Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

ASFIKSIA
DI RUANG PERINATOLOGI
RSUD GENTENG

Oleh :
Fani Mohamad Yunus
2017.04.006

Program Studi Profesi Keperawatan


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Banyuwangi
2017
LEMBAR PENGESAHAN

NAMA : Fani Mohamad Yunus

NIM : 2017.04.006

JUDUL LP : Asfiksia

Laporan pendahuluan dengan Asfiksia di ruang Perinatologi RSUD Genteng telah di setujui pada
tgl dan disahkan oleh :

Banyuwangi, 2018

Mahasiswa

( )

Pembimbing Klinik Pembimbing Institute

( ) ( )

Kepala Ruangan

( )
A. KONSEP PENYAKIT
1. Pengertian
Suatu keadaan bayi baru lahir yang mengalami gangguan tidak bernapas secara
spontan dan teratur setelah lahir. Asfiksia dapat terjadi selama kehamilan atau persalinan
(Sofian, 2012).
Asfiksia neonatarum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas
secara spontan dan teratur segera setelah lahir (Sarwono, 2011)
Asfiksia neonatarum adalah suatu keadaan dimana saat bayi lahir mengalami
gangguan pertukaran gas dan kesulitan mengeluarkan karbondioksida (Sarwono, 2010).
Asfiksia neonatorum dapat merupakan kelanjutan dari kegagalan janin (fetal
distress) intrauteri. Fetal distress adalah keadaan ketidakseimbangan antara kebutuhan
O2 dan nutrisi janin sehingga menimbulkan perubahan metabolism janin menuju
metabolism anaerob, yang menyebabkan hasil akhir metabolismenya bukan lagi CO2
(Manuaba, 2008).

2. Macam Atau Klasifikasi Asfiksia


Berdasarkan nilai APGAR (Appearance, Pulse, Grimace, Activity, Respiration) asfiksia
diklasifikasikan menjadi 4, yaitu (Nurarif & Kusuma, 2013):
1. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3
2. Asfiksia sedang dengan nilai APGAR 4-6
3. Bayi normal atau sedikit asfiksia (asfiksia ringan) dengan nilai
APGAR 7-9
4. Bayi normal dengan nilai APGAR 10

Tabel 1. Penilaian Apgar Skor


Nilai

Tanda 0 1 2

Denyut jantung Tidak ada Lambat < 100 >100


(pulse)

Usaha nafas Tidak ada Lambat, tidak teratur Menangis dengan


(respiratory) keras

Tonus otot (activity) Lemah Fleksi pada Gerakan aktif


ekstremitas

Kepekaan reflek Tidak ada Merintih Menangis kuat


(Grimace)

Warna (Appearence) Biru pucat Tubuh merah muda Seluruhnya merah


ekstremitas biru muda
Tabel 2. Klasifikasi Derajat Vitalitas Bayi Baru Lahir menurut APGAR Score
(Carpenito, 2007)
Klasifikasi Nilai APGAR Derajat Vitalitas

A 7-10 Tangisan kuat disertai


gerakan aktif
Asfiksia Ringan / tanpa
asfiksia

B 4-6 Pernafasan tidak teratur,


megap-megap, atau tidak ada
Asfiksia Sedang pernafasan

C 0-3 Denyut jantung < 100x/menit


atau kurang
Asfiksia Berat

D 0 Tidak ada pernafasan

Fres Stillbirth Tidak ada denyut jantung

(Bayi Lahir Mati)

Terdapat 2 macam kriteria asfiksia : Asfiksia Pallida dan Livida;


berikut penjelasanya
Perbedaan Asfiksia Pallida Asfiksia Livida
Warna kulit Pucat Kebiru-biruan
Tonus otot Sudah kurang Masih baik
Reaksi rangsangan Negative Positif
Bunyi jantung Tak teratur Masih teratur
Prognosis Jelek Lebih baik

3. Macam Reflek Pada Bayi


Refleks yaitu suatu gerakan yang terjadi secara otomatis dan spontan tanpa disadari pada
bayi normal. Macam – macam refleks pada Bayi Baru Lahir :

1) Refleks menghisap (refleks rooting)


Bayi akan melakukan gerakan menghisap ketika Anda menyentuhkan puting susu
ke ujung mulut bayi. Refleks menghisapterjadi ketika bayi yang baru lahir secara
otomatis menghisap benda yang ditempatkan di mulut mereka. Refleks menghisap
memudahkan bayi yang baru lahir untuk memperoleh makanan sebelum mereka
mengasosiasikan puting susu dengan makanan. Menghisap adalah refleks yang sangat
penting pada bayi. Refleks ini merupakan rute bayi menuju pengenalan akan makanan.
Kemampuan menghisap bayi yang baru lahir berbeda beda. Sebagian bayi yang baru
lahir menghisap dengan efisien dan bertenaga untuk memperoleh susu, sementara bayi
bayi lain tidak begitu terampil dan kelelahan bahkan sebelum mereka kenyang.
Kebanyakan bayi yang baru lahir memerlukan waktu beberapa minggu untuk
mengembangkan suatu gaya menghisap yang dikoordinasikan dengan cara ibu
memegang bayi, cara susu keluar dari botol atau payudara, serta dengan kecepatan dan
temperamen bayi waktu menghisap. Refleks menghisap adalah suatu contoh refleks
yang muncul saat lahir dan kemudian akan menghilang seiring dengan usia bayi.
Hindari mengarahkan kepala ke payudara atau puting, biarkan bayi membuka
mulutnya.Hilang setelah 3-4 bulan, tetapi dapat menetap sampai usia 1 tahun.
2) Refleks menggenggam (palmar grasp reflex)
Grasping Reflex adalah refleks gerakan jari-jari tangan mencengkram benda-benda
yang disentuhkan ke bayi, indikasi syafar berkembang normal . Hilang setelah 3-4
bulan. Bayi akan otomatis menggenggam jari ketika Anda menyodorkan jari telunjuk
kepadanya. Reflek menggenggam tejadi ketika sesuatu menyentuh telapak tangan bayi.
Bayi akan merespons dengan cara menggenggamnya kuat kuat. Pada akhir bulan
ketika, refleks menggenggam berkurang dan bayi memperlihatkan suatu genggaman
yang lebih spontan, yang sering dihasilkan dari rangasangan visual. Misalnya, ketika
bayi melihat suatu gerakan yang berputar diatas tempat tidurnya, ia akan meraih dan
mencoba menggenggamnya. Ketika perkembangan motoriknya semakin lancar, bayi
akan menggenggam benda benda, menggunakannya secara hati hati, dan mengamati
benda benda tersebut.
3) Refleks Leher (tonic neck reflex)
Disebut juga posisi menengadah, muncul pada usia satu bulan dan akan menghilang
pada sekitar usia 5 bln. Saat kepala bayi digerakkan kesamping, lengan pada sisi
tersebut akan lurus dan lengan yang berlawanan akan menekuk ( kadang – kadang
pergerakan akan sangat halus atau lemah ). Jika bayi baru lahir tidak mampu untuk
melakukan posisi ini atau jika reflek ini terus menetap hingga lewat usia 6 bulan, bayi
dimungkinkan mengalami gangguan pada neuron motorik atas. Berdasarkan penelitian,
refleks tonick neck merupakan suatu tanda awal koordinasi mata dan kepala bayi yang
akan menyediakan bayi untuk mencapai gerak sadar. Respons lengkap akan hilang
pada usia 3-4 bulan.
4) Refleks mencari (rooting reflex)
Rooting reflex terjadi ketika pipi bayi diusap (dibelai) atau di sentuh bagian pinggir
mulutnya. Sebagai respons, bayi itu memalingkan kepalanya ke arah benda yang
menyentuhnya, dalam upaya menemukan sesuatu yang dapat dihisap. Refleks
menghisap dan mencari menghilang setelah bayi berusia sekitar 3 hingga 4 bulan.
Refleks digantikan dengan makan secara sukarela. Refleks menghisap dan mencari
adalah upaya untuk mempertahankan hidup bagi bayi mamalia atau binatang menyusui
yang baru lahir, karena dengan begitu dia dapat menemukan susu ibu untuk
memperoleh makanan.
5) Refleks moro (moro reflex)
Releks Moro adalah suatu respon tiba tiba pada bayi yang baru lahir yang terjadi
akibat suara atau gerakan yang mengejutkan. Ketika dikagetkan, bayi yang baru lahir
itu melengkungkan punggungnya, melemparkan kepalanya kebelakang, dan
merentangkan tangan dan kakinya. Refleks ini berbeda dengan refleks lainnya yang
termasuk dalam ketegori gerakan motor. Refleks moro adalah peninggalan nenek
moyang primate kita dan refleks ini merupakan upaya untuk mempertahankan hidup.
Refleks ini merupakan keadaan yang normal bagi semua bayi yang baru lahir, juga
cenderung menghilang pada usia 3 hingga 4 bulan. Sentuhan yang lembut pada setiap
bagian tubuh bayi akan menenangkan bayi yang sempat terkejut. Memegang lengan
bayi yang dilenturkan pada bahu akan menenangkan bayi. Menurut para ahli, refleks
moro ini termasuk reaksi emosional yang timbul dari kemauan atau kesadaran bayi dan
akan hilang dengan sendirinya dalam waktu yg singkat. Refleks moro ini timbul ketika
bayi dikejutkan secara tiba-tiba atau mendengar suara yang keras. Bayi melakukan
gerakan refleks dengan melengkungkan punggungnya dan mendongakkan kepalanya
ke arah belakang. Bersamaan dengan gerakan tersebut, kaki dan tangan bayi digerakkan
ke depan. Reaksi yang berlangsung sesaat ini pada umumnya diiringi dengan tangisan
yang keras.
6) Babinski Reflex
Refleks ditimbulkan pada telapak kaki, dimulai pada tumit, gores sisi lateral telapak
kaki kearah atas kemudian gerakkan jari sepanjang telapak kaki. Semua jari kai
hiperekstensi dengan ibu jari dorsifleksi dicatat sebagai tanda positif. Refleks primitif
pada bayi berupa gerakan jari-jari mencengkram ketika bagian bawah kaki diusap,
indikasi syaraf berkembang dengan normal. Hilang di usia 4 bulan.
7) Swallowing Reflex
Adalah refleks gerakan menelan benda-benda yang didekatkan ke mulut,
memungkinkan bayi memasukkan makanan ada secara permainan tapi berubah sesuai
pengalaman. Menimbulkan refleks dengan cara beri bayi minum, menelan biasanya
menyertai mengisap dan mendapat cairan.Menelan biasanya diatur oleh mengisap dan
biasanya terjadi tanpa tersedak, batuk, atau muntah.Jika lemah atau tidak ada,
menunjukkan prematuritas atau defek neorologis.Menghisap dan menelan sering tidak
terkoordinasi pada bayi prematur.
8) Refleks Menjulurkan Lidah
Sentuh atau tekan ujung lidah. Bayi akan menjulurkan lidah keluar. Hilang pada
sekitar usia 4 bulan.
9) Breathing Reflex
Refleks gerakan seperti menghirup dan menghembuskan nafas secara berulang-
ulang – fungsi : menyediakan O2 dan membuang CO2. Permanen dalam kehidupan.
10) Eyeblink Reflex
Refleks gerakan seperti menutup dan mengejapkan mata – fungsi : melingdungi
mata dari cahaya dan benda-benda asing – permanen dalam kehidupan Jika bayi
terkena sinar atau hembusan angin, matanya akan menutup atau dia akan mengerjapkan
matanya.
11) Puppilary Reflex
Rekleks gerakan menyempitkan pupil mata terhadap cahaya terang, membesarkan
pupil mata terhadap lingkungan gelap. – fungsi : melindungi dari cahaya terang,
menyesuaikan terhadap suasana gelap.
12) Refleks Tonic Labyrinthine/labirin telentang,
Reflek ini dapat diamati dengan menggangkat tungkai bayi beberapa saat lalu
dilepaskan. Tungkai yang diangkat akan bertahan sesaat, kemudian jatuh. Hilang pada
usia 6 bulan.
13) Refleks Merangkak (crawling)
Jika ibu atau seseorang menelungkupkan bayi baru lahir, ia membentuk posisi
merangkak karena saat di dalam rahim kakinya tertekuk kearah tubuhnya.
14) Refleks berjalan dan melangkah (stepping)
Jika ibu atau seseorang menggendong bayi dengan posisi berdiri dan telapak
kakinya menyentuh permukaan yang keras, ibu/orang tersebut akan melihat refleks
berjalan, yaitu gerakan kaki seperti melangkah ke depan. Jika tulang keringnya
menyentuh sesuatu, ia akan mengangkat kakinya seperti akan melangkahi benda
tersebut. Refleks berjalan ini akan hilang dan berbeda dengan gerakan berjalan normal,
yang ia kuasai beberapa bulan berikutnya. Menurun setelah 1 minggu dan akan lenyap
sekitar 2 bulan.
15) Refleks Yawning
Yakni refleks seperti menjerit kalau ia merasa lapar, biasanya disertai dengan
tangisan.
16) Reflek Plantar
Reflek ini muncul sejak lahir dan berlangsung hingga sekitar satu tahun kelahiran.
Reflek plantar ini dapat diperiksa dengan menggosokkan sesuatu di telapak kakinya,
maka jari-jari kakinya akan melekuk secara erat.
17) Reflek Swimming
Reflek ini ditunjukkan pada saat bayi diletakkan di kolam yang berisi air, ia akan
mulai mengayuh dan menendang seperti gerakan berenang. Reflek ini akan menghilang
pada usia empat sampai enam bulan. Reflek ini berfungsi untuk membantu bayi
bertahan jika ia tenggelam. Meskipun bayi akan mulai mengayuh dan menendang
seperti berenang, namun meletakkan bayi di air sangat berisiko. Bayi akan menelan
banyak air pada saat itu.
18) Refleks kaku leher
Jika kepala bayi baru lahir ditolehkan ke satu sisi sementara bayi beristirahat, maka
refleks kaku leher dapat diobservasi. Lengan dan tungkai yang berada disamping tubuh
kearah bayi menghadap memanjang sebagian atau seluruhnya, dan tungkai dan lengan
yang berlawanan menekuk. Refleks ini seharusnya menghilang sampai 4 bulan
pertama, karena refleks ini merupakan manifestasi lain dari sebelum sempurnanya
sistem saraf bayi. Jika keadaan ini terus berlangsung setelah 4 bulan,kemudian ada
trauma neorologik. Tidak terdapatnya refleks ini secara menetap pada masa bayi baru
lahir biasanya mengindikasikan adanya trauma SSP atau gangguan neoromuskular.
19) Refleks Perlindungan
Refleks perlindungan amat dibutuhkan dan pada masa bayi baru lahir sangat
penting untuk memelihara keamanan bayi baru lahir. Kelompok refleks ini adalah
sebagai berikut.
 Refleks berkedip terjadi saat bayi baru lahir disorotkan sinar yang terang atau ketika
sebuah jari tangan disenruhkan pada hidung
 Membantu membersihkan jalan nafas
 Refleks bersih membersihkan jalan nafas
 Refleks menguap untuk mengambil oksigen tambahan
Refleks-refleks ini, bersamaan dengan kemampuan bayi bari lahir untuk menangis
pada saat tidak nyaman, menarik diri dari stimulus nyeri, melawan tahanan,
semuanya adalah tindakan mempertahankan diri. Kebanyakan tindakan pertahanan
diri ini menjadi lebih kompleks dan berkembang lebih cepat seiring dengan tumbuh
kembang bayi.
20) Refleks tarik ke duduk
Timbulkan refleks dengan cara tarik bayi pada pergelangan tanganya beri posisi
terlentang dengan kepala berada digaris tengah. Kepala akan tertinggal sampai bayi
berada dalam posisi tegak, kemudian kepala akan berada pada bidang yang sama
dengan dada dan bahu untuk sementara waktu sebelum jatuh kedepan, bayi akan
mencoba menegakkan kepalanya tergantung pada tonus otot secara keseluruhan serta
maturasi dari kondisi bayi.

4. Penilaian Maturitas Bayi Berdasarkan Ballard Score


Ballard score merupakan suatu versi sistem Dubowitz. Pada prosedur ini
penggunaan kriteria neurologis tidak tergantung pada keadaan bayi yang tenang dan
beristirahat, sehingga lebih dapat diandalkan selama beberapa jam pertama kehidupan.
Penilaian menurut ballard adalah dengan menggabungkan hasil pennilaian maturitas
neuromuskuler dan maturitas fisik. Kriteria pemeriksaan maturitas neuromuskuler diberi
skor, demikian pula kriteria pemeriksaan maturitas fisik. Jumlah skor pemeriksaan
maturitas neuromuskuler dan maturitas fisik digabungkan, kemudian dengan
menggunakan tabel nilai kematangan dicari masa gestasinya.
Tabel 3. Tabel Ballard Score (Ilmu Kesehatan anak, hlm 224, balai penerbit FKUI, 1991)

-2 -1 0 1 2 3 4 5
Lengket, Merah seperti Licin, merah Pengelupasan Pecah2, daerah Perkamen pecah2 Seperti kulit,
rapuh, gelatin, muda, vena &/atau ruam pucat, jarang dalam, tidak pecah2, berkeriput
Kulit
transparan tembus membayang superfisial, vena terlihat vena
pandang beberapa vena
Tidak ada Jarang sekali Banyak sekali menipis (+)daerah tanpa Sebagian besar
Lanugo
rambut tanpa rambut
Tumit – Tumit – > 50 mm, Garis2 merah Garis melintang Garis lipatan Garis lipatan pada
Garis telapak ibu jari ibu jari tidak ada tipis hanya pd bag. sampai 2/3 seluruh telapak
kaki kaki < 40 kaki 40 – lipatan anterior anterior
mm 50 mm
Tidak Susah Areola datar (-) Areola berbintil- Areola Areola penuh,
dikenali dikenali penonjolan bintil, penonjolan terangkat, Penonjolan 5-10
Payudara
1-2 mm penonjolan 3-4 mm
mm
Kelopak Kelopak Kelopak Pinna sedikit Pinna Keras & Kartilago tebal,
menyatu menyatu terbuka, bergelombang, bergelombang berbentuk daun telinga kaku
Mata/ telinga
erat longgar. pinna datar, rekoil lambat baik, lembek tapi segera rekoil
tetap terlipat. siap rekoil
Skrotum Skrotum Testis di kanal Testis menuju ke Testis sudah Testis tergantung,
Genitalia pria datar & kosong, bagian atas, bawah, sedikit turun, rugae rugae dalam
halus rugae samar rugae jarang rugae jelas
Klitoris Klitoris Klitoris Labia mayora & Labia mayora Labia mayora
Genitalia menonjol, menonjol, menonjol, minora menonjol besar, labia menutupi klitoris &
wanita labia datar labia minora minora minora kecil labia minora
kecil membesar
Tabel 4. Perhitungan Kematangan
Skor Minggu
-10 20
-5 22
0 24
5 26
10 28
15 30
20 32
25 34
30 36
35 38
40 40
45 42
50 44

5. Etiologi
Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah
uteroplasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi berkurang yang
mengakibatkan hipoksia bayi di dalam rahim dan dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi
baru lahir. Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia
pada bayi baru lahir, diantaranya adalah (Nurarif & Kusuma, 2013):
1. Faktor ibu
a) Preeklampsia dan eklampsia
b) Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
c) Partus lama atau partus macet
d) Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
e) Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
2. Faktor Tali Pusat
a) Lilitan tali pusat
b) Tali pusat pendek
c) Simpul tali pusat
d) Prolapsus tali pusat
3. Faktor Bayi
a) Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
b) Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi
vakum, ekstraksi forsep)
c) Kelainan bawaan (kongenital)
d) Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)

Tabel 3. Sebab Asfiksia Neonatarum yang Merupakan

Kelanjutan dari Fetal Distress

Faktor Disebabkan Keterangan

Maternal  Hipotensi syok dengan  Aliran darah menuju plasenta akan berkurang
sebab apapun sehingga O2 dan nutrisi makin tidak seimbang
untuk memenuhi kebutuhan metabolisme.
 Kemampuan transportasi O2 turun sehingga
 Anemia maternal konsumsi O2 janin tidak terpenuhi
 Penekanan respirasi  Metabolisme janin sebagian menuju metabolisme
atau penyakit paru anaerob sehingga terjadi timbunan asam laktat dan
 Malnutrisi piruvat serta menimbulkan asidosis metabol
 Asidosis dan dehidrasi  Semuanya memberikan kotribusi pada
 Supine hipotensi pertumbuhan konsentrasi O2 dan nutrisi makin
menurun.

Uterus  Aktivitas kontraksi  Menyebabkan aliran darah menuju plasenta makin


memanjang/hiper menurun sehingga 02 dan nutrisi menuju janin
aktivitas makin berkurang
 Timbunan glukosanya yang menimbulkan energy
pertumbuhan melalui O2 dengan hasil akhir CO2
atau habis karena dikeluarkan melalui paru – paru
atau plasenta janin, tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan.
 Metabolisme beralih menuju metabolisme anaerob
yang menimbulkan asidosis
 Gangguan Vaskuler

Plasenta  Degenerasi vaskuler  Fungsi plasenta akan berkurang sehingga tidak


 Solusio plasenta mampu memenuhi kebutuhan 02 dan nutrisi
 Pertumbuhan metabolisme janin
hypoplasia primer  Menimbulkan metabolisme anaerob dan akhirnya
asidosis dengan pH darah turun.

Tali  Kompresi tali pusat  Aliran darah menuju janin berkurang


Pusat  Simpul mati/lilitan tali  Tidak mampu memenuhi nutrisi 02 dan nutrisi
pusat  Metabolisme berubah menjadi metabolisme
 Hilangnya jelly anaerob
Wharton

Janin  Infeksi  Anemia janin Kebutuhan metabolisme nutrisi


makin tinggi, sehingga ada kemungkinan tidak
dapat dipenuhi oleh aliran darah dari plasenta
 Aliran nutrisi dan O2 tidak cukup menyebabkan
metabolisme janin menuju metabolisme anaerob,
sehingga terjadi timbunan asam laktat dan piruvat
 Kemampuan untuk transportasi O2 tidak cukup
sehingga metabolisem janin berubah menjadi
menuju anaerob yang menyebabkan asidosis.

 Anemia janin
6. Manifestasi Klinis
Asfiksia neonatarum biasanya akibat dari hipoksia janin yang menimbulkan tanda-tanda
sebagai berikut (Nurarif & Kusuma, 2013) :

1. DJJ irreguler dan frekuensi >160 x/menit atau <100 x/menit. Pada
keadaan umum normal denyut janin berkisar antar 120-160 x/menit
dan selama his frekuensi ini bisa turun namun akan kembali normal
setelah tidak ada his.
2. Terdapat mekonium pada air ketuban pada letak kepala. Kekurangan
O2 merangsang usus sehingga mekonium keluar sebagai tanda janin
asfiksia.
3. Pada pemeriksaan dengan amnioskopi didapatkan pH janin turun
sampai <7,2 karena asidosis menyebabkan turunnya pH.

7. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan diagnostik (Manuaba, 2008):
a) Foto polos dada: untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran jantung dan kelainan
paru, ada tidaknya aspirasi mekonium.
b) USG (kepala): Untuk mendeteksi adanya perdarahan subepedmal, pervertikular,
dan vertikular.
2. Pemeriksaan Laboratorium:
a) Analisa gas darah: PaO2 di dalam darah berkurang.
b) Elektrolit darah: HCO3 di dalam darah bertambah
c) Gula darah: Untuk mengindikasikan adanya pengurangan cadangan glikogen akibat
stress intrauteri yang mengakibatkan bayi mengalami hipoglikemi.
d) Baby gram: Berat badan bayi lahir rendah < 2500 gram.

8. Patofisiologi
Pada awal proses kelahiran setiap bayi akan mengalami hipoksia relatif dan akan
terjadi adaptasi akibat aktivitas bernapas dan menangis. Apabila proses adaptasi
terganggu, maka bayi bisa dikatakan mengalami asfiksia yang akan berefek pada
gangguan sistem organ vital seperti jantung, paru-paru, ginjal dan otak yang
mengakibatkan kematian (Manuaba, 2008).
Asfiksia terjadi karena janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbul
rangsangan terhadap nervus vagus sehingga DJJ (denyut jantung janin) menjadi lambat.
Jika kekurangan O2 terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi.
Maka timbul rangsangan dari nervus sispatikus sehingga DJJ menjadi lebih cepat
akhirnya ireguler dan menghilang. Janin akan mengadakan pernafasan intrauteri dan bila
kita periksa kemudian banyak air ketuban dan mekonium dalam paru, bronkus tersumbat
dan dapat terjadi atelektasis. Bila janin lahir, alveoli tidak berkembang (Manuaba, 2008).
Apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan ganti dan denyut jantung mulai
menurun sedangkan tonus neuromuskuler berkembang secara berangsur-angsur dan bayi
memasuki periode apneu primer. Jika berlanjut, bayi akan menunjukan pernafasan yang
dalam, denyut jantung menurun terus menerus, tekanan darah bayi juga mulai menurun,
dan bayi akan terlihat lemas. Pernafasan makin lama makin lemah sampai bayi
memasuki periode apneu sekuner. Selama apneu sekunder denyut jantung, tekanan
darang dan kadar O2 dalam darah (PaO2) terus menurun. Bayi sekarang tidak bereaksi
terhadap rangsangan dan tidak akan menunjukan upaya pernafasan secara spontan.
Kematian akan terjadi jika resusitasi dengan pernafasan buatan tidak di mulai segera
(Manuaba, 2008).
9. Pathway

Sesak nafas
& sianosis

Ketidakefektif
an pola nafas
Sianosis
Resiko Cidera

Ketidakefektifan
pola nafas
Akral
dingin

Resiko
ketidakseimbangan
suhu tubuh
10. Alur dan Bagan Resusitasi Pada Bayi

Bernafas/ menangis? Perawatan Rutin :


Tonus baik/ tidak? 1. Pastikan bayi tetap hangat
2. Keringkan bayi
3. Lanjutkan observasi pernafasan LDJ dan tonus

Langkah awal: (Nyalakan Keterangan :


pencatat waktu)
 Pastikan bayi tetap hangat Pada bayi dengan berat≤1500 gram, bayi langsung bungkus
plastik bening tanpa dikeringkan terlebih dahulu kecuali
 Atur posisi dan bersihkan wajahnya. Kemudian dipasang topi. Bayi tetap dapat distimulasi
jalan nafas walaupun dibungkus plastik.
 Keringkan dan berikan
stimulasi
 Posisikan kembali, penilaian

Observasi usaha nafas, Bernafas spontan


laju denyut jangtung
(LDJ) dan tonus otot

Distress nafas Sianosis sentral


(Takipneu, retraksi dada/ Persistem tanpa distress nafas
Tidak bernafas/ mengap- merintih)
mengap atau
LDJ<100x/mnt Pertimbangkan suplementasi
Continuous positive
Oksigen Pemantauan SpO2
airway pressure (LPAP)
Ventilasi tekanan positif PEEP 5-8 cm H2O
(VTP) pemantauan Pemantauan SpO2
SpO2

Gagal CPAP
Bila LDJ PEEP 8 cm H2O
tetap<100x/mnt Flow>40%
Dengan distress nafas
Pengembangan adekuat?
Pertimbangkan intubasi

Ya; Pengembangan adekuat


namun LDJ<50x/mnt Keterangan :
VTP (O2 100%)+kompresi Apabila LDJ>100x/m dan target saturasi O2 tercapai :
dada (3 kompresi tiap nafas) 1. Tanpa alat – lanjutkan ke perawatan observasi
2. Dengan alat – lanjutkan ke perawatan paska resusitasi

Pertimbangan intubasi
Waktu dari lahir Target SpO2 Preduktal
Observasi LDJ dan usaha 1 menit
nafas tiap 100 detik 2 menit
3 menit
LDJ<60/menit 4 menit
5 menit
Pertimbangan pemberian 10 menit
obat dan cairan intravena

Keterangan :

Intubasi endotrakeal dapat dipertimbangkan pada langkah


ini apabila VTP tidak evektif atau telah dilakukan selama 2
menit
11. Penatalaksanaan Medis
Tindakan yang dapat dilakukan pada bayi asfiksia neonatorum
adalah sebagai berikut :
1. Tindakan Umum :
a) Bersihkan jalan nafas dengan penghisap lendir dan kasa steril.
b) Potong tali pusat dengan teknik aseptik dan antiseptik.
c) Segera keringkan tubuh bayi dengan handuk/ kain kering bersih dan hangat.
d) Nilai status pernafasan. Lakukan hal-hal berikut bila ditemukan tanda-tanda
asfiksia.
 Segera baringkan dengan kepala bayi sedikit ekstensi dan penolong berdiri
disisi kepala bayi dari sisa air ketuban.
 Miringkan kepala bayi.
 Bersihkan mulut dengan kasa yang dibalut pada jari telunjuk.
 Isap cairan dari mulut dan hidung.
e) Lanjutkan menilai status pernafasan
Nilai status pernafasan apabila masih ada tanda asfiksia, caranya dengan
menggosok punggung bayi (melakukan rangsangan taktil). Bila tidak ada
perubahan segera berikan napas buatan.
2. Tindakan khusus
a) Asfiksia berat: Berikan oksigen dengan tekanan positif dan intermiten melalui
pipa endotrakeal. dapat dilakukan dengan tiupan udara yang telah diperkaya
dengan oksigen. Tekanan O2 yang diberikan tidak lebih dari 30 cmH2O. Bila
pernafasan spontan tidak timbul lakukan massage jantung dengan ibu jari yang
menekan pertengahan sternum 80 –100 x/menit
b) Asfiksia sedang/ringan: Pasang relkiek pernafasan (hisap lendir, rangsang nyeri)
selama 30-60 detik. Bila gagal lakukan pernafasan kodok (Frog breathing) 1-2
menit yaitu : kepala bayi ektensi maksimal beri oksigen 1-2 l/mnt melalui kateter
dalam hidung, buka tutup mulut dan hidung serta gerakkan dagu ke atas-bawah
secara teratur 20x/menit. Penghisapan cairan lambung untuk mencegah
regurgitasi.
12. Pencegahan Asfiksia
Pencegahan secara Umum
Pencegahan terhadap asfiksia neonatorum adalah dengan menghilangkan atau
meminimalkan faktor risiko penyebab asfiksia. Derajat kesehatan wanita, khususnya ibu
hamil harus baik. Komplikasi saat kehamilan, persalinan dan melahirkan harus dihindari.
Upaya peningkatan derajat kesehatan ini tidak mungkin dilakukan dengan satu
intervensi saja karena penyebab rendahnya derajat kesehatan wanita adalah akibat
banyak faktor seperti kemiskinan, pendidikan yang rendah, kepercayaan, adat istiadat
dan lain sebagainya. Untuk itu dibutuhkan kerjasama banyak pihak dan lintas sektoral
yang saling terkait (Mansjoer, 2007).

Pencegahan saat persalinan


Pengawasan bayi yang seksama sewaktu memimpin partus adalah penting, juga kerja sama
yang baik dengan Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Perlu diperhatikan:
a. Hindari forceps tinggi, versi dan ekstraksi pada panggul sempit, serta
pemberian pituitarin dalam dosis tinggi.
b. Bila ibu anemis, perbaiki keadaan ini dan bila ada perdarahan berikan
oksigen dan darah segar.
c. Jangan berikan obat bius pada waktu yang tidak tepat, dan jangan
menunggu lama pada kala II (Mansjoer, 2007).

B. KONSEP ASKEP
a) Pengkajian
1. Biodata
Terdiri dari nama, umur/tanggal lahir, jenis kelamin, agama, anak keberapa, jumlah
saudara dan identitas orang tua. Yang lebih ditekankan pada umur bayi karena
berkaitan dengan diagnosa Asfiksia Neonatorum.
2. Keluhan Utama
Pada klien dengan asfiksia yang sering tampak adalah sesak nafas.
3. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Bagaiman proses persalinan, apakah spontan, premature, aterm, letak bayi belakang
kaki atau sungsang.
4. Sirkulasi
Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/menit. Tekanan darah 60
sampai 80 mmHg (sistolik), 40 sampai 45 mmHg (diastolik).
a) Bunyi jantung, lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di kiri
dari mediasternum pada ruang intercosta III/IV.
b) Murmur biasanya terjadi di selama beberapa jam pertama kehidupan.
c) Tali pusat putih dan bergelatin mengandung 2 arteri 1 vena.
5. Kebutuhan Dasar
a) Pola Eliminasi
Umumnya klien mengalami gangguan BAB karena organ tubuh terutama
pencernaan belum sempurna.

b) Pola Nutrisi
Pada neonatus dengan asfiksia membatasi intake oral, karena organ tubuh
terutama lambung belum sempurna, selain itu juga bertujuan untuk mencegah
terjadinya aspirasi pneumonia.
c) Kebersihan diri
Perawta dan keluarga pasien harus menjaga kebersihan pasien, terutama saat BAB
dan BAK harus diganti dengan popoknya.
d) Pola Tidur
Biasanya istirahat tidur kurang karena sesak nafas.
6. Neurosensori
a) Tonus otot: fleksi hipertonik dari semua ekstremitas.
b) Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama
setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas). Penampilan asimetris (molding,
edema, hematoma).
c) Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi menunjukan abnormalitas
genetik, hipoglikemia atau efek nerkotik yang memanjang).
7. Pernafasan
a) Skor APGAR: skor optimal antara 7-10.
b) Rentang dari 30-60 permenit, pola periodik dapat terlihat.
c) Bunyi nafas bilateral, kadang-kadang krekels umum awalnya silindrik thorak:
kertilago xifoid menonjol umum terjadi.
8. Keamanan
Suhu rentan dari 36,50C -37,5oC. Ada vermiks (jumlah dan distribusi tergantung pada
usia gestasi).
9. Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan Umum
Pada umunya pasien dengan asfiksia dalam keadaan lemah, sesak nafas, pergerakan
tremor, reflek tendon hyperaktif dan ini terjadi pada stadium pertama.
b) Tanda-tanda vital
Pada umumnya terjadi peningkatan respirasi
c) Kulit
Pada kulit biasanya terdapat sianosis
d) Kepala
Inspeksi : bentuk kepala bukit, fontanela mayor dan minor masih cekung, sutura
belum menutup dan kelihatan masih bergerak.
e) Mata
Pada pupil terjadi miosis saat diberikan cahaya.
f) Hidung
Yang paling sering didapatkan adalah adanya pernafasan cuping hidung.
g) Dada
Pada dada biasanya ditemukan pernafasan yang irregular dan frekuensi pernafasan
yang cepat.
b) Pemeriksaan Diagnostik
• PH tali pusat : tingkat 7,20 sampai 7,24 menunjukkan status parasidosis, tingkat rendah
menunjukkan asfiksia bermakna.
• Hemoglobin/ hematokrit (HB/ Ht) : kadar Hb 15-20 gr dan Ht 43%-61%.
• Tes combs langsung pada daerah tali pusat. Menentukan adanya kompleks antigen-
antibodi pada membran sel darah merah, menunjukkan kondisi hemolitik.

c) Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d produksi mukus banyak atau tersumbatnya
jalan nafas karena aspirasi mekonium dan air ketuban.
2. Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.
3. Ketidakefektifan pola nafas b.d hipoventilasi/ hiperventilasi
4. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan aliran darah ke alveoli,
alveolar edema, alveoli-perfusi
5. Resiko cedera b.d. Hipoksia jaringan
d) Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Intervensi Rasional
Keperawatan dan
Tujuan
1. Ketidakefektifan 1. Tentukan kebutuhan 1. Untuk
bersihan jalan nafas b.d oral/ suction tracheal. memungkinkan
produksi mukus banyak 2. Auskultasi suara nafas reoksigenasi.
atau tersumbatnya jalan sebelum dan sesudah 2. Pernapasan bising,
nafas karena aspirasi suction. ronki dan mengi
mekonium dan air 3. Beritahu keluarga menunjukkan
ketuban. tentang suction. tertahannya secret.
Tujuan : Setelah 4. Bersihkan daerah 3. Membantu
dilakukan tindakan bagian tracheal setelah memberikan
keperawatan, bersihan suction selesai informasi yang benar
jalan nafas kembali dilakukan. pada keluarga.
efektif. 5. Monitor status oksigen 4. Mencegah
Dengan kriteria hasil : pasien, status obstruksi/aspirasi.
a. Tidak menunjukkan hemodinamik segera 5. Membantu untuk
demam 36.5-37.5oC sebelum, selama dan mengidentifikasi
b. Tidak menunjukkan sesudah suction perbedaan status
cemas oksigen sebelum dan
c. Rata-rata respirasi sesudah suction.
dalam batas normal
30-40x/mnt
d. Pengeluaran sputum
melalui jalan nafas
e. Tidak ada suara
nafas
tambahan(Wheezing
atau ronchi)
f. Mudah dalam
bernafas.
g. Tidak menunjukkan
kegelisahan.
h. Tidak adanya
sianosis.
i. PaCO2 dan PaO2
dalam batas normal
35-45 mmHg dan
80-100 mmHg.
j. Keseimbangan
perfusi ventilasi
2. Risiko 1. Hindarkan pasien dari 1. Menghindari
ketidakseimbangan kedinginan dan terjadinya hipitermia.
suhu tubuh b.d tempatkan pada 2. Mengetahui
kurangnya suplai O2 lingkungan yang terjadinya hipotermi.
dalam darah. hangat. 3. Perubahan tanda-
Tujuan : Setelah 2. Monitor temperatur dan tanda vital yang
dilakukan tindakan warna kulit. signifikan akan
keperawatan selama 3. Monitor TTV. mempengaruhi
proses keperawatan 4. Jaga temperatur suhu proses regulasi
diharapkan suhu tubuh tubuh bayi agar tetap ataupun metabolisme
normal. hangat. dalam tubuh.
Kriteria hasil : 5. Tempatkan BBL pada 4. Menghindari
a. Temperatur badan inkubator bila perlu. terjadinya hipitermia.
dalam batas normal 5. Mambantu BBL tetap
36.5-37.5oC berada pada keadaan
b. Tidak terjadi distress yang sesuai dengan
pernafasan keadaannya.
c. Tidak gelisah
d. Perubahan warna
kulit
e. Bilirubin dalam
batas normal <5
mg/dL
3. Ketidakefektifan pola 1. Pertahankan kepatenan 1. Untuk
nafas b.d hipoventilasi/ jalan nafas dengan menghilangkan
hiperventilasi melakukan pengisapan mucus yang
Tujuan : Setelah lender terakumulasi dari
dilakukan tindakan 2. Auskultasi jalan nafas nasofaring, tracea.
keperawatan selama untuk mengetahui 2. Bunyi nafas
proses keperawatan adanya penurunan menurun/tak ada bila
diharapkan pola nafas ventilasi jalan nafas obstruksi
menjadi efektif. 3. Berikan oksigenasi sekunder. Ronki dan
Kriteria hasil : sesuai kebutuhan mengi menyertai
a. Pasien menunjukkan obstruksi jalan
pola nafas yang nafas/kegagalan
efektif. pernafasan.
b. Ekspansi dada 3. Memaksimalkan
simetris bernafas dan
c. Tidak ada bunyi menurunkan kerja
nafas nafas.
tambahan(Wheezing
atau Ronchi)
d. Kecepatan dan
irama respirasi
dalam batas normal
30-40x/mnt
4. Gangguan pertukaran 1. Kaji bunyi paru, 1. Penurunan bunyi
gas berhubungan frekuensi nafas, nafas dapat
dengan gangguan aliran kedalaman nafas menunjukan
darah ke alveoli, dan produksi sputum atelektasis. Ronki,
alveolar edema, alveoli- 2. Pantau saturasi O2 mengi menunjukkan
perfusi. dengan oksimetri akumulasi secret/
Tujuan : Setelah 3. Berikan oksigen ketidakmampuan
dilakukan tindakan tambahan yang sesuai. untuk membersihkan
keperawatan selama jalan nafas yang
proses keperawatan dapat menimbulkan
diharapkan pertukaran peningkatan kerja
gas teratasi. pernafasan.
Kriteria hasil : 2. Penurunan
a. Tidak sesak nafas kandungan oksigen
b. Fungsi paru dalam (PaO2) dan/atau
batas normal saturasi atau
peningkatan PaCO2
menunjukkan
kebutuhan untuk
intervensi/perubahan
program terapi.
3. Alat dalam
memperbaiki
hipoksemia yang
dapat terjadi
sekunder terhadap
penurunan
ventilasi/menurunnya
permukaan alveolar
paru.
5. Resiko cidera b.d. 1. Cuci tangan setiap 1. Mengurangi
Hipoksia jaringan, sebelum dan sesudah kontaminasi silang.
anomali kongenital merawat bayi 2. Mencegah
tidak terdeteksi atau 2. Pakai sarung tangan penyebaran
tidak teratasi pemajanan steril infeksi/kontaminasi
pada agen-agen 3. Lakukan pengkajian silang.
infeksius. fisik secara rutin 3. Untuk mengetahui
Tujuan : Setelah terhadap bayi baru apakah ada kelainan
dilakukan tindakan lahir, perhatikan pada
keperawatan selama pembuluh darah tali
proses keperawatan pusat dan adanya
diharapkan risiko cidera anomaly 4. Ajarkan
dapat dicegah. keluarga tentang tanda
Kriteria hasil : dan gejala infeksi dan
a. Bebas dari cidera/ melaporkannya pada
komplikasi pemberi pelayanan
b. Mendeskripsikan kesehatan 5. Berikan
aktivitas yang tepat agen imunisasi sesuai
dari level indikasi
perkembangan anak (imunoglobulin
c. Mendeskripsikan hepatitis B dari vaksin
teknik pertolongan hepatitis B bila serum
pertama ibu mengandung
antigen permukaan
hepatitis B (Hbs Ag),
antigen inti hepatitis B
(Hbs Ag) atau antigen
E (Hbe Ag).
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. Jakarta: EGC.

Johnson, M., et all. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC) Fifth Edition. New Jersey:
Upper Saddle River.

Mansjoer,A. 2007. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid II. Jakarta: Media Aesculapius.

Manuaba, Ida Bagus Gde. 2008. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC.

Mc Closkey, C.J., et all. 2008. Nursing Interventions Classification (NIC) Fifth Edition. New
Jersey: Upper Saddle River.

Nurarif, Amir Huda & Hardhi Kusuma. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan

Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC Jilid 1&2.Yogyakarta : Mediaction Publishing.

Ralph dan Rosenberg. 2006. Nursing Diagnosis: Definition and Clasification 2005-2006.
Philadelphila, USA.

Sarwono, Wiknjosastro Hanifa. 2010. Pengantar Ilmu Kebidanan. Ed 3. Jakarta:

Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Sarwono, Wiknjosastro Hanifa. 2011. Pengantar Ilmu Kandungan. Ed 4.

Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Sofian, Amru. 2012. Rustam Mochtar Sinopsis Obstetri : Obstetri Operatif, Obstetri Sosial Ed 3
Jilid 1 & 2. Jakarta : EGC.