Anda di halaman 1dari 25

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Ante Natal Care (ANC)

2.1.1 Pengertian Ante Natal Care (ANC)

Pemeriksaan Ante Natal Care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan untuk

mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil. Sehingga mampu

menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberian ASI dan kembalinya

kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 1998). Kunjungan ANC adalah

kunjungan ibu hamil ke bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa

dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan / asuhan antenatal. Pelayanan ANC

adalah pelayanan yang bersifat preventif untuk memantau kesehatan ibu dan

mencegah komplikasi bagi ibu dan janin (Bartini, 2012).

Pelayanan Ante Natal Care (ANC) adalah pelayanan kesehatan oleh

tenaga kesehatan terlatih untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan

sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam standar

pelayanan kebidanan (Kemenkes, 2010).

Menurut Kemenkes RI (2010) menyatakan bahwa standar pelayanan

kebidanan meliputi 24 standar yaitu :

a. Standar pelayanan umum (2 standar)

b. Standar pelayanan Ante Natal Care (6 standar)

c. Standar pelayanan persalinan (4 standar)

d. Standar pelayanan nifas (3 standar)

8
Universitas Sumatera Utara
9

e. Penanganan kegawatdaruratan obstetric neonatal (9 standar)

2.1.2 Tujuan, Manfaat dan Cara Ante Natal Care (ANC)

Tujuan pengawasan wanita hamil adalah menyiapkan sebaik – baiknya

fisik dan mental, serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan

dan masa nifas sehingga keadaan mereka postpartum sehat dan normal, tidak

hanya fisik akan tetapi mental. Ini berarti dalam ante natal care harus diusahakan

agar :

a. Wanita hamil sampai akhir persalinan sekurang – kurangnya harus sama

sehatnya atau lebih sehat,

b. Kelainan fisik atau psikologi harus ditemukan sejak dini dan diobati,

c. Wanita melahirkan tanpa kesulitan dan bayi yang dilahirkan sehat fisik dan

mentalnya (wiknjosastro, 2005)

1. Tujuan asuhan Ante Natal Care

a. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan

tumbuh kembang janin,

b. Meningkatkan dan mempertahankan fisik dan mental ibu,

c. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang

mungkin terjadi selama kehamilan (termasuk riwayat penyakit secara

umum, kebidanan dan pembedahan),

d. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI

eksklusif,

Universitas Sumatera Utara


10

e. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran janin

agar dapat tumbuh dan berkembang secara normal, serta mempersiapkan

kesehatan yang optimal bagi janin (Bartini, 2012).

2. Keuntungan Ante Natal Care

Dapat mengetahui berbagai resiko dan komplikasi hamil sehingga ibu

hamil dapat di arahkan untuk melakukan rujukan ke rumah sakit (Manuaba,

1998)

3. Cara pelayanan Ante Natal Care

Cara pelayanan Ante Natal Caredisesuaikan dengan standar pelayanan

antenatal menurut Depkes RI yang terdiri dari :

a. Pada kunjungan pertama, yang harus dilakukan seorang bidan yaitu :

Melakukan anamneses riwayat dan mengisi KMS ibu hamil / kartu ibu

secara lengkap.

Data yang dikaji dalam anamneses mencakup data : identitas ibu dan

suami, keluhan yang dirasakan, riwayat haid, riwayat perkawinan,

riwayat kehamilan ini (HTHP, siklus haid, masalah / kelainan pada

kehamilan, riwayat imunisasi TT), riwayat obstetri lalu, riwayat KB,

riwayat penyakit keluarga, riwayat sosial ekonomi, dan pola

pemenuhan sehari – hari (Bartini, 2012).

Melakukan pemeriksaan fisik yang terdiri dari pemeriksaan luar dan

pemeriksaan dalam.

Pemeriksaan luar terdiri dari pemeriksaan umum (keadaan umu ibu,

keadaan gizi, tinggi badan, berat badan, dan pemeriksaan laboratorium

Universitas Sumatera Utara


11

sederhana (untuk kadar Hb, dan golongan darah). Serta pemeriksaan

kebidanan yang terdiri dari inspeksi (melihat bagian kepala, dada,

perut, dan vulva), palpasi leopold (besarnya rahim untuk menetukan

tuanya kehamilan), auskultasi (mendengarkan bunyi jantung janin,

bising tali pusat, gerakan janin, bising rahim dan aorta dengan

stetoskop / dopler).

Pemeriksaan dalam dilakukan pada kunjungan awal dan diulangi pada

trimester III untuk menetukan keadaan panggul (Bartini,2012).

b. Asuhan Kehamilan Kunjungan Ulang

Selain standar 7T yang telah ada beberapa tahun sewbelumnya, Kemenkes

RI pada tahun 2010 mensosialisikan stabdar 10T yang harus dilakukan bidan

pada setiap kunjunganuan ulang. Tabler Fe sering diberikan pada trimester

kedua dan ketiga, karena pada trimester ini sel darah merah harus mengangkut

oksigen lebih banyak ke janin serta untuk persiapan penambahan zat besi pada

saat melahirkan (Bartini, 2012).

2.1.3 Standar Pelayanan Ante Natal Care (ANC)

Terdapat enam standar dalam pelaksanaan pelayanan antenatal berikut ini:

1. Identifikasi Ibu Hamil

Bidan melakukan kunjungan dan berinteraksi dengan masyarakat secar

berkala untuk memberikan penyuluhan dan motivasi ibu, suami dan

anggota keluarganya untuk memeriksakan kehamilan secara dini dan

teratur.

Universitas Sumatera Utara


12

2. Pemeriksaan dan Pemantauan Ante Natal Care (ANC)

Bidan memberikan sedikitnya 4 kali pelayanan aantenatal. Pemeriksaan

meliputi anamneseis, dan pemantauan ibu dan janin, bidan juga harus

mengenal kehamilan resiko tinggi,imunisasi, nasihat dan penyuluhan,

mencatat data yang tepat setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan, harus

mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan merujuknya untuk

tindakan selanjutnya.

3. Palpasi abdominal

Bidan melakukan pemeriksaan abdominalsecara seksama dan melakukan

palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan, serta bila umur kehamilan

bertambah memeriksa posisi, bagian terendah janin dan masuknya kepala

janin ke dalam rongga panggul, untuk mencari kelainan serta melakukan

rujukan tepat waktu.

4. Penyebab anemia pada kehamilan

Bidan melakukan tindakan pencegahan, penemuan, penanganan, atau

rujukan semua kasus anemia pada kehamilan sesuai dengan kebutuhan

yang berlaku.

5. Pengolahan dini hipertensi pada kehamilan

Bidan menmukan secara dini setiap kenaikkan tekanan darah pada

kehamilan dan mengenali tanda serta gejala preeklamsilainnya, serta

mengambil tindakan tepat dan merujuknya.

Universitas Sumatera Utara


13

6. Persiapan persalinan

Bidan memberikan saran yang tepat pada ibu hami, suami dan keluarga

untuk memastikan persiapan persalinan bersih dan aman, persiapan

transportasi serta biaya untuk merujuk. Bila tiba – tiba terjadi keadaan

gawat darurat, bidan hendaknya melakukan kunjungan rumah untuk hal ini

(Jannah, 2012).

2.1.4 Kebijakan Program Ante Natal Care (ANC)

Kebijakan program dalam pelayanan antenatal yaitu kunjungan antenatal

sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan. Satu kali pada

trimester pertama, satu kali pada trimester kedua, serta dua kali pada trimester

ketiga.

Penerapan operasionalnya dikenal standar minimal (10 T) yang terdiri

atas:

1. (Timbang) Berat Badan Dan Pengukuran Tinggi Badan

Pertambahan berat badan yang normalpada ibu hamilyaitu berdasarkan

massa tubuh (BMI: body mass Index) dimana metode ini untuk pertambahan

berat badan yang optimal selama masa kehamilan, karena merupakan hal yang

penting mengetahui BMI wanita hamil. Total pertambahan berat badan pada

kehamilan yang normal 11,5 – 16 kg atau pertambahan berat badan setiap

minggunya adalah 0,4 – 0,5 kg (Kusmiyati, 2008).

Menurut Kemenkes RI (2010), mengukur tinggi badan adalah salah satu

deteksi dini kehamilan dengan faktor resiko, diamana bila tinggi badan ibu

Universitas Sumatera Utara


14

hamil kurang dari 145 cm atau dengan kelainan bentuk panggul dan tulang

belakang.

2. Ukur (Tekanan) Darah

Pada saat kehamilan, tekanan darah seorang ibu hamil merupakan faktor

penting dalam memberikan makanan pada janin pengaturan tekanan darah

selama kehamilan sangat tergantung pada hubungan antara curah jantung dan

tekanan atau resistensi pada pembuluh darah, yang keduanya berubah selama

kehamilan. Tekanan darah yang normal 110/80 – 140/90 mmHg, bila melebihi

140/90 mmHg perlu diwaspadai adanya preeklamsia (Jannah, 2012).

3. Ukur (Tinggi) Fundus Uteri

Pemeriksaan kehamilan untuk menentukan tuny kehamilan dan berat

badan janin dilakukan dengan pengukuran tinggi fundur uteri yang dapat

dihitungdari tanggal haid terakhir yang menggunakan rumus. Apabila

usiakehamiln dibawah 24 minggu pengukuran dilakukan dengan jari, tetapi

apabila kehamilan diatas 24 minggu memakai pengukuran mac.Donald yaitu

dengan cara mengukur tinggi fundus uteri memakai centimeter dari atas

simfisis kefundus uteri kemudianditentukan sesuai rumunya. Cara

menghitungnya adalah modifikasi spegelberg yaitu jarak fundus – sisfisis

dalam centimeter dibagi 3,5 merupakan tuanya kehamilan (Kusmiyati, 2008).

4. Pemberian Imunisasi (Tetanus Toxoid) / TT lengkap

Imunisasi terutama pada ibu hamil bertujuan untuk mencegah terjadinya

tetanus neonatorium, dengan cara pemberian suntik tetanus toksoid pada ibu

hamil. Pemberian imunisasi TT pada kehamilan umumnya diberikan 2 kali

Universitas Sumatera Utara


15

saja, imunisasi pertama diberikan pada usia kehamilan 16 minggu untuk yang

kedua diberikan 4 minggu kemudian (selang waktu 4 minggu). Apabila pernah

menerima TT dua kali pada kehamilan terdahulu dengan jarak kehamilan tidak

lebih dari dua tahun, maka hanya diberikan satu kali TT saja (Jannah, 2012).

5. Pemberian (Tablet Besi), minimal 90 tablet selama kehamilan

Wanita memerlukan zat besi lebuh tinggi dari laki – laki karena terjadinya

menstruasi dan perdarahan. Di mulai dengan memberikan 1 tablet zat besi

sehari sesegera mungkin setelah rasa mual hilang. Tiap tablet besi mengandung

FeSO4 320 mg (zat besi 60 mg) dan asam folat 500 mikrogram. Minimal

masing – masing 90 tablet besi yang berfungsi untuk meningkatkan jumlah sel

darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta. Bila

ditemukan anemia pada ibu hamil (<11 gr%), berikan tablet zat besi 2 atau 3

kali sehari.

Pada setiap kali kunjungan mintalah ibu untuk meminum tablet zat besi

yang cukup. Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama teh atau kopi karena

akan menggangu penyerapan. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan

yang mengandung vitamin C karena vitamin C dapat membantu penyerapan

tablet besi sehingga tablet besi yang dikonsumsi dapat terserap sempurna oleh

tubuh (Kusmiyati, 2008).

6. (Tes) laboratorium sederhana (Haemoglobin (HB) dan protein urine)

Wanita yang sedang hamil merupakan kelompok resiko tinggi terhadap

PMS. PMS dapat menimbulkan morbiditas dan mortalitas terhadap ibu dan

janin yang dikandungannya.

Universitas Sumatera Utara


16

7. (Temu) wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling)

Temu wicara penting dilakukan sebagai media komunikasi antar sesama

ibu hamil dengan bidan yang membina, temu wicara ini di koordinir oleh

kepala desa/kelurahan dan dilaksanakan oleh kader posyandu bersama

puskesmas dan dilakukan pada saat hari posyandu. Temu wicara ini dilakukan

setiap pasien pada saat melakukan kunjungan. Bisa berupa anamnesa,

konsultasi, dan persiapan rujukan. Anamnesa meliputi biodata, riwayat

menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan dan nifas.

8. (Tentukan) presentasi janin dan hitung DJJ

Menurut Kusmiyati (2008), tujuan pemantauan janin itu adalah

mendeteksi dini ada atau tidaknya faktor – faktor resiko kematian prenatal

tersebut (hipoksia/aspeksia, gangguan pertumbuhan, cacat bawaan, dan

infeksi). Pemeriksaan denyut jantung janin adalah salah satu cara untuk

memantau janin. Pemeriksaan denyut jantung janin harus dilakukan pada ibu

hamil. Denyut jantung janin baru dapat didengar pada usia kehamilan 16

minggu/4 bulanan.

Gambar DJJ :

a. Takikardi berat : detak jantung diatas 180x/menit

b. Takikardi ringan : antar 160 – 180x/menit

c. Normal :120 – 160x/menit

d. Bradikardi ringan : antara 100 – 119x/menit

Universitas Sumatera Utara


17

e. Bradikardi sedang : antara 80 – 100x/menit

f. Bradikardi berat : kurang dari 80x/menit

9. (Tetapkan) Status Gizi

Menurut Kristiyana (2010), pada ibu hamil pengukuran lingkar lengan atas

LILA merupakan satu cara untuk mendeteksi dini adanya kurang energi kronik

(KEK) atau kekurangan gizi. Malnutrisi pada ibu hamil mengakibatkan transfer

nutrient ke janin berkurang, sehingga pertumbuhan janin terhambat dan

berpotensi melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). BBLR

berkaitan dengan volume otak dan IQ seorang anak. Disebut KEK apabila

ukuran LILA <23,5 cm, yang menggambarkan kekurangan pangan dalam

jangka baik dalam jumlah maupun kualitasnya. Cara melakukan pengukuran

LILA :

Menentukan titik tengah antara pangkal bahu dan ujung siku dengan

meteran.

Lingkarkan dan memasukkan ujung pita dilubang yang ada pada pita

LILA, baca menurut tanda panah.

Menentukan titik tengah antara pangkal bahu dan ujung siku dengan pita

LILA.

10. (Tatalaksana) Kasus

Menurut Kusmiyati (2008), bila dari hasil pemeriksaan laboratorium

ditemukan penyakit, ibu perlu dilakukan perawatan khusus.

Universitas Sumatera Utara


18

2.2 Kinerja

2.2.1 Defenisi Kinerja

Kinerja adalah sesuatu yang dicapai atau prestasi yang diperlihatkan

(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001). Menurut Torang (2012) kinerja

merupakan kuantitas dan kualitas hasil kerja individu atau sekelompok di dalam

organisasidalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi yang berpedoman pada

norma, standar operasional prosedur, kriteria dan ukuran yang telah di tetapkan

yang berlaku dalam organisasi.

Kinerja merupakan catatan keluaran hasil pada suatu fungsi jabatanatau

seluruh aktifitas kerja dalam periode tertentu. Kinerja juga merupakankombinasi

antara kemampuan dan usaha untuk menghasilkan apa yang dikerjakan. Agar

dapat menghasilkan kinerja yang baik, seseorang memiliki kemampuan, kemauan,

usaha serta dukungan dari lingkungan. Kemauan dan usaha akan menghasilkan

motivasi kemudian setelah adamotivasi seseorang akan menampilkan perilaku

untuk bekerja (Gibson, 2008).

Kinerja adalah kelakuan atau kegiatan yang berhubungan dengan tujuan

organisasi, dimana organisasi tersebut merupakan keputusan dari pimpinan.

Dikatakan bahwa kinerja bukan outcome, konsekuensi atauhasil dari perilaku atau

perbuatan. Tetapi kinerja adalah perbuatan atauaksi itu sendiri, disamping itu

kinerja adalah multidimensi sehingga untukbeberapa pekerjaan spesifik

mempunyai beberapa bentuk komponen kerja,yang di buat dalam batas hubungan

variasi dengan variabel lain. Kinerja dengan prestasi kerja yaitu proses melalui

mana organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja. Kinerja adalah hasil

Universitas Sumatera Utara


19

yang dicapai dalam melaksanakan sesuatu pekerjan dalam sutau organisasi.

Penampilan kerja atau job performance sebagai bagian dari profisiensi kerja

adalah menyangkut apa yang dihasilkan seseorang dariperilaku kerja. Tingkat

sejauh mana seseorang berhasil menyelesaikan tugasnya disebut profesi (level of

performance). Individu di tingkat prestasi kerja disebut produktif, sedangkan

prestasi kerjanya tidak mencapai standar disebut tidak produktif. Job performance

(penampilankerja) adalah hasil yang dicapai seseorang menurut ukuran yang

berlaku dalam pekerjaan yang bersangkutan. Menurut teori atribusi atau

Expectancy Theory, penampilan kerja dirumuskan sebagai berikut: P = Mx A,

dimana P (Performance), M (Motivasi), A (Ability). Sehingga dapat dijelaskan

bahwa performance adalah hasil interaksi antara motivasi dengan ability

(kemampuan dasar). Dengan demikian orang yang tinggi motivasinya, tetapi

memiliki kemampuan dasar yang rendah akan menghasilkan performance yang

rendah, begitu pula halnya dengan orang yang sebenarnya mempunyai

kemampuan dasar yang tinggi tetapi rendah motivasinya. Penampilan kerja adalah

suatu prestasi kerja yang telah dikerjakan atau ditunjukan atas produk/jasa yang

dihasilkan atau diberikan seseorang atau kelompok (Sudarmayanti, 2011).

2.1.2 Penilaian / Evaluasi Kinerja

Evaluasi kinerja adalah proses penilaian pelaksanaan tugas (performance)

seseorang atau kelompok orang atau unit – unit kerja dalam satu perusahaan atau

organisasi sesuai dengan standar kinerja atau tujuan yang ditetapkan lebih dahulu.

Evaluasi kinerja disebut juga “performance evaluation” atau “performanc

appraisal” yang berasal darikata latin “apparatiare” yang berarti memberikan

Universitas Sumatera Utara


20

nilai atau harga. Dengan demikian evaluasi kinerja berarti memberikan nilai atas

pekerjaan yang dilakukan seseorang dan untuk itu diberikan imbalan, kompensasi

atau penghargaan. Evaluasi kinerja merupakan cara yang paling adil dalam

memberikan imbalan atau penghargaan kepada pekerjaan (Mangkunegara, 2014).

Tujuan penilaian/evaluasi kinerja adalah untuk memperbaiki atau

meningkatkan kinerja organisasi melalui peningkatan kinerja dari SDM

organisasi. Menurut Agus Sunyoto, tujuan penilaian/evaluasi kinerja adalah :

a. Meningkatkan saling pengertian antara karyawan tentang persyaratan kinerja.

b. Mencatat dan mengakui hasil kerja seorang karyawan, sehingga mereka

termotivasi untuk berbuat yang lebih baik, atau sekurang – kurangnya

berprestasi sama dengan prestasi yang terdahulu.

c. Memberikan peluang kepada karyawan untuk mendiskusikan dan aspirasinya

dan meningkatkan kepedulian terhadap karir atau pekerjaan yang sekarang.

d. Mendefinisikan atau merumuskan kembali sarana masa depan, sehingga

karyawan termotifasi untuk berprestasi sesuai dengan potensinya.

Beberapa metode penilaian yang digunakan dalam penilaian kinerja antara

lain :

a. Penilaian teknis essai (deskriptif tentang kelebihan dan kekurangan seorang

personil yang meliputi prestasi, kerjasama dan pengetahuan personil tentang

pekerjaannya).

b. Penilaian komparasi (membandingkan hasil pelaksanaan pekerjaan seorang

personil dengan personil yang lain melakukan pekerjaan sejenis).

Universitas Sumatera Utara


21

c. Penilaian penggunaan daftar periksa (menggunakan daftar periksa/checklist

yang telah disediakan sebelumnya diberi bobot “ya” atau “tidak”, “selesai”

atau “belum”).

d. Penilaian langsung ke lapangan (melihat langsung pelaksanaan pekerjaan ke

lapangan).

e. Penilaian berdasarkan perilaku (didasarkan pada uraian pekerjaan yang sudah

disusun sebelumnya).

f. Penilaian berdasarkan kejadian kritis (dilaksanakan oleh atasan melalui

pencatatan atau perekam peristiwa – peristiwa yang berkaitan dengan

perilaku personil yang dinilai dalam melaksanakan pekerjaan).

g. Penilaian berdasarkan efektifitas menggunakan sasaran perusahaan sebagai

indikasi penilaian kinerja, biasanya dilakukan oleh perusahaan – perusahaan

besar yang mempekerjakan banyak personil dan menggunakan sistem

pengelolaan perusahaan berdasarkan sasaran (Kajianpustaka, 2014).

2.2.3 Pengukuran Kinerja

Pengukuran terhadap kinerja perlu dilakukan untuk mengetahui apakah

selama pelaksanaan kinerja sesuai dengan rencana yang telah ditentukan, atau

apakah kinerja dapat dilakukan sesuai dengan jadwal waktu yang ditentukan, atau

apakah hasil kinerja telah tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Untuk

melakukan pengukuran tersebut diperlukan adanya ukuran kinerja.

Menurut Benardin dan Russel mengungkapkanada enam kriteria pokok

yang dapat dipakai untuk mengukur kinerja, yaitu :

Universitas Sumatera Utara


22

1. Kualitas (Quality), terkait dengan proses atau hasil mendekati sempurna /

ideal dalam memenuhi maksud atau tujuan kegiatan,

2. Kuantitas (Quantity), terkait dengan satuan jumlah yang dihasilkan /

diwujudkan melalui nilai mata uang, jumlah unit, atau jumlah dari siklus

aktivitas yang telah diselesaikan,

3. Ketepatan waktu (Timeliness), terkait dengan tingkatan dimana aktivitas

telah diselesaikan dengan waktu yang lebih cepat dari yang ditentukandan

memaksimalkanwaktu yang ada untuk katifitas lainnya,

4. Efektifitas biaya (Cost effectiveness), terkait dengan tingkat penggunaan

sumber – sumber organisasi (orang, material, uang, teknologi) dalam

mendapatkan atau memperoleh hasil atau pengurangan pemborosan dalam

penggunaan sumber – sumber organisasi,

5. Kebutuhan akan supervisi (Need for supervision), terkait dengan

kemampuan individu dapat menyelesaikan pekerjaan atau fungsi – fungsi

pekerjaan tanpa asistensi pemimpin atau intervensi pengawasan pimpinan,

6. Pengaruh hubungan personal (Interpersonal Impact), terkait dengan

kemampuan individu dalam meningkatkan perasaan harga diri, keinginan

baik serta kerja sama diantara sesama pekerja maupun dengan atasan

(Kajianpustaka, 2014).

2.2.4 Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja

Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kinerja personil dilakukan

kajian terhadap teori kinerja. Menurut Gibson (1995) ada 3 variabel yang

mempengaruhi perilaku kinerja yaitu variabel individu (keterampilan dan

Universitas Sumatera Utara


23

kemampuan, latar belakang, demografis), variabel organisasi (sumber daya,

kepemimpinan, imbalan, struktur dan desain pekerjaan), dan variabel psikologi

(persepsi, sikap, keperibadian, belajar, motivasi).

Variabel – variabel tersebut adalah :

a. Variabel individu

1. Umur

Umur adalah usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan

sampai berulang tahun. Menurut Depkes (2015), umur dikategorikan

sebagai berikut :

Masa Balita : 0 – 5 tahun


Masa Kanak – kanak : 5 – 11 tahun

Masa Remaja Awal : 12 – 16 tahun

Masa Remaja Akhir : 17 – 25 tahun

Masa Dewasa Awal : 26 – 35 tahun

Masa Dewasa Akhir : 36 – 45 tahun

Masa Lansia Awal : 46 – 55 tahun

Masa Lansia Akhir : 56 – 65 tahun

Masa Manula : 65 – sampai atas

Menurut Robbins (2003), bahwa kinerja akan merosot dengan

bertambahnya usia karena pekerja tua dianggap kurang luwes dan menolak

teknologi baru. Umur juga berpengaruh terhadap produktifitas, dimana

makin tua pekerja makin merosot produktifitasnya karena keterampilan,

kecepatan, kecekatan dan kekuatan menurun dengan berjalannya waktu.

Universitas Sumatera Utara


24

2. Tingakat pendidikan

Menurut Andrew E. Sikula dalam Mangkunegara (2013) tingkat

pendidikan adalah suatu proses jangka panjang yang menggunakan

prosedur sistematis dan terordinisir, yang mana tenaga kerja manajerial

mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis untuk tujuan – tujuan

umum.

Menurut UU No. 10 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional Bab VI pasal 14 jenjang pendidikan formal terdiri atas

pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi. Adapun 3

tingkat pendidikan itu sebagai berikut:

a. Pendidikan dasar, merupakan jenjang pendidikan yang melandasi

jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk Sekolah

Dasar (SD) atau Madrasah Ibt’idaiyah (MI) atau bentuk lain yang

sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) atau Madrasah

Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain ynag sederajat.

b. Pendidikan menengah, merupakan lanjutan pendidiakan dasar.

Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA),

Madrasah Aliyah (MA), Sekola Menegah Kejuruan (SMK) atau

bentuk lain yang sederajat.

c. Pendidikan Tinggi, merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan

yang mencakup program pendidikan Diploma, Sarjana dan Doktor

yang diselenggarakan leh Peguruan Tinggi.

Universitas Sumatera Utara


25

Jenis pendidikan Bidan di Indonesia yaitu pendidikan tingkat

Diploma I, pendidikan tingkat Diploma III, pendidikan tingkat D

IV/Sarjana. Pendidikan berkelanjutan bagi bidan berguna dalam

pemenuhan standar kemampuan bidan dalam memberikan asuhan

kebidanan, salah satunya antenatal. Dalam hal ini seorang bidan harus

mendeteksi secara dini penyebab yang mungkin terjadi pada ibu dan janin,

serta harus cepat dan tepat menanggapi kemungkinan yang akan berakibat

buruk pada ibu dan janinnya. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi

pendidikan seseorang maka semakin besar pula kemampuan seseorang dan

semakin mudah dalam mengembangkan diri sesuai dengan pekerjaannya.

3. Masa kerja

Masa kerja dalah lama kerja karyawan dimana karyawan tersebut

bekerja atau melaksanakan kegiatan dinyatakan dalam tahunan. Masa kerja

seseorang akan menentukan prestasi individu yang merupkan dasar

prestasi dan kinerja organisasi. Semakin lama seseorang bekerja di suatu

organisasi, maka tingkat prestasi individu akan semakin meningkat yang

dibuktikan dengan tingginya tingkat penjualan dan akan berdampak

kepada kinerja dan keuntungan organisasi ynag menjadi lebih

baik,sehingga memungkinkan untuk mendapatkan promosi atau kenaikkan

jabatan (Gibson, 1995).

Menurut Robbins (2003), masa kerja yang lebih lama menunjukkan

pengalaman yang lebih dari seseorang dibandingkan rekan kerjanya yang

lain.

Universitas Sumatera Utara


26

4. Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tau

seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung,

telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu pengindraan

menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas

perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar seseorang diperoleh

melalui indra pendengaran (telinga) dan penglihatan (mata). Pengetahuan

seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda

– beda (Notoadmojo, 2010).

Pengetahuan mempunya enam tingkatan yaitu :

a. Tahu (Know), diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya setelah mengamati sesuatu (recall).

b. Memahami (Comprehension), diartikan sebagai suatu kemampuan

untuk mempelajari suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek

tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus

dapat menginterprestasikan secara benar tentang objek yang diketahui

tersebut.

c. Aplikasi (application), diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menggunakan atau mengaplikasikan objek yang telah dipelajari pada

situasi atau kondisi secara real (sebenarnya).

d. Analisi (analysis), adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi

atau suatu objek kedalam komponen – komponen, tetapi masi di dalam

struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.

Universitas Sumatera Utara


27

e. Sintesis (synthesis), bekaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek atau materi

(Notoadmojo, 2010).

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau

kuesioner yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari

subjek penelitian atau responden.

b. Variabel Organisasi

1. Sarana/prasarana

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sarana adalah segala

sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud dan

tujuan. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan

penunjang utama terselenggaranya suatu proses (usaha, pembangunan,

proyek). Sarana lebih ditunjukkan untuk benda – benda bergerak seperti

komputer, mesin – mesin, sedangkan prasarana lebih ditunjukkan untuk

benda – benda yang tidak bergerak seperti gedung.

Sarana dan prasarana merupakan salah satu penunjang bagi

seseorang dalam menjalankan tugasnya. Dan salah satu komponen

penting dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan adalah sarana

kesehatan yang mampu menunjang berbagai upaya pelayanan kesehatan

baik pada tingkat individu maupun institusi.

Universitas Sumatera Utara


28

Sarana perlengkapan dalam pelayanan Ante Natal Care (ANC)

antara lain :

1. Peralatan tidak steril : timbangan BB, pengukur TB, tensi

meter, stetoskop, thermometer, senter, reflek hammer, pita

pengukur LILA, mitline (alat pengukur panggul), pengukur Hb,

bengkok, tabung urine, lampu spritus, reagen untuk

pemeriksaan urine, dan tempat sampah.

2. Peralatan steril : bak instrumen, spatel lidah, sarung tangan

(handscoon), spuit, jarum dan bidan kit.

3. Bahan – bahan habis pakai : kasa bersih, kapas, alkohol dan

larutan klorin.

4. Formulir yang disediakan : buku KIA, kartu status, formulir

rujukan, buku register, kartu penapisan dini, kohort ibu/bayi.

5. Obat – obatan : golongan roburantia (vit B6 dan B – compleks),

vaksin TT, kapsul yodium, obat KB, tablet Fe.

Prasarana dalam pelayanan Ante Natal Care (ANC) antara lain

puskesmas induk, puskesmas pembantu, polindes, posyandu.

2. Imbalan

Menurut Gibson (1995), penghargaan atau imbalan adalah suatu

yang diberikan manejer kepada para karyawan setelah mereka

memberikan kemampuan, keahlian dan usahanya kepada organisasi.

Imbalan dapat berupa upah, alih tugas, promosi, pujian dan pengakuan.

Universitas Sumatera Utara


29

Jenis imbalan terdiri atas imbalan instrinsik dan imbalan ekstrinsik.

Imbalan instrinsik adalah imbalan yang berasal dari pekerjaan itu

sendiri yang meliputi rasa penyesalan, prestasi, otonomi, dan

pertumbuhan. Sedangkan imbalan ekstrinsik adalah imbalan yang

berasal dari pekerjaan yang meliputi uang, status, promosi, dan rasa

hormat. Terdapat kesepakatan antara para ahli ilmu keprilakuan dan

para manejer bahwa imbalan ekstrinsik dan intrinsik dapat digunakan

untuk memotivasi prestasi kerja (Gibsom, 1995).

Setiap perolehan mempunyai valensi atau nilai bagi orang yang

bersangkutan. Perolehan seperti upah, promosi, teguran atau pekerjaan

yang lebih baik mempunyai nilai yang berbeda bagi orang yang

berbeda. Hal ini terjadi karena setiap orang mempunyai kebutuhan dan

presepsi yang berbeda. Jadi, dalam mempertimbangkan imbalan mana

yang akan di pakai, seseorang manejer harus arif mempertimbangkan

untuk memotivasi, karyawan akan menggerahkan upaya untuk

mencapai tingkat prestasi yang tinggi.

c. Variabel Psikologi

1. Motivasi

Setiap orang dalam melakukan suatu tindakan tertentu pasti

didorong oleh adanya motif tertentu. Motivasi biasanya timbul karena

adanya kebutuhan yang belum terpenuhi, tujuan yang ingin ingin

dicapai atau adanya harapan yang diinginkan (Wibowo, 2014).

Universitas Sumatera Utara


30

Hezberg mengembangkan teori motivasi dengan “model dua

faktor” (Two Factory Theory) motivasi, teori ini dikenal dengan teori

motivator – higienis. Hezberg berpendapat bahwa ada faktor instrinsik

dan faktor ekstrinsik yang mempengaruhi seseorang dalam bekerja.

Termasuk faktor instrinsik adalah dorong berprestasi, pengenalan,

kemajuan, kesempatan berkembang, dan tanggung jawab. Yang

termasuk faktor ekstrinsik adalah administrasi dan kebijakan

perusahaan, kualitas pengawasan, hubungan dengan pengawasan,

hubungan dengan subordinat, upah, keamanan kerja, kondisi kerja dan

status (Mangkunegara, 2014).

2.3 Landasan Teori

Variabel Individu Perilaku individu Variabel


1. Kemampuan dan (apa yang dikerjakan) Psikologi

keterampilan Kinerja 1. Persepsi


2. Latar belakang (hasil yang diharapkan) 2. Sikap
Tingkat sosial 3. Kepribadian
Pengalaman 4. Belajar
3. Demografis 5. Motivasi
Variabel Organisasi
Umur
Etnis 1. Sumber daya
Jenis kelamin 2. Kepemimpinan
3. Imbalan
4. Struktur dan desain
pekerjaan

Sumber.Gibson dkk, 1995

Gambar 2.1 Variabel Yang Mempengaruhi Perilaku Dan Kinerja

Universitas Sumatera Utara


31

2.4 Kerangka Konsep

Variabel Indipenden Variabel Dependen

Faktor Individu
1. Umur
2. Tingkat
pendidikan
3. Masa kerja
4. Pengetahuan
Kinerja Bidan dalam
Faktor organisasi Pelayanan Ante
Natal
1. Sarana/prasarana
Care (ANC)
2. Imbalan

Faktor psikologi
Motivasi

Gambar 2.2 Kerangka Konsep

Kerangka konsep yang dikembangkan dalam penelitian ini mengacu pada

teori – teori yang ada kaitannya terhadap kinerja. Teori tersebut antara lain teori

Gibson (1995) mengatakan bahwa kinerja adalah penampilan hasil karya personil

baik kuantitas maupun kualitas dalam suatu organisasi.

Gibson juga menyampaikan model teori kinerjadan melakukan analisis

terhadap sejumlah variabel yang mempengaruhi perilaku dan kinerja individu,

variabel psikologis dan variabel organisasi. Variabel individu dikelompokkan pada

sub variabel kemampuan dan keterampilan, latar belakang (tingkat sosial,

pengalaman), demografis (umur, jenis kelamin, etnis). Variabel organisasi

Universitas Sumatera Utara


32

digolongkan pada sub variabel sumber daya, imbalan, kepemimpinan, struktur dan

desain pekerjaan. Variabel psikologis digolongkan pada sub variabel persepsi,

sikap, kepribadian, belajar, motivasi. Karena ada keterbatasan dari peneliti maka

ada beberapa faktor yang tidak diteliti.

Kerangka konsep berguna untuk melihat variabel mana saja yang diteliti dan

membatasi variabel yang akan diteliti sehingga dapat memberi arah terhadap

penelitian yang akan dilakukan. Pada penelitian ini, menggambarkan apakah ada

pengaruh variabel individu (umur, tingkat pendidikan, masa kerja, pengetahuan),

variabel organisasi (sarana/prasarana, imbalan) dan motivasi terhadap kinerja

bidan dalam pelayanan Ante Natal Care (ANC) di wilayah kerja Puskesmas Aek

Songsongan Tahun 2016.

Universitas Sumatera Utara