Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Komunikasi adalah instrumen dasar dari interaksi manusia yang memungkinkan


seseorang untuk melakukan kontak dengan orang lain karena komunikasi dilakukan oleh
seseorang setiap hari baik disadari maupun tidak. Di dunia kesehatan, terutama pada saat
menghadapi klien, seorang perawat juga harus mengadakan suatu komunikasi agar
informasi yang ada dapat tersampaikan dengan baik. Terutama informasi yang berkenaan
dengan kebutuhan klien akan asuhan keperawatan yang akan diberikan. Oleh karena itu,
komunikasi adalah faktor yang paling penting ,yang digunakan untuk menetapkan
hubungan antara perawat dengan klien.

Namun, seringkali informasi yang seharusnya sampai kepada orang yang


membutuhkan, ternyata terputus di tengah jalan akibat tidak efektifnya suatu komunikasi
yang dilakukan. Pada komunikasi terapeutik antara perawat dengan klien, hal tersebut
dapat mungkin terjadi karena disebabkan oleh berbagai hal. Hal –hal tersebut tidak hanya
berasal dari klien saja, tetapi juga dapat disebabkan oleh pola komunikasi yang salah
yang dilakukan oleh perawat. Komunikasi yang tidak efektif juga dapat disebabkan
kegagalan pada proses komunikasi itu sendiri. Kegagalan itu dapat terjadi pada saat
pengiriman pesan, penerimaan pesan, serta pada kejelasan pesan itu sendiri (Edelman,
2002)

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang dimaksud dengan komunikasi terapeutik?
1.2.2 Apa saja faktor komunikasi terapeutik?
1.2.3 Apa saja manfaat komunikasi terapeutik?
1.2.4 Apa saja fase-fase dalam komunikasi terapeutik?
1.2.5 Apa saja hambatan dalam proses komunikasi terapeutik?
1.2.6 Bagaimana cara mengatasi hambatan dalam proses komunikasi terapeutik?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian komunikasi terapeutik
1.3.2 Untuk mengetahui faktor komunikasi terapeutik
1.3.3 Untuk mengetahui manfaat komunikasi terapeutik
1.3.4 Untuk mengetahui fase-fase dalam komunikasi terapeutik
1.3.5 Untuk mengetahui hambatan dalam proses komunikasi terapeutik
1.3.6 Untuk mengetahui cara mengatasi hambatan dalam proses komunikasi terapeutik

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian komunikasi terapeutik

Komunikasi Terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses


penyembuhan klien (depkes RI,1997). Dalam pengertian lain komunikas terapeutik
adalah proses yang dingunakan oleh perawat memakai pendekatan yang direncanakan
secara sadar, bertujuan dan kegiatanny dipsuatkan pada klien.

2.2 Faktor – faktor komunikasi terpeutik

1. Perkembangan
Perkembangan manusia mempengaruhi bentuk komunikasi dalam dua aspek, yaitu
tingkat perkembangan tubuh mempengaruhi kemampuan untuk menggunakan teknik
2
komunikasi tertentu dan untuk mempersepsikan pesan yang disampaikan. Agar dapat
berkomunikasi efektif seorang perawat harus mengerti pengaruh perkembangan usia
baik dari sisi bahasa, maupun proses berpikir orang tersebut. Adalah sangat berbeda
cara berkomunikasi anak usia remaja dengan anak usia balita.

2. Persepsi
Persepsi adalah pandangan pribadi seseorang terhadap suatu kejadian atau peristiwa.
Persepsi dibentuk oleh harapan atau pengalaman. Perbedaan persepsi dapat
mengakibatkan terhambatnya komunikasi.

3. Gender
Laki-laki dan perempuan menunjukan gaya komunikasi yang berbeda dan memiliki
interpretasi yang berbeda terhadap suatu percakapan. Tannen (1990) menyatakan
bahwa kaum perempuan menggunakan teknik komunikasi untuk mencari konfirmasi,
meminimalkan perbedaan, dan meningkatkan keintiman, sementara kaum laki-laki
lebih menunjukan indepedensi dan status dalam kelompoknya.

4. Nilai
Nilai adalah standar yang mempengaruhi perilaku sehingga penting bagi perawat
untuk menyadari nilai seseorang. Perawat perlu berusaha mengklarifikasi nilai
sehingga dapat membuat keputusan dan interaksi yang tepat dengan klien. Dalam
hubungan profesionalnya diharapkan perawat tidak terpengaruh oleh nilai pribadinya.

5. Latarbbelakangbsosialbbudaya
Bahasa dan gaya komunikasi akan sangat dipengaruhi oleh faktor budaya. Budaya
juga akan membatasi cara bertindak dan komunikasi.

6. Emosi
Emosi merupakan perasaan subyektif terhadap suatu kejadian. Emosi seperti marah,
sedih, senang akan mempengaruhi perawat dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Perawat perlu mengkaji emosi klien agar dan keluarganya sehingga mampu
memberikan asuhan keperawatan dengan tepat. Selain itu perawat perlu mengevaluasi
emosi yang ada pada dirinya agar dalam melakukan asuhan keperawatan tidak
terpengaruh oleh emosi bawah sadarnya.

3
7. Pengetahuan
Tingkat pengetahuan akan mempengaruhi komunikasi yang dilakukan. Seseorang
dengan tingkat pengetahuan rendah akan sulit merespon pertanyaan yang
mengandung bahasa verbal dengan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Hal
tersebut berlaku juga dalam penerapan komunikasi terapeutik di rumah sakit.
Hubungan terapeutik akan terjalin dengan baik jika didukung oleh pengetahuan
perawat tentang komunikasi terapeutik baik tujuan, manfaat dan proses yang akan
dilakukan. Perawat juga perlu mengetahui tingkat pengetahuan klien sehingga
perawat dapat berinteraksi dengan baik dan akhirnya dapat memberikan asuhan
keperawatan yang tepat pada klien secara profesional.

8. PeranvdanvHubungan
Gaya komunikasi sesuai dengan peran dan hubungan antar orang yang
berkomunikasi. Berbeda dengan komunikasi yang terjadi dalam pergaulan bebas,
komunikasi antar perawat klien terjadi secara formal karena tuntutan profesionalisme.

9. Lingkungan
Lingkungan interaksi akan mempengaruhi komunikasi efektif. Suasana yang bising,
tidak ada privacy yang tepat akan menimbulkan kerancuan, ketegangan dan
ketidaknyamanan. Untuk itu perawat perlu menyiapkan lingkungan yang tepat dan
nyaman sebelum memulai interaksi dengan pasien. Menurut Ann Mariner (1986)
lingkungan adalah seluruh kondisi yang ada di sekitar manusia dan pengaruhinya
perkembangan dan perilaku orang atau kelompok.

10. Jarak
Jarak dapat mempengaruhi komunikasi. Jarak tertentu menyediakan rasa aman dan
kontrol. Untuk itu perawat perlu memperhitungkan jarak yang tetap pada saat
melakukan hubungan dengan klien.

11. Masavbekerja
Masa bekerja merupakan waktu dimana seseorang mulai bekerja di tempat kerja.
Makin lama seseorang bekerja semakin banyak pengalaman yang dimilikinya
sehingga akan semakin baik komunikasinya (Kariyoso, 1994).

2.3. Manfaat Komunikasi Terapeutik

4
Manfaat komuniaksi terapeutik (Christina, dkk, 2003) adalah:

1. Mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dengan pasien melalui
hubungan perawat – klien.

2. Mengidentifikasi, mengungkapkan perasaan, dan mengkaji masalah dan


mengevaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat.

2.4 Fase-fase dalam komunikasi terapeutik

1. Tahap Persiapan (Prainteraksi)


Tahap Persiapan atau prainteraksi sangat penting dilakukan sebelum
berinteraksi dengan klien (Christina, dkk, 2002). Pada tahap ini perawat menggali
perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Pada tahap ini perawat
juga mencari informasi tentang klien. Kemudian perawat merancang strategi untuk
pertemuan pertama dengan klien. Tahap ini harus dilakukan oleh seorang perawat
untuk memahami dirinya, mengatasi kecemasannya, dan meyakinkan dirinya bahwa
dia siap untuk berinteraksi dengan klien (Suryani, 2005).

Tugas perawat pada tahap ini antara lain:


a. Mengeksplorasi perasaan, harapan, dan kecemasan. Sebelum berinteraksi dengan
klien, perawat perlu mengkaji perasaannya sendiri (Stuart, G.W dalam Suryani,
2005). Perasaan apa yang muncul sehubungan dengan interaksi yang akan
dilakukan. Apakah ada perasaan cemas? Apa yang dicemaskan? (Suryani, 2005).
b. Menganalisis kekuatan dan kelemanhan sendiri. Kegiatan ini sangat penting
dilakukan agar perawat mampu mengatasi kelemahannya secara maksimal pada
saat berinteraksi dengan klien. Misalnya seorang perawat mungkin mempunyai
kekuatan mampu memulai pembicaraan dan sensitif terhadap perasaan orang lain,
keadaan ini mungkin bisa dimanfaatkan perawat untuk memudahkannya dalam
membuka pembicaraan dengan klien dan membina hubungan saling percaya
(Suryani, 2005).
c. Mengumpulkan data tentang klien. Kegiatan ini juga sangat penting karena
dengan mengetahui informasi tentang klien perawat bisa memahami klien. Paling
tidak perawat bisa mengetahui identitas klien yang bisa digunakan pada saat
memulai interaksi (Suryani, 2005).

5
d. Merencanakan pertemuan yang pertama dengan klien. Perawat perlu
merencanakan pertemuan pertama dengan klien. Hal yang direncanakan
mencakup kapan, dimana, dan strategi apa yang akan dilakukan untuk pertemuan
pertama tersebut (Suryani, 2005).
2. Tahap Perkenalan
Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu
atau kontak dengan klien (Christina, dkk, 2002). Pada saat berkenalan, perawat harus
memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien (Brammer dalam Suryani,
2005). Dengan memperkenalkan dirinya berarti perawat telah bersikap terbuka pada
klien dan ini diharapkan akan mendorong klien untuk membuka dirinya (Suryani,
2005). Tujuan tahap ini adalah untuk memvalidasi keakuratan data dan rencana yang
telah dibuat dengan keadaan klien saat ini, serta mengevaluasi hasil tindakan yang
lalu (Stuart, G.W dalam Suryani, 2005).

Tugas perawat pada tahap ini antara lain:


a. Membina rasa saling percaya, menunjukkan penerimaan, dan komunikasi terbuka.
Hubungan saling percaya merupakan kunci dari keberhasilan hubungan terapeutik
(Stuart, G.W dalam Suryani, 2005), karena tanpa adanya rasa saling percaya tidak
mungkin akan terjadi keterbukaan antara kedua belah pihak. Hubungan yang
dibina tidak bersifat statis, bisa berubah tergantung pada situasi dan kondisi
(Rahmat, J dalam Suryani 2005). Karena itu, untuk mempertahankan atau
membina hubungan saling percaya perawat harus bersikap terbuka, jujur, ikhlas,
menerima klien apa adanya, menepati janji, dan menghargai klien (Suryani, 2005).
b. Merumuskan kontrak pada klien (Christina, dkk, 2002). Kontrak ini sangat
penting untuk menjamin kelangsungan sebuah interaksi (Barammer dalam
Suryani, 2005). Pada saat merumuskan kontrak perawat juga perlu menjelaskan
atau mengklarifikasi peran-peran perawat dan klien agar tidak terjadi kesalah
pahaman klien terhadap kehadiran perawat. Disamping itu juga untuk
menghindari adanya harapan yang terlalu tinggi dari klien terhadap perawat
karena karena klien menganggap perawat seperti dewa penolong yang serba bisa
dan serba tahu (Gerald, D dalam Suryani, 2005). Perawat perlu menekankan
bahwa perawat hanya membantu, sedangkan kekuatan dan keinginan untuk
berubah ada pada diri klien sendiri (Suryani, 2005).

6
c. Menggali pikiran dan perasaan serta mengidentifikasi masalah klien. Pada tahap
ini perawat mendorong klien untuk mengekspresikan perasaannya. Dengan
memberikan pertanyaan terbuka, diharapkan perawat dapat mendorong klien
untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya sehingga dapat mengidentifikasi
masalah klien.
d. merumuskan tujuan dengan klien. Perawat perlu merumuskan tujuan interaksi
bersama klien karena tanpa keterlibatan klien mungkin tujuan sulit dicapai. Tujuan
ini dirumuskan setelah klien diidentifikasi.
Fase orientasi, fase ini dilaksanakan pada awal setiap pertemuan kedua dan
seterusnya, tujuan fase ini adalah memvalidasi keakuratan data, rencana yang telah
dibuat dengan keadaan klien saat ini, dan mengevaluasi hasil tindakan yang lalu.
Umumnya dikaitkan dengan hal yang telah dilakukan bersama klien (Cristina, dkk,
2002).
3. Tahap Kerja
Tahap kerja ini merupakan tahap inti dari keseluruhan proses komunikasi
terapeutik (Stuart, G.W dalam Suryani, 2005). Pada tahap ini perawat dan klien
bekerja bersama-sama untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien. Pada tahap kerja
ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap perasaan dan
pikirannya. Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis
yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal
klien.
Pada tahap ini perawat perlu melakukan active listening karena tugas perawat
pada tahap kerja ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien. Melalui active
listening, perawat membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang dihadapi,
bagaimana cara mengatasi masalahnya, dan mengevaluasi cara atau alternatif
pemecahan masalah yang telah dipilih.
Perawat juga diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien.
Tehnik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-
hal penting dalam percakapan, dan membantu perawat-klien memiliki pikiran dan ide
yang sama (Murray, B & Judth dalam Suryani, 2005). Tujuan tehnik menyimpulkan
adalah membantu klien menggali hal-hal dan tema emosional yang penting (Fontaine
& Fletcner dalam Suryani, 2005)
4. Tahap Terminasi

7
Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dengan klien (Christina,
dkk, 2002). Tahap ini dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir
(Stuart, G.W dalam Suryani, 2005).
Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat-klien, setelah
terminasi sementara, perawat akan bertemu kembali dengan klien pada waktu yang
telah ditentukan.
Terminasi akhir terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara
keseluruhan.

Tugas perawat pada tahap ini antara lain:


a. Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah dilaksanakan. Evaluasi
ini juga disebut evaluasi objektif. Dalam mengevaluasi, perawat tidak boleh
terkesan menguji kemampuan klien, akan tetapi sebaiknya terkesan sekedar
mengulang atau menyimpulkan.
b. Melakukan evaluasi subjektif. Evaluasi subjektif dilakukan dengan menanyakan
perasaan klien setelah berinteraksi dengan perawat. Perawat perlu mengetahui
bagaimana perasaan klien setelah berinteraksi dengan perawat. Apakah klien
merasa bahwa interaksi itu dapat menurunkan kecemasannya? Apakah klien
merasa bahwa interaksi itu ada gunanya? Atau apakah interaksi itu justru
menimbulkan masalah baru bagi klien.
c. Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. Tindakan ini
juga disebut sebagai pekerjaan rumah untuk klien. Tindak lanjut yang diberikan
harus relevan dengan interaksi yang akan dilakukan berikutnya. Misalnya pada
akhir interaksi klien sudah memahami tentang beberapa alternative mengatasi
marah. Maka untuk tindak lanjut perawat mungkin bisa meminta klien untuk
mencoba salah satu dari alternative tersebut.
d. Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya. Kontrak ini penting dibuat agar
terdapat kesepakatan antara perawat dan klien untuk pertemuan berikutnya.
Kontrak yang dibuat termasuk tempat, waktu, dan tujuan interaksi.

Stuart G.W. (1998) dalam Suryani (2005), menyatakan bahwa proses terminasi
perawat-klien merupakan aspek penting dalam asuhan keperawatan, sehingga jika hal
tersebut tidak dilakukan dengan baik oleh perawat, maka regresi dan kecemasan dapat
terjadi lagi pada klien. Timbulnya respon tersebut sangat dipengaruhi oleh
8
kemampuan perawat untuk terbuka, empati dan responsif terhadap kebutuhan klien
pada pelaksanaan tahap sebelumnya.

2.5. Hambatan dalam proses komunikasi terapeutik

a. Resistens

Resistens merupakan upaya klien untuk tidak menyadari aspek dari


penyebab cemas atau kegelisahan yang dialami. Ini juga merupakan keengganan
alamiah atau penghindaran secara verbal yang dipelajari. Klien yang resisten
biasanya menunjukkan ambivalensi antara menghargai tetapi juga menghindari
pengalaman yang menimbulkan cemas padahal hal ini merupakan bagian normal
dalam proses terapeutik. Resisten ini sering akibat dari ketidaksesuaian klien untuk
berubah ketika kebutuhan untuk berubah telah dirasakan.

Perilaku resisten biasanya diperlihatkan oleh klien pada fase kerja, karena
pada fase ini sangat banyak berisi proses penyelesaiaan masalah
(Stuart danSundeen dalam Intan. 2005).

Beberapa bentuk resistensi (Stuart dan Sundeen , 1995)

1 Supresi dan represi informasi yang terkait

2 Intensifikasi gejala

3 Devaluasi diri serta pandangan dan keputusasaan tentang masa depan

4 Dorongan untuk sehat, yang terjadi secara tiba-tiba tetapi hanya kesembuhan
yang bersifat sementara

5 Hambatan intelektual yang mungkin tampak ketika klien mengatakan ia tidak


mempunyai pikiran apapun atau tidak mampu memikirkan masalahnya, saat ia
tidak memenuhi janji untuk pertemuan atau tiba terlambat untuk suatu sesi,
lupa, diam, atau mengantuk

6 Pembicaraan yang bersifat permukaan/ dangkal

7 Penghayatan intelektual dimana klien memverbalisasi pemahaman dirinya


dengan menggunakan istilah yang tepat namun tetap berprilaku maladaptive,

9
atau menggunakan mekanisme pertahanan intelektualisasi tanpa diikuti
penghayatan

8 Muak terhadap normalitas yang terlihat ketika klien telah mempunyai


penghayatan tetap menolak memikul tanggung jawab untuk berubahdengan
alas an bahwa normalitas adalah hal yang tidak penting

9 Reaksi transference (respon tidak sadar dimana klien mengalami perasaan dan
sakit terhadap perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh dengan
kehidupan yang dulu)

10 Perilaku amuk atau tidak rasional

b. Transferens

Transference merupakan respon tak sadar berupa perasaan atau perilaku


terhadap perawat yang sebetulnya berawal dari berhubungan dengan orang-orang
tertentu yang bermakna baginya pada waktu dia masih kecil (Stuart dan Sundeen ,
1995)

Reaksi transference membahayakan untuk proses terapeutik hanya bila hal ini
diabaikan dan tidak ditelaah oleh perawat. Ada dua jenis utama
reaksi transference yaitu reksi bermusuhan dan tergantung.

Contoh reaksi transference bermusuhan (Intan, 2005) :

Bungkus (15 tahun) adalah klien yanag dirawat dirumah sakit karena demam
berdarah. Tanpa sebab yang jelas klien ini marah-marah kepada perawat Gengki.
Setelah dikaji, ternyata Gengki ini mirip pacar si Bungkus yang pernah menyakiti
hatinya. Hal ini dikarenakan klien mengalami perasaan dan sikap terhadap perawat
yang pada dasarnya terkait dengan tokoh kehidupan yang lalu.

Contoh reaksi transference tergantung ( Intan, 2005) :

Seorang klien, Sinchan (18 tahun), dirawat oleh perawat bidadari. Perawat itu
mempunyai wajah dan suara mirip Ibu klien, sehingga dalam setiap tindakan
keperawatan yang harus dilakukan selalu meminta perawat bidadari yang
melakukannya.

c. Kontertransferen

10
Kontertransferen merujuk pada respons emosional spesifik oleh terapis
terhadap pasien yang tidak tepat dalam isi konteks hubungan terapetik atau
ketidaktepatan dalam intensitas emosi. Perawat terkadang tidak menyadari bahwa
apa yang telah di lakukan itu nantinya merugikan kedua belah pihak. Perawat
biasanya terpancing oleh sikap klien yang berlebihan, baik sikap terlalu baik
maupun sikap yang terlalu buruk sehingga perawat merespons dengan emosi yang
berlebihan juga. Respons emosional yang berlebihan itu disebut Kontertransferen.

Menurut stuart, G.W (1998) Kontertransfaran merupakan bentuk respon


emosional beupa hambatan terapeutik yang berasal dari diri perawat yang
dibangkitkan atau dipancing oleh sikap klien.

Bentuk Kontertransferens (Stuart dan Sundeen dalam Intan, 2005)

1 Ketidakmampuan berempati terhadap Klien dalam masalah tertentu

2 Menekan perasaan selama atau sesudah sesi

3 Kecerobohan dalam mengimplementasikan Kontrak dengan datang terlambat,


atau melampaui waktu yang telah ditentukan.

4 Mengantuk selama sesi

5 Perasaan marah atau tidak sabar karena ketidak inginan klien untuk berubah

6 Dorongan terhadap ketergantungan, pujian atau efeksi klien

7 Berdebat dengan Klien atau kecenderungan untuk memaksa Klien sebelum ia


siap

8 Mencoba untuk menolong Klien dalam segala hal yang tidak berhubungan
dengan tujuan keperawatan yang telah diidentifikasi

9 Keterlibatan dengan Klien dalam tingkat personal

10 Melamunkan atau memikirkan Klien

Perilaku yang dapat muncul pada klien menurut suryani 2006 antara lain:

a. Love dan caring berlebihan

b. Benci dan marah berlebihan

11
c. Cemas dan rasa bersalah yang timbul berulang-ulang

d. Tidak mampu berempati terhadap klien

e. Perasaan tertekan selama atau setelah proses

f. Tidak bijaksana dalam membuat kontrak dengan klien, terlambat atau terlalu
lama

g. Mendukung ketergantungan klien

h. Berdebat dengan klien atau memaksa klien sebelum klien siap

i. Menolong klien untuk hal-hal yang tidak berhubungan dngan sasaran asuhan
keperawatan

j. Menghadapi klien dengan berhubungan pribadi atau sosial

k. Melamunkan klien

d. Pelanggaran Batas

Perawat perlu membatasi hubungannya dengan klien. Batas hubungan


perawat-klien adalah bahwa hubungan yang di bina adalah hubungan
terapeutik,dalam hubungan ini perawat berperan sebagai penolong dan klien
berperan sebagai yang di tolong. Baik perawat maupun klien harus menyadari
batas tersebut (Suryani, 2006). Pelanggaran batas terjadi jika perawat melampaui
batas hubungan yang terapeutik dan membina hubungan sosial, ekonomi, atau
personal dengan klien.

Beberapa batas hubungan perawat dank lien (stuart dansundeen, dalam Intan,
2005)

1. Batas peran

Masalah batas peran ini memerlukan wawasan dan pengetahuan yang


luas dari perawat serta penentuan secara tegas mengenai batas-batas terapeutik
perawat dan klien.

2. Batas waktu

Penetapan waktu perlu dilakukan dimana perawat mengadakan


hubungan terapeutiknya dengan klien. Waktu pengobatan atau hubungan
12
terapeutik yang tidak wajar dan tidak mempunyai tujuan terapeutik harus
dievaluasi kembali untuk mencegah terjadinya pelanggaran batas.

3. Batas tempat dan ruang

Batas ini biasanya berhubungan dengan perawatan yang dilakukan .


Pemanfaatan terapeutik diluar kebiasaan misalnya dimobil atau dirumah klien,
harus dengan tindakan terapeutik yang rasional dan mempunyai tujuan yang
jelas. Perawat tidak di perbolehkan t dalam melakukan tindakan dikamar klien
kadang perlu menghormati batas-batas tertentu misanya pintu terbuka atau ada
pegawai yang lain.

4. Batas uang

Batas ini berhubungan dengan penghargaan klien dengan perawat


berupa uang. Disini juga perluadanya perhatian mengenai tawar-menawar
terhadap klien miskin tentang biaya pengobatan untuk mencegah timbulnya
pelanggaran batas.

5. Batas pemberian hadiah dan pelayanan

Masalah ini controversial dalam keperawatan, namun yang pasti hal ini
melanggar batas.

6. Batas pakaian

Batas ini berhubungan dengan kebutuhan perawat dalam berpakaian


secara tepat dalam hubungan terapeutik perawat dank lien. Dimana perawat
tidak diperbolehkan memakai pakaian yang tidak sopan.

7. Batas bahasa

Perawat perlu memperhatikan nada bicara dan pilihan kata ketika


komunikasi dengan klien. Tidak terlalu akrab, mengarah sikap seksul dan
memberikan pendapat dengan nada menggurui merupakan pelanggaran batas.

8. Batas pengungkapan diri secara personal

13
Mengungkapkan diri secara personal dari perawat yang tidak
berhubungan dengan tujuan terapeutik dapat mengarah kepada pelanggaran
batas.

9. Batas kontak fisik;

Semua kontak fisik dengan klien harus dievaluasi untuk melihat


apakah melanggar batas atau tidak. Beberapa jenis kontak fisik/ seksual
terhadap kien yang tidak pernah tercangkup dalam hubungan terpeutik antara
perawat dengan klien.

Contoh pelanggaran batas yaitu (Intan, 2005)

a. Klien mengajak makan dengan perawat disaat siang maupun makan malam
diluar

b. Klien memperkenalkan perawat kepada keluarganya

c. Perawat menerima pemberian hadiah dari basis Kien

d. Perawat menghindari acara-acara sosial

e. Klien memberi perawat hadiah

f. Perawat secara rutin memegang dan memeluk Klien

g. Perawat secara teratur memberi Informasi personal kepada Klien

h. Hubungan profesional berubah menjadi hubungan Sosial

i. Perawat menghadiri Undangan Klien

e. Pemberian hadiah

Pemberian hadia merupakan masalah yang kontroversial dalam


keperawatan. Disatu pihak ada yang menyatakan bahwa pemberian hadiah dapat
membantu dalam mencapai tujuan terapeutik, tapi dipihak lain ada yang
menyatakan bahwa pemberian hadiah bisa merusak hubungan terapeutik.

Hadiah dapat diberikan dalam berbagai bentuk misalnya yang nyata


seperti sekotak permen, rangkaian bunga, rajutan atau lukisan. Sedangkan yang
tidak nyata bisa berupa ekspresi ucapan terima kasih dari klien kepada perawat
sebagai orang yang akan meninggalkan rumah sakit atau dari anggota keluarga
14
yang lega dan berterima kasih atas bantuan perawat dalam meringankan beban
emosional klien.

Pemberian hadiah yang mengganggu dalam hubungan perawat dan klien


adalah pemberian dalam bentuk barang tertentu atau hadiah nyata yang
mempunyai tendensi tertentu yaitu mengharapkan dengan pemberian hadiah
tersebut, perlakuan perawat pada klien akan melebihi dar konsep pelayanan
keperawatan yang semestinya. Dengan pemberian hadiah tersebut harapannya
klien dapat memanifulasi perawat dengan cara mengatur hubungan dan batasan-
batasan dalam berhubungan (stuart G.W, 1998). Mengatur hubungan yang
dimaksud adalah bagaimana emosi perawat bisa masuk kedalam emosi klien
dengan harapan justru perawatannya yang nantinya bisa dikendalikan oleh klien.

Sedangkan, mengatur batasan-batasan yang dimaksud adalah ada upaya


dari klien untuk tidak mau mentaati peraturan yang ada diruangan yang seakan-
akan sudah di perbolehkan oleh perawatnya.

2.6. Cara mengatasi hambatan Komunikasi Terapeutik

Untuk mengatasi hambatan teurapeutik, perawat harus siap mengungkapkan


perasaan emosional yang sangat kuat dalam konteks hubungan perawat -pasien. Awalnya
perawat harus mempunyai pengetahuan tentang hambatan teurapeutik dan mengenali
prilaku yang menunjukkan adanya hambatan tersebut. Kemudian perawat dapat
mengklarifikasi dan mengungkapkan perasaan serta isi agar lebih berfokus secara
objektif pada apa yang sedang terjadi.

Latar belakang prilaku dikaji, baik pasien (untuk reaksi resistens dan transferensa)
atau perawat (untuk reaksi kontertransferens dan pelanggaran batasan) bertanggung jawab
terhadap hambatan teurapeutik dan dampak negatifnya pada proses teurapeutik. Terakhir,
tujuan hubungan, kebutuhan, dan masalah pasien ditinjau kembali. Hal ini dapat
membantu perawat untuk membina kembali kerja sama teurapeutik yang sesuai dengan
proses hubungan perawat-ipasien.

Adapun beberapa cara untuk mengatasi hambatan komunikasi yaitu :

1. Pedekatan terpusat pada penerima

15
Peduli kepada penerima pesan berarti bahwa akan mengambil langkah atau yang
dapat dilakukan agar pesan yang disampaikan dapat dimengerti danbermakna bagi
penerima. Berempati dan bersikap peka pada perasaan penerima adala cara terbaik
untuk mengatsi hambatan komunikasi. Karen perbedaan emosi dan persepsi akan
menimbulkan ganguan. Dalam penerimaan pesan, bila seseorang menyadari perasaan
orang lain maka akan mampu memlilih kata-kata netral memahami pandangan mereka
dan mungkin akan berempati dengan posisi mereka dengan mencoba memandang
situasi lewat kacamata mereka.

Dalm kenyataan pendektan yang berpusat pada penerima lebih dari sekedar
pendekatan untuk komunikasi bisnis sebenarnya ini adalah pendekatan modern pada
bsnis dan kehidupn secara umum.

2. Komunikasi dengan situasi terbuka

Iklim komunikasi organisasi merupakan cerminan dari budaya organisasi : campuran


nilai, tradisi da kebiasaan yang mengakomodasi atmosfir atau karakternya. Beberapa
peusahaan cenderung menyambut aliran omuniksi keatas. Tetapi dalam komunikasi
dengan situasi terbuka, akan mendrong keterusterngan dan kejujuran serta kebebasan
untuk mengakui kesalhan atau untuk tidak stuju dengan atasan dan keebasan
menyatakn pendapat.

3. Melakukan komunikasi dengan etis

Etika adalah prinsip-prinsip yang menjadi acuan bagi seseorang atau sekelompok
orang untuk bersikap dan berperilaku. Orang yang tidak etis biasanya egois dan tidak
peduli salah atau benar, menghalalkan segala cara unuk mencapai hasil akhir. Orang
yang etis pada umumnya adapat dipercaya, adil dan tidak memihak, menghargai hak
oranglain dan memperhatikan dampak tindakan mereka pada masyarakat.

Etika memainkan peran penting dalam komunikasi. Bahasa itu sendiri terdiri dari
kata-kata yang membawa nilai . jadi hanya dengan mengataknsesuatu denga cara
tertentu,mempengruhi bagaimana orang-orang lain memandang dan membentuk
harapan dan tingkah laku yang berbeda pula. Komunikasi etis termasuk komunikasi
yang relefan, benar dalam segla segi dn tidak memperdayakan dengan cara apapun

16
4. Pesan yang efektif dan efisien

Pesan yang efektif dan efisin akan memeperlancar proses komunikasi, sehingga dapat
mengatasi hambatan komunikasi. Ciri-ciri pesan yangefektif dan efisien antara lain,
padat dan tidak mempunyai pengertian yang mendua atau membingungkan.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.1.1 Komunikasi Terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan


klien (depkes RI,1997), dimana dilakukan secara sadar guna sebagai pendukung
pemberian asuhan keperawatan yang profesional.

3.1.2 Faktor-faktor Komunikasi Terapeutik diantaranya : perkembangan, persepsi,


nilai,gender, latar belakang budaya, emosi, pengetahuan, peran dan hubungan,
lingkungan, jarak, dan masa.

17
3.1.3 Manfaat Komunikasi Mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat
dengan pasien serta mengidentifikasi, mengungkapkan perasaan, dan mengkaji
masalah oleh perawat.

3.1.4 Fase-fase dalam Komunikasi Terapeutik diantaranya: tahap perkenalan, tahap


kerja, dan tahap terminasi.

3.1.5 Hambatan-hambatan dalam Komunikasi Terapeutik diantaranya : Resistens,


Transferens, Kontertransferen, Pelanggaran Batas, dan Pemberian hadiah.

3.1.6 Cara-cara mengatasi hambatan dalam Komunikasi Terapeutik diantaranya :


pedekatan terpusat pada penerima, komunikasi dengan situasi terbuka, melakukan
komunikasi dengan etis dan pesan yang efektif dan efisien.

3.2 Saran

Dengan pembuatan makalah ini, tenaga medis khususnya perawat diharapkan mampu
mengimbangi diri dalam komunikasi terapeutik khususnya menyikapi permasalahan
komunikasi ini, sehingga dapat mengatasi hambatan yang terjadi ketika melakukan
komunikasi terapeutik. Perawat dapat menganalisis hambatan apa yang terjadi dan apa
solusi dari hambatan itu, sehingga pemberian asuhan keperatan terjalin dengan baik,
efektif dan maksimal, ini akan menggiring stigma perawat yang awalnya negatif menjadi
positif menuju perawat yang berkompeten dan profesional.

DAFTAR PUSTAKA

Nasir, abdul dkk. (2009). Komunikasi dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Fanna, Achmad dan Trikaloka H.putri. (2013) .Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta : Merkid
Press

Saeful. Hambatan Komunikasi Terapeutik.


http://saefulnurse.blogspot.co.id/2016/09/hambatan-komunikasi-terapeutik.html. ( Diakses
pada 27 Maret 2018)

18
Fikriman, Debby.2014. Fase-fase Komunikasi Terapeutik. http://debby-
fikriman.blogspot.co.id/2011/11/fase-fase-komunikasi-terapeutik.html. ( Diakses pada 27
maret 2018)

19