Anda di halaman 1dari 29

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur senantiasa tercurah kehadirat Allah SWT,


Tuhan semesta Alam, Karena atas segala limpahan rahmatnya dan karunia-
Nya jualah kami kelompok 142 dapat menyelesaikan tugas laporan KKN ini.
Shalawat dan beriring salam selalu tercurahkan kepada Qudwatuna, Suri
tauladan yang terbaik dimuka bumi ini, Rasullullah SAW. Sehubungan dengan
pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) angkatan 68 Berbasis Riset Dan
Pengembangan Potensi Lokal Berkarakter UIN Raden Fatah Palembang tahun
2018 yang dilaksanakan pada tanggal 20 Februari 2018 sampai dengan tanggal
05 April 2018 di Desa Pelempang, Kecamatan Kelekar Kabupaten Muara
Enim, maka laporan individu hasil penelitian selama pelaksanaan KKN.
Dalam penyusunan laporan akhir ini, kami tidak terlepas dari segala
bentuk hambatan kendala serta kekurangan disana-sini. Namun berkat
pertolongan-Nya serta bantuan dari berbagai pihak, segala kendala dan
hambatan itu teratasi, Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Allah SWT. Yang telah memberikan cinta, kekuatan, kesabaran, dan
rahmat sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini.
2. Bapak Prof. Drs. H.M. Sirozi, MA. Ph.D. selaku Rektor UIN Raden Fatah
Palembang.
3. Ibu Dr. Syefriyeni, M.Ag selaku ketua LP2M UIN Raden Fatah
Palembang.
4. Bapak Syaiful Aziz, M.H.I sebagai Dosen Pembimbing Lapangan KKN
kelompok 142 di Desa Pelempang, Kecamatan Kelekar Kabupaten Muara
Enim.
5. Bapak Ferri Kurniawan selaku Kepala Desa Pelembang yang telah
menerima mahasiswa KKN 68.
6. Bapak Erwanto selaku Tuan Rumah dan orang tua angkat kami selama
Kami melaksanakan KKN.

iii
7. Tokoh agama dan tokoh masyarakat yang telah membantu dalam
pelaksanaan program kerja kami.
8. Bapak dan Ibu Guru SD Negeri 03 Kelekar yang telah memberikan kami
kesempatan untuk berbagi ilmu.
9. Semua lapisan masyarakat baik yang muda maupun yang tua yang telah
membantu kami dalam menyelenggarakan program kerja kami.
10. Kepada kedua orang tua kami yang selalu menyanyangi kami dan
memberikan dorongan secara materil maupun immateril serta doanya
kepada kami, sehingga kami dapat lancar melaksanakan KKN ini
khususnya dan perkuliahan pada umumnya
11. Kepada teman-teman seperjuangan kelompok 142 yang turut serta
membantu dalam melaksanakan program KKN ini
Di dalam Penyusunan laporan ini kekurangan pasti ada. Oleh karena
itu, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi
kesempurnaan laporan ini. Akhirnya, penulis mohon maaf atas segala
kesalahan dan kekurangan. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua
pihak dan semoga usaha yang kita lakukan bernilai ibadah dimata Allah SWT.
Aamiin.

Palembang, 21 April 2018


Penulis

Rizki Suhertini
NIM. 14 222 153

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i


LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................... ii
KATA PENGANTAR ................................................................................... iii
DAFTAR ISI ...................................................................................................v

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................................1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................3
C. Tujuan Penelitian ..........................................................................................3
D. Manfaat Penelitian .......................................................................................3
BAB II LANDASAN TEORI
A. Metode Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing) ................................. 4
B. Motivasi ....................................................................................................... 7
C. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar ........................................................... 10
BAB III KONDISI OBJEKTIF LOKASI PENELITIAN
A. Kondisi Potensi Desa Pelempang ................................................................. 13
B. Profil Potensi Lokal (Sosial, Ekonomi, Budaya) ......................................... 16

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Pelaksanaan Penelitian ............................................................................... 17
B. Hasil Penelitian ........................................................................................... 17
C. Pembahasan ................................................................................................. 18
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................................. 20
B. Saran ............................................................................................................ 20
Daftar Pustaka ................................................................................................ 21
Lampiran ........................................................................................................ 22

v
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu komponen kegiatan
akademik yang merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi,
disamping pendidikan dan penelitian. Dengan dilaksanakannya dharma
pengabdian kepada masyarakat diharapkan selalu ada interrelasi antara
perguruan tinggi dengan masyarakat.
Setiap perguruan tinggi memiliki kewajiban untuk mengamalkan Tri
Dharma Perguruan Tinggi, salah satu perguruan tinggi yang mengamalkannya
adalah Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Bahkan sebagai
perguruan tinggi yang bercorak agama, dharma ketiga diharapkan menjadi
trademark lembaga yang bercirikan keterpaduan antara peran-peran sosial
keagamaan dengan berbagai aspek kehidupan di masyarakat. Salah satu
kagiatan yang merupakan perwujudan dari Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu
di antaranya adalah pengabdian terhadap masyarakat yang disebut dengan
Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Kuliah Kerja Nyata adalah bagian integral dari proses pendidikan yang
merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik (mahasiswa) melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan agar dapat melaksanakan
peranannya di masa mendatang sesuai dengan yang diharapkan. Dengan
demikian Kuliah Kerja Nyata merupakan proses pendidikan untuk
mengamalkan ilmu pengetahuan teknologi dan seni secara melembaga,
langsung kepada masyarakat yang akan menikmati manfaatnya.
Dalam hal ini mahasiswa berperan sebagai motivator, fasilitator, dan
komunikator yang dapat bekerja sama dengan masyarakat dalam melaksanakan
program kerja terencana selama kegiatan KKN serta sebagai penghubung
antara masyarakat dan aparat pemerintah dalam menjalankan roda
pemerintahan yang sinergis dan sesuai dengan harapan. Sehingga apa yang
menjadi tujuan dan cita-cita pembangunan dapat tercapai dengan maksimal.
Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mewujudkan cita-cita
tersebut adalah ikut serta dalam menciptakan generasi-generasi yang dapat
mewujudkan cita-cita tersebut melalui dunia pendidikan. Menurut Dimyati dan
Mudjiono (2009), pendidikan adalah suatu proses yang memiliki tujuan untuk
mengembangkan kemampuan dalam membentuk sikap dan tingkah laku
manusia yang bernilai positif bagi diri seseorang, dimana proses pendidikan ini
dapat berlangsung kapan saja, dimana saja. Proses belajar mengajar akan
terlaksana menyeluruh apabila seluruh komponen yang berpengaruh dalam
proses tersebut saling mendukung demi mencapai tujuan pendidikan.
Komponen-komponen tersebut meliputi siswa, guru, kurikulum, model,
sarana dan prasarana serta lingkungan belajar. Komponen ini adalah guru
(pendidik) merupakan komponen utama yang sangat berperan dalam mengelola
komponen yang lainnya dalam mempersiapkan dan membina sumber daya
manusia maka guru memegang peranan penting. Hal ini dilakukan demi
pembangunan dan kemajuan suatu bangsa dan Negara. Sejalan dengan itu
perkembangan teknologi serta persaingan yang sangat kuat untuk memajukan
suatu bangsa tidak lepas dari dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Apalagi di era globalisasi saat ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas
manusia Indonesia mulai dari mengembangakan sikap, perilaku, kreatif,
inovatif, kritis, mandiri serta rasa pengetahuan yang tinggi (Slameto, 2010).
Mengkombinasikan model pembelajaran untuk menghindari kebosanan
dan kejenuhan. Oleh sebab itu pendidik harus bisa memilih model yang tepat
untuk materi pelajaran yang akan diajarkan. Sehingga pembelajaran lebih
berpusat pada siswa. Maka kegiatan belajar mengajar diterapkan menggunakan
model pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif (Hamalik,
2004).
Dalam proses belajar mengajar motivasi merupakan salah satu kunci
utama dalam meningktakan prestasi siswa. Namun terkadang motivasi belajar
siswa rendah dikarenakan cara mengajar guru yang bersifat monoton dan
kurang menyenangkan. Maka dari itu tenaga pendidik harus sigap menanggapi
hal tersebut. Khususnya di daerah perdesaan. Motivasi belajar siswa
dipengaruhi oleh banyak hal seperti sarana dan prasarana, kondisi siswa,

2
lingkungan dan yang paling penting adalah cara ataupun metode guru
mengajar. (Hamalik, 2004).
Oleh sebab itu Peneliti akan mencoba menguji metode bermain peran
(Role Playing) di SDN 03 Kelekar dalam meningkatkan motivasi belajar siswa
terhadap mata pelajaran IPA materi Tata Surya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian KKN ini yaitu bagaimana pengaruh metode bermain peran (Role
Playing) terhadap peningkatan motivasi belajar siswa SDN 03 Kelekar pada
mata Pelajaran IPA materi Sistem Tata Surya?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai tugas akhir dari Kuliah
kerja nyata dan untuk mengetahui apakah metode bermain peran (Role
Playing) berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA
materi Sistem Tata Surya di SDN 03 Kelekar.

D. Manfaat Penelitian
Adapun hasil penelitian ini diharapkan adalah sebagai berikut :
1. Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan peranan mahasiswa KKN
di bidang pendidikan.
2. Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa
3. Hasil penelitian diharapkan dapat memberi variasi model pembelajaran baru
sehingga dapat digunakan oleh guru yang ada di sekolah tersebut.

3
4

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Metode Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing)


1. Pengertian Metode Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing)
Bermain peran (role playing) merupakan sebuah permainan di mana
para pemain memainkan peran tokoh-tokoh khayalan dan berkolaborasi
untuk merajut sebuah cerita bersama. Para pemain memilih aksi tokoh-
tokoh mereka berdasarkan karakteristik tokoh tersebut, dan keberhasilan
aksi mereka tergantung dari sistem peraturan permainan yang telah
ditetapkan dan ditentukan, asalkan tetap mengikuti peraturan yang
ditetapkan, para pemain bisa berimprovisasi membentuk arah dan hasil
akhir permainan (Hardini & Puspiasari, 2012).
Bermain peran atau sosio-drama adalah sandiwara tanpa naskah, tanpa
latihan lebih dulu sehingga dilakukan secara spontan, masalah yang
didramakan adalah mengenai situasi sosial (Sanjaya, 2006).
Hamalik (2004) menjelaskan bahwa pengajaran berdasarkan
pengalaman lainnya adalah bermain peran karena pada umumnya siswa
menyenangi penggunaan strategi ini karena berkenaan dengan isu-isu sosial
dan kesempatan komunikasi interpersonal di dalam kelas. Dalam bermain,
peran guru menerima peran non-interpersonal di dalam kelas, siswa
menerima karakter, perasaan, dan ide-ide orang lain dalam situasi yang
khusus.
Jadi dapat diambil kesimpulan metode Role Playing adalah suatu cara
penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan
penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan
siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati.
Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu
bergantung kepada apa yang diperankan.
2. Manfaat Metode Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing)
Menurut Sanjaya (2006), bermain peran dapat digunakan sebagai
sarana untuk mencapai berbagai hasil, termasuk pengambilalihan
pengetahuan, penerapan pengetahuan untuk mengembangkan pemahaman
dan keterampilan lebih lanjut, dan perubahan sikap.
Menurut Hardini dan Puspiasari (2012), strategi berguna khususnya
bila guru ingin siswa untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman
mereka dengan:
a. Membaca, meneliti, memilih, dan mengorganisir bahan yang relevan;
b. Menganalisis dan mensintesis informasi;
c. Membahas, berdebat atau memperdebatkan aspek yang berbeda dari
masalah atau kontroversi;
d. Menentukan perilaku yang tepat dan relevan dalam situasi sosial;
e. Menarik kesimpulan logis; dan
f. Membuat keputusan atau mencapai kompromi.
3. Kelebihan dan Kelemahan Metode Pembelajaran Bermain Peran (Role
Playing)
Setiap metode pembelajaran tidak ada yang sempurna, karena masing-
masing memiliki kelemahan dan kelebihannya tersendiri. Oleh karena itu
peran pendidik penting dalam menyesuaikan metode mana yang sesuai
untuk di terapkan dalam menyampaikan materi tertentu (Anitah dkk, 2007).
Adapun kelebihan metode bermain peran (Role Playing) menurut
Sanjaya (2006) adalah sebagai berikut:
a. Melibatkan seluruh siswa berpartisipasi, mempunyai kesempatan untuk
memajukan kemampuannya dalam bekerja sama.
b. Siswa juga dapat belajar menggunakan bahasa dengan baik dan benar.
c. Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
d. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan
dalam situasi dan waktu yang berbeda.
e. Guru dapat mengevaluasi pengalaman siswa melalui pengamatan pada
waktu melakukan permainan.
f. Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa.
Disamping merupakan pengaman yang menyenangkan yang saling untuk
dilupakan.

5
g. Sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi
dinamis dan penuh antusias.
h. Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta
menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi.
i. Dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah, dan dapat
memetik butir-butir hikmah yang terkandung di dalamnya dengan
penghayatan siswa sendiri.
j. Dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan profesional siswa, dan
dapat menumbuhkan atau membuka kesempatan bagi lapangan kerja.

Adapun kelemahan metode bermain peran (Role Playing) menurut


Sudiana (1987) adalah sebagai berikut :

a. Metode bermain peranan memerlukan waktu yang relatif panjang atau


banyak.
b. Memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru
maupun murid. Dan ini tidak semua guru memilikinya.
c. Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk
memerlukan suatu adegan tertentu.
d. Apabila pelaksanaan sosiodrama dan bermain pemeran mengalami
kegagalan, bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus
berarti tujuan pengajaran tidak tercapai.
e. Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini.
f. Sebagian besar anak yang tidak ikut drama mereka menjadi kurang aktif.
g. Memerlukan tempat yag cukup luas, jika tempat bermain sempit
menyebabkan gerak para pemain kurang bebas.
h. Kelas lain sering terganggu oleh suara pemain dan penonton yang
kadang-kadang bertepuk tangan.
4. Sintaks Metode Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing)
Menurut Sanjaya (2006) berikut ini langkah–langkah atau prosedur
dalam pelaksanaan model pembelajaran role playing ini adalah :
a. Guru menyusun atau menyiapkan skenario yang akan ditampilkan.

6
b. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari atau
beberapa hari sebelum KBM (kegiatan belajar mengajar) guna
mempersiapkan peran yang terdapat dalam skenario tersebut.
c. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang atau sesuai
dengan kebutuhan.
d. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai dalam
materi tersebut.
e. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario
yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
f. Masing-masing siswa duduk di kelompoknya, masing-masing sambil
memperhatikan mengamati skenario yang sedang diperagakan.
g. Setelah selesai dipentaskan, masing-masing siswa diberikan kertas
sebagai lembar kerja untuk membahas skenario tersebut. Misalnya
menilai peran yang dilakonkan, mencari kelemahan dan kelebihan dari
peran tersebut atau pun alur atau jalan ceritanya.
h. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil dan kesimpulannya.
i. Guru memberikan kesimpulan secara umum atau mengevalusi seluruh
kegiatan.
j. Evaluasi atau refleksi.
k. Penutup.

B. Motivasi
1. Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi berasal dari kata motif yang berarti semua penggerak,
alasan-alasan, dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan
seseorang berbuat sesuatu. Motivasi adalah semua hal verbal, fisik, atau
psikologis yang membuat seseorang melakukan sesuatu sebagai respon.
Motivasi menunjuk pada proses gerakan termasuk situasi yang mendorong
seseorang berbuat sesuatu yang timbul dari dalam individu (Sardinan,
1988).
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang menyangkut aspek
pengetahuan, ketrampilan dan sikap seseorang setelah memperoleh

7
informasi yang disengaja (Dimyati & Mudjiono, 2009). Belajar adalah
merupakan suatu proses perubahan tingkah laku akibat latihan dan
pengalaman, belajar merupakan suatu proses dan bukan merupakan hasil
yang hendak dicapai semata (Hamalik, 2004).
Berdasarkan pengertian motivasi dan belajar di atas maka dapat
disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah semua hal verbal, fisik atau
psikologis yang menunjuk pada proses gerakan dan dorongan dalam diri
manusia untuk melakukan proses perubahan tingkah laku yang menyangkut
aspek pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Semua kegiatan selain
membutuhkan adanya kecakapan-kecakapan pribadi, juga membutuhkan
adanya motivasi yang cukup pada pribadi untuk melaksanakan kegiatan
dengan berhasil. Suatu motivasi murni adalah motivasi yang betul-betul
disadari akan pentingnya suatu perilaku dan dirasakan sebagai suatu
kebutuhan.
2. Teori Motivasi Belajar
Menurut Slameto (2010) teori motivasi terdiri dari:
a. Teori Kebutuhan
Dikemukakan oleh Maslow, teori ini memfokuskan pada yang
dibutuhkan orang untuk hidup berkecukupan. Seseorang mempunyai
motivasi apabila belum mencapai tingkat kepuasan tertentu dengan
kehidupannya. Kebutuhan yang telah terpuaskan bukan menjadi
motivator. Misalnya, peserta didik terus giat belajar karena belum puas
dengan nilai yang diperoleh.
b. Teori Keadilan
Dikemukakan oleh Adams, teori ini didasarkan pada asumsi bahwa
faktor utama dalam motivasi adalah evaluasi individu atau keadilan dari
penghargaan yang diterima. Individu akan termotivasi jika hal yang
mereka dapatkan seimbang dengan usaha yang mereka
c. Teori Harapan
Dikemukakan oleh Vroom, teori ini menyatakan cara memilih dan
bertindak dari berbagai alternatif tingkah laku, berdasarkan harapannya
apakah ada keuntungan yang diperoleh dari tiap tingkah laku. Misalnya

8
peserta didik memilih belajar di keperawatan berdasarkan pertimbangan
keuntungan tertentu yang diperoleh.
d. Teori Penguatan
Skinner mengemukakan suatu teori proses motivasi yang disebut
operant conditioning. Pembelajaran timbul sebagai akibat dari perilaku
yang juga disebut modifikasi perilaku. Perilaku merupakan operant, yang
dapat dikendalikan dan diubah melalui penghargaan dan hukuman.
Perilaku positif yang diinginkan harus dihargai atau diperkuat, karena
penguatan akan memberikan motivasi. Misalnya, peserta didik yang
mendapatkan prestasi yang bagus dari hasil belajar yang optimal diberi
penguatan agar selalu mempertahankan perilakunya.
e. Penetapan Sasaran
Dikemukakan oleh Locke, menurut teori ini setiap orang
menetapkan tujuan dan kemudian bekerja untuk bisa mencapai tujuan
tersebut. Orientasi terhadap tujuan menentukan perilaku seseorang.
Misalnya, peserta didik yang mempunyai tujuan yang jelas dalam belajar
akan mendapatkan hasil yang optimal karena termotivasi untuk mencapai
tujuan belajar tersebut.
3. Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Menurut Sardinan (1988), beberapa unsur yang mempengaruhi
motivasi belajar adalah sebagai berikut:
a. Faktor Internal
1) Cita-Cita dan Aspirasi
Cita-cita merupakan faktor pendorong yang dapat menambah
semangat sekaligus memberikan tujuan yang jelas dalam belajar.
Sedangkan aspirasi merupakan harapan atau keinginan seseorang akan
suatu keberhasilkan atau prestasi tertentu. Aspirasi mengarahkan
aktivitas peserta didik untuk mencapai tujuantujuan tertentu. Cita-cita
dan aspirasi akan memperkuat motivasi belajar intrinsik maupun
ekstrinsik, karena terwujudnya cita-cita akan mewujudkan aktualisasi
diri.
2) Kemampuan Peserta Didik

9
Kemampuan peserta didik akan mempengaruhi motivasi belajar.
Kemampuan yang dimaksud adalah segala potensi yang berkaitan
dengan intelektual atau inteligensi. Kemampuan psikomotor juga akan
memperkuat motivasi
3) Kondisi Peserta Didik
Kondisi yang mempengaruhi motivasi belajar peserta didik
adalah kondisi secara fisiologis dan psikologis. Kondisi secara
fisiologis yang mempengaruhi motivasi belajar yaitu kesehatan dan
panca indra. Keadaan Psikologis peserta didik yang mempengaruhi
motivasi belajar yaitu bakat, intelegensi, sikap, persepsi dan minat.

C. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar


Ilmu pengetahuan alam merupakan terjemahan kata-kata Inggris yaitu
natural science, artinya ilmu pengetahuan alam (IPA). Berhubungan dengan
alam atau bersangkut paut dengan alam, sedangkan science artinya ilmu
pengetahuan. Jadi ilmu pengetahuan alam (IPA) atau science dapat disebut
sebagai ilmu tentang alam. Ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang
terjadi di alam ini (Sardinan, 1998).
Menurut Rom Harre (Hendro Darmodjo dan Jenny R. E. Kaligis, 1993:
4), Science is a collection of well attested theories which explain the patterns
and regularities among carefully studied phenomena. Bila diterjemahkan
secara bebas artinya sebagai berikut: IPA adalah kumpulan teori yang telah
diuji kebenarannya yang menjelaskan tentang pola-pola keteraturan dari gejala
alam yang diamati secara seksama. Pendapat Harre ini memuat dua hal yang
penting yaitu Pertama, bahwa IPA suatu kumpulan pengetahuan yang berupa
teori-teori. Kedua, bahwa teori-teori itu berfungsi untuk menjelaskan gejala
alam (Sardinan, 1998).
Lebih lanjut Jacobson & Bergman (1980: 4), mendefinisikan IPA sebagai
berikut: “ Science is the investigation and interpretation of events in the
natural, physical environment and within our bodies”. IPA merupakan
penyelidikan dan interpretasi dari kejadian alam, lingkungan fisik, dan tubuh
kita (Aryana, 2003).

10
Seperti halnya setiap ilmu pengetahuan, Ilmu Pengetahuan Alam
mempunyai objek dan permasalahan jelas yaitu berobjek benda-benda alam
dan mengungkapkan misteri (gejala-gejala) alam yang disusun secara
sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang
dilakukan oleh manusia. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Powler. IPA
merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan
yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa
kumpulan dari hasil observasi dan eksperimen (Aryana, 2003).
Menurut Sagala (2010), pembelajaran ialah membelajarkan siswa
menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar, merupakan penentu utama
keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan komunikasi dua arah.
Mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar
dilakukan oleh peserta didik atau murid.
Sagala (2010), menyatakan bahwa mengajar dan belajar merupakan suatu
proses yang tidak dapat dipisahkan dalam pembelajaran. Pembelajaran akan
berhasil apabila terjadi proses mengajar dan proses belajar yang harmoni.
Proses belajar mengajar tidak dapat berlangsung hanya dalam satu arah,
melainkan dari berbagai arah (multiarah) sehingga memungkinkan siswa untuk
belajar dari berbagai sumber belajar yang ada.
Ilmu Pengetahuan Alam sebagai disiplin ilmu dan penerapannya dalam
masyarakat membuat pendidikan IPA menjadi penting. Struktur kognitif anak
tidak dapat dibandingkan dengan struktur kognitif ilmuwan. Anak perlu dilatih
dan diberi kesempatan untuk mendapatkan keterampilan-keterampilan dan
dapat berpikir serta bertindak secara ilmiah. Adapun IPA untuk anak Sekolah
Menurut didefinisikan yang disampaikan oleh Paolo dan Marten yaitu sebagai
berikut: mengamati apa yang terjadi, mencoba apa yang diamati,
mempergunakan pengetahuan baru untuk meramalkan apa yang akan terjadi,
menguji bahwa ramalan-ramalan itu benar (Hadi dkk, 2008).
Menurut Sagala (2010), pembelajaran IPA harus melibatkan keaktifan
anak secara penuh (active learning) dengan cara guru dapat merealisasikan
pembelajaran yang mampu member kesempatan pada anak didik untuk
melakukan keterampilan proses meliputi: mencari, menemukan,

11
menyimpulkan, mengkomunikasikan sendiri berbagai pengetahuan, nilai-nilai,
dan pengalaman yang dibutuhkan. Menurut De Vito, et al., pembelajaran IPA
yang baik harus mengaitkan IPA dengan kehidupan sehari-hari siswa. Siswa
diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, membangkitkan ide-ide
siswa, membangun rasa ingin tahu tentang segala sesuatu yang ada di
lingkungannya, membangun keterampilan (skill) yang diperlukan, dan
menimbulkan kesadaran siswa bahwa belajar IPA menjadi sangat diperlukan
untuk dipelajari.
Menurut Hendro Darmojo dan Jenny R. E. Kaligis (1993:7),
pembelajaran IPA didasarkan pada hakikat IPA sendiri yaitu dari segi proses,
produk, dan pengembangan sikap. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar sebisa
mungkin didasarkan pada pendekatan empirik dengan asumsi bahwa alam raya
ini dapat dipelajari, dipahami, dan dijelaskan yang tidak semata-mata
bergantung pada metode kausalitas tetapi melalui proses tertentu, misalnya
observasi, eksperimen, dan analisis rasional. Dalam hal ini juga digunakan
sikap tertentu, misalnya berusaha berlaku seobjektif mungkin dan jujur dalam
mengumpulkan dan mengevaluasi data. Proses dan sikap ilmiah ini akan
melahirkan penemuan-penemuan baru yang menjadi produk IPA. Jadi dalam
pembelajaran IPA siswa tidak hanya diberi pengetahuan saja atau berbagai
fakta yang dihafal, tetapi siswa dituntut untuk aktif menggunakan pikiran
dalam mempelajari gejala-gejala alam (Hadi dkk, 2008).

12
13

BAB III
KONDISI OBJEKTIF LOKASI PENELITIAN

A. Kondisi Potensi Desa Pelempang


1. Lokasi dan Batas Wilayah Desa Pelempang
Desa Pelempang berjarak sekitar 99 km dari ibukota Provinsi
Sumatera Selatan dan sekitar 4 km dari Kecamatan Kelekar serta berjarak
lebih kurang 120 km dari Kabupaten Muara Enim. Luas Wilayah desa ini
cukup luas yang terbagi menjadi empat dusun. Jarak antar ketiga dusun ini
berdekatan kecuali dusun empat yang jaraknya 2,5 km dari pusat desa. Batas
wilayah Desa Pelempang adalah sebagai berikut:
a. Sebelah utara berbatasan denga Desa Tambangan Kelekar Kecamatan
Gelumbang
b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Teluk Jaya Kecamatan Kelekar
c. Sebelah Timur berbatasan dengan desa Pinang Banjar Kecamatan
Gelumbang
d. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Embacang Kecamatan Kelekar

Gambar 1. Desa Pelempang


2. Perhubungan dan Komunikasi di Desa Pelempang
Berdasarkan letak geografisnya, sarana transportasi yang biasa
digunakan untuk menuju desa ini meliputi kendaraan roda dua dan roda
empat. Desa ini mudah dijangkau karena didukung oleh keadaan jalan yang
baik dan letaknya yang tidak terlalu jauh dari daerah kecamatan.
Sarana komunikasi di desa ini sudah cukup maju. Hal ini terbukti
dengan telah dimanfaatkannya telepon seluler yang didukung oleh
lancarnya jaringan komunikasi yang digunakan oleh sebagian besar
masyarakat
3. Struktur Pemerintahan Desa
Tabel 1. Struktur Pemerintahan Desa Pelempang

No Data Perangkat Desa Nama Pejabat


1 Camat Fikri Hidayat, S. Ip, M. Si
2 Kepala Desa Perri Kurniawan
3 Sekretaris Desa Peldi Yansa
4 Ketua BPD Tobi Aman
5 Kepala Dusun 1. Mustan
2. Sazili
3. Heri Gusman
4. Sunar
6 Ketua RT 1. Mukhlisin
2. Amirillah
3. Efrizal
4. Lutfi
5. Teguh Karya
6. Kutni
7. Tion
8. Hadi
7 Kepala P3N/KUA Sauki Hamid, S. Ag
8 Pemuka Agama 1. Abd. Wani, Ama. Pd
2. Sami Aji
3. Dusroni
9 Pemuka Masyarakat 1. M. Soyib
2. Usman M
3. Mustajib
10 Karang Taruna 1. Bayu Prima Nada
2. Ena Novitasari, S. Pd
3. Makiyah, S. Pd. I
4. M. Julian Fadli
11 Remaja Masjid 1. Amin Sabari
2. Muhammad Wahyu

14
3. Novriyadi
4. Diki Saputra
5. Rivaldi Husni
4. Kependudukan
Desa ini memiliki penduduk sebanyak 1359 jiwa/ 453 kepala keluarga
dengan perbandingan jumlah penduduk laki-laki 666 jiwa dan perempuan
693 jiwa. Penduduk asli merupakan suku melayu (penduduk pribumi)
dengan persentase 90% dan penduduk pendatang yang berasal dari pulau
jawa berkisar 10%.
5. Pola Kehidupan Masyarakat
a. Mata Pencarian dan Pendapatan
Sebagian besar masyarakat Desa Pelempang bekerja sebagai
petani. Hasil pertanian yang dihasilkan yaitu karet, sawit, padi, dan sayur
mayur. Selain itu, masyarakat Desa Pelempang ada yang bekerja sebagai
buruh harian lepas, sebagian kecil Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan
pegawai swasta.
b. Agama dan Tradisi
Berdasarkan data yang tercatat di Desa Pelempang, seluruh
masyarakat Desa Pelempang mayoritas menganut Agama Islam.
ADA/
NO TRADISI
TIDAK
1 Musyawarah Adat Ada
2 Sanksi Adat Ada
3 Upacara Adat Perkawinan Ada
4 Upacara Adat Kematian Ada
5 Upacara Adat Kelahiran Ada
6 Upacara Adat dalam Bercocok Tanam Tidak
7 Upacara Adat Bidang Perikanan/Laut Tidak
8 Upacara Adat bidang Kehutanan Ada
Upacara Adat dalam Pengelolahan Sumber Daya
9 Tidak
Alam
10 Upacara Adat dalam Pembangunan Rumah Ada

15
Upacara Adat dalam Penyelesaian
11 Tidak
Masalah/Konflik
c. Pendidikan
Pendidikan terakhir penduduk desa pelempang di dominasi oleh
tamatan SD/SMP, sebagian lainnya merupakan tamatan SMA/Sederajat,
dan sebagian kecil merupakan lulusan sarjana.
6. Sarana dan Prasarana
Kondisi sarana dan prasarana umum Desa Pelempang secara garis
besar adalah sebagai berikut:
NO SARANA DAN PRASARANA JUMLAH
1 Kantor Kepala Desa 1
2 SD 1
3 TK/PAUD 1
4 Balai Desa 1
5 Masjid 2
6 Musholla 2
7 PUSKESDES 1
8 Lapangan Bola Volly 2
9 Lapangan Bola Kaki 1
10 Pasar Tradisional 1

B. Profil Potensi Lokal (Sosial, Ekonomi, Budaya) Lokasi KKN Angkatan 68


Berbasis Riset dan Pengembangan Potensi Lokal Berkarakter Tahun 2018
1. Sosial
Dalam kehidupan masyarakat kita tidak lepas dari aturan-aturan adat
istiadat yang berlaku di lingkungan kita tinggal dan bergaul sehari-hari.
Kesatuan yang paling dekat adalah kesatuan kekerabatan, yaitu keluarga inti
yang dekat, dan kaum kerabat yang lain. Dalam masyarakat desa Langkan
organisasi telah tumbuh dari mereka dalam kehidupannya. Terbukti dengan
adanya Organisasi sosial yaitu Karang Taruna, Ikatan Remaja Masjid, dan
ibu PKK yang terus berorganisir dengan baik.

16
Selain organisasi sosial yang ada di desa Pelempang, ada juga
organinasi keagamaan yaitu Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Tetapi di masyarakat Langkan itu sendiri ajaran atau aturan yang diterapkan
ialah organisasi NU terbukti dengan membaca doa Qunut ketika sholat
subuh, membaca Tahlil dan berdoa dan Dzikir ketika selesai sholat.
Meskipun ada juga beberapa orang yang menggunakan ajaran
Muhammadiyah tetapi semua perbedaan itu tidak menjadikan masyarakat
Langkan tidak akur atau perselisihan faham adalah hal biasa karna agama
islam tidak menggajarkan untuk memaksa seseorang bahwa ajaran mereka
lebih benar atau sebaliknya sehingga setiap orang mempunyai hak masing-
masing untuk menjadikan pedoman hidup.
2. Ekonomi
Sebagaimana telah dipaparkan bahwa keadaan Desa Pelempang
merupakan wilayah yang lebih cocok untuk lahan perkebunan. Sebagian
besar masyarakat Desa Pelempang bekerja sebagai petani. Hasil pertanian
yang dihasilkan yaitu karet, sawit, padi, dan sayur mayur serta nanas. Selain
itu, masyarakat Desa Pelempang ada yang bekerja sebagai buruh harian
lepas, sebagian kecil Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan pegawai swasta, serta
nelayan.
3. Budaya
a. Bahasa
Bahasa merupakan salah satu komuniaksi, tanpa bahasa orang akan
mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan susah untuk memahami
apa maksud dan tujuan darinapa yang dibicarakan. Beragam suku bangsa
yang ada di Indonesia sudah beragam pula bahasa yang digunakan sebagi
alat untuk berkomunikasi, disamping bahasa Indonesia sebagai bahasa
pemersatu, kita juga mengenal adanya bahasa daerah atau yang sering
disebut bahasa melayu yang menggunakan logat seperti mendayu-dayu
yang menggunakan akhiran huruf a digantikan dengan huruf contohnya
seperti :

17
Tabel 2. Bahasa Desa Pelempang
Bahasa Daerah (Pelempang) Bahasa Indonesia
Siapo Siapa
Gede Kakek/Nenek
Tak Naroh Tidak Ada
Koni Ini
Tak Ado Tidak
Siko Kesini
Iko Ini
Kekelam Besok Pagi
Kelam Pagi
Kelak Nanti

b. Religi (Agama)
Berdasarkan data yang tercatat di Desa Pelempang, seluruh
masyarakat Desa Pelempang mayoritas menganut Agama Islam.
Tabel 3. Agama dan Tradisi
Sumber Data : Dokumentasi Desa Pelempang
ADA/
NO TRADISI
TIDAK
1 Musyawarah Adat Ada
2 Sanksi Adat Ada
3 Upacara Adat Perkawinan Ada
4 Upacara Adat Kematian Ada
5 Upacara Adat Kelahiran Ada
6 Upacara Adat dalam Bercocok Tanam Tidak
7 Upacara Adat Bidang Perikanan/Laut Tidak
8 Upacara Adat bidang Kehutanan Ada
Upacara Adat dalam Pengelolahan Sumber Daya
9 Tidak
Alam
10 Upacara Adat dalam Pembangunan Rumah Ada
11 Upacara Adat dalam Penyelesaian Masalah/Konflik Tidak
Tabel 4. Data Sarana Peribadahan yang Menunjang Kegiatan Keagamaan Desa
Pelempang
Sumber Data : Dokumentasi Desa Pelempang

No Jenis Peribadahan Jumlah Keterangan


1 Masjid 2 Buah Permanen
2 Langgar atau Mushola 2Buah Permanen
3 Gereja - -
JUMLAH 4 Buah Permanen

18
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa penduduk desa Langkan 100%
beragama Islam dan tidak ada yang beragama lain selain agama Islam. 4
buah bangunan dengan rincian 2 buah Masjid dan 2 buah mushola.
Dimana diantara 2 masjid ialah 1 masjid yang mempunyai kapasitas atau
dapat menampung lebih dari 300 jamaah karena masjid tersebut termasuk
sedang dan bukan kategori besar.
c. Kesenian
Seni merupakan ungkapan perasaan pencipta yang disampaikan
kepada orang lain agar dapat merasakan apa yang seang dirasakan oleh
pelaku. Dimana seluruhsejarah kebudayaan manusia pun ditandai dengan
gerak dinamika jiwa seni sebagaimana terungkap dalam berbagai karya
seni. Kesenian dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu : seni rupa
yang dapat oleh manusia dengan mata dan seni suara yang dpat dinimati
oleh manusia dengan telinga. Kesenian yang ada di Desa Pelempang
tidak berbeda jauh dengan desa-desa lain seperti tarian. Tetapi ada sebah
seni khas yang sering ditampilkan ketika ada acara sedekah desa, yaitu
sering disebut dengan Debus/Dabus. Kesenian tersebut merupakan adat
istiadat desa pelempang.
4. Pengetahuan
Pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat desa Langkan
menyebabkan masyarakat tersebut dapat memanfaatkan tanahnya yang
subur sebagai lahan pertanian, sehingga mampu memenuhi kebutuhan
hidupnya. Pengetahuan masyarakat desa Pelempang pada awalnya masih
bersifat tradisional, namun pada saat ini masyarakat desa Pelempang sudah
memiliki pengetahuan yang modern mengenai cara mengelola lahan
pertanian dan perkebunan seperti karet, nanas dan tanaman palawija lainnya.
sekarang sudah menggunakan mesin untuk mengolah hasil tanaman mereka
sehingga memudahkan masyarakat dan mendapatkan hasil yang
memuaskan. Dalam bidang pendidikan masyarakat Pelempang sudah sangat
berkembang dan sangat maju, dimana pada umumnya dahulu masyarakat
hanya mampu menyelesaikan dibangku sekolah dasar (SD) atau SMP tapi

19
hanya beberapa orang yang dapat menyelesaikannya karena disebabkan
beberapa faktor :
a. Ekonomi yang tidak mendukung
b. Kurangnya pengetauan masyarakat mengenai pendidikan
c. Tidak ada kemauan dari anak itu untuk sekolah
Sedangkan pendidikan nonformal orangtua dan keluarganya lah yang
berperan aktif untuk memberikan pengetahuan yang bersifat praktis
terutama pengetahuan cara menyadap karet, bertani, menangkpa ikan, dan
berkebun hal ini mereka dapatkan dengan cara turun-temurun. Sedangkan,
untuk mendapatkan ilmu keagamaan masyarakat Pelempang mengaji di
Mushola atau Masjid dengan belajar bersama Ustadzah. Dengan terus
berkembangnya pengetahuan masyarakat Pelempang mempunyai masa
depan pemikiran yang cerah dengan didukung kemampuan finansial yang
mapan dan cukup untuk menyekolahkan anak-anak mereka hingga tingkat
perguruan tinggi. Adapun sarana-sarana pendidikan yang ada di desa
Langkan yaitu:
Tabel 5. Sarana dan Prasarana Pendidikan Desa Pelempang
Sumber data: Dokumentasi desa Pelempang
No Jenis Pendidikan Jumlah Keterangan
1 TK 1 buah Permanen
2 SD dan MI 1 buah Permanen
3 TK/TPA 4 buah Permanen

20
C. Data dan Peta Aset/ Potensi Lokal Berkarakter (Sosial, Ekonomi, Budaya)
Gambar 2. Peta Lokasi KKN

21
22

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Pelempang Kecamatan Kelekar
Kabupaten Muara Enim dengan lokasi ditempatkannya Mahasiswa Kuliah
Kerja Nyata (KKN) UIN Raden Fatah Palembang khususnya Kelompok 142
yang berjumlah 11 orang. Penelitian ini dilakukan selama 45 hari sesuai
dengan jadwal yang telah ditetapkan yaitu dimulai dari 20 Februari-05 April
2018.
Namun secara khusus penelitian ini dilakukan pada kegiatan
pembelajaran IPA Biologi saat jadwal mengajar di SD Negeri 03 Kelekar
dengan waktu 1 kali pertemuan yaitu pada hari Senin 26 Maret 2018. Populasi
dalam penelitian ini adalah keseluruhan subjek penelitian. Sedangkan sampel
penelitian yang digunakan adalah seluruh peserta didik kelas VI yang
berjumlah 25 orang di SDN 03 Kelekar.

B. Hasil Penelitian

Gambar 3. Kegiatan Pendahuluan (apersepsi) Gambar 4. Kegiatan Inti (mengamati)

Gambar 5. Kegiatan Inti (menanya) Gambar 6. Kegiatan Inti (mengumpulkan data


atau informasi)
Gambar 7. Kegiatan Inti (menalar atau Gambar 8. Kegiatan Inti
mengasosiasi) (mengkomunikasikan)

Gambar 9. Kegiatan Penutup

C. Pembahasan
Era globalisasi memberi kemajuan disetiap bidang yang saat ini ada,
misalnya saja dunia pendidikan. Efek yang ditimbulkan adalah semakin banyak
media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Tidak hanya itu,
model dan strategi yang digunakan pun saat ini semakin berkembang karena
mudahnya dalam mencari informasi akibat dari perkembangan teknologi yang
dihasilkan oleh era globalisasi. Kemajuan ini berdampak baik bagi dunia
pendidikan untuk menghasilkan generasi-generasi penerus bangsa yang
diharapkan mampu memberikan angin segar dalam kanca internasional.
Dewasa ini umumnya guru mengajar dengan metode ceramah dan
mencatat, hal ini membuat peserta didik cepat jenuh dan berakhir pada
motivasi belajar yang kurang. Sehingga diperlukanlah model dan strategi baru
dalam kegiatan belajar mengajar untuk membuat peserta didik termotivasi
dalam kegiatan belajar. Sehingga tetap fokus selama proses pembelajaran
berlangsung.
Untuk mengatahui motivasi peserta didik dalam kegiatan belajar
mengajar maka peneliti akan melakukan uji coba model pembelajaran bermain
peran atau yang lebih dikenal role playing di kelas VI SD Negeri 03 Kelekar
dengan materi IPA yaitu Sistem Tata Surya. Materi sistem tata surya jika hanya

23
dijelaskan dengan metode ceramah akan memberikan kesulitan bagi peserta
didik dalam mengingat dan memahami apa yang telah dijelaskan oleh guru.
Beberapa hari sebelum mempelajari materi Tata Surya, pendidik telah
menyusun dan mempersiapkan skenario yang akan ditampilkan. Kemudian
peserta didik diminta untuk mempelajari materi yang selanjutnya akan
dipelajari yaitu Sistem Tata Surya.
Tahapan kegiatan pertama dalam kegiatan pembelajaran yaitu guru
menjelaskan materi tentang tata surya selama 1 jam pelajaran penuh namun
sebelumnya guru memberikan apersepsi untuk menarik perhatian peserta didik
agar terfokus ke materi yang akan dijelaskan. Guru juga memberikan
penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai dalam materi tersebut.
Setelah itu peserta didik diizinkan untuk bertanya terkait materi yang belum
dipahami.Selesai guru menjelaskan, peserta didik diberikan waktu untuk
kembali memahami materi. Lalu setelah itu guru membentuk peserta didik
menjadi 5 kelompok yang masing-masing terdiri dari 5 orang. Kemudian guru
memanggil perwakilan dari setiap kelompok secara bergantian untuk maju dan
memerankan skenario yang telah disusun sebelumnya. Skenario yang
diperankan berupa planet-planet yang ada dalam sistem tata surya. Setelah
skenario selesai diperankan, masing-masing peserta didik diberikan kertas
sebagai lembar kerja untuk membahas skenario tersebut. Sehingga pada
akhirnya akan ada peserta didik yang menebak nama planet yang telah yang
diperankan oleh temannya. Bagi siswa yang mampu menjawab pertanyaan akan
mendapat reward dari guru.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, antusias dan semangat
serta motivasi peserta didik sangat meningkat hal ini terlihat dari ikut sertanya
siswa dalam proses pembalajaran. Selain itu juga motivasi siswa terlihat ketika
peserta didik berlomba-lomba menebak lakon yang diperankan oleh temannya.
Maka dari itu dapat diketahui bahwa metode bermain peran (role playing)
berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa dalam mengikuti aktivitas belajar
mengajar. Minat belajar siswa perlu ditingkatkan dengan menggunakan metode-
metode lainnya agar siswa tetap semangat dan bisa meningkatkan prestasi belajar
peserta didik tersebut.

24
20

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Metode bermain peran atau yang dikenal Role Playing adalah suatu cara
penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan
penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa
dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini
pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa
yang diperankan.
Motivasi belajar adalah semua hal verbal, fisik atau psikologis yang
menunjuk pada proses gerakan dan dorongan dalam diri manusia untuk
melakukan proses perubahan tingkah laku yang menyangkut aspek
pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Semua kegiatan selain membutuhkan
adanya kecakapan-kecakapan pribadi, juga membutuhkan adanya motivasi
yang cukup pada pribadi untuk melaksanakan kegiatan dengan berhasil. Dapat
diketahui metode bermain peran (role playing) dapat meningkatkan motivasi
belajar siswa, terkhususnya untuk materi Sistem Tata Surya pada mata
pelajaran IPA di kelas VI SD Negeri 03 Kelekar.

B. Saran
Penggunaan model, metode, dan strategi dalam kegiatan belajar mengajar
sangatlah diperlukan bagi seorang pendidik. Hal ini bertujuan untuk
memberikan inovasi-inovasi terbaru dalam dunia pendidikan. Selain itu juga
hal ini penting untuk meningkatkan prestasi dan motivasi belajar peserta didik
sehingga bisa menghasilkan generasi-generasi yang membanggakan.
21

DAFTAR PUSTAKA

Hardini, Israni dan Dewi Puspiasari. 2012. Strategi Pembelajaran Terpadu.


Yogyakarta: Familia.

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembalajaran. Jakarta: Media Grup.

Sudiana, Nana. 1987. Dasar-dasar Prses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Algensindo.

Aryana, Wayan. 2013. Pengaruh Motivasi Belajar terhadap Prestasi Belajaran


IPA pada Siswa SMP Negeri 1 Denpasar. Ringkasan Hasil Penelitian
yang disampaikan dalam Seminar Hasil Penelitian Dosen Kopwil VIII
tanggal 22-24 September 2003.

Sardinian, A.M. 1988. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar Pedoman bagi


Guru dan Calon Guru. Jakarta: Rajawali Pers.

Sagala, Syaiful. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: CV. Alfabeta.

Hadi, Susilo dkk. 2008. Kajian Ilmu Pengetahuan Alam. Salatiga: Widya Sari.

Slameto. 2010. Belajar dan Fakor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:


Rineka Cipta Pers.

Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.