Anda di halaman 1dari 8

HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK

PERAWAT DALAM TINDAKAN KEPERAWATAN


DENGAN TINGKAT KEPUASAN KLIEN DI RUANG
RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
WATES KULON PROGO-YOGYAKARTA 2008
9 Mei 2009

FitriAnggraini

ABSTRAKSI

Hubungan terapeutik perawat-pasien merupakan pengalaman belajar timbal balik dan


pengalaman emosional korektif bagi pasien. Dalam hubungan ini, perawat menggunakan diri
(self) dan teknik-teknik klinis tertentu dalam menangani pasien untuk meningkatkan
pemahaman dan perubahan perilaku pasien

Komunikasi yang baik dapat meningkatkan kepatuhan klien dalam hal pengobatan dan
perawatan penyakitnya, serta mempunyai peranan yang cukup besar bagi kepuasan klien
yang berobat dan dirawat, sebaliknya hubungan interpersonal dan komunikasi yang tidak baik
akan mengurangi kepuasan klien. Penggunaan komunikasi terapeutik merupakan media
dalam mengembangkan hubungan antara perawat dan klien.

Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang mempunyai efek penyembuhan. Karena


komunikasi terapeutik merupakan salah satu cara untuk memberikan informasi yang akurat
dan membina hubungan saling percaya terhadap pasien, sehingga pasien akan merasa puas
dengan pelayanan yang diterimanya. Apabila perawat dalam berinteraksi dengan klien tidak
memperhatikan teknik dan tahapan baku komunikasi terapeutik dengan benar dan tidak
berusaha untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat menfasilitasi komunikasi
terapeutik, maka hubungan yang baik antara perawat dan pasienpun akan sulit terbina.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat
Dalam Tindakan Keperawatan dengan Tingkat Kepuasan Klien di Ruang Rawat Inap Rumah
Sakit Umum Daerah Wates, Kulon Progo, Yogyakarta.

Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini merupakan desain
penelitian non eksperimen dan menggunakan analisis data penelitian kuantitatif. Hasil
Penelitian menunjukkan ada hubungan komunikasi terapeutik perawat dalam tindakan
keperawatan dengan kepuasan klien di ruang rawat inap RSUD Wates, Kulon Progo,
Yogyakarta dengan nilai koefisien kontingensi 0,394 dan taraf signifikansi p=0,01 (p<0,05).
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN
TEKANAN DARAH PADA PASIEN PRE OPERASI DI
BANGSAL MELATI RSD PANEMBAHAN SENOPATI
BANTUL YOGYAKARTA
8 Mei 2009

OLEH : ZIADATUL AMALIYAH

ABSTRAKSI

Operasi merupakan salah satu pemecahan yang dilakukan oleh dokter untuk mengobati
kondisi yang sulit ataupun yang tidak mungkin disembuhkan hanya dengan obat-obatan
sederhana. Tindakan pembedahan juga merupakan pengalaman yang sulit bagi hampir semua
pasien karena berbagai kemungkinan buruk dapat terjadi yang akan membahayakan pasien.
Maka tidak heran bila sering kali pasien menunjukkan sikap yang berlebihan dengan
kecemasan yang mereka alami terkait dengan segala macam prosedur pembedahan, sikap
yang berlebihan dari pasien berupa kecemasan kemungkinan besar mempengaruhi tekanan
darah.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperiman dengan metode kuantitatif dan
rancangan cross sectional dan metode pengolahan data menggunakan data Korelasi Point
Biserial. Sampel yang diambil adalah 35 pasien pre operasi di Bangsal Melati RSD
Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta, yang dilaksanakan pada bulan Mei 2008.

Hubungan tingkat kecemasan dengan tekanan darah pada pasien pre operasi di Bangsal
Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta adalah ada hubungan agak rendah,
dimana hasil dari korelasi adalah 0,41 dan r tabel 0,325 dengan signifikansi 5%, dengan hasil,
tingkat kecemasan ringan sebanyak 23 responden dengan persentase 65,71%, dan yang
mengalami peningkatan tekanan darah sebanyak 23 responden den
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECEMASAN
DENGAN POLA PEMENUHAN KEBUTUHAN TIDUR
(insomnia)PASIEN PRE OPERASI DI BANGSAL
MELATI RSD PANEMBAHAN SENOPATI
BANTUL YOGYAKARTA
5 Januari 2012

WAHYU TRININGSIH

ABSTRAKSI

Kekurangan istirahat dan tidur yang berlangsung lama dapat berdampak pada kondisi
keesokan harinya. Respon psikologis yang menyertai tindakan pembedahan pada pasien pre
operasi adalah kecemasan dan ketakutan. Kecemasan dan emosi tidak stabil mempengaruhi
kemampuan tidur seseorang.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan
pola pemenuhan kebutuhan tidur pasien pre operasi. Jenis penelitian ini adalah penelitian
non-eksperimen metode deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi
dalam penelitian ini semua pasien dalam perawatan pre operasi di bangsal Melati RSD
Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Jumlah sampel yang didapat sebesar 35 responden
dengan menggunakan teknik purposive sampling. Variabel bebas dalam penelitian adalah
tingkat kecemasan dan variabel terikat pola pemenuhan kebutuhan tidur pasien pre operasi.
Cara pengumpulan data dengan kuesioner yang terdiri atas 18 pertanyaan tertutup untuk
tingkat kecemasan dan 16 pertanyaan untuk pola pemenuhan kebutuhan tidur. Data yang
didapat dianalisa dengan Kendall Thau.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 62,86% responden berada dalam tingkat
kecemasan sedang dan sebanyak 54,28% responden pola kebutuhan tidurnya kurang. Ada
hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan pola pemenuhan kebutuhan tidur
sebesar 0,313 atau 31,3% dengan signifikansi 0,020 (sig.p<0,05).

Kata Kunci : Tingkat kecemasan, pola pemenuhan tidur, pre opera

]]
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA
DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE
OPERASI DI BANGSAL MELATI RSD PANEMBAHAN
SENOPATI BANTUL YOGYAKARTA
3 Mei 2009

DEWI WIJAYANTI

A. Latar Belakang Masalah

Rumah sakit adalah salah satu organisasi kesehatan yang dengan segala fasilitas
kesehatannya diharapkan dapat membantu pasien dalam meningkatkan kesehatan dan
mencapai kesembuhan baik fisik, psikis, maupun sosial. Tujuan kesehatan tidak hanya
memulihkan kesehatan pasien secara fisik tetapi sedapat mungkin diupayakan menjaga
kondisi emosi dan jasmani pasien menjadi nyaman, namun kemajuan yang pesat dalam
teknologi medis belum diiringi dengan kemajuan yang sama pada aspek-aspek kemanusiaan
dari perawatan pasien.

Proses perawatan di rumah sakit seringkali mengabaikan aspek-aspek psikologis sehingga


menimbulkan berbagai permasalahan pisikologis bagi pasien yang salah satunya adalah
kecemasan. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien yang
dirawat di rumah sakit, kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di
rumah sakit harus mengalami proses pembedahan. Pembahasan tentang reaksi-reaksi pasien
terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses
penyembuhan.

Pembedahan adalah tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan, sampai saat
ini sebagian besar orang menganggap bahwa semua pembedahan yang dilakukan adalah
pembedahan besar. Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial aktual terhadap
integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis
(Barbara C.Long, 1989)

Pandangan setiap orang dalam menghadapi pembedahan berbeda, sehingga respon pun
berbeda. Setiap menghadapi pembedahan selalu menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada
pasien, kecemasan sering muncul pada usia sebelum 30 tahun (Stuard and Sundeen, 1998).
Seseorang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri
dengan kecemasan sebelum operasi, seringkali menjadi hambatan pada paska operasi, pasien
menjadi cepat marah, bingung, lebih mudah tersinggung akibat reaksi psikis, dibandingkan
dengan orang yang cemas ringan (Barbara C. Long, 1996).

Pasien pre operasi sangat membutuhkan dukungan keluarga, pasien dapat mengekspresikan
ketakutan dan kecemasannya pada keluarga dengan mengurangi kecemasan dan ketakutan
yang berlebihan dan tidak beralasan, akan mempersiapkan pasien secara emosional. Selain
itu, mempersiapkan keluarga terhadap kejadian yang akan dialami pasien dan diharapkan
keluarga banyak memberi dukungan pada pasien dalam menghadapi operasi (Anderson dan
Masur 1989).

1. Dukungan keluarga sebagai salah satu sumber dukungan bagi anggota keluarga yang sedang
sakit. Dari hasil observasi atau studi pendahuluan selama satu minggu, dengan teknik
wawancara di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta, pada tanggal
15 Februari tahun 2008, didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang mau melakukan
operasi, 9 orang diantaranya merasa cemas, dengan data sebagai berikut:
1. Satu pasien mengatakan cemas dikarenakan tidak didampingi oleh kedua orang tua
dan suami yang merupakan sumber dukungan, kedua orang tuanya berada diluar
kota sedang suami sibuk mencari surat keringanan biaya operasi, tanda-tanda
kecemasan yang dimiliki adalah pasien lebih banyak berdiam diri dan murung.
2. Tiga pasien mengatakan cemas karena saat di rumah sakit tidak didampingi oleh
keluarga namun hanya didampingi oleh suami, dan tanda-tanda kecemasan yang
dimiliki antara lain nafsu makan berkurang,sering bangun saat malam hari, muka
terlihat puat dan murung.
3. Lima pasien mengatakan cemas dikarenakan tidak ada dukungan dari anak-anak dan
sanak saudara, tanda-tanda kecemasan yang dimilliki adalah jarang berkomunikasi,
sering menanyakan keluarga, dan sulit untuk memulai tidur.
4. Enam pasien mengatakan tidak cemas dikaranakan mendapatkan dukungan dari
keluarga, yaitu anak, istri, orang tua yang selalu mendampingi dan sanak keluarga
yang bergantian mengunjungi.

B. Rumusan Masalah

Dari berbagai uraian latar belakang tersebut diatas maka akan timbul masalah sebagai
berikut “Adakah Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Pasien
Pre Operasi Di Bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan
tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul
Yogyakarta.

1. Tujuan Khusus

a Diketahuinya dukungan keluarga yang diberikan pada pasien pre operasi di bangsal
Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.

b Diketahuinya tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan
Senopati Bantul Yogyakarta.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Perawat Di RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta


Mengoptimalkan fungsi perawat dalam penatalaksanan asuhan keperawatan kepada pasien
yang mengalami kecemasan, tanpa mengabaikan aspek-aspek psikologis, sehingga
profesionalisme perawat dalam bekerja dapat ditingkatkan lagi dan operasi berjalan dengan
lancar.

1. Bagi RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta

Dapat dipakai sebagai masukkan untuk meningkatkan pelayanan

1. Bagi Pasien Dan Keluarga Di RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta


1. Memberikan rasa nyaman pada pasien sehingga pasien tidak cemas pada proses
operasi
2. Memberikan masukan bahwa dukungan keluarga sangat dibutuhkan oleh pasien
3. Bagi Peneliti
1. Menambah ilmu pengetahuan dan wawasan
2. Memberikan masukan bagi peneliti bahwasanya dukungan keluarga sangat
diperlukan bagi pasien.

E. Ruang Lingkup Masalah

1. Variabel Yang Diteliti


2. Dukungan keluarga adalah variable bebas
3. Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi adalah variabel terikat
1. Responden

Pasien dewasa yang berumur 21– 40 tahun yang menjalani rawat inap dan akan melakukan
operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.

1. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati

Bantul Yogyakarta.

1. Waktu

Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai dengan Mei tahun 2008.

1. Keaslian Penelitian

Penelitian ini dititik beratkan pada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat
kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul
Yogyakarta. Penelitian yang sama sepengetahuan peneliti belum pernah dilakukan oleh
peneliti yang lain, namun ada beberapa penelitian yang mirip dengan penelitian yang
dilakukan oleh peneliti antara lain :

1. Penelitian yang dilakukan oleh Rondhianto (2004) dengan judul “Hubungan antara dukungan
keluarga dengan kecemasan perpisahan akibat hospitalisasi pada pasien anak usia pra
sekolah di bangsal anak RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta.” Menggunakan metode
penelitian non eksperimental, dengan pendekatan cross sectional.
Tempat penelitian di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah, pada bulan Januari
sampai Maret 2004. Sampel adalah orang tua dari anak pra sekolah yang dirawat di bangsal
Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah.

Alat ukur untuk pengumpulan data adalah daftar pertanyaan dalam bentuk kuesioner, dengan
uji validitas menggunakan product moment dari pearson. Hasil penelitian adalah ada
hubungan dukungan keluarga dengan kecemasan pada anak akibat hospitalisasi pada pasien
anak usia pra sekolah di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti memiliki perbedaan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Rondhianto (2004) diantaranya, peneliti meneliti tentang “Hubungan antara dukungan
keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan
Senopati Bantul Yogyakarta.” Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan
pendekatan cross sectional. Tempat penelitian di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati
Bantul Yogyakarta, pada bulan April sampai Mei tahun 2008, sampel adalah pasien pre
operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Menggunakan
metode quota sampel, alat ukur penelitian menggunakan kuesioner, dengan uji validitas
menggunakan product moment dan reliabilitas menggunakan alpha dan kr 20.

1. Penelitian yang dilakukan oleh Efrita Herliyati (2005) dengan judul “ Hubungan antara
dukungan keluarga dengan tingkat kooperatif anak usia pra sekolah saat pemasangan infus
di INSKA RS Dr. Sardjito Yogyakarta.” Instrumen penelitian menggunakan angket sedangkan
uji validitas dan reabilitas mengunakan product moment dari pearson. Hasil penelitian yang
dilakukan bahwa tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kooperatif
anak usia pra sekolah saat pelaksanaan pemasangan infus.

Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah, peneliti meneliti tentang
“Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di
bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Jenis penelitian non
eksperimental dengan pendekatan cross sectional, sampel yang diteliti adalah pasien pre
operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Metode yang
digunakan adalah quota sampel,

alat ukur penelitian menggunakan kuesioner yang diuji validitas dan reabilitas menggunakan
product moment dan alpha serta kr 20.

1. Penelitian yang dilakukan oleh Liliyanti (2000) dengan judul “ Peran keluarga dalam proses
hospitalisasi di lakukan di bangsal Bedah RS Dr. Sardjito, Yogyakarta”. Jenis penelitian yang
telah dilakukan tersebut bersifat penelitian deskriptif kualitatif dengan penggunaan
wawancara mendalam pada responden dalam metode pengumpulan datanya.

Peneliti melakukan penelitian yang berjudul“ Hubungan antara dukungan keluarga dengan
tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul
Yogyakarta,” yang merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross
sectional. Sampel yang dipakai adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan
Senopati Bantul Yogyakarta. Menggunakan kuesioner sebagai alat ukur yang bersifat tertutup
dan langsung dalam bentuk check list, untuk mengukur tingkat kecemasan dan rating-scale
(skala bertingkat) untuk mengukur dukungan keluarga pada pasien pre operasi.
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELURGA
DENGAN TINGKAT KEPATUHAN LANJUT USIA
DALAM MELAKSANAKAN SENAM LANSIA DI RW
04 GIWANGAN UMBULHARJO VII YOGYAKARTA
5 Januari 2012

Oleh: ANA FARIDA

ABSTRAK

Usia harapan hidup yang meningkat memberikan dampak pada peningkatan populasi lansia
di Indonesia yang semakin menuntut pelayanan dan fasilitas kesehatan untuk menuju lansia
yang bahagia, berguna dan berkulitas. Upaya peningkatan kesehatan tersebut diantaranya
dengan didakan senam lansia, khususnya di RW 04 Giwangan UH VII Yogyakarta, namun
masih banyak yang tidak mengikuti senam, dalam hal ini peneliti bermaksud meneliti
hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kepatuhan lanjut usia dalam
melaksanakan senam lansia untuk mengetahui dukungan keluarga terhadap tingkat kepatuhan
lansia dalam melaksanakan senam lansia di RW tersebut.

Jenis penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross
sectional. Populasi penelitian ini adalah lansia di RW 04 Giwangan Umbulharjo Yogyakarta
dengan pengambilan sampel Purposive sampling berdasarkan criteria inklusi sebanyak 23
responden. Pengambilan data dengan kuesioner dukungan keluarga dan tingkat kepatuhan
dengan skala likert. Untuk dukungan keluarga berdasarkan kategori tinggi,sedang dan rendah,
untuk tingkat kepatuhan dengan kategori patuh, kurang patuh dan tidak patuh.

Pengolahan data mengguanakan Spearman rho didapatkan korelasi sebesar 0,648 dengan
signifikansi 0.001yang lebih kecil dari 0,05, maka Ho di tolakdan Ha diterima yang berate
ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kepatuhan lansia. Sehingga semakin
tinggi dukungan keluarga maka semakin tinggi pula tingkat kepatuhan lansia.