Anda di halaman 1dari 8

Isalin Silvanny Homer

D4/102014155*
*Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana
Alamat Korespondensi :
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta 11510
Email:sparklingukridian155@gmail.com
No Hp 981248872244

Pendahuluan
Kejadian luarbiasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatknya kejadian kesakitan dan atau
kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.
Wabah adalah berjangkitnya suatu penyakit menular dalam bermasyarakat yang jumlah
penderitanya meningkat secara nyata melebih dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan
daerah serta dapat menimbulkan malapetaka.
Petusis (Whooping cough/batuk rejan/batuk seratus hari) adalah penyakit menular pada saluran
pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Borderella Pertusis. Didunia terjadi sekitar 30 sampai 50
juta kasus per tahun,dan menyebabkan kematian pada 300.0000 kasus (data dari WHO). Penyakit
ini biasanya terjadi pada anak dibawah 1 tahun, Sembilan puluh persen kasis ini terjadi di negara
berkembang. Serangan pertusis yang pertama tidak selalu memberikan kekebalan penuh. Jika
terjadi serangan pertusis kedua,biasanya bersifat ringan dan tidak selalu dikenali sebagai pertusis.
Di Indonesia, angka kesakitan yang disebabkan pertusis dari tahun 2010-2012 berdasarkan laporan
STP ( Surveilans Terpadu Penyakit) rata-rata insiden kumulatif 2,45 per 100.000 penduduk. Bila
dilihat dari data tersebut. Kasus pertusis terjadi pada semua golongan umur, namun kasus tersebar
hampir merata pada usia balita (1-4 tahun) hingga dewasa (45-54 tahun ). Kasus terbanyak
dijumpai pada golongan umur 1-4 tahun.
Pada skenario 2 diketahui bahwa Dokter Mega berkerja di sebuah Puskesmas Kecamatan
Berpenduduk 25.000 jiwa, Minggu ini ia dikejutkan dengan meningkatkanya kasus yang mirip
dengan pertussis pada anak-anak balita. Laporan hasil program imunisasi dasar DPT ternyata telah
mencapai 80%. Ia bermaksud untuk mengadakan penyelidikan epidemiologis atas peristiwa
tersebut.Apakah benar kejadian tersebut adalah KLB pertusis.
Kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB)

Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau
kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. 1
Wabah adalah berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya
meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu
serta dapat menimbulkan malapetaka.1

Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa (KLB) mengacu pada Keputusan Dirjen PPM&PLP No. 451-
I/PD.03.04/1999 tentang Pedoman Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan KLB.
Menurut aturan itu, suatu kejadian dinyatakan luar biasa bila terdapat unsur:2

 Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal.
 Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut
menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu).
 Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan angka
rata-rata per bulan tahun sebelumnya.
 Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila
dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
 Angka rata-rata perbulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan > 2 kali dibandingkan
angka rata-rata per bulan tahun sebelumnya.
 CFR suatu penyakit dalam satu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50 % atau lebih
dibanding CFR periode sebelumnya.
 Proporsional Rate penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan > 2 kali
dibandingkan periode yang sama dan kurun waktu/tahun sebelumnya.
 Beberapa penyakit khusus, seperti kolera dan DHF/DSS: 1) Setiap peningkatan kasus dari
periode sebelumnya (pada daerah endemis); 2) Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana
pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang
bersangkutan.
 Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih penderita, seperti keracunan makanan dan
keracunan pestisida.
KLB penyakit masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan jatuhnya
korban kesakitan dan kematian yang besar sehingga perlu diantisipasi dan dicegah penyebarannya
dengan tepat dan cepat. Kejadian-kejadian KLB perlu dideteksi secara dini dan diikuti tindakan
yang cepat dan tepat, perlu diidentifikasi adanya ancaman KLB beserta kondisi rentan yang
memperbesar risiko terjadinya KLB agar dapat dilakukan peningkatan kewaspadaan dan
kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan KLB, dan oleh karena itu perlu diatur dalam pedoman
Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (SKD-KLB).

Epidemiologi Penyakit

1. Penyebab penyakit
Penyebab dari pertusis adalah Bordetella pertussis, yang merupakan suatu coccobacillus gram
negative yang bersifat fastidious (sulit dibiak). Selain itu terdapat B. parapertusis yang juga bisa
menyebabkan penyakit yang mirip pertusis namun tidak terlalu berbahaya seperti pertusis.

2. Distribusi penyakit
Penyakit ini sering menyerang anak-anak (khususnya usia dini) tersebar di seluruh dunia, tidak
tergantung etnis, cuaca ataupun lokasi geografis. Terjadi penurunan yang nyata dari angka
kesakitan pertusis selama empat decade terakhir, terutama pada masyarakat dimana program
imunisasi berjalan dengan baik serta tersedia pelayanan kesehatan yang cukup dan gizi yang baik.
Pada anak yang lebih besar, remaja dan dewasa pertusis sering kali tidak dikenali karena gejalanya
sering kali tidak khas.

3. Reservoir
Reservoir pertusis sampai sekarang manusia dianggap sebagai satu-satunya hospes (pejamu).
4. Cara-cara penularan
Penularan terutama melalui kontak langsung dengan discharge selaput lendir saluran pernapasan
dari orang yang terinfeksi lewat udara kepada orang yang rentan, kemungkinan juga penularan
terjadi melalui percikan ludah.
Pada stadium catarrhal pertusis sangat menular dengan angka serangan sekunder mencapai 90%
pada orang-orang yang tidak imun. Penderita yang tidak diobati bisa menularkan selama 3 minggu
atau lebih sejak mulai timbulnya gejala pertusis meskipun setelah stadium catarrhal potensi
penularan menurun. Sedangkan penderita yang mendapatkan pengobatan antibiotika yang efektif
masih bisa menularkan hingga 5 hari sejak pengobatan dimulai.
Pertusis jarang menjadi pembawa kronis (Chronic carrier).
Remaja dan dewasa merupakan sumber transmisi pertusis yang bermakna kepada bayi

5. Masa inkubasi
Masa inkubasi pertusis umumnya 9-10 hari (dengan kisaran 6-20 hari).
Pertusis yang berat terjadi pada bayi muda yang belum pernah diberi imunisasi. Setelah masa
inkubasi 7-10 hari, anak timbul demam, biasanya disertai batuk dan keluar cairan hidung yang
secara klinik sulit dibedakan dari batuk dan pilek biasa. Pada minggu ke-2, timbul batuk
paroksismal yang dapat dikenali sebagai pertusis. Batuk dapat berlanjut sampai 3 bulan atau lebih.
Anak infeksius selama 2 minggu sampai 3 bulan setelah terjadinya penyakit. Gejala timbul pada
umumnya dalam waktu 9-10 hari setelah terinfeksi.

6. Masa penularan
Penularan pertusis pada stadium kataral awal sebelum stadium paroxysmal sangat tinggi.
Selanjutnya tingkat penularannya secara bertahap menurun dan dapat diabaikan dalam waktu 3
minggu untuk kontak bukan serumah, walaupun batuk spasmodic yang disertai “whoop” masih
tetap ada. Untuk kepentingan penanggulangan, stadium menular diperluas dari awal stadium kataral
sampai dengan 3 minggu setelah munculnya batuk paroxysmal yang khas pada penderita yang tidak
mendapatkan terapi antibiotika.

7. Gambaran Klinis
Bakteri menginfeksi lapisan tenggorokan, trakea dan saluran pernapasan sehingga pembentukan
lendir semakin banyak. Pada awalnya lendir encer, tetapi kemudian menjadi kental dan lengket.

Infeksi berlangsung selama 6 minggu, dan berkembang melalui 3 tahapan :


a. Tahap kataral (mulai terjadi secara bertahap dalam waktu 9-10 hari setelah terinfeksi)
gejalanya menyerupai flu ringan; bersin-bersin, mata berair, nafsu makan berkurang, lesu,
batuk (pada awalnya hanya timbul di malam hari kemudian terjadi sepanjang hari).
b. Tahap paroksismal (mulai timbul dalam waktu 10-14 hari setelah timbulnya gejala awal).
Batuk 5-15 kali diikuti dengan menghirup nafas dalam dengan nada tinggi (whooping). Setelah
beberapa kali bernafas normal, batuk kembali terjadi diakhiri dengan menghirup nafas bernada
tinggi lagi. Batuk bisa disertai pengeluaran sejumlah besar lendir yang biasanya ditelan oleh
bayi/anak-anak atau tampak sebagai gelembung udara di hidungnya. Batuk atau lendir yang
kental sering merangsang terjadinya muntah. Serangan batuk bisa diakhiri oleh penurunan
kesadaran yang bersifat sementara. Pada bayi, apneu (henti nafas) dan tersedak lebih sering
terjadi dibandingkan dengan tarikan nafas yang bernada tinggi.
c. Tahap konvalesen (mulai terjadi dalam waktu 4-6 minggu setelah gejala awal). Batuk semakin
berkurang, muntah juga berkurang, anak tampak merasa lebih baik. Kadang batuk terjadi
selama berbulan-bulan, biasanya akibat iritasi saluran pernafasan.

Komplikasi dari pertusis yang pernah dilaporkan adalah bronchopneumonia, kejang,


ensepalopati.
Angka kematian di Negara berkembang diperkirakan sebesar 4% pada anak kurang dari 1 tahun
dan 1% pada anak umur 1-4 tahun.

8. Diagnosis
Tanda diagnostik yang paling berguna:
 Batuk paroksismal diikuti suara whoop saat inspirasi, sering disertai muntah
 Perdarahan subkonjungtiva
 Anak tidak atau belum lengkap diimunisasi terhadap pertusis
 Bayi muda mungkin tidak disertai whoop, akan tetapi batuk yang diikuti oleh berhentinya
napas atau sianosis, atau napas berhenti tanpa batuk
 Periksa anak untuk tanda pneumonia dan tanyakan tentang kejang.
Diagnosis etiologis ditegakkan berdasarkan ditemukannya B.pertusis dari specimen nasofaring
yang diambil selama fase kataral atau paroksimal awal. Selain itu pemeriksaan penunjang bisa
dilakukan dengan :
- Pemeriksaan darah lengkap (terjadi peningkatan jumlah sel darah putih yang ditandai dengan
sejumlah besar limfosit)
- Pemeriksaan serologis untuk Bordetella pertussis dengan ELISA
- PCR (Polymerase Chain Reaction)
Selanjutnya dapat dilihat pada Bab Pemeriksaan Laboratorium

9. Pengobatan
 Antibiotika
- Pengobatan dengan antibiotika jenis makrolid misalnya eritromisin, azithromisin,
clarithromisin, akan mencegah atau meringankan gejala klinis pertusis bila diberikan selama
masa inkubasi atau stadium kataral awal.
1.Eritromisin dengan dosis 50 mg/kgbb/hari dibagi dalam 4 dosis.
Obat ini dapat menghilangkan Bordetella pertusis dari nasofaring dalam 2-7 hari (rata rata
3-4 hari) dengan demikian memperpendek kemungkinan penyebaran infeksi. Eritromisisn juga
menyembuhkan pertusis bila diberikan dalam stadium kataralis, mencegah dan menyembuhkan
pneumonia, oleh karena itu sangat penting untuk pengobatan pertusis untuk bayi muda.
2.Ampisilin dengan dosis 100 mg/kgbb/hari, dibagi dalam 4 dosis.
3.lain lain : rovamisin, kotromoksazol, kloramfenikol dan tetrasiklin
- Bila diberikan pada fase paroksimal obat antibiotika tidak akan mengubah perjalanan klinis
penyakit tapi bisa menghilangkan bakteri dari nasofaring sehingga mengurangi penularan
• Imunoglobulin
Belum ada penyesuaian faham mengenai pemberian immunoglobulin pada stadium kataralis.
• Ekspektoransia dan mukolitik
• Kodein diberikan bila terdapat batuk batuk yang hebat sekali.
• Luminal sebagai sedative.
• Oksigen bila terjadi distress pernapasan baik akut maupun kronik.
• Terapi suportif : atasi dehidrasi, berikan nutrisi
• Betameatsol dan salbutamol untuk mencegah obstruksi bronkus, mengurangi batuk
paroksimal, mengurangi lama whoop.

10. Komplikasi

 Pneumonia
Merupakan komplikasi tersering dari pertusis yang disebabkan oleh infeksi sekunder
bakteri atau akibat aspirasi muntahan.
Tanda yang menunjukkan pneumonia bila didapatkan napas cepat di antara episode batuk,
demam dan terjadinya distres pernapasan secara cepat.
 Kejang
Hal ini bisa disebabkan oleh anoksia sehubungan dengan serangan apnu atau sianotik, atau
ensefalopati akibat pelepasan toksin.
Jika kejang tidak berhenti dalam 2 menit, beri antikonvulsan
 Gizi kurang
Anak dengan pertusis dapat mengalami gizi kurang yang disebabkan oleh berkurangnya
asupan makanan dan sering muntah.
Cegah gizi kurang dengan asupan makanan adekuat, seperti yang dijelaskan pada
perawatan penunjang.
 Perdarahan dan hernia
Perdarahan subkonjungtiva dan epistaksis sering terjadi pada pertusis. Tidak ada terapi
khusus.
Hernia umbilikalis atau inguinalis dapat terjadi akibat batuk yang kuat. Tidak perlu
dilakukan tindakan khusus kecuali terjadi obstruksi saluran pencernaan, tetapi rujuk anak
untuk evaluasi bedah setelah fase akut.

C. Aspek Imunisasi
Imunisasi untuk pencegahan penyakit pertusis diberikan dalam kombinasi dengan antigen penyakit
lain berupa DPT-HB-Hib yang mencakup 5 penyakit (pentavalen) yaitu Dipteri, Pertusis, Tetanus,
Hepatitis B, dan Haemofilus Influenzae tipe B. Imunisasi yang diberikan merupakan imunisasi
rutin yang dilaksanakan secara terus menerus sesuai jadwal dan diberikan pada bayi usia < 1 tahun
dan diberikan booster pada anak usia 18 bulan.

Anak-anak yang tidak diimunisasi umumnya rentan terhadap infeksi. Tidak ada imunitas
transplacental pada bayi. Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak. Angka insidensi penyakit
yang dilaporkan tertinggi pada anak umur dibawah 5 tahun. Kasus yang ringan atau kasus atypic
yang tidak terdeteksi terjadi pada semua kelompok umur. Setelah infeksi pertusis alami akan
terbentuk antibodi pada 80-85% penderita. Infeksi alami tidak memberikan perlindungan jangka
panjang terhadap pertusis, dan dapat terjadi serangan kedua (diantaranya disebabkan oleh B.
parapertussis).

Vaksin pertusis (dalam kombinasi dengan dipteri dan tetanus) telah menjadi bagian dari perluasan
program imunisasi WHO (expanded program on immunization) sejak diperkenalkan tahun 1974,
dan pada tahun 2008 sekitar 82% bayi di dunia telah mendapat 3 dosis vaksin pertusis, dan berhasil
mencegah 687.000 kematian.
Selama beberapa dekade program vaksinasi pertusis telah berhasil mencegah penyakit pertusis
yang parah diseluruh dunia. Terdapat 2 macam vaksin pertusis yaitu :
1. Vaksin whole-cell (wP) yang berasal dari organisme B. pertusis yang dimatikan.
2. Vaksin acellular(aP) yang berasal dari komponen tertentu bakteri yang dimurnikan.
Reaksi lokal imunisasi pertusis cenderung meningkat sesuai dengan bertambahnya umur dan jumlah
suntikan. Karenanya vaksin yang mengandung pertusis tidak direkomendasikan untuk remaja atau
dewasa. Berdasarkan rekomendasi dari ITAGI, pemberian vaksin pertusis whole-cell dibatasi
sampai dengan usia 3 tahun. Program imunisasi di Indonesia memberikan imunisasi pertusis dalam
kombinasi dengan difteri, tetanus, Hepatitis B dan Haemofilus influenzae tipe b (pentavalen) yang
diberikan sebanyak 3 kali pada umur 2,3, 4 bulan dan booster pada usia 18 bulan.