Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM


Disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Sejarah Islam
Semester VIII

Disusun Oleh :
Suradi NPM. 14.07.0255

UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN


MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARI
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
BANJARMASIN
2018
PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
selesainya makalah yang berjudul "Sejarah Perkembangan Islam”. Atas dukungan
moral dan materi yang diberikan dalam penyusunan makalah ini, maka penulis
mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Drs. Abdullah MF. SKM, M.Kes.,
selaku Dosen Pembimbing kami, yang banyak memberikan materi pendukung,
masukan, bimbingan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa makalah ini belumlah sempurna. Oleh karena itu,
saran dan kritik yang membangun dari rekan-rekan sangat dibutuhkan untuk
penyempurnaan makalah ini.

Banjarbaru, Juli 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

PRAKATA ........................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan Makalah ..................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Biografi Khalifah Ali bin Abi Thalib...................................................... 2
B. Proses Pembaiatan Ali bin Abi Thalib.................................................... 2
C. Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib......................................................... 6
D. Karomah Sayidina Ali bin Abi Thalib ................................................... 0
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................. 7
B. Saran ....................................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 8
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan Islam pada zaman Nabi Muhammad S.A.W. dan para
sahabat merupakan agama Islam pada zaman keemasan, hal itu bisa terlihat
bagaimana kemurnian Islam itu sendiri dengan adanya pelaku dan faktor
utamanya yaitu Rasulullah S.A.W. Kemudian pada zaman selanjutnya yaitu
zaman para sahabat, terkhusus pada zaman Khalifah empat atau yang lebih
terkenal dengan sebutan Khulafaur Rasyidin, Islam berkembang dengan pesat
dimana hampir 2/3 bumi yang kita huni ini dipegang dan dikendalikan oleh
Islam. Hal itu tentunya tidak terlepas dari para pejuang yang sangat gigih dalam
mempertahankan dan juga dalam menyebarkan Islam sebagai agama tauhid yang
diridhoi.
Masalah subtansi yang harus dicermati adalah bagaimana mengambil
pembelajaran dari perjalanan panjang hidup, yang telah mereka pertaruhkan
dalam membangun sebuah peradaban. Kemudian peradaban inilah kelak yang
akan mewarnai kehidupan dunia, membuka cakrawala berfikir umat manusia.
Pada makalah sederhana ini, akan membahas perkembangan Islam dari
zaman Nabi muhammad SAW hingga tersebar ke seluruh negara dunia.

B. Tujuan penulisan makalah


Tujuan dari pembahasan mengenai Sejarah Perkembangan Islam ini
adalah sebagai berikut :
1. Membantu mahasiswa lebih memahami tentang sejarah Islam masa Rasulullah
SAW.
2. Membantu mahasiswa lebih memahami tentang sejarah Islam masa
Khulafaur Rasyidin..
3. Membantu mahasiswa lebih mengetahui tentang perkembangan Islam Masa
dinasti Ummayyah dan Abbasiyyah
4. Membantu mahasiswa lebih mengetahui tentang perkembangan Islam hingga
terseluruh negara dunia.
5. Membantu mahasiswa lebih mengetahui tentang perkembangan Islam di
Indonesia.

C. Manfaat
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa makalah ini memberikan manfaat
yang berupa menambah wawasan dan pengetahuan pembaca maupun penulis
mengenai sejarah perkembangan Islam dari masa ke masa sejak zaman Nabi
Muhammad SAW hingga tersebar ke seluruh dunia.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Perkembangan Islam masa Rasulullah SAW


Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada tanggal 20 April 571 M, yakni
pada tahun Gajah hari Senin malam 12 Rabiul Awal. Ayahnya bernama Abdullah
bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab.
Sedangkan ibunda Nabi Muhammad Saw adalah Aminah binti Wahab, adalah
keturunan Bani Zuhrah. Kemudian, nasab atau silsilah ayah dan ibunda Nabi
bertemu pada Kilab ibn Murrah.
Pada awal turunnya wahyu pertama Nabi Muhammad SAW mulai
berdakwah mengajarkan Islam secara sembunyi-sembunyi, mengingat sosial
politik pada waktu itu belum stabil, dimulai dari dirinya sendiri dan keluarga
dekatnya.
Langkah dakwah seterusnya yang diambil Nabi Muhammad SAW adalah
menyeru masyarakat umum. Nabi mulai menyeru segenap lapisan masyarakat
kepada Islam dengan terang-terangan, baik golongan bangsawan maupun
hamba sahaya. Mulai penduduk Makkah kemudian penduduk negeri-negeri
lain. Di samping itu, Nabi juga menyeru orang-orang yang datang ke
Makkah, dari berbagai negeri untuk mengerjakan haji. Kegiatan dakwah
dijalankannya tanpa mengenal lelah. Dengan usahanya yang gigih, jumlah
pengikut Nabi Muhammad SAW yang tadinya hanya belasan orang, makin hari
makin bertambah. Mereka terutama terdiri dari kaum wanita, budak, pekerja,
dan orang-orang yang tak punya.
Ketika gerakan Nabi Muhammad SAW makin meluas, jumlah
pengikutnya bertambah banyak dan seruannya semakin tegas dan lantang.
Orang- orang Quraisy terkejut dan marah. Mereka bangkit menentang dakwah
Nabi Muhammad SAW dan dengan berbagai macam cara berusaha menghalang-
halanginya. Tidak hanya penghinaan yang ditimpakan kepada Nabi Muhammad
SAW melainkan juga rencana pembunuhan yang disusun oleh Abu Sufyan.
Kegagalan musyrikin Quraisy menghentikan dakwah Nabi Muhammad SAW
dikarenakan Nabi Muhammad SAW dilindungi oleh Bani Hasyim dan Bani
Muthalib. Menyadari hal itu musyrikin Quraisy memboikot kedua
keluarga besar pelindung Nabi itu. Belum sembuh kepedihan yang dirasakan
Nabi Muhammad SAW akibat pemboikotan itu, Abu Thalib (paman nabi) dan
Khadijah istri beliau meninggal dunia. Oleh karena itu, tahun itu dikenal dengan
‘am al-huzn (tahun kesedihan).
Pada saat menghadapi ujian berat, Nabi Muhammad SAW
diperintahkan Allah untuk melakukan perjalanan malam dari Masjid al-
Haram di Mekah ke Bait al-Maqdis di Palestina, kemudian ke sidrah al-
Muntaha. Di situlah Nabi Muhammad SAW menerima syariat kewajiban
mengerjakan shalat lima waktu. Peristiwa ini dikenal dengan Isra’ dan Mi’raj
yang terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun 11 sesudah kenabian.
Setelah peristiwa Isra’ dan Mikraj, suatu perkembangan besar bagi
perkembangan dakwah Islam muncul, perkembangan datang dari penduduk
Yatsrib yang berhaji ke Makkah. Mereka yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj
masuk Islam. Atas nama penduduk Yatsrib, mereka meminta Nabi Muhammad
SAW agar berkenan pindah ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela Nabi
Muhammad SAW dari berbagai ancaman. Nabi pun menyetujui usul yang
mereka ajukan. Perjanjian ini disebut perjanjian “Aqobah”. Dan kemudian Nabi
Muhammad SAW pindah ke Yatsrib.

Berdirinya Pemerintahan Madinah


Tahun Islam dimulai dengan hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari
Mekah ke Madinah di tahun 622 M. Umat Islam di waktu itu masih dalam
kedudukan lemah, tidak sanggup menentang kekuasaan yang dipegang kaum
pedagang Quraisy yang ada di Mekkah. Akhirnya Nabi bersama sahabat dan
umat Islam lainnya meninggalkan kota dan pindah ke Yasrib, yang
kemudian terkenal dengan nama Madinah, yaitu kota Nabi. Di kota ini
keadaan Nabi dan umat Islam mengalami perubahan yang besar. Kalau di
Mekkah mereka sebelumnya merupakan umat lemah yang tertindas, di Madinah
mereka mempunyai kedudukan yang baik dan menjadi umat yang kuat dan
dapat berdiri sendiri. Nabi sendiri menjadi kepala dalam masyarakat
yang baru dibentuk itu dan yang akhirnya menjadi sebuah negara. Dan
Sebagai penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW, nama kota Yatsrib di
ubah menjadi Madinatun Nabi (Kota Nabi) atau Madinatul Munawwarah

(Kota yang Bercahaya), dan kota ini cukup disebut Madinah.18 Dengan
beradanya kekuasaan di tanggan Nabi, Islam pun lebih mudah disebarkan dan
sehingga akhirnya Islam dapat menguasai daerah- daerah yang dimulai dari
Spanyol di sebelah barat sampai ke Filipina di sebelah timur dan Afrika Tengah
di sebelah selatan sampai Danau Aral di sebelah utara.

B. Perkembangan Islam masa Khulafaur Rasyidin


Setelah Nabi saw wafat, masing-masing golongan yang ada pada masa
itu merasa paling berhak menjadi penerus nabi. Namun berkat tindakan tegas dari
tiga orang, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarrah yang
dengan melakukan semacam kudeta (coup d’etat) terhadap kelompok,
memaksa Abu Bakar sendiri sebagai deputi nabi.
Abu Bakar, nama lengkapnya ialah Abdullah bin Abi Quhafa At-
Tamimi. Di zaman pra Islam bernama Abdul Ka’bah, kemudian diganti oleh
nabi menjadi Abdullah. Ia termasuk salah seorang sahabat yang utama. Dijuluki
Abu Bakar karena pagi-pagi betul (orang yang paling awal) memeluk Islam.
Gelar Ash-Shiddiq diperolehnya karena ia dengan segera membenarkan nabi
dalam berbagai peristiwa, terutama Isra’ Mi’raj. Seringkali mendampingi
Rasulullah di saat penting atau jika berhalangan, Rasulullah mempercayainya
sebagai pengganti untuk menangani tugas-tugas keagamaan dan atau
mengurusi persoalan-persoalan aktual di Madinah.
Umat bin Khatthab nama lengkapnya adalah Umar Bin Khatthab bin
Nufail keturunan Abdul Uzza Al-Quraisy dari suku Adi; salah satu suku yang
terpandang mulia. Umar dilahirkan di Mekah empat tahun sebelum kelahiran
Nabi SAW. Ia adalah seorang yang berbudi luhur, fasih dan adil serta pemberani.
Ia ikut memelihara ternak ayahnya, dan berdagang hingga ke Syiria. Ia juga
dipercaya oleh suku bangsanya, Quraisy unutk berunding dan mewakilinya jika
ada persoalan dengan suku-suku yang lain.
Khalifah ketiga adalah Utsman bin Affan, Nama lengkapnya ialah
Utsman bin Affan bin Abil Ash bin Umayyah dari suku Quraisy. Ia memeluk
Islam karena ajakan Abu Bakar, dan menjadi salah seorang sahabat dekat
Nabi SAW. Ia sangat kaya tetapi berlaku sederhana, dan sebagian besar
kekayaannya digunakan untuk kepentingan Islam. Ia mendapat julukan zun
nurain, artinya yang memiliki dua cahaya, karena menikahi dua putri Nabi SAW
secara berurutan setelah salah satu meninggal. Ia juga merasakan penderitaan
yang disebabkan oleh tekanan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin Mekah,
dan ikut hijrah ke Abenesia beserta istrinya.
Khalifah keempat adalah Ali bin Abi Thalib. Ali adalah keponakan dari
menantu nabi. Ali putra Abi Thalib bin Abdul Muthalib. Ia sepupu nabi SAW
yang telah ikut bersamanya sejak bahaya kelaparan mengancam kota Mekah,
demi untuk membantu keluarga pamannya yang mempunyai banyak putra. Abbas,
paman nabi yang lain membantu Abu Thalib dengan memelihara Ja’far, anak Abu
Thalib yang lain. Ia telah masuk Islam pada usia sangat muda. Ketika nabi
menerima wahyu yang pertama, menurut Hasan Ibrahim Hasan Ali berumur 13
tahun, atau 9 tahun menurut Mahmudunnasir. Ia menemani nabi dalam
perjuangan menegakkan Islam, baik di mekah maupun di Madinah, dan ia diambil
menantu oleh Nabi SAW dengan menikahkannya dengan Fathimah, salah seorang
putri Rasulullah.
Masa kekuasaan khulafaur rasyidin yang dimulai sejak Abu Bakar Ash-
Shiddiq hingga Ali bin Abi Thalib, merupakan masa kekuasaan khalifah Islam
yang berhasil dalam mengembangkan wilayah Islam lebih luas. Nabi
Muhammad SAW yang telah meletakkan dasar agama Islam di Arab, setelah
beliau wafat, gagasan dan ide-idenya diteruskan oleh para khulafaur
rasyidin.
Pengembangan agama Islam yang dilakukan pemerintahan
khulafaur rasyidin dalam waktu yang relatif singkat telah membuahkan hasil
yang gilang-gemilang. Dari hanya wilayah Arabia, ekspansi kekuasaan Islam
menembus ke luar Arabia memasuki wilayah-wilayah Afrika, Syiria, Persia,
bahkan menembus ke Bizantium dan Hindia.
Ekspansi ke negeri-negeri yang sangat jauh dari pusat kekuasaan,
dalam waktu tidak lebih dari setengah abad merupakan kemenangan
menakjubkan dari suatu bangsa sebelumnya tidak pernah memiliki pengalaman
politik yang memadai.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan ekspansi itu demikian cepat, antara lain
sebagai berikut.
1. Islam, disamping merupakan ajaran yang mengatur hubungan manusia
dengan Tuhan, juga agama yang mementingkan soal pembentukan
masyarakat.
2. Dalam dada para sahabat Nabi SAW tertanam keyakinan yang sangat kuat
tentang kewajiban menyerukan ajaran-ajaran Islam (dakwah) ke seluruh
penjuru dunia. Disamping itu, suku-suku bangsa Arab gemar berperang.
Semangat dakwah dan kegemaran berperang tersebut membentuk satu
kesatuan yang terpadu dalam diri umat Islam.
3. Bizantium dan Persia, dua kekuatan yang menguasai Timur Tengah pada
waktu itu mulai kemunduran dan kelemahan, baik karena sering terjadi
peperangan antara keduanya maupun karena persoalan-persoalan dalam
negeri masing-masing.
4. Pertentangan aliran agama wilayah Bizantium mengakibatkan hilangnya
kemerdekaan beragama bagi rakyat. Rakyat tidak senang karena pihak
kerajaan memaksa aliran yang dianutnya. Mereka juga tidak senang
karena pajak yang tinggi untuk biaya peperangan melawan Persia.
5. Islam datang ke daerah-daerah yang dimasukinya dengan sikap simpatik
dan toleran, tidak memaksa rakyat untuk mengubah agamanya dan
masuk Islam.
6. Bangsa Sami di Syiria dan Palestina, dan bangsa Hami di Mesir
memandang bangsa Arab lebih dekat kepada mereka daripada bangsa
Eropa, Bizantium, yang memerintah mereka.
7. Mesir, Syiria, dan Irak adalah daerah-daerah yang kaya. Kekayaan itu
membantu penguasa Islam untuk membiayai ekspansi ke daerah yang
lebih jauh.
Pada masa kekuasaan para khulafaur rasyidin, banyak kemajuan
peradaban telah dicapai. Di antaranya adalah munculnya gerakan pemikiran
dalam Islam. Diantara pemikiran yang menonjol pada masa khulafaur
Rasyidin adalah sebagai berikut.
1. Menjaga keutuhan Alquran Al-Karim dan mengumpulkannya dalam
bentuk mushaf pada masa Abu Bakar.
2. Memberlakukan mushaf standar pada masa Utsman bin Affan.
3. Keseriusan mereka untuk mencari serta mengajarkan ilmu dan
memerangi kebodohan berislam para penduduk negeri. Oleh sebeb itu,
para sahabat pada masa Utsman dikirm ke berbagai pelosok untuk
menyiarkan Islam. Mereka mengajarkan Alquran dan As-Sunnah kepada
banyak penduduk negeri yang sudah dibuka.
4. Sebagian orang yang tidak senang kepada Islam, terutama dari pihak
orientalis abad ke-19 banyak yang mempelajari fenomena Futuhat Al-
Islamiyah dan menafsirkannya dengan motif bendawi. Mereka
mengatakan bahwa futuhat adalah perang dengan motif ekonomi, yaitu
mencari dan mengeruk kekayaan negeri yang di tundukkan. Interpretasi ini
tidak sesuai dengan kenyataan sejarah yang berbicara bahwa berperangnya
sahabat adalah karena iman yang bersemayam di dada mereka.
5. Islam pada masa awal tidak mengenal pemisahan antara dakwah dan
negara, antara da’i maupun panglima. Tidak dikenal orang yang berprofesi
sebagai da’i. para khalifah adalah penguasa, imam shalat, mengadili orang
yang berselisih, da’i, dan juga panglima perang.
Di samping itu, dalam hal peradaban juga terbentuk organisasi negara
atau lembaga-lembaga yang dimiliki pemerintahan kaum muslimin sebagai
pendukung kemaslahatan kaum muslimin. Organisasi negara tersebut telah
dibina lebih sempurna, telah di jadikan sebagai suatu nizham yang mempunyai
alat-alat perlengkapan dan lembaga-lembaga menurut ukuran zamannya telah
cukup baik.
Dr. Hasan Ibrahim dalam bukunya “Tarikh Al-Islam As-Siyasi”,
menjelaskan bahwa organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga negara yang
ada pada masa khulafaur rasyidin, di antaranya sebagai berikut.
1. Lembaga Politik
Termasuk dalam lembaga politik khilafah (jabatan kepala negara),
wizarah (kementrian negara), kitabah (seketaris negara).
2. Lembaga Tata Usaha Negara
Termasuk dalam urusan lembaga tata usaha negara, Idaratul Aqalim
(pengelolaan pemerintah daerah) dan diwan (pengurus departemen) seperti
diwan kharaj (kantor urusan keuangan), diwan rasail (kantor urusan arsip),
diwanul barid (kantor urusan pos), diwan syurthah (kantor urusan
kepolisian) dan departemen lainnya
3. Lembaga Keuangan Negara
Termasuk dalam lembaga kehakiman negara, urusan-urusan keuangan
dalam masalah ketentaraan, baik angkatan laut, serta perlengkapan dan
persenjataannya.
4. Lembaga Kehakiman Negara
Termasuk dalam lembaga kehakiman negara, urusan-urusan mengenai
Qadhi (pengadilan negeri), Madhakim (pengadilan banding), dan
Hisabah (pengadilan perkara yang bersifat lurus dan terkadang juga
perkara pidana yang memerlukan pengurusan segera.
Peristiwa-Peristiwa Penting Pada Masa Khulafaur Rasyidin

Tahun Peristiwa Masa Kekuasaan Khalifah

11 H Rasulullah SAW wafat (RabiulAwal) Abu Bakar Ash-Shiddiq


12 H Perang Riddah

13 H Perang Yarmuk

13 H Abu Bakar Wafat (Jumadil Akhir) Umar bin Khatthab


14 H Penalukkan Damaskus

15 H Perang Qadisiyah

17 H Penaklukan Persia

20 H Penaklukan Mesir

21 H Perang Nahawand

23 H Penaklukan Khurasan, Persia Utsman bin Affan


27 H Penaklukan Tarablusi dan Afrika
28 H Penaklukan Cyprus

31 H Perang Dzatu Sawari

32 H Khurasan kembali ditaklukan

35 H Utsman wafat Ali bin Abi Thalib


36 H Perang Jamal

37 H Perang Siffin dan Tahkim

38 H Perang Nahawand

41 H Ali bin Abi Thalib Wafat


C. Sejarah Islam Masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah
Masa ke-Khilafahan Bani Umayyah hanya berumur 90 tahun yaitu
dimulai pada masa kekuasaan Muawiyah Ibn Abi Sufyan Radhiallahu‘anhu,
dimana pemerintahan yang bersifat Islamiyyah berubah menjadi
monarchiheridetis (kerajaan turun temurun), yaitu setelah al-Hasan bin 'Ali
Radhiallahu ‘anhuma menyerahkan jabatan kekhalifahan kepada Mu’awiyah Ibn
Abu Sufyan Radhiallahu ‘anhu dalam rangka mendamaikan kaum muslimin yang
pada saat itu sedang dilanda fitnah akibat terbunuhnya Utsman Ibn Affan
Radhiallahu ‘anhu, perang jamal dan penghianatan dari orang-orang al-khawarij
dan syi'ah.
Beberapa faktor yang menyebabkan dinasti Bani Umayyah lemah dan
membawanya kepada kehancuran antara lain : Sistem pergantian khalifah
melalui garis keturunan, Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah
tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali,
Pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan
(Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing,
Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup
mewah di lingkungan istana, Munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh
keturunan al-Abbas ibn Abd al-Muthalib.
Spanyol diduduki umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid
Rahimahullah (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang
berpusat di Damaskus, dimana Ummat Islam sebelumnya telah mengusasi Afrika
Utara. Dalam proses penaklukan Spanyol ini terdapat tiga pahlawan Islam yang
dapat dikatakan paling berjasa yaitu Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan
Musa ibn Nushair Rahimahullahum ajma’in.
Dinasti Abbasiyah melanjutkan kekuasaan Bani Umayyah. Dinamakan
Abbasiyah, karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan al-
Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh
Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas.
Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun
132 H. (750 M.) s.d. 656 H. (1258 M.). Selama dinasti ini berkuasa, pola
pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik,
sosial, dan budaya.
Pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, Umat Islam banyak
mengalami kemajuan yang sangat pesat, di antaranya dalam bidang administrasi,
agama, sosial, ilmu pengetahuan, dan pemerintah.
Kemunduran Dinasti Abbasiyah disebabkan oleh banyak faktor, baik yang
sifatnya internal maupun yang sifatnya eksternal.
1. Faktor-faktor intern antara lain :
a. Adanya persaingan tidak sehat di antara beberapa bangsa yang terhimpun
dalam Daulah Abasiyah, terutama Arab, Persia, dan Turki.
b. Terjadi perselisihan pendapat di antara kelompok pemikiran agama yang
ada, yang berkembang menjadi pertumpahan darah.
c. Muncul dinasti- dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang
berkepanjangan.
d. Akhirnya terjadi kemerosotan tingkat perekonomian sebagai akibat
dari bentrokan politik
2. Faktor ekstern, adalah :
a. berlangsung Perang Salib yang berkepanjangan.
b. sebuah pasukan Mongol dan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan,
yang berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu,
yaitu perpustakaan di Bagdad.

D. Perkembangan Islam ke Seluruh Dunia


Pada akhir, abad kesepuluh Masehi, daerah Islam sedikit lebih luas
dibandingkan pada tahun 750. Semenjak diciptakan suatu peradaban besar,
memuncak kehidupan intelektual, kaya dan cerdas dalam bidang ekonomi,
dipersatukan dengan kukuh oleh syariat yang dihormati; seluruhnya merupakan
penjelmaan kekuasaan Islam rohani dan duniawi. Waktu kekuatan militernya
berkurang, maka sebagaimana juga. terjadi dengan kerajaan Rumawi enam abad
sebelumnya, kerajaan Islam berangsur-angsur dikuasai oleh bangsa-bangsa
biadab dari luar perbatasannya; dan juga seperti kerajaan Rumawi, mengenakan
pada bangsa biadab tadi agamanya, hukumnya, dan penghormatan terhadap
peradabannya.
Bangsa-bangsa biadab itu ialah Turki yang berasal dari Asia Tengah.
Tekanan ke arah Barat membawa orang Bulgar, Magiar, Kumari, Pecineg ke
Rusia Selatan dan Eropa Timur, mendatangkan suku-suku lain ke Iran dan lebih
ke Barat, ke Irak, dan Anatolia. Pekerjaan pengislaman telah dilakukan, waktu
mereka masih diam di tempat asalnya di Asia Tengah; oleh karena itu, kerajaan
Sultan Turki yang didirikan di Asia Barat mula-mula hanya membawakan sedikit
perubahan yang tampak ke luar dalam kehidupan rumah tangga umat Islam.
Akibat pertama adalah perluasan militer; ke arah Tenggara menuju India Utara,
ke arah Barat Laut menuju Asia Kecil. Pada waktu yang sama, jauh di sebelah
Barat, suku Berber nomad telah membawa Islam, ke tepi dunia Afrika Negro di
daerah lembah Senegal dan Niger sedang buku-buku Arab nomad yang tidak
diawasi lagi oleh kekuasaan khalifah yang terdahulu telah merusakkan dan
melengahkan pusat peradaban yang telah didirikan oleh bangsanya sendiri
sebelum di atas puing runtuhan Afrika Romawi dan Bizantium.
Mulai abad kesebelas Masehi, ilmu Sufi mengerahkan kebaktian sebagian
besar kegiatan kerohanian umat Islam, dan mendirikan suatu sumber
pembaharuan kepribadian yang sanggup mempertahankan tenaga kebatinan
selama abad-abad sesudahnya penuh dengan kemerosotan politik dan
perekonomian.
Para ahli Sufi, baik sebagai penyiar perseorangan maupun (di kemudian hari)
sebagai anggota dalam gabungan tarekat merupakan pemimpin dalam tugas
mengislamkan orang penyembah berhala, yang tidak beragama, dan suku yang
hanya tipis sekali pengislamannya. Penyebaran agama berhasil ialah terbanyak
oleh kawan sebangsa sendiri dari suku-suku tersebut yang biasanya kikuk, buta
huruf, dan kasar. Merekalah yang meletakkan dasar-dasar yang memungkinkan
generasi kemudian menerima keadaban hukum syariat dan tauhid yang lebih
halus. Berkat pekerjaan mereka, maka dalam abad-abad berikutnya, batas-batas
daerah Islam dapat diperluas di Afrika, India, dan Indonesia, melintangi Asia
Tengah ke Turkestan dan Tiongkok, dan di beberapa bagian Eropa Tenggara
Perkembangan yang digambarkan di muka tadi dipercepat oleh malapetaka yang
berturut-turut terjadi di Asia Barat dalam abad ketiga belas dan keempat belas.
Penyerbuan pertama kaum Mongol penyembah berhala, membumihanguskan
propinsi-propinsi bagian Timur Laut antara 1220 dan 1225 M. Gelombang kedua
yang menduduki Persia dan Irak menamatkan khalifah Baghdad yang bersejarah
dalam 1258 M, dan memaksakan seluruh dunia Islam Timur, terkecuali Mesir,
Arabia, dan Siria, membayar upeti kepada kerajaan Mongol yang besar. Sisa-
sisanya diselamatkan oleh golongan militer terdiri dari “budak belian” Turki dan
Kipcak, kaum Mamluk, yang telah merebut kekuasaan politik di Mesir.
Di bawah pemerintahan Mamluk, peradaban Islam yang lama langsung
berkembang lebih kurang dua setengah abad dalam bidang kesenian benda
(istimewa dalam lapangan seni bangunan dan seni-kerajinan logam), tetapi
disertai kemunduran daya kerohanian dan intelek.
Pada waktu yang sama, di daerah-daerah kekuasaan Mongol hidup
kembali suatu peradaban Islam Persia yang cemerlang pada beberapa segi.
Terutama dalam seni bina dan kesenian halus, termasuk seni lukis dalam bentuk
yang sangat kecil (miniatur); kebudayaan tersebut berakar dalam kerohanian
Sufi. Meskipun kedatangan dua kali “Maut Hitam” dan mengalami serbuan
Timur Lenk dalam abad keempat belas yang menghancurleburkan Persia, namun
kebudayaan Persia mampu memberikan ragam kepada kehidupan intelektual dari
kerajaan-kerajaan Islam baru, –yang dilahirkan pada kedua sisinya– di Anatolia,
Balkan, dan India.
Perluasan kerajaan Dinasti Osman di Asia dan Afrika Utara serta
pembentukan kerajaan Mughal di India dalam abad keenam belas membawa
sebagian besar dunia Islam kebawah pengawasan pemerintahan negara
keduniawian yang kuat, memusatkan kekuasaannya yang besar. Ciri khas kedua
kerajaan tadi ialah menitikberatkan pada pandangan ahli sunah waljamaah dan
hukum syariat. Urusan agama dan urusan ketatanegaraan tidak dipersatukan
karena kebijaksanaan militer dan sipil disusun menurut garis tidak Islam yang
bebas, tetapi dapat saling menyokong akibat suatu persetujuan yang berlangsung
hingga abad kesembilan belas.
Diantara dua saluran kehidupan agama Islam tersebut, saluran Sufilah
yang lebih lebar dan dalam. Abad ketujuh belas dan permulaan abad kedelapan
belas menyaksikan puncak tertinggi tarekat Sufi. Tarekat-tarekat besar
menyebarkan suatu jalinan perhimpunan-perhimpunan dari mula hingga akhir
dunia Islam, sedang perkumpulan-perkumpulan setempat dan cabang-cabangnya
menggabungkan anggota pelbagai golongan dan kejuruan jadi umat yang bersatu
padu. Selain itu, kebudayaan Islam dalam dua kerajaan tersebut yang hanya
hidup atas warisan zaman silam, dapat memelihara, akan tetapi jarang dapat
menambah kekayaan warisan intelektual tersebut. Tokoh-tokohnya berpendapat
bahwa kewajibannya pertama ialah bukan hanya memperluas, akan tetapi
memelihara, menyatukan, dan menyesuaikan kehidupan sosial atas sendi-sendi
nilai Islam. Dalam batas-batas tersebut kadar persatuan yang telah mereka capai,
dan ketertiban sosial yang dapat dilangsungkan memang menarik perhatian.
Persatuan itu merupakan suatu kekecualian yang menyolok mata. Dalam
permulaan abad keenam belas, suatu kerajaan baru yang disokong oleh suku
Turki dan Adzerbaijan menaklukan Persia dan menghidupkan kembali Syiah
yang telah mengalami kemunduran, dan meresmikan Syiah sebagai agama resmi
Persia. Selama peperangan dengan Dinasti Osman, orang Turki dari Asia Tengah,
dan orang Mughal, yang semuanya ahli sunah waljamaah, Syiah dijadikan ciri
perasaan nasional Persia. Akibat perpecahan antara Persia dan tetangganya
penting buat semuanya. Umat Islam selanjutnya dipecah menjadi dua golongan
yang terpisah, dan hubungan kebudayaan antara dua golongan tadi, sejak itu
meskipun tidak diputuskan seluruhnya hanya dapat dilakukan serba sedikit saja.
Persia terpaksa terpencil dalam urusan politik dan agamanya mencukupi
kebutuhannya sendiri, yang akhirnya memiskinkan kehidupan rohani dan budaya
mereka. Lebih-lebih pula waktu kekuatan politiknya mundur, orang suku Afghan
dalam abad kedelapan belas melepaskan hubungan dan mendirikan suatu negara
sunah merdeka.
Di Afrika Barat Daya adanya perasaan kesukuan diantara kedua pihak,
orang Arab dan Berber, menukarkan kegiatan kebudayaan. Aliran ortodoks dan
tarekat Sufi, keduanya dipengaruhi pemujaan orang-orang suci, wali yang masih
hidup setempat (“marabout”). Di Tunisia dan di beberapa kota lain, sebagian
warisan kebudayaan Spanyol Arab tetap dilanjutkan, bahkan waktu Tunisia dan
Aljazair merupakan wilayah bajak laut, setengah jajahan kerajaan Dinasti
Osman. Di Maroko di bawah sultan-sultan (yang dapat menyelamatkan
kedaulatannya hingga 1912), bahkan di Sahara Barat di bawah kepala suku-suku
yang lebih kecil, pelajaran ahli sunah yang lazim dilanjutkan, dan diperkuat oleh
pengaruh yang datang dari daerah Timur.
Di kepulauan Melayu sendiri, Islam telah beroleh tumpuan di Sumatera
dan Jawa, oleh pedagang-pedagang dalam abad ketiga belas dan keempat belas.
Agama Islam lambat laun membiak, sebagian hasil tindakan panglima militer,
tetapi lebih cepat dengan jalan perembesan damai, khusus di Jawa. Dari
Sumatera, Islam dibawa oleh para perantau ke Semenanjung Malaya; juga dari
Pulau Jawa ke Maluku. Sejak itu agama tersebut mendapat kedudukan yang lebih
kuat di seluruh kepulauan di bagian Timur hingga ke Pulau Sulu, Mindanao, dan
Filipina.
Penyebaran Islam di Tiongkok hingga kini masih terselubung dalam
kegelapan. Kelompok muslimin dalam jumlah agak besar, yang pertama menetap
di sana –barangkali dalam zaman kerajaan Mongol– dalam abad ketiga belas dan
keempat belas. Jumlahnya bertambah besar di bawah pemerintah Mancu, biarpun
ada perasaan permusuhan setempat karena pemberontakan (kadang-kadang
hebat) yang dilakukan oleh kaum muslimin. Tetapi, hingga kini tidak mungkin
menaksirkan jumlahnya.
Hasil bersih dari perluasan selama tiga belas abad ialah Islam sekarang
merupakan agama yang terutama dalam lingkungan daerah luas yang meliputi
Afrika Utara, Asia Barat, hingga bukit Pamir, kemudian ke Timur meliputi Asia
Tengah hingga Tiongkok, dan ke Selatan ke Pakistan. Di India hanya tinggal
sepersepuluh penduduk yang beragama Islam. Di Semenanjung Malaya, Islam
unggul lagi melewati Indonesia hingga berakhir di Filipina. Di pantai Barat
Lautan India, Islam memanjang ke selatan sebagai lajur yang sempit dari pantai
Afrika hingga Zanzibar dan Tanganyika dengan beberapa kelompok hingga
masuk ke Uni Afrika Selatan. Di Eropa, kelompok-kelompok muslimin terdapat
di sebagian besar negara Balkan dan Rusia Selatan. Di Amerika Utara dan
Amerika Selatan, Islam diwakili oleh kelompok imigran dari Timur Tengah.

E. Perkembangan Islam masa sekarang


Sekarang ini di dunia Islam dikenal banyak mazhab yang ajaran nya
berbeda satu dengan yang lain. Kebanyakan bukan pada prinsip tapi perbedaan
itu kemudian dijadikan alat untuk mencemooh mazhab yang lain. Sebaiknya
sesama muslim bisa membangun forum dialog antar madzhab tanpa saling
merendahkan. Sikap toleran juga harus dibangun bukan saja kepada penganut
agama yang berbeda, namun hendaknya kepada sesama penganut agama Islam.
Umat Islam jangan sampai gampang diadu domba, gampang pecah belah,
gampang mufaraqah antara yang satu dengan yang lain.
Reformasi pemikiran dan pendidikan dunia Islam merupakan isu yang
sangat strategis dan fundamental dalam menyikapi perkembangan peradaban
dunia yang terus berubah. Islam yang memiliki penganut lebih dan 1,5 milyar
penduduk di planet bumi ini sangat berkepentingan dalam ikut serta mewarnai
peradaban dunia yang kita rasakan cenderung mengancam terhadap nilai-nilai
dan eksistensi Islam. Oleh karena itu, umat Islam perlu menyadari akan perlunya
upaya secara terus menerus untuk melakukan reformasi pemikiran (tajdid) dan
perbaikan kualitas pendidikan dalam menghadapi tantangan global yang begitu
dinamis.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, umat Islam dunia sedang menghadapi
berbagai cobaan dan tantangan yang sangat mengusik hati dan pikiran kita
semua. Dalam bidang sosial ekonomi, sebagian besar umat Islam di muka bumi
ini masih terbelenggu oleh kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan teknologi.
Sedangkan dalam bidang sosial-politik, umat Islam dunia sedang
menghadapi tekanan yang begitu hebat dengan munculnya isu-isu terorisme. Hal
yang sangat menyedihkan kita akhir-akhir ini adalah adanya upaya-upaya
sistematis untuk memprovokasi kemarahan umat Islam.
Semua itu merupakan tantangan dari umat Islam dunia agar segera
berpikir dan bertindak secara cepat dan tepat untuk merespon dengan cerdas dan
bijak. Tentu saja upaya itu membutuhkan kerja keras dan kerja sama yang
sinergis di antara umat Islam dunia dalam rangka membangkitkan semangat
kemajuan peradaban Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas yang
tinggi, seperti yang pernah diraih pada abad pertengahan yang mencapai puncak
peradaban emas.
Salah satu upaya yang patut diberikan apresiasi yang tinggi adalah
kegiatan konferensi umat Islam yang diharapkan dapat memberikan sumbangan
ide-ide besar dalam mereformasi pemikiran dan perbaikan kualitas pendidikan
Islam dunia. Karena kondisi umat sekarang ini sangat dipengaruhi oleh dua hal
tersebut, yaitu perkembangan pemikiran yang stagnan dan kualitas pendidikan
yang masih sangat rendah, baik mutu proses maupun mutu hasil.
Dalam tradisi peradaban umat Islam masa lalu, kita selalu diingatkan oleh
budaya tajdid atau pembaharuan pemikiran (intelektual) yang begitu dinamis di
kalangan ulama Islam yang pernah mencapai puncak keemasannya. Namun
dalam dekade terakhir ini, umat Islam telah mengalami kemandekan, bahkan
kemunduran pemikiran yang mengakibatkan kita berada dalam puncak
keprihatinan seperti sekarang ini.
BAB III
ANALISIS

Peradaban Islam maju dan berkembang di semua sektor kehidupan karena


ditunjang oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Satu contoh
perkembangan teknologi pada era keemasan ini adalah pengembangan teknologi
pembuatan kertas. Kertas yang pertama kali ditemukan dan digunakan dengan
sangat terbatas oleh bangsa China berhasil dikembangkan oleh umat Islam pada
era Abbasiyah, setelah teknologi pembuatannya dipelajari melalui para tawanan
perang dari China yang berhasil ditangkap pasca meletusnya Perang Talas yang
terjadi pada tahun 751 M antara pasukan Dinasti Abbasiyah dengan Dinasti Tang dari
Cina untuk memperebutkan wilayah Syr Darya, termasuk wilayah Kazakhtan
(http://en.wikipedia.org/wiki/Battle_ of_Talas). Setelah itu kaum Muslim berhasil
mengembangkan teknologi pembuatan kertas tersebut dan mendirikan pabrik kertas
di Samarkand dan Baghdad. Hingga tahun 900 M di Baghdad terdapat ratusan
percetakan yang mempekerjakan para tukang tulis dan penjilid untuk membuat
buku. Perpustakaan-perpustakaan umum saat itu mulai bermunculan, termasuk
perpustakaan peminjaman buku pertama sepanjang sejarah. Dari Baghdad teknologi
pembuatan kertas kemuddian menyebar hingga Fez dan akhirnya masuk ke Eropa
melalui Andalusia pada abad 13 M (http://en.wikipedia.org/wiki
/Islamic_golden_age).
Perkembangan pemikiran Islam pada masa ini tidak hanya berdampak besar
pada kemajuan peradaban di dunia Islam, bahkan sangat berpengaruh ke dunia luar,
utamanya Eropa dan sekitarnya. Gerakan pemikiran Islam ini banyak melahirkan para
tokoh pemikir muslim dan bukan muslim. Para ilmuwan yang bukan muslim juga
memainkan peranan penting dalam menerjemahkan dan mengembangkan karya
Kesusasteraan Yunani dan Hindu, serta ilmu zaman pra-Islam kepada masyarakat
Kristen Eropa. Sumbangan mereka ini menyebabkan seorang ahli filsafat Yunani
yaitu Aristoteles terkenal di Eropa.
Sejarah telah membuktikan bahwa kemajuan dunia Islam pada abad
pertengahan menjadi jembatan emas kemajuan Eropa. Bangsa Eropa kala itu belum
memiliki peradaban yang maju, zaman itu dikenal dengan zaman kegelapan.
Dengan masuknya peradaban Islam ke Eropa, terutama melalui pintu Spanyol,
merubah tatanan baru dan pencerahan terhadap bangsa Eropa dengan sebuah
peradaban baru hingga menapaki masa modern. Karenanya, sulit dipungkiri bahwa
kemajuan Eropa tidak bisa dilepaskan dari kemajuan dunia Islam.
Sebuah bukti sejarah menyatakan bahwa Mesir telah membantu kemajuan
peradaban di Eropa, adapun kota-kota di Eropa seperti: Pisa, Genova, Venezis,
Napoli, Firenze memiliki hubungan dagang dengan Mesir. Kota-kota ini kemudian
menjadi lokomotif bangkitnya Eropa yang dikenal dengan renaissance, serta menjadi
cikal bakal peradaban modern di sana.
Bukti lain, di era kebangkitan Eropa, ketika mereka kembali pada ilmu-ilmu
Yunani klasik, mereka menjumpai buku-buku yang telah dimuat dalam khazanah
buku muslimin. Buku-buku lain yang mereka nukilkan adalah ilmu filsafat dan ilmu
kedokteran. Buku-buku kedokteran ini diajarkan di kampus-kampus Eropa sampai
abad 18 M, tidak terkecuali Sekolah Salerno yang dianggap sebagai sekolah
kedokteran pertama di Eropa. Buah pikiran Ibnu Sina dan al-Razi menjadi referensi
kuliah kedokteran di Paris. Bahkan teori-teori Ibnu Khaldun yang menjadi
peletak dasar ilmu sosial masih dikenal di kampus-kampus Eropa sampai
sekarang (W. Montgemary Watt, 1997: 2).
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Islam adalah salah satu agama yang memiliki penganut terbesar di
dunia. Selain itu, penganutnya juga terus-menerus mengalami peningkatan
dan perkembangan yang sangat signifikan setiap tahunnya. Perkembangan
tersebut terjadi di seluruh dunia, tanpa terikat oleh geografis, etnis, kasta dan
lain sebagainya.
Islam tersebar cepat ke seluruh dunia melalui dua pendekatan, yaitu
dengan peperangan dalam rangka membela diri dan pendekatan ruhani sperti
yang dilakukan sufi yang meletakkan dasar-dasar yang memungkinkan
generasi kemudian menerima keadaban hukum syariat dan tauhid yang lebih
halus. Sebagaimana Islam masuk ke Indonesia, bukan dengan peperangan
ataupun penjajahan. Islam berkembang dan tersebar cepat di Indonesia justru
dengan cara damai dan persuasif berkat kegigihan para ulama.
Masuknya islam di Indonesia menurut uka tjandrasasmita dilakukan
dengan enam saluran yaitu: Saluran perdagangan, Saluran perkawinan,
Saluran tasawuf, Saluran pendidikan, Saluran kesenian, dan Saluran politik.
Dari keenam saluran di ataslah islam bisa menjangkau hampir ke seluruh
pelosok Indonesia yang salah satu pengaruhnya diakui sebagai kebudayaan
Indonesia sendiri sampai sekarang seperti Pengaruh bahasa dan nama,
Pengaruh adat-istiadat, Pengaruh kesenian

B. Saran
Dalam menyikapi perkembangan dunia Islam yang dikenal banyak
mazhab yang ajaran nya berbeda satu dengan yang lain, tapi bukan pada
prinsip tapi perbedaan. Agar tidak kemudian dijadikan alat untuk mencemooh
mazhab yang lain. Sebaiknya sesama muslim bisa membangun sikap toleran
bukan saja kepada penganut agama yang berbeda, namun hendaknya kepada
sesama penganut agama Islam.
Umat Islam jangan sampai gampang diadu domba, gampang pecah
belah, gampang mufaraqah antara yang satu dengan yang lain. Umat Islam
agar bekerja keras dan kerja sama yang sinergis di antara umat Islam dunia
dalam rangka membangkitkan semangat kemajuan peradaban Islam yang
menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas yang tinggi, seperti yang pernah kita
raih pada abad pertengahan yang mencapai puncak peradaban emas.
DAFTAR PUSTAKA

Engineer, Asghar Ali. 1999. Asal Usul dan Perkembangan Isla., Yogyakarta : Pustaka
Pelajar

Marshall GS Hudgson, 1999. The Venture of Islam, Iman dan Sejarah dalam
Peradaban. Jakarta. Mulyadi Kartanegara, Paramadina,

http://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Shiffin

Nasution, Harun. 1986. Telogi Islam Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta
UI Press.

http://darunnajah.com/sejarah-dunia-islam-masa-khalifah-keempat-ali-bin-abi-thalib/

http://www.muslimedianews.com/2015/07/ali-bin-abi-thalib-khalifah-pertama.html

https://islami.co/al-bin-ab-thlib/