Anda di halaman 1dari 48

Telah disetujui preseptor klinik Telah disetujui preseptor akademik

Hari/tanggal: Hari/tanggal :
Tanda Tangan: Tanda tangan:

-------------------------------------- -----------------------------------------
STASE KEPERAWATAN JIWA
PROGRAM STUDI NERS (PROFESI)

Asuhan keperawatan pada Klien dengan Schizofren type manic


Di RSJ Soeprapto Bengkulu tahun 2018

LAPORAN PENDAHULUAN

Oleh:

JOHAN WAHYUDI
NPM : 172426111NS

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS DEHASEN BENGKULU
TAHUN 2017
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS PADA KLIEN DENGAN
ABORTUS DI RUANG KEBIDANAN RSUD KEPAHIANG
OLEH : JOHAN WAHYUDI
1. Kasus.
Abortus.
2. Proses terjadinya masalah

A. Definisi

Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat

tertentu) pada atau sebelu kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah

kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan.

(Sarwono, P. 2002)

Berakhirnya kehamilan sebelum anak dapat hidup di dunia luar

disebut abortus. Anak baru mungkin hidup di dunia luar kalau beratnya

telah mencapai 1000 gram atu umur kehamilan 28 minggu. Ada juga yang

mengambil sebagai batas untuk abortus berat anak yang kurang dari 500

gram. Jika anak yang lahir beratnya antara 500 dan 999 gram disebut partus

immaturus.

(Fakultas Kedokteran UNPAD)

Abortus dapat dibagi menjadi sebagai berikut:

1. Abortus spontan (terjadi dengan sendiri, keguguran); merupakan

kurang lebih 20% dari semua abortus.

2. Abortus provokatus (disengaja, digugurkan); 80% dari semua

abortus.

a) Abortus provokatus artificialis atau abortus terapeutikus


Abortus provokatus artificialis adalah pengguran kehamilan, biasanya

dengan alat-alat dengan alasan bahwa kehamilan membahayakan

membawa maut bagi ibu, misalnya karena ibu berpenyakit berat.

Abortus provokatus pada hamil muda dibawah 12 minggu dapat

dilakukan dengan pemberian prostaglandin atau kuretase dengan

penyedotan (vacum) atau dengan sendok kuret.

Pada hamil yang tua diatas 12 minggu dilakukan histerektomi, juga dapat

disuntikkan garam hipertonis (20%) atau prostaglandin intra-amnial.

Indikasi untuk abortus terapeutikus misalnya: penyakit jantung (jantung

rheumatic), hipertensi esentialis, karsinoma serviks.

b) Abortus provokatus kriminalis.

Abortus provokatus kriminalis adalah pengguguran kehamilan tanpa

alasan medis yang syah dan dilarang oleh hukum.

Secara klinis masih ada istilah-istilah sebagai berikut:

1) Abortus imminens (keguguran mengancam). Abortus baru

mengancam dan masih ada harapan untuk mempertahankannya.

2) Abortus incipiens (keguguran berlangsung). Abortus ini sudah

berlangsung dan tidak dapat dicegah lagi.

3) Abortus inkompletikus (keguguran tidak lengkap). Sebagian dari

buah kehamilan telah dilahirkan tapi sebagian (biasanya jaringan plasenta

masih tertinggal didalam rahim.

4) Abortus kompletikus (keguguran lengkap). Seluruh buah kehamilan

telah dilahirkan dengan lengkap.


5) Missed abortion (keguguran tertunda). Missed abortion adalah

keadaan dimana janin telah mati sebelum minggu ke-22, tetapi tertahan

didalam rahim selama 2 bulan atau lebih setelah janin mati.

6) Abortus habitualis (keguguran berulang-ulang). Ialah abortus yang

telah berulang dan berturut-turut terjadi; sekurang-kurangnya tiga kali

berturut-turut.

B. Etiologi

Walaupun terjadinya abortus habitualis berturut-turut mungkin kebetulan, namun

wajar untuk memikirkan adanya sebab dasar yang mengakibatkan peristiwa

berulang ini. Sebab dasar ini dalam kurang lebih 40% tidak diketahui; yang

diketahui, dapat dibagi dalam tiga golongan:

1. Kelainan pada zigote

Agar bisa menjadi kehamilan, dan kehamilan itu dapat berlangsung terus

dengan selamat, perlu adanya penyatuan antara spermatozoon yang normal

dengan ovum yang normal pula.

Kelainan genetik pada suami atau istri dapat menjadi sebab kelainan pada

zigote dengan akibat terjadinya abortus. Dapat dikatakan bahwa kelainan

kromosomal yang dapat memegang peranan dalam abortus berturut-turut,

jarang terdapat. Dalam hubungan ini dianjurkan untuk menetapkan kariotipe

pasangan suami istri apabila terjadi sedikit-sedikitnya abortus berturut-turut

tiga kali, atau janin yang dilahirkan menderita cacat.


2. Gangguan fungsi endometrium yang menyebabkan gangguan

implantasi ovum yang dibuahi dan gangguan dalam pertumbuhan mudigah.

Malfungsi endometrium yang mengganggu implantasi dan mengganggu

mudigah dalam pertumbuhannya.

Di bawah pengaruh estrogen, endometrium yang sebagian besar hilang pada

waktu haid, timbul lagi sesudah itu, dan dipersiapkan untuk menerima

dengan baik ovum yang dibuahi. Sesudah ovulasi glikogen yang terhimpun

dalam sel-sel basal endometrium memasuki sel-sel dan lumen kelenjar-

kelenjar dalam endometrium, untuk kelak dibawah pengaruh alkalin

fosfatase diubah menjadi glukose. Di samping zat hidrat arang tersebut

dibutuhkan pula protein, lemak, mineral, dan vitamin untuk pertumbuhan

mudigah.

Faktor-faktor yang dapat mengakibatkan gangguan dalam pertumbuhan

endometrium adalah :

a) Kelainan hormonal

Pada wanita dengan abortus habitualis, dapat ditemukan bahwa fungsi

glandula tiroidea kurang sempurna. Oleh sebab itu pemeriksaan fungsi

tiroid pada wanita-wanita dengan abortus berulang perlu dilakukan;

pemerikasaan ini hendaknya dilakukan diluar kehamilan. Selain itu

gangguan fase luteal dapat menjadi sebab infertilitas dan abortus muda

yang berulang. Gangguan fase luteal dapat menyebabkan disfungsi tuba

dengan akibat transfor ovum terlalu cepat, motilitas uterus yang


berlebihan dan kesukaran dalam nidasi karena endometrium tidak

dipersiapkan dengan baik.

b) Gangguan nutrisi

Penyakit-penyakit yang mengganggu persediaan zat-zat makanan untuk

janin yang sedang tumbuh dapat menyebabkan abortus. Anemia yang

berat, penyakit menahun dan lain-lain akan mempengaruhi gizi penderita.

c) Penyakit infeksi

Penyakit infeksi menahun yang dapat menjadi sebab kegagalan

kehamilan ialah luwes. Disebut pula mikoplasma hominis yang

ditemukan di serviks uteri, vagina dan uretra. Penyakit infeksi akut dapat

menyebabkan abortus yang berturut-turut.

d) Kelainan imunologik

Inkomtabilitas golongan darah A, B, O, dengan reaksi antigen-antibodi

dapat menyebabkan abortus berulang, karena pelepasan histamin

mengakibatkan vasodilatasi dan peningkatan fragilitas kapiler.

Inkomtabilitas karena Rh faktor dapat menyebabkan abortus berulang,

tetapi hal itu biasanya menyebabkan gangguan pada kehamilan diatas 28

minggu.

e) Faktor psikologis

Dibuktikan bahwa ada hubungan antara abortus berulang dan keadaan

mental, akan tetapi sebelum terang sebab musababnya. Yang peka

terhadap terjadinya abortus ialah wanita yang belum matang secara

emosional dan sangat mengkhawatirkan risiko kehamilan; begitu pula


wanita yang sehari-hari bergaul dalam dunia pria dan menganggap

kehamilan sebagai suatu beban yang berat.

Dalam hal-hal tersebut diatas, peranan dokter untuk menyelamatkan

kehamilan sangat penting. Usaha-usaha dokter untuk mendapatkan

kepercayaan pasien, dan menerangkan segala sesuatu kepadanya, sangat

membantu.

3. Kelainan anatomik pada uterus yang dapat menghalangi

berkembangnya janin didalamnya dengan sempurna.

Kelainan bawaan dapat menjadi sebab abortus habitualis, antara lain hipoplasia

uterus, subseptus uterus bikornis dan sebagainya. Akan tetapi pada kelainan

bawaan seperti uterus bikornis, sebagian besar kehamilan dapat berlangsung

terus dengan baik. Walaupun pada abortus habitualis perlu diselidiki dengan

histerosalpingografi, apakah ada kelainan bawaan, perlu diperiksa pula apakah

tidak ada sebab lain dari abortus habitualis, sebelum menganggap kelainan

bawaan uterus tersebut sebaga sebabnya.

Diantara kelainan-kelainan yang timbul pada wanita dewasa terdapat laserasi

serviks uteri yang luas, tumor uterus khususnya mioma, dan serviks uteri

yang inkompeten. Pada laserasi yang cukup luas, bagian bawah uterus tidak

dapat memberi perlindungan pada janin dan dapat menjadi abortus, biasanya

pada inkompeten; pada kehamilan 14 minggu atau lebih ostium uteri

internum perlahan-lahan membuka tanpa menimbulkan rasa nyeri dan

ketuban mulai menonjol. Jika keadaan dibiarkan, ketuban pecah dan terjadi
abortus. Mioma uteri, khususnya berjenis sub mukus, dapat mengganggu

implantasi ovum yang dibuahi atau pertumbuhannya didalam cavum uteri.

C. Patofisiologi

Patofisiologi terjadinya keguguran mulai dari terlepasnya sebagian atau

seluruh jaringan plasenta yang menyebabkan perdarahan sehingga janin

kekurangan nutrisi dan O2 .bagian yang terlepas dianggap benda asing, sehingga

rahim berusaha untuk mengeluarkan dengan kontraksi.

Pengeluaran tersebut dapat terjadi spontan seluruhnya atau sebagian masih

tertinggal yang menyebabkan berbagai penyakit. Oleh karena itu, keguguran

memberikan gejala umum sakit perut karena kontraksi rahim, terjadi perdarahan,

dan disertai pengeluaran seluruh atau sebagian hasil konsepsi.

Bentuk perdarahan bervariasi diantaranya:

1. sedikit-sedikit dan berlangsung lama

2. sekaligus dalam jumlah yang besar dapat disertai gumpalan

3. akibat perdarahan tidak menimbulkan gangguan apapun; dapat

menimbulkan syok, nadi meningkat, tekanan darah turun, tampak anemis dan

daerah ujung (akral) dngin.

Bentuk pengeluaran hasil konsepsi bervariasi:

1. umur kehamilan dibawah 14 minggu dimana plasenta belum

terbentuk sempurna, dikeluarkan seluruh atau sebagian hasil konsepsi.

2. diatas 16 minggu, dengan pembentukan plasenta sempurna dpat

didahului dengan ketuban pecah diikuti pengeluaran hasil konsepsi, dan


dilanjutkan dengan pengeluran plasenta berdasarkan proses persalinannya

dahulu disebutkan persalinan immaturus.

3. hasil kosepsi tiak dikeluarkan lebih dari 6 minggu, sehingga terjadi

ancaman baru dalam bentuk gangguan pembekuan darah.

Berbagai bentuk perubahan hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan dapat terjadi:

1. mola karnosa: hasil konsepsi menyerap darah, terjadi gumpalan

seperti daging.

2. mola tuberosa: amnion berbenjol-benjol, karena terjadi hematoma

antara amnion dan karion

3. fetus kompresus: janin mengalami mumifikasi, terjadi penyerapan

kalsium, dan tertekan sampai gepeng.

4. fetus papiraseus: kompresi fetus berlangsung terus, terjadi penipisan,

laksna kertas.

5. blighted ovum: hasil konsepsi yang dikeluarkan tidak mengandung

janin, hanya benda kecil yang tidakberbentuk.

6. missed abortion: hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan lebih dari 6

minggu.
D. Pathway
Kelainan zigot Kelainan hormonal G3. nutrisi Penyakit infeksi Kelainan imunologik Factor psikologis Kelainan anatomic uterus

Embrio tidak bisa berkembang Pertubuhan janin intra uteri tidak sempurna

G3. fungsi endometrium

G3. implantasi hasil konsepsi

G3. pertumbuhan mudigah

Abortus Kehilangan calon anak Berduka

Komplit Inkomplit
E. Penatalaksanaan Kuretase
Komplit
Inkomplit
1. Persiapan Sebelum Tindakan

a) Pasien
Seluruh hasil konsepsi keluar Plasenta tertinggal dalam rahim Dikeluarkan
Kuretase
1) cairan dan selang infus sudah terpasang, perut bawah dan

lipat paha sudah dibersihkan dengan air dan sabun. Uterus berkontraksi
Pembuluh darah masih terbuka
Alat yang tidak steril
Perdarahan 2) Uji fungsi dan kelengkapan peralatan resusitasi

kardiopulmoner. G3. rasa nyamn nyeri


Kembali normal dalam 10 hari
3) Siapkan kain alas bokong danPerdarahan
penutup perut bawah.
massif
Resti infeksi
4) Medikamentosa

- Analgetika (pethidin 1-2 mg/kg BB, ketamin HCI 0,5


Syok hipovolemik Nadi ↓
mg/kg BB, tramadol 1-2 mg/kg BB)

- Sedatifa (diazepan 10 mg)


TD ↓
Distribusi darah ke jaringan ↓
- Atropin sulfat 0,25-0,50 mg/kg

5) Larutan antiseptik (povidon iodin 10%).

6) Akral dingin
Oksigen dengan regulator.

7) Instrumen :

- G31 perfusi jaringan


Cunam tampon:

- Klem ovum (foersters/fenster clemp) lurus : 2

- Sendok kuret pasca persalinan : 1

- Spekulum sim’s atau L dan kateter karet : 2 dan 1

- Tabung ml dan jarum suntik no 23 (sekali pakai) : 2

b) Penolong (operator dan asisten)


1) Baju kamar tindakan, apron, masker dan kacamata

pelindung : 3 set

2) Sarung tangan DTT/steril : 4 pasang

3) Alas kaki (sepatu atau boot karet) : 3 pasang

4) Instrumen :

- Lampu sorot : 1

- Mangkok logam : 2

- Penampung udara dan jaringan : 1

2. Tindakan

a) Instruksikan asisten untuk memberikan sedative dan analgetik.

b) Bila penderita tidak berkemih, lakukan kateterisasi (lihat prosedur

kateteresasi).

c) Setelah kandung kemih dikosongkan, lakukan pemeriksaan

bimanual. Tentukan besar uterus dan bukaan serviks.

d) Bersihkan dan lakukan dekontaminasi sarung tangan dengan

larutan klorin 0,5%.

e) Pakai sarung tangan DTT/steril yang baru.

f) Pasang spekulum sim’s atau L, masukkan bilahnya secara vertikal

kemudian putar ke bawah.

g) Pasang spekulum sim’s berikutnya dengan jalan memasukkan

bilahnya secara vertikal kemudian putar dan tarik ke atas sehingga

porsio tampak dengan jelas.


h) Minta asisten untuk memegang spekulum atas dan bawah,

pertahankan pada posisinya semula.

i) Dengan cunam tampon, ambil kapas yang telah dibasahi dengan

larutan antiseptik, kemudian bersihkan lumen vagina dan poriso.

Buang kapas tersebut dalam tempat sampah yang tersedia, kembalikan

cunam ke tempat semula.

j) Ambil klem ovum yang lurus, jepit bagian atas porsio (perbatasan

antara kuadran atas kiri dan kanan atau pada jam 12).

k) Setelah porsio terpegang baik, lepaskan spekulum atas.

l) Pegang gagang cunam dengan tangan kiri, ambil sendok kuret

pasca persalinan dengan tangan kanan, pegang diantara ibu jari dan

telunjuk (gagang sendok berada pada telapak tangan), kemudian

masukkan hingga menyentuh fundus.

m) Minta asisten untuk memegang klem ovum, letakkan telapak

tangan pada bagian atas fundus uteri (sehingga penolong dapat

merasakan tersentuhnya fundus oleh ujung sendok kuret).

a. Memasukkan lengkung sendok kuret sesuai engan lengkung

cavum uteri kemudian laukan pengerokan dinding uterus bagian

depan searah dengan jarum jam, secara sistematis.

b. Masukkan ujung sendok sesuai dengan cavum lengkung

uteri setelah sampai fundus, kemudian putar 180 derajat, lalau

bersihkan dinding belakang uterus. Kemudian keluarkan jaringan

yang ada.
n) Kembalikan sendok kuret ke tempat semula, gagang klem ovum

dipegang kembali oleh operator.

o) Ambil kapas (dibasahi larutan antiseptik) dengan cunam tampon,

bersihkan darah dan jaringan pada lumen vagina.

p) Lepaskan jepitan klem ovum pada porsio.

q) Lepaskan spekulum bawah.

r) Lepaskan kain penutup perut bawah, alas bokong dan sarung kaki

masukkan ke dalam wadah yang berisi larutan klorin 0,5%.

s) Bersihkan cemaran darah dan cairan tubuh dengan larutan

antiseptik.

3. Dekontaminasi

4. Cuci Tangan Sebelum Pasca tindakan

5. Perawatan Pasca tindakan

F. Data Fokus

Perdarahan Serviks Uterus Gejala / tanda


Bercak hingga Tertutup Sesuai dengan Kram perut bawah

sedang gestasi Uterus lunak


Sedikit membesar Limbung atau pingsan

dari normal Nyeri perut bawah

Nyeri goyang porsio

Massa adneksa

Cairan bebas intra

abdomen
Tertutup atau Lebih kecil dari Sedikit atau tanpa nyeri

terbuka usia gestasi perut bawah

Riwayat ekspulsi hasil

konsepsi

Sedang hingga Terbuka Sesuai usia Kram atau nyeri perut

masif atau kehamilan bawah

banyak Belum terjadi ekspulsi

hasil konsepsi

Kram atau nyeri perut

bawah

Ekspulsi sebagian hasil

konsepsi
Terbuka Lunak dan lebih Mual atau muntah

besar dari usia Kram perut bawah

gestasi Sindroma mirip pre

eklampsia

Tak ada janin keluar

jaringan seperti anggur

G. Pengkajian

1. Riwayat Obstetri

a) Riwayat menstruasi

Menarche
Siklus
Lama
Banyak
Warna
Bau
Flour albous
HPHT
Disminorhe
b) Riwayat kehamilan

c) Riwayat kehamilan sekarang

- HPL

- ANC

- Keluhan

- TT

d) Riwayat kontrasepsi

2. Riwayat perkawinan
3. Pola kebiasaan sehari-hari

a) Nutrisi

Sebelum hamil
Selama hamil
b) Eliminasi

Sebelum hamil

Selama hamil
c) Istirahat

Sebelum hamil

Selama hamil

d) Aktifitas

Sebelum hamil
Selama hamil
e) Pola hubungan sexualitas

Sebelum hamil
Selama hamil

f) Personal hygiene

Sebelum hamil
Selama hamil
4. Riwayat psikososial

5. Data spiritual

B. Data Objektif

1 Keadaan umum
2 Kesadaran
3 TTV
4 TB
BB sebelum hamil
LILA
BB setelah hamil
5 Pemeriksaan fisik
a) Muka

b) Mata

c) Genetalia
6 Status obstetri
a) Inspeksi

Muka

Perut

Vulva

b) Palpasi

Abdomen / TFU
7 Pemeriksaan dalam

Servik
8 Pemeriksaan penunjang

Hb

H. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus yang

berlebihan

2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan

berkurangnya distribusi darah ke seluruh tubuh.

3. Resti infeksi berhubungan dengan tindakan invasif

4. Berduka berhubungan dengan kehilangan calon anak


I.Rencana Keperawatan

No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional


1. Nyeri berhubungan dengan Setelah diberikan asuhan keperawatan  Berikan informasi dan  Meningkatan
kontraksi uterus yang selama 2 x 2 jam diharapkan klien dapat petunjuk antisipasi pemecahan masalah,
berlebihan mengontrol nyeri yang dibuktikan dengan mengenai penyebab membantu mengurangi
Criteria hasil : ketidaknyamanan dan nyeri berkenaan dengan
 Klien menyatakan nyeri hilang/ intervensi yang tepat ansietas dan ketakutan
terkontrol karena ketidaktahuan dan
 Ekspresi wajah tidak menunjukkan memberikan rasa control.
rasa menahan sakit  Evaluasi tekanan darah  Pada banyak klien
 Kualitas nyeri menunjukkan skala (TD) dan nadi. Perhatikan menyebabkan gelisah
0-3 perubahan perilaku
 Perilaku relaksasi (bedakan antara
 TD 120/80 – 130/90 mmHg kegelisahan karena nyeri
 Nadi 90x/ menit atau kehilangan darah
 Pola nafas efektif 24x/ menit akibat dari proses
pembedahan.
 Ubah posisi klien,  Merilekskan otot dan
kurangi rangsangan yang mengalihkan perhatian
berbahaya dan berikan dari sensasi nyeri,
gosokan punggung meningkatkan
anjurkan penggunaan kjetidaknyaman dan
teknik pernafasan dan menurunkan distraksi
relaksasi dan distraksi tidak menyenangkan,
(rangsangan jaringan meningkatkan rasa
kutan) ketidaksejahteraan.
 Kembalinya kandung
 Palpasi kandung kemih, kemih normal
perhatikan adanya rasa memerlukan 4-7 hari dan
penuh, memudahkan over distena kandung
berkemih periodic setelah kemih menciptakan
pengangkatan kateter peranan dorongan dan
indwelling. ketidaknyamanan.
 Mengangkat payudara
 Anjurkan penggunaan kedalam dan keatas
dengan penyokong. mengakibatkan posisi
lebih nyaman dan
menurunkan kelelahan
otot.
 Napas dalam
 Lakukan latihan nafas meningkatkan upaya
dalam, spirometri intensif pernafasan, pembebatan
dan batuk dengan menurunkan regangan
menggunakan prosedur- area insisi dan
prosedur tepat, 30 menit mengurangi nyeri dan
setelah pemberian ketidaknyaman berkenaan
analgesic. dengan gerakan otot
abdomen, baruk
diindikasikan bila sekresi
atau ronki terdengar.

2. Gangguan perfusi Setelah diberikan asuhan keperawatan  Panatau tanda vital;  indikaror
jaringan berhubungan selama 2 x 2 jam diharapkan klien dapat palpasi nadi perifer dan keadekuatan perfusi
dengan berkurangnya menunjukkan perfusi aekuat, sesuai perhatikan pengisian sistematik. Kebujtuhan
distribusi darah ke dengan bukti tanda vital atsbil, nadi kapiler;kaji keluaran caran/ darah, dan
seluruh tubuh. teraba, pengisian kapiler baik, atau karakteristik urine, terjadinya komplikasi.
mental biasa, keluaran urin evaluasi perubahan
adekuat secara individual dan bebas mental.
edema.  Inspeksi balutan dan  Memperkirakan
pembalut prineal, pembuluh darah besar
perhatikan warna, untuk sisi operasi dan
jumlah dan bau potensial perubahan
drainase. Timbang mekanisme
pembalut dan pembengkakan
bandingkan dengan (contoh; kanker)
berat yang kering, bila meningkatkan resiko
pasien mengalami perdarahan pasca
perdarahan hebat. operasi.
 Ubah posisi pasien  Mencegah statis
dan dorong batuk sering sekresi dan komplikasi
dan latihan nafas dalam. perdarahan.
 Hindari posisi fowler  Menimbulkan
tinggi dan tekanan di stasis vena dengan
bawah lutut atau meningkatkan kongesti
menyilangkan kaki. pelvik dan
pengumpulan darah
dalam eksremitas
potensial resko
pembentukan
trombosit.
 Bantu/instruksikan  Geraka
latiha kaki dan telapak meningkatkan sirkulasi
dan ambulas sesegera dan mencegah
mungkin. komplikasi statis.
 Periksa tanda hormo.  Mungkin indiksi
Perhatikan eritema, terjadinya
pembengkakan tromboflebitis/emboli
ekstremitas, atau paru.
keluhan nyeri dad tiba-
tiba pada dispnea.
Kolaborasi
 Berikan cairan IV,  Menggantikan
produk drah sesuai kehilangan darh
indiaksi. mempertahankan
volume darah sirkulasi
dan perfusi jaringan.
 Pekaikan stoking  Membantu aliran
anti emboli. balik vena,
menurunkan statis dan
resiko trombosit.
 Bantu/dorong  Meningkatkan
penggunaan spirometri ekspensi
insentif. paru/meminimalkan
atelektasis.
3. Resti infeksi Setelah diberikan asuhan keperawatan  Anjurkan dan gunakan  Membantu mencegah/
berhubungan dengan selama 4 x 24 jam diharapkan klien dapat teknik mencuci tangan mengatasi penyebaran
tindakan invasif menerapkan teknik kontrol infeksi yang dengan cermat dan infeksi
dibuktikan dengan criteria hasil: pembuangan pangalas
 Suhu 37 C kotoran pembakut parineal
 Poal nafas efektif 24x/ menit dan linen terkontaminasi
 Tidak terdapat nyeri tekan dengan tepat
 Luka bekas dari drainase dengan  Tinjau ulang Hb/Ht  Anemia, diabetes dan
tanda awal penyembuhan prenatal: perhatikan adanya persalinan yang lama
 Tidak terdapat kemerahan kondisi yang (khususnya pada pecah
mempredisposisikan klien ketuban) sebelum
pada infeksi pasca operasi kelahiran sesarea
meningkatkan resiko
infeksi dan pelambatan
penyembuhan.
 Infeksi balutan  Balutan steril
abdominal terhadap menutupi luka pada 24
eksudat/ rembesan. jam pasca kelahiran
Lepaskan balutans sesuai sesarea membantu
indikasi melindungi luka dari
cidera/ kontaminasi,
rembesan dapat
mendapatkan hemetoma,
gangguan penyatuan
jahitan/ dehisens luka
memerlukan intervensi
lanjut.

 Mencegah dehidrasi
 Dorong dan masukan memaksimalkan volume
cairan oral dan diet tinggi sirkulasi dan aliran urine.
protein, Vit C dan besi Protein dan vitamin C
diperlukan untuk
pembentukan kolagen,
besi diperlukan untuk
sintesis HB
 Dalam pasca operasi
 Kaji suhu, nadi, dan hari ke-3 leukositas dan
jumlah sel darah putih takikardia menunjukkan
infeksi, peningkatan suhu
sampai 38C dalam 24 jam
pertama sangat
mengindikasikam infeksi.
 Setelah kelahiran
 Kaji lokasi dan sesarea fundus tetap pada
kontraktivitas uterus, ketinggian umbilicus
perhatikan perubahan selama sampai 5 hari, bila
involusi/ adanya nyeri involusi mulai disertai
tekan uterus yang ekstrim dengan peningkatan aliran
lokia. Perlambatan
involusi meningkatkan
resiko endometritis.
Perkembangan nyeri
tekan ekstrim
menandakan
kemungkinan jaringan
plasenta tertahan/ infeksi
.
Kolaborasi:  Menurunkan
 Berikan infuse antibiotic kemungkinan
profilaksi dengan detil endometritis pasca partum
pertama biasanya diberikan sesuai komplikasi seperti
segera setelah obsess insisi/
pengekleman tali pusat dan tromboflekbitis pelvis.
2 dosis lagi masing-masing
berjarak 6 jam.  Bakterinus lebih sering
 Dapatkan kultur darah, pada klien yang
vagina dan urin bila infeksi mengalami pecah ketuban
dicurigai selama 6 jam/ lebih lama
daripada klien yang
ketubannya tetap utuh
sebelum melahirkan
sesarea

 Perlu untuk mematikan


 Berikan antibiotic organisme.
khusus untuk untuk proses
infeksi yang diidentifikasi.

4. Berduka berhubungan Setelah dilakukan asuhan keperawatan Mandiri 1. Ansietas dan


dengan kehilangan selama 1 x 24 jam diharapkan klien 1. Kaji status emosional depresimerupakan reaksi
calon anggota keluarga mampu menerima keadaan yang yang umum terhadap
sebenarnya tentang kematian anaknya kehilangan
yang dibuktikan dengan : perubahan/kehilangan
1. mengidentifikasi dan menunjukkan yang diasosiasikan dengan
perasaan secara cepat penyakit jangka panjang
2. menunjukkan perkembangan atau kondisi yang
melalui proses duka melemahkan
3. menikmati masa sekarang dan 2. Sediakan waktu untuk 2. Akan lebih membantu
rencana untuk masa depan, hari demi mendengarkan pasien. jika mengikuti perasaan ini
hari Dorong ekspresi perasaan untuk di ekspresikan dan
bebas, tidak berdaya dan kemudin diterima daripada
keinginan untuk mati menyangkalnya.
3. Kaji potensial untuk 3. Dapat dihubungkan
berdiri dengan penyakit fisik
4. Terdapat kemungkinan
4. Ikutsertakan orang keberasilan lebih besar
terdekat dalam diskusi dan dalam pemecahan
aktifitas sampai pada masalah.
tingkat yang mereka
inginkan
5. Menyampaikan
perasaan perhatian atau
5. Berikan sentuhan atau keakraban untuk
pelukan bebas sesuai mengurangi perrasaan
penerimaan individu terisolasi dan
meningkatkan perasaan
harga diri.

Kolaborasi 6. Mungkin
6. Rujuk pada sumber- membutuhkan bantuan
sumber lain sesuai indikasi, lebih lanjut untuk
misalnya special klinik, memecahka bebebrapa
perawat, pekerja social. masalah
7. Bantu dengan atau 7. Terpecahnya masalah
rencanakan dengan spesifik ini dapat membantu
sesuai kebutuhan (misalnya pasien ,atau orang terdekat
instruksi lanjutan (untuk berhadapan dengan proses
menentukan status kode berduka dan dapat
atau keinginan untuk menimbulkan pikiran
hidup), membuat wasiat damai
pengaturan pemakaman)
Kasus 27

Anda saat ini bertugas di ruang post natal, terdapat klien Ny. I 34 tahun. Status

pernikahan kawin. Dx medis abortus habitualis in komplit. Masuk RS sejak 26

Juni 05. pengkajian dilakukan tanggal 27 Juni 05. status obstetri G4 P0 A4.

riwayat haid klien menarche usia 16 tahun. Haid terakhir 3 bulan yang lalu, siklur

teratur 28 hari klien mengeluh sedih terhadap hal yang menimpanya. Riwayat

perkawinan 14 tahun. Kini klien direncanakan untuk tindakan kuretase nanti sore.

TD 120/70 mmHg, N 84 x/menit, RR 24x/menit dan T 36,9 0C. Nyeri hebat di

perut bawah skala 4, mulas mulas bertambah jika bergerak, berkurang bila klien

tiduran. Keluaran darah pervaginam 100 cc/3 jam. Klien mengaku bingung

dengan penyakitnya yang selalu mengalami keguguran dan menanyakan pada

anda bagaimana tentang penyakitnya tersebut. Klien paham dengan tindakan yang

akan dilakukan tetapi tetap cemas dengan tindakan tersebut. Ekspresi wajah klien

selama menunggu tampak berkeringat banyak, sesekali mendesis nyeri.

1. Rencanakan NCP pada klien tersebut !

2. Apa intervensi anda dan bagaimana evaluasinya ? (kaitkan dengan data

berikut)

Dari evaluasi lebih lanjut klien menyatakan dengan nafas dalam yang diajarkan

perawat nyeri berkurang sekitar skala 3. Td 120/70 mmHg, RR 24 x/menit dan T

36,90C. Ekspresi wajah masih cemas setelah dilakukan penyuluhan tentang

penyakitnya. Klien bertanya apa yang dapat dilakukannya agar dia

mempertahankan kehamilannya bila dia hamil lagi. Kapiler refill < dari 2 detik,
nadi kuat teratur. Klien dapat kooperatif dengan perawat. Klien banyak berdzikir

untuk menghilangkan kesedihannya.

A. Pengkajian.

Data Subyektif

1. Biodata

Biodata klien Biodata penanggung jawab


Nama : Ny.I Nama : Tn.T
Umur : 34 tahun Umur : 40 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMU Pendidikan : SMU
Suku /bangsa : Jawa/ Indonesia Suku/ bangsa : Jawa/

Indonesia
Pekerjaan : Ibu rumah Pekerjaan : Swasta

tangga
Alamat : Mijen ungaran Alamat : Mijen ungaran

2. Alasan datang : Ibu ingin memeriksa kehamilannya

3. Keluhan utama : Ibu merasakan nyeri pada perut bawah dan

keluar

bercak-bercak darah sejak kemarin.


4. Riwayat kesehatan

a) Riwayat kesehatan

Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit kronik seperti :

Hipertensi, DM, Asma, Jantung, TBC.

b) Riwayat kesehatan masa lalu

Ibu tidak sedang menderita penyakit kronik seperti : Hipertensi,

DM, Asma, Jantung, TBC, abortus berulang.

c) Riwayat kesehatan keluarga

Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit

menurun/ turunan seperti hipertensi,DM, Asma, Jantung,dan tidak

mempuyai keturunan kembar.

5. Riwayat Obstetri

a) Riwayat menstruasi

Menarche : 12 tahun
Siklus : 28 hari
Lama : 7 hari
Banyak : ± 100
Warna : Merah segar
Bau : Amis
Flour albous : Kadang-kadang
HPHT : 30 Januarai 2006
Disminorhe : Tidak pernah
b) Riwayat kehamilan

Abortus berulang selama 4 kali

c) Riwayat kehamilan sekarang

- G4 P0 A4, UK : 12 minggu 3 hari.

- HPL : 6 November 2006

- ANC : Belum pernah


- Keluhan : IM I

- TT : 1x capeng

- Ibu tidak mengkonsumsi obat-obatan

- Ibu tidak mempunyai kebiasaan buruk seperti : merokok,

minum-minuman keras dan lain-lain yang mengganggu janin.

d) Riwayat kontrasepsi

Ibu belum pernah memakai kontrasepsi

setelah melahirkan ibu ingin memakai alat kontrasepsi (Pil KB)

6. Riwayat perkawinan

Menikah 1x

Lama perkawinan 14 tahun

Umur waktu menikah : 20 tahun, Suami : 24 tahun

7. Pola kebiasaan sehari-hari

a) Nutrisi

Sebelum hamil Makan 3x sehari, porsi nasi, sayur, lauk.

Minum 5-6 gelas/hari air putih dan teh


Selama hamil Makan 3x/sehari, porsi setengah nasi sayur,

lauk.

Minum 5-6 gelas/ hari air putih dan susu


b) Eliminasi

Sebelum hamil BAB 1x/hari konsistensi lunak, kuning kecoklatan


BAK 3-4x/hari konsistensi lunak, kuning

kecoklatan .
Selama hamil BAB 2x/hari konsistensi lunak, kuning kecoklatan

.
BAK 4-5x/hari, warna kuning jernih
c) Istirahat

Sebelum hamil Tidur malam ±8 jam jarang terbangun


Tidur siang ± 1-1,5 jam.
Selama hamil Tidur malam ± 8 jam jarang terbangun
Tidur siang kadang-kadang

d) Aktifitas

Sebelum hamil Ibu dapat melakukan pekerjaanya sendiri tanpa

bantuan
Selama hamil Ibu dapat melakukan pekerjaanya kadang-kadang

dengan bantuan
e) Pola hubungan sexualitas

Sebelum hamil 3x/minggu


Selama hamil 2-3x/ minggu

f) Personal hygiene

Sebelum hamil Mandi 2x/minggu, gosok gigi 3x/hari, keramas 1x/2

hari
Selama hamil Mandi 2x/hari, gosok gigi3x/hari, keramas 1x/2hari.

8. Riwayat psikososial

Emosi ibu stabil, hubungan ibu dengan tetangga dan masyarakat

sekitar terjalin dengan baik, ibu cemas dengan keadaan kehamilan.

9. Data spiritual

Sebagai pemeluk agama islam ibu rajin menjalankan sholat 5 waktu.


Data Objektif

1 Keadaan umum : Sedang


2 Kesadaran : Composmentis
3 TTV
TD : 120/70 mmHg
N : 84x/menit
R : 24x/menit
S : 36,9ºC
4 TB : 157 cm
BB sebelum hamil : 48 kg
LILA : 24 cm
BB setelah hamil : 52 kg
5 Pemeriksaan fisik
d) Muka : Berkeringat banyak, mendesis nyeri

e) Mata : Konjungtifa tidak pucat, seclera tidak

f) Genetalia kuning

: Tidak terdapat oedem, tidak terdapat

varises

6 Ststus obsteri
a) Inspeksi

Muka : Tidak terdapat closma gravidarum

Perut : Tidak terdapat strie gravidarum

Vulva : Keluar darah dari jalan lahir

b) Palpasi

Adomen : Uterus teraba lunak, terdapat nyeri tekan

pada perut bawah, TFU teraba agak keras


7 Pemmeriksaan dalam

Servik : Tertutup
8 Pemeriksaan penunjang

Hb : 14 gr%
B. ANALISA DATA

No Data Etiologi MK
1. DS : klien mengeluh sedih Krisis situasional Berduka

terhadap hal yang menimpanya

2. DS : klien mengaku bingung Krisis situasional Cemas

dengan penyakitnya yang selalu

mengalami keguguran

DO : ekspresi wajah klien

selama menunggu tampak

berkeringat banyak
3. DS : Kontraksi uterus Gangguan rasa

P : bertambah jika bergerak yang berlebihan nyaman: nyeri

Berkurang bila klien duduk

R : nyeri di perut bawah

Skala nyeri : 4

Klien merasa mulas-mulas

DO : klien sesekali mendesis

nyeri

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus

yang berlebihan

2. Cemas berhubungan dengan krisis situasional

3. Berduka berhubungan dengan krisis situasional


D. NURSING CARE PLAN

No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional


1. Nyeri berhubungan Setelah diberikan asuhan keperawatan  Berikan informasi dan  Meningkatan

dengan kontraksi uterus selama 2 x 2 jam diharapkan klien dapat petunjuk antisipasi pemecahan masalah,

yang berlebihan mengontrol nyeri yang dibuktikan mengenai penyebab membantu mengurangi

dengan Criteria hasil : ketidaknyamanan dan nyeri berkenaan dengan

 Klien menyatakan nyeri hilang/ intervensi yang tepat ansietas dan ketakutan

terkontrol karena ketidaktahuan dan

 Ekspresi wajah tidak memberikan rasa control.

menunjukkan rasa menahan sakit  Evaluasi tekanan darah  Pada banyak klien

 Kualitas nyeri menunjukkan skala (TD) dan nadi. Perhatikan menyebabkan gelisah

0-3 perubahan perilaku

 Perilaku relaksasi (bedakan antara

 TD 120/80 – 130/90 mmHg kegelisahan karena nyeri

 Nadi 90x/ menit atau kehilangan darah

 Pola nafas efektif 24x/ menit akibat dari proses


pembedahan.

 Ubah posisi klien,  Merilekskan otot dan

kurangi rangsangan yang mengalihkan perhatian

berbahaya dan berikan dari sensasi nyeri,

gosokan punggung meningkatkan

anjurkan penggunaan kjetidaknyaman dan

teknik pernafasan dalam menurunkan distraksi

dan relaksasi dan distraksi tidak menyenangkan,

(rangsangan jaringan meningkatkan rasa

kutan) ketidaksejahteraan.

 Palpasi kandung kemih,  Kembalinya kandung

perhatikan adanya rasa kemih normal

penuh, memudahkan memerlukan 4-7 hari dan

berkemih periodik setelah over distena kandung

pengangkatan kateter kemih menciptakan

indwelling. peranan dorongan dan


ketidaknyamanan.

 Anjurkan penggunaan  Mengangkat payudara

dengan penyokong. kedalam dan keatas

mengakibatkan posisi

lebih nyaman dan

menurunkan kelelahan

otot.

 Lakukan latihan nafas  Napas dalam

dalam, spirometri intensif meningkatkan upaya

dan batuk dengan pernafasan, pembebatan

menggunakan prosedur- menurunkan regangan

prosedur tepat, 30 menit area insisi dan

setelah pemberian mengurangi nyeri dan

analgesic. ketidaknyaman

berkenaan dengan

gerakan otot abdomen,


baruk diindikasikan bila

sekresi atau ronki

terdengar.

2. Cemas berhubungan Setelah diberikan asuhan keperawatan  Kaji respon psikologis  Makin klien

dengan krisis situasional selama 2 x 3 jam diharapkan klien dapat kejadian dan ketersediaan mengatakan ancaman

mengatasi ansietas yang dibuktikan system pendukung. makin besar tingkat

dengan Criteria hasil :  Tetap bersama klien ansietas

 Klien mengungkapkan rasa takut dan tetap bicara perlahan,  Membantu membatasi

dari masalah tunjukkan empati. transmisi ansietas

 Klien mengungkapkan rasa interpersonal dan

ansietas berkurang mendemonstrasikan

 Menggunakan mekanisme koping  Beri penguatan aspek perhatian terhadap klien.

yang tepat. positif dari ibu  Memfokuskan pada

 Menunjukkan TTV normal kemungkinan

keberhasilan hasil akhir

dan membantu
membawa ancaman yang

 Anjurkan klien atau dirasakan.

pasangan mengungkapkan

dan mengekspresikan  Membantu

perasaan mengidentifikasi

perasaan atau masalah

negative dan

 Dukung atau arahkan memberikan kesempatan

kembali mekanisme untuk mengatasi

koping yang diekspresikan perasaan berduka

 Mendukung

mekanisme koping dasar

otomatik, meningkatkan

 Berikan masa privasi, kepercayaan diri dan

kurangi rangsang penerimaan menurunkan

lingkungan. ansietas.
 Memungkinkan

kesempatan bagi klien/

pasangan untuk

menginternalisasi

informasi, menyusun

sumber-sumber dan

mengatasi dengan

efektik.
3. Berduka berhubungan Setelah dilakukan asuhan keperawatan Mandiri  Ansietas dan


dengan kehilangan selama 1 x 24 jam diharapkan klien Kaji status emosional depresimerupakan reaksi

mampu menerima keadaan yang yang umum terhadap


calon anggota
sebenarnya tentang kematian anaknya kehilangan
keluarga
yang dibuktikan dengan : perubahan/kehilangan

4. mengidentifikasi dan yang diasosiasikan dengan

menunjukkan perasaan secara cepat penyakit jangka panjang

5. menunjukkan perkembangan atau kondisi yang

melalui proses duka melemahkan


6. menikmati masa sekarang dan  Sediakan waktu untuk  Akan lebih membantu

rencana untuk masa depan, hari demi mendengarkan pasien. jika mengikuti perasaan ini

hari Dorong ekspresi perasaan untuk di ekspresikan dan

bebas, tidak berdaya dan kemudin diterima daripada

keinginan untuk mati menyangkalnya.

 Kaji potensial untuk  Dapat dihubungkan

berdiri dengan penyakit fisik

 Terdapat

 Ikutsertakan orang kemungkinan keberasilan

terdekat dalam diskusi dan lebih besar dalam

aktifitas sampai pada pemecahan masalah.

tingkat yang mereka

inginkan

 Menyampaikan

 Berikan sentuhan atau perasaan perhatian atau

pelukan bebas sesuai keakraban untuk


penerimaan individu mengurangi perrasaan

terisolasi dan

meningkatkan perasaan

harga diri.

Kolaborasi

 Rujuk pada sumber-  Mungkin

sumber lain sesuai indikasi, membutuhkan bantuan

misalnya special klinik, lebih lanjut untuk

perawat, pekerja social. memecahka bebebrapa

Bantu dengan atau masalah

rencanakan dengan spesifik  Terpecahnya masalah

sesuai kebutuhan (misalnya ini dapat membantu

instruksi lanjutan (untuk pasien ,atau orang terdekat

menentukan status kode berhadapan dengan proses

atau keinginan untuk berduka dan dapat

hidup), membuat wasiat menimbulkan pikiran


pengaturan pemakaman) damai

B. IMPLENTASI dan EVALUASI

No Tanggal Diagnosa Implementasi Respon


1. 27 Juli 2005 Gangguan rasa 1) Mengajarkan klien tehnik S : - Klien menyatakan nyeri belum berkurang

nyaman : Nyeri non farmakologis untuk - Klien dapat melakukan dengan nafas dalam

mengurangi nyeri yaitu tehnik dapat mengurangi rasa nyeri

relaksasi O : TD : 120/80 mm hg

RR : 20x/menit

2) Mengajarkan tehnik untuk N : 80x/menit

nafas dalam untuk mengurangi A : Teratasi sebagian

nyeri P : - Ulangi pengukuran TTV secara periodic

- Evaluasi rentang nyeri klien

3) Membanu ibu untuk - Berikan lingkungan yang tenang

meningkatkan rasa nyaman - Berikan instruksi nafas dalam

dengan mengambil data klien


tentang karakteristik nyeri

4) Mengukur TD, RR dan nadi

setiap 1-2 menit

2. 27 Juli 2005 Cemas 1) Pantau suhu dan nadi dengan S : - Klien kelihatan tenang saat ganti balutan

rutin sesuai indikasi luka tampak kering

O : Kemerahan (+), Ekimosis (-), Pus (-), Edema

2) Catat karakteristik balutan (-)

dan luka A : Jahitan mulai menyatu

P : berikan pendidikan kesehtan tentang

perawatan luka bekas insisi pembedahan

3. 27 Juli 2005 Berduka 1. Membantu klien untuk S :

mengidentifikasi reaksi awal Klien mengatakan akan mencoba minum susu

terhadap adanya suatu setiap akan pergi tidur

kehilangan Klien mengungkapkan perasaannya.


2. Mendukung ekspresi O : klien kelihatan lebih tenang

perasaan tentang kehilangan A : kaji perasaan klien tentang strategi koping

3. Membantu untuk yang telah diajarkan

mengidentifikasi strategi koping P : bantu klien mengungkapkan perasaannya

4. Anjurkan klien untuk minum

susu sebelum mau tidur


DAFTAR PUSTAKA

Didik Tjindarbumi, Dkk. 2001. Pencegahan, Diagnosis Dini, Dan Pengobatan

Penyakit Kanker. Yayasan Kanker Indonesia : Jakarta.

Doengoes, M. Rencana Perawatan Maternitas / Bayi, Egc : Jakarta. 2001.

Suzanne C. Smeltzer. Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal

Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta : Egc.

www.medicastore.com