikan vitamin K1

(Phytomenadion) 1 mg intramuskuler di paha kiri, untuk mencegah

perdarahan BBL akibat defisiensi vitamin yang dapat dialami oleh

sebagian bayi baru lahir (Kemenkes RI, 2010). Pemberian vitamin K

sebagai profilaksis melawan haemorragic disease of the newborn

dapat diberikan dalam suntikan yang memberikan pencegahan lebih

terpercaya, atau secara oral yang membutuhkan beberapa dosis untuk

mengatasi absorbsi yang bervariasi dan proteksi yang kurang pasti

pada bayi (Lissauer, 2013). Vitamin K dapat diberikan dalam waktu 6

jam setelah lahir (Lowry, 2014).


8. Pemberian imuniasi hepatitis b (HB 0) dosis tunggal di paha kanan
Imunisasi hepatitis B diberika 1-2 jam di paha kanan setelah

penyuntikan vitamin K1 yang bertujuan untuk mencegah penularan

hepatitis B melalui jalur ibu ke bayi yang dapat menimbulkan

kerusakan hati (Kemenkes RI, 2010).


9. Pemeriksaan Bayi Baru Lahir (BBL)
Pemeriksaan BBL bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin

kelainan pada bayi. Bayi yang lahir di fasilitas kesehatan dianjurkan

tetap berada di fasilitas tersebut selama 24 jam karena resiko terbesar

kematian BBL terjadi pada 24 jam pertama kehidupan. Saat kunjungan

tindak lanjut (KN) yaitu 1 kali pada umur 1-3 hari, 1 kali pada umur 4-

7 hari dan 1 kali pada umur 8-28 hari (Kemenkes RI, 2010).
10. Pemberian ASI Ekslusif
ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman

tambahan pada bayi berusia 0-6 bulan dan jika memungkinkan

dilanjutkan dengan pemberian ASI dan makanan pendamping sampai

10
usia 2 tahun. Pemberian ASI eksklusifmempunyai dasar hukum yang

diatur dalam SK MenKes Nomor 450/Menkes/SK/IV/2004 tentang

pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan. Setiap bayi mempunyai

hak untuk dipenuhi kebutuhan dasarnya seperti Inisiasi Menyusui Dini

(IMD), Asi eksklusif, dan imunisasi serta pengamanan dan

perlindungan bayi baru lahir dari upaya penculikan dan perdagangan

bayi.

BAGAN ALUR
MANAJEMEN BAYI BARU LAHIR NORMAL

PENILAIAN :
Sebelum bayi lahir :
1. Apakah kehamilan cukup bulan
2. Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur
mekonium?
Segera setelah bayi lahir :
1. Apakah bayi menangis atau bernapas/tidak megap-
megap
- Bayi
2. Apakah cukup
tonus ototbulan
bayi baik/bayi bergerak aktif?
- Ketuban jernih
- Bayi menangis atau bernapas
- Tonus otot bayi baik/bayi bergerak aktif

11
Asuhan Bayi Baru Lahir
1. Jaga bayi tetap hangat
2. Isap lendir dari mulut dan hidung (hanya jika perlu)
3. Keringkan
4. Pemantauan tanda bahaya
5. Klem, potong dan ikat tali pusat tanpa membubuhi apapun kira-kira
2 menit setelah lahir
6. Lakukan inisiasi menyusui dini
7. Beri salep mata antibiotika pada kedua mata
8. Pemeriksaan fisis
9. Beri imunisasi hepatitis B 0,5 ml intramuskular di paha kanan
anterolateral, kira-kira 1-2 jam setelah pemberian vitamin K1

KONSEP PEMERIKSAAN FISIK BAYI BARU LAHIR

Berikut adalah konsep teori pemeriksaan fisik bayi baru lahir menurut
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2013.

12
13
14
15
16
17
18
19
ASUHAN KEPERAWATAN KASUS BY.Ny D
BAYI BARU LAHIR NORMAL
A. Pengkajian
1) Identitas
Nama : By. Ny. D
Tanggal lahir : 5 januari 2018
No. RM : 11800357
Asal Masuk : perinatologi
2) Keluhan utama : Bayi baru lahir
3) Riwayat penyakit Sekarang :
Bayi baru lahir secara sectio caesaria atas indikasi riwayat SC 5 tahun
yang lalu , jenis kelamin laki-laki, Apgar Score 6/8, ketuban jernih, BB
: 2840 gram PB : 48 cm, anus ada, caput tidak ada, cacat tidak ada.
4) Riwayat penyakit terdahulu : Tidak ada
5) Riwayat penyakit keluarga : Tidak ada
6) Riwayat Kelahiran
Natal : Sectio caesaria atas indikasi riwayat SC 5 tahun yang lalu

20
BB : 2840 gr
PB :48 cm
7) Tanda-tanda vital
Nadi : 150x/menit
Suhu : 35,50C
Frekuensi Napas : 50x/menit
Lingkar Kepala : 32cm
8) Pemeriksaan Fisik (Review of System)
Breath (B1)
Pola nafas teratur, bunyi nafas vesikuler, tidak ada sesak, tidak ada
retraksi dada, bentuk dada normal, tidak batuk

Blood (B2)
CRT < 2 detik, sklera anikterus, akral dingin, bunyi jantung normal
(s1 s2 tunggal), tidak ada edema, tidak ada clubbing finger.

Brain (B3)
Swallow(+), rooting (+), sucking (+)
Bladder (B4)
BAK (-),

Bowel (B5)
Diit PASI 8x5-10cc/sp, abdomen supel, tidak ada luka operasi, tali
pusat ada terbungkus kassa steril, membran mukosa lembab, BAB (-).

Bone (B6)
Gerak sendi bebas
Kekuatan otot 5 5
5 5
Integritas kulit baik

9) Pengkajian Nyeri (Wong Baker Scale)

21
Skala nyeri : 0 (Tidak teridentifikasi nyeri)

10) Pengkajian Resiko Jatuh (Humpty Dumpty)


Faktor resiko Skala Poin Skor
Umur Kurang dari 3 tahun 4 4
3-7 tahun 3 -
7-13 tahun 2 -
>13 tahun 1 -
Jenis kelamin Laki-laki 2 2
Perempuan 1 -
Diagnosa Neurologi 4 -

Respiratori, dehidrasi, anemia, 3 -


anoreksia, syncope
Perilaku 2 -
Lain-lain 1 1
Gangguan Keterbatasan daya pikir 3 0
kognitif Pelupa, berkurangnya orientasi 2 -
sekitar
Dapat menggunakan daya pikir 1 -
tanpa hambatan
Faktor Riwayat jatuh bayi/balita yang 4 -
lingkungan ditempatkan di tempat tidur
Pasien yang menggunakan alat 3 -
bantu bayi/balita dalam ayunan
Pasien di tempat tidur standart 2 2
Area pasien rawat jalan 1 -
Respon terhadap Dalam 24 jam 3 -
pembedahan, Dalam 48 jam 2 -
sedasi, atau Lebih dari 48 jam/ tidak ada respon 1 0
anastesi

Pengaruh obat- Penggunaan bersamaan sedatif, 3 -


obatan barbiturate, anti depresan, diuretik,
narkotik
Salah satu dari obat diatas 2 -
Obat-obat lainnya atau tanpa obat 1 1
Total 10

B. Aanalisa Data
Data Etiologi Masalah Keperawatan
DS : - Bayi baru lahir Hipotermi
DO :

22
S : 35,30C Perubahan fisiologis
Akral dingin, bayi
baru lahir terlihat Termoregulasi
kebiruan
Adaptasi hangat ke
dingin
DS : Bayi baru lahir Resiko Infeksi
DO :
S; 35,30C, Trauma Adaptasi fisiologis
Jaringan (tali pusat),
Pemotongan tali pusat

Port de entry bakteri

Sistem imun belum


sempurna

Resiko infeksi

C. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan


1. Hipotermi berhubungan dengan lingkungan yang bersuhu rendah
Data Objektif : Hipotermi neonatus grade 2 (350-35,90C)
Akral dingin.
Tujuan : setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 6 jam
thermoregulasi pasien adekuat
Kriteria hasil
- Warna kulit bayi normal
- Bayi mampu disapih di tempat tidur bayi
- Temperatur stabil
Intervensi :
1. Monitor
1) Monitor suhu tubuh pasien

23
2) Monitor status pernapasan, pantau adanya tanda distress
pernapasan
3) Observasi warna kulit bayi
2. Mandiri
1) Jaga suhu tubuh agar tetap stabil (keringkan bayi baru lahir,
selimuti bayi baru lahir dan hangatkan, pakaikan penutup kepala)
3. Edukasi
1) Ajarkan keluarga cara memandikan bayi, jaga baju bayi selalu
kering
4. Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian terapi farmakologis yang tidak
memperparah hipertermi
2. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan (tali pusat)
Data obyektif : trauma pada talipusat
Tujuan : setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x 24
jam diharapkan tidak ada tanda infeksi.
Kriteria hasil :
- Tidak terdapat tanda infeksi
- Suhu tubuh dalam batas normal
Intervensi :
1. Monitor
1) Kaji kemerahan, suhu, dan kelembapan kulit dan membran
mukosa
2) Kaji kondisi luka atau daerah insisi
3) Monitor tanda dan gejala infeksi baik infeksi sistemik
maupun terlokalisir
4) Monitor bagian tubuh atau luka pasien yang mudah terkena
infeksi
5) Monitor perubahan tingkat energi/malaise
2. Mandiri
1) Pertahankan teknik aseptik pada pasien yang terkena resiko
infeksi

24
2) Berikan perawatan pade tali pusat
3) Batasi jumlah pengunjung
4) Beri minum ASI/PASI setiap 3 jam
3. Edukasi
1) Ajarkan pada anggota keluarga tentang bagaimana cara
pencegahan infeksi
4. Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian antibiotik

25
D. Implementasi dan Evaluasi
Tanggal dan Masalah Implementasi Tanggal Evaluasi
Waktu Keperawatan & waktu
05-01-2018 Hipotermi 1. Memonitor suhu 21.00 S:-
15.30 WIB tubuh pasien O : S : 36,30C
2. Memonitor status Akral hangat,bayi
pernapasan, pantau rawat bisa disapih di
adanya tanda distress tempat tidur bayi,
pernapasan klinis kemerahan,
3. Mengobservasi tidak ada- tanda sesak
warna kulit bayi A :Hipotermi teratasi
4. Menjaga suhu tubuh P: pertahankan
agar tetap stabil intervensi
(keringkan bayi baru
lahir, selimuti bayi
baru lahir dan
hangatkan, pakaikan
penutup kepala)

05-01-2018 Resiko 1. Mengkaji kemerahan, 20.30 S :-


15.30 WIB infeksi suhu, dan kelembapan O : S ;36,30C, gerak
kulit dan membran tangis kuat aktif, tali
mukosa pusat terbungkus kasa
2. Mengkaji kondisi luka steril, tidak ada tanda-
atau daerah insisi tanda infeksi pada
3. Memonitor tanda dan talipusat (kemerahan
gejala infeksi baik (-), peningkatan suhu
infeksi sistemik tubuh (-), bengkak (-),
maupun terlokalisir eksudat (-), diit
4. Memonitor bagian ASI/PASI 5-10 cc/sp,
tubuh atau luka pasien A :Resiko Infeksi
yang mudah terkena P : Lanjutkan

26
infeksi intervensi
5. Memonitor perubahan Monitor :1,2,3,4,6
tingkat energi/malaise Mandiri :1,2,4,5
6. Mempertahankan Edukasi : -
teknik aseptik pada Kolaborasi :
pasien yang terkena kolaborasi rencana
resiko infeksi imunisasi hepatitis B
7. Memerikan perawatan dan polio
pade tali pusat
8. Membatasi jumlah
pengunjung
9. Memberi minum
ASI/PASI setiap 3 jam
10. Menjelaskan pada
anggota keluarga
tentang bagaimana
cara pencegahan
infeksi
11. Kolaborasi pemberian
antibiotik (sagestam
tetes mata dextra
sinistra 1x1 tetes)

06-01-2018 Resiko 1. Mengkaji kemerahan, 20.30 S :-


14.30 WIB infeksi suhu, dan kelembapan O : S ;36,90C, gerak
kulit dan membran tangis kuat aktif, tali
mukosa pusat ada terbungkus
2. Mengkaji kondisi luka kasa steril, tidak ada
atau daerah insisi tanda-tanda infeksi
3. Memonitor tanda dan pada tali pusat
gejala infeksi baik (kemerahan (-),
infeksi sistemik peningkatan suhu
maupun terlokalisir tubuh (-), bengkak (-),

27
4. Memonitor bagian eksudat (-)), diit
tubuh atau luka pasien ASI/PASI 10-15 cc/sp,
yang mudah terkena A :Resiko Infeksi
infeksi P : Lanjutkan
5. Memonitor perubahan intervensi
tingkat energi/malaise Monitor :1,2,3,4,6
6. Mempertahankan Mandiri :1,2,4,5
teknik aseptik pada Edukasi : -
pasien yang terkena Kolaborasi :
resiko infeksi kolaborasi rencana
7. Memberikan imunisasi hepatitis B
perawatan pada tali dan polio
pusat
8. Membatasi jumlah
pengunjung
9. Memberi minum
ASI/PASI setiap 3 jam
10. Menjelaskan pada
anggota keluarga
tentang bagaimana
cara pencegahan
infeksi
11. Kolaborasi pemberian
antibiotik (sagestam
tetes mata dextra
sinistra 1x1 tetes)

DAFTAR PUSTAKA
Dewi, 2010, Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita, Jakarta:Salemba Medika
Februanti, 2013 Konsep dan Asuhan Keperawatan Ibu Intranatal dan Bayi Baru
Lahir, Jakarta : Badan PPSDM Kementerian Kesehatan RI
Lissauer, Avroy, 2013, Selayang Neonatologi, edisi kedua, Jakarta : Indeks

28
KemenKes RI, 2013, Keperawatan Maternitas I, Jakarta : Pusdiklatnakes
Weiss., & Tolomeo, 2012, Neonatal Lung Disease : Apnea of Prematurity and
Bronchopulmonary Dysplasia. In Nursing Care Pediatric respiratory
Disease, West sussex:Wiley-Blackwell

29