Anda di halaman 1dari 10

ASUHAN KEPERAWATAN PEMENUHAN KEBUTUHAN CAIRAN

DAN ELEKTROLIT PADA ANAK USIA 0-6 TAHUN DENGAN


GASTROENTERITIS DI RSUD UNGARAN KABUPATEN
SEMARANG

BODY FLUID AND ELECTROLYTES NEEDS NURSING CARE FOR


0-6 YEARS AGE WITH GASTROENTERITIS IN UNGARAN
REGENCY HOSPITAL

Pratama Ady Putra1),


Titin Suheri, SKp, Msc2), Lucia Endang Hartati YK,S.Kp.,MN2)

1) Mahasiswa Program Studi DIII Keperawatan Semarang Poltekkes Kemenkes


Semarang
2) Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Semarang

Jurusan Keperwatan : Poltekkes Kemenkes Semarang


Jl. Tirto Agung ; Pedalangan ; Banyumanik ; Semarang

ABSTRAK

Latar belakang, diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan
konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering (biasanya
tiga kali atau lebih) dalam satu hari. Dari hasil survey di RSUD Ungaran Kabupaten Semarang
pada kasus diare tahun 2015 anak usia 1-4 tahun sebanyak 331 kasus, pada anak usia 5-15 tahun
sebanyak 95 kasus, sedangkan pada tahun 2016, anak dengan usia 1-4 tahun sebanyak 340, pada
anak usia 5-15 tahun sebanyak 116 kasus. Tujuan, untuk mendiskripsikan pengkajian, diagnosa,
intervensi, implementasi, dan evaluasi Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Cairan dan
Elektrolit pada Anak Usia 0-6 Tahun dengan Gastroenteritis di RSUD Ungaran Kabupaten
Semarang pada dua orang pasien anak. Menganalisa dan membandingkan tindakan keperawatan
yang dilakukan pada dua orang pasien anak dengan Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan
Cairan dan Elektrolit pada Anak Usia 0-6 Tahun dengan Gastroenteritis di RSUD Ungaran
Kabupaten Semarang. Metode, yang digunakan dalam karya tulis ilmiah ini adalah study kasus,
yaitu melakukan observasi partisipatif terhadap kasus yang akan dikelola. Hasil, menunjukkan
bahwa adanya perubahan dan pemahaman pada orang tua pasien setelah diberikan tindakan
pengelolaan pemenuhan kebutuhan cairan dan elektolit pada diare. BAB kembali normal, bibir
lembab, tidak ada tanda dan gejala dehidrasi. Kedua klien menunjukkan respon yang sama.
Simpulan, yang dapat disimpulkan bahwa kekurangan cairan dan elektrolit dengan kriretia BAB
kembali normal, bibir lembab, tidak ada tanda dan gejala dehidrasi dapat teratasi. Saran,
mengetahui cairan dan makannan yang dianjurakn pada klien yang mengalami diare, serta
memberikan vitamin penting, mineral, dan karbohidrat yang mudah dicerna (diserap). Makanan
yang baik saat diare antara lain: pisang, beras, sereal, saus apel, apel, the, roti, jelly, yoghurt,
kentang rebus. Minum cairan yang mengandung elektrolit, seperti air putih, kuah kaldu, kuah
sayur bening, jus, atau bisa juga dengan air gula dicampur garam (LGG=larutan gula garam).

Kata Kunci : Diare, cairan, elektolit, dehidrasi, analisis

ABSTRACT

Background, Diarrhea is a condition in which a person defecates with the consistency of


soft or liquid, it can even be water only and the frequency more often (usually three or more times)
in one day. From the results of the survey at RSUD Ungaran, Semarang regency, in the case of
diarrhea in 2015 children 1-4 years old as many as 331 cases, in children aged 5-15 years as many as
95 cases, whereas in 2016, children aged 1-4 years as many as 340, at Children aged 5-15 years as
many as 116 cases. Objectives, To describe the assessment, diagnosis, intervention, implementation,
and evaluation of Nursing Care for Fluid and Electrolyte Needs at 0-6 Years Old Children with
Gastroenteritis at RSUD Ungaran, Semarang District, in two pediatric patients. Analyze and
compare nursing actions performed on two pediatric patients with Nursing Care Fulfillment Needs
of Liquid and Electrolytes in Children 0-6 Years with Gastroenteritis at RSUD Ungaran Semarang
Regency. Methods, Which is used in scientific papers is a case study, namely to conduct
participatory observation of cases to be managed. Result, Shows that there is a change and
understanding in the patient's parents after being given the action of managing the fulfillment of
fluid and electrolyte needs in diarrhea. Chapter back to normal, moist lips, no signs and symptoms
of dehydration. Both clients showed the same response. Conclusion, Which can be concluded that
the deficiency of fluid and electrolytes with Chapter criteria returned to normal, moist lips, no signs
and symptoms of dehydration can be resolved. Suggestion, Knowing the fluids and foods
recommended to clients who have diarrhea, as well as providing essential vitamins, minerals, and
carbohydrates that are easily digested (absorbed). Good foods during diarrhea include: bananas,
rice, cereals, apple sauce, apples, the, bread, jelly, yoghurt, boiled potatoes. Drink fluids containing
electrolytes, such as water, broth sauce, clear vegetable sauce, juice, or it may also be sugar water
mixed with salt (LGG = salt sugar solution).

Keywords: Diarrhea, fluids, electrolytes, dehydration, analysis

PENDAHULUAN
Diare adalah suatu kondisi tahun 2010 – 2015 cenderung mengalami
dimana seseorang buang air besar penurunan, kejadian terendah pada
dengan konsistensi lembek atau cair, tahun 2013 dengan total kasus sebanyak
bahkan dapat berupa air saja dan 38.001, 2014 dengan total kasus
frekuensinya lebih sering (biasanya tiga sebanyak 38.134 pada tahun 2015 total
kali atau lebih) dalam satu hari (DepKes kasus diare sebanyak 39.893 kasus,
RI 2015). dengan jumlah kasus terbanyak pada
Menurut Profil Kesehatan Jateng kelompok umur > 5 tahun sebanyak
(2015), proporsi kasus diare di Jawa 28.986 kasus (72%) dan terendah pada
Tengah tahun 2015 sebesar 67,7 %, kelompok umur < 1 tahun sejumlah
menurun bila dibandingkan proporsi 3.152 kasus (7%). Kasus Diare RSUD
tahun 2014 yaitu 79,8 %. Hal ini Ungaran Kabupaten Semarang tahun
menunjukkan penemuan dan pelaporan 2015 anak usia 1-4 tahun sebanyak 331
masih perlu ditingkatkan. Kasus yang kasus, pada anak usia 5-15 tahun
diketemukan maupun yang diobati di sebanyak 95 kasus, sedangkan pada
layanan pemerintah maupun swasta tahun 2016, anak dengan usia 1-4 tahun
belum semua terlaporkan. Untuk kasus sebanyak 340, pada anak usia 5-15 tahun
berdasarkan gender antara laki-laki dan sebanyak 116 kasus (Rekam Medis
perempuan lebih banyak perempuan, RSUD Ungaran, 2016)
hal ini disebabakan bahwa perempuan Penyakit diare masih
lebih banyak berhubungan dengan merupakan masalah kesehatan serius di
faktor risiko diare, yang penularannya Jawa Tengah, di dukung dengan data
melalui vekal oral, terutama yang menunjukan penurunan pada
berhubungan dengan sarana air bersih, tahun 2015 sebesar 67,7 dibandingkan
cara penyajian makanan dan perilaku tahun 2014 sebesar 79,8 %. Prevalensi
hidup bersih dan sehat. Kota Semarang tahun 2014 dengan total
Menurut Profil Kesehatan kasus sebanyak 38.134 pada tahun 2015
Semarang (2015), Penderita Diare dari total kasus diare sebanyak 39.893 kasus.
Penanganan kasus diare mengalami ke jaringan dengan adekuat. Akibatnya
kenaikan pada 2013 sebesar 42% pada jika tidak segera ditangani bisa
tahun 2014 meningkat menjadi 99%. menyebabkan kematian.
Pelayanan penderita diare tahun 2015 Tubuh tidak bisa lepas dari
sebesar 105% meningkat dibandingkan cairan dan elektrolit karena cairan dan
tahun 2014. Hasil tersebut menunjukkan elektrolit dapat mempertahankan
bahwa kasus diare mengalami kesehatan dan kehidupannya manusia.
penurunan walapun tidak bisa Tubuh membutuhkan jumlah dan
dianggap sebagai kasus yang ringan dan proporsi yang tepat di berbagai jaringan
gejala awal pada anak menjadi cengeng, tubuh. air menempati proporsi yang
gelisah, suhu badan mungkin besar dalam tubuh. air menyusun 75%
meningkat, nafsu makan berkurang. Jika berat badan bayi, 70% berat badan pria
tidak ditangani segera anak dapat dewasa, dan 55% tubuh pria lanjut usia,
mengalami dehidrasi (ringan sedang, 10% dalam tubuh wanita (Iqbal, 2008).
berat, hipotonik, isotonik, atau Pada bayi cairan tubuh yaitu 80% berat
hipertonik), renjatan hipovolemik, badan, pada usia 3 tahun cairan tubuh
hipokalemia, hipoglikemia, intoleransi yaitu 65% berat badan, dan pada usia 15
sekunder akibat kerusakan vili mukosa tahun cairan dalam tubuh yaitu 60%
usus dan defisiensi enzim laktase, berat badan (Sodikin, 2009). Jika tubuh
terjadi kejang pada dehidrasi hipertonik. kekurangan elektrolit akan
Selanjutnya dapat terjadi malnutrisi menyebabkan kelelahan, kram otot dan
energi protein akibat muntah dan diare. kejang, mual, pusing, pingsan, muntah,
(Andra dan Yessie, 2013). mulut kering, denyut jantung lambat,
Hasil penelitian A.R. Yuliana kejang, detak jantung yang tidak
dkk, (2014) pada kasus anak dengan normal, tekanan darah rendah,
dengan diare bisa mengakibatkan kekakuan sendi, yang terberat dapat
terjadinya penurunan kebutuhan cairan mengalami koma, kejang, perhentian
dikarenakan ketika saraf dalam devisi jantung, kematian karena elektrolit
sakrum dan mensarafi separuh distal terdiri dari Ca, Na, K, dan Mg, yang
usus besar, saraf parasimpatis berguna untuk mengembalikan dan
mengeluarkan asetilkolin dan mempertahankan tingkat hidrasi yang
merangsang pelepasan muatan plexus tepat di seluruh tubuh,
mesentrikus. Hal ini akan mempercepat mempertahankan tekanan osmotik, juga
peristaltik (Hiperperistaltik) dan membantu kontraksi otot dan
percampuran makanan sehingga timbul memproduksi serta menyalurkan sinyal
diare. Penanganan yang tepat dalam listrik dari otak ke sel dan sebaliknya,
mengatur keseimbangan cairan pasien mempertahankan suhu tubuh tetap
salah satunya adalah memantau IWL stabil dan tetap dingin dan mencegah
(insensible water loss), intake dan output masalah pencernaan (Andra & Yessie,
pada pasien setiap hari, selain itu 2013).
mengukur dan memantau masukan dan Cara penanganan diare dengan
haluaran cairan setiap harinya. Dengan penggantian cairan dan elektrolit pada
tujuan memantau keseimbangan cairan anak dengan rehidrasi oral, dilakukan
antara yang masuk dengan yang keluar. pada semua pasien yang masih mampu
Akibat kehilangan cairan yang berlebih minum pada diare akut. Rehidrasi oral
tubuh anak mengalami kekurangan terdiri dari 3,5 g Natrium klorida, dan
cairan, dan jika dibiarkan hal ini dapat 2,5 g Natrium Bikarbonat, 1,5 g kalium
mengakibatkan terjadi syok klorida, dan 20 g glukosa per liter air.
hipovolemik, syok hipovolemik Cairan rehidrasi oral dapat dibuat
merupakan kondisi dimana sistem sendiri oleh pasien dengan
kardiovaskuler gagal melakukan perfusi menambahkan ½ sendok teh garam, ½
sendok teh baking soda, dan 2-4 sendok bekerja 24 jam dalam penanganan
makan gula perliter air. Dua pisang atau asuhan keperawatan anak dengan
1 cangkir jus jeruk diberikan untuk masalah diare.
mengganti kalium. Minum cairan Berdasarkan hal-hal tersebut
sebanyak mungkin atau berikan oralit. maka penulis tertarik untuk melakukan
Diberikan hidrasi pada kasus diare penyusunan Karya Tulis Ilmiah dengan
hebat. NaCl atau laktat ringer harus judul “Asuhan Keperawatan
diberikan dengan suplementasi kalium ( Pemenuhan Kebutuhan Cairan dan
Suratun & Lusianah, 2014). Elektrolit pada Anak Usia 0-6 Tahun
Perawat adalah tenaga dengan Gastroenteritis di RSUD
kesehatan yang lebih banyak Ungaran Kabupaten Semarang” dengan
memberikan asuhan keperwatan pada harapan karya ini dapat dipakai untuk
pasien dibandingkan dengan tenaga mengetahui tentang penanganan
kesehatan lain, sehingga perawat keperawatan diare lebih lanjut.
face), artinya peneliti merupakan bagian
dari kelompok yang ditelitinya.
TUJUAN
Sampel dalam penelitian ini
Tujuan dari penelitian ini adalah pasien rawat inap di RSUD
adalah untuk untuk mendiskripsikan Ungaran Kabupaten Semarang, dengan
pengkajian, diagnosa, intervensi, jumlah sampel sebanyak 2 pasien Ruang
implementasi, dan evaluasi Asuhan Melati.
Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Dalam penelitian ini
Cairan dan Elektrolit pada Anak Usia 0- menggunakan teknik sampling. Teknik
6 Tahun dengan Gastroenteritis di sampling yang digunakan dalam
RSUD Ungaran Kabupaten Semarang penelitian ini adalah random dengan
pada dua orang pasien anak. sampel yang memenuhi kriteria inklusi
Menganalisa dan membandingkan sebagai berikut : pasien anak dengan
tindakan keperawatan yang dilakukan diare, dehidrasi ringan-sedang, berusia
pada dua orang pasien anak dengan 0-6 tahun di RSUD Ungaran Kabupaten
Asuhan Keperawatan Pemenuhan Semarang.
Kebutuhan Cairan dan Elektrolit pada Penelitian ini dilakukan
Anak Usia 0-6 Tahun dengan pada bulan Maret 2017 di RSUD
Gastroenteritis di RSUD Ungaran Ungaran Kabupaten Semarang. Dalam
Kabupaten Semarang. penelitian ini peneliti mengambil pasien
di ruang anak sebagai populasi.
Sedangkan sampel dalam penelitian ini
MANFAAT
yaitu 2 pasien gastroenteritis di ruang
Manfaat dari penelitian ini bagi anak, dimana penelitian ini dilakukan di
pelayanan keperawatan yaitu untuk ruang Melati di RSUD Ungaran
menjadi referensi tentang Kabupaten Semarang.
perkembangan ilmu keperawatan,
terutama dalam memberikan asuhan
keperawatan pemenuhan kebutuhan HASIL DAN PEMBAHASAN
cairan dan elektrolit pada anak usia 0-6 Data evaluasi tindakan yang
tahun dengan gastroenteritis di RSUD menunjang persamaan pada kedua klien
Ungaran Kabupaten Semarang. Sebagai yaitu perubahan frekusensi BAB, pada
bahan evaluasi tentang penetapan klien pertama BAB 2 kali, bau khas,
konsep perawatan yang didapatkan berbentuk padat, kuning, sedangkan
selama pendidikan kedalam praktek pada klien kedua balance cairan pada
keperawatan secara nyata. kedua BAB 3 kali, bau khas, lembek,
kuning. Klien menunjukan perubahan
BAHAN DAN METODE balance cairan yang cukup baik, balance
cairan pada klien pertama adalah +65
Penelitian yang digunakan
ml dan balance cairan pada klien kedua
dalam karya tulis ilmiah ini adalah
adalah +24, diberikan terapi RL (Ringer
study kasus yaitu menggunakan
Laktat) untuk membantu memenuhi
pendekatan observasi partisipatif dan
kebutuhan cairan secara parentral, suhu
wawancara, dimana peneliti melakukan
pada kedua klien sudah normal, kedua
observasi yang melibatkan peneliti atau
mata klien terlihat normal, mukosa bibir
observer secara langsung dalam
lembab, turgor kembali dalam 2 detik,
kegiatan pengamatan di lapangan. Jadi,
kedua klien belum ada perubahan berat
peneliti bertindak sebagai observer dan
badan, pada klien pertama 16 kg dan
memperdalam respon responden
pada klien kedua 8,3 kg. Kedua
dengan bercakap-cakap berhadapan
keluarga masih mengingat tanda-tanda
muka dengan orang tersebut (face to
dehidrasi. Sedangkan data evaluasi
tindakan yang menunjang perbedaan elektolit harus mencakup,
pada kedua klien yaitu pada klien meningkatkannya volume cairan dalam
kedua hanya minum susu saja, tubuh ditunjukan dengan adanya
sedangkan pada klien pertama minum kemampuan klien dalam menggantikan
susu dan air putih itulah sebabnya pada cairan dalam tubuh, terpenuhinya
klien pertama intake lebih banyak. Pada kebutuhan cairan ditunjukan dengan
saat dirawat klien kedua sulit untuk tidak adanya tanda kekurangan berat
beristirahat dikarenakan ruang badan dan dehidrasi, mempertahankan
perawatan atau bangsal klien kedua rehidrasi cairan dan elektrolit melalui
dalam satu ruangan ditempati lebih oral atau parenteral ditunjukan dengan
lima pasien lainnya dan pada saat tidur adanya asupan cairan yang adekuat.
klien kedua tidur, keluarga pasien yang
lain kurang menjaga ketenangan karena
jam besuk lebih dari tiga jam.
Sedangkan pada klien pertama hanya
sendirian di bangsal dan tidak begitu
terganggu. Dari hasil tindakan asuhan
keperawatan pada klien kedua KETERBATASAN
masalaah kehilangan volume cairan dan Penlis tidak memberikan hasil
elektolit baru teratasi sebagian, pemeriksaan diagnostic feses pada klien
sedangkan pada klien pertama masalah dikarenakan pihak ruang rawat inap
kekurangan volume cairan dan elektolit tidak melakukan pemeriksaan
sudah teratasi semua sesuai dengan diagnostic pada feses klien. Tindakan
kriteria hasil intake seimbang dengan yang kurang dapat terlaksana dengan
output, tanda-tanda vital dalam batas baik yaitu belum bisa memberikan
normal (Nadi: 80-90 x/mnt, TD: 80- lingkungan yang tenang.
100/60 mmHg, Suhu: 36,6oC-37,2oC, RR:
20-30 x/mnt), membran mukosa
lembab, tidak ada tanda dan gejala KESIMPULAN
dehidrasi, berat badan tidak semakin Pada evalusasi dapat
menurun. Setelah dilakukan dilakukan disimpulkan jika pada klien pertama
intervensi kedua keluarga mulai masalah kekurangan cairan dan
mengerti tentang hidup sehat dan bersih elektrolit dapat teratasi dan pertahankan
khususnya kepada keluarga klien kedua intervensi sedangkan pada klien kedua
yang kurang paham dan jarang masalah kekurangan cairan dan
melakukan pemeriksaan kesehatan, elektrolit hanya teratasi sebagian dan
kedua keluarga mulai mengajari cara lanjutkan intervensi. Intervensi yang
cuci tangan kepada anaknya dan cara dilanjukan yaitu monitor dan mencatat
hidup sehat sejak anak usia dini. Kedua masukan dan pengeluaran cairan :urin,
keluarga masih mengingat tanda-tanda feses (jumlah, konsistensi dan warna),
dehidrasi. Dapat disimpulkan masalaah observasi tanda-tanda vital, observasi
kehilangan volume cairan dan elektrolit adanya membran mukosa, kering,
pada klien pertama teratasi sesuai penurunan turgor kulit, ukur berat
dengan kriteria hasil dan pertahankan badan (BB) setiap hari, berikan cairan
intervensi, sedangkan pada klien kedua yang disukai anak dan beri
hanya teratasi sebagian dan pada klien minum/cairan per oral, lakukan
kedua lanjutkan intervensi untuk kerjasama dengan keluarga untuk
memperoleh hasil sesuai kriteria hasil. memantau dan memberikan minuman
Sesuai Menurut pendapat Taufan dan makana secara oral pada klien.
Nugroho (2013), hasil dari tindakan
evaluasi pada kekurangan cairan dan
SARAN Mubarak, Wahid Iqbal. 2008. Pemenuhan
Untuk memberitahukan pada Kebutuhan Cairan dan elektrolit.
para keluarga untuk mengetahui cairan Jakarta: EGC
dan makanan yang dianjurakn pada Nugroho, Taufan. (2011). Asuhan
klien yang mengalami diare, serta Keperawatan Maternitas, Anak,
memberikan vitamin penting, mineral, dan Penyakit Dalam. Yojyakarta:
dan karbohidrat yang mudah dicerna Nuha Medika.
(diserap). Makanan yang baik saat diare Nursalam. (2015). Metodologi Penelitian
antara lain: pisang, beras, sereal, saus Ilmu Keperawatan : Pendekatan
apel, apel, the, roti, jelly, yoghurt, Praktis. Jakarta: Salemba
kentang rebus. Minum cairan yang Medika.
mengandung elektrolit, seperti air putih, Padila. (2013). Asuahan Keperawatan
kuah kaldu, kuah sayur bening, jus, atau Penyakit Dalam. Yojyakarta:
bisa juga dengan air gula dicampur Nuha Medika.
garam (LGG=larutan gula garam). Potter, P.A. & Perry, A.G. (2006). Buku
Ajar Fundamental Keperawatan:
Konsep, Proses, Dan Praktik Edisi
DAFTAR PUSTAKA 4, Volume 2. Terjemahan oleh
Renata Komalasari, dkk. 2006.
Arief ZR & Sari, W. K. (2009). Neonatus Jakarta: EGC.
dan Keperawatan Anak. Rekam Medik Rumah Sakit Umum
Yojyakarta: Nuha Medika. Daerah Ungaran. (2016). Data
Departemen Kesehatan RI. (2015). Lima Angka Kejadian dan Kematian
Langkah Tuntaskan Diare. Jakarta. Gastroenteritis di Rumah Sakit
Departemen Kesehatan RI. Umum Daerah Ungaran 2015-
Dinas Kesehatan Jawa Tengah. (2015). 2016. Semarang: Rekam Medik.
Profil kesehatan Provinsi Jawa Riyadi, Sujono. (2014). Buku Ajar
Tengah tahun 2015. Semarang: Keperawatan Anak. Yojyakarta:
Dinas Kesehatan. Pustaka Pelajar.
Dinas Kesehatan Kota Semarang. (2015). Sodikin. (2012). Keperawatan Anak
Profil kesehatan Dinkes Kota Gangguan Pencernaan. Jakarta:
Semarang tahun 2015. Semarang: Kedokteran EGC
Dinas Kesehatan. Sudarti. (2010). Kelainan dan Penyakit
Diyono & Mulyanti, Sri. (2013). pada Bayi dan Anak. Yojyakarta:
Keperawatan Medikal Bedah Sistem Nuha Medika.
Pencernaan. Jakarta: Kencana. Sugiyono (2013). Metode Penelitian
Herdman, T. H. & Kamitsuru, S. (2015). Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Aplikasi asuhan keperawatan (Online),
berdasarkan diagnosa medis & (http://rayendar.blogspot.co.id
NANDA (North American /2015/06/metode-penelitian-
Nursing Diagnosis Assosiation) – menurut-sugiyono-2013.html
NIC edisi keenam & NOC edisi diakses tanggal 15 November
kelima. Jakarta: EGC 2016).
Kemenkes RI. (2011). Buku Saku Petugas Sugiyono. (2009). Metode Penelitian
Kesehatan. Jakarta: Departemen Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Kesehatan RI. Bandung: CV Alfabeta.
Kementerian Kesehatan Republik Suratun & Lusianah. (2010). Asuhan
Indonesia. (2015). Buku Bagan Keperawatan Klien Gangguan
Manajemen Terpadu Balita Sakit Sistem Gastrointestinal. Jakarta:
(MTBS). Jakarta: Kementerian Trans Info Media.
Kesehatan Republik Indonesia. Suryana. (2010). Metode Penelitian Model
Praktis Penelitian Kuantitaif Dan
Kualitatif, (Online),
(http://file.upi.edu/Direktori/
FPEB/PRODI._MANAJEMEN_
FPEB/196006021986011-
SURYANA/FILE__7.pdf
diakses tanggal 11 November
2016).
Wijaya, Andra. S. & Yessie, Mariza. P.
(2013). Keperawatan Medikal
Bedah (Keperawatn Dewasa).
Yojyakarta: Nuha Medika.
Wulandari, Desi & Meira Erawati.
(2016). Buku Ajar Keperawatan
Anak. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.