Anda di halaman 1dari 61

LAPORAN MANAJEMEN KEPERAWATAN

DI RUANG IRNA PARU RSUD PATUT PATUH PATJU GERUNG


KABUPATEN LOMBOK BARAT TAHUN 2018

Disusun Oleh : Kelompok 5-6a

1. NOVA SARI 8. ANTI SARMAWATI


2. NINING PUSPAINI 9. ANIS ZURIATI
3. SRI RATNA DURI 10. AHMAD SAPARAWADI
4. HUSNIAWATI 11. NOVAN CAHAYA S.
5. SUCI HENDRA LESTARI 12. REZA WAHYU ILHAMI
6. I GEDE MEDIA P. 13. MENA EKA HRIANTI
7. M. AWALUDIN

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
MATARAM
2018

1
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Rumah sakit merupakan organisasi yang sangat kompleks dan merupakan
komponen yang sangat penting dalam upaya peningkatan status kesehatan
bagi masyarakat. Salah satu fungsi rumah sakit adalah menyelenggarakan
pelayanan dan asuhan keperawatan yang merupakan bagian integral dari
sistem pelayanan kesehatan dengan tujuan untuk memelihara kesehatan
masyarakat seoptimal mungkin. Agar tujuan tersebut dapat tercapai
diperlukan cara pengelolaan pelayanan keperawatan yang mengikuti prinsip-
prinsip manajemen.
Manajemen keperawatan merupakan pelayanan keperawatan profesional
dengan pengelolaan sekelompok perawat dengan menggunakan fungsi
manajemen sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan secara optimal
kepada klien. Menurut Gillies (1994), manajemen keperawatan adalah proses
pelaksanaan keperawatan melalui staf keperawatan yang meliputi asuhan
keperawatan, pengobatan dan rasa aman kepada klien, keluarga dan
masyarakat. Sebagai pemberi pelayanan profesional dalam asuhan
keperawatan, perawat profesional bekerjasama dengan klien dan tenaga
kesehatan lainnya sesuai dengan lingkup kewenangan dan tanggung
jawabnya. Tingkat pencapaian kesempurnaan pemberian asuhan keperawatan
sangat tergantung dari kemampuan pengetahuan dan keterampilan yang baik
dari perawat serta kuantitas perawat yang sesuai, penempatan yang tepat juga
persiapan sumber daya manusia yang baik. Seorang perawat juga dituntut
memiliki kemampuan manajemen keperawatan yang tangguh sehingga
pelayanan yang diberikan mampu memuaskan kebutuhan klien.
Manajemen keperawatan harus dapat diaplikasikan dalam tatanan
pelayanan nyata yaitu di rumah sakit dan komunitas sehingga perawat perlu
memahami konsep dan aplikasinya. Konsep yang harus dikuasai adalah
konsep tentang pengelolaan perubahan, konsep manajemen keperawatan,
perencanaan, yang berupa rencana strategik melalui pendekatan, meliputi
pengumpulan data, identifikasi masalah, skoring dan menyusun langkah–
langkah perencanaan terdiri dari pelaksanaan secara operasional, khususnya
dalam pelaksanaan Model Asuhan Keperawatan Profesional dan melakukan
pengawasan dan pengendalian (Nursalam, 2014).
Dengan melihat kenyataan tersebut di atas maka mahasiswa calon Ners
perlu diberiali keterampilan manajemen yang akan digunakan untuk
pengelolaan pasien, tenaga keperawatan, tenaga non keperawatan dan
lainnya. Pada tahap profesi praktikan senior keperawatan anak, mahasiswa
ditekankan untuk menggunakan keterampilan manajemen dan kepemimpinan
pada asuhan klien secara menyeluruh melalui manajemen pelayanan
keperawatan dan upaya yang dapat dilaksanakan oleh mahasiswa STIKES
YARSI Mataram yaitu dengan mengaplikasikan secara langsung pengetahuan
manajerialnya di Ruang Irna Paru RSUD Patut Patuh Patju Gerung dengan
arahan dari pembimbing lapangan maupun dari pembimbing akademik yang
intensif. Pelaksanaan praktek tersebut memberikan masukan yang positif,
sehingga mahasiswa mampu melakukan perbaikan yang efektif dalam
mengelola asuhan keperawatan di Ruang Irna Paru dengan pendekatan
proses manajemen.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Setelah menyelesaikan program profesi manajemen keperawatan,
diharapkan mahasiswa mampu menerapkan prinsip-prinsip
manajemen keperawatan dalam melaksanakan asuhan keperawatan
yang professional di tatanan Rumah Sakit.
1.2.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari praktek manajemen keperawatan ini
adalah sebagai berikut:
A. Melakukan pengkajian mengenai unsur-unsur yang ada di ruang
Irna Paru RSUD Patut Patuh Patju Gerung, meliputi:
1. Mengidentifikasi unsur input (man, money, material, methode,
marketing, mutu) yang ada di ruang Irna Paru RSUD Patut
Patuh Patju Gerung
2. Mengidentifikasi unsur proses (penerapan proses keperawatan,
penerapan proses manajemen pelayanan/operasional
keperawatan, penerapan proses manajemen bimbingan PKK
bagi mahasiswa praktikan di ruangIrna Paru RSUD Patut
Patuh Patju Gerung
3. Mengidentifikasi unsur output (efisiensi ruang rawat, hasil
evaluasi penerapan SAK, hasil evaluasi bimbingan PKK,
kepuasan kerja karyawan, kepuasan pasien rawat inap,
kepuasan mahasiswa praktek di ruang Irna Paru RSUD Patut
Patuh Patju Gerung
B. Menganalisa permasalahan yang muncul dari hasil pengkajian di
ruangIrna Paru RSUD Patut Patuh Patju Gerung
C. Membuat perencanaan untuk mengatasi masalah yang ada di
ruang Irna Paru RSUD Patut Patuh Patju Gerung
D. Mengimplementasikan perencanaan yang telah disusun bersama
untuk mengatasi masalah yang ada di ruang Irna Paru RSUD Patut
Patuh Patju Gerung
E. Melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan untuk
mengetahui keberhasilan tindakan yang telah dilaksanakan dalam
mengatasi masalah yang ada di ruang Irna Paru RSUD Patut Patuh
Patju Gerung
F. Mendokumentasikan tindakan yang telah dilaksanakan di Ruang
Irna Paru RSUD Patut Patuh Patju Gerung.
1.3 Manfaat
A. Bagi Mahasiswa
1. Tercapainya pengalaman dalam pengelolaan suatu ruang
rawatsehingga dapat memodifikasi metode penugasan yang akan
dilaksanakan.
2. Mahasiswa dapat mengumpulkan data dalam penerapan yang
diaplikasikan di Ruang paru RSUD Patut Patuh Patju Gerung
Kab.Lombok Barat.
3. Mahasiswa dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan
penerapan MAKP di Ruang paru RSUD Patut Patuh Patju Gerung
Kab. Lombok Barat.
4. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman dalam menerapkan
Metode Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang paru RSUD Patut
Patuh Patju Gerung Kab.Lombok Barat.
B. Bagi Perawat Ruangan
1. Melalui praktek profesi manajemen keperawatan dapat diketahui
masalah-masalah yang berkaitan dengan MAKP di Ruang paru
RSUD Patut Patuh Patju Gerung Kab.Lombok Barat.
2. Tercapainya tingkat kepuasan kerja yang optimal.
3. Terciptanya hubungan yang baik antara perawat dengan perawat,
perawat dengan tim kesehatan lain, dan perawat dengan pasien serta
keluarga.
4. Terciptanya akuntabilitas dan disiplin diri perawat.
C. Bagi Pasien dan Keluarga
1. Pasien dan keluarga mendapatkan pelayanan yang memuaskan.
2. Tingkat kepuasan pasien dan keluarga tehadap pelayanan tinggi.
D. Bagi Institusi dan Pendidikan
Sebagai bahan masukan dan gambaran tentang pengelolaan ruangan
dengan pelaksanaan metode.
1.4 Waktu dan Tempat
A. Waktu
Pelaksanaan praktik manajemen keperawatan dilaksanakan selama 4
minggu terhitung tanggal 18 juni 2018.
B. Tempat
Pelaksanaan praktik manajemen keperawatan dilaksanakan di ruang Irna
Paru RSUD Patut Patuh Patju Gerung

1.5 Pelaksana Kegiatan


Mahasiswa yang melaksanakan praktik manejemen keperawatan adalah
mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Ners. Tahun Akademik 2017-
2018 oleh kelompok 5 dan 6a dengan nama-nama sebagai berikut:
Pembimbing Akademik : Irwan Hadi, Ners., M.Kep
Pembimbing Lahan 1 : I.G. Ayu Febrianie S.Kep, Ners
Pembimbing Lahan 2 : Hidayaturrohmi Amd. Kep
Ketua : Novan Cahaya Saputra, S.Kep.
Wakil : Nova Sari, S.Kep.
Sekretaris : 1. Reza Wahyu Ilhami, S.Kep
2. Husniawati, S.Kep
Bendahara : Anti Sarmawati,S.Kep.
Anggota : 1. Suci Hendra Lestari, S.Kep.
2. Nining Puspaini, S.Kep.
3. Anis Zuriati, S.Kep.
4. M. Awaludin, S.Kep.
5. Mena Eka Hrianti,S.Kep.
6. Ahmad Saparwadi, S.Kep.
7. Sri Ratna Duri, S.Kep
8. I Gede Media PratamaS.Kep.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kepemimpinan
Istilah kepemimpinan di dalam managemen sering diartikan hanya
berfungsi pada kegiatan supervisi, tetapi didalam keperawatan fungsi tersebut
sangatlah luas. Jika posisi sebagai ketua tim, kepala ruangan, atau perawat
pelaksana dalam suatu ruang, maka perlu pemahaman tentang bagaimana
mengelola dan memimpin orang lain dalam mencapai tujuan asuhan
keperawatan yang berkualitas.
Sebagai perawat profesional tidak hanya mengelola orang tetapi sebuah
proses secara keseluruhan yang memungkinkan orang dapat menyelesaikan
tugasnya. Di dalam manageman ada beberapa model atau gaya
kepemimpinan dalam suatu organisasi. Gaya kepemimpinan ini dapat
diartikan sebagai suatu cara penampilan karakteristik.
Gaya kepemimpinan menurut Gillies:
1. Otoriter : kepemimpinan berorientasi pada tugas atau pekerjaan.
Pemimpin menentukan semua tujuan yang akan dicapai dalam
pengambilan keputusan. Informasi disampaikan hanya demi kepentingan
tugas. Motifasi dengan reward dan punishment.
2. Demokratis : kepemimpinan yang menghargai sifat dan kemempuan
setiap staff. Informasi diberikan seluas-luasnya dan terbuka. Pemimpin
mengguanakan kekuasaannya untuk mendorong ide dari staff dan
memotifasi kelompok untuk menentukan tujuannya sendiri.
3. Pertisipatif : kepemimpinan gabungan antara gaya otoriter dengan
demokratis. Pemimpin yang menyampaikan hasil analisa dan
mengusulkan tindakan tersebut pada bawahanya. Staff diminta saran dan
kritiknya serta mempertimbangkan respon staff terhadap usulannya, dan
keputusan akhir pada kelompok.
4. Bebas tindak : merupakan pimpinan offisial. Karyawan menentukan
sendiri kegiatan tanpa pengarahan, supervise, dan koordinasi. Staff
mengevaluasi pekerjaan sesuai dengan cara sendiri.
Dari gaya kepemimpinan diatas, seorang pemimpin yang baik harus bisa
mengkombinasikanjenis gaya diatas dalam melakukan supervisi terhadap
staff. Pemimpin yang efektif harus memiliki kemampuan untuk menggunakan
proses penyelesian masalah, mempunyai kemampuan komunikasi yang baik,
menunjukan kejujuran dalam memimpin, kompeten, kreatif, dan kemampuan
mengembangkan kelompok. Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang
manager keperawatan : kepemimpinan, pengambilan keputusan dan
perencanaan, hubungan masyarakat atau komunikasi, anggaran,
pengembangan, personaliti, negosiasi.

2.2 Manajemen Keperawatan


Manajemen adalah suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam
menjalankan suatu kegiatan di organisasi (Grant dan Massey, 1999).
Manajemen juga didefinisikan sebagai proses untuk melaksanakan pekerjaan
melalui upaya orang lain. Manajemen berfungsi untuk melakukan semua
kegiatan yang perlu dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan dalam batas
yang telah ditentukan pada tingkat administrasi (P. Siagian).
Manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf
keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara profesional
(Nursalam, 2007). Manajemen keperawatan adalah suatu tugas khusus yang
harus dilaksanakan oleh pengelola keperawatan untuk merencanakan,
mengorganisasi, mengarahkan serta mengawasi sumber- sumber yang ada
baik SDM, alat, maupun dana sehingga dapat memberikan pelayanan
keperawatan yang efektif, baik kepada pasien, keluarga dan
masyarakat.Untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas sesuai
dengan visi dan misi rumah sakit tidak terlepas dari proses managemen, yang
merupakan satu pendekatan dinamis dan proaktif dalam menjalankan suatu
kegiatan organisasi. Didalam organisasi keperawatan, pelaksanaan
managemen dikenal sebagai managemen keperawatan.
Manajer keperawatan dituntut untuk merencanakan, mengorganisasi,
memimpin dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang tersedia untuk dapat
memberikan asuhan keperawatan yang seefektif dan seefisien mungkun bagi
individu, keluarga dan masyarakat. Managemen keperawatan adalah suatu
proses kerja yang dilakukan oleh anggota staf keperawatan untuk
memberikan askep secara profesional. Dalam hal ini seorang manajer
keperawatan dituntut untuk melakukan lima fungsi utama yaitu POAC agar
dapat memberikan askep yang efektif dan efisien bagi pasien dan keluarganya
(Nursalam 2002, Gillis 1996). Proses managemen keperawatan dilaksanakan
dalam tahap-tahap yaitu pengkajian (kaji situasional), perencanaan (strategi
dan operasional), implementasi dan evaluasi.

2.3 Fungsi manajemen keperawatan


1. Planning (perencanaan) sebuah proses yang dimulai dengan merumuskan
tujuan organisasi sampai dengan menyusun dan menetapkan rangkaian
kegiatan untuk mencapainya, melalui perencanaan yang akan daoat
ditetapkan tugas- tugas staf. Dengan tugas ini seorang pemimpin akan
mempunyai pedoman untuk melakukan supervisi dan evaluasi serta
menetapkan sumber daya yang dibutuhkan oleh staf dalam menjalankan
tugas- tugasnya
2. Organizing (pengorganisasian) adalah rangkaian kegiatan manajemen
untuk menghimpun semua sumber data yang dimiliki oleh organisasi dan
memanfaatkannya secara efisien untuk mencapai tujuan organisasi.
3. Actuating (directing, commanding, coordinating) atau penggerakan
adalah proses memberikan bimbingan kepada staf agar mereka mampu
bekerja secara optimal dan melakukan tugas- tugasnya sesuai dengan
ketrampilan yang mereka miliki sesuai dengan dukungan sumber daya
yang tersedia.
4. Controlling (pengawasan, monitoring) adalah proses untuk mengamati
secara terus menerus pelaksanaan rencana kerja yang sudah disusun dan
mengadakan koreksi terhadap penyimpangan yang terjadi.
2.4 Prinsip manajemen keperawatan
1. Manajemen keperawatan seyogyanya berlandaskan perencanaan, karena
melalui fungsi perencanaan pimpinan dapat menurunkan resiko
kesalahan, memudahkan pemecahan masalah.
2. Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang
efektif. Manajer keperawatan yang menghargai waktu akan menyusun
perencanaan yang terprogram dengan baik dan melaksanakan kegiatan
sesuai waktu yang telah ditentukan.
3. Manajemen keperawatan melibatkan para pengambil keputusan. Berbagai
situasi maupun permasalahan yang terjadi saat mengelola kegiatan
keperawatan memerlukan keterlibatan pengambil keputusan diberbagai
tingkat manajerial.
4. Memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien merupakan fokus
perhatian manajer keperawatan dengan mempertimbangkan apa yang
pasien lihat, fikir, yakini dan ingini. Kepuasan pasien merupakan point
utama dari seluruh tujuan perawatan.
5. Pengarahan merupakan elemen kegiatan manajemen keperawatan yang
meliputi proses pendelegasian, supervisi, koordinasi dan pengendalian
pelaksanaan rencana yang telah diorganisasikan.
6. Divisi keperawatan yang baik dapat memotivasi perawat untuk
memperlihatkan penampilan kerja yang terbaik.
7. Manajemen keperawatan menggunakan komunikasi yang efektif.
8. Pengembangan staf penting untuk dilaksanakan sebagai upaya persiapan
perawat pelaksana menduduki posisi yang lebih tinggi atau untuk
peningkatan pengetahuan dan ketrampilan perawat.
9. Pengendalian merupakan elemen manajemen keperawatan yang meliputi:
penilaian pelaksanaan yang rencana yang telah dibuat, pemberian
instruksi, menetapkan standart dan membandingkannya dengan
penampilan serta memperbaiki kekurangan yang terjadi.
Berdasarkan prinsip diatas maka hendaknya manajer keperawatan
bekerjasama dengan perawat dan staf dalam perencanaan dan
pengorganisasian untuk mencapai tujuan yang telah dicapai sebelumnya.
BAB 3
PROSES PENYELESAIAN MASALAH MANAJEMEN
KEPERAWATAN

3.1 Profil Ruangan


Irna Paru merupakan ruangan rawat inap yang spesifik merawat pasien
dengan gangguan sistem pernafasan. Irna paru dibagi menjadi 2 ruangan yaitu
ruang isolasi dan ruangan non isolasi. Dan masing-masing ruangan terdiri
dari ruang isolasi 4 ruangan dan ruang non isolasi 5 ruangan.
Adapun visi dan misi ruangan irna paru selaras dengan visi dan misi
rumah sakit yaitu :
1. VISI :
“ Rumah Sakit Yang Bermutu Dan Terpercaya”
2. MISI:
a. memberikan pelayanan yang bermutu dengan mengutamakan
keamanan dan kenyamanan sesuai standar yang berlaku untuk
mencapai kepuasan pelanggan
b. Mengembangkan kompetensi SDM Rumah Sakit secara
berkesinambungan serta menyelenggarakan pelayanan pendidikan ,
pelatihan dan penelitian yang menunjang pelayanan kesehatan.
3. Motto
“Melayani dengan sepenuh hati”

3.2 Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan selama 3 hari, yaitu tanggal 18 juni 2018
s/d 20 juni 2017 meliputi 3 komponen utama : (1) tenaga perawat / M1, (2)
sarana dan prasarana / M2, dan (3) metode pemberian asuhan keperawatan /
M3. Data yang diperoleh, dianalisis dengan analisa SWOT sehingga
didapatkan beberapa rumusan masalah, kemudian dipilih 1 sebagai prioritas
masalah.
1. Tenaga dan Pasien (M1-Man)

1. Struktur Organisasi Ruang IRNA PARU RSUD PATUT PATUH


PATJU Gerung Tahun 2018

KARU
Administrasi

PP PP

PA PA PA
PA

Keterangan :
= garis komando
Bagan 3.1 : Struktur Organisasi Instalasi Rawat Inap Paru RSUD
Patut Patuh Patju Tahun 2018 (Sumber : IRNA PARU
RSUD Patut Patuh Patju Tahun 2018)

Keterangan :

KARU : Kepala Ruangan

PP : Perawat Pelaksana

PA : Perawat Assosiate

Sumber : Ruang Irna Paru Tahun 2018


Berdasarkan hasil wawancara dan observasi tanggal 18 2018 di ruang
IRNA Paru RSUD Patut Patuh Patju Gerung terdapat 14 bed pasien. Ruang
IRNA Paru RSUD Patut Patuh Patju Gerung dipimpin oleh Kepala Ruangan.
Di ruang IRNA Paru RSUD Patut Patuh Patju Gerung menggunakan metode
asuhan keperawatan MPKP tim modifikasi, pada shift pagi terdiri dari 1 ketua
tim, 2 perawat dan kepala ruangan, shift sore terdiridari 1 ketua tim dan 2
orang perawat primer, shift malam terdiri dari 1 ketua tim dan 2 orang perawat
primer.
2. Tenaga Perawat

Tabel 3.1 Nama- Nama Tenaga Perawat di Ruang IRNA PARU RSUD PATUT PATUH PATJU Gerung Tahun 2018

Jenis Jenjang
No Nama Masa kerja Pendidikan Status Pelatihan Keterangan
Kelamin Karir
1. I. G. Ayu Febrianie, S.Kep P PNS PK III BTCLS Karu
12 tahun S1
2. Hidayaturrohmi, Amd.Kep P PNS PK II BTCLS PP 1
7 tahun D3
3. Zurnaumi P Honorer PK II TB PP II
7 tahun D3
4. Huriah, Amd.Kep P Honorer PK II BTCLS PJ Alat
11 tahun D3
5. Irpan Junaidi, Amd.Kep L Honorer PK II BTCLS Katim I
8 tahun D3
6. Dodi Sazarwan, Amd.Kep L Honorer PK II BTCLS PA
11 tahun D3
7. Zia Suflan Hakim, L PNS PK II BTCLS Katim II
7 tahun D3
Amd.Kep
8. Pendi L Honorer Pra PK BTCLS PA
7 bulan D3
9. Sri Handayani, Amd.Kep P Honorer PK II Belum Katim III
6 tahun D3
BTCLS
10. Turmuzi, Amd.Kep L Honorer Pra PK BTCLS PA
7 bulan D3
11. Erwin, Amd.Kep L PNS PK II BTCLS Katim IV
7 tahun D3
12. Endang Widiastuti P 7 tahun D3 Honorer PK II BTCLS PA
Tabel 3.2 Distribusi Tenaga Non Keperawatan Berdasarkan Spesifikasi Pekerjaan
di Ruang IRNA Paru RSUD Patut Patuh Patju Gerung Tahun 2018,
sebagai berikut :
No Kualifikasi Jumlah Honor/PT
1. Ahli gizi 1 orang Tetap
2 Administrasi 1 orang Tetap
2. Cleaning Service 2 orang CP
Sumber : Data Primer Ruang Irna Paru Tahun 2018
3. Tingkat Ketergantungan Pasien dan Kebutuhan Tenaga Perawat
Perhitungan jumlah tenaga keperawatan menurut Douglas (1984) dihitung
berdasarkan tingkat ketergantungan pasien untuk setiap shiftnya seperti tabel
berikut:
Tabel 3.3Jumlah Keperawatan BerdasarkanKlasifikasiKetergantungan Pasien
Menurut Douglas
Waktu Kebutuhan Perawat
Klasifikasi Pagi Sore Malam
Minimal 0,27 0,18 0,94
Partial 0,45 0,30 0,16
Maksimal 0,63 0,42 0,22
Sumber : Douglas 1984

Sedangkan klasifikasi derajat ketergantungan pasien terhadap keperawatan


berdasarkan kriteria sebagai berikut:
a) Perawatan minimal memerlukan waktu 1-2 jam/24 jam dengan kriteria:
1) Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri
2) Makan dan minum dilakukan sendiri
3) Ambulasi dengan pengawasan
4) Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap shift
5) Pengobatan minimal, status psikologis stabil
6) Persiapan pengobatan memerlukan prosedur
b) Perawatan intermediate memerlukan waktu 3-4 jam/24 jam dengan kriteria :
1) Kebersihan diri dibantu, makan, minum, ke toilet dibantu.
2) Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam
3) Ambulasi dibantu, pengobatan lebih dari sekali
4) Terpasang folley catheter, intake, output dicatat
5) Klien dengan pemasangan infus, persiapan pengobatan memerlukan
prosedur
c) Perawatan maksimal atau total memerlukan waktu 5-6 jam per 24 jam dengan
kriteria:
1) Segalanya diberikan/dibantu
2) Posisi diatur, observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam
3) Makan memerlukan NGT, menggunakan terapi intravena
4) Pemakaian suction
5) Gelisah/ disorientasi/ tidak sadar
Tabel 3.4 Tingkat ketergantungan pasien dan kebutuhan perawat pada tanggal 18Juni
2018 di ruang irna paru (metode douglas).
Klasifikasi Jml
Pagi Sore Malam Total
Px Px
Tenaga
6x0,27= 0,62 6x0,18= 1,08 6x0,94= 5,64
Minimal Care 6 Perawat
Partial Care 1 1x0,45= 0,45 1x0,30=0,30 1x0,16= 0,16
Total 7 1,07 (1) 1,38 (2) 5,80 (6) 9
Sumber : Ruang Irna Paru Tahun 2018
Total tenaga perawat:
Pagi : 1 orang
Sore : 2 orang
Malam : 6orang
+
9orang perawat
Jumlah tenaga lepas dinas perhari
86x7= 602 = 2,02= 2 orang

297 297

Jumlah perawat yang dibutuhkan untuk bertugas pada tanggal 18Juni2018 di

Ruang Irna Paru adalah : 9 orang perawat + 2 lepas dinas + 1 orang tenaga (kepala

shift), jadi total jumlah perawat yaitu 12 orang.


Tabel 3.5. Tingkat ketergantungan pasien dan kebutuhan perawat pada tanggal 19
Juni 2018 di ruang irna paru (metode douglas).
Klasifikasi
Jml Px Pagi Sore Malam
Px
4x0,27 = 1,08 4x0,18= 0,72 4x0,94= 3,76
Minimal Care 4
Partial Care 1 1x0,45= 0,45 1x0,30=0,30 1x,16= 0,16
Total Care 0 0 0 0
Jumlah 5 1,53 (2) 1,02 (1) 3,92(4)
Sumber : Ruang Irna Paru Tahun 2018
Total tenaga perawat:
Pagi : 2 orang
Sore : 1 orang
Malam :4 orang
+
7orang perawat
Jumlah tenaga lepas dinas perhari
86x8 = 860 = 2,89 = 3 orang
297 297
Jumlah perawat yang dibutuhkan untuk bertugas pada tanggal 19 Juni 2018 di
Ruang Irna Paru adalah : 7 orang perawat + 3 lepas dinas + 1 orang tenaga (kepala
shift), jadi total jumlah perawat yaitu 12 orang.
Tabel 3.6. Tingkat ketergantungan pasien dan kebutuhan perawat pada tanggal20
Juni 2018 di ruang irna paru (metode douglas).
Klasifikasi
Jml Px Pagi Sore Malam
Px
4x0,27 = 1,08 4x0,18= 0,72 4x0,94= 3,76
Minimal Care 4
Partial Care 1 1x0,45= 0,45 1x0,30=0,30 1x,16= 0,16
Total Care 0 0 0 0
Jumlah 5 1,53 (2) 1,02 (1) 3,92(4)
Sumber : Ruang Irna Paru Tahun 2018
Total tenaga perawat
Dinas pagi : 2 orang
Dinas siang : 1 orang
Dinas malam : 4 orang
Jumlah : 7 orang
Jumlah Perawat lepas yang dibutuhkan :
86 x 6 = 516 = 1,7= 2
297 297
Jadi, umlah perawat yang dibutuhkan :
7 orang + 1 orang structural (1 kepala ruangan) + 2 orang lepas dinas = 9 orang
Tabel 3.6. Tingkat ketergantungan pasien dan kebutuhan perawat pada tanggal 21
Juni 2018 di ruang irna paru (metode douglas).
Klasifikasi
Jml Px Pagi Sore Malam
Px
4x0,27 = 1,08 4x0,18= 0,72 4x0,94= 3,76
Minimal Care 4
Partial Care 2 2x0,45= 0,9 2x0,30=0,6 2x,16= 0,32
Total Care 1 1x0,63=0,63 1x0,42=0,42 1x0,22
Jumlah 7 2,61 (3) 1,74 (2) 3,92(4)
Sumber : Ruang Irna Paru Tahun 2018
4. Alur Pasien Masuk

Pasien

IGD IRJ

MRS
1. Pelayanan
2. Terapi medis
ICU NICU Instalasi Rawat Inap 3. Diagnosa medis
4. Keperawatan
5. Penunjang medis
KRS 6. Gizi
7. Rehab medik

Dirujuk APS Dipulangkan Meninggal

Kamar jenazah
2. Sarana Dan Prasarana (M2-MATERIAL)
1. Peralatan dan fasilitas
a) Fasilitas untuk pasien :
JUMLAH
NO. NAMA BARANG KONDISI
BARANG
1. Lemari pasien 14 Baik
2. Jam dinding 1 Baik
3. Wastafel 12 Baik
4. Exhasepan 12 Baik
5. Kulkas 1 Baik
6. Kursi lipat 8 Baik
7. Papan tulis/whiteboard 1 Baik
8. Tong sampah 13 Baik
Noninfeksius
9. Tong sampah infeksius 2 Baik
Sumber : Ruang Irna Paru Tahun 2018
b) Alat Medik
JUMLAH
NO NAMA BARANG KONDISI
BARANG
1. Ekg 1 Baik
2. Nebulizer 2 Baik
3. Monitor 2 Baik
4. Troli Emergency 2 Baik
5. Troli Alat Kesehatan 3 Baik
6. Brankar 1 Baik
7. Safety B0x 4 Baik
8. Spo2 2 Baik
9. Tensi 3 Baik
10. Oksigen Transport 1 Baik
11. Bed pasien 14 Baik
12. Tiang Infus 14 Baik
13. Timbangan 2 Baik
14. Handscrub 10 Baik
15. Apar 1 Baik
16. Stetoskop 4 Baik
17. Ruang Perawat 2 Baik
18. Ruang Administrasi 1 Baik
19. Kursi Roda 2 Baik
20. Pispot Cewek/Cowok 4 Baik
21. Com Stenlist 2 Baik
22. Senter 1 Baik
23. Nampan 2 Baik
24. Pinset Anatomis 2 Baik
25. Pinset Cirurgis 2 Baik
26. Gunting Nekrotomi 2 Baik
27. Gunting Perban 1 Baik
28. Bengkok 1 Baik
29. Suction 15 Baik
30. Spuit Gliserin 2 Baik
31. Standar Baskom 1 Baik
32. Ambubag 2 Baik
33. Alat GDS 1 Baik
34 Ruang Kepala Ruangan 1 Baik
Sumber : Ruang Irna Paru Tahun 2018
c) Alat Meubel
JUMLAH
NO. NAMA BARANG KONDISI
BARANG
1. Lemari Alat 1 Baik
2. Lemari Linen 1 Baik
3. Lemari File 1 Baik
4. Meja Komputer 1 Baik
5. Meja Operan 1 Baik
6. Meja Administrasi 2 Baik
7. Meja Karu 1 Baik
Sumber : Ruang Irna Paru Tahun 2018
d) Alat Tenun
JUMLAH
NO. NAMA BARANG KONDISI
BARANG
1. Sprey 16 Baik
2. Gorden 10 Baik
3. Tirai 5 Baik
Sumber : Ruang Irna Paru Tahun 2018
e) Alat Elektronik
JUMLAH
NO. NAMA BARANG KONDISI
BARANG
1. Ac 3 Baik
2. Remot Ac 1 Baik
3. Dispenser 2 Baik
4. Telephone 1 Baik
5. Komputer 1 Baik
Sumber : Ruang Irna Paru Tahun 2018
f) Fasilitas untuk petugas kesehatan :
1) Letak ruang perawat di depan
2) Kamar mandi dan wc
3) Ruang kepala ruangan
4) Computer
5) Telepon
6) AC
7) Kasur
8) Kulkas
9) Meja operan
10) Meja karu
11) Ruang administrasi
12) Ruang kepala ruangan
g) Administrasi penunjang :
1) Buku laporan jaga/timbang terima :1
2) Buku register Lab :1
3) Buku register BTA :1
4) Buku register kematian :1
5) Buku register TB DOTS :1
6) Buku linen :1
7) Buku keluar :1
8) Buku kematian :1

Kesimpulan yang kami dapatkan dari hasil observasi dan wawancara bersama
kepala ruangan IRNA PARU mengenai sarana dan prasarana yang ada di ruangan
sudah memadai, terdapat14bed dan rata-rata setiap bed memiliki penyangga karena di
ruang irna paru ada beberapa pasien yang beresiko jatuh dari tempat tidur, namun
terkadang kebutuhan alat tenun di ruangan seperti selimut pasien sering tidak tersedia
dikarenakan distribusi dari tempat laundryyang cukup lama. Faktor yang
menyebabkan distribusi lama adalah cuaca dan mesin laundry yang rusak. Kemudian
ada beberapa ruangan yang tidak memiliki alas kaki di depan WC dan tidak
tersedianya tempat sampah di masing-masing ruang rawat.
LOKASI DENAH
IRNA PARU RSUD PATUT PATUH PATJU KAB. LOMBOK BARAT

S
4 R.I.
2
WC WC
WC
H K 3 1 WC

5 G
WC
R. N. I
WC 4 2
WC

3 1 WC

WC

R. Ruang. R. Alkes
Perawat Administrasi WC
R.Linen WC
NS
R.Karu

Keterangan :
R. I : Ruang Isolasi : Garis ruang isolasi
R.N.I : Ruang Non Isolasi : Garis ruang Non
Isolasi : Ruang irna paru
NS : Nurse Station : Pintu
G : Gudang
3. Metode Pemberian Asuhan Keperawatan (M3-Method)
1. Penerapan MAKP
Berdasarkan Wawancara dengan kepala ruangan pada tanggal 18 juni 2018
jam 10.00-10.30 di ruang Kepala ruangan IRNA Paru didapatkan bahwa MAKP
yang diterapkan di ruangan tersebut adalah MAKP modifikasi tim primer hal
tersebut dilakukan karena kurangnya sumber daya manusia (perawat), masih
adanya perawat dengan pendidikan vokasi, kurangnya perawat professional
dengan latar belakang profesi Ners.
2. Operan/ Timbang terima
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu perawat ruangan
didapatkan bahwa Overan dilakukan 3 kali 24 jam, yaitu pada pergantian shift
malam ke pagi (pukul 08:00), pergantian shift pagi ke sore (pukul 14:00), dan
pergantian shift sore ke malam (pukul 20:00).
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan dari tanggal 18-20 juni 2018
didapatkan bahwa tidak Selalu diikuti oleh semua perawat yang telah dinas dan
akan dinas, penyampaian isi timbang terima secara konprehensif, meliputi : isi
timbang terima (masalah keperawatan pasien lebih fokus pada diagnosa medis
dan pemberian tindakan kolaboratif). Pelaporan timbang terima dicatat dalam
buku khusus yang akan ditandatangani oleh perawat yang melaporkan, perawat
yang menerima laporan dan kepala ruangan. Setelah pelaksanaan timbang terima
kepala ruangan tidak selalu mengadakan diskusi singkat untuk mengetahui
sekaligus mengevaluasi kesiapan shift selanjutnya.
Berdasrkan hasil observasi yang dilakukan dari tanggal 18-20 juni 2018
didapatkan bahwa setiap perawat yang malakukan overan pada pergantian ship
pagi kesiang dan siang kemalam dilakukan dimeja pearwat dan jarang dilakukan
secara lansung keruangan pasien, overan yang dilkukan lansung keruangan
pasien hanya pergantian ship malam ke pagi. Overan dilakukan kadang tidak
tepat waktu-dan sesuai prosedur akan tetapi pada jalannya overan kurang
maksimal, dilihat dari tidak adanya salam pembukaan dan do’a bersama sebelum
memulai operan.
Berdasarkan hasil observasi juga didapatkan bahwa tidak selalu diikuti oleh
semua perawat yang telah dinas dan akan dinas, penyampaian isi timbang terima
secara komprehensif, meliputi : isi timbang terima (masalah keperawatan pasien
lebih fokus pada diagnosa medis dan pemberian tindakan kolaboratif). Pelaporan
timbang terima dicatat dalam buku khusus oleh perawat yang melaporkan,
perawat yang menerima laporan dan kepala ruangan. Setelah pelaksanaan
timbang terima kepala ruangan tidak selalu mengadakan diskusi singkat untuk
mengetahui sekaligus mengevaluasi kesiapan shift selanjutnya.
3. Ronde Keperawatan
Ronde Keperawatan merupakan metode untuk menggali dan membahas
secara mendalam masalah keperawatan yang terjadi pada pasien dengan
melibatkan tim keperawatan, kepala ruangan, dokter, ahli gizi dan melibatkan
pasien secara langsung sebagai focus kegiatan.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dari kepala ruangan
didapatkan bahwa ronde keperawatan jarang dilakukan karena Pelaksanan ronde
keperawatan di Ruang irna paru selama ini jarang dilakukan karna dilihat dari
perkembangan pasien. Pembahasan atas kasus-kasus pasien untuk mencari solusi
dilakukan terpisah/tidak bersamaan dengan menghadirkan para praktisi ahli yang
berkompeten yang terlibat dalam tim perawatan pasien yang bersangkutan dari
berbagai disiplin ilmu (medis, paramedic senior, ahli gizi, apoteker, atau praktisi
kesehatan lain yang diperlukan). Selama ini hanya dibahas antara perawat dan
dokter diruangan pasiendan di Nurse station.
Kesimpulannya ronde keperawatan di ruang Ruang Irna Paru belum berjalan
secara optimal karena yang dilakukan ronde medis pada saat dokter visite.
4. Pengelolaan Sentralisasi Obat
Sentralisasi obat adalah pengelolaan obat dengan system menyerahkan seluruh
obat pasien sepenuhnya kepada perawat, dengan tujuan penggunaan obat dapat
dilakukan secara benar sehingga tidak terjadi pemborosan dan kemungkinan
terjadinya kesalahan obat.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan dari tanggal 18-20 juni 2018
didapatkan bahwa data yang kami peroleh di ruang irna paru adalah proses
sentralisasi obat berjalan dengan semestinya dilihat dari kesiapan perawat, alat dan
kelengkapan untuk mendukung sentralisasi obat seperti, kotak obat injeksi, infuse,
dan spuit diberikan sesuai kamar masing-masing kemudian obat pasien di
tempatkan di laci obat yang sesuai nomor kamar, nama pasien dan obat masing-
masing kamar.
5. Supervisi Keperawatan
Supervisi merupakan upaya untuk membantu pembinaan dan peningkatan
kemampuan pihak yang di supervisi agar mereka dapat melaksanakan tugas
kegiatan yang telah di tetapkan secara efisien dan efektif (Sudjana, 2004).
Berdasarkan hasil observasi dan hasil wawancara dari tanggal 18-20 didapatkan
bahwa di ruang irna paru tidak dilakukan supervisi dengan alasan karena tidak ada
tunjangan tambahan sesuai beban kerjanya.
6. Discharge Planning
Discharge planning merupakan bagian penting dari program keperawatan
klien yang dimuali segera setelah klien masuk rumah sakit. Hal ini merupakan
suatu proses yang menggambarkan usaha kerja sama antar tim kesehatan, klien
dan keluarga klien. Berdasarkan hasil observasi didapatkan pelaksanaan discharge
planning di irna paru masih belum terlaksana secara optimal. Discharge planning
yang meliputi penjelasan diagnosa keperawatan, obat-obatan, perawatan, lembar
control, nutrisi, aktivitas, dan istirahat ketika di rumah, dan kalau ada penjelasan
biasanya dijelaskan oleh perawat, mengenai penyakit secara lisan, menggunakan
kartu kontrol dan tim gizi yang menjelaskan diit makanan yang harus dihindari
serta makanan yang bagus dikonsumsi oleh klien.
Perawat irna paru melakukan discharge planning setiap pasien akan pulang.
Selain itu isi dari discharge planning belum dilakukan secara optimal karena
hanya meliputi pemberian informasi tentang waktu control dan obat yang harus
diminum (keteraturan minum obat) dan tidak tersedianya leaflet yang berguna
bagi pasien sebelum pasien pulang. Sehingga nanti saat di rumah pasien bisa
melihat leaflet jika pasien lupa sama informasi yang di berikan sama perawat.
7. Dokumentasi Keperawatan
a) System pendokumentasian sudah optimal, menggunakan metode manual untuk
mengisi status pasien
b) Beberapa pendokumentasian tidak secara lansung diisi, biasanya dilengkapi
ketika pasien mau pulang atau ketika keadaan memungkinkan.
c) Catatan perkembangan pasien cukup lengkap dan berkesinambungan
d) Sistem pendokumentasian masih dilakukan secara manual akan tetapi
pendokumentasian administrasi sudah menggunakan sistem komputerisasi.
4. M4 (Money)

Sesuai dengan ketentuan umum PP No 6 tahun 2000 perjan adalah badan


usaha milik Negara (BUMN) sebagaimana diatur dalam UU No 9 tahun 1969 dimana
seluruh modalnya oleh pemerintah dan merupakan kekayaan Negara dan tidak
dipisahkan serta tidak terbagi atas saham-saham, jadi Rumah Sakit perjan merupakan
asset dari Depkes. Pengelolaan RS perjan dilakukan oleh Direksi serta dibentuk
Dewan Pengawas untuk melakukan pengawasan (Djoyo Sugito,2012). Salah satu
fungsi Rumah Sakit adalah memberikan pelayanan kesehatan, baik medis maupun
non medis, dalam kaitan tersebut agar pelayanan rumah sakit dapat berjalan
seoptimal mungkin dan dapat dirasakan oleh masyarakat maka untuk itu rumah sakit
perlu mempersiapkan peralatan atau bahan medis, non medis atau jasa pemborongan.
Sumber dana Rumah Sakit yaitu :
a. PEMDA
b. Pendapatan fungsional dari pendapatan pelayanan rumah sakit. (umum dan
BPJS)
Berdasarkan data yang diperoleh dari buku register ruang IRNA Paru RSUD Patut
Patuh Patju Gerungdidapatkan data bahwa klien yang berkunjung ke RSUD adalah:
Tabel 4.1Distribusi Pasien Yang Berkunjung Menggunakan Jasa Kesehatan di Ruang
IRNA Paru RSUD Patut Patuh Patju Gerung
NO Sumber Dana Presentase (%)
1 BPJS 81,9 %
2 Umum 10,5 %
3 Dinas Sosial 7,5 %
Jumlah 100%
Sumber Data Primer : Administrasi Ruang IRNA Paru Bulan Mei 2018
Dari data di atas menunjukkan bahwa 81,9% pasien yang berkunjung ke irna
paru menggunakan jasa kesehatan BPJS.
Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan dengan kepala ruangan IRNA
APARU RSUD PATUT PATUH PATJU GERUNG sumber dana operasional berasal
dari PEMDA, Pendapatan fungsional dari pendapatan pelayanan rumah sakit. (umum
dan BPJS), biaya kamar permalam kamar kelas 3 Rp. 35.000 dan ruang isolasi Rp.
125.000.Selain itu juga semua sumber dana yang ada akan dikelola dengan cara
central/diamprah dan tidak di kelola secara fungsional oleh ruangan.
5. M5 (Mutu)
1. Kajian Teori
Mutu asuhan kesehatan sebuah rumah sakit akan selalu terkait dengan
struktur,prosesdan outcome system pelayanan RS tersebut. Mutu asuhan
pelayanan RS juga dapat dikaji dari tingkat pemanfaatan sarana pelayanan oleh
masyarakat, mutu pelayanan dan tingkat efisiensi RS.secara umum aspek
penilaian meliputi evaluasi, dokumen,,instrument,audit (EDIA).
a) Aspek instruktur (input)
Struktur adalah semua input untuk system pelayanan sebuah RS yang
meliputi MI (tenaga), M2 (sarana prasarana) , M3 (metode asuhan
keperawatan) , M4 (dana), M5 (pemasaran), M6 (Mutu) dan lainnya. Ada
sebuah asumsi yang menyatakan bahwa jika struktur system RS tertata
dengan baik akan lebih menjamin mutu pelayanan. Kualitas struktur RS
diukur dari tingkat kewajaran,kuantitas,biaya(efisiensi), dan mutu dari
masing-masing komponen struktur.
b) Proses
Proses adalah semua kegiatan dokter,perawat,dan tenaga profesi lain yang
mengadakan interaksi secara professional dengan pasien. Interaksi ini di ukur
antara lain dalam bentuk penilaian tentang penyakit pasien,penegakan
diagnosis,rencana tindakan pengobatan ,indikasi pengobatan,indikasi
tindakan,penanganan penyakitdan prosedur pengobatan.
c) Outcome
Outcome adalah hasil akhir kegiatan dokter,perawat,dan tenaga profesi lain
terhadap pasien.
2. Hasil kajian
a) BOR Pasien( Bed Occuption Rate )
BOR = Jumlah Pasien/jumlah bed x 100%
Berdasarkan jumlah pasien diruang irna paru pada bulan Mei 2018
didapatkan gambaran kapasitas tempat tidur yaitu sebanyak 14 tempat tidur
dengan rincian sebagai berikut :
BOR 1 bulan terakhir yaitu pada bulan Mei 2018
Bed Tidak
Jumlah Bed Bed Terpakai Bor
Terpakai
14x30 = 420 217 203 217/420 x 100%
= 51 %

Jadi, BOR selama 1 bulan terakhir pada bulan Mei2018 adalah 51 %


b) AVLOS (Average Length Of stay = rata-rata lamanya pasien dirawat)
AVLOS adalah rata-rata lama rawat seorang pasien.
Rumus AVLOS = Jumlah lama dirawat / jumlah pasien keluar (hidup/mati).
Jumlah pasienpada bulan Mei 2018 di ruang rawat inap Paru sebanyak 44
pasien dengan lama rawat dengan jumlah lama rawat semua pasien sebanyak
217 hari. Jumlah pasien yang keluar (hidup/mati) sebanyak 37pasien
sedangkan 7 pasien lainnya masih di rawat sampai bulan juni.
Perhitungan :
AVLOS = 217/37 = 5,86 dibulatkan menjadi 6 hari
Jadi rata-rata lama rawat pasien pada bulan Mei 2018 di ruang rawat inap
selama 6 hari.
c) Kepuasan Pasien
Kepuasan keluarga pasien rawat inap didapatkan dengan menyebarkan
angket yang berisi 25 item pertanyaan pada 5 keluarga pasien yang ada di
ruang rawat inap.

Diagram 3.2 Distribusi tingkat Kepuasan Pasien

100
80
60
40
20
0
SANGAT PUAS TIDAK PUAS SANGAT
PUAS TIDAK PUAS

Berdasarkan penyebaran kuesioner dari 5 klien pada tanggan 20 juni 2018 di


dapatkan hasil bahwa 5 orang menyatakan puas (100 %), dan tidak ada yang
menyatakan tidak puas terhadap pelayanan keperawatan di ruang irna paru.
b. Analisis SWOT
Identifikasi Situasi Ruangan berdasarkan Pendekatan Analisis SWOT
No Analisa SWOT Bobot Rating Bobot X Rating
1. M1 (ketenagaan)
SumberDayaManusia (Man)
Kekuatan
1. Jumlah perawat lebih banyak 0,25 1 0,50
dari jumlah pasien.
2. Semua perawat sudah 0,20 2 0,40
mengikuti pelatihan bantuan
hidup dasar (BTCLS)
3. Maasa kerja > 10 tahun 0,30 3 0,90
sebanyak 3 orang, sedangkan S-W
5 - 10 tahun sebanyak 9 2,05 – 1,4
orang =0,65
4. Jenjang karir perawat : 0,25 1 0,25
PK IV : 1 orang
PK III : 2 orang
PK II : 7 orang

TOTAL 1 2,05
Kelemahan (W – Weakness)
1. Sebagian perawat belum 0,30 1 0,30
mengikuti pelatihan MAKP
2. Jumlah perawat D3 lebih 0,40 2 0,80
banyak dari S1
3. Kurangnya apresiasi atau 0,30 1 0,30
motivasi kerja yang diberikan
dari pihak Rumah Sakit

TOTAL 1 1,4
Peluang (O – Opportunity)
1. Adanyakesempatan
melanjutkan pendidikan ke 0,40 2 0,80
jenjang yang lebih tinggi
2. Adanya kebijakan 2
pemerintah tentang 0,30 0,60
profesionalisasi perawat O-T
3. Adanya program akreditasi 0,30 1 0,30 1,7 –1,2 =
RS dari pemerintah dimana 0,5
MAKP merupakan salah satu
penilaian

TOTAL 1 1,7
Ancaman (T – Threatened)
1. Ada tcuntutan tinggi dari 0,20 1 0,20
masyarakat untuk pelayanan
yang lebih profesional
2. Semakin tingginya kesadaran 0,20 2 0,40
masyarakat akan hukum
3. Semakin tingginya kesadaran 0,20 1 0,20
masyarakat akan pentingnya
kesehatan
4. Persaingan antar Rumah 0,20 1 0,20
Sakit yang semakin kuat
5. Terbatasnya kuota tenaga 0,20 1 0,20
keperawatan yang
melanjutkan pendidikan tiap
tahun

TOTAL 1 1,2
2. M2. Material
Kekuatan
1. Mempunyaisarana dan 0,25 3 0,75
prasarana yang memadai
untuk pasien dan tenaga
kesehatan S-W
2. Terdapat administrasi 0.30 3 0.90 2,55 –
penunjang (buku injeksi, buku 2,20 =
registrasi Lab, buku timbang 0,35
terima, dll)
3. Tersedianya nurse station 0.30 2 0.60
4. Pemeliharaan dan perawatan 0.15 2 0,30
dari sarana dan prasarana
penunjang kesehatan sudah
ada

TOTAL 1 2,55
Kelemahan
1. Tidak ada papan struktur 0.20 3 0,60
organisasi untuk ruangan
2. Tidak tersedia tempat sampah 0.20 2 0.40
di setiap ruangan pasien
3. Tidak ada handscrub disetiap
pintu kamar pasien 0.30 2 0,60
4. Tidak ada larangan untuk
pengunjung dibawah 12 tahun 0,30 2 0,60

TOTAL 1 2,2
Peluang 0-T
1. Adanya perbaikan sarana dan 0,50 3 1,5 2,5–2=0,5
prasarana yang rusak dari
bagian teknisi RS
2. Adanya pengadaan sarana dan 0,50 2 1
prasarana yang rusak dari
bagian pengadaan barang
(AC, syring pump, EKG, dll)

TOTAL 1 2,5
Ancaman
1. Adanya tuntutan tinggi dari 0,40 2 0,80
masyarakat untuk melengkapi
sarana dan prasarana
2. Kesenjangan antara jumlah 0,35 2 0,70
pasien dengan peralatan yang
ada
3. Makin tinggi kesadaran 0,25 2 0,50
masyarakat akan pentingnya
kesehatan

TOTAL 1 2
3. M3 (Methode)
1. MAKP
Kekuatan
1. RS memiliki visi dan misi 0.25 4 1
sebagai acuan melaksanakan
kegiatan pelayanan
2. Sudah ada model MPKP 0,20 3 0,60
yang digunakan yaitu MPKP
kombinasi
3. Mempunyai standar asuhan 0,15 3 0,45
keperawatan
4. Mempunyai standar 0,15 3 0,75
operating prosedur (SOP)
S-W
5. Terlaksananya komunikasi 0,15 3 0.75
3,75 - 2 =
yang adekuat antara perawat
1,75
dan tim kesehatan lain
6. Ada kemauan perawat untuk 0,10 2 0,20
berubah

TOTAL 1 3,75
Kelemahan
1. Pelaksanaan model MPKP 0,60 2 1,2
sudah dilaksanakan akan
tetapi sosialisasi ke tim masih
kurang
2. Ada perawat yang tidak puas 0,40 2 0,80
dengan penerapan MAKP
TOTAL 1 2
Peluang
1. Adanya mahasiswa Profesi 0,50 3 1,5
Ners praktik managemen
keperawatan
2. Adanya kebijakan 0,30 2 0,60
pemerintah tentang
profesionalisasi perawat
3. Adanya kebijakan RS tentang 0,20 2 0,40
MAKP

TOTAL 1 2,5
Ancaman
1. Persaingan dengan rumah 0,30 2 0,60
sakit swasta yang semakin
O-T
ketat
2,5-1,85
2. Adanya tuntutan masyarakat 0,20 2 0,40
= 0,65
yang semakin tinggi terhadap
peningkatan pelayanan
keperawatan yang lebih
profesional
3. Makin tinggi kesehatan 0,20 2 0,40
masyarakat akan pentingnya
kesehatan
4. Persaingan dengan masuknya 0,15 1 0,15
perawat asing
5. Bebasnya pers yang dapat 0,15 2 0,30
langsung menyebarkan
informasi dengan cepat

TOTAL 1 1,85
2. Sentralisasi Obat
Kekuatan
1. Tersedianya sarana dan 0,20 2 0,40
prasarana untuk pengelolaan
sentralisasi obat
2. Kepala ruangan mendukung 0,10 2 0,20
kegiatan sentralisasi obat
3. Sudah dilaksanakan kegiatan 0,20 4 0,80
S-W
sentralisasi obat oleh perawat
2,7 –
berkolaborasi dengan depo
2=0,7
farmasi
4. Adanya kemauan perawat 0,20 2 0,40
untuk melakukan sentralisasi
obat
5. Adanya buku injeksi dan obat 0,20 3 0,60
oral bekerja sama dengan
depo farmasi
6. Ada lembar 0,10 3 0,30
pendokumentasian obat yang
diterima di setiap status
pasien

TOTAL 1 2,7

Kelemahan
1. Pelabelan obat NASA belum 1 2 2
belum berjalan dengan baik

TOTAL 1 2
Peluang
1. Adanya mahasiswa Profesi 0,50 3 1,5
Ners praktik managemen
keperawatan
2. Kerjasama yang baik antara 0,50 2 1
perawat dan mahasiswa
Profesi Ners
O-T
TOTAL 1 2,5 2,5 -2,2 =
Ancaman 0,3
1. Adaanya tuntutan pasien 0,40 2 0,80
untuk mendapatkan
pelayanan yang profesional
2. Makin tinggi kesadaran 0,60 2 1,2
masyarakat akan hukum

TOTAL 1 2,2
3. Supervisi
Kekuatan
a. Supervisi pernah 0,40 2 0,80 S-W
dilaksanakan 2 –1,8 =
b. Kepala ruangan 0.60 2 1.2 0,2
mendukung adanya
supervisi

TOTAL 2
Kelemahan
1. Belum mempunyai format 0.40 2 0,80
yang baku tentang
supervisi
2. Supervisi belum terstruktur 0.30 2 0,60
dan tidak ada formulir
penilaian tetap
3. Belum adanya 0.30 1 0,40
dokumentasi supervisi
yang jelas

TOTAL 1,8

Peluang
1. Adanya mahasiswa Profesi 0,45 3 1,35
Ners praktik managemen
keperawatan
2. Adanya teguran dari 0.30 2 0,60 0–T
kepala ruangan bagi 2,7 – 2 =
perawat yang tidak 0,7
menjalankan tugas dengan
baik
3. Hasil supervisi dapat 0,25 3 0,75
dilakukan sebagai
pedoman untuk Daftar
Penilai Prestasi Pegawai
(P3)
2,7
TOTAL

Ancaman
1. Tuntutan pasien sebagai
konsumen untuk 1 2 2
mendapatkan pelayanan
yang professional
2
TOTAL
4. Timbang terima
Kekuatan
1. Kepala ruangan memimpin 0,20 3 0,60
kegiatan timbang terima
setiap pagi.
2. Adanya laporan jaga setiap 0,20 3 0,60
S-W
shift
3,1-3 =
3. Timbang terima sudah 0,10 4 0,40
0,1
merupakan kegiatan rutin
yang telah di laksanakan
4. Adanya kemauan perawat 0,25 3 0,75
untuk melakukan timbang
terima
5. Adanya buku khusus untuk 0,25 3 0,75
pelaporan timbang terima

TOTAL 1 3,1

Kelemahan
1. Belum ada protap timbang 0,30 3 0,90
terima diruangan
2. Timbang terima sudah 0,15 3 0,45
dilakukan dengan baik (PP
melaporkan identitas pasien,
keluhan utama, DS, DO, MK
dan Intervensi) tetapi
intervensi masih bersifat
umum tidak berdasarkan MK
dan evaluaasi tidak lengkap
3. Format timbang terima sudah 0,25 3 0,75
mencakup nama dan paraf
perawat pada kedua shift
4. Pelaksanaan timbang terima 0,30 3 0,90
masih belum optimal
terutama shift sore ke malam
TOTAL 1 3
Peluang
1. Adanya mahasiswa profesi 0,40 4 1,6
ners yang praktek
manajemen keperawatan
2. Adanya kerja sama yang baik 0,40 3 1,2
antara mahasiswa profesi
ners yang praktik dengan
perawat ruangan.
3. Kebijakan RS (bidang
keperawatan) tentang 0,20 3 0,60
timbang terima.
O-T
TOTAL 1 3,4
3,4-2,4=1
Ancaman
1. Adanya tuntutan yang lebih 0,40 3 1,2
tinggi dari masyarakat untuk
mendapatkan pelayanan
keperawatan yang profesional
2. Meningkatnya kesadaran 0,60 2 1,2
masyarakat tentang tanggung
jawab dan tanggung gugat
perawat sebgai pemberi
asuhan keperawatan

TOTAL 1 2,4
5. Discharge Planning
Kekuatan
1. Tersedianya sarana dan 0,40 2 0,80
prasarana discharge planning
di ruangan untuk pasien
pulang (format atau kartu DP)
2. Adanya kartu control berobat 0,30 3 0,90
3. Perawat memberikan 0,30 4 1,2
pendidikan kesehatan secara
informal kepada pasien /
keluarga selama dirawat atau
S-W
2,9 – 2,7
TOTAL 1 2,9
=0,2
Kelemahan
1. Keterbatasan waktu dan 0,30 2 0,60
tenaga perawat
2. Kurangnya kemauan untuk 0,30 3 0,90
memberikan pendidikan
kesehatan pada pasien /
keluarga
3. Tidak tersedianya leaflet 0,20 4 0,80
pasien pulang
4. Pendidikan kesehatan belum 0,20 2 0,40
terdokumentasi

TOTAL 2,7
Peluang
1. Adanya mahasiswa Profesi 0,40 3 1,2
Ners praktik managemen
keperawatan
2. Adanya kerjasama yang baik 0,60 3 1,8
antara perawat dan
mahasiswa keperawatan

TOTAL 1 3
O-T
Ancaman
3 – 2,3 =
1. Adaanya tuntutan masyarakat 0,3 3 0,90
0,7
untuk mendapatkan
pelayanan keperawatan yang
profesional
2. Makin tinggi kesadaran 0,5 2 1
masyarakat akan pentingnya
kesehatan
3. Persaingan antar RS yang 0,2 2 0,4
semakin ketat

TOTAL 1 2,3
6. Ronde Keperawatan
Kekuatan
1. Bidang perawatan dan 0,5 4 2
ruangan mendukung adanya
kegiatan ronde keperawatan S-W
2. Beberapa kasus memerlukan 0,5 3 1,5 3,5-3,3
perhatian khusus =0,2

TOTAL 1 3,5
Kelemahan
1. Ronde keperawatan adalah 0,5 3 1,5
kegiatan yang belum
dilaksanakan secara teratur di
ruang IRNA Paru
2. Karakteristik tenaga yang 0,3 4 1,2
memenuhi kualifikasi belum
merata
3. Jumlah tenaga yang tidak 0,2 3 0,6
seimbang dengan tingkat
ketergantungan pasien

TOTAL 1 3,3
Peluang
1. Adanya pelatihan dan 0,4 3 1,2
seminar tentang manajemen
keperawatan
2. Adanya kesempatan dari 0,6 3 1,8
kepala ruangan untuk
mengadakan ronde
keperawatan pada perawat
dan mahasiswa praktik O–T
3 – 2,4
TOTAL 1 3 = 0,6
Ancaman
1. Adanya tuntutan yang lebih 0,4 3 1,2
tinggi dari masyarakat untuk
mendapatkan pelayanan yang
profesional
2. Persaingan antar ruang rawat 0,6 2 1,2
inap semakin kuat dalam
pemberian pelayanan

TOTAL 1 2,4
7. Dokumentasi Keperawatan
Kekuatan
1. Tersedianya sarana dan 0.3 3 0,9
prasarana dokumentasi untuk
S-W
tenaga kesehatan (sarana
3,2 -2,6
administrasi penunjang)
=0,6
2. Sudah ada sistem 0,3 3 0,9
pendokumentasian SOR
3. Format asuhan keperawatan 0,2 3 0,6
sudah ada
4. Adanya kesadaran perawat 0,2 4 0,8
tentang tanggung jawab dan
tanggung gugat

TOTAL 1 3,2

Kelemahan
1. Dari observasi status pasien, 0,4 2 0,8
pengisian dokumentasi tidak
lengkap: nama, waktu, dan
jam belum dicantumkan,
respon pasien pasca tindakan
kurang terpantau
2. SAK dan SOP belum 0,3 3 0,9
digunakan secara maksimal
3. Pengawasan terhadap 0,3 3 0,9
sistematika
pendokumentasian belum
dilaksanakan secara optimal

TOTAL 1 2,6
Peluang
1. Peluang perawat untuk 0,3 3 0,9
meningkatkan pendidikan
(pengembangan SDM)
2. Mahasiswa profesi ners 0,2 2 0,4
praktik managemen untuk
mengembangkan sistem
dokumentasi PIE
3. Kerjasama yang baik antar 0,3 4 1,2
perawat dan mahasiswa
4. Sistem MPKP yang 0,2 2 0,4
diterapkan mahasiswa profesi
ners S-W
2,9 – 2 =
TOTAL 1 2,9 0,9

Ancaman
1. Tingkat kesadaran 0,6 2 1,2
masyarakat (pasien dan
keluarga) akan tanggung
jawab dan tanggung gugat
2. Persaingan RS dalam 0,4 2 0,8
memberikan pelayanan
keperawatan

TOTAL 1 2
4. M4 (Money)
Kekuatan
1. Ada pendapatan dari jasa 0,4 3 1,2
medik, untuk pasien dengan
biaya BPJS yang dapat
diklaim setelah perawatan
2. Ada pendapatan dari jasa 0,4 3 1,2
pelayanan rumah sakit berupa
remunerasi
3. Ada pendapatan dari jasa 0,2 2 0,4
pelayanan IRNA medis
S-W
2,8 -2,4 =
TOTAL 1 2,8
0,4
Kelemahan
1. Jasa insentif untuk pelayanan 0,4 3 1,2
dan jasa medik yang
diberikan berbeda pada setiap
perawat
2. Sistem administrasi belum 0,3 2 0,6
terousat
3. Belum ada tunjangan untuk 0,3 2 0,6
lauk pauk

TOTAL 1 2,4
Peluang
1. Pengeluaran sebagian besar 0,5 3 1,5
dibiayai oleh rumah sakit
2. Ada kesempatan untuk 0,5 2 1
menggunakan instrument
medis dengan re-use
sehingga menghemat
pengeluaran

TOTAL 1 2,5
O-T
Ancaman
2,5 -2 =
1. Adanya tuntutan lebih tinggi 1 2 2
0,5
dari masyarakat untuk
mendapatkan pelayananan
kesehatan yang lebih
profesional sehingga
membutuhkan pendanaan
yang lebih besar untuk
mendanai sarana dan
prasarana

TOTAL 1 2
5. M5 (MUTU)
Kekuatan
1. Kepuasan pasien terhadap 0,3 3 0,9
pelayanan kesehatn di Rumah
sakit
2. Rata rata BOR cukup baik 0,2 3 0,6
3. Adanya pariasi karakteristik 0,2 2 0,4
dari pasien (BPJS, umum,
dinsos)
S-W
4. Sebagai tempat praktik 0,3 3 0,9
2,8–2=0,8
mahasiswa profesi Ners

TOTAL 1 2,8
Kelemahan
1. LOS yang memanjang karena 1 2 2
perawatan lama

TOTAL 1 2

Peluang
1. Mahasiswa Profesi Ners 0,5 3 1,5
praktik manajemen
2. Kerja sama yang baik anatara 0,5 3 1,5
prawat dan mahasiswa

TOTAL 1 3
O–T
Ancaman
3 – 2,4 =
1. Adanya peningkatan standar 0,4 3 1,2
0,6
masyarakat yag harus
dipenuhi
2. Persaingan rumah sakit dalam 0,6 2 1,2
memberikan pelayanan
kesehatan

TOTAL 1 2,4
c. Identifikasi Masalah

Setelah dilakukan analisis situasi dengan menggunakan pendekatan SWOT


maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. M1 (Ketenagaan)
a) Sebagian perawat belum mengikuti pelatihan MAKP
b) Tidak ada dokter jaga diruangan sehingga menyulitkan perawat untuk
mengkolaborasikan tindakan apabila dokter spesialisnnya tidak bisa
dihubungi.
c) Kualitas tenaga perawat masih rendah dimana perawat masih berlatar
pendidikan D3.
Penyebab:
Rumah sakit belum menetapkan kebijakan adanya dokter jaga di masing
masing ruangan.
2. M2 (Material)
a) Belum lengkapnya sarana dan prasarana di ruangan, seperti struktur
organisasi
3. M3 (MPKP)
a) Model keperawatan
1) Kurangnya pelatihan terkait peran perawat dan ketua tim
2) Hanya terdapat satu orang yang lulusan S1 keperawatan yaitu
kepala ruangan.
b) Ronde keperawatan
1) Ronde keperawatan adalah kegiatan yang belum dapat
dilaksanakan secara optimal diruang IRNA PARU
Penyebab :
Ronde keperawatan tidak dilakukan secara rutin tetapi dilakukan secara
spontanitas oleh kepala ruangan jika ada pasien yang akan dilakukan
ronde keperawatan.
c) Sentralisasi Obat
1) Pelaksanaa sentralisasi obat cukup optimal dan cukup jelas
2) Sudah ada format persetujuan sentralisasi obat
d) Supervisi
1) Belum ada program yang jelas tentang supervisi
2) Belum mempunyai format yang baku dalam pelaksanaan supervisi
3) Supervisi belum terstruktur dan tidak ada formulir penilaian yang
tetap
4) Belum adanya dokumentasi supervisi yang jelas
5) Kurangnya apresiasi terhadap orang yang melakukan supervisi
e) Tmbang terima
1) Pelaksanaan timbang terima masih belum optimal, khususnya dari
sif sore kemalam
2) Perawat kurang disiplin pada waktu timbang terima
f) Discharge planning
1) Pelaksanaan discharge planning belum optimal
2) Tidak tersedianya brosur/leaflet untuk pasien saat melakukan
discharge planning
3) Pemberian pendidikan kesehatan dilakukan secara lisan pada setiap
pasien dan keluarga

d. Prioritas Masalah dengan (CARL)

No Masalah Capabillity( Accessibillity Relevacnce Legalisation TOTAL


C) (A) (R) (L)

1 M1 : Sumber daya 1 2 2 3 12
manusia :
pendidikan perawat
diruangan
mayoritas D3

2 M2: Belum 3 2 2 1 8
lengkapnya sarana
dan prasarana di
ruangan.

3 supervisi sudah 1 3 2 2 8
berjalan tetapi
belum optimal
dalam
pendokumentasian
4 Pelaksanaan 3 4 3 2 64
timbang terima
yang masih belum
optimal, khususnya
dari sif sore
kemalam

5 Tidak tersedianya 3 3 2 1 18
brosur/leaflet untuk
pasien saat
melakukan
discharge planning

e. Prioritas masalah
1) Sumber daya manusia : pendidikan perawat diruangan mayoritas D3
2) Belum lengkapnya sarana dan prasarana di ruangan, seperti struktur
organisasi
3) Supervisi sudah berjalan tetapi belum optimal dalam pendokumentasian
4) Pelaksanaan timbang terima yang masih belum optimal, khususnya dari sif
sore kemalam
5) Tidak tersedianya brosur/leaflet untuk pasien saat melakukan discharge
planning
BAB 4

IMPLEMENTASI

4.1 Pelaksanaan Asuhan Keperawatan


Sistem MAKP adalah suatu kerangka yang mendefinisikan empat unsure, yakni :
standar, proses keperawatan, pendidikan keperawatan dan system MAKP. (Nursalam,
2009)
Model MAKP terdiri dari :
1. Model Fungsional
2. Model Tim
3. Model Primer
4. Model Kasus
5. Model Modifikasi Tim Primer
Dalam praktek manajemen ini, kelompok memilih model modifikasi tim primer
sebagai model asuhan keperawatan di Ruang Irna Paru RSUD Patut Patuh Patju Gerung
Kab. Lombok Barat.
1. Persiapan
Pada tahap persiapan seluruh anggota kelompok melakukan orientasi, analisa situasi
ruangan, perencanaan dan pengorganisasian selama 3 hari dari tanggal 18 – 30 Juni
2018. Setelah itu pada tanggal 25 Juli dilakukan destiminasi hasil pengkajian, analisa
situasi, serta menyampaikan rencana program kerja atau plan of action (POA).
2. Uji Coba
Uji coba dilaksanakan selama 1 hari yaitu pada tanggal 25 Juni 2018, yang meliputi
uji coba pemberian asuhan keperawatan yaitu dengan menggunakan model asuhan
keperawatan professional metode tim primer di masing-masing anggota kelompok
berperan sebagai kepala ruangan, ketua tim, serta perawat primer sesuai yang sudah
ditetapkan.
3. Pelaksanaan
pada minggu kedua, kelompok mulai melaksanakan asuhan kepewatan dengan
menerapkan model modifikasi tim primer keperawatan yang dilakukan secara
bergantian berperan sebagai kepala ruangan, kepala tim, dan perawat primer (jadwal
peran dan uraian tugas terlampir). Disamping itu, setiap anggota kelompok dibagi
menjadi 3 shift dinas yaitu : pagi, sore, dan, malam yang dilaksanakan mulai minggu
kedua (jadwal dinas terlampir).
Dengan menetapkan MAKP modifikasi tim oleh kelompok mulai pada tanggal
26 Juni s/d 08 Juli 2018, maka selanjutnya peran tenaga keperawatan dibagi dalam
kategori : kepala ruangan, ketua tim, dan perawat primer. Adapun bagan model
asuhan keperawat adalah sebagai berikut :

Kepala Ruang

Perawat Primer Perawat Primer

Perawat asosiet Perawat asosiet

Pasien/ Klien Pasien/ Klien

Gambar 4.1 sistem MAKP Model

Untuk selanjutnya, susunan kepanitiaan yang digunakan dalam penerapan


MAKP modifikasi tim primer di ruang IRNA PARU RSUD PATUT PATUH PATJU
Gerung Kab. Lombok Barat.
a. AVLOS (Avenger Length Of Stay)
AVLOS adalah rata-rata layanan seorang pasien dirawat.
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎h 𝑙𝑎𝑚𝑎 𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡 𝑖𝑛𝑎𝑝
Rumus AVLOS adalah 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎h 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 (hidup/ mati)

Jumlah Pasien pada tanggal 25 Juni s/d 08 Juli 2018 diruang rawat IRNA Paru
RSUD Patut Patuh Patju Lombok Barat sebanyak 35 pasien dengan jumlah lama
rawat semua pasien sebanyak 170 hari. Jumlah pasien yang keluar (hidup/mati)
sebanyak 24 pasien.
170
AVLOS = = 7,08 dibulatkan menjadi 7 hari.
24

b. BOR (Bed Occuption Rate) Pasien


𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎h 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛
Rumus BOR adalah x 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎h 𝑏𝑒𝑑
Berdasarkan hasil rekapan dari tanggal 25 Juni s/d 08 Juli 2018 diruang IRNA Paru
170
RSUD Patut Patuh Patju Lombok Barat adalah x 100% = 93,4% maka dibulatkan
182

menjadi 93%
c. Tingkat Ketergantungan Pasien Dan Kebutuhan Perawat dengan Metode Douglas
1. Jumlah Pasien pada tanggal 26 Juni 2018 diruang IRNA Paru RSUD Patut Patuh
Patju Lombok Barat sebanyak 10 pasien, dengan jumlah pasien total = 2 pasien,
dan pasien parsial = 8 pasien.
a. Pasien Total

Shif Rumus Jumlah

Pagi 2 x 0,63 1,26

Sore 2 x 0,42 0,84

Malam 2 x 0,22 0,44

Jumlah Kebutuhan perawat 3

b. Pasien Parsial

Shif Rumus Jumlah

Pagi 8 x 0,45 3,6

Sore 8 x 0,30 2,4

Malam 8 x 0,16 1,28

Jumlah Kebutuhan perawat 7,28

Jumlah kebutuhan perawat Pada tanggal 26 Juni 2018 diruang IRNA Paru
RSUD Patut Patuh Patju Lombok Barat adalah 3 + 7 = 10 perawat dengan kebutuhan
perawat setiap shif adalah
Pagi : 1,26 + 3,6 = 4,86 (5 perawat)
Sore : 0,84 + 2,4 = 3,24 (3 perawat)
Malam : 0,44 + 1,28 = 1,72 (2 perawat)
Jumlah tenaga lepas dinas per hari :
86 x 10 / 297 = 2,89 (3 perawat)
Jadi jumlah perawat yang dibutuhkan untuk bertugas pada tanggal 26 Juni
2018 adalah 10 perawat + 3 lepas dinas + 1 kepala ruangan. Jadi total jumlah
perawat yang dibutuhkan yaitu 14 perawat.

2. Jumlah pasien pada tanggal 01 Juli 2018 diruang IRNA Paru RSUD Patut Patuh
Patju Lombok Barat sebanyak 12 pasien, dengan jumlah pasien total = 2 pasien,
pasien parsial = 6 pasien dan pasien minimal = 4 pasien.
a. Pasien Total

Shif Rumus Jumlah

Pagi 2 x 0,63 1,26

Sore 2 x 0,42 0,84

Malam 2 x 0,22 0,44

Jumlah Kebutuhan perawat 3

b. Pasien Parsial

Shif Rumus Jumlah

Pagi 6 x 0,45 2,7

Sore 6 x 0,30 1,8

Malam 6 x 0,16 0,96

Jumlah Kebutuhan perawat 5

c. Pasien Minimal

Shif Rumus Jumlah

Pagi 4 x 0,27 1,08

Sore 4 x 0,18 0,72


Malam 4 x 0,94 3,76

Jumlah Kebutuhan perawat 6

Jumlah kebutuhan perawat Pada tanggal 01 Juli 2018 diruang IRNA Paru
RSUD Patut Patuh Patju Lombok Barat adalah 3 + 5 + 6 = 14 perawat dengan
kebutuhan perawat setiap shif adalah
Pagi : 1,26 + 2,7 + 1,08 = 5,04 (5 perawat)
Sore : 0,84 + 1,8 + 0,72 = 3,36 (3 perawat)
Malam : 0,44 + 0,96 + 3,76 = 5,16 (5 perawat)

Jumlah tenaga lepas dinas per hari :


86 x 12 / 297 = 3,47 (3 perawat)
Jadi jumlah perawat yang dibutuhkan untuk bertugas pada tanggal 26 Juni
2018 adalah 14 perawat + 3 lepas dinas + 1 kepala ruangan. Jadi total jumlah perawat
yang dibutuhkan yaitu 18 perawat.

3. Jumlah pasien pada tanggal 06 Juli 2018 diruang IRNA Paru RSUD Patut Patuh
Patju Lombok Barat sebanyak 11 pasien, dengan jumlah pasien total = 4 pasien,
pasien parsial = 4 pasien dan pasien minimal = 3 pasien.

a. Pasien Total

Shif Rumus Jumlah

Pagi 3 x 0,63 1,89

Sore 3 x 0,42 1,26

Malam 3 x 0,22 0,66

Jumlah Kebutuhan perawat 4


b. Pasien Parsial

Shif Rumus Jumlah

Pagi 5 x 0,45 2,25

Sore 5 x 0,30 1,5

Malam 5 x 0,16 0,8

Jumlah Kebutuhan perawat 5

c. Pasien Minimal

Shif Rumus Jumlah

Pagi 3 x 0,27 0,81

Sore 3 x 0,18 0,54

Malam 3 x 0,94 2,81

Jumlah Kebutuhan perawat 4

Jumlah kebutuhan perawat Pada tanggal 06 Juli 2018 diruang IRNA Paru
RSUD Patut Patuh Patju Lombok Barat adalah 5 + 4 + 4 = 13 perawat dengan
kebutuhan perawat setiap shif adalah
Pagi : 1,89 + 2,25 + 0,81 = 4,95 (5 perawat)
Sore : 1,26 + 1,5 + 0,54 = 3,3 (3 perawat)
Malam : 0,66 + 0,8 + 2,81 = 4,33 (4 perawat)

Jumlah tenaga lepas dinas per hari :


86 x 11 / 297 = 3,18 (3 perawat)
Jadi jumlah perawat yang dibutuhkan untuk bertugas pada tanggal 26 Juni
2018 adalah 12 perawat + 3 lepas dinas + 1 kepala ruangan. Jadi total jumlah perawat
yang dibutuhkan yaitu 16 perawat.
4. Evaluasi
Evaluasi pelaksanaan MAKP di laksanakan pada minggu keempat tanggal 9 Juli
2018 yang meliputi pelaksanaan masing masing peran ( Karu, perawat primer,
perawat asosiet) setiap anggota kelompok dengan berpedoman pada uraian tugas yang
telah disepakati serta pelaksanaan shift jaga.
5. Kelebihan
a. Model MAKP Modifikasi tim primer yang dijalankan oleh ruangan:
1) Asuhan keperawatan lebih terecana selama 24 jam karna direncanakan dari
pagi
2) Perawatan kepada pasien lebih komprehensif
3) Pelaksanaan tindakan keperawatan lebih optimal.
b. Model MAKP modifikasi tim yang dijalankan oleh mahasiswa adalah sesuai
MAKP yang dijalankan di ruangan yaitu modifikasi tim primer.
6. Hambatan
a. Model MAKP modifikasi tim primer yang dijalankan oleh ruangan :
1) Merangkapnya tugas dari katim khususnya pada shif sore dan malam karna
tidak didampingi langsung oleh kepala ruangan.
2) Perawat PP harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadai
dalam mengambil keputusan yang tepat, menguasai keperawatan klinis serta
mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu lainnya.
3) Perawat PP harus memiliki pendidikan minimal S1
b. Model MAKP modifikasi tim yang dijalankan oleh mahasiswa adalah model
modifikasi tim primer sesuai dengan ruangan dengan hambatan yang sama seperti
yang dipaparkan diatas.
7. Konsep solusi
a. Semua model MAKP baik untuk diterapkan di ruangan tetapi penyesuaian dan
penerataan shif harus diperhatikan dan dikondisikan sesuai keadaan tenaga
diruangan sehingga model MAKP yang diterapkan berjalan sesuai dengan
harapan.
b. Masing maisng petugas diruangan IRNA PARU mengetahui peran masing masing
dari peran kepala ruangan, ketau tim serta perawat pelaksana.
1) Tugas dan Tanggung Jawab Kepala Perawat
a) Identifikasi siapa yang ingin menjadi perawat primari
b) Memberi dukungan dan pendidikan
c) Menjamin semua staf perawat dan pemberi asuhan lain memahami peran
perawat primari dan perawat asosiet
d) Membuat daftar dinas
e) Menjadi model peran, pembimbing dan konsultan
f) Menjamin dan mempertahankan mutu asuhan
g) Mengelola aspek piscal/ keuangan
h) Memberikan otonomi pada perawat primer untuk menjalankan
pendelegasian dan pengambilan keputusan yang tepat
2) Tugaas dan Tanggung Jawab Perawat Primer
a) Memenuhi kebutuhan pasien secara total selama dirawat di rumah sakit
b) Melakukan pengkajian secara komprhensif dan merencanakan asuhan
keperawatan
c) Melakukan komunikasi dan koordinasi dalam merencanakan asuhan
keperawatan dan membuat rencana pulang pasien
d) Memberikan asuhan keperawatan kepada pasien sesuai rencana dan
mengkoordinasikan dengan tim kesehatan lain : dokter, dietisien, perawat
lain serta menginformasikan keadaan pasien kepada kepala ruangan,
dokter dan staf keperawatan
e) Melakukan rujukan kepada pekerja sosial, kontak dengan lembaga sosial
di masyarakat.
f) Membuat jadwal perjanjian klinik, mengadakan kunjungan rumah dan
lain-lain.
3) Tugas dan Tanggung Jawab Perawar Asosiet
a) Melaksanakan tugas dan tanggung jawab perawat primer bila perawat
primer tidak ada
b) Mengikuti timbang terima
c) Malaksanakan tugas yang didelegasikan
d) Mendokumentasikan tindakan keperawatan

Keuntungan :

1) Memungkinkan perawat primer untuk pengembangan diri melalui


implementasi ilmu pengetahuan
2) Model praktek didasarkan pada pengetahuan
3) Fokus pada kebutuhan pasien
4) Meningkatnya otonomi perawat
5) Memungkinkan asuhan keperawatan diberikan secara komprehensif
6) Membaiknya kontinuitas dan koordinasi asuhan
7) Meningkatnya kesempatan untuk pengembangan hubungan antara perawat –
pasien/keluarga
8) Peningkatan mutu asuhan, karena :
a. Hanya ada satu perawat yang bertanggungjawab dalam perencanaan dan
koordinasi asuhan keperawatan
b. Jangkauan observasi setiap perawat hanya 4-6 klien
c. Asuhan keperawatan diberikan secara komprehensif
d. PP bertanggungjawab selama 24 jam
e. Rencana pulang klien dapat diberikan lebih awal
f. Rencana asuhan keperawatan dan rencana medik dapat berjalan parallel
9) Perbaiki retensi perawat
10) Meningkatnya kepuasan perawat, dokter, dan pasien/keluarga

Kerugian :

1) Diperlukan perawat berpendidikan dan berpengalaman


2) Diperlukan kemampuan berkomunikasi yang baik antara perawat primer
dengan rekan perawat (perawat asosiet)
3) Perawat primer dapat mengambil tanggungjawab rekan perawat untuk
mengimplementasikan asuhan keperawatan yang diberikan
4) Karena pindah ke unit yang berbeda pasien dalam kondisi kritis
kemungkinan mempunyai beberapa perawat primer
5) Biaya tinggi
6) LOS menjadi singkat

Keuntungan yang diperoleh rumah sakit adalah rumah sakit tidak harus
mempekerjakan terlalu banyak tenaga keperawatan, tetapi harus merupakan
perawat yang bermutu tinggi.
4.2 Timbang Terima Pasien
1. Persiapan
Persiapan timbang terima mulai dilaksanakan pada minggu kedua dengan kegiatan
sebagai berikut :
a. Mencari literatur guna memperluas wawasan timbang terima
b. Menyusun proposal timbang terima, skenario timbang terima, dan format timbang
terima
c. Melakukan konsultasi kepada pembimbing mengenai proposal serta format
timbang terima yang telah disusun
2. Pelaksanaan
Pelaksanaan timbng terima mulai dilaksanakan pada minggu kedua
3. Kelebihan
Timbang terima yang dilaksanakan oleh perawat ruangan IRNA Paru RSUD TRIPAT
Gerung. Timbang terima dilaksanakan oleh perawat ruangan sudah oftimal sesuai
teori, melalui 3 tahap yaitu : pra timbang terima, pelaksanaan timabang terima, dan
post timbang terima.
4. Hambatan
a. Timbang terima yang dilakukan oleh mahasiswa
1) Minimnya pengalaman dari mahasiswa dalam pelaksanaan timbang terima
2) Kurang optimalnya penyampaian informasi instuksi mahasiswa dari tim
sebelumnya ke tim berikutnya karena kurangnya kemampuan dari mahasiswa
dalam melaksanakan timbang terima
5. Konsep Solusi
a. Timbang terima dilaksanakan secara bersama dari tim 1 ke tim 2 sehingga semua
perawat akan mengetahui semua kondisi pasien
b. Timbang terima dilaksanakan tepat waktu sehingga pemberian asuhan
keperawatan bisa dilaksanakan lebih komprehensif dan optimal selama 24 jam.
4.3 Sarana Dan Prasarana
1. Persiapan
a. Mengamati apakah sistem laundry diruangan sudah tepat waktu dalam memenuhi
persediaan alat tenun, seperti : selimut, sepray, sarung bantal dll.
b. Melakukan koordinasi dengan kepala ruangan tentang sistem laundry yang ada
diruangan
c. Mengamati penggunaan alat-alat kesehatan terutama alat nebulizer
2. Pelaksanaan
Pelaksanaan pengamatan sistem laundry dan penggunaan alat-alat kesehatan terutama
nebulizer mulai pada minggu kedua
3. Hambatan
a. Perawat ruangan terkadang memakai spray yang di khususkan untuk pasien
b. Alat nebulizer hanya ada 2 diruangan yaitu untuk pasien TB dan Non TB, akan
tetapi dalam implementasinya seringkali alat nebulizer digunakan tidak sesuai
karena kondisi alat yang kadang-kadang error dan tidak dapat digunakan sehingga
pasien yang Non TB di nebu menggunakan alat nebulizer untuk pasien TB, begitu
juga sebaliknya.
4. Konsep Solusi
a. Menginformasikan kepada Kepala Ruangan untuk menambah jumlah
pengamprahan spray.
b. Menginformasikan kepada Kepala Ruangan untuk menambah dan memperbaiki
alat nebulizer maupun alat kesehatan lainnya yang rusak.

4.4 Supervisi
1. Persiapan
a. Berdiskusi dengan kepala ruangan tentang supervise yang ada diruangan.
b. Mengamati proses supervise internal yang dilakukan oleh kepala ruangan.
2. Pelaksanaan
Pelaksanaan pengamatan supervisi internal mulai pada minggu kedua
3. Hambatan
a. Tidak adanya supervise eksternal diruangan IRNA Paru
b. Supervise eksternal di ruangan IRNA paru tidak ada, dan dig anti dengan Morning
Report, hal itu menyebabkan mahasiswa tidak bisa mengamati prosesdari
pelaksanaan Morning Report karena dilakukan diruangan manajemen, sehingga
mahasiswa tidak bisa menentukan morning report yang dilakukan sudah optimal
atau belum.
4. Konsep Solusi
Berdiskusi dengan kepala ruangan tentang kegiatan morning report yang ada di
ruangan IRNA Paru.
4.5 Discharge Planning
Merupakan bagian penting dari program keperawatan klien yang dimulai segera
setelah klien masuk rumah sakit. Discharge planning yang meliputi penjelasan diagnose
keperawatan, obat-obatan, peawatan, lembar kontrol, nutrisi, aktivitas, istirahat ketika di
rumah, penjelasan biasanya dijelaskan oleh perawat, mengenai diit makanan yang harus
dihindari serta makanan yang bagus dikonsumsi oleh klien.
1. Persiapan
Pada tahap persiapan, kelompok melakukan persipan sebagai berikut :
a. Menyusun peoposal discharge planning serta standar kalimat pada discharge
planning
b. Penetapan pelaksanaan discharge planning yaitu minggu kedua pelaksanaan
MAKP.
2. Pelaksanan
Pelaksanaan discharge planning dilakukan pada minggu kedua pelaksanaan MAKP.
Discharge planning dilakukan mulai dari pasien baru masuk rumah sakit sampai akan
pulang yaitu dengan tanda tangan persetujuan pulang oleh keluarga.
3. Hambatan
Hambatan yang ditemukan dalam pelaksanaan discharge planning adalah pemberian
discharge planning yang dilakukan oleh kelompok belum optimal karena kelompok
baru pertama kali melaksanakan discharge planning serta belum menguasai secara
menyeluruh materi yang akan diberikan ke pasien yang akan pulang.
4. Konsep Solusi
Berdasarkan hambatan yang temukan, solusi yang dapat dilakukan adalah
perlunya kesadaran dari masing-masing anggota kelompok untuk lebih menguasai
materi yang akan disajikan sebagai discharge planning dan memiliki kesiapan yang
lebih optimal agar materi yang disampaikan benar dan mudah dipahami oleh pasien
dan keluarganya.
BAB 5
EVALUASI

Pada bab ini akan diuraikan evaluasi dari aplikasi Model Asuhan Keperawatan
Profesional (MAKP) yang dilaksanakan dalam praktik manajemen keperawatan di
ruang Irna RSUD Patut Patuh Patju dengan implementasi yang dilakukan pada
tanggal 18 Juni – 14 Juli 2018. Evaluasi MAKP ditekankan beberapa komponen,
yaitu:1. Discharge Planning, 2. timbang terima

5.1 Evaluasi Proses


Berdasarkan rencana kegiatan yang telah disusun, maka kegiatan yang dapat
dilakukan antara lain :
1. Pembuatan struktur organisasi
2. Analisa situasi
3. Pembuatan jadwal dan rancangan pembagian peran dalam penerapan MAKP
4. Pelaksanaan timbang terima
5. Pelaksanaan discharge planning
6. Evaluasi penerapan discharge planning
7. Penyusunan laporan
8. Persiapan seminar
5.2 Evaluasi Hasil
1. Discharge Planning
a. Evaluasi Struktur
Sistem discharge planning dapat berjalan dengan baik, dengan
tersedianya format discharge planning: resume keperawatan, Pengisian
lembar discharge planning diisi oleh katim, resume keperawatan juga diisi
oleh katim.
b. Evaluasi Proses
Pelaksanaan discharge planning dimulai pada minggu Ke-2.
Pelaksanaan discharge planning ini melibatkan kepala ruangan, katim,
perawat pelaksana, pasien dan keluarga.
c. Evaluasi Hasil
Informasi yang disampaikan pada saat discharge planning dapat
diterima dan dipahami oleh pasien dan keluarga. Selama kegiatan masing
masing mahasiswa sudah berperan sesuai dengan tugasnya.
2. Timbang Terima
a. Evaluasi Struktur
Pada pelaksanaan timbang terima, karu, katim pagi, anggota tim
pagi, katim malam dan anggota tim malam telah memahami tugas dan
tanggung jawab masing-masing sehingga tidak terjadi kesalahan
prosedur peran dalam pelaksanaan timbang terima keperawatan.Sarana
dan prasarana sudah tersedia dan siap digunakan saat pelaksanaan
timbang terima keperawatan meliputi buku timbang terima, status klien.
Kepala ruangan memimpin kegiatan timbang terima keperawatan yang
dilaksanakan pada pergantian shift, dari shift malam ke shift pagi.
b. Evaluasi Proses
Proses pelaksanaan timbang terima yang diterapkan sudah sesuai
dengan teori dan konsep timbang terima keperawatan. Timbang terima
dilaksanakan setiap pergantian shift atau operan. Di nurse station
perawat berdiskusi untuk melaksanakan timbang terima dengan
mengkaji secara komprehensif yang berkaitan tentang masalah
keperawatan klien, rencana tindakan yang sudah dan belum dilaksanakan
serta hal-hal penting lainnya yang perlu dilimpahkan. Hal-hal yang
sifatnya khusus dan memerlukan perincian yang lengkap sebaiknya
dicatat untuk kemudian diserah terimakan kepada perawat jaga
berikutnya.
Hal-hal yang perlu disampaikan pada saat timbang terima adalah:
(Identitas klien dan diagnosa medis, masalah keperawatan yang mungkin
masih muncul, tindakan keperawatan yang sudah dan belum
dilaksanakan, intervensi kolaboratif, rencana umum dan persiapan yang
perlu dilakukan dalam kegiatan selanjutnya).
Proses timbang terima dipimpin oleh Karu dan diikuti oleh
seluruh perawat yang bertugas sebelumnya maupun yang akan ganti
dinas. Perawat yang melakukan timbang terima dapat melakukan
klarifikasi tanya jawab terhadap hal-hal yang ditimbang-terimakan dan
berhak menanyakan mengenai hal-hal yang kurang jelas. Penyampaian
saat timbang terima secara jelas dan singkat. Lama timbang terima untuk
setiap pasien tidak lebih dari 5 menit kecuali pada kondisi khusus dan
memerlukan penjelasan yang lengkap dan rinci. Kepala ruangan dan
semua perawat keliling ke tiap klien dan melakukan validasi data.
Laporan untuk timbang terima ditulis secara langsung pada format
laporan ruangan oleh katim dan ditandatangani oleh katim malam, katim
pagi dan mengetahui karu.
c. Evaluasi Hasil
Hasil yang dapat disimpulkan dari evaluasi adalah cukup bagus
dan sudah sesuai dengan alur, konsep dan teori, baik dari segi
persiapan, pelaksanaan. Namun, saat validasi ke pasien kurang
menjelaskan kondisi dan kebutuhan pasien serta terlalu lama operan.
BAB 6

PENUTUP

6.1 KESIMPULAN

Dari setiap bentuk kegiatan yang telah dilaksanakan, maka scara umum dapat
disimpulkan sebagai berikut :

1. Proses penyelenggaraan MAKP yang ditrapkan dengan menggunakan metode Tim


Primer. Perlu disadari bahwa ternyata dari hasil penrapan MAKP, dalam evaluasi
pribadi kelompok, pelaksanaan peran kurang maksimal, hal ini dipengaruhi oleh :
a. Merupakan pengalaman pertama kali bagi mahasiswa dalam bermain peran
b. Kurang rasa percaya diri dari mahasiswa
2. Timbang trima diruang cukup berjalan sesuai alur, diruang sudah memiliki format
timbang terima
3. Hasil yang dapat disimpulkan dari evaluasi ketersediaan sarana dan prasarana (alat
tenun) adalah sudah cukup baik dari sebelumnya. Hasil yang dapat disimpulkan dari
evaluasi alat penyangga bed belum tersedia diruangan
4. Hasil yang dapat disimpulkan dari evaluasi suprvisi eksternal (morning report) adalah
sudah dilaksanakannya morning report dengan cukup baik dilihat dari keteraturan
jadwal dalam melaksanakan morning report diruangan, akan tetapi tidak semua
masalah yang disampaikan dari ruangan bisa langsung diberikan solusi karena dilihat
dari masalah yang diprioritaskan
5. Diruang sudah memiliki format discharge planning. Sistem discharge planning dapat
berjalan dengan baik, dengan trsdianya format discharge planning: resume
keperawatan dan leaflet. Pngisian lembar discharge planning diisi oleh katim, rsume
keperawatan juga diisi oleh katim.

6.2 SARAN

Kami menyaari masalah yang akan muncul selama proses kegiatan, salah satunya
dipengaruhi oleh ketidak bisaan dan kurang rasa prcaya diri, sehingga kami meyakini
bahwa sesungguhnya penerapan MAKP tim primer ( modifikasi) dan discharge planning
terhadap ruang rawat inap akan dapat dilaksanakan secara optimal jika pemebiasaan terus
dilakukan dengan mempertahankan plaksanaan MAKP ini.
Bagi mahasiswa, kurangnya penguasaan dengan lingkungan klinik (lack of
enviroment mastery) dan juga manajemen kelompok dalam bekrja perlu dibenahi dengan
komitmen bersama untuk dapat benar-benar mmahami pelaksanaan MAKP dan discharge
planning.
DAFTAR PUSTAKA

2018. Data Primer Irna Paru RSUD Patut Patuh Patju Gerung

2018. Data Sekunder Irna Paru RSUD Patut Patuh Patju Gerung

Nursalam, (2011). Manajemen Keperawatan: Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan

Profesional. Jakarta, Salemba Medika

Nursalam, (2007). Manajemen Keperawatan: Penerapan Dalam Praktik Keperawatan

Profesional. Edisi 2. Jakarta, Salemba Medika