Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Batu saluran kemih adalah batu yang terdiri dari batu ginjal, batu ureter,
batu uretra, dan batu kandung kemih. Komposisi dari batu saluran kemih ini
bisa terdiri dari batu kalsium, batu struvit, batu asam urat dan batu jenis
lainnya yang didalamnya terkandung batu sistin, batu Xanthin, dan batu
silikat. Penyebab tersering terjadinya batu saluran kemih ini adalah adalah
sumbatan pada saluran kemih baik itu terjadi secara herediter maupun karena
factor dari luar. (Purnomo, 2011 ed.3)

Penyakit batu saluran kemih ini sudah dikenal sejak zaman babilonia dan
zaman mesir kuno. Sebagai salah satu buktinya adalah diketemukannnya batu
pada kandung kemih seorang mumi. Penyakit ini dapat menyerang penduduk
diseluruh dunia tidak terkecuali penduduk di Indonesia. Angka kejadian
penyakit ini tidak diberbagai belahan dunia. Dinegara-negara berkembang
banyak dijumpai pasien dengan batu kandung kemih sedangkan dinegara
majulebih banyak dijumpai penyakit batu saluran kemih bagian atas, hal ini
dapat disebabkan oleh pengaruh status gizi da aktivitas pasien sehari-hari.
(Purnomo, 2011 ed.3)

Di Amerika Serikat, 5-10% penduduknya menderita penyakit ini,


sedangkan diseluruh dunia rata-rata terdapat 1-12% penduduk yang menderita
batu saluran kemih. Selain infeksi saluran kemih dan Pembesaran prostat
benigna, penyakit batu saluran kemih juga merupakan tiga penyakit terbanyak
pada system urologi sehingga perlu untuk dipahami terkait penjelaskan
maupun factor resiko terjadinya batu saluran kemih agar penyakit ini dapat
dicegah sedini mungkin. (Purnomo, 2011 ed.3)

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana Pencegahan Pada Masalah Sistem Perkemihan?
1.2.2 Apakah yang dimaksud dengan Batu Saluran Kemih?

1
1.2.3 Apakah yang dimaksud dengan sistem perkemihan?
1.2.4 Bagaimana Epidemiologi Penyakit Batu Saluran Kemih?
1.2.5 Bagaimana Gejala-gejala Batu Saluran Kemih?
1.2.6 Bagaimana Penatalaksanaan Medis Batu Saluran Kemih?
1.2.7 Bagaimana Pencegahan Batu Saluran Kemih?
1.3 Tujuan Penulisan
a. Tujuan umum:
Mahasiswa dapat mengetahui Pencegahan Pada Masalah Sistem
Perkemihan.
b. Tujuan Khusus
1.3.1 Untuk mengetahui Pencegahan Pada Masalah Sistem Perkemihan
1.3.2 Untuk mengetahui Definisi Batu Saluran Kemih
1.3.3 Untuk mengetahui Definisi Sistem Perkemihan
1.3.4 Untuk mengetahui Epidemiologi Penyakit Batu Saluran Kemih
1.3.5 Untuk mengetahui Gejala-gejala Batu Saluran Kemih
1.3.6 Untuk mengetahui Penatalaksanaan Medis Batu Saluran Kemih
1.3.7 Untuk mengetahui Pencegahan Batu Saluran Kemih

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pencegahan Pada Masalah Sistem Perkemihan

Pengertian pencegahan secara umum adalah mengambil tindakan


terlebih dahulu sebelum kejadian. Dalam mengambil langkah-langkah
pencegahan, haruslah didasarkan pada data atau keterangan yang
bersumber dari hasil analisis dari epidemiologi. Pencegahan penyakit
berkembang secara terus menerus dan pencegahan tidak hanya ditujukan
pada penyakit infeksi saja, tetapi pencegahan penyakit non-infeksi, seperti
yang dianjurkan oleh James Lind yaitu makanan sayur dan buah segar
untuk mencegah penyakit scorbut. Bahkan pada saat ini pencegahan
dilakukan pada fenomena non-penyakit seperti pencegahan terhadap
ledakan penduduk dengan keluarga berencana.
Upaya preventif/pencegahan adalah sebuah usaha yang dilakukan
individu dalam mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan.
Prevensi secara etimologi berasal dari bahasa latin, praevenire, yang
artinya datang sebelum atau antisipasi, atau mencegah untuk tidak terjadi
sesuatu. Dalam pengertian yang sangat luas, prevensi diartikan sbegai
upaya secara sengaja dilakukan untuk mencegah terjadinya ganggguan,
kerusakan, atau kerugian bagi seseorang atau masyarakat. (Notosoedirdjo
dan Latipun, 2005 : 145).
Usaha pencegahan penyakit secara umum dikenal berbagai strategi
pelaksanaan yang tergantung pada jenis, sasaran serta tingkat pencegahan.
Dalam strategi penerapan ilmu kesehatan masyarakat dengan prinsip
tingkat pencegahan seperti tersebut di atas, sasaran kegiatan diutamakan
pada peningkatan derajat kesehatan individu dan masyarakat,
perlindungan terhadap ancaman dan gangguan kesehatan, penanganan dan
pengurangan gangguan serta masalah kesehatan, serta usaha rehabilisasi
lingkungan.
Tujuan pencegahan penyakit adalah menghalangi perkembangan
penyakit dan kesakitan sebelum sempat berlanjut. Sehingga diharapkan

3
upaya pencegahan penyakit ini mampu menyelesaikan masalah kesehatan
di masyarakat dan menghasilkan derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya.
Berikut 3 Pencegahan Penyakit:
2.1.1 Pencegahan Primer
Pencegahan tingkat pertama (primary prevention)
merupakan suatu usaha pencegahan penyakit melalui usaha
mengatasi atau mengontrol faktor – faktor risiko (risk factors)
dengan sasaran utamanya orang sehat melalui usaha peningkatan
derajat kesehatan secara umum (promosi kesehatan) serta usaha
pencegahan khusus terhadap penyakit tertentu. Pencegahan tingkat
pertama ini didasarkan pada hubungan interaksi antara pejamu
(host), penyebab (agent/pemapar), lingkungan, dan proses kejadian
penyakit. Usaha pencegahan tingkat pertama secara garis besarnya
dapat dibagi dalam usaha peningkatan derajat kesehatan dan usaha
pencegahan khusus. (Nur Nasry, 2008).Seperti melakukan
Penyuluhan Kesehatan atau promosi kesehatan agar mencegah
seseorang yang sehat terkena penyakit gangguan sistem
perkemihan.
2.1.2 Pencegahan Sekunder
Sasaran utama pada mereka yang baru terkena penyakit
atau yang terancam akan menderita penyakit tertentu melalui
diagnosis dini serta pemberian pengobatan yang cepat dan tepat.
Tujuan utama pencegahan tingkat kedua ini, antara lain untuk
mencegah meluasnya penyakit dan untuk menghentikan proses
penyakit lebih lanjut, serta mencegah komplikasi. Dengan
pengertian lain pencegahan ini sekurang-kurangnya dapat
menghambat atau memperlambat progresifitas penyakit, mencegah
komplikasi, dan membatasi kemungkinan kecacatan. (Nur Nasry,
2008).Seperti diagnosis dan pengobatan dini penyakit pada
gangguan sistem perkemihan.
2.1.3 Pencegahan Tersier

4
Upaya rehabilitasi ditujukan untuk membatasi kecacatan
sehingga tidak menjadi tambah cacat, dan melakukan rehabilitasi
dari mereka yang punya cacat atau kelainan akibat penyakit. Pada
keadaan ini kerusakan patologis sudah bersifat irreversible, tidak
bisa diperbaiki lagi. (Bustan, 2006)
Tujuan utamanya adalah mencegah proses penyakit lebih
lanjut, seperti pengobatan dan perawatan khusus penderita
gangguan sistem perkemihan dan lain-lain serta mencegah
terjadinya cacat maupun kematian karena penyebab tertentu, serta
usaha rehabilitasi.
Rehabilitasi merupakan usaha pengembalian fungsi fisik,
psikologis dan sosial seoptimal mungkin yang meliputi rehabilitasi
fisik atau medis, rehabilitasi mental, dan rehabilitasi sosial,
sehingga setiap individu dapat menjadi anggota masyarakat yang
produktif dan berdaya guna. (Nur Nasry, 2008)

2.2 Batu Saluran Kemih

2.2.1 Definisi

Batu Saluran Kemih (BSK) adalah penyakit dimana didapatkan


masa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih baik
saluran kemih atas (ginjal dan ureter) dan saluran kemih bawah
(kandung kemih dan uretra), yang dapat menyebabkan nyeri,
perdarahan, penyumbatan aliran kemih dan infeksi. Batu ini bisa
terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih
(batu kandung kemih). Batu ini terbentuk dari pengendapan garam
kalsium, magnesium, asam urat, atau sistein.

BSK dapat berukuran dari sekecil pasir hingga sebesar buah


anggur. Batu yang berukuran kecil biasanya tidak menimbulkan gejala
dan biasanya dapat keluar bersama dengan urine ketika berkemih. Batu
yang berada di saluran kemih atas (ginjal dan ureter) menimbulkan
kolik dan jika batu berada di saluran kemih bagian bawah (kandung

5
kemih dan uretra) dapat menghambat buang air kecil. Batu yang
menyumbat ureter, pelvis renalis maupun tubulus renalis dapat
menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat
di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang yang menjalar ke
perut juga daerah kemaluan dan paha sebelah dalam). Hal ini
disebabkan karena adanya respon ureter terhadap batu tersebut, dimana
ureter akan berkontraksi yang dapat menimbulkan rasa nyeri kram yang
hebat.

2.3 Sistem Perkemihan

Sistem kemih (urinearia) adalah suatu sistem tempat terjadinya proses


penyaringan darah dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan
menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat- zat yang tidak di
pergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urine (air
kemih). Sistem kemih terdiri atas saluran kemih atas (sepasang ginjal dan
ureter), dan saluran kemih bawah (satu kandung kemih dan uretra).

2.3.1 Saluran Kemih Atas

a. Ginjal
Dalam keadaan normal, manusia memiliki 2 ginjal. Ginjal
merupakan organ yang berbentuk seperti kacang berwarna merah
tua, panjangnya sekitar 12,5 cm dan tebalnya sekitar 2,5 cm (kurang
lebih sebesar kepalan tangan).23 Ginjal adalah organ yang berfungsi
sebagai penyaring darah yang terletak di bagian belakang kavum
abdominalis di belakang peritoneum melekat langsung pada dinding
belakang abdomen. Setiap ginjal memiliki ureter, yang mengalirkan
air kemih dari pelvis renalis (bagian ginjal yang merupakan pusat
pengumpulan air kemih) ke dalam kandung kemih.

Setiap ginjal terdiri atas 1-4 juta nefron.Selama 24 jam dapat


menyaring darah 170 liter. Fungsi yang lainnya adalah ginjal dapat
menyaring limbah metabolik, menyaring kelebihan natrium dan air

6
dari darah, membantu mengatur tekanan darah, pengaturan vitamin
D dan Kalsium.

Ginjal mengatur komposisi kimia dari lingkungan dalam


melalui suatu proses majemuk yang melibatkan filtrasi, absorpsi
aktif, absorpsi pasif, dan sekresi. Filtrasi terjadi dalam glomerulus,
tempat ultra filtrate dari plasma darah terbentuk. Tubulus nefron,
terutama tubulus kontortus proksimal berfungsi mengabsorpsi dari
substansi-substansi yang berguna bagi metabolisme tubuh, sehingga
dengan demikian memelihara homeostatis lingkungan dalam.
Dengan cara ini makhluk hidup terutama manusia mengatur air,
cairan intraseluler, dan keseimbangan osmostiknya.Gangguan fungsi
ginjal akibat BSK pada dasarnya akibat obstruksi dan infeksi
sekunder. Obstruksi menyebabkan perubahan struktur dan fungsi
pada traktus urinearius dan dapat berakibat disfungsi atau
insufisiensi ginjal akibat kerusakan dari paremkim ginjal.

b. Ureter

Ureter merupakan saluran kecil yang menghubungkan antara


ginjal dengan kandung kemih (vesica urinearia), dengan panjang ±
25-30 cm, dengan penampang ± 0,5 cm.20 Saluran ini menyempit di
tiga tempat yaitu di titik asal ureter pada pelvis ginjal, di titik saat
melewati pinggiran pelvis, dan di titik pertemuannya dengan
kendung kemih. BSK dapat tersangkut dalam ureter di ketiga tempat
tersebut, yang mengakibatkan nyeri (kolik ureter).

Lapisan dinding ureter terdiri dari dinding luar berupa jaringan


ikat (jaringan fibrosa), lapisan tengah terdiri dari lapisan otot polos,
lapisan sebelah dalam merupakan lapisan mukosa. Lapisan dinding
ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali
yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih
(vesica urinearia).

7
Setiap ureter akan masuk ke dalam kandung kemih melalui
suatu sfingter. Sfingter adalah suatu struktur muskuler (berotot) yang
dapat membuka dan menutup sehingga dapat mengatur kapan air
kemih bisa lewat menuju ke dalam kandung kemih. Air kemih yang
secara teratur tersebut mengalir dari ureter akan di tampung dan
terkumpul di dalam kandung kemih.

2.3.2 Saluran Kemih Bawah

a. Kandung Kemih

Kandung kemih merupakan kantong muscular yang bagian


dalamnya dilapisi oleh membran mukosa dan terletak di depan organ
pelvis lainnya sebagai tempat menampung air kemih yang dibuang
dari ginjal melalui ureter yang merupakan hasil buangan
penyaringan darah.Dalam menampung air kemih kandung kemih
mempunyai kapasitas maksimal yaitu untuk volume orang dewasa
lebih kurang adalah 30-450 ml3.

Kandung kemih bersifat elastis, sehingga dapat mengembang


dan mengkerut. Ketika kosong atau setengah terdistensi, kandung
kemih terletak pada pelvis dan ketika lebih dari setengah terdistensi
maka kandung kemih akan berada pada abdomen di atas pubis.
Dimana ukurannya secara bertahap membesar ketika sedang
menampung jumlah air kemih yang secara teratur bertambah.
Apabila kandung kemih telah penuh, maka akan dikirim sinyal ke
otak dan menyampaikan pesan untuk berkemih. Selama berkemih,
sfingter lainnya yang terletak diantara kandung kemih dan uretra
akan membuka dan akan diteruskan keluar melalui uretra. Pada saat
itu, secara bersamaan dinding kandung kemih berkontrasksi yang
menyebabkan terjadinya tekanan sehingga dapat membantu
mendorong air kemih keluar menuju uretra.

b. Uretra

8
Saluran kemih (uretra) merupakan saluran sempit yang
berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air
kemih keluar. Pada laki-laki uretra berjalan berkelok-kelok melalui
tengah-tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang
menembus tulang pubis ke bagian penis panjangnya ± 20 cm. Uretra
pada lakilaki terdiri dari uretra prostatika, uretra membranosa, dan
uretra kavernosa. Uretra prostatika merupakan saluran terlebar
dengan panjang 3 cm, dengan bentuk seperti kumparan yang bagian
tengahnya lebih luas dan makin ke bawah makin dangkal kemudian
bergabung dengan uretra membranosa. Uretra membranosa
merupakan saluran yang paling pendek dan paling dangkal. Uretra
kavernosa merupakan saluran terpanjang dari uretra dengan panjang
kira-kira 15 cm. Pada wanita, uretra terletak di belakang simfisis
pubis berjalan miring sedikit kearah atas, panjangnya ± 3-4 cm.
Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina (antara
clitoris dan vagina) dan uretra disini hanya sebagai saluran ekskresi.
Uretra wanita jauh lebih pendek daripada uretra laki-laki.

2.3.3 Penyebab Pembentukan Batu Saluran Kemih

Penyebab pasti pembentukan BSK belum diketahui, oleh karena


banyak faktor yang dilibatkannya, sampai sekarang banyak teori dan
faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan BSK yaitu :

a. Teori Fisiko Kimiawi

Prinsip dari teori ini adalah terbentuknya BSK karena adanya


proses kimia, fisika maupun gabungan fisiko kimiawi. Dari hal
tersebut diketahui bahwa terjadinya batu sangat dipengaruhi oleh
konsentrasi bahan pembentuk batu di saluran kemih. Berdasarkan
faktor fisiko kimiawi dikenal teori pembentukan batu, yaitu:

1. Teori Supersaturasi

9
Supersaturasi air kemih dengan garam-garam pembentuk
batu merupakan dasar terpenting dan merupakan syarat
terjadinya pengendapan. Apabila kelarutan suatu produk tinggi
dibandingkan titik endapannya maka terjadi supersaturasi
sehingga menimbulkan terbentuknya kristal dan pada akhirnya
akan terbentuk batu.

Supersaturasi dan kristalisasi dapat terjadi apabila ada


penambahan suatu bahan yang dapat mengkristal di dalam air
dengan pH dan suhu tertentu yang suatu saat akan terjadi
kejenuhan dan terbentuklah kristal. Tingkat saturasi dalam air
kemih tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah bahan pembentuk
BSK yang larut, tetapi juga oleh kekuatan ion, pembentukan
kompleks dan pH air kemih.

2. Teori Matrik

Di dalam air kemih terdapat protein yang berasal dari


pemecahan mitokondria sel tubulus renalis yang berbentuk
laba-laba. Kristal batu oksalat maupun kalsium fosfat akan
menempel pada anyaman tersebut dan berada di sela-sela
anyaman sehingga terbentuk batu. Benang seperti laba-laba
terdiri dari protein 65%, heksana 10%, heksosamin 2-5%
sisanya air. Pada benang menempel kristal batu yang seiring
waktu batu akan semakin membesar. Matriks tersebut
merupakan bahan yang merangsang timbulnya batu.

3. Teori Tidak Adanya Inhibitor

Dikenal 2 jenis inhibitor yaitu organik dan anorganik.


Pada inhibitor organik terdapat bahan yang sering terdapat
dalam proses penghambat terjadinya batu yaitu asam sitrat,
nefrokalsin, dan tamma-horsefall glikoprotein sedangkan yang
jarang terdapat adalah gliko-samin glikans dan uropontin.

10
Pada inhibitor anorganik terdapat bahan pirofosfat dan
Zinc. Inhibitor yang paling kuat adalah sitrat, karena sitrat
akan bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium sitrat yang
dapat larut dalam air. Inhibitor mencegah terbentuknya kristal
kalsium oksalat dan mencegah perlengketan kristal kalsium
oksalat pada membaran tubulus. Sitrat terdapat pada hampir
semua buah-buahan tetapi kadar tertinggi pada jeruk. Hal
tersebut yang dapat menjelaskan mengapa pada sebagian
individu terjadi pembentukan BSK, sedangkan pada individu
lain tidak, meskipun sama-sama terjadi supersanturasi.

4. Teori Epitaksi

Pada teori ini dikatakan bahwa kristal dapat menempel


pada kristal lain yang berbeda sehingga akan cepat membesar
dan menjadi batu campuran. Keadaan ini disebut nukleasi
heterogen dan merupakan kasus yang paling sering yaitu
kristal kalsium oksalat yang menempel pada kristal asam urat
yang ada.

5. Teori Kombinasi

Banyak ahli berpendapat bahwa BSK terbentuk


berdasarkan campuran dari beberapa teori yang ada.

6. Teori Infeksi

Teori terbentuknya BSK juga dapat terjadi karena adanya


infeksi dari kuman tertentu. Pengaruh infeksi pada
pembentukan BSK adalah teori terbentuknya batu survit
dipengaruhi oleh pH air kemih > 7 dan terjadinya reaksi
sintesis ammonium dengan molekul magnesium dan fosfat
sehingga terbentuk magnesium ammonium fosfat (batu survit)
misalnya saja pada bakteri pemecah urea yang menghasilkan
urease. Bakteri yang menghasilkan urease yaitu Proteus spp,

11
Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas, dan
Staphiloccocus.

Teori pengaruh infeksi lainnya adalah teori nano bakteria


dimana penyebab pembentukan BSK adalah bakteri berukuran
kecil dengan diameter 50-200 nanometer yang hidup dalam
darah, ginjal dan air kemih. Bakteri ini tergolong gram negatif
dan sensitif terhadap tetrasiklin. Dimana dinding pada bakteri
tersebut dapat mengeras membentuk cangkang kalsium kristal
karbonat apatit dan membentuk inti batu, kemudian kristal
kalsium oksalat akan menempel yang lama kelamaan akan
membesar. Dilaporkan bahwa 90% penderita BSK
mengandung nano bakteria.

b. Teori Vaskuler

Pada penderita BSK sering didapat penyakit hipertensi dan kadar


kolesterol darah yang tinggi, maka Stoller mengajukan teori
vaskuler untuk terjadinya BSK, yaitu :

1. Hipertensi

Pada penderita hipertensi 83% mempunyai perkapuran ginjal


sedangkan pada orang yang tidak hipertensi yang mempunyai
perkapuran ginjal sebanyak 52%. Hal ini disebabkan aliran darah
pada papilla ginjal berbelok 180˚ dan aliran darah berubah dari
aliran lamine r menjadi turbulensi. Pada penderita hipertensi aliran
turbelen tersebut berakibat terjadinya pengendapan ion-ion kalsium
papilla (Ranall’s plaque) disebut juga perkapuran ginjal yang dapat
berubah menjadi batu.

2. Kolesterol

Adanya kadar kolesterol yang tinggi dalam darah akan


disekresi melalui glomerulus ginjal dan tercampur didalam air
kemih. Adanya butiran kolesterol tersebut akan merangsang

12
agregasi dengan kristal kalsium oksalat dan kalsium fosfat sehingga
terbentuk batu yang bermanifestasi klinis (teori epitaksi).

Menurut Hardjoeno (2006), diduga dua proses yang terlibat


dalam BSK yakni supersaturasi dan nukleasi. Supersaturasi terjadi
jika substansi yang menyusun batu terdapat dalam jumlah yang
besar dalam urine, yaitu ketika volume urine dan kimia urine yang
menekan pembentukan menurun. Pada proses nukleasi, natrium
hidrogen urat, asam urat dan kristal hidroksipatit membentuk inti.
Ion kalsium dan oksalat kemudian merekat (adhesi) di inti untuk
membentuk campuran batu. Proses ini dinamakan nukleasi
heterogen. Analisis batu yang memadai akan membantu memahami
mekanisme patogenesis BSK dan merupakan tahap awal dalam
penilaian dan awal terapi pada penderita BSK.

2.3.4 Klasifikasi Batu Saluran Kemih

Komposisi kimia yang terkandung dalam batu ginjal dan saluran


kemih dapat diketahui dengan menggunakan analisis kimia khusus
untuk mengetahui adanya kalsium, magnesium, amonium, karbonat,
fosfat, asam urat oksalat, dan sistin.

a. Batu kalsium

Kalsium adalah jenis batu yang paling banyak menyebabkan


BSK yaitu sekitar 70%-80% dari seluruh kasus BSK. Batu ini
kadang-kadang di jumpai dalam bentuk murni atau juga bisa dalam
bentuk campuran, misalnya dengan batu kalsium oksalat, batu
kalsium fosfat atau campuran dari kedua unsur tersebut.
Terbentuknya batu tersebut diperkirakan terkait dengan kadar
kalsium yang tinggi di dalam urine atau darah dan akibat dari
dehidrasi. Batu kalsium terdiri dari dua tipe yang berbeda, yaitu:

13
1. Whewellite (monohidrat) yaitu , batu berbentuk padat, warna
cokat/ hitam dengan konsentrasi asam oksalat yang tinggi pada
air kemih.
2. Kombinasi kalsium dan magnesium menjadi weddllite
(dehidrat) yaitu batu berwarna kuning, mudah hancur daripada
whewellite.
b. Batu asam urat

Lebih kurang 5-10% penderita BSK dengan komposisi asam


urat. Pasien biasanya berusia > 60 tahun. Batu asam urat dibentuk
hanya oleh asam urat. Kegemukan, peminum alkohol, dan diet tinggi
protein mempunyai peluang lebih besar menderita penyakit BSK,
karena keadaan tersebut dapat meningkatkan ekskresi asam urat
sehingga pH air kemih menjadi rendah. Ukuran batu asam urat
bervariasi mulai dari ukuran kecil sampai ukuran besar sehingga
membentuk staghorn (tanduk rusa). Batu asam urat ini adalah tipe
batu yang dapat dipecah dengan obat-obatan. Sebanyak 90% akan
berhasil dengan terapi kemolisis.

c. Batu struvit (magnesium-amonium fosfat)

Batu struvit disebut juga batu infeksi, karena terbentuknya batu


ini disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab
infeksi ini adalah golongan kuman pemecah urea atau urea splitter
yang dapat menghasilkan enzim urease dan merubah urine menjadi
bersuasana basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak. Kuman
yang termasuk pemecah urea di antaranya adalah : Proteus spp,
Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas, dan
Staphiloccocus. Ditemukan sekitar 15-20% pada penderita BSK.

Batu struvit lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki.


Infeksi saluran kemih terjadi karena tingginya konsentrasi
ammonium dan pH air kemih >7. Pada batu struvit volume air

14
kemih yang banyak sangat penting untuk membilas bakteri dan
menurunkan supersaturasi dari fosfat.

d. Batu Sistin

Batu Sistin terjadi pada saat kehamilan, disebabkan karena


gangguan ginjal. Merupakan batu yang paling jarang dijumpai
dengan frekuensi kejadian 1-2%. Reabsorbsi asam amino, sistin,
arginin, lysin dan ornithine berkurang, pembentukan batu terjadi saat
bayi. Disebabkan faktor keturunan dan pH urine yang asam. Selain
karena urine yang sangat jenuh, pembentukan batu dapat juga terjadi
pada individu yang memiliki riwayat batu sebelumnya atau pada
individu yang statis karena imobilitas. Memerlukan pengobatan
seumur hidup, diet mungkin menyebabkan pembentukan batu,
pengenceran air kemih yang rendah dan asupan protein hewani yang
tinggi menaikkan ekskresi sistin dalam air kemih.

2.4 Epidemiologi Penyakit Batu Saluran Kemih

2.4.1 Distribusi dan Frekuensi

Berdasarkan data dari Urologic Disease in America pada tahun


2000, insidens rate tertinggi kelompok umur berdasarkan letak batu
yaitu saluran kemih atas adalah pada kelompok umur 55-64 tahun 11,2
per-100.000 populasi, tertinggi kedua adalah kelompok umur 65-74
tahun 10,7 per-100.000 populasi. Insidens rate tertinggi jenis kelamin
berdasarkan letak batu yaitu saluran kemih atas adalah pada jenis
kelamin laki-laki 74 per-100.000 populasi, sedangkan pada perempuan
51 per-100.000 populasi. Insidens rate tertinggi kelompok umur
berdasarkan letak batu yaitu saluran kemih bawah adalah pada
kelompok umur 75-84 tahun 18 per-100.000 populasi, tertinggi kedua
adalah kelompok umur 65-74 tahun 11 per-100.000 populasi. Insidens
rate tertinggi jenis kelamin berdasarkan letak batu yaitu saluran kemih
bawah adalah jenis kelamin laki-laki 4,6 per-100.000 populasi
sedangkan pada perempuan 0,7 per100.000 populasi.

15
Analisis jenis batu berdasarkan jenis kelamin di Amerika Serikat
pada tahun 2005, jenis kelamin laki-laki dengan batu kalsium 75%, batu
asam urat 23,1%, batu struvit 5%, dan batu cysteine 0,5%, sedangkan
pada perempuan jenis batu kalsium 86,2%, batu asam urat 11,3%, batu
struvit 1,3%, dan batu cysteine 1,3%. Analisis jenis batu berdasarkan
jenis kelamin di Australia Selatan pada tahun 2005 yaitu pada jenis
kelamin laki-laki jenis batu kalsium oksalat 73%, batu asam urat 79%,
sedangkan pada perempuan jenis batu struvit 58%. Analisis jenis batu
berdasarkan kelompok umur, jenis batu kalsium oksalat 50-60 tahun,
batu asam urat 60-65 tahun dan batu struvit 20-55 tahun.

Penelitian yang dilakukan oleh Hardjoeno dkk pada tahun 2002-


2004 di RS dr.Wahidin Sudirohusodo Makasar berdasarkan jenis
kelamin proporsi tertinggi adalah jenis kelamin laki-laki 79,9 %
sedangkan wanita 20,1%.12 Di RSUP Sanglah Denpasar pada tahun
2007 jumlah pasien rawat inap BSK 113 orang, berdasarkan kelompok
umur proporsi tertinggi adalah kelompok umur 46-60 tahun 39,8%,
berdasarkan jenis kelamin proporsi tertinggi adalah jenis kelamin laki-
laki 80,5%, dan berdasarkan jenis batu proporsi yang tertinggi adalah
jenis batu kalsium oksalat 100%, struvite 96,5%, dan Cystine 66,4% .

2.4.2 Determinan

Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah


terjadinya BSK pada seseorang. Faktor-faktor tersebut adalah faktor
intrinsik, yaitu keadaan yang berasal dari tubuh seseorang dan faktor
ekstrinsik, yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan disekitarnya.

a. Faktor Intrinsik
Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam individu
sendiri. Termasuk faktor intrinsik adalah umur, jenis kelamin,
keturunan, riwayat keluarga.
1. Umur

16
Umur terbanyak penderita BSK di negara-negara Barat
adalah 20-50 tahun, sedangkan di Indonesia terdapat pada
golongan umur 30-60 tahun. Penyebab pastinya belum
diketahui, kemungkinan disebabkan karena adanya perbedaan
faktor sosial ekonomi, budaya, dan diet.2 Berdasarkan
penelitian Latvan, dkk (2005) di RS.Sedney Australia, proporsi
BSK 69% pada kelompok umur 20-49 tahun. Menurut Basuki
(2011), penyakit BSK paling sering didapatkan pada usia 30-
50 tahun.

2. Jenis kelamin

Kejadian BSK berbeda antara laki-laki dan wanita.


Jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan
dengan pasien perempuan. Tingginya kejadian BSK pada laki-
laki disebabkan oleh anatomis saluran kemih pada lakilaki
yang lebih panjang dibandingkan perempuan, secara alamiah
didalam air kemih laki-laki kadar kalsium lebih tinggi
dibandingkan perempuan, dan pada air kemih perempuan
kadar sitrat (inhibitor) lebih tinggi, laki-laki memiliki hormon
testosterone yang dapat meningkatkan produksi oksalat
endogen di hati, serta adanya hormon estrogen pada
perempuan yang mampu mencegah agregasi garam kalsium. 3
Insiden BSK di Australia pada tahun 2005 pada laki-laki 100-
300 per 100.000 populasi sedangkan pada perempuan 50-100
per 100.000 populasi.

3. Heriditer/ Keturunan

Faktor keturunan dianggap mempunyai peranan dalam


terjadinya penyakit BSK. Walaupun demikian, bagaimana
peranan faktor keturunan tersebut sampai sekarang belum
diketahui secara jelas. Berdasarkan penelitian Latvan, dkk
(2005) di RS. Sedney Australia berdasarkan keturunan

17
proporsi BSK pada laki-laki 16,8% dan pada perempuan
22,7%.

b. Faktor Ekstrinsik

Faktor ekstrinsik adalah faktor yang berasal dari lingkungan luar


individu seperti geografi, iklim, serta gaya hidup seseorang.

1. Geografi

Prevalensi BSK banyak diderita oleh masyarakat yang


tinggal di daerah pegunungan. Hal tersebut disebabkan oleh
sumber air bersih yang dikonsumsi oleh masyarakat dimana
sumber air bersih tersebut banyak mengandung mineral seperti
phospor, kalsium, magnesium, dan sebagainya. Letak geografi
menyebabkan perbedaan insiden BSK di suatu tempat dengan
tempat lainnya. Faktor geografi mewakili salah satu aspek
lingkungan dan sosial budaya seperti kebiasaan makanannya,
temperatur, dan kelembaban udara yang dapat menjadi
predoposisi kejadian BSK.

2. Faktor Iklim dan Cuaca

Faktor iklim dan cuaca tidak berpengaruh langsung,


namun kejadiannya banyak ditemukan di daerah yang bersuhu
tinggi. Temperatur yang tinggi akan meningkatkan jumlah
keringat dan meningkatkan konsentrasi air kemih. Konsentrasi
air kemih yang meningkat dapat menyebabkan pembentukan
kristal air kemih. Pada orang yang mempunyai kadar asam urat
tinggi akan lebih berisiko menderita penyakit BSK.

3. Jumlah Air yang di Minum

Dua faktor yang berhubungan dengan kejadian BSK


adalah jumlah air yang diminum dan kandungan mineral yang
terdapat dalam air minum tersebut. Bila jumlah air yang

18
diminum sedikit maka akan meningkatkan konsentrasi air
kemih, sehingga mempermudah pembentukan BSK.

4. Diet/Pola makan

Diperkirakan diet sebagai faktor penyebab terbesar


terjadinya BSK. Misalnya saja diet tinggi purine, kebutuhan
akan protein dalam tubuh normalnya adalah 600 mg/kg BB,
dan apabila berlebihan maka akan meningkatkan risiko
terbentuknya BSK. Hal tersebut diakibatkan, protein yang
tinggi terutama protein hewani dapat menurunkan kadar sitrat
air kemih, akibatnya kadar asam urat dalam darah akan naik,
konsumsi protein hewani yang tinggi juga dapat meningkatkan
kadar kolesterol dan memicu terjadinya hipertensi.

5. Jenis Pekerjaan

Kejadian BSK lebih banyak terjadi pada orang-orang


yang banyak duduk dalam melakukan pekerjaannya.

6. Kebiasaan Menahan Buang Air Kemih

Kebiasaan menahan buang air kemih akan menimbulakan


statis air kemih yang dapat berakibat timbulnya Infeksi Saluran
Kemih (ISK). ISK yang disebabkan oleh kuman pemecah urea
dapat menyebabkan terbentuknya jenis batu struvit.

2.5 Gejala – Gejala Batu Saluran Kemih

Manisfestasi klinik adanya batu dalam saluran kemih bergantung pada


adanya obstruksi, infeksi, dan edema. Ketika batu menghambat aliran urine,
terjadi obstruksi yang dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan
hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter proksimal. Infeksi biasanya
disertai gejala demam, menggigil, dan dysuria. Namun, beberapa batu jika
ada gejala tetapi hanya sedikit dan secara perlahan akan merusak unit

19
fungsional (nefron) ginjal, dan gejala lainnya adalah nyeri yang luar biasa (
kolik).28 Gejala klinis yang dapat dirasakan yaitu :

a. Rasa Nyeri

Lokasi nyeri tergantung dari letak batu. Rasa nyeri yang berulang (kolik)
tergantung dari lokasi batu. Bila nyeri mendadak menjadi akut, disertai
nyeri tekan diseluruh area kostovertebratal, tidak jarang disertai mual dan
muntah, maka pasien tersebut sedang mengalami kolik ginjal. Batu yang
berada di ureter dapat menyebabkan nyeri yang luar biasa, akut, dan
kolik yang menyebar ke paha dan genitalia. Pasien sering ingin merasa
berkemih, namun hanya sedikit urine yang keluar, dan biasanya air
kemih disertai dengan darah, maka pasien tersebut mengalami kolik
ureter.

b. Demam

Demam terjadi karena adanya kuman yang beredar di dalam darah


sehingga menyebabkan suhu badan meningkat melebihi batas normal.
Gejala ini disertai jantung berdebar, tekanan darah rendah, dan pelebaran
pembuluh darah di kulit.

c. Infeksi

BSK jenis apapun seringkali berhubungan dengan infeksi sekunder


akibat obstruksi dan statis di proksimal dari sumbatan. Infeksi yang
terjadi di saluran kemih karena kuman Proteus spp, Klebsiella, Serratia,
Enterobakter, Pseudomonas, dan Staphiloccocus.

d. Hematuria dan kristaluria

Terdapatnya sel darah merah bersama dengan air kemih (hematuria) dan
air kemih yang berpasir (kristaluria) dapat membantu diagnosis adanya
penyakit BSK.

e. Mual dan muntah

20
Obstruksi saluran kemih bagian atas (ginjal dan ureter) seringkali
menyebabkan mual dan muntah.

2.6 Penatalaksanaan Medis Batu Saluran Kemih

Tujuan dasar penatalaksanaan medis BSK adalah untuk menghilangkan


batu, menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengendalikan
infeksi, dan mengurangi obstruksi yang terjadi. Batu dapat dikeluarkan
dengan cara medikamentosa, pengobatan medik selektif dengan pemberian
obat-obatan, tanpa operasi, dan pembedahan terbuka.

2.6.1 Medikamentosa

Terapi medikamentosa ditujukan untuk batu yang berukuran lebih kecil


yaitu dengan diameter kurang dari 5 mm, karena diharapkan batu dapat
keluar tanpa intervensi medis. Dengan cara mempertahankan keenceran
urine dan diet makanan tertentu yang dapat merupakan bahan utama
pembentuk batu ( misalnya kalsium) yang efektif mencegah
pembentukan batu atau lebih jauh meningkatkan ukuran batu yang telah
ada. Setiap pasien BSK harus minum paling sedikit 8 gelas air sehari.

2.6.2 Pengobatan Medik Selektif dengan Pemberian Obat-obatan

Analgesia dapat diberikan untuk meredakan nyeri dan


mengusahakan agar batu dapat keluar sendiri secara spontan. Opioid
seperti injeksi morfin sulfat yaitu petidin hidroklorida atau obat anti
inflamasi nonsteroid seperti ketorolac dan naproxen dapat diberikan
tergantung pada intensitas nyeri. Propantelin dapat digunakan untuk
mengatasi spasme ureter. Pemberian antibiotik apabila terdapat infeksi
saluran kemih atau pada pengangkatan batu untuk mencegah infeksi
sekunder. Setelah batu dikeluarkan, BSK dapat dianalisis untuk
mengetahui komposisi dan obat tertentu dapat diresepkan untuk
mencegah atau menghambat pembentukan batu berikutnya.

2.6.3 ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy)

21
Merupakan tindakan non-invasif dan tanpa pembiusan, pada
tindakan ini digunakan gelombang kejut eksternal yang dialirkan
melalui tubuh untuk memecah batu. Alat ESWL adalah pemecah batu
yang diperkenalkan pertama kali oleh Caussy pada tahun 1980. Alat ini
dapat memecah batu ginjal, batu ureter proximal, atau menjadi
fragmen-fragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran
kemih.ESWL dapat mengurangi keharusan melakukan prosedur invasif
dan terbukti dapat menurunkan lama rawat inap di rumah sakit.

2.6.4 Endourologi

Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk


mengeluarkan BSK yang terdiri atas memecah batu, dan kemudian
mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang dimasukan
langsung kedalam saluran kemih. Alat tersebut dimasukan melalui
uretra atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan). Beberapa tindakan
endourologi tersebut adalah :

a. PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) adalah usaha


mengeluarkan batu yang berada di dalam saluran ginjal dengan
cara memasukan alat endoskopi ke sistem kalies melalui insisi pada
kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu
menjadi fragmen-fragmen kecil.
b. Litotripsi adalah memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan
memasukan alat pemecah batu (litotriptor) ke dalam buli-buli.
c. Ureteroskopi atau uretero-renoskopi adalah dengan memasukan
alat ureteroskopi per-uretram. Dengan memakai energi tertentu,
batu yang berada di dalam ureter maupun sistem pelvikalises dapat
dipecah melalui tuntunan ureteroskopi/ureterorenoskopi ini.
d. Ekstrasi Dormia adalah mengeluarkan batu ureter dengan
menjaringnya melalui alat keranjang Dormia.

2.6.5 Tindakan Operasi

22
Penanganan BSK, biasanya terlebih dahulu diusahakan untuk
mengeluarkan batu secara spontan tanpa pembedahan/operasi. Tindakan
bedah dilakukan jika batu tidak merespon terhadap bentuk penanganan
lainnya. Ada beberapa jenis tindakan pembedahan, nama dari tindakan
pembedahan tersebut tergantung dari lokasi dimana batu berada, yaitu :

a. Nefrolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu


yang berada di dalam ginjal.
b. Ureterolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu
yang berada di ureter
c. Vesikolitomi merupakan operasi tebuka untuk mengambil batu
yang berada di vesica urinearia
d. Uretrolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu
yang berada di uretra

2.7 Pencegahan Batu Saluran Kemih

Pencegahan BSK terdiri dari pencegahan primer atau pencegahan tingkat


pertama, pencegahan sekunder atau pencegahan tingkat kedua, dan
pencegahan tersier atau pencegahan tingkat ketiga. Tindakan pencegahan
tersebut antara lain :

2.7.1 Pencegahan Primer

Tujuan dari pencegahan primer adalah untuk mencegah agar tidak


terjadinya penyakit BSK dengan cara mengendalikan faktor penyebab
dari penyakit BSK. Sasarannya ditujukan kepada orang-orang yang
masih sehat, belum pernah menderita penyakit BSK. Kegiatan yang
dilakukan meliputi promosi kesehatan, pendidikan kesehatan, dan
perlindungan kesehatan. Contohnya adalah untuk menghindari
terjadinya penyakit BSK, dianjurkan untuk minum air putih minimal 2
liter per hari. Konsumsi air putih dapat meningkatkan aliran kemih dan
menurunkan konsentrasi pembentuk batu dalam air kemih. Serta
olahraga yang cukup terutama bagi individu yang pekerjaannya lebih
banyak duduk atau statis.

23
2.7.2 Pencegahan Sekunder

Tujuan dari pencegahan sekunder adalah untuk menghentikan


perkembangan penyakit agar tidak menyebar dan mencegah terjadinya
komplikasi. Sasarannya ditujukan kepada orang yang telah menderita
penyakit BSK. Kegiatan yang dilakukan dengan diagnosis dan
pengobatan sejak dini. Diagnosis Batu Saluran Kemih dapat dilakukan
dengan cara pemeriksaan fisik, laboraturium, dan radiologis.

Hasil pemeriksaan fisik dapat dilihat berdasarkan kelainan fisik pada


daerah organ yang bersangkutan :

a. Keluhan lain selain nyeri kolik adalah takikardia, keringatan, mual,


dan demam (tidak selalu).
b. Pada keadaan akut, paling sering ditemukan kelembutan pada
daerah pinggul (flank tenderness), hal ini disebabkan akibat
obstruksi sementara yaitu saat batu melewati ureter menuju
kandung kemih.

Urinalisis dilakukan untuk mengetahui apakah terjadi infeksi yaitu


peningkatan jumlah leukosit dalam darah, hematuria dan bakteriuria, dengan
adanya kandungan nitrit dalam urine. Selain itu, nilai pH urine harus diuji
karena batu sistin dan asam urat dapat terbentuk jika nilai pH kurang dari 6,0,
sementara batu fosfat dan struvit lebih mudah terbentuk pada pH urine lebih
dari 7,2.

Diagnosis BSK dapat dilakukan dengan beberapa tindakan radiologis yaitu:

a. Sinar X abdomen

Untuk melihat batu di daerah ginjal, ureter dan kandung kemih. Dimana
dapat menunjukan ukuran, bentuk, posisi batu dan dapat membedakan
klasifikasi batu yaitu dengan densitas tinggi biasanya menunjukan jenis
batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat, sedangkan dengan densitas
rendah menunjukan jenis batu struvit, sistin dan campuran. Pemeriksaan

24
ini tidak dapat membedakan batu di dalam ginjal maupun batu diluar
ginjal.

b. Intravenous Pyelogram (IVP)

Pemeriksaan ini bertujuan menilai anatomi dan fungsi ginjal. Jika IVP
belum dapat menjelaskan keadaan sistem saluran kemih akibat adanya
penurunan fungsi ginjal, sebagai penggantinya adalah pemeriksaan
pielografi retrograd.

c. Ultrasonografi (USG)

USG dapat menunjukan ukuran, bentuk, posisi batu dan adanya


obstruksi. Pemeriksaan dengan ultrasonografi diperlukan pada wanita
hamil dan pasien yang alergi terhadap kontras radiologi. Keterbatasn
pemeriksaan ini adalah kesulitan untuk menunjukan batu ureter, dan
tidak dapat membedakan klasifikasi batu.

d. Computed Tomographic (CT) scan

Pemindaian CT akan menghasilkan gambar yang lebih jelas tentang


ukuran dan lokasi batu.

2.7.3 Pencegahan Tersier

Tujuan dari pencegahan tersier adalah untuk mencegah agar tidak


terjadi komplikasi sehingga tidak berkembang ke tahap lanjut yang
membutuhkan perawatan intensif. Sasarannya ditujukan kepada orang
yang sudah menderita penyakit BSK agar penyakitnya tidak bertambah
berat. Kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan rehabilitasi seperti
konseling kesehatan agar orang tersebut lebih memahami tentang cara
menjaga fungsi saluran kemih terutama ginjal yang telah rusak akibat
dari BSK sehingga fungsi organ tersebut dapat maksimal kembali dan
tidak terjadi kekambuhan penyakit BSK , dan dapat memberikan
kualitas hidup sebaik mungkin sesuai dengan kemampuannya.

25
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pengertian pencegahan secara umum adalah mengambil tindakan
terlebih dahulu sebelum kejadian. Dalam mengambil langkah-langkah
pencegahan, haruslah didasarkan pada data atau keterangan yang
bersumber dari hasil analisis dari epidemiologi. Pencegahan penyakit
berkembang secara terus menerus dan pencegahan tidak hanya ditujukan
pada penyakit infeksi saja, tetapi pencegahan penyakit non-infeksi, seperti
yang dianjurkan oleh James Lind yaitu makanan sayur dan buah segar
untuk mencegah penyakit scorbut. Bahkan pada saat ini pencegahan
dilakukan pada fenomena non-penyakit seperti pencegahan terhadap
ledakan penduduk dengan keluarga berencana.
Batu Saluran Kemih (BSK) adalah penyakit dimana didapatkan
masa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih baik
saluran kemih atas (ginjal dan ureter) dan saluran kemih bawah (kandung
kemih dan uretra), yang dapat menyebabkan nyeri, perdarahan,
penyumbatan aliran kemih dan infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam
ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung
kemih). Batu ini terbentuk dari pengendapan garam kalsium, magnesium,
asam urat, atau sistein.
Tujuan dari pencegahan primer adalah untuk mencegah agar tidak
terjadinya penyakit BSK dengan cara mengendalikan faktor penyebab
dari penyakit BSK. Sasarannya ditujukan kepada orang-orang yang masih
sehat, belum pernah menderita penyakit BSK. Kegiatan yang dilakukan
meliputi promosi kesehatan, pendidikan kesehatan, dan perlindungan
kesehatan. Contohnya adalah untuk menghindari terjadinya penyakit
BSK, dianjurkan untuk minum air putih minimal 2 liter per hari.
Tujuan dari pencegahan sekunder adalah untuk menghentikan
perkembangan penyakit agar tidak menyebar dan mencegah terjadinya
komplikasi. Sasarannya ditujukan kepada orang yang telah menderita

26
penyakit BSK. Kegiatan yang dilakukan dengan diagnosis dan
pengobatan sejak dini. Diagnosis Batu Saluran Kemih dapat dilakukan
dengan cara pemeriksaan fisik, laboraturium, dan radiologis.
Tujuan dari pencegahan tersier adalah untuk mencegah agar tidak
terjadi komplikasi sehingga tidak berkembang ke tahap lanjut yang
membutuhkan perawatan intensif. Sasarannya ditujukan kepada orang
yang sudah menderita penyakit BSK agar penyakitnya tidak bertambah
berat.
3.2 Saran

Demikian makalah yang kami sampaikan. Kami berharap agar


makalah yang kami buat ini dapat bermanfaat bagi para dosen, teman-
teman dan pembaca terutama mahasiswa keperawatan.

27
DAFTAR PUSTAKA

Borley, P. A. (2006). At a Glance Ilmu Bedah Edisi ketiga. Jakarta: Erlangga

Bustan.M.N.2006.Pengantar Epidemiologi Revisi.Jakarta:Rineka Cipta

Chang, Esther. 2009. Patofisiologi Aplikasi Pada Praktek Keperawatan. Jakarta:


EGC

Corwin, Elizabeth J. 2007. Buku Saku Patofisiologi Ed.3. Jakarta: EGC

Nur Nasry Noor.2008.Epidemiologi.Jakarta:Rineka Cipta

Nursalam .2006. Sistem Perkemihan.Jakarta : Salemba Medika

Notosoedirjo.2005.Kesehatan Mental Konsep dan Penerapan,Malang:Universitas


Muhammadiyah Malang

Pearl, MS., Nakada, SY. 2009. Medical and Surgical Management of Urolithiasis.
Informa: UK

Purnomo, Basuki.2011. Dasar-Dasar Urologi Edisi Ketiga. Jakarta: Sagung Seto

Smeltzer, Suzanne C. dan Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan


Medikal-Bedah Edisi 8 Vol. 2. Jakarta: EGC

Stoller ML Bolton DM Urinary Stone Disease In: Tanagho EA, Mc Aninch JW


Smith’s General Urology,ed.5. New York: Mc Graw-Hill Companie, 2000,
291-316.

Suharyanto, Toto dan Madjid, Abdul. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien
dengan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta Timur: CV. Trans Info
Media

Syaifuddin,H. 2011. Anatomi Fisiologi Kurikulum Berbasis Kompetensi Edisi ke


tiga. Jakarta :EGC

Umamy, V. 2007. At a Glance Ilmu Bedah Edisi Ketiga by Pierce A. Grace &
Neil R. Borley. Jakarta: Penerbit Erlangga.

28