Anda di halaman 1dari 21

TUGAS MAKALAH

PEMELIHARAAN MESIN BENSIN DAN MESIN DIESEL


“Data Minyak Pelumas”

Disusun Oleh

Bahdiat Jamal
1501007

TEKNIK MESIN
POLITEKNIK NEGERI INDRAMAYU
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
serta karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis berhasil menyelesaikan makalah
yang berjudul “Data Minyak Pelumas”. Alhamdulillah makalah ini selesai tepat pada
waktunya tanpa adanya halangan.
Makalah ini berisi informasi tentang data – data minyak pelumas dari berbagai
merk yang lebih khususnya membahas tentang spesifikasi dari minyak pelumas.
Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang data
– data minyak pelumas yang sesuai dengan jenis – jenis mesinnya sehingga menhindari
terjadinya kerusakan yang fatal.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun serta memberi motivasi
terhadap penulis demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah
SWT senantiasa meridhai segala usaha penlis. Amin.

Indramayu, 31 Maret 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................ii


DAFTAR ISI ............................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1


1.1. Latar Belakang Masalah ....................................................................................1
1.2. Perumusan Masalah ..........................................................................................2
1.3. Tujuan Penulisan ...............................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN .........................................................................................3


2.1. Pengertian Dakwah ..........................................................................................3
2.2. Tujuan Dakwah ................................................................................................4
2.3. Kewajiban Dalam Berdakwah .........................................................................6
2.4. Metode Dakwah ...............................................................................................8
1. Metode Dakwah dengan Lisan ....................................................................9
2. Metode Dakwah Bil – Hikmah ...................................................................9
a. Menurut Bahasa ...................................................................................10
b. Menurut istilah Syar’i ..........................................................................10
3. Metode Dakwah Bil – Mauidhokhasanah ...................................................10
4. Metode Dakwah Bil - lati Hiya Ahsan ........................................................11
5. Metode Dakwah Qaulan Layyinan .............................................................11
6. Metode Dakwah Qaulan Sadidan ................................................................12
7. Metode Dakwah Qaulan Maisyura .............................................................13
2.5. Macam – Macam Metode Dakwah Masing – Masing Golongan ....................13
A. Nahdatul Ulama ..........................................................................................13
B. Muhammadiyah ..........................................................................................16
C. LDII .............................................................................................................17
D. Jama’ah Tabligh ..........................................................................................18

iii
E. FPI ...............................................................................................................19
2.6. Cara Nabi Berdakwah ......................................................................................20

BAB III PENUTUP .................................................................................................23


3.1. Kesimpulan ......................................................................................................23
3.2. Saran ................................................................................................................23

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................24

iv
BAB I
PENDAHULUAN

Dengan berkembangnya zaman yang semakin pesat, tentu menuntut akan adanya
kemajuan didalam segala bidang terutama dalam bidang teknologi. Kemajuan di dalam
bidang teknologi ini memudahkan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan. Salah
satu bidang teknologi yang mengalami kemajuan adalah otomotif. Kemajuan didalam
bidang ini dapat kita lihat pada kendaraan-kendaraan sekarang selalu ingin
meningkatkan rasa kenyamanan, keamanan, dan ramah terhadap lingkungan. Usaha di
dalam peningkatan rasa kenyamanan, keamanan, dan ramah terhadap lingkungan salah
satunya adalah dengan meningkatkan kualitas sistem pelumasan. Kualitas sistem
pelumasan yang baik dapat membuat mesin menjadi lebih awet dan kinerja mesin juga
lebih baik serta memperpanjang umur mesin terhadap kendaraan. Sebaliknya, kualitas
sistem pelumasan ini yang tidak baik dapat menjadikan mesin menjadi lebih cepat
mengalami kerusakan dan kinerja mesin tidak optimal. Pelumasan dapat diartikan
sebagai pemberian bahan pelumas pada suatu mesin dengan bertujuan untuk mencegah
kontak langsung persinggungan antara permukaan yang bergerak. Pelumasan memiliki
suatu peranan yang penting pada suatu mesin dan peralatan yang didalamnya terdapat
suatu komponen yang saling bergesekan yaitu sebagai pengaman agar tidak terjadi
kerusakan yang fatal. Pelumasan memiliki fungsi dan guna yang sangat menentukan
panjang pendeknya umur mesin. Fungsi dari pelumasan itu sendiri adalah mengurangi
adanya gesekan antara metal dan komponen-komponen mesin lainnya sehingga dapat
meminimalkan resiko terjadinya kerusakan pada mesin. Sedangkan pelumasan itu
sendiri berguna untuk mencegah atau mengurangi terjadinya keausan pada komponen-
komponen mesin yang saling bergesekan. Sistem pelumasan berguna untuk melumasi
bagian – bagian yang bergeser satu sama lainnya. Torak bergerak bolak – balik (atau
naik turun). Dengan adanya minyak pelumas, maka yang terjadi nantinya adalah
pergeseran antara minyak pelumas dengan logam. Minyak pelumas harus mempunyai

5
sifat – sifat tertentu, agar tetap eksis ketika pergeseran terjadi, sehingga memungkinkan
terjadi pelumasan yang sebaik- baiknya.

1.1. Latar Belakang Masalah

Melihat dari minimnya pengetahuan, pengertian, fungsi, serta cara kerja minyak
pelumasan pada umumnya. Dengan itu di dalam makalah dijelaskan secara detail
terperinci spesifikasi minyak pelumas mulai dari Viskositas, Standard Viskositas,
Indeks Viskositas, Titik Nyala, Titik Buang, dan Zat Aditif dari masing – masing merk
minyak pelumas. Untuk itu, dengan terbentuknya makalah “Data Minyak Pelumas”
penulis mampu menjelaskan serta memahami karateristik dari masing – masing minyak
pelumas tersebut.

1.2. Tujuan penulisan


a) Mengetahui apa itu minyak pelumas
b) Mengetahui masing – masing karakteristik dari jenis – jenis minyak pelumas
c) Mengetahui jenis – jenis minyak pelumas

6
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Minyak Pelumas

Minyak Pelumas adalah suatu bahan (biasanya berbentuk cairan) yang berfungsi
untuk mereduksi keausan antara dua permukaan benda bergerak yang saling
bergesekan. Bahan-bahan pelumas yang digunakan dari sejak jaman dahulu hingga kini
mempunyai beraneka ragam jenis yang biasanya tergantung dari bahan apa yang
banyak tersedia dan mudah diperoleh. Bahan-bahan yang dapat di buat menjadi minyak
pelumas dapat di bagi atas tiga jenis yaitu:

1. Bahan-bahan pelumas yang berasal dari hewan yang sebagai contohnya adalah
minyak atau lemak ikan, lemak sapi, lemak kambing, dan lain sebagainya. Bahan
pelumas dari hewan ini diperkirakan merupakan pelumas yang paling tua
umurnya.
2. Bahan dari tumbuh-tumbuhan yang contohnya antara lain adalah minyak jarak,
minyak kelapa dan minyak biji kapas.
3. Bahan yang berasal dari tambang. Bahan hasil tambang atau bahan mineral yang
dapat menghasilkan minyak pelumas terdiri dari banyak macamnya antara lain
adalah minyak bumi dan batubara. Sebagi minyak moderen pelumas saat ini
banyak digunakan minyak yang berasal dari pengolahan minyak bumi. Minyak
yang berasal dari minyak bumi ini dikenal dengan nama minyak mineral.

Pada mulanya hanya bahan-bahan yang berasal dari hewan dan tumbuh-tumbuhan saja
yang digunakan sebagai bahan minyak pelumas. Tetapi kemudian dengan
ditemukannya sumur minyak bumi yang pertama kalinya ditemukan di Amerika
Serikat (yang digunakan dengan teknologi morern), yang selanjutnya minyak bumi

7
yang diperoleh itu diolah dengan menghasilkan bahan bakar dan bahan yang dapat
digunakan sebagai minyak pelumas serta bahan lainnya.

2.2 Viskositas Minyak Pelumas


Sifat fisika yang terpenting dari minyak pelumas adalah viskositas. Anton R.
Wartawan (1983) mengatakan viskositas adalah tahanan aliran fluida yang merupakan
gesekan antara molekul-molekul fluida tersebut satu dengan yang lainnya. Suatu cairan
yang dapat mengalir dengan mudah misalnya fluida air dikatakan mempunyai
viskositas kecil, dan sebaliknya pada bahan-bahan yang sulit mengalir seperti aspal
mempunyai viskositas yang besar.

Viskositas sangat di pengaruhi oleh suhu, kenaikan suhu atau penurunan tekanan akan
berakibat melemahkan ikatan molekul fluida serta menurunkan viskositasnya.
Viskositas dari semua jenis cairan akan menurun dengan naiknya suhu. Ini jelas terlihat
dari minyak pelumas yang berasal dari minyak bumi. Perubahan viskositas dikarenakan
kenaikan suhu merupakan hal yang sangat penting yang harus dipertimbangkan di
dalam berbagai jenis penerapan minyak pelumas di dalam tugasnya menghadapi
jangkauan suhu yang luas. sebagai contohnya minyak pelumas dari mesin kendaraan
bermotor. Bila kita menggunakan minyak pelumas yang viskositasnya rendah akan
kurang aktivitas minyak pelumas tersebut didalam melidungi bagian-bagian logam
mesin kendaraan pada saat mesin kendaraan saat dihidupkan, karena akan menurun
lagi viskositasnya akibat suhu yang menanjak. Tetapi apabila kita menggunakan
minyak pelumas yang viskositasnya tinggi, kita akan mendapatkan kesulitan untuk
mula-mula menghidupkan mesin, setidak-tidaknya accu akan bekerja keras untuk dapat
menghidupkan, terlebih lagi apabila suhu lingkungan sangat rendah. Yang ideal dari
minyak pelumas adalah viskositasnya cukup untuk mudah menghidupkan mesin dan di
lain pihak tidak banyak berubah pada saat operasi (mesin hidup) di karenakan kenaikan
suhu agar dapat memenuhi fungsinya melumasi mesin. Secara umum yang di harapkan

8
dari suatu minyak pelumas adalah perubahan yang sekecil mungkin yang terjadi pada
viskositasnya di dalam menghadapi pengaruh jangkauan suhu yang besar.

Kepekaan dari suatu minyak pelumas terhadap suhu merupakan hal yang sangat
penting, untuk menerangkan hubungan ini biasanya di gunakan angka empiris yang
dinamakan indeks viskositas atau IV. Angka tersebut menunjukan bahwa semakin
besarnya angka IV akan bertambah kecil perubahan viskositasnya terhadap perubahan
suhu. Pada mulanya penentuan Indeks Viskositas ini di lakukan oleh Dean dan Davis
pada tahun 1929 di Amerika Serikat. Caranya ialah dengan mengambil dua group
minyak bumi yaitu jenis Pennsylvania dan jenis Gulf Coast. Jenis Pennsylvania
merupakan jenis yang sangat kecil perubahan viskositanya terhadap perubahan suhu
dan jenis ini ditentukan sebagai group pembanding yang IV-nya = 100. Sedangkan
untuk jenis Gulf Coast yang sangat besar perubahan viskositasnya terhadap perubahan
suhu sebagai group pembanding yang terkecil yaitu dengan IV = 0.

2.3 Sistem Klasifikasi Minyak pelumas


Untuk memudahkan membedakan spesifikasi minyak pelumas menurut
viskositasnya, beberapa sistem klasifikasi telah di kembangkan. Macam klasifikasi
tersebut antara lain adalah klasifikasi SAE J 300 d yang khusus untuk klasifikasi
viskositas minyak pelumas mesin, dan SAE 306 c khusus untuk klasifikasi viskositas
minyak pelumas roda gigi (axle dan transmisi), dan klasifikasi standar ASTM yang
merupakan klasifikasi praktis sistem viskositas untuk minyak pelumas industry cair.
Nomenklatur yang ditentukan oleh sistem ini memberikan identifikasi viskositas dari
minyak pelumas. Untuk lebih memfokuskan dan suapaya bahasan lebih terarah maka
penulis akan melakukan pembatasan bembahasan hanya pada klasifikasi SAE J 300 d
yaitu klasifikasi viskositas minyak pelumas mesin. SAE yang merupakan kependekan
dari Society of Automotive Enginer telah mengeluarkan klasifikasi viskositas dimana
klasivikasi tersebut dapat digunakan sebagai pedoman oleh pabrik-pabrik mesin
didalam memberikan spesifikasi viskositas minyak pelumas yang di butuhkan.

9
Demikian juga bagi produsen minyak pelumas yang mana dapat memberikan label
menurut klasifikasi tersebut pada produk minyak pelumasnya. Dan terutama juga pada
pemakai atau konsumen di dalam memudahkan memilih minyak pelumas menurut
petunjuk yang di anjurkan.

Berikut adalah tabel klasifikasi viskositas SAE 300 d Untuk minyak pelumas karter
rekomendasi praktis dari SAE :

Tabel 2.1 Klasifikasi Viskositas

Viskositas Viskositas (cSt)


Tingkat
(cP) pada -18°C Pada 100°C
Viskositas SAE
(ASTM D 2606) (ASTM D 445)

Minimum
Maksimum Maksimum

5W 1250 3,8

10W 2500 4,1

20W 10000 5,6
9,3
20 – 5,6
12,5
30 – 9,3
16,3
40 – 12,5
21,9
50 – 16,3

Tingkat viskositas SAE dengan tanda W pada tabel adalah untuk menunjukan
spesifikasi kondisi suhu lingkungan yang rendah untuk daerah beriklim sedang,
terutama pada saat musim dingin. Viskositanya diukur pada suhu -18°C dengan alat
yang dinamakan Cold Crangking Simulator (CCS). Tingkat viskositas tanpa W
biasanya digunakan untuk suhu sekitar / lingkungan yang normal. Viskositas
kinematinya diukur pada 100°C, sedangkan untuk minyak

10
pelumas multigrade pemberian label pada nama bagian berikutnya tanpa W, seperti
contohnya SAE 10W - 40, artinya minyak ini dengan batas pengukuran viskositas pada
- 18°C untuk sifat SAE 10W - nya dan pada 100°C untuk sifat SAE 40 - nya.

2.4 Jenis – Jenis Pelumas

Minyak pelumas mesin atau yang lebih dikenal oli mesin memang banyak ragam
dan macamnya. Bergantung jenis penggunaan mesin itu sendiri yang membutuhkan oli
yang tepat untuk menambah atau mengawetkan usia pakai (life time)mesin, adapun
jenis – jenis oli sebagai berikut :

a) Oli Mineral
Oli mineral berbahan bakar oli dasar (base oil) yang diambil dari minyak bumi
yang telah diolah dan disempurnakan. Beberapa pakar mesin memberikan saran
agar jika telah biasa menggunakan oli mineral selama bertahun-tahun maka
jangan langsung menggantinya dengan oli sintetis dikarenakan oli sintetis
umumnya mengikis deposit (sisa) yang ditinggalkan oli mineral sehingga
deposit tadi terangkat dari tempatnya dan mengalir ke celah - celah mesin
sehingga mengganggu pemakaian mesin.
b) Oli Sintetis
Oli Sintetis biasanya terdiri atas Polyalphaolifins yang datang dari bagian
terbersih dari pemilahan dari oli mineral, yakni gas. Senyawa ini kemudian
dicampur dengan oli mineral. Inilah mengapa oli sintetis bisa dicampur dengan
oli mineral dan sebaliknya. Basis yang paling stabil adalah polyol-ester , yang
paling sedikit bereaksi bila dicampur dengan bahan lain. Oli sintetis cenderung
tidak mengandung bahan karbon reaktif, senyawa yang sangat tidak bagus
untuk oli karena cenderung bergabung dengan oksigen sehingga menghasilkan
acid (asam). Pada dasarnya, oli sintetis didesain untuk menghasilkan kinerja
yang lebih efektif dibandingkan dengan oli mineral.

11
2.5 Spesifikasi Minyak Pelumas
Setiap minyak pelumas mempunya spesifikasi tersendiri yang bertujuan untuk
menyesuaikan terhadap mesin, untuk itu penulis menampilkan beberapa keterangan –
keterangan dari beberapa merk minyak pelumas dan masing – masing mempunyai
keunggulan tersendiri. Setidaknya ada dua kode internasional yang wajib diketahui
pemilik mobil tentang oli mesin, yakni angka kekentalan yang ditandai SAE (Sociaty
of Automotive Engineers) dan kegunaan berdasarkan API (American Petrolium
Institute).

SAE merupakan badan internasional yang indeks kekentalannya dipakai


internasional. Untuk oli mesin kemdaraanya pada umunya, angka indeks
kekentalannya itu biasanya diikuti huruf W (winter/musim dingin) yang berarti
pengunaan sampai – 20 °C. Misalnya, SAE 5 W, SAE 10 W, atau SAE 20 W.

Menurut buku Motor Bensin Modern karya Wahyu Hidayat, ST terbitan 2012 oleh
Rineka Cipta, kekentalan adalah besarnya tahanan dari suatu pengaliran minyak
pelumas melalui aliran tertentu. Jika indeks SAE kecil berarti oli semakin encer.
Artinya, kemungkinan oli untuk mengeras pada suhu rendah semakin kecil, hal ini
berguna saat mesin mobil dinyalakan pada suhu dingin.

Oli tidak hanya harus sigap saat dinyalakan pada masa suhu dingin, tetapi juga wajib
optimal saat mesin bekerja. Maka dari itu, oli yang biasa digunakan yaitu multigrade,
artinya kekentalan menyesuaikan pada rentang temperatur tertentu. Penandaan ini
diikuti angka indeks setelah huruf W, misalnya SAE 5 W-20, SAE 10 W–40, atau SAE
20 W–40.

Bila angka setelah huruf W membesar berarti semakin kecil kemungkinannya menjadi
kurus pada suhu panas.

12
Mesin bensin dan diesel punya kode API yang berbeda. Pada mesin bensin kodenya
dimulai dengan huruf “S”, sedangkan diesel “C”. Biasanya pada mesin bensin, kode
oli yang tertera SA, SB, SC, SD, SE, atau SF. Semakin besar menurut abjad huruf
kedua berarti digunakan untuk mesin yang bekerja lebih berat (modern).

1. Klasifikasi API untuk mesin bensin


SA = Minyak murni tanpa bahan tambahan (aditif). SB = Digunakan untuk mesin
operasi ringan yang sedikit anti oxidant. SC = Oli yang mengandung detergen,
dispersant, anti oxidant. SD = Digunakan untuk mesin beroperasi dengan
temperatur tinggi, SE = Digunakan untuk mesin beroperasi sedang dengan
mengandung resisting agent dan anti oxidant yang lebih banyak. SF = Tingkat
aliran tinggi dengan pemakaisn daya tahan (resistance) tinggi.
2. Klasifikasi API untuk mesin diesel:
CA =Digunakan untuk mesin diesel operasi ringan. CB = Digunakan untuk mesin
diesel operasi sedang. CC = Digunakan untuk mesin diesel yang
menggunakan turbo charger dengan operasi temperatur sedang. CD = Digunakan
untuk mesin diesel yang menggunakan turbo charge rdengan kandungan sulfur
sedikit.
Saat ini sudah banyak produsen oli yang membuat oli “kode ganda” yang artinya bisa
digunakan untuk mesin bensin dan diesel. Berikut adalah contoh spesifikasi minyak
pelumas pada kendaraan speda motor.
 Federal Matic Eco Maxx
Merupakan salah satu minyak pelumas untuk motor matic khususnya untuk
yang mempunyai cc 125 cc sampai 150 cc, berikut adalah spesifikasi dari
minyak pelumas tersebut

13
Gambar 2.1 Spesifikasi Federal Matic Eco Maxx
 Federal Super Racing
Merupakan minyak pelumas yang berbahan dasar 100% Ester Synthetyc Base
Oil yang direkomendasikan untuk mesin motor 4 tak modern dengan transmisi
pelumas tersebut.

14
Gambar 2.2 Spesifikasi Federal Super Racing

 Federal Ultra Tec


Merupakan minyak pelumas yang mempunyai heat Protection Technology,
untuk mesin motor 4 tak manual transmisi dengan beban kerja yang berat
sehingga mesin tidak mudah panas. Berikut adalah spesifikasi dari minyak

pelumas tersebut.

Gambar 2.3 Spesifikasi Federal Ultra Tec


Setelah penulis menampilkan beberapa data spesifikasi minyak pelumas dari merk
tersebut sudah terlihat jelas tentu saja minyak pelumas tersebut mempunyai spesifikasi
yang berbeda – beda yang menyesuaikan kinerja mesin dari sepeda motor tersebut
tentu saja apabila pengunaan minyak pelumas yang tidak sesuai dengan fungsinya
tetntu akan mempengaruhi kinerja dari mesin tersebut. Berikut adalah contoh minyak
pelumas pada mobil beserta spesifikasinya.

15
Gambar 2.4 Oli Mobil Shell Helix HX5

 Shell Helix HX5 adalah oli premium multigrade dengan tingkat kekentalan
SAE 15W-40 dengan tingkat API Service SN yaitu tingkat terbaik saat ini yang
mampu meningkatkan kinerja pada mesin.
a. API Service : SN/CF
b. ACEA A3/B3
c. SAE 15W-40
d. For Diesel and Gasoline Engines
e. Premium Multi-Grade Motor Oil
f. Active Cleansing Technology
g. Volume 4000 cc (4L)
h. Shell Helix HX5 dirancang untuk memberikan kinerja mesin yang konsisten.

 Keunggulan Shell Helix HX5 :


- Membersihkan mesin dari kotoran akibat pemakaian dalam durasi yang lama
- Melindungi mesin dan menetralisir asam korosif dari pembakaran bensin
dalam mesin

16
- Memiliki Total Base Number (TBN) yang tinggi untuk mencegah korosi,
kerusakan pada bagian mesin, dan memperpanjang usia mesin

Gambar 2.5 Oli MOBIL SUPER

 MOBIL SUPER 1000 X2 15W-40 API SN Multigrade Engine Oil adalah


pelumas unggulan produksi ExxonMobil dengan bahan dasar Synthetic dan
Mineral kualitas terbaik yang memberikan perlindungan melawan endapan dan
aus, sehingga umur mesin menjadi lebih panjang.
a. API SN, SM
b. ACEA A3/B3
c. API CF
d. MB Approval 229.
e. VW 501 01/505 00

17
 Keunggulan Oli MOBIL SUPER 1000 X2 15W-40 API SN Multigrade Engine
Oil :
- Memperpanjang usia mesin
- Proteksi terbaik melawan endapan dan aus
- Perlindungan pada temperatur tinggi
- Menjaga mesin tetap bersih
- Melindungi sejak mesin dihidupkan
- Anti Penguapan Oli / Burn-Off

18
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Pelumas dapat dibedakan type/jenisnya berdasarkan bahan dasar (base oil),
bentuk fisik, dan tujuan penggunaan. Dilihat dari bentuk fisiknya :
a. Minyak pelumas (lubricating oil)
b. Gemuk pelumas (lubricating grease)
c. Cairan pelumas (lubricating fluid)
Dilihat dari bahan dasarnya :
- Pelumas dari bahan nabati atau hewani
- Pelumas dari bahan minyak mineral atau minyak bumi
- Pelumas sintetis
Pada dasarnya yang menjadi tugas pokok pelumas adalah mencegah atau mengurangi
keausan sebagai akibat dari kontak langsung antara permukaan logam yang satu dengan
permukaan logam lain terus menerus bergerak dan tentunya dengan spesifikasi yang
telah di tentukan salah satunya adalah dari segi kekentalan tentunya sudah memenuhi
standard yang ditetapkan sehingga mampu menyeimbangkan dengan kinerja mesin
pada sebuah kendaraan. Dalam hal ini pelumas berfungsi sebagai penghantar panas
dari bantalan untuk mencegah peningkatan temperatur atau suhu mesin.
Untuk memperoleh hasil yang maksimal atau memuaskan di dalam sistem
pelumasan ini maka mutlak diperlukan adanya selektifitas penggunaan pelumas itu
sendiri, yaitu menentukan jenis pelumas yang tepat untuk mesin kemdaraan yang akan
dilumasi. Hal ini untuk mencegah salah pilih dari pelumas yang akan dipakai yang
dapat berakibat fatal, untuk itu ada baiknya ketika ingin menggunakan minyak pelumas
pada kendaraan, untuk melihat spesifikasi serta kegunaan pada minyak pelumas
tersebut sebelum memakainya. Biasanya pabrik pembuat mesin seperti pabrik
kendaraan bermotor dan pabrik kendaraan bermobil memberi petunjuk jenis pelumas
yang direkomendasikan untuk digunakan.

19
3.2. Saran

Gunakanlah minyak pelumas yang mempunyai spesifikasi yang jelas sudah


terbukti dan pastinya menyesuaikan dengan mesin kendaraan yang kita punya guna
untuk menghindari terjadinya kerusakaan yang fatal dikarenakan spesifikasi yang tidak
sesuai dengan mesin kendaraan sehingga kinerja mesin tidak maksimal bahkan rusak,
disini bisa dilihat betapa pentingnya data – data atau spesifikasi pada minyak pelumas
begitu sangat diperhatikan dan dipertimabangkan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Latifah, dkk. 2006. Agama Islam 1 SMA. Jakarta: Yudhistira.


Muslim, Imam. 2001.25 Kisah Teladan Nabi dan Rasul. Surabaya: Citra Pelajar.
Suparta, Munzier. 2008. Metode Dakwah. Bandung: CV. Pustaka Islamiyah.
Suparta, Munzier.1986. Teknik Dakwah dan Leadership. Bandung: CV. Diponegoro.
Yahya, Toha, Oman. 2004. Islam dan Dakwah. Jakarta:Al-Mawardi Prima.
Yatim, badri. 1992. Ilmu dakwah. Jakarta : Al-Mawardi Prima.

[1] Ahmad amin, ilmu dakwah. Jakarta:1994. Hlm.13-20


[2] H. Munzier Suparta, metode dakwah. (Bandung:CV.Pustaka Islamiyah 2008)
hlm.143
[3] Harun Ali Aziz, metode dakwah.hlm.65
[4] Yatim, badri. 1992. Ilmu dakwah. Jakarta. Hlm. 65

21