Anda di halaman 1dari 23

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA

LAPORAN KASUS

FIBROADENOMA MAMMAE

Diajukan untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kapaniteraan Klinik di


Departemen Bedah
Rumah Sakit Tentara TK.II dr.Soedjono Magelang

Pembimbing :
Letkol CKM dr. Basuki Widodo, Sp. OT

Disusun Oleh :
Dhea Andhira Prilialoka
1610221132

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RUMAH SAKIT TENTARA TK.II DR.SOEDJONO MAGELANG
PERIODE
22 MEI 2017 – 05 AGUSTUS 2017
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS

FIBROADENOMA MAMMAE

Diajukan untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kapaniteraan Klinik di


Departemen Bedah
Rumah Sakit Tentara TK.II dr.Soedjono Magelang

Disusun Oleh :
Dhea Andhira Prilialoka
1610221132

Telah Disetuji Oleh Pembimbing :

Letkol CKM dr. Basuki Widodo, Sp. OT

Tanggal : Juni 2017


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat
dan hidayah-Nya sehingga penulisan presentasi kasus ini dapat diselesaikan.
Presentasi Kasus ini berjudul “FIBROADENOMA MAMMAE”.
Penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan dari berbagai pihak
sehingga penyusunan Presentasi Kasus ini dapat berjalan dengan lancar dan
dengan rendah hati disampaikan rasa terima kasih kepada Letkol CKM dr. Basuki
Widodo, Sp. OT sebagai pembimbing penulis dalam penyusunan presentasi kasus
ini.
Penulis menyadari bahwa hasil laporan yang dituliskan di dalam Presentasi
Kasus ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mohon maaf
apabila terdapat banyak kekurangan pada pada laporan ini. Untuk itu, penulis
mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun ke arah penyempurnaan
dalam penulisannya dan berharap kiranya presentasi kasus ini dapat bermanfaat.

Magelang, Juni 2017

Penulis
BAB I
LAPORAN KASUS

I.1 Identitas Pasien


Nama : Nn. F
Usia : 21 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Monosari, Tegalrejo
Agama : Islam
Tanggal Masuk RS : 5 Juni 2017
Tanggal Keluar RS : 8 Juni 2017
Bangsal : Edelweiss, kamar C1

I.2 Anamnesis
Keluhan Utama
Pasien datang dengan keluhan benjolan pada payudara kanan.
A. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke RST dr.Soedjono Magelang pada tanggal 4
Januari 2017 dengan keluhan benjolan di payudara kanan. Benjolan
dirasakan kurang lebih 1 bulan SMRS saat pasien sedang mandi. Benjolan
teraba keras, bias digerakan, dan kadang terasa sakit. Pasien menyangkal
perubahan tekstur kulit payudara, perubahan warna kulit payudara, rasa
panas pada payudara, perubahan ukuran payudara, benjolan yang cepat
membesar, cairan yang keluar dari puting payudara, serta penurunan berat
badan.
B. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah merasakan benjolan pada payudara kiri 1 tahun yang lalu.
Tidak dilakukan pengobatan apapun, menurut pasien benjolan hilang
sendiri.
C. Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengatakan ibu pasien pernah didiagnosis fibroadenoma mammae
diusia muda.
D. Riwayat Penggunaan Obat
Mengkonsumsi obat jangka panjang disangkal.
E. Riwayat Kebiasaan
Pasien suka makan gorengan, jarang mengkonsumsi sayuran. Pasien tidak
merokok dan minum alcohol.

I.3 Pemeriksaan Fisik


 Status Generalis (9 Januari 2017)
a) Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang
b) Kesadaran : Compos mentis
c) BB : 48Kg
d) TB : 157cm
e) Tanda vital
 Tekanan darah : 120/70 mmHg
 Nadi : 80 x/menit
 Pernafasan : 20 x/menit
 Suhu : 36 o C
 SpO2 : 98%
f) Kepala : Normocephal, rambut tidak mudah dicabut
g) Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
h) Leher : Tidak teraba pembesaran KGB
i) Thoraks :
a. Paru
i. Inspeksi: Simetris, retraksi dada (-), jejas (-)
ii. Palpasi: Pengembangan paru yang tertinggal (-), taktil fremitus
(n/n)
iii. Perkusi: Sonor
iv. Auskultasi: Vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
b. Jantung
i. Inspeksi: Ictus cordis tidak tampak
ii. Palpasi: Ictus cordis tidak kuat angkat, terdapat di ICS 5 linea
midclavicularis sinistra
iii. Perkusi: tidak ada pelebaran batas jantung
iv. Auskultasi: BJ1- BJ2 reguler, murmur (-), gallop (-)
j) Abdomen:
a. Inspeksi : Jejas (-), sikatrik (-), massa (-)
b. Auskultasi : Bising usus (+) normal
c. Palpasi : Supel, nyeri tekan (-)
d. Perkusi : Timpani (+)
 Ekstremitas : akral hangat, CRT<2 detik
 Status Lokalis
Regio Mammae Dextra
Inspeksi :
 Tekstur kulit payudara normal
 Warna kulit payudara normal
 Kesan payudara tampak normal
Palpasi :
 Terdapat benjolan pada payudara kanan
 Ukuran : kurang lebih 5 cm
 Permukaan : Rata
 Batas : Tegas
 Konsistensi : Keras
 Terfiksir : tidak
 Nyeri tekan (-)
 Warna kulit : sewarna dengan kulit sekitar
 Suhu : sama dengan suhu kulit sekitar
 Pembesaran KGB : tidak ada
I.4 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium (5 Juni 2017)

Parameter Hasil Normal Range


WBC 4.7 K/μL 4.0 – 10.0
LYM 1.4 K/μL 1.0 – 5.0
MID 0.4 K/μL 0.1 – 1.0
GRA 2.9 K/μL 2.0 -8.0
LIM% 30.5% 25.0 – 50.0
MID % 6.6% 2.0 – 10.0
GRA% 62.1% 50.0 – 80.0
RBC 4.10 M/μL 3.00 – 6.00
HGB 11.5 g/dl 12.0 – 16.0
HCT 32% 35.0 – 45.0
MCV 77.4 fl 81.0 – 101.0
MCH 27.1 pg 27.0 – 33.0
MCHC 34.6 g/dl 31.0 – 35.0
RDW 12.8% 10.0 – 16.0
PLT 254 K/μL 150 – 400
MPV 7.8 fl 7.0 – 11.0
PCT 0.21 % 0.20 – 0.50
PDW 15.6 % 10.0 – 18.0
LPCR 13.7 % 0.1-99.9
Pemeriksaan USG Mammae dan Axilla (23 Mei 2017)

Hasil :
 Mammae Dextra : Tak tampak retraksi papillae mammae, cutis dan
subcutis tidak menebal/menipis, tampak nodul hypoechoic pada
posisi jam 3, jarak 5cm dari papillae mammae, bentuk bulat,
macronodular, batas tegas, tepi licin, ukuran l.k 1,46 x 3,5 cm,
bilateral shadowing +
 Mammae Sinistra : Tak tampak retraksi papillae mammae, cutis
dan subcutis tidak menebal/menipis, tampak jaringan fibrogranuler
normal, tak tampak nodul/cyst/kalsifikasi
 Regio Axillae Bilateral : Tampak tenang, tak tampak gambaran
nodul lymphadenophaty.

Kesan :
 Nodul mammae dextra dengan tandatanda benign, BIRADS 2
 Tak tampak nodul / cyst pada mammae sinistra
 Tak tampak kelainan pada region axillae bilateral

I.5 Diagnosis
SUSP. Fibroadenoma mammae dextra
dd/ tumor filodes
kista payudara

I.6 Planning
a. Treatment :
Operatif : Excisi tumor
Medikamentosa :
Inf. RL 20 tpm

Follow-Up
06/ Juni/2017 S : Benjolan pada
Pre Operasi payudara kanan
O:
 TD :
120/70mmHg
 HR : 78x/menit
 RR : 20x/menit
 S : 36,20C
 SpO2 : 98%
 Inspeksi :
payudara tampak
normal
 Palpasi : benjolan
padat, tidak nyeri
tekan, batas tegas,
bias digerakkan
A : Tumor mammae
dextra
P : Puasa 6 jam Pre
operasi

07/Juni/2017 S:
Post Operasi  Nyeri post op
 Pusing
O:
 TD : 120/80mmHg
 HR : 84x/menit
 RR : 20x/menit
 S : 36.50C
 SpO2 : 98%
A : Tumor mamme
dextra
P:
 Inf.RL 20 tpm
 Cefotaxim 2 x 1gr
 Ketorolac 2 x 30mg
8/Juni/2017 S:
 Nyeri pada bekas luka
eksisi
O:
 TD : 110/80mmHg
 Nadi : 78x/menit
 RR : 20x/menit
 Suhu : 36,50C
 SpO2 : 98%
A : Tumor mammae
dextra
P:
 Inf.RL 20 Tpm
 Cefixim 2 x1
 As. Mefenamat 3
x 500mg

I.7 Laporan Operasi (7 Juni 2017)

a. Posisi pasien spinal dalam GA


b. Desinfeksi
c. Insisi diatas benjolan
d. Disekitar kapsul massa ambil dari jaringan subcutan
e. Tumor berukurang l.k 2 x 3 cm
f. Dilakukan hecting
g. Aseptik
h. Tutup luka
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Anatomi Payudara


II.1.1 Gambaran Umum

Mammae adalah kelenjar yang terletak di bagian anterior dan termasuk


bagian dari lateral thoraks. Mammae melebar ke arah superior dari iga dua,
inferior dari kartilago kosta enam dan medial dari sternum serta lateral linea mid-
aksilaris. Kompleks nipple-areola terletak diantara kosta empat dan lima. Setiap
mammae terdiri dari 15-20 lobus kelenjar yang setiap lobus terdiri dari beberapa
lobulus. Setiap lobulus kelenjar masing-masing mempunyai saluran ke papila
mammae yang disebut duktus laktiferus (diameter 2-4 mm). Diantara kelenjar
susu dan fasia pektoralis, juga diantara kulit dan kelenjar tersebut mungkin
terdapat jaringan lemak.

Gambar 1. Anatomi Payudara

II.1.2. Vaskularisasi
Vaskularisasi mammae terutama berasal dari :
(1) cabang arteri mammaria interna;
(2) cabang lateral dari arteri interkostalis posterior; dan
(3) cabang dari arteri aksillaris termasuk arteri torakalis lateralis, dan
cabang pectoral dari arteri torakoakromial.

II.1.3. Aliran Limfe


Aliran limfe mammaria secara praktis dibagi menjadi kuadran-kuadran.
Kuadran lateral mengalirkan cairan limf nya ke nodi axillares anteriores atau
kelompok pectorales (terletak tepat posterior terhadap pinggir bawah musculus
pectoralis mayor). kuadran medial mengalirkan cairan limf nya melalui
pembuluh-pembuluh yang menembus ruangan intercostalis dan masuk ke dalam
kelompok nodi thoracales internae (terletak di dalam cavitas thoracis di sepanjang
arteria thoracica interna). Beberapa pembuluh limf mengiktui arteriae intercostales
posteriores dan mengalirkan cairan limf nya ke posterior ke dalam nodi
intercostales posteriores (treletak di sepanjang arteriae intercostales posteriores);
beberapa pembuluh berhubungan dengan pembuluh limf dari payudara sisi yang
lain dan berhubungan juga dengan kelenjar di dinding anterior abdomen.

Gambar 2. Aliran limf Kelenjar mammae

II.1.4. Innervasi
Bagian superior payudara mendapat persarafan dari saraf-saraf
suprakavikularis. Saraf-saraf klavikularis mendapat persafaran dari cabang ketiga
dan keempat plekus servikalis. Kulit di bagian medial payudara dipersarafi oleh
bagian kulit anterior saraf antariga kedua sampai ketujuh. Sensasi di payudara
berasal dari cabang kulit lateral saraf antariga keempat.

II.1.5. Kuadran Payudara


Untuk kepentingan anatomis & deskripsi letak tumor &kista, permukaan
payudara di bagi menjadi 4 kuadran:
 Superior (upper)medial
 Inferior (lower)medial
 Superior(upper)lateral
 Inferior(lower)lateral

Gambar 3. Kuadran Payudara

II.2. Fisiologi Payudara

Payudara mengalami 3 macam perubahan yang dipengaruhi hormon.


Perubahan pertama ialah mulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas,
masa fertilitas, sampai ke klimakterium dan menopause. Sejak pubertas,
pengaruh estrogen dan progesteron yang diproduksi ovarium dan juga hormon
hipofise, telah menyebabkan duktus berkembang dan timbulnya asinus.
Perubahan kedua adalah perubahan sesuai dengan daur menstruasi. Sekitar
hari kedelapan menstruasi payudara jadi lebih besar dan pada beberapa hari
sebelum menstruasi berikutnya terjadi pembesaran maksimal. kadang-kadang
timbul benjolan yang nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari menjelang
menstruasi, payudara menjadi tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik,
terutama palpasi, tidak mungkin dilakukan. Begitu menstruasi mulai,
semuanya berkurang. Perubahan ketiga terjadi pada waktu hamil dan
menyusui. Pada kehamilan, payudara menjadi besar karena epitel ductus lobul
dan ductus alveolus berploliferasi, dan tumbuh ductus baru. Sekresi hormon
prolaktin dari hipofisis anterior memicu (trigger) laktasi. Air susu diproduksi
oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui ductus ke
puting susu.

II.3 Fibroadenoma Mammae


II.3.1. Definisi
Fibroadenoma mammae adalah tumor jinak yang sering terjadi di payudara.
Benjolan tersebut berasal dari jaringan fibrosa (mesenkim) dan jaringan glanduler
(epitel) yang berada di payudara, sehingga tumor ini disebut sebagai tumor
campur (mix tumor), tumor tersebut dapat berbentuk bulat atau oval, bertekstur
kenyal atau padat, dan biasanya tidak nyeri. Tumor ini tidak melekat ke jaringan
sekitarnya dan amat mudah digerakkan kesana kemari. Biasanya FAM tidak nyeri,
tetapi kadang dirasakan nyeri bila ditekan. Pertumbuhan FAM bisa cepat sekali
selama kehamilan dan laktasi atau menjelang menopause, saat rangsangan
estrogen meninggi.

Gambar 4. Gambaran Fibroadenoma mammae


II.3.2. Epidemiologi

FAM merupakan penyakit payudara tersering kedua yang menyebabkan


benjolan di payudara. Berdasarkan laporan dari NSW Breats Cancer Institute,
fibroadenoma umumnya terjadi pada wanita dengan usia 21-25 tahun, kurang dari
5% terjadi pada usia di atas 50, sedangkan prevalensinya lebih dari 9% populasi
wanita terkena fibroadenoma. Sedangkan laporan dari Western Breast Services
Alliance, fibroadenoma terjadi pada wanita dengan umur antara 15 dan 25 tahun,
dan lebih dari satu dari enam (15%) wanita mengalami fibroadenoma dalam
hidupnya. Namun, kejadian fibroadenoma dapat terjadi pula wanita dengan usia
yang lebih tua atau bahkan setelah menopause, tentunya dengan jumlah kejadian
yang lebih kecil dibanding pada usia muda.

II.3.3. Etiologi

Penelitian saat ini belum dapat mengungkap secara pasti apa penyebab
sesungguhnya dari fibroadenoma mammae, namun diketahui bahwa pengaruh
hormonal berpengaruh. Peningkatan aktivitas estrogen yang absolut atau relative
sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dari fibroadenoma mammae, hal ini
diketahui karena ukuran fibroadenoma dapat berubah pada siklus menstruasi atau
pada saat kehamilan. Selain itu fibroadenoma mammae dapat juga dipengaruhi
genetik dan juga faktor predisposisi berupa :
a. Usia : < 30 tahun
b. Jenis kelamin
c. Pekerjaan
d. Diet
e. Stress

II.3.4. Patofisiologi

Fibroadenoma merupakan tumor jinak payudara yang sering ditemukan


pada masa reproduksi yang disebabkan oleh beberapa kemungkinan yaitu akibat
sensitivitas jaringan setempat yang berlebihan terhadap estrogen sehingga
kelainan ini sering digolongkan dalam mamary displasia. FAM terjadi akibat
proliferasi abnormal jaringan periduktus ke dalam lobulus; dengan demikian
sering ditemukan di kuadran lateral atas karena di bagian ini distribusi kelenjar
paling banyak. Baik estrogen, progesteron, kehamilan, maupun laktasi dapat
merangsang pertumbuhan FAM. Pada gambaran histologis menunjukkan stroma
dengan proliferasi fibroblast yang mengelilingi kelenjar dan rongga kistik yang
dilapisi epitel dengan bentuk dan ukuran yang berbeda.

II.3.5. Klasifikasi

Pembagian fibroadenoma berdasarkan histologik yaitu :

Fibroadenoma Pericanaliculare yakni kelenjar berbentuk bulat dan lonjong


dilapisi epitel selapis atau beberapa lapis.

Fibroadenoma intracanaliculare yakni jaringan ikat mengalami proliferasi lebih


banyak sehingga kelenjar berbentuk panjang-panjang(tidak teratur) dengan lumen
yang sempit atau menghilang.Pada saat menjelang haid dan kehamilan tampak
pembesaran sedikit dan pada saat menopause terjadiregresi.

II.3.5. Gambaran klinis

Fibroadenoma mammae biasanya tidak menimbulkan gejala dan


ditemukan secara kebetulan. Pada 10-15% kasus, Manifestasi klinis dari
fibroadenoma mammae antara lain:
1. Usia muda, dekade II-III
2. Benjolan pada payudara yang lambat membesar
3. Bentuk bulat/lonjong
4. Single atau multiple pada satu atau kedua payudara
5. Permukaan halus
6. Konsistensi kenyal padat
7. Batas tegas
8. Mobilitas baik
9. Sering tidak disertai nyeri
(Sjamsuhidajat, 2010).
Gambar 5. Kelainan pada mammae

II.3.6. Diagnosis

1. Anamnesis
a. Usia muda
b. Merasa ada benjolan di payudara yang sudah cukup lama diketahui
c. Benjolan sering tidak disertai rasa nyeri, benjolan di payudara terasa
mobile
2. Pemeriksaan Fisik
a. Biasanya benjolan tidak terlalu besar
b. Dapat tunggal atau multiple
c. Pada palpasi: terasa tumor kenyal padat, berbatas tegas, permukaan
halus meskipun kadang-kadang berdungkul, sangat mobile, tidak nyeri
tekan, dan tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening axilla.

3. Pemeriksaan penunjang
a. USG
Dalam pemeriksaan USG, fibroadenoma terlihat rata, berbatas
tegas, berbentuk bulat, oval atau berupa nodul dan lebarnya
lebih besar dibandingkan dengan diameter anteroposteriornya.
Internal echogenicnya homogen dan ditemukan gambaran dari
isoechoic sampai hypoechoic. Gambaran echogenic kapsul
yang tipis, merupakan gambaran khas dari fibroadenoma dan
mengindikasikan lesi tersebut jinak. Fibroadenoma tidak
memiliki kapsul, gambaran kapsul yang terlihat pada
pemeriksaan USG merupakan pseudocapsule yang disebabkan
oleh penekanan dari jaringan di sekitarnya.

Gambar 6. Gambaran USG Fibroadenoma. Tampak massa hipoechoic yang rata,


batas tegas pada sebagian lobus merupakan khas dari fibroadenoma

b. Mammography
Pada pemeriksaan mamografi, fibroadenoma digambarkan
sebagai massa berbentuk bulat atau oval dengan batas yang halus
dan berukuran sekitas 4 – 100 mm. Fibrodenoma biasanya
memiliki densitas yang sama dengan jaringan kelenjar sekitarnya,
tetapi, pada fibroadenoma yang besar, dapat menunjukkan densitas
yang lebih tinggi. Kadang-kadang, tumor terdiri atas gambaran
kalisifikasi yang kasar, yang diduga sebagai infraksi atau involusi.
Gambaran kalsifikasi pada fibroadenoma biasanya di tepi atau di
tengah berbentuk bulat, oval atau berlobus – lobus. Pada wanita
postmenopause, komponen fibroglandular dari fibroadenoma akan
berkurang dan hanya meninggalkan gambaran kalsifikasi dengan
sedikit atau tanpa komponen jaringan ikat.
Gambar 7. Teknik Mammography

Gambar 8. Hasil mammography

Pada FNAC (Fine Needle Aspiration Cytology) sel dari fibroadenoma akan
diambil dengan menggunakan penghisap berupa sebuah jarum yang dimasukkan
pada suntikan. Dibawah mikroskop tumor tersebut tampak seperti berikut:
a) Tampak jaringan tumor yang berasal dari mesenkim (jaringan ikat
fibrosa) dan berasal dari epitel (epitel kelenjar) yang berbentuk lobus-
lobus;
b) Lobuli terdiri atas jaringan ikat kolagen dan saluran kelenjar yang
berbentuk bular (perikanalikuler) atau bercabang (intrakanalikuler);
c) Saluran tersebut dibatasi sel-sel yang berbentuk kuboid atau kolumnar
pendek uniform.
II.3.7. Penatalaksanaan

Terapi dari fibroadenoma mammae dapat dilakukan dengan operasi


pengangkatan tumor tersebut, biasanya dilakukan general anaesthetic pada operasi
ini. Operasi ini tidak akan merubah bentuk dari payudara, tetapi hanya akan
meninggalkan luka atau jaringan parut yang nanti akan diganti oleh jaringan
normal secara perlahan.

II.3.9. Prognosis

Prognosis dari fibroadenoma mammae adalah baik, bila diangkat dengan


sempurna. Kecil kemungkinan fibroadenoma berkembang menjadi kanker ganas.
DAFTAR PUSTAKA

1. De Jong. W, Sjamsuhidajat. R., 2004., Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi


Revisi., EGC., Jakarta.
2. Djokomoeljanto, 2001., Kelenjar Payudara, Anatomi dan Faalnya., Dalam
: Suyono, Slamet (Editor)., 2001., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.,FKUI.,
Jakarta.
3. Mansjoer A et al (editor) 2001., Tumor Payudara., Kapita Selekta
Kedokteran., Jilid 1, Edisi III., Media Esculapius., FKUI., Jakarta.
4. Suryatno, Emir T.P, 2009, Tumor Payudara, Bedah Onkologi Diagnostik
dan Terapi., Sagung Seto, Jakarta.
5. Halls, S. (2017, June 08). BIRADS. Retrieved June 10, 2017, from Moose
& Doc Breast Cancer: http://breast-cancer.ca/bi-rads/
6. Raza S, Goldkamp AL, Chikarmane SA, Birdwell RL. US of breast
masses categorized as BI-RADS 3, 4, and 5 : pictorial review of factors
influencing clinical management. Radiographics. (2010 Seo); 30 (5):1199-
213.