Anda di halaman 1dari 35

Bima / Werkudara

Nama-nama lain :

 Bratasena

 Balawa

 Birawa

 Dandungwacana

 Nagata

 Kusumayuda

 Kowara

 Bima

 Pandusiwi

 Bayusuta

 Sena

 Wijasena

 Jagal Abilawa

Raden Werkudara atau Bima merupakan putra kedua dari Dewi Kunti dan Prabu Pandudewanata.
Tetapi ia sesungguhnya adalah putra Batara Bayu dan Dewi Kunti sebab Prabu Pandu tidak dapat
menghasilkan keturunan. Ini merupakan kutukan dari Begawan Kimindama. Namun akibat Aji
Adityaredhaya yang dimiliki oleh Dewi Kunti, pasangan tersebut dapat memiliki keturunan.
Pada saat lahirnya, Werkudara berwujud bungkus. Tubuhnya diselubungi oleh selaput tipis yang
tidak dapat disobek oleh senjata apapun. Hal ini membuat pasangan Dewi Kunthi dan Pandu
sangat sedih. Atas anjuran dari Begawan Abiyasa, Pandu kemudian membuang bayi bungkus
tersebut di hutan Mandalasara. Selama delapan tahun bungkus tersebut tidak pecah-pecah dan
mulai berguling kesana kemari sehingga hutan yang tadinya rimbun menjadi rata dengan tanah.
Hal ini membuat penghuni hutan kalang kabut. Selain itu para jin penghuni hutan pun mulai
terganggu, sehingga Batari Durga, ratu dari semua makhluk halus, melapor pada Batara Guru,
raja dari semua dewa. Lalu, raja para dewa itu memerintahkan Batara Bayu, Batari Durga, dan
Gajah Sena, anak dari Erawata, gajah tunggangan Batara Indra, serta diiringi oleh Batara Narada
untuk turun dan memecahkan bungkus bayi tersebut.
Sebelum dipecahkan, Batari Durga masuk kedalam bungkus dan memberi sang bayi pakaian
yang berupa, Kain Poleng Bang Bintulu (dalam kehidupan nyata, banyak ditemui di pulau Bali
sebagai busana patung-patung yang danggap sakral (kain poleng= kain kotak-kotak berwarna
hitam dan putih), Gelang Candrakirana, Kalung Nagabanda, Pupuk Jarot Asem dan Sumping
(semacam hiasan kepala) Surengpati. Setelah berbusana lengkap, Batari Durga keluar dari tubuh
Bima, kemudian giliran tugas Gajah Sena memecahkan bungkus dari bayi tersebut. Oleh Gajah
Sena kemudian bayi tersebut di tabrak, di tusuk dengan gadingnya dan diinjak-injak., anehnya
bukannya mati tetapi bayi tersebut kemudian malah melawan, setelah keluar dari bungkusnya.
Sekali tendang, Gajah Sena langsung mati dan lalu menunggal dalam tubuh si bayi. Lalu
bungkus dari Werkudara tersebut di hembuskan oleh Batara Bayu sampai ke pangkuan Begawan
Sapwani, yang kemudian dipuja oleh pertapa tersebut menjadi bayi gagah perkasa yang serupa
Bima. Bayi tersebut kemudian diberi nama Jayadrata atau Tirtanata. Nama-nama lain bagi Bima
adalah Bratasena (nama yang di gunakan sewaktu masih muda), Werkudara yang berarti perut
srigala, Bima, Gandawastratmaja, Dwijasena, Arya Sena karena di dalam tubuhnya menunggal
tubuh Gajah Sena, Wijasena, Dandun Wacana, di dalam tubuhnya menunggal raja Jodipati yang
juga adik dari Prabu Yudistira, Jayadilaga, Jayalaga, Kusumayuda, Kusumadilaga yang artinya
selalu menang dalam pertempuran, Arya Brata karena ia tahan menderita, Wayunendra, Wayu
Ananda, Bayuputra, Bayutanaya, Bayusuta, Bayusiwi karena ia adalah putra batara Bayu,
Bilawa, nama samaran saat menjadi jagal di Wiratha, Bondan Peksajandu yang artinya kebal
akan segala racun, dan Bungkus yang merupakan panggilan kesayangan Prabu Kresna.
Karena Bima adalah putra Batara Bayu, maka ia memiliki kesaktian untuk menguasai angin.
Werkudara memiliki saudara Tunggal Bayu yaitu, Anoman, Gunung Maenaka, Garuda
Mahambira, Ular Naga Kuwara,Liman/ Gajah Setubanda, Kapiwara, Yaksendra Yayahwreka, dan
Pulasiya yang menunggal dalam tubuh Anoman sesaat sebelum perang Alengka terjadi (zaman
Ramayana).
Werkudara yang bertubuh besar ini memiliki perwatakan berani, tegas, berpendirian kuat, teguh
iman. Selama hidupnya Werkudara tidak pernah berbicara halus kepada siapapun termasuk
kepada orang tua, dewa, dan gurunya, kecuali kepada Dewa Ruci, dewanya yang sejati, ia
berbicara halus dan mau menyembah.
Selama hidupnya Werkudara berguru pada Resi Drona untuk olah batin dan keprajuritan,
Begawan Krepa, dan Prabu Baladewa untuk ketangkasan menggunakan gada. Dalam berguru
Werkudara selalu menjadi saingan utama bagi saudara sepupunya yang juga sulung dari Kurawa
yaitu Duryudana.
Para Kurawa selalu ingin menyingkirkan Pandawa karena menurut mereka Pandawa hanya
menjadi batu sandungan bagi mereka untuk mengusasai kerajaan Astina. Kurawa menganggap
kekuatan Pandawa terletak pada Werkudara karena memang ia adalah yang terkuat diantara
kelima Pandawa, sehingga suatu hari atas akal licik Patih Sengkuni yang mendalangi para
Kurawa merencanakan untuk meracun Werkudara. Kala itu saat Bima sedang bermain,
dpanggilnya ia oleh Duryudana dan diajak minum sampai mabuk dimana minuman itu di beri
racun. Setelah Werkudara jatuh tak sadarkan diri, ia di gotong oleh para kurawa dan dimasukkan
kedalam Sumur Jalatunda dimana terdapat ribuan ular berbisa di sana. Kala itu, datanglah Sang
Hyang Nagaraja, penguasa Sumur Jalatunda membantu Werkudara, lalu olehnya Werkudara
diberi kesaktian agar kebal akan bisa apapun dan mendapat nama baru dari San Hyang Nagaraja
yaitu Bondan Peksajandu.
Akal para Kurawa untuk menyingkirkan Pandawa belum habis, mereka lalu menantang Yudistira
untuk melakukan timbang yang menang akan mendapatkan Astina seutuhnya. Jelas saja Pandawa
akan kalah karena seratus satu orang melawan lima, namun Werkudara memiliki akal, ia
meminta kakaknya menyisakan sedikit tempat buat dirinya. Werkudara lalu mundur beberapa
langkah, lalu meloncat dan menginjak tempat yang disisakan kakaknya, sesaat itu pulalah, para
Kurawa yang duduk paling ujung menjadi terpental jauh. Para Kurawa yang terpental sampai ke
negri-negri sebrang itu yang kemudian dalam Baratayuda dinamai “Ratu Sewu Negara.”
Diantaranya adalah Prabu Bogadenta dari kerajaan Turilaya, Prabu Gardapati dari kerajaan
Bukasapta, Prabu Gardapura yang menjadi pendamping Prabu Gardapati sebagai Prabu Anom,
Prabu Widandini dari kerajaan Purantura, dan Kartamarma dari kerajaan Banyutinalang. Cerita
ini dikemas dalam satu lakon yang dinamai Pandawa Timbang.
Belum puas dengan usaha-usaha mereka, Kurawa kembali ingin mencelakakan Pandawa lewat
siasat licik Sengkuni. Kali ini Para Pandawa diundang untuk datang dalam acara penyerahan
kekuasaan Amarta dan di beri suatu pesanggrahan yang terbuat dari kayu yang bernama Bale
Sigala-gala. Acara penyerahan tersebut diulur-ulur hingga larut malam dan para Pandawa
kembali di buat mabuk. Setelah para Pandawa tertidur, hanya Bima yang masih terbangun karena
Bima menolak untuk ikut minum- minuman keras. Pada tengah malam, Para Kurawa yang
mengira Pandawa telah tidur mulai membakar pesanggrahan. Sebelumnya Arjuna
memperbolehkan enam orang pengemis untuk tidur dan makan di dalam pesanggrahan karena
merasa kasihan. Saat kebakaran terjadi Bima langsung menggendong ibu, kakak, dan adik-
adiknya kedalam terowongan yang telah dibuat oleh Yamawidura, yang mengetahui akal licik
Kurawa. Mereka lalu dibimbing oleh garangan putih yang merupakan jelmaan dari Sang Hyang
Antaboga. Sampai di kayangan Sapta Pratala. Di sini Werkudara kemudian berkenalan dan
menikah dengan putri Sang Hyang Antaboga yang beranama Dewi Nagagini. Dari perkawinan
itu mereka memiliki sorang putra yang kelak menjadi sangat sakti dan ahli perang dalam tanah
yang dinamai Antareja. Setelah para Pandawa meninggalkan kayangan Sapta Pratala, mereka
memasuki hutan. Di tengah Hutan para Pandawa bertemu dengan Prabu Arimba yang merupakan
putra dari Prabu Tremboko yang pernah dibunuh Prabu Pandu atas hasutan Sengkuni.
Mengetahui asal usul para Pandawa, Prabu Arimba kemudian ingin membunuh mereka, tetapi
dapat dihalau dan akhirnya tewas di tangan Werkudara. Namun Adik dari Prabu Arimba
bukannya benci tetapi malah menaruh hati pada Werkudara. Sebelum mati Prabu Arimba
menitipkan adiknya Dewi Arimbi kepada Werkudara. Karena Arimbi adalah seorang rakseksi,
maka Werkudara menolak cintanya. Lalu Dewi Kunti yang melihat ketulusan cinta dari Dewi
Arimbi bersabda, “ Duh ayune, bocah iki…” (Duh cantiknya, anak ini..!) Tiba-tiba, Dewi Arimbi
yang buruk rupa itu menjadi cantik dan lalu diperistri oleh Werkudara. Pasangan ini akhirnya
memiliki seorang putra yang ahli perang di udara yang dinamai Gatotkaca. Gatotkaca lalu juga
diangkat sebagai raja di Pringgandani sebagai pengganti pamannya, Prabu Arimba.
Pada saat berada di hutan setelah kejadian Bale Sigala-gala, ibunya meminta Werkudara dan
Arjuna untuk mencari dua bungkus nasi untuk Nakula dan Sadewa yang kelaparan. Werkudara
datang kesebuah negri bernama Kerajaan Manahilan dan di sana ia menjumpai Resi Hijrapa dan
istrinya yang menangis. Saat ditanyai penyebabnya, mereka menjawab bahwa putra mereka satu
satunya mendapat giliran untuk dimakan oleh raja di negri tersebut. Raja dari negri tersebut yang
bernama Prabu Baka atau Prabu Dawaka memang gemar memangsa manusia. Tanpa pikir
panjang, Werkudara langsung menawarkan diri sebagai ganti putra pertapa tersebut. Saat
dimakan oleh Prabu Baka, bukannya badan dari Werkudara yang sobek tetapi gigi dari Prabu
Baka yang putus. Hal ini menyebabkan murkanya Prabu Baka. Tetapi dalam perkelahian
melawan Werkudara, Prabu Baka tewas dan seluruh rakyat bersuka ria karena raja mereka yang
gemar memangsa manusia telah meninggal. Oleh rakyat negri tersebut Werkudara akan dijadikan
raja, namun Werkudara menolak. Saat ditanyai apa imbalan yang ingin diperoleh, Werkudara
menjawab ia hanya ingin dua bungkus nasi. Lalu setelah mendapat nasi tersebut Werkudara
kembali ke hutan dan kelak keluarga pertapa itu bersedia menjadi tumbal demi kejayaan
Pandawa di Baratayuda Jayabinangun. Sementara Arjuna juga berhasil mendapatkan dua
bungkus nasi dari belas kasihan orang. Dewi Kunti pun berkata “Arjuna, makanlah sendiri nasi
tersebut!” Dewi Kunti selalu mengajarkan bahwa dalam hidup ini kita tidak boleh menerima
sesuatu dari hasil iba seseorang.
Selain Gatotkaca dan Antareja, Werkudara juga mamiliki putra yang ahli perang dalam air yaitu
Antasena, Putra Bima dengan Dewi Urangayu, putri dari Hyang Mintuna, dewa penguasa air
tawar. Para tetua Astina merasa sedih karena mereka mengira Pandawa telah meninggal karena
mereka menemukan enam mayat di pesanggrahan yang habis terbakar itu. Kurawa yang sedang
bahagia kemudian sadar bahwa Pandawa masih hidup saat mereka mengikuti sayembara
memperebutkan Dewi Drupadi. Para Pandawa yang diwakilkan Werkudara dapat memenangkan
sayembara denagn membunuh Gandamana. Disaat yang sama hadir pula Sengkuni dan Jayajatra
yang ikut sayembara mewakili Resi Drona tetapi kalah. Dari Gandamana, Werkudara
memperoleh aji-aji Wungkal Bener, dan Aji-aji Bandung Bandawasa. Setelah memenangkan
sayembara tersebut, Werkudara mempersembahkan Dewi Drupadi kepada kakaknya, Puntadewa.
Setelah mengetahui bahwa Pandawa masih hidup, para tetua Astina seperti Resi Bisma, Resi
Drona, dan Yamawidura mendesak Prabu Destarastra untuk memberikan Pamdawa hutan
Wanamarta, denagn tujuan agar Kurawa dan Pandawa tidak bersatu dan menghindarkan perang
saudara. Akhirnya Destarastra menyetujuinya. Para Pandawa lalu dihadiahi hutan Wanamarta
yang terkenal angker. Dan dengan usaha yang keras akhirnya mereka dapat mendirikan sebuah
kerajaan yang dinamai Amarta. Werkudara pun berhasil mengalahkan adik dari raja jin, Prabu
Yudistira, yang bersemayam di Jodipati yang bernama Dandun Wacana. Dadun Wacana
kemudian menyatu dalam tubuh Werkudara. Lalu, Werkudara mendapat warisan Gada Lukitasari
selain itu, Werkudara juga mendapat nama Dandun Wacana. Sebagai raja di Jodipati, Werkudara
bergelar Prabu Jayapusaka dengan Gagak Bongkol sebagai patihnya. Werkudara juga pernah
menjadi raja di Gilingwesi dengan gelar Prabu Tugu Wasesa.

Pada saat Pandawa kalah dalam permainan judi dengan kurawa, para pandawa harus hidup
sebagai buangan selama 12 tahun di hutan dan 1 tahun menyamar. Dalam penyamaran tersebut,
Werkudara menyamar sebagai jagal atau juru masak istana di negri Wiratha dengan nama Jagal
Abilawa. Di sana ia berjasa membunuh Kencakarupa, Rupakenca dan Rajamala yang bertujuan
memberontak. Sesungguhnya ia membunuh Kencakarupa dan Rupakenca dengan alasan
keduannya ingin memperkosa Salindri yang tidak lain adalah istri kakaknya, Puntadewa, Dewi
Drupadi yang sedang menyamar.
Pernah Bima diminta oleh gurunya, Resi Drona, untuk mencari Tirta Prawitasari atau air
kehidupan di dasar samudra. Sebenarnya Tirta Prawitasari itu tidak ada di dasar samudra tetapi
ada di dasar hati tiap manusia dan perintah gurunya itu hanyalah jebakan yang di rencanakan
oleh Sengkuni dengan menggunakan Resi Drona. Namun Bima menjalaninya dengan sungguh-
sungguh. Ia mencari tirta Prawitasari itu sampai ke dasar samudra di Laut Selatan. Dalam
perjalanannya ia bertemu dengan dua raksasa besar yang menghadang. Kedua raksasa itu
bernama Rukmuka dan Rukmakala yang merupakan jelmaan dari Batara Indra dan Batara Bayu
yang di sumpah oleh Batara Guru menjadi raksasa. Setelah berhasil membunuh kedua rakasasa
tersebut dan setelah raksasa tersebut berubah kembali ke ujud aslinya dan kembali ke kayangan,
Werkudara melanjutkan peprjalanannya. Sesampainya di samudra luas ia kembali diserang oleh
seekor naga bernama Naga Nemburnawa. Dengan kuku pancanakanya, disobeknya perut ular
naga tersebut. Setelah itu Werkudara hanya terdiam di atas samudra. Di sini lah ia bertemu
dengan dewanya yang sejati, Dewa Ruci. Oleh Dewa Ruci, Werkudara kemudian diminta masuk
kedalam lubang telinga dewa kerdil itu. Lalu Werkudara masuk dan mendapat wejangan tentang
makna kehidupan. Ia juga melihat suatu daerah yang damai, aman, dan tenteram. Setelah itu
Werkudara menjadi seorang pendeta bergelar Begawan Bima Suci dan mengajarkan apa yang
telah ia peroleh dari Dewa Ruci.

Werkudara juga pernah berjasa dalam menumpas aksi kudeta yang akan dilakukan oleh Prabu
Anom Kangsa di negri Mandura. Kangsa adalah putra dari Dewi Maerah, permaisuri Prabu
Basudewa, dan Prabu Gorawangsa dari Guwabarong yang sedang menyamar sebagai Basudewa.
Saat itu Kangsa hendak menyingkirkan putra-putra Basudewa yaitu Narayana (kelak menjadi
Kresna), Kakrasana (kelak menjadi Baladewa, raja pengganti ayahnya) dan Dewi Lara Ireng
(kelak menjadi istri Arjuna yang bernama Wara Sumbadra). Dalam lakon berjudul Kangsa Adu
Jago itu, Werkudara berhasil menyingkirkan Patih Suratimantra dan Kangsa sendiri tewas oleh
putra-putra Basudewa, Kakrasana dan Narayana. Sejak saat itulah hubungan kekerabatan antara
Pandawa dan Kresna serta Baladewa menjadi lebih erat.
Dalam lakon Bima Kacep, Werkudara menjadi seorang pertapa untuk mendapat ilham
kemenangan dalam Baratayuda. Ketika sedang bertapa datanglah Dewi Uma yang tertarik
dengan kegagahan sang Werkudara. Mereka lalu berolah asmara. Namun, malang, Batara Guru,
suami Dewi Uma, memergoki mereka. Oleh Batara Guru, alat kelamin Werkudara dipotong
dengan menggunakan As Jaludara yang kemudian menjadi pusaka pengusir Hama bernama
Angking Gobel. Dari hubungannya dengan Dewi Uma, Bima memiliki seorang putri lagi
bernama Bimandari. Lakon ini sangat jarang dipentaskan. Dan beberapa dalang bahkan tidak
mengetahui cerita ini.
Selain Ajian yang diwariskan oleh Gandamana, Werkudara juga memiliki Aji Blabak pangantol-
antol dan Aji Ketuklindu. Dalam hal senjata, Werkudara memiliki senjata andalan yaitu Gada
Rujak Polo. Selain itu Werkudara juga memiliki pusaka Bargawa yang berbantuk kapak serta
Bargawastra yang berbentuk anak panah. Anak panah tersebut tak dapat habis karena setiap kali
digunakan, anak panah tersebut akan kembali ke pemiliknya. Ia pernah pula bertemu dengan
Anoman, saudara tunggal Bayunya. Disana mereka bertukar ilmu, dimana Werkudara mendapat
Ilmu Pembagian Jaman dari Anoman dan Anoman mendapat Ilmu Sasra Jendra Hayuningrat.
Sebelumnya, arwah Kumbakarna yang masih penasaran dan ingin mencapai kesempurnaan juga
menyatu di paha kiri Raden Werkudara dalam cerita Wahyu Makutarama yang menjadikan
ksatria panegak Pandawa tersebut bertambah kuat. Dalam perang besar Baratayuda
Jayabinangun Werkudara berhasil membunuh banyak satria Kurawa, diantaranya, Raden
Dursasana, anak kedua kurawa yang dihabisinya dengan kejam pada hari ke 16 Baratayuda untuk
melunasi sumpah Drupadi yang hanya akan menyanggul dan mengeramas rambutnya setelah
dikeramas dengan darah Dursasana setelah putri Pancala tersebut dilecehkan saat Pandawa kalah
bermain dadu. Bima juga membunuh adik- adik Prabu Duryudana yang lain seperti, Gardapati di
hari ke tiga Baratyuda, Kartamarma, setelah Baratayuda, dan Banyak lagi. Werkudara pun
membunuh Patih Sengkuni di hari ke 17 dengan cara menyobek kulitnya dari anus sampai ke
mulut untuk melunasi sumpah ibunya yang tidak akan berkemben jika tidak memakai kulit
Sengkuni saat Putri Mandura tersebut dilecehkan Sengkuni pada pembagian minyak tala. Hal
tersebut juga sesuai dengan kutukan Gandamana yang pernah dijebak Sengkuni demi merebut
posisi mahapatih Astina bahwa Sengkuni akan mati dengan tubuh yang dikuliti.

Pada hari terakhir Baratayuda, semua perwira Astina telah gugur, tinggal saingan terbesar
Werkudaralah yang tersisa yaitu raja Astina sendiri, Prabu Duryudana. Pertarungan ini diwasiti
oleh Prabu Baladewa sendiri yang merupakan guru dari kedua murid dengan aturan hanya boleh
memukul bagian tubuh pinggang keatas. Dalam pertarungan itu Duryudana tubuhnya telah kebal
dan hanya paha kirinya yang tidak terkena minyak tala, karena ia tidak mau membuka kain
penutup kemaluannya yang masih menutupi paha kirinya saat Dewi Gendari mengoleskan
minyak tersebut ke tubuh Duryudana. Banyak pihak yang menyalah artikan paha ini dengan
mengatakan betis kiri. Sebenarnya yang betul adalah paha karena dalam bahasa Jawa wentis
adalah paha bukan betis. Duryudana yang mencoba memukul paha kiri Werkudara gagal karena
di paha kiri Werkudara bersemayam arwah Kumbakarna yang mengakibatkan paha kiri Bima
menjadi sangat kuat, ditempat lain Werkudara mulai kewalahan karena Duryudana kebal akan
segala pukulan Gada Rujak Polonya.

Untunglah Arjuna dari kejauhan memberi isyarat dengan menepuk paha kiri nya. Werkudara
yang waspada dengan isyarat adiknya itu langsung menghantamkan gadanya di paha kiri
Duryudana, dalam dua kali pukul Duryudana sekarat, oleh Werkudara, Duryudana lalu dihabisi
dengan menghancurkan wajahnya sehingga tak berbentuk. Baladewa yang melihat hal itu
menganggap Werkudara berbuat curang dan hendak menghukumnya, namun atas penjelasan dari
Prabu Kresna akan kecurangan yang dilakukan terlebih dulu oleh Duryudana dan kutukan dari
Begawan Maetreya akhirnya Prabu Baladewa mau memaafkannya. Saat Begawan Maetreya
datang menghadap Duryudana dan memberi nasehat tentang pemberian setengah kerajaan
kepada Pandawa, Duryudana hanya duduk dan berkata, seorang pendeta seharusnya hanya
berpendapat jika sang raja memintanya, sambil menepuk-nepuk paha kirinya. Bagi Begawan
Maetreya hal ini dianggap sebagai penghinaan, ia lalu menyumpahi Prabu Duryudana kelak mati
dengan paha sebelah kiri yang hancur.
Setelah Baratayuda usai, Para Pandawa datang menghadap Prabu Destarastra dan para tetua
Astina lainnya. Ternyata Destarastra masih menyimpan dendam pada Werkudara yang
mendengar bahwa banyak putranya yang tewas di tangan Werkudara terutama Dursasana yang di
bunuhnya dengan kejam. Saat para Pandawa datang untuk memberi sembah sungkem pada
Destarastra, diam-diam Destarastra membaca mantra Aji Lebursaketi untuk menghancurkan
Werkudara, namun, Prabu Kresna yang tahu akan hal itu mendorong Werkudara kesamping
sehingga yang terkena aji-aji tersebut adalah arca batu. Seketika itu pulalah arca tersebut hancur
menjadi abu. Destarastra kemudian mengakui kesalahannya dan iapun mundur dari pergaulan
masyarakat dan hidup sebagai pertapa di hutan bersama istrinya dan Dewi Kunti. Beberapa
pakem wayang mengatakan bahwa Prabu Destarastra telah tewas sebelum pecah perang
Baratayuda saat Kresna menjadi Duta Pandawa ke Astina. Saat itu ia tewas terinjak-injak putra-
putranya yang berlarian karena takut akan kemarahan Prabu Kresna yang telah menjadi Brahala.

Gatotkaca Lahir

Setelah sekian lama ditunggu-tunggu akhirnya Dewi Arimbi mengandung anak dari Bima.
Seluruh rakyat Pringgandani sangat bersukacita, dikarenakan anak ini akan menjadi generasi
penerus sebagai Raja di Pringgandani bila Dewi Arimbi sudah tiada.

Saat itu seluruh putra Pandawa disertai Sri Batara Kresna tidak ketinggalan seluruh punakawan
Semar, Astrajingga, Dawal dan Gareng berkumpul di Istana Pringgandani, merka sedang
berkumpul menunggu saat kelahiran sang putra Bima. Tidak lama berselang terdengar tangisan
bayi menggelegar menggentarkan seantero Pringgandani, seluruhnya yang berada di bangsal
menarik nafas panjang. Sesaat kemudian ada emban yang menghaturkan berita bahwasanya sang
putra mahkota laki-laki telah lahir dalam keadaan sehat begitu juga dengan kondisi sang ibu.
Mendengar hal tersebut bertambahlah kebahagian semuanya, satu persatu dari mereka
memberikan selamat kepada Raden Aria Werkudara alias Bima atas kelahiran putrannya.

Beberapa waktu kemudian mereka bisa masuk menjenguk kedalam kamar, disana terlihat Dewi
Arimbi sedang berbaring diatas ranjang berhiaskan emas permata beralaskan sutera berwarna
biru terlihat senang dengan senyum mengembang dibibirnya menyambut kedatangan Bima
diiringi oleh seluruh kadang wargi (saudara). Tidak jauh dari tempatnya berbaring terlihat sebuah
tempat tidur yang lebih kecil, diatasnya tergolek seorang bayi laki-laki sangat gagah dan tampat
layaknya ksatria trah dewa, hanya saja ari-ari dari bayi tersebut masih menempel belum diputus.
Ketika hal tersebut ditanyakan emban menjawab bahwa seluruh upaya untuk memotong tali ari-
ari tersebut selalu gagal. Tidak ada satu senjatapun yang berhasil memotongnya.

Mendengar hal tersebut Bima sangat gusar dan meminta tolong kepada saudara-saudaranya
untuk memotong tali ari-ari anaknya yang diberinama Jabang Tutuka. Bima mencoba memotong
dengan kuku pancana gagal, diikuti oleh Arjuna mencoba menggunakan seluruh senjatanya
diawali dengan keris Pancaroba, keris Kalandah, panah Sarotama bahkan panah Pasopati
semuanya gagal. Sri Batara Kresna yang saat itu hadir mencoba dengan senjata saktinya Cakra
Udaksana, hanya menghasilkan percikan-percikan api ketika dicoba memotong tali ari-ari itu.
Semuanya terbengong-bengong merasa takjub dan heran disertai rasa putus asa, Dewi Arimbi
hanya bisa menangis melihat hal tersebut dirundung rasa khawatir jika anaknya harus membawa
tali ari-ari hingga dewasa. Ditengah suasana tersebut tanpa diketahui sebelumnya Begawan
Abiyasa yang tak lain kakek dari para Pandawa atau buyut dari Jabang Tutuka telah hadir
ditempat tersebut, semua yang hadir memberikan sembah sungkem kepadanya. Begawan yang
sakti mandraguna ini mengatakan bahwa tali ari-ari itu hanya akan bisa dipotong oleh senjata
kadewatan yang berasal dari Batar Guru. Untuk itu Sang Begawan meminta Arjuna untuk pergi
ke Kahyangan mencari senjata tersebut. Setelah mendapat perintah dari kakeknya dan meminta
ijin kepada saudara-saudaranya Arjuna disertai oelh para punakawan segera menuju Kahyangan
untuk mencari senjata yang dimaksud oleh Begawan Abiyasa, sedangkan Sang Begawan sendiri
bergegas pulang kembali ke Padepokan setelah memberikan do’a serta merapal beberapa mantra
untuk buyut / cicitnya tersebut.

Nun jauh di Kahyangan sana keadaan sedang gonjang-ganjing dikarenakan serangan dari Naga
Percona yang ingin memperistri salah satu bidadari yang bernama Dewi Supraba. Dikarenakan
Naga Percona bukan sembarang makhluk, dia adalah raja yang mempunyai kesaktian mumpuni
dan bisa dikatakan sama bahkan sedikit diatas diatas para dewa, jelas sangat merepotkan barisan
dewa-dewa yang dipimpin oleh Batara Indra dalam menghadapi nya. Serangan petir Batara Indra
tidak ubahnya lemparan daun-daun kering dari anak-anak, kobaran api Batara Brahma hanya
menjadi menjadi mainan saja. Batara Bayu yang mendoronganya dengan badai besar tidak
membutnya mundur walaupun seujung kuku, bahkan badannya tidak goyang sedikitpun. Cakra
Udaksana dari Batar Wisnu sama sekali tidak mencenderainya, singkatnya para dewa dipukul
mundur dengan kondisi babak-belur.

Batara Guru merapal mantra dan melihat Kaca Trenggana, diperoleh keterangan bahwa yang bisa
mengalahkan Naga Percona hanyalah Jabang Tutuka anak Bima yang baru lahir. Selanjutnya
Batara Guru memerintahkan Batara Narada untuk memberikan senjata darinya yang bernama
panah Konta Wijayadanu kepada Arjuna untuk memotong ari-ari Jabang Tutuka dengan imbalan
bayi tersebut harus menjadi panglima perang mengahadapi Naga Percona. Disaat yang
bersamaan Aradeya atau Karna sedang bertapa di tepi Sungai Gangga mencari senjata sakti
untuk dirinya, pada saat Batara Narada mendekati tempat tersebut hatinya senang karena
Aradeya ini disangkanya Arjuna, karena rupanya benar-benar mirip dan Batara Surya yang
merupakan ayah dari Aradeya sengaja mengeluarkan sinar berkilauan disekitar Aradeya sehingga
Batara Narada tidak terlalu jelas melihatnya, sehingga tidak sadar bahwa orang yang diserahi
senjata tersebut bukanlah Arjuna.

Setelah mendapatkan senjata sakti kadewatan Aradeya sangat gembira dan langsung berlari tanpa
mengucapkan terima kasih kepada Batara Narada, hal itu membuat Batara Narada tersadar
bahwa dia salah orang, tidak lama kemudian Arjuan disertai oleh para Punakawan datang
ketempat tersebut, dengan sedih Batara Narada bercerita bahwa dirinya telah salah orang
menyerahkan senjata kadewatan yang seharusnya diserahkan kepada Jabang Tutuka lewat tangan
Arjuna, malah diserahkan kepada orang yang tidak dikenal dan mempunyai rupa mirip dengan
Arjuna. Mendengar hal tersebut Semar sangat menyalahkan Batara Narada karena gegabah
menyerahkan senjata sakti kepada orang asing, serta segera meminta Arjuna mengejar orang
tersebut.

Arjuna berlari dan berhasil menyusul Aradeya, awalnya senjata tersebut diminta baik-baik dan
dikatakan akan digunakan olehnya untuk memotong tali ari-ari keponakannya. Aradeya tidak
menggubrisnya akhirnya terjadi perang-tanding memperebutkan senjata tersebut, sampai suatu
ketika Arjuna berhasil memegang sarung senjata tersebut sedangkan Aradeya memegang gagang
panah Konta Waijayadanu. Mereka saling tarik dan akhirnya terjerembab dikarenakan senjata
Konta lepas dari warangka / sarungnya. Kemudian Aradeya berlari kembali dan kali ini Arjuna
kehilangan jejak.

Dengan sedih hati Arjuna menunjukkan warangka senjata Konta kepada Semar, kemudian atas
saran Semar mereka kembali ke Pringgandani sedangkan Batara Narad disuruh pulang ke
Kahyangan dan dikatakan bahwa Jabang Tutuka akan segera dibawa ke Kahyangan.
Sesampainya di Keraton Pringgandani warangka tersebut digunakan untuk memotong tali ari-ari
Jabang Tutuka, ajaib sekali tali ari-ari putus sedangkan warangka senajata kadewatan itu masuk
kedalam udel Jabang Tutuka. Hal ini menurut Semar sudah menjadi suratan bahwa nanti diakhir
cerita peperangan besar / Bharata Yuda senjata itu akan masuk kembali kewarangkanya, dengan
kata lain Jabang Tutuka akan mati jika menghadapi senjata Konta Wijayadanu.

Setelah tali ari-ari berhasil dipotong Arjuna hendak membawa Jabang Tutuka ke Kahyangan
untuk memenuhi janji kepada Batara Narada, bahwa Jabang Tutuka akan menjadi panglima
perang dan menghadapi Naga Percona. Awalnya Bima melarang karena anaknya masih bayi dan
dirinya sanggup untuk menggantikan melawan Naga Percona. Setelah Semar berkata bahwa
Jabang Tutukalah yang harus berangkat karena dia yang dipercaya oleh dewa dan Jabang Tutuka
pula yang telah menggunakan senjata kadewatan bukan yang lain. Disamping itu Semar
menjamin jika terjadi suatu hal yang menyebabkan Jabang Tutuka celaka, Semar berani
menaruhkan nyawanya kepada Bima. Mendengar hal tersebut dari Semar, Bima yang
mempunyai pandangan linuwih dan menyadari siapa sesungguhnya Semar ini, akhirnya
mengijinkan putra berperang melawan Naga Percona.

Arjuna disertai par Punakawan segera membawa Jabang Tutuka ke Kahyangan, setelah
mendekati gerbanga Selapa Tangkep tepatnya di Tegal Ramat Kapanasan Arjuna meletakkan
Jabang Tutuka ditengah jalan menuju gerbang. Selanjutnya Arjuna memperhatikan dari jauh
bersama dengan para dewa, tak lama berselang Naga Percona datang dan melihat ada bayi
ditengah jalan. Dia meledek Batara Guru yang dikatakannya sudah gila karena menyuruhnya
bertarung dengan bayi yang hanya bisa menangis. Kemudia dia mengangkat Jabang Tutuka dan
mendekatkan wajahnya ke wajah bayi tersebut, tidak disangkan tangan Jabang Tutuka mengayun
dan berhasil meluaki satu matanya sehingga berdarah. Kontan Naga Percona marah dan
membanting Jabang Tutuk kea rah pintu gerba hingga mati. Melihat hal tersebut para dewa tak
terkecuali Batar Guru, Batara Narada dan Arjuna kaget dan was-was jika Bima sampai tahu
anaknya mati oleh Naga Percona pasti akan mengamu ke Kahyangan. Hanya saja Semar dengan
cepat berbisik ke Batara Guru untuk segera menggodok Jabang Tutuka di Kawah Candradimuka,
Batara Guru segera memerintahkan Batara Yamadipati untuk segera membawa tubuh Jabang
Tutuka ke Kawah Candradimuka dan menggodoknya. Selanjutnya para dewa disuruhnya
melemparkan / mencampurkan senajata yang dimilikinya untuk membentuk tuduh Jabang Tutuka
lebih kuat, lama-kelamaan terbentuklah tubuh satria gagah dari dalam godogan tersebut.
Kemudian para dewa membirkannya pakaian dan perhiasan untuk Jabang Tutuka yang baru
tersebut, selanjutnya diakarenakan dia mati belum waktunya berhasil dihidupkan kembali oleh
Batar Guru.

Selain mendapat anugerah berupa pakaian, perhiasan dan senjata yang sudah membentuk
tubuhnya Jabang Tutuka juga memperoleh beberanama dari para dewa diantaranya : Krincing
Wesi, Kaca Negara, Purabaya, Kancing Jaya, Arimbi Suta, Bima Putra dan Gatotkaca. Nama
terakhir inilah yang kemudian digunakan dalam dunia pewayangan. Dengan tampilan yang
sangat beda dari sebelumnya Jabang Tutuka yang menggunakan nama baru Gatotkaca bertempur
kembali dengan Naga Percona, dan akhirnya behasil merobek mulut dan tubuh Naga Percona
menjadi dua bagian. Itulah akhir dari hidupnya Naga Percona yang membawa kedamaian di
Kahyangan, sekaligus menjadi awal kepahlawanan Gatotkaca sang putra Bima.
Gunawan Wibisana

Nama lain : Harya Balik


Ayah : Begawan Wisrawa
Ibu : Dewi Sukesi
Anak : Dewi Trijatha dan Raden Bisawarna
Tempat : Alengka

Wibisana sangat berbudi luhur dan membela keadilan dan kebenaran.

Oleh sebab itu dia meninggalkan kakaknya Rahwana untuk memihak Sri Rama karena melihat
bahwa kakaknya salah dan keblinger, bertindak tidak adil dan mau menang sendiri.

Sri Rama menerima baik kedatangan Wibisana dan diangkat menjadi adik Sri Rama, dan diberi
nama Harya Balik.

Karena kakaknya tetap berusaha mengawini Dewi Sinta, padahal Dewi Sinta adalah istri orang
lain dan Dewi Sinta juga tidak mencintai Rahwana, melihat ketidak benaran ini maka Wibisana
meninggalkan kakaknya dan berbalik melawan kakaknya. Bahkan dalam mewujudkan cita
citanya memperistri Sinta, maka rakyat Alengka dikorbankan, karena bila terjadi perang maka
rakyatlah yang paling menderita.
Perang akan menciptakan kesusahan dan duka nestapa, kelaparan, menciptakan duda dan janda,
anak yatim dan yatim piatu.

Dewi Sinta adalah titisan Dewi Widawati, jadi ketika Dewi WIdawati akan diperistri oleh
Rahwana, tapi Dewi Widawati tidak mau, maka lari dan turun ke bumi dan menitis kepada Bayi
Sinta yang sebenarnya adalah anak dari Rahwana sendiri.

Proses penitisan ini dilihat oleh Raden Wibisana, maka cepat cepat bayi tersebut ditukar karena
Wibisana tahu bahwa pasti akan menimbulkan masalah dikemudian hari.

Dewi Widati menitis menjadi anak Prabu Dasamuka dengan tujuan supaya tidak diperistri oleh
Prabu Dasamuka, tapi Dewi Widawati tidak tahu sedalam apa cinta Prabu Dasamuka terhadap
dirinya. Walaupun anaknyapun kalau Prabu Dasamuka menginginkan pasti diambil istri juga
karena memang sudah menjadi watak dari Prabu Dasamuka.

Wibisana melihat ini kemudian menukar Bayi Sinta dengan Bayi yang lain yang disabda oleh
Wibisana dari awan / mega menjadi seorang bayi dan diberi nama Raden Indrajit.

Setelah itu bayi Sinta di sabda dan dimasukkan ke dalam ketupat kemudian dihanyutkan di
sungan Jamuna, yang kemudian ketupat ini akan di temukan oleh Prabu Janaka dari Negara
Mantili, kemudian bayi itu diberi nama Sinta, jadi nama Sinta adalah pemberian dari Prabu
Janaka dari Mantili.

Setelah Prabu Dasamuka dapat dikalahkan maka Negara Alengka diserahkan kepada Prabu
Wibisana, setelah Prabu Wibisna muksa maka penggantinya adalah Raden Bisawarna dan Negara
alengka dirubah namanya menjadi Singgelapura.

Kemenangan Sri Rama tidak lain karena bantuan Wibisana, karena Wibisana sudah tahu
kelemahan dari Alengka, tanpa bantuan dari Wibisana akan sangat sulit menundukan Kerajaan
Alengka.

Jadi filisofinya adalah berhati hatilah terhadap musuh dari dalam, karena musuh dari luar
seberapa pun kekuatannya, kita masih bisa meduga dan mengatur strategi, tapi musuh dari dalam
akan sangat sulit mengatasinya, selain tidak terduga maka tidak ada strategi yang jitu untuk
melawan musuh yang muncul dari dalam, muncul dari lingkungan kita sendiri.

Banyak cerita cerita sejarah perang yang selalu habis oleh karena bantuan dari pihak “dalam”
sendiri.

****

Wibisana (Sanskerta: वविभभीषण, Vibhīshaṇa) adalah tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana.
Ia adalah adik kandung Rahwana. Wibisana merupakan putera bungsu dari Resi Wisrawa, putera
Resi Pulatsya, dengan seorang puteri Detya bernama Kekasi. Wibisana memiliki tiga saudara
kandung, bernama Rahwana, Kumbakarna, dan Surpanaka. Di antara saudaranya, Wibisana
adalah anak yang paling baik. Sifatnya tidak seperti rakshasa pada umumnya meskipun ia
merupakan keturunan rakshasa. Karakternya mirip dengan Prahlada yang dilahirkan sebagai
keturunan asura, namun menjadi pemuja Wisnu yang setia.

Wibisana menghabiskan masa mudanya dengan bertapa dan memuja Wisnu. Ketika Rahwana
dan Kumbakarna bertapa memuja Brahma, Wibisana juga berbuat demikian. Saat Dewa Brahma
memberi kesempatan kepada Wibisana untuk memohon anugerah, Wibisana meminta agar ia
selalu berada di jalan kebenaran atau dharma. Sikapnya tidak seperti kakaknya yang meminta
kekuatan untuk menaklukkan para dewa.

Dalam kisah Ramayana, setelah gagal membujuk kakaknya untuk mengembalikan Sita kepada
Rama, Wibisana memutuskan untuk berpihak pada Rama yang diyakininya sebagai pihak yang
benar. Hal ini berarti dia harus melawan kakaknya sendiri (Rahwana) demi membela kebenaran.
Menarik untuk dilihat bahwa Kumbakarna (yang juga masih saudara kandung dengan Wibisana
dan Rawana) mengambil sikap yang berlawanan, dimana Kumbakarna tetap membela tanah air,
walaupun menyadari bahwa dia berada di pihak yang salah. Wibisana merupakan tokoh yang
menunjukkan bahwa kebenaran itu menembus batas-batas nasionalisme, bahkan ikatan
persaudaraan.

Karena merasa tidak mendapat tempat di Alengka, Wibisana pergi bersama empat rakshasa yang
baik dan menghadap Rama. Dalam perjalanan ia dihadang oleh Sugriwa, raja wanara yang
mencurigai kedatangan Wibisana dari Alengka. Setelah Rama yakin bahwa Wibisana bukan
orang jahat, Wibisana menjanjikan persahabatan yang kekal. Dalam misi menghancurkan
Rahwana, Wibisana banyak memberi tahu rahasia Alengka dan seluk-beluk setiap rakshasa yang
menghadang Rama dan pasukannya. Wibisana juga sadar apabila ada mata-mata yang menyusup
ke tengah pasukan wanara, dan melaporkannya kepada Rama. Saat pasukan wanara berhasil
dikelabui oleh Indrajit, Wibisana adalah orang yang tanggap dan mengetahui akal Indrajit yang
licik.

Ketika Kumbakarna maju menghadapi Rama dan pasukannya, Wibisana memohon agar ia diberi
kesempatan berbincang-bincang dengan kakaknya itu. Rama mengabulkan dan mempersilakan
Wibisana untuk bercakap-cakap sebelum pertempuran meletus. Saat bertatap muka dengan
Kumbakarna, Wibisana memohon agar Kumbakarna mengampuni kesalahannya sebab ia telah
menyeberang ke pihak musuh. Wibisana juga pasrah apabila Kumbakarna hendak
membunuhnya. Melihat ketulusan adiknya, Kumbakarna merasa terharu. Kumbakarna tidak
menyalahkan Wibisana sebab ia berbuat benar. Kumbakarna juga berkata bahwa ia bertempur
karena terikat dengan kewajiban, dan bukan semata-mata karena niatnya sendiri. Setelah
bercakap-cakap, Wibisana mohon pamit dari hadapan Kumbakarna dan mempersilakannya maju
untuk menghadapi Rama.

Setelah Kumbakarna dan Rahwana dibunuh oleh Rama, Wibisana dan para sahabatnya
menyelenggarakan upacara pembakaran yang layak bagi kedua ksatria tersebut. Kemudian ia
dinobatkan menjadi Raja Alengka yang sah. Ia merawat Mandodari, janda yang ditinggalkan
Rahwana, dan hidup bersama dengan permaisurinya yang bernama Sarma. Wibisana memerintah
Alengka dengan bijaksana. Ia mengubah Alengka menjadi kota yang berlandaskan dharma dan
kebajikan, setelah sebelumnya rusak karena pemerintahan Rahwana.
Prabu Santanu
Diposting oleh hery_wae di 10:11 PM

Prabu Santanu merupakan putra dari pasangan Raja Pratipa dengan Ratu Sunanda, keturunan Raja Kuru,
yang menurunkan keluarga para Pandawa dan Korawa. Santanu berasal dari kata çanta yang berarti
tenang, sebab Prabu Pratipa dalam keadaan tenang pada saat putranya lahir. Prabu Santanu sangat
tampan, sangat cakap dalam memainkan senjata, dan senang berburu ke hutan. Pada saat ayahnya
hendak pensiun, kakaknya, Dewapi dan Bahlika menolak mewarisi tahta. Dewapi memutuskan untuk
hidup sebagai pertapa demi menemukan kedamaian, sementara Bahlika memutuskan untuk pergi
berkelana. Maka dari itu, Santanu menggantikan posisi ayahnya, Raja Pratipa, sebagai raja di
Hastinapura.

Pernikahan dengan Gangga

Pada saat Prabu Santanu berburu ke tepi sungai Gangga, ia bertemu dengan wanita yang sangat cantik
dan tubuhnya sangat indah. Wanita tersebut adalah Dewi Gangga (dalam tradisi Jawa disebut
"Jahnawi"). Ia kena kutuk Dewa Brahma untuk turun ke bumi dan menjadi pasangan keturunan Raja
Kuru. Karena terpikat oleh kecantikannya, Prabu Santanu merasa jatuh cinta. Dewi Gangga pun bersedia
menjadi permaisurinya dengan syarat bahwa apapun yang ia lakukan terhadap anaknya, Prabu Santanu
tidak boleh melarangnya. Jika Prabu Santanu melanggar janjinya, maka Dewi Gangga akan
meninggalkannya. Karena perasaan cinta yang meluap-luap, maka syarat tersebut dipenuhi.
Setelah menikah, Dewi Gangga mengandung putranya yang pertama. Namun tak lama setelah anak
tersebut lahir, ibunya segera menenggelamkannya ke sungai Gangga. Begitu pula pada para puternya
yang selanjutnya, semua mengalami nasib yang sama. Sang raja mengetahui hal tersebut karena selalu
membuntuti istrinya, namun ia tak kuasa mencegah karena terikat akan janji pernikahannya. Ketika Sang
Dewi mengandung putranya yang kedelapan, Prabu Santanu tak tahan lagi. Lalu ia menghentikan
perbuatan permaisurinya yang ia anggap sebagai perbuatan biadab dan tidak berperikemanusiaan.

Dewi Gangga menghentikan perbuatannya lalu menjelaskan bahwa putra-putra yang ia lahirkan
merupakan inkarnasi dari Astabasu atau delapan Wasu. Tindakannya menenggelamkan bayi-bayi
tersebut adalah untuk melepaskan jiwa mereka agar mencapai surga, kediaman para Wasu. Konon,
delapan Wasu tersebut pernah mencuri lembu sakti miliki Resi Wasista. Karena ketahuan, mereka
dikutuk oleh Resi Wasista supaya kekuatan Dewata mereka hilang dan menjelma sebagai manusia. Salah
satu dari delapan Wasu tersebut bernama Prabata yang merupakan pemimpin daripada rencana
pencurian tersebut. Karena ia merupakan pelaku utama dan ketujuh Wasu lainnya hanya ikut
membantu, maka Prabata yang menjelma paling lama sebagai manusia. Kelak Prabata menjelma sebagai
seorang manusia sakti yang bernama Dewabrata. Setelah menjelaskan hal tersebut kepada Prabu
Santanu, Dewi Gangga yang masih mengandung lenyap di sungai Gangga.

Kemunculan Bisma

Prabu Santanu akhirnya merelakan kepergian permaisurinya dan kembali lagi ke istana, memerintah
kerajaan Hastinapura. 16 tahun kemudian, Prabu Santanu yang sedang bosan, jalan-jalan ke tepi sungai
Gangga. Di sana ia melihat seorang putra yang sangat kuat, mampu membendung air sungai Gangga
menggunakan ratusan anak panah. Setelah ibunya (Dewi Gangga) muncul dan menjelaskan asal-usul
anak tersebut, Prabu Santanu sangat gembira, sebab putranya yang dibawa pergi semenjak lahir telah
kembali pulang. Oleh Santanu, anak tersebut diberi nama Dewabrata. Sang Prabu mengajak anak
tersebut ke istana. Dewabrata tumbuh menjadi putera yang berbakti kepada orang tua dan memiliki jiwa
ksatria tinggi. Ia bahkan dicalonkan sebagai penerus tahta

Pernikahan dengan Gandawat

Pada suatu ketika Prabu Santanu mendengar desas-desus bahwa di sekitar sungai Yamuna tersebar bau
yang sangat harum semerbak. Dengan rasa penasaran Prabu Santanu jalan-jalan ke sungai Yamuna. Ia
menemukan sumber bau harum tersebut dari seorang gadis desa, bernama Gandhawati (lebih dikenal
sebagai Satyawati atau Durgandini). Gadis tersebut sangat elok parasnya dan harum tubuhnya. Prabu
Santanu jatuh cinta dan hendak melamar gadis tersebut. Ayah gadis tersebut bernama Dasabala. Ketika
Sang Raja melamar gadis tersebut, orang tuanya mengajukan syarat bahwa jika Gandhawati (Satyawati)
menjadi permaisuri Prabu Santanu, ia harus diperlakukan sesuai dengan Dharma dan keturunan
Gandhawati-lah yang harus menjadi penerus tahta. Mendengar syarat tersebut, Sang Raja pulang dengan
kecewa dan menahan sakit hati. Ia menjadi jatuh sakit karena terus memikirkan gadis pujaannya yang
tak kunjung ia dapatkan.

Melihat ayahnya jatuh sakit, Dewabrata menyelidikinya. Ia bertanya kepada kusir yang mengantarkan
ayahnya jalan-jalan. Dari sana ia memperoleh informasi bahwa ayahnya jatuh cinta kepada seorang
gadis. Akhirnya, ia berangkat ke sungai Yamuna. Ia mewakili ayahnya untuk melamar puteri Dasabala,
Gandhawati, yang sangat diinginkan ayahnya. Ia menuruti segala persyaratan yang diajukan Dasabala. Ia
juga bersumpah tidak akan menikah seumur hidup dan tidak akan meneruskan tahta keturunan Raja
Kuru agar kelak tidak terjadi perebutan kekuasan antara keturunannya dengan keturunan Gandhawati.
Sumpahnya disaksikan oleh para Dewa dan semenjak saat itu, namanya berubah menjadi Bisma.
Akhirnya Prabu Santanu dan Dewi Gandhawati menikah lalu memiliki dua orang putra bernama
Citrānggada dan Wicitrawirya. Prabu Santanu wafat dan Bisma menunjuk Citrānggada sebagai penerus
tahta Hastinapura

Bisma

Bisma adalah anak Prabu Santanu, Raja Astina dengan Dewi Gangga alias Dewi Jahnawi (dalam versi
Jawa). Waktu kecil bernama Raden Dewabrata yang berarti keturunan Bharata yang luhur. Ia juga
mempunyai nama lain Ganggadata. Dia adalah salah satu tokoh wayang yang tidak menikah yang disebut
dengan istilah Brahmacarin. Berkediaman di pertapaan Talkanda. Bisma dalam tokoh perwayangan
digambarkan seorang yang sakti, dimana sebenarnya ia berhak atas tahta Astina akan tetapi karena
keinginan yang luhur dari dirinya demi menghindari perpecahan dalam negara Astina ia rela tidak
menjadi raja.

Resi Bisma sangat sakti mandraguna dan banyak yang bertekuk lutut kepadanya. Ia mengikuti sayembara
untuk mendapatkan putri bagi Raja Hastina dan memboyong 3 Dewi. Salah satu putri yang
dimenangkannya adalah Dewi Amba dan Dewi Amba ternyata mencintai Bisma. Bisma tidak bisa
menerima cinta Dewi Amba karena dia hanya wakil untuk mendapatkan Dewi Amba. Namun Dewi Amba
tetap berkeras hanya mau menikah dengan Bisma. Bisma pun menakut-nakuti Dewi Amba dengan
senjata saktinya yang justru tidak sengaja membunuh Dewi Amba. Dewi Amba yang sedang sekarat
dipeluk oleh Bisma sambil menyatakan bahwa sesungguhnya dirinya juga mencintai Dewi Amba. Setelah
roh Dewi Amba keluar dari jasadnya kemudian mengatakan bahwa dia akan menjemput Bisma suatu
saat agar bisa bersama di alam lain dan Bisma pun menyangupinya. Diceritakan roh Dewi Amba menitis
kepada Srikandi yang akan membunuh Bisma dalam perang Bharatayuddha.
Dikisahkan, saat ia lahir, ibunya moksa ke alam baka meninggalkan Dewabrata yang masih bayi. Ayahnya
prabu Santanu kemudian mencari wanita yang bersedia menyusui Dewabrata hingga ke negara Wirata
bertemu dengan Dewi Durgandini atau Dewi Satyawati, istri Parasara yang telah berputra Resi Wyasa.
Setelah Durgandini bercerai, ia dijadikan permaisuri Prabu Santanu dan melahirkan Citrānggada dan
Wicitrawirya, yang menjadi saudara Bisma seayah lain ibu.

Setelah menikahkan Citrānggada dan Wicitrawirya, Prabu Santanu turun tahta menjadi pertapa, dan
digantikan anaknya. Sayang kedua anaknya kemudian meninggal secara berurutan, sehingga tahta
kerajaan Astina dan janda Citrānggada dan Wicitrawirya diserahkan pada Abiyasa, putra Durgandini dari
suami pertama. Abiyasa-lah yang kemudian menurunkan Pandu dan Dretarata, orangtua Pandawa dan
Kurawa. Demi janjinya membela Astina, Bisma berpihak pada Kurawa dan mati terbunuh oleh Srikandi di
perang Bharatayuddha.

============

Wikipedia :

Bisma (Sansekerta: Bhīshma) terlahir sebagai Dewabrata (Sansekerta: Dévavrata), adalah salah satu
tokoh utama dalam Mahabharata. Ia merupakan putera dari pasangan Prabu Santanu dan Satyawati. Ia
juga merupakan kakek dari Pandawa maupun Korawa. Semasa muda ia bernama Dewabrata, namun
berganti menjadi Bisma semenjak ia bersumpah bahwa tidak akan menikah seumur hidup. Bisma ahli
dalam segala modus peperangan dan sangat disegani oleh Pandawa dan Korawa. Ia gugur dalam sebuah
pertempuran besar di Kurukshetra oleh panah dahsyat yang dilepaskan oleh Srikandi dengan bantuan
Arjuna. namun ia tidak meninggal pada saat itu juga. Ia sempat hidup selama beberapa hari dan
menyaksikan kehancuran para Korawa. Ia menghembuskan nafas terkahirnya saat garis balik matahari
berada di utara (Uttarayana).

Art nama
Nama Bhishma dalam bahasa Sansekerta berarti “Dia yang sumpahnya dahsyat (hebat)”, karena ia
bersumpah akan hidup membujang selamanya dan tidak mewarisi tahta kerajaannya. Nama Dewabrata
diganti menjadi Bisma karena ia melakukan bhishan pratigya, yaitu sumpah untuk membujang
selamanya dan tidak akan mewarisi tahta ayahnya. Hal itu dikarenakan Bisma tidak ingin dia dan
keturunannya berselisih dengan keturunan Satyawati, ibu tirinya.

Kelahiran
Bisma merupakan penjelmaan salah satu Delapan Wasu yang berinkarnasi sebagai manusia yang lahir
dari pasangan Dewi Gangga dan Prabu Santanu. Menurut kitab Adiparwa, Delapan Wasu menjelma
menjadi manusia karena dikutuk atas perbuatannya yang telah mencuri lembu sakti milik Resi Wasistha.
Dalam perjalanannya menuju bumi, mereka bertemu dengan Dewi Gangga yang juga mau turun ke dunia
untuk menjadi istri putera Raja Pratipa, yaitu Santanu. Delapan Wasu kemudian membuat kesepakatan
dengan Dewi Gangga bahwa mereka akan menjelma sebagai delapan putera Prabu Santanu dan
dilahirkan oleh Dewi Gangga. Bisma merupakan penjelmaan Wasu yang bernama Prabhata.

Kehidupan awal
Sementara tujuh kakaknya yang telah lahir meninggal karena ditenggelamkan ke sungai Gangga oleh ibu
mereka sendiri, Bisma berhasil selamat karena perbuatan ibunya dicegah oleh ayahnya. Kemudian, sang
ibu membawa Bisma yang masih bayi ke surga, meninggalkan Prabu Santanu sendirian. Setelah 36 tahun
kemudian, Sang Prabu menemukan puteranya secara tidak sengaja di hilir sungai Gangga. Dewi Gangga
kemudian menyerahkan anak tersebut kepada Sang Prabu, dan memberinya nama Dewabrata.
Dewabrata kemudian menjadi pangeran yang cerdas dan gagah, dan dicalonkan sebagai pewaris
kerajaan. Namun karena janjinya terhadap Sang Dasapati, ayah Satyawati (ibu tirinya), ia rela untuk tidak
mewarisi tahta serta tidak menikah seumur hidup agar kelak keturunannya tidak memperebutkan tahta
kerajaan dengan keturunan Satyawati. Karena ketulusannya tersebut, ia diberi nama Bisma dan
dianugerahi agar mampu bersahabat dengan Sang Dewa Waktu sehingga ia bisa menentukan waktu
kematiannya sendiri.

Bisma memiliki dua adik tiri dari ibu tirinya yang bernama Satyawati. Mereka bernama Citrānggada dan
Wicitrawirya. Demi kebahagiaan adik-adiknya, ia pergi ke Kerajaan Kasi dan memenagkan sayembara
sehingga berhasil membawa pulang tiga orang puteri bernama Amba, Ambika, dan Ambalika, untuk
dinikahkan kepada adik-adiknya. Karena Citrānggada wafat, maka Ambika dan Ambalika menikah dengan
Wicitrawirya sedangkan Amba mencintai Bisma namun Bisma menolak cintanya karena terikat oleh
sumpah bahwa ia tidak akan kawin seumur hidup. Demi usaha untuk menjauhkan Amba dari dirinya,
tanpa sengaja ia menembakkan panah menembus dada Amba. Atas kematian itu, Bisma diberitahu
bahwa kelak Amba bereinkarnasi menjadi seorang pangeran yang memiliki sifat kewanitaan, yaitu putera
Raja Drupada yang bernama Srikandi. Kelak kematiannya juga berada di tangan Srikandi yang membantu
Arjuna dalam pertempuran akbar di Kurukshetra.

Pendidikan
Bisma mempelajari ilmu politik dari Brihaspati (guru para Dewa), ilmu Veda dan Vedangga dari Resi
Wasistha, dan ilmu perang dari Parasurama (Ramaparasu; Rama Bargawa), seorang ksatria legendaris
sekaligus salah satu Chiranjīwin yang hidup abadi sejak zaman Treta Yuga. Dengan berguru kepadanya
Bisma mahir dalam menggunakan segala jenis senjata dan karena kepandaiannya tersebut ia ditakuti
oleh segala lawannya. Bisma berhenti belajar kepada Parasurama karena perdebatan mereka di asrama
tentang masalah Amba. Pada saat itu dengan sengaja Bisma mendorong Parasurama sampai terjatuh,
dan semenjak itu Parasurama bersumpah untuk tidak lagi menerima murid dari kasta Kshatriya karena
membuat susah.

Peran dalam Dinast Kuru


Di lingkungan keraton Hastinapura, Bisma sangat dihormati oleh anak-cucunya. Tidak hanya karena ia
tua, namun juga karena kemahirannya dalam bidang militer dan peperangan. Dalam setiap pertempuran,
pastilah ia selalu menang karena sudah sangat berpengalaman. Yudistira juga pernah mengatakan,
bahwa tidak ada yang sanggup menaklukkan Bisma dalam pertempuran, bahkan apabila laskar Dewa dan
laskar Asura menggabungkan kekuatan dan dipimpin oleh Indra, Sang Dewa Perang.

Bisma sangat dicintai oleh Pandawa maupun Korawa. Mereka menghormatinya sebagai seorang kakek
sekaligus kepala keluarga yang bijaksana. Kadangkala Pandawa menganggap Bisma sebagai ayah mereka
(Pandu), yang sebenarnya telah wafat.

Perang di Kurukshetra
Saat perang antara Pandawa dan Korawa meletus, Bisma berada di pihak Korawa. Sesaat sebelum
pertempuran, ia berkata kepada Yudistira bahwa dirinya telah diperbudak oleh kekayaan, dan dengan
kekayaannya Korawa mengikat Bisma. Meskipun demikian, karena Yudistira telah melakukan
penghormatan sebelum pertempuran, maka Bisma merestui Yudistira dan berdo’a agar kemenangan
berada di pihak Pandawa, meskipun Bisma sangat sulit untuk ditaklukkan. Bisma juga pernah berkata
kepada Duryodana, bahwa meski dirinya (Bisma) memihak Korawa, kemenangan sudah pasti berada di
pihak Pandawa karena Kresna berada di sana, dan dimanapun ada Kresna maka di sanalah terdapat
kebenaran serta keberuntungan dan dimanapun ada Arjuna, di sanalah terdapat kejayaan.[2]

Dalam pertempuran akbar di dataran keramat Kurukshetra, Bisma bertarung dengan dahsyat. Prajurit
dan ksatria yang melawannya pasti binasa atau mengalami luka berat. Dalam kitab Bismaparwa
dikatakan bahwa di dunia ini para ksatria sulit menandingi kekuatannya dan tidak ada yang mampu
melawannya selain Arjuna – ksatria berpanah yang terkemuka – dan Kresna – penjelmaan Wisnu.
Meskipun Arjuna mendapatkan kesempatan untuk melawan Bisma, namun ia sering bertarung dengan
setengah hati, mengingat bahwa Bisma adalah kakek kandungnya sendiri. Hal yang sama juga dirasakan
oleh Bisma, yang masih sayang dengan Arjuna, cucu yang sangat dicintainya.

Kresna yang menjadi kusir kereta Arjuna dalam peperangan, menjadi marah dengan sikap Arjuna yang
masih segan untuk menghabisi nyawa Bisma, dan ia nekat untuk menghabisi nyawa Bisma dengan
tangannya sendiri. Dengan mata yang menyorot tajam memancarkan kemarahan, ia memutar-mutar
chakra di atas tangannya dan memusatkan perhatian untuk membidik leher Bisma. Bisma tidak
menghindar, namun justru bahagia jika gugur di tangan Madhawa (Kresna). Melihat hal itu, Arjuna
menyusul Kresna dan berusaha menarik kaki Kresna untuk menghentikan langkahnya.

Dengan sedih dan suara tersendat-sendat, Arjuna berkata, “O Kesawa (Kresna), janganlah paduka
memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan janji bahwa
tidak akan ikut berperang. O Madhawa (Kresna), apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang-orang
akan mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan akibat perang ini, hambalah yang
harus menanggungnya! Hambalah yang akan membunuh kakek yang terhormat itu!…”

Kresna tidak menjawab setelah mendengar kata-kata Arjuna, ia mengurungkan niatnya dan naik kembali
ke atas keretanya. Kedua pasukan tersebut melanjutkan kembali pertarungannya.

Kematan
Sebelum hari kematiannya, Pandawa dan Kresna mendatangi kemah Bisma di malam hari untuk mencari
tahu kelemahannya. Bisma mengetahui bahwa Pandawa dan Kresna telah masuk ke dalam kemahnya
dan ia menyambut mereka dengan ramah. Ketika Yudistira menanyakan apa yang bisa diperbuat untuk
menaklukkan Bisma yang sangat mereka hormati, Bisma menjawab: .. ketahuilah pantanganku ini, bahwa
aku tidak akan menyerang seseorang yang telah membuang senjata, juga yang terjatuh dari keretanya.
Aku juga tidak akan menyerang mereka yang senjatanya terlepas dari tangan, tidak akan menyerang
orang yang bendera lambang kebesarannya hancur, orang yang melarikan diri, orang dalam keadaan
ketakutan, orang yang takluk dan mengatakan bahwa ia menyerah, dan aku pun tidak akan menyerang
seorang wanita, juga seseorang yang namanya seperti wanita, orang yang lemah dan tak mampu
menjaga diri, orang yang hanya memiliki seorang anak lelaki, atau pun orang yang sedang mabuk.
Dengan itu semua aku enggan bertarung
Bisma juga mengatakan apabila pihak Pandawa ingin mengalahkannya, mereka harus menempatkan
seseorang yang membuat Bisma enggan untuk bertarung di depan kereta Arjuna, karena ia yakin hanya
Arjuna dan Kresna yang mampu mengalahkannya dalam peperangan. Dengan bersembunyi di belakang
orang yang membuat Bisma enggan berperang, Arjuna harus mampu melumpuhkan Bisma dengan
panah-panahnya. Berpedoman kepada pernyataan tersebut, Kresna menyadarkan Arjuna akan
kewajibannya. Meski Arjuna masih segan, namun ia menuntaskan tugas tersebut. Pada hari kesepuluh,
Srikandi menyerang Bisma, namun Bisma tidak melawan. Di belakang Srikandi, Arjuna menembakkan
panah-panahnya yang dahsyat dan melumpuhkan Bisma. Panah-panah tersebut menancap dan
menembus baju zirahnya, kemudian Bisma terjatuh dari keretanya, tetapi badannya tidak menyentuh
tanah karena ditopang oleh puluhan panah yang menancap di tubuhnya. Namun Bisma tidak gugur
seketika karena ia boleh menentukan waktu kematiannya sendiri. Bisma menghembuskan nafasnya
setelah ia menyaksikan kehancuran pasukan Korawa dan setelah ia memberikan wejangan suci kepada
Yudistira setelah perang Bharatayuddha selesai.

Bisma dalam pewayangan Jawa


Antara Bisma dalam kitab Mahabharata dan pewayangan Jawa memiliki beberapa perbedaan, namun
tidak terlalu besar karena inti ceritanya sama. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain disebabkan
oleh proses Jawanisasi, yaitu membuat kisah wiracarita dari India bagaikan terjadi di pulau Jawa.

Riwayat

Bisma adalah anak Prabu Santanu, Raja Astina dengan Dewi Gangga alias Dewi Jahnawi (dalam versi
Jawa). Waktu kecil bernama Raden Dewabrata yang berarti keturunan Bharata yang luhur. Ia juga
mempunyai nama lain Ganggadata. Dia adalah salah satu tokoh wayang yang tidak menikah yang disebut
dengan istilah Brahmacarin. Berkediaman di pertapaan Talkanda. Bisma dalam tokoh perwayangan
digambarkan seorang yang sakti, dimana sebenarnya ia berhak atas tahta Astina akan tetapi karena
keinginan yang luhur dari dirinya demi menghindari perpecahan dalam negara Astina ia rela tidak
menjadi raja.

Resi Bisma sangat sakti mandraguna dan banyak yang bertekuk lutut kepadanya. Ia mengikuti sayembara
untuk mendapatkan putri bagi Raja Hastina dan memboyong 3 Dewi. Salah satu putri yang
dimenangkannya adalah Dewi Amba dan Dewi Amba ternyata mencintai Bisma. Bisma tidak bisa
menerima cinta Dewi Amba karena dia hanya wakil untuk mendapatkan Dewi Amba. Namun Dewi Amba
tetap berkeras hanya mau menikah dengan Bisma. Bisma pun menakut-nakuti Dewi Amba dengan
senjata saktinya yang justru tidak sengaja membunuh Dewi Amba. Dewi Amba yang sedang sekarat
dipeluk oleh Bisma sambil menyatakan bahwa sesungguhnya dirinya juga mencintai Dewi Amba. Setelah
roh Dewi Amba keluar dari jasadnya kemudian mengatakan bahwa dia akan menjemput Bisma suatu
saat agar bisa bersama di alam lain dan Bisma pun menyangupinya. Diceritakan roh Dewi Amba menitis
kepada Srikandi yang akan membunuh Bisma dalam perang Bharatayuddha.

Dikisahkan, saat ia lahir, ibunya moksa ke alam baka meninggalkan Dewabrata yang masih bayi. Ayahnya
prabu Santanu kemudian mencari wanita yang bersedia menyusui Dewabrata hingga ke negara Wirata
bertemu dengan Dewi Durgandini atau Dewi Satyawati, istri Parasara yang telah berputra Resi Wyasa.
Setelah Durgandini bercerai, ia dijadikan permaisuri Prabu Santanu dan melahirkan Citrānggada dan
Wicitrawirya, yang menjadi saudara Bisma seayah lain ibu.

Setelah menikahkan Citrānggada dan Wicitrawirya, Prabu Santanu turun tahta menjadi pertapa, dan
digantikan anaknya. Sayang kedua anaknya kemudian meninggal secara berurutan, sehingga tahta
kerajaan Astina dan janda Citrānggada dan Wicitrawirya diserahkan pada Wyasa, putra Durgandini dari
suami pertama. Wyasa-lah yang kemudian menurunkan Pandu dan Dretarata, orangtua Pandawa dan
Kurawa.
Demi janjinya membela Astina, Bisma berpihak pada Korawa dan mati terbunuh oleh Srikandi di perang
Bharatayuddha.

Bisma memiliki kesaktian tertentu, yaitu ia bisa menentukan waktu kematiannya sendiri. Maka ketika
sudah sekarat terkena panah, ia minta sebuah tempat untuk berbaring. Korawa memberinya tempat
pembaringan mewah namun ditolaknya, akhirnya Pandawa memberikan ujung panah sebagai alas
tidurnya (kasur panah) (sarpatala). Tetapi ia belum ingin meninggal, ingin melihat akhir daripada perang
Bharatayuddha.
Amba (Ambarwati)

Amba adalah putri sulung dari raja di Kerajaan Kasi dalam wiracarita Mahabharata. Bersama dengan tiga
adiknya yang lain, yaitu Ambika dan Ambalika, Amba diboyong ke Hastinapura oleh Bisma untuk
diserahkan kepada Satyawati dan dinikahkan kepada Wicitrawirya, raja Hastinapura.

Sayembara di Kerajaan Kasi


Menurut legenda, sudah menjadi tradisi bagi kerajaan Kasi untuk memberikan putrinya kepada pangeran
keturunan Kuru, namun tradisi tersebut tidak dilaksanakan ketika Wicitrawirya mewarisi tahta
Hastinapura, padahal ia merupakan pangeran keturunan Kuru. Kerajaan Kasi memilih untuk menemukan
jodoh putrinya lewat sebuah sayembara. Untuk menikahkan Wicitrawirya dengan para puteri Kasi, Bisma
datang ke tempat sayembara. Ia mengalahkan semua peserta yang ada di sana, termasuk Raja Salwa
yang konon amat tangguh. Bisma memboyong Amba tepat pada saat Amba memilih Salwa sebagai
suaminya, namun hal itu tidak diketahui oleh Bisma dan Amba terlalu takut untuk mengatakannya.

Bersama dengan tiga adiknya yang lain, yaitu Ambika dan Ambalika, Amba diboyong ke Hastinapura oleh
Bisma untuk dinikahkan kepada Wicitrawirya. Kedua adik Amba menikah dengan Wicitrawirya, namun
hati Amba tertambat kepada Salwa. Setelah Amba menjelaskan bahwa ia telah memilih Salwa sebagai
suaminya, Wicitrawirya merasa bahwa tidak baik untuk menikahi wanita yang sudah terlanjur mencintai
orang lain. Akhirnya ia mengizinkan Amba pergi menghadap Salwa.

Pengembaraan Amba
Ketika Amba tiba di istana Salwa, ia ditolak sebab Salwa enggan menikahi wanita yang telah direbut
darinya. Karena Salwa telah dikalahkan oleh Bisma, maka Salwa merasa bahwa yang pantas menikahi
Amba adalah Bisma. Maka Amba kembali ke Hastinapura untuk menikah dengan Bisma. Namun Bisma
yang bersumpah untuk tidak kawin seumur hidup menolak untuk menikah dengan Amba. Akhirnya hidup
Amba terkatung-katung di hutan. Ia tidak diterima oleh Salwa, tidak pula oleh Bisma. Dalam hatinya,
timbul kebencian terhadap Bisma, orang yang memisahkannya dari Salwa.

Di dalam hutan, Amba bertemu dengan Resi Hotrawahana, kakeknya. Setelah mengetahui masalah yang
dihadapi Amba, sang resi meminta bantuan Rama Bargawa atau Parasurama, guru Bisma. Parasurama
membujuk Bisma agar mau menikahi Amba. Karena Bisma terus-menerus menyatakan penolakan,
Parasurama menjadi marah lalu menantang Bisma untuk bertarung. Pertarungan antara Parasurama
melawan Bisma berlangsung dengan sengit dan diakhiri setelah para dewa menengahi persoalan
tersebut.

Setelah Parasurama gagal membujuk Bisma, Amba pergi berkelana dan bertapa. Ia memuja para dewa,
memohon agar bisa melihat Bisma mati. Sangmuka, putera dewa Sangkara, muncul di hadapan Amba
sambil memberi kalung bunga. Ia berkata bahwa orang yang memakai kalung bunga tersebut akan
menjadi pembunuh Bisma. Setelah menerima pemberian itu, Amba pergi berkelana untuk mencari
kesatria yang bersedia memakai kalung bunganya. Meski ada peluang keberhasilan karena kalung
tersebut diberikan oleh dewa yang dapat dipercaya, tidak ada orang yang bersedia memakainya setelah
mengetahui bahwa orang yang harus dihadapi adalah Bisma. Ketika Amba menemui Raja Drupada,
permintaannya juga ditolak karena sang raja takut melawan Bisma. Akhirnya Amba melempar karangan
bunganya ke tiang balai pertemuan Raja Drupada, setelah itu ia pergi dengan marah. Karangan bunga
tersebut dijaga dengan ketat dan tak ada yang berani menyentuhnya.

Kematan Amba

Dengan kebencian terhadap Bisma, Amba melakukan tapa dengan keras. Dalam pikirannya hanya ada
keinginan untuk melihat Bisma mati. Karena ketekunannya, Dewa Sangkara muncul dan berkata bahwa
Amba akan bereinkarnasi sebagai pembunuh Bisma. Sang dewa juga berkata bahwa kebencian Amba
terhadap Bisma tidak akan hilang setelah bereinkarnasi. Setelah mendengar pemberitahuan dari sang
dewa, Amba membuat sebuah api unggun, lalu membakar dirinya sendiri.

Dalam versi lain, ada informasi berbeda mengenai kematian Amba. Diceritakan bahwa Bisma
mengembara untuk menjauhi Amba karena menolak menikah, namun Amba selalu mengikutinya.
Akhirnya Bisma menodongkan panah ke arah Amba, untuk menakut-nakutinya agar ia segera pergi.
Tetapi Amba tidak takut dan berkata, "Dewabrata, saya mendapat kesenangan atau mati, semua karena
tanganmu. Saya malu jika harus pulang ke tempat orang tuaku ataupun kembali Hastinapura. Dimanakah
tempat bagiku untuk berlindung?". Bisma terdiam mendengar perkataan Amba. Lama ia merentangkan
panahnya sehingga tangannya berkeringat. Panah pun terlepas karena tangannya basah dan licin oleh
keringat. Panahnya menembus dada Amba. Dengan segera Bisma membalut lukanya sambil menangis
tersedu-sedu. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Amba berpesan kepada Bisma, bahwa ia
akan menjelma sebagai anak Raja Drupada, yang ikut serta dalam pertempuran akbar antara Pandawa
dan Korawa. Setelah Amba berpesan kepada Bisma untuk yang terakhir kalinya, ia pun menghembuskan
napas terakhirnya, seperti tidur nampaknya.
Lahir kembali sebagai Srikandi
Dalam kehidupan selanjutnya, Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi, yang memihak Pandawa saat
perang di Kurukshetra. Srikandi adalah anak Raja Drupada dari kerajaan Panchala yang istimewa. Pada
saat lahir, ia berkelamin wanita, namun setelah dewasa ia berganti kelamin atas bantuan seorang Yaksa.
Srikandi-lah orang yang bersedia memakai kalung Dewa Sangkara sebagai tanda bahwa ia akan
membunuh Bisma.

Amba dalam pewayangan Jawa


Dewi Amba adalah putri sulung dari tiga bersaudara, putri Prabu Darmahumbara, raja negara
Giyantipura dengan peramisuri Dewi Swargandini. Kedua adik kandungnya bernama Dewi Ambika
(Ambalika) dan Dewi Ambiki (Ambaliki).

Amba dan kedua adiknya menjadi puteri boyongan Bisma (Dewabrata), putra Prabu Santanu dengan
Dewi Jahnawi (Dewi Gangga) dari Hastinapura yang telah berhasil memenangkan sayembara tanding di
negara Giyantipura dengan membunuh Wahmuka dan Arimuka. Karena merasa sebelumnya telah
dipertunangkan dengan Prabu Citramuka, raja negara Swantipura, Amba memohon kepada Dewabrata
agar dikembalikan kepada Prabu Citramuka. Kemudian persoalan mulai timbul karena Amba ditolak oleh
Prabu Citramuka semenjak menjadi puteri boyongan Bisma. Keinginan Amba ikut ke Hastinapura juga
ditolak oleh Dewabarata. Karena Amba terus mendesak dan memaksanya, akhirnya tanpa sengaja ia
tewas oleh panah Dewabrata yang semula hanya bermaksud untuk menakut-nakutinya. Sebelum
meninggal Amba mengeluarkan kutukan, akan menuntut balas kematiannya dengan perantara seorang
prajurit wanita, yaitu Srikandi. Kutukan Dewi Amba terhadap Dewabrata menjadi kenyataan. Dalam
perang Bharatayuddha, arwahnya menjelma dalam tubuh Srikandi dan berhasil menewaskan Bisma
(Dewabrata).
Destarata
Diposting oleh hery_wae di 11:02 PM

Ia dilahirkan dalam kekurangsempurnaan. Dari rahim seorang istri Wicitrawirya, Dewi Ambika, Destarata
dilahirkan. Namun sejatinya ia bukan anak biologis Wicitrawirya yang wafat karena sakit paru dan tanpa
berketurunan, ia adalah anak pujan dari Begawan Abiyasa.

Setelah Wicitrawirya mangkat, Setyawati, ibunda Wicitrawirya, mengutus Dewi Ambika dan Ambalika -
yang kedua-duanya adalah istri Wicitrawirya - untuk menemui Begawan Abiyasa di Gunung Sapta Arga
dengan maksud memohon keberkahan akan keturunan.

Di dalam kamar semedi Begawan Abiyasa, dengan wajah yang teramat dahsyat dengan mata yang
menyala-nyala, Begawan Abiyasa menyelenggarakan upacara pujan untuk memohon keturunan bagi
Ambika dan Ambalika. Ambika menutup matanya atas hal tersebut, sehingga lahirlah dari rahim dirinya
seorang anak yang buta yang kelak dinamakan Destarata. Sementara Ambalika berupaya untuk tidak
menutup matanya atas apa yang ada dihadapannya. Dengan segala dayanya yang walaupun harus
dilaluinya dengan kepucatan, Ambalika akhirnya memperoleh keturunan yang di kemudian hari anaknya
tersebut dinamakan Pandu, yang berarti kulit yang pucat.
Destarata dan Pandu tumbuh dan besar di istana Hastinapura. Sampai ketika mereka telah dewasa,
saatnyalah bagi mereka untuk naik ke tampuk singgasana kerajaan yang telah lama vakum.
Semestinyalah Destarata yang menggantikan ayahnya untuk memerintah Hastinapura. Namun karena
keterbatasan yang ia miliki maka Pandu, adiknya, yang dikukuhkan sebagai raja Hastinapura selanjutnya.

Pandu tidak memerintah terlalu lama atas Hastinapura. Pandu gugur dalam perang tanding antara
dirinya dengan muridnya sendiri, Tremboko, raja raksasa dari Pringgondani. Keris Kalanadah telah
merobek paha Pandu yang berujung pada ajalnya, sementara anak panah yang dilesatkan Pandu
memenggal leher Tremboko. Perang tanding yang semestinya tidak terjadi andai saja Tremboko tidak
termakan hasutan Sengkuni.

Sebelum ajal menjemputnya, pesan terakhir yang sempat disampaikan Pandu bahwa singgasana
Hastinapura yang ia tinggalkan untuk dititipkan kepada Destarata sampai anak-anak Pandu tumbuh
dewasa dan dapat melanjutkan dinastinya.

Suatu pesan terakhir, wasiat adalah suatu pendulum yang tidak dapat ditarik kembali ujungnya.
Disampaikan dengan keikhlasan dan penuh harap akan apa-apa yang dikehendakinya. Pesan terakhir,
wasiat merupakan suatu kepercayaan bahwa bagi pemangkunya hal tersebut adalah suatu keniscayaan.
Keniscayaan untuk dan atas nama seorang patron dan keniscayaan akan keberlangsungan harapannya.
Harapan sebagai mana anak panah yang melesat secara pasti pada titik ujungnya sekaligus yang tak
mungkin untuk kembali lagi ke gendewanya.

Destarata, sang pemangku wasiat tersebut mengemban tidak sepenuh hati apa yang telah dipesankan
adiknya. Dalam keterbatasan, Destarata menyadari sepenuhnya bahwa Hastinapura sebagai suatu
kerajaan yang telah diperjuangkan oleh para pendiri wangsa Kuru harus tetap dijaga
keberlangsungannya. Ia bersinggsana di Hastinapura dengan didampingi para pinesepuh wangsa Kuru,
yakni Bisma, Widura, Durna dan Krepa. Namun di sisi lain, bukan demikian halnya akan keberlanjutan
singgasana yang telah ia duduki tersebut.

Para Pandawa, kelima anak Pandu, telah beranjak dewasa dalam bimbingan Kunti, ibundanya dan para
eyangnya. Di istana Hastinapura mereka dibesarkan. Begitupun dengan Kurawa, seratus anak Destarata
dari istrinya, Gendari, telah berangkat dewasa dalam pengasuhan yang sama di istana megah pinggir
telaga tersebut. Kurawa dan Pandawa, bukan sebagai saudara - walaupun hanya sepupu - mereka
tumbuh remaja dan dewasa secara bersama-sama dan dalam pengasuhan yang sama di tempat yang
sama pula. Kurawa secara laten menanamkan semangat kebencian dan iri dengki mereka atas Pandawa
dalam diri mereka. Singgasana Hastinapura yang sekarang diduduki ayah mereka sebagai pemantiknya.

Tampaknya Destarata mulai lupa akan pesan terakhir Pandu kepadanya sebelum Pandu menghembuskan
nafas. Destarata yang telah uzur, Gendari dengan sinar matanya yang silau, menjadikan para Kurawa
leluasa berdiri tegak dengan kepongahannya atas Pandawa. Destarata semakin tak berdaya ketika
Kurawa mengadakan permainan dadu dengan mengundang Pandawa di Bale Sigala-gala. Permainan
dadu yang telah menihilkan hak-hak Pandawa sekaligus yang telah meruntuhkan kehormatan Pandawa.
Tidak terkecuali Drupadi. Permainan dadu pula yang menjadikan Pandawa harus mengasingkan diri
selama tiga belas tahun di hutan Kamiaka.

Di taman istana Hastinapura, di tepian kolam dengan air keperakan tersapu cahaya bulan, sebatang
ranting cemara jatuh, terapung, beriak air berjalan lambat ke tepi. Destarata duduk terpaku ditemani
Gendari yang telah menutup kedua matanya dengan kain hitam. Destarata membayangkan perang yang
akan terjadi antara anak-anaknya dengan para Pandawa di Kurusetra esok hari. Perang yang akan
menghapus satu garis keturunan dari wangsa Kuru. Perang yang seharusnya tidak terjadi jika saja ia
dapat membesarkan anak-anaknya secara baik. Perang yang juga seharusnya tidak terjadi jika saja sinar
mata yang silau dari Gendari tidak menggodanya. Kalaupun sekarang Gendari telah menutup kedua
matanya, semuanya telah terlambat.

Orang tua yang akan memberikan segala warna bagi anak-anaknya. Anak adalah cerminan dari kedua
orang tuanya. Ketika anak telah berjalan di luar dari hak-hak yang ia punya dan seorang istri yang telah
bertindak melebihi batas-batasnya, Destarata tidak berdaya atas semuanya. Destarata, ternyata tidak
hanya buta matanya, namun juga buta hatinya. Hingga akhirnya wasiat itu ia langgarnya dengan segala
akibat yang harus ia tanggung.

Puntadewa (Yudistira)
Diposting oleh hery_wae di 3:41 PM

Nama lain Puntadewa :

* Ajataśatru, "yang tidak memiliki musuh".


* Bhārata, "keturunan Maharaja Bharata".
* Dharmawangsa atau Dharmaputra, "keturunan Dewa Dharma".
* Kurumukhya, "pemuka bangsa Kuru".
* Kurunandana, "kesayangan Dinasti Kuru".
* Kurupati, "raja Dinasti Kuru".
* Pandawa, "putera Pandu".
* Partha, "putera Prita atau Kunti".

Beberapa di antara nama-nama di atas juga dipakai oleh tokoh-tokoh Dinasti Kuru lainnya, misalnya
Arjuna, Bisma, dan Duryodana. Selain nama-nama di atas, dalam versi pewayangan Jawa masih terdapat
beberapa nama atau julukan yang lain lagi untuk Yudistira, misalnya:

* Puntadewa, "derajat keluhurannya setara para dewa".


* Yudistira, "pandai memerangi nafsu pribadi".
* Gunatalikrama, "pandai bertutur bahasa".
* Samiaji, "menghormati orang lain bagai diri sendiri".

Raden Puntadewa adalah putra sulung dari Prabu Pandudewanata dan Dewi Kuntinalibrata.
Sesungguhnya Puntadewa merupakan putra kedua dari Dewi Kuntinalibrata. Akibat Ajian Adityaredhaya
ajaran Resi Druwasa, Kunti sempat hamil, sesaat sebelum terjadinya sayembara pilih. Lalu putranya yang
di keluarkan dari telingga yang dinamai Karna dibuang dan kemudian diasuh oleh seorang sais kereta
bernama Adirata.

Secara resmi memang Puntadewa adalah putra Prabu Pandu dan Dewi Kunti namun sesungguhnya ia
adalah putra Dewi Kunti dan Batara Darma, dewa keadilan. Hal tersebut diakibatkan oleh kutukan yang
diucapkan oleh Resi Kimindama yang dibunuh Pandu saat bercinta dalam wujud kijang. Tapi akibat dari
ajian Adityaredhaya, Dewi Kunti dan Prabu Pandu masih dapat memiliki keturunan untuk menghasilkan
penerus takhta kerajaan. Puntadewa bersaudarakan empat orang, dua saudara seibu dan 2 saudara
berlainan ibu. Mereka adalah Bima atau Werkudara, Arjuna atau Janaka, Nakula atau Pinten, dan Sadewa
atau Tangsen.

Puntadewa memiliki dasanama (nama-nama lain) yaitu Raden Dwijakangka sebagai nama samaran saat
menjadi buangan selama 13 tahung di kerajaan Wirata, Raden Darmaputra karena merupakan putra dari
Batara Darma, Darmakusuma, Darmawangsa, Darmaraja, Gunatalikrama, Sang Ajatasatru, Kantakapura,
Yudistira, dan Sami Aji, julukan dari Prabu Kresna.

Raden Puntadewa memiliki watak sadu (suci, ambeg brahmana), suka mengalah, tenang, sabar, cinta
perdamaian, tidak suka marah meskipun hargadirinya diinjak-injak dan disakiti hatinya. Oleh para dalang
ia digolongkan dalam tokoh berdarah putih dalam pewayangan bersama Begawan Bagaspati, Antasena
dan Resi Subali sebagai perlambang kesucian hati dan dapat membunuh nafsu-nafsu buruknya.

Konon, Puntadewa dilahirkan melelui ubun-ubun Dewi Kunti. Sejak kecil para putra putra Pandu selalu
ada dalam kesulitan. Mereka selalu bermusuhan dengan saudara sepupu mereka, Kurawa, yang didalangi
oleh paman dari para Kurawa yang juga merupakan patih dari Kerajaan Astinapura, Patih Harya Sengkuni.
Meskipun Pandawa memiliki hak atas kerajaan Astinapura, namun karena saat Prabu Pandu meninggal
usia pandawa masih sangat muda maka kerajaan dititipkan pada kakaknya, Adipati Destarastra dengan
disaksikan oleh tetua-tetua kerajaan seperti, Dang Hyang Dorna, Patih Sengkuni, Resi Bisma, Begawan
Abiyasa, dan Yamawidura dengan perjanjian tertulis agar kerajaan Astina diserahkan kepada Pandawa
setelah dewasa, dan Destarastra mendapatkan separuh dari wilayah Astina. Namun atas hasutan Patih
Sengkuni maka kemudian Kurawalah yang menduduki takhta kerajaan. Segala cara dihalalkan untuk
menyingkirkan pandawa, dimulai dengan Pandawa Timbang (lih. Bima), Bale Sigala-gala, Pandawa Dadu
sampai pada perang besar Baratayuda Jayabinangun. Meskipun Puntadewa adalah manusia berbudi
luhur namun ia memiliki kebiasaan buruk yaitu suka berjudi.

Kelak kebiasaan buruk dari Puntadewa ini menyebabkan para Pandawa berada dalam kesulitan besar. Hal
tersebut dikisahkan sebagai berikut: Saat terjadi konflik antara Pandawa dan Kurawa tentang perebutan
kekuasaan Kerajaan Astinapura, Kurawa yang didalangi oleh Sengkuni menantang Pandawa untuk main
judi dadu. Pada permainan tersebut, para Pandawa mulanya hanya bertaruh uang, namun lama
kelamaan, Puntadewa mempertaruhkan kerajaan, istri, dan pada akhirnya pandawa sendiri sudah
menjadi hak milik kurawa (Sebelumnya Puntadewa bersama adik-adiknya berhasil mendirikan kerajaan
yang berasal dari Hutan Mertani, sebuah hutan angker yang ditempati oleh raja jin yang bernama Prabu
Yudistira dan adik-adiknya).

Saat Pandawa beranjak dewasa, mereka selalu dimusuhi oleh para Kurawa, akibatnya para tetua
Astinapura turun tangan dan memberi solusi dengan menghadiahi Pandawa sebuah hutan angker
bernama Wanamarta untuk mengindari perang saudara memperebutkan takhta Astinapura. Setelah itu,
hutan yang tadinya terkenal angker, berubah menjadi kerajaan yang megah, dan Prabu Yudistira serta
putrinya, Dewi Ratri atau para dalang juga sering menyebutnya Dewi Kuntulwilanten menyatu di dalam
tubuh Puntadewa yang berdarah putih. Sejak saat itu pulalah Puntadewa bernama Yudistira.

Sebelumnya, setelah Pandawa berhasil lolos dari peristiwa Bale Sigala-gala, dimana mereka dijebak
disuatu purocana (semacam istana dari kayu) dengan alasan Kurawa akan menyerahkan setengah dari
Astina, namun ternyata hal tersebut hanyalah tipu muslihat kurawa yang membuat para Pandawa mabuk
dan tertidur, sehingga pada malamnya mereka dapat leluasa membakar pesanggrahan Pandawa. Bima
yang menyadari hal itu dengan cepat membawa saudara-saudara dan ibunya lari menuju terowngan
yang diiringi oleh garangan putih sampai pada Kayangan Saptapertala, tempat Sang Hyang Antaboga,
dari sana Pandawa lalu melanjutkan perjalanan ke Pancala, dimana sedang diadakan sayembara adu jago
memperebutkan Dewi Drupadi. Barang siapa berhasil mengalahkan Gandamana, akan berhak atas Dewi
Drupadi, dan yang berhasil dalam sayembara tersebut adalah Bima. Bima lalu menyerahkan Dewi
Drupadi untuk diperisri kakaknya. Sumber yang lain menyebutkan bahwa setelah mengalahkan
Gandamana Pandawa masih harus membunuh naga yang tinggal di bawah pohon beringin. Kemudian
Arjunalah yang dengan panahnya berhasil membunuh naga tersebut. Dari Dewi Drupadi Puntadewa
memilki seorang putra yang diberi nama Pancawala.

Dalam masa buangan tersebut ada sebuah kisah yang menggambarkan kebijaksanaan dari Raden
Puntadewa. Pada suatu hari Puntadewa memerintahkan Sadewa untuk mengambil air di sungai. Setelah
menunggu lama, Sadewa tidak kunjung datang, lalu diutuslah Nakula, hal yang sama kembali terjadi,
Nakula pun tak kembali. Lalu Arjuna dan akhirnya Bima. Semuanya tak ada yang kembali. Akhirnya
menyusulah Puntadewa. Sesampainya di telaga ia melihat ada raksasa besar dan juga adik-adiknya yang
mati di tepi telaga. Sang Raksasa kemudian berkata pada Puntadewa bahwa barang siapa mau meminum
air dari telaga tersebut harus sanggup menjawab teka-tekinya. Pertanyaannya adalah apakah yang saat
kecil berkaki empat dewasa berkaki dua dan setelah tua berkaki tiga? Punta dewa menjawab, itu adalah
manusia, saat kecil manusia belum sanggup berjalan, maka merangkaklah manusia (bayi), setelah
dewasa manusia sanggup berjalan dengan kedua kakinya dan setelah tua manusia yang mulai bungkuk
membutuhkan tongkat untuk penyangga tubuhnya. Sang raksasa lalu menanyakan pada Puntadewa, jika
ia dapat menghidupkan satu dari keempat saudaranya yang manakah yang akan di minta untuk
dihidupkan? Puntadewa menjawab, Nakula lah yang ia minta untuk dihidupkan karena jika keempatnya
meninggal maka yang tersisa adalah seorang putra dari Dewi Kunti, maka sebagai putra sulung dari Dewi
Kunti ia meminta Nakula, putra sulung dari Dewi Madrim. Dengan demikian keturuanan Pandu dari Dewi
Madrim dan Dewi Kunti tetap ada. Sang Raksasa sangat puas dengan jawaban tersebut lalu
menghidupkan keempat pandawa dan lalu berubah menjadi Batara Darma. Puntadewa bisa saja
meminta Arjuna atau Bima untuk dihidupkan sebagai saudara kandung namun secara bijaksana ia
memilih Nakula. Suatu ajaran yang baik diterapkan dalam kehidupan yaitu keadilan dan tidak pilih kasih.

Akibat kalah bermain dadu, Pandawa harus menerima hukuman menjadi buangan selama 13 tahun. Dan
sebelumnya Drupadi pun sempat dilecehkan oleh Dursasana yang berusaha menelanjanginya sampai
sampai terucaplah sumpah Dewi Drupadi yang tidak akan mengeramas rambutnya sebelum dicuci oleh
darah Dursasana, untunglah Batara Darma menolong Drupadi sehingga ia tidak dapat ditelanjangi. Pada
tahun terakhir sebagai buangan, Pandawa menyamar sebagai rakyat biasa di suatu kerajaan bernama
Wirata. Disana Puntadewa lalu menjadi ahli politik dan bekerja sebagai penasehat tak resmi raja yang
bernama Lurah Dwijakangka.
Puntadewa memiliki jimat peninggalan dari Prabu Pandu berupa Payung Kyai Tunggulnaga dan Tombak
Kyai Karawelang, Keris Kyai Kopek, dari Prabu Yudistira berupa Sumping prabangayun, dan Sangsangan
robyong yang berupa kalung. Jika puntadewa marah dan tangannya menyentuh kalung ini makan
seketika itu pulalah, ia dapat berubah menjadi raksasa bernama Brahala atau Dewa Mambang sebesar
gunung anakan dan yang dapat meredakannya hanyalah titisan Batara Wisnu yang juga dapat merubah
diri menjadi Dewa Amral. Selain itu Puntadewa juga memiliki pusaka bernama Serat Jamus Kalimasada.

Kemudian atas bantuan dari Werkudara, adiknya, akhirnya Puntadewa menjadi raja besar setelah
mengadakan Sesaji Raja Suya yang dihadiri oleh 100 raja dari mancanegara. Dengan demikian
Puntadewa menjadi seorang raja besar yang akan menjadi anutan bagi raja-raja di dunia.

Pada Perang besar Baratayuda Jayabinangun, Puntadewa menjadi senapati perang pihak pandawa
menghadapi raja dari kerajaan Mandraka, Prabu Salya. Puntadewa pun akhirnya behasil membunuh
Salya meskipun sebenaranya ia maju kemedan perang dengan berat hati. Saat perang Baratayuda terjadi
pun, Puntadewa pernah melakukan tindakan tercela yang mengakibatkan senapati perang Kurawa yang
juga gurunya, Dang Hyang Dorna terbunuh. Dikisahkan sebagai berikut, saat para pandawa berhasil
membunuh gajah Estitama, seekor gajah milik Astina. Drona yang samar-samar mendengar “….tama
mati!” menjadi bigung, mungkin saja Aswatama, putranya telah mati, dan lari menuju pesanggrahan
Pandawa, Drona tahu benar siapa yang harus ditanyai, Puntadewa, seorang raja yang selama hidupnya
tak pernah berbohong. Saat itu Puntadewa atas anjuran Kresna menyebutkan bahwa Hesti (dengan nada
lemah) dan tama (dikeraskan) memang telah mati, Drona yang mendengar hal itu menjadi tambah panik
karena menurut pendengarannya yang telah kabur, putra tunggalnya telah tewas. Drona pun kemudian
tewas oleh Drestajumena yang mamanggal lehernya saat Drona dalam keaadaan ling-lung. Dalam hal ini
dapat di petik sebuah pelajaran bahwa dalam hidup ini sebuah kejujuran pun tidak dapat dilakukan
secara setengah-setengah, memang Puntadewa tidak pernah berbohong, namun sikap setengah-
setengah tersebut pulalah yang mangakibatkan kematian guru besar Astina tersebut.

Setelah selesai Baratayuda, Puntadewa menjadi raja di Astina sebentar dengan gelar Prabu Kalimataya.
Lalu di gantikan oleh cucu dari Arjuna yang bernama Parikesit dengan gelar Prabu Kresnadwipayana.
Setelah tua, Puntadewa lalu memimpin adik-adiknya untuk naik ke Puncak Himalaya untuk mencapai
nirwana. Disana satu persatu istri dan adik-adiknya meninggal, lalu hanya ia dan anjingnya lah yang
sampai di pintu nirwana, di sana Batara Indra menolak membawa masuk anjing tersebut, namun
puntadewa bersikeras membawanya masuk. Lalu setelah perdebatan panjang anjing tersebut berubah
menjadi Batara Darma dan ikut ke nirwana bersama Puntadewa.
Durna menjadi guru Kurawa

Dikisahkan sebelumnya Durna telah mengangkat Pandawa menjadi murid.

Sementara itu, sesampainya di keraton Hastinapura, Patih Sengkuni melaporkan kepada raja, bahwa
lenga tala gagal direbut. Sekarang dibawa pergi oleh seorang pandhita sakti. Bahkan ia telah mengangkat
murid Pandhawa dan membawa serta mereka ke padepokannya.

Duryudana dan para Kurawa merengek-rengek memohon kepada raja agar Pandhita sakti tersebut
diangkat menjadi Guru Istana.

“Ampun Kakanda Prabu, perlu menjadi pertimbangan, ia mau menjadi guru para Kurawa asalkan
Pandawa lima diperkenankan masuk istana, pada hal beberapa waktu yang lalu Kanda Prabu telah
mengusir mereka.”

“Jika demikian biarlah anak-anakku yang datang berguru ke padanya”

“Ampun Kakanda Prabu, langkah tersebut akan merosotkan kewibawaan paduka raja,”
“Lantas bagaimana pendapatmu Patih Sengkuni?”
“Kanda Prabu, sebelumnya aku ingin mencari padepokannya untuk kemudian memaksa dia datang di
istana tanpa Pandawa Lima”
Mendengar rencana Patih Sengkuni, Duryudana yang menyaksikan sendiri kesaktiannya padhita tersebut
bertanya, lalu siapa yang mampu memaksanya?
Sengkuni sempat gelagepan, namun ia kemudian berkata, “Aku akan memerintahkan satu bregada
prajurit untuk mengepung dan kemudian menangkapnya.
“Sengkuni! Apakah untuk mendapatkan seorang guru tidak boleh dengan cara paksa. Jika terjadi korban
nyawa apakah engkau mau bertanggungjawab?

“Maksud saya tidak begitu Maha Resi Bisma. Apa yang akan kami lakukan ini semata-mata merupakan
tanda bakti kepada raja. Karena jika nantinya para putra raja mendapatkan guru yang sakti, dan
menyerap ilmunya, mereka akan mampu menjaga, memperkuat dan memperluas kerajaan Hastinapura”

“Sengkuni, Sengkuni, apakah engkau tidak pernah melihat guru sakti di Hastinapura ini? Coba kamu
jawab dengan jujur, tidak adakah Guru Sakti di Hastinapura? Sengkuni!”
“Ada, ada Maha Resi, bahkan tidak sekedar ada, tetapi banyak. Jumlahnya kira-kira ratusan, ee mungkin
bisa mencapai ribuan. Sedangkan yang diangkat menjadi guru istana saja sudah seratus lebih. Padahal
gaji mereka…” “Cukup!! Sekarang jawab pertanyaanku, apakah para Kurawa telah menyerap semua ilmu
dari mereka, terutama para guru yang digaji istana?” Eee sudah, eh belum dhing. Maksud saya semua
ilmu telah diajarkan dan dipahami, tetapi belum semua di kuasai.” “Bagus, lalu apa usahamu agar para
Kurawa mampu menyerap ilmu para guru istana dengan baik? “

Ampun Maha Resi Bisma, jika bibir ini menjadi panjang, salah satunya karena setiap waktu aku selalu
mengatakan kepada keponakanku para kurawa, belajarlah yang tekun dan rajin. Tetapi memang
mempelajari ilmu-ilmu tingkat tinggi tidak cukup dengan rajin dan tekun, tetapi membutuhkan bakat dan
kemampuan” “Jadi menurutmu cucu-cucuku para Kurawa itu rajin dan tekun?” Iya, eee kadang-kadang
rajin, dan kadang-kadang tekun. Eee rajin kok, tetapi” “Sengkuni, engkau akan mengatakan bahwa para
Kurawa itu tekun dan rajin tetapi tidak berbakat dan tidak mampu menguasai ilmu-ilmu tinggi?” “Tidak
demikian Sang Maha Resi, para Kurawa itu mempunyai bakat dan kemampuan, tetapi belum ada guru
yang mampu menggali bakat dan kemampuannya”

“Sengkuni! Engkau jangan menyalahkan para guru istana! Engkau menganggap aku buta? Tidak dapat
melihat kenyataan yang sebenarnya? Bukankah para Kurawa tidak dengan sungguh-sungguh menyerap
ilmu dari para guru istana? Dan itu sesungguhnya menjadi tanggunggjawabmu untuk memotivasi
mereka.”
“Ampun Maha Resi, hamba ini seorang Patih, tugas hamba mengabdi kepada negara dan raja. Bukan
sebagai pengasuh anak-anak raja.” “Baik! Jika demikian jangan ikut campur dalam hal mencari guru
untuk para Kurawa. Anak Prabu Destarastra, ijinkanlah aku sendiri yang akan menemui guru sakti yang
diinginkan anak-anakmu. Pertimbanganku agar para Kurawa dan para Pandawa menyerap ilmu dari guru
yang sama, dengan aturan dan disiplin yang sama serta sumpah ketaatan yang sama pula. Sehingga
dengan demikian ada harapan untuk mempersatukan diantara mereka.”

Destarastra setuju usul Resi Bisma, karena sesungguhnya ada harapan yang sama, agar diantara anak-
anaknya dan anak-anak Pandudewanata hidup berdampingan dengan rukun. Tetapi entah apa sebabnya
benih-benih permusuhan telah tumbuh lebih cepat dari pada benih-benih kerukunan.
Dengan pertimbangan bahwa Yamawidura mengetahui letak padepokan, tempat Pandhita Sakti berada,
maka Destarastra memerintahkan kepada Yamawidura untuk mengiring Resi Bisma. Menurut keterangan
Sadewa, sewaktu mohon restu kepada Ibunda Dewi Kunthi ke Panggombakan, ia beserta keempat
saudaranya selama beberapa waktu tinggal di Padepokan Sokalima yang terletak di tapal batas wilayah
Negara Pancalaradya, untuk berguru kepada Padhita Durna.

Pada hari yang telah disepakati, sebelum matahari terbit, Resi Bisma diiringi Yamawidura keluar dari
Kestalan Keraton Hastinapura, menuju arah tenggara. Derap dari delapan kaki kuda yang mereka
tumpangi, meninggalkan debu yang terbang terbawa angin dan menempel pada lekuk-lekuk bangunan
Keraton Hastinapura yang indah.

Di tengah terik matahari, Resi Bisma dan Yamawidura sengaja tidak berhenti, agar segera sampai di
Padepokan Sokalima, tempat Pandhita Durna menggembleng cantrik-cantriknya, termasuk Pandhawa
Lima. Jika pun harus istirahat, sekedar untuk memberi makan minum kuda-kuda mereka.

Dilihat pada garis-garis wajahnya, Resi Bisma sudah tidak muda lagi, bahkan dapat dikatakan lanjut usia,
namun badannya masih tegap dan jiwanya masih tegar, jauh lebih muda dari usia yang sebenarnya. Sorot
matanya tajam bagai rajawali. Segudang ilmu sakti yang ia pelajari sejak masa kanak-kanak, masih
melekat kuat di badan dan jiwanya. Waktu muda ia mendapat tiga anugerah besar yaitu; umur panjang
sampai tujuh turunan, tidak pernah kalah dalam berperang dan tidak dapat mati jika tidak atas
permintaan sendiri. Ia menjadi putera mahkota kerajaan Hastinapura pada masa pemerintahan ayahnya,
Prabu Sentanu. Namun karena Dewi Setyawati, ibu sambungnya menginginkan tahta demi anaknya,
maka ia mengalah, dengan ikhlas tahta diserahkan kepada anak Setyawati. Bahkan ia berjanji untuk
menjalani hidup ‘wadat’ tidak menikah, agar tidak mempunyai keturunan yang akan mengusik tahta
Hastinapura, dan menimbulkan pertumpahan darah diantara saudara.
Dengan kebesaran hati, Resi Bisma telah melepaskan tahtanya dan menjalani hidup wadat. Walaupun
ada godaan besar dari seorang wanita bernama Dewi Amba, Bisma tetap setia dengan janjinya untuk
tidak menurunkan anak dari seorang wanita. Namun saat ini ia sangat kecewa, bukan karena ia telah
merelakan tahtanya dan menjalani laku hidup wadat, tetapi lebih dikarenakan pergolakan tahta
Hastinapura tidak terhindarkan karenanya. “Apakah keputusanku untuk melepaskan tahta salah?
Jikakalau benar, mengapa Citragada dan Wicitrawirya anak Setyawati, belum genap hitungan tahun
menduduki tahta, meninggal secara berurutan? Menurut anggapan rakyat Hastinapura, Citragada dan
Wicitrawirya tidak kuat menduduki tahta, mereka kuwalat kepada pendiri Keraton dan Rakyat
Hastinapura. Karena secara tidak langsung telah merebut tahta yang bukan haknya dari tanganku.
Rupanya Ibunda Setyawati mempercayainya anggapan rakyat. Ia sangat menyesalkan telah mengajukan
anak-anaknya untuk menduduki tahta.

Pada suatu malam, Ibunda Ratu menemuiku, dan meyapaku. Ia selalu memanggilku dengan nama
kecilku, Dewa Brata. Ketika nama itu disebut, aku diingatkan kepada ibuku Dewi Ganggawati, seorang
bidadari yang memberikan nama itu. Aku rindu padanya, ingin dipeluk, dicium, dibelai dengan penuh
cinta. Namun itu tak pernah aku rasakan. Sejak bayi, Ibunda telah meninggalkan aku dan ramanda Prabu
Sentanu kembali ke kahyangan.
“Dewa Brata, aku telah melakukan kesalahan besar kepadamu dan rakyat Hastinapura. Semenjak kedua
adik tirimu meninggal berurutan, tahta Hastinapura kosong. Aku sadar, tragedi ini merupakan peringatan
‘Hyang Akarya Jagad’ bahwa sesungguhnya hanya engkaulah yang berhak atas tahta Hastinapura.”
“Bukan Ibunda yang bersalah, melainkan aku. Karena dengan memberikan tahta kepada keturunan
Ibunda Dewi Setyawati, aku telah mengkhianati leluhurku, pendiri Keraton Hastinapura ini. Seakan-akan
tahta Hastinapura adalah milikku, dapat aku gunakan sesukaku, boleh aku diberikan sesuai keinginanku.
Demikian pula kedudukan putera mahkota yang kutanggalkan tanpa persetujuan rakyat, artinya aku telah
menyelewengkan kepercayaan rakyat Hastinapura.”

“Dewa Brata inilah saat yang tepat untuk menebus kesalahan kita”
“Katakan apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan.”
“Jika engkau mau melakukan, kesalahku tertebus pula”
“Katakan Ibunda, katakanlah”
“Duduklah di tahta Hastinapura”
Malam itu terang benderang, tidak turun hujan. Bulan penuh menggantung di langit, kidung malam
mengalun merdu. Namun kata-kata Ibunda Ratu laksana halilintar menggelegar di dada Dewa Brata.
Sesungguhnya yang dikatakan Ibunda Ratu, sama dengan bisikan nuraninya bahkan sama pula dengan
nurani rakyat, yang beranggapan bahwa satu-satunya orang yang berhak, pantas dan kuat menduduki
tahta adalah Dewa Brata. Namun kesadarannya menolak untuk menjadi raja.
Aku mengalami goncangan yang amat hebat, jika aku tidak bersedia menjadi raja, artinya aku telah
mengingkari tradisi pendiri kraton Hastinapura, dan menolak mandat yang diberikan rakyat. Namun
sebaliknya jika aku bersedia menjadi raja, aku telah mengkianati janjiku dan menghina para Dewa yang
telah memberikan tiga anugerah karena kerelaanku menyerahkan tahta dan hidup wadat.
Resi Bisma menghentikan permenungan masa lalunya, ia dan Yamawidura sampai di gapura masuk
padepokan Sokalima. Sang Resi Bisma banyak berharap kepada guru besar Soka Lima, untuk membantu
mengurangi beban perasaan bersalah, dengan mempersatukan Pandhawa dan Kurawa, sehingga mampu
meredam sengketa dan pertumpahan.
Dua orang cantrik menyambut dengan penuh hormat, sopan dan ramah, walaupun mereka tidak tahu
bahwa tamunya adalah dua orang besar dari negara yang besar pula.
Bisma dan Yamawidura turun dari kudanya, segera dua orang cantrik menghampirinya untuk
menambatkan kuda-kuda mereka. Begitu pula dengan dua cantrik lain mengiring Bisma dan Yamawidura
menuju ke bangunan induk padepokan. Sepanjang jalan, aneka bunga warna-warni menjulur tangkainya,
merunduk di pinggir jalan, bagaikan pagar-ayu, menyambut datangnya kedua tamu agung. Di bibir
tangga bangunan induk, Pandita Durna, beserta Puntadewa, Bimasena, Harjuna, Nakula dan Sadewa
tergopoh-gopoh menyongsong mereka.

“Selamat datang di padepokan Sokalima, Sang Resi Agung Hastinapura. Sudah tiga hari ini, sepasang
burung prenjak berkicau bersautan persis di depan rumah induk. Itu pertanda bahwa padepokan akan
kedatangan tamu Resi Agung.”
“Pandhita Durna jangan berlebihan, aku manusia biasa seperti engkau, bukan manusia agung.”
Durna mengangguk-angguk, walaupun sesungguhnya ia tahu bahwa Bisma adalah Resinya para Resi.
Setelah mereka dipersilakan duduk, Bisma mengawali pembicaraan.

“Pandhita Durna, tentunya engkau telah mengetahui banyak tentang aku dari cucu-cucuku Pandhawa.
Namun aku ingin mengatakan bahwa hingga sat ini hidupku selalu dibayang-bayangi perasaan bersalah.
Menyusul keputusanku yang pertama: ketika aku merelakan tahta kepada anak-anak Setyawati dengan
Ramanda Prabu Sentanu yaitu Citragada dan Wicitrawirya, yang meninggal berurutan setelah menduduki
tahta. Keputusan yang ke dua: mengangkat Abiyasa, anak Setyawati dengan Palasara trah Pertapa
Saptaarga, bukan trah Hastinapura. Sejak Abiyasa menduduki tahta, Hastinpura selalu bermasalah.
Terlebih lagi setelah kehadiran Kurawa dan Pandhawa perebutan tahta Hastinapura semakin meruncing.”
“Sang Resi Bisma, perjalanan hidupku rupanya juga tidak lebih baik.” Pandita Durna berkisah pula.
“Sampai saat ini perasaan bersalah seperti yang dirasakan Sang Resi juga menggelayut dalam hidupku.
Ketika Ramanda Prabu Baratwaja menginginkan aku menjadi raja di Hargajembangan, aku menolak, dan
memilih pergi ke Tanah Jawa, untuk berguru kepada Begawan Abiyasa. Tetapi tragedi telah menimpaku,
badan dan wajahku cacat seumur hidup. Aku menggembara tak tentu arah di negeri orang, dengan
membawa anak tanpa ibu.”

Mereka terdiam untuk sementara waktu, ingin saling memahami perjalanan hidup masing-masing.
“Pandita Durna, aku tahu engkau dalam penderitaan, namun engkaulah yang kurasa dapat membantu
mencegah perang antara Kurawa dan Pandawa. Untuk itulah aku datang memohon engkau bersedia
menjadi guru mereka. Karena dengan menjadikan mereka murid-muridmu, mereka akan menjadi
saudara seperguruan, yang akan menumbuhkan perasaan senasib, seperjuangan. Bukankah hal tersebut
akan memperkecil benih-benih permusuhan?”

“Pada awalnya aku lebih berminat mengangkat murid para Pandhawa. Namun setelah Sang Resi
mengungkapkan tujuan mulia dibalik pengangkatan murid Para Kurawa, aku bersedia menjadi guru
mereka.”
“Terimakasih Kumbayana. Tentunya dengan kesediaanmu, Prabu Destrarastra akan memberikan gelar
guru istana.”
“Dhuh Sang Resi Bisma, ada yang lebih penting dari gelar itu, yaitu kebebasan mengajar setiap orang
yang membutuhkan.”
Bisma dapat memahaminya, karena ia tahu persis darma seorang pandita atau resi, ialah memberikan
ilmu kepada siapa saja, tidak pilih-pilih. Ibaratnya sebuah sumur yang selalu terbuka bagi yang menimba
air darinya.
Sebelum kembali ke Istana Resi Bisma dan Yamawidura berpesan agar selain mengajarkan ilmu, ada hal
mendasar yang wajib ditanamkan kepada Pandhawa dan Kurawa, yaitu agar diantara mereka dibangun
rasa mencintai, sikap saling menghargai dan rela memberi maaf.
Membangun sikap moral tidak lebih mudah dibandingkan dengan mengajarakan ilmu kanuragan dan
ilmu kebatinan. Oleh karenanya seorang guru diharuskan mempunyai otoritas penuh, teguh adil dan
berwibawa. Dengan alasan tersebut, Bisma setuju bahwa tempat penggemblengan para murid,
dilakukan di Sokalima.

Arjuna Wiwaha
Diposting oleh hery_wae di 9:51 PM

Kahyangan Bathara Indra sedang berada dalam ancaman seorang raksasa yang bernama Niwatakawaca.
Ia sudah siap untuk menyerang dan menghancurkan kahyangan Bathara Indra. Niwatakawaca tidak bisa
dikalahkan oleh siapapun baik Dewa maupun raksasa yang lain. Oleh karenanya, Bathara Indra
memutuskan untuk meminta bantuan manusia untuk menghadapi raksasa itu. Pilihan jatuh kepada
Arjuna putra tengah Pandawa yang saat itu sedang bertapa di gunung Indrakila.

Namun, terlebih dulu Bethara Indra menguji ketabahan Arjuna dalam melakukan pertapanya. Tujuh
orang bidadari yang kecantikannya sudah tidak bisa diragukan lagi dipanggil untuk menjalankan tugas
itu. Bidadari yang terpenting dari ketujuh bidadari tersebut adalah Suprabha dan Tilottama. Ketujuh
bidadari tersebut diutus untuk menggunakan segala kemampuan dan kecantikannya untuk merayu
Arjuna.

Suprabha dan enam bidadari yang lain pergi ke tempat Arjuna bertapa yaitu Gunung Indrakala untuk
menunaikan tugasnya. Sampailah para bidadari yang kecantikannya sungguh menabjukan itu di gua
tempat Arjuna bertapa. Mereka berusaha menggoda Arjuna dengan memperlihatkan segala
kecantikannya dan dengan segala akal agar Arjuna bisa tergoda. Namun, usaha mereka tak sedikitpun
memberikan hasil. Tentunya mereka sangat kecewa, dan akhirnya mereka kembali ke kahyangan dan
melaporkan kepada Bathara Indra.

Mendengar laporan dari pada bidadari utusannya, Bathara Indra gembira, karena itu membuktikan
bahwa Arjuna memang orang yang tepat dan pantas untuk dia pilih sebagai lawan Niwatakawaca. Tetapi
Indra masih memiliki sedikit keraguan, dia masih bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan Arjuna bertapa,
apakah untuk memperoleh kebahagiaan dan kekuasaan untuk dirinya sendiri, sehingga ia tidak peduli
degan keselamatan orang lain?

Bathara Indra kemudian turun tangan sendiri untuk hal ini, ia kemudian turun menghampiri Arjuna dan
menyamar sebagai seroang resi tua yang telah pikun dan bungkuk. Resi tua jelmaan Bathara Indra
memperolok-olok dan mengunggah kesatriaan Arjuna , Arjuna kemudian menghentikan tapanya
sebentar dan menyambut resi tua itu dengan penuh rasa hormat. Dalam pertemuan itu terjadi diskusi
falsafi yang di dalamnya terpapar suatu uraian mengenai kekuasaan dan kenikmatan dalam makna yang
sejati. Arjuna cukup memahami segala hal yang di paparkan oleh Bathara Indra, ia lalu menegaskan
bahwa satu-satunya tujuan ia melakukan tapa brata adalah untuk memenuhi kewajibannya selaku
seorang ksatria serta membantu kakaknya Yudhistira untuk merebut kembali kerajaannya demi
kesejahteraan dunia. Mendengar jawaban dari Arjuna, Bathara merasa puas dan yakin, maka ia
mengungkapkan siapa dia sebenarnya. Bathara Indra kemudian kembali ke kahyangan, sementara Arjuna
melanjutkan tapa bratanya.

Raja Raksasa mendengar apa yang terjadi di Gunung Indrakila. Ia kemudian mengutus seorang raksasa
yang bernama Muka untuk membunuh Arjuna. Muka merubah wujudnya menjadi seekor babi hutan ,
dan mengacaukan hutan di sekitar Arjuna bertapa. Arjuna yang mendengar kegaduhan itu segera keluar
dari guanya dengan membawa senjatanya. Pada saat yang sama, Bathara Siwa juga sudah mendengar
bagaimana Arjuna bertapa, ia kemudian juga turun dalam wujud seorang pemburu dari suku Kirata.

Arjuna melepaskan panahnya untuk membunuh babi hutan yang membuat kerusuhan itu, dan pada
waktu yang bersamaan pemburu Kirata jelmaan Siwa pun melakukan hal yang sama. Kedua anak panah
mereka ternyata menjadi satu dan menewaskan babi hutan jelmaan Muka itu. Terjadilah perselisihan
antara Arjuna dan pemburu dari Kirata itu, siapa yang membunuh Babi hutan itu. Terjadilah perdebatan
yang sengit diantara keduanya dan akhirya mereka berkelahi. Arjuna hampir saja kalah, kemudian ia
memegang kaki lawannya , namun pada saat itu wujud si pemburu lenyap dan Siwa menampakkan diri.

Bathara Siwa bersemayam selaku ardhanariswara “Setengah Pria, setengah Wanita”, di atas bunga
Padma. Dengan penuh rasa hormat dan tulus Arjuna memujanya dengan suatu madah pujian dan yang
mengungkapkan pengakuannya terhadap Siwa yang hadir dalam segala sesuatu. Siwa kemudian
memberikan hadiah kepada Arjuna panah sepucuk panah yang bernama Pasupati. Arjuna juga diberikan
pengetahuan gaib bagaimana mempergunakan panah itu.

Sementara Arjuna sedang berpikir apakah ia sebaiknya kembai ke sanak saudaranya, datanglah dua
aspara (makhluk setengah dewa, setengah manusia) utusan dari kahyangan yang membawa sepucuk
surat dari bathara Indra. Isi dari surat itu, meminta kesediaan Arjuna menghadap untuk membantu para
Dewa untuk membunuh Niwatakawaca. Arjuna menjadi ragu-ragu karena berarti ia akan lebih lama
terpisah dari keluarganya. Namun, akhirnya ia menyetujui, kemudian mereka bertiga pergi ke kahyangan
Bathara Indra.

Sesampainya di Kahyangan, tentu saja Arjuna disambut oleh para bidadari yang tergila-gila melihat
ketampanannya. Bathara Indra kemudian menceritakan keadaan di Kahyangan akibat ulah
Niwatakawaca. Raksasa itu hanya bisa dikalahkan oleh seorang manusia tetapi harus mengetahui titik
lemahnya terlebih dahulu.

Bidadari yang akan mendapat tugas untuk peri ke istana dan mengetahui rahasia raksasa itu adalah
Suprabha. Dia sudah lama menjadi incaran raksasa itu. Arjuna mendapat tugas untuk menemani
Suprabha dalam melakukan misi tersebut. Arjuna menyanggupinya dan kemudian turun ke bumi.
Akhirnya mereka sampai di istana raja raksasa tersebut, disana sedang diadakan persiapan untuk perang
melawan para Dewata. Suprabha awalnya merasa ragu apakah bisa menjalankan tugas yang dibebankan
kepadanya, namun Arjuna memberi semangat kepadanya bhawa ia akan berhasil asal ia
mempergunakan segala rayuan seperti yang ia lakukan ketika menggoda Arjuna saat bertapa.

Suprabha kemudian menuju sebuah sanggar mestika (balai Kristal murni), di tengah-tengah halaman
istana. Sementara Arjuna mengikutinya, namun ia menggunakan aji supaya ia tidak terlihat oleh orang.
Beberapa dayang yang sedang bercengkarama melihat kedatangan Suprabha dan menyambutnya
dengan gembira sambil menanyakan keadaan kahyangan. Beberapa dayang tersebut dulunya juga
berada di istana Indra. Suprabha menceritakan bahwa ia meninggalkan kahyangan atas kemauannya
sendiri, karena ia tahu bahwa itu akan dihancurkan; sebelum ia bersama degan segala barang rampasan
ditawan, ia menyebarang ke Niwatakawaca.

Dua orang dayang menghadap raja dan membawa berita yang memang sudah dinantikannya sekian
lama. Sang raja langsung menuju taman sari dan menimang dengan memangku Suprabha. Suprabha
menolak segala desakan Niwatakawaca yang penuh nafsu birahi dan memohon agar sang raja menunggu
sampai fajar menyingsing.

Suprabha mencoba merayu dengan memuji kesaktian raja yang tak terkalahkan itu, lalu ia bertanya, tapa
seperti apa yang bisa menjadikan ia dianugerahi kesaktian yang luar biasa. Niwatakaca terbujuk oleh
rayuan Suprabha, dan membeberkan rahasianya. Ia mengatakanbahwa ujung lidahnya merupakan
tempat kesaktiannya.

Ketika Arjuna telah mendengar pengakuan Niwatakawaca, ia kemudian meninggalkan persembuyiannya


dan menghancurkan gapura istana. Niwatakawaca terkejut mendengar kegaduhan dahsyat itu, Suprabha
menggunakan saat itu untuk melarikan diri bersama Arjuna.

Menyadari bahwa ia tertipu, meluaplah angkara murka sang raja, ia kemudian memerintahkan
pasukannya agar segera berangkat untuk melawan para Dewa. Kahyangan diliputi rasa gembira karena
Arjuna dan Suprabha bisa kembali dengan selamat terlebih Indra sudah berhasil mengetahui apa
kelemahan dari Raksasa yang membuat onar di kahyangan. Para Dewa kemudian membicarakan taktik
bagaimana untuk memukul mundur musuh, namun hanya Indra dan Arjuna yang tahu senjata apa yang
telah mereka miliki untuk menghancurkan lawan . Bala tentara para dewa, apsara dan gandharwa
menuju ke medan pertempuran di lereng selatan pegunungan Himalaya.

Terjadilah pertempuran sengit, Niwatakawaca terjun ke medan perang dan mengobrak-abrik barisan
para dewa yang dengan rasa malu terpaksa mundur. Arjuna yang berada di belakang barisan tentara
yang mundur, berusaha menarik perhatian Niwatakaca. Arjuna pura-pura hanyut oleh tentara yang lari
terbirit-birit, tetapi busur telah disiapkannya.

Saat raja raksasa itu mulai mengejarnya dan berteriak-teriak dengan penuh amarah, Arjuna menarik
busurnya. Arjuna yang memang dikenal sebagai ahli dalam ilmu memanah, sasarannya tidak meleset
sedikitpun. Anak panah yang dilepaskannya melesat masuk ke mulut raja raksasa itu dan menembus
ujung lidahnya. Ia jatuh tersungkur dan mati.

Pasukan raksasa melarikan diri atau terbunuh, sementar para dewa yang tadinya mundur, kini kembali
menjadi pemenang. Para tentara kahyangan yang tadinya mati dihidupkan lagi dengan air amrta.

Atas jasanya, Arjuna mendapatkan penghargaan dari kahyangan. Selama tujuh hari (menurut
perhitungan kahyangan, sama dengan tujuh bulan di bumi manusiaia akan bersemayam bagaikan
seorang raja di atas singgasana Indra. Selain itu, setelah ia dinobatkan, disusullah pernikahannya dengan
tujuh bidadari. Yang pertama ialah Suprabha, ia mendapat hak pertama, karena ia sudah menempuh
perjalanan yang penuh bahaya. Kemudian yang kedua, adalah Tilottama, dan kelima bidadari yang lain.
Nama bidadari yang lain yang disebutkan adalah Palupy dan Menaka,sementara tiga lainnya tidak
disebutkan. Dalam Serat Mintaraga karya Sunan Paku Buwana III, bidadari yang disebut adalah
Gagarmayang, Supraba, Tilottama, Warsiki dan Warsini. Sedangkan dalam dua ceita yang berjudul
Mintaraga (Mayer,1924:124), disebutkan hanya lima bidadari, yaitu Supraba, Wilotama, Warsiki,
Surendra dan Gagarmayang.

Hari demi hari berlalu, Arjuna mulai gelisah, ia rindu dengan saudara-saudaranya. Ia mengurung diri
dalam sebuah balai di taman dan mencoba menyalurkan perasaannya lewat sebuah syair. Hal ini tidak
luput dari perhatian Menaka dan Tilottama. Dan yang terakhir, ia berdiri di balik pohon dan mendengar
kesulitan Arjuna menggubah baris penutup bait kedua sayairnya. Tilottama lalu menamatkannya dengan
sebuah baris yang lucu.

Setelah genap tujuh hari (tujuh bulan di bumi), Arjuna akhirnya pamit kepada Indra, ia kemudian diantar
kembali ke bumi oleh Matali dengan kereta Sorgawi.