Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH SEJARAH INDONESIA

“ KERAJAAN BANTEN”

Disusun Oleh :
Harvey Pratama Putra (22)

Kelas :
XI RPL 3

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN TEKNOLOGI INFORMASI (SMK TI)

BALI GLOBAL DENPASAR

2018 / 2019
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat pada waktunya. Adapun judul makalah yang
penulis ajukan adalah “KERAJAAN BANTEN”

Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Sejarah
Indonesia. Dalam mempersiapkan, menyusun, dan menyelesaikan makalah ini, penulis tidak lepas dari
berbagai kesulitan dan hambatan yang dihadapi.

Penulis menyadari bahwa di dalam makalah ini masih banyak terdapat kelemahan dan
kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan saran, kritik, serta masukannya yang bersifat membangun
tentunya demi perbaikan dan pengembangan di dalam menyusun makalah di masa mendatang.

Denpasar, Juli 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................... i

DAFTAR ISI ........................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang............................................................................ 1


1.2 Rumusan masalah....................................................................... 1
1.3 Tujuan......................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Terbentuknya Kerajaan Banten……................................ 2


2.2 Letak Kerajaan Banten……….………............................... 6
2.3 Silsilah Raja - Raja Kerajaan Banten…………….................... 8
2.4 Raja - Raja Terkenal Kerajaan Banten……..……....................... 10
2.5 Aspek Kehidupan Rakyat Kerajaan Banten….............................. 11
2.6 Masa Kejayaan Kerajaan Banten…........................................ 13
2.7 Masa Kemunduran Kerajaan Banten….............................. 15
2.8 Informasi Khusus Mengenai Kerajaan Banten….......................... 17
2.9 Peninggalan Kerajaan Banten………….….......................... 19

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan.................................................................................. 20
3.2 Saran........................................................................................... 20

DAFTAR PUSAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesultanan Banten awalnya hanya sebuah kadipaten yang berada di bawah kekuasaan
Kerajaan Padjajaran yang bercorak Hindu. Wilayah kerajaan ini merupakan salah satu wilayah
yang berpengaruh dalam jalur perdagangan internasional. Banten merupakan salah satu
pelabuhan terpenting kerajaan ini dan wilayah lain, di antaranya, Pontang, Tangerang, Kalapa,
Cimanuk, dan Cirebon. Ekspor utama pelabuhan Banten adalah lada dan beras. Posisi Banten
yang sangat strategis membuat wilayah ini menjadi tempat transit pedagang dari negara-negara
lain seperti Maladewa serta kerajaan-kerajaan lain.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana sejarah terbentuknya Kerajaan Banten ?
1.2.2 Dimana Letak Kerajaan Banten ?
1.2.3 Bagaimana sisilah raja – raja yang pernah memimpin Kerajaan Banten ?
1.2.4 Siapa raja - raja yang pernah memimpin Kerajaan Banten ?
1.2.5 Bagaimana aspek kehidupan masyarakat Kerajaan Banten ?
1.2.6 Bagaimana masa kejayaan dan kemunduran Kerajaan Banten ?
1.2.7 Apa saja peninggalan Kerajaan Banten ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui sejarah berdirinya Kerajaan Banten
1.3.2 Untuk mengetahui letak Kerajaan Banten
1.3.3 Untuk mengetahui silsilah raja – raja Kerajaan Banten
1.3.4 Untuk mengetahui raja – raja yang pernah memimpin Kerajaan Banten
1.3.5 Untuk mengetahui aspek kehidupan rakyat Kerajaan Banten
1.3.6 Untuk mengetahui masa kejayaan dan kemunduran Kerajaan Banten
1.3.7 Untuk mengetahui apa saja peninggalan Kerajaan Banten
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Terbentuknya Kerajaan Banten


Kesultanan ini berawal sekitar tahun 1526 ketika Demak memperluas pengaruhnya dengan
menaklukkan beberapa kawasan pelabuhan dan menjadikannya pangkalan militer serta kawasan
perdagangan. Pasukan Demak dipimpin oleh Fatahillah (Faletehan) menantu Syarif Hidayatullah
(Sunan Gunung Djati) dan adik ipar Fatahillah yaitu Pangeran Sabakingking atau lebih sohor dengan
sebutan Maulanan Hasanuddin.

Pada awalnya, kawasan Banten dikenal dengan nama Banten Girang yang merupakan bagian dari
kerajaan Sunda (Pajajaran) yang bercorak Hindu. Kedatangan pasukan kerajaan dibawah pimpinan
Fatahillah dan Maulana Hasanuddin ke kawasan tersebut selain untuk perluasan wilayah juga
sekaligus penyebaran dakwah Islam.

Karena dipicu oleh adanya kerjasama Sunda-Portugis dalam bidang ekonomi dan politik, hal ini
dianggap dapat membahayakan kedudukan Kerajaan Demak selepas –
kekalahan mereka mengusir Portugis dari Malaka tahun 1513. Atas perintah Sultan Trenggono,
Fatahillah ditugaskan untuk melakukan penyerangan dan penaklukkan Pelabuhan Sunda Kelapa,
tetapi sebelum menyerang Banten, konon Fatahillah terlebih dahulu berkonsolidasi dengan mertuanya
Syarif Hidayatullah yang saat itu diberikan kekuasaan oleh Sultan Demak untuk memerintah Cirebon.

Pada 1522, pasukan Demak dan Cirebon bergabung menuju Banten dibawah pimpinan Fatahillah,
Syarif Hidayatullah, dan Maulana Hasanuddin juga ikut serta dalam penyerangan tersebut, Fatahillah
mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan, yang kemudian hari menjadi pusat
pemerintahan, yakni Kesultanan Banten.

Pada tahun 1526 Banten berhasil direbut, termasuk Pelabuhan Sunda Kelapa yang waktu itu
merupakan pelabuhan utama Kerajaan Pajajaran, kemudian diganti namanya menjadi Jayakarta.
Penguasaan atas Jayakarta berhasil menghambat gerak maju Portugis baik dari segi politis maupun
ekonomis. Selanjutnya, pusat pemerintahan yang semula berkedudukan di Banten Girang
dipindahkan ke Surosowan yang dekat pantai, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan hubungan
antara pesisir Sumatera sebelah barat melalui Selat Sunda dan Selat Malaka. Pada masa itu Malaka
telah jatuh dibawah kekuasaan Portugis, sehingga banyak pedagang yang mengalihkan jalur
perdagangannya ke Sulat Sunda.

Atas penunjukkan sultan Demak, pada tahun 1526 Maulana Hasanuddin diangkat sebagai Adipati
Banten. Pada tahun 1552, Banten diubah menjadi kerajaan vassal dari Demak, dengan Maulana
Hasanuddin sebagai pemimpinnya.

Seiring kemunduran Demak terutama setelah meninggalnya Sultan Trenggana, Banten


melepaskan diri dari vassal kerajaan Demak dan menjadi kesultanan yang mandiri. Kota Surosowan
didirikan sebagai ibu kota atas petunjuk Syarif Hidayatullah dan Maulana Hasanuddin menjadi sultan
pertama, kendati demikian, Fatahillah tetap dianggap sebagai peletak dasar kesultanan Banten.

2.2 Letak Kerajaan Banten


Secara geografis, Kesultanan Banten terletak di Jawa Barat bagian utara (sekarang Provinsi
Banten) sampai ke Lampung di Sumatera. Kesultanan Banten terletak di wilayah Banten, di ujung
barat Pulau Jawa.

2.3 Silsilah Raja - Raja Kerajaan Banten


1. Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570)
2. Sultan Maulana Yusuf (1570-1580)
3. Sultan Maulana Muhammad (1580-1596)
4. Pangeran Ratu (1596-1651)
5. Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672)
6. Sultan Haji (1672-1686)
7. Abdul Fadhl / Sultan Yahya (1687-1690)
8. Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733)
9. Muhammad Syifa Zainul Ar / Sultan Arifin (1750-1752)
10. Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750)
11. Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753)
12. Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773)
13. Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799)
14. Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801)
15. Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)
16. Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)
17. Aliyuddin II (1803-1808)
18. Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)
19. Muhammad Syafiuddin (1809-1813)
20. Muhammad Rafiuddin (1813-1820)

2.4 Raja - Raja Terkenal Kerajaan Banten


1. Maulana Hasanuddin
Maulana Hasanuddin berandil besar dalam meletakkan fondasi Islam di Nusantara hal ini
dibuktikan dengan berbagai bangunan peribadatan seperti masjid dan sarana-sarana
pendidikan Islam seperti pesantren. Ia juga dikenal sebagai sultan yang secara berkala
mengirim mubaligh ke berbagai daerah yang telah dikuasainya. Pada masa jayanya, wilayah
kekusaan Kesultanan meliputi Serang, Pandeglang, Lebak dan Tanggerang.

2. Maulana Yusuf
Ia melanjutkan ekspansi Banten ke kawasan pedalaman Sunda dengan menaklukan
Pakuan Pajajaran tahun 1579. Islam pun masuk ke wilayah pedalaman tersebut.

3. Pangeran Ratu
Sultan ini dikenal karena melakukan hubungan diplomasi dengan negara-negara lain
termasuk dengan Raja Inggris, James I tahun 1605 dan tahun 1629 dengan Charles I.

4. Sultan Ageng Tirtayasa


Pada masa pemerintahannya kesultanan Banten mengalami puncak kejayaaan. Banten
semakin mengandalkan dan mengembangkan perdagangan. Monopoli atas lada di Lampung
menempatkan Banten sebagai pedagang perantara dan salah satu pusat niaga yang penting.
Banten menerapkan cukai atas kapal-kapal yang singgah Banten. Pemungutan ini dilakukan
oleh Syahbandar yang berada di kawasan yang dinamakan Pabean.

2.5 Aspek Kehidupan Rakyat Kerajaan Banten


1. Aspek Kehidupan Politik
Seiring kemunduran Demak terutama setelah meninggalnya Sultan Trenggono,
Banten yang sebelumnya vassal (kerajaan bawahan) Demak melepaskan diri dan menjadi
kesultanan yang mandiri. Kota Surosowan didirikan sebagai ibu kota atas petunjuk Syarif
Hidayatullah dan Maulana Hasanuddin menjadi sultan pertama. Pada masa jayanya,
wilayah kekuasaan Kesultanan Banten meliputi Serang, Pandeglang, Lebak, dan
Tanggerang.
Banten semakin maju di bawah pemerintahan Sultan Hasanudin karena
didukung oleh faktor-faktor berikut ini:

1. Letak Banten yang strategis terutama setelah Malaka jatuh ke tangan


Portugis, Banten menjadi bandar utama karena dilalui jalur perdagangan laut.
2. Banten menghasilkan rempah-rempah lada yang menjadi perdagangan utama
bangsa Eropa menuju Asia.

Penguasa Banten selanjutnya adalah Maulana Yusuf (1570-1580), putra


Hasanuddin. Di bawah kekuasaannya Kerajaan Banten pada tahun 1579 berhasil
menaklukkan dan menguasai Kerajaan Pajajaran (Hindu). Akibatnya pendukung setia
Kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman, yaitu daerah Banten Selatan, mereka
dikenal dengan Suku Badui.

Maulana Yusuf digantikan oleh Maulana Muhammad (1580-1596). Pada akhir


kekuasaannya, Maulana Muhammad menyerang Kesultanan Palembang. Dalam usaha
menaklukkan Palembang, Maulana Muhammad tewas dan selanjutnya putra mahkotanya
yang bernama Pangeran Ratu naik takhta. Ia bergelar Sultan Abul Mufakhir Mahmud
Abdul Kadir.

Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa putra Pangeran Ratu
yang bernama Abdul Fattah yang bergelar Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682).Sultan
Ageng mengadakan pembangunan, seperti jalan, pelabuhan, pasar, masjid yang pada
dasarnya untuk meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat Banten. Namun
sejak VOC turut campur tangan dalam pemerintahan Banten, kehidupan sosial
masyarakatnya mengalami kemerosotan.

Keadaan semakin memburuk ketika terjadi pertentangan antara Sultan Ageng dan
Sultan Haji, putranya dari selir. Pertentangan ini berawal ketika Sultan Ageng
mengangkat Pangeran Purbaya (putra kedua) sebagai putra mahkota. Pengangkatan ini
membuat iri Sultan Haji. Berbeda dengan ayahnya, Sultan Haji memihak VOC. Bahkan,
dia meminta bantuan VOC untuk menyingkirkan Sultan Ageng dan Pangeran Purbaya.
Sebagai imbalannya, VOC meminta Sultan Haji untuk menandatangani perjanjian pada
tahun 1682 yang isinya, antara lain, Belanda mengakui Sultan Haji sebagai sultan di
Banten; Banten harus melepaskan tuntutannya atas Cirebon; Banten tidak boleh
berdagang lagi di daerah Maluku.

Pada tahun 1683, Sultan Ageng tertangkap oleh VOC sedangkan Pangeran
Purbaya dapat meloloskan diri. Setelah menjadi tawanan Belanda selama delapan tahun,
Sultan Ageng wafat (1692). Adapun Pangeran Purbaya tertangkap oleh Untung Suropati,
utusan Belanda, dan wafat pada tahun 1689.

2. Aspek Kehidupan Ekonomi


Banten di bawah pemerintahan sultan ageng tirtayasa dapat berkembang menjadi
bandar perdagangan dan pusat penyebaran agama islam. Adapun faktor-faktornya ialah:
1. Letaknya strategis dalam lalu lintas perdagangan.
2. Jatuhnya malaka ke tangan portugis, sehingga para pedagang islam tidak lagi
singgah di malaka namun langsung menuju banten, banten mempunyai bahan
ekspor penting yakni lada.

Pada masa Sultan Ageng antara 1663 dan 1667 pekerjaan pengairan besar
dilakukan untuk mengembangkan pertanian. Antara 30 dan 40 km kanal baru dibangun
dengan menggunakan tenaga sebanyak 16.000 orang. Di sepanjang kanal tersebut, antara
30 dan 40 ribu hektar sawah baru dan ribuan hektar perkebunan kelapa ditanam. 30 000-
anpetani ditempatkan di atas tanah tersebut, termasuk orang Bugis dan Makasar.
Perkebunan tebu, yang didatangkan saudagar Cina pada tahun 1620-an, dikembangkan.

Banten yang menjadi maju banyak dikunjungi pedagang-pedagang dari arab,


gujarat, persia, turki, cina dan sebagainya. Di kota dagang banten segera terbentuk
perkampungan-perkampungan menurut asal bangsa itu, seperti orang-orang arab
mendirikan kampung pakojan, orang cina mendirikan kampung pacinan, orang-orang
indonesia mendirikan kampung banda, kampung jawa dan sebagainya.

3. Aspek Kehidupan Sosial


Sejak banten di-islamkan oleh fatahilah (faletehan) tahun 1527, kehidupan sosial
masyarakat secara berangsur- angsur mulai berlandaskan ajaran-ajaran islam. Kehidupan
sosial masyarakat banten semasa sultan ageng tirtayasa cukup baik, karena sultan
memerhatikan kehidupan dan kesejahteran rakyatnya. Namun setelah sultan ageng
tirtayasa meninggal, dan adanya campur tangan belanda dalam berbagai kehidupan sosial
masyarakat berubah merosot tajam.
4. Aspek Kehidupan Budaya
Masyarakat yang berada pada wilayah Kesultanan Banten terdiri dari beragam
etnis yang ada di Nusantara, antara lain: Sunda, Jawa, Melayu, Bugis, Makassar, dan
Bali. Beragam suku tersebut memberi pengaruh terhadap perkembangan budaya di
Banten dengan tetap berdasarkan aturan agama Islam. Pengaruh budaya Asia lain
didapatkan dari migrasi penduduk Cina akibat perang Fujian tahun 1676, serta
keberadaan pedagang India dan Arab yang berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Dalam bidang seni bangunan Banten meninggalkan seni bangunan Masjid Agung
Banten yang dibangun pada abad ke-16. Selain itu, Kerajaan Banten memiliki bangunan
istana dan bangunan gapura pada Istana Kaibon yang dibangun oleh Jan Lucas Cardeel,
seorang Belanda yang telah memeluk agama Islam. Sejumlah peninggalan bersejarah di
Banten saat ini dikembangkan menjadi tempat wisata sejarah yang banyak menarik
kunjungan wisatawan dari dalam dan luar negeri.

2.6 Masa Kejayaan Kerajaan Banten


Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa.
Hal-hal yang dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa terhadap kemajuan Kerajaan Banten adalah
sebagai berikut:
1. Memajukan wilayah perdagangan. Wilayah perdagangan Banten berkembang
sampai ke bagian selatan Pulau Sumatera dan sebagian wilayah Pulau Kalimantan.
2. Banten dijadikan sebagai tempat perdagangan internasional yang mempertemukan
pedagang lokal dengan para pedagang asing dari Eropa.
3. Memajukan pendidikan dan kebudayaan Islam sehingga banyak murid yang belajar
agama Islam ke Banten.
5. Melakukan modernisasi bangunan keraton dengan bantuan arsitektur Lucas
Cardeel. Sejumlah situs bersejarah peninggalan Kerajaan Banten dapat kita
saksikan hingga sekarang di wilayah Pantai Teluk Banten.
6. Membangun armada laut untuk melindungi perdagangan. Kekuatan ekonomi
Banten didukung oleh pasukan tempur laut untuk menghadapi serangan dari
kerajaan lain di Nusantara dan serangan pasukan asing dari Eropa.
2.7 Masa Kemunduran Kerajaan Banten
Kerajaan Banten mengalami kemunduruan berawal dari perselisihan antara Sultan Ageng dengan
putranya, Sultan Haji atas dasar perebutan kekuasaan. Situasi ini dimanfaatkan oleh VOC dengan
memihak kepada Sultan Haji. Kemudian Sultan Ageng bersama dua putranya yang lain bernama
Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf terpaksa mundur dan pergi ke arah pedalaman Sunda. Namun,
pada 14 Maret 1683 Sultan Ageng berhasil ditangkap dan ditahan di Batavia. Dilanjutkan pada 14
Desember 1683, Syekh Yusuf juga berhasil ditawan oleh VOC dan Pangeran purbaya akhirnya
menyerahkan diri.

Atas kemenangannya itu, Sultan Haji memberikan balasan kepada VOC berupa penyerahan
Lampung pada tahun 1682. Kemudian pada 22 Agustus 1682 terdapat surat perjanjian bahwa Hak
monopoli perdagangan lada Lampung jatuh kedatangan VOC. Sultan Haji meninggal pada tahun
1687.

Setelah meninggalnya Sultan Haji, VOC mulai mencengkramkan pengaruhnya di Kesultanan


Banten, sehingga pengangkatan para Sultan Banten mesti mendapat persetujuan dari Gubernur
Jendral Hindia Belanda di Batavia. Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya diangkat mengantikan
Sultan Haji namun hanya berkuasa sekitar tiga tahun, selanjutnya digantikan oleh saudaranya
Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin dan kemudian
dikenal juga dengan gelar Kang Sinuhun ing Nagari Banten.

Perang saudara yang berlangsung di Banten meninggalkan ketidakstabilan pemerintahan masa


berikutnya. Konfik antara keturunan penguasa Banten maupun gejolak ketidak puasan masyarakat
Banten, atas ikut campurnya VOC dalam urusan Banten. Perlawanan rakyat kembali memuncak pada
masa akhir pemerintahan SultanAbul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin, di antaranya perlawanan
Ratu Bagus Buang dan Kyai Tapa. Akibat konflik yang berkepanjangan Sultan Banten kembali
meminta bantuan VOC dalam meredam beberapa perlawanan rakyatnya sehingga sejak 1752 Banten
telah menjadi vassal dari VOC.

2.8 Informasi Khusus Mengenai Kerajaan Banten


“PENGHAPUSAN KESULTANAN BANTEN”
Pada tahun 1808 Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-1810,
memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos untuk mempertahankan pulau Jawa dari serangan
Inggris. Daendels memerintahkan Sultan Banten untuk memindahkan ibu kotanya ke Anyer dan
menyediakan tenaga kerja untuk membangun pelabuhan yang direncanakan akan dibangun di Ujung
Kulon. Sultan menolak perintah Daendels, sebagai jawabannya Daendels memerintahkan
penyerangan atas Banten dan penghancuran Istana Surosowan. Sultan beserta keluarganya disekap di
Puri Intan (Istana Surosowan) dan kemudian dipenjarakan di Benteng Speelwijk. Sultan Abul Nashar
Muhammad Ishaq Zainulmutaqin kemudian diasingkan dan dibuang ke Batavia. Pada 22 November
1808, Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Kesultanan Banten telah
diserap ke dalam wilayah Hindia Belanda.

Kesultanan Banten resmi dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun
itu, Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin dilucuti dan dipaksa turun tahta
oleh Thomas Stamford Raffles. Peristiwa ini merupakan pukulan pamungkas yang mengakhiri
riwayat Kesultanan Banten.

2.9 Peninggalan Kerajaan Banten


Peninggalan tersebut ada yang masih utuh namun banyak yang tinggal reruntuhannya
saja bahkan tidak sedikit yang berupa fragmen-fragmen kecil. Peninggalan berupa artefak –
artefak kecil yang dikumpulkan dalam penelitian dan penggalian kepurbakalaan kini telah
disimpan di Museum Situs Kepurbakalaan yang terletak di halaman depan bekas Keraton
Surosowan. Peninggalan kepurbakalaan tersebut adalah :

1. Komplek Keraton Surosowan


2. Komplek Mesjid Agung
3. Meriam Ki Amuk
4. Mesjid Pacinan Tinggi
5. Komplek Keraton Kaibon
7. Mesjid Koja
8. Benteng Spelwijk
9. Klenteng Cina
10. Watu Gilang
11. Makam Kerabat Sultan
12. Mesjid Agung Kenari
13. Benda-benda purbakala di Museum Banten
14. Danau Kasikardi
15. Pengindelan Emas
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pengaruh besar yang diberikan oleh Islam melalui Kesultanan dan para ulama serta para
mubaligh Islam di Banten seperti yang telah disaksikan sekarang ini, menunjukkan betapa besar
arti Islam dan peranan penyebar-penyebarnya baik melalui jalur politik, pendidikan, kebudayaan
dan ekonomi dimasa lampau. Peninggalan sejarah yang amat berharga ini nampaknya akan selalu
menarik untuk di teliti dan di kaji terutama di kalangan ahli sejarah dan ilmuwan lainnya. Di
samping karena sejarah pertumbuhan dan perkembangan kesultanan Banten, belum banyak
diteliti secara tuntas, sehingga masih banyak hal-hal penting yang perlu di kaji dan di pelajari
secara mendalam dam menyeluruh.

Banten sebagai komunitas kutural memang mempunyai kebudayaannya sendiri yang


ditampilkan lewat unsur-unsur kebudayaan. Dilihat dari unsur-unsur kebudayaan itu, masing-
masing unsur berbeda pada tingkat perkembangan dan perubahannya. Karena itu terhadap unsur-
unsur yang niscaya harus berkembang dan bertahan, harus didorong pula bagi pendukungnya
untuk terus menerus belajar (kulturisasi) dalam pemahaman dan penularan kebudayaan.

3.2 Saran
Dari keberadaanya Kerajaan Banten di nusantara pada masa yang lalu. Maka kita wajib
mensyukurinya. Rasa syukur tersebut dapat di wujudkan dalam sikap dan perilaku dengan hati
yang tulus serta di dorong rasa tanggung jawab yang tinggi untuk melestarikan dan memelihara
budaya nenek moyang kita. Jika kita ikut berpartisipasi dalam menjamin kelestariannya berarti
kita ikut mengangkat derajat dan jati diri bangsa. Oleh karena itu marilah kita bersama – sama
menjaga dan memelihara peninggalan budaya bangsa yang menjadi kebanggaan kita semua
DAFTAR PUSTAKA

http://ilhamblogindonesia.blogspot.co.id/2013/12/5-bangunan-kuno-peninggalan-kesultanan.html

http://sowcommunity.blogspot.co.id/2012/01/makna-filosofis-dibalik-masjid-agung.html

http://ernanurul27.blogspot.com/2016/07/makalah-kesultanan-banten.html

http://yohanasariikippgriptk.blogspot.com/2017/04/makalah-kerajaan-banten.html

http://64.203.71.11/gayahidup/news/0604/25/141903.htm

http://www.suarakarya-online.com

http://ridwanaz.com/umum/sejarah/sejarah-kerajaan-banten-beserta-kehidupan-politik-sosial-dan-budaya/

http://makalahkerajaanbanten.blogspot.com/