Anda di halaman 1dari 19

BAB I

STATUS PASIEN

1.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Ny. P
Usia : 80 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Plajan 31/5 Pakisaji, Jepara
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status : Cerai meninggal
Agama : Islam
No. RM : 000660695
Tanggal masuk : 15 Mei 2018

1.2 ANAMNESA
Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis pada tanggal 16 Mei 2018 di
bangsal Dahlia RSUD RA Kartini Jepara.

a. Keluhan Utama

Bola mata kanan pecah dan keluar

b. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke IGD RSUD RA Kartini pada hari Selasa, 15 Mei 2018.
Pasien mengeluh bola mata kanan pecah dan keluar darah banyak, nyeri (+).
Sebelumnya pasien terbentur tembok pada daerah mata kanan. Pada saat
terbentur pasien sadar penuh, pingsan (-), pusing (+), mual (-), muntah (-).
Pasien mengatakan mata kanannya sudah tidak dapat melihat sejak 5 tahun yang
lalu. Pasien sudah tidak memiliki bola mata kiri sejak 10 tahun yang lalu.
c. Riwayat Penyakit Dahulu dan Kebiasaan

1. Riwayat hipertensi : diakui


2. Riwayat penyakit jantung : disangkal
3. Riwayat diabetes mellitus : disangkal
4. Riwayat mondok : disangkal
5. Riwayat asma : disangkal
6. Riwayat alergi : disangkal
7. Riwayat trauma : diakui
d. Riwayat Penyakit Keluarga

1. Riwayat Asma : (-) Disangkal


2. Riwayat Alergi : (-) Disangkal
3. Riwayat OAT : (-) Disangkal
4. Riwayat Hipertensi : (-) Disangkal
5. Riwayat Jantung : (-) Disangkal
6. Riwayat DM : (-) Disangkal
e. Riwayat Pengobatan

Tidak pernah konsumsi obat-obatan dalam waktu yang lama.

f. Riwayat Sosial Ekonomi

Pasien merupakan seorang ibu rumah tangga dan biaya pengobatan


ditanggung oleh BPJS.

1.3 PEMERIKSAAN FISIK

a. Status Generalis

 Kesadaran : Compos mentis

 Aktivitas : Normoaktif

 Status gizi : Underweight

b. Vital Sign

 TD : 200/90 mmHg

 Nadi : 92 x/menit
 RR : 20 x/menit

 Suhu : 36,7oC

c. Pemeriksaan Fisik

 Kepala : Normocephal, tidak terdapat deformitas

 Telinga: Discharge (-)

 Hidung : Deviasi septum (-), discharge (-), epistaksis (-)

 Mulut : Karies gigi (-)

 Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-)

 Thorax

- Jantung : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

- Paru-paru : Suara napas dasar vesikuler,rhonki (-),wheezing (-)

 Abdomen : supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) N.

 Ekstremitas : Hangat, udema -/-, deformitas (-)

d. Status Ophthalmicus

No. Pemeriksaan Oculus Dexter Oculus Sinister


1. Visus NLP NLP
Bulbus Okuli
- Gerak bola mata - -
- Enoftalmus - -
2. - Eksoftalmus - -
- Strabismus - -

3. Suprasilia Normal Normal


Palpebra Superior : PalpebraSuperiInferior PalpebraSuperior-Inferi
- Vulnus laceratum - -
- Edema - -
- Hematom - -
- Hiperemia - -
4. - Entropion - -
- Ektropion - -
- Blefarospasme - -
- Silia Trikiasis (-) Trikiasis (-)
- Ptosis/ Pseudoptosis - -
- Secret - -

Palpebra Inferior :
- Vulnus laceratum
- -
- Edema
- -
- Hematom
- -
5. - Hiperemia
- -
- Entropion
- -
- Ektropion
- -
- Blefarospasme
- -
- Silia
Trikiasis (-) Trikiasis (-)

Konjungtiva :
- Injeksi konjungtiva - -
6. - Injeksi siliar - -
- Sekret - -
- -
- Laserasi
Kornea :
- Kejernihan - -
- Edema - -
7. - Infiltrat - -
- -
- Sikatrik
- -
- Ulkus - -
- Pannus
COA :
- Kedalaman - -
8. - -
- Hifema
- Hipopion - -
9. Iris :
- Kripta - -
- Edema - -
- Sinekia
 Anterior - -
- -
 Posterior

Pupil :
- Bentuk - -
10. - -
- Diameter
- Reflek pupil - -
Lensa:
- Kejernihan - -
11. - Iris shadow - -
- Edema - -

15. TIO digital - -

1.4 DIAGNOSA KERJA

OD rupture bulbi et causa trauma oculi

1.5 TERAPI
 Non medikamentosa :
- Inj ceftriaxone 1x2 amp
- Inj dexamethasone 3x1 amp
- Inj ketorolac 3x30 amp
- Eyedrop cravat 1 gtt OD tiap jam
 Medikamentosa : Eviscerasi

1.6 PROGNOSIS

Ad vitam : dubia
Ad sanam : dubia
Ad fungsionam : dubia
BAB II
ANATOMI DAN FISIOLOGI

Secara garis besar anatomi mata dapat dikelompokkan menjadi empat bagian, dan
untuk ringkasnya fisiologi mata akan diuraikan secara terpadu. Keempat kelompok ini
terdiri dari :
a. Palpebra
Dari luar ke dalam terdiri dari: kulit, jaringan ikat lunak, jaringan otot,
tarsus, vasia dan konjungtiva.
Fungsi dari palpebra adalah untuk melindungi bola mata, bekerja sebagai
jendela member jalan masuknya sinar kedalam bola mata, juga
membasahi dan melicinkan permukaan bola mata.
b. Rongga mata
Merupakan suatu rongga yang dibatasi oleh dinding dan berbentuk
sebagai piramida kwadrilateral dengan puncaknya ke arah foramen
optikum. Sebagian besar dari rongga ini diisi oleh lemak, yang
merupakan bantalan dari bola mata dan alat tubuh yang berada di
dalamnya seperti: urat saraf, otot-otot penggerak bola mata, kelenjar air
mata, pembuluh darah
c. Bola mata
Menurut fungsinya maka bagian-bagiannya dapat dikelompokkan
menjadi:
1) Otot-otot penggerak bola mata
2) Dinding bola mata yang teriri dari: sclera dan kornea. Kornea kecuali
sebagai dinding juga berfungsi sebagai jendela untuk jalannya sinar.
3) Isi bola mata, yang terdiri atas macam-macam bagian dengan
fungsinya masing-masing
d. Sistem kelenjar bola mata
Terbagi menjadi dua bagian:
1) Kelenjar air mata yang fungsinya sebagai penghasil air mata.
2) Saluran air mata yang menyalurkan air mata dari fornik konjungtiva
ke dalam rongga hidung

2.1 Media Refraksi


Hasil pembiasan sinar pada mata dipengaruhi oleh media penglihatan yang
terdiri atas kornea, aqueous humor (cairan mata), lensa, badan vitreous (badan
kaca), dan panjangnya bola mata. Pada orang normal, susunan pembiasan oleh
media penglihatan dan panjang bola mata sedemikian seimbang sehingga bayangan
benda setelah melalui media penglihatan dibiaskan tepat di daerah makula lutea.
Mata yang normal disebut sebagai mata emetropia dan akan menempatkan
bayangan benda tepat di retinanya pada keadaan mata tidak melakukan akomodasi
atau istirahat melihat jauh.

1. Kornea
Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya. 1
Kornea tidak mengandung pembuluh darah, berbentuk cembung dengan jari -
jari sekitar 8mm, lebih tebal di perifer berbanding di sentral dan mempunyai
indeks refraksi 1.3771.2 Kornea merupakan lapisan jaringan yang menutupi bola
mata sebelah depan dan terdiri atas 5 lapis, yaitu :1
a. Epitel
 Tebalnya 50 μm, terdiri atas 5 lapis selepitel tidak bertanduk yang
saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel
gepeng.
 Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini
terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke
depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat berikatan erat
dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depannya
melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat
pengaliran air, elektrolit, dan glukosa yang merupakan barrier.
 Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat
kepadanya. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi
rekuren.
 Epitel berasal dari ektoderm permukaan.
b. Membran Bowman
 Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan
kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal
dari bagian depan stroma.
 Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi.
 Mempertahankan bentuk kornea.
c. Stroma
 Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar
satu dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang
teratur sadangkan dibagian perifer serat kolagen ini bercabang;
terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang
kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma
kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen
stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat
kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.
 Bersifat higroskopis yag menarik air. Kadar air diatur oleh fungsi
pompa sel endotel dan penguapan oleh epitel.
d. Membran Descement
 Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang
stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran
basalnya.
 Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup,
mempunyai tebal 40 μm.
e. Endotel
 Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar
20-40 μm. Endotel melekat pada membran descement melalui
hemi desmosom dan zonula okluden.
 Lapisan terpenting untu mempertahankan kejernihan kornea.
 Mengatur cairan dalam stroma.
 Tidak mempunyai daya regenerasi.

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf
siliar longus, saraf nasosiliar, saraf V. Saraf siliar longus berjalan supra koroid,
masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman, melepaskan
selubung Schwannnya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai kepada kedua
lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk sensasi dingin
ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah
limbus terjadi dalam waktu 3 bulan.1

Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem


pompa endotel terganggu sehingga dekompresi endotel dan terjadi edema
kornea. Endotel tidak mempunyai daya regenerasi. Kornea merupakan bagian
mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah depan. Pembiasan
sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan
sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea.1

2. Aqueous Humor (Cairan Mata)


Aqueous humor merupakan cairan yang terdapat pada bilik mata yang
mengandung zat-zat gizi untuk kornea dan lensa, keduanya tidak memiliki
pasokan darah. Adanya pembuluh darah di kedua struktur ini akan mengganggu
lewatnya cahaya ke fotoreseptor. Aqueous humor dibentuk dengan kecepatan 5
ml/hari oleh jaringan kapiler di dalam korpus siliaris, turunan khusus lapisan
koroid di sebelah anterior. Cairan ini mengalir ke suatu saluran di tepi kornea
yaitu sinus venosus ataupun Canal of Schlemm dan akhirnya masuk ke darah.
Jika aqueous humor tidak dikeluarkan sama cepatnya dengan pembentukannya,
kelebihan cairan akan tertimbun di rongga anterior dan menyebabkan
peningkatan tekanan intraokuler. Keadaan ini dikenal sebagai glaukoma.
Kelebihan aqueous humor akan mendorong lensa ke belakang ke dalam vitreous
humor, yang kemudian terdorong menekan lapisan saraf dalam retina.
Penekanan ini menyebabkan kerusakan retina dan saraf optikus yang dapat
menimbulkan kebutaan jika tidak diatasi.

3. Lensa
Jaringan ini berasal dari ektoderm permukaan yang berbentuk lensa di
dalam bola mata dan bersifat bening. Lensa di dalam bola mata terletak di
belakang iris dan terdiri dari zat tembus cahaya (transparan) berbentuk seperti
cakram yang dapat menebal dan menipis pada saat terjadinya akomodasi.1
Lensa berbentuk lempeng cakram bikonveks dan terletak di dalam bilik
mata belakang. Lensa akan dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serat
lensa di dalam kapsul lensa. Epitel lensa akan membentuk serat lensa terus-
menerus sehingga mengakibatkan memadatnya serat lensa di bagian sentral
lensa sehingga membentuk nukleus lensa. Bagian sentral lensa merupakan serat
lensa yang paling dahulu dibentuk atau serat lensa yang tertua di dalam kapsul
lensa. Di dalam lensa dapat dibedakan nukleus embrional, fetal dan dewasa. Di
bagian luar nukleus ini terdapat serat lensa yang lebih muda dan disebut sebagai
korteks lensa. Korteks yang terletak di sebelah depan nukleus lensa disebut
sebagai korteks anterior, sedangkan dibelakangnya korteks posterior. Nukleus
lensa mempunyai konsistensi lebih keras dibanding korteks lensa yang lebih
muda. Di bagian perifer kapsul lensa terdapat zonula Zinn yang
menggantungkan lensa di seluruh ekuatornya pada badan siliar.1
Secara fisiologis lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu :1
 Kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam
akomodasi untuk menjadi cembung.
 Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media
penglihatan.
 Terletak ditempatnya, yaitu berada antara posterior chamber dan
vitreous body dan berada di sumbu mata.
Keadaan patologik lensa ini dapat berupa :1
 Tidak kenyal pada orang dewasa yang mengakibatkan presbiopia,
 Keruh atau apa yang disebut katarak
 Tidak berada di tempat atau subluksasi dan dislokasi.
Lensa orang dewasa dalam perjalanan hidupnya akan menjadi bertambah
besar dan berat.1
4. Vitreous humor (Badan Kaca)
Badan vitreous menempati daerah mata di balakang lensa. Struktur ini
merupakan gel transparan yang terdiri atas air (lebih kurang 99%), sedikit
kolagen, dan molekul asam hialuronat yang sangat terhidrasi. Badan vitreous
mengandung sangat sedikit sel yang mensintesis kolagen dan asam hialuronat
(Luiz Carlos Junqueira, 2003). Peranannya mengisi ruang untuk meneruskan
sinar dari lensa ke retina. Kebeningan badan vitreous disebabkan tidak
terdapatnya pembuluh darah dan sel. Pada pemeriksaan tidak terdapatnya
kekeruhan badan vitreous akan memudahkan melihat bagian retina pada
pemeriksaan oftalmoskopi (H. Sidarta Ilyas, 2004). Vitreous humor penting
untuk mempertahankan bentuk bola mata yang sferis.

5. Panjang Bola Mata


Panjang bola mata menentukan keseimbangan dalam pembiasan.
Panjang bola mata seseorang dapat berbeda-beda. Bila terdapat kelainan
pembiasan sinar oleh karena kornea (mendatar atau cembung) atau adanya
perubahan panjang (lebih panjang atau lebih pendek) bola mata, maka sinar
normal tidak dapat terfokus pada makula. Keadaan ini disebut sebagai ametropia
yang dapat berupa miopia, hipermetropia, atau astigmatisma.
2.2 Ruptur Bulbi
A. Definisi
Ruptur bulbi didefinisikan sebagai putusnya integritas dari membran
luar mata; dalam kondisi akut, cedera yang mengenai seluruh lapis kornea
atau sklera juga termasuk dalam cedera bulbi terbuka (Doyle, 2009).
B. Etiologi
1. Cedera tumpul pada kecelakan kendaraan bermotor, olahraga, atau
trauma lain.
2. Penetrasi atau perforasi bulbi, akibat luka tembak dan tusuk, kecelakaan
pada tempat kerja, dan kecelakaan lain yang melibatkan proyektil atau
benda tajam.(Acerra, 2012)

C. Patofisiologi
Ruptur bulbi dapat terjadi ketika suatu benda tumpul membentur
orbita, menekan bulbi pada aksis anterior-posterior yang menyebabkan
peningkatan tekanan intraokuler pada sebuah titik dimana sclera dapat
menjadi robek. Ruptur dari trauma tumpul sering terjadi pada tempat dimana
sclera mempunyai lapisan paling tipis, pada insersi musculus ekstraokuler,
pada limbus, dan pada tempat dimana sebelumnya pernah dilakukan
tindakan bedah intraokuler. Benda tajam atau benda tertentu yang
membentur bulbi dengan kecepatan tinggi dapat langsung membuat perforasi
bulbi. Benda asing berukuran kecil dapat menembus bulbi, dan tertinggal
didalam bulbi. Kemungkinan ruptur bulbi perlu dipertimbangkan dan
diperhatikan selama pemeriksaan pada semua jenis trauma orbita tumpul
dan tembus, juga pada kasus yang melibatkan proyektil berkecepatan tinggi
yang kemungkinan menimbulkan penetrasi okuler.
D. Diagnosis
Gejala Klinis
1. Nyeri mata yang hebat
2. Penurunan ketajaman penglihatan
3. Keluar cairan atau darah dari mata
4. Riwayat trauma, jatuh, atau adanya benda asing yang masuk kedalam
bulbi.

Gejala lainnya dari ruptur bulbi:


1. Nyeri wajah
2. Pembengkakan wajah, di sekitar mata
3. Mata yang memar
4. Penglihatan ganda, ketika melihat keatas
5. Pupil abnormal
6. Gejala hifema; perdarahan di dalam mata, darah menutup pupil
7. Mata merah; perdarahan menutup conjunctiva bulbi.

Pemeriksaan Fisik
1. Laserasi seluruh lapisan sklera atau kornea, subconjunctiva hemoragik
berat (terutama seluruh conjunctiva bulbi), COA yang dalam atau
dangkal jika dibandingkan dengan mata kontralateral, pupil yang runcing
atau ireguler, iris TIDs, material lensa maupun vitreous di COA, benda
asing atau katarak pada lensa, atau keterbatasan gerakan ekstraokuler. Isi
intraiokuler dapat berada di luar bulbi.
2. Tekanan intraokuler yang rendah (walaupun dapat pula normal atau
meningkat, tapi jarang(, iridodyalisis, hifema, ekimosis periorbital,
vitreous hemoragik, dislokasi atau subluksasi lensa, dan TON.
Commotio retinae, ruptur koroid, dan putusnya retina dapat dijumpai
namun sering disamarkan oleh vitreous hemoragik (Gerstenblith dan
Rabinowitz, 2012)

Jika ruptur bagian anterior, dapat mudah dikenali dengan COA yang
dangkal atau mendatar dan pupil umumnya berpindah kearah lokasi
penetrasi. Pembengkakan dan kekeruhan lensa dapat timbul (katarak
traumatik), perdarahan pada COA (hifema) dan badan vitreous (vitreous
hemoragik) dapat timbul. Hipotonus dari bulbi akan timbul pada ruptur
bulbi. Pada ruptur bulbi posterior, hanya tanda tidak langsung yang akan
muncul, seperti tekanan intaokuler yang rendah, dan asimetri kedalaman
COA (John, 2011).

Pemeriksaan
Langkah pemeriksaan fisik:
1. Terkadang diagnosis ruptur bulbi jelas. Mata terlihat tidak beraturan
dengan jaringan uvea prolaps keluar kearah anterior dari luka skleral atau
korneal. Terkadang, benda asing masih dapat ditemukan ketika pasien
datang ke IGD.
2. Ruptur bulbi sering sulit dilihat hanya dengan mata. Lokasi tempat
ruptur sering terjadi tidak mudah dilihat, dan adanya cedera superfisial
lain dapat menghalangi pemeriksaan segmen posterior. Benda asing yang
sangat kecil dapat masuk ke dalam mata melalui luka kecil yang sulit
untuk divisualisasikan.
3. Pemeriksaan pada mata yang cedera sebaiknya dilakukan secara
sistematis dengan tujuan mengidentifikasi dan melindungi bulbi yang
ruptur.
4. Penting untuk menghindari tekanan pada bulbi yang ruptur untuk
menghindari adanya pengeluaran isi intraokuler dan menghindari
kerusakan lebih lanjut.
5. Pada anak yang sulit dilakukan pemeriksaan, dapat dilakukan dengan
sedasi.

Ketajaman Penglihatan dan Gerakan Mata


1. Visus sebaiknya diperiksa pada kedua mata, baik yang terkena cedera
maupun yang tidak. Dapat dipermudah dengan menghitung jari atau
hanya dapat mengenali persepsi cahaya.
2. Gerakan ekstraokuler sebaiknya diperiksa untuk mengetahui apakah
terdapat fraktur dasar orbita.

Orbita
1. Orbita sebaiknya diperiksa, untuk mencari adanya deformitas tulang,
benda asing, dan perpindahan bulbi.
- Fraktur tepi orbita dapat dipalpasi, dan memperkuat dugaan adanya
ruptur bulbi
- Krepitus orbita menandakan adanya subcutaneous emfisema dari
fraktur sinus yang berhubungan
- Benda asing dalam orbita yang menusuk atau melubangi bulbi
sebaiknya dibiarkan sampai dilakukan operasi.
- Ruptur bulbi dapat disertai dengan enoftalmos
- Retrobulbar hemoragik yang timbul juga dapat menyebabkan
eksoftalmos, bahkan ruptur sklera yang tidak terlihat.
(Acerra, 2012).

Palpebra
1. Cedera palpebra dan lakrimal sebaiknya diperiksa dengan tujuan
mengidentifikasi dan melindungi cedera bulbi dalam yang mungkin
terjadi.
2. Bahkan laserasi kecil pada palpebra dapat memunculkan perforasi bulbi
yang mengganggu penglihatan.
3. Repair palpebra sebaiknya tidak dilakukan hingga telah ditegakkan
ruptur bulbi.

Conjunctiva
1. Laserasi conjunctiva dapat menunjukkan cedera sklera lain yang lebih
serius.
2. Hemoragik conjunctiva berat dapat menandakan ruptur bulbi.

Kornea dan sklera


1. Laserasi pada semua lapis kornea atau sklera yang terdapat perforasi
bulbi terbuka, sebaiknya dilakukan di ruang operasi
2. Prolaps iris melalui laserasi semua lapis kornea dapat terlihat sebagai
warna yang berbeda pada lokasi cedera.
3. Sklera yang melipat merupakan tanda ruptur dengan ekstrusi isi okuler.
4. Tekanan intraokuler biasanya rendah, tetapi pengukuran TIO merupakan
kontraindikasi, untuk menghindari tekanan pada bulbi.
5. Luka kornea yang halus mungkin memerlukan pewarna flourescent.
Pada laserasi semua lapisan, dengan aliran aquaeous dari COA, aliran
yang terpisah jelas dengan pewarna flourescent warna kuning terlihat
melalui iluminasi dengan lampu Wood (Seidel test positif)
Pupil
1. Pupil sebaiknya diperiksa bentuk, ukuran, refleks cahaya, dan defek
pupil aferen.
2. Pupil yang berbentuk meruncing, bentuk air (teardrop) atau bentuk
ireguler dapat menandakan adanya ruptur bulbi.

COA
1. Pemeriksaan slitlamp dapat menunjukkan cedera yang berkaitan, seperti
defek transiluminasi iris (red reflex yang dapat dikaburkan oleh vitreous
hemoragik); laserasi kornea; prolaps iris; hifema dari kerusakan badan
silier, dan cedera lensa, termasuk dislokasi atau subluksasi.
2. COA yang dangkal dapat menjadi satu-satunya tanda pada ruptur bulbi
yang tidak terlihat, yang dihubungkan dengan prognosis yang buruk.
Ruptur posterior dapat muncul dengan COA yang lebih dalam karena
ekstrusi vitreous humor dari segmen posterior.

Temuan lain
1. Vitreous hemoragik setelah trauma menandakan adanya robekan retina
atau koroid, nervus optik, atau benda asing.
2. Robekan, edema, ablasio dan hemoragik retina dapat menyertai ruptur
bulbi.

E. Terapi
1. Pemberian antibiotik spektrum luas parenteral untuk mengurangi risiko
endoftalmitis.
2. Pemberian alat pelindung pada mata untuk menghindari trauma dan
tekanan lebih lanjut
3. Jika pasien belum menerima imunisasi tetanus dalam 5 tahun terakhir,
perlu diberi imunisasi tetanus.
4. Tindakan bedah, jika persepsi cahaya pasien nol (0) dan temuan yang ada
mengarah pada trauma okuler ekstrim (misalnya ruptur korioretinal
ekstensif, posterior, atau multipel dengan kelainan yang mengancam
integritas bulbi, enukleasi primer perlu dipertimbangkan.
5. Pada kasus dengan benda asing yang masih terdapat dalam bulbi,
langkah yang umumnya dilakukan adalah penutupan primer dari laserasi
korneoskleral. Hal ini dilakukan dengan mengabaikan adanya vitreous
hemoragik berat, ablasio retina, atau disrupsi kapsul lensa. Tindakan
bedah termasuk penutupan bagian kornea yang ruptur. (Smiddy, 2002).

DAFTAR PUSTAKA

Acerra J.R. 2012. Globe Rupture. http://emedicine.medscape.com/article/798223-


overview#a0104
Acerra J.R. 2012. Globe Rupture Clinical Presentation.
http://emedicine.medscape.com/article/798223-clinical#a0217
Doyle J. 2009. Patient options after a ruptured globe in Journal of Ophthalmic Medical
Technology Vol 5 Number 2 August 2009.
Gerstenblith A.T dan Rabinowitz M.P. 2012. The Wills eye manual: office and
emergency room diagnosis and treatment of eye disease sixth edition.
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Pp: 46-7
Ilyas, Sidarta. 2008. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
Ilyas, S., Mailangkay, HHB., Taim, H., Saman, R., Simarwata, M., Widodo, PS. (eds).
2010. Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran.
Jakarta: Sagung Seto.
John T. 2011. The Chicago Eye and Emergency Manual. New Delhi: Jaypee Brothers
Medical Publisher. P: 371
Lindsey JL, Hamill MB. Scleral and Corneoscleral Injuries. In : Kuhn F,Pieramici DJ
(eds). Ocular Trauma. New York: Thieme Medical Publisher,Inc;2002
Schueler, S.J. Beckett J.H. Gettings D.S. 2011. Ruptured Globe Symptoms.
http://www.freemd.com/ruptured-globe/symptoms.htm
Smiddy W.E. 2002. Ruptured Globe in Singh K. Smiddy W.E. Lee A.G. Ophthalmology
Review: A Case-Study Approach. New York: Thieme Medical Publishing. Pp:
223-6.