Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Bermain adalah cara alamiah bagi anak untuk mengungkapkan konflik dalam
dirinya yang tidak disadari ( Miller B.F dan Keane ). Bermain adalah kegiatan yang
dilakukan sesuai dengan keinginan sendiri untuk memperoleh kesenangan.
Bermain merupakan keinginan dalam mengatasi konflik dari anak yang tidak
disadari serta dialami dengan suatu kepuasan . Bermain merupakan sarana bagi anak–
anak untuk belajar mengenal lingkungan kehidupannya. Pada saat bermain, anak–anak
mencobakan gagasan–gagasan mereka, bertanya serta mempertanyakan berbagai
persoalan, dan memperoleh jawaban atas persoalan – persoalan mereka. Melalui
permainan menyusun balok misalnya anak – anak belajar menghubungkan ukuran
suatu obyek dengan lainnya. Mereka belajar memahami bagaimana balok yang besar
menopang balok yang kecil. Mereka belajar konsep bagaimana hal-hal yang lebih besar
mampu menopang hal – hal yang lebih kecil.
Anak yang sakit dirumah sakit umumnya mengalami krisis dikarenakan perubahan
lingkungan yang terjadi pada dirinya. Krisis tersebut dapat dipengaruhi beberapa faktor
seperti usia perkembangan anak, pengalaman masa lalu tentang penyakit, dan ancaman
perawatan. Stress yang dialami seorang anak dirawat dirumah sakit perlu mendapatkan
perhatian dan pemecahannya agar saat dirawat seorang anak mengetahui dan
kooperatif menghadapi permasalahan yang terjadi saat dirawat. Salah satu cara untuk
menghadapi permasalahan tersebut adalah bermain dengan tujuan mengurangi rasa
sakit akibat tindakan invansif yang diterima.
Dari pernyataan diatas, telah mendasari kelompok kami untuk membuat proposal
tentang terapi bermain yang pada nantinya akan diberikan pada anak usia sekolah yaitu
usia 6 sampai dengan 12 tahun. Kelompok akan mencoba menguraikan teori tentang
konsep bermain, pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia sekolah serta jenis
permainan yang dapat diberikan pada anak sekolah.
2. Tujuan Penulisan
1) Tujuan Umum:
Mahasiswa dapat memahami tentang isi proposal ini yaitu terapi bermain pada
anak usia 6 tahun sampai 12 tahun.
2) Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat memahami tentang konsep pertumbuhan dan
perkembangan anak
b. Mahasiswa dapat memahami konsep bermain pada anak
c. Mahasiswa dapat menerapkan konsep permainan pada anak usia 6 tahun
sampai 12 tahun
3. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penulisan pengamatan hasil penelitian ini adalah:
BAB I : Pendahuluan yang terdiri dari Latar Belakang, Tujuan Penulisan dan
Sistematika Penulisan.
BAB II : Konsep Tumbuh kembang yang terdiri dari Pengertian Tumbuh Kembang,
Ciri Proses Tumbuh Kembang, Prinsip Tumbuh Kembang, Tahap
Pertumbuhan dan Perkembangan Anak, Faktor - Faktor yang Mempengaruhi
Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak, Teori Tumbuh Kembang dan
Konsep Bermain yang terdiri dari Pengertian Bermain, Metode Bermain,
Tahapan Perkembangan Bermain, Fungsi Bermain terhadap Pertumbuhan
dan Perkembangan Anak, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pola Bermain
pada Anak, Pedoman untuk Keamanan Bermain, Terapi Bermain pada Anak
yang Dihospitalisasi.
BAB III : Program Bermain Anak Usia Sekolah
BAB IV : Kesimpulan dan Saran
BAB II
TINJAUAN TEORI

1. Konsep Tumbuh Kembang


a. Pengertian Tumbuh Kembang
Istilah tumbuh kembang mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda
tetapi saling berkaitan dan sulit untuk dipisahkan yaitu pertumbuhan dan
perkembangan. Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam
jumlah besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ, maupun individu,
yang bias diukur. Sedangkan perkembangan adalah bertambahnya kemampuan
dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur
sebagai hasil dari proses kematangan (Soetjiningsih, 1995).

Whaley dan Wong dalam Supartini (2004), mengemukakan pertumbuhan


sebagai suatu peningkatan jumlah dan ukuran, sedangkan perkembangan
menitikberatkan pada perubahan yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang
paling rendah ke tingkat yang paling tinggi dan kompleks melalui proses
maturasi dan pembelajaran.

Sebagai pemberi pelayanan keperawatan, perawat memeberikan pelayanan


dari mulai manusia sebelum lahir sampai dengan meninggal, dalam merawat
kasus yang apapun tindakan yang diberikan akan sangat berbeda karena setiap
orang adalah unik, sehingga seorang perawat dituntut untuk mengerti proses
tumbuh kembang. Tumbuh kembang merupakan hasil dari 2 faktor yang
berinteraksi yaitu faktor herediter dan faktor lingkungan. Manusia dalam
tumbuh dan berkembang dipengaruhi oleh kondisi:
a. Fisik
b. Kognitif
c. Psikologis
d. Moral
e. Spiritual
b. Ciri Proses Tumbuh Kembang

Menurut Soetjiningsih, tumbuh kembang anak dimulai dari masa konsepsi sampai
dewasa memiliki ciri-ciri tersendiri, yaitu :

1. Tumbuh kembang adalah proses yang kontinyu sejak konsepsi sampai maturitas
atau dewasa yang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan

2. Dalam periode tertentu terdapat percepatan dan perlambatan dalam proses tumbuh
kembang pada setiap organ tubuh berbeda

3. Pola perkembangan anak adalah sama tapi kecepatannya berbeda antara anak satu
dengan lainnya

4. Aktivitas seluruh tubuh diganti dengan respon tubuh yang khas oleh setiap organ

c. Prinsip Tumbuh Kembang

Prinsip tumbuh kembang menurut Potter dan Perry (2005)

1. Perkembangan adalah hal yang teratur dan mengikuti rangkaian tertentu

2. Perkembangan adalah sesuatu yang terarah dan berlangsung terus menerus dalam
pola sebagai berikut :

 Cephalocaudal, pertumbuhan berlansung terus menerus dari kepala ke arah


bawah bagian tubuh

 Proximodistal., perkembangan berlangsung terus dari daerah pusat (proksimal)


tubuh ke arah luar tubuh (distal)

 Differentiation, ketika perkembangan berlangsung terus yang mudah ke arah


yang lebih kompleks

3. Perkembangan adalah hal yang kompleks, dapat diprediksi, terjadi dengan pola
yang konsisten dan kronologis
d. Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Sekolah (6-12 Tahun)

1. Motorik

Lebih mampu menggunakan otot-otot kasar daripada otot –otot halus.


Misalnya loncat tali, badminton, bola volly, pada akhir masa sekolah motorik
halus lebih berkurang, anak laki-laki lebih aktif daripada anak perempuan.

2. Sosial emosional

Mencari lingkungan yang lebih luassehingga cenderung sering pergi dari rumah
hanya untuk bermain dengan teman, saat ini sekolah sanggat berperan untuk
membentuk pribadi anak, disekolah anak harus berinteraksi dengan orang lain
selain keluarga sehingga peran guru sangatlah besar.

3. Pertumbuhan fisik

BB meningkat 2-3 Kg/tahun dan TB meningkat 6-7 cm/tahun.

2. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan


Anak

1. Faktor herediter

Keturunan merupakan faktor yang tidak dapat untuk diubah ataupun dimodifikasi,
ini merupakan modal dasar untuk mendapatkan hasil akhir dari proses tumbang
anak. Melalui instruksi genetic yang terkandung didalam sel telur yang telah dibuahi
dapatlah ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Termasuk dalam faktor
genetic ini adalah jenis kelamin dan suku bangsa /ras. Misalnya, anak keturunan
bangsa eropa akan lebih tinggi dan lebih besar jika dibandingkan dengan keturunan
asia termasuk indonesia, pertumbuhan postur tubuh wanita akan berbeda dengan
laki-laki.
2. Faktor lingkungan

1) Lingkungan internal

Hal yang berpengaruh diantaranya adalah hormon dan emosi. Ada tiga hormon
yang mempengaruhi pertumbuhan anak, hormon somatotropin merupakan
hormon yang mempengaruhi jumlah sel tulang, merangsang sel otak pada masa
pertumbuhan,berkurangnya hormon ini dapat menyebabkan gigantisme. Hormon
tiroid akan mempengaruhi pertumbuhan tulang, kekurangan hormon ini akan
menyebabkan kretinesme dan hor,on gonadotropin yang berfungsi untuk
merangsang perkembangan seks laki-laki dan memproduksi spermatozoa,
sedangkan esterogen merangsang perkembangan seks sekunder wanita dan
produksi sel telur. Jika kekurangan hormon gonadotropin ini akan menyebakan
terhambatnya perkembangan seks.

Terciptanya hubungan yang hangat dengan orang lain seperti ayah, ibu, saudara,
teman sebaya, guru dan sebagainya akan berpengaruh besar terhadap
perkembangan emosi, sosial, dan intelektual anak. Cara seseorang anak dalam
berinteraksi dengan orang tua akan mempengaruhi interaksi anak diluar rumah.
Pada umumnya anak yang perkembangannya baik dan mempunyai intelegensi
yang tinggi dibandingkan dengan anak yang tahap perkembangannya terhambat.

2) Lingkungan eksternal

Dalam lingkungan eksternal ini banyak sekali yang mempengaruhi, diantaranya


adalah kebudayaan. Kebudayaan suatu daerah akan mempengaruhi kepercayaan,
adat kebiasaan dan tingkah laku dalam bagaimana oarang tua mendidik
anaknya.status sosial ekonomi keluarga juga berpengaruh, orang tua yang
ekonominya menengah ke atas dapat dengan mudah menyekolahkan anaknya
disekolah-sekolah berkualitas. Sehingga mereka dapat menerima dan
mengadopsi cara-cara baru bagimana cara merawat anak dengan baik. Status
nutrisi pengaruhnya juga sangat besar, orang tua dengan status ekonomi lemah
bahkan tidak mampu memberikan makanan tambahan buat bayinya, sehingga
bayi akan kekurangan asupan nutrisi yang akibat selanjutnya daya tahan tubuh
akan menurun dan akhirnya bayi/anak akan jatuh sakit.

Olahraga yang teratur dapat meningkatkan sirkulasi darah dalam tubuh, aktifitas
fisiologis dan stimulasi terhadap perkembangan otot-otot, posisi anak dalam
keluarga juga berpengaruh, anak pertama akan menjadi pusat perhatian orang
tua, sehingga semua kebutuhan dipenuhi baik itu kebutuhan fisik, emosi, maupun
sosial.

3) Faktor pelayanan kesehatan

Adanya pelayanan kesehatan yang memadai yang ada disekitar lingkungan


dimana anak tumbuh dan berkembang. Diharapkan tumbang anak dapat dipantau.
Sehingga apabila terdapat sesuatu hal yang sekiranya meragukan atau terdapat
keterlambatan dalam perkembangannya. Anak dapat segera mendapatkan
pelayanan kesehatan dan diberikan solusi pencegahannya.

3. Teori Tumbuh Kembang

Tahapan perkembangan :

Industry Vs Inferiority (School age, 6 – 11 tahun)


1. Anak senang menyelesaikan ssesuatu dan menerima pujian
2. Anak tidak berhasil menyelesaikan tugasnya akan menjadi inferior
3. Perilaku positif: memiliki perasaan untuk bekerja atau melaksanakan tugas,
mengembangkan kompetisi sosial dan sekolah, melakukan tugas yang nyata

Teori perkembangan Piaget

Jean Piaget lebih menekankan kepada perkembangan kognitif atau intelektual.


Piaget menyatakan perkembangan kognitif berkembang dengan proses yang teratur
dengan 4 urutan/tahapan melalui proses ini:
1. Assimilasi, adalah proses pada saat manusia ketemu dan berekasi dengan situasi
baru dengan mengunakan mekanisme yang sudah ada. Pada tahap ini manusia
mendapatkan pengalaman dan keterampilan baru termasuk cara pandang
terhadap dirinya dan duania disekitarnya
2. Akomodasi, merupakan proses kematangan kognitive untuk memecahkan
masalah yang sebelumnya tidak dapat dipecahkan. Tahap ini dapat tercapai
karena ada pengetahuan baru yang menyatu.
3. Adaptasi, merupakan kemampuan untuk mengantisipasi kebutuhan
3. Konsep Bermain

a. Pengertian Bermain

Bermain merupakan suatu aktivitas dimana anak dapat melakukan atau


mempraktikan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi
kreatif, memersiapkan diri untuk berperan dan menjadi dewasa.(Aziz Alimul
Hidayat,2008).

Bermain merupakan cara alamiah bagi anak untuk mengungkapkan konflik


dalam dirinya yang tidak disadari ( Miller B.F dan Keane, 1983 ).

Bermain adalah kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan sendiri


untuk memperoleh kesenangan ( Foster, 1989 ). Bermain adalah cerminan
kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial dan bermain merupakan media
yang baik untuk belajar karena dengan bermain , anak akan berkata-kata, belajar
memnyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan apa yang dapat dilakukan, dan
mengenal waktu, jarak, serta suara . (Wong, 2000).

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa bermain adalah aktivitas
yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak sehari-hari karena bermain sama
dengan kerja pada orang dewasa, yang dapat menurunkan stres anak, belajar
berkomunikasi dengan lingkungan, menyesuaikan diri dengan lingkungan, belajar
mengenal dunia dan meningkatkan kesejahteraan mental serta sosial anak.
Anak dalam keadaan sakit atau yang mendapat perawatan dirumah sakit
umumnya mengalami krisis dikarenakan perubahan lingkungan yang terjadi pada
dirinya. Krisis tersebut dapat dipengaruhi beberapa faktor seperti usia
perkembangan anak, pengalaman masa lalu tentang penyakit, dan rasa terancam
karena perawatan. Stress yang dialami seorang anak dirawat dirumah sakit perlu
mendapatkan perhatian dan pemecahannya agar saat dirawat seorang anak
mengetahui dan kooperatif menghadapi permasalahan yang terjadi saat dirawat.
Salah satu cara untuk menghadapi permasalahan tersebut adalah bermain dengan
tujuan mengurangi rasa sakit akibat tindakan invansif yang diterima.
Gibon dan Boren mendeskripsikan 3 tipe permainan yang bermanfaat untuk
mengurangi rasa stress anak, yaitu:
1. Bermain rekreasi atau bermain dengan tujuan bersenang-senang yaitu bermain
bemain spontan yang tidak terstruktur.
2. Bermain terapetik yaitu bila orang dewasa menstruktur aktifitas untuk tujuan
tertentu, biasanya sebelum atau sesudah pengobatan
3. Bermain dengan tujuan Terapi yaitu, bermain yang bertujuan
meninterprestasiakan permainan anak dan merekomendasikan intervensi yang
sesuai. Tipe bermain ini bertujuan untuk untuk memberikan pengalaman pada
anak menyelesaiakan konflik internal, dan tipe ini merupakan komponen penting
pendekatan psikososial untuk merawat anak.

Sasaran Usia Sekolah ( 6-12 tahun )


Dalam usia sekolah tuntutan yang dihadapi oleh anak semakin banyak.
Tekanan sekolah, lingkungan sebaya (peer group), serta tuntutan belajar yang
semakin tinggi membuat anak harus lebih mampu menghadapi tuntutan sosial
masyarakat. Bahkan tidak jarang orang tua menuntut anak untuk berprestasi tinggi,
dan adakalanya harapan orang tua melebihi kapasitas anak untuk dapat
mencapainya. Berbagai kondisi sosial yang penuh tuntutan baik dari sekolah, teman
sebaya maupun orang tua dapat menimbulkan berbagai permasalahan bagi anak
salah satunya dalam proses belajar anak sulit berkonsentrasi, perstasi anak menurun
bahkan motivasi anak untuk belajar menurun. Berbagai keluhan tersebut merupakan
sebagian kecil keluhan rutin yang kerap disampaikan oleh para orang tua pada
konselor. Tidak jarang bahakan orang tua justru menekankan keluhan bahwa anak-
anak mereka terlalu senang bermain, sehingga kurang belajar. Padahal justru
melalui bermain, mereka bisa belajar lebih banyak lagi. Usia sekolah adalah usia 6
sampai 12 tahun.
b. Metode Bermain
Permainan untuk anak-anak tidak perlu memakai alat yang sulit dijangkau
tempatnya apalagi harganya. Cukup dengan barang-barang atau alat-alat di sekitar
kita bisa kita gunakan untuk memperkaya permainan anak. Misal ; bola, lompat tali,
kertas origami, dan lain-lain. Yang terpenting kita bisa meramu dan menggunakan
alat sesuai dengan keinginan anak.
Pelatihan anak dengan metode bermain, menoton film dan diskusi dapat
membuat anak lebih berani tampil di depan umum, percaya diri, dapat menghargai
orang lain, dan dapat melihat kekurangan diri.
Acara pementasan juga dapat menjadi salah satu pilihan yang sangat efektif
untuk membentuk kerja sama anak, mengekspresikan diri, dan anak dapat
memberikan apresiasi terhadap karya orang lain. Nilai-nilai yang diajarkan dalam
model pendidikan ini dapat diterapkan oleh anak dalam kegiatan sehari-hari.
c. Tahapan Perkembangan Bermain

a. Tahap eksplorasi

Hingga bayi berusia sekitar 3 bulan, permaianan mereka terutama terdiri atas
melihat orang dan benda serta melakukan usaha acak untuk menggapai benda
yang diasungkan dihadapannya. Selanjutnya mereka akan mengendalikan
tangan sehingga cukup memungkinkan bagi mereka untuk mengambil,
memegang dan memperlajari benda kecil. Setelah mereka dapat merangkak atau
berjalan, mulai memperhatikan apa saja yang berada dalam jarak jangkauannya.
b. Tahap permainan

Bermain barang mainan dimuali pada tahun pertama dan mencapai puncaknya
pada usia antar 5 dan 6 tahun. Pada mulanya anak hanya mengeksplorasi
mainannya. Antara 2 dan 3 tahun mereka membayangkan bahwa mainannya
mempunyai sifat hidup, dapat bergerak, berbicara dan merasakan. Dengan
semakin berkembangnya kecerdasan anak, mereka tidak lagi mengangap benda
mati sebagai sesuatu yang hidup dan hal ini mengurangi minatnya pada barang
mainan. Faktor lain yang mendorong penyusutan minat dengan barang mainan
ini adalah bahwa permaianan itu sifatnya menyendiri sedangkan mereka
menginginkan teman. Setelah masuk sekolah, kebanyakan anak mengangap
bermaian barang sebagai “permaianan bayi”

c. Tahap bermain

Setelah masuk sekolah, jenis permainan mereka sangat beragam. Semula


mereka meneruskan bermain dengan barang mainan, terutama bila sendirian,
selain itu mereka merasa tertarik dengan permainan, olahraga, hobi dan bentuk
permaianan matang lainnya.

d. Tahap melamun

Semakin mendekati masa puber, mereka mulai kehilangan minat pada


peramainan yang sebelumnya disenangi dan banyak menghabiskan waktu
dengan melamun. Melamun yang merupakan ciri khas anak remaja adalah saat
berkorban, saat mereka mengangap dirinya tidak diperlakukan dengan baik dan
tidak dimengerti oleh siapapun.

4. Fungsi Bermain terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Anak bermain pada dasarnya agar ia memperoleh kesenangan, sehingga tidak


akan merasa jenuh. Bermain tidak sekedar mengisi waktu tetapi merupakan
kebutuhan anak seperti halnya makan, perawatan dan cinta kasih. Fungsi utama
bermain adalah merangsang perkembangan sensoris-motorik, perkembangan sosial,
perkembangan kreativitas, perkembangan kesadaran diri, perkembangan moral dan
bermain sebagai terapi (Soetjiningsih, 1995).

5. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Pola Bermain pada Anak

a. Status kesehatan, pada anak yang sedang sakit kemampuan psikomotorik/


kognitif terganggu. Sehingga ada saat-saat anak sangat ambisius pada
permainannya dan ada saat-saatanak sama sekali tidak punya keinginan untuk
bermaian.

b. Jenis kelamin, pada saat usia sekolah biasanya anka laki-laki engan bermain
dengan anak perempuan, mereka sudah bisa membentuk komunikasi sendiri,
dimana anak wanita bermain sesama wanita dan anak laki-laki bermain sesama
laki-laki. Tipe dan alat permainanpun akan berbeda, misalnya anak laki-laki
suka bermain bola, pada anak permpuan suka main boneka.

c. Lingkungan, lokasi dimana anak berada sangat mempengaruhi pola permainan


anak. Dikota-kota besar anak jarang sekali yang bermain layang-layangan.
Paling mereka bermain game karena memang tidak ada/jarang ada tanah
lapang/lapangan untuk bermain, berbeda dengan yang masih terdapat tanah-
tanah kosong.

d. Alat permainan yang cocok, disesuaikan dengan tahap perkembangan sehingga


anak menjadi senang untuk menggunakannya.

6. Karakteristik dan Klasifikasi dari Bermain


1. Menurut karakteristik sosial
a) Solitary play
Bermaian sendiri walaupun disekitarnya orang lain. Misalnya pada bayi
dan toddler, dia akan asyik dengan mainnya sendiri tanpa menghiraukan
orang-orang yang ada disekitarnya.
b) Pararel play

Bermain sejenis, anak bermain dengan kelompoknya, pada masing-masing


anak mempunyai mainan yang sama tetapi tidak ada interaksi di antara
mereka. Mereka tidak ketergantungan antara satu dengan yang lainnya.
Misalnya, masing-masing anak punya bola, maka dia akan bermain dengan
bolanya sendiri tanpa menghiraukan bola temannya. Biasanya terjadi pada
usia toddler dan pre school.

c) Associative play

Bermain dalam kelompok , dalam suatu aktivitas yang sama tetapi masih
belum terorganisir, tidak ada pembagian tugas, mereka bermain sesuai
keinginannya. Misalnya, anak bermain hujan-hujanan di teras rumah,
berlari-lari dan sebagainya. Hal ini banyak dialami pada anak pre school.

d) Cooperative play

Anak bermain secara bersama-sama, permaianan sudah terorganisir dan


terencana, didalamnya sudah ada aturan main. Misalnya, anak bermain
kartu, petak umpet, terjadi pada usia sekolad dan adolescent.

2. Menurut isi

a) Sosial afektive play

Anak mulai belajar memberikan respon melalui orang dewasa dengan


cara merajuk/berbicara sehingga anak menjadi senang dan tertawa.

b) Sense of pleasure play

Anak mendapatkan kesenagan dari suatu objek disekelilingnya. Misalnya,


anak bermain pasir atau air sehingga anak tertawa bahagia.
c) Skill play

Memperoleh keterampilan sehingga anak akan melaksanakannya secara


berulang-ulang. Misalnya, anak bermain sepeda-sepedaan dan sedikit
mulai merasa bisa, maka dia akan berusaha untuk mencobanya lagi

d) Dramatic play

Melakukan peran sesuai keinginannya atau dengan apa yang dia lihat dan
dia dengar, sehingga anak akan membuat fantasi dari permaianan itu.
Misalnya, anak pernah berkunjung kerumah sakit waktu salah satu
tetangganya sakit, dia melihat perawat dan dokter . sesampainya dirumah
dia berusaha untuk memerankan dirinya sebagai seorang perawat maupun
dokter, sesuai dengan apa yang dia lihat dan diterima tentang peran
tersebut.

7. Pedoman untuk Keamanan Bermain

Menurut Soetjiningsih (1995), agar anak-anak dapat bermain dengan maksimal,


maka diperlukan hal-hal seperti:
a. Ekstra energi
Untuk bermain diperlukan energi ekstra. Anak-anak yang sakit kecil
kemungkinan untuk melakukan permainan.
b. Waktu
Anak harus mempunyai waktu yang cukup untuk bermain sehingga stimulus
yang diberikan dapat optimal.
c. Alat permainan
Untuk bermain alat permainan harus disesuaikan dengan usia dan tahap
perkembangan anak serta memiliki unsur edukatif bagi anak.
d. Ruang untuk bermain
Bermain dapat dilakukan di mana saja, di ruang tamu, halaman, bahkan di
tempat tidur.
e. Pengetahuan cara bermain
Dengan mengetahui cara bermain maka anak akan lebih terarah dan
pengetahuan anak akan lebih berkembang dalam menggunakan alat permainan
tersebut.
f. Teman bermain
Teman bermain diperlukan untuk mengembangkan sosialisasi anak dan
membantu anak dalam menghadapi perbedaan. Bila permainan dilakukan
bersama dengan orangtua, maka hubungan orangtua dan anak menjadi lebih
akrab.

Ada juga yang disebut dengan Alat Permainan Edukatif (APE). APE
merupakan alat permainan yang dapat memberikan fungsi permainan secara optimal
dan perkembangan anak,dimana melalui alat permainan ini anak akan selalu dapat
mengembangkan kemampuan fisiknya,bahasa,kemampuan kognitifnya,dan adaptasi
sosialnya. Dalam mencapai fungsi perkembangan secara optimal,maka alat
permainan ini harus aman,ukurannya sesuai dengan usia anak,modelnya
jelas,menarik,sederhana,dan tidak mudah rusak.
Dalam penggunaan alat permainan edukatif ini banyak dijumpai pada masyarakat
kurang memahami jenis permainan karena banyak orang tua membeli permainan
tanpa memperdulikan jenis kegunaan yang mampu mengembangkan aspek
tersebut,sehingga terkadang harganya mahal,tidak sesuai dengan umur anak dan tipe
permainannya sama.
Untuk mengetahui alat permainan edukatif, ada beberapa contoh jenis permainan
yang dapat mengembangkan secara edukatif seperti : permainan sepeda roda tiga
atau dua, bola, mainan yang ditarik dan didorong jenis ini mempunyai pendidikan
dalam pertumbuhan fisik atau motorik kasar,kemudian alat permainan
gunting,pensil,bola,balok,lilin jenis alat ini dapat digunakan dalam mengembangkan
motorik halus, alat permainan buku bergambar, buku cerita, puzzle, boneka , pensil
warna, radio dan lain-lain, ini dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan
kognitif atau kecerdasan anak, alat permainan seperti buku gambar, buku cerita,
majalah, radio, tape dan televise tersebut dapat digunakan dalam mengembangkan
kemampuan bahasa, alat permainan seperti gelas plastic, sendok, baju, sepatu, kaos
kaki semuanya dapat digunakan dalam mengembangkan kemampuan menolong diri
sendiri dan alat permainan seperti kotak, bola dan tali, dapat digunakan secara
bersama dapat dilakukan untuk mengembangkan tingkah laku social.
Selain menggunakan alat permainan secara edukatif, harus ada peran orang tua
atau pembimbing dalam bermain yang memiliki kemampuan tentang jenis alat
permainan dan kegunaannya, sabar dalam bermain, tidak memaksakan, mampu
mengkaji kebutuhan bermain seperti kapan harus berhenti dan kapan harus dimulai,
memberikan kesempatan untuk mandiri.
8. Terapi Bermain pada Anak yang Dihospitalisasi
Setiap anak meskipun sedang dalam perawatan tetap membutuhkan aktivitas
bermain. Bermain dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan
tugas perkembangan secara normal dan membangun koping terhadap stres,
ketakutan, kecemasan, frustasi dan marah terhadap penyakit dari hospitalisasi (Mott,
1999).
Bermain juga menyediakan kebebasan untuk mengekspresikan emosi dan
memberikan perlindungan anak terhadap stres, sebab bermain membantu anak
menanggulangi pengalaman yang tidak menyenangkan, pengobatan dan prosedur
invasif. Dengan demikian diharapkan respon anak terhadap hospitalisasi berupa
perilaku agresif, regresi dapat berkurang sehingga anak lebih kooperatif dalam
menjalani perawatan di rumah sakit.
Ada banyak manfaat yang bisa diperoleh seorang anak bila bermain dilaksanakan di
suatu rumah sakit, antara lain:
1. Memfasilitasi situasi yang tidak familiar
2. Memberi kesempatan untuk membuat keputusan dan control
3. Membantu untuk mengurangi stres terhadap perpisahan
4. Memberi kesempatan untuk mempelajari tentang fungsi dan bagian tubuh
5. Memperbaiki konsep-konsep yang salah tentang penggunaan dan tujuan
peralatan dan prosedur medis
6. Memberi peralihan dan relaksasi
7. Membantu anak untuk merasa aman dalam lingkungan yang asing
8. Memberikan cara untuk mengurangi tekanan dan untuk mengekspresikan
perasaan
9. Menganjurkan untuk berinteraksi dan mengembangkan sikap-sikap yang positif
terhadap orang lain
10. Memberikan cara untuk mengekspresikan ide kreatif dan minat
11. Memberi cara mencapai tujuan-tujuan terapeutik (Wong ,1996).
Prinsip Bermain di Rumah Sakit
1. Tidak banyak mengeluarkan energi, singkat dan sederhana.
2. Mempertimbangkan keamanan dan infeksi silang.
3. Kelompok umur yang sama.
4. Permainan tidak bertentangan dengan pengobatan
5. Semua alat permainan dapat dicuci
6. Melibatkan orang tua.

Dukungan dari orang tuapun merupakan faktor penting yang harus diberikan untuk
memotivasi anak. Hal-hal yang perlu diberikan sebagai orang tua antara lain:
a. Memberikan dukungan
Dukungan positif dapat berupa menjaga anak saat dirawat di rumah sakit,
mendampingi anak saat diperiksa petugas medis, atau memberikan beberapa
treatment pengobatan. Yang tak kalah penting, memberi sentuhann lembut, seperti
pelukan atau mengelus saat anak mengalami kesakitan.
b. Bersikap optimis dan tidak menampakkan kecemasan didepan anak.
Orang tua yang menampakkan wajah ceria, meski beban yang ditanggungnya cukup
berat, akan membuat anak bersikap tabah dan ceria dalam menghadapi kondisi
sakitnya.
c. Menanamkan pengertian bahwa proses pengobatan dan perawatan dirumah
sakit adalah proses menuju kesembuhan.
Perlu diingat, beri pengertian kepada anak bahwa dokter atau petugas medis lainnya
adalah orang-orang yang menolongnya untuk sembuh
BAB III
STRATEGI PELAKSANAAN PROGRAM BERMAIN

 Leader : Suemi
 Co-Leader : Istiqomah Prima W
 Fasilitator :
a. Zulkarnain
b. Sulasriani

 Observer : Dosen pembimbing dan Pembimbing ruangan

1. Jenis permainan : Merangkai huruf menjadi kata dan mencocokkan kata


dengan gambar
2. Jenis kelamin : Laki-laki da Perempuan
3. Usia : 14-17 tahun
4. Waktu permainan : ± 30 menit
5. Tempat permainan : Ruang Kelas
6. Alat yang digunakan : papan gabus, paku mading, gambar, huruf-huruf
7. Tujuan :
 Meningkatkan hubungan perawat – siswa SLB.
 Meningkatkan kreativitas pada anak.
 Sosialisasi dengan teman sebaya / orang lain.
 Melatih perkembangan motorik kasar pada anak.
 Melatih daya ingat siswa.

7. Strategi permainan :
KEGIATAN BERMAIN

Kegiatan
No Tahapan Waktu
Perawat Klien
1. Fase Pra-Interaksi 5 menit a. Mempersiapkan diri
b. Mempersiapkan
media & alat yang akan
digunakan
c. Mempersiapkan
tempat untuk bermain
d. Mempersiapkan klien

2. Fase Orientasi 5 menit a. Mengucapkan salam a. Menjawab


b. Memperkenalkan diri salam
b. Memperkenal
c. Kontrak waktu
kan diri
d. Menyampaikan tujuan
c. Menyimak
bermain d. Menyepakati
e. Menyimak
e. Meyampaikan
f. Menyimak
permainan yang akan
dilakukan
g. Menjawab
pertanyaan
3. Fase Kerja 15 a. Menyampaikan cara a. Menyimak
me
b. Melakukan
permainan yaitu bermain
permainan
lempar bola
b. Membimbing klien
dalam bermain lempar
bola
4. Fase Terminasi 5 menit a. Menyimpulkan manfaat a. Menyimak
dari aktivitas bermain
anak b. Menjawab
b. Memberi evaluasi secara
c. Menyimak
lisan
c. Memberi rencana tindak d. Klien merasa
lanjut senang
d. Memberi reward
kepeda klien jika dapat
melakukan/
menyelesaikan game
lempar bola.

a) Sebelum bermain berikan contoh dahulu kepada anak.


b) Menunjuk salah satu siswa agak maju kedepan untuk bermain permainan tersebut.
c) Fasilitator menunjuk gambar apa yang akan ditebak katanya. Begitu sebaliknya
fasilitator menunjuk gambar apa yang akan mereka tebak katanya.
d) Selama jalannya permainan semua fasilitator wajib membimbing masing-masing
anak untuk bermain lempar bola
e) Setelah selesai permainan yang pertama, fasilitator mengacak gambar dan kata yang
telah ditempel di papan gabus. Kemudian menyuruh siswa untuk maju kedepan lagi.
Dengan harapan siswa masis mengingat apa yang mereka cocokkan tadi.
f) Berikan reward positif pada semua anak yang telah menyelesaikan gamenya.

8. Evaluasi
1) Kaji respon anak secara verbal maupun non verbal dalam kemampuan anak
mengikuti permainan selama permainan berlangsung
2) Pantau keadaan anak selama bermain
3) Kaji tercapainya tujuan bermain

Denah Permainan

Keterangan:
Leader fasilitator

Co leader
Anak observer

Denah :

BAB IV
PENUTUP

1. Kesimpulan

Perkembangan adalah hal yang teratur dan mengikuti rangkaian tertentu. Bermain
merupakan proses dinamis yang sesungguhnya tidak menghambat anak dalam
proses belajar, sebaliknya justru menunjang proses belajar anak. Orang tua yang
keberatan terhadap aktivitas bermain anak justru menghambat kemampuan
kreativitas anak untuk mengenal dirinya sendiri serta lingkungan hidupnya. Dalam
usia sekolah tuntutan yang dihadapi oleh anak semakin banyak.

2. Saran

Sebagai pemberi pelayanan keperawatan, perawat memeberikan pelayanan dari


mulai manusia sebelum lahir sampai dengan meninggal, dalam merawat kasus yang
apapun tindakan yang diberikan akan sangat berbeda karena setiap orang adalah
unik, sehingga seorang perawat dituntut untuk mengerti proses tumbuh kembang.

DAFTAR PUSTAKA

Alimul Hidayat, A.Aziz. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta :


Salemba Medika

Hurlock, Elizabeth B. 1978. Perkembangan Anak Ed 6. Jakarta : Erlangga

Perry, A,G & Potter, P.A. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta :
EGC.
Perry,A,G.& Potter,P.A. 1999. Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC

Riyadi, Sujono & Sukatmin. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Anak Ed Pertama.
Yogyakara : Graha Ilmu

Soetjiningsih 1998. Tumbuh Kembang Anak. EGC : Jakarta.

Wong,D.L. 1995. Nursing Care of Instants and Children,St. Louis Mosby

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat

rahmat dan kasih-Nyalah sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan PROPOSAL

TERAPI BERMAIN ANAK “Merangkai Huruf Menjadi Kata Dan


Mencocokkan Kata Dengan Gambar” ini tepat pada waktu yang telah

ditentukan. Proposal terapi bemain ini diajukan guna memenuhi tugas yang diberikan stase

Keperawatan Anak.

Pada kesempatan ini juga kami berterima kasih atas bimbingan dan masukan dari

semua pihak yang telah memberi kami bantuan wawasan untuk dapat

menyelesaikan Proposal Terapi Bernain ini baik itu secara langsung maupun tidak

langsung.

Kami menyadari isi ini Proposal Terapi Bernain masih jauh dari kategori sempurna,

baik dari segi kalimat, isi maupun dalam penyusunan.oleh karen itu, kritik dan saran yang

membangun dari dosen mata kuliah yang bersangkutan, sangat kami harapkan demi

kesempurnaan Proposal Terapi Bernain ini.

Kendari, 10 April 2018

Kelompok anak

PROPOSAL
ii
TERAPI BERMAIN ANAK
“MERANGKAI HURUF MENJADI KATA DAN MENCOCOKKAN
KATA DENGAN GAMBAR ”
O LE H

Mengetahui :

PEMBIMBING PEMBIMBING
AKADEMIK RUANGAN

(.........................................) ( NUR IQRA,S.Pd )

PROGRAM STUDI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MANDALA WALUYA
(STIKES-MW) KENDARI
2018

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i

KATA PENGANTAR....................................................................................... ii

DAFTAR ISI ................................................................................................... iii


BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ........................................................................................... 1

B. Tujuan Penulisan ........................................................................................ 2

C. Sistematika Penulisan ........................................................................ 2

BAB II TINJAUAN TEORI ..................................................................................... 3

BAB III STRATEGI PELAKSANAAN PROGRAM BERMAIN ..............................18

BAB IV PENUTUP ................................................................................................. 22

DAFTAR PUSTAKA

iii