Anda di halaman 1dari 14

Supply Chain Management

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Operasi Lanjutan


Dosen : Mahadi Nuryadi, SE., MM.

Disusun Oleh :

1. Devia Herista Sabilla (165208029)


2. Nada Agustina (165208097)

Kelas : Manajemen Bisnis – Pagi A


Semester : 4

PROGRAM STUDI MANAJEMEN BISNIS


STIEB PERDANA MANDIRI PURWAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
selesainya makalah yang berjudul “Supply Chain Management”.

Makalah ini kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu
kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Karena keterbatasan pengetahuan dan informasi yang kami dapat, kami


menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kami mengucapkan permohonan maaf apabila terdapat kesalahan
dalam penulisan atau pemilihan kata.

Kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari


pembaca demi kesempurnaan dan kelancaran pembuatan makalah berikutnya.

Demikian makalah ini kami buat dengan sebaik-baiknya. Harapan kami,


semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi para
pembaca dan bagi penyusun khususnya.

Purwakarta, 19 April 2018

Penulis,

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………….. i


DAFTAR ISI …………………………………………………………….. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ………………………………………………………... 1
B. Rumusan Masalah …….………………………………………............ 2
C. Tujuan …………………………………………………………............. 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Profil PT. Bank Mandiri Tbk. ………………………………………… 3
B. Studi Kasus ………….………………………………………………… 5
C. Identifikasi Risiko ……………………………………………………... 5
D. Cara Pengendalian Risiko ……………………………………………... 9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan …………………………………………………………..... 11
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………... 12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aktivitas suatu badan usaha atau perusahaan pada dasarnya tidak dapat
dilepaskan dari aktivitas mengelola resiko. Operasi suatu badan usaha atau
perusahaan biasanya berhadapan dengan risiko usaha dan risiko non usaha.
Imam Ghazali dalam Kasidy, Manajemen Risiko (2010) menyatakan bahwa,
risiko usaha adalah risiko yang berkaitan dengan usaha perusahaan untuk
menciptakan keunggulan bersaing dan memberikan nilai bagi pemegang
saham. Sedangkan risiko non usaha adalah risiko lainnya yang tidak dapat
dikendalikan oleh perusahaan.
Manajemen risiko merupakan desain prosedur serta implementasi
prosedur untuk mengelola suatu risiko usaha. Manajemen risiko merupakan
antisipasi atas semakin kompleksnya aktivitas badan usaha atau perusahaan
yang dipicu oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi
(Kasidi, 2010). Perbankan adalah badan yang paling potensial mengalami
kegagalan akibat risiko. Tercatat berbagai macam bank yang telah gagal akibat
risiko yang tidak dapat dikendalikan, beberapa dinyatakan bangkrut (collapse)
seperti Westminster Bank Inggris, Baring Bank London dan Bank Century dan
bank lain yang pernah mengalami permasalahan akibat risiko dalam bidang
finansial seperti Citibank, Bank Syariah Bukopin dan Bank Mandiri (Masyhud
Ali, 2006).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), risiko adalah akibat
yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan
atau tindakan. Risiko dalam Webster’s Desk Dictionary risiko didefinisikan
sebagai suatu potensi adanya kehilangan (Iban Sofyan, 2004).
Definisi lain yang menjelaskan tentang pengertian risiko adalah
kemungkinan terjadinya penyimpangan dari harapan yang dapat menimbulkan
kerugian. Risiko adalah suatu kemungkinan terjadinya peristiwa menyimpang
dari apa yang diharapkan, namun penyimpangan ini baru terlihat bila sudah
berbentuk kerugian (Kasidy, 2010). Pendapat lain juga diutarakan oleh Abbas

1
Salim dalam Kasidy (2010) Risiko adalah ketidakpastian yang mungkin
melahirkan kerugian (loss). Sehingga dari beberapa definisi yang telah
diutarakan, dapat diambil kesimpulan bahwa risiko adalah sesuatu yang belum
pasti namun apabila tidak ditangani dengan tepat akan menimbulkan kerugian
bagi usaha tersebut.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kasus mengenai analisis manajemen risiko pada PT. Bank
Mandiri Tbk.
2. Bagaimana identifikasi risiko dari kasus tersebut?
3. Bagaimana cara pengendalian risiko tersebut?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui kasus mengenai analisis manajemen risiko pada PT.
Bank Mandiri Tbk.
2. Untuk mengetahui identifikasi risiko dari kasus tersebut.
3. Untuk mengetahui cara pengendalian risiko tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Profil PT. Bank Mandiri Tbk.

2
Bank Mandiri adalah bank yang berkantor pusat di Jakarta, dan
merupakan bank terbesar di Indonesia dalam hal aset, pinjaman, dan deposit.
Bank ini berdiri pada tanggal 2 Oktober 1998 sebagai bagian dari program
restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia. Pada
bulan Juli 1999, empat bank milik Pemerintah yaitu, Bank Bumi Daya (BBD),
Bank Dagang Negara (BDN), Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim), dan
Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo), digabungkan ke dalam Bank Mandiri.
Bank Mandiri dibentuk pada 2 Oktober 1998, dan empat bank asalnya
efektif mulai beroperasi sebagai bank gabungan pada pertengahan tahun 1999.
Setelah selesainya proses merger, Bank Mandiri kemudian memulai proses
konsolidasi, termasuk pengurangan cabang dan pegawai. Selanjutnya diikuti
dengan peluncuran single brand di seluruh jaringan melalui iklan dan promosi.
Salah satu pencapaian penting adalah penggantian secara menyeluruh platform
teknologi. Bank Mandiri mewarisi sembilan sistem perbankan dari keempat
‘’’legacy banks’’’. Setelah investasi awal untuk konsolidasi sistem yang berbeda
tersebut, Bank Mandiri mulai melaksanakan program penggantian platform yang
berlangsung selama tiga tahun, di mana program pengganti tersebut difokuskan
untuk meningkatkan kemampuan penetrasi di segmen “retail banking’’.
Pada saat ini, infrastruktur teknologi informasi Bank Mandiri sudah
mampu melakukan pengembangan “e-channel” & produk retail dengan “Time to
Market” yang lebih baik. Dalam proses penggabungan dan pengorganisasian
ulang tersebut, jumlah cabang Bank Mandiri dikurangi sebanyak 194 buah dan
karyawannya berkurang dari 26.600 menjadi 17.620. Direktur Utama Bank
Mandiri yang pertama adalah Muljohardjoko (Dirut Taspen sejak Februari 1996).
Alumnus Fakultas Ekonomi UI ini pernah juga berdinas di PT Telkom, terakhir ia
menjabat sebagai direktur keuangan). Muljohardjoko menjadi Dirut Bank Mandiri
selama 35 hari ketika awal-awal menjadi Dirut Taspen. Kepemimpinan
Muljohardjoko di Taspen sendiri berjalan sejak Februari 1996 sampai tahun 1999.
Direktur Utama Bank Mandiri yang kedua adalah Robby Djohan. Kemudian pada
Mei 2000, posisi Djohan digantikan ECW Neloe. Neloe menjabat selama lima
tahun, sebelum digantikan Agus Martowardojo sebagai Direktur Utama sejak Mei
2005. Neloe menghadapi dugaan keterlibatan pada kasus korupsi di bank tersebut.

3
Agus kemudian digantikan oleh Zulkifli Zaini dan saat ini Kartika Wirjoatmodjo
menjabat menjadi Dirut Bank Mandiri.
Pada Maret 2005, Bank Mandiri mempunyai 829 cabang yang tersebar di
sepanjang Indonesia dan enam cabang di luar negeri. Selain itu, Bank Mandiri
mempunyai sekitar 2.500 ATM dan tiga anak perusahaan utama yaitu Bank
Syariah Mandiri, Mandiri Sekuritas, dan AXA Mandiri. Nasabah Bank Mandiri
yang terdiri dari berbagai segmen merupakan penggerak utama perekonomian
Indonesia. Berdasarkan sektor usaha, nasabah Bank Mandiri bergerak dibidang
usaha yang sangat beragam. Sebagai bagian dari upaya penerapan “prudential
banking” & “best-practices risk management”, Bank Mandiri telah melakukan
berbagai perubahan. Salah satunya, persetujuan kredit dan pengawasan
dilaksanakan dengan “four-eye principle”, di mana persetujuan kredit dipisahkan
dari kegiatan pemasaran dan business unit. Sebagai bagian diversifikasi risiko dan
pendapatan, Bank Mandiri juga berhasil mencetak kemajuan yang signifikan
dalam melayani Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan nasabah ritel. Pada akhir
1999, porsi kredit kepada nasabah “corporate” masih sebesar 87% dari total
kredit, sementara pada 31 Desember 2009, porsi kredit kepada nasabah UKM dan
mikro telah mencapai 42,22% dan porsi kredit kepada nasabah consumer sebesar
13,92%, sedangkan porsi kredit kepada nasabah “corporate” mencakup 43,86%
dari total kredit.
Sesudah menyelesaikan program transformasi semenjak 2005 sampai
dengan tahun 2009, Bank Mandiri sedang bersiap melaksanakan transformasi
tahap berikutnya dengan merevitalisasi visi dan misi untuk menjadi Lembaga
Keuangan Indonesia yang paling dikagumi dan selalu progresif. Pada Juni 2013,
Bank Mandiri sudah mempunyai 1.811 cabang dan sekitar 11.812 ATM yang
tersebar merata di 34 provinsi di Indonesia tanpa terkecuali, semakin menegaskan
Bank Mandiri sebagai salah satu dari jajaran bank terbesar di Indonesia.
B. Studi Kasus
Kasus yang menjadi salah satu topik menarik terkait dengan manajemen
resiko adalah kasus Penggelapan Bank Mandiri. Salah satu oknum pegawai
Kantor Cabang Pembantu Rawa Lumbu Bekasi PT Bank Mandiri Tbk melakukan
kerja sama ilegal dengan Manajer Keuangan PT Mexdie Sekawan Utama, Yekti

4
Sartono yang mencairkan cek ilegal di Bank Mandiri senilai Rp 720 juta pada 5
Mei 2010. Pengambilan cek ini menyalahi prosedur perbankan karena otoritas cek
adalah dua orang, yakni Anang Syifudin dan Muhammar Fauzan serta stempel
perusahaan harus diterakan. Namun cek tersebut hanya ditandatangani satu orang
dan itu diduga dipalsukan (stempel palsu dan asli berbeda dengan specimen yang
ada di bank).
Sampai saat ini kasus Bank Mandiri ini belum ditindak lanjuti lagi lebih
jauh oleh pihak-pihak terkait. Bank Mandiri berpegang teguh pada pendirian
mereka yang mengatakan bahwa Risk Management adalah bagian dari proses
bisnis yang dapat memberikan kontribusi melalui penerapan risk management
untuk mencapai return yang optimal bagi stakeholder yakni pemegang saham,
masyarakat, nasabah, pemerintah dan pihak-pihkan yang berhubungan dengan
bank (Masyhud Ali, 2006). Di dalam tulisan ini selanjutnya akan dibahas
bagaimana kaitan kasus Bank Mandiri dengan faktor penyebab, jenis dan sumber
risiko, serta bagaimana Bank Mandiri mampu mengatasi permasalahan risiko
tersebut.
C. Identifikasi Risiko
1. Klasifikasi Kerugian
Pada kasus Bank Mandiri, terdapat beberapa potensi kerugian yang akan
diderita Bank Mandiri. Yang pertama adalah kerugian finansial dalam jumlah
yang sangat besar (720 juta rupiah) serta risiko hilangnya reputasi yang dapat
mengancam keberlangsungan perusahaan ke depannya. Tidak dapat dipungkiri,
akibat adanya pencairan ilegal akan mampu menimbulkan ketidak percayaan
masyarakat (social distrust) dari para nasabah terhadap sistem manajemen dan
sekuritas finansial bank tersebut. Risiko finansial dapat berujung pada risiko
likuiditas, yakni risiko yang mengakibatkan suatu perbankan mengalami
kegagalan untuk membayar hutang jangka pendeknya. Masalah ini apabila
terus dibiarkan tanpa ditangani lebih lanjut juga akan membawa perbankan
pada risiko kegagalan bank dalam membayar hutang jangka panjangnya
(solvabilitas).
Salah satu cara alternatif sistem pengklasifikasian kerugian di perusahan
Mandiri adalah:
a. Kerugian Finansial

5
1) Kerugian langsung berupa merosotnya reputasi sehingga pendapatan
perusahaan menurun.
2) Kerugian pendapatan seperti penghentian operasional perusahaan yang
disebabkan oleh suatu kerugian dimana tidak dapat ditempatinya ruang
kerja tertentu.
3) Kerugian mengganti kewajiban hak orang lain artinya membayar uang
kepada korban penipuan.
4) Kerugian membayar denda – denda yang disebabkan oleh adanya
tuntutan hukum, ketiadaan peraturan perundang – undangan yang
mendukung.
5) Kerugian biaya dalam membangun citra positif kembali kepada
masyarakat.
b. Kerugian Reputasi
1) Kerugian adanya publikasi negatif yang terkait dengan kegiatan usaha
bank atau persepsi negatif terhadap bank.
2) Kerugian berkurangnya tingkat kepercayaan para pemegang saham
perusahaan.
3) Kerugian sulitnya untuk bersaing dengan kompetitor.
4) Kerugian kredibilitas perusahaan menurun di masyarakat.
2. Faktor penyebab risiko
Dua faktor penyebab risiko adalah bencana (perils) dan bahaya
(hazards). Banjir, tanah longsor, gempa, gelombang laut tinggi merupakan
contoh-contoh bencana yang secara langsung dapat menimbulkan kerugian.
Sementara bahaya terbagi atas beberapa jenis :
a. Bahaya fisik (physical hazard) misalnya berhubungan dengan fasilitas
bangunan suatu perusahaan,
b. Bahaya moral (moral hazard) misalnya sikap ketidakjujuran atau
ketidakdisiplinan.
c. Bahaya morale (morale hazard) misalnya sikap yang tidak hati-hati ataupun
kurangnya perhatian dari pihak – pihak terkait dalam suatu perusahaan.
d. Bahaya karena hukum atau peraturan (legal hazard) misalnya akibat
mengabaikan undang – undang atau peraturan yang telah ditetapkan.

Pada Kasus Bank Mandiri, faktor penyebab terjadinya resiko adalah


berasal dari moral para pegawai Kantor Cabang Pembantu Bank Mandiri.
Pegawai tersebut melakukan pencairan cek ilegal yang menimbulkan kerugian
besar terhadap keuangan Bank Mandiri tersebut. Masalah kepatuhan juga

6
merupakan resiko yang harus ditanggung Bank Mandiri pada kasus pencairan
cek illegal tersebut. Pegawai seharusnya menjadi pihak yang taat dan patuh
terhadap peraturan perusahaan dan menjunjung tinggi integritas dan nama baik
perusahaan, bukan dengan melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh
perusahaan itu.
Bahaya moral tidak hanya mengancam Bank Mandiri saja, kasus lain
akibat moral dari para pegawai suatu badan/perusahaan misalnya yang terjadi
pada kasus Citibank Indonesia yang terlibat pada permasalahan penggelapan
dana nasabah. Akibatnya bank tersebut tidak hanya menderita kerugian
finansial, tapi juga resiko reputasi, bahkan kepatuhan. Resiko reputasi dan
kepatuhan lebih membahayakan keberlangsungan perusahaan daripada resiko
finansial. Ketidakpercayaan masyarakat terhadap bank akan membuat bank
tersebut kehilangan dana karena masyarakat akan menarik kembali seluruh
dana yang telah tertanam di bank tersebut karena takut akan mengalami
kerugian besar. Dana – dana yang ditarik tersebut sebenarnya digunakan untuk
menjalankan kegiatan perbankan, namun kerena ada penarikan sejumlah dana
dan ketidak inginan masyarakat untuk menabung lagi maka bank tersebut dapat
terancam likuiditasnya. Pada fase ini pemerintah dapat melakukan intervensi
dengan menutup bank.
3. Sumber Penyebab Risiko
Sumber risiko dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis :
a. Risiko Sosial, risiko ini berasal dari masyarakat. Artinya tindakan orang-
orang menciptakan penyimpangan yang dapat merugikan. Misalnya :
pencurian, huru-hara, peperangan.
b. Risiko Fisik, berasal dari fenomena alam dan sebagian tingkah laku
manusia. Kebakaran adalah penyebab utama cidera fisik, kematian maupun
kerusakan harta.
c. Risiko ekonomi, misalnya inflasi, resesi, fluktuasi dan harga.

Pada kasus Bank Mandiri di atas, sumber risiko berasal dari


permasalahan sosial. Ada sekelompok orang yang melakukan pencurian
sehingga menimbulkan kerugian besar terhadap Bank Mandiri (Kasidy , 2010).
Oknum yang terlibat dalam kasus pencairan cek secara illegal ini secara
langsung dapat dikatakan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kerugian

7
bank. Risiko ini cenderung bisa lebih membahayakan daripada risiko fisik
ataupun ekonomi. Karena risiko ini datangnya dari hati nurani seseorang atau
sekelompok manusia, sehingga yang harus memperbaikinya adalah pihak
tersebut. Tidak seperti risiko fisik, pemerintah dapat menanggulanginya dengan
membuat gedung baru misalnya, atau seperti risiko ekonomi, dengan intervensi
pemerintah tingkat inflasi dapat diatur.
4. Jenis Risiko
Risiko dapat dibagi menjadi dua kelompok yakni :
a. Risiko nonsistematis, yakni risiko yang dapat dihilangkan atau dikurangi
melalui suatu diversifikasi atau tindakan pencegahan dan penanggulangan
resiko.
b. Risiko sistematis, risiko yang tidak dapat dihilangkan atau dikurangi melalui
diversifikasi, biasanya berhubungan dengan pasar atau kejadian yang dapat
secara sistematis akan mempengaruhi posisi pasar (Iban Sofyan, 2004)

Selain itu, Kasidy (2010) membagi jenis resiko menjadi dua yakni :

1. Risiko spekulatif, yakni risiko yang mengandung dua kemungkinan,


baik yang menguntungkan mupun merugikan. Contohnya : perjudian,
pembelian saham atau valuta asing.
2. Risiko murni, yakni risiko yang hanya mengandung satu kemungkinan
yakni kemungkinan rugi saja. Contoh : banjir, gempa, gunung meletus
dan lain-lain.

Bank Mandiri dalam hal ini dapat digolongkan ke dalam kategori risiko
nonsistematis serta risiko spekulatif. Artinya, Bank Mandiri masih dapat dicegah
di kemudian hari untuk menghindari peristiwa yang sama. Misalnya seperti yang
telah diterapkan Bank Mandiri selama ini dengan membuat Laporan Profil Risiko
(LPR) yang menggambarkan penilaian terhadap risiko komposit bank, atau risiko
yang dipandang dari sudut pandang bank dan unit bisnis terkait (Masyhud Ali,
2006). Sementara dikatakan risiko spekulatif, karena risiko ini sebenarnya dapat
memberikan dua alternatif bagi pelaku pencairan cek ilegal, apabila tidak
diketahui tindakan ini akan menguntungkan si pelaku, namun di sisi lain
merugikan perbankan. Sebaliknya bila diketahui seperti yang telah terjadi, maka

8
ini akan menimbulkan kerugian bagi si pelaku kejahatan tersebut dan bank dapat
dihindarkan dari permasalahan yang lebih serius lagi.
D. Cara Pengendalian Risiko
Ada beberapa cara yang dapat ditempuh perbankan dalam mengatasi risiko
ataupun mencegah terjadinya risiko yang sama ke depannya. Beberapa cara
tersebut telah diterapkan Bank Mandiri dalam manajemen risiko perusahaannya.
1. Melakukan tata kelola risiko secara terpadu dengan pengimplementasian
tanggung jawab dan keseuaian kompetensi masing-masing pihak yang terkait.
Misalnya seperti Dewan Komisaris, Direksi, Risk & Capital Committee (RCC),
unit risk management dan unit business yang telah berinteraksi dan bersinerji
secara optimal.
2. Bank Mandiri menyusun profil risiko dalam suatu Laporan Profil Risiko, dan
digunakan sebagai laporan pada Bank Indonesia. Dengan demikian, bank dapat
memusatkan perhatiannya pada jenis – jenis risiko yang memiliki tendensi
memburuk atau melebihi kebijakan toleransi bank pada risiko tertentu.
3. Studi kasus juga mengungkapkan bahwa Bank Mandiri telah mempersiapkan
tenaga profesionalnya di bidang risiko. Sekaligus juga begaimana Bank
Mandiri melakukan persiapan untuk mengimplementasikan Basel II Accord
yang menjadi penanggung jawab dari seluruh inisiatif strategis bank terkait
kepatuhan pegawai.
4. Bank menetapkan kebijakan pengelolaan risiko likuiditas. Misalnya dengan
pemeliharaan cadangan likuiditas yang optimal, pengukuran dan penetapan
limit risiko likuiditas, merancang analisis scenario dan contingency plan,
penetapan strategi pendanaan dan mempertahankan kapasitas dana yang cukup
di pasar (Masyhud Ali, 2006).

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bank Mandiri menderita kerugian finansial, reputasi dan masalah kepatuhan
akibat adanya pencairan cek ilegal. Hal ini mengindikasikan bahwa Bank Mandiri
perlu lebih meningkatkan sistem manajemen risikonya. Kerugian-kerugian
tersebut sangat berdampak pada keberlangsungan Bank Mandiri ke depannya.,
terutama masalah kepercayaan masyarakat.
Beberapa hal yang dapat dilakukan Bank Mandiri dalam mengatasi risiko
yang terjadi misalnya dengan menyusun profil risiko, mempersiapkan tenaga kerja
yang handal di bidang risiko, menetapkan kebijakan pengelolaan likuiditas, serta
melakukan tata kelola risiko terpadu.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Masyhud. 2006. Manajemen Resiko. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

10
https://www.academia.edu/26978019/Analisis_Manajemen_Resiko_pada_PT_Ba
nk_Mandiri_Tbk_
https://id.wikipedia.org/wiki/Bank_Mandiri

11