Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM

HEMATOLOGI II
RETRAKSI BEKUAN DARAH

NAMA : NURSAFIA ROBERT


NIM : 16-3145-353-023
KELAS :A
KELOMPOK : IV (EMPAT)

DIV ANALIS KESEHATAN


STIKES MEGA REZKY MAKASSAR
2016/2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penelitian tentang acute coagulopathy on trauma menunjukkan bahwa sebagian
pasien yang mengalami trauma mengalami gangguan pembekuan darah sejak pertama
datang di rumah sakit.1,2,3 Packed red blood cell (PRC), fresh frozen plasma (FFP) saat
ini merupakan pilihan utama dalam mengatasi perdarahan masih yang diikuti gangguan
faal pembekuan darah. Pada kasus perdarahan yang disertai gangguan fungsi atau jumlah
trombosit juga dibutuhkan thrombocyte concentrate (TC). Fresh whole blood (FWB)
merupakan pilihan berikutnya setelah komponen darah karena sebagian besar factor
pembekuan darah belum rusak akibat penyimpanan. Penelitian menunjukkan bahwa
pemberian FWB sejak dini pada kasus perdarahan yang membutuhkan transfuse masif
dapat mengurangi total kehilangan dan kebutuhan darah selama perawatan dan
meningkatkan jumlah pasien yang bertahan hidup hingga hari ke-30.4,5 Pemberian FWB
juga menjadi pilihan untuk menggantikan komponen darah (PRC, FFP dan TC) di pusat
pelayanan yang tidak mampu menyediakan. Dibanding komponen darah, FWB dianggap
lebih menguntungkan karena tidak memerlukan pengolahan lagi dan mengurangi resiko
reaksi transfusi.
Beberapa penelitian menilai fungsi faktor pembekuan darah dan interaksi dengan
sel darah merah dan trombosit dengan metode viscoelastometry dengan menggunakan
Sonoclot untuk menguji fungsi faktor pembekuan darah pada kasus trauma dan elektif.
Dibanding pemeriksaan Plasma Prothrombin Time (PPT), activated Partial
Thromboplastin Time (aPTT), Sonoclot menilai factor pembekuan ekstrinsik dan intrinsik
secara bersamaan, termasuk kualitas bekuan darah yang terbentuk.
Hemostasis normal dapat dibagi menjadi dua tahap: yaitu hemostasis primer dan
hemostasis sekunder. Pada hemostasis primer yang berperan adalah komponen vaskuler
dan komponen trombosit. Disini terbentuk sumbat trombosit (trombosit plug) yang
berfungsi segera menutup kerusakan dinding pembuluh darah. Sedangkan pada
hemostasis sekunder yang berperan adalah protein pembekuan darah, juga dibantu oleh
trombosit. Disini terjadi deposisi fibrin pada sumbat trombosit sehingga sumbat ini
menjadi lebih kuat yang disebut sebagai stable fibrin plug. Proses koagulasi pada
hemostasis sekunder merupakan suatu rangkaian reaksi dimana terjadi pengaktifan suatu
prekursor protein (zymogen) menjadi bentuk aktif. Bentuk aktif ini sebagian besar
merupakan serine protease yang memecah protein pada asam amino tertentu sehingga
protein pembeku tersebut menjadi aktif. Sebagai hasil akhir adalah pemecahan fibrinogen
menjadi fibrin yang akhirnya membentuk cross linked fibrin.

B. TUJUAN
Untuk menguji fungsi trombosit dengan mengukur besarnya bekuan atau jumlah
serum yang dioeras (masa lisis)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tes retraksi bekuan merupakan salah satu pemeriksaaan hematologi yang


digunakan untuk menguji fungsi trombosit. Pemeriksaan retraksi bekuan dapat dilakukan
pada suhu ruang jika berada pada daerah tropik, apabila suhu ruang kurang dari 25° C
sebaiknya menggunakan bejana inkubator bersuhu 37° C. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan retraksi bekuan yang dilakukan pada
pada suhu inkubasi 37° C dan pada suhu ruang 28° C. Jenis penelitian adalah penelitian
analitik. Sampel diambil dengan cara melakukan sampling darah vena sebanyak 16
mahasiswa dari total populasi 84 mahasiswa semester V D III Analis Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Semarang. Data yang terkumpul dilakukan uji normalitas
menggunakan uji Saphiro Wilk, hasil data berdistribusi normal selanjutnya dilakukan uji
statistik Independent Samples t – Test. Hasil pemeriksaan menunjukkan rata–rata retraksi
bekuan pada suhu inkubasi 37° C adalah 44,0000% sedangkan pada suhu inkubasi 28° C
didapatkan rata – rata 24,3125%, terjadi penurunan sebesar 19,6875%. Hal ini
menunjukkan hasil pemeriksaan retraksi bekuan menggunakan suhu inkubasi 37° C lebih
tinggi dibandingkan suhu ruang 28° C. Hasil uji statistik Independent Samples t – Test
menunjukkan nilai kemaknaan p 0,000 dengan tingkat kemaknaan yaitu 0,000 < 0,05.
Dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan retraksi bekuan antara sampel yang diperiksa
pada suhu inkubasi 37° C dan pada suhu ruang 28° C.
Pemeriksaan hematologi merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium klinik
yang digunakan sebagai penunjang diagnose. Pemeriksaan hematologi terdiri dari
beberapa pemeriksaan, antara lain pemeriksaan rutin dan pemeriksaan khusus.
Pemeriksaaan khusus meliputi pemeriksaan faal hemostasis, pemeriksaan daya tahan
osmotik, pemeriksaan pembekuan darah, salah satunya yaitu pemeriksaan retraksi bekuan
(Zulaicha, 2010).
Hemostasis yang normal sangat penting untuk menjaga sirkulasi darah agar tidak
terjadi perdarahan dan juga menjamin aliran darah berjalan dengan lancar. Berkurangnya
faktor koagulan dapat menyebabkan ketidakseimbangan hemostasis dan manifestasi
darah (Fuziati, A, 2013).
Pemeriksaan retraksi bekuan digunakan untuk menguji fungsi trombosit. Setelah
darah membeku, bekuan darah mengerut dan pada proses pengerutan itu sejumlah serum
diperas keluar dari bekuan sehingga bekuan menjadi kenyal. Tes retraksi bekuan dapat
dilakukan pada suhu ruang jika berada pada daerah tropik, tetapi bila suhu ruang kurang
dari 25° C sebaiknya memakai inkubator bejana atau bejana air bersuhu 37° C untuk
menjalankan pemeriksaan (Gandasoebrata, 2007).
Jumlah serum yang keluar otomatis dari bekuan dijadikan sebagai ukuran retraksi
bekuan yang terjadi. Dalam keadaan normal jumlah serum itu 40-60 % dari jumlah darah,
jika kurang dari 40% berarti abnormal.
Selain mengkur jumlah serum yang keluar, dalam pemeriksaan retraksi bekuan
juga memperhatikan konsistensi bekuan yang terbentuk. Konsistensi bekuan harus
kenyal, apabila retraksi tidak terjadi dengan baik maka konsistensi bekuan menjadi
lembek, lapuk dan akan mudah dipecahkan. Tahap pra analitik yang dilakukan pada
pemeriksaan ini salah satunya adalah persiapan suhu inkubasi yang digunakan, tentunya
tinggi rendahnya suhu ikut mempengaruhi hasil retraksi bekuan, misalnya pada
konsistensi bekuan tersebut. Suhu waterbath yang tidak tepat merupakan kesalahan teknis
yang umum terjadi. Pengaturan waktu untuk melakukan suatu pemeriksaan perlu
diperhitungkan, karena banyaknya pemeriksaan yang dilakukan di dalam laboratorium
maupun lapangan (luar laboratorium). Inkubasi pada suhu ruang (25° - 30°C) dilakukan
yaitu asumsi suhu ruang agar inkubasi dapat dilakukan tanpa peralatan khusus, sedangkan
inkubasi pada suhu 37°C didasarkan pada suhu tubuh (Susilo YV, 2005).
BAB III
METODE KERJA

A. ALAT DAN BAHAN


a. Alat
1. Tabung sentrifuge
2. Spoit
3. Turnigquet
4. Penangas air
5. Tumer
b. Bahan
1. Darah vena
2. Tissue
3. Kapas alkohol

B. PRINSIP KERJA
Darah dalam tabung akan memadat bila berada dalam tabung yang muali
membeku, dan bekuan akan mengecil. Serum akan dipers keluar dari bekuan, sehingga
akhirnya hanya eritrosit saja yang terperangkap didalam masa fibrin. Hal ini disebut
dengan retraksi bekuan, dan trombosit berperan dalam proses ini. Dengan demikian
kecepatan proses retraksi bekuan secara kasar dapat menunjukan apakah trombosit
adekuat atau tidak. Bekuan yang normal secara perlahan-lahan akan dilepaskan dari
dinding tabung reaksi dan kemudian diinkubasi pada suhu 370C.

C. CARA KERJA
Pemeriksaan retraksi bekuan cara I
1. Ambilah darah kira-kira 5 cc darah dan masukan darah itu kedalam tabung
sentrifuge bergaris
2. Masukan pula sebatang lidi kedalam tabung tadi. Catatlah volume darah
itu
3. Biarlah pada suhu kamar selama 2-3 jam (semalam dalam lemari es)
4. Lepaskan bekuan darah dengan hati-hati dari dinding tabung, miringkan
tabung dan angkatlah bekuan dari tabung dengan mengankat lidi itu
5. Catatlah colume serum (bersama sel-sel yang masih ketinggalan dalam
tabung ) yang dalam tabung itu dan sebutlah volume itu dengan % dari volume darah
semula

Pemeriksaan retraksi bekuan cara II


1. Lakukan pengambilan darah vena penderita sebanyak 5 cc jangan
menampung darah dengan tabung yang berisi antikoagulan
2. Dengan penangas air panaskan tabung yang berisi darah pada 23 c (atau
diamkan pada suu kamar)
3. Setelah 1,2,3 dan 4 jam, amati bekuan yang terbentuk. Normalnya,
bekuaan ini tetap solid selam 4 jam pertama. Namun pada 1 jam pertama, bekuan mulai
mengalami retraksi. Setelah 4 jam bekuan akan, mengalami retraksi sempurna dan masa
eritrosit akan terpisah dengan serum yang berwarna kuning
4. Retraksi bekuan normal: akan tampak bekuan merah yang terpisah
sempurna dan sebagian permukaannya menempel pada dinding tabung. Sedikit endapan
eritrosit mungkin tampak didasar tabung, normalnya:ketebalan tidak melebihi 5mm
(laporan retraksi bekuan normal dan abnormal: deskripsikan bekuan yang tampak)
Pengukuran mama lisis
1. Dengan penangas air, panaskan tabung berisi darah pada 37c (diamkan
pada suhu kamar)
2. Setelah 12, 24, 48, 72 jam, amati bekuan tersebut, normalnya bekuan
tersebut akan lisis setelah 72 jam yaitu bekuan mencair seluruhnya dan semua eritrosit
mengumpul didasar tabung
3. Masa lisis bekuan normalnya: bekuan darah akan mencair seluruhnya
setelah 48 jam. Namun, lisis bekuan bisa lebih cepat terjadi pada kondisi-kondisi tertentu.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
1. Tabel

Nama Pasien Hasil


Anggelina Ruatemeti 97

2. Gambar

B. PEMBAHASAN
Tes retraksi bekuan merupakan salah satu pemeriksaaan hematologi yang
digunakan untuk menguji fungsi trombosit. Pemeriksaan retraksi bekuan dapat dilakukan
pada suhu ruang jika berada pada daerah tropik, apabila suhu ruang kurang dari 25° C
sebaiknya menggunakan bejana inkubator bersuhu 37° C. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan retraksi bekuan yang dilakukan pada
pada suhu inkubasi 37° C dan pada suhu ruang 28° C.
Pemeriksaan retraksi bekuan digunakan untuk menguji fungsi trombosit. Setelah
darah membeku, bekuan darah mengerut dan pada proses pengerutan itu sejumlah serum
diperas keluar dari bekuan sehingga bekuan menjadi kenyal. Tes retraksi bekuan dapat
dilakukan pada suhu ruang jika berada pada daerah tropik, tetapi bila suhu ruang kurang
dari 25° C sebaiknya memakai inkubator bejana atau bejana air bersuhu 37° C untuk
menjalankan pemeriksaan.
Pemeriksaan hematologi merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium klinik
yang digunakan sebagai penunjang diagnose. Pemeriksaan hematologi terdiri dari
beberapa pemeriksaan, antara lain pemeriksaan rutin dan pemeriksaan khusus.
Pemeriksaaan khusus meliputi pemeriksaan faal hemostasis, pemeriksaan daya tahan
osmotik, pemeriksaan pembekuan darah, salah satunya yaitu pemeriksaan retraksi
bekuan.
Hemostasis normal dapat dibagi menjadi dua tahap: yaitu hemostasis primer dan
hemostasis sekunder. Pada hemostasis primer yang berperan adalah komponen vaskuler
dan komponen trombosit. Disini terbentuk sumbat trombosit (trombosit plug) yang
berfungsi segera menutup kerusakan dinding pembuluh darah. Sedangkan pada
hemostasis sekunder yang berperan adalah protein pembekuan darah, juga dibantu oleh
trombosit. Disini terjadi deposisi fibrin pada sumbat trombosit sehingga sumbat ini
menjadi lebih kuat yang disebut sebagai stable fibrin plug. Proses koagulasi pada
hemostasis sekunder merupakan suatu rangkaian reaksi dimana terjadi pengaktifan suatu
prekursor protein (zymogen) menjadi bentuk aktif. Bentuk aktif ini sebagian besar
merupakan serine protease yang memecah protein pada asam amino tertentu sehingga
protein pembeku tersebut menjadi aktif. Sebagai hasil akhir adalah pemecahan fibrinogen
menjadi fibrin yang akhirnya membentuk cross linked fibrin.
BAB V
KESIMPULAN

Dari hail dan pembahan tersebut dapat disimpulkan bahwa:


Tes retraksi bekuan merupakan salah satu pemeriksaaan hematologi yang
digunakan untuk menguji fungsi trombosit. Pemeriksaan retraksi bekuan digunakan untuk
menguji fungsi trombosit. Setelah darah membeku, bekuan darah mengerut dan pada
proses pengerutan itu sejumlah serum diperas keluar dari bekuan sehingga bekuan
menjadi kenyal. Tes retraksi bekuan dapat dilakukan pada suhu ruang jika berada pada
daerah tropik, tetapi bila suhu ruang kurang dari 25° C sebaiknya memakai inkubator
bejana atau bejana air bersuhu 37° C untuk menjalankan pemeriksaan.
Hemostasis normal dapat dibagi menjadi dua tahap: yaitu hemostasis primer dan
hemostasis sekunder. Pada hemostasis primer yang berperan adalah komponen vaskuler
dan komponen trombosit
DAFTAR PUSTAKA

Dwi Istianti, dkk. 2003. Perbedaan retraksi bekuan suhu inkubasi 370c dan
SusuRuangan(250-300c).
firsiati. 2013. Pemeriksaan Hematologi etraksi Bekuan.