Anda di halaman 1dari 65

Bab 4

Potret Angkutan Barang


Pulau Sumatera

4.1 PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

4.1.1 Komoditi Unggulan

4.1.1.1 Kelapa dan Minyak Sawit

Luas areal perkebunan kelapa sawit di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam mencapai
252.992 ha dengan tingkat produksi mencapai 688.389 ton minyak sawit pada tahun
2006. Luas areal dan produksi perkebunan sawit di provinsi NAD dapat dilihal pada
tabel di bawah ini.

Tabel 4.1 Luas Areal Perkebunan Sawit dan Produksi Minyak Sawit di Provinsi NAD,
Tahun 2002-2006
Luas Area (ha) Produksi (ton)
Tahun
PR PB Jumlah PR PB Jumlah
2002 33.010 161.580 194.590 70.601 228.016 298.617
2003 77.108 161.580 238.688 82.152 228.016 310.168
2004 82.356 171.158 253.514 107.273 260.204 367.477
2005 82.356 179.774 262.130 107.273 260.204 367.477
2006 86.065 166.927 252.992 117.960 570.429 688.3879
Sumber : Aceh dalam Angka, 2006

Luas perkebunan dan produksi minyak sawit di Provinsi NAD per kabupaten dapat
dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.2 Luas Areal perkebunan dan Produksi Minyak Sawit di Provinsi NAD per
Kabupaten, Tahun 2006
Produksi Minyak
No Kabupaten Luas Areal (Ha)
Sawit (ton)
1 Simeuleue 27 0
2 Aceh Singkil 45.419 52.640
3 Aceh Selatan 6.252 1.754
4 Aceh tenggara 1.487 1.156
5 Aceh Timur 45.066 46.072
6 Aceh tengah 0 0
7 Aceh Barat 15.262 4.554
8 Aceh Besar 1.140 21
9 Pidie 81 4
10 Bireun 4.100 4.462
11 Aceh Utara 29.202 50.439
12 Aceh Barat daya 1.456 661
13 Gayo Lues 0 0
14 Aceh Tamiang 46.014 85.068

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-1


Produksi Minyak
No Kabupaten Luas Areal (Ha)
Sawit (ton)
15 Nagan raya 49.547 27.286
16 Aceh Jaya 7.031 4.530
17 Bener meriah 55 79
18 Banda Aceh 0 0
19 Sabang 0 0
20 Langsa 351 333
21 Lhokseumawe 94 116
NAD 252.584 309.175
Sumber : Aceh dalam Angka, 2006

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa kabupaten yang memiliki luas perkebunan
sawit terbesar di Provinsi NAD adalah Kabupaten Nagan Raya. Sedangkan kabupaten
yang memiliki produksi minyak sawit terbesar adalah Kabupaten Aceh Tamiang.

4.1.1.2 Karet

Luas areal perkebunan karet di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam tahun 2006
mencapai 93.228 ha dengan tingkat produksi mencapai 58.320 ton. Luas areal dan
produksi perkebunan karet di Provinsi NAD dapat dilihal pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.3 Luas Areal Perkebunan dan Produksi Karet di Provinsi NAD, Tahun 2002-
2006
Luas Area (ha) Produksi (ton)
Tahun
PR PB Jumlah PR PB Jumlah
2002 62.664 24.771 87.435 62.664 13.898 76.562
2003 59.246 23.769 83.015 59.246 13.898 73.144
2004 89.379 24.142 113.521 89.379 15.593 104.972
2005 56.677 23.930 - 56.677 9.849 66.526
2006 58.320 36.508 80.607
1 94.738 58.320 14.660 72.980
L 2006
Sumber : Aceh Dalam Angka, 2006

Luas perkebunan dan produksi karet di Provinsi NAD per kabupaten dapat dilihat pada
tabel di bawah ini.

Tabel 4.4 Luas Areal dan Produksi Perkebunan Karet Rakyat di Provinsi NAD Menurut
Kabupaten
Luas Areal (Ha) Produksi
Kabupaten/Kota
TBM TM TTM Jumlah (ton)
Simeuleue 282 356 46 684 157
Aceh Singkil 5.845 653 2.073 5.571 7.172
Aceh Selatan 568 201 33 802 252
Aceh Tenggara 959 482 95 1.536 1.199
Aceh Timur 11.580 962 4.366 16.908 9.247
Aceh Tengah 0 0 0 0 0
Aceh Barat 12.518 649 3.040 16.207 11.649
Aceh Besar 0 0 10 10 0
Pidie 6 0 2 8 3
Bireun 534 2.303 1.992 4.829 483
Aceh Utara 6.697 293 864 7.854 5.023
Aceh Barat Daya 199 12 37 248 141

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-2


Luas Areal (Ha) Produksi
Kabupaten/Kota
TBM TM TTM Jumlah (ton)
Gayo Lues 0 0 4 4 0
Aceh Tamiang 11.142 2.450 2.719 16.311 10.919
Nagan Raya 5.621 183 3.250 9.045 3.928
Aceh Jaya 5.455 1.842 1.995 9.292 7.446
Bener Meriah 0 0 0 0 0
Banda Aceh 0 0 0 0 0
Sabang 0 0 0 0 0
Langsa 609 36 219 864 521
Lhokseumawe 0 55 0 55 0
Total NAD 626 20.745 20.745 93.228 58.320
Sumber : Aceh Dalam Angka, 2006

Tabel 4.5 Luas Areal dan Produksi Perkebunan Karet Besar Negara di Provinsi NAD
Menurut Kabupaten
Kabupaten/ Luas Areal (Ha) Produksi
kota TBM TM TTM Jumlah (ton)
Simeuleue 0 0 0 0 0
Aceh Singkil 0 0 0 0 0
Aceh Selatan 0 0 0 0 0
Aceh Tenggara 0 0 0 0 0
Aceh Timur 10.109 1.263 1.847 13.219 5.630
Aceh Tengah 0 0 0 0 0
Aceh Barat 3.592 1.176 200 4.968 1.367
Aceh Besar 0 0 0 0 0
Pidie 0 0 0 0 0
Bireun 83 0 0 83 49
Aceh Utara 1.751 534 0 2.285 1.401
Aceh Barat Daya 0 0 0 0 0
Gayo Lues 0 0 0 0 0
Aceh Tamiang 2.649 648 78 3.375 1.402
Nagan Raya 0 0 0 0 0
Aceh Jaya 0 0 0 0 0
Bener Meriah 0 0 0 0 0
Banda Aceh 0 0 0 0 0
Sabang 0 0 0 0 0
Langsa 0 0 0 0 0
Lhokseumawe 0 0 0 0 0
Total NAD 18.184 3.621 2.125 23.930 9.849
Sumber : Aceh Dalam Angka, 2006

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa kabupaten yang memiliki luas perkebunan
rakyat dan perkebunan besar negara terluas adalah kabupaten Aceh Timur,
sedangkan yang memiliki jumlah produksi terbesar untuk hasil perkebunan rakyat
adalah Kabupaten Aceh Tamiang, dan untuk hasil produksi karet hasil perkebunan
besar negara paling banyak dihasilkan dari perkebunan di Kabupaten Aceh Timur. Dari
beberapa komoditi unggulan yang dimiliki Provinsi NAD, dapat dipetakan lokasi muat
barang yang mungkin terjadi di wilayah ini seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-3


Gambar 4.1 Lokasi Gudang Muat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-4


4.1.2 Potret Terminal Barang Eksisting

Dari hasil investigasi dan temuan yang dilakukan dilapangan kondisi awal
menunjukkan tidak ada pengaturan lintasan dan timetable angkutan barang di dalam
perkotaan sehingga keberadaan angkutan barang yang berjenis > tronton dan engkel
(sumbu 1, 2, dan >3) karena memiliki damage faktor dan dimensi yang besar harus
disesuaikan tingkat pelayanannya dengan prasarana jalan yang ada di perkotaan.

Berikut adalah gambar lokasi bongkar terminal angkutan barang sementara yang ada
di seputaran Kota banda Aceh dan kondisi prasarana jalan yang terkait dengan
jaringan lintas.

Keterangan:
Sebaran Tempat Bongkar Muat

Gambar 4.2 Lokasi Bongkar Muat barang di Provinsi NAD

Dari hasil pengamatan didapati titik-titik pembongkaran yang berskala besar (> 5
kendaraan/hari) seperti tertera pada tabel berikut :

Tabel 4.6 Lokasi Titik Bongkar Muat Angkutan Barang di Kota Banda Aceh
No Lokasi Fungsi Keterangan
1 Lueng Bata Tempat pembongkaran sementara 10-15 kend/hari
(sisi jalan)
2 Batoh Gudang pembongkaran 7-10 kend/hari
(milik perusahaan)
3 Simpang Surabaya Terminal sementara 7-15 kend/hari
4 Taman makam Tempat pembongkaran sementara 4-7 kend/hari

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-5


No Lokasi Fungsi Keterangan
pahlawan (sisi jalan)
5 Jalan Ketapang - Tempat pembongkaran sementara 4-7 kend/hari
Garut (sisi jalan)
6 Setui Gudang pembongkaran 4-11 kend/hari
(milik perusahaan)
7 Kampung Laksana Gudang pembongkaran 4-10 kend/hari
(milik perusahaan)
Sumber : Hasil Investigasi Lapangan

Hasil investigasi dilapangan karakteristik pengangkutan barang secara substansial


dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Angkutan Material
.a Angkutan meterial JBI < 8 Ton (jenis PS)
Dibagi kedalam dua tujuan yaitu :
.1 Terusan ke pinggiran kota
.2 Menyebar ke seluruh wilayah perkotaan
.b Angkutan Material JBI > Ton (jenis kendaraan > engkel)
Dibagi kedalam dua tujuan yaitu :
.1 Terusan ke pinggiran kota
.2 Menyebar ke seluruh wilayah perkotaan melalui ruas jalan-jalan kelas III B
ke atas dan pada lokasi toko bangunan.
2. Angkutan Barang Reguler
a. Angkutan Barang reguler dengan JBI <8 Ton (jenis PS)
Dibagi kedalam dua tujuan yaitu :
1) Terusan ke CBD pada pinggiran kota
2) Menyebar ke seluruh wilayah perkotaan terutama pada wilayah-wilayah
pusat perdagangan.
b. Angkutan Barang Reguler dengan JBI > Ton (jenis kendaraan > engkel)
Dibagi kedalam tujuan yaitu :
1) Memasuki perkotaan dan melakukan bongkar muat pada gudangnya.
2) Melakukan pembongkaran langsung di tempat pertokoan (tindakan
pelanggaran karena tidak memasuki terminal angkutan barang).

4.1.3 Kasus di Lapangan

Dari Hasil pemantauan dan wawancara di lapangan, untuk truk pengangkutan galian C
jumlah trip/hari adalah ± 500 trip/hari yang memasuki Kota Banda Aceh dengan jam
operasi jam 08 Wib s/d 18 Wib menggunakan mobil tipe Ps dengan MST < 8 ton.
Sedangkan untuk angkutan galian C yang menggunakan kendaraan tipe > engkel
adalah sebanyak ± 50 trip/ hari dengan jam operasi 08 Wib s/d 18 Wib .

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-6


Untuk angkutan kelontong, bahan pangan dan pertanian biasanya melakukan
pembongkaran di lokasi setui, peunayong, Pasar Aceh dan Ulee Kareng, Neusu dengan
menggunakan mobil tipe Colt PS namun ada beberapa perusaaan yang masuk ke
daerah perkotaan menggunakan mobil > engkel karena gudang pembongkaran berada
di daerah perkotaan (setui).

Angkutan material yang berasal dari luar kota (Seulawah ke atas) rata-rata tiba di
Banda Aceh antara pukul 08 - 09 Wib dan kembali setelah melakukan pembongkaran
pukul 15 wib s/d 18 wib. Untuk angkutan material yang berskala besar dan bersifat
lalu lintas terusan, dari hasil pengamatan dapat diklasifikasikan menjadi daerah asal
pengangkutan material dan tujuan pengangkutan material.

Tambahan beban lalu lintas juga terjadi karena kesalahan peletakan Terminal barang
di Spg. Surabaya (sisi kiri jalan), sedangkan kendaraan angkutan barang datang dari
sisi kanan jalan. Hal ini menyebabkan kendaraan harus memasuki wilayah yang lalu
lintasnya cukup ramai untuk dapat memutar haluan agar dapat memasuki terminal.

Gambar 4.3 Kondisi Bongkar Muat Barang di Seputaran Jalan Tengku Umar

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-7


Gambar 4.4 Kondisi Bongkar Muat Barang di Seputaran Jalan Lambaro

Gambar 4.5 Kondisi Bongkar Muat Barang di Terminal Sementara S. Surabaya

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-8


Gambar 4.6 Kondisi Bongkar Muat Barang di Jalan Elak S. Surabaya

Lalu lintas angkutan barang di Provinsi NAD, khususnya di Kota Banda Aceh telah
memasuki kondisi yang merawankan keselamatan jalan dan kemacetan. Dimensi
kendaraan barang yang besar dengan muatan yang berat dan besar memasuki
jaringan jalan kota yang padat. Lalu Lintas Kota Banda Aceh terdiri atas lalu lintas
campuran kendaraan pribadi, becak, sepeda motor, kendaraan tidak bermotor dan
kendaraan ukuran kecil lainnya seperti angkutan umum. Bercampurnya kendaraan
barang dengan ukuran besar dengan lalu lintas kota menimbulkan permasalahan
tersendiri bagi lalu lintas perkotaan.

Lintasan pergerakan angkutan barang yang melalui wilayah perkotaan/pusat kota


terdapat di Bireun, Kualasimpang di Lintas Timur Aceh. Permasalahan pengelolaan
angkutan barang di wilayah Provinsi NAD untuk jaringan jalan adalah:
1. Kerusakan jalan akibat kelebihan muatan (beban angkut yang berlebihan);
2. Penyalahgunaan ruas-ruas jalan untuk kegiatan perdagangan, bongkar muat
barang, dan naik turun penumpang; dan
3. Belum berkembangnya angkutan barang melalui kereta api, pesawat dan kapal.

Untuk masalah-masalah tersebut, solusi yang mungkin dilakukan adalah pembatasan


muatan truk dengan dimaksimalkannya penggunaan jembatan timbang dan
pengembangan jalur kereta api dan kapal. Permasalahan juga terjadi karena peran
terminal yang kurang optimal.

Keadaan di atas disebabkan karena pemilihan lokasi yang kurang tepat, dan terminal
angkutan barang dan sistem pergudangan terdapat di pusat kota. Solusi yang
mungkin dilakukan adalah menetapkan lokasi terminal melalui feasibility study dan
sebaiknya terminal tidak terletak di pusat kota. Masalah buruknya pelayanan terminal
juga karena sistem pengelolaan terminal belum baik dan belum terpadunya
perpindahan antar moda, sehingga perlu dibuatkan SOP pengelolaan terminal dan
peningkatan aksesibilitas terminal.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-9


Untuk pengembangan jaringan transportasi darat (prasarana dan sarana) yang
mendesak adalah pengembangan barang di 8 titik utama di Aceh untuk kebutuhan
distribusi. Untuk trasnportasi sungai dan penyeberangan lokasi pengembangan di
dermaga Meulaboh, Sabang, dan Singkil.

4.2 PROVINSI SUMATERA UTARA

4.2.1 Komoditi Unggulan

4.2.1.1 Kelapa dan Minyak Sawit (CPO)

Propinsi Sumatera Utara memiliki luas areal tanaman kelapa sawit terluas kedua di
pulau Sumatera setelah Propinsi Riau. Pada tahun 2007, luas areal perkebunan kelapa
sawit di Propinsi Sumatera Utara mencapai 989.732 Ha dengan produksi mencapai
3.053.917 ton minyak sawit. Luas areal dan produksi perkebunan sawit di Sumatera
Utara dapat dilihal pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.7 Luas Areal Perkebunan Sawit dan Produksi Minyak Sawit di Provinsi
Sumatera Utara, Tahun 2001-2007
Luas Areal Perkebunan (ha) Produksi (ton)
Tahun
PR PBN PBS Jumlah PR PBN PBS Jumlah
2001 171.679 284.202 413.193 869.074 486.952 862.874 1.117.772 2.467.598
2002 182.974 288.796 414.842 886.612 514.190 902.511 1.202.570 2.619.271
2003 195.853 297.710 426.117 919.680 533.359 916.789 1.313.714 2.763.862
2004 254.100 268.413 322.363 844.876 662.366 836.161 954.483 2.453.010
2005 304.129 268.420 322.362 894.911 820.888 817.857 872.842 2.511.587
2006 340.199 352.943 351.089 1.044.230 910.403 1.066:674 958.167 2.935.244
2007 364.610 278.137 346.985 989.732 1.073.078 875.747 1.105.091 3.053.917
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan, 2008

Kabupaten yang memiliki luas dan produksi perkebunan sawit terbesar di Provinsi
Sumatera Utara adalah kabupaten Labuhan Batu. Luas perkebunan dan produksi
minyak sawit kabupaten Labuhan Batu mencapai 38% dari luas dan perkebunan dan
produksi minyak sawit Provinsi Sumatera utara. Luas perkebunan dan produksi
minyak sawit di Provinsi Sumatera Utara per kabupaten dapat dilihal pada tabel di
bawah ini.

Tabel 4.8 Luas Areal Perkebunan dan Produksi Minyak Sawit di Provinsi Sumatera
Utara per kabupaten
Luas Areal Produksi Minyak Sawit
No Kabupaten
(Ha) (ton)
1 Deli Serdang 40,539 119,923
2 Langkat 115,552 349,229
3 Simalung un 100,126 339,620
4 Karo 1,710 4,985
5 Dairi 133 163

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-10


Luas Areal Produksi Minyak Sawit
No Kabupaten
(Ha) (ton)
6 Tarmanuli Utara 38 1
7 TapanuliTen•ah 13,467 35,764
8 Nias 0 0
9 Nias Selatan 0 0
10 Tapanuli Selatan 91,764 380,455
11 Labuhan Batu 388,994 1,151,330
12 Asahan 155,786 449,716
13 Mandailin Natal 26,351 51,685
14 Toba Samosir 1,281 4,300
15 Humbang Hasundutan 459
396
16 Pak-pak Bharat 1,509 2,783
17 Samosir 0 0
___
18 Serdang `Bedagai 52,087 163,505
Sumatera Utara 989,732 3,053,917
Sumber : Statistik Perkebunan Indonesia, 2006

Pelabuhan Belawan merupakan sarana utama dalam pendistribusian CPO di Provinsi


Sumatera Utara. Pada tahun 2006 jumlah CPO dan turunannya yang diekspor, melalui
Pelabuhan Belawan mencapai 4,05 juta ton. Sebesar 3,1 juta ton (76,7%) dari jumlah
tersebut diekspor dan hanya sebagian kecilnya yaitu sejumlah 179,6 ribu ton (4,4%)
dimuat dan sebesar 761,2 ribu ton dibongkar di pelabuhan Belawan. Sedangkan,
impor CPO dan turunannya tidak ada. Lalu lintas komoditi CPO dan turunannya di
pelabuhan Belawan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.9 Lalu Lintas Komoditi CPO dan Turunannya di Pelabuhan Belawan (ton)
Tahun Ekspor (E) Muat (M) Bongkar (B) Total (E+I+M)
2003 2.899.715 394.084 849.084 4.142.883
2004 3.382.245 348.516 113.260 3.884.021
2005 3.179.910 321.128 847.238 4.348.276
2006 3.162.691 179.695 761.241 4.103.627
2007 3.285.893 217.618 639.307 4.142.818
Sumber : Pelindo Pelabuhan Belawan, 2007

Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa CPO dan turunannya yang dihasilkan dari
Provinsi Sumatera Utara di ekspor ke luar wilayah Indonesia dengan negara tujuan
seperti terlihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.10Negara Tujuan Ekspor Minyak Sawit dan Turunannya di Pelabuhan


Belawan, tahun 2006
No Negara Tujuan Jumlah (Ton) Persentase (%)
1 India 792.214 25,48
2 Roterdam 455.405 14,65
3 Singapore 256.520 8,25
4 China 202.411 6,51
5 Pakistan 175.896 5,66
6 Malaysia 150.356 4,84
7 Barcelona 129.158 4,15

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-11


No Negara Tujuan Jumlah (Ton) Persentase (%)
8 Bangladesh 109.200 3,51
9 Myanmar 101.719 3,27
10 Lainnya 736.598 23,69
Total 3.109.477 100,00

Ekspor minyak sawit asal Provinsi Sumatera Utara urutan lima terbesar bertujuan ke
India 25,48%; Roterdam 14,65%; Singapura 8,25%; Cina 6,51%, dan Pakistan
5,66%.

Di Pelabuhan Belawan terdapat kegiatan bongkar dan muat minyak sawit dan
turunannya yang jumlah dan tujuannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.11Daerah Tujuan Muat Minyak Sawit dan Turunannya di Pelabuhan Belawan,
tahun 2006
No Tujuan Jumlah (Ton) Persentase (%)
1 Surabaya 52.943 29,46
2 Cirebon 39.758 22,13
3 Jakarta 23.838 13,27
4 Semarang 23.641 13,16
5 Banyuwangi 11.601 6,46
6 Cilacap 8.431 4,69
7 Pontianak 5.152 2,87
8 Kuala Tanjung 2.850 1,59
9 Lembar 20 1,11
10 Lainnya 9.481 5,28
Total 179.695 100
Sumber : Pelindo Pelabuhan Belawan, 2007

Tabel 4.12Daerah Asal Bongkar Minyak Sawit dan Turunannya di Pelabuhan Belawan,
Tahun 2006
No Asal Jumlah (Ton) Persentase (%)
1 Jambi 209.274 27,49
2 Rengat 85.392 11,22
3 Pontianak 78.122 10,26
4 Buatan 68.738 9,03
5 Susoh 43.779 5,75
6 Palembang 43.189 5,67
7 Pkl Balam 40.618 5,34
8 Surabaya 39.973 5,25
9 Meulaboh 28.899 3,80
10 Lainnya 123.257 16,19
Total 761.241 100,00
Sumber : Pelabuhan Belawan, 2007

Selain di Pelabuhan belawan, lalu lintas CPO dan turunannya di provinsi Sumatera
Utara terdapat pula di Pelabuhan Kuala Tanjung. Pelabuhan kuala Tanjung memiliki
beberapa darmaga yang dimiliki oleh PT Pelindo I, PT Multi Nabati Asahan dan PT
Inalum. Tidak ada lalu lintas CPO atau turunan CPO di dermaga yang dimiliki PT
Pelindo. Lalu lintas CPO dan turunannya terdapat di dermaga milik PT Multi Nabati

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-12


Asahan. Berdasarkan informasi dari Pelindo I Kuala Tanjung, lalu lintas CPO dan
turunan CPO di dermaga PT Multi Nabati Asahan pada tahun 2006 sebesar 1,49 juta
ton. Sebagian besarnya adalah ekspor yaitu sebesar 1,29 juta ton (86,6%).

Tabel 4.13Lalu Lintas CPO dan Turunannya di Pelabuhan Kuala Tanjung (ton)
No Tahun Ekspor Impor Bongkar Muat Total
1 2004 942.115 13.688 212.764 - 1.168.567
2 2005 1.076.895 - 210.199 2.488 1.289.582
3 2006 1.291.964 4.601 177.804 17.469 1.491.838

4.2.1.2 Karet

Propinsi Sumatera Utara memiliki luas areal tanaman kelapa sawit terluas kedua di
Pulau Sumatera setelah Provinsi Riau. Pada tahun 2007, luas areal perkebunan kelapa
sawit di Propinsi Sumatera Utara mencapai 989.732 ha dengan tingkat produksi
mencapai 3.053.917 ton minyak sawit. Luas areal dan produksi perkebunan sawit di
Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.14Luas Areal Perkebunan dan Produksi Minyak Sawit di Sumatera Utara,
Tahun 2001-2006
Luas Areal (ha) Produksi Minyak Sawit (ton)
Tahun
PR PBN PBS Jumlah PR PBN PBS Jumlah
2001 171.679 284.202 413.193 869.074 486.952 862.874 1.117.772 2.467.598
2002 182.974 288.796 414.842 886.612 514.190 902.511 1.202.570 2.619.271
2003 195.853 297.710 426.117 919.680 533.359 916.789 1.313.714 2.763.862
195.853
2004 254.100 268.413 322.363 844.876 662.366 836.161 954.483 2.453.010
2005 304.129 268.413 322.362 894.911 820.888 817.857 872.842 2.511.587
2006 340.199 352.943 351.089 1.044.230 910.403 1.066.674 958.167 2.935.244
2007 364.610 278.137 346.985 989.732 1.073.078 875.747 1.105.091 3.053.917
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan, 2008

Dari beberapa komoditi unggulan yang dimiliki Provinsi Sumatera Utara, dapat
dipetakan lokasi muat barang yang mungkin terjadi di wilayah ini seperti terlihat pada
gambar di bawah ini.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-13


Gambar 4.7 Lokasi Gudang Muat di Provinsi Sumatera Utara

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-14


4.2.2 Potret Angkutan Barang Eksisting

Pelaksanaan bongkar muat barang di provinsi Sumatera Utara dapat dibilang telah
tertata dengan cukup baik. Lintasan angkut kendaraan barang hanya sedikit yang
masuk ke daerah perkotaan, yaitu hanya di daerah hinterland dari provinsi NAD dan
Riau serta Sumatera Barat. Kondisi bongkar muat barang di wilayah Pelabuhan
belawan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Kondisi Bongkar Muat Barang di Pelabuhan Belawan

4.2.2.1 Transportasi Jalan

Pelayanan angkutan barang dengan kendaraan umum, tidak terbatas wilayah


pelayanannya. Untuk keperluan keselamatan, keamanan, ketertiban dan kelancaran
lalu lintas, maka angkutan jalan dapat ditetapkan jaringan lintas untuk mobil barang
tertentu, baik kendaraan umum maupun kenderaan bukan umum.

Dengan ditetapkannya jaringan lintas untuk mobil barang, maka mobil barang
misalnya pengangkut peti kemas, pengangkut barang berbahaya dan beracun serta
mobil barang pengangkut alat berat hanya dapat melintasi jalan yang sudah
ditentukan. Perkembangan mobil angkutan barang selama lima tahun di sumatera

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-15


utara, serta distribusi domisili mobil barang tersebut dapat dilihat pada tabel berikut
ini.

Tabel 4.15Distribusi Kepemilikan Mobil Barang di Provinsi Sumatera Utara Tahun


1999 - 2003
Mobil Barang
Tahun dan Kereta Kereta
No Tidak Jumlah
Kabupaten / Kota Umum Gandeng Tempel
Umum
1 1999 10.519 49.173 40 576 60.308
2 2000 9.515 46.917 35 542 579
3 2001 9.717 50.885 35 607 61.244
4 2002 10.080 56.395 35 702 67.212
5 2003 10.764 62.275 35 827 73.901
1 Nias 101 23 -- -- 331
2 Madina 79 418 -- -- 497
3 Tapsel 196 987 -- -- 1.183
4 Tapteng + Sibolga 286 724 -- -- 1.010
5 Taput 145 568 -- -- 713
6 Toba Samosir 73 333 -- -- 406
7 Asahan 293 1.985 -- -- 2.299
8 Labuhan Batu 2 3.143 20 1 3.145
9 Simalungun 385 1.898 -- -- 2.283
10 Dairi 42 624 -- -- 666
11 Karo 46 2.783 -- -- 2.829
12 Deli Serdang 388 5.047 -- 10 5.445
13 Langkat 91 1.167 -- 7 1.265
14 Tj. Balai 41 598 -- -- 639
15 P. Siantar 427 2.774 -- -- 3.201
16 Tebing Tinggi 237 1.220 -- 9 1.466
17 Medan 7.720 36.496 -- 800 45.016
18 Binjai 212 1.289 -- -- 1.501

Pada tabel di atas tampak distribusi kepemilikan kendaraan mobil barang di Provinsi
Sumatera Utara, dapat dikatakan terkonsentrasi pada Kota Medan dengan persentase
72% dari seluruh jumlah yang ada di Provinsi Sumatera Utara. Selanjutnya di ikuti
Kabupaten Deli Serdang (hampir 4%) yang juga berada di sekitar Kota Medan. Ini
menandakan terjadi pemusatan kepemilikan kendaraan barang di Provinsi Sumatera
Utara, yang pasti mempunyai pengaruh besar terhadap perLalu Lintasan Kota Medan
khususnya dan Mebidang umumnya.

4.2.2.2 Transportasi Kereta Api

A. Jaringan Prasarana
Jaringan prasarana transportasi jalan rel terdiri dari simpul yang berwujud stasiun dan
ruang lalu lintas. Stasiun mempunyai fungsi yang sama dengan simpul moda lainnya,
yaitu sebagai tempat untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, memuat dan

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-16


membongkar barang, mengatur perjalanan kereta serta perpindahan antar dan/atau
intra moda.

Di Sumatera Utara stasiun menurut pengelolaannya yang ada hanya stasiun umum,
sedangkan stasiun khusus belum ada dan stasiun menurut fungsinya dapat dilihat
pada tabel berikut ini :

Tabel 4.16Stasiun Menurut Fungsinya di Provinsi Sumatera Utara


No Lokasi Terminal Fungsi Terminal
1 Besitang Barang
2 Binjai Penumpang
3 Belawan Barang
4 Labuahn Barang
5 Pulo Brayan Barang
6 Medan Penumpang / Barang
7 Medan Pasar Penumpang
8 Batang Kuis Penumpang
9 Bandar Kalifah Penumpang
10 Lubuk Pakam Penumpang
11 Perbaungan Penumpang
12 Rampah Penumpang
13 Dolok Marangir Penumpang / Barang
14 Tebing Tinggi Penumpang / Barang
15 P. Siantar Penumpang / Barang
16 Bandar Tinggi Penumpang
17 Perlanaan Penumpang / Barang
18 S. Bejangkar Penumpang
19 Kisaran Penumpang / Barang
20 Tj. Balai Penumpang
21 Hanglo Penumpang / Barang
22 Puloraja Penumpang / Barang
23 Mambangmuda Penumpang / Barang
24 Padang Halaban Penumpang / Barang
25 Merbau Penumpang
26 Rantau Prapat Penumpang / Barang
Sumber : PT. KAI DIV Regional Sumut

Ruang lalu lintas pada transportasi jalan rel berupa kerata api, yang diperuntukkan
bagi gerak lokomotif, kereta dan gerobak jalur kereta api dimaksud dapat
dikelompokkan menurut jalur KA khusus dan umum. Untuk Sumatera Utara jalur
kereta api yang ada hanya jalur KA umum, yang digunakan untuk melayani
kepetingan umum baik barang maupun penumpang.

B. Jaringan Pelayanan
Jaringan pelayanan transportasi kereta api dibedakan menjadi jaringan pelayanan
transportasi jalan rel antar kota dan perkotaan. Jaringan pelayanan antar kota terdiri
dari lintas utama dan lintas cabang. Lintas utama melayani angkutan jarak jauh atau

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-17


sedang yang menghubungkan antar stasiun, dan berfungsi sebagai pengumpul yang
melayani lintas utama. Sedangkan lintas cabang berfungsi melayani angkutan jarak
sedang atau dekat, yang menghubungkan antar stasiun yang berfungsi sebagai
pengumpul dengan stasiun yang berfungsi sebagai pengumpul atau antar stasiun yang
berfungsi sebagai pengumpul yang ditetapkan untuk melayani lintas cabang, untuk
daerah Sumatera Utara klasifikasi lintas cabang dan lintas utama dikemukakan pada
tabel berikut.

Tabel 4.17Realisasi Angkutan Angkutan Kereta Api Di Sumatera Utara Tahun 1999 -
2003
Realisasi Angkutan
No Tahun
KA Barang KA Penumpang
1 1999 524.362 1.889.592
2 2000 476.194 2.497.376
3 2001 496.456 2.707.188
4 2002 570.647 2.226.986
5 2003 702.606 2.386.925
Sumber : PT. KAI DIV Regional Sumut

4.2.3 Kasus di Lapangan

Lintasan pergerakan angkutan barang yang melalui wilayah perkotaan/pusat kota


terdapat di Amplas, Pinang Baris, Sambu, Veteran, Wiliem Iskandar, dan Belawan.
Untuk arahan pengembangan jaringan angkutan barang antar kota diarahkan pada
pengembangan jaringan jalan, jaringan kereta api, dan feeder road (jalur
penghubung). Untuk mendukung kinerja jaringan angkutan barang, pengembangan
diarahkan pada perbaikan jalan yang rusak, pembatasan muatan truk, dan
pengembangan fasilitas dermaga atau terminal.

4.3 PROVINSI SUMATERA BARAT

4.3.1 Komoditi Unggulan

4.3.1.1 Sawit

Luas areal perkebunan kelapa sawit di Propinsi Sumatera Barat tahun 2007 mencapai
291.734 ha dengan tingkat produksi mencapai 771.406 ton minyak sawit. Luas areal
dan produksi perkebunan sawit di Provinsi Sumatera Barat dapat dilihat pada tabel
berikut.

Tabel 4.18Luas Areal Perkebunan dan Produksi Minyak Sawit di Provinsi Sumatera
Barat Tahun 1996 – 2007
Tahun Luas Area (ha) Produksi (ton)
1996 133.564 170.080
1997 133.815 213.188
1998 162.012 232.494

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-18


Tahun Luas Area (ha) Produksi (ton)
1999 183.027 234.994
2000 189.695 324.380
2001 253.641 584.384
2002 252.597 613.603
2003 274.338 644.284
2004 280.099 686.356
2005 281.162 715.873
2006 276.410 694.234
2007 291.734 771.406
Sumber : Dinas Perkebunan Sumatera Barat, 2007

Kabupaten yang memiliki luas dan produksi perkebunan sawit terbesar di Provinsi
Sumatera Barat adalah Kabupaten Pasaman Barat. Luas perkebunan dan produksi
minyak sawit di Kabupaten Pasaman Barat mencapai 43% dari keseluruhan luas di
Provinsi Sumatera Barat. Sebaran luas areal perkebunan dan jumlah produksi minyak
sawit per kabupaten dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.19Luas Areal Perkebunan dan produksi Minyak Sawit Sumatera Barat per
kabupaten, Tahun 2007
Luas Areal Produksi
No Kabupaten
(Ha) Minyak sawit (ton)
1 Agam 30.810 73.731
2 Pasaman 1.945 2.050
3 50 Kota 2.010 2.526
4 Tanah Datar 0 0
5 Padang Pariaman 313 381
6 Solok 0 0
7 Pesisir Selatan 24.359 46.748
8 Sawahlunto Sijunjung 9.155 27.878
9 Kota Padang 6 0
10 Kota padang Panjang 0 0
11 Kota Payakumbuh 0 0
12 Kota Solok 0 0
13 Kota Sawahlunto 6 0
14 Kota Bukittinggi 0 0
15 Kota pariaman 15 0
16 Kep. Mentawai 0 0
17 Solok Selatan 34.822 102.097
18 Pasaman barat 127.275 328.935
19 Dhamas Raya 61.020 187.060
Sumatera Barat 291.736 771.406

Volume dan Nilai ekspor CPO berdasarkan pelabuhan asal di Provinsi Sumatera Barat
per bulan pada Tahun 2006 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.20Volume dan Nilai Ekspor Kelapa Sawit di Provinsi Sumatera Barat Asal
Pelabuhan Padang/Tl. Bayur (2006)

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-19


Bulan Volume (Kg) Nilai (US$)
Januari 38.3200 10.149.245
Februari 191.950.652 59.249.883
Maret 73.997.369 28.090.482
April 115.166.541 43.602.952
Mei 86.631.862 20.739.950
Juni 101.654.273 41.249.667
Juli 101.654.273 41.249.667
Agustus 111.655.835 44.131.817
September 80.475.828 28.880.172
Oktober 276.297.372 105.865.889
November 64.431.565 25.188.547
Desember 113.732.295 483.443.784

4.3.1.2 Karet

Luas areal perkebunan karet di Provinsi Sumatera Barat tahun 2007 mencapai
149.759 ha dengan jumlah produksi hingga 89.714 ton. Pada tabel di bawah ini
disajikan data luas areal dan jumlah produksi perkebunan karet di Provinsi Sumatera
Barat.

Tabel 4.21Luas Areal Perkebunan Karet di Provinsi Sumatera Barat, Tahun 1996 –
2007
Tahun Luas (ha) Produksi (ton)
1996 100.784 68.795
1997 105.568 68.329
1998 121.750 73.593
1999 125.631 73.593
2000 126.900 74.194
2001 137.554 74.087
2002 150.824 76.458
2003 144.687 78.903
2004 144.717 86.552
2005 141.389 85.387
2006 148.618 89.631
2007 149.759 89.714
Sumber : Dinas Perkebunan Sumatera Barat, 2007

Kabupaten yang memiliki luas dari produksi perkebunan karet terbesar di Sumatera
Barat adalah Kabupaten Dhamas Raya. Luas perkebunan dari produksi karet
kabupaten Dhamas Raya mencapai sekitar 30% dari luas perkebunan dari produksi
karet Sumatera Barat. Luas perkebunan dari produksi karet di Sumatera Barat per
kabupaten dapat dilihal pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.22Luas Areal Perkebunan Karet di Provinsi Sumatera Barat Menurut


Kabupaten dan Jenis Perkebunan (Ha)
Luas Areal (Ha) Produksi
Kabupaten/Kota
TBM TM TTM Jumlah (ton)
Agam 197 626 0 823 453

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-20


Luas Areal (Ha) Produksi
Kabupaten/Kota
TBM TM TTM Jumlah (ton)
Pasaman 7.212 15.201 200 22.613 12.465
50 Kota 1.977 8.643 0 10.620 5.229
Tanah Datar 440 4.428 51 4.919 3.835
Padang Pariaman 450 1.860 56 2.366 13
Solok 379 1.705 0 2.084 1.301
Pesisir Selatan 16 6.478 0 7.484 5.565
Sawahlunto Sijunjung 1.906 26.762 8.461 37.129 19.643
Kota Padang 55 129 6 190 116
Kota Padang Panjang 0 0 0 0 0
Kota Payakumbuh 0 0 0 0 0
Kota Solok 0 3 0 3 2
Kota Sawahlunto 819 305 13 1.137 215
Kota Bukittinggi 0 0 0 0 0
Kota Pariaman 0 0 0 0 0
Kep. Mentawai 3 26 0 29 18
Solok Selatan 3.760 9.632 293 13.685 9.093
Pasaman Barat 1.501 4.277 131 5.909 3.687
Dhamas Raya 7.986 27.403 2.265 37.654 24.663
Total 27.691 107.478 11.476 146.645 87.288
Sumber : Statistik Perkebunan provinsi Sumatera Barat, 2007

Volume dari nilai ekspor Karet berdasarkan pelabuhan asal di Provinsi Sumatera Barat
per bulan pada Tahun 2006 dapat dilihal pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.23Volume dan Nilai Ekspor Karet di Provinsi Sumatera Barat Asal Pelabuhan
Padang/Tl. Bayur (Januari s.d. Juni 2006)
Bulan Volume (Kg) Nilai (US$)
Januari 11.854.270 18.686.611
Februari 24.664.445 40.382.682
Maret 23.871.959 41.240.371
April 35.488.226 63.687.268
Mei 7.558.201 14.146.940
Juni 14.351.400 26.922.870
Total 265.305.475 499.358.235

Dari beberapa komoditi unggulan yang dimiliki Provinsi Sumatera Barat, dapat
dipetakan lokasi muat barang yang mungkin terjadi di wilayah ini seperti terlihat pada
gambar di bawah ini.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-21


Gambar 4.8 Lokasi Gudang Muat di Provinsi Sumatera Barat

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-22


4.3.2 Potret Angkutan Barang Eksisting

Berdasarkan data yang didapat dari Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Barat,
diperoleh data jenis barang yang diangkut dari masing-masing kota/kabupaten
berdasarkan jenis barang pada Bulan November tahun 2006 seperti terlihat pada tabel
di bawah ini.

Tabel 4.24Volume Barang Menurut Asal


Jenis Barang

Perkebunan

Hasil Hutan
Peternakan
Pertanian

Tambang
Sembako

Industri

Lainnya
Kota/Kab.
Jumlah
Asal

Padang 3.964 1.329 778 1.093 13.460 36 4.575 3.821 29.057


Kab. Padang 76 308 468 860 601 848 3.818 1.072 8.051
Pariaman
Kota 88 126 0 88 450 0 0 88 839
Pariaman
Kab. Agam 744 1.097 331 172 1.146 272 1.513 505 5.778
(Barat)
Kab. Agam 1.115 1.645 496 257 1.718 409 2.269 757 8.667
(Timur)
Kab. Pasaman 356 185 465 201 821 155 465 58 2.707
Barat
Kab. Pasaman 113 51 102 38 339 113 356 458 1.570
Kab. 50 Kota 2.227 837 257 1.795 3.361 25 1.215 4.808 14.526
Kab. Tanah 4.333 2.251 15 1.317 2.231 783 1.684 1.093 14.696
Datar
Padang 34 233 0 2.312 840 0 0 793 4.211
Panjang
Sawah Lunto 97 272 0 136 136 0 153 19 813
Kab. Sawah 3.673 1.191 1.391 1.405 1.247 116 2.316 658 11.998
Lunto
Sijunjung
Kab. Solok 826 1.267 690 99 239 188 1.668 972 5.949
Kab. 413 90 348 12 219 64 580 64 1.793
Dharmasraya
Kab. Solok 98 644 59 195 14 91 14 20 1.133
Selatan
Kab. Pesisir 133 29 84 39 669 39 165 20 1.178
Selatan
Sumber : Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Barat

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa asal barang (komoditi) jenis sembako
didominasi oleh Kabupaten Tanah Datar, pertanian didominasi oleh Kabupaten Agam
(Timur), perkebunan didominasi oleh Kabupaten Sawah Lunto Sijunjung, peternakan
didominasi oleh Kota Padang Panjang, industri didominasi oleh Kota Padang, hasil
hutan didominasi oleh Kabupaten Padang Pariaman, dan hasil tambang didominasi
oleh Kota Padang.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-23


Dari data Dinas Perhubungan pula, diperoleh moda yang digunakan dari dan ke
masing-masing wilayah kabupaten/kota tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 4.25Perjalanan Angkutan Barang berdasarkan Moda di Provinsi Sumatera Barat


Kota/Kab. Asal Besar Sedang Pick Up Jumlah
Padang 662 1.080 543 2.285
Kab. Padang Pariaman 279 104 183 566
Kota Pariaman 8 12 49 69
Kab. Agam (Barat) 102 176 264 542
Kab. Agam (Timur) 153 265 395 812
Kab. Pasaman Barat 80 59 134 273
Kab. Pasaman 17 30 125 172
Kab. 50 Kota 117 751 763 1.631
Kab. Tanah Datar 16 747 762 1.525
Padang Panjang 12 147 209 368
Sawah Lunto 125 45 110 280
Kab. Sawah Lunto Sijunjung 84 537 514 1.135
Kab. Solok 24 247 124 395
Kab. Dharmasraya 49 130 45 224
Kab. Solok Selatan 10 47 49 107
Kab. Pesisir Selatan 49 127 57 233
Sumber : Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Barat

Persentase penggunaan moda angkutan barang di Provinsi Sumatera Barat


berdasarkan data di atas diketahui bahwa moda truk besar adalah 18%, truk sedang
44%, dan pick up sebesar 38%.

Angkutan barang memiliki andil yang sangat besar terhadap kerusakan kondisi
geometrik jalan, sehingga muatan angkutan barang juga harus dilakukan
pengontrolan. Untuk mengontrol aliran barang dari dan ke Sumatera Barat, Provinsi
Sumatera Barat memiliki sembilan jembatan timbang, tiga diantaranya sudah
menggunakan sistem komputerisasi, yakni JTO Lubuk Selasih, JTO Kamang, dan JTO
Sei. Lansek.

Tabel 4.26Lokasi Jembatan Timbang di Provinsi Sumatera Barat


No Nama Jembatan Timbang Lokasi
1 JTO Lubuk Buaya Kota Padang
2 JTO Sitangkai Kab. Tanah Datar
3 JTO Kubu Kerambil Kota Padang Panjang
4 JTO Tanjung Pati Kab. Lima Puluh Kota
5 JTO Rao Kab. Pasaman
6 JTO Tapan Tapan (Kab. Pesisir Selatan)
7 JTO Lubuk Selasih Kab. Solok
8 JTO Sei. Lansek Kab. Sawahlunto Sijunjung
9 JTO Kamang Kab. Sawahlunto Sijunjung
Sumber : Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Barat

Dari sembilan jembatan timbang yang ada di Provinsi Sumatera Barat, pada umumnya
terletak pada jalan nasional, hanya JTO Sitangkai yang terletak di jalan Provinsi. JTO
Kamang, JTO Tapan, JTO Tanjung Pati, dan JTO Rao terletak di perbatasan Provinsi
Sumatera Barat. JTO timbang tersebut memiliki andil yang besar terhadap kondisi

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-24


jalan di Provinsi Sumatera Barat, hal ini dikarenakan JTO tersebut mengontrol
angkutan barang yang berasal dari Bengkulu, Sumatera Utara, Jambi, dan Riau.

4.3.3 Kasus di Lapangan

Di Provinsi Sumatera Barat Komoditi yang menjadi unggulan adalah kopi, kelapa, dan
cengkeh. Untuk zona lokal komoditi ini didistribusikan ke Bukittinggi dan Solok.
Sementara untuk zona eksternal didistribusikan ke Sumatera Selatan, Riau dan Aceh.

Lokasi pangkalan angkutan barang di Sumatera Barat terdapat di Teluk Bayur. Untuk
arahan pengembangan jaringan angkutan barang antar kota diarahkan pada
pengembangan lintas penyeberangan, jaringan jalan, jaringan kereta api, dan feeder
road (jalur penghubung). Untuk mendukung kinerja jaringan angkutan barang,
pengembangan diarahkan pada perbaikan jalan yang rusak, pembatasan muatan truk,
dan pengembangan fasilitas dermaga atau terminal.

Permasalahan pengelolaan angkutan barang di Sumatera Barat, untuk jaringan jalan


adalah kerusakan jalan akibat kelebihan muatan (beban angkut yang berlebihan).
Angkutan barang melalui kereta api, pesawat dan kapal belum berkembang.
Permasalahan juga terjadi karena peran terminal yang kurang optimal. Hal ini
disebabkan karena pemilihan lokasi yang kurang tepat dan kurang dukungan
sarana/prasarana transportasi untuk pencapaian terminal. Solusinya adalah
melengkapi sarana/prasarana transportasi akses terminal.

Sistem pola angkutan logistik barang saat ini di Sumatera Barat cukup baik. Walau
tingkat pelayanan rendah dan belum ada terminal barang yang representatif.
Sementara untuk transportasi sungai dan penyeberangan kendalanya adalah
kurangnya sarana dan prasarana pendukung.

4.4 PROVINSI RIAU

4.4.1 Komoditi Unggulan

4.4.1.1 Sawit

Luas areal perkebunan di Provinsi Riau mencapai 2.350.577 Ha. Tanaman kelapa sawit
merupakan tanaman perkebunan paling potensial dengan luas lahan mencapai
1.530.150 hektar, atau sekitar 60% dari total lahan perkebunan di Propinsi Riau. Luas
areal perkebunan dan produksi minyak sawit di Provinsi Riau dapat dilihat pada tabel
di bawah ini.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-25


Tabel 4.27Luas Areal Perkebunan dan Produksi Minyak Sawit di Provinsi Riau
Tahun Luas (ha) Produksi (ton)
2002 1.313.467 3.697.552
2003 1.486.989 3.832.223
2004 1.340.036 3.386.801
2005 1.424.814 3.406.394
2006 1.530.150 4.659.679
Sumber : Riau Dalam Angka, 2007

Konsentrasi perkebunan kelapa sawit terbesar di Provinsi Riau terletak di Kabupaten


Kampar. Persentase produksi minyak sawit di kabupaten ini mencapai 22% dari total
produksi minyak sawit Provinsi Riau. Luas areal perkebunan dan produksi minyak
sawit Provinsi Riau per kabupaten dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.28Luas Areal Perkebunan dan Produksi Minyak Sawit Provinsi Riau Per
Kabupaten, Tahun 2006
No Kabupaten Luas Areal (ha) Produksi (ton)
1 Siak 166.418,18 573.867,48
2 Rokan Hulu 253.799,00 783.528,69
3 Pelalawan 173.698,50 607.019,98
4 Kampar 279.757,00 1.017.468,00
5 Rokan Hulu 148.758,00 441.840,36
6 Indragiri Hilir 107.213,66 318.424,40
7 Kuantan Singingi 111.793,05 318.780,69
8 Bengkalis 127.078,00 224.400,33
9 Indragiri Hilir 139.702,00 333.288,73
10 Dumai 21.933,00 40.645,20
Riau 1.530.150,39 4.659.263,87
Sumber : Riau Dalam Angka, 2007

Komoditi CPO asal Provinsi Riau telah diekspor ke luar, berikut realisasi ekspor
komoditi CPO Provinsi Riau tahun 2004-2006 seperti ditunjukkan pada tabel di bawah
ini.

Tabel 4.29Realisasi Ekspor Komoditi CPO Provinsi Riau (kg)


No Komoditi 2004 2005 2006
1 Minyak Kelapa sawit 3.567.085.408 4.320.838.259 5.182.412.404
2 Minyak Biji Kelapa Sawit 296.514.087 320.662.832 335.128.189
Sumber : Dinas Perindustrian Riau, 2007

Pada Tahun 2006, jumlah CPO dan turunannya yang diekspor, dibongkar dan dimuat
di Pelabuhan Dumai mencapai 5,5 juta ton. Lalu lintas komoditi CPO dan turunannya
di Pelabuhan Dumai mengalami kecenderungan kenaikan tiap tahun. Lalu lintas
komoditi CPO dan turunannya di pelabuhan Dumai dapat dilihat sebagai berikut.

Tabel 4.30Lalu Lintas CPO dan Turunannya di Pelabuhan Dumai (ton)

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-26


Tahun
No Uraian
2002 2003 2004 2005 2006
1 CPO 1.739.679 1.817.495 1.656.945 1.456.225 1.820.481
2 Turunan CPO 1.788.510 2.144.698 2.764.683 3.262.357 3.675.288
Total 3.528.189 3.962.193 4.421.628 4.718.582 5.495.769
Sumber : Pelabuhan Dumai (2007)

Tabel 4.31Ekspor CPO dan PKO Riau


2004 2005 2006
Nilai Nilai
Uraian Nilai
Vol (ton) (US$x100 Vol (ton) (US$x100 Vol (ton)
(US$x100)
) )
CPO 3.567.085 1.697.679 4.320.838 1.748.425 5.182.412 1.801.184
PKO 296.514 164.432 320.663 177.734 335.128 171.506
Total 3.863.599 1.862.111 4.641.501 1.926.158 5.517.541 1.972.690
Sumber : Dinas Perindustrian Riau (2007)

4.4.1.2 Karet

Perkebunan tanaman karet di Provinsi Riau merupakan tanaman perkebunan dengan


luas lahan mencapai 514.470 hektar, atau sekitar 22% dari total lahan perkebunan di
Propinsi Riau. Luas areal perkebunan dan produksi karet di Provinsi Riau dapat dilihat
pada tabel berikut.

Tabel 4.32Luas Areal Perkebunan dan Produksi Karet di Provinsi Riau


Tahun Luas (ha) Produksi (ton)
2002 547.123 291.181
2003 544.735 303.676
2004 543.783 305.644
2005 528.734 396.291
2006 514.470 415.906
Sumber : Riau Dalam Angka, 2007

Lokasi perkebunan karet terbesar di Provinsi Riau terletak di Kabupaten Kuantan


Singingi. Persentase produksi karet pada kabupaten ini mencapai 22% dari total
produksi karet Riau. Dari beberapa komoditi unggulan yang dimiliki Provinsi Riau,
dapat dipetakan lokasi muat barang yang mungkin terjadi di wilayah ini seperti
terlihat pada gambar di bawah ini.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-27


Gambar 4.9 Lokasi Gudang Muat di Provinsi Riau

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-28


4.4.2 Potret Angkutan Barang

Secara geografis Propinsi Riau berada pada lintasan pergerakan kendaraan jarak jauh
antara Pulau Sumatera bagian utara, Propinsi Sumatera Barat, Pulau Sumatera bagian
selatan dan Pulau Jawa.

Untuk kegiatan pengawasan dan penertiban angkutan barang di Propinsi Riau telah
dibangun Balai Timbangan Kendaraan Bermotor yang beroperasi di Duri (Bengkalis),
Muara Lembu (Kuantan Singingi), Rantau Berangin (Kampar) dan Ujung Batu (Rokan
Hulu). Balai Timbangan Kendaraan Bermotor mempunyai tugas sebagai alat
pengawasan terhadap kendaraan bermotor beserta muatannya.

Beradasarkan data dari Dinas Perhubungan Provinsi Riau, jumlah kendaraan bermotor
yang ditimbang pada tahun 2007 sebagai berikut :
1. Balai Timbangan Kendaraan Bermotor Duri : 190.653 unit
2. Balai Timbangan Kendaraan Bermotor Rantau Berangin : 94.046 unit
3. Balai Timbangan Kendaraan Bermotor Ujung Batu : 52.121 unit
4. Balai Timbangan Kendaraan Bermotor Muara Lembu : 37.258 unit

Pembagian wilayah untuk meng’cover’ seluruh jaringan jalan :


1. Wilayah lintas utara : Duri
2. Wilayah lintas selatan : Logas
3. Wilayah lintas barat : Rantau Berangin, Ujung Batu
4. Wilayah lintas timur : Rengat, Selensen dan Pelalawan

Lokasi-lokasi outlet Propinsi Riau diantaranya adalah: Dumai, Menkapan Buton dan
Kuala Enok. Kebutuhan pengembangan terminal angkutan barang ini direncanakan
disesuaikan dengan prediksi pergerakan barang yang akan melalui ketiga outlet
pelabuhan tersebut.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-29


Gambar 4.10 Kondisi Bongkar Muat di Terminal Dumai

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-30


Gambar 4.11 Kondisi Pemberhentian Mobil Angkutan Barang di Provinsi Riau

Gambar 4.12 Terminal Bongkar Muat Barang Air Molek Provinsi Riau

4.4.3 Kasus di Lapangan

Pengangkutan kendaraan barang di wilayah Provinsi Riau mengalami beberapa


permasalahan, diantaranya:
1. Tingginya tingkat kecelakaan lalu lintas jalan raya akibat kondisi kerusakan jalan
dan keterbatasan fasilitas lalu lintas jalan

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-31


2. Pengangkutan potensi Sumber Daya Alam belum optimal dilakukan akibat belum
adanya sarana pengangkutan alternatif.
3. Belum terpenuhinya permintaan perusahaan-perusahaan industri besar terhadap
sarana pengangkutan dengan daya besar, murah, efektif dan efisien.
4. Terbatasnya Sarana Roll On-Roll Off (Ro-Ro) yang menghubungkan antar pulau,
baik skala regional maupun internasional (negara tetangga).
5. Belum tersedianya sarana dan prasarana angkutan perkeretaapian di Propinsi Riau
guna melayani permintaan angkutan komoditi pertambangan, kehutanan,
perkebunan dan sektor lainnya.

Di provinsi Riau Komoditi yang menjadi unggulan adalah kelapa sawit/CPO, pulp dan
paper, batu bara, minyak bumi, karet dan kayu. Untuk zona lokal komoditi ini
didistribusikan ke Dumai, Bengkalis, Pelalawan, Rokan Hulu, dan Siak. Sementara
untuk zona eksternal didistribusikan ke Kepulauan Riau dan Sumatera Utara.

Lintasan pergerakan angkutan barang yang melalui wilayah perkotaan/pusat kota


terdapat di Pekanbaru, Kampar, Siak, Rokan Hulu, Dumai, Bengkalis, Pelalawan. Di
Provinsi Riau ada rencana pengembangan terminal di wilayah Ring Road-Arengka,
Pekanbaru, dan Dumai. Arahan pengembangan jaringan angkutan barang antar kota
diarahkan pada pengembangan jaringan jalan, jaringan kereta api, dan feefer road
(jalur penghubung). Untuk mendukung kinerja jaringan angkutan barang,
pengembangan diarahkan pada perbaikan jalan yang rusak, pembatasan muatan truk,
dan pengembangan fasilitas dermaga atau terminal.

Permasalahan pengelolaan angkutan barang di Riau, untuk jaringan jalan adalah


kerusakan jalan akibat kelebihan muatan (beban angkut yang berlebihan) dan
penyalahgunaan ruas-ruas jalan untuk kegiatan perdagangan. Untuk masalah-
masalah tersebut, solusi yang mungkin dilakukan adalah peningkatan daya dukung
jalan/kelas jalan, penegakan aturan/hukum, membuat jalan alternatif, dan multimoda.

Untuk pengembangan jaringan transportasi darat (prasarana dan sarana) yang


mendesak adalah pengembangan terminal angkutan barang di Pekanbaru dan
terminal CPO di Dumai. Sementara untuk pengembangan transportasi sungai dan
penyeberangan direncanakan pengembangan Penyeberangan Kuala Enok dan
dermaga sungai Pulau Burung & Pulau Sapat.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-32


4.5 PROVINSI JAMBI

4.5.1 Komoditi Unggulan

4.5.1.1 Sawit

Luas areal perkebunan kelapa sawit di Propinsi Jambi tahun 2006 mencapai 422.940
ha dengan tingkat produksi mencapai 19.448 ton minyak sawit. Luas areal dan
produksi perkebunan sawit di Provinsi Jambi dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.33Luas Areal Perkebunan dan Produksi Minyak Sawit di Provinsi Jambi,
Tahun 2002-2006
Tahun Luas (ha) Produksi (ton)
2002 302.152 660.320
2003 326.890 664.164.
2004 365.304 795.848
2005 403.467 936.595
2006 422.940 19.448
2007 450.924 1.157.566
Sumber : Jambi Dalam Angka 2006

Kabupaten yang memiliki luas dan produksi perkebunan sawit terbesar di Jambi
adalah Muaro Jambi. Luas perkebunan dan produksi minyak sawit Kabupaten Muaro
Jambi mencapai 22% dari luas perkebunan dan produksi minyak sawit Jambi. Luas
perkebunan dan produksi minyak sawit di Jambi per kabupaten dapat dilihat pada
tabel berikut.

Tabel 4.34Luas Areal Perkebunan dan Produksi Minyak Sawit Provinsi Jambi Per
Kabupaten, Tahun 2007
Luas Areal Produksi Minyak Sawit
No Kabupaten/Kota
(Ha) (ton)
1 Batanghari 65.993 160.756
2 Muaro Jambi 112.756 258.709
3 Bungo 49.352 144.788
4 Tebo 41.038 92.949
5 Merangin 46.280 153.983
6 Sarolangun 39.136 98.652
7 Tanjung jabung 72.207 220.642
8 Barat
Tanjung Jabung 24.099 27.087
9 Timur
Kerinci 63 0
10 Jambi 0 0
Jumlah 450.924 1.157.566
Sumber : Statistik Perkebunan Jambi 2007

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-33


4.5.1.2 Karet

Luas areal perkebunan karet di Propinsi Jambi tahun 2006 mencapai 622.414 ha
dengan tingkat produksi mencapai 255.702 ton. Luas areal dan produksi perkebunan
karet di Provinsi Jambi dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.35Luas Areal Perkebunan Karet di Jambi, tahun 2002-2006


Tahun Luas (ha) Produksi (ton)
2002 561.162 239.625
2003 563.502 241.704
2004 567.042 236.317
2005 622.192 247.568
2006 622.414 255.702
Sumber : Jambi dalam Angka, 2004-2007

Kabupaten yang memiliki produksi perkebunan karet terbesar di Jambi adalah


Sarolangun. Produksi karet Kabupaten Sarolangun mencapai 19% dari produksi karet
Jambi. Luas perkebunan dari produksi karet di Jambi per kabupaten dapat dilihat pada
tabel di bawah ini.

Tabel 4.36 Luas Areal Perkebunan dan Produksi Karet Provisni Jambi Menurut Kabupaten dan Jenis Perkebunan
Luas Areal (Ha)
Kabupaten/Kota Produksi (Ton)
TBM TM TTM Jumlah
Batang Hari 16.889 68.385 23.022 10.296 48.902
Muaro Jambi 11.430 36.533 12.472 6.435 29.831
Bungo 23.538 415 26.927 9.470 29.114
Tebo 24 709 59.710 26.341 11.760 46.791
Merangin 32.201 60 639 27 966 12.806 45.883
Sarolangun 32 167 56 361 2812000 11.648 49 979
Tanjung Jabung Barat 1.903 8 676 6.118 1.697 7.159
Tanjung Jabung Timur 1.739 2.801 816 5.356 1.802
Kerinci 684 389 48 1.121 234
Total 145.260 334.499 151.830 83.589 259.895
145.260
Sumber : Statistik Perkebunan Provinsi Jambi, 2007

Dari beberapa komoditi unggulan yang dimiliki Provinsi Jambi, dapat dipetakan lokasi
muat barang yang mungkin terjadi di wilayah ini seperti terlihat pada gambar di
bawah ini.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-34


Gambar 4.13 Lokasi Gudang Muat di Provinsi Jambi

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-35


4.5.2 Potret Terminal Barang

Terminal sebagai salah satu prasarana transportasi darat di Provinsi Jambi tersebar di
Kabupaten Kota. Hampir seluruh kabupaten di Provinsi Jambi telah dilengkapi oleh
terminal, kecuali kabupaten baru seperti; Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur dan
Kabupaten Tebo. Terminal barang di Provinsi Jambi terdapat di Kabupaten Kerinci
(Terminal Barang Sehilir Semudik).

Pemerintah provinsi Jambi daerah sejak tahun 1997/1998 telah membangun


Pelabuhan Muara Sabak yang dititikberatkan pada Pelabuhan Barang dan
mengembangkan Pelabuhan Kuala Tungkal untuk melayani pergerakan orang dan
jasa. Pelabuhan Muara Sabak diharapkan dapat menampung kapal dengan kapasitas
150 DWT dari sekarang yang hanya menampung kapat 50 DWT. Kegiatan
ekspor/impor di Provinsi Jambi dilakukan pada 3 (tiga) pelabuhan yaitu : Pelabuhan
Talang Duku Jambi, Pelabuhan Muara Sabak dan Pelabuhan Kuala Tungkal. Dari ketiga
pelabuhan tersebut Pelabuhan Talang Duku Jambi merupakan pelabuhan yang
memiliki kegiatan bongkar/muat serta ekspor/impor terbesar.

Angkutan barang saat ini sangat mengandalkan moda angkutan darat. Dengan kondisi
tanah yang relatif labil beban angkutan darat yang besar menyebabkan jalan
senantiasa mengalami kerusakan hampir sepanjang tahun.

4.6 PROVINSI SUMATERA SELATAN

4.6.1 Komoditi Unggulan

4.6.1.1 Sawit

Luas areal perkebunan besar kelapa sawit di Propinsi Sumatera Selatan tahun 2006
mencapai 499.981 ha dengan tingkat produksi mencapai 1.043.251 ton minyak sawit.
Luas areal dan produksi perkebunan sawit di Sumatera Selatan dapat dilihat pada
tabel di bawah ini.

Tabel 4.37Luas Areal Perkebunan Besar dan Produksi Sawit di Provinsi Sumatera
Selatan, Tahun 2002-2006
Tahun Luas (ha) Produksi (ton)
2002 398.269 937.884
2003 352.0641 856.399
2004 411.546 1.231.538
2005 454.065 1.080.363
2006 499.981 1.043.251
Sumber : Sumatera Selatan Dalam Angka, 2006

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-36


Kabupaten yang memiliki luas dan produksi perkebunan sawit terbesar di Sumatera
Selatan adalah Kabupaten Musi Banyuasin. Luas perkebunan dan produksi minyak
sawit Kabupaten Musi Banyuasin mencapai 32% dari luas dan perkebunan dan
produksi minyak sawit Provinsi Sumatera Selatan. Luas perkebunan dan produksi
minyak sawit di Provinsi Sumatera Selatan per kabupaten dapat dilihat pada tabel di
bawah ini.

Tabel 4.38Luas Areal Perkebunan dan Produksi Minyak Sawit Sumatera Selatan
Kabupaten, Tahun 2007
No Kabupaten / Kota Luas (ha) Produksi (ton)
1 Ogan Komering Ulu Areal
58.943 Minyak
164.974
2 Ogan Komering Illir 111.887 293.317
3 Muara Enim 75.555 207.867
4 Lahat 45.987 119.853
5 Musi Rawas 79.966 302.719
6 Musi Bayuasin 150.708 416.046
7 Banyuasin 115.394 293.317
8 OKU Selatan 0 0
9 OKU Timur 25.663 24.419
10 Ogan Illir 12.981 35.029
11 Palembang 0 0
12 Prabumulih 5.591 8.443
13 Pagar Alam 0 0
14 Lubuk Linggau 55 15
Total Provinsi 682.730 1.919.416
Sumber : Statistik Perkebunan Sumatera Selatan, 2007

Komoditi yang memiliki potensi peningkatan signifikan dimasa mendatang adalah


CPO. Hal ini mengingat jumlah perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan cukup
luas. Sektor industri dan agrobisnis masih terbuka peluang investasi yang sangat Luas
bagi investor yang berminat. Manajemen telah mengantisipasi peningkatan arus
komoditi di masa mendatang melalui penyediaan terminal peti kemas yang didukung
berbagai peralatan modern yang akan mampu menjamin pelayanan kapal dan barang.

Tabel 4.39Komoditi Ekspor (Boom Baru) Tahun 2002 s/d 2007 (ton)
Tahun
No Uraian
2002 2003 2004 2005 2006 2007
1 BBM Non 423.900 2010 2240 9940 4970 281.453
2 Karet 379.065 438.118 424.779 493.526 566.874 705.188
3 Batubara 250.978 341.481 642.470 484.565 305.520 446.795
4 Pupuk Area 23.999 105.156 1.600 48.106 12.782 283.462
5 Amoniak 58.598 24.159 73.346 65.431 51.265 67.361
6 Wood Product 48.144 48.092 37.120 27.300 23.820 43.496
7 Plywood 49.057 44.676 62.741 37.965 26.380 14.186
8 Gula Tetes 150 13.800 240 250 12.500 120
9 Kopi 5.589 1.445 0 400 0 180
10 Minyak Sawit 278 5.882 28.147 19.893 44.455 20.450
11 Melamin 3.508 1.177 0 0 0 101

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-37


Tahun
No Uraian
2002 2003 2004 2005 2006 2007
12 Udang 1.463 1.463 1.615 1.940 1.560 1.630
13 Minyak Kelapa 227 627 0 0 40 0
14 Tiang beton/Pancang 0 0 0 0 0 0
15 Buah-buahan 0 0 0 0 0 0
16 lainnya 5.779 5.868 193.143 193.143 575.758 590.325
Total 1.292.315 1.232.884 1.551.303 2.391.26 2.117.95 2.466.627
7 4
Sumber : Pelindo II, 2007

Tabel 4.40Komoditi Muat (Boom Baru) Tahun 2002 s/d 2007 (ton)
Tahun
No Uraian
2002 2003 2004 2005 2006 2007
1 BBM Non 3.366.100 3.494.100 2.215.590 1.384.780 15.510 1.174.587
2 Karet 1.211.090 1.063.272 1.455.082 1.592.485 1.462.328 1.206.807
3 Batubara 528.500 592.430 1.223.360 111.730 103.430 727.896
4 Pupuk Area 915.664 1.021.889 857.518 1.128.408 785.526 929.648
5 Amoniak 7800 8350 3500 0 0 0
6 Wood Product 172.706 192.436 271.404 211.903 155.157 88.813
7 Plywood 25.776 38.435 56.725 426.869 64.439 63.688
8 Gula Tetes 11.300 20 0 0 0 2.500
9 Kopi 3.380 0 20.927 9.955 0 0
10 Minyak Sawit 5.696 4.831 4.564 10.833 305 3.126
11 Melamin 1.680 3.380 3.140 100 920 370
12 Udang 7.415 7.640 4.280 1.800 900 1.807
13 Minyak Kelapa 2.618 2.143 1.300 3.106 4.800 2.455
14 Tiang 2.997 559 1.180 1.080 3.162 832
15 beton/Pancang 0 24.040 41.870 60.720 36.070 831
16 Buah-buahan 33.880 35.562 66.411 119.616 151.892 1.313.496
lainnya
Total 7.068.80 7.317.71 6.573.65 5.027.38 3.774.43 5.516.856
2 7 1 5 9
Sumber : Pelindo II, 2007

4.6.1.2 Karet

Luas areal perkebunan besar karet di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2006 mencapai
67.938 ha dengan tingkat produksi mencapai 76.369 ton. Luas areal dan produksi
perkebunan karet di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.41Luas Areal Perkebunan Besar Karet dan Jumlah produksi Minyak Sawit di
Provinsi Sumatera Selatan, Tahun 2002 – 2006
Tahun Luas (ha) Produksi (ton)
2002 70.161 50.846
2003 30.102 72.070
2004 42.626 75.728
2005 65.239 83.865
2006 67.938 76.369
Sumber : Sumatera Selatan Dalam Angka, 2006

Kabupaten yang memiliki produksi perkebunan karet terbesar di Sumatera Selatan


adalah Kabupaten Muara Enim. Produksi karet Kabupaten Muara Enim mencapai 21%

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-38


dari produksi karet Provinsi Sumatera Selatan. Luas perkebunan dan produksi karet di
Sumatera Selatan per kabupaten dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-39


Tabel 4.42Perkebunan Karet Rakyat di Provinsi Sumatera Selatan Menurut
Kabupaten
Luas Areal (ha) Produksi
Kab/Kota
TBM TM TTM Jumlah (ton)
Ogan Komering Ulu 0 1.625 0 1.625 2.106
Ogan Komering Illir 0 0 0 0 0
Muara Enim 0 4.035 0 4.035 5.705
Lahat 271 1.530 0 1.801 2.473
Musi Rawas 0 0 0 0 0
Musi Banyuasin 0 0 0 0 0
Banyuasin 1796 5.106 850 7.752 9.383
OKU Selatan 0 0 0 0 0
OKU Timur 0 0 0 0 0
Ogan Illir 0 0 0 0 0
Palembang 0 0 0 0 0
Prabumulih 0 0 0 0 0
Pagar Alam 0 0 0 0 0
Lubuk Linggau 0 0 0 0 0
Total Sumatera Selatan 2.067 12.296 850 15.213 19.667
Sumber : Statistik Perkebunan provinsi Sumatera Selatan, 2007

Tabel 4.43Perkebunan Rakyat Besar Swasta di Provinsi Sumatera Selatan Menurut


Kabupaten
Luas Areal (ha) Produksi
Kab/Kota
TBM TM TTM Jumlah (ton)
Ogan Komering Ulu 347 580 0 927 740
Ogan Komering Illir 927 10.843 0 11.770 13.068
Muara Enim 0 822 0 822 1.076
Lahat 0 0 12 12 0
Musi Rawas 762 40 554 1.356 35
Musi Banyuasin 2.118 1.544 2.904 6.576 1.564
Banyuasin 1.122 3.907 399 5.398 6.837
OKU Selatan 0 0 0 0 0
OKU Timur 0 80 0 80 105
Ogan Illir 1.964 3.285 2.647 7.896 3.443
Palembang 0 0 0 0 0
Prabumulih 0 0 0 0 0
Pagar Alam 0 0 0 0 0
Lubuk Linggau 0 0 0 0 0
Total Sumatera Selatan 7.240 21.111 6.488 34.837 26.868

Tabel 4.44Perkebunan Karet Rakyat menurut Kabupaten di Sumatera Selatan


Luas Areal (ha) Produksi
Kabupaten
TBM TM TTM Jumlah (ton)
Ogan Komering Ulu 15.848 47.703 3.133 66.684 60.582
Ogan Komering Illir 36.321 69.077 11.679 117.077 73.222
Muara Enim 46.754 1143 14.753 175.51 149.344
Lahat 10.730 14.731 3.472 28.933 23.864
Musi Rawas 28.321 142.601 52.322 223.244 124.063
Musi Banyuasin 36.390 107.866 20.976 165.232 106.787
Banyuasin 22.474 64.508 9.649 96.631 108.373
OKU Selatan 1.871 125 0 1.996 163
OKU Timur 16.438 23.098 5.455 44.991 31.413

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-40


Luas Areal (ha) Produksi
Kabupaten
TBM TM TTM Jumlah (ton)
Ogan Illir 8.325 16.250 4.405 28.980 16.412
Palembang 0 0 0 0 0
Prabumulih 3.763 11.937 2.666 18.366 20.412
Pagar Alam 925 154 0 1.079 132
Lubuk Linggau 1.400 5.633 2.369 9.402 7.605
Total 229.560 617.686 130.879 978.125 722.372
Sumber : Statistik Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, 2007

Tabel 4.45Total Volume dan Nilai Ekspor Karet di Sumatera Selatan Menurut
Pelabuhan Asal (Januari s.d Agustus 2006)
Total
Pelabuhan Asal
Volume (Kg) Nilai (US$)
Palembanng – Plaju 102.889.823 208.870.276
SM.badaruddin (U) 71.208.452 154.460.880
Musi River/ Boom Baru 475.977.087 874.944.944
Total 650.875.362 1.238.276.150
Sumber : Departemen Pertanian, 2007

Dari beberapa komoditi unggulan yang dimiliki Provinsi Sumatera Selatan, dapat
dipetakan lokasi muat barang yang mungkin terjadi di wilayah ini seperti terlihat pada
gambar di bawah ini.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-41


Gambar 4.14 Lokasi Gudang Muat di Provinsi Sumatera Selatan

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-42


4.6.2 Kasus di Lapangan

Pelabuhan Boom Baru, Palembang di Sungai Musi, adalah pelabuhan sungai terbesar
diwilayah Sumatera dan sekaligus merupakan tumpuan urat nadi pertumbuhan
ekonomi Provinsi Sumatera Selatan. Pelabuhan Palembang memiliki pelabuhan
kawasan yang sangat potensial dimasa mendatang dan terbuka bagi kerjasama
investasi yaitu Sungai Lais yang didukung areal yang cukup luas untuk kegiatan
industri pengolahan. Perkembangan Pelabuhan Palembang sangat didukung oleh
pertumbuhan hinterlandnya yang meliputi pertanian, pertambangan dan industri.

Di provinsi Sumatera Selatan Komoditi yang menjadi unggulan adalah kelapa, dan
cengkeh. Untuk zona lokal, komoditi ini didistribusikan ke Lahat, Baturaja, dan
Martapura. Untuk zona eksternal didistribusikan ke Sumatera Lampung, Riau, Padang
dan Aceh.

Lokasi pangkalan angkutan barang di Sumatera Selatan terdapat di Indralaya dan Ilir.
Arahan pengembangan jaringan angkutan barang antar kota diarahkan pada
pengembangan lintas penyeberangan, jaringan jalan, jaringan kereta api, dan feeder
road (jalur penghubung). Untuk mendukung kinerja jaringan angkutan barang,
pengembangan diarahkan pada perbaikan jalan yang rusak, pengembangan moda
menuju terminal, pembatasan muatan truk, dan pengembangan fasilitas dermaga
atau terminal.

Permasalahan pengelolaan angkutan barang di Sumatera Selatan, untuk jaringan jalan


adalah kerusakan jalan akibat kelebihan muatan (beban angkut yang berlebihan) dan
angkutan barang melalui kereta api, pesawat dan kapal belum berkembang.
Permasalahan juga terjadi karena peran terminal yang kurang optimal. Hal ini
disebabkan karena pemilihan lokasi yang kurang tepat dan kurang dukungan
sarana/prasarana transportasi untuk pencapaian terminal. Solusinya adalah
mempermudah akses masuk terminal atau pemindahan lokasi terminal.

4.7 PROVINSI BENGKULU

4.7.1 Komoditi Unggulan

4.7.1.1 Sawit

Luas areal perkebunan kelapa sawit di Propinsi Bengkulu tahun 2007 mencapai
165.810 ha dengan tingkat produksi mencapai 1.744.593 ton. Luas areal dan produksi
perkebunan sawit di Bengkulu dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-43


Tabel 4.46Luas Areal Perkebunan dan Produksi Sawit di Bengkulu, Tahun 2002-2006
Tahun Luas (ha) Produksi (ton)
2003 62.096 289.044
2004 66.149 314.609
2005 88.564 660.521
2006 100.934 981.413
2006 165.810 1.744.593
Sumber : Statistik Perkebunan Bengkulu 2007

Kabupaten yang memiliki luas dan produksi perkebunan sawit terbesar di Bengkulu
adalah Mukomuko. Luas perkebunan dan produksi minyak sawit Kabupaten Mukomuko
mencapai 47% dari luas perkebunan dan produksi minyak sawit Bengkulu. Luas
perkebunan rakyat dan produksi minyak sawit di Bengkulu per kabupaten dapat dilihat
pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.47Luas Areal Perkebunan Rakyat dan Produksi Minyak Sawit Bengkulu per
Kabupaten, Tahun 2006
Kabupaten / Luas Areal Produksi Minyak
No
Kota (Ha) Sawit (ton)
1 Bengkulu Selatan 11.362 9.985
2 Bengkulu Utara 25.662 51.988
3 Rejang Lebong 22 37
4 Mukomuko 43.460 95.963
5 Kaur 3.287 2.764
6 Seluma 15.383 37.204
7 Kepahiang 24 13
8 Lebong 15 11
9 Bengkulu 1.645 4.818
Total Provinsi 100.860 818202.782
202.782
Sumber : Bengkulu Dalam Angka, 2007

4.7.1.2 Karet

Luas areal perkebunan karet di Propinsi Bengkulu tahun 2007 mencapai 100.340 ha
dengan tingkat produksi mencapai 100.193 ton. Luas areal dan produksi perkebunan
karet di Bengkulu dapat dilihat pada di bawah ini.

Tabel 4.48Luas Areal dan Produksi Perkebunan Karet di Bengkulu, Tahun 2002-2006
Tahun Luas (ha) Produksi (ton)
2003 96.184 96.184
2004 96.864 63.052
2005 79.882 72.910
2006 82.948 67.808
2007 100.340 100.193
Sumber : Statistik Perkebunan Bengkulu, 2007

Kabupaten yang memiliki luas dan produksi perkebunan karet terbesar di Bengkulu
adatah Bengkulu Utara. Luas perkebunan dan produksi karet Kabupaten Bengkulu
Utara mencapai 42,35% dari luas perkebunan dan produksi karet Bengkulu. Luas

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-44


perkebunan dan produksi karet di Bengkulu per kabupaten dapat dilihat pada tabel-
tabel di bawah ini.

Tabel 4.49Perkebunan Karet Rakyat di Provinsi Bengkulu Menurut Kabupaten


Luas Areal (Ha) Produksi
Kab/Kota
TBM TM TTM Jumlah (ton)
Bengkulu Utara 5.405 21.261 725 27.391 31.891.50
Mukomuko 7.856 7.726 711 16.290 11.589
Rejan Lebon 1.874 5.850 776 8.500 8.950
Kepahiang 1 28 0 29 36.40
Lebon 847 291 95 1.233 362.20
Ben kulu Selatan 1.409 1.485 7 2.901 3.239
Seluma 2.966 20.611 2.615 26.182 25.763.75
Kaur 3.317 797 10 4.124 1.163.62
Kota Bengkulu 72 50 6 128 68.75
Total Bengkulu 23.734 58.099 4.945 86.778 83.064.32
Sumber : Statistik Perkebunan Provinsi Bengkulu, 2007

Tabel 4.50Perkebunan Karet Swasta di Provinsi Bengkulu Menurut Kabupaten


Luas Areal (Ha)
Kabupaten Produksi (ton)
TBM TM TTM Jumlah
Bengkulu Utara 438 4.702 13 5.153 8.228.50
Mukomuko 1.826 208 0 2.034 343
Rejan Lebon 0 0 0 0 0
Kepahiang 0 0 0 0 0
Lebon 0 0 0 0 0
Bengkulu Selatan 0 0 0 0 0
Seluma 0 0 0 0 0
Kaur 0 0 0 0 0
Kota Bengkulu 0 0 0 0 0
Total Bengkulu 2.264 4.910 13 7.187 8.571.70
Sumber : Statistik Perkebunan Provinsi Bengkulu, 2007

Tabel 4.51Perkebunan Karet Besar Negara di Provinsi Bengkulu Menurut Kabupaten


Luas Areal (Ha)
Kabupaten Produksi (ton)
TM TTM Jumlah
Bengkulu Utara 1.858 0 20 2.879.900
Seluma 4.375 0 4.375 7.000.000
Total Bengkulu 6.233 0 4.395 9.879.900
Sumber : Statistik Perkebunan Provinsi Bengkulu, 2007

Dari beberapa komoditi unggulan yang dimiliki Provinsi Bengkulu, dapat dipetakan
lokasi muat barang yang mungkin terjadi di wilayah ini seperti terlihat pada gambar di
bawah ini.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-45


Gambar 4.15 Lokasi Gudang Muat di Provinsi Bengkulu

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-46


4.8 PROVINSI LAMPUNG

4.8.1 Komoditi Unggulan

4.8.1.1 Sawit

Pada Tahun 2007, luas areal perkebunan kelapa sawit di Propinsi Lampung mencapai
152.366 ha dengan tingkat produksi mencapai 358.353 ton minyak sawit. Luas areal
dan produksi perkebunan sawit di Lampung dapat dilihal pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.52Luas Areal Perkebunan dan Produksi Sawit di Provinsi Lampung, Tahun
2002-2007
Tahun Luas (ha) Produksi (ton)
2002 147.273 154.333
2003 143.904 176.559
2004 145.542 225.235
2005 150.990 367.840
2006 151.865 349.687
2007 152.366 358.353
Sumber : Statistik Perkebunan Lampung, 2007

Kabupaten yang memiliki luas dan produksi perkebunan sawit terbesar di Provinsi
Lampung adalah Kabupaten Tulang Bawang. Luas perkebunan dan produksi minyak
sawit Kabupaten Tulang Bawang mencapai 62% dari luas dan perkebunan dan
produksi minyak sawit Lampung. Luas perkebunan dan produksi minyak sawit di
Lampung per kabupaten dapat dilihal pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.53Luas Areal Perkebunan dan Produksi Minyak Sawit Lampung per
Kabupaten, Tahun 2007
Kabupaten / Luas Area Produksi Minyak Sawit
No
Kota (Ha) (ton)
1 Lampung Selatan 7.987 19,837
2 Tampung Tengah 22.026 62.957
3 Lampung Timur 1.329 1.135
4 Lampung Utara 12.306 21.885
5 Way Kanan 28.161 29,579
6 Lampung Barat 3.476 9,808
7 Tulang Bawang 76.917 212,675
8 Tanggamus 164 477
9 Bandar Lampung 0 0
10 Kota Metro 0 0
Total Provinsi 152.366 358.353
Sumber : Statistik Perkebunan Lampung, 2007

4.8.1.2 Karet

Luas areal perkebunan karet di Propinsi Lampung tahun 2007 mencapai 96.408 ha
dengan tingkat produksi mencapai 54.777 ton. Luas areal dan produksi perkebunan
karet di Provinsi Lampung dapat dilihat pada tabel berikut.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-47


Tabel 4.54Luas Areal Perkebunan dan Produksi Karet di Provinsi Lampung Tahun
2002 – 2006
Tahun Luas (ha) Produksi (ton)
2003 103.968 59.851
2004 102.998 607
2005 96.297 54.461
2006 96.297 542
2007 96.408 54.777
Sumber : Statistik perkebunan Lampung 2007

Kabupaten yang memiliki produksi perkebunan karet terbesar di Provinsi Lampung


adalah Kabupaten Tulang Bawang. Produksi karet kabupaten Tulang Bawang
mencapai 42% dari produksi karet Lampung. Luas perkebunan dan produksi karet di
Provinsi Lampung per kabupaten dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.55Perkebunan Karet Rakyat di Provinsi Lampung Menurut Kabupaten


Luas Areal (ha) Produksi
Kab/kota
TBM TM TTM Jumlah (ton)
Lampung Selatan 118 838 60 1,016 693
Lampung Tengah 585 213 57 855 121
Lampung Timur 144 292 18 454 283
Lampung Utara 6,300 5,144 640 12,084 5,118
Way Kanan 17,300 6,629 2,645 26,574 6,303
Lampung Barat 0 0 0 0 0
Tulang Bawang 19,960 13,713 732 27,405 17,745
Tenggamus 16 44 24 84 40
Kota Bandar Lampung 0 0 0 0 0
Total Lampung 37,423 26,873 4,176 68,472 30,303
Sumber : Statistik Perkebunan Provinsi Lampung, 2007

Tabel 4.56Perkebunan Karet Besar Negara di Provinsi Lampung Menurut Kabupaten


Luas Areal (ha) Produksi
Kab/kota
TBM TM TTM Jumlah (ton)
Lampung Selatan 2.700 9.422 0 12.122 10.647
Lampung Tengah 0 0 0 0 0
Lampung Timur 0 0 0 0 0
Lampung Utara 300 5.211 0 5.511 7.556
Way Kanan 0 0 0 0 0
Lampung Barat 0 0 0 0 0
Tulang Bawang 0 0 0 0 0
Tenggamus 0 0 0 0 0
Kota Bandar
0 0 0 0 0
Lampung
Total Lampung 3.000 14.633,60 0 17.633 18.203
Sumber : Statistik Perkebunan Provinsi Lampung, 2007

Tabel 4.57Perkebunan Karet Besar Swasta di Provinsi Lampung Menurut Kabupaten


Luas Areal (ha) Produksi
Kab/kota
TBM TM TTM Jumlah (ton)
Lampung Selatan 0 0 0 0 0
Lampung Tengah 0 0 0 0 0
Lampung Timur 0 0 0 0 0

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-48


Luas Areal (ha) Produksi
Kab/kota
TBM TM TTM Jumlah (ton)
Lampung Utara 0 969 0 969 830
Way Kanan 5.000 0 0 5.000 0
Lampung Barat 0 0 0 0 0
Tulang Bawang 0 3.695 0 3.695 5.195
Tenggamus 25 443 171 639 246
Kota Bandar Lampung 0 0 0 0 0
Total Lampung 5.025 5.107 171 10.303 6.271
Sumber : Statistik Perkebunan Provinsi Lampung, 2007

Tabel 4.58Total Perkebunan Karet Menurut Kabupaten di Provinsi Lampung


Total (PR+PBS+PBN)
Kabupaten Luas Areal (Ha)
Produksi (ton)
TBM TM TTM Jumlah
Lampun Selatan 2.818 10.260 60 13.138 11.340
Lampung Tengah 585 213 57 855 121
Lampun Timur 144 292 18 454 283
Lamp ung Utara 6.600 11.324 640 18.564 13.504
Way Kanan 22.300 6.629 2.645 31.574 6.303
Lamp ung Barat 0 0 0 0 0
Tulan Bawan 12.960 17.408 732 31.100 22.940
Tang gamus 41 487 195 723 286
Kota Bandar Lamp 0 0 0 0 0
Total Lampung 45.448 46.613 4.347 96.408 54.777
Sumber : Statistik Perkebunan Provinsi Lampung, 2007

Dari beberapa komoditi unggulan yang dimiliki Provinsi Bengkulu, dapat dipetakan
lokasi muat barang yang mungkin terjadi di wilayah ini seperti terlihat pada gambar di
bawah ini.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-49


Gambar 4.16 Lokasi Gudang Muat di Provinsi Lampung

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-50


4.8.2 Potret Angkutan Barang

4.8.2.1 Jembatan Timbang

Jembatan timbang merupakan alat untuk pengawasan muatan lebih sesuai dengan
kapasitas kendaraan yang telah ditentukan. JBI dan Muatan Sumbu Terberat (MST) di
Provinsi Lampung pada tahun 2004 memiliki sebanyak 7 lokasi di jembatan timbang
yaitu di Kabupaten Way Kanan (Belambangan Umpu), Kabupaten Lampung Utara (Aji
Kagungan), Kabupaten Tulang Bawang (Pematang Panggang) dan 4 (empat) lokasi di
Kabupaten Lampung Selatan (Tegineneng, Gayam dan Way urang).

4.8.2.2 Angkutan Kereta Api

Angkutan barang di Provinsi Lampung salah satunya dilayani oleh kereta api. Kereta
api provinsi Lampung melayani angkutan barang umum dan angkutan barang khusus.
Angkutan barang umum diangkut oteh gerbong atau kereta bagasi dengan syarats-
yarat umum angkutan barang. Angkutan barang khusus melayani jenis komoditi
tertentu, antara lain: batubara, klinker, pulp. Khusus untuk angkutan batubara dari
Tanjung Enim Provinsi Sumatera Selatan tujuan PLTU Suralaya di Provinsi Banten
dimana operasionalnya dipusatkan di Tarahan Provinsi Lampung. Realisasi angkutan
pada tahun 2003 sebesar 6.790.600 tom (naik 3,82°6 dari tahun lalu). Volume rata-
rata setama 5 tahun terakhir (1999-2003) mencapai 6.690.210 ton/tanun, turun
1,45%.

Angkutan Kereta Api merupakan alternatif moda transportasi yang memiliki peranan
penting dalam rangka meningkatkan mobilitas barang, khususnya yang
menghubungkan Provinsi Lampung dengan Provinsi Sumatera Selatan. Jaringan jalan
Kereta Api yang menghubungkan Provinsi Lampung dengan Sumatera Selatan yaitu
ruas Tarahan – Tanjung Enim sepanjang 423 Km dengan tekanan gandar 18 ton,
sedangkan untuk ruas jalan Prabumulih – Kertapati dan Lubuk Linggau – Muara Enim
sepanjang 233 Km dengan tekanan gandar 13 ton.

4.8.2.3 Angkutan Kereta Api Batu Bara

Angkutan Batubara dari Tanjung Enim (Sumatera Selatan) ke Tarahan (Lampung)


merupakan primadona angkutan barang dengan Kereta Api di Lampung. Sebagian
besar batubara ini kemudian diangkut dengan kapal ke Suralaya (Provinsi Banten)
untuk dipergunakan sebagai bahan bakar pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)
Suralaya dan sebagian kecil diekspor. Dengan demikian dilihat dari segi kepentingan

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-51


nasional, angkutan batu bara dengan Kereta Api dari Tanjung Enim ke Tarahan
menjadi sangat strategis. Setiap ancaman gangguan yang mungkin terjadi terhadap
angkutan batu bara ini akan mempunyai dampak negatif yang sangat besar bagi
kehidupan masyarakat banyak.

Angkutan batu bara dengan Kereta Api yang dikenal sebagai Kereta Api Babaranjang
mencapai sebanyak 11 trip/hari, dimana setiap rangkaian kereta api terdiri dari 2
lokomotif dan 40 buah gerbong, dan setiap gerbongnya mengangkut 50 ton batu
bara, atau sekitar 220 ton/hari. Volume angkutan batu bara dari tahun ke tahun
ditargetkan meningkat, sehingga menjadi 6.912.680 ton/tahun dalam tahun 2004
sesuai dengan kebutuhan pasokan listrik di PLTU Suralaya. Namun pada
kenyataannya target tersebut tidak dapat dicapai karena kendala prasarana/sarana
kereta api.

Selama lima tahun terakhir (2000 – 2004) rata-rata volume angkutan batu bara dari
Tanjung Enim ke Tarahan mencapai 6.897.226 ton/tahun atau 8,7 % dari target, dari
jumlah tersebut sebanyak 4.742.399 ton di kapalkan ke Suralaya.

Disamping angkutan batu bara yang merupakan primadona angkutan kereta api di
Lampung, pada saat ini angkutan kereta api juga melayani angkutan bahan kertas
(Pulp) dari Niru (Sumatera Selatan) ke pelabuhan khusus PT. Tanjung Enim Lestari
(TEL) di Tarahan, untuk kemudian diekspor. Disamping batu bara dan pulp, jenis
barang lainnya yang diangkut adalah semen dari Baturaja (Sumatera Selatan).

4.8.2.4 Angkutan Penyeberangan

Angkutan Penyeberangan pada Lintas Bakauheni – Merak merupakan kegiatan yang


sangat vital dan sekaligus merupakan titik lemah dalam jaringan transportasi jalan
Nasional khususnya yang menghubungkan Pulau Sumatera – Jawa. Disebut vital
karena arus transportasinya cukup tinggi, sehingga setiap gangguan yang
menghambat arus penyeberangan dapat mengakibatkan gangguan sosial ekonomi
yang sangat signifikan. Oleh karena itu sarana dan prasarana penyeberangan yang
ada senantiasa ditingkatkan, sehingga dapat mengimbangi kebutuhan pengguna jasa
yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-52


4.8.3 Kasus di Lapangan

Di provinsi Lampung Komoditi yang menjadi unggulan adalah kopi dan kelapa sawit.
Untuk zona lokal komoditi ini didistribusikan ke Bandar Lampung, Lampung Selatan
dan Way Kanan. Sementara untuk zona eksternal didistribusikan ke Sumatera
Selatan, Riau, Padang, dan Aceh.

Lokasi pangkalan angkutan barang di Sumatera Selatan terdapat di Panjang dan


Bakauheni. Untuk arahan pengembangan jaringan angkutan barang antar kota
diarahkan pada pengembangan lintas penyeberangan, jaringan jalan, jaringan kereta
api, feeder road (jalur penghubung), bandar udara dan transportasi antar pulau.
Untuk mendukung kinerja jaringan angkutan barang, pengembangan diarahkan pada
perbaikan jalan yang rusak, pengembangan moda menuju terminal, pembatasan
muatan truk, dan pengembangan fasilitas dermaga atau terminal.

4.9 PERMASALAHAN ANGKUTAN BARANG DI PULAU SUMATERA

4.9.1 Permasalahan Sarana dan Prasarana Lintas Angkutan Barang

Permasalahan terkait dengan pengoperasian kendaraan berat di jaringan jalan


nasional, terkait dengan penyediaan prasarana jalan, lalu lintas kendaraan berat,
penyediaan dan kinerja jembatan timbang, dampak umur jalan dan biaya transportasi
jalan secara umum disampaikan pada beberapa bagian berikut.

4.9.1.1 Penyediaan Prasarana Jalan

Dari sisi penyediaan prasarana jalan per koridor dapat dilihat dari kelas jalan, lebar
jalan, serta kapasitas jalan yang disampaikan pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.59Kondisi Penyediaan Jaringan Jalan Nasional di Pulau Sumatera


Lebar
Kelas Panjang Kapasitas
Nama Koridor Status Rata2
jalan (km) (smp/jam)
(m)
Aceh - Medan N IIIA 684,06 8,61 3388
Medan - Pekan Baru N IIIA 682,00 7,04 3025
Pekan Baru - Padang N IIIA 240,94 6,59 2916
Pekan Baru - Jambi N IIIA 440,24 5,71 2609
Padang - Muara Bungo N IIIA 301,91 6,83 2975
Padang - Bengkulu N IIIA 575,87 5,45 2459
Muara Bungo - Jambi N IIIA 256,95 6,50 2893
Jambi - Palembang N IIIA 300,10 8,81 3433
Muara Bungo - Lubuk
Linggau N IIIA 284,35 5,60 2551
Bengkulu - Lubuk Linggau N IIIA 168,34 6,34 2849

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-53


Kelas Panjang Lebar Kapasitas
Nama Koridor Status
Lubuk Linggau - Muara Enim N jalan
II (km)
189,94 Rata2
7,53 (smp/jam)
3137
Muara Enim - Palembang N II 385,21 7,31 3087
Muara Enim - Terbanggi
Besar N II 294,85 6,52 2899
Palembang - Terbanggi Besar N II 391,81 6,11 2774
Bengkulu - Bandar Lampung N IIIA 506,48 5,93 2705
Terbanggi Besar - Bandar
Lampung N II 73,93 7,83 3207
Palembang - Bakauheni N II 114,88 5,35 2384
Bandar Lampung -
Bakauheni N II 67,01 7,57 3145

Dari tabel di atas dapat diidentifikasi beberapa permasalahan terkait dengan


penyediaan prasarana jalan Nasional di Pulau Sumatera, yakni:
1. Ketidakseragaman dalam penyediaan kelas jalan
Ketidakseragaman dalam penyediaan kelas jalan menyebabkan lalu lintas
kendaraan barang/berat di Sumatera tidak dapat beroperasi secara optimal untuk
pergerakan dari wilayah Jawa dan Lampung serta Palembang ke wilayah lain di
Sumatera akan melintas jalan nasional yang kelas jalannya berbeda. Hal ini
menyebabkan jenis kendaraan maksimum yang dapat dioperasikan di dalam
jaringan jalan di Sumatera juga berbeda. Secara jaringan ini cukup merugikan,
karena perbedaan penyediaan kelas jalan ini menyebabkan kontinuitas dari
persyaratan kendaraan berat yang dapat beroperasi di Sumatera menjadi tidak
sama. Dalam konteks pengembangan ASIAN highway di Sumatera kondisi ini tidak
menguntungkan.

2. Ketidakseragaman dalam penyediaan lebar dan kapasitas jalan


Meskipun lebar jalur lalu lintas di setiap koridor jalan nasional di Pulau Sumatera
sudah memadai (umumnya sudah lebih dari 5 meter, bahkan dominan antara 6-7
m), namun secara keseluruhan tidak diperoleh kontinuitas pula dalam penyediaan
kapasitas. Hal ini menyebabkan operasi kendaraan berat, khususnya yang
dimensinya besar, akan terhambat ketika melintasi ruas jalan yang sempit,
misalnya di lintas Lampung-Bengkulu-Padang. Selain masalah kecepatan, masalah
keselamatan Lalu Lintas juga akan terpengaruh.

4.9.1.2 Lalu Lintas Jalan dan Kendaraan Berat

Lalu lintas jalan dan lalu lintas kendaraan barang pada setiap koridor ruas jalan
nasional di Pulau Sumatera disampaikan pada tabel di bawah ini.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-54


Tabel 4.60Data LHR dan Lalu Lintas Kendaraan Barang di Jalan Nasional Sumatera
Lalu Lintas Kend Berat (smp/hari)
LHR %
Truk Truk
Truk Total semua LHR
Nama Koridor 2 as 2 as Truk Truk
Gande- Kend jenis Kend
4 6 3 as Trailer
ngan Berat kend Berat
Roda Roda
Aceh - Medan 470 313 286 89 36 1194 8762 14%
Medan - Pekan Baru 1069 722 1146 1066 997 4999 8911 56%
Pekan Baru -
Padang 651 305 162 118 78 1314 6636 20%
Pekan Baru - Jambi 440 293 258 180 163 1334 4381 30%
Padang - MBungo 1239 825 306 26 58 2454 7129 34%
Padang - Bengkulu 250 166 27 0 2 444 2604 17%
M Bungo - Jambi 396 264 61 38 2 760 5565 14%
Jambi - Palembang 1336 891 182 923 1186 4517 6455 70%
M Bungo – L
Linggau 587 391 308 41 51 1378 4842 28%
Bengkulu – L
Linggau 787 524 14 1 18 1342 3144 43%
L Linggau – M Enim 1422 316 1185 1294 743 4960 6006 83%
M Enim -
Palembang 1544 1029 301 180 357 3411 6790 50%
M Enim – T Besar 1345 896 315 8 70 2633 6529 40%
Palembang – T
Besar 1271 848 359 460 504 3442 5409 64%
Bengkulu – B
Lampung 327 218 12 1 0 557 3445 16%
T Besar – B
Lampung 3063 2041 690 5 158 5958 18964 31%
Palembang -
Bakauheni 602 401 42 0 20 1065 2129 50%
B Lampung -
Bakauheni 3658 2440 415 0 50 6563 10213 64%

Dari tabel di atas dapat diidentifikasi beberapa permasalahan berikut:


1. Koridor dengan Tingkat Lalu Lintas Kendaraan Berat yang Tinggi
Terdapat beberapa koridor yang memiliki lalu lintas kendaraan berat yang sangat
tinggi dengan LHR lebih dari 4000 smp/hari, diantaranya:
a. di Lintas Timur Sumatera, yakni:
1) Koridor Medan-Pekanbaru dengan LHR kendaraan berat mencapai 4999
smp/hari
2) Koridor Jambi-Palembang dengan LHR kendaraan berat mencapai 4517
smp/hari
b. di Lintas Tengah Sumatera, yakni: Koridor Lubuk Linggau – Muara Enim
dengan LHR kendaraan berat mencapai 4960 smp/hari
c. di Pertemuan Lintas Tengah dan Lintas Timur di wilayah Lampung, yakni:

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-55


1) Koridor Bandar Lampung-Bakauheni dengan LHR kendaraan berat
mencapai 6563 smp/hari
2) Koridor Terbanggi Besar-Bandar Lampung dengan LHR kendaraan berat
mencapai 4999 smp/hari

Koridor dengan lalu lintas kendaraan barang yang sangat tinggi ini perlu
diperhatikan mengenai penyediaan kelas jalan serta lebar jalannya agar
kelancaran Lalu Lintas dapat terjaga.

2. Koridor dengan Bauran Kendaraan Beratnya Sangat Tinggi


Terdapat beberapa koridor yang bauran kendaraan beratnya cukup tinggi, ini
dilihat dari % LHR kendaraan berat (terhadap total LHR semua jenis kendaraan)
yang melebihi angka 50%. Adapun karakteristik dari koridor yang memiliki bauran
kendaraan berat yang sangat tinggi adalah sbb:
a. Secara umum, bauran kendaraan berat di Sumatera Sangat Tinggi, rata-rata
40,99%
b. Terdapat beberapa koridor jalan yang dominasi kendaraan beratnya sangat
besar, yang dapat diklasifikasi sebagai berikut:
1) Lintas Timur Sumatera, yakni pada Koridor Medan-Pekanbaru, Jambi-
Palembang, Palembang – T Besar, Palembang – Bakauheni,
2) Lintas Tengah Sumatera, yakni pada koridor L Linggau – M Enim dan M
Enim – Palembang
3) Lintas Pertemuan Tengah-Timur Sumatera di Lampung, yakni Palembang –
T Besar dan B Lampung – Bakauheni.

Koridor dengan bauran kendaraan berat yang tinggi, bahkan melebihi 50% lalu
lintas kendaraan berat merupakan heavy loaded road yang perlu mendapatkan
perhatian dari sisi pemeliharaan jalan, penyediaan kelas jalan serta manajemen
Lalu Lintasnya khususnya ketika mendekati kawasan perkotaan yang padat. Hal ini
perlu dipikirkan untuk melakukan manajemen pemisahan Lalu Lintas kendaraan
berat dengan Lalu Lintas kendaraan ringan agar tidak saling mengganggu.

4.9.1.3 Penyediaan dan Kinerja Jembatan Timbang

Pada di bawah ini disampaikan rangkuman data mengenai penyediaan jembatan


timbang di setiap koridor jalan nasional di Sumatera berikut dengan kinerjanya.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-56


Tabel 4.61Data Penyediaan Jembatan Timbang dan Kinerjanya di Jaringan Jalan
Nasional Pulau Sumatera
Lokasi Jarak % Lalu %
Jembatan Antar Lintas Muatan
Nama Koridor
Timbang yang Jembatan Kend Berat Lebih
Beroperasi Timbang yang Diuji
Aceh - Medan 2 342 21% 3.80%
Medan - Pekan Baru 6 114 17% 4.66%
Pekan Baru - Padang 3 80 36% 0.89%
Pekan Baru - Jambi N/A N/A N/A N/A
Padang – M Bungo 1 302 46% 0.35%
Padang - Bengkulu 2 288 44% 0.67%
M Bungo - Jambi 2 128 36% 0.98%
Jambi - Palembang 2 150 19% 13.43%
M Bungo – L Linggau 1 284 22% 3.15%
Bengkulu – L Linggau 1 168 6% 1.72%
L Linggau – M Enim 1 190 8% 2.97%
M Enim - Palembang N/A N/A N/A N/A
M Enim – T Besar 1 295 9% 30.73%
Palembang – T Besar 2 196 18% 24.35%
Bengkulu – B Lampung 1 506 13% 1.85%
T Besar – B Lampung N/A N/A N/A N/A
Palembang - Bakauheni N/A N/A N/A N/A
B Lampung - Bakauheni 2 34 1% 12.16%
Rata-Rata 220 21% 7.26%

Dari data pada tabel di atas dapat diidentifikasi beberapa kelompok permasalahan
sebagai berikut:
1. Koridor Jalan yang Tidak Ada Jembatan Timbang yang Beroperasi
Terdapat 4 koridor jalan nasional yang tidak tersedia jembatan timbang yang
dioperasikan saat ini, yakni Pekan Baru – Jambi, M Enim – Palembang, T Besar – B
Lampung, dan Palembang – Bakauheni. Sehingga jika terjadi pelanggaran muatan
di koridor tersebut tentu saja akan lolos/tidak terdeteksi. Padahal koridor-koridor
tersebut memiliki lalu lintas dan bauran kendaraan berat yang relatif tinggi. Di
masa datang setiap koridor harusnya memiliki minimal satu lokasi jembatan
timbang yang dioperasikan.

2. Jarak antar Jembatan Timbang Terlalu Jauh


Jarak rata-rata antar jembatan timbang yang dioperasikan di Pulau Sumatera
relatif jauh, yakni sekitar 220 km. Jarak ini cukup jauh untuk mengantisipasi
pergerakan kendaraan berat di dalam dan antar Kab/Kota yang melalui jalan
nasional, misalnya akses dari lokasi perkebunan/tambang ke pabrik/outlet
terdekat. Idealnya perlu dilakukan sistem pemeriksaan muatan yang lebih efektif
agar:

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-57


a. Tidak di setiap koridor kendaraan berat yang membawa muatan yang sama
harus masuk ke jembatan timbang (penghematan biaya dan waktu),
b. Jarak antar jembatan timbang cukup dekat, maksimal 100 km, untuk
mengawasi pergerakan kendaraan berat dalam skala lokal yang melintasi jalan
nasional di sekitar sentra produksi,

3. Tidak Semua Lalu Lintas Kendaraan Berat berhasil Diuji di setiap Jembatan
Dari data jumlah kendaraan yang diuji di setiap jembatan timbang dibandingkan
dengan lalu lintas kendaraan berat yang ada di setiap koridor, diperoleh
kesimpulan bahwa hanya sekitar 21% (1/5) dari semua kendaraan berat yang
berhasil diuji muatannya. Ini menunjukkan bahwa efektivitas kinerja jembatan
timbang perlu ditingkatkan melalui: peningkatan kapasitas jembatan timbang,
penjagaan yang lebih ketat di ruas jalan di depan jembatan timbang untuk
menghindari kendaraan berat yang meloloskan diri dari penimbangan.

4. Jumlah Pelanggaran Muatan yang Terdeteksi terlalu Kecil


Dari data yang diperoleh di jembatan timbang, hanya 7,26% kendaraan berat
yang melanggar batas muatan.

4.9.2 Permasalahan Operasional Angkutan Barang dengan Moda Darat

Sebagaimana disampaikan pada sub bab di atas bahwa LHR untuk ruas jalan nasional
di wilayah Sumatera sudah cukup besar. Kondisi ini diperparah dengan besarnya
pelanggaran yang dilakukan baik pelanggaraan kelebihan muatan (overload) maupun
karakteristik dimensi kendaraan berat. Permasalahan dalam pengelolaan angkutan
barang di Sumatera disampaikan pada beberapa point di bawah ini.
1. Permasalahan dalam teknis operasional
.a Banyaknya kendaraan berat built-up dengan dimensi kendaraan berat diluar
standar yang telah ditetapkan dikarenakan besarnya permintaan angkutan
barang untuk mendistribuikan barang dari/ke wilayah Sumatera cukup besar.
Kondisi ini menuntut sarana angkutan barang harus memiliki kemampuan
berat maksimum. Hal ini dilakukan agar komoditi yang diangkut dapat
seoptimal mungkin sehingga dapat menekan biaya operasional walaupun biaya
operasianal di jembatan timbang akibat pelanggaran beban muatan lebih
besar. Pada gambar di bawah ini disampaikan beberapa pelanggaran
kendaraan berat yang beroperasi di Sumatera.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-58


Gambar 4.17 Contoh Pelanggaran Dimensi Kendaraan Berat

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa dimensi kendaraan berat di


Sumatera sebagian besar tidak sesuai dengan ketentuan dalam PP No. 43
Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan, dimana dimensi
kendaraan berat untuk muatan sumbu terberat (MST) 10 ton yaitu 2.500 x 180
mm dan untuk muatan sumbu terberat (MST) 8 ton yaitu 2.500 x 120 mm

.b Banyaknya pelanggaran muatan yang melebihi ketentuan di wilayah Sumatera


cukup tinggi. Hampir setiap hari di lokasi jembatan timbang terjadi
pelanggaran beban muatan (overload). Berikut ini disampaikan contoh data
pelanggaran di jembatan timbang (PPT) di wilayah Provinsi Sumatera Selatan.

Tabel 4.62Jumlah Pelanggaran Bulan Juni 2007 di PPT. Pematang Panggang Provinsi
Sumatera Selatan
Jumlah Jumlah Pelanggaran Muatan Lebih
Jenis
No. Kendaran Terhadap JBI (unit)
Kendaraan
Diperiksa (unit) 4-25% 24-50% 50-60% >60%
1. Colt Diesel 9.665 241 - - -
2. Fuso 9.994 2.157 209 1 1
3. Tronton 4.450 1.333 20 - -
4. Trailer 406 49 - - -
Jumlah 24.515 3.780 228 5 1
Sumber : Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Selatan

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-59


Tabel 4.63Jumlah Pelanggaran Bulan Juli 2007 di PPT. Senawar Jaya Provinsi
Sumatera Selatan
Jumlah Jumlah Pelanggaran Muatan Lebih
Jenis
No. Kendaran Terhadap JBI (unit)
Kendaraan
Diperiksa (unit) 4-25% 24-50% 50-60% >60%
1. Colt Diesel 10.956 1.056 26 1 1
2. Fuso 6.405 1.236 922 11 12
3. Tronton 5.618 937 117 6 2
4. Trailer 214 5 - - -
Jumlah 23.193 3.234 1.065 18 15
Sumber : Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Selatan

Tabel 4.64Jumlah Pelanggaran Bulan Juni 2007 di PPT. Simpang Nibung Provinsi
Sumatera Selatan
Jumlah Jumlah Pelanggaran Muatan Lebih
Jenis Kendaran Terhadap JBI (unit)
No.
Kendaraan Diperiksa 24- 50-
4-25% >60%
(unit) 50% 60%
1. Colt Diesel 2196 121 23 0 0
2. Fuso 986 6 67 0 0
3. Tronton 326 1 12 0 0
4. Trailer 17 0 1 0 0
Jumlah 3.525 128 103 0 0
Sumber : Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Selatan

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa dalam sebulan di wilayah Provinsi


Sumatera Selatan persentase pelanggaran di kelebihan muatan rata-rata 4-
20%. Untuk lebih lengkap persentase pelanggaran pada jembatan timbang di
wilayah Sumatera dapat dilihat pada gambar-gambar di bawah ini.

Gambar 4.18 Persentase Pelanggaran Bulan Februari 2006 di Provinsi Sumatera


Utara

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-60


Gambar 4.19 Persentase Pelanggaran Bulan Februari 2006 Di Provinsi Sumatera
Barat

Gambar 4.20 Persentase Pelanggaran Bulan Februari 2006 di Provinsi Sumatera


Selatan

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-61


Gambar 4.21 Persentase Pelanggaran Bulan Februari 2006 di Provinsi Jambi

Gambar 4.22 Persentase Pelanggaran Bulan Februari 2006 di Provinsi Riau

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-62


Gambar 5.18 Persentase Pelanggaran Bulan Februari 2006 di Provinsi Bengkulu

Gambar 4.23 Persentase Pelanggaran Bulan Februari 2006 di Provinsi Lampung

Jika melihat gambar-gambar di atas dapat dilihat bahwa rata-rata terjadinya


pelanggaran pada lintas timur yaitu pada Provinsi Sumatera Utara, Riau,
Sumatera Selatan dan Lampung. Kondisi ini cukup mempengaruhi kualitas
jaringan jalan nasional di Sumatera. Pada saat ini jaringan jalan nasional
khususnya pada lintas timur masih cukup rendah, dengan kata lain dalam
kondisi rusak. Hal ini mengakibatkan kinerja jaringan jalan nasional di
Sumatera rendah. Sehingga secara keseluruha kinerja pelayanan lalu lintas
jalan akan terganggu. Pada gambar di bawah ini disampaikan dokumentasi
angkutan barang dengan moda angkutan jalan yang melebihi beban muatan
maksimum.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-63


Gambar 4.24 Contoh Pelanggaran Beban Muatan (Overload)

c. Perbedaan kelas jalan antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa yang
menyebabkan kondisi jalan di Sumatera mengalami kerusakan yang lebih
cepat. Kelas jalan di pulau Jawa sebelum masuk ke Pelabuhan Merak sudah
kelas I, akan tetapi ketika memasuki Pelabuhan Bakauheuni dan masuk ke
jaringan jalan nasional, angkutan barang akan dilayani oleh kelas jalan hanya
paling tinggi kelas II.
d. Banyaknya retribusi di jaringan jalan nasional yang dikelola oleh pemerintah
kabupaten sebagai dampak otonomi daerah. Kondisi ini mengakibatkan biaya
operasional untuk biaya pengutan cukup besar. Hasil survey wawancara
dengan pihak operator dan supir angkutan barang dilapangan diperoleh bahwa
rata-rata dalam sekali perjalanan membutuhkan biaya pengutan tidak resmi
sebesar 300-500 ribu. Kondisi ini mengakibatkan biaya operasional secara
keseluruhan akan besar yang secara otomatis berimplikasi pada harga barang.

2. Permasalahan dalam kelembagaan

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-64


a. Kurang efektifnya keberadaan jembatan timbang, walaupun terjadi
pelanggaran dan dikenai denda tetap saja angkutan barang yang kelebihan
muatan dapat meneruskan perjalanannya tanpa mengurangi terlebih dahulu
kelebihan muatannya. Sehingga denda yang dikenai terhadap angkutan barang
yang melebihi beban muatan yang diizinkan tidak membuat efek jera, namun
hanya sebagai
b. Kurang adanya koordinasi antara pihak pemerintah pusat dan daerah dalam
pengelolaan angakutan barang dan keberadaan jembatan timbang. Apalagi
dengan otonomi daerah keberadaan jembatan timbang dijadikan sebagai salah
satu sektor yang menghasilkan pemasukan daerah.

3. Permasalahan dalam pendanaan


Dalam hal pendanaan untuk pengelolaan jembatan timbang kurang efektif.
Pengelola jembatan timbang di sepanjang jalan nasional di wilayah Sumatera
dikelola oleh pemerintah daerah (Provinsi dan kabupaten). Namun pendapatan
dari denda pelanggaran kelebihan muatan seharusnya masuk ke dalam kas negara
yang nantinya dijadikan sebagai dana untuk biaya pemeliharaan dan perbaikan
jaringan jalan nasional.

PENYUSUNAN TATANAN TERMINAL BARANG KAWASAN PULAU SUMATERA 4-65