Anda di halaman 1dari 4

PANDUAN PRAKTIK ANESTESI EPIDURAL PASIEN TANPA TERAPI

KLINIS ANTIKOAGULAN

No. Dokumen No. Revisi Halaman


………………………
…….
Tanggal terbit, Ditetapkan
Direktur Utama

PENGERTIAN Anestesi epidural adalah teknik anestesi yang dilakukan dengan cara
memasukkan obat ke dalam rongga epidural.
TUJUAN Melaksanakan tindakan anestesi epidural dengan aman serta
menghindari terjadinya risiko dan komplikasi.
INDIKASI - Tindakan yang membutuhkan hilangnya rasa sakit pada satu atau
lebih bagian tubuh pasien.
- Pengelolaan nyeri yang diindikasikan menggunakan teknik
anestesi epidural.
KONTRAINDIKASI - Pasien atau keluarga pasien atau orang lain yang mewakili pasien
menolak tindakan
- Pasien dalam terapi obat yang mengubah fungsi pembekuan darah
tubuh.
- Infeksi aktif pada tempat suntikan jarum anestesi regional.
PROSEDUR 1. Puasa pre anestesi
TINDAKAN a. Puasa pre anestesi pada tindakan elektif / terencana. Puasa
(tidak makan dan minum) dilakukan sebelum tindakan anestesi
dengan lama waktu.
1. Cairan jernih tanpa ampas : 2 jam
2. Air susu ibu : 4 jam
3. Makan : 6 jam
b. Puasa pre anestesi pada tindakan darurat / cito.
Puasa (tidak makan dan minum) dilakukan sebelum tindakan
anestasi dengan lama waktu yang dimulai sejak diputuskan
akan dilakukan tindakan anestesi.
2. Premedikasi / pemberian obat sebelum anestesi.
Obat yang dapat diberikan yaitu :
a. Golongan Benzodiazepin :
I. Midazolam : 1 – 2.5 mg intravena atau dapat diberikan
sesuai dengan respon / kondisi pasien.
b. Golongan Antihistamin :
I. Diphenhydramine : 12,5 – 50 mg intravena.
c. Golongan Antiemetik
I. Dexametasone : 5 mg intravena atau dapat diberikan sesuai
dengan respon / kondisi pasien.
II. Ondansetron : 4 mg intravena atau dapat diberikan sesuai
dengan respon / kondisi pasien.
d. Golongan H2 Antagonis
I. Ranitidin : 50 mg intravena.

intraepidural atau dapat diberikan sesuai dengan respon / kondisi


pasien.
Dosis infus terus-menerus : 10 – 15 ml konsentrasi 0,125% - 0,25
% atau dapat diberikan sesuai dengan respon / kondisi pasien.
2. Ropivacalno 0,75% Iboraik/plain.
 Dosis : 112,5 – 187,5 mg intrapidural atau dapat diberikan
sesuai dengan respon/kondisi pasien.
3. Levobupivacaine 0,5% dan 0,75%.
 Dosis : 50 – 100 mg (konsentrasi 0,5%) 75-150 mg
(konsentrasi 0,75%) intraepidural atau dapat diberikan sesuai
dengan respon / kondisi pasien.
 Dosis infus terus-menerus : 10 – 25 mg / jam atau dapat
diberikan sesuai dengan respon / kondisi pasien.
4. Morfin
Digunakan sebagai obat tambahan / adjuvant yang dicampur pada
obat anestesi lokal dengan dosis : 2-4 mg/24 jam intraepidural atau
2 mcg/ml anestesi lokal intrepidural atau dapat diberikan sesuai
dengan respon / kondisi pasien.
5. Fentanyl
Digunakan sebagai obat tambahan / adjuvant yang dicampur pada
obat anestesi lokal dengan dosis : 50 – 75 mcg intraepidural atau
dapat diberikan sesuai dengan respon / kondis pasien.
6. Klonidin
Digunakan sebagai obat tambahan / adjuvant yang dicampur pada
obat anestesi lokal, dengan dosis : 60 – 75 mcg intrepidural atau
dapat diberikan sesuai dengan respon / kondisi pasien.
IV. Tindakan anestesi epidural
1. Pasien diposisikan pada meja tindakan.
2. Petugas mencuci tangan dan memakai sarung tangan steril.
3. Ambil obat anestesi menggunakan spuit.
4. Tempat injeksi didesinfeksi dengan povidone iodine diikuti
alkohol 70%.
5. Menusukkan jarum epidural pada tempat yang diinginkan.
6. Lakukan pemeriksaan bila jarum epidural telah masuk
kedalam rongga epidural dengan teknik loss of resistant atau
hanging drop.
PANDUAN PRAKTIK ANESTESI EPIDURAL PASIEN TANPATERAPI
KLINIS ANTIKOAGULAN

No. Dokumen No. Revisi Halaman


………………………
…….
7. Fiksasi jarum dengan tangan yang lain
8. Injeksi obat anestesi dengan menggunakan spuit melalui
jarum epidural.
9. Lokasi bekas injeksi ditutup dengan kasa steril.
10. Bila menggunakan kateter, maka kateter dimasukkan melalui
jarum epidural, kemudian setelah jarum epidural dilepas,
tempat injeksi ditutup dengan kasa steril. Kateter epidural di
fiksasi ke kulit pasien dengan plester, dan obat anestesi dapat
dimasukkan melalui kateter.
11. Pasien diposisikan terlentang kembali di meja tindakan.
V. Obat Tambahan lain
Obat tambahan selain yang disebutkan diatas dapat diberikan
sesuai dengan kebutuhan dan kondisi fisik pasien.
c. Periode Pemulihan
Proses pemulihan dari anestesi regional dievaluasi dari tanda-tanda
fisik.
d. Periode perawatan
Bila tindakan anestesi epidural dimaksudkan sebagai terapi
analgetik secara terus-menerus di ruang rawat inap, maka
pengawasan pasien selanjutnya dapat dilakukan secara periodik
oleh perawat ruangan yang ditempati pasien meliputi :
1. Keadaan umum
2. Tekanan darah.
3. Nadi
4. Frekuensi dan usaha nafas pasien
TINGKAT EVIDENS Level II Grade B Kepustakaan 1
Level V Grade D Kepustakaan 2, 3, 5, 6, 8
Level III Grade B Kepustakaan 4, 7
Mampu kelola di RS DR Kariadi
INDIKATOR MEDIS Terjadinya kehilangan kemampuan sensorik pada bagian tubuh yang
menjadi target pembiusan.
KEPUSTAKAAN 1. Apfelbaum JL. Caplan RA, Connis RT, Epstein BS, Nickinovich
DG, Warner MA. Practice gudelines for preoperative fasting and
the use of pharmacologic agnets to reduce the risk of pulmonary
aspiration: application to healthy patients undergoing elective
procedures an updated report by the
PANDUAN PRAKTIK ANESTESI EPIDURAL PASIEN TANPATERAPI
KLINIS ANTIKOAGULAN

No. Dokumen No. Revisi Halaman


………………………
…….
American Society of Anesthesiologists Committee on Standards
and Practice Parameters. Anesthesiology. 2011 Mar;114(3):495-
511.
2. Basics of anesthesia/Ronald D. Miller, Manuel C. Pardo Jr. 6th ed
P. 184
3. ASA House of Delegates Standards For Basic Anesthetic
Monitoring. https://www.asahq.org/For-Members/ Standards-
Guidelines-and-Statements.aspx
4. Martindale Drug Refference 36th ed.
5. Lennart Christiansson. Update on adjuvants in regional
anaesthesia. Periodicum Biologorum VOL. 111 No. 2, 161-170,
2009.
6. Epidural Anaesthesia. Dr. Leon Visser. Update In Anesthesia.
Issue 13 (2001) Article 11
7. Siddik-Sayyid SM, Taha SK, Azar MS, Hakki MA, Yaman RA,
Baraka AS, Aouad MT. omparison of three doses of epidureal
fentanul followed bya bupivacaine and fentanyl for labor
analgesia. Acta Anaesthesiol Scand. 2008 Oct;52(9):1285-90
8. Roelants F. The use of neuraxial adjuvant drugs (neostigmine,
clonidine) in onstatrics. Curr Opin Anaesthesio. 2006 Jun;19(3):
233-7.