Anda di halaman 1dari 32

REFERAT

NYERI KEPALA YANG BERKAITAN


DENGAN TRAUMA KEPALA

Disusun oleh:
Bernardus Oka Widyandanu
030.13.039

Pembimbing:
dr. Dyah Nuraini Widhiana, Sp.S

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF


RSUD K.R.M.T. WONGSONEGORO KOTA SEMARANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE 19 FEBRUARI – 24 MARET 2018
JAKARTA

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat kasih dan
karuniaNya, saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Nyeri Kepala Yang Berkaitan
Dengan Trauma Kepala ini dengan baik dan tepat waktu.

Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik bagian Ilmu
Penyakit Saraf Pendidikan Dokter Universitas Trisakti di Rumah Sakit Umum Daerah
K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang.

Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian makalah ini, terutama kepada:

1. dr. Dyah Nuraini Widhiana, Sp.S yang telah membimbing penulis dalam penyusunan
makalah.
2. dr. Mintarti, Sp.S dan dr. Riri Gusnitas Sari, Sp.S selaku Staf SMF Ilmu Penyakit Saraf
Rumah Sakit Umum Daerah K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang yang telah
banyak memberikan masukan dan bimbingan selama kepaniteraan.
3. dr. Dimas, selaku residen Ilmu Penyakit Saraf di Rumah Sakit Umum Daerah K.R.M.T.
Wongsonegoro Kota Semarang yang telah membantu dan memberi banyak masukan
kepada kami
4. Teman-teman kepaniteraan Ilmu Penyakit Saraf RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota
Semarang yang turut membantu penyelesaian makalah ini.
5. Serta pihak-pihak lain yang bersedia meluangkan waktunya untuk membantu saya.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, maka saya sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk ikut memperbaiki makalah ini agar
dapat bermanfaat untuk pembaca dan masyarakat luas.

Jakarta, Maret 2018

Penyusun

ii
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

Nama : Bernardus Oka Widyandanu


NIM : 030.13.039
Fakultas : Kedokteran
Universitas : Universitas Trisakti Jakarta
Tingkat : Program Pendidikan Profesi Dokter
Bidang Pendidikan : Ilmu Penyakit Saraf
Periode Kepaniteraan Klinik : 17 Februari – 24 Maret 2018
Judul : Nyeri Kepala Yang Berkaitan Dengan Trauma Kepala
Diajukan : Maret 2018
Pembimbing : dr. Dyah Nuraini Widhiana, Sp.S

TELAH DIPERIKSA DAN DISAHKAN TANGGAL : …………………………


Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro
Kota Semarang

Mengetahui
Kepala SMF Saraf RSUD Semarang Pembimbing

dr. Dyah Nuraini Widhiana, Sp.S dr. Dyah Nuraini Widhiana, Sp.S

iii
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1


BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................ 3
2.1 Definisi Nyeri Kepala...................................................................................................... 3
2.2 Klasifikasi Nyeri Kepala ................................................................................................. 3
2.3 Patofisiologi Nyeri Kepala .............................................................................................. 5
2.4 Diagnosis Nyeri Kepala .................................................................................................. 7
2.5 Anatomi Kepala............................................................................................................... 8
2.6 Definisi Trauma Kepala ................................................................................................ 11
2.7 Aspek Fisiologis Trauma Kepala................................................................................... 11
2.8 Patofisiologi Trauma Kepala......................................................................................... 12
2.9 Klasifikasi Trauma Kepala............................................................................................ 13
2.10 Manifestasi Klinis........................................................................................................ 18
2.11 Pemeriksaan Penunjang............................................................................................... 22
2.12 Tatalaksana.................................................................................................................. 22
2.13 Komplikasi................................................................................................................... 24
BAB III KESIMPULAN....................................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 28

iv
BAB I

PENDAHULUAN

Nyeri kepala merupakan keluhan yang paling sering dikeluhkan oleh pasien saat data
ke dokter, baik dokter umum maupun neurolog. Sampai saat inin nyeri kepala masih
merupakan masalah. Masalah yang diakibatkan oleh nyeri kepala mulai dari gangguan pada
pola tidur, pola makan, depresi sampai kecemasan.2

Hampir 90% nyeri kepala benigna (tidak membahayakan). Meskipun demikian, dokter
dihadapkan dengan tugas penting dalam memilah mana nyeri kepala yang benigna dan mana
yang mengancam nyawa. Banyaknya penyakit yang disertai keluhan nyeri kepala membuat
dokter perlu melakukan pendekatan yang fokus dan sistematis agar mendapatkan diagnosis
nyeri kepala dengan tepat. Diagnosis yang tepat akan dapat mengantarkan pada pengobatan
yang tepat.3

Menurut kriteria IHS yang diadopsi oleh PERDOSSI, nyeri kepala dibedakan menjadi nyeri
kepala primer dan sekunder. Sembilan puluh persen nyeri kepala masuk dalam kategori nyeri
kepala primer, 10% sisanya masuk dalam kategori nyeri kepala sekunder. Disebut nyeri kepala
primer apabila tidak ditemukan adanya kerusakan struktural maupun metabolik yang
mendasari nyeri kepala. Disebut nyeri kepala sekunder apabila nyeri kepala didasari oleh
adanya kerusakan struktural atau sistemik.2

Cedera kepala atau yang disebut dengan trauma kapitis adalah rudapaksa tumpul / tajam
pada kepala atau wajah yang berakibat disfungsi cerebral sementara. Trauma kepala
merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif,
dan sebagian besar karena kecelakaan lalu lintas. Hal ini diakibatkan karena mobilitas yang
tinggi di kalangan usia produktif sedangkan kesadaran untuk menjaga keselamatan di jalan
masih rendah, disamping penanganan pertama yang belum benar - benar , serta rujukan yang
terlambat.3
Di Indonesia kejadian cedera kepala setiap tahunnya diperkirakan mencapai 500.000 kasus.
Dari jumlah diatas, 10% penderita meninggal sebelum tiba di rumah sakit. Delapan puluh
persen dikelompokan sebagai cedera kepala ringan, 10% termasuk cedera sedang dan 10 %
termasuk cedera kepala berat.3
Cedera kepala merupakan keadaan yang serius, sehingga diharapkan para dokter
mempunyai pengetahuan praktis untuk melakukan pertolongan pertama pada penderita.
Tindakan pemberian oksigen yang adekuat dan mempertahankan tekanan darah yang cukup

1
untuk perfusi otak dan menghindarkan terjadinya cedera otak sekunder merupakan pokok-
pokok tindakan yang sangat penting untuk keberhasilan kesembuhan penderita. Sebagai
tindakan selanjutnya yang penting setelah primary survey adalah identifikasi adanya lesi massa
yang memerlukan tindakan pembedahan, dan yang terbaik adalah pemeriksaan dengan CT
Scan kepala.3
Pada penderita dengan cedera kepala ringan dan sedang hanya 3% -5% yang memerlukan
tindakan operasi kurang lebih 40% dan sisanya dirawat secara konservatif. Prognosis pasien
cedera kepala akan lebih baik bila penatalaksanaan dilakukan secara tepat dan cepat. Adapun
pembagian trauma kapitis adalah: simple head injury, commutio cerebri, contusion cerebri,
laceratio cerebri, basis cranii fracture.3
Simple head injury dan commutio cerebri sekarang digolongkan sebagai cedera kepala
ringan, sedangkan contusio cerebri dan laceratio cerebri digolongkan sebagai cedera kepala
berat. Pada penderita korban cedera kepala, yang harus diperhatikan adalah pernafasan,
peredaran darah dan kesadaran, sedangkan tindakan resusitasi,anamnesa dan pemeriksaan
fisik umum dan neurologist harus dilakukan secara serentak. Tingkat keparahan cedera kepala
harus segera ditentukan pada saat pasien tiba di rumah sakit.3

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI NYERI KEPALA

Nyeri kepala merupakan suatu perasaan nyeri atau rasa tidak enak pada daerah kepala
termasuk daerah wajah dan tengkuk leher. Nyeri kepala yang berkaitan dengan trauma kepala
merupakan nyeri kepala yang muncul pertama kali setelah terjadinya trauma. Hal yang
menunjang adalah waktu munculnya nyeri sangat berdekatan dengan trauma, memberatnya
nyeri kepala primer yang sudah dimiliki sebelum trauma, serta adanya perbaikan nyeri kepala
setelah penyembuhan dari trauma. Biasanya nyeri kepala pascatrauma diikuti oleh gejala lain
seperti dizziness, sulit konsentrasi, gelisah, perubahan perilaku, dan insomnia, yang
diistilahkan sebagai sindrom pasca trauma. Namun dari semua gejala terebut, nyeri kepala
adalah gejala yang paling dominan.1

Struktur-struktur yang terletak di kepala, dibagi menjadi 2 yaitu:

1. Struktur yang sensitif nyeri, yaitu kulit kepala, otot, jaringan subkutan, arteri
ekstrakranial periosteum tulang tengkorak, mata, telinga, cavum nasal, gigi, orofaring,
sinus kranial, sinus vena intrakranial, dan cabang-cabang vena, bagian dura yang
terdapat pada dasar otak dan arteria dalam dura, saraf kranial trigeminus, fasialis, vagus,
dan glossofaringeus, serta saraf-saraf servikal (C1, C1, dan C3).
2. Struktur-struktur yang tidak sensitif terhadap nyeri, yaitu parenkim otak, sebagian besar
jaringan meningeal tengkorak (kecuali periosteum), ependim, pleksus khoroid.

2.2 KLASIFIKASI NYERI KEPALA


Berikut ini adalah klasifikasi nyeri kepala berdasarkan International Headache Society,
yaitu: 1
A. Nyeri kepala primer
1. Migrain
2. Tension Type Headache
3. Nyeri kepala kluster dan sefalgia trigeminal-otonoik lainnya
4. Nyeri kepala primer lainnya
B. Nyeri kepala sekunder
1. Nyeri kepala yang berkaitan dengan trauma kepala dan/atau leher

3
2. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan vaskuler kranial dan/atau
servikalis
3. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan nonvaskuker
4. Nyeri kepala yang berkaitan dengan suatu substansi atau proses withdrawl-nya
5. Nyeri kepala yang berkaitan dengan infeksi
6. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan hemostasis
7. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan kranium, leher, mata, telinga,
hidung, sinus, gigi, mulut atau struktur fasial atau kranial lainnya
8. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan psikiatrik

Nyeri kepala yang berkaitan dengan trauma kepala dibagi-bagi menajdi beberapa
bagian, yakni:1
1. Nyeri kepala akut pasca trauma
- Nyeri kepala akut pascatrauma yang berkaitan dengan trauma kapitis sedang
atau berat
- Nyeri kepala akut pascatrauma yang berkaitan dengan trauma kapitis ringan
2. Nyeri kepala kronis pascatrauma
- Nyeri kepala kronis pascatrauma yang berkaitan dengan trauma kapitis sedang
atau beat
- Nyeri kepala kronis pascatrauma yang berkaitan dengan trauma kapitis ringan
3. Nyeri kepala akut yang berkaitan dengan whiplash injury headache
4. Nyeri kepala kornis yang berkaitan dengan whiplash injury headache
5. Nyeri kepala yang berkaitan dengan hematoma intrakranial traumatik
- Nyeri kepala yang berkaitan dengan hematoma epidural
- Nyeri kepala yang berkaitan dengan hematoma subdural
6. Nyeri kepala yang berkaitan dengan trauma kepala dan/atau leher yang lainnya
- Nyeri kepala akut yang berkaitan dengan trauma kepala dan/atau leher yang
lainnya
- Nyeri kepala kronis yang berkaitan dengan trauma kepala dan/atau leher yang
lainnya
7. Nyeri kepala pascakraniotomi
- Nyeri kepala pascakraniotomi akut
- Nyeri kepala pascakraniotomi kronis

4
2.3 PATOFISIOLOGI NYERI KEPALA
Perangsangan struktur pek nyaei di kepala atau leher :
a) Traksi
b) Inflamasi
c) Distensi
d) Displacement
e) Spasme vaskular

Struktur bangunan peka nyeri di kepala:


a) Struktur intrakranial meliputi:
1. Sinus kranialis dan vena aferens (sinus venosus dan vena-vena yang mensuplai sinus
tersebut)
2. Arteri dari duramater (arteri meningea media)
3. Arteri di basis kranii yang membentuk sirkulus Willisi dan cabang besarnya
4. Sebagian duramater yang berdekatan dengan pembuluh darah terutama yang terletak di
basis fossa kranii anterior dan posteior serta meningen

5
b) Struktur ekstrakranial meliputi
1. Kulit, scalp, otot, tendon, dan fascia daerah kepala dan leher
2. Mukosa sinus paranasalis cavum nasi
3. Gigi geligi
4. Telinga luar dan tengah
5. Arteri ekstrakranial

Nyeri kepala dapat ditimbulkan karena:


1. Inflamasi pada struktur peka nyeri intrakranial maupun ekstrakranial, ditandai dengan
pelepasan cascade zat substansi dari berbagai neuron di sekitar daerah penjutu, dimana
makrofag melepaskan sitokin yaitu interleukin IL-1, IL-16, TNF Alfa dan Nerve Growth
Factor. Neuron yang rusak meleaskan Adenosin Trifosfat (ATP), sel mast melepaskan
histamin, prostaglndin, serotonin, dan Asam Arakhidonat yang memiliki kemampuan
melakukan sensitisasi terminal neuron. Terjadi pula proses regulasi beberapa reseptor.
Nyeri akibat inflamasi disebabkan oleh sensititsasi sentral dan peningkatan input noxious
perifer, proses inflamasi menghasilkan sinyal kimiawi yang memasuki darah dan
menembus susunan saraf pusat untuk menghasilkan IL-1 dan ekspresi COX di susunan
saraf pusat. Aktivitas COX merangsang produksi prostaglandin di daerah injury dan
setelah diinduksi di susunan saraf pusat. Hal ini berkontribusi terhadap perkembangan
nyeri inflamasi.
2. Inflamasi neurogenik steril selanjutnya akan mengakibatkan proses vasodilatasi dan
ekstravasasi plasma protein yang mengikuti pelepasan peptida vasoaktif.
3. Distensi atau dilatasi pembuluh darah intrakranial dan ekstrakranial.
4. Traksi pada arteri Sirkulus Willisi, sinus venosus, dan vena yang mensuplai sinus
tersebut, dan arteri meningea media.
5. Pergeseran bangunan peka nyeri karena suatu desakan (massa, kista, dll).
6. Peningkatan tekanan intrakranial yang terjadi oleh karena bertambahnya volume otak
dan adanya obstruksi cairan serbrospinal dan sistem vena.
7. Kontraksi kronik otot kepala dan leher.
8. Tekanan langsung pada saraf yang mengandung serabut-serabut untuk rasa nyeri di
daerah kepala.
Semua penyebab nyeri kepala ini menyebabkan terjadinya sensitisasi sentral di
nosiseptor meningeal dan ganglion trigeminale, sehingga muncul persepsi nyeri kepala.
Pemberian rangsang pada struktur peka nyeri yang terletak di tentorium cerebelli maupun di

6
atasnya akan timbul rasa nyeri menjalar pada daerah depan yang ditarik dari kedua telinga
kanan kiri melewati puncak kepala. Rasa nyeri ditransmisi oleh nervus trigeminus. Sedangkan
rangsangan terhadap struktur peka nyeri di bawah tentorium cerebelli, yaitu pada fossa kranii
posterior, radiks servikalis bagian atas dengan cabang saraf perifernya akan menimbulkan nyeri
di daerah oksipital, sub oksipital, servikal bagian atas. Nyeri ini ditransmisi oleh nervus IX, X,
saraf spinal C1, C2, C3. Kadang-kadang radiks servikalis bagian atas dapat menjalarkan nyeri
ke frontal dan mata ipsilateral melalui refleks trigeminoservikal. Refleks ini juga menunjukkan
adanya keterlibatan batang otak yaitu dengan munculnya rasa nyeri kepala, nausea dan muntah.

2.4 DIAGNOSIS NYERI KEPALA


Diagnosis nyeri kepala ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik
neurologis. Anamnesis berupa:
a. Lamanya menderita sakit (akut, sub akut, atau kronis)
Nyeri kepala berat timbul mendadak untuk pertama kalinya, disertai penurunan
kesadaran atau defisit neurologis lainnya menunjukkan adanya perdarahan
subarachnoid atau meningitis. Nyeri kepala yang sudah berlangsung la,a, menunjukkan
adanya nyeri vaskuler, tension type headache, atau karena tumor otak.
b. Frekuensi nyeri kepala
c. Lamanya serangan nyeri kepala
d. Lokasi nyeri kepala (unilateral atau bilateral)
e. Kualitas nyeri (berdenyut, konstan, atau sepeti ditusuk-tusuk)
f. Kuantitas nyeri kepala (mengganggu aktivitas sehari-hari atau tidak)
g. Intensitas nyeri kepala (derajat ringan, sedang, atau berat)
h. Saat timbulnya nyeri kepala (pagi, siang, malam hari)
i. Gejala yang mendahului (demam, gangguan visus, gangguan neurologis)
j. Faktor pencetus (cahaya, angin, makanan, aktivitas sehari-hari)
k. Gejala yang menyertai (anoreksia, muntah, keluar air mata, lendir dari hidung, dll)
l. Faktor yang memperingan
m. Faktor yang memperberat

7
2.5 ANATOMI KEPALA
a. Kulit Kepala

Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut sebagai SCALP yaitu:
 Skin atau kulit
 Connective tissue atau jaringan penyambung
 Aponeurosis atau galea aponeurotika yaitu jaringan ikat yang berhubungan langsung
dengan tengkorak
 Loose areolar tissue tau jaringan penunjang longgar.
 Perikranium yaitu jaringan penunjang longgar memisahkan galea aponeurotika
dari perikranium dan merupakan tempat yang biasa terjadinya perdarahan subgaleal.
Kulit kepala memiliki banyak pembuluh darah sehingga bila terjadi perdarahan akibat
laserasi kulit kepala akan menyebabkan banyak kehilangan darah terutama pada anak-
anak atau penderita dewasa yang cukup lama terperangkap sehingga membutuhkan
waktu lama untuk mengeluarkannya.
a. Tulang Tengkorak
Terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis kranii. Tulang tengkorak terdiri dari
beberapa tulang yaitu frontal, parietal, temporal dan oksipital. Kalvaria khususnya
diregio temporal adalah tipis, namun disini dilapisi oleh otot temporalis. Basis cranii
berbentuk tidak rata sehingga dapat melukai bagian dasar otak saat bergerak akibat
proses akselerasi dan deselerasi. Rongga tengkorak dasar dibagi atas 3 fosa yaitu fosa
anterior tempat lobus frontalis,fosa media tempat temporalis dan fosa posterior ruang
bagi bagian bawah batang otak dan serebelum.
b. Meningen
Selaput meningen menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri dari 3 lapisan yaitu :

8
1) Duramater
Duramater secara konvensional terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan endosteal dan
lapisan meningeal. Duramater merupakan selaput yang keras, terdiri atas jaringan ikat
fibrisa yang melekat erat pada permukaan dalam dari kranium. Karena tidak melekat
pada selaput arachnoid di bawahnya, maka terdapat suatu ruang potensial (ruang
subdura) yang terletak antara duramater dan arachnoid, dimana sering dijumpai
perdarahan subdural.
Pada cedera otak, pembuluh-pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak
menuju sinus sagitalis superior di garis tengah atau disebut Bridging Veins dapat
mengalami robekan dan menyebabkan perdarahan subdural. Sinus sagitalis superior
mengalirkan darah vena ke sinus transversus dan sinus sigmoideus. Laserasi dari sinus-
sinus ini dapat mengakibatkan perdarahan hebat.
Arteri meningea terletak antara duramater dan permukaan dalam dari kranium
(ruang epidural). Adanya fraktur dari tulang kepala dapat menyebabkan laserasi pada
arteri-arteri ini dan menyebabkan perdarahan epidural. Yang paling sering mengalami
cedera adalah arteri meningea media yang terletak pada fosa temporalis (fossa media).
2) Selaput Arakhnoid
Selaput arakhnoid merupakan lapisan yang tipis dan tembus pandang. Selaput
arakhnoid terletak antara pia mater sebelah dalam dan dura mater sebelah luar yang
meliputi otak. Selaput ini dipisahkan dari dura mater oleh ruang potensial,
disebut spatium subdural dan dari pia mater oleh spatium subarakhnoid yang terisi
oleh liquor serebrospinalis. Perdarahan subarakhnoid umumnya disebabkan akibat
cedera kepala.
3) Piamater
Piamater melekat erat pada permukaan korteks serebri. Piamater adalah membrana
vaskular yang dengan erat membungkus otak, meliputi gyrus dan masuk kedalam sulci
yang paling dalam. Membrana ini membungkus saraf otak dan menyatu dengan
epineuriumnya. Arteri-arteri yang masuk kedalam substansi otak juga diliputi oleh
piamater.

9
c. Otak

Otak merupakan suatu struktur gelatin dengan berat pada orang dewasa sekitar 14 kg.
Otak terdiri dari beberapa bagian yaitu proensefalon (otak depan) terdiri dari serebrum
dan diensefalon, mesensefalon (otak tengah) dan rhombensefalon(otak belakang)
terdiri dari pons,medula oblongata dan serebellum.
Fisura membagi otak menjadi beberapa lobus. Lobus frontal berkaitan dengan fungsi
emosi, fungsi motorik dan pusat ekspresi bicara. Lobus parietal berhubungan dengan
fungsi sensorik dan orientasi ruang. Lobus temporal mengatur fungsi memori tertentu.
Lobus oksipital bertanggung jawab dalam proses penglihatan. Mesensefalon dan pons
bagian atas berisi sistem aktivasi retikular yang berfungsi dalam kesadaran dan
kewaspadaan. Pada medulla oblongata terdapat pusat kardio respiratorik. Serebellum
bertanggung jawab dalam fungsi koordinasi dan keseimbangan.
d. Cairan serebrospinalis
Cairan serebrospinal (CSS) dihasilkan oleh plexus khoroideus dengan kecepatan
produksi sebanyak 20 ml/jam. CSS mengalir dari dari ventrikel lateral melalui foramen
monro menuju ventrikel III, dari akuaduktus sylvii menuju ventrikel IV. CSS akan
direabsorbsi ke dalam sirkulasi vena melalui granulasio arakhnoid yang terdapat pada
sinus sagitalis superior. Adanya darah dalam CSS dapat menyumbat granulasio
arakhnoid sehingga mengganggu penyerapan CSS dan menyebabkan kenaikan takanan
intracranial. Angka rata-rata pada kelompok populasi dewasa volume CSS sekitar 150
ml dan dihasilkan sekitar 500 ml CSS per hari.

10
e. Tentorium
Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang supratentorial(terdiri
dari fosa kranii anterior dan fosa kranii media) dan ruang infratentorial (berisi fossa
kranii posterior).
f. Vaskularisasi
Otak Otak disuplai oleh dua arteri carotis interna dan dua arteri vertebralis.Keempat
arteri ini beranastomosis pada permukaan inferior otak dan membentuk sirkulus
Willisi. Vena-vena otak tidak mempunyai jaringan otot didalam dindingnya yang
sangat tipis dan tidak mempunyai katup. Vena tersebut keluar dari otak dan bermuara
ke dalam sinus venosus cranialis.

2.6 DEFINISI TRAUMA KEPALA

Trauma kepala adalah trauma mekanik pada kepala yang terjadi baik secara langsung
atau tidak langsung yang kemudian dapat berakibat pada gangguan fungsi neurologis, fungsi
fisik, kognitif, psikososial, yang dapat bersifat temporer ataupun permanent. Menurut Brain
Injury Assosiation of America, trauma kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan
bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan / benturan fisik dari
luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran, sehingga menimbulkan
kerusakankemampuan kognitif dan fungsi fisik.

2.7 ASPEK FISIOLOGIS TRAUMA KEPALA


1. Tekanan intrakranial
Berbagai proses pataologi pada otak dapat meningkatkan tekanan intracranial yang
selanjutnya dapat mengganggu fungsi otak yang akhirnya berdampak buruk terhadap
penderita. Tekanan intrakranial yangtinggi dapat menimbulkaan konsekwensi yang
mengganggu fungsi otak. TIK Normal kira-kira sebesar 10 mmHg, TIK lebih tinggi dari
20mmHg dianggap tidak normal. Seamkin tinggi TIK seteelah cedera kepala,semakin buruk
prognosisnya.
2. Hukum Monroe-Kellie
Konsep utama Volume intrakranial adalah selalu konstan karena sifat dasar dari tulang
tengkorang yang tidak elastik. Volume intrakranial (Vic) adalah sama dengan jumlah total

11
volume komponen-komponennya yaitu volume jaringan otak (V br), volume cairan
serebrospinal (V csf) dan volume darah (Vbl).Vic = V br+ V csf + V bl
3. Tekanan Perfusi otak
Tekanan perfusi otak merupakan selisih antara tekanan arteri rata-rata mean arterial
presure) dengan tekanan intrakranial. Apabila nilai TPO kurang dari 70 mmHg akan
memberikan prognosa yang buruk bagi penderita.
d. Aliran darah otak (ADO)
ADO normal kira-kira 50 ml/100 gr jaringan otak permenit. Bila ADO menurun sampai
20-25ml/100 gr/menit maka aktivitas EEG akan menghilang. Apabila ADO sebesar 5ml/100
gr/menit maka sel-sel otak akan mengalami kematian dan kerusakan yang menetap.

2.8 PATOFISIOLOGI TRAUMA KEPALA


Pada trauma kepala, kerusakan otak dapat terjadi dalam dua tahap yaitu cedera primer dan
cedera sekunder. Cedera primer merupakan cedera pada kepala sebagai akibat langsung dari
suatu rudapaksa, dapat disebabkan benturan langsung kepala dengan suatu benda keras
maupun oleh prosesak selarasi deselarasi gerakan kepala.

Dalam mekanisme cedera kepala dapat terjadi peristiwa coup dan contrecoup. Cedera primer
yang diakibatkan oleh adanya benturan pada tulang tengkorak dan daerah sekitarnya disebut
lesi coup. Pada daerah yang berlawanan dengan tempat benturan akan terjadi lesi yang disebut
contrecoup.
Akselarasi-deselarasi terjadi karena kepala bergerak dan berhenti secara mendadak dan
kasar saat terjadi trauma. Perbedaan densitas antara tulang tengkorak (substansi solid) dan otak
(substansi semisolid) menyebabkan tengkorak bergerak lebih cepat dari muatan
intrakranialnya. Bergeraknya isi dalam tengkorak memaksa otak membentur permukaan dalam

12
tengkorak pada tempat yang berlawanan dari benturan (contrecoup). Cedera sekunder
merupakan cedera yang terjadi akibat berbagai proses patologis yang timbul sebagai tahap
lanjutan dari kerusakan otak primer, berupa perdarahan, edema otak, kerusakan neuron
berkelanjutan, iskemia, peningkatan tekanan intrakranial dan perubahan neurokimiawi.

2.9 KLASIFIKASI TRAUMA KEPALA


Trauma kepala diklasifikasikan dalam berbagai aspek. Secara praktis dikenal 3 deskripsi
klasifikasi yaitu berdasarkan mekanisme, beratnya cedera kepala, dan morfologinya.
a) Mekanisme cedera kepala Berdasarkan mekanismenya cedera kepala dibagi atas cedera
kepala tumpul dan cedera kepala tembus. Cedera kepala tumpul biasanya berkaitan
dengan kecelakaan mobil atau motor, jatuh atau terkena pukulan benda tumpul.Sedang
cedera kepala tembus disebabkan oleh peluru atau tusukan (Bernath,2009).
b) Beratnya cedera Cedera kepala diklasifikasikan berdasarkan nilai Glasgow Coma Scale
adalah sebagai berikut :

1. Nilai GCS sama atau kurang dari 8 didefenisikan sebagai cedera kepala berat.
2. Cedera kepala sedang memiliki nilai GCS 9-13
3. Cedera kepala ringan dengan nilai GCS 14-15.
G

13
c) Morfologi cedera
Secara morfologis cedera kepala dapat dibagi atas fraktur cranium dan lesi intrakranial.
1. Fraktur kranium
Fraktur cranim dapat terjadi pada atap atau dasar tengkorak, dan
dapat berbentuk garis atau bintang dan dapat pula terbuka atau tertutup.Fraktur
dasar tengkorak biasanya memerlukan pemeriksaan CT Scan dengan dengan
teknik bone window untuk memperjelas garis frakturnya.
Adanya tanda-tanda klinis fraktur dasar tengkorak menjadikan
petunjuk kecurigaan untuk melakukan pemeriksaan lebih rinci.tanda-tanda
tersebut antara lain ekimosis periorbital (raccoon eye sign), ekimosis
retroauikular (battle sign), kebocoran CSS (Rhinorrhea, otorrhea) dan paresis
nervus fasialis. Fraktur cranium terbuka atau komplikata mengakibatkan
adanya hubungan antara laserasi kulit kepala dan permukaan otak karena
robeknya selaput duramater. Keadaan ini membutuhkan tindakan dengan
segera. Adanya fraktur tengkorak merupakan petunjuk bahwa benturan yang
terjadi cukup berat sehingga mengakibatkan retaknya tulang tengkorak.
Frekuensi fraktura tengkorak bervariasi, lebih banyak fraktura ditemukan bila
penelitian dilakukan pada populasi yang lebih banyak mempunyai cedera berat.
Fraktura kalvaria linear mempertinggi risiko hematoma intrakranial sebesar
400 kali pada pasien yang sadar dan 20kali pada pasien yang tidak sadar.
Fraktura kalvaria linear mempertinggi risiko hematoma intrakranial sebesar
400 kali pada pasien yang sadar dan 20 kali pada pasien yang tidak sadar. Untuk
alasan ini, adanya fraktura tengkorak mengharuskan pasien untuk dirawat
dirumah sakit untuk pengamatan.
2. Lesi Intrakranial
Lesi intrakranial dapat diklasifikasikan sebagai fokal atau difusa, walau kedua
bentuk cedera ini sering terjadi bersamaan. Lesi fokal termasuk hematoma
epidural, hematoma subdural, dan kontusi (atau hematoma intraserebral).
Pasien pada kelompok cedera otak difusa,secara umum, menunjukkan CT scan
normal namun menunjukkan perubahan sensorium atau bahkan koma dalam
keadaan klinis.

14
a. Hematoma Epidural
Epidural hematom (EDH) adalah perdarahan yang terbentuk di ruang potensial
antara tabula interna dan duramater dengan ciri berbentuk bikonvek atau menyerupai lensa
cembung. Paling sering terletak diregio temporal atau temporoparietal dan sering akibat
robeknya pembuluh meningeal media. Perdarahan biasanya dianggap berasal arterial,
namun mungkin sekunder dari perdarahan vena pada sepertiga kasus. Kadang-kadang,
hematoma epidural akibat robeknya sinus vena, terutama diregio parietal-oksipital atau
fossa posterior. Walau hematoma epidural relatif tidak terlalu sering (0.5% dari
keseluruhan atau 9% dari pasien koma cedera kepala), harus selaludiingat saat
menegakkan diagnosis dan ditindak segera. Bila ditindak segera, prognosis biasanya baik
karena penekan gumpalan darah yang terjadi tidak berlangsung lama. Keberhasilan pada
penderita pendarahan epidural berkaitan langsung denggan status neurologis penderita
sebelum pembedahan. Penderita dengan pendarahan epidural dapat menunjukan adanya
‘lucid interval´ yang klasik dimana penderita yang semula mampu bicara lalu tiba-tiba
meningggal (talk and die), keputusan perlunya tindakan bedah memang tidak mudah dan
memerlukan pendapat dari seorang ahli bedah saraf.
Dengan pemeriksaan CT Scan akan tampak area hiperdens yang tidak selalu
homogeny, bentuknya biconvex sampai planoconvex, melekat pada tabula interna dan
mendesak ventrikel ke sisi kontralateral (tanda space occupying lesion ). Batas dengan
corteks licin, densitas duramater biasanya jelas, bila meragukan dapat diberikan injeksi
media kontras secara intravena sehingga tampak lebih jelas.
b. Hematom Subdural
Hematoma subdural (SDH) adalah perdarahan yang terjadi diantara duramater dan
arakhnoid. SDH lebih sering terjadi dibandingkan EDH, ditemukan sekitar 30% penderita
dengan cedera kepala berat. Terjadi paling sering akibat robeknya vena bridging antara
korteks serebral dan sinus draining. Namun ia juga dapat berkaitan dengan laserasi
permukaan atau substansi otak. Fraktura tengkorak mungkin ada atau tidak. Selain itu,
kerusakan otak yang mendasari hematoma subdural akuta biasanyasangat lebih berat dan
prognosisnya lebih buruk dari hematoma epidural. Mortalitas umumnya 60%, namun
mungkin diperkecil oleh tindakan operasi yang sangat segera dan pengelolaan medis
agresif. Subdural hematom terbagi menjadi akut dan kronis.

15
1) SDH Akut
Pada CT Scan tampak gambaran hyperdens sickle ( seperti bulan sabit ) dekat tabula
interna, terkadang sulit dibedakan dengan epidural hematom. Batas medial hematom
seperti bergerigi. Adanya hematom di daerah fissure interhemisfer dan tentorium juga
menunjukan adanya hematom subdural.
2) SDH Kronis
Pada CT Scan terlihat adanya komplek perlekatan, transudasi, kalsifikasi yang
disebabkan oleh bermacam- macam perubahan, oleh karenanya tidak ada pola tertentu.
Pada CT Scan akan tampak area hipodens, isodens, atau sedikit hiperdens, berbentuk
bikonveks, berbatas tegas melekat pada tabula. Jadi pada prinsipnya, gambaran
hematom subdural akut adalah hiperdens, yang semakin lama densitas ini semakin
menurun, sehingga terjadi isodens, bahkan akhirnya menjadi hipodens.
c. Kontusi dan hematoma intraserebral.
Kontusi serebral murni bisanya jarang terjadi. Selanjutnya, kontusi otak hampir
selalu berkaitan dengan hematoma subdural akut. Majoritas terbesar kontusi terjadi
dilobus frontal dan temporal, walau dapat terjadi pada setiap tempat termasuk
serebelum dan batang otak. Perbedaan antara kontusi dan hematoma intraserebral
traumatika tidak jelas batasannya. Bagaimanapun, terdapat zona peralihan, dan kontusi
dapat secara lambat laun menjadi hematoma intraserebral dalam beberapa hari.
Hematoma intraserebri adalah perdarahan yang terjadi dalam jaringan (parenkim)
otak. Perdarahan terjadi akibat adanya laserasi atau kontusio jaringan otak yang
menyebabkan pecahnya pula pembuluh darah yang ada di dalam jaringan otak tersebut.
Lokasi yang paling sering adalah lobus frontalis dan temporalis. Lesi perdarahan dapat

16
terjadi pada sisi benturan (coup) atau pada sisilainnya (countrecoup). Defisit neurologi
yang didapatkan sangat bervariasi dan tergantung pada lokasi dan luas perdarahan.

d. Cedera difus
Cedara otak difus merupakan kelanjutan kerusakan otak akibat cedera akselerasi dan
deselerasi, dan ini merupakan bentuk yang sering terjadi pada cedera kepala. Komosio
cerebri ringan adalah keadaan cedera dimana kesadaran tetap tidak terganggu namun
terjadi disfungsi neurologis yang bersifat sementara dalam berbagai derajat. Cedera ini
sering terjadi, namun karena ringan kerap kali tidak diperhatikan. Bentuk yang paling
ringan dari komosio ini adalah keadaan bingung dan disorientasi tanpa amnesia. Sindroma
ini pulih kembali tanpa gejala sisa sama sekali. Cedera komosio yang lebih berat
menyebabkan keadaan bingung disertai amnesia retrograde dan amnesia antegrade.
Komosio cerebri klasik adalah cedera yang mengakibatkan menurunnya atau
hilanggnya kesadaran. Keadaan ini selalu disertai dengan amnesia pasca trauma dan
lamanya amnesia ini merupakan ukuran beratnya cidera. Dalam beberapa penderita dapat
timbul defisist neurologis untuk beberapa waktu.defisit neurologis itu misalnya kesulitan
mengingat, pusing, mual, anosmia, dan depresi serta gejala lain. Gejala-gajala ini dikenal
sebagai sindroma pasca komosio yang dapat cukup berat.
Cedera aksonal difus (Diffuse Axonal Injury, DAI) adalah keadaan dimana pendeerita
mengalami koma pasca cedera yang berlangsung lama ddan tidak diakibatkan oleh suatu
lesi masa atau serangan iskemik. Biasanya penderita dalam keadaan kooma yang dalam
dan tetap koma selama beberapa waktuu.Penderita sering menuunjukan gejala dekortikasi

17
atau deserebrasi dan bila pulih sering tetap dalam keadaan cacat berat, itupun bila bertahan
hidup. Penderita sering menunjukan gejala disfungsi otonom seperti hipotensi,
hiperhidrosis dan hiperpireksia dan dulu diduga akibat cedera aksonal difus dan cedeera
otak kerena hipoksiia secara klinis tidak mudah, dan memang dua keadaan tersebut sering
terjadi bersamaan.

2.10 MANIFESTASI KLINIS


A. Nyeri Kepala Akut Pascatrauma
1. Nyeri Kepala Akut Pacatrauma Berkaitan dengan Trauma Kapitits Sedang atau Berat
Kriteria Diagnostik:1
A. Nyeri kepala, tidak khas, memenuhi kriteria C dan D
B. Terdapat trauma kepala dengan sekurang-kurangnya satu keadaan di bawah ini:
1. Hilang kesadaran selama > 30 menit
2. Glasgow Coma Scale (GCS) <13
3. Amnesia pascatrauma berlangsung > 48 jam
4. Imaging menggambarkan adanya suatu lesi otak traumatik (hematoma sebri,
perdarahan intraserebral dan/atau subarachnoid, kontusio serebri dan/atau fraktur
tulang tengkorak)
C. Nyeri kepala terjadi dalam 7 hari setelah trauma atau sesudah kesadaran penderita pulih
kembali
D. Terdapat satu atau lebih keadaan di bawah ini:
1. Nyeri kepala hilang dalam 3 bulan setelah trauma kepala
2. Nyeri kepala menetap, tetapi tidak lebih dari 3 bulan sejak trauma kepala

2. Nyeri Kepala Akut Pascatrauma Berkaitan dengan Trauma Kapitis Ringan


Kriteria Diagnosis:
A. Nyeri kepala, tidak khas, memenuhi kriteria C dan D
B. Terdapat trauma kepala dengan sekurang-kurangnya satu keadaan di bawah ini:
1. Tidak disertai hilang kesadaran, atau kesadaran menurun <30 menit
2. Glasow Coma Scale (GCS) ≥13
3. Gejala dan/atau tanda-tanda diagnostik dari trauma kapitits ringan (concussion)
C. Nyeri kepala timbul dalam 7 hari setelah trauma.
D. Terdapat satu atau lebih keadaan di bawah ini:
3. Nyeri kepala hilang dalam 3 bulan setelah trauma kepala

18
4. Nyeri kepala menetap, tetapi tidak lebih dari 3 bulan sejak trauma kepala

B. Nyeri Kepala Kronis Pascatrauma


1. Nyeri Kepala Kronis Pacatrauma Berkaitan dengan Trauma Kapitits Sedang atau
Berat
Kriteria Diagnostik:
A. Nyeri kepala, tidak khas, memenuhi kriteria C dan D
B. Terdapat trauma kepala dengan sekurang-kurangnya satu keadaan di bawah ini:
1. Hilang kesadaran selama > 30 menit
2. Glasgow Coma Scale (GCS) <13
3. Amnesia pascatrauma berlangsung > 48 jam
4. Imaging menggambarkan adanya suatu lesi otak traumatik (hematoma sebri,
perdarahan intraserebral dan/atau subarachnoid, kontusio serebri dan/atau fraktur
tulang tengkorak)
C. Nyeri kepala terjadi dalam 7 hari setelah trauma atau sesudah kesadaran penderita pulih
kembali
D. Terdapat satu atau lebih keadaan di bawah ini:
1. Nyeri kepala hilang dalam 3 bulan setelah trauma kepala
2. Nyeri kepala berlangsung lebih dari 3 bulan setelah trauma kepala

2. Nyeri Kepala Kronis Pascatrauma Berkaitan dengan Trauma Kapitis Ringan


Kriteria Diagnosis:
A. Nyeri kepala, tidak khas, memenuhi kriteria C dan D
B. Terdapat trauma kepala dengan sekurang-kurangnya satu keadaan di bawah ini:
1. Tidak disertai hilang kesadaran, atau kesadaran menurun <30 menit
2. Glasow Coma Scale (GCS) ≥13
3. Gejala dan/atau tanda-tanda diagnostik dari trauma kapitits ringan (concussion)
C. Nyeri kepala timbul dalam 7 hari setelah trauma.
D. Terdapat satu atau lebih keadaan di bawah ini:
1. Nyeri kepala hilang dalam 3 bulan setelah trauma kepala
2. Nyeri kepala menetap, berlangsung lebih dari 3 bulan setelah trauma kepala

19
C. Nyeri Kepala Akut yang Berkaitan Dengan Whiplash Injury
Kriteria Diagnostik:
A. Nyeri kepala, tidak khas, memenuhi kriteria C dan D
B. Adanya kejadian whiplash secara mendadak disertai timbulnya nyeri leher
C. Nyeri kepala timbul dalam 7 hari sesudah whiplash injury
D. Terdapat satu atau lebih keadaan di bawah ini:
1. Nyeri kepala menghilang dalam 3 bulan setelah whiplash injury
2. Nyeri kepala menetap, tetapi tidak lebih dari 3 bulan setelah whiplash injury

D. Nyeri Kepala Kronis yang Berkaitan Dengan Whiplash Injury


Kriteria Diagnostik:
A. Nyeri kepala, tidak khas, memenuhi kriteria C dan D
B. Adanya kejadian whiplash secara mendadak disertai timbulnya nyeri leher
C. Nyeri kepala timbul dalam 7 hari sesudah whiplash injury
D. Nyeri kepala berlangsung lebih dari 3 bulan setelah whiplash injury

E. Nyeri Kepala Yang Berkaitan Dengan Hematoma Intrakranial Traumatik


1. Nyeri kepala yang berkaitan dengan hematoma epidural
Kriteria Diagnosis:
A. Nyeri kepala akut, nyeri kepala tidak khas, memenuhi kriteria C dan D
B. Imaging menggambarkan adanya hematoma epidural
C. Nyeri kepala timbul dalam beberapa menit sampai 24 jam setelah terjadinya hematoma
D. Terdapat satu atau lebih keadaan di bawah ini:
1. Nyeri kepala menghilang dalam 3 bulan setelah hematoma dievakuasi
2. Nyeri kepala menetap, tetapi tidak lebih dari 3 bulan setelah hematoma
dievakuasi

2. Nyeri kepala yang berkaitan dengan hematoma subdural


Kriteria Diagnosis
A. Nyeri kepala akut/progresif, nyeri kepala tidak khas, memenuhi kriteria C dan D
B. Imaging menggambarkan adanya hematoma subdural
C. Nyeri kepala timbul dalam 24-72 jam setelah terjadinya hematoma subdural
D. Terdapat satu atau lebih keadaan di bawah ini:
1. Nyeri kepala menghilang dalam 3 bulan, setelah hematoma dievakuasi

20
2. Nyeri kepala menetap, tetapi tidak lebih dari 3 bulan setelah hematoma
dievakuasi

F. Nyeri kepala yang berkaitan dengan trauma kepala dan/atau leher yang lainnya
1. Nyeri kepala akut yang berkaitan dengan trauma kepala dan/atau leher yang lainnya
Kriteria Diagnosis:
A. Nyeri kepala tidak khas, memenuhi kriteria C atau D
B. Adanya bukti kejadian, trauma kepala dan/atau leher yang lainnya
C. Nyeri kepala yang terjadi berhubungan dengan, dan/atau adanya bukti kejadian trauma
kepala dan/atau leher lainnya
D. Terdapat satu atau lebih kejadian di bawah ini:
1. Nyeri kepala menghilang dalam 3 bulan setelah trauma kepala dan leher yang
lainnya
2. Nyeri kepala menetap tetapi tidak lebih dari 3 bulan setelah trauma kepala
dan/atau leher yang lainnya

2. Nyeri kepala kronis yang berkaitan dengan trauma kepala dan/atau leher yang lainnya
Kriteria Diagnosis:
A. Nyeri kepala tidak khas, memenuhi kriteria C dan D
B. Adanya bukti kejadian, trauma kepala dan/atau leher yang lainnya
C. Nyeri kepala yang terjadi berhubungan dengan, dan/atau adanya bukti kejadian trauma
kepala dan/atau leher yang lainnya
D. Nyeri kepala menetap lebih dari 3 bulan setelah trauma kepala dan/atau leher yang
lainnya

G. Nyeri kepala pascakraniotomi


1. Nyeri kepala akut pascakraniotomi
Kriteria Diagnostik:
A. Intensitas nyeri kepala yang bervariasi, dengan lokasi nyeri maksimal di daerah
kranioromi, memenuhi kriteria C dan D
B. Kraniotomi dilakukan sebagai alasan trauma kepala dan lainnya
C. Nyeri kepala timbul dalam 7 hari setelah kraniotomi
D. Terdapat satu atau lebih keadaan di bawah ini:
1. Nyeri kepala menghilang dalam 3 bulan setelah kraniotomi

21
2. Nyeri kepala menetap, tetapi tidak lebih dari 3 bulan, setelah kraniotomi

2. Nyeri kepala kronis pascakraniotomi


Kriteria Diagnostik:
A. Intensitas nyeri kepala yang bervariasi, dengan lokasi nyeri maksimal di daerah
kraniotomi, memenuhi kriteria C dan D
B. Kraniotomi dilakukan sebagai alasan kepala dan lainnya
C. Nyeri kepala timbul dalam 7 hari setelah kraniotomi
D. Nyeri kepala menetap lebih dari 3 bulan setelah kraniotomi

2.11 PEMERIKSAAN PENUNJANG

Yang dapat dilakukan pada pasien dengan trauma kapitis adalah:5

1. CT-Scan
Untuk melihat letak lesi dan adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek.

2. EEG
Dapat digunakan untuk mencari lesi

3. Roentgen foto kepala


Untuk melihat ada tidaknya fraktur pada tulang tengkorak

4. MRI (Magnetic Resonance Imaging) kepala


Pemeriksaan ini untuk menemukan perdarahan subdural kronik yang tidak tampak
pada CT-Scan kepala

2.12 TATALAKSANA
Terapi nyeri kepala bersifat simtomatis tergantung dari jenis nyeri. Jika bersifat
vaskuler maka terapi seperti halnya migrain dan nyeri kepala tipe klaster. Jika bersifat tension-
type headache, maka dapat diberikan konseling psikologis, terapi relaksasi, an antidepresan
trisiklik (amitriptilin.
Nyeri kepala pascatrauma akut merupakan yang paling sering dan mirip dengan tension
type-headache. Oleh karena itu, tatalaksananya mengacu pada nyeri jenis tersebut dan harus
dihindari penggunaan obat-obatan secara berlebihan.

22
Penggunaann amitriptilin dapat digunakan sebagai preventif seperti halnya pada terapi
primer. Demikian pula diperlukan terapi nonfarmakologis.
A. Terapi Farmakologis
a. Analgesik/ NSIADs
b. Antidepresan
c. Sedatif minor tranquiliser
d. Antikonvulsan
e. Suntikan lokal lidokain dan steroid

B. Terapi Non Farmakologis


a. TENS
b. Massage
c. Akupuntur
d. Biofeedback
e. Relaksasi
f. Psikoterapi
g. Rehabilitasi kognitif (CBT)

Adapun penatalaksaan pada trauma kapitis yaitu :5


 Dexamethason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral, dosis sesuai
dengan berat ringannya trauma.
 Therapi hiperventilasi (trauma kepala berat). Untuk mengurangi vasodilatasi.
 Pemberian analgetika.
 Pengobatan anti edema dengan larutan hipertonis yaitu manitol 20% atau glukosa 40%
atau gliserol 10%.
 Antibiotika yang mengandung barrier darah otak (penisilin) atau untuk infeksi anaerob
diberikan metronidazole
Atau penatalaksanaan berdasarkan dengan tingkat cedera kepala :
Cedera Kepala Ringan (CKR) :

· Perawatan selama 3-5 hari

· Mobilisasi bertahap

· Terapi simptomatik

23
· Observasi tanda vital

Cedera Kepala Sedang (CKS) :

· Perawatan selama 7-10 hari

· Anti cerebral edema

· Anti perdarahan

· Simptomatik

· Neurotropik

· Operasi jika ada komplikasi

Cedera Kepala Berat (CKB) :

· Seperti pada penatalaksaan cedera kepala sedang

· Antibiotik dosis tinggi

· Konsultasi bedah saraf

2.13 KOMPLIKASI

Jangka pendek :4

1. Hematom Epidural
o Letak : antara tulang tengkorak dan duramater
o Etiologi : pecahnya A. Meningea media atau cabang-cabangnya
o Gejala : setelah terjadi kecelakaan, penderita pingsan atau hanya nyeri kepala
sebentar kemudian membaik dengan sendirinya tetapi beberapa jam kemudian
timbul gejala-gejala yang memperberat progresif seperti nyeri kepala, pusing,
kesadaran menurun, nadi melambat, tekanan darah meninggi, pupil pada sisi
perdarahan mula-mula sempit, lalu menjadi lebar, dan akhirnya tidak bereaksi
terhadap refleks cahaya. Ini adalah tanda-tanda bahwa sudah terjadi herniasi
tentorial.
o Akut (minimal 24 jam sampai dengan 3x24 jam)
o Interval lucid
o Peningkatan TIK
o Gejala lateralisasi → hemiparese

24
o Pada pemeriksaan kepala mungkin pada salah satu sisi kepala didapati hematoma
subkutan
o Pemeriksaan neurologis menunjukkan pada sisi hematom pupil melebar. Pada sisi
kontralateral dari hematom, dapat dijumpai tanda-tanda kerusakan traktus
piramidalis, misal: hemiparesis, refleks tendon meninggi dan refleks patologik
positif.
o CT-Scan : ada bagian hiperdens yang bikonveks
o LCS : jernih
o Penatalaksanaannya yaitu tindakan evakuasi darah (trepanasi-dekompresi) dan
pengikatan pembuluh darah.
2. Hematom subdural
o Letak : di bawah duramater
o Etiologi : pecahnya bridging vein, gabungan robekan bridging veins dan laserasi
piamater serta arachnoid dari kortex cerebri
o Gejala subakut : mirip epidural hematom, timbul dalam 3 hari pertama
Kronis : 3 minggu atau berbulan-bulan setelah trauma

o CT-Scan : setelah hari ke 3 diulang 2 minggu kemudian


Ada bagian hiperdens yang berbentuk cresent.

Hiperdens yang berbentuk cresent di antara tabula interna dan parenkim otak
(bagian dalam mengikuti kontur otak dan bagian luar sesuai lengkung tulang
tengkorak)

Isodens → terlihat dari midline yang bergeser

o Operasi sebaiknya segera dilakukan untuk mengurangi tekanan dalam otak


(dekompresi) dengan melakukan evakuasi hematom. Penanganan subdural
hematom akut terdiri dari trepanasi-dekompresi.
3. Perdarahan Intraserebral
Perdarahan dalam cortex cerebri yang berasal dari arteri kortikal, terbanyak pada lobus
temporalis. Perdarahan intraserebral akibat trauma kapitis yang berupa hematom
hanya berupa perdarahan kecil-kecil saja. Jika penderita dengan perdarahan
intraserebral luput dari kematian, perdarahannya akan direorganisasi dengan
pembentukan gliosis dan kavitasi. Keadaan ini bisa menimbulkan manifestasi
neurologik sesuai dengan fungsi bagian otak yang terkena.

25
4. Oedema serebri
Pada keadaan ini otak membengkak. Penderita lebih lama pingsannya, mungkin
hingga berjam-jam. Gejalanya berupa commotio cerebri, hanya lebih berat. Tekanan
darah dapat naik, nadi mungkin melambat. Gejala-gejala kerusakan jaringan otak juga
tidak ada. Cairan otak pun normal, hanya tekanannya dapat meninggi.

 TIK meningkat
 Cephalgia memberat
 Kesadaran menurun
Jangka Panjang :

1. Gangguan neurologis

Dapat berupa : gangguan visus, strabismus, parese N.VII dan gangguan N. VIII,
disartria, disfagia, kadang ada hemiparese.

2. Sindrom pasca trauma


Dapat berupa : palpitasi, hidrosis, capek, konsentrasi berkurang, libido menurun,
mudah tersinggung, sakit kepala, kesulitan belajar, mudah lupa, gangguan tingkah
laku, misalnya: menjadi kekanak-kanakan, penurunan intelegensia, menarik diri, dan
depresi.

26
BAB III

KESIMPULAN

Sindrom sakit kepala pasca-trauma adalah gejala sisa yang sangat umum berikut luka
pada kepala atau leher, dan sering terjadi setelah kecelakaan mobil dan lalu lintas lainnya.
Sakit kepala biasanya terbatas dan dapat hilang dengan cepat, dalam beberapa hari sampai
beberapa minggu
Cephalgia adalah nyeri atau sakit sekitar kepala, termasuk nyeri di belakang mata serta
perbatasan antara leher dan kepala bagian belakang.
Cidera kepala atau trauma kapitis adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang
disertai atau tanpa disertai perdarahan interstisiil dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya
kontinuitas otak. Merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada
kelompok usia produktif, dan sebagian besar karena kecelakaan lalu lintas.Sindrom sakit
kepala pasca-trauma adalah gejala sisa yang sangat umum berikut luka pada kepala atau
leher, dan sering terjadi setelah kecelakaan mobil dan lalu lintas lainnya. Sakit kepala
biasanya terbatas dan dapat hilang dengan cepat, dalam beberapa hari sampai beberapa
minggu.

Penatalaksanaan pada cephalgia pasca trauma kapitis yakni pemberian penatalaksaan pada
trauma kapitisnya, cephalgia ini dikarenakan oleh trauma yang didapat, dan mengakibatkan
gangguan pada otak. Dan penatalaksaan pada trauma kapitis adalah sebagai berikut:

 Dexamethason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral, dosis sesuai


dengan berat ringannya trauma.
 Therapi hiperventilasi (trauma kepala berat). Untuk mengurangi vasodilatasi.
 Pemberian analgetika.
 Pengobatan anti edema dengan larutan hipertonis yaitu manitol 20% atau glukosa 40%
atau gliserol 10%.
 Antibiotika yang mengandung barrier darah otak (penisilin) atau untuk infeksi anaerob
diberikan metronidazole

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Sjahrir H, Machfoed MH, Suharjanti I, et al. Konsensus Nasional IV Diagnostik dan


Penatalaksanaan Nyeri Kepala. Kelompok Studi Nyeri Kepala Perhimpunan Dokter
Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI). 2013.
2. Didi Pramanto. Cephalgia. Jakarta. 2010
3. Livingstone C. Neurology and Neurosurgery illustrated. Second edition. 2011
4. Dumas JP, Arsenault AB, Boudreau G, Magnoux E, Lepage Y, Bellavance A,
Loisel P. Physical impairments in cervicogenic headache: traumatic vs. nontraumatic
onset. Cephalalgia. 2001;21:884–893. [PubMed]
5. Anonim. 2008. Post Traumatic Headache.
6. Prof. Dr. H. Jusuf Misbach, dkk. 2006. Buku Pedoman Standar Pelayanan Medis dan
Standar Prosedur Operasional Neurologi. Jakarta
7. Zuraida. Trauma Capitis. Jakarta: Universitas Sumatera Utara. 2012
8. Japardi Iskandar. Penatalaksanaan Cedera Kepala secara Operatif . SumatraUtara: USU
Press. 2005
9. Kluwer Kolters. Trauma and acute care surgery. Philadelphia: LippicottWilliams and
Wilkins. 2009

28