Anda di halaman 1dari 54

I.

PENDAHULUAN
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan Rumah Sakit yang berorientasi
kepada pelayanan pasien, penyediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai yang bermutu dan terjangkau bagi semua lapisan
masyarakat termasuk pelayanan farmasi klinik (Permenkes RI, 2016).
Apoteker khususnya yang bekerja di Rumah Sakit dituntut untuk
merealisasikan perluasan paradigma Pelayanan Kefarmasian dari orientasi produk
menjadi orientasi pasien. Untuk itu kompetensi Apoteker perlu ditingkatkan
secara terus menerus agar perubahan paradigma tersebut dapat
diimplementasikan. Apoteker harus dapat memenuhi hak pasien agar terhindar
dari hal-hal yang tidak diinginkan termasuk tuntutan hukum. Dengan demikian,
para Apoteker Indonesia dapat berkompetisi dan menjadi tuan rumah di negara
sendiri (Permenkes RI, 2016). Salah satu upaya untuk meningkatkan wawasan,
pengetahuan, keterampilan dan kemampuan bekerja sama dengan profesi
kesehatan lainnya, maka Stifi Perintis Padang menyelenggarakan Praktek Kerja
Profesi Apoteker (PKPA) bagi mahasiswa Program Pendidikan Apoteker yang
bekerja sama dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Padang Panjang.
Diharapkan calon Apoteker memiliki bekal mengenai pelayanan kefarmasian di
Rumah Sakit agar dapat mengabdikan diri sebagai Apoteker yang profesional dan
handal.

II. SEJARAH TENTENG RSUD PADANG PANJANG


RSUD Kota Padang Panjang merupakan rumah sakit yang berawal dari
Poliklinik yang didirikan oleh Belanda pada tahun 1940 yang beralamat di Jl.
KH.A Dahlan No.5 Kota Padang Panjang. Kemudian pada tahun 1943 Poliklinik
tersebut dikuasai oleh Jepang. Tahun 1946 Poliklinik diambil alih oleh TNI
sampai dengan tahun 1969. Pada tahun 1970 Poliklinik diserahkan kepada
Pemerintah Daerah dijadikan sebagai Rumah Sakit Umum.
Pada tahun 1980 RSU ini dijadikan menjadi RSU kelas D, selanjutnya
pada tanggal 12 november 1984 diresmikan oleh Mentri Kesehatan RI dr.
Suwardjono Surjaningrat sebagai rumah sakit kelas C. Pada tahun 2007 RSUD
Kota Padang Panjang pindah bangunan ke Jl.Tabek Gadang Kel. Ganting kec.
Padang Panjang Timur Kota Padang Panjang. Pada tahun 2008 dengan SK
Menkes RI Nomor: 07.06/III/906/2008 tanggal 19 maret 2008 tentang pemberian
izin penyelenggaraan RSUD Kota, berstatus sebagai RSUD tipe C.

III. JADWAL PKPA


Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) ini dilaksanakan di Rumah Sakit
Umum Daerah Padang Panjang (RSUD) yang beralamat di Jalan Tabek Gadang,
Bukik Kanduang, Kelurahan Ganting – Gunung Padang panjang Timur.
Pelaksanaannya dilakukan selama 2 bulan, dimulai dari tanggal 5 Februari – 27
Maret 2018 dengan hari kerja mulai hari senin sampai sabtu. Kegiatan PKPA di
RSUD Padang Panjang dilakukan di tiga bangsal, yaitu bangsal interne, bangsal
anak dan bangsal neurologi, untuk instalasi farmasi terdiri dari apotek rawat jalan,
dan gudang farmasi. Pelaksanaan PKPA di RSUD Padang Panjang dimulai pukul
07.45 sampai pukul 14.00 WIB.

1
IV. PEMBAHASAN
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan Rumah Sakit yang berorientasi
kepada pelayanan pasien, penyediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai yang bermutu dan terjangkau bagi semua lapisan
masyarakat termasuk pelayanan farmasi klinik.
Berdasarkan PerMenKes No. 72 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Rumah Sakit meliputi standar:
1) Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai;
2) Pelayanan farmasi klinik.

Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
berdasarkan PerMenKes No. 72 tahun 2016 meliputi:
1. Pemilihan
Di RSUD Padang Panjang pemilihan obat yang direncanakan berdasarkan
pada Formularium Nasional Rumah Sakit dan usulan para dokter melalui Staf
Medis Fungsional(SMF). Daftar obat tersebut kemudian diteruskan ke Komite /
Tim Farmasi dan Terapi (KFT) yang selanjutnya disetujui oleh direktur.
Formularium Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Padang Panjang dibuat oleh
KFT (Komite / Tim Farmasi dan Terapi) yang diketuai oleh seorang dokter dan
sekretaris seorang Apoteker (Kepala Instalasi Farmasi) dengan anggota Dokter
serta Apoteker dan anggota staf yang lainnya. Hal ini sesuai dengan Permenkes
No. 72 tahun 2016, dimana dinyatakan bahwa “Formularium Rumah Sakit
merupakan daftar obat yang disepakati staf medis, disusun oleh Komite/Tim
Farmasi dan Terapi yang ditetapkan oleh pimpinan Rumah Sakit”.
2. Perencanaan
Perencanaan perbekalan farmasi di RSUD Padang Panjang berdasarkan
metode konsumsi dan pemakaian tahun lalu sesuai dengan Permenkes No.72
tahun 2016 dan dijelaskan dalam Binfar 2010 tentang Pedoman Pengelolaan
Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit.
3. Pengadaan
Pengadaan pada RSUD Padang Panjang dilakukan secara e-purchasing
dengan menggunakan e-catalog untuk perbekalan farmasi yang tersedia pada e-
catalogdan untuk perbekalan farmasi yang tidak tersedia pada e-catalogmaka
pembelian langsung dilakukan pada distributor, namun pembelian pada distributor
untuk obat yang ada di e-catalog ini bisa juga dilakukan untuk perbekalan farmasi
yang jika telah dilakukane-purchasing namun perbekalan tersebut telat datang
atau mengalami kekosongan stok. Bagian pengadaan di RSUD Padang Panjang
akan langsung mengadakan pembelian pada distributor tersebut untuk mencegah
terjadinya kekosongan stok pada RSUD Padang Panjang.
4. Penerimaan
Penerimaan perbekalan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis
habis pakai di RSUD Padang Panjang berdasarkan kesesuaian jenis, spesifikasi,
jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam kontrak atau surat
pesanan dengan kondisi fisik yang diterima. Semua dokumen terkait penerimaan
barang harus tersimpan dengan baik.

2
Pada saat penerimaan perbekalan sediaan farmasi, alat kesehatan dan
bahan medis habis pakai, petugas RSUD Padang Panjang menerima barang yang
telah dipesan disertai dengan copy faktur dan tanda terima barang dari PBF yang
bersangkutan. Pada saat penerimaan barang dilakukan pengecekan terhadap tujuan
pengiriman, nama barang, jenis, jumlah barang, no batch, harga satuan, jumlah
total harga, potongan harga (jika ada), PPN dan batas kadaluarsa. Setelah itu
mencocokkan faktur dengan surat pesanan, jika sesuai dengan persyaratan maka
faktur distempel dan diparaf oleh apoteker atau tenaga teknis kefarmasian,
tergantung siapa penerima barang saat itu. Setelah barang diterima, obat
dimasukkan kedalam kartu stok barang masuk dan dilakukan pengecekan harga
kemudian faktur akan diarsipkan kedalam buku khusus faktur di RSUD Padang
Panjang tersebut.
5. Penyimpanan
Setelah barang diterima di Instalasi Farmasi perlu dilakukan penyimpanan
sebelum dilakukan pendistribusian. Penyusunan barang di RSUD Padang Panjang
dilakukan dengan obat disimpan dan disusun sesuai dengan bentuk sediaan dan
jenis sediaan, dan disusun secara alfabetis dengan menerapkan FIFO atau FEFO.
Obat yang ada sebagian disimpan dalam rak dengan memberi nama abjad obat
kemudian disusun berkelompok sesuai bentuk sediaan kemudian di abjadkan,
obat-obat berbentuk sirup, injeksi, nasal, obat mata, larutan, disimpan dan
disusun pada rak yang tersedia dengan rak terpisah, obat yang berbentuk
suppositoria atau injeksi albumin dan lain sebagainya disimpan didalam lemari
pendingin dengan suhu 2-8 0C, untuk obat narkotika, psikotropika dan prekusor
disimpan dilemari khusus, stok obat diletakan pada samping rak penyimpanan
berdasarkan kelompok bentuk sediaannya dengan dialas pallet. Untuk
penyimpanan alat kesehatan dan bahan medis habis pakai, penyimpanannya
diruangan berbeda dan terpisah.
6. Distribusi
Dalam pendistribusi Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai dari tempat penyimpanan sampai kepada unit pelayanan/pasien
dengan tetap menjamin mutu, stabilitas, jenis, jumlah, dan ketepatan waktu.
Pendistribusian dilakukan dari instalasi farmasi RSUD Padang Panjang ke
depo IGD, depo utama dan depo VIP. Sistem pendistribusian dilakukan dengan
carafloor stock, resep perorangan, unit dose dan kombinasi.
7. Pemusnahan dan Penarikan
Berdasarkan peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia No.72 tahun
2016 tentang “Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit”. Pemusnahan dan
penarikan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai.
Pemusnahan dan penarikan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis
pakai yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan dengan cara yang sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Penarikan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar/ketentuan
peraturan perundang-undangan dilakukan oleh pemilik izin edar berdasarkan
perintah penarikan oleh BPOM (mandatory recall) atau berdasarkan inisiasi
sukarela oleh pemilik izin edar (voluntary recall) dengan tetap memberikan
laporan kepada Kepala BPOM.
Di Rumah sakit Padang Panjang tidak ada dilakukan pemusnahan secara
langsung di Rumah sakit dikarenakan alat insenerator tidak memadai. Di Rumah

3
sakit Padang Panjang dilakukan oleh pihak ke tiga, yang mana PT. Mufid Inti
Global sebagai transporter dan PT. Tenang Jaya yang mengelola pemusnahan.
Pemusnahan di Rumah sakit kota Padang Panjang bekerja sama dengan
pihak ketiga. Pemusnahan biasanya dilakukan satu tahun sekali. cara pemusnahan:
1. Sediaan yang akan dimusnahkan yang telah didata sebelumnya, dibuka dari
kemasannya
2. Ditimbang jumlahnya
3. Setelah ditimbang semua sediaan yang akan dimusnahkan, sediaan yang akan
dimusnahkan diserahkan kepada pihak ketiga.
8. Pengendalian
Berdasarkan peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia No.72 tahun
2016 tentang “Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit”. Pengendalian
dilakukan terhadap jenis dan jumlah persediaan dan penggunaan sediaan farmasi,
alat kesehatan dan bahan medis habis pakai. Pengendalian penggunaan sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dapat dilakukan oleh Instalasi
Farmasi harus bersama dengan Komite/Tim Farmasi dan Terapi di Rumah Sakit. .
Cara untuk mengendalikan persediaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
bahan medis habis pakai adalah:
a. Melakukan evaluasi persediaan yang jarang digunakan (slow moving)
b. Melakukan evaluasi persediaan yang tidak digunakan dalam waktu tiga bulan
berturut-turut (death stock)
c. Stok opname yang dilakukan secara periodik dan berkala.
Pengendalian di Rumah sakit Padang Panjang dilakukan dengan cara rutin
melakukan stockopname setiapsatu bulan sekali. Dari laporan stock opname akan
diperoleh laporan daftar obat yang slow moving, death stock, dan obat yang akan
kadaluarsa. Untuk obat yang akan kadaluarsa dikendalikan dengan melakuan
konfirmasi kepada dokter untuk meresepkan obat tersebut atau dilakukan
penawaran kembali kepada pihak distributor dengan perjanjian tertentu.
9. Administrasi
Berdasarkan peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia No.72 tahun
2016 tentang “Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit”. Administrasi
harus dilakukan secara tertib dan berkesinambungan untuk memudahkan
penelusuran kegiatan yang sudah berlalu.
Kegiatan administrasi terdiri dari:
a. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan di Instalasi Farmasi RSUD Padang Panjang
dilakukan secara manual dan diinput ke dalam komputer. Instalasi Farmasi
memiliki sistem yang namanya Billing System. Dalam billing system mencakup
nama obat, satuan obat, satuan harga obat, satuan kekuatan obat. Untuk melihat
obat yang kurang lancar keluar dalam sebulan bisa langsung dilihat dalam billing
system. Instalasi farmasi belum memiliki Standar Prosedur Operasional (SPO) tapi
segala sesuatu yang dilakukan berdasarkan surat perintah.
b. Administrasi Keuangan
Apabila Instalasi Farmasi harus mengelola keuangan maka perlu
menyelenggarakan administrasi keuangan. Administrasi keuangan merupakan
pengaturan anggaran, pengendalian dan analisa biaya, pengumpulan informasi
keuangan, penyiapan laporan, penggunaan laporan yang berkaitan dengan semua

4
kegiatan pelayanan kefarmasian secara rutin atau tidak rutin dalam
periodebulanan, triwulanan, semesteran atau tahunan.
c. Administrasi Penghapusan
Administrasi penghapusan merupakan kegiatan penyelesaian terhadap sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang tidak terpakai karena
kadaluwarsa, rusak, mutu tidak memenuhi standar dengan cara membuat usulan
penghapusan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai kepada
pihak terkait sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Pelayanan farmasi klinis yang dilakukan di RSUD padang panjang


sebagian besar mencakup dalam Permenkes no. 72 tahun 2016 dimana meliputi:
1. Pengkajian dan pelayanan resep
Standar pelayanan farmasi klnik di RSUD Padang Panjang mengacu pada
Peraturan Menteri Kesehatan No. 72 tahun 2016 disesuaikan dengan kemampuan
rumah sakit.
Pengakajian dan pelayanan resep dilakukan untuk menganalisa adanya
masalah terkait obat. Pelayanan resep yang dilakukan di RSUD padang panjang
telah meliputi standar yang dicantumkan di Permenkes 72 tahun 2016 dimulai
dari penerimaan, pemeriksaan, ketersediaan, pengkajian resep, penyiapan sedian
farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai termasuk peracikan obat,
pemeriksaan, penyerahan disertai pemberian informasi yang dilakukan oleh
apoteker dan asisten apoteker sebagai pendamping dalam pengkajian dan
pelayanan resep..
Secara umum syarat dalam pelayanan resep di RSUD Padang Panjang
meliputi:
1. persyaratan Administrasi
a. nama, umur, tanggal lahir
b. nama, NIP, dan paraf dokter
c. tanggal resep
d. ruangan atau asal poliklinik asal
e. SJP (untuk pasien BPJS)
f. Nota kredit untuk pasien jaminan/asuransi
2. Persyaratan Farmasetik
a. Bentuk dan kekuatan sediaan
b. Dosis, jumlah obat, dan lama pemakaian obat
c. Stabilitas dan inkompatibilitas
d. Aturan, cara, dan tekhnik menggunakan
3. Persyaratan Klinis
a. Ketepatan dosis dan penggunaan obat
b. Duplikasi terapi
c. Alergi, interaksi, dan efek samping obat
d. Kontraindikasi
e. Kondisi khusus lainnya.

5
Pelayanan resep rawat inap menggunakan system UDD (Unit Dose
Dispensing). Obat disiapkan untuk sehari, apoteker memberikan obat sekaligus
memberikan PIO pada saat memberikan obat siang. Sedangkan untuk obat malam
dan pagi hari obat diberikan oleh perawat. Hal ini karena kurangnya tenaga
kefarmasian sehingga membutuhkan tenaga tambahan perawat untuk memberikan
obat. Sedangkan floorstock di ruangan untuk obat-obat emergency dan sediaan
injeksi. Untuk obat oral disimpan dalam lemari khusus.
Proses UUD dilakukan oleh TTK. Setiap TTK sudah diberi tanggung
jawab masing-masing. Pada awalnya resep diterima oleh petugas ruangan melalui
catatan SOAP dokter di rekam medis, kemudian disalin ke lembar kio dan dibaca.
Jika obat diberikan lebih dari lima jenis obat maka dilakukan pengecekan
interaksi obat oleh Apoteker. Setelah itu, obat disiapkan dan dikemas. Obat
dikemas kedalam plastic, dengan etiket yang berbeda warna untuk tiap pemberian.
Untuk obat-obat tertentu yang penggunaanya pada waktu khusus seperti obat
maag diberi etiket terpisah dengan dijelaskan kapan waktu minum obat.
Obat yang disalin ke kio dibuat tagihan untuk dilakukan klaim ke BPJS
atau untuk dilakukan pembayaran langsung oleh pasien melalui kasir bagi pasien
umum. setelah proses tersebut selesai, kemudian dilakukan pengecekan oleh
apoteker. Barulah obat diantar ke ruangan oleh petugas UDD.
2. Penelusuran riwayat penggunaan obat
Penelusuran riwayat penggunaan obat merupakan proses mendapatkan
informasi mengenai seluruh obat dan pencacatan penggunaan obat, pada RSUD
padang panjang tahapan penulusuran riwayat penggunaaan obat telah sepenuhnya
dilakukan apoteker dan asisten apoteker yang meliputi : membandingkan riwayat
penggunaan obat dengan data rekam medik, melakukan verifikasi riwayat
penggunaan obat yang dilakukan oleh tenaga medis lain, mendokumentasi adanya
alergi dan reaksi obat yang tidak dihendaki, mengindentifikasi potensi terjadinya
interaksi obat, melakukan penilaian terhadap kepatuhan pasien, melakukan
penilaian rasionalitas obat yang diresepkan, melakukan penilaian terhadap
pemahaman pasien terhadap obat yang digunakan, melakukan penilaian adanya
bukti penyalahgunaan obat, melakukan penilaian terhadap teknik penggunaan
obat, memeriksa adanya kebutuhan pasien terhadap obat dan alat bantu kepatuhan
minum obat. Karena dari sebagian banyak pasien yang mendapat riwayat
penulusuran obat yaitu pasien-pasein yang dirawat inap sehingga untuk
penulusuran riwayat obat pada pasien yang berobat di poli klinik tidak
sepenuhnya dilakukan dan tidak semua mendapatkan penulusuran riwayat
penggunaan obat (Permenkes RI, 2016).
3. Rekonsiliasi obat
Rekonsilasi obat merupakan proses membandingkan instruksi pengobatan
dengan obat yang telah didapat pasien. Pada point rekonsiliasi obat ini RSUD
padang panjang telah melakukan proses rekonsiliasi, obat yang dibawa pasien
diambil oleh perawat dan diserahkan pada apoteker, kemudian apoteker
menganalisa dan mengkaji meliputi (DRP, skrining administrative, farmasetik,
dan klinis).
Proses rekonsiliasi obat di RSUD Padang Panjang dilakukan dengan
membandingkan instruksi pengobatan dari dokter dan obat yang telah di dapat
pasien oleh apoteker. Proses rekonsiliasi ini dilakukan saat pasien baru datang di

6
Rumah sakit baik di IGD naupun poli dan perpindahan antara bangsal.
Rekonsiliasi ini dilakukan oleh dokter dan apoteker. Apoteker juga akan mencatat
jika ada alergi obat atau reaksi dari efek samping obat. Tujuan dari rekonsiliasi
obat adalah memastikan informasi yang akurat tentang obat, mengidentifikasi
ketidaksesuaian informasi obat dari dokter (Hidayanti, 2017).
4. PIO ( pelayanan informasi obat)
Pelayanan informasi obat merupakan kegiatan penyediaan dan pemberian
informasi, rekomendasi obat yang independen, akurat, tidak bias dan terkini
(Permenkes RI, 2016).
Kegiatan pelayanan informasi obat yang dilakukan di RSUD padang
panjang telah sepenuhnya dilakukan. Pelayanan informasi obat yang diberikan
pada saat penyerahan obat untuk pasien rawat jalan dan pada pasien yang pulang
dari bangsal. Pelayanan PIO yang dilakukan meliputi tanya jawab setiap
pertanyaan pasien terkait obat dan pembuatan leaflet. Pada saat pelayanan
informasi obat pasien diberikan mengenai informasi terkait pengobatan meliputi
cara penggunaan, penyimpanan, efek samping, kepatuhan pasien terhadap
penggunaan obat, interaksi obat dan makanan, serta informasi lainnya.
5. Konseling
Konseling merupakan suatu aktivitas pemberian nasihat atau saran terkait
terapi obat dari apoteker kepada pasien atau keluarganya (Permenkes RI, 2016).
Kegiatan konseling pada RSUD Padang Panjang telah dilakukan
sepenuhnya, kegiatan konseling ini dilakukan atas beberapa faktor diantaranya
yaitu permintaan pasien, rujukan dokter serta kondisi pasien (pasien geriatric,
pediatric dan penyakit- penyakit khusus seperti DM, TBC, dll). Pemberian
konseling Obat bertujuan untuk mengoptimalkan hasil terapi, meminimalkan
risiko reaksi Obat yang tidak dikehendaki (ROTD), dan meningkatkan cost-
effectiveness yang pada akhirnya meningkatkan keamanan penggunaan Obat bagi
pasien (patient safety) (Permenkes RI, 2016).
6. Visite
Visite merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap yang dilakukan
apoteker secara mandiri yang terkait mengenai terapi pengobatan pasien atau
bersama tim kesehatan lainnya untuk mengamati kondisi pasien secara langsung
(Permenkes RI, 2016).
Kegiatan visite yang dilakukan apoteker di RSUD padang panjang telah
dilakukan oleh apoteker baik secara mandiri atau bersama tim medis lainnya,
sebelum dilakukan visite apoteker mengumpulkan informasi mengenai kondisi
dan terapi pasien pada rekam medik, disini apoteker memantau terapi obatyang
diberikan dokter kepada pasien dan merekomendasikan terapi obat yang sesuai
yang didapat oleh pasien rawat inap. Dalam kegiatan visite apoteker semua diatur
dalam kemenkes 2011 no. HK.03.05/III/570//11 tentang pembentukan tim
penyusun pedoman visite.
Hal tersebut sesuai dengan yang di lakukan di RSUD Padang Panjang. Di
RSUD Padang Panjang Apoteker melakukan visite setiap hari, kecuali hari libur.
Apoteker melakukan visite bersama tim kesehatan atau visite mandiri. Jika dokter
memerlukan pendapat, apoteker memberikan saran terapi pengobatan yang terbaik
sesuai dengan mekanisme kerja yang diharapkan oleh dokter kepada pasien.
Visite juga dapat dilakukan pada pasien yang sudah keluar rumah sakit
atas permintaan pasien yang biasa disebut dengan Pelayanan Kefarmasian di

7
rumah (Home Pharmaceutical Care). Namun, hal ini belum dilakukan di RSUD
Padang Panjang.
7. Pemantauan terapi obat ( PTO)
Pemantauan terapi obat merupakan suatu proses yang mencakup kegiatan
untuk memastikan terapi obat yang efektif, aman, dan rasional bagi pasien
(Permenkes RI, 2016).
Dalam kegiatan pemantauan terapi obat telah sepenuhnya dilakukan oleh
apoteker, dimana di RSUD padang panjang apoteker memantau terapi obat pada
pasien bisa melalui rekam medik dan melakukan kunjungan ke pasien baik saat
visite atau pun saat pasien menerima obat dari apoteker. tahapan ini meliputi dosis
obat, cara pemberian, respons terapi, dan reaksi obat yang tidak dihendaki dan
memantau efek samping dari obat.
Apoteker mengumpulkan informasi medis dan memeriksa terapi dengan
cara mencatat terapi yang di dapatkan pasien kedalam buku kunjungan visite
pribadi milik apoteker yang dilakukan pada pagi hari setiap akan melakukan
visite. Hal ini untuk memudahkan pemantauan terapi obat pada pasien. Lalu
mencocokkan data tersebut dengan data yang tersedia di lembar KIO. Sehingga,
jika ada obat yang pemakaiannya dihentikan atau ditambah obat baru bisa dengan
cepat diketahui untuk memudahkan dalam menyiapkan obat yang diberikan ke
pasien.
Pentingnya dilakukan pemantauan terapi obat adalah untuk melihat
efektivitas terapi yang diberikan. Pemantauan terapi obat juga dapat untuk
mengurangi resiko terjadinnya kesalahan terapi (ASHP, 2013). Hal ini tentu akan
efektif menurunkan angka kejadian kesalahan obat bila PTO dilakukan secara
komprehensif.
8. Monitoring efek samping obat (MESO)
Kegiatan monitoring efek samping obat merupakan kegiatan pemantauan
setiap respon terhadap obat yang tidak dikehendaki, yang terjadi pada dosis lazim
yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, terapi dan diagnose
(Permenkes RI, 2016).
Kegiatan monitoring efek samping obatdi RSUD Padang Panjang belum
dilakukan sepenuhnya, pada kegiatan ini MESO yang dilakukan hanya
mengetahui dari beberapa obat yang digunakan oleh pasien ketika ada efek
samping terjadi pada pasien. Identifikasi dilakukan jika apoteker atau tenaga
kesehatan lain menemukan kemungkinan efek samping obat. Analisis kemudian
dilakukan apoteker dan ditelusuri apakah benar hal yang terjadi pada pasien itu
efek samping obat atau bukan.
Jika terbukti itu merupakan efek samping obat, maka apoteker akan
mengkomunikasikan pada dokter untuk melakukan tindakan yaitu menghentikan
sementara terapi obat yang diberikan. Padahal banyak bukti menunjukkan bahwa
sebenarnya efek samping obat (ESO) dapat dicegah, dengan pengetahuan yang
bertambah, yang diperoleh dari kegiatan pemantauan aspek keamanan obat pasca
pemasaran (atau yang sekarang lebih dikenal dengan istilah farmakovigilans).
Sehingga kegiatan ini menjadi salah satu komponen penting dalam system
regulasi obat, praktik klinik dan kesehatan masyarakat secara umum (BPOM RI,
2002).

8
9. Evaluasi penggunaan obat ( EPO).
Evaluasi penggunaan obat merupakan program evaluasi penggunaan obat
yang terstruktur dan berkesinambungan. Kegiatan evaluasi penggunaan obat telah
dilakukan oleh apoteker, dimana di RSUD padang panjang apoteker
mengevaluasi penggunaan obat berdasarkan aspek pola pemakaian obat
terbanyak setiap bulannya dan berdasarkan aspek klinis.
10. Dispensing sediaan steril
Dispensing sediaan steril harus dilakukan di Instalasi Farmasi Rumah
Sakit dengan teknik aseptik untuk menjamin sterilitas dan stabilitas produk dan
melindungi petugas dari paparan zat berbahaya serta menghindari terjadinya
kesalahan pemberian Obat.
Untuk kegiatan dispensing sediaan steril di RSUD padang panjang belum
dilakukan karena keterbatasan alat, personil dan ruangan yang sesuai untuk
melakukan dispensing sediaan steril, tetapi dilakukan dalam ruangan tidak steril.
Pencampuran obat suntik sudah dilakukan oleh perawat yang terlatih yang
harus memenuhi peraturan dari pedoman pencampuran obat suntik RSUD padang
panjang. Pencampuran sediaan steril dilakukan oleh perawat rawat inap ataupun
petugas IGD di ruang Perasat. Petugas melakukan pencampuran dengan dosis
yang telah diukur sebelumnya. Cairan dicampur perlahan dan selalu dilakukan
swab dengan tisu steril sebelum dan setelah pencampuran pada tempat cairan.
Petugas juga memakai APD yaitu masker, sarung tangan dan pakaian khusus.
11. Pemantauan kadar obat dalam darah (PKOD)
Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD) merupakan interpretasi
hasil pemeriksaan kadar obat tertentu atas permintaan dari dokter yang merawat
karena indeks terapi yang sempit atau atas usulan dari Apoteker kepada dokter
(Permenkes RI, 2016). Kegiatan pemantauan kadar obat dalam darah belum
dilakukan di RSUD padang panjang karena keterbatasan alat, tempat dan personil
dari yang bertugas.
V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan, serangkaian kegiatan yang telah dilakukan,
dan wawancara dengan Kepala Instalasi, Apoteker Penanggung jawab gudang,
tenaga teknis kefarmasian dan tenaga yang terkait mengenai Pemilihan,
Perencanaan dan Pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai yang dilakukan oleh RSUD Padang Panjang hampir sepenuhnya
memenuhi standar Permenkes No. 72 tahun 2016.
Pelayanan farmasi klinis yang dilakukan di RSUD padang panjang
sebagian besar sudah mencakup dalam Permenkes no. 72 tahun 2016 ada
beberapa yang belum terpenuhi yaitu Dispensing Sedian Steril, dan Pemantauan
Kadar Obat dalam Darah (PKOD) dikarenakan masih terbatasnya sarana dan
prasarana di RSUD Padang Panjang.
VI. SARAN
Perlu penambahan sarana, prasarana dan sumber daya manusia (SDM)
agar mendapatkan hasil yang optimal dalam pengobatan pasien. Untuk mahasiswa
Apoteker diharapkan mampu memahami tentang peran, fungsi, posisi dan
tanggung jawab Apoteker di Rumah Sakit.

9
Lampiran 1. Kegiatan PKPA Rumah Sakit Umum Daerah Padang Panjang

No Hari/ Tanggal Minggu Jenis Kegiatan


1 Senin, 05 – 17 Pertama dan kedua Melakukan visite bersama apoteker dan
Februari 2018 tenaga medislainnya, menyiapkan obat
dalam unit dose(1 hari pemakaian) di
bangsal interne, menyerahkan obat
pada pasien, menyiapkan obat pulang
pasien, dan menyerahkan obat disertai
dengan PIO pada keluarga pasien,
berdiskusi dengan dokter dan apoteker.
2 Senin, 19 Februari Ketiga dan keempat Melakukan visite bersama apoteker dan
s/d 03 Maret 2018 tenaga medislainnya, menyiapkan obat
dalam unit dose (1 hari pemakaian) di
bangsal neurologi, menyerahkan obat
pada pasien, menyiapkan obat pulang
pasien, dan menyerahkan obat disertai
dengan PIO pada keluarga pasien,
berdiskusi dengan dokter dan apoteker.
3 Senin, 05 – 17 Kelima dan keenam Melakukan visite bersama apoteker dan
Maret 2018 tenaga medislainnya, menyiapkan obat
dalam unit dose (1 hari pemakaian) di
bangsal anak , menyerahkan obat pada
pasien, menyiapkan obat pulang
pasien, dan menyerahkan obat disertai
dengan PIO pada keluarga pasien,
berdiskusi dengan dokter dan apoteker.
4 Senin, 19 – 31 Ketujuh dan Melakukan repacking untuk kapul
Maret 2018 kedelapan caco3 dan garam inggris, mengetahui
alur penggadaan barang, penerimaan,
penyimpanan, pendistribusian,
pemusnahan, pengendalian dan
pelaporan di RSUD Padang Panjang,
berdiskusi bersama kepala instalasi
RSUD Padang Panjang.

10
KASUS BANGSAL INTERNE
a. Identitas pasien
Nama pasien : Tn. S
Alamat : Gunung Ganting
Umur : 68 Tahun
Ruangan : Interne Pria
Agama : Islam
Jenis kelamin : Laki Laki
Pembayaran/ status : BPJS
Mulai perawatan : 5 Februari 2018
Dokter yang merawat : dr. Sri Anggraeni, Sp. PD
Apoteker Penanggung : Lora Somisko, S.Farm, Apt
Jawab Rawat Inap Internae

Anamnesa
Pasien laki-laki berusia 68 tahun dibawa ke IGD RSUD Padang Panjang pada
tanggal 5 Februari dengan keluhan sesak nafas 1 hari sebelum masuk rumah
sakit, kaki bengkak sejak 15 hari, batuk-batuk, dispepsia.
Tabel 1. Riwayat Penyakit Pasien
Keluhan utama Sesak Nafas 1 hari sebelum masuk rumah
sakit, kaki bengkak sejak 15 hari, batuk-
batuk, dispepsia.
Riwayat sekarang CHF ec CAD, PPOK EA, DM tipe 2,
Dispepsia

Riwayat penyakit terdahulu Hipertensi, Diabetes Melitus Type 2, dan


paru, ketiga nya tidak terkontrol

Riwayat alergi obat dan Tidak ada alergi obat


makan

Riwayat pengobatan Belum ada


sebelumnya

b. Data penunjang
1. Data pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum

1. Kesadaran/mental : Baik
2. Berat badan : 50 kg

12
3. Tinggi Badan : 170 cm
4. Suhu : 36.5 oC
5. Skala nyeri : 1
6. Nadi : 90 x
7. Tekanan darah : 160/105 mmHg
8. Pernafasan (x/menit) : 26 x/menit

b. Keadaan khusus
1. THT : Normal
2. Mulut : Normal
3. Kepala : Normal
4. Leher : Normal
5. Mata : Normal
6. Thorax : Ronkhi : +
Whezing : +
Kardiomegali : +
7. Abdomen : Nyeri Tekan Epigastrium +
8. Urogential : Normal
10. Ekstremitas : Udem Pada Kaki +/+
11. Kulit : Normal

Tabel 2. Data laboratorium Pasien tanggal 5 februari 2018


No DATA LAB NILAI NORMAL HASIL

1 Gula Darah Sewaktu < 200mg/dl 242

2 Ureum 13 – 43 mg/dl 38

3 Kreatinin 0,8 – 1,3 mg/dl 1,4

4 Protein total 6,6 – 8,0 g/dl 7,2

5 Albumin 3,5 – 5,0 g/l 3,9

6 SGOT <40 u/l 41

7 SGPT <40 u/l 30

c. Diagnosis Utama
 CHF ec CAD
Diagnosa Sekunder
 PPOK Ekserbasi Akut
 DM Tipe 2
 Dispepsia

13
Tabel 3. Data organ vital
NILAI Tanggal
NO DATA NORMA 5/2 6/2 7/2 8/2 9/2 10/2 12/2 12/2 13/2
L
1 Tekanan <130/80 160 13 10 11 12 130/ 100/9 110/9 110/9
darah /10 0/8 0/6 0/8 0/8 90 0 0 1
(mmHg) 5 0 0 0 0
2 Suhu (◦C) 36,5-37,5 36,5 37 37 36 36 36,5 37 36,5 36
3 Nadi (x/ 60-80 90 90 85 90 80 80 80 80 80
menit)
4 Pernafasan (x/ 18-20 26 22 20 20 20 20 20 20 20
menit)

Tabel 4. Monitoring kondisi pasien


Tanggal
N
DATA
O 5/2 6/2 7/2 8/2 9/2 10/2 12/2 13/2
1 Sesak nafas + + - - - - - -
2 Batuk + + - - - - - -
4 Nyeri dada - - - - - - - -
5 Lemas + + + + + + + +
6 Istirahat + + + + + + + +
7 Nafsu makan - - - - - - - -

14
a. Tabel 5. Regimen Pengobatan selama di RSUD Padang Panjang

Tanggal Pemberian
Nama Obat (Dagang/ Freku 5/2 6/2 7/2 8/2 9/2 10/2 11/2 12/2 13/2 14/2
N
Generik) ensi
O
P S M P S M P S M P S M P S M P S M P S M P S M P S M P S M
1 Combivent Nebule 1/8jam √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
2 Furosemide Inj 2x1 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
3 Ranitidine Inj 2x1 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
4 Bisoprolol 1x2,5 √ √ √ √ √ √ √ √
5 Acetilcystein 200mg 3x1 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
6 Parasematol 500mg 3x1 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
7 Allopurinol 100mg 2x1 √ √ √ √ √ √ √ √
8 Dulcolax Supp 1x1 √ √ √ √ √
9 Humalog Mix 10iu 2x1 √ √ √ √ √
10 RL √
11 D 40% √
12 D 10% √
13 Furosemide Tab 40mg 2x1 √
14 Retaphyl SR 300mg 2x1
15 Dipsamol Prn
16 Gliquidon 30mg 1x1
17 Ranitidin 150 mg 2x1
18 Spironolakton 25mg 1x1

15
b. Follow up
SENIN, 5 FEBRUARI 2018
S : Sesak nafas, batuk-batuk , kaki bengkak sejak 15 hari, dispepsia syndrom.
O : Kesadaran : CM
GCS : E4,V5, M6
Tekanan darah : 160/105 mm/Hg
Frekuensi nadi : 90 kali/menit
Frekuensi nafas : 26 kali/menit
Suhu : 36,5 °C
GDS : 242 mg/dL
A : PPOK dengan DM Tipe 2 + CHF ec CAD + Dispepsia
P : Terapi pengobatan sesuai medis

SELASA, 6 FEBRUARI 2018


S : Nafas sesak, batuk-batuk, kaki terasa berat, badan letih
O : Kesadaran : CM
GCS : E4,V5, M6
Tekanan darah : 130/90 mm/Hg
Frekuensi nadi : 90 x/menit
Frekuensi nafas : 22 x/menit
Suhu : 37°C
GDS : 218 mg/dL
A : CHF ec CAD + PPOK + DM Tipe 2 + Dispepsia
P : USG abdomen
Infus RL stop Inj. Pump
pengobatan sesuai medis

RABU, 7 FEBRUARI 2018


S : Keluhan berkurang

16
O : Kesadaran : CM
GCS : E4,V5, M6
Tekanan darah : 100/70 mm/Hg
Frekuensi nadi : 85 x/menit
Frekuensi nafas : 20 x/menit
Suhu : 36°C
GDS : 112 mg/dL
A : CHF ec CAD + PPOK + DM Tipe 2 + Dispepsia
P : Lanjut obat yang sama
Terapi pengobatan sesuai medis

KAMIS, 8 FEBRUARI 2018


S : Keluhan berkurang
O : Kesadaran : CM
GCS : E4,V5, M6
Tekanan darah : 110/80 mm/Hg
Frekuensi nadi : 90 x/menit
Frekuensi nafas : 20 x/menit
Suhu : 36 °C
GDS :

Tabel 8. Pemeriksaan Gula darah sewaktu

Pemeriksaan Hasil Normal


Gula darah sewaktu 158 mg/dL < 200 mg/dL
Gula darah sewaktu (20.02) 33 mg/dL < 200 mg/dL
Gula darah sewaktu (20.11) 93 mg/dL < 200 mg/dL
Gula darah sewaktu (22.40) 102 mg/dL < 200 mg/dL
Gula darah sewaktu (22.45) 48 mg/dL < 200 mg/dL
Gula darah sewaktu (23.30) 112mg/dL < 200 mg/dL
Gula darah sewaktu (01.00) 45 mg/dL < 200 mg/dL

A : CHF ec CAD+ PPOK + DM Tipe 2 + Dispepsia

17
P : Fisioterapi pada kaki
Humalog mix stop, + Dulcolax
Terapi pengobatan sesuai medis

JUMAT, 09 FEBRUARI 2018


S : sesak nafas berkurang , pasien tampak letih, pasien mengeluh pusing
O : Kesadaran : CM
GCS : E4,V5, M6
Tekanan darah : 120/80 mm/Hg
Frekuensi nadi : 80 x/menit
Frekuensi nafas : 20 x/menit
Suhu : 36 °C
GDS : 114mg/dL
A : CHF ec CAD + PPOK + DM Tipe 2 + Dispepsia
P : Terapi pengobatan sesuai medis

SABTU, 10 FEBRUARI 2018


S : Sesak berkurang
O : Kesadaran : CM
GCS : E4,V5, M6
Tekanan darah : 130/90 mm/Hg
Frekuensi nadi : 80 x/menit
Frekuensi nafas : 20 x/menit
Suhu : 36,7 °C
GDS : 254 mg/dL
Asam Urat :12,4
A : CHF ec CAD+ PPOK +nDM Tipe 2 + Dispepsia
P : Allopurinol 100mg 2x1
Terapi pengobatan sesuai medis

18
MINGGU, 11 FEBRUARI 2011

S : Sesak berkurang
O : Kesadaran : CM
GCS : E4,V5, M6
Tekanan darah : 100/90 mm/Hg
Frekuensi nadi : 80 x/menit
Frekuensi nafas : 20 x/menit
Suhu : 37 °C
A : CHF ec CAD+ PPOK +nDM Tipe 2 + Dispepsia
P : Allopurinol 100mg 2x1
Terapi pengobatan sesuai medis

SENIN, 12 FEBRUARI 2018

S : Sesak berkurang
O : Kesadaran : CM
GCS : E4,V5, M6
Tekanan darah : 110/90 mm/Hg
Frekuensi nadi : 80 x/menit
Frekuensi nafas : 20 x/menit
Suhu : 36,7 °C
A : CHF ec CAD+ PPOK +DM Tipe 2 + Dispepsia
P : Allopurinol 100mg 2x1
Terapi pengobatan sesuai medis

19
SELASA, 13 FEBRUARI 2018

S : Sesak berkurang
O : Kesadaran : CM
GCS : E4,V5, M6
Tekanan darah : 100/90 mm/Hg
Frekuensi nadi : 80 x/menit
Frekuensi nafas : 20 x/menit
Suhu : 36,5°C
A : CHF ec CAD+ PPOK +DM Tipe 2 + Dispepsia
P : Allopurinol 100mg 2x1
Terapi pengobatan sesuai medis

20
Tabel. 6. Alasan Pemilihan Obat

Jenis Obat Rute Dosis Indikasi Obat Komentar dan Alasan


Nebulizer β2 adrenergik agonis digunakan sebagai bronkodilator sehingga
combivent(ipratropi Inhalasi oral Sebagai sesak nafas dapat berkurang (Binfar). Onset cepat didapatkan
um bromide 0,5 mg via nebulizer - bronkodilator dalam waktu 5 menit yang dapat bertahan hingga 3-6 jam
Salbutamol 2,5 mg) (Martindale)
14
Pelengkap Tujuan diberikan infus cairan karena pasien sulit makan dan
RL Intravena tetes/
nutrisi menambah asupan nutrisi pada pasien.
menit
untuk penurunan tekanan darah dengan menghambat
Furosemide Inj Intravena 2x1 Diuretika reabsorbsi natrium di ginjal, sehingga dapat menurunkan
tekanan darah
1x2,5 Menghambat reseptor beta-1 adrenergik reseptor yang dapat
Bisoprolol Oral Hipertensi
mg menurunkan denyut jantung, curah jantung dan tekanan darah
Asetilsistein merupakan terapi tambahan untuk sekresi mukus
Mukolitik yang tidak normal, kental pada penyakit bronkopulmonari
3x200 untuk kronik (emfisema kronik, emfisema pada bronkhitis, bronkhitis
Asetil sistein tab Oral
mg meredakan asma kronik, tuberkulosis, amiloidosis paru-paru);dan penyakit
batuk berdahak bronkopulmonari akut (pneumonia, bronkhitis,
trakeobronkhitis) (Depkes RI, 2007)
Antipiretika &
3x500 Diberikan untuk menurunkan demam serta nyeri ringan sepeeti
Parasetamol tab Oral Analgetik
mg sakit kepala
Antidiabetik Pemasukan insulin eksternal untuk menurunkan kadar gula
Humalog MIX Insulin Pen 2x10iu
Injeksi dalam darah.
Dikarenakan tingginya kadar asam urat dalam darah, maka
Allopurinol Oral 2x1 Antigout
diperlukan penurun kadar asam urat
Ranitidin marupakan antagonis histamine H2, menghambat ion
Ranitidine Intravena 2x1 Antihistamin
H+ berikatan dengan reseptornya, sehingga tidak terbentuk

21
asam lambung. Obat ini digunakan untuk mencegah efek
samping ketorolac yang dapat menyebabkan iritasi lambung
dan juga untuk mencegah peningkatan asam lambung akibat
stress pre - operasi dan post- operasi. Pada saat pasien stress
maka produksi hormon katekolamin akan meningkat dan akan
banyak melepaskan mediator histamine salah satunya yaitu
histamine H2 yang dapat memicu peningkatan produksi asam
lambung.
Pasien sudah tidak buang air besar selama 3 hari, maka perlu
Dulcolax Supp Suppositoria 1x1 Laksansia diberikan laksansia yang dapat meningkatkan kerja otot
disaluran pencernaan.
Pelengkap Perlu diberikan asupan gula dari luar karena terjadi penurunan
Dekstrosa Intravena
Nutrisi kadar gula darah pasien.
Antidiabetik Diindikasi sebagai ADO untuk pengontrolan kadar glukosa
Gliquidon Oral 1x1
Oral dalam darah untuk rawat jalan
Diperlukan inhaler bronkodilator bila pasien tiba tiba sesak
Dipsamol Inhaler Inhaler Prn Bronkodilator
nafas akibat adanya penyempitan saluran nafas
Untuk penanganan CAD, maka diperlukan Diuretik hemat
Spironolakton 25mg Oral 1x1 Diuretik
kalium
Agar saluran tidak menyempit, maka diberikan bronkodilator
Obstruksi
Retaphyl SR 300mg Oral 2x1 golongan xantin, akan tetapi pasien diperingatkan untuk tidak
Sal.Nafas
merokok.

22
Tabel 7. DRP (DRUG RELETI PROBLEM )

PERMASA
NO JENIS LAHAN KOMENTAR /REKOMENDASI
ANALISA MASALAH
PERMASALAHAN TERKAIT
OBAT
Korelasi antara 1. Adakah ada obat tanpa Tidak ada 1. Nebulizer combivent sebagai bronkodilator
1 terapi obat-dengan indikasi medis? permasala 2. RL dan Amino fluid sebagai maintanance nutrisi dan
penyakit han sumber energi
3. Paracetamol untuk menurunkan suhu tubuh pasien
4. Asetil sistein untuk mukolitik (mengencerkan dahak)
5. Ranitidine sebagai antihistamin
6. Furosemide digunakan untuk penurun tekanan darah
serta pengeluaran cairan akibat dari CAD
7. Bisoprolol diberikan untuk penurunan tekanan darah
8. Humalog diberikan untuk penurunan kadar gula darah
saat melewati batas normal
9. Dulcolax Suppos diberikan untuk konstipasi karena
pasien sudah 2 hari tidak BAB
10. Cairan Dextrosa diberikan ketika kadar gula darah
pasien sangat turun.
11. Allopurinol diberikan untuk penurunan kadar asam
urat pasien.
Semua obat yang di berikan memiliki indikasi yang
2. Adakah pengobatan yang Tidak ada sesuai.
tidak dikenal? permasala
han
3. Adakah kondisi klinis
yangtidak diterapi? Apakah Tidak ada

23
kondisi tersebut permasala
membutuhkan terapi obat ? han
2 Pemilihan obat yang 1. Bagaimana pemilihan obat? Tidak ada 1. Pasien dating ke RS dengan keluhan sesak nafas dan
sesuai Apakahsudahefektifdanmeru permasala ditangani dengan Combivent melalui rute inhalasi
pakanobatterpilihpadakasusi han sehingga sesak nafas dapat segera diatasi.
ni? 2. Gejalabatuk berdahak
pasientelahditanganidenganpemberian Asetil sistein
3. Diberikan obat antihipertensi untuk penurunan
Tekanan darah
4. Diberikan obat Diuretik karena keluhan pasien adalah
adanya udem pada kaki yang merupakan gejala dari
CAD
5. Diberikan bisacodyl karena pasien mengeluh sudah
tidak BAB 2 hari
6. Diberikan Humalog Insulin pen karena kadar gula
darah sewaktu pasien melewati kadar normal.
2. Apakah pemilihan obat Tidak ada Obat yang digunakan pasien dapat ditoleransi oleh pasien
tersebut relatif aman? permasala
han
3. Apakah terapi obat dapat
ditoleransi oleh pasien?
3 Kepatuhan 1. Apakah jadwal pemberian Tidak ada Pemberian obat sesuai dengan aturan pemakaian obat
Penggunaan Obat dosis biasa memaksimalkan permasala sehingga efek terapi dapat tercapai, meminimalisir efek
efek terapi, kepatuhan, han. samping dan interaksi obat dan meningkatkan kepatuhan
meminimalkan efek samping, pasien.
interaksi obat, dan regimen
yang komplek?
2. Apakah lama terapi sesuai
dengan indikasi ?

24
4 Duplikasi terapi 1. Apakah ada duplikasi terapi Tidak ada
permasala
han

5 Alergi obat atau 1. Apakah pasien alergi atau Tidakada Pasien tidak alergi dan dapat mentolerasi terhadap obat
intoleran intoleran terhadap salah permasala
satuobat (atau bahan kimia han
yang berhubungan dengan
pengobatanya)?
2. Apakah pasien telah tahu
yang harus dilakukan jika
terjadi alergi serius?
6 Efek merugikan obat Apakah ada gejala/
Tidak ada Terdapat efek yang merugikan oleh obat yaitu
permasalahan medis yang
permasala penggunaan furosemide yang diindikasikan dalam
diinduksi obat? han pengobatan CAD, akan tetapi menyebabkan
hiperurisemia dengan pertimbangan penanganan utama
penyakit pasien adalah CAD, maka furosemide tetap
diberikan sampai gejala dari CAD mulai membaik.
7 Interaksi dan Apakah ada pemberian obat Tidak ada Tidak ada pemberian obat yang kontraindikasi dengan
kontraindikasi yang kontra indikasi dengan permasala keadaan pasien
keadaan pasien? han.

25
PEMBAHASAN
Seorang pasien bernama Tn.S dengan berat badan 50 kg masuk RSUD Padang
Panjang tanggal 5 Februari 2018 dengan keluhan sesak nafas 1 hari sebelum masuk
rumah sakit, kaki bengkak sejak 15 hari , batuk-batuk, dispepsia. Berdasarkan
pemeriksaan fisik kesadaran : CMC, GCS : E4 M5 V4, nadi : 90 x/menit, nafas : 26
x/menit, suhu : 36,5°C , tekanan darah : 160/105 mmHg. Berdasarkan anemnesa
diketahui pasien menderita penyakit CAD ec CHF dan memiliki riwayat penyakit paru
hipertensi dan DM tipe 2 yang tidak terkontrol.
Penyakit jantung koroner adalah suatu keadaan dimana terjadi penyempitan,
penyumbatan, atau kelainan pembuluh darah koroner. Penyempitan atau penyumbatan
ini dapat menghentikan aliran darah ke otot jantung yang sering ditandai dengan rasa
nyeri. Kondisi lebih parah kemampuan jantung memompa darah akan hilang, sehingga
sistem kontrol irama jantung akan terganggu dan selanjutnya bisa menyebabkan
kematian (Soeharto,2001).
Adanya keterkaitan penyakit jantung koroner dengan faktor resiko dan penyakit
penyerta lain seperti DM, hipertensi dan PPOK, serta adanya kemungkinan
perkembangan iskemik menjadi infark menyebabkan kompleksnya terapi yang
diberikan. Oleh karena itu, pemilihan jenis obat akan sangat menentukan kualitas
pengguanan obat dalam pemilihan terapi. Obat berperan sangat penting dalam
pelayanan kesehatan. Berbagai pilihan obat saat ini tersedia, sehingga diperlukan
pertimbangan-pertimbangan yang cermat dalam memilih obat untuk suatu penyakit.
Terlalu banyaknya jenis obat yang tersedia dapat memberikan masalah tersendiri dalam
praktik, terutama menyangkut pemilihan dan penggunaan obat secara benar dan aman
(Anonim, 2000).
Berdasarkan anamnesa, pasien menderita sesak nafas seblum masuk rumah sakit
sehingga mendapatkan nebulizer combivent (ipratropium bromide 0,5 mg Salbutamol
2,5 mg) sebagai bronkodilator, nebulizer combivent bekerja dengan cara β2 adrenergik
agonis digunakan sebagai bronkodilator sehingga sesak nafas dapat berkurang (Binfar).
Onset cepat didapatkan dalam waktu 5 menit yang dapat bertahan hingga 3-6 jam.
Pasien mendapatkan Furosemide Inj 2 x 1 sebagai diuretik karena ada udem pada kaki
pasien, furosemide bekerja meningkatkan eksresi natrium dan klorida sehingga
menurunkan volume darah dan cairan ekstra seluler.
Bisoprolol digunakan untuk pengobatan CAD, dimana bisoprolol merupakan
beta bloker selektif yang hanya memblok beta reseptor 1 dijantung sehingga tidak
mempengaruhi beta reseptor 2 pada organ lain seperti paru-paru.
Asetil sistein merupakan terapi tambahan untuk sekresi mukus yang tidak
normal, kental (Depkes RI, 2007). Paracetamol diberikan untuk menurunkan rasa nyeri
yang dikeluhkan oleh pasien.
Humalog mix antidiabetik Injeksi pemasukan insulin eksternal untuk
menurunkan kadar gula dalam darah. Tapi pada hari ke tiga terjadi penurunan kadar
gula darah sampai 33 mg/ dl ini dikarenakan pasien mengalami penurunan nafsu makan
sedangkan insulin external tetap diberikan. Solusi pemakaian insulin dihentikan dan
pasien diberikan dextrosa, tapi kadar gula dalam darah tetap dipantau.
Pada pemakaian furosemid yang terlalu lama dokter mencurigai adanya
peningkatan asam urat dalam darah, lalu dilakukan pengecekan labor pada hari kelima

26
rawatan dan diperoleh hasil kadar asam urat 12,4 mg/dL dari hasil ini terlihat kadar
melebihi normal 2,6 – 6 mg/dL sehingga untuk mengatasinya diberikan Allopurinol.
Ranitidin marupakan antagonis histamine H2, menghambat ion H+ berikatan
dengan reseptornya, sehingga tidak terbentuk asam lambung. Pada saat pasien stress
maka produksi hormon katekolamin akan meningkat dan akan banyak melepaskan
mediator histamine salah satunya yaitu histamine H2 yang dapat memicu peningkatan
produksi asam lambung.
Dulcolak pasien sudah tidak buang air besar selama 3 hari, maka perlu diberikan
laksansia yang dapat meningkatkan kerja otot disaluran pencernaan.

KESIMPULAN
Berdasarkan anemnesa diketahui pasien menderita penyakit CAD ec CHF dan
memiliki riwayat penyakit paru hipertensi dan DM tipe 2 yang tidak terkontrol. Dari
pengobatan yang diterima selama dirawat di RSUD Padang Panjang terdapat DRP
dalam kasus ini yang terkait tentang reaksi yang tidak diinginkan. Dimana salah satu
obat yang di indikasikan untuk CAD yaitu Furosemid dalam penggunaan panjang
memyebabkan hiperuresimia.

27
KASUS BANGSAL NEUROLOGI

a. Identitas pasien
Nama pasien : Ny. I
Alamat : Jorong Rampanai
Umur : 58 Tahun
Ruangan : Neuro
Agama : Islam
Jenis kelamin : Perempuan
Pembayaran/ status : BPJS
Mulai perawatan : 16 Februari 2018
Dokter yang merawat : dr. Rini Sunarti, Sp.S
Apoteker Penanggung Jawab : Rani Mestika A, S.Farm, Apt

Anamnesa
Pasien Perempuan berusia 58 tahun dibawa ke IGD RSUD Padang Panjang pada
tanggal 18 Februari 2018 dengan keluhan muntah sejak 1 hari yang lalu, badan terasa
lemah sejak 1 hari yang lalu, kepala pusing

Tabel 1. Riwayat penyakit


Keluhan utama Muntah sejak 1 hari yang lalu,
badan terasa lemah sejak 1 hari yang lalu,
kepala pusing
Riwayat sekarang Hipertensi
Stroke

Riwayat penyakit terdahulu Hipertensi, diabetes type 2, Stroke


Haemorraghic

Riwayat alergi obat dan Tidak ada alergi obat


makan

Riwayat pengobatan Belum ada


sebelumnya

b. Data penunjang
1. Data pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum

1. Kesadaran/mental : Apatis
2. Berat badan : 60 kg
3. Tinggi Badan : 160 cm

28
4. Suhu : 36.5oC
b. K
5.e Skala nyeri : -
6.a Nadi : 86 x
d
7.a Tekanan darah : 160/100 mmHg
8.a Pernafasan (x/menit) : 22 x/menit
n

k
b. Keadaan khusus

1. THT : Normal
2. Mulut : Tidak Normal
3. Kepala : Normal
4. Leher : Normal
5. Mata : Normal
6. Thorax : Normal
7. Abdomen : Normal
8. Urogential : Normal
10. Ekstremitas : Latoralisasi ke kanan
11. Kulit : Normal

Tabel 2. Data laboratorium

No DATA LAB NILAI NORMAL HASIL

1 Gula Darah Sewaktu < 200mg/dl 168


2 Ureum 13 – 43 mg/dl 20
3 Kreatinin 0,8 – 1,3 mg/dl 0,8
4 Natrium 135-148 mEq/L 142
5 Kalium 3,5-5,5 mEq/L 3,6
6 Klorida 98-107 mEq/L 103

C. Diagnosis
Stroke Hemoragik yang disebabkan Hipertensi dan Diabetes Mellitus Tipe 2

29
l 3. Data organ vital per hari

No Data Nilai Tanggal (2018)


Normal
16/2 17/2 18/2 19/2 20/2 21/2 22/2 23/2 24/2

1 Tekanan <130-80 160/100 138/77 142/86 120/80 127/78 125/95 130/65 130/70 130/70
Darah
2 Suhu 36,5-37,5 36,5 36,5 36,5 36,5 36,5 36,5 36,5 36,5 36,5

3 Nadi 60-80 90
4 Pernafasan 18-20 26

25
Tabel 4. Regimen Pengobatan

Tanggal Pemberian
Nama Obat Frekue 16/2 17/2 18/2 19/2 20/2 21/2 22/2 23/2 24/2 25/2
No
(Dagang/Generik) nsi
.
P S M P S M P S M P S M P S M P S M P S M P S M P S M P S M
1 Asering √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
2 Triofusin √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
3 RL √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
2 Ranitidine Inj 2x1 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
3 Citicolin inj 2x1 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
4 As. Tranexamat inj 4x 1gr √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
5 Omeprazol Inj 1x1 √ √ √ √ √ √ √ √
6 Parasematol 500mg 3x1 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
7 Flunarizine 2x1 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
8 Neurodex 2x1 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
9 Betahistin 2x1 √ √ √ √ √ √ √ √
10 Gliquidon 1x 1 √ √ √ √ √ √ √
11 CPZ 2 mg 1x 1 √ √ √ √
12 Laxadyn syr 3x 1ct √
1x 1
13 Amlodipin 10 mg Bila TD
>160/90
14 Haloperidol 1x1,5 √ √

25
Follow up
16 FEBRUARI 2018
S : Keluarga mengatakan pasien banyak tidur, kepala sakit, pasien tampak letih.
O : Kesadaran : Apatis
GCS : E4,V5, M4
Tekanan darah : 160/105 mm/Hg
Frekuensi nadi : 90 kali/menit
Frekuensi nafas : 26 kali/menit
Suhu : 36,5 °C
GDS : 242 mg/dL
A : Gangguan perfusi jaringan serebral, Stroke hemoragik DD/ stroke iskemik
P : Monitor TTV
Monitor status cairan
Catat perubahan pasien dalam merespon stimulus
Terapi penggobatan sesuai medis
17 FEBRUARI 2018
S : Keluarga mengatakan pasien banyak tidur, kepala sakit, pasien tampak letih.
O : Kesadaran : Apatis
GCS : E4,V5, M4
Tekanan darah : 138/77 mm/Hg
Frekuensi nadi :-
Frekuensi nafas :-
Suhu :-
A : Gangguan perfusi jaringan serebral, Stroke hemoragik DD/ stroke
iskemik
P : Monitor TTV
Monitor status cairan
Catat perubahan pasien dalam merespon stimulus
Pengobatan sesuai medis
18 FEBRUARI 2018
S : Keluarga mengatakan pasien banyak tidur, kepala masih sakit, pasien tampak
letih.
O : Kesadaran : Apatis
GCS : E4,V5, M4
Tekanandarah : 142/86 mm/Hg
Frekuensinadi :-
Frekuensinafas :-
Suhu :-
GDS :
A : Gangguan perfusi jaringan serebral, Stroke hemoragik DD/ Stroke iskemik
P : Lanjut obat yang sama
Terapi pengobatan sesuai medis

19 FEBRUARI 2018

25
S : Keluarga mengatakan pasien banyak tidur, kepala masih sakit, pasien
tampak letih, pasien mengeluh cegukan.
O : Kesadaran : Apatis
GCS : E4,V5, M4
Tekanan darah : 120/80 mm/Hg
Frekuensi nadi :-
Frekuensi nafas :-
Suhu :-
GDS :
A : Gangguan perfusi jaringan serebral, Stroke hemoragik DD/ Stroke iskemik
P : CPZ ¼
Pengobatan yang sama diteruskan
Terapi pengobatan sesuai medis
20 FEBRUARI 2018
S : Keluarga mengatakan pasien banyak tidur, kepala masih sakit, pasien tampak
letih.
O : Kesadaran : Apatis
GCS : E4,V5, M4
Tekanan darah : 127/78 mg/Hg
Frekuensi nadi :-
Frekuensi nafas :-
Suhu :-
GDS :
A : Gangguan perfusi jaringan serebral, Stroke hemoragik DD/ Stroke iskemik
P : Betahistin dihentikan
Terapi pengobatan sesuai medis
21 FEBRUARI 2018
S : Keluarga mengatakan pasien banyak tidur, kepala masih sakit, pasien tampak
letih, pasien mengeluh cegukan lagi.
O : Kesadaran : Apatis
GCS : E4,V5, M4
Tekanan darah : 125/95
Frekuensi nadi :-
Frekuensi nafas :-
Suhu :
GDS :
A : Gangguan perfusi jaringan serebral, Stroke hemoragik DD/ Stroke iskemik
P : CPZ ¼
Terapi pengobatan sesuai medis
22 FEBRUARI 2018
S : Keluarga mengatakan pasien banyak tidur, kepala masih sakit, pasien tampak
letih, pasien mengeluh masih cegukan dan gelisah.
O : Kesadaran : Apatis
GCS : E4,V5, M4
Tekanan darah : 125/95
Frekuensi nadi :-

26
Frekuensi nafas :-
Suhu :
GDS :
A : Gangguan perfusi jaringan serebral, Stroke hemoragik DD/ Stroke iskemik
P : CPZ ½
Alinamin F 1 x 1
Haloperidol jika gelisah
Terapi pengobatan sesuai medis
22 FEBRUARI 2018
S : Keluarga mengatakan pasien banyak tidur, kepala masih sakit, pasien tampak
letih, pasien mengeluh cegukan lag dan masih gelisah.
O : Kesadaran : Apatis
GCS : E4,V5, M4
Tekanan darah : 125/95
Frekuensi nadi :-
Frekuensi nafas :-
Suhu :
GDS :
A : Gangguan perfusi jaringan serebral, Stroke hemoragik DD/ Stroke iskemik
P : CPZ ½
Alinamin F 1 x 1
Haloperidol jika gelisah.
Terapi sesuai medis
23 FEBRUARI 2018
S : Keluarga mengatakan pasien banyak tidur, kepala masih sakit, pasien tampak
letih, pasien mengeluh cegukan lag dan masih gelisah.
O : Kesadaran : Apatis
GCS : E4,V5, M4
Tekanan darah : 130/65
Frekuensi nadi :-
Frekuensi nafas :-
Suhu :
GDS :
A : Gangguan perfusi jaringan serebral, Stroke hemoragik DD/ Stroke iskemik
P : CPZ ½
Alinamin F 1 x 1
Haloperidol jika gelisah.
Terapi sesuai medis
24 FEBRUARI 2018
S : Keluarga mengatakan pasien banyak tidur, kepala masih sakit, pasien tampak
letih, pasien mengeluh cegukan lag dan masih gelisah.
O : Kesadaran : Apatis
GCS : E4,V5, M4
Tekanan darah : 130/70
Frekuensi nadi :-
Frekuensi nafas :-

27
Suhu :
GDS :
A : Gangguan perfusi jaringan serebral, Stroke hemoragik DD/ Stroke iskemik
P : CPZ Bila Cegukan
Haloperidol jika gelisah.
Terapi sesuai medis

28
Tabel 5. Alasan Pemilihan Obat

Jenis Obat Rute Dosis Indikasi Obat Komentar dan Alasan


Asering Infusion diindikasikan untuk perawatan Darah dan
Keseimbangan kehilangan cairan, Tingkat kalsium yang rendah, Hipokalsemia,
Asering Intravena
12 jam Elektrolit Kekurangan kalium, Ketidakseimbangan elektrolit,
Inkonsistensi pH dan kondisi lainnya.
Triofusin Intravena 12 jam Supply Energi Mencukupi total energi pada pasien
Keseimbanagn
RL Intravena 12 jam Mencukupi asupan elektrolit dan makanan pada pasien
Elektolit
Perbaikan membran sel saraf melalui peningkatan sintesis
Gangguan
Citicolin 125 mg inj Intravena 2x1 phosphatidylcholine dan Pengurangan dari penumpukan asam
Saraf
lemak bebas pada area kerusakan akibat stroke.
Asam traneksamat merupakan competitive inhibitor dari
aktivator plasminogen dan penghambat plasmin.Plasmin sendiri
berperan menghancurkan fibrinogen, fibrin dari faktor
As. Traneksamat Sebagai
Intravena 4 x 1gr pembekuan darah lain, oleh karena itu asam traneksamat dapat
500mg inj koagulansia
digunakan untuk membantu mengatasi perdarahan akibat
fibrinolisis yang berlebihan. Penggunaan as. Traneksamat
sebagai penghentian pendarahan akibat stoke hemoragik.
Sebagai PPI (penghambat pompa proton) yang dapat mencegah
Omeprazol inj Intravena 2x1 Sebagai PPI
nyeri lambung akibat obat oral lainnya.
Analgetik Diberikan untuk menurunkan demam serta nyeri ringan seperti
Parasetamol Peroral 3x1
antipiretik sakit kepala
Pengobatan Flunarizin adalah suatu penghambat masuknya kalsium yang
gangguan bekerja secara selektif dan tidak memiliki efekkontraksi dan
Flunarizin Peroral 2x1 vestibular konduksi terhadap jantung. Pengguanan fluna rizin tersebut
sebagai pengobatan gangguan vestibur dan pasien juga
mengeluh sakit kepala.
Betahistin Peroral 2x1 Analgetik Betahistin memperlebar spinchter prekapiler sehingga

25
vertigo meningkatkan aliran darah pada telinga bagian dalam.
Betahistin mengatur permeabilitas kapiler pada telinga bagian
dalam, dengan demikain menghilangkan endolymphatic
hydrops. Betahistin juga memperbaiki sirkulasi serebral dan
meningkatkan aliran darah arteri karotis interna.
Ranitidin marupakan antagonis histamine H2, menghambat ion
H+ berikatan dengan reseptornya, sehingga tidak terbentuk
asam lambung. Obat ini digunakan untuk mencegah efek
samping ketorolac yang dapat menyebabkan iritasi lambung
dan juga untuk mencegah peningkatan asam lambung akibat
Ranitidine Intravena 2x1 Antihistamin
stresspre – operasi dan post- operasi. Pada saat pasien stress
maka produksi hormon katekolamin akan meningkat dan akan
banyak melepaskan mediator histamine salah satunya yaitu
histamine H2 yang dapat memicu peningkatan produksi asam
lambung.
Gliquidone menurunkan kadar gula darah dengan cara
Antidiabetik merangsang pelepasan insulin dari pankreas β-sel dan
Gliquidon Peroral 1x1
Oral mengurangi output glukosa dari hati.Berdasarkan hasil labor
pasien menderita DM tipe 2 .
Sebagai Agen anti psisikotik yang bekerja di sistem saraf untuk
CPZ Peroral prn
antiemetik mengatasi keluhan salah satunya cegukan.
Neurodex Peroral 2x1 Vitamin Membantu pemeliharaan saraf dan sistem gerak
Lasadyn Peroral 3x1c Pencahar Untuk mengatasi keluhan buang air besar pasien
Amlodipin merupakan kalsium cannal bloker yang bekaerja
cannal kasium sebagai sumber energi otot jangtung agar
Amlodipin Peroral 1x1 Hipertensi kontraksi jantung dapat dikurangi. Pengguanan obat ini untuk
mencegah aliran darah yang kencang lokasi pendarahan
hippotalamus.
Dopamin Penguranagan tingkat kegelisahan yang diduga akibat kenaikan
Haloperidol Peroral prn
antagonis kadar dopamin.

26
Tabel 6. DRP (

NO JENIS PERMASALAHAN KOMENTAR /REKOMENDASI


ANALISA MASALAH
PERMASALAHAN TERKAIT OBAT
Korelasi antara 4. Adakah ada obat tanpa Tidak ada permasalahan Semua terapi pengobatan sudah sesuai indikasi
1 terapi obat-dengan indikasi medis?
penyakit
5. Adakah pengobatan yang Tidak ada permasalahan
tidakdikenal?
6. Adakah kondisi klinis Tidak ada permasalahan
yangtidak diterapi? Apakah
kondisitersebutmembutuhka
n terapi obat ?
2 Pemilihan obat yang 4. Bagaimana pemilihan obat? Tidak ada permasalahan
sesuai Apakah sudah efektif dan
merupakan obat terpilih pada
kasus ini?

5. Apakah pemilihan obat Tidak ada permasalahan


tersebut relatif aman?
6. Apakah terapi obat dapat
ditoleransi oleh pasien?
3 Kepatuhan 3. Apakah jadwal pemberian Tidak ada permasalahan. Pemberian obat sesuai dengan aturan pemakaian
Penggunaan Obat dosis biasa memaksimalkan obat sehingga efek terapi dapat tercapai,
efek meminimalisir efek samping dan interaksi obat
terapi,kepatuhan,meminimal dan meningkatkan kepatuhan pasien.
kan efek samping, interaksi
obat, dan regimen yang
komplek?

27
4. Apakah lama terapi sesuai Tidak ada permasalahan Pasien masi dalam masa rawat inap
dengan indikasi ?
4 Duplikasi terapi 2. Apakah ada duplikasi terapi Tidak ada permasalahan

5 Alergi obat atau3. Apakah pasien alergi atau Tidak ada permasalahan Pasien tidak alergi dan dapat mentolerasi
intoleran intoleran terhadap salah satu terhadap obat
obat (atau bahan kimia yang
berhubungan dengan
pengobatanya)?
4. Apakah pasien telah tahu Ya, cara pakai obat dijelaskan kepada keluarga
yang harus dilakukan jika pasien
terjadi alergi serius?
6 Efek merugi kan Apakah ada gejala/ Tidak ada permasalahan Tidak ada gejala dan permasalahan medis yang
obat permasalahan medis yang diinduksi obat
diinduksi obat?
7 Interaksi dan Apakah ada pemberian obat Tidak ada permasalahan. Tidakada pemberian obat yang kontraindikasi
kontraindikasi yang kontra indikasi dengan dengan keadaan pasien
keadaan pasien?

28
Pembahasan
Pasien dengan keluhan muntah ±1 hari sebelum masuk rumah sakit, badan terasa
lemah ± 1 hari sebelum masuk rumah sakit, kepala pusing dan nafsu makan menurun.
Telah diketahui pasien memiliki riwayat penyakit stroke, hipertensi dan DM tipe 2.
Berdasarkan pemeriksaan fisik kesadaran : Apatis, GCS : E4 M5 V4, nadi : 86 x/menit,
nafas : 22 x/menit, suhu : 36,5°C, tekanan darah : 160/100 mmHg.
Stroke merupakan penyakit atau gangguan fungsional otak akut fokal maupun
global akibat terhambatnya peredaran darah ke otak. Gangguan peredaran darah otak
berupa tersumbatnya pembuluh darah otak ataupecahnya pembuluh darah di otak.
Stroke terbagi menjadi 2 bagian yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik.
Berdasarkan hasil diagnosa dokter pasien menderita penyakit stroke hemoragik dimana
stroke hemoragik merupakan kondisi ketika pembuluh darah di dalam otak pecah
sehingga menyebabkan pendarahan di dalam jaringan otak atau sekitar permukaan
organ tersebut.
Berdasarkan riwayat penyakit serta kondisi fisik pasien maka dokter
mendiagnosa pasien menderita Stroke hemoragik disertai hipertensi stage 2 dan
Diabetes Melitustipe 2. Hipertensi dalam jangka waktu lama akan merusak endotel
arteri dan mempercepat atherosclerosis. komplikasi dari hipertensi termasuk rusaknya
organ tubuh seperti, jantung, mata, ginjal, otak dan pembuluh darah besar. Hipertensi
adalah faktor resiko utama untuk penyakit serebro vascular (stroke), penyakit arteri
koroner, gagal ginjal, dementia dan arteri vibrilasi (Binfar, kemkes., 2006). Sedangkan
diabetes mellitus merupakan tidak terkontrol nya kadar gula dalam darah akibat 2 hal,
yaitu kurangnya sensitivitas insulin dan rusaknya sel beta pankreas yang bertugas dalam
memproduksi hormon insulin yang mana insulin ini berfungsi mengubah glukosa
menjadi glucagon didalam jaringan.
Penatalaksaan untuk penderita stroke dapat diberikan koagulansia untuk
mempercepat pembekuan darah agar pendarahan disaluran darah otak terhenti. Untuk
kelanjutannya dapat digunakan obat golongan pemblok kanal kalsium yang selektif
pada saluran darah otak.
Pemberian Citicolin berfungsi sebagai neuroproktetan dimana memperbaiki
membran sel dengan cara menambah sintesis phosphatidylcholine yang merupakan
komponen utama membran sel terutama otak. Meningkatnya sintesis
phosphatidylcholine akan berpengaruh pada perbaikan fungsi membran sel yang
mengarah pada perbaikan sel. Selain itu, kolin dalam sitikolin merupakan prekursor
asetilkolin yaitu neurotransmitter yang penting untuk fungsi kognitif. Sitikolin berperan
dalam menurunkan aktifitas enzim fosfolipase sehingga mengurangi produksi asam
arakhidonat dan meningkatkan sintesis kardiolipin yang merupakan komponen
membran mitokondria. Sitikolin juga meningkatkan produksi glutatione yang
merupakan antioksidan endogen otak terhadap radikal bebas. Pada level vaskuler,
sitikolin berperan dalam meningkatkan aliran darah otak, meningkatkan konsumsi
oksigen, dan menurunkan resistensi vaskuler. (Ddvalosa, 2012).
Pemberian terapi asam traneksamat sebagai terapi antifibrin olitik pada pasien
stroke pendarahan dengan tujuan mencegah terjadinya pendarahan pasca terjadinya
serangan stroke dan juga sebagai perbaikan klinis pada pasien stroke. Injeksi Ranitidin
digunakan sebagai stress ulcer untuk mencegah timbulnya perdarahan lambung pada

32
stroke yang dapat disebabkan penggunaan asam tranexamat, dimana pasien diberikan
injeksi Ranitidin dimana obat ini bekerja antagonis kompetitif dengan reseptor histamin
H-2, sehingga histamin terhalang dalam menduduki reseptornya akibatnya histamin
tidak mampu menghasilkan/ mengurangi produksi HCL dilambung (Iso Farmakoterapi,
2009). Pasien mengalami konstipasi yang merupakan efek samping dari obat yaitu
Ranitidin, sehingga diberikan laxadine sirup berfungsi untuk mencegah sulitnya buang
air besar pada pasien (AHFS, 2011).
IVFD Trofusin bertujuan untuk pembatasan intake cairan serta pasien
mengelauh tidak mau makan sehingga diberikan triofusin sebagai sumber energi pada
pasien tersebut. Triofusin mengandung Fruktosa, glukosa monohidrat dan xylitol,
berhubung pasien mengidap DM tipe 2 maka kadar gula pasien harus selalu dipantau.
Selanjutnya pasien mendapat terapi gliquidon 1x1 saat makan sebagai terapi
antidiabetik oral. Gliquidon merupakan golongan sulfonylurea ini bekerja langsung
pada sekresi insulin pada sel β pangkreas sehingga hanya efektif bila sel beta pangkreas
masih dapat berproduksi.
Flunarizin untuk nyeri pada kepala pasien yang dikombinasi dengan betahistin.
Betahistin bekerja dengan cara memperlebar spinchter prekapiler sehingga
meningkatkan aliran darah pada telinga bagian dalam. Betahistin mengatur
permeabilitas kapiler pada telinga bagian dalam, dengan demikain menghilangkan
endolymphatic hydrops. Betahistin juga memperbaiki sirkulasi serebral dan
meningkatkan aliran darah arteri karotis interna. Flunarizine merupakan golongan obat
calcium channel blocker dan memiliki aktivitas memblok histamin H1. Penggunaan
Flunarizin yang dikombinasi dengan betahistin karena dokter melihat ekspresi dari
pasien yang mengeluh kesakitan pada kepala pasien. Sehingga dengan dikombinasinya
flunarizin dan betahistin mememberikan efek yang sinergis untuk mengurangi rasa nyeri
pada pasien.
Dokter juga memberikan CPZ 1x25mg sebagai anti psikotik untuk mengatasi
cegukan yang dikeluhkan pasien, untuk meningkatkan fungsi gerak pada pasien,
diberikan terapi neurodex 2 kali sehari.
Kesimpulan
Dari hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pasien
didiagnosa dengan Strok hemoragik dengan penyakit penyerta Hipertensi stage II dan
Diabetes Mellitus tipe 2, dilihat dari beberapa tahapan pengobatan untuk menyelesaikan
masalah, pasien telah mendapatkan terapi sesuai medis sehingga pasien telah
mendapatkan pengobatan sesuai indikasi. Beradasarkan hasil pengobatan yang diterima
tidak terdapat DRP dalam kasus ini yang terkait tentang pengobatan tanpa indikasi,
terkait pemilihan obat, kepatuhan penggunan obat, duplikasi terapi, alergi obat, efek
samping merugikan obat, dan interaksi serta kontra indikasi obat tidak ada masalah
sehingga pasien mengalami perbaikan dan kesembuhan setelah diberikan terapi.

33
KASUS BANGSAL ANAK

a. Identitas pasien
Nama pasien : An. R
Alamat : Bintungan
Umur : 10 bulan
Ruangan : Bangsal anak
Agama : Islam
Jenis kelamin : LakiLaki
Pembayaran/ status : BPJS
Mulai perawatan : 8 Maret 2018
Dokter yang merawat : dr. Yunira Yunirman, Sp.A
Apoteker Penanggung : Nandi Hayati, S.Si, Apt
Jawab Rawat Inap Anak

Anamnesa
Pasien Anak laki-laki berusia 10 bulan dibawa ke IGD RSUD Padang Panjang pada
tanggal 8 maret 2018 dengan keluhan batuk berdahak sejak 1 hari SMRS, anak tampak
sesak dan demam tinggi ± 5 hari, demam naik turun, tidak hilang dengan obat.

Tabel 1. Riwayatpenyakit
Keluhan utama Stridor
Riwayat sekarang  Batuk berdahak sejak 1 hari SMRS, anak
tampak sesak.
 Demam tinggi ± 5 hari, demam naik turun,
tidak hilang dengan obat.
Riwayat penyakit terdahulu Tidak ada

Riwayat alergi obat dan Tidak ada alergi obat


makan

Riwayat pengobatan Belum ada


sebelumnya

Rekonsiliasi Parasetamol

34
b. Data penunjang
1. Data pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum

1. Kesadaran/ mental : CMC


2. Berat badan : 9 kg
3. Tinggi badan : tidak diukur
4. Suhu : 38.5 oC
5. Nadi : 130 x/menit
6. Tekanan darah : Tidak diukur
7. Pernafasan : 50 x/menit

b. Keadaan Khusus
1. THT : Faringitis
2. Mulut : Normal
3. Kepala : Normal
4. Leher : Normal
5. Mata : Normal
6. Thotax : Normal
7. Abdomen : Normal
8. Urogential : Normal
9. Ekstremitas : Normal
10. Kulit : Normal

Tabel 2. Data laboratorium


No DATA LAB NILAI NORMAL HASIL
1 Hemoglobin - 10,4
2 Leukosit 5000-10.000/uL 9870
3 Hematokrit 40-48 % 31%
4 Trombosit 150 – 400 10 3 253000

c. Diagnosis
Croup Disease

d. Tatalaksana terapi
 Terapi yang diberikan di IGD
O2 2liter/menit
IVFD 2A 10 tetes/menit
Amoxicilin 3 x 325 (IV)
Gentamisin 2x 4 mg (IV)
Dexametason 3 x 2 mg (IV)
Pamol 3 x 0,6 mg (PO)
Bromhexine 3 x 0,5 mg (PO) pulv

35
Tabel 3. Monitoring kondisipasien
Tanggal
NO DATA
8/3 9/3 10/3 11/3 12/3 13/3
1 Stidor + + + + - -
2 Sesak nafas + + + - - -
3 Batuk + + + + - -
4 Deman + + + + - -
5 Nafsu makan - + + + - -

Tabel 4. Data organ vital


NILAI Tanggal
N
DATA NORM 8/3 9/3 10/3 11/ 12/3 13/3
O
AL 3
1 Tekanandarah <130/80
(mmHg)
2 Suhu (◦C) 36.5- 38,5 38, 5 38,5 38 38 38,5
37.5
3 Nadi (x/ menit) 70-170 130
4 Pernafasan (x/ 21-30 50
menit)

36
Tabel 5. Regimen Pengobatan

TanggalPemberian
Nama Obat Freku 8/3 9/3 12/3 11/3 12/3 13/3
NO (Dagang/Generik) ensi
P S M P S M P S M P S M P S M P S M
10tts/
1 2A √ √ √ √ √
mnt
3x325
2 Amoxicilin Inj √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
mg
2x11
3 Gentamisin inj √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
mg
3x2
4 Dexametason inj √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ A F F A F F
mg
3x 0,6
5 Paracetamol √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
cc
3x0,5
6 Bromhexin √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
mg

39
Follow up
08 Maret 2018
S : Keluarga mengatakan pasien demam tinggi turun naik
Batuk dan sesak nafas sejak 1 kali yang lalu
Wheezing +
O : Kesadaran : CMC
GCS : E4,V5, M4
Tekanan darah :-
Frekuensi nadi
: 130 kali/menit
Frekuensi nafas : 50 kali/menit
Suhu : 38,5 °C
A : Croup Disease
P : Terapi sesuai medis

09 MARET 2018
S : Keluarga mengatakan pasien demam tinggi turun naik
Batuk dan sesak nafas sejak 1 kali yang lalu
Nafsu makan menurun
Wheezing +
O : Kesadaran : CMC
GCS : E4,V5, M4
Tekanan darah :-
Frekuensi nadi :-
Frekuensi nafas :-
Suhu : 38,5 °C
A : Croup Disease
P : Terapi sesuai medis

40
10 MARET 2018
S : Pasien masih demam
Batuk dan sesak nafas
Wheezing +
O : Kesadaran : CMC
GCS : E4,V5, M4
Tekanan darah :-
Frekuensi nadi :-
Frekuensi nafas :-
Suhu : 38,5 °C
A : Croup Disease
P : Terapi sesuai medis

11 MARET 2018
S : Pasien masih demam
Batuk dan sesak nafas
O : Kesadaran : CMC
GCS : E4,V5, M4
Tekanan darah :-
Frekuensi nadi :-
Frekuensi nafas :-
Suhu : 38°C
A : Croup Disease
P : Terapi sesuai medis

12 MARET 2018
S : Demam mulai berkurang
Batuk (- )dan sesak nafas (- )
O : Kesadaran : CMC

41
GCS : E4,V5, M4
Tekanan darah :-
Frekuensi nadi :-
Frekuensi nafas :-
Suhu : 38 °C
A : Croup Disease
P : Terapi sesuai medis
Dexamatason inj AFF

13 MARET 2018
S : Demam mulai berkurang
Batuk (- )dan sesak nafas (- )
O : Kesadaran : CMC
GCS : E4,V5, M4
Tekanan darah :-
Frekuensi nadi :-
Frekuensi nafas :-
Suhu : 38,5 °C
A : Croup Disease
P : Terapi sesuai medis
Dexamatason inj AFF
Pasien boleh pulang

42
Tabel 6. Pemmilihan Obat

Jenis Obat Rute Dosis Indikasi Obat KomentardanAlasan


Pemilihan cairan IVFD 2A digunakn untuk mengatasi
2A Intravena Elekrolit dehidrasi, menambah kalori dan mengembalikan keseimbangan
elektrolit.
Amoksisilin merupakan senyawa penisilina semi sintetik
dengan aktivitas anti bakteri spektrum luas yang bersifat
bakterisid. Aktivitasnya mirip dengan ampisilina, efektif
terhadap sebagian bakteri gram-positif dan beberapa gram-
negatif yang patogen. Bakteri patogen yang sensitif terhadap
amoksisilina adalah Staphylococci, Streptococci, Enterococci,
S. pneumoniae, N. gonorrhoeae, H. influenzae, E. coli dan P.
Antibiotik
AmoxisikinInj Intravena 3x1 mirabilis. Amoksisilina kurang efektif terhadap spesias Shigella
profilaksis
dan bakteri penghasil beta-laktamase. Indikasi amoksisilin
untuk infeksi saluran kemih, brokitis, pneumonia (formularium
IDAI, 2013). Karena belum dilakukan uji kultur maka dokter
memilih terapi empris untuk pengobatan infeksi pada randang
yang disebabkan oleh croup tersebut. Sehingga diberikan
amoksisilin sebagai terapi infeksi karena amoksisilin
merupakan antibiotik spekrum luas.
Antibiotik golongan aminoglikosida yang digunakan mengobati
infeksi-infeksi yang disebaban terutama oleh bakteri gram
negatif. Gentamisin bekerja dengan cara mengikat secara
Gentamisin inj Intravena 2x1 Antibiotik
reversible terhadap sub unit 3os dari ribosom bakteri sehingga
menghambat sistesa protein yang pada akhirnya menghambat
pertumbuhan bakteri itu.
Deksametason adalah glukokortikosteroid sintetik dengan
Dexametason inj Intravena 3x1 Anti inflamasi aktivitas imunosuspresan dan antiinflamasi. Sebagai
imunosuspresan dekasametason bekerja dengan cara

40
menurunkan respon imun tubuh terhadap stimulasi rangsang.
Aktivitas antiinflamasi deksametason dengan jlan menekan atau
mencegah respon jaringan terhadap proses inflamasi dan
menghambat akumulasi sel yang mengalami inflamasi,
termasuk makrofag dan leukosit pada tempat inflamasi.
Dexametason merupakan lini pertama pada pengobatan croup .
Antipiretik diresepkan untuk pasien yang mengalami
demam,pemberian parasetamol untuk anak dengan dosis 10-
15mg/kg/dosis setiap 4 sampai 6 jam dianggap aman dan
efektif (Sullivan et al, 2011).Mekanisme kerja paracetamol
yaitu dengan menghambat langsung sintesa prostaglandin di
sistem saraf pusat dan bekerja pada hipotalamus sehingga dapat
menurunkan suhu tubuh secara efektif. Pasien diberikan
Paracetamol Peroral 3x1 Antipiretik
paracetamol dengan dosis 3x120mg/5ml, dosis paracetamol
untuk anak yaitu 10-15 mg/kgBB/dosis, sehingga untuk pasien
dengan berat badan 8,5 kg dosisnya adalah 8,5 kg (10 – 15
mg/kgBB/dosis) = (85 – 127,5) mg/dosis tiap 6 jam. Dosis yang
dipakai untuk pasien sudah tepat yaitu 120mg/dose, frekuensi
pemberiannya sudah tepat yaitu 3 x sehari dan dosis sudah
sesuai.
Bromheksin dipilih karena merupakan obat mukolitik yang
bekerja mengurangi kekentalan dahak sehingga diharapkan
dahak tersebut menjadi lebih mudah dikeluarkan oleh pasien
Bromhexin Peroral 3x1 Mukolitik
anak. Pasien diberikan bromheksin dengan dosis 3x1,5 mg,
Dosis pemakaian bromheksin untuk anak yaitu 4-5
mg/kgBB/hari.

41
Tabel 7. DRP(
NO JENIS PERMASALAHAN KOMENTAR /REKOMENDASI
ANALISA MASALAH
PERMASALAHAN TERKAIT OBAT
Korelasi antara 7. Adakah ada obat tanpa Tidak ada 1. IVFD 2A sebagai elektrolit
1 terapi obat-dengan indikasi medis? permasalahan 2. Dexametason sebagai antiinflamasi yang
penyakit diresepkan untuk pasien yang menglami
radang pada laring.
3. Amoksisilin dan gentamisin sebagai
antibiotik untuk infeksi yang disebabkan
pada peradangan yag terjadi akibat croup
disease.
4. Paracetamol sebagai Antipiretik diresepkan
untuk pasien yang mengalami demam.
5. Bromheksin sebagai mukoliktik yang
bekerja mengurangi kekentalan dahak
sehingga diharapkan dahak tersebut menjadi
lebih mudah dikeluarkan oleh pasien anak.

8. Adakah pengobatan yang Tidak ada


tidakdikenal? permasalahan

9. Adakah kondisi klinis Tidak ada


yangtidak diterapi? Apakah permasalahan
kondisitersebutmembutuhka
n terapi obat ?

2 Pemilihan obat yang 7. Bagaimana pemilihan obat? Tidak ada Pemilihan obat telah sesuai dengan indikasi
sesuai Apakah sudah efektif dan permasalahan
merupakan obat terpilih pada
kasus ini?

42
8. Apakah pemilihan obat Tidak ada
tersebut relatif aman? permasalahan

9. Apakah terapi obat dapat


ditoleransi oleh pasien?
3 KepatuhanPengguna 5. Apakah jadwal pemberian Tidak ada Pemberian obat sesuai dengan aturan pemakaian
anObat dosis biasa memaksimalkan permasalahan. obat sehingga efek terapi dapat tercapai,
efek meminimalisir efek samping dan interaksi obat
terapi,kepatuhan,meminimal dan meningkatkan kepatuhan pasien.
kan efek samping, interaksi
obat, dan regimen yang
komplek?

6. Apakah lama terapi sesuai


dengan indikasi ?
4 Duplikasi terapi  Apakah ada duplikasi terapi Tidak ada
permasalahan

5 Alergi obat atau  Apakah pasien alergi atau Tidak ada Pasien tidak alergi dan dapat mentolerasi
intoleran intoleran terhadap salah satu permasalahan terhadap obat
obat (atau bahan kimia yang
berhubungan dengan
pengobatanya)?

 Apakah pasien telah tahu Ya, cara pakai obat dijelaskan kepada ibu pasien
yang harus dilakukan jika mengingat pasien adalah anak balita berusia 11
terjadi alergi serius? bulan.
6 Efek merugikan obat Apakah ada gejala/ Tidak ada Tidak ada gejala dan permasalahan medis yang
permasalahan medis yang permasalahan diinduksi obat

43
diinduksi obat?
7 Interaksi dan kontra Apakah ada pemberian obat Tidak ada Tidak ada pemberian obat yang kontraindikasi
indikasi yang kontra indikasi dengan permasalahan. dengan keadaan pasien
keadaan pasien?

PEMBAHASAN
Seoranganak An. R berusia 10 bulandenganberatbadan 9 kg masuk RSUD Padang Panjangtanggal 8 Maret 2018
dengankeluhanStridorBatuk kering sejak 1 hari SMRS, anak tampak sesak, demam tinggi ± 5 hari, demam naik turun, tidak hilang
dengan obat.
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik di IGD pada tanggal 08 Maret 2018, kondisi umum pasien baik, kesadaran compos
mentis, frekwensi nadi 130 x/menit, respirasi 50x/menit dan suhu 38.5 oC. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan,
pasien didiagnosa dokter menderita Croup Disease.
Croup merupakan penyakit dengan kelainan pada saluran pernafasan bagian atas, dengan manifestasi klinis berupa sesak
nafas, suara serak, batuk, stridor inspiratori yang kadang disertai distres pernafasan. Penyempitan di area subglotis menyebabkan
terjadinya turbulensi aliran udara dan timbul stidor yang disertai dengan nafas cepat dan dalam. Umumnya, penyakit ini terjadi pada
anak usia 6 bulan hingga 3 tahun tetapi dapat juga terjadi pada anak berusia 3 bulan sampai 15 tahun.insidenini lebih tinggi 1,5 kali
pada anak laki – laki daripada anak perempuan.
Diantara penyebab croup, yang paling sering dijumpai adalah virus. Diantara virus virus tersebut adalah Human
Parainfluenza Virus, RespiratorySyntitial Virus (RSV), metapneumovirus, Virus Influenza A dan B, Adenovirus, dan Corona
Virus. Sekitar 75% disebabkan oleh parainfluenza virus tipe 1. Croup terbagi menjadi 3 klasifikasi, yaitu ringan, sedang, dan
berat. Dimna berdasarkan hasil anamesis diketahui pasien menderita croup ringan.
Penatalaksanaan pasien croup disease sedang diberikan obat golongan steroid tetapi sebagai lini pertama yaitu inj.
Deksametason 3 x 2 mg. Deksametason adalah glukokortikosteroid sintetik dengan aktivitas imunosuspresan dan antiinflamasi.
Sebagai imunosuspresan dekasametason bekerja dengan cara menurunkan respon imun tubuh terhadap stimulasi rangsang. Aktivitas
antiinflamasi deksametason dengan jlan menekan atau mencegah respon jaringan terhadap proses inflamasi dan menghambat
akumulasi sel yang mengalami inflamasi, termasuk makrofag dan leukosit pada tempat inflamasi. Antibiotik juga diberikan pada
pasien ini yaitu antibiotik inj amoksisilin 3 x 325 mg dan inj gemtamisin 2 x 11 mg. Amoksisilin merupakan senyawa penisilina

44
semi sintetik dengan aktivitas anti bakteri spektrum luas yang bersifat bakteriasid.
Aktivitas nya mirip dengan ampisilina yang aktif terhadap sebagian bakteri gram-positif
dan beberapa gram-negatif yang patogen. Bakteri patogen yang sensitif terhadap
amoksisilina adalah Staphylococci, Streptococci, Enterococci, S. pneumoniae, N.
gonorrhoeae, H. influenzae, E. coli dan P. mirabilis. Amoksisilina kurang efektif
terhadap spesias Shigella dan bakteri penghasil β-laktamase. Indikasi amoksisilin untuk
infeksi saluran kemih, brokitis, pneumonia (formularium IDAI, 2013). Antibiotik
golongan aminoglikosida yang digunakan mengobati infeksi-infeksi yang disebaban
terutama oleh bakteri gram negatif. Gentamisin bekerja dengan cara mengikat secara
reversible terhadap sub unit 3os dari ribosom bakteri sehingga menghambat sistesa
protein yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan bakteri itu. Pemberian antibiotik
kombinasi diberikan karena belum dilakukan uji kultur maka dokter memilih terapi
empris untuk pencegahab infeksi sekunder. Sehingga diberikan amoksisilin sebagai
terapi infeksi karena amoksisilin merupakan antibiotik spekrum luas dan dikombinasi
dengan gentamisin yang memiliki spekrtum sempit yang aktif pada bakteri gram negatif
dan juga bersadarkan sifat bakteriostatik dari amoksisilin bila dikombinasikan dengan
gentamisin dapat meningkat menjadi bakteriosid. Sehingga penggunaan antibiotik
kombinasi tersebut sangat efektif sebagai profilaksis.
Pemilihan cairan IVFD 2A digunakan untuk mengatasi dehidrasi, menambah
kalori dan mengembalikan keseimbangan elektrolit. Pemberian paracetamol
berdasarkan keluhan pasien juga terdapat demam tinggi naik turun. Mekanisme kerja
paracetamol yaitu dengan menghambat langsung sintesa prostaglandin di sistem saraf
pusat dan bekerja pada hipotalamus sehingga dapat menurunkan suhu tubuh secara
efektif. Untuk batuk berdahak dokter meresepkan bromheksin 3 x 0,5mg dalam bentuk
serbuk. Bromheksin dipilih karena merupakan obat mukolitik yang bekerja mengurangi
kekentalan dahak sehingga diharapkan dahak tersebut menjadi lebih mudah dikeluarkan
oleh pasien anak.

45
Kesimpulan
Berdasarkan kasus diatas dapat disimpulkan bahwa dari data anamnesa,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan labor, pasien didiagnosa menderita Croup Disease.
Dosis obat yang diberikan pada pasien atau yang diterapi pada pasien sudah efektif dan
sesuai dengan penyakit yang ada pada pasien. Beradasarkan hasil pengobatan yang
diterima tidak terdapat DRP dalam kasus ini yang terkait tentang pengobatan tanpa
indikasi, terkait pemilihan obat, kepatuhan penggunan obat, duplikasi terapi, alergi
obat,, efeksamping merugikan obat, dan interaksi serta kontraindikasi obat tidak ada
masalah sehingga pasien mengalami perbaikan dan kesembuhan setelah diberikan
terapi.

46