Anda di halaman 1dari 24

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................................................... 1
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 2
1.1 Latar Belakang......................................................................................................................... 2
1.2 Tujuan Pengembangan Cengkeh dan Manfaaat ..................................................................... 3
1.3 Permasalahan.......................................................................................................................... 5
A. Pengetahuan Informasi Pasar ................................................................................................. 5
B. Hambatan Masuk Pasar .......................................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN............................................................................................................................... 6
2.1 On Farm......................................................................................................................................... 6
A. Tanaman Cengkeh ...................................................................................................................... 6
B. Jenis – jenis Tanaman Cengkeh............................................................................................... 7
C. Daerah Penanaman Cengkeh .................................................................................................. 8
D. Penanaman dan Pemupukan Cengkeh ................................................................................... 8
3.1 Off Farm .................................................................................................................................. 9
A. Prospek Pengembangan Agroindustri Cengkeh...................................................................... 9
B. Kebutuhan cengkeh untuk industri rokok kretek ................................................................. 10
C. Pengolahan minyak atsiri ...................................................................................................... 12
D. Aspek-Aspek Pengembangan Cengkeh. ................................................................................ 13
BAB III PENUTUP ................................................................................................................................... 24
3. 1 Kesimpulan ............................................................................................................................... 24
3. 2 Saran ........................................................................................................................................ 24

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tanaman cengkeh, (Syzygium aromaticum, syn. Eugenia aromaticum), dalam bahasa


Inggris disebut cloves adalah tangkai bunga kering beraroma dari suku Myrtaceae. Cengkeh
adalah tanaman asli Indonesia, banyak digunakan sebagai bumbu masakan pedas di negara –
negara Eropa, dan sebagai bahan utama rokok kretek khas Indonesia. Cengkeh juga digunakan
sebagai bahan dupa di Tiongkok dan Jepang. Minyak cengkeh digunakan sebagai aroma terapi
dan juga untuk mengobati sakit gigi. Cengkeh di tanam terutama di Indonesia (Kepulauan
Banda) dan Madagaskar, juga tumbuh subur di Zanzibar, India, Sri Lanka. Pohon cengkeh
merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan tinggi mencapai 10 – 20m,
mempunyai daun berbentuk lonjong yang berbunga pada pucuk – pucuknya. Tangkai buah
pada awalnya berwarna hijau, dan berwarna merah jika sudah mekar.
Cengkeh akan dipanen jika sudah mencapai panjang 1,5 – 2cm. Tumbuhan ini adalah
flora identitas Provinsi Maluku Utara, pohonnya dapat tumbuh tinggi mencapai 20 – 30m dan
dapat berumur lebih dari 100 tahun. Tajuk tanaman cengkeh umumnya berbentuk kerucut,
pyramid atau pyramid ganda, dengan batang utama menjulang keatas. Cabang – cabangnya
amat banyak dan rapat, pertumbuhannya agak mendatar dengan ukuran relative kecil jika
dibandingkan batang utama. Daunnya kaku berwarna hijau atau hijau kemerahan dan bentuk
elips dengan kedua ujung runcing. Daun – daun ini biasa keluar setiap periode dalam satu
periode ujung ranting akan mengeluarkan satu set daun yang terdiri dari dua daun yang terletak
saling berhadapan, ranting daun secara keseluruhan akan membentuk suatu tajuk yang indah.
Pada abad keempat, pemimpin Dinasti Han dari Tiongkok memerintahkan setiap orang
yang mendekatinya untuk sebelumnya mengunyah cengkeh, agar harumlah napasnya.
Cengkih, pala dan merica sangatlah mahal pada zaman Romawi. Cengkih menjadi bahan tukar
menukar oleh bangsa Arab di abad pertengahan. Pada akhir abad ke-15, orang Portugis
mengambil alih jalan tukar menukar di Laut India. Bersama itu diambil alih juga perdagangan
cengkih dengan perjanjian Tordesillas dengan Spanyol, selain itu juga dengan perjanjian
dengan sultanTernate. Orang Portugis membawa banyak cengkih yang mereka peroleh dari
kepulauan Maluku ke Eropa. Pada saat itu harga 1 kg cengkih sama dengan harga 7 gram emas.
Perdagangan cengkih akhirnya didominasi oleh orang Belanda pada abad ke-17. Dengan susah
payah orang Prancis berhasil membudayakan pohon Cengkih di Mauritius pada tahun 1770.

2
Akhirnya cengkih dibudayakan di Guyana, Brasilia dan Zanzibar. Pada abad ke-17 dan
ke-18 di Inggris harga cengkih sama dengan harga emas karena tingginya biaya impor. Sebab
cengkih disana dijadikan salah satu bahan makanan yang sangat berkhasiat bagi warga dan
sekitarnya yang mengonsumsi tanaman cengkih tersebut. Sampai sekarang cengkih menjadi
salah satu bahan yang diekspor ke luar negeri. Pohon cengkih yang dianggap tertua yang masih
hidup terdapat di Kelurahan Tongole, Kecamatan Ternate Tengah, sekitar 6 km dari pusat kota
Ternate. Pohon yang disebut sebagai Cengkih Afo ini berumur 416 tahun, tinggi 36,60 m,
berdiameter 198 m, dan keliling batang 4,26 m. Setiap tahunnya ia mampu menghasilkan
sekitar 400 kg bunga cengkih.

1.2 Tujuan Pengembangan Cengkeh dan Manfaaat

Produksi Cengkeh mempunyai peranan yang cukup besar dalam menunjang upaya
peningkatan pendapatan Negara. Saat ini posisi ekspor cengkeh Indonesia menempati urutan
ke tiga setelah negara Tanzania dan Madagaskar. Kebutuhan cengkeh setiap tahun terus
meningkat. Sebagai gambaran tahun 2012 kebutuhan mencapai 120 ribu ton. Di sisi lain,
produksi dalam negeri hanya sekitar 80 ribu ton. Tahun 2015 diperkirakan naik mencapai 130
ribu ton. Untuk ekspor cengkeh pada tahun 2011 sebanyak 5.397 ton dengan nilai USD 16,3
juta, sedangkan impor sebesar 14.979 ton yang nilainya USD 345 juta. Prospek dan potensi
tanaman cengkeh di Indonesia ke depannya akan semakin tinggi mengingat kebutuhan
cengkeh dalam negeri maupun di pasar Internasional meningkat. Meskipun tahun-tahun
terakhir produksi cengkeh naik turun tetapi keberadaan cengkeh masih menjadi komoditas
penting di Indonesia.

Dari Tanaman cengkeh (Eugenia aromaticum) juga bisa dibuat minyak cengkeh,
minyak cengkeh ini dibuat dari tunas bunga yang dikeringkan dimanfaatkan untuk obat obatan
misalnya dijadikan obat sakit gigi dan obat perut kembung.Sifat kimiawi dan efek
farmakologis dari cengkeh adalah hangat, rasanya tajam, aromatik, berhasiat sebagai
perangsang (stimulan), antiseptik, peluruh kentut (icarminative), anestetik lokal,
menghilangkan kolik, dan obat batuk. Kandungan kimia pada cengkeh adalah karbohidrat,
kalsium, fosfor, zat besi, vitamin B1, lemak, protein, dan eugenol.Minyak cengkeh memiliki
manfaat selain sebagai pengharum dan pemberi cita rasa makanan, juga sebagai antibakteri
dan antifungi. cengkeh merupakan salah satu tanaman yang mengandung minyak atsiri,

3
dimana kadar minyak atsiri pada cengkeh lebih tinggi daripada kadar minyak atsiri bunga
Kenanga.

Minyak daun cengkeh merupakan salah satu minyak atsiri yang cukup banyak
dihasilkan di Indonesia dengan cara penyulingan air dan uap. Minyak daun cengkeh berupa
cairan berwarna bening sampai kekuning-kuningan, mempunyai rasa yang pedas, keras, dan
berbau aroma cengkeh. Warnanya akan berubah menjadi coklat atau berwarna ungu jika
terjadi kontak dengan besi atau akibat penyimpanan.Aroma cengkeh yang khas dihasilkan oleh
senyawa eugenol, yang merupakan senyawa utama (72-90%) penyusun minyak atsiri cengkeh.
Eugenol memiliki sifat antiseptik dan anestetik (bius). Selain eugenol, minyak atsiri cengkeh
juga mengandung senyawa asetil eugenol, beta-caryophyllene, dan vanilin.

Terdapat pula kandungan tanin, asam galotanat, metil salisilat (suatu zat penghilang
nyeri), asam krategolat, beragam senyawa flavonoid (yaitu eugenin, kaemferol, rhamnetin,
dan eugenitin), berbagai senyawa triterpenoid (yaitu asam oleanolat, stigmasterol, dan
kampesterol), serta mengandung berbagai senyawa seskuiterpen.

4
1.3 Permasalahan

A. Pengetahuan Informasi Pasar

Dalam hubungannya dengan petani sebagai produsen maupun lembaga pemasaran


komoditas cengkeh, sebelum melakukan tindakan pemasaran, mereka sangat memerlukan
adanya suatu informasi, dalam hal ini informasi yang paling dominan diperlukan adalah
informasi tentang harga, yang akan dipakai sebagai dasar pertimbangan pemasaran. Dimana
informasi – informasi yang diperoleh digunakan dalam pengambilan keputusan yang tepat dan
efektif.

B. Hambatan Masuk Pasar

Dalam pemasaran atau berusahatani komoditas cengkeh tidak ada aturan formal yang
mengatur untuk menjadi pedagang maupun untuk menjadi petani cengkeh. Dalam proses
pemasaran atau berusahatani cengkeh faktor yang paling dominan yaitu terkait dengan sumber
daya yang dimiliki baik berupa lahan, modal tenaga kerja dan keterampilan yang dimiliki oleh
setiap usahawan untuk beraktivitas dalam usahatani komoditas cengkeh.
Ternyata hambatan-hambatan yang dihadapi oleh petani dalam berusahatani cengkeh,
seluruh petani serempak menyatakan sering mengalami masalah yang dihadapi oleh faktor
alam yang meliputi: seringnya terjadi angin kencang pada saat musim panen sehingga akan
berpengaruh langsung terhadap produktivitas, terjadinya hujan lebat pada saat musim panen
sehingga berpengaruh terhadap kualitas cengkeh karena proses penjemuran akan terganggu dan
cengkehpun menjadi rusak, dan yang sekarang sedang menjadi masalah besar bagi petani
cengkeh adalah serangan hama penggerek batang dan akar (subatah malingan) yang sangat
meresahkan petani. Walaupun demikian, semua kendala tersebut bukan menjadi penghambat
masuk (entry) ke industri cengkeh.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 On Farm

A. Tanaman Cengkeh

Tanaman cengkeh merupakan tanaman yang mempunyai banyak manfaat dan kegunaan di
negara kita negara indonesia banyak sekali jenis tanaman cengkih, biasanya tanaman ini
banyak tumbuh di derah pegunungan yang mempunyai iklim yang dapat di tumbuhi tanaman
cengkih, karena tanaman ini sangat banyak mempunyai manfaat dan kegunaan tanaman ini
banyak di cari negara negara asing, oleh karena itu kita sebagai warga negara indonesia perlu
meningkatkan tanaman cengkih, kita perlu merawat mamalihara tanaman cengkih karena
negara kita termasuk pengekspor tanaman cengkih terbanyak di dunia. Cengkeh (Syzygium
aromaticum, syn. Eugenia aromaticum), dalam bahasa Inggris disebut cloves, adalah tangkai
bunga kering beraroma dari suku Myrtaceae.

Tajuk tanaman cengkih umumnya berbentuk kerucut, piramid atau piramid ganda, dengan
batang utama menjulang keatas. Cabang-cabangnya amat banyak dan rapat, pertumbuhannya
agak mendatar dengan ukuran relatif kecil jika dibandingkan batang utama. Daunnya kaku
berwarna hijau atau hijau kemerahan dan berbentuk elips dengan kedua ujung runcing.
Tanaman cengkeh mulai berbunga pada umur 4,5 sampai 8 tahun tergantung dari jenis dan
lingkungannya. Bunga ini merupakan bunga tunggal, berukuran kecil panjang 1-2 cm dan
tersusun dalam satu tandan yang keluar dari ujung-ujung ranting, setiap tandan terdiri dari 2-3
cabang. Bakal bunga biasanya keluar setelah pasangan daun kelima dari satu set daun termuda
telah dewasa atau mencapai ukuran normal fase ini disebut fase mepet tua, bakal bunga ini
kadang-kadang keluar setelah daun pertama, kedua, atau ketiga tidak lagi membentuk bakal
daun, tetapi langsung membentuk bakal bunga fase ini disebut fase mepet muda, bakal bunga
ini bisa dibedakan dari bakal daun yaitu bakal bunga berwarna hijau, berujung tumpul, dan ruas
dibawahnya sedikit membengkak sedangkan bakal daun berwarna merah dan berujung lancip
(Agus, 2004).

Bakal bunga keluar pada musim hujan (Oktober-Desember) bila bakal bunga mulai keluar
dan kekurangan sinar matahari mendung terus menerus atau terjadi penurunan suhu malam
sampai di bawah 17°C, maka bakal bunga akan berubah menjadi bakal daun sehingga ranting
tersebut gagal menghasilkan bunga. Apabila lingkungannya baik bakal bunga akan
berkembang membentuk cabang-cabangnya dalam waktu 1-2 bulan, bila cabang-cabang telah

6
terbentuk dari ujung cabang terakhir akan keluar kuncup-kuncup bunga yang disebut ukuran
kecil, fase ini disebut dengan sebutan mata yuyu, selanjutnya dalam waktu 5-6 bulan setelah
itu (April-Juli), bunga telah matang dan siap untuk dipetik (Soenardi, 1981). Bunga cengkeh
yang tidak dipetik pada saat matang dalam waktu beberapa hari akan mekar biasanya pada pagi
atau sore hari beberapa saat sebelum atau setelah mekar bunga akan segera mengadakan
penyerbukan sendiri atau silang melalui bantuan angin atau serangga (Danarti & Najiyati,
1991). Cengkeh sering digunakan untuk bumbu masakan baik dalam bentuk utuh atau sebagai
bubuk. Bumbu ini digunakan di Eropa dan Asia.(Aksan, 2008).

B. Jenis – jenis Tanaman Cengkeh

Cengkeh di Indonesia dapat digolongkan menjadi 4 yaitu: si putih, sikotak, zanzibar dan
ambon. Dengan pertimbangan bahwa tipe sikotak mirip dengan zanzibar dan siputih mirip
dengan tipe ambon, maka pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri saat ini hanya
memusatkan perhatian pada tipe zanzibar dan tipe ambon, sifat masing-masing tipe cengkeh
itu adalah sebagai berikut:

1. Cengkeh Si Putih

Cengkeh si putih Daun cengkeh si putih berwarna hijau muda (kekuningan) dengan helaian
daun relatif lebih besar. Cabang-cabang utama yang pertama mati sehingga percabangan seolah
baru dimulai pada ketinggian 1,5 -2 m dari permukaan tanah, cabang dan daun jarang sehingga
kelihatan kurang rindang mahkota berbentuk bulat dan agak bulat, relatif lebih besar dari
sikotak dengan jumlah pertandan kurang dari 15 kuntum, Bila bunganya masak tetap berwarna
hijau muda atau putih dan tidak berubah menjadi kemerahan, tangkai bunganya relatif panjang,
mulai berproduksi pada umur 6,5 sampai 8,5 tahun, , produksi dan kualitas bunganya rendah
(Soenardi, 1981) .

2. Cengkeh Si Kotok

Cengkeh si kotok Daun cengkeh si kotak mulanya berwarna hijau muda kekuningan kemudian
berubah menjadi hijau tua dengan permukaan atas licin dan mengkilap, helaian daunnya agak
langsing dengan ujung agak membulat, cabang utama yang pertama hidup, sehingga
percabangan kelihatan rendah sampai permukaan tanah. . Ruas daun dan cabang rapat
merimbun, mahkota bunga berbentuk piramid atau silindris, bunganya relatif kecil dibanding
dengan si putih bertangkai panjang antara 20-50 kuntum pertandan, mulai berbunga pada umur
6,5 sampai 8,5 tahun bunganya berwarna hijau ketika masih muda dan menjadi kuning saat

7
matang dengan pangkal berwarna merah, adaptasi dan produksinya lebih baik dari pada si putih
tetapi lebih rendah dari zanzibar dengan kualitas sedang (Danarti & Najiyati, 1991).

3. Cengkeh Zanzibar

Cengkeh tipe Zanzibar Tipe ini merupakan tipe cengkeh terbaik sangat dianjurkan karena
adanya adaptasi yang luas, produksi tinggi dan berkualitas baik, daun mulanya berwarna merah
muda kemudian berubah menjadi hijau tua mengkilap pada permukaan atas dan hijau pucat
memudar pada permukaan bawah, pangkal tangkai daun berwarna merah bentuk daunnya agak
langsing dengan bagian terlebar tepat di tengah, ruas daun dan percabangan sangat rapat
merimbun, cabang utama yang pertama hidup sehingga percabangannya rapat dengan
permukaan tanah dengan sudut-sudut cabang lancip (kurang dari 45°C) sehingga mahkotanya
berbentuk kerucut, tipe ini mulai berbunga pada umur 4,5 sampai 6,5 tahun sejak disemaikan,
bunganya agak langsing bertangkai pendek ketika muda berwarna hijau dan menjadi
kemerahan setelah matang petik percabangan bunganya banyak dengan jumlah bunga bisa
lebih dari 50 kuntum pertandannya (Soenardi, 1981).

C. Daerah Penanaman Cengkeh

Adapun daerah yang cocok untuk ditanami cengkeh adalah terletak pada ketinggian 0-900 m
dpl paling optimum pada 300-600 m dpl atau terletak pada ketinggian 900m dpl tetapi
menghadap ke laut, suhunya 20-30°C pada malam hari tidak boleh kurang dari 17°C,
mempunyai bulan kering berturut-turut dengan sedikit hujan dan mendung, bulan kering tidak
boleh melibihi 3 bulan berturut-turut kecuali bila tersedia air irigasi yang cukup banyak dan
juga tidak ada curah hujan yang melebihi 50-60 mm/perhari, dan juga tidak adanya kabut pada
musim bunga mencapai fase mata yuyu, tidak ada angin kencang dimusim kemarau tanahnya
juga harus gembur kedalamannya kira-kira lebih dari 2 m, tanah memiliki pH antara 5,5- 6,5,
serta kedalaman air tanah pada musim hujan tidak lebih dangkal dari 3m dari 8m (Danarti &
Najiyati, 1991). 2.3

D. Penanaman dan Pemupukan Cengkeh

Cangkul tanah yang telah diberi ajir dengan ukuran lubang tanam 75x75x75x75 cm. Lakukan
penanaman pada awal musim hujan berikanlah pupuk kandang 25-50 kg yang telah dicampur
dengan 1 pak natural GLIO dan 1,5-2 kg dolomit, campur hingga rata. Masukkan 5-10 kg
campuran tersebut per lubang tanam. Masukkan bibit dan gumpalan tanahnya kedalam lubang
tanam. Masukan bibt dan gumpalan tanahnya kedalam lubang hingga batas leher akar. Beri

8
peneduh buatan setinggi 30 cm dengan idensitas 50%. Siramkan POCNASA secara merata
dengan dosis 2-3ml/liter. Air per debit atau semprot POCNASA dengan cara : 1. Botol
SUPERNASA diecerkan dalam 2 liter (2000 ml) dijadikan larutan induk. Kemudian dalam 1
liter air ditambahkan 10 ml larutan induk kemudian diberikan untuk satu pohonnya.

3.1 Off Farm

A. Prospek Pengembangan Agroindustri Cengkeh

Potensi dan prospek pengembangan agroindustri tanaman cengkeh mengacu pada pohon
industri cengkeh. Saat ini Indonesia merupakan negara produsen, sekaligus konsumen cengkeh
terbesar di dunia. Dua negara lain yang cukup potensial sebagai penghasil cengkeh adalah
Madagaskar dan Zanzibar (Tanzania) yang total produksinya sekitar mencapai 15.000 ton per
tahun.
- Usaha agribisnis hilir yang dapat dilakukan meliputi:
1. Peningkatan mutu bunga cengkeh kering melalui perbaikan penanganan pasca panen
(perontokan, sortasi basah untuk memisahkan bunga dan tangkai bunga dan kotoran,
pengeringan bunga dan tangkai bunga, pengemasan dan penyimpanan).
2. Peningkatan produksi dan mutu tepung bunga cengkeh sebagai rempah bumbu untuk
konsumsi rumah tangga dan industri makanan.
3. Peningkatan produksi dan mutu minyak daun cengkeh dan gagang/tangkai bunga, melalui
perbaikan teknologi penyulingan (destilasi) minyak. Diversifikasi produk minyak daun
cengkeh melalui peningkatan produksi dan mutu eugenol, dengan perbaikan teknologi
isolasi eugenol dan dan diversifikasi produk minyak daun cengkeh melalui peningkatan
produksi dan mutu pestisida nabati (fungisida dan insektisida).
- Kebutuhan Investasi Agroindustri Cengkeh

Tujuan melakukan investasi agribinis cengkeh adalah untuk membuka kesempatan kerja,
meningkatkan pendapatan petani, meningkatkan pemanfaatan produk tanaman cengkeh secara
berkelanjutan untuk mendapatkan nilai tambah, mendorong pengembangan ekonomi wilayah,
meningkatkan pendapatan devisa negara.

Sasaran yang ingin dicapai dalam investasi mencakup : menjaga keseimbangan supply dan
demand cengkeh untuk pabrik-pabrik industri, menciptakan hubungan kemitraan yang adil dan
harmonis antara petani dan industri rokok/pedagang agar tercapai kesepakatan harga yang

9
menguntungkan semua pihak, meningkatkan nilai tambah cengkeh melalui diversifikasi
produk cengkeh.

Olahan Dari Cengkeh

B. Kebutuhan cengkeh untuk industri rokok kretek

Kebutuhan cengkeh untuk industri rokok kretek dapat diturunkan dari produksi rokok kretek
yang dikonversi dengan kebutuhan cengkeh per batang rokok kretek. Kebutuhan cengkeh
untuk setiap jenis produk rokok kretek berbeda-beda dan tentu antar merek juga bervariasi.
Selama ini sigaret kretek tangan (SKT), sigaret kretek mesin (SKM), dan SKM ringan (mild).
masing-masing membutuhkan cengkeh berturut-turut sekitar 0,70 g, 0,40 g, dan 0,25 g per
batang rokok. Jika menggunakan rata-rata tertimbang 2011 maka kebutuhan cengkeh menjadi
0,416 g sedikit turun dari tahun sebelumnya 0,418 g per batang.

10
Penurunan kebutuhan cengkeh per batang rokok kretek ini terjadi karena pergeseran struktur
atau komposisi konsumsi rokok kretek yang terus terjadi akibat perubahan selera konsumen
yang makin banyak yang memilih rokok kretek yang lebih ringan, akibatnya terjadi juga
pergeseran komposisi produksi rokok kretek yang mana SKM dan mild semakin mendominasi.

Kecenderungan ini diperkirakan akan terus berlanjut sehingga kebutuhan cengkeh rata-rata
tertimbang pada tahun 2015 bisa hanya mencapai 0,30 g per batang.

Kebutuhan cengkeh secara total masih akan terus meningkat karena produksi rokok kretek juga
bertambah terus, walaupun kebutuhan per batangnya turun. Pada tahun 2012, kebutuhan
cengkeh sudah lebih dari 120 ribu ton dan tiga tahun kemudian yaitu pada tahun 2015
diperkirakan sudah menembus 130 ribu ton.

Perkiraan kebutuhan cengkeh selama ini selalu jauh lebih tinggi 10-30 ribu ton daripada
produksi cengkeh nasional, kemungkinan karena data produksi terlalu rendah (underestimate).
Memang perusahaan rokok kretek menyimpan cengkeh sebagai stok untuk memenuhi
kebutuhan tahun berikutnya, tetapi hal ini hanya bisa terjadi jika defisit kebutuhan cengkeh
dalam satu sampai dua tahun, tidak secara terus menerus.

11
C. Pengolahan minyak atsiri

Produk utama tanaman cengkeh adalah bunga cengkeh dan hasil ikutannya adalah gagang
dan daun cengkeh. Bunga cengkeh, gagang cengkeh dan daun cengkeh dapat menghasilkan
minyak atsiri, namun kandungan minyak atsiri dari bunga cengkeh jauh lebih banyak, yaitu
sekitar 15-20%, sementara kandungan minyak atsiri dari gagang cengkeh hanya 5-7% dan daun
cegkeh 1-4%. Rendemen dan mutu minyak yang dihasilkan tergantung dari mutu bahan baku,
penanganan bahan sebelum penyulingan, cara dan proses penyulingan.
Minyak atsiri dari bunga cengkeh dapat diperoleh dengan cara penyulingan. Cara
penyulingan yang paling sederhana untuk memperoleh minyak bunga cengkeh adalah dengan
penyulingan air dan uap air (dikukus). Untuk mendapatkan minyak bunga cengkeh yang tinggi
diperlukan kecepatan penyulingan sebesar 0,80 liter/jam/kg bunga cengkeh. Penyuliingan
gagang cengkeh dengan menghancurkan gagang cengkeh sebelum disuling akan menghasilkan
rendemen yang lebih tinggi.
Minyak bunga cengkeh mengandung eugenol 70-90 %, eugenol asetat 17%, α-kariofilen
5-12 % sedangkan minyak atsiri dari gagang cengkeh mengandung eugenol 83-95%, b-
kariofilen 18 %, sedangkan kandungan eugenol asetat dari gagang dan daun cengkeh jauh lebih
rendah bila dibandingkan bunga cengkeh. Eugenol asetat ini merupakan ester yang aromanya
lebih harum bila dibandingkan eugenol dan α-kariofilen, oleh karena itu aroma minyak atsiri
yang berasal dari bunga cengkeh lebih baik bila dibandingkan dengan gagang cengkeh dan
daun cengkeh.
Eugenol banyak digunakan dalam industri makanan dan industri farmasi. Dalam industri
makanan banyak digunakan sebagai bahan penyedap. Dalam industri farmasi, eugenol banyak

12
digunakan sebagai obat gigi karena dapat menyembuhkn radang gusi. Eugenol juga
mempunyai aktivitas antibiotic melawan jamur dan bakteri. Eugenol bila direaksikan dengan
pereaksi tertentu dapat diubah menjadi iso-eugenol yang penggunaannya cukup banyak. Dari
isoeugenol dapat diubah menjadi vanillin sintetis. Eugenol asetat banyak digunakan oleh
industri parfum dan kosmetika sedangkan β- kariofilen digunakan sebagai bahan baku dalam
industri kimia untuk mensintesa senyawa-senyawa lainnya.
Cara memperoleh minyak daun cengkeh yaitu dengan destilasi. Derivat minyak daun
cengkeh yang sudah dihasilkan dan diekspor Indonesia antara lain berupa Caryophyllene (clove
terpenes), β-cariophyllene, clove oil rectified, clove oil redistileled, eugenol technical eugenol
USP, Iso-Eugenol.

D. Aspek-Aspek Pengembangan Cengkeh.

1. Aspek Hukum

Aspek hukum adalah suatu gejala sosial yang nyata lahir dari realita dalam kehidupan
bermasyarakat substansial. Perhatian yang memadai terhadap aspek hukum saat pengambilan
keputusan Bisnis akan banyak membawa manfaat dalam menyikapi, menyiasati, atau
mengendalikan setiap keadaan, sehingga kemungkinan munculnya permasalahan, risiko atau
kerugian dikemudian hari dapat dihindari atau diperkecil. Baik permasalahan yang terjadi itu
sifatnya internal maupun eksternal. Artinya, baik permasalahan yang terjadi antara karyawan
dengan perusahaan maupun perusahaan dengan lingkungan.

Maka dari itu, keperluan yang bersifat hukum perlu disiasati sejak awal. Contoh untuk
keperluan internal adalah kontrak kerja yang diberikan kepada karyawan. Kontrak kerja
tersebut harus dituliskan sebaik dan sejelas mungkin agar segala permasalahan yang terjadi
dijawab oleh kontrak yang berkekuatan hukum tersebut. Sedangkan, untuk yang
kepentingannya eksternal, dalam hal ini lingkungan luar, perlu menyiasati tentang bagaimana
menghindari perselisihan antara perusahaan dengan lingkungan di sekitarnya. Dan menjawab
kegelisahan masyarakat yang ada di sekitarnya tentang bagaimana legalitas perusahaan
tersebut dengan membuat izin-izin perusahaan seperti di bawah ini :

- Izin lokasi : sertifikat (akte tanah), bukti pembayaran PBB yang terakhir, rekomendasi dari
RT / RW / Kecamatan.

13
- Izin usaha : Akte pendirian perusahaan dari notaris setempat PT/CV atau berbentuk badan
hukum lainnya, NPWP (nomor pokok wajib pajak), Surat tanda daftar perusahaan, Surat
izin tempat usaha dari pemda setempat, Surat tanda rekanan dari pemda setempat, SIUP
setempat, Surat tanda terbit yang dikeluarkan oleh Kanwil Departemen.

Serta kelengkapan hukum yang lainnya yang dianggap perlu. Persiapan matang tentang hukum
dalam bisnis memang rumit di awal, tapi akan memberikan keuntungan dan kemudahan
dikemudian hari.

2. Aspek Pasar

a. Permintaan

Minyak daun cengkeh memiliki pasar yang sangat luas terutama di pasar internasional. Di
wilayah Kulon Progo, permintaan minyak daun cengkeh oleh pedagang pengumpul, yaitu PT.
Djasula Wangi di Solo, CV. Indaroma di Yogyakarta, dan PT. Prodexco di Semarang. Dari
informasi yang terakhir dikumpulkan, permintaan minyak daun cengkeh selalu meningkat dan
sering terjadi kelebihan permintaan yang tidak dapat dipenuhi oleh kapasitas produksi industri
kecil minyak daun cengkeh yang terbatas. Permintaan dalam jumlah besar untuk waktu yang
singkat biasanya diusahakan secara berkelompok. Pemanfaatan minyak cengkeh, untuk dunia
industri memang cukup luas. terutama untuk keperluan industri farmasi atau obat- obatan.

b. Penawaran

Dari segi penawaran, suplai minyak daun cengkeh relatif masih kurang. Masih diperlukan
tambahan produksi untuk memenuhi permintaan pasar. Selain Kabupaten Kulon Progo, sentra
produksi pengolahan minyak daun cengkeh juga terdapat di Kabupaten Blitar dan Trenggalek.
Produksi minyak daun cengkeh dari daerah Blitar cukup besar, dengan rata-rata setiap tahunnya
mencapai 80 ton. Berdasarkan data Dinas Perindustrian Pertambangan dan Perdagangan
(Disperindag) Kabupaten Blitar, produksi rata-rata 80 ton per tahun itu hanya dihasilkan oleh
5 unit industri yang semuanya tergolong industri kecil. Sentra produksinya berada di wilayah
Kecamatan Doko. Potensi usaha minyak daun cengkeh masih sangat luas di Indonesia terutama
di daerah-daerah yang dekat dengan sumber bahan baku.

c. Analisis Persaingan dan Peluang Pasar

14
Tingkat persaingan minyak daun cengkeh Indonesia di pasar internasional terutama
ditentukan oleh kualitas minyak daun cengkeh yang dihasilkan Indonesia dan negara-negara
pesaing, seperti Madagaskar, Tanzania dan Srilanka. Negara penghasil minyak atsiri bukan
hanya berasal dari negara-negara berkembang saja, seperti Cina, Brasil, Indonesia, India,
Argentina dan Meksiko melainkan juga negara maju, seperti Amerika Serikat, Perancis,
Jerman, Italia, dan Inggris. Perbedaannya, negara-negara berkembang lebih banyak
memproduksi minyak atsiri menjadi bahan setengah jadi dan kemudian mengekspornya ke
negara maju. Lain halnya yang dilakukan oleh negara maju. Meskipun mereka mengimpor
bahan setengah jadi dari negara berkembang untuk diolah menjadi barang jadi, mereka
mengekspornya sebagian kembali ke negara-negara lain termasuk negara berkembang dalam
bentuk barang jadi dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Namun demikian, peluang pasar
minyak daun cengkeh masih terbuka luas terutama di pasar dunia yang volume permintaannya
terus meningkat.

Pemasaran minyak daun cengkeh dapat melalui para pedagang pengumpul maupun
langsung ke pihak produsen barang jadi yang membutuhkan. Namun pada umumnya jalur
penjualan ke pedagang pengumpul relatif lebih mudah. Harga yang ada di pasar perdagangan
minyak daun cengkeh dalam negeri juga relatif stabil.

1. Harga

Harga minyak daun cengkeh relatif stabil pada tahun 2002 dan 2003. Pada awal tahun
2002 harga minyak daun cengkeh mencapai Rp 29.500,- dan pada tahun 2003 berfluktuasi
antara Rp 23.000,- sampai Rp 25.000,- per kilogram. Harga tersebut juga cenderung stabil
hingga memasuki tahun 2004. Fluktuasi harga minyak daun cengkeh sedikit banyak juga
dipengaruhi oleh fluktuasi nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Pada saat krisis tahun
1997, harga minyak daun cengkeh bisa mencapai Rp 57.000,- per kilogram (data primer).
Berdasarkan data primer lapangan yang diperoleh, para pengusaha minyak daun cengkeh
memperkirakan harga untuk kondisi breakeven point (BEP) atau impas adalah sekitar Rp
20.000,- per kilogram. Dengan melihat selisih harga pada kondisi BEP dengan harga jual di
pasar, maka usaha ini cukup menjanjikan.

15
2. Jalur Pemasaran

Secara umum, jalur pemasaran minyak daun cengkeh tidak berbeda dengan komoditi pertanian
lainnya. Di pemasaran dalam negeri, produsen menjual produk ke pedagang pengumpul atau
agen eksportir. Barulah kemudian produk tersebut sampai ke tangan eksportir. Seperti telah
disebutkan sebelumnya, sebagian besar perdagangan minyak daun cengkeh adalah untuk
ekspor. Pada praktiknya, keadaan pasar sering dipengaruhi oleh orang yang pertama kali
melakukan proses transaksi. Ada beberapa situasi pemasaran yang terjadi. Pertama, pihak
produsen langsung menjual produk ke tengkulak, pedagang perantara, atau agen eksportir.
Dalam hal ini, produsen memiliki posisi tawar yang lemah. Harga lebih banyak dipengaruhi
oleh pembeli. Situasi kedua, pihak pembeli yang mencari produsen. Pada situasi ini, produsen
dapat memperoleh harga yang relatif lebih baik. Hal ini seringkali terjadi, terbukti dengan
adanya pemesanan dengan uang muka terlebih dahulu oleh pembeli kepada produsen
sementara minyak daun cengkeh masih pada proses produksi. Jalur pemasaran minyak daun
cengkeh dari pengusaha pengolahan sebagian besar ditampung terlebih dahulu oleh para
pengumpul. Dari survai di wilayah Kulon Progo, setidaknya ada tiga perusahaan pengumpul
yang cukup besar, yaitu PT Djasula Wangi di Solo, CV Indaroma di Yogyakarta, dan PT
Prodexco di Semarang.

Untuk jalur pemasaran luar negeri ada beberapa pihak yang mungkin terlibat, yaitu pemakai
(end-user), broker murni, broker merangkap trader, dan pedagang (trader). Jalur perdagangan
minyak daun cengkeh dapat digambarkan sebagaimana terdapat pada Gambar 3.1. Pemasaran
tersebut juga dapat menjadi lebih pendek. Produsen menjual minyak daun cengkeh pada
pedagang kecil dan pedagang besar dan kedua jenis pedagang tersebut langsung menjualnya
pada eksportir

16
3. Kendala Pemasaran

Kendala pemasaran yang utama pada minyak daun cengkeh ini adalah mata rantai
perdagangan yang cukup panjang. Para pengusaha pengolahan minyak daun cengkeh masih
mengalami kesulitan untuk memasok langsung ke eksportir atau end-user. Akibat panjangnya
rantai perdagangan ini adalah ketidakseragaman mutu yang ditetapkan. Faktor yang harus
diperhatikan dalam upaya pemasaran minyak daun cengkeh, terutama untuk tujuan ekspor
adalah dengan memperhatikan kualitas, harga yang kompetitif dan keberlangsungan produksi.
Secara umum, kendala pemasaran minyak daun cengkeh disebabkan oleh tiga hal, yaitu:

- mutu yang rendah karena sifat usaha penyulingan minyak daun cengkeh yang umumnya
berbentuk usaha kecil dengan berbagai keterbatasan modal dan teknologi
- pemasaran dalam negeri masih bersifat buyer market (harga ditentukan pembeli) karena
lemahnya posisi tawar pengusaha pengolah, dan
- harga yang berfluktuasi (dalam dan luar negeri) akibat tidak terkendalinya produksi dalam
negeri dan persaingan negara sesama produsen.

3. Aspek Produksi

a. Lokasi Usaha

Minyak atsiri dapat diproduksi dengan berberapa cara, seperti penyulingan, ekstraksi
dengan menggunakan pelarut dan metode pengempaan. Cara yang umum digunakan
pengusaha kecil adalah dengan proses penyulingan atau hidrodestilasi yang relatif lebih murah
dan menggunakan peralatan yang sederhana. Penentuan lokasi usaha sangat berpengaruh
terhadap keberlangsungan hidup suatu usaha. Semakin dekat lokasi usaha dengan sumber
bahan baku atau input-input lainnya, maka usaha tersebut memiliki peluang yang lebih besar
untuk hidup dan memperoleh profit yang lebih besar karena biaya transportasi dapat ditekan
serendah mungkin. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh usaha pengolahan minyak
daun cengkeh agar dapat berkelanjutan.

Pertama, lokasi usaha yang berdekatan dengan lokasi sumber bahan baku. Dekat dalam hal ini
berarti mudah untuk memperoleh bahan baku dengan harga yang normal (tidak terlalu mahal
karena biaya transportasi yang tinggi).

17
Kedua, dekat dengan sumber air. Air merupakan bahan input yang dibutuhkan dalam jumlah
besar untuk usaha pengolahan minyak daun cengkeh. Air tersebut berfungsi sebagai pendingin
pada proses kondensasi dari uap menjadi cair yang terdiri dari minyak daun cengkeh dan air.

Ketiga, kemudahan memperoleh bahan bakar. Ketersediaan bahan bakar harus cukup. Dalam
penyulingan minyak daun cengkeh secara umum pembakaran (pemanasan) harus terus
menerus dan tetap agar mutu hasil terjaga. Minyak daun cengkeh juga memiliki keuntungan
yang dapat menghemat biaya bahan bakar.

b. Fasilitas Produksi dan Peralatan

Ada beberapa alat dan peralatan produksi yang diperlukan dalam proses pengolahan minyak
daun cengkeh. Fasilitas produksi yang utama adalah ketel dari platbesi (plateser), tungku dan
kondensor .

c. Bahan Baku

Bahan baku utama yang digunakan pada minyak daun cengkeh adalah daun cengkeh kering
yang sudah gugur. Ini menyebabkan usaha minyak daun cengkeh bersifat musiman karena
sangat tergantung pada ketersediaan bahan baku. Pada musim kemarau ketersediaan bahan
baku melimpah dan sebaliknya pada musim penghujan terjadi kekurangan suplai bahan baku.
Beberapa pengusaha pengolahan minyak daun cengkeh mengantisipasinya dengan menyimpan
sebagian hasil produksinya untuk dijual pada saat mereka tidak dapat melakukan proses
produksi dengan harga yang lebih baik. Pada umumnya, proses produksi dapat dilakukan 5-6
bulan dalam satu tahun.

d. Tenaga Kerja

Tenaga kerja yang diperlukan dalam proses produksi relatif tidak terlalu banyak. Tenaga untuk
proses produksi hanya membutuhkan 3 orang per proses penyulingan. Jika dalam 1 hari
pengusaha melakukan 2 kali proses penyulingan maka diperlukan 6 orang pekerja tidak tetap
per hari per ketel (diasumsikan pengusaha memiliki dua buah ketel). Para pekerja tersebut
biasanya dibayar secara borongan untuk satu kali proses penyulingan. Proses penyulingan
tersebut membutuhkan waktu antara 6 sampai 8 jam dan dalam satu hari dapat dilakukan 2
hingga 3 kali penyulingan per ketel.

18
e. Teknologi

Teknologi yang digunakan dalam proses produksi pengolahan minyak daun cengkeh ini
termasuk teknologi sederhana atau tradisional. Proses yang umum digunakan adalah
penyulingan dengan uap air.

f. Proses Produksi

1. Penyiapan Bahan Baku


Daun cengkeh yang digunakan merupakan daun yang sudah gugur, kering, masih utuh dan
bersih.
2. Penyulingan
Penyulingan dengan menggunakan uap air adalah cara yang paling banyak digunakan.
Cara ini hanya cocok untuk jenis minyak atsiri yang tidak rusak oleh panas uap air. Salah
satunya adalah minyak daun cengkeh.
3. Jumlah, Jenis Dan Mutu Produksi
Hasil penyulingan 1,3 ton daun cengkeh kira-kira akan menghasilkan 35 kg minyak daun
cengkeh. Jika dalam sehari dapat dilakukan 2 kali penyulingan, maka satu ketel dapat
menghasilkan 70 kg minyak daun cengkeh per hari.
Minyak daun cengkeh dapat dibedakan berdasarkan mutunya. Mutu minyak daun cengkeh
dipengaruhi setidaknya oleh 3 hal. Pertama, pemilihan bahan baku. Daun cengkeh yang
kering, bersih dan tidak tercampur bahan-bahan lain akan menghasilkan minyak sesuai
dengan yang diinginkan. Kedua, proses produksi. Mutu minyak daun cengkeh dipengaruhi
oleh kondisi peralatan yang digunakan dan waktu proses penyulingan. Ketel dengan bahan
anti karat akan menghasilkan minyak daun cengkeh yang lebih baik dibandingkan
penyulingan dengan menggunakan ketel yang terbuat dari besi plat biasa, apalagi dengan
menggunakan drum-drum kaleng biasa. Waktu penyulingan yang lebih singkat juga
mempengaruhi kualitas minyak daun cengkeh yang dihasilkan. Ketiga, penanganan hasil
produksi. Minyak daun cengkeh yang seharusnya ditampung dan disimpan dalam kemasan
dari bahan gelas, plastik atau bahan anti karat lainnya akan menurun kualitasnya jika hanya
disimpan dalam kemasan dari logam berkarat. Minyak daun cengkeh mudah beroksidasi
dengan bahan logam.

19
g. Produksi Optimum

Produksi minyak daun cengkeh yang optimum tergantung pada kapasitas ketel yang digunakan.
Ketel dengan kapasitas 1,3 ton daun cengkeh dapat menghasilkan kurang lebih 35 kg minyak
daun cengkeh. Dengan menggunakan dua ketel dan dua kali proses suling per ketel maka dalam
sehari dapat dihasilkan minyak daun cengkeh sebanyak 1,4 kwintal.

h. Kendala Produksi

Kendala produksi utama yang dihadapi oleh pengusaha minyak daun cengkeh ini terutama
terkait dengan pengadaan bahan baku yang bersifat musiman. Ketersediaan bahan baku daun
cengkeh sangat tergantung pada musim. Pada musim penghujan, pasokan bahan baku bisa
dikatakan tidak ada sehingga para pengusaha tidak berproduksi. Hambatan yang kedua adalah
kapasitas produksi yang masih sangat terbatas. Seringkali pengusaha kecil penyulingan minyak
daun cengkeh di pedesaan tidak dapat memenuhi permintaan konsumen dalam jumlah besar
pada waktu tertentu.

4. Aspek Keuangan

Bisnis minyak cengkeh ini membutuhkan analisa usaha yang tepat supaya kegiatan usaha
semakin lancar dan mudah. Jadi, silahkan disimak dengan baik analisa pada peluang bisnis
minyak cengkeh dibawah ini :

Asumsi :

 Masa penggunaan pada mesin penyuling minyak selama waktu 4 tahun


 Masa penggunaan pada tungku selama waktu 4 tahun
 Masa penggunaan pada wadah selama waktu 3 tahun
 Masa penggunaan pada penyaring minyak selama waktu 4 tahun
 Masa penggunaan pada penutup botol selama waktu 3 tahun
 Masa penggunaan pada peralatan tambahan selama waktu 2 tahun

Peralatan Harga

Mesin penyuling minyak Rp. 15,000,000

Tungku Rp. 1,200,000

Wadah Rp. 650,000

20
Penyaring minyak Rp. 350,000

Penutup botol Rp. 150,000

Peralatan tambahan Rp. 450,000

Jumlah Investasi Rp. 17,800,000

Biaya Operasional per Bulan

Biaya Tetap Nilai

Penyusutan mesin penyuling minyak 1/48 x Rp.


Rp. 312,500
15.000.000

Penyusutan tungku 1/48 x Rp. 1.200.000 Rp. 25,000

Penyusutan wadah 1/36 x Rp. 650.000 Rp. 18,056

Penyusutan penyaring minyak 1/48 x Rp. 350.000 Rp. 7,292

Penyusutan penutup botol 1/36 x Rp. 150.000 Rp. 4,167

Penyusutan peralatan tambahan 1/24 x Rp. 450.000 Rp. 18,750

Total Biaya Tetap Rp. 385,764

Biaya Variabel

Daun Cengkeh Rp. 300,000 x 30 = Rp. 9,000,000

Botol Rp. 150,000 x 30 = Rp. 4,500,000

Bahan bakar Rp. 150,000 x 30 = Rp. 4,500,000

Biaya listrik Rp. 100,000 x 1 = Rp. 100,000

Biaya air Rp. 65,000 x 1 = Rp. 65,000

Biaya tambahan lain Rp. 145,000 x 30 = Rp. 4,350,000

Total Biaya Variabel Rp. 22,515,000

21
Total Biaya Operasional

Biaya tetap + biaya variabel Rp. 22,900,764

Pendapatan per
Bulan

Penjualan rata – rata =

30 botol x Rp. 30,000 = Rp. 900,000

Rp. 900,000 x 30 hr = Rp. 27,000,000

Keuntungan per Bulan

Laba = Total Pendapatan – Total Biaya Operasional

Rp. 27,000,000 – 22,900,764 = Rp. 4,099,236

Lama Balik Modal

Total Investasi /
Rp. 17,800,000 : 4,099,236 = 4 bln
Keuntungan =

Usaha minyak cengkeh ini mampu menghasilkan keuntungan besar contohnya saja pada
analisa usaha diatas bila mampu menjual minyak atsiri 30 botol seharga Rp. 30.000 maka
akan mendapatkan hasil Rp. 27.000.000 setiap bulan. Sehingga lama balik modalnya sekitar 4
bulanan.

5. Aspek Sosial Ekonomi

Usaha penyulingan minyak daun cengkeh merupakan merupakan komoditi yang dapat
diunggulkan di pasar internasional. Meskipun kontribusinya relatif rendah dibandingkan
komoditi yang lain, namun setidaknya ekspor minyak daun cengkeh ini telah memberikan
pemasukan devisa di atas satu juta dolar per tahun sejak tahun 1988. Rendahnya nilai ekspor
ini disebabkan karena rendahnya hasil produksi yang sangat dipengaruhi oleh musim. Dari sisi

22
permintaan, permintaan minyak daun cengkeh masih tinggi sehingga peluang untuk
mengembangkan dan membuka usaha penyulingan minyak daun cengkeh di daerah lain di
Indonesia masih memiliki potensi pasar yang terbuka luas.

Dari aspek ketenagakerjaan, usaha penyulingan minyak daun cengkeh ini tidak menyerap
jumlah tenaga kerja yang banyak. Tetapi memiliki pengaruh ke belakang (backward effect)
setidaknya pada usaha pembuatan peralatan dan petani cengkeh yang menjadi pemasok bahan
baku. Usaha ini pun memiliki nilai tambah yang tinggi.

Penyerapan tenaga kerja dari usaha ini dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar di pedesaan
yang umumnya petani dan memiliki dampak langsung terhadap peningkatan pendapatan dan
ekonomi mereka. Dengan berkurangnya pengangguran secara langsung akan berdampak pada
kondisi sosial masyarakat seperti penurunan tingkat kriminalitas.

6. Aspek Dampak Lingkungan

Usaha pengolahan minyak daun cengkeh menghasilkan limbah cair yang tidak berbahaya dan
dapat ditoleransi lingkungan. Limbah cair tersebut adalah air sisa penyulingan. Jika proses
pemisahan air dan minyak daun cengkeh berlangsung dengan sempurna, maka air yang tersisa
tidak berdampak buruk pada lingkungan. Limbah padat yang lain adalah abu daun kering sisa
pembakaran yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Secara umum, usaha penyulingan
minyak daun cengkeh ini termasuk usaha yang ramah lingkungan.

23
BAB III
PENUTUP

3. 1 Kesimpulan

Banyak Industri-industri asli Indonesia yang berkembang secara terus-menerus dan


sebagian besar menggunakan sumberdaya dalam negeri. Cengkeh merupakan bahan
baku utama yang dalam lima tahun terakhir cenderung tidak dapat dipenuhi
kebutuhannya, sehingga harga cengkeh meningkat tajam. Perkiraan kebutuhan cengkeh
ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mendorong produksi cengkeh nasional (Agus
Wahyudi/Peneliti Balittro)

3. 2 Saran

1. Perlu ada penganekaragaman usaha pada lokasi penelitian agar kegagalan pendapatan
dari satu cabang usaha dapat menutupi pendapatan dari usahatani lainnya dalam
mempertahankan tingkat pendapatan rumah tangga sekaligus mempertahankan
tingkat kesejahteraan petani.
2. Perlu ada penyuluhan dan pelatihan guna meningkatkan kemampuan berusahatani
serta peningkatan menejement usahatani para pelaku usahatani dalam
mengembangkan usahanya.
3. Perlu diterapkan pola pemasaran satu pintu dimana kebijakan harga cengkeh dapat
diatur agar tidak cendrung menurun.

24