Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Managemen adalah proses bekerja melalui staf keperawatan untuk memberikan asuhan
keperawatan secara professional. Disini dituntut tugas manajer keperawatan untuk
merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang
tersedia untuk memberikan asuhan keperawatan seefektif dan seefisien mungkin bagi individu,
keluarga, dan masyarakat (Gillies, 1996)
Salah satu strategi untuk mengoptimalkan peran dan fungsi perawat dalam pelayanan
keperawatan adalah pembenahan manajemen keperawatan karena dengan adanya factor kelola
yang optimal diharapkan mampu menjadi wahana peningkatan keefektifan pembagian
pelayanan keperawatan sekaligus lebih menjamin kepuasan klien terhadap pelayanan
keperawatan.
Pelayanan keperawatan pada klien secara profesional dapat membantu klien dalam
mengatasi masalah keperawatan yang dihadapi klien. Salah satu bentuk pelayanan
keperawatan yang profesional tersebut dengan memperhatikan seluruh keluhan yang dirasakan
klien kemudian mendiskusikannya dengan tim keperawatan untuk merencanakan pemecahan
masalahnya. Pelayanan keperawatan yang perlu dikembangkan untuk mencapai hal tersebut
adalah dengan ronde keperawatan.
Ronde keperawatan adalah kegiatan untuk mengatasi keperawatan klien yang dilaksanakan
oleh perawat dengan melibatkan pasien untuk membahas dan melaksanakan asuhan
keperawatan, yang dilkukan oleh perawat primer dan atau konsuler, kepala ruang, dan perawat
pelaksana, serta melibatkan seluruh anggota tim. Dimana ronde keperawatan merupakan sarana
bagi perawat baik perawat primer maupun perawat assosiate untuk membahas masalah
keperawatan yang terjadi pada klien yang melibatkan klien dan seluruh tim keperawatan
termasuk konsultan keperawatan. Salah satu tujuan dari kegiatan ronde keperawatan adalah
meningkatkan kepuasan klien terhadap pelayanan keperawatan.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan ronde keperawatan masalah keperawatan yang di alami klien dapat
teratasi
2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan ronde keperawatan, perawat mampu :
a. Berfikir kritis dan sistematis dalam pemecahan masalah keperawatan klien
b. Memberikan tindakan yang berorientasi pada masalah keperawatan klien
c. Menilai hasil kerja
d. Melaksanakan asuhan keperawatan secara menyeluruh
C. Manfaat
1. Bagi perawat
a. Terciptanya komunitas perawatan yang professional
b. Terjalin kerjasama antar TIM
c. Perawat dapat melaksanakan model asuhan keperawatan yang tepat dan benar
2. Bagi pasien
a. Masalah pasien dapat teratasi
b. Kebutuhan pasien dapat terpenuhi
D. Tahap ronde keperawatan
1. Pra ronde (persiapan)
 Penetapan kasus minimal 1 hari sebelum waktu pelaksanaan ronde
 Pemberian informed consent kepada klien / keluarga
2. Tahap pelaksana
 Penjelasan tentang klien oleh perawat primer/ketua tim yang difokuskan pada
masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan atau telah dilaksanakan dan
memilih prioritas yang perlu didiskusikan
 Diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut
 Pemberian justifikasi oleh perawat primer/ perawat konselor/ kepala ruangan
tentang masalah klien serta rencana tindakan yang akan dilakukan.
 Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah dan yang akan ditetapkan.
3. Tahap pasca ronde
 Mendiskusikan hasil temuan dan tindakan pada klien tersebut serta menetapkan
tindakan yang perlu dilakukan
BAB II
RENCANA STRATEGIS
RONDE KEPERAWATAN KLIEN DENGAN POST SC (SECTIO CAESA)
DI RUANGAN INTERNA H, RSUD PROF.DR H ALOEI SABOE

A. Topik : Askep dengan pasien Post SC


B. Sasaran : Ny. T.M / 28 thn
C. Peserta : - Mahasiswa Keperawatan DIV Poltekes, Manajemen Keperawatan
Poltekes Kemenkes Gorontalo
- Pembimbing klinik
- Keluarga pasien
- Pasien
D. Waktu : 30 menit
E. Hari/ tanggal : Sabtu, 07 April 2018
F. Tujuan
1. Tujuan umum :
Menyelesaikan masalah-masalah keperawatan klien yang belum teratasi
2. Tujuan khusus:
a. Tim keperawatan mampu menggali masalah-masalah klien yang belum teratasi
b. Mampu mengemukakan alasan ilmiah terhadap masalah keperawatan klien
c. Mampu merumuskan intervensi keperawatan yang tepat mengenai masalah klien
d. Mampu mendesiminasikan tindakan yang tepat sesuai dengan masalah klien
e. Mampu mengadakan justifikasi terhadap rencana dan tindakan keperawatan yang
dilakukan.

G. Sasaran :
 Nama : Ny.T.M
 Umur : 28 Thn
 Pekerjaan : IRT
H. Materi :
 Konsep dasar penyakit post SC
 Asuhan keperawatan klien dengan post SC (terlampir)
I. Pelaksanaan :
 Hari/tanggal : Sabtu, 07 April 2018
 Tempat : Ruang Nifas
J. Metode :
 Ceramah
 Diskusi
K. Media :
 Makalah
 Leaflet
L. Tim ronde :
 Karu Nifas
 Bidan Nifas
 Mahasiswa Keperawatan DIV Poltekes Gorontalo
M. Proses ronde keperawatan :
- Pra ronde :
 Menentukan kasus dan topik
 Menentukan tim ronde
 Membuat informed consent
 Mencari literatur
 Diskusi

- Ronde :
 Diskusi
 Pemberian pendidikan kesehatan untuk mengurangi keluhan
- Pasca ronde :
 Evaluasi pelaksanaan ronde
 Revisi dan perbaikan

Mekanisme Kegiatan
No. Waktu Kegiatan Pemeran Pasien
1. 5 menit Pembukaan: Mahasiswa 1 Mendengarkan
Memberi salam
2. 10 menit Menyampaikan tujuan Mahasiswa 2 Pasien dan
ronde keperawatan keluarga
Penyajian masalah : mendengarkan
Menyampaikan masalah
yang sudah terselesaikan

3. 5 menit Menentukan masalah Ketua Tim


yang belum terselesaikan
4. 5 menit Implementasi yang sudah Ketua Tim
dilakukan
5. 5 menit Mengajarkan kepada Mahasiswa
keluarga pasien tentang
diskusi dan Tanya
jawab.
Penutup :
- Ucapan terima
kasih
- Memberi salam.

Evaluasi :
 Bagaimana koordinasi persiapan dan pelaksanaan ronde keperawatan
 Bagaimana peran pelaksana saat ronde keperawatan
 Membuat umpan balik yang sudah dikerjakan

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
POST SECTIO CAESAREA

A.KONSEP DASAR PENYAKIT


1. PENGERTIAN
Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding
perut dan dinding uterus. (Sarwono , 2005)
Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding
uterus melalui depan perut atau vagina. Atau disebut juga histerotomia untuk melahirkan
janin dari dalam rahim. (Mochtar, 1998)

2. ETIOLOGI
Indikasi SC :
Indikasi klasik yang dapat dikemukakan sebagai dasar section caesarea adalah :
a. Prolog labour sampai neglected labour.
b. Ruptura uteri imminen
c. Fetal distress
d. Janin besar melebihi 4000 gr
e. Perdarahan antepartum

Sedangkan indikasi yang menambah tingginya angka persalinan dengan sectio adalah :
a. Malpersentasi janin
1. Letak lintang
Bila terjadi kesempitan panggul, maka sectio caesarea adalah jalan /cara yang terbaik
dalam melahirkan janin dengan segala letak lintang yang janinnya hidup dan besarnya
biasa. Semua primigravida dengan letak lintang harus ditolong dengan sectio caesarea
walaupun tidak ada perkiraan panggul sempit. Multipara dengan letak lintang dapat
lebih dulu ditolong dengan cara lain.
2. Letak belakang
Sectio caesarea disarankan atau dianjurkan pada letak belakang bila panggul sempit,
primigravida, janin besar dan berharga.
b. Plasenta previa sentralis dan lateralis
c. Presentasi lengkap bila reposisi tidak berhasil.
d. Gemeli menurut Eastman, sectio cesarea dianjurkan bila janin pertama letak lintang atau
presentasi bahu, bila terjadi interior (looking of the twins), distosia karena tumor, gawat
janin dan sebagainya.
e. Partus lama
f. Partus tidak maju
g. Pre-eklamsia dan hipertensi
h. Distosia serviks

3. TUJUAN SECTIO CAESAREA


Tujuan melakukan sectio caesarea (SC) adalah untuk mempersingkat lamanya
perdarahan dan mencegah terjadinya robekan serviks dan segmen bawah rahim. Sectio
caesarea dilakukan pada plasenta previa totalis dan plasenta previa lainnya jika perdarahan
hebat. Selain dapat mengurangi kematian bayi pada plasenta previa, sectio caesarea juga
dilakukan untuk kepentingan ibu, sehingga sectio caesarea dilakukan pada placenta previa
walaupun anak sudah mati.

4. JENIS - JENIS OPERASI SECTIO CAESAREA (SC)


a. Abdomen (SC Abdominalis)
1. Sectio Caesarea Transperitonealis
Sectio caesarea klasik atau corporal : dengan insisi memanjang pada corpus uteri.
Sectio caesarea profunda : dengan insisi pada segmen bawah uterus.
2. Sectio caesarea ekstraperitonealis
Merupakan sectio caesarea tanpa membuka peritoneum parietalis dan dengan demikian
tidak membuka kavum abdominalis.
b. Vagina (sectio caesarea vaginalis)
Menurut arah sayatan pada rahim, sectio caesaria dapat dilakukan apabila :
Sayatan memanjang (longitudinal)
Sayatan melintang (tranversal)
Sayatan huruf T (T Insisian)
c. Sectio Caesarea Klasik (korporal)
Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10cm.
 Kelebihan :
Mengeluarkan janin lebih memanjang
Tidak menyebabkan komplikasi kandung kemih tertarik
Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
 Kekurangan :
Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada reperitonial yang baik.
Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan.
Ruptura uteri karena luka bekas SC klasik lebih sering terjadi dibandingkan dengan luka
SC profunda. Ruptur uteri karena luka bekas SC klasik sudah dapat terjadi pada akhir
kehamilan, sedangkan pada luka bekas SC profunda biasanya baru terjadi dalam
persalinan.
Untuk mengurangi kemungkinan ruptura uteri, dianjurkan supaya ibu yang telah
mengalami SC jangan terlalu lekas hamil lagi. Sekurang -kurangnya dapat istirahat
selama 2 tahun. Rasionalnya adalah memberikan kesempatan luka sembuh dengan baik.
Untuk tujuan ini maka dipasang akor sebelum menutup luka rahim.
d. Sectio Caesarea (Ismika Profunda)
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-
kira 10cm
 Kelebihan :
- Penjahitan luka lebih mudah
- Penutupan luka dengan reperitonialisasi yang baik
- Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan isi uterus ke
rongga perineum
- Perdarahan kurang
- Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan lebih kecil

 Kekurangan :
- Luka dapat melebar ke kiri, ke kanan dan bawah sehingga dapat menyebabkan
arteri uteri putus yang akan menyebabkan perdarahan yang banyak.
- Keluhan utama pada kandung kemih post operatif tinggi.

5. KOMPLIKASI
a. Infeksi Puerperalis
Komplikasi ini bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa
nifas atau dapat juga bersifat berat, misalnya peritonitis, sepsis dan lain-lain. Infeksi post
operasi terjadi apabila sebelum pembedahan sudah ada gejala - gejala infeksi intrapartum
atau ada faktor - faktor yang merupakan predisposisi terhadap kelainan itu (partus lama
khususnya setelah ketuban pecah, tindakan vaginal sebelumnya). Bahaya infeksi dapat
diperkecil dengan pemberian antibiotika, tetapi tidak dapat dihilangkan sama sekali,
terutama SC klasik dalam hal ini lebih berbahaya daripada SC transperitonealis profunda.

b. Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang arteria uterina ikut
terbuka atau karena atonia uteri

c. Komplikasi - komplikasi lain seperti :


Luka kandung kemih
Embolisme paru – paru
Resiko infeksi

6. PROGNOSIS
a) Dengan kemajuan teknik pembedahan, adanya antibiotika dan persediaan darah yang
cukup, pelaksanaan sectio ceesarea sekarang jauh lebih aman dari pada dahulu.
b) Angka kematian di rumah sakit dengan fasilitas baik dan tenaga yang kompeten < 2/1000.
Faktor - faktor yang mempengaruhi morbiditas pembedahan adalah kelainan atau
gangguan yang menjadi indikasi pembedahan dan lamanya persalinan berlangsung.
c) Anak yang dilahirkan dengan sectio caesaria nasibnya tergantung dari keadaan yang
menjadi alasan untuk melakukan sectio caesarea. Menurut statistik, di negara - negara
dengan pengawasan antenatal dan intranatal yang baik, angka kematian perinatal sekitar
4 - 7%

7. PATOFISIOLOGI DAN PATHWAYS


Adanya beberapa kelainan / hambatan pada proses persalinan yang menyebabkan bayi
tidak dapat lahir secara normal / spontan, misalnya plasenta previa sentralis dan lateralis,
panggul sempit, disproporsi cephalo pelvic, rupture uteri mengancam, partus lama, partus
tidak maju, pre-eklamsia, distosia serviks, dan malpresentasi janin. Kondisi tersebut
menyebabkan perlu adanya suatu tindakan pembedahan yaitu Sectio Caesarea (SC).
Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan menyebabkan pasien
mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan masalah intoleransi aktivitas. Adanya
kelumpuhan sementara dan kelemahan fisik akan menyebabkan pasien tidak mampu
melakukan aktivitas perawatan diri pasien secara mandiri sehingga timbul masalah defisit
perawatan diri.
Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan, penyembuhan, dan perawatan post
operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada pasien. Selain itu, dalam proses
pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi pada dinding abdomen sehingga
menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan, pembuluh darah, dan saraf - saraf di
sekitar daerah insisi. Hal ini akan merangsang pengeluaran histamin dan prostaglandin yang
akan menimbulkan rasa nyeri (nyeri akut). Setelah proses pembedahan berakhir, daerah
insisi akan ditutup dan menimbulkan luka post op, yang bila tidak dirawat dengan baik akan
menimbulkan masalah risiko infeksi.

8. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan dari kadar pra operasi
dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan.
b. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
c. Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
d. Urinalisis / kultur urine
e. Pemeriksaan elektrolit

9. PENATALAKSANAAN MEDIS POST SC


a. Pemberian cairan
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka pemberian cairan
perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar tidak terjadi hipotermi,
dehidrasi, atau komplikasi pada organ tubuh lainnya. Cairan yang biasa diberikan
biasanya DS 10%, garam fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan
tergantung kebutuhan. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi darah sesuai kebutuhan.
b. Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus lalu dimulailah
pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian minuman dengan jumlah yang
sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 - 10 jam pasca operasi, berupa air putih dan air teh.
c. Mobilisasi
- Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
- Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah operasi
- Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini mungkin
setelah sadar
- Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan diminta
untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya.
- Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah duduk
(semifowler)
- Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien dianjurkan belajar duduk
selama sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai
hari ke5 pasca operasi.
d. Kateterisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada penderita,
menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. Kateter biasanya terpasang
24 - 48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan keadaan penderita.
e. Pemberian obat-obatan
1. Antibiotik
Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat berbeda-beda setiap institusi
2. Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
a) Supositoria = ketopropen sup 2x/24 jam
b) Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
c) Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu
3. Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat diberikan
caboransia seperti neurobian I vit. C
f. Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan berdarah harus dibuka
dan diganti
g. Perawatan rutin
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu, tekanan darah, nadi,dan
pernafasan.

10. MASALAH YANG MUNCUL PADA POST SC


1. Kehilangan kesempatan merawat dan melakukan IMD (inisiasi menyusui dini) kepada
bayi pada momen pertama

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
 Identitas klien
1) Nama : Ny. T.M
2) Jenis kelamin : prempuan
3) Umur : 28 thn
4) Agama : islam
5) Alamat : desa Biau. Kec biau, gorut
6) Pekerjaan : IRT
 Penanggung jawab
1) Nama : Tn. ark
2) Umur : 1984
3) Jenis kelamin : laki laki
4) Agama : islam
5) Alamat : biau
6) Hubungan : suami
7) Pekerjaan :
8) Sumber biaya : BPJS kesehatan
 Medis
- Dx medis : G2P2A0 POST SC hari ke 1
- Tgl masuk : O6/O4/2018
- Ruangan : NIFAS kelas III Flamboyan
Keluhan utama klien saat ini
- Nyeri luka pos oprasi, nyeri seperti di tusuk-tusuk, lama nyeri yang dirasakan 15
menit.
Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas sebelumnya bagi klien multipara
- klien sebelumya pernah di lakukan oprasi SC pada anak pertama tahun 2011
Riwayat penyakit keluarga
- keluarga tidak mempunyai penyakit resiko tinggi

Keadaan klien meliputi :


a. Sirkulasi
Selama prosedur SC klien mengalami pendarahan sekitar 350 cc. Vital sign klien : TD
: 100/70. CRT < 2 detik.
b. Integritas ego
Klien menagatakan merasa bahagia saat anaknya lahir. Klien berinteraksi dengan
tenaga kesehatan bidan atau perawat dengan baik, keluarga klien menyambut anak dari
klien dengan senang hati.
c. Makanan dan cairan
Klien saat ini terpasang IVDP cairan glukosa 5% 20 tpm.
d. Neurosensori
Klien mengeluh sulit menggerakan tubuhnya. Klien mengeluh jika menggerakan
tubuhnya,klien merasakan sakit pada luka post op SC bagian perut bawah.
e. Nyeri / ketidaknyamanan
Klien mengeluh nyeri pada luka post op SC pada bagian perut bawah. Luka dirasakan
seperti di tusuk-tusuk. Lama di rasakan nyeri kurang lebih selama 15 menit.
f. Pernapasan
Pernafasan vesikuler. Tidak ada sumbatan jalan nafas, klien tidak sesak, tidak memakai
alat bantu pernapasan, respirasi 22x / menit.
g. Keamanan
Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda / kering dan utuh.
h. Seksualitas
Klien saat ini terpasang kateter. Saat ini urine takar klien sebanyak 1000cc. Klien tidak
memiliki gangguan seksualitas.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri akut berhubungan dengan pelepasan mediator nyeri (histamin, prostaglandin)
akibat trauma jaringan dalam pembedahan (section caesarea)
b. Gangguan mobilitas fisik b/d nyeri pada abdomen post op SC
c. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / luka kering bekas operasi
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
NO DIAGNOSA KRITERIA HASI (NOC) INTERVENSI (NIC)
KEPERAWATAN
1 Nyeri akut Setelah diberikan asuhan 1. Lakukan pengkajian secara
berhubungan keperawatan selama … x komprehensif tentang nyeri
dengan pelepasan 24 jam diharapkan nyeri meliputi lokasi, karakteristik,
mediator nyeri klien berkurang / terkontrol durasi, frekuensi, kualitas,
(histamin, dengan kriteria hasil : intensitas nyeri dan faktor
prostaglandin) presipitasi.
akibat trauma - Klien melaporkan nyeri 2. Observasi respon nonverbal
jaringan dalam berkurang / terkontrol dari ketidaknyamanan
pembedahan - Wajah tidak tampak (misalnya wajah meringis)
(section caesarea) meringis terutama ketidakmampuan
- Klien tampak rileks, untuk berkomunikasi secara
dapat berisitirahat, dan efektif.
beraktivitas sesuai 3. Kaji efek pengalaman nyeri
kemampuan terhadap kualitas hidup (ex:
beraktivitas, tidur, istirahat,
rileks, kognisi, perasaan, dan
hubungan sosial)
4. Ajarkan menggunakan
teknik nonanalgetik
(relaksasi progresif, latihan
napas dalam, imajinasi,
sentuhan terapeutik.)
5. Kontrol faktor - faktor
lingkungan yang yang dapat
mempengaruhi respon pasien
terhadap ketidaknyamanan
(ruangan, suhu, cahaya, dan
suara)
6. Kolaborasi untuk
penggunaan kontrol
analgetik, jika perlu.

2 Gangguan Setelah diberikan asuhan 1. Kaji tingkat mobilitas dari


mobilitas fisik b/d keperawatan selama … x pasien
nyeri pada 24 jam diharapkan nyeri 2. Motivasi pasien untuk
abdomen post op klien berkurang / terkontrol melakukan mobilitas secara
SC dengan kriteria hasil : bertahap
1. Pasien sudah bisa 3. Pertahankan posisi tubuh
melakukan aktifitas yang tepat
sendiri. 4. Berikan dukungan dan bant
2. pasien mengatakan uan keluarga/orang
sudah bisa bergerak. terdekat pada latihan gerak
pasien.
3 Risiko tinggi Setelah diberikan asuhan 1. Tinjau ulang kondisi dasar /
faktor risiko yang ada
terhadap infeksi keperawatan selama … x
sebelumnya. Catat waktu
berhubungan 24 jam diharapkan klien pecah ketuban.
2. Kaji adanya tanda infeksi
dengan trauma tidak mengalami infeksi
(kalor, rubor, dolor, tumor,
jaringan / luka dengan kriteria hasil : fungsio laesa)
3. Lakukan perawatan luka
bekas operasi (SC) - Tidak terjadi tanda -
dengan teknik aseptik
tanda infeksi (kalor, 4. Inspeksi balutan abdominal
terhadap eksudat / rembesan.
rubor, dolor, tumor,
Lepaskan balutan sesuai
fungsio laesea) indikasi
5. Anjurkan klien dan keluarga
- Suhu dan nadi dalam
untuk mencuci tangan
batas normal ( suhu = sebelum / sesudah
menyentuh luka
36,5 -37,50 C, frekuensi
6. Pantau peningkatan suhu,
nadi = 60 - 100x/ menit) nadi, dan pemeriksaan
laboratorium jumlah sel
- WBC dalam batas
darah putih
normal (4,10-10,9 10^3 7. Kolaborasi untuk
pemeriksaan Hb dan Ht.
/ uL)
Catat perkiraan kehilangan
darah selama prosedur
pembedahan
8. Anjurkan intake nutrisi yang
cukup
9. Kolaborasi penggunaan
antibiotik sesuai indikasi
10. Mengajarkan kepada klien
tentang bagaimana cara
percegahan infeksi
DAFTAR PUSTAKA

 Carpenito, I.J. 2001. Diagnosa Keperawatan, Edisi 8. Jakarta : EGC


 Doengoes, Marylinn. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal / Bayi. Jakarta :
EGC
 Manuaba, I.B. 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan
KB. Jakarta : EGC
 Manuaba, I.B. 1999. Operasi Kebidanan Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk
Dokter Umum. Jakarta : EGC
 Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri, Edisi 2, Jilid 2. Jakarta : EGC
 Sarwono, Prawiroharjo,. 2005. Ilmu Kandungan, Cetakan ke-4. Jakarta : PT Gramedi