Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KASUS

Seorang Anak Laki-laki 10 Tahun dengan Fraktur Os Radius Sinistra


Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Salah Satu Syarat
dalam Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter
Bagian Ilmu Bedah RSUD. RA. Kartini Jepara

Pembimbing :
dr. Dhanan Prastanika S Sp.Ot

Disusun oleh :
Zahra Audzi Putri
30101307104

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU BEDAH


RSUD. RA. KARTINI JEPARA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNISSULA
SEMARANG
2017
BAB I
LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. S
Umur : 10 tahun
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Panggang 3/8
Tanggal Masuk : 27 Juni 2018
Tanggal Periksa : 28 Juni 2018

B. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan pada hari kamis tanggal 28 Juni 2018 pukul 08.00 WIB
secara autoanamnesis di Bangsal Melati II RSUD. RA Kartini Jepara
1. Keluhan Utama
Post Jatuh dari tangga
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dirawat di RSUD RA Kartini dengan post jatuh dari tangga, pasien
mengeluh tangan kanan sakit dan sulit digerakan. Pasien segera dibawa ke IGD satu jam
setelah jatuh dari tangga. Pasien juga tidak merasakan mual, muntah maupun pusing.

3. Riwayat Penyakit Dahulu


 Riwayat sakit yang sama disangkal
 Riwayat Hipertensi disangkal
 Riwayat DM disangkal
 Riwayat PJK disangkal

4. Riwayat Penyakit Keluarga


 Riwayat HT (-)
 Riwayat DM (-)
 Riwayat PJK (-)

C. PEMERIKSAAN FISIK
Status Pasien
Keadaan umum : Composmentis

Tanda Vital
– Tekanan darah : 130/80 mmHg
– Nadi : 84 x/menit
– Suhu : 36,5 ºC
– Frek. Napas : 18 x/menit
– Sp O2 : 99%
a. Kepala : Normocephal, massa (-), jejas (-),

b. Mata : sklera ikterik (-), konjunctiva anemis (-)

c. Hidung : deformitas (-), epistaksis (-), deviasi septum nasi (-)

d. Telinga : simetris, sekret (-), perdarahan (-)

 Status Lokalis Pergelangan Tangan Kiri

- Inspeksi : Tampak adanya pembengkakan , tidak ada angulasi, rotasi


dan pemendakan lengan

- Palpasi : Terdapat nyeri local dan nyeri tekan . Keadaan


neurovascular distal pada arteri radialis dan arteri ulnaris baik.

- Move : Ada sedikit krepitasibila digerkan, tidak ada gangguan pada


Range of motion pasien

- Functiolesa : Jari-jari masih bisa digerakan dan tangan masih bisa


diangkat
 Thorak
Inspeksi : Simetris hemithorax kanan dan kiri, tak tampak jejas pada thoraks,
massa (-)
Palpasi : Krepitasi (-), nyeri tekan (-/-)
Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : SDV (+/+), wheezing (-/-), Rhonki (-/-)
 Jantung
Inspeksi : iktus kordis tak terlihat
Palpasi : iktus tak teraba
Perkusi : batas jantung normal
Auskultasi : S1 S2 reguler, gallop (-), murmur (-)
 Abdomen
Inspeksi : Perut datar, tak terlihat masa, peradangan (-), warna kulit sama
dengan sekitarnya
Auskultasi : Bising usus (N), metallic sound (-)
Perkusi : timpani, hepar tak membesar
Palpasi : nyeri tekan (-) masa (-)

 Ekstremitas

EKSTREMITAS Superior Inferior

Oedem -/- -/-

Sianosis -/- -/-


Akral dingin -/- -/-
Capillary refill <2” <2”
Clubbing finger -/- -/-
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Hasil Rujukan

Hb 13,0 % 14-18

Leukosit 10,680 mm3 4000-10.000

Trombosit 482.000 mm3 150.000-400.000

Hematokrit 39,2 % 40-48

Waktu pembekuan 3’55” 2-6


(CT)

Waktu Perdarahan 1’40” 1-3

Pemeriksaan Hasil Rujukan

Glucosa 105 80-150

Ureum 19,8 mg% 10-50

Creatinin 0,6 mg/dl 0,7-1,2

HbSAg - Non Reaktif


2. Pemeriksaan Radiologi

X foto antebrachii AP lateral

Tampak closed fracture os radius sinistra 1/3 distal

E. ABNORMALITAS DATA

ANAMNESIS
PEMERIKSAAN FISIK
1. Post jatuh dari tangga, Inspeksi: Tampak adanya pembengkakan , tidak ada angulasi,
tangan nyeri untuk rotasi dan pemendakan lengan
digerakan
Palpasi :Terdapat nyeri local dan nyeri tekan. Keadaan
neurovascular distal pada arteri radialis dan arteri ulnaris baik.
Move: Ada sedikit krepitasibila digerkan, tidak ada gangguan
pada Range of motion pasien
Functiolesa:Jari-jari masih bisa digerakan dan tangan masih bisa
diangkat
Pemeriksaan Radiologis
Tampak closed fracture os radius sinistra 1/3 distal
F. DAFTAR MASALAH
Fraktur Os Radius Sinistra 1/3 distal

G. PEMBAHASAN

 IP Dx :
Xfoto antebrachii ap lateral
Darah Rutin
Kimia darah
Ct/Bt
 IP Tx :
- RL 20 tpm
- Anbacim 500mg/12 jam
- Ketorolac 1amp/12 j
- Ranitidin 50 mg/12 j
- Ceftriaxon 2g/24 j
- ORIF
 IP Mx
• KU
• Vital Sign
• Luka bekas operasi
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang
rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Trauma yang menyebabkan tulang patah
dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan
patah tulang radius dan ulna, dan dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh
bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.2
Akibat trauma pada tulang bergantung pada jenis trauma, kekuatan dan arahnya.
Trauma tajam yang langsung atau trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang patah
dengan luka terbuka sampai ke tulang yang disebut patah tulang terbuka. Patah tulang di dekat
sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut
fraktur dislokasi.
2.2 Anatomi

Pada anak-anak antara epifisis dan metafisis terdapat lempeng epifisis sebagai daerah
pertumbuhan kongenital. Lempeng epifisis ini akan menghilang pada dewasa, sehingga
epifisis dan metafisis ini akan menyatu pada saat itulah pertumbuhan memanjang tulang akan
berhenti.3
Tulang panjang terdiri dari : epifisis, metafisis dan diafisis. Epifisis merupakan bagian
paling atas dari tulang panjang, metafisis merupakan bagian yang lebih lebar dari ujung tulang
panjang, yang berdekatan dengan diskus epifisialis, sedangkan diafisis merupakan bagian
tulang panjang yang di bentuk dari pusat osifikasi primer.3
Seluruh tulang diliputi oleh lapisan fibrosa yang disebut periosteum, yang
mengandung sel-sel yang dapat berproliferasi dan berperan dalam proses pertumbuhan
transversal tulang panjang. Kebanyakan tulang panjang mempunyai arteria nutrisi. Lokasi dan
keutuhan dari pembuluh darah inilah yang menentukan berhasil atau tidaknya proses
penyembuhan suatu tulang yang patah.3
Fraktur pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa, karena adanya perbedaan anatomi,
biomekanik serta fisiologi tulang.
a. Perbedaan Anatomi
Anatomi tulang pada anak-anak terdapat lempeng epifisis yang merupakan
tulang rawan pertumbuhan. Periosteum sangat tebal dan kuat, serta menghasilkan
kalus yang cepat dan lebih besar daripada orang dewasa.
b. Perbedaan Biomekanik
Perbedaan biomekanik terdiri atas :
 Biomekanik tulang
Tulang anak-anak sangat porous, korteks berlubang-lubang dan sangat
mudah dipotong oleh karena kanalis Haversian menduduki sebagian besar
tulang. Faktor ini menyebabkan tulang anak-anak dapat menerima toleransi
yang besar terhadap deformitas tulang dibandingkan orang dewasa.
 Biomekanik lempeng pertumbuhan
Lempeng pertumbuhan merupakan tulang rawan yang melekat erat pada
metafisis yang bagian luarnya diliputi oleh periosteum sedang bagian
dalamnya oleh prosesus mamilaris. Untuk memisahkan metafisis dan epifisis
diperlukan kekuatan yang besar. Tulang rawan lempeng epifisis mempunyai
konsistensi seperti karet yang keras.
 Biomekanik periosteum
Periosteum pada anak-anak sangat kuat dan tebal dan tidak mudah
mengalami robekan dibandingkan orang dewasa.
c. Perbedaan Fisiologis
Pada anak-anak, pertumbuhan merupakan dasar terjadinya remodelling
yang lebih besar dibandingkan pada orang dewasa.
 Pertumbuhan berlebihan (over growth)
Pertumbunhan diafisis tulang panjang akan memberikan stimulasi
pada pertumbuhan panjang, karena tulang rawan lempeng epifisis
mengalami hiperemi pada waktu penyembuhan tulang.
 Deformitas yang progresif
Kerusakan permanen lempeng epifisis menyebabkan pemendekkan
atau deformitas anguler pada epifisis.
 Fraktur total
Pada anak-anak, fraktur total jarang bersifat kominutif karena
tulangnya lebih fleksibel dibandingkan orang dewasa.

Atas dasar perbedaan anatomi, biomekanik dan fisiologis, maka fraktur pada anak-
anak mempunyai gambaran khusus, yaitu :
1. Lebih sering ditemukan
Fraktur pada anak-anak lebih sering ditemukan karena tulang relatif
ramping dan juga kurang pengawasan. Beberapa fraktur pada anak-anak seperti
retak, fraktur garis rambut, fraktur buckle, fraktur green-stick merupakan
fraktur yang tidak berat, tetapi ada fraktur seperti fraktur intra-artikuler atau
fraktur epifisial merupakan fraktur yang akan berakibat jelek di kemudian hari.
2. Periosteum yang sangat aktif dan kuat
Periosteum yang kuat pada anak-anak membuatnya jarang mengalami
robekan pada saat fraktur, sehingga sering salah satu dari periosteum
merupakan bidai dari fraktur itu sendiri. Periosteum pada anak-anak
mempunyai sifat osteogenesis yang lebih besar.
3. Penyembuhan fraktur sangat cepat
Penyembuhan fraktur pada anak0anak sewaktu lahir sangat
menakjubkan dan berangsur-angsur berkurang setelah anak menjadi besar,
karena sifat osteogenesis yang aktif pada periosteum dan endosteum.
4. Terdapat problem khusus dalam diagnosa
Gambaran radiologik epifisis sebelum dan sesudah perkembangan pusat
ossifikasi sekunder sering membingungkan, walaupun demikian ada beberapa
pusat ossifikasi yang keberadaannya relatif konstan. Lempeng epifisis pada
foto röntgen dapat disalah-artikan dengan suatu fraktur. Untuk ituu biasanya
perlu dibuat pemeriksaan röntgen pada anggota gerak yanng lain.
5. Koreksi spontan pada suatu deformitas residual
Fraktur pada orang dewasa tidak akan terjadi koreksi spontan dan bersifat
permanen. Pada ank-anak deformitas residual cenderung mengalami koreksi
spontan melalui remodeling yang eksrensif, melalui pertumbuhan lempeng
epifisis atau kombinasi keduanya.
Beberapa faktor yang mempengaruhi koreksi fraktur adalah sisa waktu
pertumbuhan dan bentuk deformitas yang dapat berupa:
 Angulasi
Angulasi residual yang terletak di dekat lempeng epifisis akan
mengalami koreksi spontan seandainya deformitas itu berada pada satu
bidang dengan bidang gerakan sendi yang terdekat. Tetapi pada
angulasi residual yang berada pada bidang tegak lurus dari gerakan
dekat sendi (misalnya angulasi lateral pada deformitas varus fraktur
suprakondiler humeri) tidak dapat mengalami koreksi spontan.
 Aposisi tidak total
Pada fraktur dimana fragmen mengalami aposisi tidak total seperti
samping ke samping (bayonet), maka permukaan fraktur akan
mengalami proses remodeling menurut Hukum Wolff.
 Pemendekkan
Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang anak-anak yang
sedang bertumbuh, terjadi pula kerusakan arteri dan akan terjadi
peningkatan aliran darah sebagai kompensasi pada daerah epifisis yang
akan menyebabkan akselerasi pertumbuhan tulang secara longitudinal.
Adanya pemendekkan tulang pada anak-anak dapat ditoleransi dalam
ukuran tertentu.
 Rotasi
Deformitas rotasi tidak akan mengalami koreksi spontan pada
waktu penyembuhan fraktur tulang panjang tanpa melihat umur dan
lokasi.
6. Terdapat perbedaan dalam komplikasi
Beberapa komplikasi fraktur pada anak-anak mempunyai ciri yang
khusus seperti fraktur epifisis dan lempeng epifisis. Osteomielitis yang terjadi
secara sekunder pada fraktur terbuka atau reduksi terbuka pada suatu fraktur
tertutup biasanya lebih hebat dan dapat menyebabkan kerusakan pada epifisis.
Komplikasi iskemik dan juga miositis ossificans sering ditemukan pada anak-
anak. Komplikasi seperti kekakuan sendi jarang ditemukan pada anak-anak.
7. Berbeda dalam metode pengobatan
Prinsip utama pengobatan pada anak-anak adalah secara konsevatif baik
dengan cara manipulasi tertutup atau traksi kontinu.Walaupun demikian
beberapa fraktur khusus pada anak-anak memerlukan tindakan operasi terbuka
dengan fiksasi interna seperti fraktur bergeser pada leher femur atau fraktur
pada epifisis tertentu.
8. Robekan ligamen dan dislokasi lebih jarang ditemukan
Ligamen pada anak-anak sangat kuat dan pegas. Ligamen ini lebih kuat
dari lempeng epifisis sehingga tarikan ligamen dapat
menyebabkan fraktur pada lempeng epifisis dan bukan robekan
ligamen, misalnya pada sendi bahu tidak terjadi dislokasi tetapi
akan terjadi fraktur epifisis.
9. Kurang toleransi terhadap kehilangan darah
Jumlah volume darah secara proporsional lebih kecil pada anak-anak
daripada orang dewasa. Pada anak-anak jumlah volume darah diperkirakan 75
ml per kg berat badan, sehingga pada anak
dengan berat badan 20 kg diperkirakan mempunyai jumlah darah
1500 ml. Perdarahan sebesar 500 ml pada anak-anak akan
kehilangan 1/3 jumlah volume darah, sedangkan pada orang
dewasa hanya sebesar 10%.

2.3 Fraktur khusus pada anak


a. Fraktur Epifisis
Fraktur epifisis merupakan suatu fraktur tersendiri dan dibagi
dalam :
1. Fraktur avulsi akibat tarikan ligamen
Terutama terjadi pada spina tibia, stiloid ulna, dan basis falangs.
Fragmen tulang masih mempunyai cukup vaskularisasi dan
biasanya tidak mengalami nekrosis avaskuler. Bila terjadi fraktur
bergeser, maka jarang terjadi union karena pembentukkan kalus
duhambat oleh jaringan sinovia. Fraktur bergeser juga
menghambat gerakan dan juga menyebabkan sendi menjadi tidak
stabil. Pada keadaan ini diperlukan reduksi yang akurat dan
mungkin diperlukan tindak operasi.
2. Fraktur kompresi yang bersifat kominutif
Jarang terjadi karena lempeng epifisis berfungsi sebagai shock
absorber pada tulang.
3. Fraktur osteokondral
Sering ditemukan pada distal femur, patela atau kaput radius. Fraktur bergeser
akan menyebabkan gangguan menyerupai benda asing dalam sendi. Fragmen yang
besar sebaiknya dikembalikan dan yang kecil dapat dilakukan eksisi.
b. Fraktur Lempeng Epifisis
Lempeng epifisis merupakan suatu diskus tulang rawan yang
terletak di antara epifisis dan metafisis. Fraktur lempeng epifisis
merupakan 1/3 dari seluruh fraktur pada anak-anak.
Pembuluh darah epifisis masuk ke dalam permukaan epifisis dan
apabila ada kerusakan pembuluh darah maka akan terjadi
gangguan pertumbuhan.
Tulang rawan lempeng epifisis lebih lemah daripada tulang.
Daerah yang paling lemah dari lempeng epifisis adalah zona
transformasi tulang rawan pada daerah hipertrofi dimana biasanya
terjadi garis fraktur. Anatomi, histologi dan fisiologi Secara klinis, kita harus mencurigai
adanya fraktur lempeng epifisis pada seorang anak dengan fraktur pada tulang panjang
di daerah ujung tulang pada dislokasi sendi serta robekan ligamen.
Diagnosis dapat ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan
röntgen dengan dua proyeksi dan membandingkannya dengan anggota gerak yang sehat.
Diagnosis
Klasifikasi fraktur lempeng epifisis menurut Salter-Harris :
Klasifikasi
 Tipe I : Terjadi pemisahan total lempeng epifisis tanpa adanya fraktur pada
tulang, sel-sel pertumbuhan lempeng epifisis masih melekat pada epifisis.
Fraktur ini terjadi oleh karena adanya shearing force dan sering terjadi pada bayi
baru lahir dan pada anak-anak yang lebih muda. Pengobatan dengan reduksi
tertutup mudah oleh karena
masih ada perlekatan periosteum yang utuh dan intak. Prognosis biasanya baik
bila direposisi dengan cepat.
 Tipe II :Merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan. Garis fraktur melalui
sepanjang lempeng epifisis dan membelok ke metafisis dan akan membentuk
suatu fragmen metafisis yang berbentuk segitiga yang disebut tanda Thurston-
Holland. Sel-sel pertumbuhan pada lempeng epifisis juga masih melekat.
Trauma yang menghasilkan jenis fraktur ini biasanya terjadi karena trauma
shearing force dan membengkok dan pada umumnya terjadi pada anak-anak
yang
lebih tua. Periosteum mengalami robekan pada daerah konveks
tetapi tetap utuh pada daerah konkaf. Pengobatan dengan reposisi
secepatnya tidak begitu sulit kecuali bila reposisi terlambat harus
dilakukan tindakan operasi. Prognosis biasanya baik, tergantung kerusakan
pembuluh darah
 Tipe III : Fraktur lempeng epifisis tipe III merupakan frkatur intra-artikuler.
Garis fraktur mulai permukaan sendi melewati lempeng epifisis kemudian
sepanjang garis lempeng epifisis. Jenis fraktur ini
bersifat intra-artikuler dan biasanya ditemukan pada epifisis tibia
distal. Oleh karena fraktur ini bersifat intra-artikuler dan
diperlukan reduksi yang akurat maka sebaiknya dilakukan operasi
terbuka dan fiksasi interna dengan menggunakan pin yang halus
 Tipe IV : Fraktur tipe ini juga merupakan fraktur intra-artikuler yang melalui
permukaan sendi memotong epifisis serta seluruh lapisan lempeng epifisis dan
berlanjut pada sebagian metafisis. Jenis fraktur ini misalnya fraktur kondilus
lateralis humeri pada anak-anak.
Pengobatan dengan operasi terbuka dan fiksasi interna karena
fraktur tidak stabil akibat tarikan otot. Prognosis jelek bila reduksi
tidak dilakukan dengan baik.
 Tipe V : Merupakan fraktur akibat hancurnya epifisis yang diteruskan pada
lempeng epifisis. Biasanya terjadi pada daerah sendi penopang badan yaitu sendi
pergelangan kaki dan sendi lutut. Diagnosis sulit karena secara rediologik tidak
dapat dilihat. Prognosis jelek karena dapat terjadi kerusakan sebagian atau
seluruh lempeng pertumbuhan. Setelah reduksi dari fraktur epifisis tipe I, II, dan
III akan terjadi ossifikasi endokondral pada daerah metafisis lempeng
pertumbuhan dan dalam 2-3 minggu ossifikasi endokondral ini telah mengalami
penyembuhan. Sedangkan tipe IV dan tipe V
mengalami penyembuhan seperti pada fraktur daerah tulang
kanselosa.

c. Fraktur Akibat Trauma Kelahiran


Fraktur akibat trauma kelahiran biasanya terjadi pada saat
persalinan yang sulit yaitu pada bayi besar, letak sungsang atau
ekstraksi bayi dengan alat forsep. Daerah yang biasanya
mengalami fraktur adalah humerus, femur dan klavikula. Fraktur
dapat berdiri sendiri tanpa adanya kelainan neurologis yaitu
kelumpuhan plexus brachialis. Biasanya anak menangis setiap digerakkan atau teraba
adanya fraktur pada daerah yang dimaksud. Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk
memastikan diagnosis.
Gambaran Klinis :
Fraktur pada bayi sembuh dalam 1-3 minggu sehingga hanya
diperlukan pemasangan bidai sementara untuk mengurangi nyeri.
Pengobatan :
Fraktur pada bayi sembuh dalam 1-3 minggu sehingga hanya diperlukan
pemasangan bidai sementara untuk mengurangi nyeri

2.4 Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk
menahan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap
tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya
kontinuitas tulang (Rosyidi, 2013).. Penyembuhan fraktur berkisaran antara tiga minggu
sampai empat bulan. Waktu penyembuhan pada anak secara kasar separuh waktu
penyembuhan daripada dewasa.
Ada beberapa tahapan dalam penyembuhan tulang yaitu: (1) Fase 1: inflamasi, (2) Fase
2: proliferasi sel, (3) Fase 3: pembentukan dan penulangan kalus (osifikasi), (4) Fase 4:
remodeling menjadi tulang dewasa.
d. Inflamasi
Respons tubuh pada saat mengalami fraktur sama dengan respons apabila
ada cedera di bagian tubuh lain. Terjadi perdarahan pada jaringan yang cedera dan
pembentukan hematoma pada lokasi fraktur. Ujung fragmen tulang mengalami
devitalisasi karena terputusnya pasokan darah. Tempat cedera kemudian akan
diinvasi oleh makrofag (sel darah putih besar) yang akan membersihkan daerah
tersebut dari zat asing. Pada saat ini terjadi inflamasi, pembengkakan, dan nyeri.
Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya
pembengkakan dan nyeri
d. Proliferasi sel
Dalam sekitar lima hari, hematoma akan mengalami organisasi. Terbentuk
benang-benang fibrin pada darah dan membentuk jaringan untuk revaskularisasi,
serta invasi fibroblast dan osteoblast. Fibroblast dan osteoblast (berkembang dari
osteosit, sel endostel, dan sel periosteum) akan menghasilkan kolagen dan
proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat
fibrus dan tulang rawan (osteoid). Dari periosteum tampak pertumbuhan melingkar.
Kalus tulang rawan tersebut dirangsang oleh gerakan mikro minimal pada tempat
patah tulang. Namun, gerakan yang berlebihan akan merusak struktur kalus. Tulang
yang sedang aktif tumbuh menunjukkan potensial elektronegatif.
e. Pembentukan kalus
Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh
mencapai sisi lain sampai celah terhubungkan. Fragmen patahan tulang
digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan, dan serat tulang imatur. Bentuk
kalus dan volume yang dibutuhkan untuk menghubungkan defek secara langsung
berhubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang. Perlu waktu tiga
sampai empat minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau
jaringan fibrus. Secara klinis, fragmen tulang tak bisa lagi digerakkan.
Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam dua sampai tiga
minggu patah tulang melalui proses penulangan endokondrial. Mineral terus-
menerus ditimbun sampai tulang benar-benar telah bersatu dengan keras.
Permukaan kalus tetap bersifat elektronegatif. Pada patah tulang panjang orang
dewasa normal, penulangan memerlukan waktu tiga sampai empat bulan.
f. Remodeling
Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan
reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya. Remodeling
memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun-tahun bergantung pada
beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan stres fungsional
pada tulang (pada kasus yang melibatkan tulang kompak dan kanselus). Tulang
kanselus mengalami penyembuhan dan remodeling lebih cepat dari pada tulang
kortikal kompak, khusunya pada titik kontak langsung. Ketika remodeling telah
sempurna, muatan permukaan pada tulang tidak lagi negatif. Proses penyembuhan
tulang dapat dipantau dengan pemeriksaan sinar X. Imobilisasi harus memadai
sampai tanda-tanda adanya kalus tampak pada gambaran sinar X.
2.5 Klasifikasi
Klasifikasi fraktur dapat sangat bervariasi, beberapa dibagi menjadi beberapa kelompok,
yaitu:
A. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).

1. Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan
dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. Pada
fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak
sekitar trauma, yaitu:
a) Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak sekitarnya.
b) Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
c) Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam
dan pembengkakan.
d) Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan ancaman
sindroma kompartement.

2. Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara hubungan antara


fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit. Fraktur terbuka
terbagi atas 3 derajat (menurut R.Gustilo), yaitu:
Tipe Batasan
I Luka bersih dengan panjang luka < 1 cm
II Panjang luka > 1 cm tanpa kerusakan jaringan lunak yang berat
III Kerusakan jaringan lunak yang berat dan luas, fraktur segmental terbuka, trauma
amputasi, luka tembak dengan kecepatan tinggi, fraktur terbuka di pertanian,
fraktur yang perlu repair vaskuler dan fraktur yang lebih dari 8 jam setelah
kejadian.

Klasifikasi lanjut fraktur terbuka tipe III (Gustillo dan Anderson, 1976) oleh
Gustillo, Mendoza dan Williams (1984):

Tipe Batasan
IIIA Periosteum masih membungkus fragmen fraktur dengan kerusakan jaringan
lunak yang luas
IIIB Kehilangan jaringan lunak yang luas, kontaminasi berat, periosteal striping
atau terjadi bone expose
IIIC Disertai kerusakan arteri yang memerlukan repair tanpa melihat tingkat
kerusakan jaringan lunak.

Fraktur tertutup Fraktur terbuka


b. Berdasarkan komplit atau ketidak-klomplitan fraktur.
1. Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui
kedua korteks tulang.

2. Fraktur Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti:
 Hair Line Fraktur.
 Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi
tulang spongiosa di bawahnya.
 Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang
terjadi pada tulang panjang.

b. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma.


 Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan
akibat trauma angulasi atau langsung.
 Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap
sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga.
 Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang
disebabkan trauma rotasi.
 Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang
mendorong tulang ke arah permukaan lain.
 Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot
pada insersinya pada tulang.
c. Berdasarkan jumlah garis patah.
- Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan.
- Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
berhubungan
- Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang
yang sama.
d. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.
1) Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap tetapi kedua fragmen
tidak bergeser dan periosteum masih utuh.
2) Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut
lokasi fragmen, terbagi atas:
- Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan
overlapping).
- Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
- Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).
e. Berdasarkan posisi fraktur
Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian :
- 1/3 proksimal
- 1/3 medial
- 1/3 distal
2.6 Pemeriksaan

Riwayat
Anamnesis dilakukan untuk menggali riwayat mekanisme cedera (posisi kejadian) dan
kejadian-kejadian yang berhubungan dengan cedera tersebut. riwayat cedera atau fraktur
sebelumnya, riwayat sosial ekonomi, pekerjaan, obat-obatan yang dia konsumsi, merokok,
riwayat alergi dan riwayat osteoporosis serta penyakit lain.
Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi / Look
Deformitas : angulasi, rotasi, pemendekan, pemanjangan, bengkak
Pada fraktur terbuka : klasifikasi Gustilo
b. Palpasi / Feel ( nyeri tekan (tenderness), Krepitasi)
Status neurologis dan vaskuler di bagian distalnya perlu diperiksa. Lakukan
palpasi pada daerah ekstremitas tempat fraktur tersebut, meliputi persendian diatas dan
dibawah cedera, daerah yang mengalami nyeri, efusi, dan krepitasi Neurovaskularisasi
bagian distal fraktur meliputi : pulsasi aretri, warna kulit, pengembalian cairan kapler
(Capillary refill test) sensasi
c. Gerakan / Moving
Dinilai apakah adanya keterbatasan pada pergerakan sendi yang berdekatan
dengan lokasi fraktur.
d. Pemeriksaan trauma di tempat lain : kepala, toraks, abdomen, pelvis
Sedangkan pada pasien dengan politrauma, pemeriksaan awal dilakukan menurut
protokol ATLS. Langkah pertama adalah menilai airway, breathing, dan circulation.
Perlindungan pada vertebra dilakukan sampai cedera vertebra dapat disingkirkan dengan
pemeriksaan klinis dan radiologis. Saat pasien stabil, maka dilakukan secondary survey
2.7 Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Radiologi
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah “pencitraan” menggunakan
sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan
tulang yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam keadaan
tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan
pathologi yang dicari karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan x-ray
harus atas dasar indikasi kegunaan pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai
dengan permintaan. Hal yang harus dibaca pada x-ray:

- Bayangan jaringan lunak.


- Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga
rotasi.
- Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.
- Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.
Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya seperti:

1) Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain
tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur
yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur lain juga
mengalaminya.
2) Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di
ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma.
3) Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda
paksa.
4) Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal
dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak.
B. Pemeriksaan Laboratorium
1) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
2) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan
osteoblastik dalam membentuk tulang.
3) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat
Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan
tulang.
C. Pemeriksaan lain-lain
1. Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan
mikroorganisme penyebab infeksi.
2. Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan
diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.
3. Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur.
4. Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang
berlebihan.
5. Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang.
6. MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.

2.9 Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan fraktur terdiri dari 4R yaitu recognition berupa diagnosis dan
penilaian fraktur, reduction, retention dengan imobilisasi, dan rehabilitation yaitu
mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin
Penatalaksanaan awal fraktur meliputi reposisi dan imobilisasi fraktur dengan splint.
Status neurologis dan vaskuler di bagian distal harus diperiksa baik sebelum maupun sesudah
reposisi dan imobilisasi. Pada pasien dengan multiple trauma, sebaiknya dilakukan stabilisasi
awal fraktur tulang panjang setelah hemodinamis pasien stabil. Sedangkan penatalaksanaan
definitif fraktur adalah dengan menggunakan gips atau dilakukan operasi dengan ORIF
maupun OREF.
Tujuan pengobatan fraktur :
a. REPOSISI dengan tujuan mengembalikan fragmen keposisi anatomi. Tehnik
reposisi terdiri dari reposisi tertutup dan terbuka. Reposisi tertutup dapat dilakukan
dengan fiksasi eksterna atau traksi kulit dan skeletal. Cara lain yaitu dengan
reposisi terbuka yang dilakukan padapasien yang telah mengalami gagal reposisi
tertutup, fragmen bergeser, mobilisasi dini, fraktur multiple, dan fraktur patologis.
b. IMOBILISASI / FIKSASI dengan tujuan mempertahankan posisi fragmen post
reposisi sampai Union. Indikasi dilakukannya fiksasi yaitu pada pemendekan
(shortening), fraktur unstabel serta kerusakan hebat pada kulit dan jaringan sekitar
Jenis Fiksasi :
- Ekternal / OREF (Open Reduction External Fixation)
 Gips ( plester cast)
 Traksi
Jenis traksi :
 Traksi Gravitasi : U- Slab pada fraktur humerus
 Skin traksi
Tujuan menarik otot dari jaringan sekitar fraktur sehingga fragmen
akan kembali ke posisi semula. Beban maksimal 4-5 kg karena bila
kelebihan kulit akan lepas
 Sekeletal traksi : K-wire, Steinmann pin atau Denham pin.
Traksi ini dipasang pada distal tuberositas tibia (trauma
sendi koksea, femur, lutut), pada tibia atau kalkaneus ( fraktur
kruris). Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada pemasangan
traksi yaitu gangguan sirkulasi darah pada beban > 12 kg, trauma
saraf peroneus (kruris) , sindroma kompartemen, infeksi tempat
masuknya pin
Indikasi OREF :
 Fraktur terbuka derajat III
 Fraktur dengan kerusakan jaringan lunak yang luas
 fraktur dengan gangguan neurovaskuler
 Fraktur Kominutif
 Fraktur Pelvis
 Fraktur infeksi yang kontraindikasi dengan ORIF
 Non Union
 Trauma multiple

- Internal / ORIF (Open Reduction Internal Fixation)


ORIF ini dapat menggunakan K-wire, plating, screw, k-nail. Keuntungan
cara ini adalah reposisi anatomis dan mobilisasi dini tanpa fiksasi luar.
Indikasi ORIF :
 Fraktur yang tak bisa sembuh atau bahaya avasculair nekrosis
tinggi, misalnya fraktur talus dan fraktur collum femur.
 Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup. Misalnya fraktur avulse
dan fraktur dislokasi.
 Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan. Misalnya
fraktur Monteggia, fraktur Galeazzi, fraktur antebrachii, dan
fraktur pergelangan kaki.
 Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih
baik dengan operasi, misalnya : fraktur femur.

2.10 Komplikasi
1. Komplikasi Awal
a. Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT
menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada
ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi
pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
b. Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena
terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini
disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan pembuluh
darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan embebatan yang terlalu
kuat.
c. Fat Embolism Syndrom
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi
pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan
bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen
dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan, tachykardi,
hypertensi, tachypnea, demam.
d. Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma
orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini
biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan
lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
e. Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau
terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya
Volkman’s Ischemia.
f. Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya
terjadi pada fraktur.

2. Komplikasi Dalam Waktu Lama


b. Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan
waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena
penurunan supai darah ke tulang.
c. Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan memproduksi
sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion ditandai
dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi
palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.
d. Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya
tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan
pembedahan dan reimobilisasi yang baik
DAFTAR PUSTAKA

1. Apley, A.Graham. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem APLEY. Ed.7. Jakarta : Widya

Medika.1995

2. Bagian Bedah Staf Pengajar Fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Kumpulan Kuliah

Ilmu Bedah. Jakarta : Binarupa Aksara.1995.

3. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta : PT. Yarsif Watampone.

2007

4. Sjamsuhidajat R, De Jong Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Jakarta : Penerbit Buku

Kedokteran EGC.2004.

5. Schwartz, Shires, Spencer. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Edisi 6. Jakarta :

EGC.2000.

6. Sabiston, David C. Buku Ajar Bedah bagian 2. Jakarta: EGC 1994.