Anda di halaman 1dari 29

UNIVERSITAS PEMBAGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA

LAPORAN KASUS
ABORTUS INCOMPLETE

Diajukan untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik


di Departemen Ilmu Kesehatan Obstetri dan Ginekologi
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa

Pembimbing:
dr. Hary Purwoko, SpOG, KFER

Disusun Oleh:
Anastasia Desy Pratiwi
1320221112

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UPN “VETERAN” JAKARTA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH AMBARAWA
PERIODE 10 AGUSTUS – 17 OKTOBER 2015
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS
FIBROADENOMA MAMMAE

Diajukan untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik


di Departemen Ilmu Bedah
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa

Disusun Oleh:
Mahesa Ramadhianto
1420221169

Telah Disetujui Oleh Pembimbing

dr. Herry Unggul, Sp.B


Tanggal :

ii
KATA PENGANTAR

Puji Syukur Kehadirat Tuhan YME karena atas rahmat dan ridhoNya penulis dapat
menyelesaikan laporan kasus yang berjudul “Fibroadenoma Mammae”. Laporan kasus ini
dibuat dengan maksud dan tujuan untuk memenuhi penilaian pada kepaniteraan klinik di
bagian Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa. Terima kasih penulis sampaikan
kepada dr. Hery Unggul, Sp.B selaku dokter pembimbing yang banyak memberikan
masukan dan saran. Serta teman-teman sejawat yang telah membantu dalam penyelesaian
laporan kasus ini.

Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari sempurna, untuk itu
kritik dan saran sangat penulis harapkan demi perbaikan penulisan berikutnya. Akhir kata,
semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan bagi penulis
maupun pembaca.

Ambarawa, Desember 2015

Penulis

iii
DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................................
...................................................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................................
.....................................................................................................................................iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................................
..................................................................................................................................... iv
BAB I. PENDAHULUAN .............................................................................................
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................
BAB III. STATUS PASIEN ...........................................................................................
BAB IV. ANALISIS KASUS ........................................................................................
BAB V. KESIMPULAN ................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................................

iv
BAB I
PENDAHULUAN

Fibroadenoma (FAM) merupakan tumor jinak pada payudara yang paling sering
ditemukan. Fibroadenoma terbentuk dari sel-sel epitel dan jaringan ikat, dimana komponen
epitelnya menunjukan tanda-tanda yang sama dengan epitel normal. Etiologi penyakit ini
belum diketahui secara pasti, namun diperkirakan berkaitan dengan aktivitas hormon
estrogen. Fibroadenoma pertama kali terbentuk setelah aktivitas ovarium dimulai dan terjadi
terutama pada usia remaja muda. (1,2,3,4,5,6)

Fibroadenoma umumnya terjadi pada wanita usia muda, terutama dengan usia di
bawah 30 tahun dan relatif jarang ditemukan pada payudara wanita yang sudah menopause.
Berdasarkan laporan dari NSW Breast Cancer Institute, fibroadenoma umumnya terjadi pada
wanita dengan usia 21-25 tahun, kurang dari 5% terjadi pada usia di atas 50 tahun,
sedangkan prevalensinya lebih dari 9% populasi wanita terkena fibroadenoma.3 Sedangkan
laporan dari Western Breast Services Alliance, fibroadenoma terjadi pada wanita dengan
umur antara 15-25 tahun, dan lebih dari satu dari enam (15%) wanita mengalami
fibroadenoma dalam hidupnya. Namun, kejadian fibroadenoma dapat terjadi pada wanita
dengan usia yang lebih tua atau bahkan setelah menopause, tentunya dengan jumlah kejadian
yang lebih kecil dibanding pada usia muda.4
Tumor ini dapat tumbuh di seluruh bagian payudara, namun tersering pada kuadran
lateral atas. Penyakit ini bersifat asimtomatik atau hanya menunjukkan gejala ringan berupa
benjolan pada payudara yang dapat digerakkan, sehingga pada beberapa kasus, penyakit ini
terdeteksi secara tidak sengaja pada saat pemeriksaan fisik. Penanganan fibroadenoma
adalah melalui pembedahan pengangkatan tumor. Fibroadenoma harus diangkat karena
tumor jinak ini akan terus membesar.(2, 3, 5, 6)
Di Indonesia data penyakit fibroadenoma masih belum lengkap, namun diperkirakan
tiap tahun mengalami peningkatan. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas melaporkan
pada periode 1993-1995 terdapat sebanyak 503 kasus fibroadenoma (47.5%) dari 1.059
kasus kelainan payudara wanita.9 Data dari Jakarta Breast Center, klinik di Jakarta yang
mengkhususkan untuk penanganan keluhan pada payudara, menunjukkan bahwa dari 2.495
pasien yang datang pada tahun 2001 sampai 2002, ternyata 79% menderita tumor payudara
jinak dan hanya 14% yang menderita kanker (Diananda, 2009).10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Payudara


Payudara adalah organ yang dimiliki oleh wanita dan pria dan berperan
dalam proses laktasi. Pada pria organ ini tidak berkembang dan tidak memiliki fungsi
dalam proses laktasi seperti pada wanita (rudimeter). Payudara terletak antara costae
ketiga dan ketujuh serta terbentang lebarnya dari linea parasternalis sampai axillaris
anterior dan mediana. Berat dan ukuran payudara bervariasi sesuai pertambahan
umur, pada masa pubertas membesar, dan bertambah besar selama kehamilan dan
sesudah melahirkan, dan menjadi atropi pada usia lanjut.13
Setiap payudara terdiri atas 15 sampai 25 lobus kelenjar yang masing-masing
mempunyai saluran ke papilla mamma yang disebut duktus laktiferus dan dipisahkan
oleh jaringan lemak yang bervariasi jumlahnya.16 Di antara lobus tersebut terdapat
jaringan ikat yang disebut ligamentum cooper yang merupakan tonjolan jaringan
payudara, yang bersatu dengan lapisan luar fasia superfisialis yang berfungsi sebagai
struktur penyokong dan memberi rangka untuk payudara.14 Jaringan ikat
memisahkan payudara dari otot-otot dinding dada, otot pektoralis dan anterior.16
Pembuluh darah mammae berasal dari arteri mamaria interna dan arteri
torakalis lateralis. Vena supervisialis mamae mempunyai banyak anastomosa yang
bermuara ke vena mamaria interna dan vena torakalis interna/epigastrika, sebagian
besar bermuara ke vena torakalis lateralis.15 Aliran limfe dari payudara kurang lebih
75% ke aksila, sebagian lagi ke kelenjar terutama dari bagian yang sentral dan medial
dan ada pula aliran ke kelenjar interpektoralis.14
2.2. Fisiologi Payudara
Perkembangan dan fungsi payudara dimulai oleh berbagai hormon. Estrogen
diketahui merangsang perkembangan duktus mamilaris. Progesteron memulai
perkembangan lobulus-lobulus payudara juga diferensiasi sel epitelial.19
Payudara mengalami tiga macam perubahan yang dipengaruhi oleh hormon,
antara lain:
a) Perubahan pertama adalah mulai dari masa hidup anak melalui masa
hidup pubertas, masa fertilitas, sampai ke klimakterium, dan menopause.
Sejak pubertas pengaruh estrogen dan progesteron yang diproduksi
ovarium dan juga hormon hipofisis, telah menyebabkan duktus
berkembang dan timbulnya asinus.
b) Perubahan kedua adalah perubahan sesuai dengan daur haid. Sekitar hari
ke-8 haid, payudara menjadi lebih besar dan pada beberapa hari sebelum
haid berikutnya terjadi pembesaran maksimal. Kadang-kadang timbul
benjolan yang nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari menjelang haid,
payudara menjadi tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik terutama
palpasi tidak mungkin dilakukan. Begitu haid dimulai, semuanya
berkurang.
c) Perubahan ketiga terjadi pada masa hamil dan menyusui. Pada masa
kehamilan, payudara menjadi besar karena epitel duktus lobul dan duktus
alveolus berproliferasi, dan tumbuh duktus baru. Sekresi hormon
prolaktin dari hipofisis anterior memicu laktasi. Air susu diproduksi oleh
sel-sel alveolus mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui duktus ke
puting susu.

2.3. Definisi Fibroadenoma Mammae


Fibroadenoma mammae merupakan neoplasma jinak yang terutama terdapat
pada wanita muda, dan jarang ditemukan setelah menopause.14 Fibroadenoma adalah
kelainan pada perkembangan payudara normal dimana ada pertumbuhan berlebih
dan tidak normal pada jaringan payudara dan pertumbuhan yang berlebih dari sel-
sel yang melapisi saluran air susu di payudara.3
Fibroadenoma merupakan jenis tumor jinak mammae yang paling banyak
ditemukan, dan merupakan tumor primer yang paling banyak ditemukan pada
kelompok wanita usia muda.21
2.4. Epidemiologi
Fibroadenoma mammae adalah tumor jinak pada payudara yang lebih sering
didiagnosa pada wanita muda.22 Fibroadenoma dilaporkan terjadi pada lebih dari 9%
penduduk wanita. Fibroadenoma sangat dipengaruhi oleh hormon dan bervariasi
selama siklus menstruasi dan masa kehamilan.3
Berdasarkan laporan dari NSW Breast Cancer Institute, fibroadenoma
umumnya terjadi pada wanita dengan usia 21-25 tahun, kurang dari 5% terjadi pada
usia di atas 50 tahun.3 Belum ada data yang pasti mengenai insiden fibroadenoma
pada populasi umum. Dalam suatu studi disebutkan bahwa angka kejadian
fibroadenoma pada wanita yang menjalani pemeriksaan di klinik payudara sekitar
7%-13%, sementara itu pada studi yang lain didapatkan 9% dari otopsi.
Fibroadenoma didapatkan dari 50% semua biopsi payudara dan hal ini meningkat
mencapai 75% pada biopsi payudara wanita yang berumur < 20 tahun.18

2.5. Klasifikasi
Secara sederhana fibroadenoma dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam:
a) Common Fibroadenoma
Common fibroadenoma memiliki ukuran 1-3 cm, disebut juga dengan
simpel fibroadenoma.33 Sering ditemukan pada wanita kelompok
umur muda antara 21-25 tahun. Ketika fibroadenoma dapat dirasakan
sebagai benjolan, benjolan itu biasanya berbentuk oval atau bulat,
halus, tegas, dan bergerak sangat bebas. Sekitar 80% dari seluruh
kasus fibroadenoma yang terjadi adalah fibroadenoma tunggal.3
b) Giant Fibroadenoma
Giant fibroadenoma adalah tumor jinak payudara yang memiliki
ukuran dengan diameter lebih dari 5 cm.33 Secara keseluruhan insiden
giant fibroadenoma sekitar 4% dari seluruh kasus fibroadenoma.
Giant fibroadenoma biasanya ditemui pada wanita hamil dan
menyusui.18 Giant fibroadenoma ditandai dengan ukuran yang besar
dan pembesaran massa enkapsulasi payudara yang cepat. Giant
fibroadenoma dapat merusak bentuk payudara dan menyebabkan
tidak simetris karena ukurannya yang besar, sehingga perlu dilakukan
pemotongan dan pengangkatan terhadap tumor ini.17
c) Juvenile Fibroadenoma
Juvenile fibroadenoma biasa terjadi pada remaja perempuan, dengan
insiden 0,5-2% dari seluruh kasus fibroadenoma.33 Sekitar 10-25%
pasien dengan juvenile fibroadenoma memiliki lesi yang multipel
atau bilateral.18

2.6. Gejala Klinis

Gejala klinis yang sering terjadi pada fibroadenoma mammae adalah adanya
bagian yang menonjol pada permukaan payudara, benjolan memiliki batas yang
tegas dengan konsistensi padat dan kenyal.16 Ukuran diameter benjolan yang sering
terjadi sekitar 1-4 cm, namun kadang dapat tumbuh dan berkembang dengan cepat
dengan ukuran benjolan berdiameter lebih dari 5 cm.21 Benjolan yang tumbuh dapat
diraba dan digerakkan dengan bebas.2 Umumnya fibroadenoma tidak menimbulkan
rasa nyeri atau tidak sakit.14
Perubahan fibroadenoma menjadi ganas dalam komponen epitel
fibroadenoma umumnya dianggap langka.18 Fibroadenoma secara signifikan tidak
meningkatkan risiko berkembang menjadi kanker payudara. Insiden karsinoma
berkembang dalam suatu fibroadenoma dilaporkan hanya 20/10.000 sampai
125/10.000 orang yang berisiko. Sekitar 50% dari tumor ini adalah lobular
carcinoma in situ (LCIS), 20% infiltrasi karsinoma lobular, 20% adalah karsinoma
duktal in situ (DCIS), dan 10% sisanya infiltrasi karsinoma duktal. Berdasarkan
pemeriksaan klinis ultrasonografi dan mammografi biasanya ditemukan
fibroadenoma jinak dan perubahan menjadi ganas ditemukan hanya jika
fibroadenoma tersebut dipotong.18 Fibroadenoma yang dibiarkan selama bertahun-
tahun akan berubah menjadi ganas dikenal dengan istilah progresi dan persentase
kemungkinannya hanya 0,5% - 1%.35

2.7. Faktor Risiko

Sampai saat ini penyebab FAM masih belum diketahui secara pasti, namun
berdasarkan hasil penelitian ada beberapa faktor risiko yang mempengaruhi
timbulnya tumor ini antara lain:
a) Umur
Umur merupakan faktor penting yang menentukan insiden atau
frekuensi terjadinya FAM. Fibroadenoma biasanya terjadi pada
wanita usia muda < 30 tahun.26 terutama terjadi pada wanita dengan
usia antara 15-25 tahun.4
b) Riwayat Pernikahan
Riwayat perkawinan dihubungkan dengan status perkawinan dan usia
perkawinan, paritas dan riwayat menyusui anak. Berdasarkan
penelitian Bidgoli, et all (2011) di Iran menyatakan bahwa tidak
menikah meningkatkan risiko kejadian FAM. Selain itu, hasil
penelitian tersebut juga menyatakan bahwa menikah < 21 tahun
meningkatkan risiko kejadian FAM.
c) Penggunaan Hormon
Diperkirakan bahwa fibroadenoma mammae terjadi karena kepekaan
terhadap peningkatan hormon estrogen.33 Penggunaan kontrasepsi
yang komponen utamanya adalah estrogen merupakan faktor risiko
yang meningkatkan kejadian FAM. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan di Department of Surgery, University of Oklahoma Health
Sciences Center (Organ, 1983), dilaporkan proporsi penderita FAM
yang menggunakan kontrasepsi dengan komponen utama estrogen
adalah sekitar 60%.28
d) Obesitas
Berat badan yang berlebihan (obesitas) dan IMT yang lebih dari
normal merupakan faktor risiko terjadinya FAM. Berdasarkan
penelitian Bidgoli, et all diketahui bahwa IMT > 30 kg/m2
meningkatkan risiko kejadian FAM.27
e) Riwayat Keluarga
Tidak ada faktor genetik diketahui mempengaruhi risiko
fibroadenoma. Namun, riwayat keluarga kanker payudara pada
keluarga tingkat pertama dilaporkan oleh beberapa peneliti
berhubungan dengan peningkatan risiko tumor ini.18 Dari beberapa
penelitian menunjukkan adanya risiko menderita FAM pada wanita
yang ibu dan saudara perempuan mengalami penyakit payudara.
Dilaporkan 27 % dari penderita FAM memiliki riwayat keluarga
menderita penyakit pada payudara.
f) Stress
Stress berat dapat meningkatkan produksi hormon endogen estrogen
yang juga akan meningkatkan insiden FAM.
g) Lingkungan
Tinggal di dekat pabrik yang memproduksi Polycyclic aromatic
hydrocarbons (PAHs) juga dapat menjadi faktor risiko terjadinya
FAM. PAHs adalah salah satu pencemar organik yang paling luas.
PAHs dibentuk oleh pembakaran tidak sempurna dari karbon yang
mengandung bahan bakar seperti kayu, batu bara, diesel, lemak,
tembakau, dan dupa.36 Banyak senyawa-senyawa aromatik, termasuk
PAHs, yang bersifat karsinogenik. Hal ini berdasarkan sifatnya yang
hidrofobik (tidak suka akan air), dan tidak memiliki gugus metil atau
gugus reaktif lainnya untuk dapat diubah menjadi senyawa yang lebih
polar. Akibatnya senyawa PAHs sangat sulit diekskresi dari dalam
tubuh dan biasanya terakumulasi pada jaringan hati, ginjal, maupun
adiposa atau lemak tubuh. Dengan struktur molekul yang menyerupai
basa nukleat (adenosin, timin, guanin, dan sitosin), molekul PAHs
dapat dengan mudah menyisipkan diri pada untaian DNA. Akibatnya
fungsi DNA akan terganggu dan apabila kerusakan ini tidak dapat
diperbaiki dalam sel, maka akan menimbulkan penyakit kanker.37

2.8. Patofisiologi

Fibroadenoma merupakan tumor jinak payudara yang sering ditemukan pada


masa reproduksi yang disebabkan oleh beberapa kemungkinan yaitu akibat
sensitivitas jaringan setempat yang berlebihan terhadap hormon estrogen sehingga
kelainan ini sering digolongkan dalam mamary displasia. Fibroadenoma biasanya
ditemukan pada kuadran luar atas, merupakan lobus yang berbatas jelas, mudah
digerakkan dari jaringan di sekitarnya.2 Fibroadenoma mammae biasanya tidak
menimbulkan gejala dan ditemukan secara kebetulan.20 Fibroadenoma biasanya
ditemukan sebagai benjolan tunggal, tetapi sekitar 10%-15% wanita yang menderita
fibroadenoma memiliki beberapa benjolan pada kedua payudara.38
Penyebab munculnya beberapa fibroadenoma pada payudara belum
diketahui secara jelas dan pasti. Hubungan antara munculnya beberapa
fibroadenoma dengan penggunaan kontrasepsi oral belum dapat dilaporkan dengan
pasti. Selain itu adanya kemungkinan patogenesis yang berhubungan dengan
hipersensitivitas jaringan payudara lokal terhadap estrogen, faktor makanan dan
faktor riwayat keluarga atau keturunan. Kemungkinan lain adalah bahwa tingkat
fisiologi estrogen penderita tidak meningkat tetapi sebaliknya jumlah reseptor
estrogen meningkat. Peningkatan kepekaan terhadap estrogen dapat menyebabkan
hyperplasia kelenjar susu dan akan berkembang menjadi karsinoma.43
Fibroadenoma sensitif terhadap perubahan hormon. Fibroadenoma bervariasi
selama siklus menstruasi, kadang dapat terlihat menonjol, dan dapat membesar
selama masa kehamilan dan menyusui. Akan tetapi tidak menggangu kemampuan
seorang wanita untuk menyusui. Diperkirakan bahwa sepertiga dari kasus
fibroadenoma jika dibiarkan ukurannya akan berkurang bahkan hilang sepenuhnya.3
Namun yang paling sering terjadi, jika dibiarkan ukuran fibroadenoma akan tetap.
Tumor ini biasanya bersifat kenyal dan berbatas tegas dan tidak sulit untuk diraba.
Apabila benjolan didorong atau diraba akan terasa seperti bergerak-gerak sehingga
beberapa orang menyebut fibroadenoma sebagai “breast mouse”. Biasanya
fibroadenoma tidak terasa sakit, namun kadang kala akan menimbulkan rasa tidak
nyaman dan sangat sensitif apabila disentuh.4

2.9. Diagnosis
a) Anamnesis
Anamnesa terpadu harus didapatkan sebelum dilakukan pemeriksaan fisik.
Penyelidikan terperinci tentang faktor risiko harus meliputi riwayat kehamilan
dan ginekologi seperti usia, paritas, serta riwayat menstruasi dan menyusui.
Riwayat terapi hormonal sebelumnya yang mencakup kontrasepsi oral dan
estrogen.14
b) Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik penderita diperiksa dengan sikap tubuh duduk tegak
atau berbaring atau kedua-duanya. Kemudian diperhatikan bentuk kedua
payudara, warna kulit, tonjolan, lekukan, adanya kulit berbintik, seperti kulit
jeruk, ulkus, dan benjolan. Kemudian dilakukan palpasi dengan telapak jari
tangan yang digerakkan perlahan-lahan tanpa tekanan pada setiap kuadran
payudara.14 Palpasi dilakukan untuk mengetahui ukuran, jumlah, dapat bergerak-
gerak, kenyal atau keras dari benjolan yang ditemukan.30 Dilakukan pemijatan
halus pada puting susu untuk mengetahui pengeluaran cairan, darah atau nanah
dari kedua puting susu. Cairan yang keluar dari puting susu harus dibandingkan.
Pengeluaran cairan diluar masa laktasi dapat disebabkan oleh berbagai kelainan
seperti fibroadenoma atau bahkan karsinoma14
c.) Mammografi
Pemeriksaan mammografi terutama berperan pada payudara yang
mempunyai jaringan lemak yang dominan serta jaringan fibroglanduler yang
relatif sedikit. Pada mammografi, keganasan dapat memberikan tanda-tanda
primer dan sekunder. Tanda primer berupa fibrosis reaktif, comet sign (Stelata),
adanya perbedaan yang nyata antara ukuran klinis dan radiologis, adanya
mikroklasifikasi, adanya spikulae, dan ditensi pada struktur payudara. Tanda
sekunder berupa retraksi, penebalan kulit, bertambahnya vaskularisasi, keadaan
daerah tumor dan jaringan fibroglandular tidak teratur, infiltrasi dalam jaringan
lunak di belakang mamma dan adanya metastatis ke kelenjar (gambaran ini tidak
khas). Mammografi digunakan untuk mendiagnosa wanita dengan usia tua
sekitar 60-70 tahun.31
d.) Ultrasonografi (USG)
Untuk mendeteksi luka-luka pada daerah padat payudara usia muda karena
fibroadenoma pada wanita muda tebal, sehingga tidak terlihat dengan baik jika
menggunakan mammografi. Pemeriksaan ini hanya membedakan antara lesi atau
tumor yang solid dan kistik. Pemeriksaan gabungan antara USG dan
mammografi memberikan ketepatan diagnosa yang tinggi.31
e.) Fine Needle Aspiration Cytology (FNAC)
Dengan FNAC diperoleh diagnosis tumor apakah jinak atau ganas, tanpa harus
melakukan sayatan atau mengiris jaringan. Pada FNAC diambil sel dari
fibroadenoma dengan menggunakan penghisap berupa sebuah jarum yang
dimasukkan pada suntikan. Dari alat tersebut dapat diperoleh sel yang terdapat
pada fibroadenoma, lalu hasil pengambilan tersebut dikirim ke laboratorium
patologi untuk diperiksa di bawah mikroskop. Di bawah mikroskop tumor
tersebut tampak seperti berikut:
1. Tampak jaringan tumor yang berasal dari mesenkim (jaringan ikat
fibrosa) dan berasal dari epitel (epitel kelenjar) yang berbentuk lobus-
lobus.
2. Lobuli terdiri atas jaringan ikat kolagen dan saluran kelenjar yang
berbentuk bular (perikanalikuler) atau bercabang (intrakanalikuler)
2.10. Penatalaksanaan
Karena fibroadenoma mammae adalah tumor jinak maka pengobatan yang
dilakukan tidak perlu dengan pengangkatan mammae. Yang perlu diperhatikan
adalah bentuk dan ukurannya saja. Pengangkatan mammae harus memperhatikan
beberapa faktor yaitu faktor fisik dan psikologi pasien. Apabila ukuran dan lokasi
tumor tersebut menyebabkan rasa sakit dan tidak nyaman pada pasien maka
diperlukan pengangkatan. Terapi pengangkatan tumor ini disebut dengan biopsi
eksisi yaitu pembedahan dengan mengangkat seluruh jaringan tumor beserta sedikit
jaringan sehat disekitarnya Terapi dengan operasi pengangkatan tumor ini tidak akan
merubah bentuk payudara tetapi hanya akan meninggalkan jaringan parut yang akan
digantikan jaringan normal secara perlahan.31

2.11. Pencegahan
Cara yang dilakukan adalah dengan menghindari faktor-faktor tertentu yang
dapat merangsang pertumbuhan sel-sel tumor antara lain:
a) Mencegah terpaparnya dengan zat atau bahan yang dapat memicu
berkembangnya sel-sel tumor fibroadenoma, seperti mengkonsumsi makanan
yang terkontaminasi dengan bahan atau zat-zat hormonal, menghindari
pemakaian pil kontrasepsi dengan komponen utama estrogen. Penggunaan zat
tersebut jika dipakai terus menerus akan menyebabkan terjadinya perubahan
jaringan pada payudara yang meningkatkan angka kejadian FAM.29 Selain itu
menghindari terpapar dengan zat Polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs)
yang bersifat karsinogenik.27
b) Menggunakan atau mengkonsumsi zat dan bahan yang dapat menurunkan
kejadian FAM antara lain dengan mengkonsumsi buah dan sayuran. Penggunaan
alat kontrasepsi oral juga dapat menurunkan risiko terjadinya FAM.29
c) Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)
Pemeriksaan terhadap payudara sendiri dilakukan setiap bulan secara teratur.
Dengan melakukan pemeriksaan sendiri secara teratur maka kesempatan untuk
menemukan tumor dalam ukuran kecil lebih besar, sehingga dapat dengan cepat
dilakukan tindakan pengobatan. SADARI dapat dilakukan dengan cara:
1. Berdiri di depan cermin, perhatikan payudara. Dalam keadaan
normal, ukuran payudara kiri dan kanan sedikit berbeda. Perhatikan
perubahan perbedaan ukuran antara payudara kiri dan kanan dan
perubahan pada puting susu (misalnya tertarik ke dalam) atau
keluarnya cairan dari puting susu. Perhatikan apakah kulit pada
puting susu berkerut.
2. kedua telapak tangan diletakkan di belakang kepala dan kedua tangan
ditarik ke belakang. Dengan posisi seperti ini maka akan lebih mudah
untuk menemukan perubahan kecil akibat tumor. Perhatikan
perubahan bentuk dan kontur payudara, terutama pada payudara
bagian bawah.
3. Kedua tangan diletakkan di pinggang dan badan agak condong ke
arah cermin, tekan bahu dan sikut ke arah depan. Perhatikan
perubahan ukuran dan kontur payudara.
4. Angkat lengan kiri. Dengan menggunakan 3 atau 4 jari tangan kanan,
telusuri payudara kiri. Gerakkan jari-jari tangan secara memutar
(membentuk lingkaran kecil) di sekeliling payudara, mulai dari tepi
luar payudara lalu bergerak ke arah dalam sampai ke puting susu.
Tekan secara perlahan, rasakan setiap benjolan atau massa di bawah
kulit. Lakukan hal yang sama terhadap payudara kanan dengan cara
mengangkat lengan kanan dan memeriksanya dengan tangan kiri.
Perhatikan juga daerah antara kedua payudara dan ketiak.
5. Tekan puting susu secara perlahan dan perhatikan apakah keluar
cairan dari puting susu. Lakukan hal ini secara bergantian pada
payudara kiri dan kanan.
6. Berbaring terlentang dengan bantal yang diletakkan di bawah bahu
kiri dan lengan kiri ditarik ke atas. Telusuri payudara kiri dengan
menggunakan jari-jari tangan kanan. Dengan posisi seperti ini,
payudara akan mendatar dan memudahkan pemeriksaan. Lakukan hal
yang sama terhadap payudara kanan dengan meletakkan bantal di
bawah bahu kanan dan mengangkat lengan kanan, dan penelusuran
payudara dilakukan oleh jari-jari tangan kiri
BAB III
STATUS PASIEN

IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. SK
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 19 tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status : Menikah
Agama : Islam
Alamat : Boyolali
Pendidikan Terakhir : SD
No. RM : 091031
Tanggal Masuk : 24 November 2015
Biaya Pengobatan : BPJS Mandiri
ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan pada tanggal 24 November 2015, pukul 10:00 di Poli Bedah
RSUD Ambarawa
Keluhan Utama
Terdapat benjolan di payudara kanan yang dirasakan baru-baru ini kira-kira sejak
bulan yang lalu
Keluhan Tambahan
Benjolan terasa sedikit nyeri (+), mengganggu (+), tidak ada penurunan berat badan
yang dirasakan oleh pasien selama beberapa bulan ini
Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Penyakit Sebelumnya
 Pasien belum pernah mengalami ini sebelumnya
b) Riwayat Penyakit Keluarga
 Tidak ada
c) Riwayat Pekerjaan
 Pekerjaan pasien tidak berhubungan dengan zat-zat berbahaya
d) Riwayat Alergi
 Tidak ada
e) Riwayat Penggunaan Alat Kontrasepsi
 Tidak ada
f) Riwayat Pernikahan
 Belum Menikah
g) Riwayat Menstruasi
 Usia menarche 12 tahun
 Siklus 28 hari teratur
 Tidak ada keluhan yang abnormal saat haid
Riwayat Psikososial dan Spiritual
a) Status psikologis : cemas
b) Status mental : sadar dan orientasi baik
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : baik
Kesadaran : composmentis
Tanda vital :
TD : 120/80 mmHg RR : 20 x/menit
N : 80 x/menit S : 36.6
STATUS GENERALIS
Dalam Batas Normal
STATUS LOKALIS  Payudara kanan
 Inspeksi :
tidak tampak massa yang dikeluhkan pasien. Peau d’orange (-), kemerahan (-),
edema (-)
 Palpasi :
Teraba massa kenyal (+), berukuran 2 cm, mobile (+), sedikit nyeri (+) di kuadran
kanan bawah payudara kanan, dan massa kenyal berukuran 0,5 cm di kuadran kiri
atas payudara kanan
Tidak terdapat pembesaran KGB aksillaris

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. LABORATORIUM HEMATOLOGI PRE-OP


Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Hb 12,1 g/dL 12 – 16 g/dL
Hematokrit 36,4 % 37 – 47 %
Eritrosit 5 juta 4.3 – 6 juta
Leukosit 10.450 4.800 – 10.800
Trombosit 375.000 150.000 – 400.000
MCV 84 80 – 96 fL
MCH 28 27 - 32

2. EKG PRE-OP
Normal
PEMERIKSAAN PA POST OP
Sediaan menunjukkan jaringan payudara dengan sarang fibroadenoma, tipe peri dan
intrakanalikuler. Tanda ganas tidak ditemukan.

RESUME
Seorang wanita (19 tahun) datang ke poli bedah RSUD Ambarawa dengan keluhan
adanya benjolan di payudara sebelah kanan sejak 1 bulan yang lalu. Benjolan dirasakan
pasien sedikit nyeri dan mengganggu untuk pasien. Pasien juga mengatakan bahwa benjolan
terdapat 2 yang lokasinya di payudara kanan. Pasien belum pernah mengalami keluhan yang
sama sebelumnya. Pada riwayat keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan yang
sama seperti pasien. Pasien tidak memiliki riwayat alergi obat dan makanan tertentu. Pasien
belum pernah menggunakan KB sebelumnya Saat ini pasien belum menikah. Pada riwayat
menstruasi pasien, siklus dalam 28 hari selama 7 hari. Pasien tidak memiliki keluhan nyeri
dan perdarahan yang berlebihan selama menstruasi.
Pada pemeriksaan fisik pasien dalam keadaan umum yang baik dengan kesadaran
komposmentis. Pada pemeriksaan secara umum dapat disimpulkan dalam batas normal.
Pada pemeriksaan secara spesifik pada payudara kanan, didapatkan adanya 2 buah benjolan
yang berbatas tegas, mobile (+), masing-masing berukuran kurang lebih 2 cm dan 1 cm, dan
sedikit nyeri bila ditekan (+). Pasien menyetujui untuk dilakukan tindakan pembedahan
untuk mengambil benjolan di payudara pasien.
Sebelum dilakukan operasi, pasien menjalani beberapa pemeriksaan penunjang.
Pada pemeriksaan penunjang laboratium darah rutin tidak ditemukan adanya peningkatan
ataupun penurunan pada pemeriksaan Hb, eritrosit, leukosit, HbsAg, dan lain-lainnya. Pada
pemeriksaan EKG sebelum operasi juga didapatkan hasil dalam batas normal sehingga tidak
ada hambatan dalam persiapan operasi
Setelah operasi, hasil PA menunjukkan bahwa benjolan yang terdapat pada payudara
pasien adalah suatu fibroadenoma (FAM). Setelah beberapa hari pasca tindakan operasi,
pasien diperbolehkan pulang dan kontrol ke poli bedah secara berkala.
DIAGNOSIS
Multipel fibroadenoma mammae dextra

PENATALAKSANAAN
 Infus futrolit post op
 Asam mefenamat post op
 Inj. Cefazolin pre-op
 Inj. Cefazolin post-op

PERJALANAN PENYAKIT
Tanggal / jam Perjalanan Penyakit Pengobatan

24-11-2015 / 10:00 S: P:
Benjolan di payudara kanan - Rencana op tanggal
(+) mobile (+), berbatas 26-12-2015
tegas (+), berukuran 0.5 cm - Persiapan
dan 2 cm, nyeri (+) pemeriksaan pre-op
(EKG dan DR)
O:
KU baik, kesadaran
composmentis
Tanda Vital:
TD : 120/80 mmHg
N : 80 x/menit
S : 37 ⁰C

A:
Multipel tu mammae dextra
susp. benign
25-11-2015 / 13:00 S : Benjolan di payudara P :
kanan (+) mobile (+), - Rencana op tanggal
26-12-2015
berbatas tegas (+),
- Persiapan
berukuran 0.5 cm dan 2 cm,
pemeriksaan pre-op
nyeri (+)
(EKG dan DR)
O:
KU baik, kesadaran
composmentis
Tanda Vital :
TD : 120/90 mmHg
N : 82 x/menit
RR : 20 x/menit
T : 36,5 ⁰C
Terpasang infus futrolit 20
tetes/menit
Pasien mulai dipuasakan
mulai pukul 24:00

A:
Multipel tu mammae dextra
susp. benign
26-11-2015 / 08:00 S: P:
Benjolan di payudara kanan - Rencana op hari ini
(+) mobile (+), berbatas - ACC dari anestesi
tegas (+), berukuran 0.5 cm - Pasien sudah
dan 2 cm, nyeri (+) dipuasakan mulai
00:00
O:
KU baik, kesadaran
composmentis
Tanda Vital :
TD : 120/80 mmHg
N : 82 x/menit
T : 36 ⁰C
RR : 20 x/menit
Terpasang infus futrolit 20
tetes/menit
A:
Multipel tu mammae dextra
susp. benign
27-11-2015 / 08:00 S: P:
Nyeri luka post op (+), - H1 post op multipel
keluhan lain tidak ada TU mammae dextra
susp. benign
O: - Menunggu hasil lab
KU baik, composmentis PA
Tanda Vital : - Terapi antinyeri dan
TD : 110/70 mmHg antibiotik post op
T : 36 ⁰C - Mobilisasi pasien
RR : 20 x/menit - Diet biasa
N : 82 x/menit
Terpasang infus futrolit 20
tetes/menit
Status lokalis : luka dibalut
perban dengan kondisi baik,
kering, tanpa rembesan
darah

A:
Multipel tu mammae dextra
susp. benign
28-11-2015 / 08:00 S: P:
Nyeri luka post op (+) sudah - H2 post op multipel
berkurang, keluhan lain TU mammae dextra
tidak ada susp. benign
- Menunggu hasil lab
O: PA
KU baik, composmentis - Terapi antinyeri dan
Tanda Vital : antibiotik post op
TD : 110/70 - Mobilisasi pasien
N : 82 x/menit - Diet biasa
T : 36,5 ºC
RR : 22 x/menit
Status generalis : DBN
Status lokalis : luka dibalut
perban dengan kondisi baik,
kering, tanpa rembesan
darah

A:
Multipel tu mammae dextra
susp. Benign
29-11-2015 / 07:00 S: P:
Nyeri luka post op (+) sudah - H3 post op multipel
jauh berkurang, keluhan lain TU mammae dextra
tidak ada susp. benign
- Menunggu hasil lab
O: PA
KU baik, composmentis - Terapi antinyeri dan
Tanda Vital : antibiotik post op
TD : 110/70 - Mobilisasi pasien
N : 82 x/menit - Diet biasa
T : 36,5 ºC - Pasien dipulangkan,
RR : 22 x/menit ganti balut dan
Status generalis : DBN rencana kontrol di
Status lokalis : luka dibalut poli bedah berkala
perban dengan kondisi baik,
kering, tanpa rembesan
darah

A:
Multipel tu mammae dextra
susp. Benign
BAB IV
ANALISIS KASUS

Fibroadenoma mammae adalah suatu kelainan berupa tumbuhnya massa abnormal


yang bersifat jinak yang tumbuh pada payudara. Gejala pada fibroadenoma mammae adalah
adanya benjolan yang dapat teraba berbatas tegas, mobile, tidak menempel pada jaringan di
bawahnya, dan tanda-tanda kejinakan pada umumnya. Fibroadenoma mammae adalah
tumor jinak payudara yang paling sering terjadi pada wanita pada usia muda, dan amat
jarang pada wanita menopause
Pada pasien ini, didapatkan anamnesa berupa adanya 2 buah benjolan pada payudara
kanan yang berbatas tegas tanpa adanya tanda-tanda keganasan seperti penurunan berat
badan, keluarnya darah pada puting areola, dan lain-lain. Data anamnesis pada pasien ini
sesuai dengan teori fibroadenom atau tumor yang bersifat jinak.
Pada pemeriksaan fisik pada pasien ini, pertama pada hasil inspeksi, tidak didapatkan
adanya gambaran parut pada payudara, massa yang tidak tampak, tidak ada edema,
kemerahan, dan tanda-tanda lainnya yang mengarah ke keganasan. Selanjutnya pada
pemeriksaan palpasi, didapatkan berupa adanya massa multipel yang berbatas tegas,
masing-masing berukuran 0.5 cm dan 2 cm, mobile (+), sedikit nyeri, dan tidak ada tanda-
tanda yang mengarah ke keganasan. Dari data pemeriksaan fisik pada pasien ini sesuai
dengan teori tumor benign pada payudara atau fibroadenoma.
Setelah dilakukan tindakan pembedahan berupa eksisi tumor, sampe jaringan dikirim
ke laboratorium Patologi Anatomi. Setelah hasilnya keluar, didapatkan ciri-ciri kapsul
fibroadenoma dan tanda ganas tidak ditemukan, sehingga dapat disimpulkan bahwa tumor
pada payudara pasien bersifat jinak dan merupakan suatu fibroadenoma.
BAB V
KESIMPULAN

Fibroadenoma adalah suatu jenis tumor jinak yang paling sering terjadi pada wanita
usia muda dan jarang terjadi pada wanita yang sudah menopause. Fibroadenoma terbentuk
dari sel-sel epitel dan jaringan ikat, dimana komponen epitelnya menunjukan tanda-tanda
yang sama dengan epitel normal. Etiologi penyakit ini belum diketahui secara pasti, namun
diperkirakan berkaitan dengan aktivitas hormon estrogen.
Beberapa gejala yang timbul pada fibroadenoma berupa suatu tanda jinak pada
umumnya, seperti benjolan berbatas tegas yang mobile (+), tidak nyeri, mudah digerakkan,
dan tidak ada tanda-tanda keganasan seperti pembesaran KGB dan penuruan berat badan
secara signifikan tanpa diet tertentu.
Secara garis besar, etiologi dari fibroadenoma belum diketahui secara pasti, namun
ada beberapa faktor risiko seperti usia muda, riwayat menstruasi yang abnormal,
penggunaan alat kontrasepsi hormonal, riwayat pernikahan, faktor lingkungan, dan stress
yang dapat memicu suatu pertumbuhan sel yang abnormal.
Penatalaksanaan yang bisa diberikan pada pasien fibroadenoma yaitu suatu
pembedahan dengan teknik eksisi untuk mengambil benjolan di payudara pasien. Lalu
setelah itu sampel dikirim ke laboratorium Patologi Anatomi untuk dipastikan bahwa tumor
bersifat jinak dan berupa fibroadenoma.
DAFTAR PUSTAKA