Anda di halaman 1dari 7

Agus Hendra AL-Rahmad

PENGGUNAAN GARAM BERYODIUM DAN ASUPAN PROTEIN


TERHADAP PENCAPAIAN PRESTASI MURID SDN 5
KOTA BANDA ACEH
Agus Hendra AL-Rahmad1
1
Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh, Jl. Soekarno Hatta, Kampus Terpadu Poltekkes Kemenkes RI
Aceh Lampeneurut, Aceh Besar. Telp.065146126. email: 4605.ah@gmail.com

ABSTRAK achievement P = 0.073 where (p> 0.05). There is a


relationship of protein intake on learning achievement P
Rendahnya asupan zat gizi mengakibatkan kehilangan = 0.004 where (p <0.05). The use of iodized salt showed
tingkat kecerdasan anak yang berpengaruh terhadap prestasi no relationship to the learning achievement, while protein
belajar anak. Provinsi Aceh, rata-rata anak usia sekolah intake had no significant relationship to the student
dasar mengkonsumsi protein diatas kecukupan konsumsi achievement.
protein perkapita (90-110% AKG). Kota Banda Aceh,
pencapaian indikator kinerja pembinaan gizi, rumah tangga Key words : Iodized salt, Protein intake, Learning
yang mengkonsumsi garam beryodium masih kurang yaitu achievement
hanya 48,7%. Tujuan penelitian yaitu untuk mengukur
hubungan penggunaan garam beryodium dan asupan protein
terhadap prestasi belajar pada murid sekolah dasar.
Penelitian kuantitatif dengan rancangannya adalah
PENDAHULUAN
Crossectional. Variabel penelitian terdiri dari penggunaan Secara statistik dan kependudukan di
garam beryodium dan asupan protein. Data dikumpulkan
dengan cara wawancara dan observasi. Analisa data
Indonesia umur 6 hingga 12 tahun digolongkan
menggunakan uji statistik regresi linier pada CI 95%. Hasil usia sekolah dasar. Selama usia sekolah dasar,
statistik, tidak ada hubungan penggunaan garam beryodium pertumbuhan tetap terjadi walau tidak dengan
terhadap prestasi belajar P=0,073 dimana (p > 0,05). Ada kecepatan pertumbuhan sehebat yang terjadi
hubungan asupan protein terhadap prestasi belajar P=0,004 sebelumnya pada masa bayi atau masa remaja
dimana (p < 0,05). Penggunaan garam beryodium tidak
menunjukan hubungan terhadap prestasi belajar, sedangkan
nantinya. Anak-anak pada periode usia ini tetap
asupan protein mempunyai hubungan signifikan terhadap mempunyai dorongan pertumbuhan yang
prestasi belajar. Untuk meningkatkan kemampuan pikir biasanya bertepatan dengan periode peningkatan
anak, sebaiknya diberikan cukup protein dan selalu asupan makan. Ketika memasuki periode
menggunakan garam yang mengandung yodium pertumbuhan yang lebih lambat, asupan makan
Kata Kunci : Garam Beryodium, Asupan Protein, Prestasi
seorang anak juga berkurang[1]. Tahun sekolah
Belajar dasar awal merupakan waktu untuk
menggunakan dan menguji keterampilan dari
motorik yang berkembang[2].
ABSTRACT Anak usia sekolah adalah investasi bangsa,
Low intake of nutrients resulting in loss of the child's karena anak usia tersebut adalah generasi
intelligence level that affect the learning achievement of penerus bangsa. Pertumbuhan anak usia sekolah
children. Aceh province, the average primary school age yang optimal tergantung pemberian asupan dan
children consume adequate protein on protein penggunaan jenis makanan dengan kualitas dan
consumption per capita (90-110% RDA). Banda Aceh,
based on the achievement of performance indicators kuantitas yang benar. Dalam masa pertumbuhan
report nutritional coaching, households consuming tersebut pemberian asupan makanan pada anak
iodized salt is still lacking is only 48.7%. The purpose of tidak selalu dapat dilaksanakan dengan
research is to measure the relative use of iodized salt and sempurna[3].
protein intake on learning achievement in elementary Proses belajar mengajar adalah kegiatan
school students. Quantitative study design was cross-
sectional. The variables consisted of the use of iodized salt utama dalam dunia pendidikan di sekolah.
and protein intake. Data were collected by interview and Penentuan keberhasilan proses belajar mengajar
observation. Data were analyzed using linear regression di sekolah banyak melibatkan beberapa faktor
statistical test on the 95% CI. Statistical results, there was atau komponen yang mendukung. Keberhasilan
no association of use of iodized salt on learning tersebut dapat diukur melalui kegiatan evaluasi

52 AcTion Journal, Volume 1, Nomor 1, Mei 2016


Penggunaan Garam Beryodium dan Asupan Ptotein...

belajar yang merupakan salah satu faktor diyakini sudah menderita bentuk tertentu
penentu prestasi belajar siswa[3]. kelainan neurologi atau gangguan kognitif yang
Angka Partisipasi Sekolah (APS) di berkaitan dengan GAKI[5].
Indonesia pada tahun 2010 usia 11 tahun yaitu Di Indonesia, rata-rata anak usia sekolah
sebanyak 98,02%. Tingkat penduduk Aceh dasar mengkonsumsi protein yaitu 113,2% atau
berusia sekolah yang memanfaatkan fasilitas berada diatas kecukupan konsumsi protein
pendidikan baik pada tingkat SD, SLTP, maupun perkapita (90-110% AKG). Konsumsi protein di
SLTA sederajat meningkat pada tahun 2010 dan Indonesia saat ini lebih baik karena sudah di atas
lebih tinggi daripada rata-rata angka Indonesia. batas ambang normal sedangkan anak yang
Pada kelompok usia 7-12 tahun, mencapai mengkonsumsi protein dibawah 80% dari Angka
99,19% yang berarti hanya 1% penduduk usia 7- Kecukupan Gizi (AKG) hanya menunjukkan
12 tahun yang tidak bersekolah SD sederajat. rata-rata sebesar 30,6% (Riskesdas, 2010).
Pencapaian APS tersebut telah mengungguli Secara nasional konsumsi garam mengandung
capaian rata-rata APS secara nasional. Seiring yodium cukup (≥30ppm) hanya 62,3%. Provinsi
dengan hal itu terdapat penurunan persentase Aceh, rata-rata anak usia sekolah dasar
penduduk 10 tahun keatas yang hanya mengkonsumsi protein yaitu 129,1% atau berada
mempunyai ijazah SD sederajat menjadi 26,18% diatas kecukupan konsumsi protein perkapita
dan tidak atau belum tamat SD menjadi (90-110% AKG). Konsumsi protein di Aceh saat
21,68%[4]. ini lebih baik karena sudah di atas batas ambang
Kondisi output pendidikan dapat dilihat normal sedangkan anak yang mengkonsumsi
dari persentase penduduk Aceh yang mampu protein dibawah 80% dari Angka Kecukupan
membaca dan menulis. Angka Melek Huruf Gizi (AKG) hanya menunjukkan rata-rata
(AMH) penduduk aceh terus mengalami sebesar 19,3%[6].
peningkatan dari 96,39% menjadi 96,88% Kota Banda Aceh, berdasarkan laporan
selama 2009-2010 dan pada tahun 2011 pencapaian indikator kinerja pembinaan gizi,
meningkat lagi menjadi yaitu 96,95%. Angka ini rumah tangga yang mengkonsumsi garam
telah melebihi capaian angka melek huruf beryodium masih kurang yaitu hanya 48,7%[7].
Indonesia sebesar 92,99%. Selain daripada itu, Hasil penelitian menunjukkan 75% dari 30%
output pendidikan Aceh tercermin dari siswa SD/MI yang menderita kretin mengalami
persentase penduduk berusia 10 tahun ke atas kesulitan belajar disekolah, sehingga mereka
menurut ijazah tertinggi yang dimiliki. Secara memerlukan perhatian dan pelayanan tertentu
umum, proporsi masyarakat Aceh yang memiliki agar tidak gagal dalam pendidikan. Gangguan
ijazah dengan tingkat pendidikan dasar kebawah Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) merupakan
lebih tinggi. Hal ini ditunjukkan dari 20,31% salah satu masalah gizi yang menjadi faktor
tidak memiliki atau belum memiliki ijazah SD. penghambat pembangunan sumber daya
Di tingkat lebih tinggi, sebesar 48,87% hanya manusia karena dapat menyebabkan
memiliki ijazah pendidikan dasar yaitu SD terganggunya perkembangan mental dan
sederajat 27,55%[4]. kecerdasan terutama pada anak-anak. Gangguan
Salah satu upaya yang dapat dilakukan tersebut dapat berakibat pada rendahnya prestasi
untuk mempertinggi kualitas anak Indonesia belajar anak usia sekolah. Tim GAKY Pusat
pada kelompok anak sekolah dasar adalah tahun 2005 menyebutkan dari sejumlah 20 juta
dengan cara meningkatkan kualitas dan kuantitas penduduk Indonesia yang menderita GAKY
makanan yang dikonsumsi sehari-hari. diperkirakan dapat kehilangan 140 juta angka
Keberadaan penyakit Gangguan Akibat kecerdasan atau IQ points[8].
Kekurangan Iodium (GAKI) dinilai melalui Kebutuhan gizi yang berperan dalam
inspeksi dan palpasi serta insentitas penyakitnya prestasi belajar anak secara garis besar
diklasifikasikan menurut ukuran kelenjar mencakup kebutuhan akan asupan protein dan
gondok tersebut. Menurut WHO, 13% populasi mineral. Salah satu mineral yang penting di
penduduk dunia sudah terkena GAKI dan 30% dalam laju perkembangan anak adalah
lainnya beresiko. Hampir 50 juta penduduk penggunaan garam beryodium. Nutrisi atau zat

AcTion Journal, Volume 1, Nomor 1, Mei 2016 53


Agus Hendra AL-Rahmad

gizi seperti asupan protein dan penggunaan HASIL DAN PEMBAHASAN


garam beryodium harus cukup karena
Sekolah Dasar Negeri 5 Banda Aceh
kekurangan kadar makanan ini akan
berdiri pada tahun 1950. Berdiri di atas sebidang
mengakibatkan kehilangan point IQ atau tingkat
tanah wakaf seluas ± 3.314 m2. Sekolah Dasar
kecerdasan anak yang berpengaruh terhadap
Negeri 5 Banda Aceh berada di Jl. STA
prestasi belajar anak. Tujuan penelitian secara
Johansyah Desa Seutui Kecamatan
umum yaitu untuk mengukur hubungan
Baiturrahman Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh.
penggunaan garam beryodium dan asupan
Letak SD Negeri 5 sangat strategis yang berada
protein terhadap prestasi belajar pada murid
di jalan yang setiap waktu dilalui oleh bermacam
kelas V SD Negeri 5 Kota Banda Aceh.
suku bangsa di dunia yang datang berkunjung ke
Aceh. SD Negeri 5 telah memiliki akreditasi
sekolah yaitu A dengan jumlah siswa sebanyak
DESAIN PENELITIAN
405 orang, dengan jumlah siswa laki-laki 198
Penelitian ini merupakan penelitian dan perempuan 207 siswa. SD Negeri 5
kuantitatif yang menggunakan desain bertempat di gedung sendiri dengan jumlah
Crossectional Study[10], yang dilaksanakan pada ruangan sebanyak 12 ruang kelas. Sarana
Sekolah Dasar Negeri 5 Kota Banda Aceh, pada prasarana yang terdapat di SD ini adalah ruang
tanggal 05 – 24 Juli 2015. Populasi penelitian belajar, ruang guru, pustaka, wc, ruang
seluruh murid yang berjumlah sebanyak 62 keterampilan, kantin, rumah pesuruh dan sumur.
siswa. Besar sampel menggunakan rumus Sampel penelitian merupakan murid SD
ukuran sampel untuk menguji hipotesis satu sisi yang terpilih secara random sebanyak 34 siswa.
pada proporsi satu populasi yaitu Slovin, hasil Berikut ini merupakan karakteristik sampel
perhitungannya yaitu diperoleh sebanyak 34 menurut umur dan jenis kelamin, sebagaimana
siswa. Mempertimbangkan kesesuaian dengan disajikan pada tabel 1 berikut ini.
jumlah kelompok data yang ada, maka sampel
yang telah terpilih merupakan hasil Stratifield Tabel 1. Distribusi Karakteristik Sampel
Random Sampling. Menurut Umur dan Jenis Kelamin
Penelitian menggunakan dua jenis data
yang dikumpulkan yaitu data primer dan data Karakteristik
n %
sekunder. Data primer terdiri data karakteristik Sampel
responden, data asupan protein, penggunaan Umur
garam beryodium, dan prestasi belajar. Data - 10 Tahun 23 67,7
primer ini dikumpulkan secara wawancara - 11 Tahun 11 32,3
secara langsung menggunakan kuesioner, Jenis Kelamin
melakukan food recall 24 jam, penggunaan - Laki-Laki 21 61,8
iodine tes serta melakukan observasi nilai rapor . - Perempuan 13 38,2
Sedangkan data sekunder dilakukan secara Jumlah 34 100,0
observasi sebagai metode pengumpulan data
dilaksanakan dengan cara mengamati langsung Dari tabel di atas diketahui bahwa
jalan tertentu disertai pendataan. karakteristik sampel di SD 5 Negeri Kota Banda
Pengolahan data penelitian meliputi empat Aceh menurut umur pada umumnya yaitu
tahapannya yaitu tahap editing, coding, cleaning berumur 10 tahun yaitu sebesar 67,7% dan
sampai tahap data entry. Analisis data baik karakteristik jenis kelamin pada umumnya laki-
secara univariat maupun bivariat menggunakan laki yaitu sebesar 61,8%.
software komputer. Dalam menjawab tujuan Selanjutnya gambaran terhadap hasil
penelitian serta membuktikan hipotesis, penelitian secara variabelitas disajikan pada
digunakan analisis uji statistik yaitu Chi-Square tabel 2 untuk memberikan gambaran secara
dengan tingkat kemaknaan 95%[11]. Hasil deskriptif yang memuat asupan protein dan
penelitian disajikan dalam bentuk tekstular dan penggunaan garam beryodium (variabel
tabular. independen) serta prestasi belajar (variabel
54 AcTion Journal, Volume 1, Nomor 1, Mei 2016
Penggunaan Garam Beryodium dan Asupan Ptotein...

dependen) pada subjek penelitian di SD Negeri 5 hasil iodine test menunjukan sebesar 50,0%
Kota Banda Aceh. garam yang dibawa siswa yaitu mengandung
iodium (positif) sedang 50,0% lainnya
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Variabel merupakan garam yang tidak mengandung
Independen dan Variabel Dependen Di SDN iodium (negatif).
5 Kota Banda Aceh (n=34) Prestasi belajar merupakan variabel
dependen dalam penelitian ini. Pengukuran
Variabel Penelitian n % prestasi belajar mengacu kepada hasil rata-rata
nilai rapor siswa, dengan batasan sebagai berikut
Asupan Protein yaitu sangat baik (rerata nilai rapor 81-100), baik
- Lebih 6 17,6 (rerata nilai rapor 66-80), cukup (rerata nilai
- Cukup 12 35,3 rapor 51-65), dan kurang (rerata nilai rapor 0 –
- Kurang 16 47,1 50). Hasil penelitian terhadap prestasi belajar
Garam Beryodium siswa di SD Negeri 5 Kota Banda Aceh
- Positif 17 50,0 menunjukan sebesar 44,7% mempunyai prestasi
- Negatif 17 50,0 yang baik dan sebesar 35,3% prestasi siswa
Prestasi Belajar sangat baik. Hal ini memberikan gambaran
- Sangat Baik 12 35,3 bahwa pencapaian prestasi siswa sudah
- Baik 22 44,7 memenuhi standar kelulusan yang baik di SD
Negeri 5 Kota Banda Aceh.
Berdasarkan hasil penelitian (tabel 2) Hubungan antara tingkat asupan protein
terlihat bahwa tingkat asupan protein siswa di dengan prestasi belajar pada siswa di SD Negeri
SD Negeri 5 Kota Banda Aceh lebih banyak 5 Kota Banda Aceh yanh dianalis secara uji
yang mempunyai asupan kurang (< 80% AKG) statistik Chi-Square dengan CI:95% secara
yaitu sebesar 47,1%. Sedangkan untuk komputerisasi dan hasilnya disajikan pada tabel 3
penggunaan garam beryodium, masing-masing berikut ini :

Tabel 3. Hubungan Tingkat Asupan Protein dengan Prestasi Belajar Siswa


di SD Negeri 5 Kota Banda Aceh

Prestasi Belajar
Tingkat Asupan Total
Sangat Baik Baik P-Value
Protein
n % n % n %
Lebih 4 66,7 2 33,3 6 100,0 0,004*
Cukup 7 58,3 5 41,7 12 100,0
Kurang 1 6,2 15 93,8 16 100,0
Total 12 35,3 22 62,7 34 100,0
*) Signifikan pada CI:95%

Berdasarkan tabel 7, diketahui murid yang dengan prestasi belajar pada murid kelas V SD
asupan proteinnya lebih sebesar 66,7% prestasi Negeri 5 Banda Aceh.
belajarnya yaitu sangat baik, murid yang asupan Hasil penelitian menunjukkan ada
proteinnya cukup sebesar 58,3% prestasi hubungan antara asupan protein dengan prestasi
belajarnya sangat baik, dan murid yang asupan belajar, dimana diperoleh p < 0,05. Hal ini
proteinnya kurang sebesar 93,8% prestasi sejalan dengan penelitian yang dilakukan
belajarnya yaitu baik. Hasil uji statistik di peneliti di sebuah sekolah dasar menyatakan ada
peroleh nilai probabilitas (p-value) yaitu 0,004 (p hubungan yang signifikan antara asupan protein
< 0,05), hal ini berarti pada CI-95% Ho ditolak dengan prestasi belajar anak sekolah dasar[12].
dan Ha diterima. Kesimpulannya adalah ada Penelitian serupa juga dilakukan oleh
hubungan yang bermakna antara asupan protein Roslaini bahwa terdapat hubungan yang

AcTion Journal, Volume 1, Nomor 1, Mei 2016 55


Agus Hendra AL-Rahmad

bermakna antara kebiasaan konsumsi susu serta mengalami kesulitan mengikuti dan
dengan prestasi belajar anak. Jumlah protein memahami pelajaran. Selain itu anak menjadi
yang dianjurkan oleh Widya Karya Nasional lemah daya tahan tubuhnya dan terjadi
Pangan dan Gizi tahun 2004 bagi Anak Usia penurunan konsentrasi belajar[12].
Sekolah yang berumur 10 – 12 tahun yaitu Berbagai macam asupan protein
sebanyak 50 gr[12]. Protein dapat ditemukan baik mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh otak,
dalam sumber nabati maupun hewani. Dalam yaitu ikan salmon yang bersumber dari asam
setiap kelompok makanan bahan makanan lemak omega-3 DHA dan EPA yang keduanya
hewani merupakan sumber protein hewani yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan
baik, dalam jumlah maupun mutu seperti telur, fungsi otak, kuning telur yang padat kandungan
susu, daging, unggas, ikan, dan kerang. Sumber kolin (zat yang membantu perkembangan daya
protein nabati adalah kacang kedelai dan ingat), kacang tanah yang merupakan sumber
hasilnya, seperti tempe dan tahu, seperti kacang- vitamin E berfungsi membantu otak dan system
kacangan dan lain-lain[13]. saraf dalam penggunaan glukosa untuk
Kurang Energi Protein (KEP) adalah suatu kebutuhan energi, susu dan yoghurt mengandung
kondisi dimana jumlah asupan zat gizi yaitu protein dan vitamin B tinggi sangat penting
energi dan protein kurang dari yang dibutuhkan. untuk pertumbuhan jaringan tak dan enzim,
Akibat buruk dari KEP bagi anak sekolah dasar daging sapi tanpa lemak dapat memelihara daya
adalah anak menjadi lemah daya tahan tubuhnya ingat dan kecerdasan anak[14].
dan terjadi penurunan konsentrasi belajar. Untuk Hasil penelitian terkait dengan hubungan
mendukung prestasi yang maksimal, kita butuh antara Penggunaan Garam Beryodium dengan
makanan yang mengandung zat gizi yang cukup Prestasi Belajar di di SD Negeri 5 Kota Banda
seperti protein. Siswa yang perkembangan Aceh sebagaimana disajikan pada tabel 4
otaknya maksimal karena zat gizi yang diketahui ibu-ibu yang menggunakan garam
dikonsumsi akan memiliki prestasi yang lebih beryodium (positif) sebesar 52,9% prestasi
maksimal dibandingkan siswa yang belajar anaknya adalah sangat baik. Ibu-ibu
[13]
perkembangan otaknya kurang maksimal . yang tidak menggunakan garam beryodium
Kurang zat gizi seperti asupan protein akan (negatif) sebesar 82,4% prestasi belajar
menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan anaknya yaitu baik. Hasil uji statistik di
perkembangan kecerdasan, menurunkan daya peroleh nilai probabilitas (p) yaitu 0,073 (p >
tahan tubuh, meningkatkan kesakitan dan 0,05), hal ini berarti pada CI-95% Ho diterima
kematian. Dalam Widyakarya Nasional Pangan dan Ha ditolak. Kesimpulannya adalah tidak
dan Gizi (2000) disebutkan bahwa pada anak ada hubungan yang bermakna antara
usia sekolah kekurangan asupan akan penggunaan garam beryodium dengan prestasi
mengakibatkan anak menjadi lemah, cepat lelah belajar pada murid kelas V SD Negeri 5 Kota
dan sakit-sakitan sehingga anak seringkali absen Banda Aceh.

Tabel 4. Hubungan Penggunaan Garam Beryodium dengan Prestasi Belajar Siswa


di SD Negeri 5 Kota Banda Aceh

Prestasi Belajar
Penggunaan Garam Total
Sangat Baik Baik P-Value
Beryodium
n % n % n %
Positif 9 52,9 8 47,1 17 100,0 0,073
Negatif 3 17,6 14 82,4 17 100,0
Total 12 35,3 22 62,7 34 100,0

56 AcTion Journal, Volume 1, Nomor 1, Mei 2016


Penggunaan Garam Beryodium dan Asupan Ptotein...

Hasil penelitian ini sejalan dengan pemecahan langsung dalam menanggulangi


penelitian yang dilakukan oleh Mutalazimah GAKY, perlu dilakukan penyuluhan kesehatan
(2009), yang berjudul “Status Yodium dan secara berkala pada masyarakat, advokasi pada
Fungsi Kognitif Anak Sekolah Dasar Di SDN pembuat keputusan, serta pembingkatan
Kiyaran 1 Kecamatan Cangkringan Kabupaten pengetahuan kepada tenaga kesehatan [14].
Sleman” yang menunjukkan bahwa tidak
ditemukan hubungan antara status yodium dan
fungsi kognitif anak sekolah dasar KESIMPULAN
[8]
(p=0,366) . Hasil penelitian yang dapat disimpulkan
Dari hasil penelitian menunjukkan yaitu prestasi belajar siswa di SD Negeri 5 Kota
bahwa masih terdapat ibu-ibu yang tidak Banda Aceh bisa disebabkan oleh asupan protein
menggunakan garam beryodium. Rata-rata maupun penggunaan garam beryodium. Secara
garam yang digunakan ibu-ibu ialah garam statistik, asupan protein berhubungan dengan
yang tidak berlabel yodium, sebagian ibu-ibu prestasi belajar siswa, sedangkan penggunaan
juga mengkonsumsi garam yang berlabel garam beryodium tidak berhubungan dengan
yodium seperti merk dolpin, merk samudra dan prestasi belajar siswa SD Negeri 5 Kota Banda
lainnya. Hal ini sejalan dengan penelitian Sari Aceh.
(2011), yang berjudul “Faktor-Faktor Yang Selain itu dapat disarankan untuk
Berhubungan Dengan Penggunaan Garam memberikan bimbingan kepada pihak sekolah
Beryodium Di Rumah Tangga Di Kelurahan mengenai berbagai pengetahuan guna
Ulak Karang Selatan Kota Padang”, yang perkembangan kecerdasan anak untuk
menyatakan ada hubungan pengetahuan ibu meningkatkan pengetahuan dan sikap sehingga
dengan penggunaan garam beryodium di kedepannya menjadi lebih baik lagi.
rumah tangga. Oleh karena itu, diharapkan ibu Memberikan informasi kepada siswa, mengenai
–ibu untuk dapat meningkatkan pengetahuan penggunaan garam beryodium yang bermanfaat
lebih baik lagi tentang penggunaan garam untuk meningkatkan pertumbuhan fisik dan
beryodium di rumah tangga, sehingga dengan perkembangan kecerdasan bagi anak, adanya
meningkatnya pengetahuan ibu akan penyuluhan untuk menambah pengetahuan anak,
meningkatkan juga kesadaran ibu-ibu untuk bimbingan untuk merubah pola makan, dari pola
menggunakan garam beryodium di rumah makan yang tidak sehat, kearah yang lebih sehat.
tangga mereka[4]. Serta, diharapkan kepada puskesmas (wilayah
Kelompok masyarakat yang sangat terdekat) agar lebih giat lagi melakukan
rawan terhadap masalah dampak defisiensi penyuluhan dan pemeriksaan yodium dalam
yodium adalah anak usia sekolah. Gangguan garam untuk meningkatkan pengetahuan dan
Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) adalah sikap masyarakat sehingga kedepannya menjadi
sekumpulan gejala yang ditimbulkan karena lebih baik lagi.
tubuh kekurangan yodium dalam jangka waktu
yang lama. GAKY ini merupakan salah satu
masalah gizi utama di Indonesia. GAKY DAFTAR PUSTAKA
diketahui mempunyai kaitan yang erat dengan
gangguan perkembangan mental dan 1. Hariyani, S.,2012. Gizi Untuk Kesehatan Ibu
kecerdasan. Oleh karena itu, semakin besar Dan Anak, Cetakan II. Penerbit Graha Ilmu,
angka prevalensi masalah GAKY, akan Yogyakarta.
semakin menurunkan prestasi belajar anak 2. George, S.M., 2012. Dasar – Dasar
dikarenakan kecerdasan yang menurun [13]. Pendidikan Anak Usia Dini, Cetakan I.
GAKY juga menjadi masalah pada anak Penerbit Indeks, Jakarta.
usia prasekolah dan sekolah di banyak daerah 3. Muhibbin, S.,2013. Psikologi Pendidikan,
di Indonesia. Hal ini sangat merugikan karena Cetakan 18. Remaja Rosdakarya Offset,
berhubungan erat dengan kehilangan point IQ Bandung.
atau tingkat kecerdasan anak. Upaya

AcTion Journal, Volume 1, Nomor 1, Mei 2016 57


Agus Hendra AL-Rahmad

4. Sari. 2011. Faktor-faktor Yang Berhubungan


Dengan Penggunaan Garam Beryodium Di
Rumah Tangga Di Kelurahan Ulak Karang
Selatan Kota Padang Tahun 2011. Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas Padang
5. Andry.H., 2009. Gizi Kesehatan
Masyarakat, Cetakan I. Buku kedokteran
EGC, Jakarta.
6. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia,2010. Laporan Nasional Riset
Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Tahun
2010. Dapat diakses di
www.riskesdas.litbang.go.iddownloadTabel
Riskesdas2010.pdf (Diakses pada tanggal 8
februari 2014)
7. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia,2010. Laporan Nasional Dinas
Kesehatan (DINKES) Tahun 2013. Dapat
diakses di
www.dinkes.litbang.go.iddownloaddinkes20
13.pdf (Diakses pada tanggal 9 februari
2014)
8. Mutalazimah, 2009. Status Yodium Dan
Fungsi Kognitif Anak Sekolah Dasar Di SDN
Kiyaran I Kecamatan Cangkringan
Kabupaten Sleman, Fakultas Psikologi
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
9. Suryabrata., 2005. Psikologi Pendidikan,
Cetakan 13, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
10. Creswell, JW. Research Design: Pendekatan
Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Editor:
Ahmad Fawaid. Edisi Ketiga. Pustaka
Pelajar. Yogyakarta. 2010.
11. Budiarto, E. Biostatistika Untuk Kedokteran
dan Kesehatan Masyarakat. EGC. Jakarta.
2001.
12. Rahayu. A., 2007. Sumbangan Energi Dan
Protein Makan Pagi Terhadap Angka
Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan (AKG)
Berdasarkan Pola Asuh Anak, Jurnal
Kesehatan Masyarakat Indonesia.
13. Merryana. A.,2013. Pengantar Gizi
Masyarakat. Cetakan II. Kencana, Jakarta.
14. Hariyani, S.,2012. Gizi Untuk Kesehatan Ibu
Dan Anak, Cetakan II. Penerbit Graha Ilmu,
Yogyakarta.

58 AcTion Journal, Volume 1, Nomor 1, Mei 2016