Anda di halaman 1dari 18

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi Kulit

Kulit adalah lapisan atau jaringan yang menutup seluruh tubuh dan melindungi

tubuh dari bahaya yang berasal dari luar. Kulit merupakan salah satu dari sistem

imun. Kulit dibagi menjadi 3 lapisan yaitu epidermis, dermis, dan subkutan.

a. Epidermis

Epidermis merupakan lapisan terluar dari kulit. Lapisan epidermis adalah epitel

berkeratin yaitu epitel dengan suatu lapisan superfisial keras, bertanduk yang

membentuk permukaan luar protektif diatas lapisan basal atau profunda

berpigmen dan regeneratif. Epidermis tidak memiliki pembuluh darah.

Epidermis avaskular mendapat nutrisi dari dermis yang memiliki vaskularisasi.

Kulit juga disuplai ujung saraf aferen yang sensitif terhadap sentuhan, nyeri,

dan temperatur. Sebagian besar terminal saraf berada pada dermis, tetapi

beberapa ada yang menembus ke epidermis. Lapisan epidermis terdiri atas

stratum korneum, stratum lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum,

dan stratum basale. Stratum korneum adalah lapisan kulit yang paling luar dan

terdiri atas beberapa lapisan sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti, dan telah

berubah menjadi keratin (zat tanduk). Stratum lusidum terdapat langsung di

bawah lapisan korneum, merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti lapisan

tersebut tampak lebih jelas di telapak tangan dan kaki, selanjutnya ada
stratum granulosum, stratum spinosum, dan stratum basal (Moore et al, 2002 &

Paulsen et al, 2013).

b. Dermis

Dermis merupakan suatu lapisan padat berisi jalinan serabut elastik dan

kolagen. Terdiri dari pars papilare adalah bagian yang menonjol ke epidermis,

berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah. Serabut tersebut memberi tonus

kulit dan menyebabkan kekuatan dan kekerasan pada kulit. Lapisan dalam

dermis (pars retikulare) mengandung folikel rambut, dengan otot polos arektor

dan kelenjar sebasea. Kontraksi otot polos arektor rambut (ligamentum musculi

arektor pili) membuat rambut berdiri pada saat merinding (Moore et al, 2002 &

Paulsen et al, 2013).

c. Jaringan subkutan

Sebagian besar terdiri dari jaringan penyambung longgar dan simpanan lemak,

dan mengandung kelenjar keringat, pembuluh darah superfisial, pembuluh

limfe. (Moore et al, 2002 & Paulsen et al, 2013).

3.2 Traumatologi

Traumatologi adalah bagian ilmu kedokteran forensik yang mempelajari derajat

keparahan luka/cedera, hubungan luka/cedera dengan kekerasan penyebabnya

serta kaitannya dengan hukum. Sementara luka adalah suatu keadaan

ketidaksinambungan jaringan tubuh akibat kekerasan. Kekerasan dapat dibedakan


berdasarkan sifatnya, yaitu mekanik (kekerasan oleh benda tajam, kekerasan oleh

benda tumpul, dan tembakan senjata api), fisika (suhu, listrik dan petir, perubahan

tekanan udara, akustik, dan radiasi), dan kimia (asam atau basa kuat) (James et al,

2011).

Trauma yang disebabkan oleh kekuatan fisik dapat dibagi kedalam dua kelompok,

yaitu trauma tumpul dan trauma tajam. Trauma tumpul merupakan trauma yang

tidak disebabkan oleh instrumen, objek atau alat dengan ujung tajam. Sifat

kekuatan yang mungkin termasuk pukulan (dampak), traksi, torsi dan oblik atau

geser. Trauma tumpul mungkin dapat menimbulkan (James et al, 2011):

 tidak ada luka

 tenderness, suatu rasa nyeri atau tidak nyaman pada palpasi di area cedera

 rasa nyeri

 kemerahan (eritema)

Gambar 1. Kemerahan (eritema) berkaitan dengan pukulan tumpul pada sisi luar
mata kiri (James et al, 2011)

 swelling (edema)
Gambar 2. Swelling (oedema) akibat pukulan multipel pada sisi kiri wajah
(James et al, 2011)

 memar (kontusio)

Gambar 3. Memar (kontusio) (a) setelah pukulan langsung (b) resolusi memar
setelah 5 hari (James et al, 2011)

 abrasi (luka gores)

Gambar 4. (a) abrasi (luka gores) dengan kedalaman bervariasi disebabkan oleh
benturan dengan permukaan tidak rata (b) abrasi linear akibat goresan kuku
(James et al, 2011)
 fraktur

Luka akibat kekerasan benda tumpul

Luka jenis ini disebabkan benda yang memiliki permukaan tumpul.

a. Memar

Memar adalah perubahan warna permukaan kulit akibat masuknya darah

kedalam jaringan bawah kulit karena pecahnya kapiler dan vena. Dua kejadian

penting yang terjadi sebelum timbul memar adalah kerusakan pembuluh darah

dan rembesan darah kedalam jaringan sekitar. Memar paling sering terlihat di

kulit, namun dapat juga terjadi pada jaringan yang lebih dalam termasuk otot

dan organ internal. Faktor yang mempegaruhi letak, bentuk, dan luas luka

memar yaitu besarnya kekerasan, jenis benda penyebab, kondisi dan jenis

jaringan, usia, jenis kelamin, corak dan warna kulit, kerapuhan pembuluh darah,

dan penyakit. Perubahan warna pada luka memar dapat secara kasar digunakan

untuk memperkirakan usianya. Saat timbul,memar berwarna merah, kemudian

berubah menjadi ungu atau hitam, setelah 4 sampai 5 hari akan berwarna hijau

kemudian berubah menjadi kuning dalam 7 sampai 10 hari, dan menghilang

dalam 14 sampai 15 hari (Budiyanto et al, 1997).

b. Luka lecet

Luka lecet terjadi akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda

yang memiliki permukaan kasar atau runcing. Sering terjadi pada kecelakaan
lalu lintas, tubuh terbentul aspal, atau benda tersebut yang bergerak dan

menyentuh kulit. Luka lecet diklasifikasikan sebagai berikut:

 Luka lecet gores : luka lecet ini disebabkan oleh benda runcing yang

menggeser lapisan permukaan kulit di depannya, sehingga lapisan terangkat.

 Luka lecet serut : luka lecet ini merupakan variasi luka lecet gores dengan

daerah persentuhan dengan permukaan kulit lebih lebar. Letak tumpukan

epitel menunjukkan arah kekerasan.

 Luka lecet tekan : luka lecet ini disebabkan penjejakan benda tumpul pada

kulit, sehingga sering digunakan utuk megidentifikasi benda penyebab luka

yang khas karena bentuk luka menyerupai, seperti gigitan, kisi-kisi radiator

mobil, dan lain sebagainya. Luka ini berwarna lebih gelap dari jaringan

sekitar.

 Luka lecet geser : luka lecet ini disebabkan tekanan linier pada kulit

disertai gerakan bergeser, seperti pada kasus gantung atau jerat (Budiyanto

et al, 1997).

c. Luka robek

Luka robek merupakan luka terbuka akibat trauma benda tumpul yang

menyebabkan kulit teregang ke satu arah dan batas elastisitas kulit terlampaui.

Ciri luka ini umumnya tidak beraturan, tepi atau dinding tidak rata, tampak

jembatan jaringan antara kedua tepi luka, bentuk dasar luka tidak beraturan,

sering tampak luka lecet atau luka memar di sisi luka (Budiyanto et al, 1997).
3.3 Penganiayaan

Untuk mengetahui peyebab luka/sakit dan derajat parahnya luka atau sakit pada

korban hidup maka diperlukan pemeriksaan kedokteran forensik. Hal ini

dimaksudkan utuk memenuhi rumusan delik dalam KUHP, Oleh karena itu catatan

medik pada setiap pasien harus lengkap hasil pemeriksaannya, terutama korban

yang diduga tindak pidaa. Hal ini diperlukan untuk pembuatan visum et repertum.

Korban dengan luka ringan dapat merupakan hasil dari tindak pidana

penganiayaan ringan, seperti yang tertuang dalam Pasal 352 KUHP yang berbunyi:

(1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang

tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan

jabatan atau pencarian, diancam sebagai penganiayaan ringan, dengan

pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak

empat ribu lima ratus rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang

yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya atau

menjadi bawahannya.

Pada korban dengan luka sedang, dapat pula merupakan hasil dari tindak

penganiayaan, seperti yang disebutkan pada Pasal 351 KUHP ayat (1) yang

berbunyi “Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua

tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak 4500 rupiah” dan

Pasal 353 KUHP ayat (1) yaitu: “Penganiayaan dengan rencana lebih

dahulu, diancam dengan pidana pejara palig lama 4 tahun.”


Terdapat 3 kualifikasi luka pada korban hidup, yaitu:

 Luka ringan / luka derajat I/ luka golongan C

Luka derajat I adalah apabila luka tersebut tidak menimbulkan

penyakit atau tidak menghalangi pekerjaan korban. Hukuman bagi

pelakunya menurut KUHP pasal 352 ayat 1.

 Luka sedang / luka derajat II / luka golongan B

Luka derajat II adalah apabila luka tersebut menyebabkan penyakit

atau menghalangi pekerjaan korban untuk sementara waktu.

Hukuman bagi pelakunya menurut KUHP pasal 351 ayat 1.

 Luka berat / luka derajat III / luka golongan A

Korban dengan luka berat seperti yang disebutkan pada pasal 90 KUHP

adalah sebagai berikut:

Luka berat berarti:

1) Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak member harapan akan sembuh

sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut;

2) Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau

pekerjaan pencarian;

3) Kehilangan salah satu pancaindra;

4) Mendapat cacat berat;

5) Menderita sakit lumpuh;


6) Terganggunya daya piker selama empat minggu lebih;

7) Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.

Hasil dari tindak penganiayaan tersebut dengan akibat luka berat diatur

dalam pasal 351 ayat (2) yang berbunyi: “Jika perbuatan mengakibatkan

luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana pejara paling lama 5

tahun” atau Pasal 353 ayat (2) yaitu “Jika perbuatan mengakibatkan luka-

luka berat, yang bersalah dikarenakan pidana pejara palig lama tujuh

tahun”. Sementara, jika korban dengan luka berat merupakan akibat

penganiayaan berat, undang-undang mengaturnya dalam Pasal 354 ayat (1)

yang berbunyi “Barang siapa dengan sengaja melukai berat orang lain,

diancam, karena melakukan penganiayaan berat, dengan pidana penjara

paling lama delapan tahun” atau Pasal 355 ayat (1) yaitu “Penganiayaan

berat yang dilakukan dengan rencaa lebih dahulu, diancam degan pidana

penjara paling lama dua belas tahun.”

Sementara dalam KUHP, yang dimaksud penganiayaan ringan adalah

penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk

menjalankan jabatan atau halangan pekerjaan, seperti bunyi Pasal 352

KUHP. Umumnya, korban datang tanpa luka, atau dengan luka lecet atau

memar kecil di lokasi yang tidak berbahaya atau tidak menurunkan fungsi

alat tubuh tertentu.Luka-luka ini dimasukkan ke kategori luka ringan atau

luka derajat satu.


Penentuan derajat luka ini penting utuk membuat visum et repertum,

sehingga dokter harus memeriksa dengan teliti korban yang datang. Uraian

yang dibuat meliputi keadaan umum sewaktu datang, letak, jenis dan sifat

luka serta ukuran, pemeriksaan khusus/penunjang, tindakan medik yang

dilakukan, riwayat perjalanan penyakit, dan keadaan akhir saat

perawatan.Secara objektif, dapat dimasukkan gejala yang ditemukan pada

korban.

3.4 Perkelahian Remaja

United Convention on the Rights of the Child (UNCRC) mendefinisikan anak

sebagai individu dengan usia dibawah 18 tahun. Tipe cedera pada kekerasan fisik

antara lain:

a. Cedera kepala

b. Cedera kulit  mengenali kemungkinan tanda tamparan, tanda pukulan,

mencubit dan menusuk serta luka bakar seperti luka bakar rokok

c. Cedera abdominal  organ intra abdomen dapat dirusak oleh pukulan langsung

d. Cedera dada  luka seperti fraktur tulang rusuk, pecahnya pembuluh darah

besar dan memar jantung

e. Cedera skeletal  berbagai cedera seperti fraktur (James et al, 2011).

Berdasarkan World Health Organization (WHO), perilaku kekerasan anak remaja

dapat didefinisikan sebagai bentuk kekerasan interpersonal dalam komunitas, yang


dapat disebabkan oleh individu atau kelompok terhadap orang lain yang bukan

merupakan anggota keluarga. Beberapa tindakan yang termasuk kekerasan pada

remaja adalah penyerangan kepada orang lain, perilaku mengancam, melukai

orang lain, perkelahian, perundungan, masalah disiplin, tindakan kriminal

(Matjasko, 2016).

Masa remaja merupakan masa yang penting dalam fase kehidupan. Pada masa

remaja, hal yang penting adalah terdapat interaksi otak-perilaku-interaksi sosial.

Hal yang penting adalah terdapat dua pembentukan neural network yaitu emosi

atau afektif, yang berkembang lebih dahulu, lebih cepat, dan lebih intensif

dibandingkan network kedua yaitu penilaian atau judgement, yang berpusat di

sistem limbik subkortikal dan akan berperan dalam kontrol dan inhibisi dari reaksi

emosi (Greydanus, 2012; Chwedorowicz, 2017; Dahl, 2008).

Pada remaja, network emosi menunjukkan prevalensi struktural dan fungsional

yang melebihi network judgement pada tahun-tahun awal fase remaja hingga usia

18 tahunan. Dominasi dari network emosi dimanifestasikan oleh hiperaktivitas

sistem limbik, yang berdampak pada kecenderungan untuk mengambil tindakan

berisiko, tanpa pertimbangan, tindakan berbahaya (Chwedorowicz, 2017; Dahl,

2008; Ernst, 2009).

Beberapa faktor risiko kekerasan pada remaja, antara lain:

a. Faktor individu
Kepribadian seseorang menentukan kecenderungan perilaku. Beberapa aspek

perilaku yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kekerasan pada remaja

adalah perilaku impulsif, kecerdasan, gangguan pada fungsi eksekutif otak

(Denaro, 2017). Anak dan remaja yang masuk dalam kriteria juvenile

psychopathy memiliki karakteristik novelty seeking yang tinggi, tingkat

kooperatif yang rendah, perilaku menghindari tindakan yang berbahaya yang

rendah, ketergantungan terhadap reward (Lennox, 2014). Faktor kecerdasan

berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Hingga saat ini pengaruh tingkat

kecerdasan terhadap perilaku kejahatan pada anak dan remaja menunjukkan

hasil yang inkosisten. Penelitian yang dilakukan terhadap 1354 anak di

Amerika menunjukkan bahwa anak yang memiliki angka psychopathy tinggi

memiliki tingkat IQ yang relatif tinggi. Penelitian lain terhadap 56 anak wanita

yang melakukan tindakan kriminal menunjukkan bahwa anak wanita dengan

angka psychopathy tinggi memiliki tingkat IQ yang rendah (Hampton, 2014;

Spironelli, 2014).

b. Faktor Neurobiologi

Penelitian yang dilakukan oleh Kimonis terhadap kadar

Dehydroepiandrosterone (DHEA), dan konsentrasi kortisol-terhadap-DHEA

menunjukkan bahwa individu yang memiliki angka agresivitas tinggi

memiliki kadar DHEA yang lebih rendah dan rasio kortisol terhadap DHEA

yang lebih tinggi (Kimonis, 2017).


c. Faktor riwayat

Salah satu faktor yang paling kuat dalam memprediksi perilaku kekerasan

adalah awitan dini munculnya kesulitan dalam perilaku bermasalah seperti

agresi, kenakalan, penyerangan, penyalahgunaan zat, kekerasan, perilaku anti

sosial, paparan terhadap kekerasan yang dapat di rumah atau komunitas,

terutama yang terjadi sebelum usia 14 tahun. Moffitt membagi dua kelompok

utama, yaitu :

 Perilaku kekerasan dengan awitan pada masa kanak dan menetap hingga

masa dewasa, yang sering disebut life course persistent offenders atau early

starters. Tipe ini berkaitan dengan permasalahan perilaku yang tampak

pada usia dini, ketidakstabilan keluarga, defisit neuropsikologis, dan

menetap hingga dewasa.

 Perilaku kekerasan dengan awitan lambat, seringkali disebut adolescence

limited offenders atau late starters. Tipe ini sering kali memiliki

karakteristik dengan remaja, memiliki korelasi yang lemah dengan faktor

keluarga yang negatif, dan berhubungan dengan proses pembelajaran sosial

yang negatif dan kelompok pergaulan anti sosial (Denaro, 2017).

d. Faktor keluarga

Faktor keluarga yang berhubungan dengan kekerasan pada remaja adalah

perilaku antisosial (contoh penggunaan NAPZA dan kriminalitas), pola asuh

negatif, konflik keluarga, dan kontrol perilaku yang buruk. Hal yang cukup
berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan adalah maltreatment.

Maltreatment dapat berbentuk kekerasan fisik, seksual, maupun penelantaran.

Kekerasan yang didapat pada masa kanak akan berdampak pada proses

perkembangan. Perilaku kekerasan dapat menyebabkan hipervigilans dan

hostilitas, sementara penelantaran dapar berdampak pada disregulasi emosi

akibat kurangnya interaksi emosi. Semua proses ini dapat menjadi hardwired

dalam jaringan neural melalui overaktivasi beberapa bagian otak dan disfungsi

proses kognisi (Denaro, 2017; Lee, 2007; Koizumi, 2014).

e. Faktor sosial dan kontekstual

Pada tahap remaja, hubungan dengan teman sebaya yang memiliki perilaku

anti sosial memiliki pengaruh yang kuat terhadap anak remaja dan erat

kaitannya dengan perilaku penyerangan atau kekerasan. Keterikatan dengan

kelompok dengan perilaku negatif berkaitan erat dengan rendahnya komitmen

terhadap pendidikan, perilaku kekerasan atau kriminal, penyalahgunaan

NAPZA (Denaro, 2017).

f. Gangguan psikiatri

Perilaku kekerasan pada remaja sering kali berkaitan dengan gangguan

psikiatri. Kejadian traumatik pada masa kanak, sering kali dilakukan oleh

anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah, berisiko menimbulkan

gangguan stres pasca trauma dan dapat berkembang menjadi gangguan

psikiatri. Risiko ini semakin meningkat bila anak-remaja tersebut mengalami


trauma multipel. Gangguan psikiatri yang dapat berperan terhadap terjadinya

juvenile psychopathy adalah depresi. Gangguan psikiatri yang berkaitan

dengan kekerasan adalah gangguan perkembangan pervasif, gangguan

pemusatan perhatian dan hiperaktivitas, gangguan spektrum autisme,

gangguan conduct (Denaro, 2017).

Sistem peradilan anak telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia

nomor 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan anak. Sistem peradilan pidana anak

adalah keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dnegan

hukum, mulai tahap penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah

menjalani pidana. Pada pengadilan anak terdapat dua hal yang perlu

dipertimbangkan yaitu :

a. Keadilan restoratif adalah penyelesaian perkara tindak pidana dengan

melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban, dan pihak lain yang terkait

untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan

pemulihan kembali pada keadaan semula, dan bukan pembalasan.

b. Diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan

pidana ke proses di luar peradilan pidana.

Pengadilan anak bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan

menyelesaikan perkara anak, dan batas umur anak nakal yang dapat diajukan ke

sidang anak adalah sekurang-kurangnya 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai

umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin.


DAFTAR PUSTAKA

Budiyanto A, et al. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik


FKUI; 1997.

Chwedorowicz R, Skarżyński H, Pucek W, Studziński T. Neurophysiological


maturation in adolescence – vulnerability and counteracting addiction to alcohol.
Annals of Agricultural and Environmental Medicine. journal article.
2017;24(1):19-25.

Dahl RE. Biological, developmental, and neurobehavioral factors relevant to


adolescent driving risks. American journal of preventive medicine. 2008
Sep;35(3 Suppl):S278-84.

Denaro D, Watt B, Hasan T. Violence Risk among Youth Referred to a Forensic Mental
Health Service. Psychiatry, Psychology and Law. 2017 2017/07/04;24(4):561-75.

Ernst M, Korelitz KE. Cerebral maturation in adolescence: behavioral vulnerability.


L'Encephale. 2009 Dec;35 Suppl 6:S182-9

Greydanus DE, Greydanus MM. Internet use, misuse, and addiction in adolescents:
current issues and challenges. International journal of adolescent medicine and
health. 2012;24(4):283-9.

Hampton AS, Drabick DA, Steinberg L. Does IQ moderate the relation between
psychopathy and juvenile offending? Law and human behavior. 2014
Feb;38(1):23-33.

James JP, Jones R, Karch SB, Manlove J. 2011. Simpson’s Forensic Medicine. 13th ed.
London: The English Language Book Society adn Edward Arnold

Kimonis ER, Goulter N, Hawes DJ, Wilbur RR, Groer MW. Neuroendocrine factors
distinguish juvenile psychopathy variants. Developmental psychobiology. 2017
Mar;59(2):161-73.

Koizumi M, Takagishi H. The Relationship between Child Maltreatment and Emotion


Recognition. PloS one. 2014;9(1).

Lee V, Hoaken PNS. Cognition, emotion, and neurobiological development: Mediating


the relation between maltreatment and aggression. SAGE. 2007.

Lennox C, Dolan M. Temperament and character and psychopathy in male conduct


disordered offenders. Psychiatry research. 2014 Mar 30;215(3):706-10.
Matjasko JL, Massetti GM, Bacon S. Implementing and Evaluating Comprehensive
Evidence-Based Approaches to Prevent Youth Violence: Partnering to Create
Communities Where Youth Are Safe From Violence. The journal of primary
prevention. 2016;37:109-19.

Paulsen F & J. Waschke. 2013. Sobotta Atlas Anatomi Manusia: anatomi umum dan
muskuloskeletal. Jakarta: EGC

Peraturan Perundang-undangan Bidang Kedokteran. Jakarta : Bagian Kedokteran


Forensik FKUI; 1994.

Spironelli C, Segre D, Stegagno L, Angrilli A. Intelligence and psychopathy: a


correlational study on insane female offenders. Psychol Med. 2014
Jan;44(1):111-6.

Beri Nilai