Anda di halaman 1dari 14

Pemeriksaan Pada Penyalahgunaan NAPZA

1. Pemeriksaan jenazah

Bekas-bekas suntikan

Temuan ini tersering diperoleh pada lipat siku, lengan atas, punggung

tangan dan tungkai. Tempat-tempat yang jarang digunakan tetapi tetap harus kita

teliti adalah pada leher, di bawah lidah atau pada daerah perineum. Bekas

suntikan yang masih baru biasanya disertai perdarahan subkutan atau perdarahan

perivena; selain itu untuk menentukan baru lamanya suatu bekas suntikan

dilakukan penekanan di sekitar bekas suntikan tersebut, jika masih baru dari

lubang suntikan keluar darah atau serum. Pada korban mati pada keadaan yang

meragukan dapat dilakukan insisi kulti di sepanjang vena tersebut dan

membebaskannya secara tumpul untuk melihat keadaan dinding vena dan

jaringan sekitarnya apakah terdapat perdarahan dan jaringan parut. Pada adiksi

kronik akan ditemukan bekas-bekas suntikan yang lama, berupa jaringan parut

berbentuk titik-titik sepanjang pembuluh darah balik, keadaan ini disebut sebagai

intravenous (mainline) tracks.

Selain bekas-bekas suntikan tersebut, juga mungkin ditemukan adanya

abses, granuloma atau ulkus, akibat penyuntikan narkotika secara subkutan, dan

pada mereka ini sering pula dijumpai jaringan-jaringan parut.

Bila bekas suntikan tidak ditemukan, maka mungkin korban menggunakan

cara lain misalnya cara sniffing (menghirup), ack-ack (menghisap rokok yang

dicampur heroin) atau dengan cara chasing the dragon ( menghisap uap yang

dihasilkan dari pemanasan heroin). Pada kasus ini perlu di ambil hapus selaput

lender hidung (nasal swab) untuk pemeriksaan toksikologi.


Pembesaran Kelenjar getah bening setempat terutama di daerah ketiak

disertai dengan adanya bekas suntikan, menandakan bahwa korban tersebut

merupakan pecandu yang kronis. Kelainan ini terjadi akibat fenomena drainase,

sekunder akibat penyuntikan yang berulang-ulang pada vena atau jaringan

sekitarnya dengan memakai alat-alat suntikan yang tidak steril. Pada pemeriksaan

mikroskopis kelainan ini menunjukan hipertrofi dan hiperplasi limfositik/

Kelainan lain : Limpa membesar dan mikroskopis terlihat hiperplasi nodul

dan sentrum germinativum yang menonjol. Jantung mungkin menunjukan

peradangan (endokarditis atau miokarditis). Pada otak mungkin ditemukan

perubahan kistik pada basal ganglia. Dapat juga ditemukan kelainan yang biasa

merupakan akibat pemakaian alat yang tidak steril.

2. Pemeriksaan Laboratorium

Bahan terpenting yang harus diambil adalah urin (jika tidak ada pada

korban mati dapat diambil ginjal) cairan empedu dan jaringan sekitar suntikan.

Pada korban mati isi lambung diambil jika ia menggunakan narkoba

peroral demikian pula hapusan mukosa hidung pada cara sniffing. Semprit bekas

pakai dan sisa obat yang ditemukan harus pula dikirim ke laboratorium.

Pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi adanya narkotika minimal

adalah menggunakan kromatografi lapis tipis (TLC). Cara pemeriksaan lain

adalah menggunakan taknik GLC (kromatografi gas) dan RIA radioimunoasai.

Terhadap barang-barang bukti seperti bubuk yang diduga mengandung

morfin, heroin atau narkotika lainnya, dapat dilakukan berbagai pengujian.

Pengujian tersebut hanya dapat dilakukan pada benda bukti yang masih berupa
preparat murni atau pada tempat suntikan yang bila pada tempat tersebut masih

terkumpul narkotika yang masih belum diserap dan tidak dapat dilakukan pada

bahan biologis lain seperti urin, darah, cairan empedu dan lain-lain.1

A. Pemeriksaan Skrining

Pemeriksaan pendahuluan (Screening Test) adalah pemeriksaan

laboratorium sebagai upaya penyaring untuk mengetahui ada/tidaknya dan jenis

obat yang menimbulkan efek toksis atau efek gangguan kesehatan. Pemeriksaan

pendahuluan (ScreeningTest) dapat dilakukan dengan Card/Strip Test (untuk

spesimen urin) dan Reaksi Warna (untuk sampel sediaan farmasi).

Penafsiran hasil

Analisis kualitatif dari sampel biologik akan memberikan informasi apakah

subyek yang bersangkutan menggunakan obat terlarang atau tidak. Adanya

metabolit menunjukkan bahwa zat/obat tersebut telah dikonsumsi dan

termetabolisme dalam badan.

Pemeriksaan skrining positif berarti suatu obat/metabolitnya terdapat dalam urin

sebanyak/lebih banyak dari batas deteksi alat. Pengeluaran dari badan dan

konsentrasinya dalam urin bergantung pada faktor-faktor sebagai berikut : cara

pemakaian, lama dan seringnya penggunaan, fungsi organ, kecepatan

metabolisme obat, kondisi fisik dari subyek, umur, jenis kelamin, waktu

pengambilan sampel, pengenceran dan lain-lain.


1. Tes Immunoassay (Card/Strip Test)

a. Prinsip

Adanya zat tertentu dalam urin ditentukan secara Rapid Immunoassay

(antigen-antibodi)

b. Alat

Pipet

c. Reagen

Card/ Strip Test

d. Cara kerja

Siapkan Card/Strip Test untuk pemeriksaan masing-masing obat

1) Card Test

a) Teteskan 3 tetes spesimen urin pada lubang spesimen yang

terdapat dalam masing-masing card test

b) Tunggu beberapa saat sesuai dengan petunjuk manual

2) Strip Test

a) Celupkan strip test ke dalam urin sampai batas yang ditentukan

b) Tunggu beberapa saat sesuai dengan petunjuk manual

e. Pembacaan hasil

1) Card Test

a) Hasil - (negatif) bila tampak 2 garis pada huruf C dan T

b) Hasil + (positif) bila tampak 1 garis pada huruf C

c) Atau sesuai petunjuk manualnya

2) Strip Test

a) Hasil - (negatif) bila tampak 2 garis pada huruf C dan T


b) Hasil + (positif) bila tampak 1 garis pada huruf C Atau sesuai

petunjuk manualnya

Pemilihan metode, peralatan serta reagen untuk skrining haruslah yang

mempunyai batas deteksi sama atau lebih rendah dari batas deteksi/ cut off yang

direkomendasikan pada Tabel di bawah ini :

 Pemeriksaan skrining yang memberikan hasil negatif tidak dilanjutkan

dengan pemeriksaan konfirmasi.

 Bila hasil pemeriksaan Card/Strip Test Positif belum menjamin + (positif)

untuk spesimen yang diperiksa, pemeriksaan harus dilanjutkan dengan

pemeriksaan Konfirmasi.

 Untuk pemeriksaan penyidikan/penegakan hukum, pemeriksaan

konfirmasi yang diakui adalah yang menggunakan metoda GCMS/HPLC.


 Untuk menjaga mutu pemeriksaan setiap 10 kali pemeriksaan spesimen

urin lakukan pemeriksaan minimal terdapat 1 kontrol urin positif dari

jenis zat yang diperiksa dan kontrol negatif (blanko urin).

2. Reaksi warna

Pemeriksaan pendahuluan (Screening Test) dengan Reaksi Warna dapat

dilakukan dengan beberapa metode sebagai berikut :

Untuk Golongan Narkotika dan Psikotropika

a. Metode Marquis

b. Metode Frohde

c. Metode Simon

Pemeriksaan hanya untuk mengarahkan kemungkinan jenis zat yang

terdapat dalam sampel, sehingga hasilnya harus dilanjutkan dengan tes konfirmasi

karena zat selain Narkoba juga mempunyai kemungkinan memberikan hasil yang

sama (false positif).

a. Metoda Marquis

1) Prinsip

Pembentukan senyawa berwarna antara zat yang diperiksa dengan

formaldehid dalam suasana asam sulfat pekat

2) Alat

a) Pipet tetes

b) Vortex mixer

c) Sentrifus
3) Reagen

a) Pereaksi Marquis

8-10 tetes formaldehid 40 % diteteskan ke dalam 10 mL asam sulfat

pekat

b) Eter

c) Natrium hidroksida (NaOH) 4 N

d) Etanol 95 %

4) Cara Kerja

Untuk pemeriksaan urin

a) Masukkan 3 mL urin ke dalam tabung sentrifus

b) Tambahkan NaOH 4 N sampai pH 9-10

c) Ekstraksi dengan 5 mL eter, masukkan dalam vortex mixer dan

sentrifus

d) Ekstrak eter pisahkan dan uapkan sampai kering

e) Residu larutkan dalam 1 mL etanol 95 % (secukupnya), keringkan lagi

f) Tambahkan 1 tetes larutan pereaksi

Untuk pemeriksaan sampel obat/makanan

Letakkan 1-2 mg sampel bubuk/1-2 tetes bila berbentuk cairan ke dalam

lekukan plat tetes, tambahkan pereaksi, tak lebih dari 3 tetes.


5) Pembacaan Hasil

b. Metode Frohde

1) Prinsip

Pembentukan senyawa berwarna antara zat yang diperiksa dengan asam

molibdat/natrium molibdat dalam suasana asam sulfat pekat

2) Alat

a) Pipet tetes

b) Vortex mixer (untuk urin)

c) Sentrifus(untuk urin)

3) Reagen

a) Pereaksi Frohde :

1,0 gram asam molibdat/natrium molibdat larutkan dalam 100 mL

asam sulfat pekat panas, larutan akhir haruslah tak berwarna

b) Eter (untuk urin)

c) Natrium hidroksida (NaOH) 4 N (untuk urin)


d) Etanol 95 % (untuk urin).

4) Cara Kerja Lihat Metode Marquis

c. Metode Simon

1) Prinsip

Pembentukan senyawa berwarna antara zat yang diperiksa dengan Reagen

Simon dalam suasana basa

2) Alat

a) Pipet tetes

b) Vortex mixer (untuk urin)

c) Sentrifus (untuk urin)

3) Reagen

a) Pelarut I = 20 % larutan sodium karbonat akuos Pelarut II = 50 %

larutan asetaldehida etanolik Pelarut III = 1 % larutan sodium

nitroprusida akuos

b) Eter (untuk urin)

c) Natrium hidroksida (NaOH) 4 N (untuk urin)


d) Etanol 95 % (untuk urin).

4) Cara Kerja

1) Untuk pemeriksaan urin lakukan dulu seperti pada metode Marquis,

langkah a-e

2) Letakkan sejumlah kecil sampel pada lekukan plat tetes dan

campurkan dengan larutan I satu tetes, lalu tambahkan 2 tetes larutan II,

kemudian tambahkan beberapa tetes larutan III memberikan warna biru

untuk metamfetamin dan amin sekunder lain. Amfetamin dan amin primer

lain memberikan warna merah muda perlahan sampai merah cherry. Tes

ini dapat membedakan amfetamin dan metamfetamin.

5) Pembacaan Hasil

Hasil akhir memberikan warna biru untuk metamfetamin dan amin

sekunder lain. Amfetamin dan amin primer lain memberikan warna merah

muda perlahan sampai merah cherry. Tes ini dapat membedakan

amfetamin dan metamfetamin. Namun beberapa zat tambahan dapat

memberikan negatif palsu.


B. Pemeriksaan Konfirmasi

Pemeriksaan konfirmasi adalah suatu pemeriksaan lanjutan yang lebih akurat

karena hasil yang dikeluarkan sudah definitif menunjukkan jenis zat narkotika

psikotropika yang terkandung di dalam sampel tersebut. Pemeriksaan dilakukan

apabila hasil pemeriksaan pendahuluan (screening test) memberi hasil positif.

1. Pemeriksaan ganja dalam cuplikan

a. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Prinsip

Sampel diekstraksi dengan metanol, elusi menggunakan eluen tertentu, sehingga

terbentuk noda dengan Rf tertentu. Noda discanning dengan spektrodensitometer,

sehingga terbentuk spektrum serapan sinar ultraviolet sebelum akhirnya noda pada

pelat disemprot menggunakan penyemprot tertentu. Rf spektrum serapan sinar


ultraviolet dan warna noda hasil penyemprotan dari sampel dibandingkan terhadap

baku pembanding.

b. Kromatografi Gas (KG)

Prinsip

Pemisahan sampel dari zat lain menggunakan kromatografi gas, kemudian

deteksi dengan detektor menghasilkan spektrum dengan waktu retensi tertentu

yang dapat dibandingkan dengan waktu retensi baku pembanding

2. Amfetamin, Metamfetamin dan MDMA dalam cuplikan

a. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Prinsip

Sampel diekstraksi dengan metanol, elusi menggunakan eluen tertentu,

sehingga terbentuk noda dengan Rf tertentu. Noda discanning dengan

spektrodensitometer, sehingga terbentuk spektrum serapan sinar ultraviolet

sebelum akhirnya noda pada pelat disemprot menggunakan penyemprot tertentu.

Rf spektrum serapan sinar ultraviolet dan warna noda hasil penyemprotan dari

sampel dibandingkan terhadap baku pembanding

b. Kromatografi Gas

Prinsip

Pemisahan sampel dari zat lain menggunakan kromatografi gas, kemudian deteksi

dengan detektor menghasilkan spektrum dengan waktu retensi tertentu yang dapat

dibandingkan dengan waktu retensi baku pembanding


3. Ganja dalam spesimen manusia

a. Kromatografi Lapisan Tipis (KLT)

Prinsip

Residu hasil hidrolisa yang dilanjutkan dengan ekstraksi yang dielusi dengan

pelarut tertentu akan membentuk noda yang berwarna khas. Bandingkan nilai Rf

ekstrak dengan Rf standar.

b. Kromatografi Gas (KG)

Prinsip

Residu hasil ekstraksi yang dilanjutkan dengan derivatisasi dilarutkan dengan

pelarut kloroform methanol disuntikkan ke dalam kromatografi gas dengan

kondisi tertentu sehingga dapat diketahui waktu retensi (Rt) luas area dan puncak

kromatografi yang dihasilkan. Bandingkan Rt ekstrak dengan standar

c. Kromatografi Gas-Spektrometri Massa (KG-SM)

Prinsip

Metabolit senyawa kannabis dalam bentuk glukoronida-11-nor-delta-9

tetrahidrokannabinol-9karboksilat (9-Karboksi THC-Gluc) di pecah/hidrolisis

dalam suasana basa dengan cara inkubasi temperatur kamar selama 30 menit

menjadi senyawa 9-karboksi THC bebas yang kemudian dilanjutkan dengan cara

ekstraksi alkilasi untuk mempermudah penguapan senyawa bersifat asam melalui

proses derivatisasi metil iodida dalam suasana basa, sehingga membentuk fasa

yang akan mengikat THA+ .Senyawa yang terbentuk diekstraksi dengan Toluen

dan selanjutnya kelebihan THA+ diabsorpsi oleh resin XAD 7 dan selanjutnya

turunan metil bersifat lebih polar ditampung untuk pemeriksaan GC-MS,

bandingkan kadar obat dengan standar.


4. Amfetamin Dan Metamfetamin dalam spesimen manusia

a. Kromatografi Lapisan Tipis (KLT)

Prinsip

Residu hasil ekstraksi yang dielusi dengan eluen tertentu sehingga terbentuk noda

dengan warna yang khas. Bandingkan nilai Rf ekstrak dengan Rf standar.

b. Kromatografi Gas (KG)

Prinsip

Derivatisasi hasil ekstraksi dilarutkan dengan etil asetat dan pelarut tertentu sesuai

dengan metodanya, diinjeksikan ke dalam injektor dengan kondisi tertentu,

sehingga dapat ditentukan waktu retensi (Rt), luas area dan puncak kromatogram

yang dihasilkan. Bandingkan Rt ekstrak dengan standar

c. Metoda Kromatografi Gas-Spektrometri Massa (KG-SM)

Prinsip

Ekstraksi sederhana terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa ke dalam

pelarut organik, dari urin yang dibasakan pada pH 13 dan dijenuhkan dengan

natrium sulfat anhidrat. Hasil ekstraksi kemudian dianalisis dengan GC-NPD.

Identifikasi dilanjutkan dengan menggunakan GC-MSD yang sebelumnya di

derivatisasi dengan reagen MBTFA. Bandingkan kadar obat dengan standar.2

1. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1997. Ilmu Kedokteran

Forensik Ha 133-136

2. Badan Narkotika Nasional, 2008. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium

Narkotika, Psikotropika dan Obat Berbahaya.. Departemen Kesehatan