Anda di halaman 1dari 45

Kepada:

Yth.
dr. Lilia Dewiyanti, Sp.A

CASE BASED DISCUSSION

NEONATUS ATERM DENGAN MAKROSOMIA, RESIKO


HIPOGLIKEMIA DAN NEONATAL INFEKSI
Diajukan untuk
Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Di RSUD Kota Semarang

Disusun Oleh :
Mualimatul Kurniyawati 01.211.6451
Rizka Nur Ikfina 30101206783

Pembimbing:
dr. Slamet Widi Saptadi, Sp.A
dr. Zuhriah Hidajati, Sp.A, M.Si, M.Ed
dr. Lilia Dewiyanti, Sp.A, M.Si, M.Ed
dr. Neni Sumarni, Sp.A

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG

2016
BAB I
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN

Nama pasien : By. Ny. Y


Umur : 1 hari
Jenis kelamin : Laki-laki

Nama ayah : Tn. A


Umur : 37 tahun
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : SMK
Alamat : Bayuputih, Kota Batang

Nama ibu : Ny. Y


Umur : 34 tahun
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Pendidikan : SMU

Bangsa l : Perinatologi
No CM : 378513
Masuk RS : 9 November 2016

B. DATA DASAR
1. Anamnesis (Alloanamnesis)

2
Alloanamnesis dilakukan dengan ibu pasien pada tanggal 10
November 2016 pukul 18.30 WIB di ruang Perinatologi serta
didukung catatan medis.

Keluhan utama : Berat badan lahir bayi > 4000 gram

Riwayat Penyakit Sekarang


Ibu G3P2A0, usia 34 tahun, hamil 39 minggu, HPHT tidak ingat,
riwayat haid teratur, siklus 28 hari, lama haid 7 hari per siklus. Ibu
rutin memeriksakan kehamilannya dan sudah mendapat suntikan TT
2x. Selama hamil ibu tidak merasa adanya mual maupun muntah. Ibu
tidak mempunyai penyakit darah tinggi selama kehamilan. Selama
masa kehamilan ibu tidak mengkonsumsi obat-obatan apapun, riwayat
trauma sebelum dan selama kehamilan disangkal, riwayat dipijat
disangkal, riwayat kencing manis disangkal riwayat perdarahan
disangkal. Riwayat mengonsumsi jamu-jamuan selama kehamilan
diakui sebanyak 2 kali. Pola makan sebelum dan selama hamil tidak
mengalami perubahan, makan kali sehari diselingi makan kecil.
1 jam SMRS dini hari ibu mengeluh perut mulas, kencang-kencang
sering, dan sudah lendir darah dari jalan lahir. Saat itu juga suami
pasien membawa istrinya ke IGD RSUD Semarang. Kemudian di IGD
dilakukan pemeriksaan vt pembukaan 6, KK (-), his adekuat, DJJ 12-
11-12, letak kepala, punggung kanan, presentasi ubun-ubun kecil,
turun di H II+.
Lahir bayi jenis kelamin laki-laki lahir secara spontan di VK
(Srikandi) RSUD Kota Semarang tanggal 9/11/2016 pukul 23.15 WIB
dengan BBL: 4200 gram, PB: 52 cm, LK: 33 cm, LD: 34 cm, air
ketuban jernih dan tidak berbau busuk.

 Saat lahir, bayi menangis, tonus otot baik, pernafasan teratur, HR>
100, dengan warna badan merah jambu dan ujung-ujung biru

3
 5 menit setelah diresusitasi bayi menangis kuat, tonus otot baik,
pernafasan teratur, HR> 100, dengan warna badan dan wajah
merah jambu.
 10 menit setelah diresusitasi, bayi menangis kuat, tonus otot baik,
pernafasan teratur, HR>100, dengan warna badan dan wajah merah
jambu.
 APGAR score didapatkan 9-10-10. Bayi kemudian dirawat di
perinatologi dan diobservasi DR dan GDS.

Setelah masuk perinatologi


Tanggal Keterangan TTV
9 November Keadaan bayi :
2016  Gerakan bayi aktif HR : 128x/menit
Pukul : 23.15  Menangis kuat (+) RR : 36x /menit
Usia : 0 hari  Kemerahan T : 36,7°C
Berat:4200 gram  Tanda-tanda serotinus (+) N : I/t cukup

Assesment:
Neonatus aterm
Makrosomia
High Risk Baby
Virgoun Baby
Terapi :
 Berikan diet sedikit secara bertahap
Program :
 Cek DR dan GDS
9 November Keadaan bayi :
2016  Gerakan bayi aktif HR: 132x /menit
Usia: 0 hari  Menangis kuat (+) RR: 40 x/menit
Pukul: 23.50  Kemerahan T: 36,7°C
Berat:4200 gram  Tanda-tanda serotinus (+) N: i/t cukup
 GDS di peri : 96 mg/dl
Assesment:
Neonatus aterm
Makrosomia
High Risk Baby
Virgoun Baby
Terapi :

4
 Diet secara bertahap
Program :
 Pantau KU
 Pantau hipoglikemia
 Berikan diet sedikit  naik
bertahap
10 November Keadaan bayi : HR: 132x /menit
2016  Gerakan bayi aktif RR: 36 x/menit
Usia: 1 hari  Menangis kuat (+) T: 36,5°C
Pukul: 8.00  Minum kuat (+) N: i/t cukup
Berat:4200 gram  Tidak muntah
 Hb: 17,5 ; Ht: 50,0; Leu: 9.200 ;
Trombo: 200.000; GDS: 105
(pukul 7.30)
Assesment:
Neonatus aterm
Makrosomia
Terapi :
 Coba diet ASI: 8-10x, 200cc
ASI/PASI
Program :
 Monitor pemberian ASI Eksklusif
 Rencana rawat gabung atau
pulang
10 November Keadaan bayi : HR: 132x /menit
2016  Gerakan bayi aktif RR: 34 x/menit
Usia: 1 hari  Menangis kuat (+) T: 36,5°C
Pukul: 14.00  Minum kuat (+) N: i/t cukup
Berat:4200 gram Program :
 Boleh rawat gabung atau pulang

Riwayat Penyakit Ibu dan Ayah


 Riwayat ibu tidak memiliki riwayat hipertensi, diabetes
mellitus, asma, penyakit jantung, penyakit ginjal, alergi,
anemia, serta kelainan darah sebelum hamil disangkal.
 Riwayat ibu keputihan berbau busuk atau menderita penyakit
menular seksual selama masa kehamilan atau saat proses

5
kehamilan seperti gonorea, klamidia, trikomonasis, kandidiasis
disangkal.
 Riwayat ayah menderita penyakit menular seksual sebelum dan
selama istrinya hamil disangkal.
 Riwayat ibu mengidap batuk-batuk lama lebih dari 3 minggu,
mendapat pengobatan paru selama 6 bulan dan membuat
kencing berwarna merah disangkal.
 Riwayat ibu demam tinggi selama proses kehamilan disangkal.
 Riwayat ibu merokok disangkal.
 Riwayat ayah merokok (+)

Riwayat Pemeriksaan Prenatal


Ibu rutin memeriksakan kehamilannya sebulan 1x, menjelang
persalinan 2 minggu 1x dan mendapat suntikan tetanus toxoid
sebanyak 2 kali selama masa kehamilannya. Riwayat trauma sebelum
kehamilan disangkal, riwayat dipijat disangkal, riwayat penyakit darah
tinggi dan kencing manis disangkal, riwayat minum jamu-jamu diakui
oleh ibu sebanyak 2 kali selama kehamilan. Ibu mengatakan HPL 5
November 2016.
Kesan : Pemeliharaan prenatal baik.

Riwayat Persalinan dan Kehamilan


Anak pertama bayi jenis kelamin laki-laki, lahir spontan, anak
sehat sampai saat ini.
Anak kedua bayi jenis kelamin perempuan, lahir spontan, anak
sehat sampai saat ini.
Anak ketiga bayi jenis kelamin laki-laki dari ibu G3P2A0 hamil 39
minggu, lahir secara spontan di VK RSUD Kota Semarang.
Saat lahir bayi langsung menangis, pernapasan teratur, warna kulit
merah jambu, tonus otot baik. Berat badan lahir 4200 gram panjang
badan : 52 cm, lingkar kepala: 33 cm, lingkar dada: 34 cm APGAR
score 9–10–10.

6
Kesan : Neonates aterm, makrosomia, vigorous baby, lahir
spontan

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Anak


Pertumbuhan:
Berat badan lahir : 4200 gram
Panjang badan lahir : 52 cm.
Lingkar kepala : 33 cm
Lingkar dada : 34 cm
Perkembangan: belum dapat dinilai dan dievaluasi

Riwayat Makan dan Minum Anak


- Pada hari ke 0 perawatan mulai diberi diet (ASI)

Riwayat Imunisasi
BCG :-
Polio :-
Hep B :-
Kesan : Imunisasi dasar belum dilakukan

Riwayat Keluarga Berencana


Ibu pasien menggunakan KB suntik 3 bulan terakhir ± 3tahun yang
lalu.

Riwayat Sosial Ekonomi


Ayah bekerja wiraswasta dengan penghasilan per bulan ±2juta, ibu
bekerja sebagai ibu rumah tangga. Biaya pengobatan menggunakan
UMUM.
Kesan : Sosial ekonomi cukup.

Data Obstetri

7
Anak Jenis persalinan, Jenis kelamin, Keadaan anak
Thn
ke penolong, usia kehamilan BBL, PBL sekarang

1 2005 Spontan, bidan, 38 Laki-laki, 3500gr,


Sehat
minggu Tidak ingat
Perempuan,
2 2009 Spontan, dokter, 39
3800gr, Sehat
minggu
50cm
4 2016 Spontan, dokter, 39 Laki-laki, 4200, makrosomia,
minggu 52cm Vigorous Baby

Data Keluarga
Ayah Ibu
Perkawinan ke- I I
Umur Menikah 37 tahun 34 tahun
Pendidikan terakhir SMK SMU
Agama Islam Islam
Kesehatan Sehat Sehat

Data Perumahan
Kepemilikan rumah : Rumah sendiri
Keadaan rumah : Dinding rumah terbuat dari tembok, 3
kamar tidur, 1 kamar mandi di dalam rumah.
Sumber air bersih : Sumber air minum dari sumur, limbah
buangan dialirkan saluran atau selokan yang ada di belakang rumah.
Keadaan lingkungan : Antar rumah berdekatan, tidak terlalu
padat.

2. Pemeriksaan Fisik
Dilakukan pada tanggal 10 November 2016
Bayi perempuan usia 1 hari, berat badan 4200 gram, panjang badan 52
cm
Kesan umum : Composmentis, aktif, nafas spontan, menangis
kuat, minum kuat, ikterik (-)
Tanda vital : TD : Pemeriksaan tidak dilakukan

8
HR : 132 x/menit
RR : 36 x/menit
t : 36,5°C (axilla)

Status internus:
 Kepala
Normocephalus , lingkar kepala 33 cm, ubun-ubun besar masih
terbuka, tidak tegang, tidak menonjol, caput succedaneum (-),
cephal hematom (-), rambut hitam terdistribusi merata, agak
tebal, tidak mudah dicabut, kulit kepala tidak ada kelainan
 Mata
Pupil bulat, isokor, refleks cahaya (+/+) normal, kornea jernih,
sclera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-), subconjungtival
bleeding (-)
 Hidung
Bentuk normal, nafas cuping hidung (-/-), sekret (-/-), septum
deviasi (-).
 Telinga
Normotia, discharge (-/-), kembali setelah dilipat.
 Mulut
Sianosis (-), trismus (-), stomatitis (-), labioschizis (-),
palatoschizis (-)
 Thorax
Paru
o Inspeksi : Hemithorax dextra dan sinistra simetris
pada keadaan inspirasi dan ekspirasi. Retraksi
epigastrium (-).
o Palpasi : Stem fremitus tidak dilakukan, areola
mammae teraba, papilla mammae (+/+).
o Perkusi : Tidak dilakukan.
o Auskultasi : Suara dasar vesikuler, rhonki (-/-),
wheezing (-/-).

9
Jantung
o Inspeksi : Pulsasi ictus cordis tidak terlihat
o Palpasi : Ictus cordis tidak melebar
o Perkusi : Batas jantung sulit dinilai
o Auskultasi : Bunyi jantung I/II regular, Murmur (-),
Gallop (-)
 Abdomen
o Inspeksi : Datar
o Auskultasi : Bising usus (+) normal
o Palpasi : Supel, hepar, dan lien tidak teraba
membesar
o Perkusi : Timpani di seluruh kuadran abdomen
 Tulang belakang
Tidak ada spina bifida, tidak ada meningocele
 Genitalia
Jenis kelamin laki-laki, dalam batas normal
 Anorektal
Anus/rektum (+/+) dalam batas normal
 Kulit
Lanugo (+) halus, sianotik (-), pucat (-), ikterik (-), mudah
mengelupas (-)
 Ekstremitas
Superior Inferior
Deformitas -/- -/-
Akral Dingin -/- -/-
Akral Sianosis -/- -/-
Ikterik -/- -/-
CRT <2” <2”
Tonus Normotonus Normotonus

 Refleks Primitif:
o Refleks Hisap : (+)

10
o Refleks Rooting : (+)
o Rfleks Moro : (+)
o Refleks Palmar Grasp : (+)
o Refleks Plantar Grasp : (+)

3. Pemeriksaan Penunjang
4. Hb: 16,5 ; Ht: 50,0; Leu: 9.200 ; Trombo: 200.000; GDS: 105

10 November (7.30)
Pemeriksaan Nilai
HEMATOLOGI
Hemoglobin(g/dl) 16,5
(14-18)
Hematokrit(%) 50,0%
(42-52)
Leukosit(/ul) 92.000
(4.800-10.800)
Trombosit(/ul) 200.000
(150.000-400.000)
KIMIA DARAH
GDS(mg/dl) 105 mg/dL (jam 7.30)
(70-140)

Usul pemeriksaan penunjang lainnya:


- Cek bilirubin

5. Pemeriksaan Khusus
1. BALLARD SCORE

11
Maturitas
Score Maturitas Fisik Score
Neuromuskuler
Sikap tubuh 3 Kulit 3
Jendela siku-siku 2 Lanugo 2
Rekoil lengan 3 Lipatan telapak kaki 2
Sudut popliteal 3 Payudara 3
Tanda selempang 3 Bentuk telinga 2
Tumit ke kuping 3 Genitalia (laki-laki) 3
Total 17 Total 15
New Ballard Score= maturitas neuromuscular + maturitas fisik
= 17 + 15 = 38
Kesan : Kehamilan aterm 39 minggu.

12
2. KURVA LUBCHENCO

BBL 4200 gram


Usia Kehamilan 39 minggu
Kesan : Neonatus term – Besar Masa Kehamilan

3. APGAR SCORE
Kelahiran spontan ditolong oleh dokter, APGAR score : 9-10-10
Kesan : Vigorous Baby

C. RESUME
Telah lahir bayi jenis kelamin perempuan dari seorang ibu
G3P2A0 usia 34 tahun, usia kehamilan 39 minggu, lahir secara spontan
ditolong oleh dokter pada tanggal 9/11/2016 pukul 23.15 WIB dengan
BBL: 4200 gram, PB: 52 cm, LK: 33 cm, LD: 34 cm, caput succadaneum
(-) , cephal hematoma (-) , air ketuban jernih dan tidak berbau busuk. Saat
lahir bayi menangis, pernapasan teratur, warna kulit kepala dan badan
serta ujung-ujung ekstremitas merah jambu, tonus otot baik. APGAR
Score 9 – 10– 10.
Dari pemeriksaan fisik tanggal 10 November 2016 didapatkan:
Bayi laki usia 1 hari, berat badan 4200 gram, panjang badan 52 cm

13
Kesan umum : Composmentis, tampak aktif, tidak ditemukan
tanda-tanda neonatus post-term, nafas spontan, menangis kuat, minum
kuat.
Tanda vital : TD : Pemeriksaan tidak dilakukan
HR : 132 x/menit
RR : 36 x/menit
t : 36,5°C (axilla)

Status internus:
 Kepala : Dalam batas normal
 Mata : Dalam batas normal
 Hidung : Dalam batas normal.
 Telinga : Dalam batas normal.
 Mulut : Dalam batas normal
 Thorax : Pergerakan dada simetris, retraksi epigastrium (-).
Paru : Dalam batas normal
Jantung : Dalam batas normal.
 Abdomen : Dalam batas normal.
 T. blkng : Dalam batas normal.
 Genitalia : Laki-laki dalam batas normal.
 Anorektal : Dalam batas normal.
 Kulit : Lanugo halus, sianotik (-), pucat (-), ikterik (-),
mudah mengelupas (-)
 Ekstremitas
Superior Inferior
Deformitas -/- -/-
Akral Dingin -/- -/-
Akral Sianosis -/- -/-
Ikterik -/- -/-
CRT <2” <2”
Tonus Normotonus Normotonus

14
Pemeriksaan Penunjang
 Dalam batas normal

D. DIAGNOSA BANDING
a. Neonatus Aterm
i. Sesuai masa kehamilan (SMK)
ii. Kecil masa kehamilan (KMK)
iii. Besar masa kehamilan (BMK)
b. Makrosomia
i. Perhitungan kehamilan yang kurang tepat
ii. Bayi dari ibu dengan DM tak terkontrol
iii. Faktor genetic
iv. Bayi dari Ibu yang mengalami penambahan berat badan
c. Neonatal infeksi
Berdasarkan Etiologi :
i. Infeksi antenatal
1. Penyakit ibu (TORCH, TBC, Hepatitis B, Infeksi
virus, Trikomoniasis, Candidiasis vaginalis,
gonorrhea, non gonococcal servitis, sifilis,
komdiloma akuminata, ulkus molle,
limfogranuloma inguinal)
2. Ketuban
ii. Infeksi durante natal
1. Infeksi ascenden
2. Infeksi lintas amnion
3. Infeksi lintas jalan lahir
iii. Infeksi postnatal
1. Perawatan tali pusat tidak adekuat
2. Nosokomial (alat dan sarana yang tidak steril)
3. Partus tindakan
4. Penolong persalinan

15
Berdasarkan Waktu :
iv. Early onset (< 72 jam)
1. Ketuban pecah dini
2. Infeksi pada ibu (TORCH, TBC, Infeksi virus,
trikomoniasis, kandidiasis vaginalis, gonorrhea, non
gonococcal servitis, sifilis, kondiloma akuminata,
ulkus molle, limfogranuloma inguinal)
v. Late onset (> 72 jam)
1. Perawatan tali pusat
2. Infeksi Nosokomial
d. Resiko Hipoglikemia
i. Hiperinsulinisme endogen
ii. Penyakit kritis
iii. Defisiensi endokrin
iv. Tumor non-sel B
v. Pasca-prandial

E. DIAGNOSA SEMENTARA
a. Neonatus aterm
b. Berat badan lahir besar, besar untuk masa kehamilan
c. Vigorous baby
d. Resiko hipoglikemia dan Neonatal infeksi
F. TERAPI
a. Non Medikamentosa :
- Rawat perinatologi
- Jaga jalan nafas
- Jaga kehangatan
- Rawat tali pusat bayi
- Pantau KU
b. Medikamentosa:
- Diet 8-10x, 20cc ASI/PASI

16
G. PROGNOSIS
a. Ad vitam : ad bonam
b. Ad functionam : ad bonam
c. Ad sanationam : ad bonam
H. EDUKASI
a. Jaga kehangatan bayi
b. Rawat tali pusat
c. Pemberian ASI eksklusif hingga 6 bulan, berikan 2-3 jam sekali.
ASI harus diteruskan dan diberikan sesering mungkin.
d. Ibu harus selalu membersihkan puting susu sebelum maupun
sesudah menyusui. Jika ibu menggunakan botol susu, pastikan
botol susu dalam keadaan bersih dan harus selalu dicuci serta
direbus sebelum digunakan.
e. Untuk ibu pelajari cara menyusui yg benar. Kebanyakan bayi
cenderung menghisap udara yang berlebihan sewaktu menyusui.
Karena itu setelah menyusui sendawakan bayi dengan cara
melektakkan bayi tegak lurus di pundak dan tepuk punggungnya
perlahan-lahan sampai ia mengeluarkan udara.
f. Lakukan pemeriksaan kesehatan bayi secara rutin ke pusat
pelayanan kesehatan terdekat untuk memantau tumbuh kembang
bayi serta pemberian imunisasi dasar.
g. Cepat temui dokter bila bayi mengalami:
i. Masalah bernafas
ii. Merintih
iii. Tampak kebiruan
iv. Suhu tubuh >38°C
v. Tersedak atau mengeluarkan ASI dari hidung saat
menyusui
vi. Muntah atau BAB berlebihan (>3x/hari)
vii. Mengeluarkan darah saat BAB dan BAK
viii. Kejang

17
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. USIA GESTASI DAN BERAT BADAN LAHIR


Hubungan berat badan lahir dengan usia gestasi merupakan salah satu
indikator kesehatan bayi baru lahir yang mencerminkan pertumbuhan intrauterin
yang dapat mempermudah antisipasi morbiditas dan mortalitas selanjutnya.
Berawal dari fakta klinis bahwa bayi dengan masalah berat badan lahir dan atau
usia gestasi memiliki masalah klinis yang serupa,yaitu gangguan perkembangan
fisik , gangguan perkembangan mental dan kelainan kongenital maka American
Academy of Pediatrics, Comitee on Fetus and Newborn menyarankan agar semua
bayi baru lahir diklasifikasikan menurut berat badan lahir berdasarkan usia
gestasi.

Tidak semua bayi baru lahir yang memiliki berat badan lahir kurang dari
2500 gram lahir kurang bulan dan tidak semua bayi dengan berat badan lahir lebih
dari 2500 gram adalah aterm. Hal ini didokumentasikan oleh penelitian Guenwald
(1960) yang menunjukan bahwa sepertiga bayi baru lahir dengan berat badan
rendah sebenarnya adalah aterm. Oleh sebab itu diperlukan tinjauan lebih lanjut
mengenai berat badan lahir dan usia gestasi.1,2

DEFINISI DAN KLASIFIKASI

Berat Badan Lahir

Berat bayi yang ditimbang dalam waktu 24 jam setelah lahir di fasilitas
kesehatan (Rumah Sakit , Puskesmas dan Polindes) yang dilakukan oleh petugas
kesehatan (Dokter , Bidan dan Perawat)

Klasifikasi :

1. Bayi Badan Lahir Rendah


Bayi yang dilahirkan dengan berat lahir < 2500 gram
2. Bayi Badan Lahir Cukup / Normal
Bayi yang dilahirkan dengan berat lahir 2500 – 4000 gram

18
3. Bayi Badan Lahir Lebih
Bayi yang dilahirkan dengan berat lahir > 4000 gram

Usia Gestasi

Masa sejak terjadinya konsepsi sampai dengan saat kelahiran, dihitung


dari hari pertama haid terakhir

Klasifikasi :

1. Bayi Kurang Bulan


Bayi dilahirkan dengan masa gestasi < 37 minggu (< 259 hari)
2. Bayi Cukup Bulan
Bayi dilahirkan dengan masa gestasi antara 37 – 42 minggu (259 – 293
hari)
3. Bayi Lebih Bulan
Bayi dilahirkan dengan masa gestasi > 42 minggu (> 293 hari)

Dari hubungan antara usia gestasi dengan berat badan lahir, bayi dapat
diklasifikasikan menjadi :

1. Bayi Kecil Untuk Masa Kehamilan


Bayi dilahirkan dengan berat lahir < 10 persentil menurut grafik
Lubchenco
2. Bayi Besar Untuk Masa Kehamilan
Bayi dilahirkan dengan berat lahir > 10 persentil menurut grafik
Lubchenco
Dengan perngertian seperti yang telah diterangkan diatas bayi BBLR dapat di bagi
menjadi 2 golongan yaitu:
1. Prematuritas murni
Masa Gestasinya < 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat
badan untuk masa gestasi itu atau biasanya disebut Bayi Kurang Bulang –
Sesuai Masa Kehamilan (BKB-SMS)

19
2. Dismaturitas
Bayi lahir pada masa gestasi itu, dan mengalami retardasi pertumbuhan
intrauterine dan merupakan bayi kecil untuk masa kehamilan.1,4

B. PENILAIAN USIA GESTASI


1. Penilaian Usia Gestasi Antenatal
Cara yang paling sederhana adalah dengan menentukan Hari
Pertama Haid Terakhir (HPHT) dan kejadian-kejadian penting misalnya
gerakan janin , munculnya denyut jantung janin dan tinggi fundus. Cara ini
biasanya tidak jelas dan kejadian-kejadian selama kehamilan biasanya
tidak spesifik atau tidak tercatat bila pasien tidak menjani perawatan
antenatal (ANC).
Selain itu pengukuran tinggi fundus uteri dan pemeriksaan
ultrasonografi (USG) juga dapat memperikirakan umur kehamilan. 1,4

2. Penilaian Usia Gestasti Postnatal


Tiga teknik pasca persalinan yang paling sering digunakan adalah :
1. Penilaian ciri fisik luar
Farr et al dan Usher et al mengidentifikasi ciri-ciri fisik luar bayi
baru lahir yang progresif dengan pola teratur selama kehamilan.
Parameter ini berupa berbagai macam cirri fisik dan meliputi elemen-
elemen seperti perubahan lipa telapak kaki dan perubahan bentuk serta
kekakuan daun telinga.4,5
Tanda 0 1 2 3 4
Luar
Edema
tangan dan Pitting Tidak ada
Edema kaki ; edema pada edema
Pitting tibia
edema
pada tibia

Halus ; Sedikit Tebal dan


ketebalan menebal ; seperti
Tekstur Sangat Tipis dan sedang , pecah- perkamen

20
Kulit tipis halus ruam dan pecah dan ; pecah –
pengelupasan ruam pecah dan
superfisial superficial ruam
dalam
Pucat ;
hanya
Merah Merah muda merah
Warna Merah tua muda pucat pada muda pada
Kulit menyeluruh tubuh telinga ,
bervariasi bibir ,
telapak
tangan atau
kaki
Sejumlah Beberapa
besar vena Vena-vena Beberapa vena besar Tidak
Opasitas dan venula dan vena besar tampak tampak
Kulit terlihat cabangnya nampak jelas tidak jelas pembuluh
jelas, terlihat pada pada –
terutama abdomen abdomen pembuluh
abdomen darah
Banyak Penipisan Sedikit Paling
sekali rambut lanugo dan tidak
Lanugo Tidak ada panjang dan terutama daerah separuh
lanugo tebal di bagian tanpa punggung
seluruh bawah rambut tanpa
punggung punggung lanugo
Garis-garis Identasi Identasi
merah jelas lebih dari nyata dan
Garis-garis pada lebih sepertiga dalam
merah tipis dari setengah bagian lebih dari
Lipatan pada bagian anterior sepertiga
Telapak Tidak ada setengah anterior bagian
Kaki lipatan bagian identasi pada anterior
kulit anterior kurang dari
kaki sepertiga
bagian
anterior
Puting Puting susu Areola Areola
susu tampak berbintik , berbintik ,
Bentuk hamper jelas ; pinggiran tdk pinggiran
Putting tidak areola halus terangkat , terangkat ,
nampak ; (diameter < diameter < diameter >

21
tidak ada 0,75 cm) 0,75 cm 0,75 cm
areola

Ukuran Jaringan Jaringan Jaringan Jaringan


Payudara payudara payudara payudara payudara
tidak pada satu pada satu pada satu
teraba atau kedua atau kedua atau kedua
sisi, sisi sisi
diameter < berukuran berukuran
0,5 cm 0,5 – 1 cm > 1 cm
Pinna
datar dan Putaran
Bentuk tidak Bagian Putaran penuh
Telinga berbentuk pinna sebagian seluruh
, putaran memutar pinna bagian bagian atas
pinggir atas pinna
sedikit
atau tidak
ada
Pinna Pinna Pada pinggir
lunak , lunak , pinna Pinna
dapat dapat terdapat keras ,
Kekakua dilipat dilipat , kartilago tapi berkartilago
n Telinga dengan dengan di beberapa hingga ke
mudah mudah , tempat pinggir ,
(tidak ada recoil lunak , recoil cepat
recoil) lambat segera terjadi
recoil
Paling tidak
Dalam ada satu Paling tidak
skrotum testis yang ada satu
Genitalia tidak terletak testis yang
Pria terdapat tinggi di berada di
testis dalam bawah
skrotum
Labia Labio
mayora mayora Labio
Genitalia terpisah hampir mayora
Wanita jauh , menutupi menutupi
labio labia labio minora
minora minora secara penuh

22
menutup
keluar

1. Evaluasi neurologis
Tidak seperti penilaian umur kehamilan berdasarkan criteria fisik
yang dapat dilakukan segera setelah lahir, pemerksaan neurologis
harus dilakukan saat bayi berada dalam keadaan tenang dan
beristirahat. Dilema penilaian neurologis adalah ketidakpraktisan
penilaian dan dalam beberapa keadaan seperti asfiksia , depresi atau
infeksi dapat menyebabkan defisit neurologis, sehingga dapat terjadi
bias penilaian. Hal menyebabkan beberapa peniliti lebih mempercayai
criteria fisik daripada criteria neurologis dalam menilai usia gestasi. 1,4

2. Sistem nilai yang menggabungkan ciri fisik luar dan evaluasi


neurologis
Dubowitz dan rekan menemukan sistem penilaian yang
menggabungkan temua neurologis (Amiel Tison) dengan ciri-ciri fisik
yang digambarkan farr.

23
PENILAIAN PERTUMBUHAN INTRAUTERIN

Menurut Kurva Lubchenco

Nilai standard yang digunakan disusun untuk berat , panjang dan lingkar kepala
lahir terhadap umur kehamilan.

24
C. MAKROSOMIA

I. DEFINISI
Makrosomia adalah bayi yang berat badannya pada saat lahir lebih dari
4.000 gram.. Berat neonatus pada umumnya kurang dari 4000 gram dan jarang
melebihi 5000 gram. Frekuensi berat badan lahir lebih dari 4000 gram adalah
5,3% dan yang lebih dari 4500 gram adalah 0,4%.

II. ETIOLOGI
Beberapa keadaan pada ibu dapat menyebabkan terjadinya kelahiran bayi
besar / baby giant.

Faktor-faktor dari bayi tersebut diantaranya :

1. Bayi dan ibu yang menderita diabetes sebelum hamil dan bayi dari ibu
yang menderita diabetes selama kehamilan. Sering memiliki kesamaan,
mereka cenderung besar dan montok akibat bertambahnya lemak tubuh
dan membesarnya organ dalam, mukanya sembab dan kemerahan
(plethonic) seperti bayi yang sedang mendapat kortikosteroid. Bayi dari
ibu yang menderita diabetes memperlihatkan insiden sindrom

25
kegawatan pernafasan yang lebih besar dari pada bayi ibu yang normal
pada umur kehamilan yang sama. Insiden yang lebih besar mungkin
terkait dengan pengaruh antagonis antara kortisol dan insulin pola
sintesis surfakton.
2. Terjadinya obesitas pada ibu juga dapat menyebabkan kelahiran bayi
besar (bayi giant).
3. Pola makan ibu yang tidak seimbang atau berlebihan juga
mempengaruhi kelahiran bayi besar.
III. TANDA DAN GEJALA
 Berat badan lebih dari 4000 gram pada saat lahir
 Wajah menggembung, pletoris (wajah tomat)
 Besar untuk usia gestasi
 Riwayat intrauterus dari ibu diabetes dan polihidramnion

IV. FAKTOR RESIKO


Risiko bayi dan anak

Kemungkinan komplikasi makrosomia janin bagi bayi anda mungkin berupa:

• Kadar gula darah yang lebih tinggi dari ukuran normal. Seorang bayi yang
didiagnosis makrosomia janin lebih mungkin dilahirkan dengan tingkat
gula darah yang lebih tinggi (toleransi glukosa menjadi terganggu).

• Obesitas anak. Penelitian menunjukkan bahwa risiko obesitas meningkat


seiring dengan meningkatnya berat badan saat lahir.

• Sindrom metabolik. Sindrom metabolik merupakan sekelompok kondisi –


peningkatan tekanan darah, peningkatan gula darah, kelebihan lemak
tubuh di sekitar pinggang, atau kadar kolesterol abnormal- yang terjadi
bersama-sama, sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke
dan diabetes. Jika bayi anda didiagnosis dengan makrosomia janin, dia
berada pada risiko untuk mengembangkan sindrom metabolik selama
masa kanak-kanak.

26
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah efek ini bisa
meningkatkan risiko diabetes dewasa, obesitas, dan penyakit jantung

V. KOMPLIKASI
Bayi besar juga kerap menjadi penyulit pada saat persalinan normal,
karena dapat menyebabkan cedera baik pada ibu maupun bayinya.
Kesulitan yang dapat terjadi adalah :

 Pada bayi :

a) Terjadinya distosia bahu yaitu kepala bayi telah lahir tetapi bahu
tersangkut di jalan lahir.
b) Asfiksia pada bayi sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan
untuk melahirkan bahu.
c) Brachial Palsy (kelumpuhan syaraf di leher) yang ditandai
dengan adanya gangguan motorik pada lengan.
d) Patah tulang selangka (clavicula) yang sengaja dilakukan untuk
dapat melahirkan bahu.
e) Kematian bila bayi tidak dapat dilahirkan.
Makrosomia dapat meningkatkan resiko pada bayi mengalami
hipoglikemia, hipokalsemia, hiperviskostas, dan
hiperbilirubinemia.

1. Hipoglikemia

Hipoglikemi sering terjadi pada bayi dari ibu yang menderita


penyakit DM karena cadangan glukosa rendah. Pada ibu DM terjadi
transfer glukosa yang berlebihan pada janin sehingga respon insulin juga
meningkat pada janin. Saat lahir di mana jalur plasenta terputus maka
transfer glukosa berhenti sedangkan respon insulin masih tinggi (transient
hiperinsulinisme) sehingga terjadi hipoglikemi.

Hipoglikemi adalah masalah serius pada bayi baru lahir, karena


dapat menimbulkan kejang yang berakibat terjadinya hipoksi otak. Bila

27
tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan kerusakan pada susunan
saraf pusat bahkan sampai kematian.

Glukosa merupakan sumber kalori yang penting untuk ketahanan


hidup selama proses persalinan dan hari-hari pertama pasca lahir. Setiap
stress yang terjadi mengurangi cadangan glukosa yang ada karena
meningkatkan penggunaan cadangan glukosa, misalnya pada asfiksia,
hipotermi, hipertermi, gangguan pernapasan.

Istilah hipoglikemia digunakan bila kadar gula darah bayi secara


bermakna dibawah kadar rata-rata. Dikatakan hipoglikemia bila kadar
glukosa darah kurang dari 30 mg/dl pada semua neonatus tanpa menilai
masa gestasi atau ada tidaknya gejala hepoglikemia. Umumnya
hepoglikemia terjadi pada neonatus umur 1 – 2 jam.

2. Hipokalsemia

Bayi menderita hipokalsemia bika kadar kalsium dalam serum


kurang dari 7 mg/dl (dengan/tanpa gejala), atau kadar kalsium 10 n kurang
dari 3 mg/dl. Kejadiannya adalah kira-kira 50% pada bayi dari ibu
penderita DM. Beratnya hipokalsemia berhubungan dengan beratnya
diabetes ibu dan berkurangnya fungsi kelenar paranoid kadar kalsium
terendah terjadi pada umur 24-72 jam.

3. Polestemia dan Hiperviskositas

Penyebab polestemia kurang jelas akan tetapi mungkin disebabkan


oleh meningkatnya produksi sel darah merah yang sekunder disebabkan
oleh hipoksia intra uterin kronik pada ibu dengan penyakit vaskuler dan
oleh transfusi plasenta intra uterin akibat hipoksia akut pada persalinan
atau kelahiran.

Dengan adanya polisetemia akan menyebabkan hiperviskositas


darah dan akan merusak sirkulasi darah. Selain itu peningkatan sel darah
yang akan dihemolisis ini meningkatkan beban hederobin potensial
heperbilirubinemia. Bayi makrosomia dapat menderita fraktur klavikula,

28
laserasi limpa atau hati cedera flesus brakial, palsi fasial, cedera saraf
frenik atau hemoragi subdural.

Hiperviskositas mengakibatkan menurunnya aliran darah dan


terjadinya hipoksia jaringan serta manifestasi susunan saraf pusat berupa
sakit kepala, dizziness, vertigo, stroke, tinitus dan gangguan penglihatan
berupa pandangan kabur, skotoma dan diplopia.

4. Hiperbilirubinemia

Hiperbilirubinemia adalah keadaan kadar bilirubin dalam


darah >13 mg/dL. Bilirubin pada neonatus meningkat akibat terjadinya
pemecahan eritrosit. Bilirubin mulai meningkat secara normal setelah 24
jam, dan puncaknya pada hari ke 3-5. Setelah itu perlahan-lahan akan
menurun mendekati nilai normal dalam beberapa minggu. Pada bayi baru
lahir, ikterus yang terjadi pada umumnya adalah fisiologis, kecuali:

a) Timbul dalam 24 jam pertama kehidupan


b) Bilirubin total/indirek untuk bayi cukup bulan > 13 mg/dL atau
bayi kurang bulan >10 mg/dL
c) Peningkatan bilirubin > 5 mg/dL/24 jam
d) Kadar bilirubin direk > 2 mg/dL
e) Ikterus menetap pada usia >2 minggu
f) Terdapat faktor resiko

Peningkatan kadar bilirubin umum terjadi pada setiap bayi baru lahir, karena:

- Hemolisis yang disebabkan oleh jumlah sel darah merah lebih


banyak dan berumur lebih pendek.

- Fungsi hepar yang belum sempurna

29
D. HIPOGLIKEMIA
I. PENDAHULUAN
a. Definisi

Definisi hipoglikemia pada neonatus masih tidak ada kesesuaian,


baik dalam buku teks maupun jurnal, sehingga definisinya dibuat dari
beberapa sudut pandang. Hipoglikemia adalah suatu sindrom klinik dengan
penyebab yang sangat luas, sebagai akibat dari rendahnya kadar glukosa
plasma yang akhirnya menyebabkan neuroglikopenia.

Banyak kendala untuk menentukan status hipoglikemia. Pertama,


hasil pada asal sampel darah dan metode pemeriksaan; Kedua, jadwal
menyusui dini sangat berpengaruh pada kadar gula darah; Ketiga, 72% bayi
baru lahir mempunyai satu atau lebih faktor resiko terjadi hipoglikemia;
Keempat, tidak memungkinkan untuk dilakukan penelitian longitudinal
dalam menentukan rentang normal kadar gula darah karena alasan estetika.
Pada neonatus, tidak selalu terdapat korelasi yang jelas antara konsentrasi
glukosa darah dan manifestasi klinis dari hipoglikemia. Tidak adanya gejala
bukan mengindikasikan bahwa konsentrasi glukosa normal dan bukan
berarti pula nilainya kurang.

Kadar glukosa plasma pada bayi, anak, dan dewasa normalnya 70-
100 mg/dL, ditemukan tanda hipoglikemia neurofisiologik pada kadar 50-70
mg/dL, hipoglikemia berat bila kadar glukosa plasma kurang dari 40 mg/dL,
dan terapi dianggap berhasil jika glukosa plasma meninggkat lebih dari 60
mg/dL.

b. KLASIFIKASI

Hipoglikemia dapat dibagi menurut usia yaitu hipoglikemia neonatus


dan hipoglikemia pada balita atau anak lebih besar.

 Hipoglikemia pada neonatus :


1. Bersifat sementara

30
Biasanya terjadi pada bayi baru lahir, misalnya karena asupan atau
masukan glukosa yang kurang, hipotermia, syok, dan pada bayi dari
ibu diabetes.
2. Bersifat menetap dan berulang
Terjadi akibat defisiensi hormon, hiperinsulinemia, serta kelainan
metabolisme karbohidrat dan asam amino, gangguan metabolisme
yang bersifat herediter (misalnya, glycogen storage diseases, disorders
of gluconeogenesis, fatty acid oxidation disorders).
 Hipoglikemia pada balita atau anak yang lebih besar :
Hipoglikemia dapat terjadi akibat cadangan glikogen rendah,
pembentukan glikosa yang kurang, bayi dari ibu diabetes, ataupun
gangguan endokrin dan metabolisme.
Berdasarkan patofisiologi dapat dikelompokkan dalam empat
golongan anak dengan resiko terjadinya hipoglikemia :
1) Bayi dari ibu diabetes atau diabetes pada saat hamil,
2) Bayi berat badan lahir rendah yang mungkin mengalami
malnutrisi intrauterin,
3) Bayi sangat kecil atau sakit berat yang mengalami
hipoglikemia karena meningkatnya kebutuhan metabolisme
yang melebihi cadangan kalori,
4) Bayi dengan kelainan genetik atau gangguan metabolik primer
(jarang terjadi).

c. EPIDEMIOLOGI

Frekuensi hipoglikemia pada bayi atau anak lebih besar belum


diketahui dengan pasti. Di Amerika dilaporkan sekitar 14000 bayi
mengalami hipoglikemia. Menurut Gutberlet dan Cornblath melaporkan
frekuensi hipoglikemia 4,4 per 1000 kelahiran hidup dan 15,5 per 1000
kelahiran Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Dan hanya 200-240 penderita
hipoglikemia persisten dan intermitten setiap tahunnya yang masuk rumah
sakit. Angka ini berdasarkan observasi bahwa penderita hipoglikemia
berjumlah 2-3 per 1000 anak yang masuk rumah sakit, sedangkan anak yang

31
dirawat berjumalah 80.000 pertahun. Sedangkan di Indonesia belum ada
data.

d. ETIOLOGI
Penyebab Hipoglikemi pada Neonatus :
a. Menurunnya pembentukan glukosa pada bayi kecil masa kehamilan
(KKMK),
b. Hiperinsulinemia,
c. Defisiensi Glukagon,
d. Peningkatan kecepatan pemakaian glukosa,
e. Pemantauan dan terapi hipoglikemia pada neonatus.
Hipoglikemia pada anak dapat terlihat saat terjadi gangguan pada
keseimbangan normal antara produksi dan pemakaian glukosa, kelainaan
sekresi hormon, interkonversi substrat, dan mobilisasi bahan bakar
metabolik berperan dalam menyebabkan kelainan pada produksi dan
penggunaan glukosa atau bisa pada kombinasi keduanya.

e. Patofisiologi
Pengaturan kadar glukosa darah sebagian besar bergantung pada
hati. Beberapa kinerja hati berupa :
1. Mengekstraksi Glukosa
2. Menyintesis Glikogen
3. Melakukan Glukoneogenesis
4. Dan jaringan-jaringan perifer hingga otot dan adiposa juga ikut berperan
dalam mempertahankan kadar glukosa plasma.

Jumlah glukosa di hati bergantung pada keseimbangan fisiologis


beberapa hormon. Hormon tersebut dapat di bagi menjadi dua. Yang
pertama adalah hormon yang bekerja merendahkan kadar glukosa,
sedangkan yang kedua adalah hormon yang bekerja meninggikan kadar
glukosa.

32
1. Hormon yang merendahkan kadar glukosa
Dalam hal ini hormon yang merendahkan kadar glukosa adalah
hormon insulin. Insulin adalah hormon predominan yang mengendalikan
kadar glukosa darah, karena hormon ini adalah satu-satunya hormon
yang secara langsung berefek menurunkan produksi glukosa endogen dan
mempercepat pemakaian glukosa. Biasanya hormon insulin digunakan
pada pasien yang mengalami penyakit diabetes yang harus menggunakan
insulin untuk merendahkan kadar glukosa dalam darah.

2. Hormon yang meninggikan kadar glukosa


Terdapat beberapa hormon yang bekerja untuk meningkatkan
kadar glukosa dalam darah. Hormon tersebut, adalah :
a. Glukokortikoid oleh sekresi korteks adrenal,
b. Glukagon oleh sekresi sel-sel alfa pulau langerhans,
c. Epinefrin oleh sekresi medulla adrenal dan jaringan kromafin lain,
d. Growth hormon (hormon pertumbuhan) oleh sekresi kelenjar hipifisis
anterior.
Hormon yang meningkatkan kadar glukosa darah ini disebut juga
hormon counterregulatory. Yang melawan efek hipoglikemia dan
pengaruh insulin berlebih adalah kerja hormon adrenokortikotropok
(ACTH), kortisol, glukagon, epinefrin, dan hormon pertumbuhan. Hasil
akhir dari hormon ini adalah meningkatkan konsentrasi glukosa darah
dengan menghambat penyerapan glukosa oleh otot (epinefrin, kortisol,
dan hormon pertumbuhan). Meningkatkan ketersediaan asam amino
glukoneogenik endogen dengan meningkatkan proteolisis otot (kortisol),
mangaktifkan lipofisis, dan menyediakan asam lemak bebascsebagai
sumber energi dan gliserol untuk glukoneogenesis (epinefrin, glukagon,
hormon pertumbuhan, ACTH, dan kortisol), menghambat sekresi insulin
dari pangkreas (epinefrin), mengaktifkan secara akut enzim
glukogenolitik dan glukoneogenik (epinefrin dan glukagon), dan memicu
sintesis enzim glukoneogenik (glukagon dan kortisol) secara terus
menerus.

33
f. Manifestasi Klinis

Gejala yang berkaitan dengan penurunan konsentrasi glukosa


plasma dengan cepat dapat memperlihatkan peningkatan adrenergik
(takikardi, gemetar) dan kolinergik (berkeringat, rasa lemah, dan rasa
lapar). Apabila hipoglikemia ini tidak diatasi dengan cepat, dapat timbul
manifestasi gejala progresif disfungsi otak (nyeri kepala, irritabilitas,
kekacauan mental, prilaku psikotik, kejang dan koma). Keadaan
hipoglikemia yang sering dan berulang dapat menyebabkan kerusakan
permanen susunan saraf pusat atau bahkan menyebabkan kematian.

Gejala hipoglikemia pada neonatus terkadang kurang mencolok


bahkan terabaikan. Dengan demikian, pemantauan prospektif konsentrasi
glukosa plasma diinikasikanuntuk dilakukan pada jam pertama kehidupan
atau pada bayi yang lebih tua namun beresiko tinggi mengalami
hipoglikemia.

g. Penegakkan Diagnosis
Untuk menetapkan diagnosis hipoglikemia secara benar harus
diperhatikan tanda dan gejala klinis hipoglikemia , dan dapat dilakukan
dengan mengikuti Trias Whipple.
Trias Whipple meliputi :
1. Gejala yang konsisten dengan hipoglikemia,
2. Kadar glukosa plasma rendah,
3. Gejala mereda setelah kadar glukosa plasma meningkat.
Pemeriksaan yang menunjang penentuan diagnosis adalah
pemeriksaan glukosa darah (GD), tes fungsi ginjal, tes fungsi hati,c-
peptida.

h. Differensial Diagnosis
Hipoglikemia karena :

34
 Hiperinsulinisme endogen : insulinoma, kalainan sel B jenis lani,
sulfonilurea, autoimun, sekresi insulin ektopik.
 Penyakit kritis : gagal hati, gagal ginjal, sepsis, starvasi, dan inasasi.
 Defisiensi endokrin : kortisol, growth hormon, glukagon, epinefrin.
 Tumor non-sel B : sarkoma, tumor adrenokortikal, hepatoma, leukimia,
limfoma melanoma.
 Pasca-prandial : reaktif (setelah operasi)
i. Penatalaksanaan

Tujuan utama pengobatan hipoglikemia adalah secapat mungkin


mengembalikan kadar glukosa darah kembali normal, untuk menghindari
hipoglikemia berulang sampai homeostasis glukosa normal dan untuk
mengkoreksi penyakit yang mendasari terjadinya hipoglikemia .

a. Monitor
Pada bayi yang beresiko (BBLR, BMK, bayi dengan ibu DM) perlu
dimonitor dalam 3 hari pertama :
 Periksa kadar glukosa saat bayi datang / umur 3 jam
 Ulangi tiap 6 jam selama 24 jam atau sampai pemeriksaan glukosa
normal dalam 2 kali pemeriksaan
 Kadar glukosa ≤ 45 mg/dl atau gejala positif tangani hipoglikemia
 Pemeriksaan kadar glukosa baik, pulangkan setelah 3 hari
penganganan hipoglikemia selesai

b. Penanganan hipoglikemia dengan gejala


 Bolus glukosa 10% 2 ml/kg pelan-pelan dengan kecepatan 1
ml/menit
 Pasang jalur IV D 10% sesuai kebutuhan (kebutuhan infus glukosa
6-8 mg/kg/menit)
Atau cara lain dengan Glucosa Infution Rate (GIR)
 Konsentrasi glukosa tertinggi untuk infus perifer adalah 12,5%, bila
lebih dari 12,5% digunakan vena sentral. Untuk mencari kecepatan

35
infus glukosa pada neonatus dinyatakan dengan GIR (Kecepatan
infus ) = glucosa infus rate
 GIR (mg/kg/menit) = kecepatan cairan (cc/jam) X konsentrasi
Dextrose (%) = 6 X berat (kg)
Monitoring Kembali :
 Setelah itu periksa glukosa darah pada : 1 jam setelah bolus dan
tiap 3 jam
 Bila kadar glukosa masih < 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala,
ulangi seperti di atas.
 Bila kadar glukosa 25-45 mg/dl, tanpa gejala klinis :
- Infus D 10% diteruskan
- Periksa kadar glukosa tiap 3 jam
- ASI diberikan bila bayi dapat minum
 Bila kadar glukosa ≥ 45 mg/dl dalam 2 kali pemeriksaan
- Ikuti petunjuk bila kadar glukosa sudah normal
- ASI diberikan bila bayi dapat minum dan jumlah infus diturunkan
pelan-pelan
- Jangan menghentikan infus secara tiba-tiba
c. Kadar glukosa darah < 45 mg/dl tanpa gejala :
 ASI diteruskan
 Pantau, bila ada gejala manajemen seperti di atas
 Periksa kadar glukosa tiap 3 jam atau sebelum minum, bila :
 Kadar < 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala tangani
hipoglikemi
 Kadar 25-45 mg/dl, naikkan frekuensi minum
 Kadar ≥ 45 mg/dl, manajemen sebagai kadar glukosa normal
d. Kadar glukosa normal
 IV teruskan
 Periksa kadar glukosa tiap 12 jam, bila 2 kali pemeriksaan dalam
batas normal, pengukuran dihentikan.
 Bila kadar glukosa turun, atasi seperti di atas .
e. Persisten Hipoglikemia (hipoglikemia lebih dari 7 hari)

36
 Konsultasi endokrin
 Terapi :
 kortikosteroid hydrocortisone 5 mg/kg/hari 2X/hari IV atau
prednisone 2 mg/kg/hari per oral,
 Mencari kausa hipoglikemia lebih dalam
 Bila masih hipoglikemia dapat ditambahkan obat lain :
somatostatin, glukagon, diazoxide, Human Growth
Hormon, pembedahan (jarang dilakukan)

j. Prognosis

Jika tidak segera diatasi, hipoglikemia yang berat dan


berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan susunan saraf pusat
bahkan kematian dalam setiap golongan umur. Pada neonatus bahkan
hipoglikemia ringan dapat mengalami sekuele akibat mengalami
hipoglikemia, tetapi lebih banyak akibat kelainan patologik yang
menyertai

E. NEONATAL INFEKSI
DEFINISI
Infeksi yang terjadi pada bayi baru lahir dibagi dua yaitu early
infection (diperoleh dari ibu saat masih berada di dalam kandungan) dan
late infection (infeksi yg diperoleh dari lingkungan luar).

PATOFISIOLOGI
Infeksi pada neonates dapat dibagi menjadi beberapa cara, yaitu:
1. Infeksi antenatal
Kuman mencapai janin melalui sirkulai ibu ke plasenta.
Selanjutnya infeksi melalui sirkulasi umbilicus dan masuk ke janin.
Yang dapat masuk melalui cara ini antara lain:
a. Virus: rubella, poliomyelitis, coxakie, variola, varicella, CMV.

37
b. Spirochaeta: treponema palidum
c. Bakteri: E.Coli dan listeria monocytogenes

2. Infeksi intranatal
Mikroorganisme dari vagina naik dan masuk ke dalam rongga
amnion setelah ketuban pecah. Ketuban pecah lama (jarak waktu
antara pecahnya ketuban dengan lahirnya bayi lebih dari 12 jam)
memilik peranan penting terhadap timbulnya plasentisitas dan
amnionitik. Infeksi dapat pula terjadi walau ketuban masih utuh,
misalnya pada partus lama dan seringkali dilakukan manipulasi vagina.
Infeksi janin terjadi melalui inhalasi likuor yang septik sehingga terjadi
pneumonia congenital selain itu infeksi dapat sebabkan
septisemia.infeksi intranatal dapat juga melalui kontak langsung
dengan kuman yang berasal dari vagina misalnya blenorea dan “oral
trush”.
3. Infeksi pascanatal
Infeksi ini terjadi setelah bayi lahir lengkap. Sebagian besar infeksi
yang berakibat fatal terjadi sesudah lahir sebagai akibat kontaminasi
pada saat penggunaan alat atau akibat perawatan yang tidak steril atau
sebagai akibat infeksi silang. Infeksi pascanatal ini sebetulnya
sebagian besar dapat dicegah. Hal ini penting karena mortalitas
pascanatal ini sangat tinggi.

DIAGNOSIS

Diagnosis infeksi perinatal tidak mudah. Biasanya diagnosis dapat


ditegakkan dengan observasi yang teliti, anamnesis kehamilan dan
persalinan yang teliti, dan dengan pemeriksaan fisik serta laboratorium.

Diagnosis dini dapat ditegakkan bila kita cukup waspada terhadap


kelainan tingkah laku neonatus. Neonatus terutama BBLR yang dapat
hidup selama 72 jam pertama dan bayi tersebut tidak menderita penyakit
maupun kelainan congenital tertentu, namun tiba-tiba tingkah lakunya

38
berubah, hendaknya selalu diingat bahwa kelainan tersebut disebabkan
infeksi.
Menegakkan kemungkinan infeksi bayi baru lahir sangat penting,
terutama pada bayi BBLR, karena infeksi dapat menyebar dengan cepat
dan menimbulkan angka kematian yang tinggi. Di samping itu, gejala
klinis infeksi yang perlu mendapat perhatian yaitu:
 Bayi malas minum
 Bayi tertidur
 Tampak gelisah
 Pernafasan cepat
 Berat badan turun drastis
 Terjadi muntah dan diare
 Panas badan dengan pola bervariasi
 Aktivitas bayi menurun
 Pada pemeriksaan dapat ditemui: bayi berwarna kuning,
pembesaran hepar, purpura, dan kejang-kejang
 Terjadi edema
 Sklerema

Ada 2 skoring yang digunakan untuk menemukan diagnosis neonatal


infeksi yaitu “Bell Squash Score” dan “Gupte Score”:
 Bell Squash Score:
1. Partus tindakan
2. Ketuban tidak normal
3. Kelainan bawaan
4. Asfiksia
5. Preterm
6. BBLR
7. Infeksi tali pusat
8. Riwayat penyakit ibu
9. Riwayat penyakit kehamilan
Hasil: < 4  Observasi NI; > 4  NI

39
 Gupte Score:
Prematuritas 3
Cairan amnion berbau busuk 2
Ibu demam 2
Asfiksia 2
Partus lama 1
Vagina tidak bersih 2
KPD 1
Hasil: 3-5  screening NI; > 5  NI

KLASIFIKASI
Infeksi pada neonatus dapat dibagi menurut berat ringannya dalam dua
golongan besar, yaitu infeksi berat dan infeksi ringan.
 Infeksi berat (major infection): sepsis neonatal, meningitis,
pneumonia, diare epidemik, pielonefritis, osteitis akut, tetanus
neonatorum.
 Infeksi ringan (minor infection): infeksi pada kulit, oftalmia
neonatorum, infeksi umbilicus, moniliasis.

1. Sepsis Neonatorum
Sepsis neonatorum sering didahului oleh keadaan hamil dan persalinan
sebelumnya seperti dan merupakan infeksi berat pada neonatuss dengan
gejala-gejala sistemik.
Faktor resiko:
o Persalinan lama
o Persalinan dengan tindakan
o Infeksi / febris pada ibu
o Air ketuban bau, keruh
o KPD > 12 jam
o Prematuritas & BBLR

40
o Fetal distress
Tanda & gejala:
o Refleks hisap lemah
o Bayi tampak sakit, tidak aktif, tampak lemah
o Hipotermia atau hipertermia
o Merintih
o Dapat disertai kejang, pucat, atau ikterus
Prinsip pengobatan:
o Penggunaan antibiotika
o Pemeriksaan laboratorium urin
o Biakan darah dan uji resistensi

2. Meningitis pada Neonatus


Tanda dan gejala:
o Sering didahului atau bersamaan dengan sepsis
o Kejang
o UUB menonjol
o Kaku kuduk
Pengobatan:
o Gunakan antibiotic yang mampu menembus sawar darah otak
diberikan minimal 3 minggu
o Pungsi lumbal

3. Sindrom Aspirasi Mekonium


SAM terjadi di intrauterin akibat inhalasi mekonium dan sering sebabkan
kematian terutama pada bayi BBLR karena refleks menelan dan batuk
yang belum sempurna
Gejala:
o Pada waktu lahir ditemukan meconium staining
o Letargia
o Malas minum
o Apneu neonatal

41
o Dicurigai bila ketuban keruh atau bau
o Rhonki (+)
Pengobatan:
o Laringoskop direct segera setelah lahir bila terdapat meconium
staining dan lakukan suction bila terdapat mekonium pada jalan
nafas
o Bila setelah suction rhonki tetap ada, pasang ET
o Bila setelah suction rhonki hilang, lakukan resusitasi
o Terapi antibiotika
o Cek darah rutin, BGA, GDS, foto baby gram

4. Tetanus Neonatorum
Etiologi:
o Perwatan tali pusat yang tidak steril
o Pembantu persalinan yang tidak steril
Gejala:
o Bayi yang semula dapat menyusu menjadi kesulitan karena kejang
otot rahang dan faring
o Mulut mencucu seperti ikan (trismus)
o Kekakuan otot menyeluruh (perut keras seperti papan) dan
epistotonus
o Tangan mengepal (boxer hand)
o Kejang
o Kadang disertai sesak dan wajah bayi membiru
Tindakan:
o Berikan antikonvulsan dan bawa ke RS
o Pasang O2 saat serangan atau bila ada tanda-tanda hipoksia
o Pasang IV line dan OGT
o Pemberian ATS 3000-6000 unit IM
o Penisilin prokain G 200000 unit / KgBB / 24 jam IV selama 10
hari
o Rawat tali pusat

42
o Observasi dilakukan dengan mengurangi sekecil mungkin
terjadinya rangsangan

5. Oftalmia neonatorum
Merupakan infeksi mata yang disebabkan oleh kuman Neisseria
gonorrhoeae saat bayi melewati jalan lahir
Dibagi menjadi 3 stadium:
o Stadium infiltratif
Berlangsung 1-3 hari. Palpebra bengkak, hiperemi, blefarospasme,
bisa terdapat pseudomembran.

o Stadium supuratif
Berlangsung 2-3 minggu. Gejala tidak begitu hebat, terdapat sekret
bercampur darah, yang khas sekret akan muncrat dengan
mendadak saat palpebra dibuka.
o Stadium konvalesen
Berlangsung 2-3 minggu. Sekret jauh berkurang, gejala lain tidak
begitu hebat lagi.
Penatalaksanaan:
o Bayi harus diisolasi
o Bersihkan mata dengan larutan garam fisiologis setiap 15 menit
disusul dengan pemberian salep mata penisilin, salep mata
diberikan setiap jam selama 3 hari
o Penisilin prokain 50000 unit/KgBB IM. 3

PENCEGAHAN
Prinsip pencegahan infeksi antara lain:
 Berikan perawatan rutin kepada bayi baru lahir
 Cuci tangan atau gunakan pembersih tangan beralkohol
 Gunakan teknik aseptic
 Berhati-hati dengan instrument tajam dan bersihkan atau desinfeksi
instrument dan peralatan

43
 Bersihkan unit perawatan khusus bayi baru lahir secara rutin

Pisahkan bayi infeksius untuk mencegah infeksi nosokomial.

44
DAFTAR PUSTAKA

1. Markum, H. 1991. Ilmu Kesehatan Anak. Buku 3. FKUI, Jakarta.


2. Stell BJ. The-High Risk Infant. Nelson Textbook of Pediatrics 19th edition.
Dalam Kliegman RM, editor. Philadelphia, USA: Saunders 2011.
3. IDAI. Buku Ajar Neonatologi Edisi Pertama. Jakarta: Badan Penerbit
IDAI; 2010
4. S a i f u d d i n , A B , A d r i a n z , G . M a s a l a h B a y i B a r u L a h i r .
D a l a m : B u k u A c u a n Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal; edisi ke-1. Jakarta :yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, 2000;376-8.
5. Rennie MJ, Roberton NRC. A manual of neonatal intensive care; edisi ke-
4. London:Arnold, 2002; 62-88.
6. Aurora S, Snyder EY. Perinatal asphyxia. Dalam : Cloherty JP, Stark AR,
eds. Manualof neonatal care; edisi ke-5. Boston : Lippincott Williams &
Wilkins, 2004; 536-54.

7. Ann L, Ted R. Neonatal Sepsis.2011.AvaIlable


at http://emedicine.medscape.com/article/964312 accessed at Oktober
10th, 2011
8. Aminullah A. Masalah Terkini Sepsis Neonatorum. Dalam : Update in
Neonatal Infection. Pendidikan Berkelanjutan IKA XL VIII.Jakarta
2005:1-13

45