Anda di halaman 1dari 14

MENGHILANGKAN KESADAHAN MENGGUNAKAN KARBON AKTIF

DARI TEMPURUNG KELAPA


Ceciia Roence, Revocatus Lazaro Machunda, Karolim Nicholas Njau
Departemen of water and environmental science and engineering, Nelson Mandela
African Institution of science anf technology, Arusha, Tanzania

Jurnal Terjemahan

Oleh:
Mita Riani Rezki (H1E113053)
Jurusan Teknik Lingkungan,Fakultas Teknik

Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru,70714,Indonesia

e-mail : mitariani22@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini menjelaskan tentang proses pelunakan air dengan adsorpsi


kesadahan ion menggunakan karbon aktif dari tempurung kelapa. Karakteristik
dari karbon aktif ini diidentifikasi oleh FT-IR dan teknik SEM. Penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari berbagai faktor adsorben, seperti
banyaknya adsorben, pH awal, waktu kontak, dan temperatur terhadap proses
adsorpsi yang menggunakan sampel air sintetis dan pengumpulan sampel air.
Efisiensi penyisihan berada pada pH netral yaitu 6.3 untuk air sintetik dan sampel
pengumpulan air yaitu 60% dan 55%. Penelitian pada suhu (303 K- 333 K)
menunjukkan bahwa proses pelunakan air adalah endodermik karena sampel
meningkat saat suhu meningkat. efisiensi penyisian ditunjukkan jika efisiensi 40%
dan 29% pada suhu 303 K dan untuk efisiensi 47% dan 38% pada suhu 333 K.
Peningkatan efisiensi penyisihan dengan meningkatkan waktu kontak dan dosis
adsorben sampai 15 jam dan 0,24 g/cm3 berturut-turut untuk kedua sampel air,
agar mencapai nilai maksimum. Kesetimbangan isoterm dapat dianalisis dengan
menggunakan model Langmuir dan Freundlich, dan kedua model yaitu Langmuir
dan Freundlich dapat menjelaskan proses adsorpsi kesadahan air dalam CSAC.
Kata Kunci : Karbon Aktif, Kesadahan Air, Tempurung Kelapa, Adsorpsi,
Efisiensi Penyisihan.
1. PENDAHULUAN
Berbagai macam jenis dan bentuk dari kontaminan air yang ada, Kalsium
dan Garam Magnesium merupakan kontaminan yang memiliki peran besar dalam
menyebabkan kesadahan air. Menurut Definisinya, kesadahan air adalah ukuran
kuantitas dari ion yang ber valensi dua seperti kalsium dan magnesium yang
terdapat dalam air. masalah akibat kesadahan air telah menyebar hampir di
seluruh dunia, termasuk Tanzania. Daerah pusat dan pesisir Tanzania merupakan
daerah signifikan yang terkena dampak dari kesadahan air. Hal ini dikarenakan
oleh jenis batuan yang didominasi oleh batuan sedimen yang kaya akan kalsium
dan magnesium dimana ion ion tersebut merupakan ion yang mudah larut dalam
air tanah dan membuat air bersifat sadah.
Dalam kehidupan sehari- hari, kesadahan air dikaitkan dengan sejumlah
kegiatan hasil dari neraca panas boiler, mesin cuci dan pipa yang menyebabkan
sabun yang sulit untuk berbusa. Kesadahan air dapat menyebabkan beberapa
masalah kesehatan yang cukup serius seperti gangguan kardiovaskular, batu
ginjal, gangguan syaraf dan kanker. Selain itu, WHO melaporkan bahwa
kelebihan asupan kalsium dapat menyebabkan batu ginjal dan magnesium
menyebabkan diare dan efek pencahar dari perubahan kebiasaan buang air besar.
Masalah kesadahan air tidak dapat dihindari sehingga perlu langkah lebih
lanjut dalam proses pelunakan air. Saat ini, ada berbagai teknik yang digunakan
untuk memecahkan permasalahan berikut. Pertukaran ion, Teknik pemanasan dan
Membran Filter merupakan beberapa teknik yang umum digunakan. Namun,
biaya yang tinggi dalam proses instalasi, operasi dan pemeliharaan menghambat
penerapannya terutama pada negara berkembang, seperti Tanzania.
Pelunakan air dengan adsorpsi menggunakan karbon aktif dari limbah
pertanian sebagai adsorben tampaknya menjadi peluang tinggi untuk limbah
pertanian lokal karena lebih murah dan efisien. Tempurung kelapa adalah limbah
pertanian yang diperoleh dari hasil ektraksi kelapa itu sendiri. Limbah ini dapat di
konversi menjadi karbon aktif yang berguna untuk pengolahan air. Peluruhan air
dengan karbon aktif dari tempurung kelapa (CSAC) belum dipublikasikan. Pada
tulisan ini, CSAC masih dalam proses pengujian untuk penggunaannya dalam
pelunakan air terutama pada proses kesadahan.
2. BAHAN DAN METODE PENELITIAN
2.1 Adsorben
Karbon aktif tempurung kelapa (CSAC) dapat dibeli dari
perusahaan KWHB, China. CSAC yang dijual dalam bentuk butiran
dengan ukuran diameter partikel ±2.26 mm dan dapat digunakan
langsung tanpa adanya proses penghalusan dan penyaringan
2.2 Karakteristik adsorben
Analisis morfologi permukaan adsorben dilakukan dengan
Scanning Electron Microskopis (SEM), teknik menggunakan FE-SEM
dan HITACHI S-4800. Fourier Transform Infrared (FTIR) merupakan
analisis untuk menentukan kelompok fungsional pada permukaan
adsorben yang dilakukan dengan menggunakan spectrometer dari
Universitas Hanyang yang memiiki jumlah gelombang berkisar antara
500-4250/ cm.
2.3 Adsorbates
Pelunakan air sintetis dilakukan dengan menyiapkan 1.19 gr
CaCO2 dan 1 g dari MgSO4 dan dilarutkan dalam 1 liter air yang tidak
terionisasi untuk membentuk air dengan kesadahan sebesar 1214.8 mg/L
yang dinyatakan dengan satuan CaCO3 . kesadahan air sebesar 368 mg/L
dapat dikumpulkan dari Kimane yang terletak pada distrik Kisarawe,
Pesisir, Tanzania dan disimpan pada suhu dibawah 40 ° C untuk
mencegah aktivitas mikroba yang ada.
2.4 Penelitian Batch
Percobaan Adsorpsi Batch telah dilakukan untuk menguji adsorpsi
CSAC pada proses penghilangan kesadahan air pada kondisi adsorpsi
yang berbeda. Studi adsorpsi dilakukan daam kondisi yang berbeda yaitu
dosis adsorben (0.06-0.3 g/cm3), Kesadahan awal (552-936 mg/L), waktu
kontak (3-15 jam), pH (2-12), dan suhu (303-333 K). Dalam setiap
percobaan, diketahui jumlah CSAC yang memiliki kontak dengan 50 ml
dari yang diinginkan untuk pelunakan air dengan pH yang telah diketahui
dan didapatkan dari Thermo Scinetific maxQ 5000 pengaduk dengan
kecepatan 150 rpm pada interval biasa selama 4 jam . Solusinya disaring
dengan menggunakan filter Whatman kemudian filtrat yang dihasilkan
dikumpulkan untuk dianalisis. Dalam setiap percobaan, kondisi tetap
konstan kecuali pada kondisi yang ingin dianalisis.

2.5 Studi Adsorpsi Isotherm


Penelitian Adsorpsi Isotherm dilakukan pada pH netral (6.3) dari
sampel yang berhubungan dengan adsorben (8 g) dengan 50 mL air yang
memiliki kesadahan pada kisaran 552-936 mg/L. Campuran diaduk
selama 15 jam sampai menemukan titik keseimbangan untuk adsorpsi
dari ion kesadahan yang ada didalam CSAC. Konsentrasi dalam larutan
yang ada pada permukaan adsorben itu sendiri perlu di analisis. Langmuir
dan Freundlich merupakan model isotherm yang diterapkan pada
distribusi dari ion kesadahan antara fase cair dan padat. Freunslich
isotherm berlaku untuk permukaan adsorben yang heterogen dan
distribusi panas dipermukaan yang tidak seragam, sedangkan Langmuir
berlaku untuk permukaan adsorben yang homogen
2.6 Analisis
Kesadahan air sebelum dan sesudah titik keseimbangan dapat
ditentukan dengan titrasi EDTA yang dijelaskan oleh Cash. pH air
ditentukan dengan Hanna pH meter, persentasi kehilangan kesadahan
dapat dihitung menggunakan persamaan berikut :
𝐶𝑖 − 𝐶𝑓
% 𝑟𝑒𝑚𝑜𝑣𝑎𝑙 = × 100
𝐶𝑡
Dimana Ci dan Cf adalah kesadahan awal dan kesadahan akhir
dengan satuan mg/L. Origin Pro 8 dan Ms. Excel dapat digunakan dalam
analisis statistik dan menggambarkan grafik.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Karakteristik dari CSAC Adsorben
Scanning Electron Microscope (SEM) dapat digunakan untuk
mengamati struktur pori dari karbon aktif. Pori pada adsorben CSAC
menunjukkan adanya aktivasi pada bagian adsorpsi dan peningkatan
permukaan. Struktur pori yang besar dikembangkan selama proses
aktivasi dari adsorben yang telah ditunjukkan pada gambar 1. Selama
pengamatan sebelumnya telah dijelaskan bahwa adsorben CSAC
memiliki kemampuan tinggi pada penelitian batch selama pelunakan air.
Gambar karbon aktif dari SEM dihasilkan dari karbon aktif tempurung
kelapa dapat diihat pada gambar 1. Teknik FTIR merupakan alat yang
penting untuk mengidentifikasi karakteristik kelompok fungsional yang
merupakan bagian vital di adsorpsi dari kesadahan ion. Gambar 2 adalah
spektrum. Untuk CSAC. Adsorpsi pada 1100 mungkin disebabkan
karena getaran gugus alkoksi (C-O). Gugus Alkana (C-H) ditunjukkan
dengan adanya pita pada 2846 dan 2919 cm-1. Pita serapan tajam pada
1357 per cm berasal dari kelompok nitro (N-O). Wilayah spektrum 2360
cm-1 yang dikaitkan dengan C≡N. Wilayah spektrum dari 1558 cm-1
ditunjukkan pada gugus amina primer (N-H). Puncak adsorpsi muncul di
3300 per cm sesuai dengan kelompok fungsional O-H. Kelompok
fungsional diidentifikasi untuk menjelaskan adsorpsi kesadahan ion pada
permukaan adsorben dan efisiensi tinggi efisiensi pada pelunakan air.
3.2 Trend Adsorpsi Antara Bidang Air Dan Air Sistetik
Meskipun adsorpsi peluruhan ion dari bidang air dan air sintetis
memberi kecenderungan yang sama , efisiensi untuk menghilangkan dan
menyisihkan ion sangat bervariasi. Efisiensi penyisihan dalam air sintetis
ditemukan lebih tinggi daripada pada bidang air . Menurut Sherene ,
kekuatan ion larutan cenderung mempengaruhi adsorpsi ion logam ke
adsorben. Dalam hal ini, semakin tinggi kekuatan ion maka semakin
rendah adsorpsi ion logam tersebut, karena memiliki bidang kontaminan
ionik yang berbeda, dan kekuatan ion yang jelas tinggi dibandingkan
dengan air sintetis. Oleh karena itu, Kehadiran ion lain mengurangi
kemampuan kesadahan ion untuk menyerap ke CSAC tersebut.
3.3 Pengaruh Dari Waktu Kontak Dalam Penyisihan Kesadahan
Pengaruh dari waktu kontak dalam penyisihan kesadahan yang
dilakukan pada percobaan ini dikondisikan pada suhu 30°C selama 3 jam.
Pada gambar 3 ditunjukkan hubungan antara waktu kontak dengan
efisiensi penyisihan kesadahan.

Pengamatan menunjukkan bahwa penyisihan ion kesadahan


meningkat dengan meningkatnya waktu kontak. Persentase kesadahan
mendekati keseimbangan dalam waktu 10 jam. Peningkatan lebih lanjut
dalam waktu kontak tidak menunjukkan perubahan signifikan dalam
kesadahan. Kecenderungan serupa terjadi baik pada bidang air maupun
air sintesis. Hal ini mungkin disebabkan karena fakta bahwa , sejumlah
besar permukaan yang kosong dapat tersedia untuk adsorpsi selama tahap
awal pada waktu yang telah disediakan. Setelah berapa kali, gaya tolak
menolak antara molekul zat terlarut pada fase padat dan cair mempersulit
molekul zat terlarut untuk mengisi permukaan yang kosong.
3.4 Pengaruh Suhu dalam Penyisihan Kesadahan
Pengaruh Suhu dalam penyisihan kesadahan pada percobaan ini
dilakukan dengan meletakkan sampel pada kondisi suhu yang berbeda,
yaitu pad a: 303,312,323,dan 333 K yang ditunjukkan pada gambar 4. Hal
ini menunjukkan bahwa jika adsorpsi ion kesadahan meningkat maka
suhunya juga meningkat. Kemungkinan alasan untuk pengamatan ini
adalah pembengkakan adsorben yang pada gilirannya akan lebih aktif
untuk adsorpsi ion kesadahan. Selain itu, pengamatan terakhir
menunjukkan adsorpsi ion kesadahan oleh CSAC adalah endotermik
karena adsorpsi meningkat dengan peningkatan suhu.

3.5 Pengaruh pH dalam Menghilangan Kesadahan


pH merupakan parameter penting dalam proses adsorpsi. Gambar 5
menunjukkan pengaruh pH dalam proses adsorpsi pada CSAC. Selama
penelitian, menunjukkan hasil bahwa menghilangkan kesadahan air
sangat tergantung pada pH larutan. Hal ini dikarenakan variasi
konsentrasi ion hydrogen mempengaruhi jumlah ikatan ion logam pada
permukaan adsorben. Dapat dikatakan, saat pH rendah permukaan
adsorben dikelilingi oleh ion hydrogen (H+). Terakhir adsorpsi ion
kesadahan pada proses pengikatan dengan adsorben mengalami
penolakan sehingga menyebabkan konsentrasi ion hidrogen (H+)
menurun dan pH menjadi meningkat.
pH awal sampel air bervariasi dari 2 sampai 12. Pada pH terdapat
peningkatan penyisihan kesadahan dari 2 menjadi 4. Hal ini terjadi karena
fakta bahwa saat pH mengalami peningkatan, persaingan diantara ion
hidroksonium, H3O+, dan ion logam bermuatan positif, seperti Ca2+ dan
Mg2+ pada permukaan CSAC adsorben mengalami penurunan. Untuk
alasan itu, ada kemungkinan ion kesadahan (Ca2+ dan Mg2+) menjadi
adsorben dalam jumlah besar dengan meningkatnya pH. Pada pH 5
sampai 10 efisiensi penyisihan kesadahan saat dilakukan pengamatan
hasilnya hampir konstan. Hal ini terjadi secara alami mungkin disebabkan
karena konsentrasi yang hampir sama dari H3O+ dan ion OH- dalam
sebagian besar larutan yang mempengaruhi muatan ion adsorben
sehingga membuat ion bersifat hampir netral dan mencegah muatan untuk
menyerap ion lebih. Tetapi peningkatan eksponensial dari efisiensi
penyisihan yang diamati yaitu dari pH 10 sampai 12. Hal ini mungkin
disebabkan oleh peningkatan konsentrasi dalam larutan ion hidroksil
(OH) yang meningkatkan penolakan dari adsorben.
Efisiensi penyisihan tertinggi adalah 94% yang dicapai pada PH
12. Kemudian, terlihat tidak ekonomis dan aman karena perlu menaikkan
ph air sebelum dilakukan penyisihan dan mengurangi pH netral setelah
penyisihan. Dalam jangka panjang melakukan hal tersebut, pH bahan
kimia melakukan penyesuaian dalam air dan ini dapat mengurangi
keamanan air tersebut. Bukan hanya itu tetapi biaya tambahan juga harus
dikeluarkan untuk membeli bahan kimia untuk mengatur PH. Jadi, demi
menyediakan air yang aman secara ekonomis adalah penting
mempertimbangkan efisiensi pH pada kondisi netral. Efisiensi konstan
dengan efisiensi penyisihan rata-rata 60% untuk air sintetis dan 44%
untuk tempat pengumpulan air.
3.6 Pengaruh Dosis Adsorben Pada Penyisihan Kesadahan
Pengaruh dosis adsorben pada penyisihan kesadahan ditunjukkan
dalam gambar 6. Dosis adsorben bervariasi antara 0.06 sampai 0.3 g/cm3
dan efisiensi penyisihan meningkat dengan meningkatkan CSAC sebesar
0,24 g/cm3. saat terjadi peningkatan dosis adsorben, adsorpsi akan
menurun. Penyisihan kesadahan dengan meningkatkan dosis adsorben
dilakukan karena banyaknya keperluan dalam proses pertukaran
konsentrasi adsorben. Setelah pemberian dosis pada adsorben, adsorpsi
akan mencapai angka maksimum dan karenanya jumlah ion tetap konstan
bahkan jika dilakukan penambahan dosis adsorben lebih lanjut. Itu
sebabnya, 0,24 g/cm3 merupakan angka konstan bagi adsorpsi.
3.7 Penelitian Adsorpsi Isoterm
Penelitian ini bertujuan untuk memahami distribusi ion kesadahan
antara fase cair dan fase padat, dengan menggunakan model isotherm
Langmuir dan Freundlich. Kurva isotherm Langmuir untuk adsorpsi ion
kesadahan dengan CSAC ditunjukkan pada gambar 7.
Model isotherm Langmuir digambarkan dengan persamaan sebagai
berikut :
𝑞 𝑎𝑏𝐶𝑒
𝑒=
(1+𝑏𝐶𝑒

Dimana, qe merupakan jumlah kekerasan terserap (mg/g), Ce adalah


kesetimbangan kesadahan (mg/L), a dan b adalah konstanta Langmuir
yang berkaitan dengan kapasitas dan energy adsorpsi masing-masing. Alur
Ce / qe berlawanan dengan Ce memberi garis lurus dengan kemiringan 1 /
ba. Faktor pemisahan dimensi konstan (RL) dapat digunakan untuk
menentukan faktor penting pada model Isoterm Langmuir. Niai RL dapat
dinyatakan dengan persamaan berikut :
1
𝑅𝐿 =
(1 + 𝑏𝐶𝑖 )
Dimana Ci adalah nilai kesadahan awal (mg/L) dan ‘b’ adalah
konstanta Langmuir (g/ L). Menurut Hameed, dkk Faktor pemisahan RL
menunjukkan bentuk isoterm dan sifat dari proses adsorpsi, yaitu : tidak
unfavorable jika (RL > 1), linear (RL = 1), favorable (0 < RL < 1) dan
ireversible (RL = 0). Pada penelitian ini, nilai RL yang dihasilkan berada
pada angka 0.013, hal ini menunjukkan bahwa proses adsorpsi sangat
menguntungkan pada proses penyisihan ion kesadahan.
Model Isoterm Freundlich ditunjukkan pada persamaan berikut :
1
log 𝑞𝑒 = 𝑙𝑜𝑔𝐾𝐹 + ( ) log 𝐶𝑒
𝑛
dimana qe adalah jumlah kesadahan yang terserap (mg/g), Ce adalah
keseimbangan kesadahan (mg/L), KF (mg/g(L/mg)l/n) dan n adalah
konstanta Freundlich yang menunjukkan kapasitas adsorpsi. Gambar 8
menunjukkan kurva model isoterm Freundlich untuk adsorpsi ion
kesadahan dalam CSAC.
Nilai R2 menunjukkan bahwa Freundlich dan Langmuir
menunjukkan adsorpsi dari ion kesadahan didalam CSAC

4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, maka CSAC sangat
efektif dalam proses pelunakan air, terlebih karena tempurung kelapa mudah
didapat pada daerah pesisir dengan permasalahan kesadahan yang cukup tinggi.
Maka, adsorben CSAC diharapkan menjadi alternatif untuk penyisihan kesadahan
air pada air tanah yang cukup ekonomis dan efisien.Model adsorpsi isoterm
Langmuir juga menunjukkan bahwa adsorpsi ion CSAC sangat menguntungkan.
Penyisihan dilakukan pada pH yang sangat tinggi yaitu pada nilai pH 12 dan
menyebabkan perlunya penggunaan pH lain untuk mengoreksi reagen sehingga
membuat proses menjadi kurang ekonomis dan memerlukan penambahan bahan
kimia lain untuk proses penjernihan air. Oleh karena itu, meskipun adsorpsi yang
dilakukan pada pH netral kurang efektif daripada pH 12 tetapi penggunanya lebih
disukai karena lebih ekonomis dan air menjadi lebih aman untuk lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA

Agostinho, L. C. L., Nascimento, L. and Cavalcanti, B. F., 2012. Water Hardness


Removal for Industrial Use. Application of the Electrolysis Process. 1:460.
doi:10.4172/scientificreports.460

Cash, D., (2008) EDTA Titrations 2: Analysis of Calcium in a Supplement Tablet;


Analysis of Magnesium in Epsom Salt; Hardness of Water. Mohawk
College of Applied Arts and Technology.
Chakrabarty, S., & Sarma, H. P. (2012). Defluoridation of contaminated drinking
water using neem charcoal adsorbent: kinetics and equilibrium studies.
International Journal of ChemTech Research, 4(2).

Desta, M. B., (2013) Batch Sorption Experiments: Langmuir and Freundlich


Isotherm Studies for the Adsorption of Textile Metal Ions onto Teff Straw
(Eragrostis tef) Agricultural Waste. Journal of Thermodynamics Volume
2013, Article ID 375830, 6 pages

Dow Water & Process Solutions, 2013. FILMTEC™ Reverse Osmosis


Membranes Technical Manual

Frankel, V. S. (2011) Seawater Desalination: Trends and Technologies. USA:


Kennedy/Jenks Consultants

Grassi, M., Kaykioglu, G., Belgiorno, V., & Lofrano, G. (2012). Removal of
emerging contaminants from water and wastewater by adsorption process.
In Emerging Compounds Removal from Wastewater (pp. 15-37). Springer
Netherlands

Gulipalli, C. S., Prasad, B., Wasewar, K. L., (2011) Batch Study, Equilibirum and
Kinetics of Adsorption of Selenium Using Rice Husk Ash (RHA). Journal
of Engineering Science and Technology, 6 (5), 586 – 605

Hameed, B. H., Mahmoud, D. K., & Ahmad, A. L. (2008). Equilibrium modeling


and kinetic studies on the adsorption of basic dye by a low-cost adsorbent:
Coconut (Cocos nucifera) bunch waste. Journal of Hazardous Materials,
158(1), 65-72.

Hanumantharao, Y., Kishore, M., & Ravindhranath, K. (2011). Preparation and


development of adsorbent carbon from Acacia farnesiana for
defluoridation. International Journal of Plant, Animal and Environmental
Sciences, 1(3), 209-223.

Hydrology Project, (1999). Understanding hydrogen ion concentration (pH). New


Delhi: World Bank & Government of The Netherlands funded

Jimoh, T. O., Buoro, A. T., & Muriana, M. (2012). Utilization of Blighia sapida
(Akee apple) pod in the removal of lead, cadmium and cobalt ions from
aqueous solution. Journal of Environmental Chemistry and Ecotoxicology
Vol, 4(10), 178-187.

Johnson, R and Scherer, T., 2012. Drinking Water Quality. Testing and
Interpreting Your Results: NDSU Extension Service

Knivsland, S. M., 2012. Water Chemistry in the Bahi-Manyoni Basin in Tanzania.


Reprosentralen, University of Oslo
Malakootian, M., Mansoorian, H. J., & Moosazadeh, M., 2010. Performance
Evaluation of Electrocoagulation Process using Iron-rod Electrodes for
Removing Hardness from Drinking Water. Desalination, 255(1): 67-71

Manahan, S. E. (2000). Environmental Chemistry. (7th ed) Boca Raton: CRC


Press LLC

Meena, K. S., Gunsaria, R. K., Meena, K., Kumar, N. and Meena, P. L., 2011.
The Problem of Hardness in Ground Water of Deoli Tehsil (Tonk District)
Rajasthan. Journal ofCurrent Chemical & Pharmaceutical Sciences, 2(1):
50-54

Napacho, Z. A., & Manyele, S. V., 2010. Quality Assessment of Drinking Water
in Temeke District (part II): Characterization of Chemical Parameters.
African Journal of Environmental Science and Technology, 4(11): 775-789.

Rolence, C., Machunda, R. L. and Njau, K. N. (2014). Potentials of Agric Wastes


Activated Carbon for Water Softening. Research Journal in Engineering
and Applied Science 3(3) 199-207

Seo, S. J., Jeon, H., Lee, L. K., Kim, G. Y., Park, D., Nojima, H., Lee, J. and
Hyeon, S., 2010. Investigation on Removal of Hardness Ions by Capacitive
Deionization (CDI) for Water Softening Applications. Water research, 44:
2267–2275

Sepehr, M. N., Zarrabi, M., Kazemian, H., Amrane, A. Yaghmaian, K. and


Ghaffari, H. R., 2013. Removal of Hardness Agents, Calcium and
Magnesium, by Natural and Alkaline Modified pumice Stones in Single
and Binary Systems. Applied Surface Science, 274: 295-305

Sherene, T. (2010). Mobility and transport of heavy metals in polluted soil


environment. Biological Forum — An International Journal, 2(2): 112-121

Srivastava, V. C., Mall, I. D., & Mishra, I. M. (2008). Adsorption of toxic metal
ions onto activated carbon: Study of sorption behaviour through
characterization and kinetics. Chemical Engineering and Processing:
Process Intensification, 47(8), 1269-1280

WHO, 2011. Hardness in Drinking-water Background Document for


Development of WHO: Guidelines for Drinking-water Quality. WHO Press

Window on State Government (1996), Specification for Floor Finish Remover-


concentrate, Texas Specification No. 485-54-09A. Retrieved from
http://www.window.state.tx.us/procurement/pub/specifications-
library/485/54-09a/
Wong MH, Pang J, Chan GSY, Zhang J, Liang J (2003). Physiological aspects of
vetiver grass for rehabilitation in abandoned metalliferous mine wastes.
Chemosphere 5:1559-1570.