Anda di halaman 1dari 10

Definisi

Hepatitis C adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis C


(HVC) yang dapat menimbulkan peradangan bahkan kerusakan sel –sel hati. Virus
ini dapat mengakibatkan infeksi seumur hidup, sirosis hari, kanker hati dan
kematian. Belum ada vaksin yang dapat melindungi terhadap HCV, dan
diperkirakan 3% masyarakat Indonesia terinfeksi virus ini (Nur, 2016).

Epidemiologi

HCV merupakan masalah kesehatan masyarakat dunia yang amat serius.


Infeksi HCV menjadi pandemi atau wabah global. Orang yang terkena virus ini
jauh lebih banyak daripada seluruh manusia yang terinfeksi Human
immunodefidency Virus (HIV). Menurut angka Organisasi Kesehatan Sedunia
(WHO), sedikitnya 175 juta umat manusia terinfeksi HCV. Angka ini meliputi
3% dari seluruh populasi manusia di Dunia (Rusli, 2018).
Di Indonesia belum ada data resmi mengenai infeksi HCV tetapi
dari laporan pada lembaga transfusi darah didapatkan lebih kurang 2% positif
terinfeksi oleh HCV. Pada studi populasi umum di Jakarta prevalensi HCV lebih
kurang 4%. Menurut survai massal subbagaian Hepatologi FKUI, sekitar
4% penduduk Indonesia terinfeksi HCV.
Tabel 1. Rata-rata prevalensi negara yang terinfeksi HCV

Sumber: World Gastroenterology Organisation Global Guidelines,


Diagnosis, Management and Prevention Of Hepatitis C, April 2013.
Rata-rata prevalensi tertinggi dilaporkan di kembangkan pada negara
miskin di Afrika dan Asia, yang berkembang dan negara-negara industry
memiliki prevalensi rendah yaitu di Eropa dan Amerika Utara. Negara yang
memiliki rata-rata infeksi kronik tinggi adalah Mesir, Pakistan, dan Cina.
Sayangnya, tidak ada data pada Negara Afrika kecuali Mesir, Morocco dan
Afrika Selatan (Umar, et. al, 2014).
Hepatitis C kronik pada umumnya menyebabkan sirosis dan indikasinya
untuk transplantasi hati di Eropa, Amerika Utara dan Selatan, Australia, Jepang
dan Mesir. Rata-rata resiko berkembang menjadi sirosis adalah dari 5%-25%
pada usia 25-30 tahun. Infeksi berjangka dari sakit ringan yang berlangsung hanya
beberapa minggu hingga ke serius (infeksi akut) atau sakit seumur hidup (infeksi
kronis). Kurang lebih 80% dari pasien yang terinfeksi virus hepatitis akan
menjadi terinfeksi secara kronis, dan kebanyakan dari pasien menunjukkan bukti
hepatitis kronis. Periode inkubasi adalah 14-180 hari (rata-rata 45 hari) dan tidak
ada vaksin hepatitis C yang sekarang tersedia (Umar, et. al, 2014).
Tabel 2. Rata-rata perkembangan prevalensi hepatitis C.
Patogenesis

Studi mengenai mekanisme kerusakan sel hati karena HCV masih sulit
dilakukan karena terbatasnya kultur sel untuk HCV dan tidak adanya hewan
model kecuali simpanse yang dilindungi. Kerusakan sel hati akibat HCV atau
partikel virus secara langsung masih belum jelas. Namun beberapa bukti
menunjukan adanya mekanisme imunologis yang menyebabkan kerusakan sel sel
hati. Protein core misalnya ditenggarai dapat menimbulkan reaksi pelepasan
radikal oksigen pada mitokondria. Selain itu, protein ini diketahui pula
mempengaruhi proses signaling dalam inti sel terutama berkaitan dengan
penekanan regulasi imunologik dan apoptosis, adanya bukti bukti ini
menyebabkan kontroversi apakah HCV bersifat sitotoksik atau tidak, terus
berlangsung (Rusli, 2018).
Reaksi cytokine T cell (CTL) spesifik yang kuat diperlukan untuk terjadinya
eliminasi menyeluruh HCV pada infeksi akut. Pada infeksi kronik, reaksi CTL
yang relative lemah masih mampu merusak sel sel hati dan melibatkan proses
inflamasi di hati tetapi tidak bisa menghilangkan virus maupun menekan evolusi
genetic HCV sehingga kerusakan sel hati berjalan terus menerus. Kemampuan
CTL tersebut dihubungkan dengan aktivasi limfosit sel T helper (TH) spesifik
HCV. Adanya pergeseran dominasi aktivitas Th1 menjadi Th2 berakibat pada
reaksi toleransi dan melemahnya respon CTL (Nur, 2016).
Reaksi yang dilibatkan melaluai sitokin sitokin pro-inflamasi seperti TNF-
α, TGF-β1, akan menyebabkan reksutmen sel sel inflamasi lainnya dan
menyebabkan aktivitas sel sel Stelata diruang disse hati. Sel-sel yang khas ini
yang sebelumnya dalam keadaan “tenang” (quicent) kemudian berpoliferasi dan
menjadi aktif menjadi sel-sel miofibroblast, yang dapat menghasilkan matriks
kolagen sehingga terjadi fibrosis dan berperan aktif dalam menghasilkan sitokin-
sitokin pro-inflamasi. Mekanisme ini dapat timbul terus menerus karena reaksi
inflamasi yang terjadi tidak berhenti sehingga fibrosis semakin lama semakin
banyak dan sel sel yang ada semakin sedikit. Proses ini dapat menimbulkan
kerusakan hati lanjut dan sirosis hati (Nur, 2016).
Pada gambaran histopatologis hepatitis kronik dapat ditemukan proses
inflamasi berupa neksosis gergit, maupun lobular, disertai dengan fibrosis di
daerah portal yang lebih lanjut dapat masuk ke lobules hati (fibrosis septal) dan
kemudian dapat menyebabkan nekrosis dan fibrosis jembatan (bridging
fibrosis/nekrosis) gambaran yang khas untuk infeksi HCV adalah agregat
limfosit di lobules hati namun tidak didapatkan pada semua kasus inflamasi
akibat HCV (Kohla, et. al., 2017).
Gambaran histopatologis pada infeksi kronik HCV sangat berperan dalam
proses keberhasilan terapi dan prognosis. Secara histopatologis dapat dilakukan
scoring untuk inflamasi dan fibrosis dihati sehingga memudahkan untuk
keputusan terapi, evaluasi pasien maupun komunikasi antara ahli patologi. Saat
ini sistem scoring yang mempunyai variasi intra dan interoobserver yang baik
diantaranya adalah METAVIR dan ISHAK (Majumdar, 2018).
Sistem skoring Metavir digunakan untuk menilai pasien dengan hepatitis C.
Tingkatan tersebut berdasarkan derajat inflamasi yang terjadi pada hepar antara
lain (Mauro, 2017):
0 : yaitu tidak ada luka
1 : luka yang minimal
2 : luka yang terjadi dan meluas ke area dari hepar termasuk pembuluh darah
3 : fibrosis sudah mulai menyebar dan menghubungkan dengan area lain
4 : sirosis dengan luka tingkat lanjut

Jika masuk ke dalam darah maka HCV akan segera mencari hepatosit (sel
hati) dan kemungkinan sel limfosit B. Hanya dalam sel hati HCV bisa
berkembang biak. Sulitnya membiakkan HCV pada kultur, juga tidak adanya
model binatang non-primata telah memperlambat lajunya riset HCV. Namun daur
hidup HCV telah dapat dikemukakan seperti penjelasan dibawah ini:
Melalui gambar skematis di atas, proses siklus kehidupan HCV
digambarkan secara alur skematis.
1. HCV masuk ke dalam hepatosit dengan mengikat suatu reseptor
permukaan sel yang spesifik. Reseptor ini belum teridentifikasi
secara jelas, namun protein permukaan CD8 adalah suatu HCV
binding protein yang memainkan peranan dalam masuknya virus.
Salah satu protein khusus virus yang dikenal sebagai protein E2
menempel pada reseptor site di bagian luar hepatosit.
2. Kemudian protein inti dari virus menembus dinding sel dengan
suatu proses kimiawi dimana selaput lemak bergabung dengan
dinding sel dan selanjutnya dinding sel akan melingkupi dan
menelan virus serta membawanya ke dalam hepatosit. Di dalam
hepatosit, selaput virus (nukleokapsid) melarut dalam sitoplasma
dan keluarlah RNA virus (virus uncoating) yang selanjutnya
mengambil alih peran bagian dari ribosom hepatosit dalam
membuat bahan- bahan untuk proses reproduksi.
3. Virus dapat membuat sel hati memperlakukan RNA virus
seperti miliknya sendiri. Selama proses ini virus menutup fungsi
normal hepatosit atau membuat lebih banyak lagi hepatosit yang
terinfeksi kemudian menbajak mekanisme sintesis protein
hepatosit dalam memproduksi protein yang dibutuhkannya untuk
berfungsi dan berkembang biak.
4. RNA virus dipergunakan sebagai cetakan (template) untuk
memproduksi masal poliprotein (proses translasi).
5. Poliprotein dipecah dalam unit-unit protein yang lebih kecil.
Protein ini ada 2 jenis yaitu protein struktural dan regulatori.
Protein regulatori memulai sintesis kopi virus RNA asli.
6. Sekarang RNA virus mengopi dirinya sendiri dalam jumlah besar
(miliaran kali) untuk menghasilkan bahan dalam membentuk virus
baru. Hasil kopi ini adalah bayangan cermin RNA orisinil dan
dinamai RNA negatif. RNA negatif lalu bertindak sebagai cetakan
(template) untuk memproduksi serta RNA positif yang sangat
banyak yang merupakan kopi identik materi genetik virus.
7. Proses ini berlangsung terus dan memberikan kesempatan untuk
terjadinya mutasi genetik yang menghasilkan RNA untuk strain
baru virus dan subtipe virus hepatitis C. Setiap copy virus baru
akan berinteraksi dengan protein struktural, yang kemudian akan
membentuk nukleokapsid dan kemudian inti virus baru. Amplop
protein kemudian akan melapisi inti virus baru.
8. Virus dewasa kemudian dikeluarkan dari dalam hepatosit menuju
ke pembuluh darah menembus membran sel. Keluaran dan derajat
keparahan dari infeksi virus hepatitis bergantung pada jenis virus,
jumlah virus dan faktor dari host.

Gambaran Klinis
Gambaran klinis hepatitis virus sangat bervariasi yang dibagi dalam
empat tahap yaitu (Sulaiman, 2014):
1. Fase Inkubasi
Fase inkubasi merupakan waktu diantara masuknya virus dan saat
timbulnya gejala atau ikterus. Fase ini berbeda-beda lamanya tiap
hepatitis virus tergantung pada dosis inokulan yang ditularkan dan jalur
penularan. Makin besar dosis inokulan makin pendek fase inkubasinya.
2. Fase Prodormal (Pre Ikterik)
Fase diantara timbulnya keluhan pertama dan gejala timbulnya ikterus.
Biasanya ditandai dengan malaise umum, mialgia, atralgia, mudah lelah,
gejala saluran napas atas dana anoreksia. Mual, muntah dan anoreksia
berhubungan dengan perubahan penghidu dan rasa kecap. Diare atau
konstipasi dapat terjadi. Nyeri abdomen biasanya ringan dan menetap di
kuadran kanan atas atau epigastrium yang kadang diperberat dengan
aktivitas.
3. Fase Ikterus
Ikterus muncul setelah 5-10 hari timbunya gejala atau dapat bersamaan
dengan munculnya gejala. Pada banyak kasus fase ini tidak terdeteksi.
Setelah timbulnya ikterus jarang terjadi perburukan gejala prodormal dan
justru akan terjadi perbaikan klinis yang nyata.
4. Fase Konvalesen
Fase yang diawali dengan menghilangnya gejala dan ikterus, tetapi
hepatomegali dan abnormalitas fungsi hati tetap ada. Keadaan akut biasanya
akan membaik dalam 2-3 minggu. Pada 5%-10% kasus perjalanan
klinisnya mungkin lebih sulit ditanganim hanya kurang dari 1% yang
menjadi fulminan.

Diagnosis
Hepatitis C juga termasuk penyebab hepatitis menahun yang dapat
menyebabkan pengerasan hati (SH) dan karsinoma sel hati/karsinoma sel
hati//hepatocelullar carcinoma (HCC). Untuk mendiagnosis jangkitan oleh
virus hepatitis C, tetap diperlukan pemeriksaan antiHCV yang juga dapat
dengan uji RIBA. Saat ini telah terdapat antigen teras/inti HCV yang dapat
digunakan untuk menemukan jangkitan (deteksi infeksi) HCV tahapan akut,
masa jeda (window period), juga untuk hepatitis C menahun (chronic hepatitis
C), dan pengobatan pemantauan (monitoring terapi). Untuk memulai
pengobatan perlu ditentukan genotipe hepatitis C, karena untuk pengobatan
genotipe 2 atau 3 sangatlah berbeda dibandingkan dengan genotipe non2/3.
Pemeriksaan HCV RNA menurut jumlah berguna untuk menentukan lama
pengobatan,berguna untuk menentukan lama pengobatan, pemantauan hasil
mengobati dan tanggapan (monitoring respon) pengobatannya (Aryati, 2018).

Gambar .. Tabel diagnosis hepatitis C (Aryati, 2018).

Prognosis dan Perjalanan Alamiah Hepatitis C


Perjalanan alamiah infeksi HCV dimulai sejak virus hepatitis C masuk ke
dalam darah dan terus beredar dalam darah menuju hati, menembus dinding
sel dan masuk ke dalam sel, lalu berkembang biak. Hati menjadi meradang dan
sel hati mengalami kerusakan dan terjadi gangguan fungsi hati dan mulailah
perjalanan infeksi virus hepatitis C yang panjang. Ada 2 mekanisme
bagaimana badan menyerang virus. Mekanisme pertama melalui pembentukan
antibodi yang menghancurkan virus dengan menempel pada protein bagian
luar virus. Antibodi ini sangat efektif untuk hepatitis A dan B. tetapi
sebaliknya antibodi yang diproduksi imun tubuh terhadap HCV tidak bekerja
sama sekali (Vergniol, 2014).
Sekitar 15 % pasien yang terinfeksi virus hepatitis C dapat
menghilangkan virus tersebut dari tubuhnya secara spontan sayangnya,
mayoritas penderita penyakit ini menjadi kronis. Dienstag telah meneliti 189
kasus hepatitis NANB ternyata dari jumlah tersebut 34% penderita hepatitis
kronik pensisten atau hepatitis kronik lobuler, 40% hepatitis kronik aktif dan
18% penderita hepatitis kronik pensisten atau hepatitis kronik lobuler, 40%
hepatitis kronik aktif dan 18% penderita sirosis hati (Vergniol, 2014).
Salah satu konsekuensi paling berat pada hepatitis adalah kanker hati,
hepatitis C kronis merupakan salah satu bentuk penyakit hepatitis paling
berbahaya dan dalam waktu lain dapat terjadi komplikasi. Penderita hepatitis
kronis beresiko menjadi penyakit hati tahap akhir dan kanker hati, penyakit
hati terutama hepatitis C penyebab utama pada transplantasi hati sekarang ini.
Saat hati menjadi rusak, hati tersebut memperbaiki sendiri membentuk
fibrosis, yang menunjukkan semakin parahnya penyakit, sehingga hati menjadi
sirosis. Hampir semua mortalitas hepatitis C berhubungan dengan komplikasi
sirosis hati dan kanker. Sepertiga dari pasien terinfeksi hepatitis kronik tidak
pernah menjadi sirosis. Sepertiga dari kasus hepatitis kronik menjadi sirosis
dalam waktu 30 tahun dan sebagian dapat berkembang menjadi kanker hati.
Sedangkan sepertiga lagi dalam waktu 20 tahun (Vergniol, 2014).
DAFTAR PUSTAKA

Nur, E., 2016. Korelasi Serum Gp73 Terhadap Derajat Fibrosis Hati Pada Pasien
Hepatitis B Dan C (Doctoral dissertation, Universitas Sebelas Maret).
Rusli, B., 2018. Evaluasi Aktivitas Transaminase, Dan Kadar Bilirubin Pada
Penderita Virus Hepatitis B Dan C. Indonesian Journal Of Clinical
Pathology And Medical Laboratory, 16(1), Pp.22-25.
Umar, M., Khan, A.G., Abbas, Z., Arora, S., Asifabbas, N., Elewaut, A., Esmat,
G., Foster, G., Fried, M., Goh, K.L. and Hamama, T.B.K., 2014. World
gastroenterology organisation global guidelines: diagnosis, management
and prevention of hepatitis C april 2013. Journal of clinical
gastroenterology, 48(3), pp.204-217.
Kohla, M.A., Abbasy, M., Abozeid, M., El-Abd, O., Ezzat, S., Kohla, S. and
Abdel-Rahman, M., 2017. Assessment of liver fibrosis with acoustic
radiation force impulse imaging versus liver histology in patients with
chronic hepatitis C: a pilot study. European journal of gastroenterology &
hepatology, 29(8), pp.951-955.
Majumdar, A. and Pinzani, M., 2018. Non‐invasive Assessment of Fibrosis and
Cirrhosis. Sherlock's Diseases of the Liver and Biliary System, pp.93-
106.
Mauro, E., Crespo, G., Londoño, M.C., Diaz, A., Ruiz, P., Sastre, L., Lombardo,
J., Aguirre, J., Colmenero, J. and Navasa, M., 2017. Noninvasive
assessment of liver fibrosis and portal hypertension after viral eradication
in post-transplant hepatitis C. Journal of Hepatology, 66(1), p.S237.
Aryati, A., 2018. Diagnosis Molekul Dan Aplikasi Dalam Pengobatan Hepatitis B
& C. Indonesian Journal Of Clinical Pathology And Medical Laboratory,
16(2), pp.88-92.
Vergniol, J., Boursier, J., Coutzac, C., Bertrais, S., Foucher, J., Angel, C.,
Chermak, F., Hubert, I.F., Merrouche, W., Oberti, F. and de Lédinghen,
V., 2014. Evolution of noninvasive tests of liver fibrosis is associated
with prognosis in patients with chronic hepatitis C. Hepatology, 60(1),
pp.65-76.
Sulaiman A. Hepatitis C. Buku Ajar Ilmu Penyakit Hati Edisi I. Editor: Sulaiman
A, Akbar N, Lesmana LA, Noer S. Pusat Penerbitan Divisi Hepatologi
Departemen ilmu penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta: 2014. 211-235.