Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KULIAH LAPANGAN

DASAR-DASAR EKOLOGI HEWAN


“LIGHT TRAP , PIT FALL TRAP, PEMAKAIAN SORBER NET DAN PEMAKAIAN
INSECT NET DAN FAKTOR LINGKUNGANABIOTIK, YANG
MEMPENGARUHINYA”

OLEH:
KELOMPOK 1
PENDIDIKAN BIOLOGI A

1. ENNO AULIA FITRI (16031005)


2. MARLINA (16031013)
3. MARVIA AFRITA (16031045)
4. MULYA EWILNA (16031104)
5. RAVINDA MAIRIZAL PUTRI (16031059)
6. RIZKY WAHYUNY (16031041)

DOSEN PEMBINA : Drs. Ristiono, M.Pd.

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2018
A. LIGHT TRAP

Hewan Nokturnal
Hewan nokturnal adalah hewan yang aktif di saat malam hari dan tidur di saat
siang hari. Berbeda dengan kebanyakan hewan lain yang biasanya aktif di saat siang
hari dan tidur di saat malam hari.
Hewan nokturnal memiliki indera pendengaran, penglihatan, dan penciuman
yang sangat tajam; yang tentunya diperlukan saat beraktivitas di malam hari yang
gelap. Beberapa hewan nokturnal punya penglihatan yang dapat beradaptasi untuk
penerangan siang hari maupun malam

Light Trap (menggunakan lampu perangkap )


Lampu perangkap merupakan suatu unit alat untuk menangkap atau menarik
serangga yang tertarik cahaya pada waktu malam hari. Alat ini berfungsi untuk
mengetahui keberadaan atau jumlah populasi serangga di lahan pertanian.

Komponen utama dari lampu perangkap atau yang dikenal juga dengan light
trap ini yaitu lampu, corong dan kantung plastik, serta rangka beratap. Lampu,
dengan daya minimal 100watt, berfungsi untuk menarik serangga pada waktu malam
hari. Corong merupakan tempat masuknya serangga, kantung plastik berfungsi
untuk menampung serangga yang tertangkap. Kemudian, rangka beratap fungsinya
untuk melindungi lampu dan hasil tangkapan terutama dari hujan.
Cara kerja perangkap ini, lampu diletakkan di dalam lahan sawah di pinggir
pematang. Letak bisa disesuaikan dengan kondisi tempat karena alat ini
menggunakan lampu sehingga memerlukan sumber aliran listrik. Satu unit lampu
perangkap sebagai monitoring dapat digunakan untuk luasan 300-500 ha, sedangkan
untuk pengendalian seluas 50 ha.

Lampu dinyalakan setiap hari mulai dari pukul 6 pagi – 6 sore dan hasil
tangkapan diambil setiap pagi kemudian diamati jenis serta jumlah serangga yang
tertangkap.
Selain untuk monitoring, lampu perangkap tersebut juga sebagai pengendali.
Mendeteksi dini wereng coklat imigran dan Ngengat penggerek batang padi sehingga
dapat mengetahui datangnya hama imigran dan puncak tangkapan populasi suatu
hama.

Rekomendasi waktu semai atau tanam adalah 15 hari setelah puncak hasil
tangkapan. Untuk pengendalian penggerek batang padi, 4 hari setelah adanya
penerbangan (hasil tangkapan) dilakukan penyemprotan insektisida. Pada saat kondisi
lahan sedang bera atau pengolahan tanah, lampu perangkap digunakan terus untuk
memantau perkembangan populasi serangga hama terutama wereng coklat dan
penggerek batang.

Light Trap atau lampu perangkap istilah cara pengendalian hama yang efektif,
murah dan ramah lingkungan, Lampu Perangkap ( LIGHT TRAP ) dengan tenaga
listrik. Perangkap lampu merupakan perangkap yang paling umum untuk pemantauan
migrasi dan pendugaan populasi serangga yang tertarik pada cahaya, khususnya
wereng coklat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan perangkap lampu
antara lain, kekontrasan lampu yang digunakan pada perangkap lampu yang terdapat
di sekitarnya.
Semakin kontras cahaya lampu yang digunakan maka akan luas jangkauan
tangkapannya. Kemampuan serangga untuk menghindari lampu perangkap yang
dipasang. Perangkap lampu dipasang pada pematang (tempat) yang bebas dari
naungan dengan ketinggian sekitar 1,5 meter diatas permukaan tanah. Lampu yang
digunakan adalah lampu pijar 40 watt dengan voltase 220 volt. Lampu dinyalakan
pada jam 18.00 sampai dengan 06.00 pagi. Agar serangga yang tertangkap tidak
terbang lagi, maka pada penampungan serangga yang berisi air ditambahkan sedikit
deterjen.
Menurut Soegiarto tahun 2012 bahwa Serangga-serangga yang dapat
tertangkap antara lain wereng coklat (dewasa makroptera), Ngengat penggerek batang
padi, orong-orong (anjing tanah), kepinding tanah (Scotinophara coarctata),
Coccinella Sp, Paederus Sp, Ophionea Sp, dan lain-lain.
Serangan hama tanaman tidak dapat dihindarkan. Namun bukan berarti tidak
dapat dicegah sejak dini, salah satunya dengan menggunakan Lampu Perangkap.

Serangga-serangga yang dapat tertangkap light trap

Serangga-serangga yang dapat tertangkap antara lain wereng coklat (dewasa


makroptera), Ngengat penggerek batang padi, orong-orong (anjing tanah), kepinding
tanah (Scotinophara coarctata ), Coccinella Sp, Paederus Sp, Ophionea Sp, dan lain-
lain.Pada saat populasi tinggi, lampu perangkap.

1. Laba-laba - Laba-laba adalah hal yang menjengkelkan di rumah Anda.


Mereka tertarik pada tempat yang hangat, tempat yang gelap dan kecil seperti
celah-celah, sudut, ventilasi udara dan di atap rumah Anda. Beberapa jenis
laba-laba lain memilih tinggal di ruang terbuka, membuat sarang di lumbung
Anda, taman atau dekat lampu luar. Laba-laba menjadi masalah yang
menyebalkan karena sarangnya.
2. Kumbang Karpet – Terdiri dari ukuran, warna yang berbeda tetapi umumnya
mereka menyerupai kumbang dan warnanya beragam dari hitam ke coklat
bahkan putih dan kuning. Panjang dewasanya mencapai 2-3 mm. dewasa
bukan hama di rumah Anda karena mereka cenderung hidup di luar memakan
nectar dan pollen. Tetapi, menjelang akhir musim panas, mereka sangat
mungkin memasuki rumah Anda dan bertelur mencapai 40 telur di karpet atau
korden rumah Anda. Telurnya menjadi larva dalam waktu 2 atau 3 minggu
dan larvanya (disebut juga Wooly Bears) ini yang merusak karena
makanananya adalah serat alami seperti karpet, pakaian dan benda-benda
lembut.
3. Silverfish – Panjang dewasanya mencapai 10-12 mm warnanya abu-abu perak
dan berbentuk torpedo dengan tiga helai bulu keras di ujung perutnya.
Silverfish membutuhkan tempat hangat dan sering ditemukan di kamar mandi
dan dapur. Mereka memakan remah-remah makanan dan walau lebih
menyukai diet tepung, tetapi mampu mengunyah selulose dan dapat merusak
koleksi lukisan dan buku Anda.
4. Earwigs – Panjang dewasanya mencapai 14-23mm, berwarna cokelat gelap
dan mempunyai kaki bagian depan menyerupai gunting yang melengkung
pada jantan dan lurus pada betina/ kaki bagian depan ini tidak beracun namun
dapat menjept. Betinanya menghasilkan 40 telur setahun dan membesarkan
anak-anaknya sendiri-hal yang sangat jarang dilakukan serangga. earwigs
makan sayuran hijau dan tumbuhan lain, lebih menimbulkan masalah di
kebun daripada dalam rumah.
5. Jangkrik – Bentuknya langsing,kurus menyerupai antena, dengan panjang
sekitar ⅞ inci dan hidup tidak menentu dalam rumah dan bertelur di celah-
celah aau tempat gelap lain. Mereka sering bermigrasi ke gedung untuk
berlindung dari musim dingin atau selama musim panas dan kerinh mencari
kelembaban. Jangkrik dapat merusak pakaian dan decitannya menjengkelkan.
Jangkrik betina bertelur sebanyak 700 butir selama masa hidup mereka.
6. Tungau – Tungau adalah parasit kecil yang identik dengan sarang burung.
Tungau makan manusia dan gigitannya menyebabkan gatal yang sangat luar
biasa. Ketika burung meninggalkan sarangnya dalam keadaan penuh, tungau
bisa masuk ke dalam. Tungau daun semanggi sedikit lebih besar dari tungau
burung dan berwarna merah cerah. Mereka umumnya memasuki rumah saat
musim gugur, kadang-kadang dalam jumlah besar, ketika banyak tumbuhan
mati, tetapi bisa saja itu terjadi di musim semi. Tungau daun semanggi akan
meninggalkan noda merah di dinding dan perabotan jka dipencet.
Alat Dan Bahan

Alat

Alat yang digunakan pada praktikum

No Alat Jumlah
1 Baskom atau ember 1 buah
2 Lampu cemporong 1 buah
3 Pancang 2 buah
4 Kertas karton lebar 30 x 30 cm 1 buah

Bahan

Bahan yang digunakan pada pelaksanaan praktikum light trap

No Bahan Jumlah
1 Air Secukupnya
3 Sabun cap tombak Secukupnya

Prosedur kerja

Adapun langkah dalam praktikum pada kali ini yaitu:

1. Menentukan tempat pengambilan sampel atau daerah yang cocok dan banyak
hewan yang akan dijebak dengan menggunakan cara light trap.
2. Meletakkan lampu cemprong (lentera) pada malam hari di dalam ember atau
baskom yang telah diberikan air sabun cap tombak.
3. Mengamati serangga yang terjebak pada keesokan harinya (dini hari).
4. Mencatat data yang dihasilkan dalam pengamatan (jika ada hewan yang
terjebak).
Hasil pengamatan praktikum light trap

Pada pengamatan dalam ember yang dicampuri sabun cap tombak terdapat nyamuk,
nyamuk yang terdapat dalam ember tersebut dalam kondisi mati.

Nyamuk
Klasifikasi Aedes sp adalah sebagai berikut:
Golongan : Animalia

Filum : Arthropoda

Klas : Insekta

Ordo : Diptera

Familly : Culicidae

Genus : Aedes

Siklus Hidup

Menurut Kris Cahyo Mulyatno 2002, nyamuk (Aedes) seperti juga serangga
lainnya yang termasuk ordo diptera, mengalami metamorfosis lengkap. Stadium-
stadiumnya terdiri dari telur, larva (Jentik), pupa (kepompong) dan nyamuk dewasa.
Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan dari telur menjadi dewasa di laboratorium
yang bersuhu 270C dankelembaban udaranya 80%, kurang lebih 10 hari. Waktu 10
hari tersebut juga diperkirakan untuk keperluan pertumbuhan Ae.aegypti dari telur
sampai dewasadi alam bebas.
B. PIT FALL TRAP

Pit fall trap merupakan metoda pengumpulan hewan tanah dengan cara
memasang perangkap jebak. Cara ini juga termasuk dalam metoda dinamik.
Perangkap ini merupakan metode yang efektif untuk penelitian taksonomi maupun
ekologi. Metode ini banyak digunakan untuk penelitian arthropoda gua karena faktor
manusia sangat kecil pengaruhnya terutama untuk data ekologi.

Hewan tanah adalah hewan yang hidup di tanah, baik yang hidup di permukaan
tanah maupun yang hidup di dalam tanah. Tanah itu sendiri adalah suatatu bentangan
alam yang tersusun dari bahan-bahan mineral yang merupakan hasil proses pelapukan
batu-batuan dan bahan organic yang terdiri dari organisme tanah dan hasil pelapukan
sisa tumbuhan dan hewan lainnya. Jelaslah bahwa hewan tanah merupakan bagian
dari ekosistem tanah. Dengan denikian, kehidupan hewan tanah sangat di tentukan
oleh faktor fisika-kimia tanah, karena itu dalam mempelajari ekologi hewan tanah
faktor fisika-kimia tanah selalu diukur.
Pengukuran faktor fisika-kimia tanah dapat di lakukan langsung di lapangan
dan ada pula yang hanya dapat diukur di laboraturium. Untuk pengukuran faktor
fisika-kimia tanah di laboraturium maka di lakukan pengambilan contoh tanah dan
dibawa ke laboraturium. Dilapangan hewan tanah juga dapat dikumpulkan dengan
cara memasang perangkap jebak (pit fall-trap). Pengumpulan hewan permukaan tanah
dengan memasang perangkap jebak juga tergolong pada pengumpulan hewan tanah
secara dinamik.
Perangkap jebak sangat sederhana, yang mana hanya berupa bejana yang
ditanam di tanah. Agar air hujan tidak masuk ke dalam perangkap maka perangkap
diberi atap dan agar air yang mengalir di permukaan tanah tidak masuk ke dalam
perangkap maka perangkap dipasang pada tanah yang datar dan agak sedikit tinggi.
Jarak antar perangkap sebaliknya minimal 5 m. Pada perangkap tanpa umpan, hewan
tanah yang berkeliaran di permukaan tanah akan jatuh terjebak, yaitu hewan tanah
yang kebetulan menuju ke perangkap itu, sedangkan perangkap dengan umpan,
hewan yang terperangkap adalah hewan yang tertarik oleh bau umpan yang
diletakkan di dalam perangkap, hewan yang jatuh dalam perangkap akan terawat oleh
formalin atau zat kimia lainnya yang diletakkan dalam perangkap tersebut.
Organisme sebagai bioindikator kualitas tanah bersifat sensitif terhadap perubahan,
mempunyai respon spesifik dan ditemukan melimpah di dalam tanah. Salah satu
organisme tanah adalah fauna yang termasuk dalam kelompok makrofauna tanah
(ukuran > 2 mm) terdiri dari milipida, isopoda, insekta, moluska dan cacing tanah.
Makro fauna tanah sangat besar peranannya dalam proses dekomposisi, aliran karbon,
redistribusi unsur hara, siklus unsur hara, bioturbasi dan pembentukan struktur tanah.
Biomasa cacing tanah telah diketahui merupakan bioindikator yang baik untuk
mendeteksi perubahan pH, keberadaan horison organik, kelembaban tanah dan
kualitas humus. Rayap berperan dalam pembentukan struktur tanah dan dekomposisi
bahan organic. Penentuan bioindikator kualitas tanah diperlukan untuk mengetahui
perubahan dalam sistem tanah akibat pengelolaan yang berbeda. Perbedaan
penggunaan lahan akan mempengaruhi populasi dan komposisi makrofauna tanah.
Pengolahan tanah secara intensif, pemupukan dan penanaman secara monokultur
pada sistem pertanian konvensional dapat menyebabkan terjadinya penurunan secara
nyata biodiversitas makrofauna tanah. Mengingat pentingnya peran fauna tanah
dalam menjaga keseimbangan ekosistem tanah dan masih relatif terbatasnya
informasi mengenai keberadaan fauna tanah, perlu dieksplorasi potensi fauna tanah
sebagai bioindikator kualitas tanah. Fauna tanah, termasuk di dalamnya serangga
tanah, memiliki keanekaragaman yang tinggi dan masing-masing mempunyai peran
dalam ekosistem.

Kepadatan atau kerapatan populasi dinyatakan dalam hubungannya dengan


satuan ruang. Kepadatan populasi dinyatakan dalam banyaknya individu atau
besarnya biomasa persatuan luas atau satuan volume ditempat tertentu. Contoh
kerapatan populasi ikan masdi situ gede dalam satu kolom 100 kg per ha luas kolom,
atau kerapatan bakteri pathogen salmonella 2000 per liter air sungai yang tercemar.
Kepadatan kasar adalah besarnya populasi persatuan ruang keseluruhan
dengan kepadatan ekologi yaitu besarnya populasi persatuan ruang habitat yang
didiami oleh populasi organism tersebut. Sedangkan organisme yang sedang
berubah dalam besarnya (bertambah atau berkurang) pada setiap waktu juga penting
untuk diketahui, besar populasi dapat cepat berubah terutama pada mikroorganisme,
sukar untuk diukur dengan seksama, karena luasnya daerah tempat hidupnya dengan
penyebaran yang tidak teraturpula, atau hidup ditempat tersembunyi dan sangat liar
sehingga sulit diamati, sehingga kepadatan populasi persatuan ruang kurang penting.

Dalam keadaan demikian biasanya digunakan kepadatan relatif atau


abundansi nisbi, misalnya jumlah burung tertentu yangdapat dilihat perjam , atau
macam-macam persentase seperti persentase petak sampel yang ditempati oleh satu
spesies. Untuk mengetahui kondisi atau peran suatu populasi, biasanya kepadatan
merupakan sifat pertama yang perlu mendapat perhatian. Pengaruh yang diberikan
oleh satu populasi terhadap lingkungan hidupnya bukan hanya tergantung pada
spesies atau jenis makhluk hidup itu, tetapi juga tergantung pada banyaknya individu
atau kepadatan populasi itu. Satu atau dua ekor wereng per rumpun padi disawah,
misalnya tidak akan mengganggu pertumbuhan padi tersebut, tetapin 10-20 ekor
wereng per rumpun padi akan mengganggu pertumbuhan padi tersebut. Menghitung
populasi dalam satu komunitas terdapat bebrapa metoda, antara lain metoda
menghitung langsung, kuadrat dan pit fall trap, tergantung pada jenis hewan
dankomunitasnya. Pada praktikum kali ini akan menghitung jumlah hewan tanah
dengan metoda pitfall trap.
Alat dan Bahan

ALAT

1. Parang
2. Pisau cutter
3. Tusuk sate ( pancang bamboo )

BAHAN

1. Kertas karton hitam


2. Plastic
3. Sabun cap tombak
4. Tali raffia
5. Botol

Cara Kerja :
1. Mencari lokasi pengamatan yang aman dari gangguan manusia.
2. Menanam botol jam yan berisi sedikit air dengan campuran sabun cap tombak.
3. Mencatat kondisi lingkungan area yang diteliti.
4. Jarak antara perangkap minimal 2 m dengan posisi zigzag.
5. Membiarkan botol jam selama 24 jam.
6. Mengamati, mengidentifikasi dan menghitung.

Hasil pengamatan

Pada perlakuan menggunakan pit fall trap, tidak ditemukan hewan apapun yang
terperangkap dalam lubang kecil

Hal ini dikarenakan lokasi tempat perlakuan kurang banyak hewan hewan hingga
tidak ada yang terjebak dalam perlakuan.
C. PEMAKAIAN SURBER NET

Fungsinya : untuk mengambil sampel (benthos) pada daerah yang berarus dan dasar
perairan berpasir halus (sedikit berlumpur).

Cara Menggunakan Surber


Surber net tersebut diletakkan dengan bagian mulut surber net melawan arus aliran
air, dan daerah yang dibatasi oleh alat ini dibersihkan (diaduk) sehingga benthos yang
melekat pada dasar perairan dapat hanyut dan tertangkap oleh jala.

Hasil Pengamatan
Dari hasil pengamatan tidak ada hasil yang kami dapat. Kami hanya mempraktikkan
cara penggunaan suber net dengan baik dan benar.
D. FAKTOR LINGKUNGAN ABIOTIK YANG MEMPENGARUHI
PERLAKUAN

Faktor lingkungan abiotik merupakan semua aspek kimia dan fisika dari
lingkungan yang memengaruhi pertumbuhan dan distribusi hewan dan tumbuhan.
Udara dan tanah adalah faktor abiotik yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
biota terestrial. Selain pengukuran pada kondisi fisika-kimia faktor lingkungan
habitatnya, kehadiran tumbuhan terutama dapat memengaruhi kondisi udara dan
tanah.

Mikroklimat
Kondisi udara yang berpengaruh atau berhubungan langsung dengan
tumbuhan disebut mikroklimat. Walaupun hanya dalam daerah yang sangat kecil
mikroklimat dapat menyebabkan adanya variasi dalam tipe dan komposisi
tumbuhan.
Komponen mikroklimat tersebut antara lain temperatur udara, kelembaban udara,
intensitas cahaya dan kecepatan angin.

· Temperatur Udara
Pengukuran temperatur dapat dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif.
Pengukuran kuantitatif dinyatakan dalam satuan kalori yaitu gram kalori atau
kilogram kalori sedangkan pengukuran kualitatif dinyatakan dalam satuan derajat
Celcius, derajat Fahrenheit, Reamur atau Kelvin. Pengukuran secara kualitatif
dilakukan dengan alat termometer. Termometer bekerja berdasarkan prinsip
pemuaian atau pengerutan suatu zat padat ataucairan akibat pemanasan atau
pendinginan. Zat cair yang digunakan adalah air raksa ataualkohol yang diberi
warna agar mempermudah dalam pembacaan. Penamaan termometer disesuaikan
dengan zat cair yang digunakan, misalnya termometer air raksa atau termometer
alkohol.
Temperatur digunakan dengan cara membaca skala pada ujung kolom air raksa
dalam satuan derajat Celcius (ºC). Badan termometer tidak boleh dipegang secara
langsung dengan tangan agar tidak mengganggu pembacaan.

· Kelembaban Udara
Kelembaban udara menandakan sejumlah uap air yang terkandung di udara atau
atmosfer, biasanya dinyatakan dalam berat uap air untuk setiap volume udara
tertentu. Berdasarkan perhitungan di atas, maka setiap suhu tertentu di tempat yang
sama akan memberikan harga kelembaban tertentu yang disebut kelembaban
absolut. Kelembaban yang umum dipergunakan adalah kelembaban udara relatif,
yaitu berdasarkan perbandingan tekanan uap air di udara pada waktu pengukuran
dengan tekanan uap air jenuh pada suhu yang bersamaan.
Alat yang dipergunakan untuk menentukan kelembaban udara relatif (relative
humidity) adalah sling psychrometer. Alat ini menggunakan dua termometer.
Termometer pertama digunakan untuk mengukur suhu udara biasa dan termometer
yang kedua digunakan untuk mengukur suhu udara jenuh karena pada bagian bawah
termometer dilengkapi dengan kainyang dibasahi air. Berdasarkan bacaan dari
kedua termometer tersebut, nilai kelembaban relatif dapat ditentukan dengan
menggunakan tabel konversi tertentu, misalnya tabel dari Taylor. Pada sling
psychrometer tipe tertentu nilai kelembaban dapat langsung dibaca pada alat.
Selain menggunakan sling psychrometer, kelembaban udara relatif juga dapat
diukur menggunakan Hygrocheck Hanna HI 98601 yang dilengkapi dengan sensor
(probe) sehingga penggunaan alat ini relatif lebih mudah.

· Intensitas Cahaya
Intensitas dan lamanya radiasi sinar matahari tidak hanya mempengaruhi variabel
atmosfer seperti suhu, kelembaban dan angin, tetapi juga memengaruhi jumlah
energi untuk produksi bagi hewan dan tumbuhan. Pengukuran intensitas cahaya
dapat dilakukan dengan menggunakan Light Meter atau Lux Meter.
· Kecepatan Angin
Angin adalah gerakan atau perpindahan masa udara pada arah horizontal yang
disebabkan oleh perbedaan tekanan udara dari satu tempat dengan tempat lainnya.
Angin diartikan pula sebagai gerakan relatif udara terhadap permukaan bumi, pada
arah horizontal atau hampir horinzontal. Masa udara ini mempunyai sifat yang
dibedakan antara lain oleh kelembaban (RH) dan suhunya, sehingga dikenal adanya
angin basah, angin kering dan sebagainya.
Kecepatan angin adalah jarak tempuh angin atau pergerakan udara per satuan waktu
dan dinyatakan dalam satuan meter per detik (m/s), kilometer per jam (km/j), dan
mil per jam (mi/j). Satuan mil (mil laut) per jam disebut juga knot (kn); 1 kn = 1,85
km/j = 1,151mi/j = 0,514 m/d atau 1 m/d = 2,237 mi/j = 1,944 kn. Kecepatan angin
bervariasi dengan ketinggian dari permukaan tanah, sehingga dikenal adanya profil
angin, dimana makin tinggi gerakan angin makin cepat. Kecepatan angin diukur
dengan menggunakan alat yang disebut Anemometer atau Anemograf.

 Kecepatan Air
Dengan menggunakan bola pimpong, stopwatch, dan meteran dapat mengukur
berapa kecepatan air pada lokasi yang telah dipilih tersebut.

 POH / PH AIR
Dengan menggunakan kertas lakmus dapat dihitung Poh atau Ph dari air tersebut.
Pada umumnya Poh atau ph nya bersifat netral ph=7.

Tanah
Tanah merupakan sebuah badan yang terbentuk dari hasil pelapukan batuan
induk akibat aktivitas iklim dan organisme serta materi organik hasil proses
dekomposisi yang mampu mendukung kehidupan. Komponen penyusun tanah
terdiri dari partikel mineral, bahan organik, air dan udara.
Pada ekosistem terestrial, tanah merupakan faktor lingkungan abiotik yang
amat penting. Tanah merupakan substrat alami bagi tumbuhan, habitat bagi
detrivora dan mikroba. Didalamnya mineral dan zat organik terkumpul. Akan tetapi
hal tersebut tidak termanfaatkan bila kondisi fisika-kimia tanah diluar toleransi
organisme yang ada didalamnya atau diatasnya. Faktor fisika-kimia tanah
mempengaruhi sebaran organisme tanah baik secara vertikal (hewan tanah dan
mikroba) maupun horizontal (vegetasi). Oleh karenanya dalam analisis elosistem
terestrial dipandang perlu untuk mengumpulkan data fisika-kimia tanah.

· Profil Tanah
Profil tanah merupakan gambaran tanah secara vertikal. Secara vertikal, tanah
umumnya membentuk zona-zona yang disebut horison tanah. Profil tanah tersebut
umumnya terdiri dari beberapa horison. Horison O terdiri dari materi organik segar
atau belum terdekomposisi secara sempurna. Horison A atau topsoil mengandung
materi organik yang tinggi bercampur dengan partikel mineral. Horison B adalah
zona ‘penumpukan’ (illuvation zone); tempat terkumpulnya mineral dan humus
akibat proses pencucian atau pelindian (leaching) dari horison A. Horison C berisi
batuan induk.
· Kandungan Air atau Kelembaban Tanah
Kandungan air tanah secara kuantitatif dapat ditentukan dengan menghitung jumlah
air yang terkandung didalam tanah dengan berat segar tertentu. Kandungan air dapat
dinyatakan sebagai persentase air terhadap berat segar tanah.

· Kandungan Organik dan Mineral (Anorganik) Total Tanah


Zat organik umumnya berasal dari proses pelapukan/penguraian serasah pada
lapisan teratas tanah. Secara teoritis palisan yang kaya zat organiknya adalah lapisan
humus. Penentuan kandungan organik dan anorganik tanah yang paling sederhana
adalah dengan cara pengabuan.

· pH Tanah
pH tanah adalah faktor kimia tanah penting yang menggambarkan sifat asam atau
basa tanah. Nilai pH tanah adalah nilai negatif logaritma dari aktivitas ion hidrogen
tanah. Besarnya nilai pH tanah dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya jenis
batuan induk, tipe vegetasi dan aktivitas pemupukan. pH tanah menentukan
kelarutan unsur-unsur hara dalam larutan tanah, sehingga pH akan memengaruhi
ketersediaan unsur-unsur hara bagi tumbuhan (Barbour et al, 1999). Pengukuran pH
tanah dapat dilakukan dengan pH-meter elektronik, soil tester dan kertas pH
universal.

Suhu Tanah
Untuk mengukur suhu tanah dipergunakan alat Weksler. Termometer pada alat ini
disimpan dalam tabung kayu yang ujungnya berupa logam meruncing. Antara
logam dengan termometer terdapat serbuk logam yang menutupi ujung termometer
dan terdapat pada bagian atas logam runcing tadi. Logam di bagian ujung
merupakan bagian yang dimasukkan ke dalam tanah. Panas dari tanah akan
mempengaruhi logam dan kemudian akan diinduksikan ke serbuk logam. Panas
serbuk logam ini akan berpengaruh pada termometer dan ditunjukkan oleh
perubahan tinggi air raksa yang terbaca pada skala. Seandainya termometer tanah
tidak tersedia, bisa juga dipergunakan termometer udara biasa namun harus
dilakukan dengan hati-hati.