Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Analgesik merupakan obat yang mampu mengurangi rasa sakit dengan
meningkatkan batas ambang rasa sakit. Analgesik digolongkan menjadi dua
kelompok besar, yakni :
1. Analgesik non-narkotika
2. Analgesik narkotika.

Analgesik non narkotika yang umum digunakan adalah asetosal dan parasetamol,
sementara contoh anagesik narkotika adalah morfin dan heroin. Selain itu, terdapat
beberapa analgesik narkotik sintetik seperti meperidin. Sementara itu, antipiretik
adalah obat yang dapat menurunkan demam (suhu tubuh yang tinggi). Pada umumnya
(sekitar 90%) analgesik mempunyai efek antipiretik. Karena alasan inilah, maka
analisis obat analgesik dan antipiretik dijadikan satu. Obat-obat analgesik non-
narkotik juga berguna sebagai obat anti-inflamasi non steroid atau populer dikenal
dengan obat NSAID (non steroid anti-inflammatory drugs).

Analgesik-antipiretik dapat dikelompokkan sebagai turunan-turunan struktur asam


salisilat seperti asetosal, turunan p-aminofenol seperti parasetamol, turunan asam
fenamat seperti asam mefenamat, turunan asam propionat seperti ibuprofen,
ketoprofen dan naproksen, derivat asam fenilasetat seperti antrium diklofenak,
turunan pirazolon seperti rmeloksikam.

 Analisis Obat Golongan Analgesik-antipiretik

Beberapa senyawa yang dikelompokkan sebagai analgesik-antipiretik kadang-


kadang menghadirkan masalah yang sulit bagi para ahli kimia analisis. Masalah yang
sering ditemui, yang terkait dengan analisis kandungan bahan aktif obat, adalah
adanya bahan-bahan tambahan dalam sediaan farmasi. Terlebih lagi dalam satu

1
sediaan obat biasanya terdapat lebih dari satu bahan aktif obat. Berikut akan diuraikan
analisis beberapa obat yang termasuk golongan analgesik-antipiretik (Siswandono,
Kimia Medisinal Jilid II ).

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa itu obat analgetik-antipiretik?
2. Bagaimana cara menganalisis obat analgetik-antipiretik ?

1.3 TUJUAN PENULISAN


1. Mengetahui apa itu obat analgetik-antipiretik
2. Mengetahui bagaimana cara menganalisis obat analgetik-antipiretik

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN ANALGETIK ANTIPIRETIK

Analgesik merupakan obat yang mampu mengurangi rasa sakit dengan


meningkatkan batas ambang rasa sakit, analgetik dibagi dalam dua kelompok besar
yakni:

a) Analgetika narkotik, khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat.


Contoh analgetik narkotika yaitu morfin.
1) Analgetika perifer (non narkotik), yang terdiri dari obat-obat yang
tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Obat-obat ini
mampu meringankan atau menghilangkan rasa nyeri tanpa
mempengaruhi sistem SSP atau menurunkan kesadaran , juga tidak
menimbulkan ketagihan. Kebanyakan zat ini berdaya antipiretis
atau antiradang. Antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan
demam (suhu tubuh yang tinggi). Sedangkan antiinflamasi adalah
senyawa yang dapat mengurangi atau menghilangkan peradangan.
Pada umumnya (sekitar 90%) analgesik mempunyai efek
antipiretik, karena alasan inilah, maka analisis obat analgesik dan
antipiretik dijadikan satu. Analgesik-antipiretik dapat
dikelompokkan menjadi beberapa turunan :
1. Turunan-turunan struktur asam salisilat seperti asetosal,
2. Turunan p-aminofenol seperti parasetamol,
3. Turunan asam fenamat seperti asam mefenamat,
4. Turunan asam propionat seperti ibuprofen, ketoprofen dan naproksen,
derivat asam fenilasetat seperti natrium diklofenak,
5. Turunan pirazolon seperti fenilbutazon dan oksifenbutazon,dan

3
6. Turunan oksikam seperti piroksikam dan meloksikam.

2.2 ANALISIS OBAT ANALGESIK-ANTIPIRETIK

1. Analisis asetosal (asam asetilsalisilat)

Gambar struktur asetosal


1. Spektrofotometri UV
Asetosal dapat ditetapkan secara kuantitatif dan kualitatif pada
daerah ultaviolet, karena asetosal mempunyai kromoform yang
mampu menyerap sinar UV.
2. Metode adisi alkalimetri (untuk senyawa ruah)
Asetosal bersifat asam, sehingga mudah mudah terhidrolisis
3. Bromometri (untuk senyawa ruah)
Merupakan titrasi redoks. Metode bromometri merupan metode
umum untuk semua senyawa fonolik atau senyawa yang
membentuk senyawa fenolik ketika dihidrolisis. Asetosal
memiliki gugus fenol sehingga dapat menggunakan metode ini.
Asetosal perlu dihidrolisis lebih dahulu sebelum dilakukan
brominasi.
4. Metode KCKT
Kadang asetosal terdegradasi menjadi asam salisilat, sehingga
perlu dilakukan pemisahan. Verstraeten, dalam penelitiannya

4
mengemukan bahwa KCKT adalah suatu metode yang dapat
digunakan

2.Analisis Parasetamol

Gambar struktur parasetamol


1. Diazotisasi
Metode analisis parasetamol dalam tablet dengan motede ini
melibatkan hidrolisis parasetamol, supaya dihasilkan amin
aromatis primer, lalu diikuti dengan titrasi menggunakan larutan
baku natrium nitrit dalam suasana asam. Prinsipnya didasarkan
pada reaksi diazotasi yakni reaksi antara amina aromatik primer
dengan asam nitrit dalam suasana asam membentuk garam
diazonium.
2. Titrasi dengan N,N-dibromo dimetilhidantoin
Suatu metode titrimetri yang sederhana dan akurat telah
dikembangkan oleh Kumar dan Letha (1997) untuk analisis
parasetamol, baik untuk parasetamol murni atau parasetamol
dalam sediaan farmasi menggunakan titran N,N- dibromo
dimetilhidantoin (DBH). Parasetamol akan dioksidasi menjadi p-
kuinon (berwarna merah jingga)
3. Spektrofotometri UV

5
Parasetamol dapat ditetapkan kadarnya secara spektrofotometri
UV karena parasetamol mempunyai kromofor yang mampu
menyerap sinar UV. Parasetamol dalam etanol mempunyai
panjang gelombang maksimal 249 nm
4. Metode Kromatografi
Dalam sediaan farmasi, parasetamol biasanya bercampur dengan
bahan obat lain, sehingga membutuhkan teknik pemisahan,
misalnya dengan KLT, KCKT
5. Metode Spektrofluorometri
Metode Spektrofluorometri dengan batas deteksi yang rendah
telah diusulkan untuk penetapan kadar parasetamol. Karena
paraetamol bukan suatu senyawa yang berfluoresens, maka
parasetamol dapat ditetapkan secara tidak langsung dengan
mereaksikannya menggunakan Ce (IV) sebagai agen pengoksidasi
dan mengukur intensitas fluoresensi relatif Ce (III) yang berasal
dari Ce (IV).

3. Analsis Turunan Pirazolon

Obat-obat ini sudah tidak lagi beredar dipasaran, akan tetapi, karena
akan tetapi, karena senyawa-senyawa ini sering digunakan untuk
model penelitian farmakokinetika

1. Metode Gravimetri
Turunan pirazolon dapat membentuk suatu edapan jika direaksikan
dengan cara tertentu, sehingga dapat dihitung beratnya.
2. Metode kompleksometri
Metode ini berdasarkan pada pengendapan aminopirin sebagai
komplek kadmium aminopirin-tiosianat. Lalu dititrasi dengan
EDTA.

6
3. Spektrofotometri UV
Obat golongan ini dapat ditetapkan kadarnya dan juga didentifikasi
secara spektrofotometri UV karena mempunyai kromofor yang
mampu menyerap sinar UV.
4. Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
Analisis antipirin dapt menggubakan KCKT untuk menganalisis
obat ini dalam cairan biologis. Selain itu ada juga metabolit-
metabolit dari obat ini, sehingga diperlukan pemisahan.

4. Analsis Turunana asam fenamat


1. Titrasi bebas air
Metode ini digunakan karena asam fenamat merupakan salah basa
lemah
2. KCKT
Analisis Turunana asam fenamat ini menggunakan KCKT dengan
menggunakan fase diam, fase terbalik.

7
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Analgesik merupakan obat yang mampu mengurangi rasa sakit dengan


meningkatkan batas ambang rasa sakit, sedangkan antipiretik adalah obat yang dapat
menurunkan demam (suhu tubuh yang tinggi). Pada umumnya (sekitar 90%)
analgesik mempunyai efek antipiretik. Karena alasan inilah, maka analisis obat
analgesik dan antipiretik dijadikan satu. Analisis yang dilakukan dapat dilakukan
pada obat dalam bentuk ruahan maupun dalam bentuk sediaan farmasi. Metode
analisis yang digunakan untuk analisis setiap golongan obat dapat berupa metode
konvensional maupun metode modern. Beberapa metode yang digunakan untuk
analisis analgetik-antipiretik :

1. Analisis asetosal dapat dilakukan dengan menggunakan metode :Metode


asidi-alkalimetri, Spektrofotometri UV, Metode kromatografi cair kinerja
tinggi
1. Analisis Parasetamol dapat dilakukan dengan menggunakan metode
Diazotisasi dan Spektrofotometri UV
2. Analsis Turunan Pirazolon dapat dilakukan dengan menggunakan metode
Metode Gravimetri dan Metode spektrofotometri UV’
3. Analsis Turunana asam fenamat dapat dilakukan dengan menggunakan
metode Titrimetri dan Spektrofotometri visible

8
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. Farmakope Indonesia Edisi ke 4. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia. Jakarta

Gandjar, I. G. dan A. Rohman. 2007. Kimia Analisis Farmasi. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar

Rohman Abdul dan sudjadi. 2012. Analsisi Farmasi. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar

Anda mungkin juga menyukai