Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH MANAJEMEN

PERAWATAN DAN PERBAIKAN PADA


GENERATOR FUNGSI

Disusun Oleh:
Fadhlur Rohman (1631110026)
Febrian Fayi’ Fanani (1631110048)
Hermalia (1631110114)
Nawal Istiqlal Agustian (1631110108)

Teknik Elektronika Progam Studi D-III Teknik Elektronika


Politeknik Negeri Malang
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas segala
limpahan Rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
Generator Fungsi. Makalah Generator Fungsi ini selesai karena berbagai pihak
yang telah memberi kami pengetahuan,maka kami akan tahu dan memahami
walaupun sedikit tentang Generator Fungsi.
kami menyadari laporan Generator Fungsi ini banyak terdapat kekurangan
didalamnya. Untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan yang akan datang.

Malang, 30 juni 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................ i
DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
I.I Latar Belakang........................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................................. 2
1.3 Manfaat .................................................................................................................... 2
1.4 Tujuan...................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 3
2.1 Pengertian Generator Fungsi ................................................................................ 3
2.2 Kegunaan Generator Fungsi ................................................................................. 4
2.3 Kesalahan yang terjadi pada generator fungsi yaitu.......................................... 6
2.4 Menentukan kerusakan yang terjadi pada generator fungsi ............................. 8
A. Gejala : Tidak ada sinyal keluaran ........................................................... 8
B. Gejala : cacat pada gelombang atas sinyal keluaran ................................ 8
C. Gejala : cacat pada gelombang bawah sinyal keluaran ............................ 9
D. Gejala : cacat pada gelombang atas dan bawah sinyal keluaran ............ 10
E. Gejala : Amplitudo sinyal keluaran tidak sesuai .................................... 10
F. Gejala : Frekuensi rangkaian keluaran tidak sesuai ............................... 12
2.5 Perawatan Generator Fungsi .............................................................................. 12
BAB III PENUTUP ............................................................................................. 13
3.1 KESIMPULAN .................................................................................................... 13
3.2 SARAN ................................................................................................................. 13
3.3 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang


Listrik seperti yang kami ketahui adalah bentuk energi sekunder yang
paling praktis penggunaannya oleh manusia, dimana listrik dihasilkan dari
proses konversi energi sumber energi primer seperti batu bara, minyak bumi,
gas, panas bumi, potensial air dan energi angin.
Sistem pembangkitan listrik yang sudah umum digunakan adalah mesin
generator tegangan AC, di mana penggerak utamanya bisa berjenis mesin turbin,
mesin diesel atau mesin baling-baling. Dalam pengoperasian pembangkit listrik
dengan generator, karena faktor keandalan dan fluktuasi jumlah beban, maka
disediakan dua atau lebih generator yang dioperasikan dengan tugas terus-
menerus, cadangan dan bergiliran untuk generator-generator tersebut.
Penyediaan generator tunggal untuk pengoperasian terus menerus adalah
suatu hal yang riskan, kecuali bila bergilir dengan sumber PLN atau peralatan
UPS. Untuk memenuhi peningkatan beban listrik maka generator-generator
tersebut dioperasikan secara paralel antar generator atau paralel generator
dengan sumber pasokan lain yang lebih besar misalnya dari PLN. Sehingga
diperlukan pula alat pembagi beban listrik untuk mencegah adanya sumber
tenaga listrik terutama generator yang bekerja paralel mengalami beban lebih
mendahului yang lainnya.
Dalam pengoperasian Generator untuk menghasilkan listrik secara terus
menerus, secara tidak langsung akan menurunkan kekuatan maupun kuwalitas
dari Generator itu sendiri. Maka dari itu sangat diperlukan control maupun
perbaikan agar Generator tersebut masih bisa bekerja secara optimal seiring
berjalnnya waktu. Salah satu instrument dari perbaiakan Generator adalah
Generator fungsi, Generator fungsi itu sendiri adalah alat ukur elektronik yang
menghasilkan, atau membangkitkan gelombang berbentuk sinus, segitiga, kotak
dan gergaji.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu Generator Fungsi?
2. Apa saja kegunaan dari generator fungsi.
3. Apa saja fungsi dari panel panel Generator fungsi.
4. Bagaimana sistem kerja Generator fungsi.
5. Apa saja kerusakan yang terjadi pada generator fungsi
6. Bagaimana perawatan dan perbaikan pada generator fungsi.

1.3 Manfaat
Manfaat yang diharapkan setelah membaca makalah ini antara lain :
1. Menambah wawasan tentang Manajemen Perawatan dan Perbaikan
pada Generator fungsi.
2. Memudahkan pembaca dalam mencari informasi tentang Manajemen
Perawatan dan Perbaikan pada Generator fungsi.

1.4 Tujuan
 Dapat memahami dan mengetahui apa itu Generator fungsi.
 Dapat mengetahui fungsi dari panel-panel pada Generator fungsi.
 Mengetahui sistem kerja dari Generator Fungsi.
 Dapat mengetahui kesalahan dan kerusakan yang terjadi pada Generator
fungi.
 Dapat mengetahui cara perawatan pada Generator Fungsi.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Generator Fungsi


Function Generator adalah alat ukur elektronik yang menghasilkan, atau
membangkitkan gelombang berbentuk sinus, segitiga, kotak dan gergaji.
Function generator terdiri dari generator utama dan generator modulasi.
Generator Utama menyediakan gelombang output sinus, kotak, atau
gelombang segitiga dengan rangkuman frekwensi 0,01 Hz sampai 13 MHz.
Generator modulasi menghasilkan bentuk gelombang sinus, kotak, dan
segitiga dengan rangkuman frekwensi 0,01Hz sampai 10 kHz. Generator sinyal
input dapat digunakan sebagai Amplitudo Modulation (AM) atau Frequensi
Modulation (FM). Selubung (envelope) AM dapat diatur dari 0% sampai
100%; FM dapat diatur frekwensi pembawanya hingga ±5%. Function
Generator umumnya menghasilkan frekuensi pada kisaran 0,5 Hz sampai 20
Mhz atau lebih tergantung rancangan pabrik pembuatnya. Frekuensi yang
dihasilkan dapat dipilih dengan memutar-mutar tombol batas ukur frekuensi
(frequency range).
Amplitudo sinyal yang dapat diatur berkisar antara 0,1V – 20 Vp-p
(tegangan puncak ke puncak) kondisi tanpa beban, dan 0,1 V – 10Vp-p (Volt
peak topeak/tegangan puncak ke puncak) dengan beban sebesar 50Ω. Output
utama ditetapkan oleh SYNC Output. Memperlihatkan salah satu bentuk
Function Generator yang dimaksud.Generator fungsi (function generator) juga
memiliki pengertian sebuah instrumen terandalkan yang memberikan suatu
pilihan beberapa bentuk gelombang yang frekwensi-frekwensinya diatur
sepanjang rangkuman (range) yang lebar. Bentuk-bentuk yang lazim digunakan
adalah sinusoida, segitiga, persegi, dan gigi gergaji. Frekuensi bentuk - bentuk
gelombang ini dapat bisa diatur dari sati hertz sampai beberapa ratus kilokertz
(kHz) bahkan sampai megahertz (MHz).

3
Generator fungsi ( function generator ) merupakan sebuah instrumen
terandalkan yang memberikan suatu pilihan bentuk gelombang yang berbeda
yang frekuensi-frekuensi-nya dapat diatur sepanjang suatu rangkuman yang
lebar. Bentuk-beuntuk gelombang keluaran yang paling lazim adalah : sinus,
segitiga, persegi, dan gigi gergaji. Frekuensi bentuk-bentuk gelombang tersebut
diatas dapat diatur dari bilangan pecahan satu hertz sampai beberapa ratus
kilohertz.

2.2 Kegunaan Generator Fungsi

Adapun kegunaan dari generator fungsi :


1. Sebagai pembangkit gelombang.
2. Sebagai sumber tegangan atau arus AC untuk percobaan rangkaian
penguatan transistor.

Berikit ini merupakan gambar dari panel panel generator fungsi.

Gambar 1
Dari gambar di atas generator fungsi tersebut memiliki beberapa panel dari
panel tersebut masing masing memiliki fungsi tersendiri Antara lain :
1. Range merupakan pemilihan range kelipatan frekuensi
2. Funtion merupakan pemilihan bentuk gelombang

4
3. ATT -20dB merupakan pengatur dB (attenuator/pelemahan) tegangan
output
4. Power merupakan saklar push yang berfungsi untuk menghidupkan dan
mematikan generator fungsi
5. Frequency adalah variable oengatur frekuensi
6. TTL CMOUS OUTPUT terminal output untuk TTL
7. Duty pengaturan untuk siklus kerja
8. CMOS variable untuk mengatur tegangan CMOS 5V – 15V
9. Offset pengaturan posisi tegangan output untuk tegangan DC
10. AMPL pengatur tinggi rendahnya tegangan output
11. OUTPUT 50 Ohm terminal untuk tegangan output yang memiliki hambatan
dalam 50 Ohm
12. Display tampilan dari pengaturan variable frekuensi

Generator fungsi pada dasarnya merupakan rangkaian osilator , berikut ini


adalah rangkaian dasar pada generator fungsi.

Gambar 2

5
Rangkaian tersebut merupakan rangkaian generator fungsi , namun pada
umumnya generator fungsi terdiri dari rangkaian berikut ini.

Gambar 3

Dari rangkaian umum di atas kita dapat mengetahui bagaimana


pembangkitan bentuk sinyal generator fungsi . Pada titik A merupakan titik
pengukuran pada flip-flop yang membangkitkan gelombang kotak sesua dengan
sifat keluaran digital flip-flop . Pada titik pengukuran B merupakan titik pengukuran
dari integrator dan sinyal yang keluar merupakan sinyal berbentuk gergaji yang
disebabkan oleh pengisian dan pengosongan capasitor dari gelombang input kotak
. Titik pengukuran C merupakan titk pengukuran gelombang sinus yang terukur
dalam gelombang sinus yang disebabkan pemotongan gelombang gergaji oleh
dioda pada rangkaian tersebut .

2.3 Kesalahan yang terjadi pada generator fungsi yaitu

1. Frekuensi sinyal keluaran tidak ada


2. Bentuk sinyal keluaran cacat
3. Frekuensi keluaran tidak sesuai

Ada 2 metode dalam pelacakan kesalahan ini yaitu metode statis dan dinamis ,
metode statis yaitu pengecekan sambungan pada generator fungsi menggunakan

6
multimeter dengan kondisi tidak ada tegangan , metode dinamis yaitu pengecekan
dengan adanya tegangan sumber alat ukur yang digunakan yaitu multimeter dan
CRO.
Melakukan pelacakan kesalahan pada generator fungsi , bila kesalahan yang
terjadi sudah diidentifikasi maka lakukan langkah-langkah berikut :
1. Periksa kembali sambungan dari output GF ke alat ukur
2. Lakukan pengukuran keluaran pada tiap tiap titik pengukuran seperti
ilustrasi pada lembar informasi secara berurutan dari titik engukuran paling
belakang (titik “C”)
3. Jika sinyal keluaran pada titik “C” sesuai, maka bisa dipastikan bahwa
kesalahan terjadi pada sambungan dengan alat ukur Jika sinyal keluaran
pada titik “C” tidak sesuai, maka kemungkina kesalahan/kerusakan terjadi
pada rangkaian pembentuk gelombang sinus dan rangkaian lain didepannya.
4. Untuk lebih pastinya, lanjutkan pengukuran pada titik selanjutnya (titik
“B”) Bila sinyal keluaran pada titik “B” baik, maka kesalahan terjadi pada
rangkaian pembentuk gelombang sinus. Tapi bila hasil pengukuran tidak
sesuai lakukan lagi pengukuran pada titik berikutnya.
5. Lakukan seterusnya sampai diperoleh bagian yang mengalami
kesalahan/kerusakan Pelacakan kesalahan ini dilakukan dengan maksud
mempersempit daerah kerusakan.

Pendeteksian kesalahan dilakukan pada blok/bagian yang sudah dipastikan


mengalami kesalahan/kerusakan sesuai dengan hasil pada langkah diatas.
1. Periksa keadaan sambungan/sirkuit pada blok yang bersangkutan
2. Lakukan pengukuran/pemerikasaan pada komponen aktif misalnya
transistor dan lain lain
3. Lakukan pengukuran/pemerikasaan pada kompnen pasif Pengukuran yang
dimaksud meliputi pengukuran statis dan pengukuran dinamis.

7
2.4 Menentukan kerusakan yang terjadi pada generator fungsi

A. Gejala : Tidak ada sinyal keluaran


1. Bila lampu indicator tidak menyala, lakukan pengecekan pada fuse
(sekering).
2. Bila lampu indicator nyala tapi tidak ada sinyal keluaran, lakukan
pemeriksaan blok- blok rangkaian pada power supply seperti rangkaian
filter dan transistor-transistor.
3. Bila ada tegangan keluaran pada power supply tetapi tidak bisa diatur,
lakukan pemerikasaan pada IC-IC yang ada pada rangkaian Power
supply.
4. Lakukan pengukuran pada titik ukur “C”. Bila ada sinyal yang terukur,
periksa apakah R seri pada masukkan rangkaian Attenuator dalam
keadaan open circuit.
5. Bila tidak ada sinyal yang terukur pada titik ukur “C”, lakukan
pengukuran pada titik ukur “B”. Jika ada sinyal yang terukur,periksa
apakah R seri pada masukan rangkaian Sinusoidal Wave Synthesizer
dalam keadaan open circuit.
6. Bila tidak ada sinyal yang terukur pada titik ukur “B”, lakukan
pengukuran pada titik ukur “A”. Jika ada sinyal yang terukur, periksa
apakah R seri pada masukan rangkaian Integrator dalam keadaan open
circuit.
7. Bila tidak ada sinyal yang terukur pada titik ukur “A”, lakukan
pengukuran pada input rangkaian flip-flop. Jika ada sinyal yang terukur,
periksa apakah ada komponen pada masukan rangkaian dalam keadaan
open circuit. Bila tidak ada sinyal yang terukur berarti kerusakan
terdapat pada power supply.

B. Gejala : cacat pada gelombang atas sinyal keluaran


1. Ukur sinyal keluaran pada titik ukur “C” dengan CRO !Bila sinyal yang
terukur tidak cacat, berarti kesalahan terjadi pada rangkaian attenuator

8
2. Periksa transistor-transistor dan resistor bagian atas rangkaian attenuator
karena kemungkinan ada komponen yang mengalami open/short circuit
!
3. Bila sinyal keluaran yang terukur pada titik ukur “C” cacat, lanjutkan
pengukuran pada titik ukur “B” , Bila sinyal yang terukur tidak cacat
berarti kesalahan terjadi pada rangkaian Sinusoidal Wave Synthesizer.
4. Periksa apakah ada Transistor-transistor, dioda-dioda pemotong,
resistor dan transistor stabilizer pada bagian atas rangkaian Sinusoidal
Wave Synthesizer yang mengalami open/short circuit !
5. Bila sinyal keluaran yang terukur pada titik ukur “B” cacat, lanjutkan
pengukuran pada titik ukur “A” , Bila sinyal yang terukur tidak cacat
berarti kesalahan terjadi pada rangkaian Integrator.
6. Periksa apakah ada Transistor atau komponen komponen lain pada
bagian atas rangkaian Integrator yang mengalami open/short circuit ,
Bila sinyal keluaran yang terukur pada titik ukur “A”
cacat,kemungkinan kerusakan terjadi pada rangkaian diferensiator atau
power supply.

C. Gejala : cacat pada gelombang bawah sinyal keluaran


1. Ukur sinyal keluaran pada titik ukur “C” dengan CRO , Bila sinyal yang
terukur tidak cacat, berarti kesalahan terjadi pada rangkaian attenuator.
2. Periksa transistor-transistor dan resistor bagian bawah attenuator karena
kemungkinan ada komponen yang mengalami open/short circuit
3. Bila sinyal keluaran yang terukur pada titik ukur “C” cacat, lanjutkan
pengukuran pada titik ukur “B” Bila sinyal yang terukur tidak cacat
berarti kesalahan terjadi pada rangkaian Sinusoidal Wave Synthesizer.
4. Periksa apakah ada Transistor-transistor, dioda-dioda pemotong,
resistor dan transistor stabilizer pada bagian bawah rangkaian
Sinusoidal Wave Synthesizer yang mengalami open/short circuit !
5. Bila sinyal keluaran yang terukur pada titik ukur “B” cacat, lanjutkan
pengukuran pada titik ukur “A” Bila sinyal yang terukur tidak cacat
berarti kesalahan terjadi pada rangkaian Integrator.

9
6. Periksa apakah ada Transistor atau komponen komponen lain pada
bagian bawah rangkaian Integrator yang mengalami open/short circuit
Bila sinyal keluaran yang terukur pada titik ukur “A” cacat,
kemungkinan kerusakan terjadi pada rangkaian diferensiator atau power
supply.

D. Gejala : cacat pada gelombang atas dan bawah sinyal keluaran


1. Ukur sinyal keluaran pada titik ukur “C” dengan CRO ! Bila sinyal yang
terukur tidak cacat, berarti kesalahan terjadi pada rangkaian attenuator.
2. Periksa transistor-transistor dan resistor bagian atas dan bawah
attenuator karena kemungkinan ada komponen yang mengalami
open/short circuit.
3. Bila sinyal keluaran yang terukur pada titik ukur “C” cacat, lanjutkan
pengukuran pada titik ukur “B” Bila sinyal yang terukur tidak cacat
berarti kesalahan terjadi pada rangkaian Sinusoidal Wave Synthesizer.
4. Periksa apakah ada Transistor-transistor,dioda-dioda pemotong, resistor
dan transistor stabilizer pada bagian atas dan bawah rangkaian
Sinusoidal Wave Synthesizer yang mengalami open/short circuit.
5. Bila sinyal keluaran yang terukur pada titik ukur “B” cacat, lanjutkan
pengukuran pada titik ukur “A” Bila sinyal yang terukur tidak cacat
berarti kesalahan terjadi pada rangkaian Integrator.
6. Periksa apakah ada Transistor atau komponen komponen lain pada
bagian atas dan bawah rangkaian Integrator yang mengalami open/short
circuit.
7. Bila sinyal keluaran yang terukur pada titik ukur “a” cacat,
kemungkinan kerusakan terjadi pada rangkaian diferensiator atau power
supply.

E. Gejala : Amplitudo sinyal keluaran tidak sesuai


1. Lakukan pengukuran nilai kapasitor (C) dan resistor ( R ) pada
rangkaian pengatur range. Bila ada nilai komponen mengalami

10
pergeseran diatas 1% lakukan penggantian dengan komponen dengan
nilai yang sesuai.
2. Lakukan pengukuran pada titik ukur “C” Bila sinyal yang terukur
memiliki amplitude yang sesuai, berarti kesalahan terjadi pada
rangkaian attenuator.
3. Lakukan pemeriksaan pada transistor dan rangkaian pembatas (R + D)
pada rangkaian attenuator baik atas maupun bawah.
4. Bila sinyal yang terukur pada titik ukur “c” memiliki amplitude yang
tidak sesuai, lakukan pengukuran pada titik ukur “B” , Bila sinyal yang
terukur memiliki amplitude yang sesuai, berarti kesalahan terjadi pada
rangkaian Sinusoidal Wave Synthesizer.
5. Lakukan pemeriksaan pada transistor dan rangkaian pembatas (R + D)
pada rangkaian Sinusoidal Wave Synthesizer baik atas maupun bawah
6. Bila sinyal yang terukur pada titik ukur “b” memiliki amplitude yang
tidak sesuai, lakukan pengukuran pada titik ukur “A” Bila sinyal yang
terukur memiliki amplitude yang sesuai, berarti kesalahan terjadi pada
rangkaian Integrator.
7. Lakukan pemeriksaan pada transistor dan rangkaian pembatas (R + D)
pada rangkaian integrator baik atas maupun bawah
8. Bila sinyal yang terukur pada titik ukur “A” memiliki amplitude yang
tidak sesuai, lakukan pengukuran pada masukan rangkaian flip-flop ,
Bila sinyal yang terukur memiliki amplitude yang sesuai, berarti
kesalahan terjadi pada rangkaian flip-flop.
9. Lakukan pemeriksaan pada rangkaian pembatas (R // D) pada rangkaian
Flip Flop baik atas maupun bawah.
10. Bila semua komponen pada blok-blok rangkaian di atas dalam keadaan
baik tapi sinyal keluaran masih mengalami cacat pada kedua bagian
periksa rangkaian pembatas tegangan (R + D) pada rangkaian power
supply.

11
F. Gejala : Frekuensi rangkaian keluaran tidak sesuai
1. Lakukan pengukuran nilai kapasitor (C) dan resistor ( R ) pada
rangkaian pengatur range !
2. Bila ada nilai komponen mengalami pergeseran diatas 1% lakukan
penggantian dengan komponen dengan nilai yang sesuai.
3. Lakukan pengukuran pada tiap tiap titik ukur secara berurutan dari titik
ukur paling belakang.
4. Temukan wilayah kerusakan lalu periksa nilai tiap tiap kapasitor (C) dan
resistor (R) pada wilayah kerusakan karena komponen yang banyak
berpengaruh terhadap rekuensi adalah kapasitor dan resistor dimana :
T = R x C dan Frekuensi (f) =1/T

2.5 Perawatan Generator Fungsi


Agar dalam penggunaan generator fungsi tidak merusak peralatan ada
beberapa tips supaya tetap tahan lama.

1. Setelah alat selesai digunakan matikanlah jangan dibiarkan menyala.


2. Untuk kabelnya gulunglah dengan rapi.
3. Simpanlah Generator fungsi
4. Gunakan kain yang bersih, bebas serat, antistatik ditempat kering untuk
menghindari berkaratnya bagian dalam generator fungsi , dan Hindarkan
dari tempat – tempat yang berdebu.dan kering untuk membersihkan
perangkat. Jangan menggunakan bahan kimia atau detergen abrasif atau
bahan kimia yang mengandung pelarut.
5. Gunakan kain pembersih yang lembut, bersih dan bebas serat, anti-statis dan
sedikit lembab untuk membersihkan display.
6. Matikan generator fungsi sebelum pembersihan dan lepaskan semua kabel
atau perangkat yang tersambng.

12
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
1. Generator Fungsi adalah alat ukur elektronik yang menghasilkan, atau
membangkitkan gelombang berbentuk sinus, segitiga, kotak dan gergaji.
2. Generator fungsi ( function generator ) merupakan sebuah instrumen
terandalkan yang memberikan suatu pilihan bentuk gelombang yang
berbeda yang frekuensi-frekuensi-nya dapat diatur sepanjang suatu
rangkuman yang lebar.
3. Generator Fungsi terdiri dari generator utama dan generator modulasi.
Generator Utama menyediakan gelombang output sinus, kotak, atau
gelombang segitiga dengan rangkuman frekwensi 0,01 Hz sampai 13
MHz. Generator modulasi menghasilkan bentuk gelombang sinus, kotak,
dan segitiga dengan rangkuman frekwensi 0,01Hz sampai 10 kHz.
4. Generator Fungsi digunakan sebagai pembangkit gelombang dan sebagai
sumber tegangan atau arus AC untuk percobaan rangkaian penguatan
transistor.
5. Perawatan dan perbaikan generator fungsi sangat penting untuk menjaga
kondisiya agar tetap dapat difungsikan secara optimal.

3.2 SARAN
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya
penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan makalah diatas dengan
sumber- sumber yang lebih banyak lagi, dan tentunya dapat dipertanggung
jawabkan.

13
3.3 DAFTAR PUSTAKA

1. Lab Sheet Alat Ukur dan Pengukuran Listrik, FPTK IKIP Yogyakarta.
2. William David Cooper, diterjemahkan oleh Ir. Sahat Pakpahan,
Instrumentasi Elektronik dan Teknik Pengukuran, Edisi Ke-2, Erlangga,
1985, Jakarta.
3. listrikwiber.files.wordpress.com/2008/09/sampul.pdf (diakses pada 30 juni
2018)
4. https://id.wikipedia.org/wiki/Generator_fungsi

14