Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

PROSES PENUAAN

A. Definisi Lansia
Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia tidak ara tiba-tiba
menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa dan akhirnya menjadi
tua. Hal ini normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat diramalkan
yang terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai usia tahap
perkembangan kronologis tertentu. Lansia merupakan suatu proses alami yang
ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Semua orang akan mengalami kemunduran
fisik, mental dan sosial secara bertahap (Azizah, 2011).

Definisi lansia berdasarkan karakteristik sosial masyarakat yang menganggap


bahwa orang telah tua jika menunjukkan ciri fisik seperti rambut beruban, kerutan
kulit dan hilangnya gigi. Dalam peran masyarakat tidak bisa lagi melaksanakan
fungsi peran orang dewasa, seperti pria yang tidak lagi terikat dalam kegiatan
ekonomi produktif, dan untuk wanita tidak dapat memenuhi tugas rumah tangga
(Reimer et al, 1999 dalam Azizah, 2011).

Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan


kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan
fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki
kerusakan yang diderita (Aspiani, 2014)

B. Proses Menua
Menua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Proses
menua merupakan proses sepanjang hidup yang hanya di mulai dari satu waktu
tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menua merupakan proses
alamiah, yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu anak,
dewasa, dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis, maupun psikologis.
Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran, misalnya kemunduran fisik

1
yang ditandai dengan kulit mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong,
pendengaran kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan-gerakan
lambat, dan postur tubuh yang tidak proforsional (Nugroho, 2008).

Proses menua merupakan proses yang terus-menerus secara alami. Menua bukanlah
suatu proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari
dalam maupun luar tubuh. Memang harus diakui bahwa ada berbagai penyakit yang
sering menghinggapi kaum lanjut usia. Lanjut usia akan selalu bergandengan
dengan perubahan fisiologi maupun psikologi (Nugroho, 2000).

Menurut Wahyudi Nugroho (2008) mengatakan bahwa menua adalah suatu proses
menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki
diri/mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga
tidak dapat bertahan dari jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang
di derita. Pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa manusia secara perlahan
mengalami kemunduran struktur dan fungsi organ. Kondisi ini jelas menunjukkan
bahwa proses menua itu merupakan kombinasi dari bermacam-macam faktor yang
saling berkaitan yang dapat mempengaruhi kemandirian dan kesehatan lanjut usia,
termasuk kehidupan seksualnya. Proses menua merupakan proses yang terus
menerus/berkelanjutan secara alamiah dan umumnya di alami oleh semua makhluk
hidup, misalnya, dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan saraf,
dan jaringan lain, hingga tubuh mati sedikit demi sedikit. Kecepatan proses menua
setiap individu pada organ tubuh tidak akan sama. Adakalanya seseorang belum
tergolong lanjut usia/masih muda, tetapi telah menunjukkan kekurangan yang
mencolok. Adapula orang yang sudah lanjut usia, penampilannya masih sehat,
segar bugar, dan badan tegap. Walaupun demikian, harus diakui bahwa ada
berbagai penyakit yang sering dialami lanjut usia. Manusia secara lambat dan
progresif akan kehilangan daya tahan terhadap infeksi dan akan menempuh
semakin banyak penyakit degeneratif (mis: hipertensi, arteriosklerosis, diabetes
militus dan kanker) yang akan menyebabkan berakhirnya hidup dengan episode
terminal yang dramatis, misalnya stroke, infark miokard, koma asidotik, kanker
metastatis dan sebagainya.

2
Proses menua terjadi secara individu, pada orang dengan usia yang berbeda dan
masing – masing memiliki kebiasaan yang berbeda.
1. Teori – teori proses menua
a. Teori genetic clock
Teori ini menyatakan bahwa menua telah terprogram secara genetic untuk
spesies-spesies tertentu. Tiap spesias di dalam nucleus mempunyai suatu
“jam genetic“ yang berbeda-beda dan telah di atur menurut replikasi tertentu.
b. Teori mutasi somatic
Terjadinya penuaan akibat adanya mutasi somatic yang diakibatkan pengaruh
lingkungan yang kurang bagus. Terjadinya kesalahan dalam proses transkripsi
DNA/RNA secara terus – menerus, sehingga terjadi menurunnya fungsi organ
atau perubahan sel – sel menjadi kanker atau penyakit.
c. Teori menurunnya system imun tubuh ( auto immune theory )
Mutasi yang berlangsung bias mengakibatkan kurangnya sistem imun tubuh
sehingga menyebabkan sistem imun rusak yang dapat mengakibatkan
meningkatnya insiden penyakit auto imun pada lansia.
d. Teori menua akibat metabolisme
Telah dibuktikan dalam berbagai percobaan hewan, bahwa penguraian intake
kalori ternyata bisa menghambat pertumbuhan dan memperpanjang umur,
sedangkan perubahan intake kalori yang menyebabkan kegemukan
memperpendek umur.
e. Teori rantai silang ( Cross link teoty )
Teori ini menjelaskan bahwa molekul – molekul kolagen dan zat kimia
mengubah fungsi jaringan, mengakibatkan jaringan kaku. Kurang elastik dan
hilangnya fungsi pada proses menua.
f. Teori fisiologi
Teori ini terdiri dari teori intrinsik dan ekstrinsik. Terdisi dari teori oksidasi
stress dan teori dipakai usah. Disini terjadi lebih besar usaha dan stress
menyebabkan sel – sel tubuh lelah terpakai

3
2. Teori kejiwaan social
a. Aktifitas / kegiatan ( activity theory )
Ketentuan akan meningkatnya pada menurunya kegiatan secara langsung.
Teori ini mengatakan bahwa pada lansia yang sukses adalah mereka yang
aktif yang ikut bertambah dalam kegiatan social. Ukuran optimum ( pola
hidup ) dilanjutkan pada cara hidup lansia. Mempertahankan hubungan
antara system social dan individu agar tetap stabil dalam usia pertengahan
ke lanjut usia.
b. Kepribadian Berlanjut ( Continuity theory )
Dasar kepribadian/ tingkah laku yang tidak berubah pada lansia. Teori ini
gabungan dari yang diatas, pada teori ini menyatakan bahwa perubahan –
perubahan yang terjadi pada seseorang yang sangat lansia dipengaruhi
oleh tipe personality yang dimilikinya.
c. Teori pembebasan ( Disangagement theory )
Putusnya pergaulan dengan masyarakat dan kemunduran dalam individu
dengan individu lainnya. Teori ini menyatakan bahwa dengan
bertambahnya usia seseorang secara berangsur- angsur mulai melepaskan
diri dari pergaulan sekitarnya.
Keadaan ini mengakibatkan interaksi social lansia menurun, baik secara
kualitas maupun kwantitas sehingga lansia sering mengalami kehilangan
ganda ( triple loss) :
1) Kehilangan peran
2) Hambatan kontak social
3) Berkurangnya komitmen
Dari penyebab – penyebab terjadinya proses menua tersebut ada beberapa
peluang yang memungkinkan dapat diintervensi agar proses menua dapat
diperlambat :
1) Mengurangi radikal bebas
2) Memanipulasi system imun tubuh
3) Menjaga makanan
4) Mengontrol factor lingkungan dan budaya serta gaya hidup

4
3. Mitos dan pengertian yang salah serta kenyataan tentang lanjut usia
a. Mitos kedamaian dan ketenangan hidup
Santai menikmati jerih payah di masa muda dan dewasanya, badai
dan berbagai goncangan hidup telah berhasil dilewati, namun pada
kenyataannya sering ditemui lansia yang stress akibat kemiskinan
dan berbagai keluhan serta penderitaan penyakit, depresi,
kekhawatiran, paranoid, madalah psikotik.
b. Konversatisme dan kemunduran
Pandangan bahwa lanjut usia pada umumnya konversatif, tidak
reaktif, menolak inovasi dan berorientasi pada masa lalu, merindukan
masa lalu, kembali ke masa kanak – kanak, susah berubah, keras
kepala dan cerewet. Namun pada kenyataannya tidak semua lanjut
usia bersikap dan berpikir demikian.
c. Mitos berpenyakit
Lansia sebagai masa degenerasi biologis yang disertai oleh berbagai
penderita penyakit yang menyertai proses menua masa
berpenyakitan dan kemunduran. Namun kenyataannya memang
proses menua disertai dengan menurunnya daya tahan tubuh tetapi
banyak penyakit yang saat ini bisa dikontrol dan diobati.
d. Mitos senilitas
Lansia sebagai masa pikun yang disebabkab oleh kerusakan otak.
Namun kenyataannya banyak yang tetap sehat dan bugar dan banyak
cara untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan daya ingat.
e. Mitos aseksualitas
Lansia hubungan seks menurun, yaitu minat. Gairah, dorongan,
kebutuhan, daya seks. Namun kenyataannya kehidupan seks pada
lansia itu normal saja, memang frekuensinya menurun tapi masih
tetap meningkat.
f. Mitos tidak jatuh cinta
Lansia tidak jatuh cinta tapi pada kenyataannya perasaan dan emosi
setiap orang berubah sepanjang masa.

5
g. Mitos ketidakproduktifan
Merupakan beban bagi keluarga namun kenyatannya banyak lansia
yang mencapai kematangan , kemantapan dan produktifitas mental
dan material.
h. Mitos tidak menikmati hidup
Apakah lansia berencana untuk berhenti bersenang- senang saat
menjadi tua.

C. Klasifikasi Lanjut Usia


Menurut Depkes RI, 2003 (dalam Sofia, 2014) lansia di klasifikasikan dalam
kategori berikut :
1) Pralansia (prasenilis), seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
2) Lansia, seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.
3) Lansia resiko tinggi, seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/seseorang
yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.
4) Lansia potensial, lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau
kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa.
5) Lansia tidak potensial, lansia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga
hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.

Sedangkan klasifikasi lansia menurut WHO (dalam Sofia, 2014) adalah sebagai
berikut :
1) Elderly : 60-74 tahun
2) Old : 75-89 tahun
3) Very Old : >90 tahun

D. Perubahan yang Terjadi pada Lansia


1. Perubahan Psikososial
Perubahan psikososial pada lansia meliputi:
a. Pensiun
Nilai seseorang sering diukur oleh produktivitasnya dan identitas dikaitkan
dengan peranan dalam pekerjaannya. Bila seseorang pensiun, ia akan

6
mengalami kehilangan-kehilangan antara lain kehilangan finansial (income
berkurang), kehilangan status (dulu mempunyai jabatan posisi yang cukup
tinggi, lengkap dengan segala fasilitasnya), kehilangan teman/kenalan atau
relasi, dan kehilangan pekerjaan/kegiatan.
b. Merasakan atau sadar akan kematian
c. Perubahan dalam cara hidup,
d. yaitu memasuki rumah perawatan, bergerak lebih sempit
e. Ekonomi, akibat pemberhentian dari jabatan, meningkatnya biaya hidup,
bertambahnya biaya pengobatan
f. Penyakit kronis dan ketidakmampuan
g. Kesepian akibat pengasingan dari lingkungan sosial.
h. Gangguan saraf pancaindera, timbul kebutaan dan ketulian.
i. Rangkaian dari kehilangan, yaitu kehilangan hubungan dengan teman-teman
dan keluarga.
j. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik: perubahan terhadap gambaran diri,
perubahan konsep diri. (Aspiani, 2014)

2. Perubahan Mental
Faktor risiko dan perubahan kehidupan lingkungan dari usia lanjut dapat
menjadi predisposisi untuk terjadinya gangguan mental pada usia lanjut seperti
kehilangan peran sosial, kehilangan autonomi, kematian teman dan saudara,
penurunan kesehatan, isolasi, keterbatasan keuangan serta penurunan fungsi
kognitif. Penggunaan obat-obatan untuk mengobati penyakit juga dapat
mempengaruhi terjadinya gangguan mental pada usia lanjut yang disebabkan
oleh perubahan absorbsi obat dan interaksi obat. Gangguan depresi dan
gangguan penurunan fungsi kognitif (demensia) menjadi gangguan mental yang
sering terjadi pada usia lanjut (Syam, Yulherina, dan Sari, 2015).

3. Perubahan Fisiologi
a. Sel.
1) Lebih sedikit jumlahnya.
2) Lebih besar ukurannya.

7
3) Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler.
4) Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati.
5) Jumlah sel otak menurun.
6) Terganggunya mekanisme perbaikan sel.
7) Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5-10%.
b. Sistem Persarafan.
1) Berat otak menurun 10-20%. (Setiap orang berkurang sel saraf otaknya
dalam setiap harinya).
2) Cepatnya menurun hubungan persarafan.
3) Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres.
4) Mengecilnya saraf panca indra.Berkurangnya penglihatan, hilangnya
pendengaran, mengecilnya saraf penciumdan perasa, lebih sensitif
terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin.
5) Kurang sensitif terhadap sentuhan.
c. Sistem Pendengaran
1) Presbiakusis (gangguan dalam pendengaran). Hilangnya kemampuan
pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau
nadanada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50%
terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.
2) Otosklerosis akibat atrofi membran tympani . c. Terjadinya pengumpulan
serumen dapat mengeras karena meningkatnya keratin.
3) Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami
ketegangan jiwa/stres.
d. Sistem Penglihatan.
1) Timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
2) Kornea lebih berbentuk sferis (bola).
3) Kekeruhan pada lensa menyebabkan katarak.
4) Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap
kegelapan lebih lambat dan susah melihat dalam cahaya gelap.
5) Hilangnya daya akomodasi.
6) Menurunnya lapangan pandang, berkurang luas pandangannya.
7) Menurunnya daya membedakan warna biru atau hijau

8
e. Sistem Kardiovaskuler.
1) Elastisitas dinding aorta menurun.
2) Katup jantung menebal dan menjadi kaku.
3) Kemampuan jantung memompa darah menurun, hal ini menyebabakan
menurunnya kontraksi dan volumenya.
4) Kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektivitas pembuluh
darah perifer untuk oksigenisasi,. Perubahan posisi dari tidur ke duduk
atau dari duduk ke berdiri bisa menyebabkan tekanan darah menurun,
mengakibatkan pusing mendadak.
5) Tekanan darah meninggi akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah
perifer.
f. Sistem Pengaturan Temperatur Tubuh.
1) Temperatur tubuh menurun ( hipotermia ) secara fisiologis akibat
metabolisme yang menurun.
2) Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas
akibatnya aktivitas otot menurun.
g. Sistem Respirasi
1) Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku.
2) Menurunnya aktivitas dari silia.
3) Paru-paru kehilangan elastisitas, menarik nafas lebih berat, kapasitas
pernafasan maksimum menurun, dan kedalaman bernafas menurun.
4) Alveoli ukuranya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang.
5) Kemampuan untuk batuk berkurang.
6) Kemampuan kekuatan otot pernafasan akan menurun seiring dengan
pertambahan usia.
h. Sistem Gastrointestinal.
1) Kehilangan gigi akibat Periodental disease, kesehatan gigi yang buruk dan
gizi yang buruk.
2) Indera pengecap menurun, hilangnya sensitivitas saraf pengecap di lidah
terhadap rasa manis, asin, asam, dan pahit.
3) Eosephagus melebar.
4) Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.

9
5) Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi.
6) Daya absorbsi melemah.
i. Sistem Reproduksi.
1) Menciutnya ovari dan uterus.
2) Atrofi payudara.
3) Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa meskipun
adanya penurunan secara berangsur-angsur.
4) Kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia asal kondisi
kesehatan baik.
5) Selaput lendir vagina menurun.
j. Sistem Perkemihan.
1) Ginjal
2) Merupakan alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh melalui urin,
darah yang masuk ke ginjal disaring di glomerulus (nefron). Nefron
menjadi atrofi dan aliran darah ke ginjal menurun sampai 50%.
3) Otot-otot vesika urinaria menjadi lemah, frekuensi buang air kecil
meningkat dan terkadang menyebabkan retensi urin pada pria.
k. Sistem Endokrin.
1) Produksi semua hormon menurun.
2) Menurunnya aktivitas tyroid, menurunnya BMR (Basal Metabolic Rate),
dan menurunnya daya pertukaran zat.
3) Menurunnya produksi aldosteron.
4) Menurunya sekresi hormon kelamin misalnya, progesteron, estrogen, dan
testosteron.
l. Sistem Kulit ( Sistem Integumen )
1) Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
2) Permukaan kulit kasar dan bersisik karena kehilangan proses keratinisasi,
serta perubahan ukuran dan bentuk-bentuk sel epidermis.
3) Kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu.
4) Rambut dalam hidung dan telinga menebal.
5) Berkurangnya elastisitas akibat dari menurunya cairan dan vaskularisasi.
6) Pertumbuhan kuku lebih lambat.

10
7) Kuku jari menjadi keras dan rapuh, pudar dan kurang bercahaya.
8) Kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya.
m. Sistem Muskuloskletal
1) Tulang kehilangan density ( cairan ) dan makin rapuh.
2) Kifosis
3) Pergerakan pinggang, lutut, dan jari-jari terbatas.
4) Persendiaan membesar dan menjadi kaku.
5) Tendon mengerut dan mengalami skelerosis.
6) Atrofi serabut otot ( otot-otot serabut mengecil ).Otot-otot serabut
mengecil sehingga seseorang bergerak menjadi lamban, otot-otot kram dan
menjadi tremor.
7) Otot-otot polos tidak begitu berpengaruh.

E. Penyakit Lanjut Usia


a. Penyakit sistem paru dan kardiovaskuler.
1) Paru-paru
Fungsi paru-paru mengalami kemunduran disebabkan berkurangnya
elastisitas jaringan paru-paru dan dinding dada, berkurangnya kekuatan
kontraksi otot pernafasan sehingga menyebabkan sulit bernafas. Infeksi
sering diderita pada lanjut usia diantaranya pneumonia, kematian cukup
tinggi sampai 40 % yang terjadi karena daya tahan tubuh yang menurun.
Tuberkulosis pada lansia diperkirakan masih cukup tinggi.
2) Jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler).
Pada orang lanjut usia, umumnya besar jantung akan sedikit menurun. Yang
paling banyak mengalami penurunan adalah rongga bilik kiri, akibat semakin
berkurangnya aktivitas dan juga mengalami penurunan adalah besarnya sel-
sel otot jantung hingga menyebabkan menurunnya kekuatan otot jantung.
Pada lansia, tekanan darah meningkat secara bertahap. Elastisitas jantung
pada orang berusia 70 tahun menurun sekitar 50 % dibanding orang berusia
20 tahun. Tekanan darah pada wanita tua mencapai 170/90 mmHg dan pada
pria tua mencapai 160/100 mmHg masih dianggap normal.

11
Pada lansia banyak dijumpai Pada lansia banyak dijumpai penyakit jantung
koroner yang disebut jantung iskemi. Perubahan-perubahan yang dapat
dijumpai pada penderita jantung iskemi adalah pada pembuluh darah jantung
akibat arteriosklerosis serta faktor pencetusnya bisa karena banyak merokok,
kadar kolesterol tinggi, penderita diabetes mellitus dan berat badan
berlebihan serta kurang berolah raga.
Masalah lain pada lansia adalah hipertensi yang sering ditemukan dan
menjadi faktor utama penyebab stroke dan penyakit jantung koroner.
b. Penyakit pencernaan makanan
Penyakit yang sering terjadi pada saluran pencernaan lansia antara lain gastritis
dan ulkus peptikum, dengan gejala yang biasanya tidak spesifik, penurunan
berat badan, mual-mual, perut terasa tidak enak. Namun keluhan seperti
kembung, perut terasa tidak enak seringkali akibat ketidakmampuan mencerna
makanan karena menurunnya fungsi kelenjar pencernaan. Sembelit/konstipasi
kurang nafsu makan juga sering dijumpai.
c. Penyakit sistem urogenital
Pada pria berusia lebih dari 50 tahun bisa terjadi pembesaran kelenjar prostat
(hipertrofi prostat), yang mengakibatkan gangguan buang air kecil, sedang pria
lanjut usia banyak dijumpai kanker pada kelenjar prostat.
Pada wanita bisa dijumpai peradangan kandung kemih sampai peradangan ginjal
akibat gangguan buang air kecil. Keadaan ini disebabkan berkurangnya tonus
kandung kemih dan adanya tumor yang menyumbat saluran kemih.
d. Penyakit gangguan endokrin (metabolik)
Dalam sistem endokrin , ada hormon yang diproduksi dalam jumlah besar di saat
stress dan berperan penting dalam reaksi mengatasi stress.
Oleh karena itu, dengan mundurnya produksi hormon inilah lanjut usia kurang
mampu menghadapi stress. Menurunnya hormon tiroid juga menyebabkan lansia
tampak lesu dan kurang bergairah. Kemunduran fungsi kelenjar endokrin
lainnya seperti adanya menopause pada wanita, sedang pada pria terjadi
penurunan sekresi kelenjar testis. Penyakit metabolik yang banyak dijumpai
ialah diabetas melitus dan osteoporosis

12
e. Penyakit pada persendian tulang
Penyakit pada sendi ini adalah akibat degenerasi atau kerusakan pada permukaan
sendi-sendi tulang yang banyak dijumpai pada lansia. Lansia sering
mengeluhkan linu-linu, pegal, dan kadang-kadang terasa nyeri. Biasanya yang
terkena adalah persendian pada jari-jari, tulang punggung, sendi-sendi lutut dan
panggul. Gangguan metabolisme asam urat dalam tubuh (gout) menyebabkan
nyeri yang sifatnya akut. Terjadinya osteoporosis menjadi menyebab tulang-
tulang lanjut usia mudah patah. Biasanya patah tulang terjadi karena lanjut usia
tersebut jatuh, akibat kekuatan otot berkurang, koordinasi anggota badan
menurun, mendadak pusing, penglihatan yang kurang baik, dan bisa karena
cahaya kurang terang dan lantai yang licin.
f. Penyakit yang disebabkan proses keganasan
Penyebab pasti belum diketahui, hanya nampak makin tua seseorang makin
mudah dihinggapi penyakit kanker. Pada wanita, kanker banyak dijumpai pada
rahim, payudara dan saluran pencernaan, yang biasanya dimulai pada usia 50
tahun. Kanker pada pria paling banyak dijumpai pada paru-paru, saluran
pencernaan dan kelenjar prostat.
g. Penyakit-penyakit lain
Penyakit saraf yang terpenting adalah akibat kerusakan pembuluh darah otak
yang dapat mengakibatkan perdarahan otak atau menimbulkan kepikunan
(senilis).

13
DAFTAR PUSTAKA

Aspiani, R.Y. (2014). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Gerontik. Jakarta: TIM

Azizah, L.M. (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Bandiyah, S. (2009). Lanjut Usia Dan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: Muha


Medika

Indriana, Y. (2012). Gerontologi dan Progeria. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rhosma D. S. (2014). Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Yogyakarta : Deepublish

Syam, A.F., & Yulherina, Sari N.K. (2015). Masalah Kesehatan pada Usia Lanjut
Antisipasi dan Penanganannya. Jakarta: Interna Publishing

Tamher. S., & Noorkasiani. (2009). Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan
Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

14