Anda di halaman 1dari 19

ANALISIS JURNAL

PENGARUH TERAPI MEDITASI TERHADAP PERUBAHAN TEKANAN

DARAH PADA LANSIA YANG MENGALAMI HIPERTENSI

Oleh :

YULAN A.MOBI

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN KEOLAHRAGAAN


UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Berdasarkan dari demografi Internasional U.S. Census Bureau, International

Data Base 2009 (dalam Darmojo 2011) dalam jumlah penduduk lansia sebesar

18,96 juta jiwa dan meningkat menjadi 20.547.541 jiwa jumlah ini termasuk

terbesar keempat setelah China, India dan Jepang diperlihatkan selama kurun

waktu 19902025, Indonesia mengalami peningkatan populasi lansia yang

diperkirakan 414% (Komnas Lansia, 2010). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia

(WHO) bahwa penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2020 mendatang sudah

mencapai angka 11,34% atau tercatat 28,8 juta orang, balitanya tinggal 6,9% yang

menyebabkan jumlah penduduk lansia terbesar di dunia (Badan Pusat Statistik,

2009).

Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Triyanto,

2014 menjelaskan bahwa kejadian hipertensi pada tahun 2012 diseluruh dunia,

sekitar 972 juta (26,4%), 333 juta berada di negara maju dan 639 juta berada di

negara berkembang. Diperkirakan meningkat menjadi 1,15 milyar kasus di tahun

2025 atau sekitar 29% dari total penduduk dunia (Paat et al., 2014). Hasil Riset

Kesehatan Dasar tahun 2013 menjelaskan pravelensi hipertensi di Indonesia yaitu

25,8% dengan angka prevalensi untuk Sumatera 20,8%, Jawa-Bali 24,3% dan

kawasan Indonesia Timur 25,2%. Sedangkan angka prevalensi untuk Sumatera

Barat sendiri adalah 22,6%.(Dinas Kesehatan Republik Indonesia, 2013).


Hipertensi merupakan masalah yang dapat menyebabkan kematian termasuk

dalam kategori penyakit non-infeksi. Selain itu, hipertensi juga merupakan faktor

pencetus terjadinya jantung dan stroke. Salah satu penyebab hipertensi adalah

peningkatan stimulasi respon stres neuron sismpatik yang berlebihan.

Meditasi adalah cara untuk mengurangi respon stres dengan teknik relaksasi,

Pada dasarnya pemberian terapi meditasi ini dapat memberikan kondisi yang

rileks dimana pada kondisi rileks semua system tubuh akan bekerja dengan baik

dan pada kondisi ini hipotalamus akan meyesuaikan dan terjadinya

penurunanaktifitas sistem saraf simpatis dan menigkatkan aktifitas sistem

parasimpatis. Urutan efek fisiologis dan gejala maupun tandanya akan terputus

dan stres psikologis akan berkurang. Teknik relaksasi otot, relaksasi dengan

imajinasi terbimbing dan respon relaksasi dari Benson

1.2. Tujuan

Mengetahui pengaruh terapi meditasi terhadap perubahan tekanan darah

pada lansia yang mengalami hipertensi.

1.3. Manfaat

1.3.1 Manfaat Praktis

Menambah ilmu pengetahuan perawat tentang pengaruh terapi meditasi

terhadap perubahan tekanan darah pada lansia yang mengalami hipertensi.

1.3.2 Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam pemberian intervensi keperawatan.


BAB II

METODE DAN TINJAUAN TEORITIS

2.1 Metode Pencarian

Analissi jurnal ini menggunakan 3 (tiga) media atau metode pencarian

jurnal, yaitu sebagai berikut :

1. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

2. Ebsco

3. Google

2.2 Konsep tentang Tinjauan Teoritis

A. Hipertensi

a. Pengertian

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana

tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg.

Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik

160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg.

b. Klasifikasi

Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas : ( Darmojo, 1999 )

Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140

mmHg dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90

mmHg. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih

besar dari 160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90

mmHg.
c. Etiologi

Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya

perubahan – perubahan pada :Elastisitas dinding aorta menurun

Katub jantung menebal dan menjadi kaku

Kemampuan jantung memompa darah menurun

1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung

memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan

volumenya. Kehilangan elastisitas pembuluh darah

Hal ini terjadi karenakurangnya efektifitas pembuluh darah perifer

untuk oksigenasi Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer

Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti

penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor

yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi.

Faktor tersebut adalah sebagai berikut :Faktor keturunan

Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki

kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang

tuanya adalah penderita hipertensi

Ciri perseorangan Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya

hipertensi adalah:Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat )

Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )

Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih )

Kebiasaan hidup Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan

timbulnya hipertensi adalah :Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi


dari 30 gr ) Kegemukan atau makan berlebihan Stress Merokok

Minum alcohol Minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin)

Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah : Ginjal

Glomerulonefritis Pielonefritis Nekrosis tubular akut Tumor Vascular

Aterosklerosis Hiperplasia Trombosis Aneurisma Emboli kolestro

Vaskulitis Kelainan endokrin DM,Hipertiroidisme,

Hipotiroidisme,Saraf,Stroke,Ensepalitis,SGB,Obat-obatan,Kontrasepsi

oral Kortikosteroid.

d. Tanda Dan Gejala

Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :

Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan

peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh

dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan

pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.

Gejala yang lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang

menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam

kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai

kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.

Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang

menderita hipertensi yaitu:Mengeluh sakit kepala, pusing, Lemas,

kelelahan Sesak nafas,Gelisah,Mual,Muntah,Epistaksis, Kesadaran

menurun.
e. Pemeriksaan Penunjang

Hemoglobin / hematokrit

Untuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap volume cairan

(viskositas ) dan dapat mengindikasikan factor – factor resiko

seperti hiperkoagulabilitas, anemia.

BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjal

Glukosa

Hiperglikemi ( diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi ) dapat

diakibatkan oleh peningkatan katekolamin ( meningkatkan

hipertensi )

Kalium serum

Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama (

penyebab ) atau menjadi efek samping terapi diuretik.

Kalsium serum

Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi

Kolesterol dan trigliserid serum

Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya

pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler )

Pemeriksaan tiroid

Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi

Kadar aldosteron urin/serum

Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab )

Urinalisa
Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau

adanya diabetes.

Asam urat

Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi

Steroid urin

Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme

IVP

Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit

parenkim ginjal, batu ginjal / ureter

Foto dada

Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran

jantung

CT scan

Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati

EKG

Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan

konduksi, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini

penyakit jantung hipertensi

f. Penatalaksanaan

Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan

mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan

dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah

140/90 mmHg.
Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :

Terapi tanpa Obat

Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi

ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan

berat. Terapi tanpa obat ini meliputi :

Diet

Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :

Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr

Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh

Penurunan berat badan

Penurunan asupan etanol

Menghentikan merokok

Latihan Fisik

Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang

dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang

mempunyai empat prinsip yaitu :

Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging,

bersepeda, berenang dan lain-lain

B. Terapi Meditasi

Meditasi adalah cara untuk mengurangi respon stres dengan teknik

relaksasi, Pada dasarnya pemberian terapi meditasi ini dapat

memberikan kondisi yang rileks dimana pada kondisi rileks semua

system tubuh akan bekerja dengan baik dan pada kondisi ini
hipotalamus akan meyesuaikan dan terjadinya penurunanaktifitas

sistem saraf simpatis dan menigkatkan aktifitas sistem

parasimpatis. Urutan efek fisiologis dan gejala maupun tandanya

akan terputus dan stres psikologis akan berkurang. Teknik

relaksasi otot, relaksasi dengan imajinasi terbimbing dan respon

relaksasi dari Benson


BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Author Judul Penelitian Metode Hasil Source


Weddy Pengaruh Terapi Jenis penelitian ini Hasil penelitian Ejournal.kop
Martin,2016 Meditasi Terhadap adalah Pre Eksperiment menunjukkan bahwa ertis 10.or.id
Perubahan Tekanan Design tanpa kelompok tekanan darah sistolik
Darah Pada Lansia kontrol dengan pada uji statistik
Yang Mengalami menggunakan menunjukkan bahwa p =
Hipertensi pendekatan One Group 0,000 (p> 0,05) artinya
Pretest-Posttest bahwa Ha diterima atau
(Hidayat, 2012). tekanan darah sistolik
Awalnya kelompok antara sebelum dan
subjek akan diukur sesudah terapi meditasi
tekanan darah (pretest), adanya pengaruh secara
kemudian langsung signifikan. Bahwa
diberikan terapi tekanan darah diastolik
meditasi selama 15 pada uji statistik
menit, setelah itu menunjukkan bahwa p =
diukur kembali tekanan 0,001 (p> 0,05) yang
darah (posttest), untuk berarti bahwa Ha
mengetahui pengaruh diterima atau tekanan
terapi meditasi terhadap darah sistolik antara
tekanan darah pada sebelum dan sesudah
lansia. Subjek dalam terapi meditasi adanya
penelitian ini adalah pengaruh secara
lansia yang mengalami signifikan
hipertensi yang tidak
mendapatkan terapi
farmakologis.
Intervensi dilakukan 3
kali dalam selama
seminggu sebanyak 20
orang lansia yang
mengalami hipertensi
ringan dan sedang.
Fuad, M. N. Pengaruh Penelitian ini Terdapat pengaruh Respiratory.u
(2012). meditasi Garuda menggunakan kuasi meditasi garuda terhadap nej.ac.id
terhadap tekanan eksperimen dengan tekanan darah dan gejala
darah dan gejala pendekatan hipertensi
hipertensi pada ramdomized with
pasien hipertensi control group pretest
usia pertengahan postest.populasi
di Desa Balung penelitian ini berjumlah
Lor, Kecamatan 72 orang dengan tehnik
Balung pengambilan
Kabupaten sampelsimple ramdom
Jember sampling
Sudiarto Pengaruh Terapi Jenis penelitian ini terhadap lansia dengan Jks.fikes.uns
(2007) Relaksasi adalah Pre Eksperiment hipertensi terdapat oed.ac.id
Meditasi Design tanpa kelompok perbedaan signifikan
Terhadap kontrol dengan perubahan tekanan darah
Penurunan menggunakan sistolik dan diastolik pre-
Tekanan Darah pendekatan One Group test dan posttest terapi
Pretest-Posttest dengan meditasi. Subjek dalam
30 responden yang penelitian ini terdiri dari
dipilih dengan purposiv 30 responden. Hasil
sampling penelitian yang
dilakukan oleh peneliti
memperlihatkan bahwa
terapi meditasi
merupakan bagian dari
tindakan non
farmakologis yang dapat
menurunkan tekanan
darah. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa
terjadi pengaruh terapi
meditasi pada lansia yang
mengalami hipertensi
terhadap perubahan
tekanan darah.
Harmilah, Penurunan stres Penelitian kuasi Hasil penelitian dengan Jki.ui.ac.id
2011 fisik dan eksperimen dengan uji T menunjukan
psikososial melalui kontrol dan sampel 22 penurunan rerata stres
meditasi pada untuk masing masing fisik dan psikososial
lansia dengan kelompok melalui meditasi pada
hipertensi primer kelompok intervensi
lebih banyak di banding
kelompok kontrol.
Meditasi dapat
menurunkan stres fisik
dan psikososial melalui
meditasi pada lansia
dengan hipertensi primer
secara signifikan
Mrs. Devi A Study to Assess A pre-experimental Data analysis include https://pdfs.se
.S1 & Dr. L the Effect and ―one group pre test- description of subjective manticscolar.
N Samaga Experience of post test design‖ was complaints, paired t-test org
MD, DNB Transcendental adopted, involving 60 was carried out against
(MED),2015 Meditation on patients through the null hypothesis that
at Hypertension purposive sampling SBP and DBP before and
Mangalore, Patients Attending after meditation
Karnataka Medical OPD remained the same.
Average systolic blood
pressure before and after
meditation was 141.66
and 136.30 mmHg
respectively. This
decrease is statistically
significant (p<0.0001).
Average diastolic blood
pressure before and after
meditation was 84.84 and
79.86 mmHg
respectively, the
difference is statistically
significant (p<0.0001)
Carly,USA Current Penelitian kuasi Meditation techniques www.ncbi.nl
2012 perspectives on the eksperimen dengan appear to produce small m.nih.govCar
use of meditation to kontrol yet meaningfull ly
reduce blood reduction in blood
pressure pressure either ats
monotheraphy or in
conjunction with
traditional
pharmacotherapy

3.2 Pembahasan

Artikel ini dipublikasikan oleh Jurnal Ipteks Terapan, peneliti Weddy

Martin,2016 berasal dari bukittinggi, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

pengaruh meditasi untuk tekanan darah pada lansia menderita hipertensi.

Penelitian menggunakan studi pra-eksperiment dengan one group pretest-posttest

desain dengan 20 responden yang dipilih secara purposive sampling . Hasil


penelitian menunjukkan bahwa tekanan darah sistolik pada uji statistik

menunjukkan bahwa p = 0,000 (p> 0,05) artinya bahwa Ha diterima atau tekanan

darah sistolik antara sebelum dan sesudah terapi meditasi adanya pengaruh secara

signifikan. Bahwa tekanan darah diastolik pada uji statistik menunjukkan bahwa p

= 0,001 (p> 0,05) yang berarti bahwa Ha diterima atau tekanan darah sistolik

antara sebelum dan sesudah terapi meditasi adanya pengaruh secara signifikan.

Hasil penelitian dengan jumlah sampel 20 orang lansia yang mengalami

hipertensi hasil analisis didapatkan rata-rata tekanan darah sistolik setelah

dilakukan terapi meditasi adalah 140,75 mmHg dengan standar deviasi 4.940.

Rata-rata tekanan darah diastolik sebelum dilakukan terapi meditasi adalah 86,75

mmHg dengan standar deviasi 5,447. Berdasarkan hasil didapatkan penurunan

tekanan darah pada lansia setelah diberikan terapi meditasi. Terlihat responden

yang mengalami hipertensi sulit untuk melakukan aktivitas dengan baik

mengatakan biasanya saat mengalami hipertensi nmereka membutuhkan terapi

farmakologi dan ada juga terapi non farmakologi yaitu obat penurun tekanan

darah, obat sakit kepala, rebusan daun sirsak dan sebagainya.

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa tekanan darah sistolik sebelum

dilakukan terapi meditasi adalah 148,25 mmHg. Sesudah dilakukan terapi

meditasi didapat rata-rata tekanan darah sistolik 140,75 mmHg. Dari hasil sistolik

sebelum dan sesudah dilakukan terapi meditasi didapatkan PValue 0,000. Hasil uji

statistik diperoleh nilai p ≤ 0,05 artinya terdapat pengaruh terapi meditasi terhadap

perubahan tekanan darah pada lansia yang mengalami hipertensi.


Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat dilihat distribusi responden

berdasarkan hasil pengamatan terhadap nilai pre-test dan post-test tekanan darah

lansia yang mengalami hipertensi menunjukan bahwa 20 responden yang

melakukan terapi meditasi terdapat perubahan tekanan darah. Responden tampak

menikmati terapi meditasi yang dilakukannya itu, responden tidak mengeluh

setelah dilakukan terapi meditasi dan responden mengatakan rileks serta segar

setelah melakukan terapi meditasi tersebut. Respon tubuh terhadap pengelolahan

nafas dan manajemen pikiran yang berlandaskan spiritual dapat mengurangi

respon stres tubuh, kerja kelenjar adrenal menurun sehingga terjadi pengurangan

kortisol yang mengakibatkan konstruksi pembuluh darah berkurang. Konstruksi

dan dilatasi pembuluh darah juga diatur saaf simpatis dan parasimpatis.

Penelitian ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Sudiarto (2007)

terhadap lansia dengan hipertensi terdapat perbedaan signifikan perubahan

tekanan darah sistolik dan diastolik pre-test dan posttest terapi meditasi. Subjek

dalam penelitian ini terdiri dari 30 responden. Hasil penelitian yang dilakukan

oleh peneliti memperlihatkan bahwa terapi meditasi merupakan bagian dari

tindakan non farmakologis yang dapat menurunkan tekanan darah. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa terjadi pengaruh terapi meditasi pada lansia

yang mengalami hipertensi terhadap perubahan tekanan darah. Dalam berbagai

penelitian juga di tegaskan bahwa Terapi non farmakologis dapat digunakan

sebagai pelengkap untuk mendapatkan efek pengobatan farmakologis (obat anti

hipertensi) yang lebih baik (Dalimartha, 2008).


Menrut Brunner & Suddarth, 2002 membuktikan bahwa penatalaksanaan

nonfarmakologis merupakan intervensi yang baik dilakukan pada setiap

pengobatan hipertensi .Terapi nonfarmakologis terbukti dapat mengontrol dan

mempertahankan tekanan darah agar tidak semakin meningkat (Flora et al., 2012).

Pada dasarnya pemberian terapi meditasi ini dapat memberikan kondisi yang

rileks dimana pada kondisi rileks semua system tubuh akan bekerja dengan baik

dan pada kondisi ini hipotalamus akan meyesuaikan dan terjadinya

penurunanaktifitas sistem saraf simpatis dan menigkatkan aktifitas sistem

parasimpatis. Urutan efek fisiologis dan gejala maupun tandanya akan terputus

dan stres psikologis akan berkurang. Teknik relaksasi otot, relaksasi dengan

imajinasi terbimbing dan respon relaksasi dari Benson Hasil penetilian ini sesuai

dengan teori yang mengatakan bahwa terapi meditasi adalah salah satu metode

untuk membantu menurunkan tekanan darah.

Penurunan tekanan darah disebabkan karena relaksasi meditasi pada

prinsipnya adalah memposisikan tubuh dalam kondisi tenang, sehingga akan

mengalami kondisi keseimbangan, dengan demikian relaksasi meditasi yang

berintikan pada pernafasan akan mengingkatkan sirkulasi oksigen ke otot-otot,

sehingga otot-otot akan mengendur, tekanan darah akan menurun. Relaksasi dapat

menurunkan tekanan sistolik lebih dari 20 mmHg sedangkan tekanan darah

diastolik antara 10 sampai 15 mmHg.

2.1 Implikasi Keperawatan

Terapi ini dapat dijadikan alternative pengganti dalam pemberian intervensi

keperawatan .
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Penurunan tekanan darah disebabkan karena relaksasi meditasi pada

prinsipnya adalah memposisikan tubuh dalam kondisi tenang, sehingga akan

mengalami kondisi keseimbangan, dengan demikian relaksasi meditasi yang

berintikan pada pernafasan akan mengingkatkan sirkulasi oksigen ke otot-otot,

sehingga otot-otot akan mengendur, tekanan darah akan menurun. Relaksasi dapat

menurunkan tekanan darah.

4.1 Saran

a. Bagi Perawat
Diharapkan analisis jurnal ini khususnya bagi perawat dapat melakukan

terapi meditasi dan pemberian tindakan keperawatan pada lansia yang mengalami

hipertensi.

b. Bagi Fasyankes

Untuk petugas kesehatan dapat melakukan mempertimbangkan hasil dari

penelitian ini seperti puskesmas seharusnya perlu melakukan terapi meditasi ini

khususnya untuk wilayah yang belum banyak mengetahui tentang terapi meditasi

DAFTAR PUSTAKA

Boedhi, Darmojo, R. (2011).Buku Ajar Geriatic (Ilmu Kesehatan Lanjut Usia)


edisi ke – 4. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Brunner & Suddarth. 2000. Keperawatan Medikal Medah Edisi Ke-8. Jakarta:
EGC
Darmojo, R. Boedhi dan H. Hadi Martono. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan
Usia Lanjut) Ed. 3. Jakarta : FKUI. 2004.
Dinas Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Riset Kesehatan Dasar 2013. Riset
Kesahatan Dasar, 111–116. http://doi.org/1 Desember 2013.

Flora, R., Purwanto, S., Program, D., Ilmu, S., Fakultas, K., & Sriwijaya, U.
(2012). PENATALAKSANAAN NON FARMAKOLOGIS TERAPI PADA
PENDERITA HIPERTENSI PRIMER DI, 124–131.

Fuad, M. N. (2012). Pengaruh meditasi Garuda terhadap tekanan darah dan gejala
hipertensi pada pasien hipertensi usia pertengahan di Desa Balung Lor,
Kecamatan Balung Kabupaten Jember.

Indonesia, P. R. (1992). Undang Undang No . 23 Tahun 1992 Tentang :


Kesehatan. Undang Undang No. 23 Tahun 1992 Tentang : Kesehatan, (23),
1–31.

Paat, I. G. O., Ratag, B. T., Kepel, B. J., Kesehatan, F., Universitas, M.,
Ratulangi, S., … Manado, R. (2014). HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI
ALKOHOL DAN STATUS MEROKOK DENGAN KEJADIAN
HIPERTENSI.

Sudiarto. (2007). PENGARUH TERAPI RELAKSASI MEDITASI TERHADAP


PENURUNAN TEKANAN DARAH. Prevention (Vol. 2).