Anda di halaman 1dari 59

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan proses

pembudayaan yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi

baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga

dengan maksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju ke

arah keluhuran hidup kemanusiaan.

Pendidikan merupakan suatu unsur yang tidak dapat dipisahkan dari

diri manusia, mulai dari kandungan sampai beranjak dewasa kemudian tua.

Adapun pendidikan yaitu: menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada

anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat

dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya (Majelis

Luhur Tamansiswa, 2013: 20).

Manusia mengalami proses pendidikan yang didapatkan dari orang tua,

masyarakat dan lingkungannya. Manusia adalah makhluk yang tumbuh dan

berkembang. Ia ingin mencapai suatu kehidupan yang optimal, kehidupan

yang lebih baik secara optimal. Selama manusia berusaha untuk

meningkatkan kehidupannya, baik dalam meningkatkan dan mengembangkan

kepribadiannya serta kemampuan dan keterampilannya, secara sadar atau

tidak sadar, maka selama itulah pendidikan masih terus berjalan.


Pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan

buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi

hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat (Dewantara II ,

1994: 67). Dengan demikian, pendidikan itu sifatnya hakiki bagi manusia

sepanjang peradabannya seiring perubahan jaman dan berkaitan dengan usaha

manusia untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga manusia tidak

tergantung kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.

Pendidikan nasional menurut paham Taman Siswa ialah pendidikan

yang beralaskan garis hidup dari bangsanya (cultereel-national) dan di

tujukan untuk keperluan perikehidupan (maatschappelijk) yang dapat

mengangkat derajat Negara dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama-sama

dengan bangsa lain untuk kemuliaan segenap bangsa di seluruh dunia (Majelis

Luhur Tamansiswa, 2013: 23).

Menurut Ki Hajar Dewantara (2004: 15) manusia memiliki daya jiwa

yaitu cipta (kognitif), rasa (afektif), dan karsa (psikomotorik). Dalam

kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari 3 hal yaitu Cipta, Rasa dan Karsa.

Cipta adalah kesadaran manusia untuk menyadari adanya hidup itu sendiri.

Daya cipta merupaka anugerah besar yang diberikan kepada manusia. Dengan

adanya unsur Cipta, manusia bisa menyadari adanya Sang Pencipta.

Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya

secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitik beratkan pada satu

daya saja akan menghasilkan ketidak utuhan perkembangan sebagai


manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada

aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari

masyarakatnya. Dan ternyata pendidikan sampai sekarang ini hanya

menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang memperhatikan

pengembangan olah rasa dan karsa. Jika berlanjut terus akan menjadikan

manusia kurang humanis atau manusiawi.

Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 pasal 1

ayat 1 (Kemendiknas, 2007:3) “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana

untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta

didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan

spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak

mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan

Negara”. Menurut UU nomor 20 tahun 2003 pasal 3, pendidikan nasional

berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta membentuk watak serta

peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan

bangsa, dan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi

manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak

mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang

demokratis serta bertanggung jawab.

Diperlukan sistem pendidikan yang baik sehingga pendidikan nasional

dapat berfungsi dengan sebagai mana mestinya. Pemerintah telah melakukan


usaha-usaha dalam rangka membangun sistem pendidikan yang baik tersebut.

Salah satunya ialah dengan pembaruan kurikulum.

Menurut Permendikbud nomor 22 tahun 2016, setiap pendidik pada satuan

pendidikan berwajiban menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)

secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif,

inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk

berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,

kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik serta

psikologis peserta didik. Berdasarkan Permendikbud nomor 22 tahun 2016,

pendidik wajib membuat perencanaan pembelajaran. Pembelajaran yang baik

dapat terwujud apabila pendidik telah merencanakan pembelajaran tersebut

dengan sebaik mungkin. Untuk mewujudkan pembelajaran yang baik dibutuhkan

perangkat pembelajaran yang baik pula sehingga tujuan dari pembelajaran

tersebut dapat terwujud. Terdapat banyak mata pelajaran yang dipelajari di

sekolah, yang mana telah diatur sedemikian rupa oleh pemerintah untuk

mewujudkan fungsi dari pendidikan nasional. Salah satu upaya untuk

meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ialah dengan melakukan perbaikan

proses belajar mengajar. Peningkatan hasil belajar dan motivasi belajar

khususnya di SMK tidak akan terjadi tanpa adanya kerjasama dari berbagai

pihak. Proses belajar mengajar dapat berhasil sesuai dengan harapan karena

adanya faktor yang saling berkaitan antara satu sama lain.


Hasil belajar dapat dipengaruhi oleh berbagai hal. Secara umum Hasil

belajar dipengaruhi 2 hal faktor tersebut akan saya uraikan dibawah ini, yaitu:

Faktor internal adalah aspek fisiologis mencakup makanan/minuman bergizi,

istirahat, olah raga. Aspek psikologis ini meliputi : inteligensi, sikap, bakat,

minat, motivasi dan kepribadian. Faktor eksternal adalah lingkungan sosial,

meliputi : teman, guru, keluarga dan masyarakat. Lingkungan non-sosial,

meliputi : kondisi rumah, sekolah, peralatan, alam (cuaca). Non-sosial seperti

halnya kondisi rumah (secara fisik), apakah rapi, bersih, aman, terkendali dari

gangguan yang menurunkan hasil belajar.

Seorang guru, guru dituntut memiliki kemampuan untuk

menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa dengan baik. Seorang guru

juga perlu mendapatkan pengetahuan tentang metode dan media pembelajaran

yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar. Ada beberapa

persyaratan atau aspek-aspek yang harus dimiliki seorang guru diantaranya

seperti aspek kognitif, afektif dan juga psikomotorik. Aspek-aspek inilah yang

nantinya akan membawa siswa kedalam proses pembelajaran yang ideal.

Pengajaran harus bersifat kebangsaan, kalau pengajaran bagi anak-anak

tidak berdasarkan kenasionalan, anak-anak tak mungkin mempunyai rasa cita

bangsa dan makin lama terpisah dari bangsanya, kemudian barangkali

menjadi lawan kita, pengajaran nasional adalah hak dan kewajiban kita (Ki

Hajar Dewantara, 1928)


Hakikatnya pembelajaran yang ideal adalah proses belajar mengajar

yang bukan hanya terfokus kepada hasil yang dicapai oleh siswa, namun

bagaimana proses pembelajaran mampu memberikan pemahaman yang baik,

kecerdasan, ketekunan, kesempatan dan mutu serta dapat memberikan

perubahan perilaku dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka.

Menurut Sardiman (2011:99) pembelajaran dikatakan berhasil ditunjang

dengan siswa yang beraktifitas, berbuat dan aktif karena dengan keaktifan

siswa akan memotivasi siswa lain dalam belajar.

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 25 Februari 2017 di SMK

Nasional Berbah menunjukkan hasil belajar siswa masih rendah. Dalam

proses pembelajaran kelas X teknik pemesinan dalam mata pelajaran

teknologi mekanik guru masih menggunakan metode ceramah, terlihat dari

partisipasi belajar siswa didalam kelas yang cepat bosan, suka berbicara

sendiri saat guru sedang menerangkan pelajaran dan cenderung hanya

menerima materi pelajaran. Selain itu karena motivasi belajar yang rendah

nilai ulangan harian mata pelajaran teknologi mekanik mendapatkan nilai

kurang dari kriteria ketuntasan minimal (KKM). Dari 30 siswa kelas X TP ada

20 siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM.

Menurut Sardiman (2012:83) ada beberapa ciri-ciri siswa termotivasi

yaitu: tekun dalam menghadapi tugas, ulet dalam menghadapi kesulitan, siswa

menunjukan minat terhadap bermacam-macam masalah, siswa lebih senang

bekerja mandiri, siswa tidak cepat bosan dalam mengerjakan tugas-tugas,


siswa dapat mempertahankan pendapatnya, siswa tidak mudah melepas hal

yang diyakini itu dan siswa senang memecahkan masalah atau soal-soal.

Siswa yang memiliki motivasi akan aktif dalam mengikuti kegiatan

pembelajaran dan menjadikan hasil belajarnya tinggi. Hal ini sependapat

dengan Winataputra (2007:10), yang menyatakan bahwa hasil belajar

merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai siswa dimana setiap kegiatan

belajar dapat menimbulkan suatu perubahan yang khas. Dalam hal ini belajar

meliputi keterampilan proses, keaktifan, motivasi juga prestasi belajar. Hasil

belajar dikatakan baik jika sudah memenuhi kriteria ketuntasan minimum

(KKM).

SMK Nasional Berbah memiliki program keahlian Teknik Pemesinan

(TP). Didalam kompetensi keahlian Teknik Pemesinan terdapat beberapa mata

pelajaran, salah satunya yaitu Teknologi Mekanik yang memiliki kriteria

ketuntasan minimal (KKM) 75.

Oleh karena itu maka harus ada metode dan media pembelajaran yang

lebih bervariasi di SMK Nasional Berbah. Ada berbagai macam metode

pembelajaran yang bisa diterapkan atau dikembangkan di sekolah tersebut

diantaranya metode demonstrasi. Metode demonstrasi pada dasarnya

memperlihatkan kepada siswa tentang suatu proses. Sesuai dengan kata

asalnya ”to demonstrate” dalam bahasa Inggris yangberarti memperlihatkan

atau mempertunjukkan. Sesuatu yang diperlihatkan di sini adalah obyek yang

bergerak atau suatu proses.


Metode demonstrasi adalah cara mengajar dimana instruktur atau tim

guru menunjukan, memperlihatkan suatu proses (Roestiyah, 2001:83).

Dengan adanya metode demonstrasi diharapkan siswa dapat menggunakan

teknik 3 N (Niteni, Nirokake dan Nambahi) dari Ki Hajar Dewantara yaitu

niteni berarti memperhatikan, mengamati, menyimak. Nirokake berarti

meniru, sedangkan nambahi berarti menambahkan menjadi lebih banyak

sesuai dengan yang diperlukan. Melalui niteni siswa memperhatikan dan

mengamati pembelajaran dengan metode demonstrasi yang disampaikan guru

sehingga paham. Melalui niroke, siswa berusaha meniru apa yang sebelumnya

diperhatikan. Setelah itu nambahi, siswa berusaha untuk menambah

pengetahuan yang diperolehnya.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa

perubahan yang sangat signifikan terhadap berbagai dimensi kehidupan

manusia, baik dalam ekonomi, sosial, budaya maupun pendidikan. Oleh

karena itu agar pendidikan tidak tertinggal dari perkembangan IPTEK (ilmu

pengetahuan dan teknoligi) tersebut perlu adanya penyesuaian–penyesuaian,

terutama sekali yang berkaitan dengan faktor–faktor pengajaran di sekolah.

“Salah satu faktor tersebut adalah guru. Guru merupakan komponen

pengajaran yang memegang peranan penting dan utama, karena keberhasilan

proses belajar mengajar sangat di tentukan oleh faktor guru” (Asnawir dan

Usman, 2002: 1) terutama dalam penggunaan media pembelajaran.


Penggunaan media pada dasarnya, kemajuan teknologi dan

pengetahuan sangat berpengaruh terhadap penggunaan media pendidikan dan

pengajaran. Begitu juga dengan keberadaan sistem pendidikan yang baru juga

menurut faktor dan kondisi yang baru pula. Disamping itu guru hendaknya,

dapat menggunakan peralatan yang lebih ekonomis, efisien serta tidak

menolak penggunaan media yang lebih modern sesuai dengan pekembangan

zaman. Walaupun demikian, semuanya tergantung dari kesiapan tenaga

pendidik dalam menguasai penggunaan media pendidikan dan pengajaran di

sekolah untuk pembelajaran siswa secara optimal sesuai dengan tujuan

pendidikan dan pengajaran.

Menurut Hamalik sebagaimana dikutip oleh Azhar Arsyad bahwa:

“Pemakaian media pendidikan dalam proses belajar mengajar dapat

membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan

rangsang kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh–pengaruh

psikologis terhadap siswa” (Sudirman, 1990: 11-12). Proses belajar mengajar

pada hakekatnya adalah “proses komunikasi yaitu proses penyampaian pesan

dan sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan. Pesan,

sumber pesan, saluran atau media dan penerimaan pesan adalah komponen

proses komunikasi”. Pesan yang akan di komunikasikan adalah pesan yang

ada dalam kurikulum, sumber pesanya bisa guru, siswa, orang lain ataupaun

penulis buku dan prosedur media. Saluranya media pendidikan dan

penerimaan pesannya adalah siswa atau juga guru.


Menurut Usman (2002: 46), keunggulan dari metode demonstrasi

adalah perhatian siswa akan dapat terpusat sepenuhnya pada pokok bahasan

yang akan didemonstrasikan, memberikan pengalaman praktis yang dapat

membentuk ingatan yang kuat dan keterampilan dalam berbuat, meghindarkan

kesalahan siswa dalam mengambil suatu kesimpulan, karena siswa mengamati

secara langsung jalannya demonstrasi yang dilakukan.

Media audio visual merupakan salah satu jenis media pembelajaran

yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Asyhar (2011: 45)

mendefinisikan bahwa media audio visual adalah jenis media yang digunakan

dalam kegiatan pembelajaran dengan melibatkan pendengaran dan

penglihatan sekaligus dalam satu proses atau kegiatan. Pesan dan informasi

yang dapat disalurkan melalui media ini dapat berupa pesan verbal dan

nonverbal yang mengandalkan baik penglihatan maupun pendengaran.

Beberapa contoh media audio visual adalah film, video, program TV dan lain-

lain. Media audio visual merupakan media pendidikan modern yang sesuai

dengan perkembangan suatu zaman (kemajuan ilmu pengetahuan dan

teknologi). Dengan menggunakan metode dan media ini diharapkan mampu

meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan nilai

pada mata pelajaran Teknologi Mekanik. Tetapi hal ini juga harus diimbangi

dengan ketersediaanya bahan ajar untuk didemonstrasikan.

Dari uraian diatas, penggunaan metode demonstrasi dan media audio

visual diyakini bisa meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa di


bandingkan dengan metode dan media lama yang di gunakan di SMK

Nasional Berbah yaitu metode ceramah dan media kovensional. Sehingga

peneliti akan mengujicobakan dalam penelitian tindakan kelas yang berjudul

”Penerapan Metode Demonstrasi dan Media Audio Visual

UntukMeningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas X Teknik

Pemesinan SMK Nasional Berbah dalam Mata Pelajaran Teknologi Mekanik.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang di kemukakan, permasalahan

secara garis besar diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Proses belajar mengajar masih menggunakan metode ceramah yang

membuat siswa cenderung pasif dalam prosesnya.

2. proses pembelajaran masih menggunakan media konvensional yang

kurang update yang membuat siswa cenderung bosan dalam mengikuti

proses pembelajaran.

3. Tersediannya alat media audio visual yang belum di manfaatkan secara

maksimal oleh guru selama proses belajar mengajar.

4. Siswa mengalami kesulitan dalam menangkap materi yang diajarkan guru

sehingga siswa kurang termotivasi untuk menggikuti pembelajaran.

5. belum maksimalnya hasil belajar siswa hal ini dapat di lihat dari hasil tes

yang menyatakan rata-rata nilai siswa masih di bawah 75, yang mana nilai

75 merupakan Kreteria Kentutasan Minimal (KKM)


C. Pembatasan Masalah

Batasan masalah dalam penelitian ini bertujuan untuk memfokuskan

suatu permasalahan yang akan diteliti yaitu pada penggunaan metode

pembelajaran demonstrasi dan media audio visual untuk meningkatkan

prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran teknologi mekanik. Pembatasan

masalah ini dilakukan agar penelitian yang dilakukan tidak meluas.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada identifikasi masalah di atas, maka perumusan

masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah penerapan metode demontrasi dan media audio visual dapat

meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran teknologi

mekanik?

2. Apakah penerapan metode demonstrasi dan media audio visual dapat

meningkat hasil belajar pada mata pelajaran teknologi mekanik?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini

adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui hasil penerapan metode demonstrasi dan media audio

visual pada mata pelajaran teknologi mekanik.


2. Untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam mata

pelajaran teknologi mekanik dengan menggunakan metode demonstrasi

dan media audio visual.

F. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka manfaat penelitian ini

adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Secara Teoritis

Hasil penelitian ini dapat memberikan nuansa baru bagi pendidikan bahwa

pembelajaran harus memberikan perubahan baru bagi siswa dengan cara

melakukan, mengalami, dan mengkomunikasikan.

2. Manfaat Secara Praktis

a. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dalam pembelajaran

teknologi mekanik khususnya di SMK Nasional Berbah.

b. Bagi Sekolah

Dengan adanya penelitian ini, sekolah dapat mengembangkan

pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi dan media

audio visual untuk meningkatkan hasil belajar siswa.


c. Bagi Guru

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memotivasi guru untuk

lebih baik lagi dalam penggunaan metode dan media pembelajarannya

terutama penggunaan metode demonstrasi dan media audio visual.

d. Bagi Siswa

Diharapkan dapat memotivasi siswa dalam menumbuhkan minat

belajar teknik pemesinan, khususnya mata pelajaran teknologi

mekanik. Dan jika minat belajar siswa tinggi maka diharapkan hasil

belajarnya akan lebih baik lagi.


BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Landasan Teori

a) Motivasi Belajar

Kata “motif” diartikan sebagai daya upaya yang mendorong

seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai

daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan

aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif

dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Berawal

dari kata “motif” itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya

penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat

tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat

dirasakan/mendesak. (Sardiman, 2014:73).

Menurut Uno (2013:23), motivasi belajar adalah dorongan

internal dan external pada diri masing-masing siswa yang sedang

belajar untuk membuat perubahan tingkahlaku pada umumnya dengan

menggunakan indikator atau unsur yang mendukung. Motivasi juga

memiliki peranan penting dalam proses belajar karena motivasi

merupakan tenaga yang menggerakan dan mengarahkan kegiatan

siswa untuk belajar agar prestasi belajar siswa baik.


Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi

adalah suatu pendorong, perangsang dan juga sebagai pengarah

seseorang untuk mencapai tujuan yang di inginkan. Motivasi dalam

proses pembelajaran sangat dibutuhkan untuk terjadinya percepatan

dalam mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran secara khusus.

b) Hasil Belajar

1. pengertian hasil belajar

Masalah belajar adalah masalah bagi setiap manusia, dengan

belajar manusia memperoleh keterampilan, kemampuan sehingga

terbentuklah sikap dan bertambahlah ilmu pengetahuan. Jadi hasil

belajar itu adalah suatu hasil nyata yang dicapai oleh siswa dalam

usaha menguasai kecakapan jasmani dan rohani di sekolah yang

diwujudkan dalam bentuk raport pada setiap semester.

Untuk mengetahui perkembangan sampai di mana hasil yang

telah dicapai oleh seseorang dalam belajar, maka harus dilakukan

evaluasi. Untuk menentukan kemajuan yang dicapai maka harus

ada kriteria (patokan) yang mengacu pada tujuan yang telah

ditentukan sehingga dapat diketahui seberapa besar pengaruh

strategi belajar mengajar terhadap keberhasilan belajar siswa.

Hasil belajar siswa menurut W. Winkel (dalam buku Psikologi

Pengajaran 1989:82) adalah keberhasilan yang dicapai oleh


siswa, yakni prestasi belajar siswa di sekolah yang mewujudkan

dalam bentuk angka.

Menurut Winarno Surakhmad (dalam buku, Interaksi Belajar

Mengajar, Bandung: Jemmars, 1980:25) hasil belajar siswa bagi

kebanyakan orang berarti ulangan, ujian atau tes. Maksud ulangan

tersebut ialah untuk memperoleh suatu indek dalam menentukan

keberhasilan siswa.

Dari definisi di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa

hasil belajar adalah prestasi belajar yang dicapai siswa dalam

proses kegiatan belajar mengajar dengan membawa suatu

perubahan dan pembentukan tingkah laku seseorang. Untuk

menyatakan bahwa suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil,

setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan

filsafatnya. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita

berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah

disempurnakan, antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar

tentang suatu bahan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila

tujuan pembelajaran khususnya dapat dicapai.

Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran

khusus, guru perlu mengadakan tes formatif pada setiap

menyajikan suatu bahasan kepada siswa. Penilaian formatif ini

untuk mengetahui sejauh mana siswa telah menguasai tujuan


pembelajaran khusus yang ingin dicapai. Fungsi penelitian ini

adalah untuk memberikan umpan balik pada guru dalam rangka

memperbaiki proses belajar mengajar dan melaksanakan program

remedial bagi siswa yang belum berhasil. Karena itulah, suatu

proses belajar mengajar dinyatakan berhasil apabila hasilnya

memenuhi tujuan pembelajaran khusus dari bahan tersebut.

2. Indikator Hasil Belajar Siswa

Yang menjadi indikator utama hasil belajar siswa adalah

sebagai berikut:

a) Ketercapaian Daya Serap terhadap bahan pembelajaran

yang diajarkan, baik secara individual maupun kelompok.

Pengukuran ketercapaian daya serap ini biasanya

dilakukan dengan penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal

(KKM)

b) Perilaku yang digariskan dalam tujuan pembelajaran telah

dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun

kelompok.

Namun demikian, menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan

Zain (dalam buku Strategi Belajar Mengajar 2002:120) indikator

yang banyak dipakai sebagai tolak ukur keberhasilan adalah daya

serap.
3. Penilaian Hasil Belajar

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (hal 120-

121) mengungkapkan, bahwa untuk mengukur dan mengevaluasi

hasil belajar siswa tersebut dapat dilakukan melalui tes prestasi

belajar. Berdasarkan tujuan dan ruang lingkunya, tes prestasi

belajar dapat digolongkan ke dalam jenis penilaian, sebagai

berikut:

a) Tes Formatif, penilaian ini dapat mengukur satu atau beberapa

pokok bahasan tertentu dan tujuan untuk memperoleh gambaran

tentang daya serap siswa terhadap pokok bahasan tersebut.

Hasil tes ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar

mengajar dalam waktu tertentu.

b) Tes Subsumatif, tes ini meliputi sejumlah bahan pengajaran

tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu. Tujuannya

adalah untuk memperoleh gambaran daya serap siswa untuk

meningkatkan tingkat prestasi belajar atau hasil belajar siswa.

Hasil tes subsumatif ini dimanfaatkan untuk memperbaiki

proses belajar mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan

nilai rapor.

c) Tes Sumatif, tes ini diadakan untuk mengukur daya serap siswa

terhadap bahan pokok-pokok bahasan yang telah diajarkan

selama satu semester, satu atau dua bahan pelajaran. Tujuannya


adalah untuk menetapkan tarap atau tingkat keberhasilan belajar

siswa dalam satu periode belajar tertentu. Hasil dari tes sumatif

ini dimanfaatkan untuk kenaikan kelas, menyusun peringkat

(rangking) atau sebagai ukuran mutu sekolah.

4. Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi adalah cara mengajar dimana instruktur

atau tim guru menunjukan, memperlihatkan suatu proses

(Roestiyah, 2001:83). Menurut Sanjaya (2010:152) metode

demonstrasi adalah metode penyajian pembelajaran dengan

memperagakan dan mempertunjukan kepada siswa tentang suatu

proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya

sekedar tiruan. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa

metode demonstrasi adalah metode pembelajaran dimana seorang

guru memperagakan, mempertunjukan dan memperlihatkan

kepada siswa tentang materi/benda yang sedang diajarkan.

Menurut Usman (2002:46), keunggulan dari metode

demonstrasi adalah perhatian siswa akan terpusat sepenuhnya

kepada pokok bahasa yang akan di demonstrasikan, memberi

pengalaman praktis yang dapat membentuk ingatan yang kuat dan

keterampilan yang berbuat, menghindarkan kesalahan siswa

dalam mengambil suatu kesimpulan, karena siswa mengamati

secara langsung jalan demonstrasi yang di lakukan.


Kelebihan metode demonstrasi

1) Siswa dapat dipusatkan kepada hal-hal yang di anggap

penting oleh pengajar sehingga siswa dapat menangkap hal-

hal yang penting.

2) Memerlukan tenaga yang sedikit.

3) Dapat mengurangi kesalahan-kesalahan bila dibandingkan

dengan hanya membaca atau mendengarkan guru.

4) Bila siswa turut aktif melakukan demonstrasi, maka siswa

akan memperoleh pengalaman praktek untuk mengembangkan

kecakapan dan keterampilan.

5) Beberapa masalah yang menimbulkan pertanyaan siswa akan

dapat di jawab waktu mengamati proses demonstrasi.

Guna memperlancar pembelajaran seorang guru dituntut untuk

bisa menjadi demonstrator atau seseorang yang bisa menjelaskan

tentang materi/benda yang sedang di pelajari. Penggunaan metode

demonstrasi ini untuk mempermudah siswa dalam menangkap

materi pelajaran. Dalam prosesnya guru juga harus tau apa saja

yang akan didemonstrasikan kepada siswa didepan. Menurut

Sanjaya (2010: 152-154), langkah-langkah penggunaan metode

demonstrasi dapat diurikan sebagai berikut:


1) Tahap Persiapan

Pada tahap persiapan ada beberapa hal yang harus dilakukan.

a) Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah

proses demonstrasi berakhir.

b) Persiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang

akan dilakukan.

c) Lakukan uji coba demonstrasi.

2) Tahap Pelaksanaan

a) Langkah pembukaan.

Sebelum demonstrasi dilakukan ada beberapa hal yang

harus diperhatikan, diantaranya:Aturlah tempat duduk

yang memungkinkan semua siswa dapat memperhatikan

dengan jelas apa yang didemonstrasikan, kemukakan

tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa, kemukakan

tugas-tugas apa yang harus dilakukan oleh siswa, misalnya

siswa ditugaskan untuk mencatat hal-hal yang dianggap

penting dari pelaksanaan demonstrasi.

b) Langkah pelaksanaan demonstrasi

Mulailah demonstrasi dengan kegiatan kegiatan yang

merangsang siswa untuk berpikir, misalnya melalui

pertanyaan, pertanyaan yang mengandung teka-teki

sehingga mendorong siswa untuk tertarik memperhatikan


demonstrasi, ciptakan suasana yang menyejukkan dengan

menghindari suasana yang menegangkan, yakinkan bahwa

semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan

memerhatikan reaksi seluruh siswa, berikan kesempatan

kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut

sesuai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi itu.

c) Langkah mengakhiri demonstrasi

Apabila demonstrasi selesai dilakukan, proses

pembelajaran perlu diakhiri dengan memberikan tugas-

tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan

demonstrasi dan proses pencapaian tujuan

pembelajaran,dan juga dapat diakhiri dengan kegiatan

diskusi. Dalam diskusi ini dapat diberikan atau diminta

komentar, kritik, saran, atau penjelasan yang berhubungan

dengan demonstrasi yang dilakukan. Diskusi ini penting,

terutama jika demonstrasi dilakukan oleh siswa. Hal ini

diperlukan untuk meyakinkan apakah siswa memahami

proses demonstrasi itu atau tidak. Selain memberikan

tugas yang relevan, ada baiknya guru dan siswa

melakukan evaluasi bersama tentang jalannya proses

demonstrasi itu untuk perbaikan selanjutnya.


5. Media Audio Visual

Media audio visual merupakan salah satu jenis media

pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran.

Asyhar (2011: 45),mendefinisikan bahwa media audio visual

adalah jenis media yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran

dengan melibatkan pendengaran dan penglihatan sekaligus dalam

satu proses atau kegiatan. Pesan dan informasi yang dapat

disalurkan melalui media ini dapat berupa pesan verbal dan

nonverbal yang mengandalkan baik penglihatan maupun

pendengaran. Beberapa contoh media audio visual adalah film,

video, program TV dan lain-lain.

Media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara

dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan lebih

baik, karena meliputi kedua media yang pertama dan kedua.

Media ini dibagi ke dalam:

1) Audio visual diam, yaitu media yang menampilkan suara dan

gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides), film

rangkai suara, dan cetak suara

2) Audio visual gerak, yaitu media yang dapat menampilkan

unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan

vidio-cassette. (Djamarah, 2012: 141)


Media audio visual merupakan media pendidikan modernyang

sesuai dengan perkembangan suatu zaman (kemajuan ilmu

pengetahuan dan teknologi). Media ini meliputi media yang dapat

dilihat, didengar,dan yang dapat dilihat dan didengar. Mengenai

media audio visual ini meliputi:

a) Film

Film adalah salah satu jenis media yang dapat didengar dan

dapat didengar.

Dalam media film ini mempunyai kelebihan-kelebihan

sebagai berikut:

a) Penerimaan pesan akan memperoleh tanggapan yang lebih

jelas tidak mudah dilupakan, karena antara melihat dan

mendengarakan dapat dikombinasi menjai satu.

b) Dapat menikmati kejadian dalam waktu yang lama pada

sutu proses atau peristiwa tertentu.

c) Dengan teknik slow-motion dapat mengikuti suatu gerakan

atau aktivitas yang berlangsung cepat.

d) Dapat mengatasi keterbatasan ruang waktu.

e) Dapat membangun sikap, perbuatan dan membangkitkan

emosi dan mengembangkan problema (Rohani, 1997: 98).


Disamping kelebihan-kelebihan yang telah dikemukakan

diatas, film juga mempunyai kekurangan-kekurangan, sebagai

berikut:

a) Film bersuara tidak dapat diselingi dangan keterangan-

keterangan yang diucapkan sewaktu film diputar,

penghentian pemutaran akan mengganggu konsentrasi

audien.

b) Audien tidak akan dapat mengikuti dengan baik kalau film

diputar terlalu cepat.

c) Apa yang telah lewat sulit untuk diulang kecuali memutar

kembali secara keseluruhan.

d) Biaya pembuatan dan peralatannya cukup tinggi dan

mahal (Asnawir dan Usman, 2004: 96).

Film yang baik adalah film yang dapat memenuhi

kebetulan siswa dalam hubungannya dengan apa yang

dipelajari.

b) Video

Video sebagai media audio visual yang menampilkan

gerak, semakin lama semakin popular dalam masyarakat kita.

Pesan yang disajikan bisa bersifat fakta (kejadian atau

peristiwa penting, berita) maupun fiktif, bisa bersifat


informatif, edukatif maupun instruksional

(Sudirman,1990:78).

Tapi ini tidak berarti bahwa video akan menggantikan

kedudukan film, masing-masing maempunyai kelebihan dan

keterbatasan sendiri.

a) Dapat menarik perhatian untuk periode-periode yang

singkat dari ringkasan luar lainnya.

b) Dengan alat perekam pita, video sejumlah besar penonton

dapat memperoleh informasi dari ahli-ahli atau spesialis.

c) Demonstran yang sulit bisa dipersiapkan dan direkam

sebelumnya, sehingga pada waktu mengajar guru bisa

memusatkan perhatian pada penyajian.

d) Menghemat waktu dan rekaman dapat diputar berulang-

ulang.

e) Kamera TV bisa mengamati lebih dekat objek yang

sedang bergerak.

f) Keras lemah suara yang ada bisa diatur dan bisa

disesuaikan bila akan disisipkan komentar yang akan

didengar.

g) Gambar proyeksi biasa di “beku” untuk diamati dengan

seksama.
h) Ruangan tak perlu dijelaskan waktu penyajiannya

(Sudirman, 1990:75).

Hal-hal negatif yamg perlu diperhatikan sehubungan

dengan penggunaan alat perekam pita video dalam proses

belajar mengajar adalah:

a) Perhatian penonton sulit dikuasai, partisipasi mereka

jarang dipraktekkan.

b) Sifat komunikatif yang bersifat satu arah harus diimbangi

dengan pencarian bentuk umpan balik yang lain.

c) Kurang mampu menampilkan detail dari objek yang

disajikan secara sempurna.

d) Memerlukan peralatan yang mahal dan kompleks

(Sudirman, 1990: 75)

6. Teknologi mekanik

Teknologi mekanik adalah suatu ilmu yang mempelajari semua

usaha (operation) untuk mengubah bahan mentah (raw material)

menjadi bahan jadi dengan tidak mengubah sifat-sifat kimia dari

pada material tersebut.

Dalam mata pelajaran teknologi mekanik di SMK Nasional

berbah masih menggunakan metode ceramah dan media


konvensional yang kurang update sehingga siswa kurang

menggerti dan merasa bosan dalam mengikuti pelajaran.

Sesuai dengan silabus (terlampir) yang peneliti dapat dari SMK

Nasional Berbah maka peneliti akan menggunakan kopetensi

dasar menerapkan keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan

(K3L) dalam melaksanakan penelitian ini.

Keselamatan kerja diartikan sebagai suatu upaya agar

pekerja selamat ditempat kerjanya sehingga terhindar dari

kecelakaan termasuk juga untuk menyelamatkan peralatan serta

produksinya.

Secara umum, tujuan Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3),

adalah:

1) Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatan dalam

melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan

meningkatkan produksi serta produktivitas nasional.

2) Menjamin keselamatan dan kesehatan orang lain yang

berada ditempat dan sekitar pekerjaan itu,

3) Menjamin terpeliharanya sumber produksi dan

pendayagunaannya secara aman,efisien dan efektif,

4) Khusus dari segi kesehatan, mencegah dan membasmi

penyakit akibat kerja.


Syarat Keselamatan Kerja

1) Mencegah dan mengurangi kecelakaan

2) Mencegah, mengurangi, dan memadamkan kebakaran

3) Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan

4) Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada

waktu kebakaran

5) Memberi pertolongan pada kecelakaan

6) Membeli alat-alat pelindung diri pada para pekerja.

Pengelolaan K3 harus meliputi aspek-aspek prosedur, sebagai

berikut:

1) Tempat kerja, peralatan, lingkunan kerja dan tata cara kerja

diatur demikian rupa sehingga tenaga kerja terilindung

dari risko kecelakaan.

2) Harus menjamin bahwa mesin-mesin peralatan, kendaraan

atau alat-peralatan lain harus aman digunakan dan sesuai

persyaratan keselamatan kerja.

3) Pengelola harus turut mengawasi agar tenaga kerja bisa

selamat dan aman dalam bekerja.

4) Pengelola harus menunjuk Petugas Keselamatan Kerja

yang karena jabatannya di dalam organisasi, bertanggung


jawab mengawasi koordinasi pekerjaan yang dilakukan,

untuk menghindari risiko bahaya kecelakaan.

5) Pekerjaan yang diberikan harus cocok dengan keahlian, usia,

jenis kelamin dan kondisi fisik serta kesehatan tenaga kerja.

6) Pengelola harus menjamin bahwa semua tenaga kerja telah

diberi petunjuk terhadap bahaya kecelakaan yang mungkin

terjadi dan usaha pencegahannya.

7) Petugas Keselamatan Kerja bertanggung jawab terhadap

semua tempat kerja, peralatan, sarana pencegahan

kecelakaan, lingkungan kerja dan prosedur/ cara-cara

pelaksanaan kerja yang aman.

8) Hal-hal yang menyangkut biaya yang timbul dalam

penyelenggaraan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

menjadi tanggung jawab Pengelola (kontraktor).

Pengelolaan syarat bahan kimia, peralatan, dan syarat

pemasangan instalasi, harus meliputi:

1) Syarat-syarat mengenai alat pemanas (heating appliances).

2) Syarat-syarat mengenai bahan yang mudah terbakar.

3) Syarat-syarat mengenai cairan yang mudah terbakar.

4) Syarat-syarat tentang inspeksi dan pengawasan.

5) Syarat-syarat tentang perlengkapan dan alat peringatan.


6) Syarat-syarat tentang perlindungan terhadap benda-benda

jatuh dan bagian bangunan yang rubuh.

7) Persyaratan perlindungan agar orang tidak jatuh, tali

pengaman dan pinggir pengaman.

8) Persyaratan lantai terbuka dan lubang pada lantai.

9) Persyaratan tentang lubang pada dinding.

10) Persyaratan tentang tempat kerja yang tinggi.

11) Pencagahan terhadap bahaya jatuh kedalam air.

12) Syarat-syarat mengenai kebisingan dan getaran (vibrasi).

B. Kajian Penelitian yang Relevan

1. Penelitian Dwi Nuvriyanto (2014) tentang “Upaya meningkatkan

motivasi dan hasil belajar memperbaiki system starter melalui metode

demonstrasi pada siswa kelas XII SMK N 1 Gabuswetan Indramayu

Tahun Ajaran 2013/2014” Menunjukan bahwa motivasi belajar

meningkat dari pra siklus 49% (kategori kurang termotivasi) menjadi

74% (kategori motivasi sedang). Setelah seluruh kegiatan berakhir

siswa yang mencapai kriteria ketuntasan atau mencapai >75 ada

sebanyak 28 siswa atau 80% dari jumlah siswa keseluruhan

(80%>60% = lulus secara klasikal).

2. Penelitian Rizal Andi Prasetyo (2013) tentang “ penerapan metode

demonstrasi untuk meningkatkan motivasi belajar dan prestasi belajar


pada mata pelajaran alat ukur (measuring tool’s) siswa kelas X SMK

Boedi Oetomo Cilacap Tahun 2012/2013”Menunjukan siklus I,II,III,

diperoleh data untuk hasil prestasi rata-rata nilai pelajaran alat ukur

(measuring tool’s) 58,07% sedangkan motivasinya rata-rata nilai 1,97

semuanya meningkat secara signifikan. Prestasi rata-rata nilai mata

pelajaran alat ukur (measuring tool’s) 78,37% sedangkan motivasi

rata-rata nilainya 3,11 pada SMK Boedi Oetomo Cilacap Tahun

Pelajaran 2012/2013.

C. Kerangka Pikir

Berdasarkan kajian pustaka yang telah diuraikan di atas, metode

demonstrasi dan media audio visual dibagi atas dua tahap yaitu tahap

persiapan dan pelaksanaan. Didalam tahap persiapan terdapat beberapa hal

yang harus dilakukan, diantaranya rumusan tujuan yang harus dicapai

setelah proses demonstrasi berakhir, persiapan garis besar langkah-

langkah, dan melakukan ujicoba. Dalam tahap pelaksanaan juga dibagi

atas tiga langkah yaitu langkah pembukaan, langkah pelaksanaan dan

langkah mengakhiri demonstrasi. Oleh karena itu metode demonstrasi dan

media audio visual diharapkan mampu memecahkan masalah yang

dihadapi siswa dalam proses pembelajaran dan dapat memberi

peningkatan kualitas belajar siswa.


Permasalahan yang terjadi pada pembelajaran Teknik Pemesinan

pelajaran Teknologi Mekanik di SMK Nasional Berbah yaitu

pembelajaran yang dilaksanakan belum dapat memaksimalkan potensi

siswa dalam memahami materi sehingga menyebabkan hasil belajar siswa

rendah. Motivasi belajar siswa rendah dapat terlihat pada proses

pembelajarannya yaitu siswa cepat bosan dalam mengikuti pembelajaran,

siswa kurang berminat dalam memecahkan masalah pada kegiatan belajar,

dan kurang percaya diri dalam mengerjakan tugas, hal ini terlihat ketika

siswa mengerjakan dengan cara saling membagi jawaban.

Hal yang menyebabkan motivasi belajar rendah adalah guru, karena

guru merupakan ujung tombak pembelajaran. Dalam hal ini guru masih

sering menggunakan metode ceramah dan media konvensional dalam

proses belajar mengajar. Sedangkan metode ceramah dan media

konvensional tersebut memiliki kelemahan, diantaranya siswa cepat bosan

karena guru hanya menerangkan tanpa tahu siswa dapat menangkap materi

pembelajaran.

Peneliti memilih metode pembelajaran demonstrasi dan media audio

visual untuk diterapkan dalam mata pelajaran teknologi mekanik. Menurut

Djamarah (2002:102) metode demonstrasi itu memiliki empat kelebihan

yakni: a) dapat membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkrit,

sehingga menghindari verbalisme (pemahaman secara kata – kata atau

kalimat). b) siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari, c) proses


pengajaran lebih menarik, d) siswa dirangsang untuk aktif mengamati,

menyesuaikan antara teori dan kenyataan dan mencoba melakukannya

sendiri.

Beberapa ahli telah meneliti tentang media pembelajaran, seperti

Wilkinson, telah mengkaji persoalan serupa dengan simpulan: “bahwa

media merupakan alat mengajar dan belajar. Di mana alat ini harus ada

untuk memenuhi kebutuhan/keperluan siswa dalam proses pembelajaran”

(Bakhtiar1986:58). Ini berarti di dalam proses pembelajaran, baik siswa

maupun guru sama-sama memerlukan alat tersebut (media) agar

kebutuhan yang beragam dari kurikulum dan siswa secara individual dapat

terpenuhi melalui pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Di bagian lain

Bakhtiar (1986) juga menjelaskan bahwa di dalam pembelajaran

hendaknya tidak terpaku pada satu media saja melainkan dapat

menggunakan media yang bervariasi. Artinya, di dalam setiap

pembelajaran akan lebih baik menggunakan berbagai media atau

menggunakan media yang kondusif terhadap materi yang dipelajari siswa.

Sejalan dengan itu Sulaiman (1981:8) mengatakan bahwa alat-alat audio-

visual tidak saja menghasilkan cara belajar yang efektif dalam waktu yang

lebih singkat tetapi apa yang diterima melalui alat-alat audio-visual lebih

lama dan lebih baik tinggal dalam ingatan.

Metode dan media pembelajaran ini mempertunjukan kepada siswa

dalam suatu proses, kondisi atau benda tertentu baik sebenarnya atau
hanya sekedar tiruan. Hal ini akan membuat siswa termotivasi karena

melihat benda kerja secara langsung. Setelah siswa termotivasi, maka hasil

belajar akan meningkat, karena motivasi belajar merupakan salah satu

faktor yang menyebabkan hasil belajar meningkat. Maka dengan

menerapkan metode pembelajaran Demonstrasi, diharapkan motivasi

belajar pada mata pelajaran Teknologi Mekanik siswa kelas X SMK

Nasional Berbah akan meningkat.

Pembelajaran merupakan salah satu cara untuk memperoleh

ketrampilan dan ilmu pengetahuan. Keberhasilan proses pembelajaran

dapat dilihat dari motivasi dan hasil belajarnya. Untuk mendapatkan

motivasi dan hasil belajarnya yang maksimal diperlukan berbagai faktr,

diantaranya: kurikulum, metode pembelajaran, serta media pembelajaran

yang mendukung proses belajar mengajar di sekolah. Pembelajaran yang

menggunakan metode demosntrasi dan media audio visual akan

mengurangi kondisi yang monoton dan pembelajaran ini menarik bagi

siswa, sehingga motivasi belajar dan hasil belajar siswa dapat meningkat

secara optimal.
Kerangka pikir diatas dapat dilihat pada gambar 1.
MASALAH PEMBELAJARAN
Pembelajaran Teknologi Mekanik di sekolah masih
konvensional dan motivasi belajar siswa masih rendah. Hal ini
mengakibatkan beberapa siswa belum bisa mencapai KKM
yang ditentukan.

PENYEBAB
Penggunaan metode pembelajaran yang kurang tepat

PEMECAHAN MASALAH
Guru menerapkan metode pembelajaran Demonstrasi dan
audio visual dalam pembelajaran Teknologi mekanik.

HASIL YANG DIHARAPKAN


Motivasi belajar dan hasil belajar mata pelajaran teknologi
mekanik siswa kelas X SMK Nasional Berbah dapat
meningkat.

Gambar 1. Diagram Kerangka Pikir

D. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka berfikir diatas, maka dapat dituliskan hipotesis

tindakan sebagai berikut:

1. Penerapan metode demontrasi dan media audio visual dapat

meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran teknologi

mekanik siswa kelas X SMK Nasional Berbah.


2. Penerapan metode demonstrasi dan media audio visual dapat

meningkat hasil belajar pada mata pelajaran teknologi mekanik siswa

kelas X SMK Nasional Berbah.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Setting Penelitian

1) Tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan di kelas Xb Teknik Pemesinan SMK Nasional

Berbah

2) Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 3 minggu yaitu pada bulan februari

2018. Hal ini dilakukan sesuai program pembelajaran yang telah

ditetapkan pada SKKD keahlian Teknik Pemesinan SMK Nasional

Berbah.
B. Prosedur Penelitian

Gambar 2. Model Penelitian Tindakan Kelas (Sumber: Arikunto, dkk, 2010:74

penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) mempunyai

prosedur atau langkah-langkah yang dilakukan dalam siklus berulang.

Menurut Arikunto dkk (2010: 74) ada empat kegiatan utama yang ada

pada setiap siklus, yaitu (a) perencanaan, (b) tindakan, (c) pengamatan,

dan (d) refleksi.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan 2 siklus, dalam setiap

siklus di lakukan dalam 2 kali tatap muka, jika dalam 2 siklus tujuan

penelitian telah tercapai maka siklus berhenti, penjabaran siklusnya adalah

sebagai berikut
Siklus I

a. Perencanaan

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah menentukan fokus

penelitian. Guru mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran yang telah

berlangsung sebelumnya, mendata kelemahan-kelemahannya,

diidentifikasi dan dianalisis kelayakannya untuk diatasi dengan

Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Peneliti dan guru saling berdiskusi

untuk menemukan permasalahan yang terjadi.

Tahap selanjutnya, peneliti merumuskan rencana tindakan yang

akan dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Kegiatan

yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:

1) Menyusun rencana pembelajaran.

2) Menyiapkan materi pelajaran yang akan disajikan.

3) Menyiapkan format observasi dan angket penelitian.

4) Menyiapkan perangkat terakhir terhadap hasil belajar.

b. Tindakan

Kegiatan awal

1) Apresiasi: mempersiapkan kelas dalam pembelajaran (absensi,

kebersihan kelas dan lain-lain).

2) Memotivasi: penjajakan kesiapan siswa dengan memberikan

pertanyaan tentang materi yang akan diajarkan.


3) Memberikan informasi

Kegiatan inti

1) Memperkenalkan pada siswa dengan pembelajaran dengan

menggunakan metode demonstrasi yang diiringi dengan media

audio visual dalam pembelajaran pembelajaran.

2) Membimbing dan mengarahkan siswa agar memahami materi

pembelajaran.

3) Guru mengajukan pertanyaan singkat yang diberikan kaitannya

dengan materi pembelajaran.

4) Guru meminta siswa mendengarkan penjelasan guru, guru

membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok, dan setiap anggota

kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5.

5) Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa.

6) Guru menyuruh siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban

pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya

mengetahui jawaban tim.

7) Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang

nomornya sesuai disuruh mengacungkan tangannya dan mencoba

untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.


Kegiatan Penutup

1) Bersama-sama dengan seluruh siswa membuat kesimpulan dari

materi yang telah diajarkan.

2) Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempersipkan materi

selanjutnya.

3) Berdo’a dan ditutup dengan salam.

c. Pengamatan

Kegiatan yang akan dilakuakn pada tahap ini adalah

mendokumentasikan segala sesuatu yang berkaitan dengan pemberian

tindakan. Hal ini diperoleh dari lembar observasi. Catatan lapangan

hasil wawancara, angket dan hasil tes akhir.

d. Refleksi

Kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahap ini adalah:

1) Menganalisis hasil pekerjaan siswa

2) Menganalisis hasil wawancara

3) Menganalisis hasil angket siswa

4) Menganalisis lembar observasi siswa

5) Menganalisis lembar observasi peneliti

Hasil analisis tersebut, peneliti melakukan refleksi yang akan

digunakan sebagai bahan pertimbangan apakah kriteria yang telah

ditetapkan tercapai atau belum. Jika telah berhasil maka siklus


tindakan berhenti. Tetapi sebaliknya jika belum berhasil pada siklus

tindakan tersebut maka peneliti mengulang siklus tindakan dengan

memperbaiki kinerja pembelajaran pada tindakan berikutnya sampai

berhasil sesuai dengan yang telah ditetapkan.

Siklus II

a. Perencanaan

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah menentukan fokus

penelitian. Guru mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran yang telah

berlangsung sebelumnya, mendata kelemahan-kelemahannya,

diidentifikasi dan dianalisis kelayakannya untuk diatasi dengan

Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Peneliti dan guru saling berdiskusi

untuk menemukan permasalahan yang terjadi.

Tahap selanjutnya, peneliti merumuskan rencana tindakan yang

akan dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Kegiatan

yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:

1) Menyusun rencana pembelajaran.

2) Menyiapkan materi pelajaran yang akan disajikan.

3) Menyiapkan format observasi dan angket penelitian.

4) Menyiapkan perangkat terakhir terhadap hasil belajar.


b. Tindakan

Kegiatan awal

1) Apresiasi: mempersiapkan kelas dalam pembelajaran (absensi,

kebersihan kelas dan lain-lain).

2) Memotivasi: penjajakan kesiapan siswa dengan memberikan

pertanyaan tentang materi yang akan diajarkan.

3) Memberikan informasi

Kegiatan inti

1) Memperkenalkan pada siswa dengan pembelajaran dengan

menggunakan metode demonstrasi yang diiringi dengan media

audio visual dalam pembelajaran pembelajaran.

2) Membimbing dan mengarahkan siswa agar memahami materi

pembelajaran.

3) Guru mengajukan pertanyaan singkat yang diberikan kaitannya

dengan materi pembelajaran.

4) Guru meminta siswa mendengarkan penjelasan guru, guru

membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok, dan setiap anggota

kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5.

5) Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa.

6) Guru menyuruh siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban

pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya

mengetahui jawaban tim.


7) Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang

nomornya sesuai disuruh mengacungkan tangannya dan mencoba

untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

Kegiatan Penutup

1) Bersama-sama dengan seluruh siswa membuat kesimpulan dari

materi yang telah diajarkan.

2) Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempersipkan materi

selanjutnya.

3) Berdo’a dan ditutup dengan salam.

c. Pengamatan

Kegiatan yang akan dilakuakn pada tahap ini adalah

mendokumentasikan segala sesuatu yang berkaitan dengan pemberian

tindakan. Hal ini diperoleh dari lembar observasi. Catatan lapangan

hasil wawancara, angket dan hasil tes akhir.

d. Refleksi

Kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahap ini adalah:

1) Menganalisis hasil pekerjaan siswa

2) Menganalisis hasil wawancara

3) Menganalisis hasil angket siswa

4) Menganalisis lembar observasi siswa

5) Menganalisis lembar observasi peneliti


Hasil analisis tersebut, peneliti melakukan refleksi yang akan

digunakan sebagai bahan pertimbangan apakah kriteria yang telah

ditetapkan tercapai atau belum. Jika telah berhasil maka siklus tindakan

berhenti.

C. Subjek dan Objek Penelitian

1. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas Xb Teknik Pemesinan

SMK Nasional Berbah yang berjumlah 30 siswa.

2. Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah penerapan metode Demonstrasi dan

audio visual untuk meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar

mata pelajaran teknologi mekanik.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian merupakan hal penting,

karena ini merupakan cara untuk mengumpulkan data dalam penelitian.

Tujuannya yaitu untuk memperoleh keterangan, data dan informasi yang

terkait dengan penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian

tindakan kelas ini adalah:

1. Angket atau Kuesioner

Angket atau kuesioner merupakan instrument didalam teknik

komunikasi tidak langsung. Angket terdiri atas serangkaian pertanyaan

tertulis yang memerlukan jawaban tertulis. Menurut Eko Putro W.


(2013:33) angket atau kuesioner merupakan metode pengumpulan data

yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau

pernyataan tertulis kepada responden untuk diberikan respon sesuai

dengan permintaan pengguna. Dari pernyataan tersebut dapat

disimpulkan bahwa angket merupakan seperangkat pernyataan yang

digunakan untuk mengetahui respon tentang sesuatu hal yang diukur.

Jenis angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket

tertutup. Menurut Eko Putro W. (2013:36) angket tertutup merupakan

angket yang jumlah item dan alternatif jawaban maupun responnya

sudah ditentukan responden tinggal memilihnya sesuai dengan

keadaan yang sebenarnya. Angket tertutup memiliki kelebihan antara

lain: 1) mudah memberi nilai, 2) mudah dalam pemberian kode, dan 3)

responden tidak perlu menulis. Dengan demikian angket ini akan lebih

mudah digunakan.

Angket dalam penelitian ini menggunakan respon sekala empat

yaitu SS untuk Sangat Setuju, S untuk Setuju, TS untuk respon Tidak

Setuju dan STS untuk respon Sangat Tidak Setuju. Menurut Eko Putro

W. (2013:106) angket dengan skala empat mempunyai variabilitas

respon lebih baik karena mampu mengungkap lebih maksimal

perbedaan sikap responden. Selain itu tidak ada peluang bagi

responden untuk menentukan sikap terhadap fenomena sosial yang

ditanyakan atau dinyatakan dalam instrument.


2. Tes

Tes merupakan salah satu alat yang digunakan untuk melakukan

pengukuran informasi karakteristik atau kemampuan suatu obyek (Eko

Putro W, 2013:51). Dalam hal ini karakteristik obyek dapat berupa

keterampilan, pengetahuan, bakat, minat, baik yang dimiliki individu

atau kelompok. Menurut Sudijono (2009:67), tes adalah cara yang

dapat dipergunakan atau prosedur yang perlu ditempuh dalam rangka

pengukuran dan penilaiaan dibidang pendidikan.

Penelitian ini megunakan tes formatif, tujuannya untuk mengukur

tingkat penguasaan kompetensi siswa setelah diajarkan selama

beberapa kali tatap muka dan dilakukan diakhir pembelajaran. Tes

digunakan untuk mengukur kemampuan siswa setelah melaksanakan

proses pembelajaran dengan metode pembelajaran Demonstrasi.

3. Dokumentasi

Alat perekam/kamera foto sering digunakan dalam penelitian

karena bisa membantu dalam pengumpulan data terutama memperjelas

pengumpulan data berupa foto-foto pada saat tindakan penelitian yaitu

pelaksanaan siklus I dan siklus II pada mata pelajaran teknologi

mekanik dengan metode demonstrasi.


E. Instrumen Penelitian

Instrument penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengukur

fenomena sosial maupun alam (Sugiyono, 2013:102). Instrumen-

instrumen ini juga digunakan untuk mengukur variabel dalam ilmu alam

yang sudah banyak tersedia dan teruji validitas dan reabilitasnya.

Instrumen penelitian memperoleh data yang diperlukan ketika peneliti

sudah menginjak pada langkah pengumpulan informasi di lapangan.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Angket atau Kuesioner

Tabel 2. Kisi- kisi Instrument Angket motivasi

Variable Indikator No. Butir


Motivasi Perasaan senang terhadap 1,8,11,13,14,17
siswa pelajaran teknologi
terhadap mekanik
pelajaran Pemahaman manfaat 2,3,4,7
teknologi pelajaran teknologi
mekanik. mekanik
Kecendrungan bertindak 5,6,16,18,19,23,24,25
dalam pelajaran
teknologi mekanik
Rasa tidak senang 9,10,12,15,20,21,22
terhadap pelajaran
teknologi mekanik
Jumlah 25

Angket atau kuesioner yang digunakan pada pemelitian ini adalah

angket dengan responden sekala empat. Angket ini digunakan untuk

mengukur sikap dan motivasi siswa pada saat metode demonstrasi

sudah dilakukan. Lembar angket yang digunakan berjumlah 25


pernyataan dan siswa hanya memberikan tanggapan dengan cara

dicentang pada kolom SS untuk sangat setuju, S untuk tanggapan

setuju, TS untuk tanggapan tidak setuju, dan STS untuk sangat tidak

setuju.

2. Tes

Tes merupakam salah satu alat yang digunakan untuk

melakukan mengumpulkan informasi karakteristik atau kemapuan

suatu objek. Dalam hal ini tes digunakan untuk memperoleh data

setelah melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode

demonstrasi. Tes ini akan dilakukan 2 kali dalam setiap siklusnya

yaitu saat awal (pre-test) dan akhir (post-test). Tes ini berbentuk

soal pilihan ganda dalam lembaran soal (a,b,c,d.e) dan siswa

menjawab dengan cara menyilang soal-soal tersebut.

F. Uji Coba Instrumen

Menurut Arikunto (2010: 123) Instrumen merupakan alat ukur yang

digunakan untuk melakukan pengukuran guna mengumpulkan data

penelitian. Oleh karena itu suatu instrumen yang mau digunakan harus

diuji terlebih dahulu validitas dan reliabilitasnya agar layak digunakan

sebagai alat pengukur data. Pada penlitian ini, peneliti berencana akan

menguji cobakan angket di kelas Xa Teknik Pemesinan SMK Nasional

Berbah. Alasan diujicobakan pada kelas Xa Teknik Pemesinan karena di

SMK Nasional Berbah jurusan teknik pemesinan memiliki 2 kelas yaitu


kelas Xa dan Xb, di kelas Xa juga masih menggunakan metode dan media

konvensional yang sama sebelum penelitian ini di lakukan .

Langkah-langkah uji coba instrument adalah sebagai berikut:

1. Angket motivasi

a. Validitas Angket Motivasi

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-

tingkat kevalidan dan kesahihan suatu instrument (Arikunto,

2006:168). Validitas inilah yang digunakan untuk mengukur butir

soal. Dalam analisis ini tingkat kevalidannya dapat dihitung

dengan korelasi prodak momen memakai angka kasar (raw-scor)

yang rumusnya adalah sebagai berikut:

N  XY   X  Y 
rxy 
N  X 2

  X  N  Y 2   Y 
2 2

(Arikunto, 2006:170)

Dengan: rxy : Koefisien korelasi product moment

N : Jumlah peserta tes

ΣY : Jumlah skor total

ΣX : Jumlah skor butir soal

ΣX2 : Jumlah kuadrat skor butir soal

ΣXY : Jumlah hasil kali skor butir soal


b. Reliabilitas Angket Motivasi

Reliabilitas butir soal dalam penelitian ini menggunakan rumus

Sperman-Brown sebagai berikut:

2r1 / 21/ 2
r11  (Arikunto, 2006:180)
(1  r1 / 21/ 2 )

Dengan:

r11 : Koefisien reliabilatas yang sudah disesuaikan

r1/21/2: Korelasi antara skor-skor setiap belahan tes.

Kriteria reliabilitas tes jika harga r11 dari perhitungan lebih

besar dari harga r pada tabel product moment maka tes tersebut

reliable.

b. Soal Tes

a. Validitas Soal Tes

Validitas tes menggunakan validitas isi menurut Purwanto

(2009: 120) validitas isi (content validity) adalah pengujian

validitas dilakukan atas isinya untuk memastikan apakah butir tes

hasil belajar (THB) mengukur secara tepat keadaan yang ingin

diukur. Validitas isi berhubungan dengan representatavitas sampel

butir dari semesta populasi butir. Sebuah tes dikatakan memilki

validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar

dengan materi atau isis pelajaran yang diberikan.


Pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan meminta

pertimbangan dari profesional (professional judgement), orang

yang menekuni suatu bidang tertentu yang sesuai dengan wilayah

kajian tes hasil belajar. Pengujian validitas isi penelitian ini

dengan meminta pertimbangan dari guru mata pelajaran dan

menggunakan soal tes Teknoogi Mekanik dari guru mata

pelajaran bersangkutan di SMK Nasional Berbah untuk menjaga

validitas tes.

G. Teknik Analisis Data

Pembahasan hasil penelitian menggunakan teknik analisis deskriptif.

Dalam penelitian ini, teknik analisis diskriptif dilakukan dengan cara

membandingkan dari setiap siklus terhadap siklus berikutnya untuk

mengetahui peningkatan hasil belajar siswa. Analisis data dari hasil

penelitian yang dikumpulkan untuk setiap siklusnya dijabarkan sebagai

berikut :

1. Analisis Motivasi Belajar

Menurut Arikunto (2012 : 42), angket adalah sebuah daftar

pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden).

Angket penelitian ini digunakan untuk mengetahui motivasi belajar

sistem pendingin siswa yang terdiri dari 25 butir soal yang memuat

pertanyaan-pertanyaan tentang motivasi belajar sistem pendingin


siswa. Pertanyaan tersebut meliputi pertanyaan positif dan pertanyaan

negatif.

Tabel 6. Skor Angket

Item Angket
Pilihan Jawaban
Nilai Item Positif Nilai Item Negatif

SS 4 1

S 3 2

TS 2 3

STS 1 4

Berdasarkan skor yang diperoleh dari angket motivasi belajar

teknologi mekanik diatas maka motivasi siswa dibagi dalam tiga

kriteria.

Tabel 7. Kriteria Motivasi

No Internal Kriteria

1 Skor ≥ 𝑋̅ + 0,5 𝑆𝐷 Tinggi

2 𝑋̅ − 0,5 𝑆𝐷 < 𝑆𝑘𝑜𝑟 < 𝑋̅ + 0,5 𝑆𝐷 Sedang

3 Skor ≤ 𝑋̅ − 0,5 𝑆𝐷 Rendah


Adapun sebelum melaksanakan penelitian, perlu dilakukan uji

prasyarat analisis, antara lain sebagai berikut:

a. Uji Prasyarat

1. Uji Normalitas

Menurut Sugiyono (2004: 168) “uji normalitas data

dimaksudkan untuk mengetahui apakah suatu sampel berasal dari

populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang

peneliti gunakan yaitu uji kolmogorov-smirnov satu sampel dengan

SPSS 16.0 for windows, untuk menguji normalitas. Data berdistribusi

normal jika signifikansi lebih dari 0,05

2. Uji Homogenitas

Menurut Budiyono (2004: 175) “uji homogenitas adalah uji

untuk mengetahui apakah variansi-variansi dari sejumlah populasi

sama atau tidak”. Uji homogenitas yang digunakan untuk mengetahui

varian populasi data adalah sama atau tidak. Uji ini dilakukan sebagai

prasyarat dalam analisis Independent Samples T Test dan One Way

ANOVA. Asumsi yang mendasari dalam analisis varian (ANOVA)

adalah bahwa varian dari populasi adalah sama. Sebagai kriteria


pengujian, jika nilai signifikansi lebih dari 0,05 adalah sama. Sebagai

criteria pengujian, jika nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka dapat

dikatakan bahwa dari dua atau lebih kelompok data adalah sama.

b. Uji Hipotesis

Menurut Budiyono (2006: 141) “ hipotesis merupakan pernyataan

atau dugaan mengenai kuantitas yang ada di dalam satu atau lebih

populasi”.

Adapun hipotesis statistik yang akan diuji adalah:

1) Uji Hipotesis

a) H1: 1 > 2 (Ada pengaruh metode demontrasi dan media audio

visual dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata

pelajaran teknologi mekanik siswa kelas X SMK Nasional

Berbah).

b) Ho: 1 ≤ 2 (tidak Ada pengaruh metode demontrasi dan media

audio visual dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata

pelajaran teknologi mekanik siswa kelas X SMK Nasional

Berbah).

c) H1 : 1 > 2 (Ada pengaruh metode demonstrasi dan media audio

visual dapat meningkat hasil belajar pada mata pelajaran teknologi

mekanik siswa kelas X SMK Nasional Berbah)


d) Ho: 1 ≤ 2 (tidak Ada pengaruh metode demonstrasi dan media

audio visual dapat meningkat hasil belajar pada mata pelajaran

teknologi mekanik siswa kelas X SMK Nasional Berbah)

2) Tingkat Signifikan: = 0,05

3) Statistik uji yang digunakan

Penelitian ini dalam menganalisis data yang diperoleh

digunakan teknik analisis Independent Samples T Test digunakan

untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan rata-rata antara dua

kelompok sampel yang tidak berhubungan (Priyatno, 2009: 32).

Perhitungan menggunakan rumus sebagai berikut:

X1  X 2
t
(n1  1) s  (n2  1) s22  1 1 
2
1
  
n1  n2  2  n1 n2 

Dimana:

x1 = mean kelas eksperimen

x2 = mean kelas kontrol

s12 = variansi kelas eksperimen

s22 = variansi kelas kontrol

n1 = banyaknya subjek kelas eksperimen


n2 = banyaknya subjek kelas kontrol

4) Kriteria pengujian hipotesisnya

a) Ho diterima dan Ha ditolak jika -ttabel ≤ thitung ≤ ttabel

b) Ho ditolak dan Ha diterima -thitung < -ttabel atau thitung > ttabel

Untuk memudahkan peneliti dalam penghitungan statistik,

digunakan bantuan program SPSS 21.0 for Windows.

H. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan penelitian ini dibagi menjadi bagian, yaitu

sebagai berikut:

1. Motivasi belajar dikatakan meningkat jika ≥ 75% siswa mencapai

kategori baik dalam kegiatan belajar.

2. Peningkatan motivasi belajar dengan menggunakan metode

demonstrasi dapat meningkatkan kategori cukup menjadi baik dan

dapat meningkatkan hasil belajar siswa.