Anda di halaman 1dari 13

RMK SAP 7

KOPERASI DAN UMKM


“Badan Usaha Berbentuk Koperasi”

OLEH:

KELOMPOK VII

Ni Komang Purwanita Wisuandari 1406305095


Ni Made Muliastari Rahayu 1406305098
Vinsensa M. S. Gero 1406305103

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
REGULER
2017
A. Masalah-Masalah Usaha dengan Non Koperasi
Masalah yang dihadapi di dalam dunia usaha dan dialami oleh pengusaha
menengah umumnya dan golongan ekonomi lemah pada khususnya berkisar pada masalah
permodalan, kemampuan dan ketrampilan beroperasi serta management, bentuk perusahaan
dan terbatasnya pasaran.
Masalah permodalan yang dihadapi pengusaha dalam negeri khususnya golongan
ekonomi lemah mencakup aspek sumber permodalan, masalah pembiayaan usaha, dan masalah
pengerahan modal. Permodalan dan pembiayaan usaha dapat diperoleh dari beberapa sumber,
antara lain:
1. Modal sendiri dari pemilik saham atau pemilik perusahaan,
2. Modal sendiri berupa bagian laba yang ditanam kembali,
3. Kredit investasi dari bank, dan
4. Pinjaman dari pihak ketiga yang dapat diperoleh dengan mengeluarkan surat-surat berharga,
dari dalam maupun luar negeri.
Keempat sumber tersebut memang dapat dimanfaatkan oleh dunia usaha untuk
meningkatkan kegiatannya, namun bagi pengusaha golongan ekonomi lemah dirasa sulit
untuk memenuhi persyaratan yang diperlukan. Hal ini disebabkan karena perusahaan
golongan ekonomi lemah umumnya adalah perusahaan perorangan atau perusahaan tertutup.
Masalah kekurangan keahlian, ketrampilan dan pengalaman mengurus dan memimpin
perusahaan merupakan masalah kedua yang dihadapi pengusaha swasta nasional umumnya dan
pengusaha pribumi khususnya. Pada umumnya timbulnya masalah tersebut berhubungan
dengan pemilikan perusahaan oleh perorangan atau kelompok keluarga sehingga
kemampuan mereka dalam mengelola perusahaannya sangat terbatas.
Demikian juga keterampilan dalam teknik produksi serta keahlian dalam
memasarkan hasil produksinya sangat terbatas pula. Kelangsungan hidup perusahaan umumnya
semata-mata berdasar pada pertimbangan-pertimbangan jangka pendek dan tradisionil serta hanya
berdasar pengalaman-pengalaman yang ada.
Letak masalahnya yang demikian ada pada struktur usaha yang pada dirinya mempunyai
kelemahan di bidang permodalan dan keahlian management dan teknis. Kecilnya perusahaan
serta cara beroperasi secara tertutup sangat menghambat usaha untuk memperbesar
perusahaan, termasuk membatasi kemampuan mobilisasi dana dan kemampuan meningkatkan

1 | Koperasi dan UMKM


pemasaran hasil produksinya. Volume usaha yang kurang efisien menyebabkan biaya usaha
rnenjadi tinggi.
Masalah pemasaran hasil produksi golongan ekonomi lemah berkisar pada hal-hal
sebagai berikut: terbatasnya pemasaran oleh karena terbatasnya modal dan sarana,
kekurangan pengetahuan para pengusaha mengenai prospek pemasaran, pola konsumsi
masyarakat dan pola ekspor, serta beratnya persaingan dari perusahaan-perusahaan besar
dalam dan luar negeri.

B. Alasan Menjadi Anggota Koperasi


Terdapat lima alasan utama seseorang atau sekelompok orang untuk mendirikan dan
bergabung dalam sebuah koperasi, yaitu:
1. Alasan Yuridis
Alasan yuridis adalah alasan yang bersumber pada hukum yang menjamin pendirian
koperasi dan pelaksanaan kegiatannya. Sebagai contoh: Indonesia telah menghasilkan
produk-produk hukum yang menjamin pendirian koperasi dan perlindungan pelaksanaan
operasionalnya, yaitu Undang-UdangDasar 1945. Pada alinea keempat dinyatakan secara
eksplisit salah satu tujuan dari berdirinya negara Indonesia adalah untuk “Memajukan
Kesejahteraan Umum”.
Pasal 33 ayat 1 menyatakan bahwa “perkonomian disusun sebagai usaha bersama
berdasarkan asas kekeluargaan” koperasi adalah salah satu dari tiga pelaku ekonomi di
Indonesia yang mencerminkan pasal tersebut karena koperasi adalah system ekonomi
mempunyai jiwa kekeluargaan. Selain itu koperasi sesuai dengan ekonomi yang diusung oleh
negara kita, yaitu demokrasi ekonomi.
Contoh produk hokum diatas adalah alasan yuridis yang ikut mendorong berdirinya
iklim berkoperasi. Yang dimaksud dengan iklim berkoperasi ialah keadaan dan syarat-syarat
yang mendorong dan memungkinkan orang-orang utuk besatu dan membuat perkumpulan
atau badan usaha koperasi. Secara hukum, pendirian koperasi di berbagai Negara karena
lembaga ini telah diatur dan dilindungi undang-undang. Walaupun tidak semua Negara
memiliki undang-undang yang spesifik, namun dipastikan bahwa setiap negara yang di
dalamnya memilki koperasi telah mengatur di dalam salah satu undang-undangnya yang
mengatur koperasi dengan segala hak dan kewajibannya.
2. Alasan Ekonomi

2 | Koperasi dan UMKM


Alasan ekonomi adalah alasan-alasan yang berdasarkan kemudahan-kemudahan
dalam pelaksanaanya dan secara ekonomis telah memberikan manfaat bagi orang-orang yang
bergabung dalam koperasi. Adapun alasannya adalah sebagai berikut:
a. Semakin besar usaha, biayanya lebih murah
Jika petani-petani kecil di pedesaan melakukan kegiatannya sendiri akan memerlukan
biaya lebih mahal dibandingkan bergabung dalam sebuah koperasi. Karena untuk ongkos
angkut dan biaya penunjang produksi harus dipikul sendiri. Lain hal nya jika petani-
petani kecil itu tergabung dalam badan usaha koperasi maka cost produksinya akan lebih
rendah. Biaya-biaya produksi yang bias ditanggung bersamama katakan membelinya atau
membayarnya bersama melalui koperasi seperti biaya angkut bahan pertanian, mesin
traktor dan distribusi pertanian. Selain itu petani juga memiliki daya tawar yang tinggi
karena harga ditentukan oleh koperasi bukan oleh individu yang saling bersaing
menurunkan harga supaya barangnya lekas terjual.
b. Berkoperasi memberikan atau meningkatkan pelayanan / jasa-jasa kepada anggota
Salah satu tujuan berkoperasi adalah memberikan atau meningkatkan pelayanan bersama
atau jasa-jasa untuk memenuhi kebutuhan anggota. Misalnya koperasi simpan pinjam.
Koperasi ini bertujuan membantu memberikan pinjaman kepada anggota dengan bunga
yang relatif rendah. Selain itu, koperasi simpan pinjam juga bertujuan untuk
menghapuskan praktik lintah darat yang secara perlahan membunuh pekonomian
masyarakat dengan bunga pinjaman yang tinggi. Koperasi simpan juga dapat
memberikan pelatihan mengatur keuangan supaya diguanakan untuk hal-hal yang lebih
produktif.
c. Berkoperasi memberikan kesempatan bagi orang-orang yang memiliki kemampuan
terbatas untuk bergabung dalam suatu badan usaha.
Untuk masuk badan usaha perseorangan atau firma seseorang harus memiliki modal yang
tidak sedikit. Berbeda dengan koperasi, orang yang memiliki jumlah uang sedikit bias
bergabung dalam sebuah badan usaha dan ikut terlibat didalamnya dalam menentukan
tujuan arah organisasi. Adapun caranya, yaitu cukup dengan menyetor simpanan pokok
dan simpanan wajib. Setelah ia bergabung ia memiliki hak dan kewajiban yang sama
dengan anggota lainnya.
3. Alasan Historis
Sejarah pendirian koperasi Rochdale di Inggris dan di daratan Eropa lainya sangat
sedikit banyak telah dipengaruhi oleh kondisi social ekonomi dan politik pada waktu itu.
Sejak zaman merkantilis kemudian dilanjukan dengan revolusi industri, telah menyebabkan

3 | Koperasi dan UMKM


semakin kokohnya dominasi kaum kapitalis dalam kegiatan perekonomian. Kaum kapitalis
telah berhasil merumuskan kebijakan-kebijakan perekonomian dan politik pemerintah.
Contoh kebijakan pada waktu itu adalah kebijakan perdagangan yang jelas-jelas
menguntukan para pemilik modal. Misalanya mengaktifkan perdagangan dengan
meningkatkan ekspor dan merintangi impor. Sehingga cadangan devisa semakin bertambah.
Selain itu sejarah mencatat terjadinya kolonialisme untuk mencari lahan eksploitasi mereka.
Dengan kokohnya kapitalisme, akhirnya berdampak buruk terhadap perekonomian
kaum buruh dan petani. Dengan alasan mencari laba yang besar kesejahteraan buruh tidak
diperhatikan, lahan-lahan pertanian diubah menjadi pabrik-pabrik besar. Pertani kehilangan
mata pencaharian dan terpaksa mereka bekerja dengan upah yang minim. Aliran sosialis yang
menentang kapitalisme bangkit. Mereka mendirikan koperasi sebagai alat perjuangan untuk
memperbaiki nasib masyarakat pada waktu itu. Koperasi telah dijadikan lambing perjuangan
ekonomi dan politik. Sejarah juga mencatat pada periode beriktunya koperasi menjadi
organisasi yang netral dari politik.
4. Alasan Sosiologis
Manusia dikenal sebagai makhluk sosial (Homo Sosial) dan makhluk ekonomi
(Homo Ekonomicus). Sebagai mahluk ekonomi manusia berusaha untuk memenuhi
kebutuhan sandang, pangan, dan papan mereka. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut,
manusia tidak bias memenuhinya sendiri karena sumber daya atau atau pemuas kebutuhan
tersebut langka, sedangkan manusia memiliki keterbatasan fisik dan non fisik untuk
mengeksplorasinya. Selaku makhluk, manusia tidak bisa hidup sendiri, manusia
membutuhkan orang lain dalam menjalani kehidupannya. Dorongan manusia itu untuk
mempertahankan diri, bergaul, ingin dihargai dan sebagainya menyebakan manusia selalu
bergaul dan berkumpul dengan sesamanya.
Kebutuhan ekonomi dan kebutuhan sosial, telah mendorong orang untuk bekerja
sama saling menutupi kelemahan masing-masing, manusia berjuang bersama-sama untuk
memperbaiki nasib mereka yang sama ke arah yang lebih baik. Kesamaan akan perbaikan
kehidupan ekonomi dan kebutuhan social juga yang dirasakan sebagai kebutuhan bersama
mendorong mereka menyatukan diri satu sama lain guna secara bersama-sama berusaha
untuk mengatasi atau mencukupi kebutuhan itu dalam satu perkumpulan atau badan usaha
yang dikenal dengan koperasi.
5. Alasan Politis

4 | Koperasi dan UMKM


Para petani Jepang seluruhnya bersatu di bawah organisasi Koperasi. Kehidupan
petani-petani tidak berbeda dengan kehidupan para industrialis yang membuat barang-barang
industri, karena hasil-hasil pertanian seimbang dengan hasil-hasil industri yang dicapai
dipasaran. Ini karena petani-petani bersatu dalam Koperasi dan persatuan ini merupakan
kekuatan yang besar diperhitungkan oleh setiap orang yang berurusan dengan petani-petani.
Keadaan sebaliknya kita alami di Indonesia. Di negeri kita belum semua petani
bersatu dalam Koperasi. Bahkan masih banyak orang yang belum sadar untuk bergabung
dalam KUD. Hal ini menyebabkan pula masih banyak petani-petani kita yang berbuat
usahanya sendiri-sendiri. Ini menyebabkan mereka tak mempunyai kemampuan usaha dalam
skala yang lebih besar. Jika ketiadaan persatuan di kalangan petani dalam suatu wadah usaha
Koperasi menyebabkan tidak sedikit petani yang jatuh ke bawah ikatan hutang dari pelepas
uang atau lintah darat.
Perbandingan kondisi keadaan ekonomi di atas memberikan alas an kepada kita untuk
berkoperasi. Dengan koperasi kondisi ekonomi yang tadinya buruk menjadi membaik. Status
pun meningkat sebaliknya yang tidak berkoperasi kondisinya malah sebaliknya. Mereka
terjerat oleh para rentenir dan pemilik modal yang mengejar keuntungan semata. Alasan
praktis ini sebenarnya bersumber dari pepatah “bersatu kita teguh bercerai kita
runtuh”. Apabila orang-orang yang kondisi ekonominya lemah kemudian menyatukan diri
dalam suatu usaha bersama dengan prinsip kekeluargaan, ini berarti mereka telah
menyatukan diri dalam koperasi dan secara tidak langsung menyatukan dirinya menjadi suatu
kekuatan politis. Dengan bersatu dalam wadah koperasi, maka para golongan lemah akan
memiliki kemampuan usaha yang lebih besar dan akan mencapai kedudukan politis yang
lebih kuat dalam masyarakat.

C. Partisipasi Anggota pada Koperasi


Dasar pemanfaatan hasil-hasil dan pelayanan koperasi yang adil dapat juga dilihat
sebagai suatu tatanan didalam menanamkan partisipasi yang baik dari anggota sesuai kebutuhan
yang dirasakan.sehubungan dengan pengertian bahwa suatu koperasi merupakan suatu organisasi
yang participatory tempat kekuasaan tertinggi aeda pada suara dalam rapat anggota, dan seiring

5 | Koperasi dan UMKM


dengan pemekaran manajemen terbuka yang dianut berdasarkan kebutuhan yang dirasakan oleh
para anggota.
Dipandang dari kenyataan bahwa untuk mempertahankan diri, pengembangan, dan
pertumbuhan suatu koperasi tergantung pada kualitas dan partisipasi anggota-anggotanya. Oleh
karena itu, para anggota harus memiliki pemahaman yang jelas mengenai visi dari organisasi,
misi, tujuan umum, sasaran, kemampuan untuk menguji kenyataan dalam memecahkan
permasalahan dan perubahan-perubahan lingkungan.
Partisipasi dalam koperasi ditujukan pula untuk menempatkan para anggota menjadi
subyek dari pengembangan koperasi, anggota menjadi subyek dari pengembangan koperasi,
anggota harus terlibat di dalam setiap langkah proses pengambangan koperasi dari tingkat
penetapan tujuan, sasaran atau penyusunan strategi, serta pelaksanaan untuk merealisasikan dan
pengendalian sosial sesuai kepentingan anggota.
Partisipasi sebagaimana telah dipertimbangkan hendaklah memasukkan rasa memiliki
dan rasa bertanggung jawab dengan tekanan tertentu pada pentingnya pendapat bersama yang
dihasilkan oleh para anggota.

Bentuk Partisipasi Anggota Pada Koperasi.


Secara umum, partisipasi anggota koperasi menyangkut partisipasi terhadap sumberdaya,
pengambilan keputusan, dan pemanfaatan, atau seringkali dibuat kategori partisipasi kontributif,
partisipasi insentif. Sejalan dengan kedudukan anggota koperasi yang memiliki identitas ganda
baik sebagai pemilik maupun pengguna/pelanggan, maka bentuk partisipasi anggota juga
mengikutinya. Sebagai pemilik, anggota memberikan kontribusi terhadap pembentukan dan
pertumbuhan perusahaan koperasi dan bentuk kontribusi keuangan, penyertaan modal,
pembentukan cadangan, simpanan, serta ikutserta dalam mengambil bagian dalam penetapan
tujuan, pembuatan keputusan koperasi maupun aktif dalam proses pengawasan terhadap tata
kehidupan organisasi koperasi dan kinerja usaha koperasi. Selanjutnya sebagai pengguna,
anggota memanfaatkan berbagai potensi dan layanan yang disediakan koperasi dalam memenuhi
kebutuhan anggota dan menunjang kegiatan usaha koperasi. Berdasarkan penjelasan diatas, maka
secara umum terdapat beberapa bentuk partisipasi anggota koperasi, yaitu :
a) Partisipasi dalam pengambilan keputusan dalam rapat anggota (kehadiran, keaktifan,
dan penyampai/mengemukakan pendapat/saran/ide/gagasan/kritik bagi koperasi).

6 | Koperasi dan UMKM


b) Partisipasi dalam kontribusi modal (dalam berbagai jenis simpanan, simpanan pokok
simpanan wajib, simpanan sukarela/manasuka, jumlah dan frekuensi menyimpan
simpanan, penyertaan modal).
c) Partisipasi dalam pemanfaatan pelayanan (dalam berbagai jenis unit usaha, jumlah dan
frekuensi pemanfaatan layanan dari setiap unit usaha koperasi, besaran transaksi
berdasarkan waktu dan unit usaha yang dimanfaatkan, besaran pembelian atau
penjualan barang maupu jasa yang dimanfaatkan, cara pembayaran atau cara
pengambilan, bentuk transaksi, waktu layanan).
d) Partisipasi dalam pengawasan koperasi (dalam menyampaikan kritik, tata cara
penyampaian kritik, ikut serta melakukan pengawasan jalannya organisasi dan usaha
koperasi).

Faktor-Faktor Positif dan Negatif yang Mempengaruhi Partisipasi Anggota.


Berdasarkan pengalaman di Indonesia, dikemukakan bahwa beberapa koperasi yang
berhasil dalam mempertahankan partisipasi anggota dimunculkan oleh faktor-faktor yang
mempengaruhi keberhasilan tersebut, yaitu :
1. Perasaan kelompok yang kuat.
2. Latihan bersinambungan bagi calon anggota dan anggota.
3. Kunjungan-kunjungan lapangan dari para penggerak koperasi yang bersinambungan,
dialog informal dengan anggota setempat.
4. Para anggota dan pengurus melaksanakan rapat-rapat dengan berhasil baik, membuat kartu
anggota dan pembukuan yang benar, menerbitkan laporan keuangan bulanan.
5. Menanamkan dan memepertahankan sikap-sikap mental yang baru/kebiasaan-kebiasaan
yang berhubungan dengan aneka simpanan pemberian pinjaman dan aspek-aspek lain
untuk bekerja sama dalam koperasi.
6. Para anggota membuat rencana koperasi
7. Penerbitan publikasi yang teratur disebarluaskan kepada para anggota koperasi.
8. Latihan bagi para anggota untuk memahami, menganalisis koperasi-koperasi, mengadakan
perjanjian, persatuan, pada saat permulaan.

Lalu kurangnya partisipasi anggota dalam beberapa koperasi dipengaruhi oleh beberapa
faktor negatif, yaitu :

7 | Koperasi dan UMKM


1. Kurangnya anggota dan calon anggota, antara lain dalam bentuk latihan anggota dan
calon anggota yang sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi lokal.
2. Feodalisme dan paternalisme dari para pengurus koerasi dalam hubungan dengan para
anggota.
3. Kurangnya tindak lanjut yang konsisten dan pengamatan dari rencana-rencana organisasi
yang telah disepakati bersama.
4. Manipulasi yang dibuat oleh bermacam-macam individu menyebabkan timbulnya erosi
rasa ikut serta memiliki dari para anggota terhadap koperasi mereka masing-masing.
5. Kartu anggota tidak dibuat dengan baik menimbulkan ketidak jelasan transaksi antar-
anggota dengan koperasinya ataupun sebaliknya.
6. Kurangnya manajemen yang teratur dan keterampilan manajerial dari pengurus koperasi.
7. Kurangnya rencana pengambangan professional untuk mengimbangi perkembangan
dinamika kebutuhan para anggota.
8. Kurangnya penyebaran informasi tentang penampilan koperasi, seperti neraca, biaya,
manfaat, dan laporan statistik yang lain.
9. Pengalaman-pengalaman dan praktek-praktek koperasi yang buruk dimasa lampau.
10. Ketidakcakapan para pengurus koperasi untuk menata pembukuan.

Upaya Meningkatkan Partisipasi Anggota Koperasi.


Upaya peningkatan partisipasi anggota akan berhasil manakala ada kesesuaian antara
anggota, manajemen koperasi, dan program koperasi. Kesesuaian ini dapat dilihat dari unit,
tingkat, kemauan, dan kemampuan dari pelayanan yang disediakan oleh koperasi. Kompetensi
dan motivasi anggota dalam mengemukakan minat kebutuhanya kepada koperasi terefleksikan
dalam keputusan manajemen koperasi dalam memberikan layanan barang dan jasa kapada
anggota koperasi. Anggota mengemukakan pendapat, saran dan kritik yang membangun bagi
koperasi, dan selanjutnya manajemen koperasi mampu menindak lanjuti dan menyelesaikannya
secara efektif dan professional hingga dirasakan manfaatnya oleh anggota koperasi. Misalnya
adalah jika unit usaha yang tersedia di koperasi memiliki kesesuaian yang tinggi dengan
kebutuhan anggota, manajemen, maupun program koperasi, maka akan diikuti dengan tingkat
partisipasi anggota yang tinggi pula.
Kegiatan usaha utama koperasi yang sesuai misalnya menyangkut penyediaan sarana
produksi, pembelian hasil produksi anggota, penjualan barang konsumen, penyediaan fasilitas

8 | Koperasi dan UMKM


kredit, layanan pembiayaan usaha, layanan jasa pembayaran listriktelepon- air, dan layanan jasa
pendidikan, dan layanan lainnya. Kesesuaian antara anggota, manajemen koperasi, dan program
koperasi akan tercapai pada saat mekanisme pengendalian partisipasi mencapai optimal dalam
mengemukakan berpendapat (voice), dalam mengambil keputusan (vote), dan hak keluar (exit).
Keterkaitan dari ketiga komponen partisipasi anggota yang kuat dan utuh sehingga menunjang
perkekmbangan usaha koperasi.
Partisipasi yang efektif akan berujung pada rangkaian kesesuaian antara kemampuan
manajemen koperasi dalam melaksanakan tugas dari program yang ditetapkan, keputusan
program manajemen mencerminkan minat dari anggota, dan minat anggota akan tercermin dalam
keputusan program manajemen koperasi. Dengan demikian, meningkatkan partisipasi anggota
memerlukan kemauan dan kemampuan segenap komponen organisasi koperasi, waktu yang
cukup dan terus menerus, sistem imbalan yang adil dan promotif, dan sinergi kepentingan antar
segenap pelaku yang terlibat dalam usaha koperasi. Jika yang terjadi sebaliknya, maka konflik
kepentingan antar anggota, manajemen koperasi, dan program koperasi serta diikuti dengan
pertentangan kepentingan pengelola, pengurus, pengawas, manajer, dan karyawan, anggota, atau
lembaga Pembina koperasi akan mempersulit partisipasi dan memperlemah kedudukan koperasi
dalam memberikan manfaat ekonomi bagi anggota dan lingkungannya.

D. Kegiatan Usaha Koperasi


Tujuan didirikan Koperasi adalah untuk :
 Meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup anggota pada khususnya dan masyarakat pada
umumnya.
 Menjadi gerakan ekonomi rakyat serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka Koperasi menyelenggarakan kegiatan usaha yang
berkaitan dengan kegiatan usaha anggota, yaitu sebagai berikut :
1. Unit usaha simpan pinjam.
2. Perdagangan umum.
3. Penerbitan dan percetakan.
4. Agrobisnis dan agroindustri.
5. Jasa pendidikan.
6. Jasa transportasi.
7. Jasa pemasaran umum.

9 | Koperasi dan UMKM


8. Event organizer.
9. Kerjasama dengan BUMN, BUMD, atau perusahaan swasta lainnya.
10. Dan lain sebagainya.
Sesuai dengan ketentuan yang berlaku Koperasi dapat membuka cabang atau perwakilan
di tempat lain, baik di dalam maupun di luar daerah, pembukaan cabang atau perwakilan harus
mendapat persetujuan Rapat Anggota.
Dalam melaksanakan kegiatan usahanya, Koperasi dapat melakukan kerjasama dengan
Koperasi dan Badan Usaha lainnya, baik di dalam maupun di luar daerah.
Koperasi harus menyusun Rencana Kerja Jangka Panjang (Business Plan) dan Rencana
Kerja Jangka Pendek serta Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Koperasi dan disahkan
oleh Rapat Anggota.

E. Tujuan dan Nilai Perusahaan


Prof William F. Glueck (1984), pakar manajemen terkemuka dari Universitas Gerogia
dalam bukunya Strategy Management and Bussiness Policy, 2nd ed, mendefinisikan tujuan
perusahaan sebagai hasil terakhir yang dicari organisasi melalui eksistensi dan operasinya.
Selanjutnya, Glueck menjelaskan 4 alasan mengapa perusahaan harus mempunyai tujuan :
 Tujuan membantu mendefinisikan organisasi dalam lingkungannya
 Tujuan membantu mengkoordinasi keputusan dan pengambilan keputusan
 Tujuan menyediakan norma untuk menilai pelaksanaan prestasi organisasi
 Tujuan merupakan sasaran yang lebih nyata daripada pernyataan misi.
Dalam merumuskan tujuan perusahaan, perlu diperhatikan keseimbangan kepentingan
dari berbagai pihak yang terlibat dalam perusahaan, tujuan perusahaan tidak terbatas pada
pemenuhan kepentingan manajemen seperti memaksimumkan keuntungan ataupun efisiensi,
tetapi juga harus mempertimbangkan kepentingan pemilik, modal, pekerja, konsumen, pemasok
(suppliers), lingkungan, masyarakat, dan pemerintah.
Dalam banyak kasus perusahaan bisnis, tujuan umumnya dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
1. Memaksimumkan keuntungan (Maximize profit)
2. Memaksimumkan nilai perusahaan (Maximize the value of the firm)
3. Meminimumkan biaya (Minimize cost)

10 | Koperasi dan UMKM


Tujuan koperasi sebagai perusahaan atau badan usaha tidaklah semata-semata hanya
pada orientasi laba (profit oriented), melainkan juga pada orientasi manfaat (benefit oriented).
Karena itu, dalam banyak kasus koperasi, nmanajemen koperasi tidak mengejar keuntungan
sebgai tujuan perusahaan karena mereka bekerja didasari dengan pelayanan (service at cost).
Untuk koperasi diindonesia, tujuan badan usaha koperasi adalah memajukan kesejahteraan
anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya (UU No. 25/1992 pasal 3). Tujuan ini
dijabarkan dalam berbagai aspek program oleh manajemen koperasi pada setiap rapat angggota
tahunan.

11 | Koperasi dan UMKM


DAFTAR PUSTAKA

http://www.etrade.id/2016/05/uu-koperasi-no-25-tahun-1992-tentang-perkoperasian.html
(Diakses pada tanggal 9 Maret 2017)

http://yosuaeb04.blogspot.com/2009/12/manfaat-menjadi-anggota-koperasi.html (Diakses pada


tanggal 9 Maret 2017)

www.wikipedia.com (Diakses pada tanggal 9 Maret 2017)

http://cerita-bunyamin.blogspot.com/2009/03/kiat-meningkatkan-partisipasi-anggota.html
(Diakses pada tanggal 9 Maret 2017)

http://clickclockmaul.blogspot.com/ (Diakses pada tanggal 9 Maret 2017)

http://dewiseptianawati.blogspot.com/2012/01/dimensi-partisipasi-dalam-perkoperasian.html
(Diakses pada tanggal 9 Maret 2017)

http://ocacicuceco.blogspot.com/2010/12/tujuan-dan-nilai-koperasi.html (Diakses pada tanggal 9


Maret 2017)

http://cintakoperasi.blogspot.co.id/2013/05/alasan-berkoperasi-2.html (Diakses pada tanggal 9


Maret 2017)

12 | Koperasi dan UMKM